Cerita: Menjaga Diri

Adik saya masuk Sekolah Menengah Pertama (SMP) tahun ini. Jadi, ia harus mengikuti masa orientasi selama tiga hari. Kemarin sore, saya mengobrol banyak dengan dia tentang masa orientasinya. Singkat cerita, adik saya ini, Danang, ia ingin masuk ekstrakurikuler paskibra. Namun, masih ragu karena kegiatan paskibra yang lumayan berat dan melelahkan. Tiba-tiba, ada kakak kelas perempuan yang menyemangatinya. Ia juga bercerita bahwa kakak kelas ini juga yang ayah ceritakan. 

Kemarin, ayah bercerita, katanya, saat mengantar Danang ke sekolah, ada seorang kakak kelas perempuan merangkul pundak Danang sambil masuk ke dalam kelas. Saat mendengar itu, saya merasa aneh memang. Untuk apa seorang kakak kelas perempuan merangkul adik kelas laki-laki yang sudah remaja? pikir saya saat itu. Dulu, saat saya mengajar di sekolah, bahkan anak kelas 4 sekolah dasar saja sudah tidak boleh bersalaman bersentuhan lagi dengan guru yang berbeda jenis kelamin. Bagaimana dengan merangkul pundak? Sudah jelas jawabannya tidak akan boleh. Sejak dini, kami memberitahu bahwa selalu ada batasan pertemanan antara laki-laki dan perempuan.

Karena semakin penasaran, saya pun meminta Danang memperlihatkan chat whatsapp dengan kakak kelas perempuannya itu. Sebut saja namanya Kak MT ya, dalam chat tersebut si kakak ini membicarakan topik yang tidak berhubungan dengan proses orientasi. Kak MT adalah panitia masa orientasi. Sepertinya Kak MT terlalu sering menonton sinetron. Dichat tersebut, Kak MT cerita kalau ia sedang patah hati dan sedang bersedih. Katanya juga, Kak MT butuh teman cerita dan senang bercerita ke Danang. Kak MT pun sangat berterima kasih. Sebab, menurut Kak MT, Danang mampu membuat dirinya tersenyum dan bahagia. Menurut Kak MT juga, cara mengobrol Danang dichat lucu sekali. 

Setelah proses cerita, Kak MT pun sering ngechat dan bertanya Danang sedang apa. Juga bertanya Danang sudah shalat atau belum. Di akhir chat, Kak MT meminta Danang menyapanya jika bertemu di sekolah. Membaca chat itu saya langsung paham apa yang sedang Kak MT lakukan. Tetapi, Danang belum mengerti. Dengan polos, Danang mengatakan seperti ini,”Aku nggak tega mbak kalo ada perempuan sedih. Makanya dichat aku bilang begitu aja.” dan saya pun jadi bingung mulai dari mana menjelaskan ke Danang. Ia belum tahu bahwa niat Kak MT ini sudah tidak lurus lagi. Niat Kak MT ngechat bukan untuk proses orientasi lagi. Kak MT ini memiliki niat lain yaitu, untuk melakukan pendekatan kepadanya. Atau bahasa kekiniannya, melakukan PDKT.

Memberi penjelasan ke Danang yang sudah memasuki masa remaja memang tidak mudah. Danang itu ada di masa peralihan dari anak-anak ke remaja. Jadi, tentu ada banyak hal tentang kehidupan yang belum ia pahami. Memberikan pemahaman bahwa tidak semua chat harus kita balas tak mudah. Memberikan penjelasan bahwa kelak akan ada banyak orang yang ingin melakukan pendekatan kepada kita juga tak mudah. Apalagi adik saya ini lumayan ganteng hahaha faktor fisik ini saya rasa akan membuat keadaan semakin sulit. Menjadi orang ganteng memang sulit, dik :’) karena, sekeras apapun menjaga diri, akan terus ada orang-orang yang mendekati. Semua tergantung bagaimana kita menyikapi.

Saya juga ingin menyampaikan kepadanya, menjaga diri bukan tentang menjauhi banyak orang. Menjaga diri juga bukan menjadi orang yang anti sosial. Menjaga diri bukan menjadi orang yang tidak ramah dan baik kepada orang lain. Menjaga diri adalah tetap aktif berkontribusi, namun mampu menempatkan segala hal pada porsi dan situasi. Intinya, harus terus menerus meluruskan niat.

Kalau kasusnya Danang ini, menurut saya, arti menjaga diri adalah bagaimana Danang menepatkan diri sebagai siswa sekolah menengah pertama. Tentu ia harus semangat belajar dan mengembangkan potensi. Tentang rasa suka terhadap lawan jenis adalah wajar untuk laki-laki normal. Tapi, kembali lagi kepada konsep niat yang lurus untuk menjaga diri. Jika ia sudah memahaminya, tentu ia akan mengelola dengan baik rasa sukanya dan memikirkan kembali. Sekarang, saat yang tepatkah untuk fokus ke perasaannya itu? Bagimana dengan belajar dan mengembangkan potensi? Bukankah ada fokus yang lebih penting untuk dipikirkan? Bukankah fokus yang terbagi akan menghasilan proses dan hasil yang tidak optimal?

Hal-hal di atas adalah pemikiran yang mudah dipahami oleh saya. Namun, tidak untuk Danang. Mungkin, hal-hal yang nanti akan saya jelaskan ke Danang adalah tentang batasan menanggapi chat whatsapp orang lain. Bila tidak berhubungan dengan sekolah, sebaiknya tidak ditanggapi. Apalagi untuk hal-hal bersifat pribadi, mungkin sebaiknya Danang minta pendapat dulu ke orang tua atau mbak-mbaknya

Lalu, untuk merangkul pundak, mungkin saya akan mengatakan kepada Danang bahwa pertemanan antara laki-laki dan perempuan ada batasan yang perlu ditaati. Ada hal-hal yang boleh dilakukan atau tidak. Untuk sentuhan fisik tentu tidak boleh. Contohnya seperti, merangkul pundak, menggandeng lengan, bergandengan tangan, dan lain-lain. Jadi, kalau nanti Kak MT merangkul pundak Danang lagi, sebaiknya segera Danang lepaskan pelan-pelan. Meskipun ia kakak kelas, jangan takut untuk menolak bila itu memang keharusan. Sungguh tak apa.

Pengalaman Danang ini membuat saya yakin bahwa setiap orang harus mampu menjaga diri sendiri. Orang tua tentu akan melindungi. Tetapi, mereka tak selalu ada di sisi, kan? Ujian dari luar akan sangat banyak. Ujian datang bertubi-tubi dan tak pernah lelah. Jadi, kita pun harus mampu melindungi diri sendiri. Kita harus berani berkata tidak bila ada hal-hal merugikan datang menghampiri. Kita harus berani menolak bila ada pengaruh buruk datang. Kita harus menjadi orang yang tegas tentang menjaga diri ini. 

Kita tak perlu khawatir sikap ini akan membuat orang marah. Kita tak perlu takut sikap ini akan membuat orang sedih. Kita tak perlu takut sikap ini akan menyakiti orang lain. Sebab, sebelum memikirkan keadaan orang lain, kita perlu memikirkan diri sendiri. Sudahkah kita aman? Sudahkah kita terjaga? Sudahkah kita terlindungi? Jangan pernah mengorbankan diri sendiri hanya untuk menyenangkan orang lain. Kita tercipta bukan untuk mengorbankan diri sendiri dan menyenangkan orang lain, kan?

Sikap Kak MT juga membuat saya semakin sadar bahwa pengaruh sinetron percintaan di televisi memberi dampak buruk untuk remaja. Dari mana datang keberanian Kak MT melakukan pendekatan kepada lawan jenis? Kak MT meyakini bahwa sikapnya adalah hal biasa dan lumrah terjadi. Kak MT meyakini bahwa sikapnya normal dilakukan. Mengapa begitu? Sinetron melakukan hal yang serupa. Teman-teman sebaya pun melakukan hal serupa. Jadi, Kak MT pun ikut melakukan hal serupa yang dianggap normal itu. 

