Cerita: Si EyangΒ 

​Namanya Ibu Suyati. Usianya saya tidak ingat dengan pasti. Yang jelas di atas enam puluh tahun. Eyang satu ini adalah pasien saya. Pertama kali kenal, langsung mengobrol panjang sekali. Sesi ngobrol dilakukan saat saya melatih bahu eyang yang sedang sakit. Jadi, lumayan ada waktu luang yang agak panjang. 

Informasi yang saya ketahui kali pertama kenal, asal kampung eyang sama seperti ayah saya. Yaitu, di Cilacap, Jawa Tengah. Kalau kampung ayah di Kroya. Sangat dekat dengan Cilacap. Fakta tersebut menjadi awal obrolan kami semakin seru. 

Beliau juga alumni universitas yang sama sama dengan saya. Si eyang ini lulusan Fisika dan bekerja di bidang radioaktif. Katanya, sudah melalang buana ke banyak tempat karena keperluan seminar ataupun jadi pembicara seminar. Pokoknya eyang-eyang gesit dan aktif! Perawakannya juga terlihat betapa gesitnya beliau. Selain gesit, eyang  juga memiliki wajah yang selalu ceria dan humoris. Tak jarang saya dibuat ketawa olehnya πŸ˜€ 

Percakapan terakhir saat pertemuan pertama dengannya, eyang menyinggung hubungan usia saya yang sudah dua puluh empat dengan belum adanya calon. Hmm, si eyang bikin mikir aja ya ini hahaha yang jelas beliau mendesak secara halus, paling tidak meskipun belum ada rencana menikah, calon harus segera dipikirkan. Siap, Eyang Suyati! πŸ˜‰

Selain pintar, cantik, dan ceria, Eyang juga sangat senang memberi. Tiap kali beliau ke luar kota, tidak jarang membawa oleh-oleh untuk unit Fisioterapi. Semua dapat oleh-oleh yeaaay!! Terima kasih, eyang. Kalau sedang memasak banyak, eyang juga rajin membawakan masakannya untuk kami. Semoga kebaikan eyang dibalas Allah. Aamiin.

Hari ini saat bertemu di rumah sakit, wajah eyang bersedih karena kabar yang saya berikan via what’s app tadi malam. Mohon maaf, ya eyang. Mohon dimaafkan juga bila ada perkataan dan perbuatan yang tidak berkenan dihati eyang. Insya Allah, nanti saya akan main ke rumah eyang. Semoga seiring bertambah usia, eyang tidak lupa dengan saya. Semoga masih diberikan kesempatan berjumpa lagi. Sehat selalu ya, Eyang Suyati. Semoga eyang dan keluarga diberikan keberkahan dan kesehatan selalu. Semoga selalu didekatkan dengan kebaikan. 

Terima kasih untuk kenang-kenangan yang super bagus. Insya Allah berguna, eyang πŸ˜€ Sangat berterima kasih kepada Allah karena diberi kesempatan mengenal eyang πŸ™‚

​
 

(Lagi-lagi) Hukum Tabur TuaiΒ 

Kamu tahu hal yang paling mengagumkan di dunia ini? Yang paling mengagumkan adalah ketika manusia saling menebarkan kasih sayang, saling memberi tanpa pernah berharap kembali, saling menghargai, saling menghormati, dan saling melakukan hal optimal sesuai dengan kapasitasnya. Untuk sesama πŸ™‚

Jika ditanya, atas dasar apa harus berlaku seperti itu? Apakah keuntungan yang akan didapat? Bisakah berlaku hukum timbal balik dan hukum balas jasa? Jawabannya sederhana. Semua dilakukan demi ketenangan hati. Tidak ada niat yang lain.

Ada tipe orang yang mempercayai, hal utama dalam menjalani hidup adalah hati yang tenang. Hati yang tenang hanya didapatkan jika kita melakukannya dengan tulus tanpa berharap apa-apa pada manusia. Hati yang tenang akan didapatkan ketika kita mengikuti kata hati. Dan hati yang tenang hanya didapatkan ketika kita tidak mengorbankan orang lain demi kepentingan kita.

Percayalah, hati selalu mengarahkan kita pada hal-hal yang lurus. Jalan lurus yang kita ambil akan mendekatkan kita pada hal-hal yang benar. Jadi, tidak perlu merisaukan bagaimana kelanjutan hidup kita tanpa ada balas jasa dan keuntungan. Semua akan kita dapatkan, jika jalan yang kita pilih adalah jalan yang lurus dan benar.

