[Day 9] Si Insecure

Insecure, dulu biasa digunakan untuk menyebut sikap orang-orang yang terlalu pencemburu kepada pasangannya. Meski tidak tahu pasti makna kata itu, aku menduga, sepertinya maknanya adalah rasa khawatir yang berlebihan.

Ternyata dugaanku nyaris benar. Namun, insecure memiliki makna yang lebih luas dari itu. Insecure berarti tidak merasa puas terhadap dirinya sendiri. Ia tidak puas bukan karena dirinya sudah merasa mampu. Melainkan, ia selalu merasa dirinya “kecil” yang tak bisa melakukan apa-apa. Orang lain selalu tampak “besar” bagi dirinya.

Tidak hanya sampai pada diri sendiri saja, seseorang yang memiliki sikap insecure akan berusaha menutupi keaslian dirinya di hadapan orang lain. Ia tidak mau orang lain mengenal dirinya, karena khawatir mereka akan menolak kehadirannya.

Karena si insecure merasa “kecil”, maka, rasa takut akan penolakan orang lain menjadi semakin besar saja. Ia khawatir, apa-apa yang ia punya dan lakukan akan ditolak oleh orang lain. Ia juga selalu merasa “pandangannya” selalu salah. Dan akhirnya si insecure pun memandang rendah dirinya.

Pendeskripsian di atas tentang seseorang yang memiliki sikap insecure adalah hasil pemikiran dan imajinasiku saja. Artikel yang membahas insecure ternyata tidak terlalu banyak. Atau mungkin, aku yang tidak terlalu “rajin” mencarinya, ya hahaha

Saat browsing kata “insecure” pun, yang muncul rata-rata definisinya saja. Meskipun hasil imajinasi dan pemikiran, semoga bisa sedikit menggambarkan. Kalau kamu memiliki penggambaran lain, boleh sekali berbagi ke aku dikolom komentar, ya 🙂

Meskipun bukan termasuk orang-orang yang insecure, dulu, aku pun hampir merasakan sikap itu. Aku tahu bagaimana rasanya cemas dan gelisah ketika terus-menerus “merasa kecil” dibandingkan orang lain.

Rasa itu, membuat aku terlalu fokus melihat kelebihan orang lain. Seperti,“Kok dia hidupnya enak ya, mudah sekali gonta ganti gawai. Aku kalau ingin beli gawai, harus menabung dulu dan tak langsung dibelikan.” Atau, “Kok dia berbakat banget ya, apa aja bisa. Kayaknya, bakatku nggak banyak-banyak banget, deh.”

Pemikiran itu terjadi saat masih pencarian jari diri dan sama sekali belum mengenal diri. Aku terlalu sibuk memikirkan kehidupan orang lain dan tidak peduli akan potensi diri. Dan kehidupan seperti itu sungguh meresahkan. Ketenangan hati pun sulit sekali didapatkan.

Lalu, bagaimana caranya supaya aku tidak lagi “merasa kecil” dan terhindar dari rasa cemas berlebihan? Semua butuh proses. Aku pun melalui proses yang panjang hingga akhirnya berdamai dengan diri sendiri. Pelan-pelan saja 🙂

Dulu, kesadaran yang kali pertama muncul adalah aku memahami bahwa setiap orang memiliki keunikannya tersendiri. Unik dalam hal kelebihan, juga kekurangannya.

Begitu pula unik dalam menyelesaikan masalahnya. Setiap orang memiliki cara tersendiri untuk menyelesaikan masalahnya. Oleh karena itu, aneh rasanya kalau aku masih membanding-bandingkan diri sendiri dan orang lain untuk mencari siapa pemenangnya.

Padahal, setiap orang adalah pejuang dalam medan kehidupannya. Hanya dia yang bisa menjadi pemenang atau bukan dalam kehidupannya. Dan hanya diri sendiri yang bisa menentukan. Ingin menjadi penonton kehidupan orang lain, atau menjadi pemenang yang mampu mengendalikan dirinya.

Ingin menjadi apa kita dalam menjalani kehidupan adalah pilihan. Begitu pula menjadi insecure atau tidak. Kalau aku, tidak senang terus menerus berada dalam ketakutan dan kegelisahan. Karena, rasanya melelahkan.

Yang masih aku yakini sampai saat ini, aku akan tetap melangkah ke depan. Bahkan ketika aku belum tahu apa yang akan terjadi di masa depan. Sebab, aku selalu punya Allah yang selalu mengarahkan dan menguatkan. Dan aku tahu hasil memang bukan tujuan, namun proseslah yang memberikan banyak pelajaran. Bukankah memang begini hakikat kehidupan?

Advertisements

[Day 8] Healthy Self-Esteem

Aku membaca beberapa artikel untuk memenuhi tentangan menulis bertemakan Self-Esteem. Selama membaca, aku tersenyum sendiri. Ternyata, perjuanganku mengendalikan diri sendiri sejak beberapa tahun lalu adalah untuk memperjuangkan Self-Esteem ini.

Self-Esteem adalah harga diri. Selama ini aku keliru memahami makna harga diri. Dalam lingkunganku, harga diri biasa digunakan untuk memaknai “perbuatan sombong”. Contohnya saja ketika seseorang tidak pernah mengakui kesalahannya, biasanya orang-orang menyebutnya “harga diri dia tinggi!”. Atau ketika seseorang yang terlalu pemilih dalam berteman, biasanya orang-orang melabeli dia “dia mah emang harga dirinya tinggi!”. Aku tidak tahu di lingkunganmu seperti itu juga atau tidak. Tapi, di lingkunganku masih “akrab” dengan makna itu.

Padahal, setelah aku membaca beberapa artikel, maknanya jauh sekali dari hal tersebut. Self-Esteem biasa digunakan untuk menggambarkan seseorang yang memiliki nilai untuk dirinya sendiri (personal value). Atau singkatnya, seberapa banyak orang tersebut menghargai dan mencintai diri sendiri.