Saat saya SMP, tentu saya juga pernah menyukai lawan jenis. Dulu, kakak-kakak kelas pemain basket atau jago olahraga keren sekali. Jadi, mereka banyak digemari oleh adik kelas. Terus apa yang saya lakukan? Ya, ngefans saja. Saya hanya mengaguminya saja dari jauh. Kalau ia bertanding basket di sekolah, saya jadi tim pendukung yang paling bersemangat menyemangati. Hanya sebatas itu. Setelah kakak kelas itu lulus, yasudah selesai ngefansnya. Pada masa itu, perempuan melakukan pendekatan lebih dulu ke laki-laki belum lumrah terjadi. Belum normal. Jadi, kami tidak melakukan.

Zaman sekarang berbeda jauh dengan zaman dahulu. Acara televisi masa kini seakan membenarkan sikap tersebut. Dan anak remaja melakukannya bersama-sama. Karena dilakukan oleh orang banyak, sikap salah tersebut pun menjadi normal terjadi. Akhirnya, remaja melakukannya terus-menerus tanpa malu dan tak kenal ‘konsep menjaga diri’ lagi.

Ini menjadi tugas kita bersama bagaimana memberikan peringatan, pembelajaran, dan nasihat kepada anak remaja di sekitar. Memberikan pemahaman bahwa bagaimanapun zaman berkembang, selalu ada aturan yang membersamainya. Jika tidak mau tersesat, maka kita harus mempelajari aturan-aturan yang berlaku.

Kita selalu ingat bagaimana cara menjaga hati dan fisik orang lain. Memastikan mereka tidak tersakiti dan terluka. Namun, seringkali tidak tersadar, sembari menjaga orang lain, sesungguhnya kita telah menyakiti dan mengorbankan diri sendiri. Mulai saat ini, jaga diri sendiri dahulu, sebelum menjaga diri orang lain. Sebab, diri kita sangat berharga.

Advertisements

Aku Mengamati Dia

Sedari tadi aku melihat dirinya gelisah. Aku yang biasanya mampu mengamati orang lain dengan baik pun tak dapat menebaknya. Entah apa yang ia khawatirkan dihari yang bahagia ini. Raut wajahnya menunjukkan tak baik-baik saja. Namun, perkataannya menunjukkan hal sebaliknya. Ia berusaha untuk terlihat baik-baik saja.

Meskipun tak tahu apa yang sebenarnya terjadi, aku tahu ia sedang tak jujur. Tak jujur pada dirinya sendiri dan pada orang-orang di sekitarnya. Seolah-olah ia memasang dinding pembatas setinggi-tingginya agar siapapun tak dapat melihat ada apa di dalam sana. Seolah-olah juga, ia berkata baik-baik saja, meskipun kami melihat ada banyak luka disana. Ia tak mau mengungkapkan perasaan dan pikirannya. Ia benar-benar membatasi diri.

Aku melihat rasa sepi dibola matanya. Aku merasa hatinya tak hadir meskipun dirinya ada disini. Mungkinkah itu yang dinamakan merasa sepi dalam keramaian? Ia merasa kesepian meskipun kami disini bersuka cita bersama. 

Aku melihat ia ingin berteriak dan berlari untuk menghentikan segalanya. Namun, tuntutan di luar sana menghentikan suara dan langkah kakinya. Ia berteriak dalam diam. Ia berlari dalam diam. Tahukah kamu pemandangan apa ya aku lihat disana? Ia tak tenang dengan dirinya sendiri. Ia bergerak kesana kemari tanpa tahu arah mana yang dituju. Ia bercerita ini dan itu tanpa tahu topik apa yang sesungguhnya ingin ia sampaikan. Ia bingung dengan dirinya sendiri.

Ia mengeluh kesekian kalinya atas apa yang ia telah putuskan. Ia mengerutkan dahi kesekian kalinya atas apa yang ia telah pilih. Ia kecewa kesekian kalinya atas apa yang ia telah miliki. Dari apa yang ia tunjukkan dalam sikap, aku tahu ia belum mencintai dirinya sendiri.

Benar adanya bahwa jujur pada diri sendiri adalah penting. Sebab, dengan begitu kita akan bisa segera memulihkan dan menyemangati diri sendiri. Dan kemudian berlari lagi. Dengan begitu kita bisa melakukan apapun yang disuka. Tanpa harus memikirkan apa kata orang lain. Tanpa harus mengkhawatirkan pandangan orang lain. Karena kita menyadari betul, jujur pada diri sendiri adalah utama. Membuat nyaman diri sendiri adalah utama. Karena hanya kita yang benar-benar memahami hal apa yang membuat hati ini bahagia.

Benar adanya bahwa jujur pada orang lain adalah penting. Sebab, dengan begitu orang lain akan mempertimbangkan perasaan kita. Orang lain akan menyesuaikan diri kita. Orang lain akan menerima segala kekurangan kita. Orang lain akan meminta maaf dan juga memaafkan. Dan orang lain akan bekerja sama atas potensi-potensi yang kita punya.

Benar adanya bahwa mencintai diri sendiri adalah penting. Sebab, dengan begitu kita akan fokus menerima segala kekurangan dan mengoptimalkan segala potensi diri. Kita juga akan fokus dengan cita-cita dan menggapainya. Mencintai diri sendiri juga membuktikan bahwa kita mencintai-Nya. Kita menerima, bersyukur, mencintai ciptaan-Nya. 

Mengamatinya membuat aku tersadar bahwa kita benar-benar bertanggung jawab atas diri sendiri. Ingin menjadi seperti apa dan bagaimana cara menjalani hidup adalah kita yang menentukan. Ingin setenang apa hati dan pikiran juga tergantung bagaimana kita mengaturnya. Allah meminjamkan diri ini untuk sementara. Masihkah kita alpa untuk mengatur hati dan tubuh ini dengan sebaik-baiknya? 

Menjalin Hubungan

Kita Memiliki Kuasa atas Diri Ini

Selalu ada cara yang baik bila kita mau mencari tahu. Selalu ada cara yang baik bila kita mau melakukannya. Dalam hidup, kita akan selalu mendapatkan banyak pilihan. Semua hanya terserah apa pilihan kita.

Kehidupan juga sering memberikan pelajaran. Semua hanya tentang mau atau tidak kita mencari pelajaran dalam setiap fase kehidupan.

Menjadi baik adalah proses panjang. Menjadi baik tidak didapatkan dengan cara cepat. Kita melakukan banyak kesalahan hingga pada akhirnya kita tahu mana yang benar. Kita melakukan banyak kekeliruan hingga pada akhirnya kita tahu mana yang tepat. Hidup adalah tempat untuk belajar dan menuju kebaikan kan?

Kita selalu memiliki kesempatan untuk memilih ingin menjadi seperti apa diri ini. Kita selalu memiliki kesempatan untuk memutuskan ingin menjadi manusia seperti apa diri ini.

Lantas, jika saat ini, diusia yang sudah mencapai angka lebih dari 20 masih saja tak mampu mengontrol diri dan menjalin hubungan baik dengan orang lain, ada apa dengan diri ini?

Kita dan Orang Lain

Kita adalah pengatur diri sendiri. Namun, bukan pengatur hidup orang lain. Kita berhak memaksakan diri sendiri untuk melakukan sesuatu. Namun, kita tidak berhak memaksakan orang lain. 

Kita adalah pengingat untuk diri sendiri dan boleh mengingatkan orang lain. Kita adalah pengajar untuk diri sendiri dan boleh mengajarkan ilmu kepada orang lain. 

Ada hal-hal boleh dilakukan pada diri sendiri dan boleh dilakukan pada orang lain. Namun, ada juga hal-hal boleh dilakukan pada diri sendiri, namun tak boleh dilakukan pada orang lain. 

Kita tidak pernah memiliki kuasa atas hidup orang lain. Orang lain berhak mengatur hidupnya sendiri. Orang lain berhak memilih jalan hidupnya sendiri. Orang lain berhak membuat keputusan atas hidupnya. 