Setelah memilih jalan yang lurus dan benar, berharap saja pada Tuhan. Agar semua yang telah dilakukan akan dibalas oleh Tuhan setimpal dengan apa-apa yang telah kita usahakan. 

Lalu, setelah mengikuti kata hati, bagaimana jika hasilnya tidak sesuai dengan harapan? 

Bagi orang-orang yang mempercayai dan meyakini hati yang tenang adalah utama, dia tidak akan jatuh terlalu dalam, tidak berlarut-larut dalam kesedihan, dan tidak terperosok dalam jurang keputusasaan.

Bukankah sedih dan kecewa hanya dua dari banyak emosi yang manusia miliki? Jadi, kala mendapat ujian dan kita merasakan dua emosi itu ya hal yang wajar πŸ™‚ Hanya tergantung bagaimana kita menghadapinya lalu kembali lagi bersemangat dan berpikir positif dengan takdir Tuhan.

Pasti ada alasan-alasan indah dibaliknya yang mungkin saja saat ini belum terpikirkan oleh akal, tetapi hal tersebut menjauhkan kita dari hal yang tidak benar. Jangan pernah ragu dengan takdir Tuhan. Sebab, akan selalu ada alasan baik nan indah dibalik kejadian buruk yang tidak pernah kita harapkan. 

Kembali ke hal-hal yang paling mengagumkan di dunia ini yang telah saya sebutkan di atas, jika itu benar lakukan saja. Dan ubah fokus kita, hal yang kita lakukan sama sekali tidak ada hubungannya dengan “Apa yang akan orang lain lakukan nantinya”. Tidak perlu membuang waktu memikirkan itu. Ini tentang kita ingin menjadi apa. Ingin hidup seperti apa. Dan bermuhasabah selalu, untuk apa sebenarnya kita di dunia? Ingat selalu prinsip awal. Hati selalu mengarahkan pada hal yang lurus -> Pilihlah jalan lurus -> Jalan yang lurus akan mendekatkan kita pada hal benar -> Dan kita akan bertemu dengan hal-hal baik -> Kita mendapatkan kebaikan.

Hukum tabur tuai berlaku disini πŸ™‚ Menabur bibit yang baik, maka kita pun akan menuai hasil yang baik pula. Insya Allah.

Hanya Karena

Hanya karena melihat kelamnya dunia, jangan sampai kita tak lagi percaya

Di dunia ini masih ada orang-orang tak bermuka dua

Masih ada orang-orang nan tulus dan bersahaja

Yang masih menjunjung tinggi cita

Hanya karena melihat sisi munafik manusia, jangan sampai kita tak lagi percaya

Di dunia ini masih ada orang-orang jujur dan apa adanya

Yang menjunjung tinggi tugas seorang hamba

Yang meyakini sepenuh hati Sang Maha Kuasa

Bahwa dunia hanyalah sementara

Hanya karena dianggap tidak berguna, jangan sampai kita tak lagi percaya

Penilaian manusia sama sekali bukan apa-apa

Jika yang dijunjung olehnya adalah sebuah ketidakadilan

Jika yang diyakini adalah tahta segalanya

Hanya karena dunia terlihat begitu kejam, jangan sampai hilang rasa percaya

Keputusan apapun bukan apa-apa

Jika Tuhan telah memutuskan kita akan “baik-baik saja”

Cerita: The Power of Team Work

​Saya percaya, seberapa berat beban yang ada, tidak akan terasa berat selama dipikul bersama-sama. Seberapa berat ujian yang ada, tidak akan terasa sulit selama kita saling menguatkan dan bergandeng tangan. Dan seberapa berat aral melintang tidak akan sukar dilewati, selama kita saling membantu untuk menghadapinya. Bersama akan membuat kita menjadi lebih kuat, lebih mampu, dan lebih bersemangat. Kita akan menjadi sosok tangguh yang tak akan pernah kita bayangkan sebelumnya πŸ™‚

Saya merasa sangat beruntung ketika Allah menempatkan pada suasana kebersamaan yang sangat hangat. Dalam kebersamaan itu, selalu ada pelajaran-pelajaran yang dapat dipetik dan dipelajari. Indahnya kebersamaan menjadi pengingat untuk diri sendiri, bahwa saya bukan apa-apa tanpa ada sosok-sosok teladan yang selalu ringan tangan menolong orang lain. Membuat saya lagi-lagi berkaca, sudah sejauh mana kemampuan peduli terhadap orang lain? Sudah sejauh mana rasa peka untuk selalu mengutamakan kepentingan bersama daripada kepentingan pribadi? Pertanyaan ini benar-benar menyentil saya yang terkadang lupa hakikat kehadiran orang-orang disekitar kita.