Kita harus memiliki kadar Self-Esteem yang normal atau biasa disebut dengan Healthy Self-Esteem. Kadar Self-Esteem yang terlalu rendah, yakni too little Self-Esteem akan menghambat kesuksesan kita dalam kehidupan. Mengapa? Karena kita tidak percaya kalau diri ini mampu untuk sukses.

Kadar Self-Esteem yang terlalu tinggi yakni, too much Self-Esteem akan menyebabkan sebuah gangguan yang disebut dengan Narcissistic Personality Disorder. Dan dampak negatifnya bahaya sekali. Ia akan merusak hubungan terhadap diri sendiri dan orang-orang di sekitarnya.

Self-Esteem biasanya dipengaruhi dua hal yaitu, faktor genetik dan pengalaman. Dan biasanya dari faktor pengalaman, seseorang yang secara konsisten mendapat kritikan negatif yang berlebihan dari keluarga dan teman, akan memiliki Self-Esteem yang rendah.

Dan aku mendapat benang merahnya. Aku ini sedang menggalakkan pentingnya apresiasi sejak beberapa tahun lalu. Karena, aku merasa kita itu tidak adil. Mengapa kebanyakan orang terlalu fokus pada kesalahan, lalu menyalahkan. Padahal, ada begitu banyak pencapaian dan kebaikan yang perlu kita beri pujian dan penghargaan. Aku baru tahu, ternyata pembiasaan mengapresiasi ini berpengaruh pada Self-Esteem kita.

Perjuangan Meningkatkan Self-Esteem

Di artikel disebutkan bahwa beberapa tanda seseorang yang memiliki Healthy Self-Esteem adalah percaya diri, kemampuan untuk mengatakan tidak, berpikiran positif, kemampuan menerima kekurangan dan melihat kekuatan diri, pengalaman negatif tidak memengaruhi cara pandang, dan kemampuan mengungkapkan apa yang dibutuhkan.

Dari beberapa tanda itu, aku ingin mengevaluasi diri tanda apa yang belum aku miliki saat kecil dulu. Sepertinya masalahku ada pada belum mampunya melihat kekuatan dan belum menerima kelemahan diri.

Aku juga ingin tahu, faktor apa yang paling besar memengaruhi hingga aku tetap bisa berkembang meski masih belum sepenuhnya memiliki Healthy Self-Esteem.

Pada postingan sebelumnya yang berjudul “Cintai Tubuhmu Sendiri”, aku memiliki masalah pada kepercayaan diri. Aku tidak mencintai warna kulitku sendiri. Meskipun begitu, aku masih bisa tampil dipublik dengan menutupi kekuranganku itu. Berkatnya, aku masih bisa berpartisipasi dan berprestasi. Aneh ya? Seseorang yang begitu memikirkan kelemahannya, tetap bisa maju untuk mengembangkan potensi diri.

Orang tuaku bukan tipikal orang yang mudah mengapresiasi kerja keras anaknya melalui ucapan. Yang lebih parah itu ayahku. Dulu, ayahku berharap anaknya itu juara satu. Katanya, akan dapat hadiah. Kamu tahu? Aku mendapat rangking 5 atau 3 besar pun, ayah tidak akan mengucapkan selamat 😂

Meskipun begitu, ayahku selalu mendukung kegiatan apa pun yang aku sukai. Selama itu positif dan baik, ayah akan memberikan dukungan penuh. Aku rasa, faktor dukungan orang tua inilah yang membuat aku mampu berpartisipasi dan berprestasi selama sekolah, meskipun masih belum sepenuhnya memiliki Healthy Self-Esteem.

Selain terlalu fokus dengan kelemahan, aku juga belum mampu melihat kekuatan pada diri sendiri. Jika dulu saat aku kecil ditanyakan apa kekuatan yang ada pada diri, maka aku tidak akan bisa menjawab.

Meskipun begitu, Alhamdulillah aku selalu mau bila diberikan amanah di sekolah. Dan selalu berupaya menjadi orang yang bertanggung jawab. Sesederhana diminta menjadi pengibar bendera, menjadi komandan pasukan saat ekstrakulikuler pramuka, atau menjadi pemimpin regu saat perkemahan sekolah.

Bila dipikirkan kembali saat ini, kurasa dulu, aku menemukan kekuatan diri karena diberi kepercayaan oleh orang lain. Faktor tersebut benar-benar membantu meningkatkan Self-Esteemku. Tanpa aku sadari.

Cerita di atas adalah tentang masa-masa sekolah dasarku. Bahwa benar adanya faktor pengalaman juga berpengaruh pada Self-Esteem seseorang. Contohnya aku, dukungan penuh orang tua terhadap kegiatan sekolah dan kepercayaan yang diberikan teman-teman ternyata mampu membantu aku mengenali diriku sendiri.

Meskipun tentu saja pada saat itu aku belum paham sepenuhnya manfaat-manfaat itu. Namun, berkat bantuan orang-orang terdekat, aku tidak mengalami penurunan Self-Esteem. Aku pun tetap mau berpartisipasi kegiatan apa pun kala itu.

Self-Esteem bisa diubah dan dibentuk. Semua hanya tergantung bagaimana lingkungan dan orang-orang yang terpapar dalam hidup kita. Dan tergantung mau atau tidak kita mengenali diri sendiri. Self-Esteem tidak boleh diabaikan. Kita harus selalu berusaha memiliki Healthy Self-Esteem. Kehidupan terlalu indah dan berharga, maka kita harus berusaha menjaga kesehatan jiwa dan raga 😁😊

Yuk, artikelnya boleh dibaca:

https://www.verywellmind.com/what-is-self-esteem-2795868

https://positivepsychologyprogram.com/self-esteem/

[Day 7] Fisioterapis Sakit Lutut

Menjadi fisioterapis membantu aku memahami fungsi gerak dan tubuh lebih baik. Aku menjadi tahu posisi tubuh seperti apa yang baik dilakukan sehari-hari. Aku juga tahu bagaimana mengangkat dan mendorong beban berat yang benar saat beraktivitas. Karena ternyata permasalahan anggota gerak tubuh itu paling banyak dikarenakan kebiasaan yang tidak benar, lho.