Kita tak boleh lupa, selalu ada batasan dalam menjalin hubungan dengan orang lain. Bila kita tidak mampu mematuhi batasan itu, maka akan ada hati yang tersakiti. Bila kita tidak mampu menghargai batasan itu, maka akan ada harga diri yang tercederai.

Menjalin Hubungan dengan Orang Lain

Menjalin hubungan dengan orang lain adalah tentang mau atau tidak memikirkan kehadiran orang lain. Menjalin hubungan dengan orang lain adalah tentang menanamkan kesadaran bahwa di dunia ini tak hanya ada diri ini. Menjalin hubungan dengan orang lain adalah tentang keikhlasan meluangkan waktu untuk mempertimbangkan urusan orang lain. Menjalin hubungan dengan orang lain adalah tentang kerendahan hati bahwa kita tak bisa hidup sendiri dan membutuhkan orang lain di sisi. 

Mungkin kamu akan menanggapi kalimatku di atas seperti ini,”Menyatukan dua manusia itu sulit. Ada dua kepala yang sudah terisi dengan banyak prinsip dan keinginan. Bagaimana cara mengambil jalan tengah dalam hubungan ini? Agar tak ada yang tersakiti?”

Menjalin hubungan bukan menyatukan dua manusia. Karena, tidak akan mungkin menyatukan dua manusia yang memiliki banyak perbedaan itu, kan? Sesungguhnya, yang dapat dilakukan adalah saling menghormati hak-hak yang ada. Kita tak boleh lupa tentang hak orang lain. Mengambil keputusan dalam suatu hubungan pun, harus memerhatikan hak setiap rekan dalam hubungan itu.

Kita tak boleh melakukan apapun sesuka hati. Kita harus mempertimbangkan orang lain dalam mementukan sikap dan perkataan. Jangan sampai, salah-salah bersikap malah akan menyakiti hati orang lain. Jangan sampai, salah-salah berkata malah akan melukai harga diri orang lain.

Selalu ada cara yang baik untuk bersikap. Bila ada cara yang baik, mengapa kita harus memilih cara yang tidak baik?

Selalu ada kesempatan untuk kita berpikir sejenak sebelum berkata. Bila ada kesempatan untuk berpikir dan memilih kata yang nyaman didengar telinga, mengapa kita harus memilih kata yang tak nyaman untuk didengar dan dirasakan?

Selalu ada kesempatan untuk kita berpikir sebelum bertindak. Bila ada kesempatan berpikir dan memilih tindakan yang memudahkan urusan orang lain, mengapa kita harus memilih tindakan yang menyulitkan?

Selalu ada kesempatan untuk kita berubah menjadi lebih baik. Bila ada kesempatan untuk berubah, mengapa kita tidak perlahan belajar cara menjalin hubungan dengan baik?

Jaga lisanmu.

Jaga tindakanmu.

Sebab, keegoisanmu dalam berkata dan bertindak mampu membuat luka begitu dalam pada hati orang lain.

Semangat mengontrol diri dan menjalin hubungan dengan baik, teman-teman. Semoga Allah memudahkan segala niat dan usaha baik kita. Aamiin 

Cerita: Kejahatan Terjadi Karena Ada Kesempatan

Tayangan berita tentang begal di daerah Tangerang Selatan beberapa hari lalu membuat saya ingin berbagi pengalaman tentang menjadi korban tindak kejahatan. Pengetahuan bahwa lingkungan sekitar tidak selalu aman dan tak hanya berisi orang baik saja perlu diperkenalkan sejak dini.

Seingat saya, saat kecil, saya tidak terlalu tahu banyak tentang kejahatan di sekitar. Yang saya tahu hanya peringatan seperti ini, “Jangan jauh-jauh perginya, nanti diculik.” Peringatan yang kerap orang tua ucapkan ketika berada di lingkungan baru. Lalu, dampaknya terhadap saya apa? Tentu saja saya takut pada peringatan orang tua, takut pada penculik, dan menurut. Anak kecil selalu takut dengan penculik, kan? Kalau saya, mengenal penculik sepertinya dari tayangan televisi.

Saat kecil, pengetahuan saya tentang kejahatan hanya sebatas itu. Karena ilmunya belum banyak, saya pun lumayan sering menjadi korban kejahatan. Oleh karena itu, saya berpendapat, sepertinya sejak dini anak-anak perlu sekali dijelaskan pentingnya menjaga diri. Supaya anak-anak siap melindungi dirinya dari orang-orang jahat di sekitarnya.

Pada postingan ini, saya akan menceritakan beberapa pengalaman saya menjadi korban tindak kejahatan. Semoga ada hikmah yang dapat diambil.

2005 – Kelas 7 Sekolah Menengah Pertama – Depok Town Square

Ketika itu, siswa baru sekolah menegah pertama mendapat tugas membeli kumpulan buku soal-soal geografi. Karena sekolah tidak memfasilitasi pembelian buku tersebut, kami berinisiatif untuk bersama-sama membeli buku. Saya dan dua orang teman berencana membeli buku di Toko Buku Gramedia Margonda Depok. Ini adalah pengalaman pertama kami pergi ke tempat baru sendiri tanpa didampingi orang tua. Ini juga pengalaman pertama kami naik angkutan umum (angkot) sendiri tanpa didampingi orang tua. Rasanya seperti apa? Deg-degan sekali! Tetapi, karena kami bersama, rasa takut pun perlahan berkurang.

Kala itu, pergi ke mall adalah pengalaman langka. Karena saya dan teman-teman lebih sering bermain di kebun dan melakukan permainan tradisional. Di Depok sepanjang jalan margonda pun hanya ada Mall Depok dan Mall Plaza. Saya ingat betul, tahun 2005 itu, Depok Town Square (Detos) baru saja dibuka. Saat itu Desember 2005. Saya tak akan pernah melupakannya. Karena, pohon natal setinggi 15 Meter di tengah mall itu selalu teringat jelas dalam ingatan.

Anak usia 13 tahun yang nyaris tak pernah berkomunikasi dengan orang lain selain keluarga, guru, dan teman-teman pun masuk dalam jebakan penjahat itu.

“Kalian sekolah dimana?” tanya seorang ibu-ibu tak dikenal itu di atas eskalator. Saya dan teman-teman sedang naik eskalator. Tiba-tiba saja si ibu tak dikenal menyapa kami.

“Di SMPN 2 Depok, bu.” dengan wajah malu-malu dan suara ragu-ragu kami berusaha menjawabnya. Kami menjawab singkat sekali. Bukan karena hati-hati. Melainkan, kami belum mahir dalam berkomunikasi.

“Oh begitu. Ibu kenal tuh sama guru matematika di SMPN 2 Depok. Perempuan kan? Dia teman ibu. Namanya siapa, ibu lupa.” ia menjawab sekaligus memberikan pertanyaan jebakan. Kalian yang saat ini berusia 20 tahun-an mungkin langsung tahu bahwa itu jebakan. Kami? Pada saat itu, kami tidak tahu menahu dan belum terasah untuk berpikir kritis.

“Namanya Bu Wiwi, bu. Wah, ibu kenal?” kami menjawab dengan polos dan tanpa curiga. Disertai senyum semangat pula. Kami benar-benar anak rumahan yang tak bisa membaca situasi.

Singkat cerita, Si ibu tidak dikenal itu melakukan tindakan penipuan kepada kami. Kami diinterogasi di dunkin donuts untuk ditanyakan tentang latar belakang keluarga dan benda-benda yang dipakai. Seperti jam tangan, anting, dan uang yang saat itu kami bawa.

Setelah proses interogasi oleh si penipu di dunkin donut toko buku gramedia Depok, kami dibawa ke detos yang dapat ditempuh dengan berjalan kaki. Toko Buku Gramedia dan Detos berdekatan. Apa motifnya kami diajak ke sana? Entahlah. Tapi, kalau saat ini saya pikirkan, sepertinya si penjahat ingin membuat konsentrasi kami terpecah.