Hari ini saya kerja shift siang bersama Kak Rita dan Dini. Suasana selalu menyenangkan bekerja sama dengan mereka. Karena kami saling bahu membahu meringankan beban yang ada. Sehingga kami merasa dimudahkan untuk menunaikan hak seperti untuk ibadah sholat dan istirahat selama tiga puluh menit. Tiap kali ada masalah yang dihadapi, kami juga saling membantu menyelesaikan masalah tersebut. Tidak lepas tangan dan abai dengan teman sejawat. Hasilnya, pekerjaan yang dihadapi terasa sangat ringan dan mudah dijalani. Tugas yang dilakukan dengan kerja sama yang baik buah hasilnya pun menakjubkan. Rasa lelah? Tetap ada. Tetapi sama sekali tidak dirasakan dan menyenangkan. The power of team work is amazing πŸ™‚ 

Alhamdulillah kami diberikan kesempatam untuk sharing lagi tentang masalah yang akhir-akhir ini membebani pikiran. Sekadar mencurahkan isi hati dan mengambil pelajaran di dalamnya. Agar ke depannya kami lebih tegar dan waspada menghadapi masalah seperti ini. Karena terhanyut, kami sampai-sampai tidak menyadari jam pulang telah tiba. Berbincang bersama orang yang kita sayangi, sering kali waktu terasa bergulir cepat πŸ˜€

Namun, saya tidak bisa berlama-lama bersama dengan mereka lagi. Bukankah seberapa menyenangkan atau menyedihkan momen pada akhirnya akan berlalu? Waktu tetap bergerak cepat meski kita ingin berlama-lama. Tugas kita hanya perlu melakukan yang terbaik disetiap momen dan bersyukur atas segala hal yang terjadi pada kehidupan kita. Dan belajar ikhlas dengan takdir. Roda kehidupan kembali berputar, itu artinya saya harus bersiap kemanapun roda itu berputar πŸ˜‰

Dimanapun tempatnya, Allah selalu menempatkan orang-orang baik disana. Dan saya beryukur karena pernah dibersamai oleh orang-orang baik itu. Ibu Khusnul, Kak Rita, Enung, dan Dini terima kasih untuk kebersamaannya. Semoga tari persaudaraan kita selalu terjaga. Semoga selalu dikuatkan menghadapi kehidupan yang tidak jarang menyuguhkan hal menyedihkan dan menyakitkan. Yakinlah, semua itu harus menempa kita agar menjadi manusia yang kuat hati dan kuat mental.

Berikut saya akan berikan beberapa koleksi foto rekam jejak kebersamaan kami. Memang tak banyak, tetapi sangat bermakna πŸ™‚

Foto bawah dari kiri ke kanan: Dini dan Kak Rita. Foto atas dari kiri ke kanan: Enung, Ibu Khusnul, dan Saya.​
​

Sedang makan tempe mendoan andalan di daerah Jalan Raden Saleh. Kalau sedang di Depok dan ingin makan mendoan, boleh sekali jalan-jalan ke daerah Raden Saleh ;)​
​

Acara perpisahan mendadak dan ala kadarnya. Sumbangan agar-agar berbentuk “Love” buatan Ibu Khusnul, minuman kopi murah meriah, snack chiki, dan catering rumah sakit. Sederhana dan menyenangkan, Alhamdulillah πŸ™‚ β€‹
​

Kutipan Buku: Zero Base – dalam Interaksi Sosial

Judul Buku: Baarakallaahu Laka Bahagianya Merayakan Cinta

Penulis: Salim A. Fillah

Halaman: 294-295

Majalah Ummi No. 3 Tahun XVI, Juli-Agustus 2004, menurunkan sebuah artikel tentang Zero Base dalam interaksi sosial. Dalam artikel itu, ditulis bahwa hal-hal di bawah ini adalah benefit, ketika kita menerapkan Zero Base dalam interaksi sosial. Saya malahan, ingin mengajak Anda untuk memandangnya sebagai pengikhtiaran. Berdasarkan prinsip Zero Base yang kemudian akan kita isi dengan kebaikan-kebaikan, inilah keindahan itu.