Meskipun sudah tahu cara yang benar seperti apa, seorang fisioterapis juga terkadang khilaf. Kami tetap melakukan posisi-posisi dan kebiasaan yang salah kala melakukan aktivitas. Maklum, kebiasaan yang salah sudah lebih lama dilakukan dibandingkan pengetahuan baru yang kami tahu ini kan wkwk 😂

Tulisan kali ini, aku akan berbagi pengalamanku sendiri. Aku akan berbagi kasusku yakni, sakit lutut.

Aku merasakan keluhan ini sudah dua minggu yang lalu. Lutut kananku sakit tiap kali diluruskan maksimal. Tidak ada rasa sakit saat lutut ditekuk. Dan tidak ada bengkak. Lututku baik-baik saja kalau dilihat oleh mata. Namun tidak bila ditekan pada bagian sisi dalam. Rasa nyerinya tidak tertahankan.

Sebagai fisioterapis sekaligus pasien, aku menjadi bingung sendiri hahaha sejujurnya, aku sudah berusaha sekali memposisikan tubuh dengan baik tiap kali bekerja. Aku selalu mengistirahatkan tubuh tiap kali otot-otot tubuhku kelelahan. Pokoknya, kalau si otot sudah lelah dan memberikan alarm dalam bentuk “rasa pegal”, aku selalu memberhentikan aktivitasku.

Tentang sakit lututku, aku paham betul bahwa keluhan sakit ini hanya karena masalah otot saja. Ototku terlalu lelah bekerja. Ligamen atau tendonku baik-baik saja. Terbukti dari kemampuanku untuk melompat dan berlari. Aku masih bisa melakukan dua aktivitas itu. Hal ini menandakan lututku masih amat stabil dan bekerja dengan baik.

Setelah merenung cukup lama, akhirnya aku menemukan masalah utamanya. Jadi, ada satu alat biasa aku gunakan untuk mengobati pasien. Namanya Microwave Diathermy (MWD). MWD selalu berpindah-pindah dari satu tempat tidur ke tempat tidur lainnya. Di ruangan fisioterapi ini, tempat tidurnya ada enam buah. MWD itu harus aku pindahkan dari satu tempat tidur ke tempat tidur lain.

MWD itu besar dan berat. Tingginya sekitar 90 cm dan panjangnya sekitar 120 cm. Karena berat, aku cukup kesulitan mendorong bila hanya menggunakan kedua tangan. Jadilah aku mendorong dengan bantuan lutut bagian dalam. Kurang lebih selama satu tahun lah aku melakukan aktivitas itu.

Cara kerja tubuh memang seperti ini. Ia memiliki ambang batas kemampuan. Kalau masih bisa menahan, tubuh kita akan baik-baik saja. Namun, kalau beban tersebut sudah melebihi kapasitasnya, maka muncullah banyak keluhan. Contohnya otot lututku ini. Ia sudah cukup lama menahan beban berat si MWD. Dan setelah genap satu tahun bekerja, si otot lutut bagian dalam pun akhirnya menyerah.

Setelah tahu otot lututku bermasalah, akhirnya lutut ini pun aku istirahatkan. Aku tidak lagi mendorong alat MWD menggunakan lutut. Betapa pun beratnya, aku tetap mendorong menggunakan kedua tangan. Aku juga menghindari beban berlebihan pada lutut yang sakit. Beberapa kegiatan yang kuhindari yaitu, tidak menopang pada lutut yang sakit, tidak naik turun tangga, dan mengurangi aktivitas jalan.

Pesanku sebagai fisioterapis, aku tahu kita itu kuat. Apalagi laki-laki yang memiliki otot lebih kuat dari perempuan. Tetapi, jangan pernah memaksakan diri. Kita pasti tahu beban mana yang tubuh ini masih bisa toleransi, dan beban mana yang tidak. Contohnya ketika mendorong lemari yang besar. Meskipun kita mampu, janganlah memaksakan diri. Doronglah lemari itu bersama-sama kawan. Berbagilah beban bersama.

Dampaknya memang tidak selalu terlihat saat ini juga. Untuk otot, ligamen, tendon, dan tulang, memang tidak langsung memberikan dampak saat itu juga ketika ia kelelahan. Kecuali bila tubuh kita terkena hantaman kekuatan besar saat kecelakaan, biasanya dampaknya langsung terlihat. Contohnya seperti patah tulang atau terkilir.

Untuk kebiasaan yang salah seperti kesalahanku saat mendorong MWD, biasanya, hanya rasa pegal saja yang kita rasakan. Namun, jangan abaikan rasa pegal itu. Rasa pegal yang terakumulasi akan menyebabkan masalah-masalah fatal di kemudian hari.

Sekian. Semoga pengalamanku ini bermanfaat untuk teman-teman. Ingat, kurangi beban berlebihan dan selalu perhatikan tanda-tanda kelainan. Sebab, tak ada istilah “pegal biasa”. Pegal adalah tanda bahwa ada sesuatu yang tidak biasa pada tubuh kita.

[Day 6] Tentukan Seleramu!

Ibuku memiliki selera tersendiri untuk anak-anaknya.

Selain keperluan sekolah, aku tidak pernah memakai sepatu. Alasan ibuku, anak-anak terlalu ribet menggunakan sepatu. Jadilah aku terbiasa menggunakan sandal atau sepatu sandal.

Begitu pula dengan pakaian. Ibuku tidak senang memakaikan anaknya pakaian yang tidak berlengan. Aku juga tidak dibiasakan menggunakan rok. Alasannya, anak-anak terlalu ribet menggunakan rok untuk bermain. Jadilah aku terbiasa menggunakan baju berlengan dan celana panjang.