Sejak proses introgasi oleh penipu sebenarnya saya sudah tahu ada yang tidak benar dengan si ibu. Saya sudah curiga dengan laku dan lisannya. Namun, keberanian untuk mempertahankan diri tak ada. Fakta membuktikan, kecurigaan tanpa dibarengi dengan keberanian hasilnya adalah nihil. Sampai akhir, saya mengikuti instruksi si penjahat.
Sesampainya di detos, kami dipisah. Sebelumnya, kami ditawarkan hadiah gratis oleh si penjahat.

Katanya, event ini khusus untuk anak sekolah yang sedang berada di mall. Katanya juga, hadiahnya adalah tas dan alat tulis. Syaratnya hanya satu, kami harus datang sendiri mengambil hadiahnya. Tanpa curiga, kami pun tergiur dengan tawaran itu. Kami menurut dan mengikuti instruksi si penipu.

Saat itu, sebenarnya saya semakin curiga dengan tindakan si penipu. Ponsel bergetar di dalam saku pun tak berani saya angkat. Khawatir si penipu akan sadar bahwa saya sudah tahu rencananya. Saya menahan diri dan memberikan tanda bahaya melalui mimik wajah dan menginjak kaki si teman. Namun ia tak menangkap tanda bahaya yang saya berikan. Lagi-lagi saya gagal untuk pergi dari si penipu.

Si penipu menginstruksikan Anis untuk ke lantai 1 mengambil hadiah. Saya dan Anisa Titi diinstruksikan untuk menunggu lantau 2 menjaga tas. Anis turun ke lantai 1 tanpa membawa tas. Entah pikiran apa yang terlintas di kepala, saya khawatir sekali Anis turun ke lantai 1 sendirian. Saya takut Anis diculik. Akhirnya, saya dan Anisa Titi pun bergegas menyusul Anis ke lantai 1 tanpa menunggu persetujuan si penipu. Kami tidak membawa tas. Tas tak kami pikirkan. Bagi kami, yang paling penting saat itu adalah tetap bersama-sama. Kok kalian tidak lari saja sambil membawa tas? Kenapa harus takut? Mall kan ramai? Mungkin saat ini, kalian yang membaca dapat berpikir jernih seperti itu. Dahulu, ide seperti itu tak pernah terlintas dalam pikiran kami. Kami hanya berpikir dua hal yaitu, tetap bersama dan selamat.

Saya dan Anisa Titi tak juga menemukan Anis. Kami panik dan takut. Akhirnya, sambil bercucuran air mata kami menuju pusat informasi untuk meminta tolong memanggilkan nama teman kami melalui speaker. Alhamdulillah, tidak lama menunggu, Anis pun datang. Kami berpelukan sambil menangis. Segala rasa bercampur. Bahagia karena berkumpul kembali. Bersedih karena kami menjadi korban tindak kejahatan. Kami pun menangis. Menangis karena takut. Menangis karena takut Anis diculik. Menangis karena tas kami hilang. Menangis karena kami ditipu. Menangis karena kami dapat berjumpa kembali dalam keadaan selamat.

Pak Satpam datang dan kami dibawa ke kantornya. Disana, kami diintrogasi mengenai kejadian siang tadi bersama si penipu itu. Ada kejadian yang lucu sekaligus memalukan. Saat menuju kantor satpam yang berada di lantai 2, kami tak henti menangis di sepanjang eskalator. Pengunjung mall di lantai 1 pun menatap kami dengan tatapan aneh. Mungkin, mereka bingung sekaligus prihatin. Mungkin juga mereka bertanya-tanya,“Ada apa dengan tiga anak remaja yang menggunakan seragam putih biru ini?”

2011 – Mahasiswa Tahun Pertama- Masjid Salemba UI

Kampus saya sebenarnya di Depok. Tetapi, karena dosen yang mengajar beberapa mata kuliah memiliki banyak aktivitas di Salemba, mahasiswa pun akhirnya menyesuaikan aktivitasnya. Setiap Hari Sabtu saya berkuliah di kampus salemba. Kejadian ini terjadi di Masjid UI Salemba. Saat itu, saya dan teman-teman sedang shalat di lantai 2.

Kami duduk di dekat shaf paling belakang. Kami duduk berkumpul disana. Kami shalat bergantian dan meletakkan tas persis di samping tempat duduk. Karena jarak antara tempat kami duduk, sajadah, dan tempat wudhu tidak terlalu jauh, meletakkan tas tak perlu izin pun sepertinya tidak menjadi masalah. Saya meletakkan tas begitu saja di samping seorang teman tanpa mengampaikan pesan apapun.

Setelah shalat, saya kembali ke tempat teman-teman berkumpul untuk mengambil tas. Dan saat itulah saya panik. Tas saya tidak ada disana. Karena saya tidak ‘menitip tas’ pada teman, teman saya pun tidak tahu menahu tentang tas saya itu. Ia pun tampak kebingungan. Tas saya hilang.

Saya segera menuju kantor satpam. Kali ini tidak ada adegan tangis-tangisan. Saya sudah cukup pasrah dengan takdir. Saya hanya ingin melaporkan kejadian dan melihat kamera CCTV. Saya ingin mengetahui bagaimana kronologi pencurian itu. Saya dan satu teman, bersama-sama menuju ke ruangan pemutaran CCTV di temani oleh Pak Satpam. Video dengan durasi panjang yang dipercepat itu menunjukkan kronologi pencurian tas saya.

Metode pencurian yang digunakan adalah menukar tas saya dengan tas milik si pencuri. Dengan gerak tubuh santai berpengalaman, si pencuri melakukan aksi dengan mulus. Tak ada sedikitpun gerakan ragu. Dalam hitungan detik, ia berhasil menukar tas dan segera pergi meninggalkan lokasi masjid. Hebat benar memang si pencuri ini. Saya dan orang-orang yang menonton dibuat takjub dan geleng-geleng kepala. Gelengan kepala yang menandakan betapa heran kami. Ternyata pencuri profesional itu benar adanya.

Alhamdulillah, tas saya tidak berisi barang-barang berharga. Tas mahasiswa tahun pertama itu hanya berisi buku dan dompet yang isinya sedikit uang. Satu-satunya barang berharga adalah kartu-kartu yang ada di dalam dompet itu.

Alhamdulillah juga, seminggu setelah kejadian, ada tukang angkot mengantarkan dompet saya ke rumah. Kata si tukang angkot, ia menemukan dompet itu di bangku belakang dalam angkotnya. Ia kasihan terhadap pemilik dompet dan memutuskan mengantarkan langsung ke rumah. Uang dan kartu-kartu tidak ada yang hilang. Karena, saya meletakkan uangnya diselipkan ke sela-sela dompet. Mungkin, karena terburu-buru, si pencuri pun menjadi tidak teliti? Entahlah. Bagaimanapun kenyataannya, saya sangat bersyukur dompet kembali meskipun tas dan buku-buku saya tidak kembali.

2015 – Bekerja di Jakarta Barat – Area sekitar Stasiun Tanah Abang

Ketika bekerja di Jakarta Barat Meruya, saya tinggal di kosan. Keputusan itu dibuat untuk keefektifan waktu dan mempertimbangan kesehatan saya. Saya bukan orang yang tahan banting dan mudah sakit. Berada di dalam kereta yang sangat penuh pun mampu membuat saya hampir pingsan di dalam kereta.

Saat kejadian, saya sedang menuju stasiun tanah abang untuk pulang ke rumah. Saya memiliki jadwal pulang setiap akhir pekan. Setiap pulang, saya memang banyak membawa barang bawaan. Entah itu ada sesuatu yang ingin diberikan untuk keluarga di rumah, ataupun barang-barang yang sudah tidak digunakan lagi di kosan. Barang-barang itu saya masukkan ke dalam tas carrier besar itu. Tas yang biasa saya gunakan untuk travelling. Karena ukurannya besar dan berat, saya tidak menggendong tas di depan dada seperti biasanya (untuk menjaga tas tetap aman dan terhindar dari pencopetan). Saat itu, saya menggendong tas itu di punggung.