1. Pandanglah bahwa manusia adalah makhluk yang dinamis

Ia belajar dalam kesalahan dan memberbaikinya di waktu-waktu yang akan datang. Adalah ketidakadilan, menilai manusia hanya berdasar jejak rekam masa lalu. Semua manusia bisa tersalah sehingga ada peluang keindahan dengan memaafkan. Ada penerimaan yang imbal baliknya adalah proses perbaikan. Berhati-hatilah menyikapi manusia. Bahkan Imam di bidang ilmu Jarh wat Ta’dil, yakni ilmu kritik atas Rawi hadis yang menentukan shahih tidaknya suatu hadis sehingga ilmu ini menjadi sangat penting, mengajak kita untuk merenung. Beliau, Imam Yahya bin Ma’in berkata, “Boleh jadi kita mengkritik dan melemahkan seorang Rawi, padahal dia memasuki surga ratusan atau ribuan tahun mendahului kita.”

2. Bebaskan diri dari prasangka.

Segala hal yang “terlalu” tidaklah menampakkan kebaikan. Prasangka yang terlalu baik membuat kita terjebak pada sifat lalai, tertipu, dan terseret untuk berbuat tidak adil. Akan ada ketidakseimbangan. Sebaliknya, prasangka yang buruk akan membinasakan. Prasangka yang “terlalu baik” adalah ekspektasi yang melahirkan tuntutan psikis  kepada orang lain, maka jadilah kekecewaan yang bertimbun-timbun atau ketidakadilan terhadap pihak lain. Prasangka yang buruk akan menjadi sel-fulfilling prophecy. Jibril berpesan pada Nabi kita untuk diteruskan pada umatnya, “Cintailah orang yang kamu cintai sewajarnya, karena boleh jadi suatu ketika ia menjadi orang yang paling kaubenci. Bencilah orang yang kaubenci sewajarnya, boleh jadi suatu ketika ia menjadi orang yang paling kaucintai. (H.r  Bukhari)

3. Nilailah apa adanya.

Nilailah objektif dan apa adanya sesuai interaksi kita dengan mereka. Bersikaplah sebaik-baiknya dan katakanlah yang tidak tahu jika kita memang belum memahaminya. Dalam konsep yang dibawakan Umar bin Khaththab, mengenal seseorang berarti pernah bermalam bersamanya, melakukan muamalah, atau melakukan perjalanan bersama.

4. Beranilah mangambil sikap yang tepat.

Kita menilai dan menyikapi seseorang berdasar kebenaran, bukan keberpihakan bertendensi. Pembelaan atau penolakan, persekutuan atau permusuhan, bukan berdasarkan timbangan-timbangan keuntungan, tetapi berdasar cara pandang yang jernih dan bersih.

5. Berpegang pada standar Ilahiyah

Laa ilaaha, dengan mengosongkan diri dari standar-standar pribadi dan standar-standar artifisial lainnya, kemudian Illallaah membuat kita menerapkan diri pada standar Ilahi. Seseorang diukur bukan dengan hartanya, keturunannya, kedudukannya, atau jabatannya. Bukankah yang termulia di sisi Allah di antara kita adalah yang paling bertakwa?

6. Kosongkan diri dari tujuan kotor. 

Allah menciptakan kita berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya kita saling mengenal. Allah menciptakan kita bertetangga agar kita saling bersaudara. Ada tujuan-tujuan suci, ada keindahan-keindahan yang mengangkat diri ke ufuk tinggi. Maka jangan sampai ada tujuan-tujuan kotor dalam bertetangga. Memanfaatkan, menyakiti, merusak, dan tujuan kotor lainnya. Ingatlah, bahwa dosa atas maksiat yang dilakukan kepada tetangga, dilipatkan lebih dari sepuluh kali oleh Allah Swt. Imam Bukhari membawakan riwayat Rasulullah pernah bersabda, “Berzinanya seseorang dengan sepuluh wanita lebih ringan dosanya daripada jika ia berzina dengan istri tetangganya. Mencuri di sepuluh rumah lebih ringan dosanya daripada pencurian  yang ia lakukan di rumah tetangga.”