Kebiasaan tersebut sebenarnya tidak sepenuhnya memberikan dampak positif. Dampak negatifnya, aku tidak terbiasa memilih dan membuat keputusan sendiri. Meskipun begitu, semakin dewasa sepertinya hanya dampak positifnya lah yang aku rasakan. Aku bersyukur ibuku memberikan aturan itu saat aku kecil.

Kebiasaan Menggunaan Sandal

Jangan takut, meskipun sejak kecil sampai remaja aku terbiasa menggunakan sandal atau sepatu sandal, tidak memengaruhi kebiasaanku saat dewasa, kok. Peraturan perkuliahan yang melarang penggunaan sandal saat belajar, membuat aku pakai sepatu setiap hari.

Pada awalnya tentu saja kesulitan. Namun, karena dilakukan setiap hari dan menjadi kebiasaan, akhirnya aku pun terbiasa memakai sepatu. Sampai bekerja pun begitu. Pekerjaanku memang mengharuskanku memakai sepatu. Bahkan sampai sekarang, barang kecintaanku adalah sepatu. Sneakers. Aku jarang sekali menggunakan sandal. Sandal digunakan hanya untuk ke warung dan aktivitas bermain air saja hehehe

Kebiasaan Menggunakan Baju Berlengan Panjang dan Celana

Aku bersyukur sekali dengan dua kebiasaan ini. Meskipun pada awalnya aku masih suka mengikuti “trend” berpakaian, namun lambat laun aku tidak sepenuhnya mengikuti trend itu. Aku selalu mempertimbangkan dua kebiasaan berpakaianku ini. Kalau trendnya bersebrangan dengan kebiasaan berpakaianku sejak kecil, biasanya aku tidak mengikuti trend tersebut.

Lalu, aku pun menyimpulkan. Ternyata kebiasaan berpakaian yang orang tua berikan akan membentuk selera berpakaian anaknya, lho. Memang tidak sepenuhnya. Karena, kita pun belajar tidak hanya dari orang tua. Lingkungan dan orang-orang di sekitar juga turut berperan membentuk selera kita.

Alhamdulillah, saat sekolah dulu, aku selalu memiliki sahabat yang berprinsip kuat. Jadi, mereka tidak pernah terbawa trend sepenuhnya. Mereka tetap mencari tahu trend yang ada, namun sebatas referensi saja. Untuk keputusan berpakaian, akan sepenuhnya ditentukan dengan prinsip dan nilai yang dipunya.

Karena sering bermain bersama mereka, akhirnya aku pun turut memiliki pemikiran yang sama. Bahwa selera, murni ditentukan oleh diri sendiri. Kita harus memiliki pertimbangan kuat hingga akhirnya mampu membuat keputusan.

Dan beginilah aku kini. Kalau kamu bertanya gaya apa yang “aku banget”. Jawabannya adalah sneakers dan ransel. Apapun pakaiannya, dua barang itu harus tetap aku pakai wkwkwk

Kamu pun pasti punya selera berpakaian atau selera memilih barang apapun. Meskipun ada banyak yang memengaruhimu, saranku, tetaplah bangga atas pilihanmu itu. Sebab, yang paling penting bukan seberapa baik penilaian orang. Melainkan, seberapa nyaman kamu memakai dan menggunakan suatu barang 🙂

Sumber foto:
http://www.newfrog.com
http://www.dreamstime.com

[Day 5] Aku, Dea, dan Jilbab

Dea, perempuan berusia 5 tahun di bawahku bertanya alasanku menggunakan jilbab. Malam itu adalah malam pertama setelah bertahun-tahun kami tidak pernah bertemu.

Ia juga bertanya sejak kapan aku menggunakan pakaian rapi. Definisi rapi baginya adalah pakaianku seperti malam ini yakni, menggunakan jilbab menutup dada dan memakai rok.

Setelah mengajukan dua pertanyaan sekaligus, ia mengungkapkan keinginannya dan kecemasannya terkait jilbab. Ia ingin menggunakan jilbab, namun merasa tidak pantas karena belum tahu banyak ilmu agama. Dari tatap matanya, Dea terlihat menunggu tanggapanku. Aku pun menjawab pertanyaannya satu persatu.

Sebelum menjawab, kuingatkan padanya jawabanku nanti adalah murni pengalamanku sendiri. Semoga bisa membantu memantapkan hati. Syukur-syukur mampu membulatkan tekad untuk memilih dan membuat keputusan hidupnya sendiri.

“Aku berjilbab karena termotivasi dari tiga sahabatku yang berjilbab lebih dulu.” begitu kataku untuk menjawab pertanyaan pertama.

“Aku berubah pelan-pelan, De. Saat kelas 2 Sekolah Menengah Atas, aku mengubah gaya baju dengan baju dan celana panjang. Baju-baju pendekku diplastikkan semua. Aku cuma menyisakan baju-baju berlengan panjang aja di lemari. Aku mau tau gimana rasanya pake baju berlengan panjang setiap hari. Aku ingin memastikan rumor yang beredar. Katanya, kita bakal kepanasan kalo berjilbab. Nyatanya nggak, De. Aku malah terlindung dari cahaya matahari. Nggak pake sunblock pun gapapa. Malah ngerasa aman. Oh iya, aku udah menggunakan macam-macam gaya berjilbab. Kelak, kamu akan menemukan cara berpakaian yang membuatmu nyaman kok, De.” jawabku. Begitu jawabanku untuk pertanyaan dia yang kedua.

“De, terkadang kita emang perlu menyederhanakan segala hal yang rumit. Pake jilbab memang pada awalnya bakal ngerasa rumit dan sulit. Kita ngerasa takut nggak bisa kasih jawaban terkait Islam kalo teman ada yang nanya. Kita juga takut ngejelekin nama Islam kalo setelah berjilbab masih aja berperilaku nggak baik. Pokoknya banyak deh ketakutan-ketakutannya.” kataku.