Saya itu kalau berjalan memang selalu cepat. Apalagi bila berjalan sendirian di tempat baru. Apalagi bila malam hari. Apalagi bila tempat itu adalah lokasi yang tepat untuk para penjahat beraksi. Sejak menjadi korban kejahatan tahun 2005, saya selalu berusaha berhati-hati dan waspada.

Karena jalan yang ditapaki adalah tanjakan dan ramai dengan orang-orang, saya pun tidak menyadari situasi yang sedang terjadi. Saya memang merasa tas yang digendong ini semakin berat. Tetapi tidak curiga apapun.

Entah ide datang dari mana, saya mendadak ingin sekali menengok ke belakang. Dan, kalian tahu ada apa di belakang saya? Ada seorang laki-laki sedang berusaha membuka tas saya. Saya refleks mengatakan,”eh, bapak ngapain!!!!” tetapi tidak langsung lari. Si bapak pencopet itu menjauh dari posisinya dan segera berdiri satu meter dari tempat saya. Sambil tersenyum. Benar-benar pencopet profesional, ya? Bahkan ketika ketahuan pun ia tak takut dan khawatir sama sekali. Saya merinding dan takut sekali. Tanpa menengok ke belakang, saya segera berjalan cepat dan setengah berlari. Banyak sekali yang saya takutkan. Takut si pencopet mengejar saya. Takut si pencopet membawa senjata tajam. Takut si pencopet membawa teman-teman yang lainnya. Saya hanya ingin menjauhi tempat itu dengan cepat. Akhirnya, saya pun memindahkan posisi tas ke depan dan berlari.

Pengalaman bertemu penipu, pencuri, dan pencopet membuat saya merasa tidak aman berada di tempat yang baru. Ada rasa tidak aman, takut, dan curiga tiap kali datang ke tempat baru dan bertemu orang baru.

Berjalan dengan cepat, berjalan di tempat yang ramai, berjalan dengan fokus dan tidak melamun, tidak memainkan atau mengeluarkan benda berharga ketika di luar rumah, menggendong tas di depan dada, memeluk barang bawaan dan tidak meletakkannya sembarangan, dan menggunakan masker ketika berjalan sendirian adalah cara saya melindungi diri sendiri dari tindakan kejahatan di luar sana.

Karena saya tahu di luar sana banyak pelaku kejahatan dan saya tak bisa mengontrolnya, maka saya harus sangat berhati-hati. Takdir memang sudah Allah tentukan. Tetapi, kita selalu memiliki kesempatan untuk membuat keputusan. Ingin melindungi dan menjaga diri dengan aman atau tidak. Jika ingin, maka saya tidak boleh memberikan kesempatan pelaku kejahatan melakukan aksinya. Dengan cara apa? Dengan cara menjaga diri, berhati-hati, dan selalu waspada terhadap sekitar. Saya tidak boleh lengah. Kamu tidak boleh lengah. Kita tidak boleh lengah.

Biasanya kejahatan terjadi bukan karena niat. Tetapi karena ada kesempatan. Yuk, jangan kasih kendor untuk para pelaku kejahatan. Kita tidak boleh memberikan kesempatan kepada mereka! Semoga Allah selalu melindungi kita. Semoga pengalaman saya di atas bermanfaat untuk kalian. Kejahatan itu ada dimanapun dan oleh siapapun. Tetap waspada dan hati-hati, ya teman-teman! 

Sudahkah Kita Jujur pada Diri Sendiri?

Katanya, alasan untuk tidak mengungkapkan perasaan yang sesungguhnya adalah karena takut orang lain akan meninggalkan. Oleh karena itu, baginya sungguh tak apa bila ia tak baik-baik saja. Asalkan orang tetap berada disisinya, ia yakin akan baik-baik saja. Ia akan berusaha menahan dengan sekuat tenaga. Bila bersedih, ia akan tetap tersenyum. Bila marah, ia akan tetap tertawa. Bila tersakiti, ia akan berusaha memendamnya sendiri. Namun, dalam hati ia pun bertanya-tanya, “Mengapa orang lain tak menghargai dirinya?”,”Mengapa orang lain bertindak sesuka hati?”

Ia menunjukkan bahwa dirinya baik-baik saja, kemudian ia bertanya pada dirinya sendiri mengapa orang lain berlaku tak baik padanya. Ia juga menanyakan hal yang sama kepadaku. Kemudian aku memikirkannya. Berusaha mengingat kembali bagaimana ia bersikap. Saat itu, kutahu bahwa ada sesuatu yang tak benar pada dirinya. Saat itu juga kutahu, apa yang terlihat tak selalu sesuai dengan kenyataannya. Apa yang terlihat tak selalu menunjukkan yang sebenarnya. 

Kamu mengatakan ketidaksukaanmu padaku. Apakah kamu mengatakannya juga pada teman-temanmu itu?” aku bertanya penasaran.

“Hmm, aku selalu tersenyum dan tertawa bagaimanapun teman-teman memperlakukanku. Bahkan untuk hal-hal yang tidak kusukai dan mengangguku. Aku terlalu takut untuk mengatakannya.” ia menjawab cukup lama dan mengatakan dengan ragu-ragu.

“Apa yang membuatmu takut?” kepadanya, aku tak pernah berkata bertele-tele. Aku selalu mengatakan inti pertanyaan, yang menurutnya seringkali pertanyaanku terkesan menyudutkannya. Padahal, sungguh, tujuanku tak pernah seperti itu.

“Aku terlalu takut untuk mengungkapkan perasaanku. Aku terlalu khawatir atas dampak kejujuranku. Aku terlalu tak berani menghadapi kenyataan bila nanti mereka menjauhiku.” dan perlahan, ia mengungkapkan apa yang ia pikirkan dan rasakan.

“Mengapa kamu berpikir mereka akan menjauhimu?” aku mengajukan pertanyaan lagi. Aku masih tak mengerti apa yang sedang ia katakan.

“Aku tahu setiap orang selalu ingin keinginannya terwujud. Aku tahu setiap orang pasti tak suka bila pandangannya ditolak. Aku tahu setiap orang pasti tak suka bila dirinya tak didukung. Aku tahu setiap orang selalu senang bila tujuannya tercapai. Dan aku tahu, bila aku mengungkapkan pikiran dan perasaan yang tidak sesuai keinginan mereka, aku pasti dibuang. Aku pasti dijauhi. Aku pasti ditolak. Dan aku pasti tidak disenangi. Aku tak ingin diperlakukan seperti itu.” ia menjelaskan panjang lebar pandangannya yang membuat aku semakin tak mengerti. Dari mana asal pandangan-pandangannya itu? Mengapa ia berprasangka?

“Terima kasih telah mengungkapkan perasaanmu padaku. Terima kasih telah jujur padaku. Tapi, sadarkah sedari tadi kamu hanya memikirkan tentang orang lain? Bagaimana denganmu? Apakah kamu baik-baik saja?” kupikir, pertanyaan ini penting  diajukan. Kamu harus mencoba jujur terhadap dirimu sendiri.

Ia kembali diam. Ia menatap ke depan dengan tatapan kosong. Cukup lama ia berdiam diri. Kemudian ia terisak.

“Aku tak baik-baik saja. Hatiku sakit tiap kali mereka berbicara. Mulutku kelu tiap kali mereka mengejekku. Mataku perih menahan tangis tiap kali aku ingin menangis. Aku selalu ingin berteriak tiap kali menahan semua dengan sekuat tenaga. Aku sungguh tak baik-baik saja.” ia mengatakan dengan kalimat terbata-bata. Ia menangis tersedu-sedu. Ia tak baik-baik saja. Dan ia mulai jujur dengan perasaannya. Aku tahu. Aku merasakannya.