“Jibril senantiasa berwasiat kepadaku tentang tetangga, sampai-sampai aku menyangka bahwa tetangga akan ikut menjadi pewaris.” (H.r. Bukhari dan Muslim).

Menjadi Baik Harus Diperjuangkan

Topik ini cukup mengambil alih banyak pikiran saya. Tentang bagaimana menjaga sikap santun dan bersabar dalam menjalani hari. Nyatanya, menjaga sikap yang sudah terbangun lebih sulit dibandingkan memulainya. 

Melakukan akan lebih mudah jika kita berada di lingkungan yang santun dan sabar. Jika berada pada lingkungan sebaliknya itu adalah fase dimana akan terlihat jelas seberapa kuat kita menjaga sikap-sikap baik itu dalam diri. Seberapa besar kemampuan kita menebar kebaikan. Dan seberapa tangguh kita mempertahankan sikap baik di lingkungan yang tidak baik.

Melihat orang lain bekerja sama mencari cela pada orang lain adalah hal yang tidak menyenangkan. Karena kita tidak berhak menilai buruk dan meyakininya kalau dia pasti buruk. Kita tidak tahu apa-apa. Apalagi hanya melihat melalui televisi atau bahkan melalui cerita orang lain. Kita sama sekali tidak tahu apa-apa yang sebenarnya πŸ™‚ Jangan gegabah menilai dan menyakini sesuatu.

Jika yang terlihat adalah tindakan buruk dan kita tidak mengenalnya, berbaik sangka dan berdoa saja. Barangkali ada hal yang sangat menyulitkan hidupnya sehingga dia bisa berbuat seperti itu. Semoga orang tersebut segera diberikan hidayah dan Allah mengampuni. Semoga Allah melindungi kita dari sifat-sifat tercela seperti itu. Jika kita mengenalnya dan dia tipikal orang yang open minded, berikanlah sedikit nasihat. Siapa tahu ada hikmah di balik sedikit nasihat kita. Jangan pernah bangga jika kita pandai mencari kesalahan orang dan seakan buta dengan segala kebaikannya. Bisa jadi ada yang salah dengan hati kita. Sebab, seburuk-buruknya orang, hati selalu jujur apa adanya. Hati selalu dapat mengarahkan agar kita berbuat baik. Jika kita dengan mudah menuduh orang lain buruk, periksa kembali ada apa dengan hati kita. Karena hati yang akan menggerakan semua tindakan kita. Ingatlah selalu, kita bukan apa-apa. Allah yang maha tahu segalanya. Hati dapat dibolak-balikkan. Bisa jadi esok hari kita tidak sebaik orang yang “kita anggap” buruk itu. Semoga kita menjadi manusia yang berhati-hati dalam berkata.

Berhadapan dengan orang-orang seperti itu menjadi ujian tersendiri untuk saya. Ada keinginan untuk mengungkapkan supaya mereka berhenti berbicara hal-hal yang mengganggu. Tetapi diurungkan. Karena saya tidak pandai berdiskusi dengan orang yang tidak mau diajak berdiskusi. Karena hasil akhir selalu sama. Yaitu, tidak didengarkan dan berburuk sangka terus menerus. Dalam keadaan ini, menebar kebaikan yang dapat dilakukan adalah tetap melakukan hal baik yang saya ketahui dan tidak mengikuti hal-hal tidak baik yang dilakukannya. 

Saya masih bingung dan penasaran sebenarnya sejauh mana manusia harus bertahan pada lingkungan yang jauh dari kebaikan. Sebab, bukankah manusia harus bersabar? Bukankah dibalik sabar akan selalu ada hikmah? Lalu, bukankah Allah juga menyarankan agar kita berada pada lingkungan dan orang-orang yang baik? Agar kebaikan juga menyatu pada diri kita? 

Bukan tidak ingin memperjuangkan kebenaran. Berdasarkan pengalaman, berada pada lingkungan yang tidak baik sangat menyulitkan dan mengerikan. Sebab, setiap saatnya kita akan disodorkan oleh tindakan dan pemikiran yang buruk. Rasa-rasanya dunia penuh dengan prasangka buruk dan tidak ada harapan untuk hidup. Yang lebih berbahayanya lagi, berada di lingkungan yang tidak baik juga seringkali mendorong kita agar berlaku tidak baik. Dalam kondisi ini, sangat dibutuhkan kekonsistenan diri agar tidak terpengaruh dan berpegang teguh pada prinsip.