“Tapi, De, ternyata Allah nyuruh kita berjilbab bukan untuk sempurna di mata manusia, lho. Kita itu berjilbab karena Allah yang memerintahkan. Allah ingin menjaga kita. Kamu tau nggak? Setelah berjilbab, aku jadi semakin termotivasi jadi orang baik gitu, De. Kayak ada perasaan takut bikin Allah kecewa. Mungkin hikmah berjilbab kayak gitu. Kita jadi punya tenaga super dan tameng kuat. Tenaga super untuk ngelakuin perbuatan baik. Serta tameng kuat untuk menjauhi perbuatan buruk.” tambahku. Ini adalah jawaban untuk kecemasan Dea.

“Kamu ingin berjilbab kan? Yaudah pake aja, De. Hayuk, jangan cuma pengen aja. Pengen aja mah nggak bakal jadi-jadi hehehe jangan takut nggak bisa jawab pertanyaan. Emangnya kenapa kalo kita nggak bisa jawab? Kan kamu bisa cari jawaban bareng-bareng temanmu. Bisa tanya ke gurumu, orang tua, dari buku, atau kajian kan. Jadi sama-sama belajar deh :D.” kataku. Jawaban kali ini untuk menyemangati Dea. Kuharap ia tidak takut lagi.

Dea lebih banyak menyimak dan mengangguk tanda mengerti. Dari raut wajahnya terlihat tidak cemas dan takut lagi. Sebaliknya, ia tampak bersemangat dengan senyum simpulnya.

Semoga cerita sederhana ini bisa menjadi salah satu suntikan semangat kala semangatnya turun. Aku percaya, setiap orang berhak berubah menjadi lebih baik berdasarkan episode kehidupannya sendiri.

Kamu tidak perlu terburu-buru hanya karena melihat para pendahulu sudah maju lebih dulu. Lalu, terlupa makna apa yang ingin dicari.

Perlahan saja sampai kamu temukan caramu sendiri. Cara paling benar dan nyaman yang mendekatkanmu pada Allah Sang Pemilik Hati.

Sumber foto: http://www.gaphotoworks.com

Cerita tentang Tantangan Menulis Bulan Juni

Insya Allah, ini adalah tema tulisan Bulan Juni 🙂

Satu bulan kemarin aku mengikuti kelas menulis. Aku tahu kegiatan itu dari instagram (IG) dengan akun @Pejuang30DWC. Kalau kamu ingin tahu dan berminat mengikuti kelas menulis, silakan buka IGnya ya 🙂

Kegiatan yang dilakukan dalam kelas menulis, ada kelas online yang dimentori oleh Kak Rezki dan Kak Rizka (nanti dapat materi juga dalam bentuk PDF), feedback dari mentor dan anggota, serta tantangan menulis dengan tema khusus.

Bagi penulis pemula seperti aku, kegiatan ini bermanfaat sekali. Semua hal tentang tulis menulis dibahas di sana. Bahkan untuk tata cara penulisan sederhana seperti penempatan tanda baca, penggunaan huruf kapital, dan cara penulisan percakapan juga dibahas lho di sana.

Karena tipe tulisanku adalah non fiksi, maka dapat banyak nasihat dari si Kak Rezky. Inti dari saran Kak Rezki, kami disuruh bikin konten khusus. Tujuannya, supaya tulisan kami lebih terarah. Meskipun tidak dilarang menulis konten bebas yang sesuai “mood”, Kak Rezky menyarankan kami menulis segera dengan tema khusus.

Selama 30 hari kemarin aku masih menulis dengan tema bebas hahaha ternyata tidak mudah ya menulis tema khusus seperti yang Kak Rezki sarankan. Khususnya aku, masih kesulitan sekali menulis setiap harinya. Meskipun sudah yakin tema apa yang akan ditulis hari itu dan kerangka tulisan pun sudah beres, selalu saja kebingungan saat mulai merangkai kalimat.

Padahal, aku sudah mengikuti saran teman-teman. Katanya, tulis saja dulu semua, editnya belakangan. Tetap saja selalu tidak lancar tiap kali menyusun kalimat. Butuh waktu beberapa jam hingga akhirnya satu buah tulisan siap diunggah :’)

Melihat kemampuan menulis yang masih seperti ini, aku pun memutuskan mengikuti tantangan menulis lagi. Aku harus membiasakan diri menulis setiap hari.

Aku mendapatkan tantangan menulis ini dari Mas Hery di IG. Beliau adalah teman satu kelompokku saat tantangan menulis bulan kemarin. Terima kasih, Mas Hery.

Saat kali pertama melihat judulnya, aku langsung jatuh hati. Aku merasa, tema ini cocok sekali untukku. Entah mengapa, ada banyak sekali pertanyaan yang ingin kutanyakan pada diri sediri. Dan ingin tahu sejauh mana aku mengenali diri.

Teman-teman yang tertarik mengikuti tantangan menulis ini, boleh sekali ikutan. Langsung saja mulai menulis dengan tema-tema yang tertera. Tidak apa-apa mulainya terlambat. Aku pun memulai menulis tidak dari tanggal 1 hehe

Selamat membaca dan menulis. Semoga setelah tantangan menulis ini berakhir kita semakin mengenali dan mencintai diri kita sendiri ♥

[Day 4] Cintai Tubuhmu Sendiri

Aku menikmati setiap proses penerimaan diriku ini. Maka, aku tidak menyesal untuk segala perbuatan khilafku di masa lalu. Sebab, tanpa semua itu, aku tidak akan menjadi sosok Shinta seperti hari ini.

Jangan memandangku penuh takjub seperti itu. Aku sama saja seperti kamu. Yang pernah tidak mensyukuri apa-apa dalam diri. Yang pernah mengalami krisis kepercayaan diri. Jadi, jika saat ini kamu masih berjuang untuk mencintai diri sendiri, lanjutkanlah perjuanganmu. Hadapilah sesulit apapun itu. Kesulitan yang kamu hadapi hari ini, akan membentukmu menjadi sosok luar biasa di kemudian hari.