“Kamu berhak atas ketenangan hati. Kamu berhak mengungkapkan pikiran. Kamu berhak jujur atas perasaanmu sendiri. Bila kecewa, tak apa kamu mengatakan bahwa dirimu kecewa. Bila menganggu, tak apa kamu mengatakan bahwa dirimu terganggu. Bila tak suka, tak apa kamu mengatakan bahwa tak menyukainya. Bila bersedih, tak apa kamu mengatakan bahwa dirimu sedang bersedih. Bila terlalu sakit, tak apa kamu mengatakan bahwa dirimu tersakiti. Bila kamu dalam keadaan tak baik, tak apa kamu mengatakan bahwa tak baik-baik saja. Kamu berhak mengungkapkan segalanya. Memikirkan perasaan orang lain itu baik. Takut ditinggal dan tak disukai juga merupakan hal normal. Namun, bukankah selalu ada cara yang lebih baik daripada mengorbankan dirimu sendiri? Ketenangan dan kebahagiaan  dirimu adalah utama.” aku tak tahu adakah ‘pikiran tak benar’ lain yang mengendap dalam pikirannya. Mohon izinkanlah kali ini aku mengatakan kalimat panjang tersebut padamu. Semoga kalimat ini juga mengendap dalam hati dan pikiranmu.

Ia mendengarkan dengan baik dan kemudian menunduk. Ia merenungkannya.

Aku bersyukur karena kamu memilihku untuk mendengarkanmu. Aku juga bersyukur kita telah melakukan percakapan itu. Aku tahu kamu adalah pembelajar yang baik. Kamu selalu membuka lebar pendengaranmu untuk menerima hal baru. Kamu selalu membuka hati dan  pikiran seluas-luasnya untuk menyimpannya. Kamu selalu berusaha untuk berubah. Dan kamu tetap berusaha meskipun kutahu semua itu sulit untuk dilakukan. Terima kasih karena selalu mencoba memperbaiki dan berubah menjadi baik setiap waktu.

**

Jika masih saja ada kekhawatiran perlakuan buruk orang lain atas kejujuranmu, maka aku sarankan lupakan hal itu saat ini juga. Kehidupan memang seperti ini. Suka atau tidak, waktu akan tetap berjalan. Senang atau tidak, kejadian akan tetap datang.

Meskipun begitu, setiap orang berhak untuk jujur atas apa-apa yang dipikirkan. Setiap orang berhak untuk jujur atas perasaannya. Manusia manapun tak akan tahu apa yang dipikirkan dan dirasakan bila kita tidak mengungkapkannya. Oleh karena itu, jangan mengharapkan hal-hal yang tidak mungkin. Tidak mungkin? Sungguh tak mungkin orang lain akan tahu segalanya, bila kita enggan mengatakan apa yang ada dalam hati dan pikiran. Sungguh tak mungkin orang lain menghargai bila kita tak pernah jujur atas keinginan sendiri. Atas dasar apa orang lain menghargai bila kita tak memberi tahu apa-apa?

Jika memutuskan untuk jujur atas perasaan dan pikiran, maka kita harus siap menghadapi sikap orang lain yang akan terjadi. Kita harus realistis dengan kehidupan ini, bukan? Dengan banyaknya manusia di dunia ini dan segala perbedaannya, adalah hal wajar bila ada dua golongan di sekitar kita. Dua golongan yang akan merespon kejujuran perasaan dan pikiran kita. Golongan itu adalah golongan yang mendukung segala pikiran dan golongan yang tak mendukung segala pandanganmu. Jadi, jalani saja realita yang ada. Karena kita tak akan bisa merubah orang lain. Yang kita bisa lakukan adalah mengatur diri kita sendiri. Diri ini harus pandai menyikapi keadaan.

Bagaimana cara menyikapi dua golongan tadi? Jadikan golongan yang mendukung sebagai motivasi untuk kita melakukan kejujuran yang lebih banyak lagi. Lalu, jadikan golongan yang tak mendukung sebagai pelajaran untuk kita introspeksi lebih sering lagi. Mungkin, ada tindakan yang keliru saat kita mengungkapkan pikiran dan perasaan kita. Mungkin, ada lisan yang tak sengaja terucap melukai hati orang lain. Hati-hati dengan perasaan, terkadang kita bisa menjadi orang yang paling peka sedunia. Namun, terkadang juga kita bisa menjadi orang yang paling tak terkendali.

Semoga kita tak ragu lagi. Kamu, aku, kita berhak memiliki hati dan pikiran yang damai. Yuk, jujur dengan hati dan pikiran ini 🙂

Sikap Apa Saja yang Sebaiknya Menantu Miliki?

Kami membuat group whatsapp 2013 lalu. Group tersebut diberi nama ‘SSN’ yang artinya inisial nama kami. Group tersebut dibuat untuk menjaga komunikasi. Saat itu, usia kami 20 tahun. Kami masih sibuk kuliah dan berpartisipasi unit kegiatan mahasiswa saja. Meskipun masih menjadi mahasiswa, kami tak mudah mengatur jadwal untuk berjumpa. Akhirnya, group tersebutlah yang menjadi penolong agar hubungan kami terjaga dengan baik. Group ‘SSN’ juga yang menolong kami agar tetap mengetahui kabar satu sama lain.

Group tersebut biasa berisi tentang ucapan selamat pagi, kalimat-kalimat penyemangat di pagi hari, serta doa-doa yang tak bosan kami tuliskan. Kami juga seringkali menuliskan pikiran random disana. Tak jarang kami juga berkeluh kesah sebagai tanda bahwa kami hanyalah manusia biasa. Yang meskipun terus berusaha berbaik sangka, kami juga dapat merasakan kecewa. Ego juga sering kali bermunculan saat itu. Ahamdulillah, pada setiap kondisi selalu saja ada yang waras diantara kami bertiga. Jadi, meskipun ego masih tinggi sekali, selalu saja ada yang mengingatkan agar kembali sadar. Agar kembali meluruskan pikiran dan berjalan di jalan yang benar.

Hingga kini, group tersebut masih ada di dalam aplikasi whatsapp saya. Berbeda dengan lima tahun lalu, kini group tidak lagi seramai dulu. Kesibukan bekerja dan aktivitas lainnya membuat kami tidak berkomunikasi terlalu sering. Kami memaklumi dan memahaminya. Apalagi usia kami saat ini adalah fase awal dimana harus mengambil tanggung jawab penuh atas diri sendiri. Fase dimana ada banyak pilihan dan kesempatan datang. Fase dimana kami harus mengambil keputusan secara mandiri. Kami sedang beradaptasi dengan kondisi ini. Kami sedang belajar. Beradaptasi pada kondisi yang mengharuskan kami mandiri. Belajar mengendalikan diri diberbagai situasi. Dengan kata lain, saat ini terbentang jarak yang luas antara kami dan teman-teman. Tetapi, frekuensi komunikasi tidak menjadi tolak ukur sebesar apa rasa sayang dan peduli kami kan? Meskipun tidak berkomunikasi sesering dulu, kami tetap sayang dan peduli.

Kami tidak memiliki jadwal khusus untuk bercakap dalam group itu. Hanya saja, selalu ada cara agar group itu tetap hidup. Beberapa caranya adalah mengucapkan ulang tahun, mengirimkan artikel bagus untuk pengembangan diri, menginfokan kegiatan-kegiatan bermanfaat, dan memberitahu berita bahagia. Memberi kabar acara lamaran dan pernikahan, misalnya 🙂

Kami juga seringkali mendiskusikan permasalahan yang tak mampu didiskusikan hanya pada diri sendiri. Biasanya, kami membutuhkan pandangan, saran, dan nasihat orang lain. Karena kami memahami, orang ketiga yang tidak masuk dalam permasalahan, biasanya mampu berpikir secara jernih 😀

Malam itu, kami membicarakan topik yang lumayan membuat otak berpikir keras. Namun, dalam hal ini tidak hanya otak yang digunakan. Kami juga harus berusaha menjadi orang yang peka. Kami harus menggunakan segenap hati, agar dapat memahami pikiran dan perasaan orang lain. Agar menghadapi masalah ini tidak didasari ego semata. Topik ini adalah bagaimana menjalin hubungan baik antara menantu dan mertua. Bagaimana mengerti dan memahami mertua dengan baik. 