Bukankah jika berkawan dengan tukang minyak wangi kita akan tertular wangi? Dan jika kita bermain di tempat pembuangan sampah, aromanya juga akan menempel pada tubuh kita?  Selamat mendekatkan diri pada orang-orang dan lingkungan yang baik. Karena, menjadi orang baik harus diperjuangkan.

Kita Perlu Berusaha

Manusia yang baik adalah yang terus memperbaiki diri setiap waktu. Maka, ketika usia manusia bertambah, bertambah pula tugas manusia agar menjadi lebih baik. 

Seringkali kita mendengar usia tidak selalu berbanding lurus dengan kedewasaan. Orang yang lebih tua tidak selalu lebih dewasa dibandingkan yang lebih muda. Dan yang lebih muda sudah pasti tidak dewasa dibandingkan yang lebih tua. Begitukah? Saya kira belum tentu.

Menurut saya, tingkat kedewasaan sangat berhubungan dengan seberapa banyak manusia itu belajar. Siapapun itu, jika dia selalu ingin belajar dan memperbaiki setiap kesalahannya, hal itu akan mendewasakannya. Jika usia semakin bertambah tetapi sedikit belajar dari pengalaman, maka akan sedikit pula pelajaran hidup yang ia dapatkan. Dan jika pelajaran hidup hanya sedikit ia dapatkan, sangat masuk akal jika tingkat kedewasaannya masih kita ragukan. Bukankah disetiap jenjang sekolah kita juga mendapatkan pelajaran yang berbeda di setiap tingkatannya? agar kemampuan kita terus bertambah? Sepertinya berlaku juga untuk kehidupan kita.

Menjadi dewasa juga perlu diusahakan. Berusaha tiada henti. Mengusahakan agar menurunkan idealisme versi kita, menurunkan ego pada tingkatan serendah mungkin, berpikiran terbuka, dapat memposisikan diri disegala situasi, dan dengan ringan memaafkan orang lain. Itu adalah beberapa hal yang sedang saya usahakan dan benar-benar tidak mudah. Sebab, semakin besar usaha kita maka semakin besar pula ujian yang ada.

Pekerjaan saya berhubungan dengan manusia. Sehari-hari selalu dihadapkan dengan banyak karakter manusia yang berbeda. Dan ini adalah ladang saya untuk belajar. Tentunya, ladang pahala juga Insya Allah πŸ™‚ Ketika berhadapan dengan manusia santun, membuat saya bercermin betapa banyak harus belajar memperbaiki diri menjadi lebih baik. Ketika berhadapan dengan manusia tidak santun, membuat saya menyadari betapa banyak pula harus belajar bersabar dan menerima.

Saya seringkali berdebat dan menasehati diri saya sendiri. Ketika diri ini belum bisa menerima perlakuan tidak sopan dan tidak menghargai dari orang lain. Ketika diri ini marah ketika orang lain bertindak kasar dan bertindak sesuka hati. Ketika diri ini menolak untuk bertemu kala hati dan pikiran sedang  dalam keadaan tidak baik. Ego ingin sekali melakukan itu semua. Tetapi disisi lain hati menasehati, jika semua itu dilakukan adakah manfaat yang dapat dipetik dikemudian hari? Bukankah hal tersebut semakin membuat hati dan pikiran keruh? Hati berulang kali menasehati, jangan pernah merusak identitas diri hanya karena nafsu sesaat. Hanya karena perbuatan buruk orang lain. Hanya karena reaksi dari sebuah perlakuan. Jangan pernah.

Tersenyum kala hati sakit dan bersedih memang tidak mudah. Tetapi percayalah, kita bisa melakukannya. Jika kita bisa mendobrak ego kita. Jika kita melewatinya, kebijaksanaan akan kita dapatkan. Dan setelahnya, hati kita akan tenang. Tidak akan ada rasa sakit, sedih, bahkan benci pada orang yang menyakiti itu. 

Proses ini tidak semudah menghapuskan ukiran di atas pasir atau meniup debu di atas meja. Nikmati saja setiap proses. Hasil adalah bonus. Proses yang akan mendewasakan kita. Semoga kita menjadi manusia yang selalu mau belajar dan berjuang menjadi dewasa. Yuk kita mulai berusaha! πŸ˜‰