Krisis Kepercayaan Diri

Shinta kecil memiliki kulit hitam legam. Kesukaannya bermain sepeda di siang hari membuat kulitnya terbakar sinar matahari. Maka, bullying verbal seperti sebutan “Si hitam” adalah kalimat biasa yang sering kudengar saat itu. Tetapi, Shinta kecil tidak terganggu dengan sebutan itu. Ia terlalu sibuk dengan dunia bermain bersama teman-teman.

Semua berubah saat aku sekolah menengah pertama (SMP). Masa pubertas ini membuatku memerhatikan fisik sekali. Saat itu, aku mengikuti ekstrakurikuler (ekskul) paskibra. Siapa pun pasti tahu ekskul tersebut sangat akrab dengan panasnya matahari. Kami selalu latihan baris berbaris saat matahari sedang terik. Hasilnya? Kulit kami terbakar sinar matahari. Kami tidak mengenal sunscreen. Jadi, habislah sudah kulit kami ini. Kulit kami menjadi hitam dan merah.

Fase pubertas membuat aku begitu perhatian dengan permasalahan kulit ini. Aku sadar kulitku hitam sekali. Meskipun masih berani tampil paskibra untuk lomba ke sana dan ke mari, aku tidak sepenuhnya mencintai diriku sendiri. Aku selalu menutupi kulit hitamku dengan bedak tabur. Dan selalu membawa bedak itu kemana pun aku berada. Mimpiku saat itu adalah memiliki kulit putih yang berseri.

Jika berpikir dengan cara pandang saat ini, keadaanku saat SMP dulu sepertinya dipengaruhi oleh orang-orang sekitar. Sampai sekarang aku ingat betul siapa saja orang-orang yang membullyku dengan sebutan “si hitam”. Mereka adalah saudara dekatku sendiri. Saat saudara dekat melakukan hal seperti itu, orang tuaku juga tidak membantuku banyak. Seingatku, orang tuaku diam saja. Mungkin, orang tuaku juga bingung bagaimana cara meningkatkan kepercayaan diri anaknya. Akhirnya, krisis kepercayaan diri ini pun berlangsung hingga Sekolah Menengah Atas (SMA).

Titik Balik

Aku tidak ingat kapan tepatnya. Namun, sejak kuliah aku mulai lebih bijak mengendalikan diri. Sikap bijak ini dimulai dari merawat tubuhku dengan baik. Ketika menyadari tipe kulitku adalah kulit berminyak, aku berusaha mencari perawatan wajah yang khusus untuk kulit berminyak. Ketika jerawat tiba-tiba muncul, aku segera mencari tahu hal-hal apa aja yang menyebabkan jerawat muncul. Ketika sadar wajah mulai kusam, aku evaluasi diri bagaimana kebiasaanku merawat wajah. Apakah aku sudah rajin membersihkan wajah atau belum.

Sikap bijak selanjutnya, aku sudah semakin paham segala tubuhku adalah ciptaan Allah. Maka, menghina tubuhku sendiri, berarti aku menghina Allah. Aku pun mulai menerima diri sendiri. Segala kelebihan sekaligus kekurangannya.

Intinya, sejak kuliah aku tidak lagi mencari hal-hal negatif dalam diri. Karena aku menyadari, segala masalah pada tubuh ini bisa jadi karena kurangnya aku merawat diri.

Aku juga tidak lagi membandingkan dan menilai tubuhku dengan tubuh orang lain. Karena aku tahu, kondisi tubuh tiap orang berbeda-beda. Contohnya saja dalam hal tipe kulit. Masalah dan perawatan kulit kering dan berminyak itu berbeda. Rasanya tidak adil bila aku menginginkan keadaan tubuh orang lain, bila aku tidak mengenal dan merawat tubuhku sendiri.

Kalau kamu bertanya bagian tubuh mana yang paling aku sukai, aku tidak akan memilih apa-apa. Karena aku tidak bisa memilih. Aku menyukai seluruh bagian dalam tubuhku ini. Setiap bagian tubuhku memiliki manfaat dan keunikan masing-masing.

Bahkan untuk kulit berminyakku. Aku bersyukur memiliki tipe kulit seperti ini. Meskipun kata orang kulit berminyak mudah berjerawat, kenyataannya tidak, kok. Selama aku rutin membersihkan wajah tiap kali beraktivitas, Insya Allah wajahnya baik-baik saja. Keuntungan lain yang aku rasakan, kulit berminyak jarang sekali kering dan dehidrasi, lho.

Kalau tipe wajahmu sama seperti aku, saranku, tiap kali beraktivitas, kamu siapkan saja kertas minyak di tasmu. Kertas minyak itu membantu sekali mengurangi kelebihan minyak yang ada di wajahku 🙂

Lalu, tentang alis. Sekarang itu lagi booming dandan-dandanan, ya. Di youtube banyak sekali tutorial dandan. Contohnya dalam membentuk dan menebalkan alis. Alisku itu bentuknya tidak lurus rata. Di beberapa sisi ada yang bergelombang naik ke atas. Kalau kata mereka yang ahli di bidang dandan, tipikal alisku akan susah sekali dibentuk. Supaya terbentuk alis yang bagus, katanya harus dicukur dulu. Kalau tidak mau, alisku bisa pakai concealer. Fungsinya, untuk menutup si alisku yang bergelombang itu. Ribet ya? Iya. Tapi, aku biasa saja.

Bagiku, alis tebal atau tidak tebal bukan masalah. Pakai pensil alis atau tidak pakai juga bukan masalah. Kalau harus memilih, aku lebih baik tidak pakai apa-apa. Aku lebih nyaman alis normal milikku apa adanya. Alasan utama sih, aku memang tidak pandai membuat alis hahaha

Beberapa hal di atas tentang fisik. Masih banyak lagi faktor lain yang membuat seseorang tidak percaya diri.

Alhamdulillah, diumurku yang saat ini aku menerima diriku seutuhnya. Aku menerima segala bentuk wajahku. Alis, mata, hidung, mulut, dan lain sebagainya.