Kami belum menikah. Satu orang sebentar lagi menikah, Insya Allah. Mohon doanya teman-teman, agar persiapan pernikahan teman saya ini dilancarkan 🙂 Meskipun belum menikah, topik ini penting untuk kami bahas. Topik ini penting untuk kami pahami dengan baik. Agar kelak ketika sudah menikah dan tanggung jawab di depan mata, kami sudah tahu apa yang harus dilakukan. Bukankah sebaik-baiknya persiapan adalah ilmu? 

Pada tulisan ini, saya tidak akan membahas secara detail hal-hal apa saja yang kami bahas. Namun, dari kesimpulan yang kami buat, ada beberapa poin penting yang sepertinya baik untuk saya bagi. Di bawah ini adalah beberapa sikap yang menurut kami penting dimiliki oleh calon menantu ataupun yang sudah menjadi menantu. Supaya hubungan antara menantu dan mertua terjalin dengan baik.

1. Menikah Bukan Hanya tentang Kamu dan Dia

Karena menikah tidak hanya tentang kamu dan dia. Tetapi, lebih luas dari itu. Ada dua buah keluarga besar yang kelak akan bergabung dan hidup bersama. Jadi, akan ada banyak manusia dengan pikiran yang berbeda. Akan ada banyak manusia dengan keinginan yang berbeda juga. Lalu bagaimana menyatukannya? Tidak perlu disatukan. Tidak harus memaksakan agar berpikiran dan berkeinginan sama. Yang diperlukan adalah menjalankan peran sebaik-baiknya dan bijaksana. Jangan sampai ada pihak yang terkorbankan. Jangan sampai ada pihak yang menderita. Jangan sampai ada pihak yang lelah hatinya. 

2. Solusi Terbaik Menghadapi Perbedaan adalah Komunikasi

Dalam menjalin hubungan antar manusia komunikasi itu penting. Agar keduanya dapat mengkomunikasikan permasalahannya. Agar keduanya dapat mengungkapkan keinginannya. Agar keduanya dapat mengambil keputusan dengan kesepakatan. Tanpa adanya komunikasi, bagaimana cara kita tahu pikiran dan keinginan orang lain? Bagaimana kita mencari jalan tengah untuk kebaikan bersama? Permasalahan yang tidak dituntaskan, tak akan pernah terselesaikan. Permasalahan yang didiamkan, maka akan terlupakan.

3. Kebaikan Bersama adalah Utama

Selain komunikasi yang baik, keduanya juga harus memikirkan solusi untuk kebaikan bersama. Tidak hanya demi kebaikanmu. Atau kebaikan orang tua. Keduanya harus memiliki pemahaman yang baik bahwa yang dilibatkan disini adalah dua manusia. Dua manusia yang memiliki pikiran dan hati. Dua manusia yang harus dihargai pemikiran dan perasaannya. Persis sama seperti kita. Bukankah kita juga ingin dihargai dan dihormati? Perlakukan orang lain selayaknya diri ini ingin diperlakukan.

4. Posisikan Diri Sebagai Orang Lain

Dalam topik ini, saat merenungi masalah, sebaiknya posisikan diri sebagai orang tua, yaitu menjadi mertua. Kira-kira bagaimana pikiran dan perasaan mertua. Bayangkan hal-hal yang melatarbelakangi mertua bersikap seperti itu. Setelah memahami, kita tentu akan menemukan keinginan si mertua. Setelah memahami dan menemukan, cari solusi yang terbaik untuk kebaikan bersama.

5. Bagaimanapun Tipe Mertua, Ia Sama Seperti Orang Tua Kita

Semua orang tua ingin diperhatikan dan dipedulikan anaknya. Apapun sikap mertua yang cenderung mementingkan dirinya sendiri, ia hanyalah orang tua. Orang tua yang khawatir anaknya akan melupakannya dan hanya memikirkan istrinya. Orang tua yang khawatir anaknya tidak akan memerhatikannya lagi seperti saat masih tinggal bersama. Orang tua yang khawatir anaknya akan sibuk memikirkan keluarga kecilnya dan tidak memikirkannya. Bila kita memahami keadaan mertua seperti ini, Insya Allah akan lebih mudah untuk bersikap adil kepada orang tua suami kita. Bukankah, kita pun kelak akan menjadi mertua untuk istri atau suaminya anak kita? Saya rasa, supaya kekhawatiran mertua berkurang, sebaiknya lakukan pendekatan dan selalu berikan penjelasan ke mereka. Karena biasanya, kekhawatiran itu ada karena kita tidak mengenal apa yang sedang atau akan dihadapi.

**
Menjalin hubungan dengan orang lain, khususnya mertua, memang harus terus melapangkan hati. Kita juga perlu menenangkan pikiran. Kita harus mengutamakan solusi dan meninggalkan keegoisan diri. Mudah atau tidak? Tidak mudah. Apalagi bila sudah melibatkan perasaan. Bersikap adil pasti tak mudah. Menurunkan ego pasti tak mudah. Berpikir jernih pasti tak mudah.

Meskipun begitu, semoga Allah memudahkan niat baik kita. Semoga niat baik ini, Allah balaskan pula dengan kebaikan. Semoga kelak, kita, suami, orang tua, keluarga besar sama-sama menjalankan peran dengan baik. Sama-sama menjalankan kewajiban dan memberikan hak-hak orang lain. Dan sama-sama berlaku adil dan bijaksana. Aamiin.

Ternyata Aku Tidak Baik-baik Saja

Kalimat itu cukup mampu membuat goresan dihatiku. Menggores kemudian rasa nyeri muncul setelahnya. Hatiku terluka. Ternyata, aku tidak baik-baik saja.

Hati memang sepeka ini. Sesiap apapun aku menguatkan diri, tetap saja hati mampu merasakan sakit bila bertemu dengan hal-hal yang menyakiti.

Hati memang sepeka ini. Meskipun logika aman terkendali.  Mental cukup tegar untuk menghadapi. Hatiku mengatakan tidak. Ia tidak baik-baik saja.

Caraku Mengendalikan dan Menguatkan Diri

Mengetahui bahwa kehidupan di depan sana ada banyak kebahagiaan, aku pun harus sadar kesedihan juga akan membersamai. Bila aku ingin dicinta dan dikasihi, aku pun harus siap untuk dijahati dan dilukai.

Oleh karena itu, aku mengingatkan diri berkali-kali bahwa merasakan sakit adalah hal biasa. Tersakiti oleh orang lain juga merupakan hal biasa. Rasa sakit hanya sementara. Rasa sakit akan disembuhkan oleh waktu. Rasa sakit akan disembuhkan oleh cintaku kepada-Nya. Dan aku mengingatkan diri ini selalu bahwa rasa sakit hanyalah sebuah perantara untuk menyampaikan hikmah kepadaku. 

Aku menguatkan diri berkali-kali. Peristiwa tidak menyenangkan yang kelak akan aku hadapi hanyalah satu dari banyaknya skenario hidupku. Ada banyak skenario membahagiakan yang aku miliki. Lantas, mengapa aku perlu mengkhawatirkan satu skenario tidak menyenangkan yang sifatnya hanya sementara? 

Entah hati yang terlalu peka atau memang harga diri manusia yang secara alami tinggi, mendengar kesalahan diri dari lisan orang lain tidaklah mudah. Apalagi bila tidak disampaikan dengan cara yang baik. Sungguh tak mudah. Saat itu juga hati akan memberikan sinyal bahwa ia tidak baik-baik saja dengan hal itu. Hati menunjukkan reaksi alaminya dengan caranya sendiri.

Menanggapi reaksi alami hati, aku memilih untuk tetap mengendalikan diri. Rasa sakit boleh terjadi. Rasa tidak nyaman dihati boleh terjadi. Bersedih juga boleh terjadi. Namun, ketidakwarasan dalam diri tidak boleh terjadi.