Apalagi aku ini fisioterapis. Aku sering menangani pasien bell’s palsy. Gejalanya, otot-otot wajah kita menurun kekuatannya. Jadi, fungsi wajah kita untuk sementara terganggu. Kita tidak bisa mengedipkan mata, kita tidak bisa mengangkat alis, kita tidak bisa tersenyum simetris, kita tidak bisa menutup mata secara sempurna, dan masih banyak gangguan lainnya.

Melihat pasien-pasien mengalami keadaan itu dan mendengar keluhan mereka saat fungsi wajahnya terganggu, membuat aku introspeksi diri. Ternyata aku bersyukur banget lho wajahnya lengkap dan berfungsi dengan baik seperti saat ini.

Menyadari bahwa rumput tetangga memang selalu lebih hijau, aku selalu berusaha mengingatkan diri. Bahwa nikmat yang aku rasakan akan selalu lebih banyak daripada kekurangan yang dicari-cari. Dan yakin bahwa Allah selalu memberi setiap hal sesuai kebutuhannya.

Aku juga berusaha untuk sadar diri bahwa setiap manusia memiliki keadaan yang berbeda-beda. Jadi, sangat tidak adil bila aku terlalu mengagumi apa-apa yang ada pada orang lain, dan tidak peduli dengan kelebihan yang ada pada diri. Setiap orang berjuang pada medan perangnya sendiri, kan?

Aku akan berusaha menyukai dan merawat apa-apa yang ada pada diri. Entah itu fisik, karakter, kemampuan, dan sebagainya. Karena apa? Karena aku adalah ciptaan Allah. Maka, aku akan menyukai dan merawat semua hal yang Allah berikan. Insya Allah. Kita semua cinta Allah, kan? Aku percaya, seseorang yang mencinta akan melakukan apa saja untuk sesuatu yang dicinta 🙂

[Day 3] Mengenal Kata Hati

Menua semakin membuatku mengenal kata hati. Dan aku pun ingin tahu, sejauh mana diri ini mengenal hati.

***

Aku mengenal dia saat pelatihan di rumah sakit. Aku yang datang sendirian langsung disapa olehnya dengan sapaan yang hangat. Saat itu, ia bersama beberapa kawan. Ia juga meminta nomor whatsappku. Katanya, ia ingin bertanya banyak tentang keluhan sakit pinggang. Melihat bagaimana ia memperkenalkan diri, aku menyimpulkan ia adalah orang yang ramah dan mudah berkawan dengan orang lain.

Namun, siapa sangka ternyata karakternya bisa benar-benar berubah 180 derajat setelah kami berpisah dari ruangan pelatihan itu. Ia yang kukenal sebagai seseorang yang ramah dan hangat, ternyata tidak terbiasa menyapa orang lain saat berpapasan di jalan.

Pada awalnya, tentu saja aku menyapa lebih dulu. Ia pun tersenyum. Pada kesempatan yang lainnya, berulang kali ia menundukkan wajahnya setiap berpapasan denganku. Kuledek saja dia,“Hei Ai, ih kok nunduk aja sih. Nyariin apa? Hehehe kamu mau ke mana?” ia menjawab seadanya dengan sedikit tertawa.

Namun, pada pertemuan ke sekian kalinya, ketika aku lupa menyapa, ia melewatiku begitu saja. Ia tidak menyapa ataupun tersenyum. Padahal jarak kami hanya sekitar 1 meter saja.

Melihat polanya, aku menyadari bahwa ia adalah tipikal orang yang tidak senang menyapa orang lain lebih dulu. Entah apa alasannya.

Pada kondisi ini, aku berdebat dengan diri sendiri. Egoku menyuruh agar tidak menyapa dia lagi. Kalau dia menunduk, biarkanlah. Aku tak perlu menyapanya lagi. Aku kesal dengan perilakunya.

Tetapi, kata hatiku menolak ide itu. Ia mengatakan bahwa rencanaku tersebut tidak benar. Tersenyum dan menyapa orang lain lebih dulu adalah perbuatan baik. Mengapa aku harus mengorbankan perbuatan baik hanya untuk sebuah rasa kesal yang sifatnya sementara? Mengapa menjustifikasi karakter orang lain, padahal apa-apa tentangnya pun aku tidak tahu?

Egoku kalah. Dan aku menuruti kata hatiku.

***

Mendengarkan kata hati, membuatku menjadi lebih peka. Aku menjadi mudah merasakan perasaan lawan bicaraku. Aku juga semakin mudah memahami pikiran mereka. Daripada merasa kesal atas perbuatannya, aku berusaha memikirkan mengapa ia bisa menjadi sosok yang seperti itu. Ia pasti memiliki luka masa lalu sehingga tidak memahami aturan tegur sapa kepada orang lain.

Mengikuti kata hati, membuatku menjadi lebih bijaksana. Aku menjadi lebih mudah berpikir jauh ke depan atas apa-apa yang terjadi. Daripada membiarkan perasaan negatif menguasai diri, aku berusaha menerima segala kepahitan. Menerima bahwa kepahitan hidup memang sebuah kepastian. Menerima bahwa perilaku buruk orang lain juga sebuah kepastian. Orang lain bebas berperilaku apa saja.

Yang tidak boleh bebas itu aku. Aku tidak boleh terpengaruh oleh kejadian buruk yang menempa. Aku tidak boleh terlalu lama tenggelam dalam pikiran dan perasaan negatif. Sebab pikiran dan perasaan yang negatif akan berpengaruh pada perilakuku.

Bersediakah aku menjadi orang yang buruk hanya karena tak sanggup mengendalikan diri sendiri? Sungguh tidak bersedia. Aku terlalu berharga untuk melakukan perbuatan itu. Sebab, Allah yang Maha Baik sudah menciptakan diri ini dalam bentuk yang paling baik.

Kata hati adalah pesan Allah yang seringkali tidak disadari. Ego terlalu mendominasi hingga aku lupa diri. Semoga aku tidak melakukan itu lagi. Dan berusaha untuk selalu mendengarkan dan mengikuti kata hati. Sebab, hanya dengan cara itu aku mampu mengendalikan diri.

[Day 2] Senyum Itu Memberikan Kekuatan

Senyum selalu memberikan kekuatan. Kalimat tersenyumlah untuk berbahagia kurasa benar adanya. Selalu ada energi positif tiap kali aku berusaha untuk tersenyum.

Merasakan betul bahwa senyum memberikan dampak positif, maka aku selalu berusaha untuk tersenyum kepada siapa pun.

“Mbak, lo kenal sama perempuan yang barusan lewat?” tanya adikku.

“Nggak. Kenapa?” jawabku.

“Kok barusan dia senyum ke lo?” tanyanya heran.

“Emang kenapa kalo dia senyum ke gue? Hahahaha.” ledekku.

“Ya nggak apa-apa. Aneh aja sih senyum sama orang yang nggak dikenal. Barusan dia senyumnya lebar banget, lho.” jawab dia berikan penjelasan.

“Gini, tadi pas kita jalan berpapasan sama dia, tatapan mata gue dan dia secara nggak sengaja ketemu. Jadi saling tatap gitu. Yaudah gue senyumin aja. Bakal awkward kali kalo setelah saling tatap gue buang muka wkwkwk.” jawabku. Entah dia menerima atau tidak alasanku itu haha

“Iya bener juga. Tapi, tetap aneh sih bagi gue, kalo kalian berdua saling senyum “seolah-olah kayak saling kenal” gitu. Kirain beneran kenal wkwk.” jawabnya. Ia tetap merasa aneh atas apa yang aku lakukan.

“Gapapa, kali. Nambah pahala juga saling menebar senyuman ke saudara seiman yakhaaan hihi yaudah jangan terlalu dipikirin. Entar beban pikiran lo lebih berat dari Dilan gawat hahaha.” ledekku lagi. Sedikit penjelasanku untuknya bahwa tidak masalah tersenyum kepada orang yang tidak dikenal.

Selain menatap cermin sambil tersenyum dan mengafirmasi diri dengan kata-kata positif tiap kali ada masalah, aku juga sedang membiasakan diri menebar senyuman kepada siapa pun.

Di tempatku bekerja, aku sudah mulai membiasakannya sejak kali pertama datang ke rumah sakit. Aku berusaha menyapa dan memberikan senyuman kepada Mas dan Mba petugas parkiran. Lalu, menyapa dan tersenyum ke security di dekat poliklinik tempatku bertugas, ke Bu Riri si cleaning service, ke rekan kerjaku, dan juga ke para pasien.

Rasanya seperti apa setelah menyapa dan memberi senyuman ke banyak orang? Hatiku bahagia sekali. Ternyata benar lho berbagi kebaikan memang memberikan ketenangan hati. Aku pun menjalani hari menjadi lebih bersemangat lagi.

Energi positif dan kebaikan itu menular. Sepengalamanku, sejutek apapun orangnya, ketika aku memulai tersenyum lebih dulu, orang tersebut akan membalas senyumanku dengan senyuman juga. Jadi, jangan khawatir nantinya akan dicuekkin. Senyuman Insya Allah akan berbalas senyuman.

Lagi pula, bukan masalah kok kalau orang yang disenyumin tidak membalas senyumanku. Aku memahami betul, sejatinya, “kebutuhan” senyum ini memang untuk diriku sendiri. Aku butuh membiasakan diri melakukan kebiasaan baik lebih banyak. Aku perlu berbuat baik lebih banyak. Jadi, cara sederhana yang bisa aku lakukan ya tersenyum yang banyak 🙂

Aku tidak terlalu memikirkan respon dan tanggapan negatif orang lain di luar sana. Apa-apa yang mereka lakukan memang ada pada kuasanya. Kuasaku sebatas bagaimana aku mengatur dan mengelola diriku sendiri saja. Kesimpulannya, aku akan tetap tersenyum terlepas bagaimana pun reaksi orang lain setelahnya. Sebab, senyum memberikan banyak kekuatan, adakah alasan untukku untuk berhenti melakukan?

[Day 1] Kala Ketulusan Terpancar dari Matamu

Banyak orang bijak menasehati. Katanya, jangan terlalu bergantung pada kemampuanku mengamati. “Tatap matanya sungguh-sunguh. Maka, kamu akan menemukan sesuatu.” mereka menambahkan. Sebab, ada kalanya kata-kata tak mampu menjelaskan realita. Dan tatapan mata mampu membuka cakrawala.

Memilih posisi duduk di depanmu adalah cara agar aku bisa mengamatimu dengan jelas. Aku ingin tahu bagaimana caramu berbincang dengan orang lain. Aku ingin melihat ketulusan yang terpancar dari matamu.

Terlepas bagaimana baiknya kamu menempatkan diri di berbagai situasi. Aku tahu betul saat itu kamu menikmati setiap waktu yang bergulir.

Tawamu pecah dan lepas. Sorot matamu tertuju fokus hanya kepadaku. Segala kisah bahagia yang sudah terlewat kamu ceritakan kembali. Dan kamu tersenyum hangat. Siapa pun yang melihatmu, kuyakin mereka turut merasakan kebahagiaanmu saat itu. Begitu pula aku.

Aku percaya, ada rasa yang tak bisa terungkap melalui kata. Dan bersama sunyi kita bisa sama-sama merasa. Tatapan mata bahagia dan senyum ceria mampu memperjelas segala rasa yang ada.

Darimu aku tahu bahwa ternyata kita bisa merasakan perasaan orang lain hanya dari tatapan mata.

Darimu juga aku tahu bahwa tatapan mata lebih cepat menunjukkan sebuah kejujuran dibandingkan kata-kata.

Sejatinya manusia tidak akan pernah bisa membohongi perasaannya. Mulut bisa saja bungkam. Kata-kata yang terungkap bisa saja diatur sedemikian rupa hingga menyerupai kebenaran.

Namun, tidak dengan tatapan mata. Ia selalu mampu memancarkan kejujuran dan ketulusan setiap kita.