Meskipun dalam keadaan yang tidak baik, aku harus tetap bisa mengontrol diri. Aku harus mampu membedakan kritikan yang bersifat membangun atau malah sebaliknya. Aku harus mampu membedakan orang yang baik hatinya, namun tak mampu berkata santun, dengan orang yang kebaikan hatinya masih diragukan dan berkata tidak santun. Supaya tidak berprasangka, maka aku harus berhati-hati.

**

Tak apa bila kamu merasa tidak baik-baik saja terhadap hal yang menyakitkan. Tak apa bila kamu merasa bersedih kala menghadapi situasi tidak menyenangkan. Tak apa bila kamu ingin menangis. Sebab, setiap orang berhak jujur dengan perasaannya. Setiap orang berhak menenangkan hatinya. Setiap orang berhak menyembuhkan luka dihati. Setiap orang berhak mendapatkan kesempatan.

Tak Mudah Menyentuh Hatimu

Bagaimanapun kondisimu nanti, semoga kami menjadi tempat untuk pulang.

Sore tadi, aku mengatakan seperti ini,“Ternyata, kasih sayang, pengorbanan, dan kepercayaan tak  selalu mampu menyentuh hati seseorang. Kenyataan menunjukkan, aku tak mampu menyentuh hatinya. Kami tak bisa menyentuh hatinya.” 

Aku tak mengerti mengapa mengatakan kalimat seperti itu. Mungkin kalimat itu adalah satu-satunya cara untuk mengungkapkan perasaanku. Aku terlalu kecewa, hingga tak tahu ingin berkata apa. Aku terlalu sedih, hingga tak tahu cara untuk menangis. Aku terlalu tak percaya dengan kenyataan. Aku terlalu percaya diri dengan suatu hubungan. Aku terlalu percaya diri dengan rasa saling percaya yang sudah dibangun selama ini.

Apa yang sedang kamu cari? Ada apa di belakang sana? Apa yang sedang disembunyikan? 

Aku hanya ingin kamu mengetahui. Seseorang berdiam diri dan tak mengatakan apa-apa, bukan berarti tak tahu apa-apa. Seseorang tak marah dan tetap tersenyum meski telah dikecewakan, bukan berarti baik-baik saja. Seseorang memaafkan meski berulang kali dikecewakan, bukan berarti melupakan apa yang telah terjadi. Kami mengamati. Kami menilai. Kami mempelajari. Kami berusaha memahami. Kami berusaha menjaga hati dan perasaan. Kami berhati-hati. Untuk siapa? Untuk kamu. Supaya apa? Supaya kamu tidak tersakiti. Supaya kamu baik-baik saja. Supaya kamu memiliki tempat untuk bersandar. Supaya kamu memiliki tempat untuk pulang.

Kami tahu, hatimu belum disini. Tetapi, kami tak akan lelah memberikan rasa nyaman. Kami tak lelah berusaha menunjukkan bahwa kami selalu disini. Entah dimana hatimu tertaut dan tinggal, kami akan tetap disini. Disini, tempat yang sama seperti biasanya. Tempat kamu berhenti ketika lelah. Tempat kamu mengadu ketika tak ada satupun orang mau mendengarkan. Tempat kamu terisak ketika dia meninggalkan. Ketika mereka meninggalkan. Kami selalu disini apapun yang terjadi.

Tak mudah menyentuh hatimu. Semoga Allah yang Maha Pengasih menyentuh hatimu. Semoga Allah menunjukkan kuasa-Nya segera. Kami akan sabar menunggu.

Aku masih belum menemukan kalimat motivasi apa yang paling tepat pada kondisi ini. Aku masih belum menemukan cara untuk mengembalikan rasa percaya. Namun, bagaimanapun suasana hatiku terhadapmu, tak perlulah dipikirkan. ‘Mereka’ saja yang ‘lebih berhak’ atasmu selalu memiliki hati lapang untuk memaafkan dan memberikan kesempatan. Mengapa aku tidak?

Betapa indah ‘hal itu’ untuk kamu tuju, semoga tak lupa untuk kembali. Betapa hebat ‘hal itu’ untuk terus kamu pertahankan, semoga tak lupa untuk pulang. Kami tetap disini. Kami di tempat ini. Tempat dimana kita saling mengasihi, mengingatkan, menopang, membantu, dan meraih ridho-Nya.

**

Aku pun semakin menyadari dan memahami. Sebaik-baiknya dan satu-satunya pengatur hati manusia memang hanya Allah. Sekeras apapun usaha yang manusia lakukan, bila memang belum ‘waktunya’ tak akan dapat hatinya tersentuh. Dan, sekeras apapun usaha manusia menjaga hati, bila Allah memang menghendaki, hati akan tertaut di suatu hal yang Allah sudah takdirkan. Allah Maha Pembolak-balikkan hati. Mengetahui hal tersebut, semoga kita semakin paham posisi manusia di dunia. Manusia hanya berusaha. Berusaha dengan tekun. Setelahnya adalah berserah pada ketentuan-Nya.  Karena hanya Allah yang Maha Tahu Segalanya. Tentang kebaikan dan keburukan hamba-Nya.

 

Selamat Mendewasa! 

Tidak semua hal berada dalam kuasa kita. Sampai kapanpun, setiap individu memiliki kuasa atas dirinya sendiri. Oleh karena itu, jangan merasa kesal sendirian hanya karena tindakan yang orang lain lakukan. Jangan membuang waktu hanya untuk tindakan yang sia-sia. Padahal, waktu kita mahal sekali harganya.

Menempatkan perasaan dan logika sesuai tempat dan porsi saat menghadapi masalah tidaklah mudah. Apalagi jika hubungan yang terjadi sudah melibatkan perasaan secara mendalam.

Jika kita tidak terlibat pada hubungan dan masalah, mungkin berpikir jernih mudah sekali. Kita tidak akan kesulitan membuat keputusan dengan bijaksana. Kita tidak akan membutuhkan waktu lama untuk mendapatkan solusi. Kita tidak akan terpedaya oleh perasaan dan melupakan fakta. Namun, berbeda bila kita menjadi peran utama dalam hubungan itu. Kewarasan seakan hilang tertutup perasaan. Kenyataan seakan tak terlihat oleh mata.

Menghadapi masalah harus menjauhkan segala prasangka. Bagaimana bisa kita melihat persoalan secara jelas bila tidak mampu membedakan antara prasangka dan fakta? Bagaimana bisa kita bertindak adil bila selalu berpedoman pada prasangka? Sungguh, beranggapan kurang baik terhadap sesuatu sebelum menyelidikinya sesuai fakta adalah perbuatan yang sangat tidak baik. Hal itu hanya akan memperkeruh permasalahan. Hal itu hanya akan menjauhkan solusi. Hal itu hanya menjauhkan kebaikan.

Tidak hanya kamu yang ingin bahagia, tidak hanya kamu yang ingin merasa nyaman, dan tidak hanya kamu yang tidak ingin merasa sakit. Setiap manusia ingin. Jadi, menyelesaikan masalah artinya menyelesaikan masalah bersama. Bukan hanya masalahmu. Tetapi, masalah kita.

Lalu, bagaimana cara mengingatkan diri bahwa ini adalah masalah bersama? Sejak awal kita perlu meluruskan tujuan bahwa yang diselesaikan adalah masalah bersama. Dengan begitu, kita tidak akan memikirkan diri sendiri. Dengan begitu, kita tidak akan merasa menjadi korban dan harus dilindungi. Kita tidak akan merasa berkuasa atas kehidupan ini.

Pikiran orang lain, bukan kuasa kita. Prinsip orang lain, bukan kuasa kita. Karakter orang lain, bukan kuasa kita. Pilihan hidup orang lain, juga bukan kuasa kita. Kita tidak berkuasa atas hidup orang lain. Kita hanya berkuasa atas hidup kita sendiri.

Masih pantaskah kita tersiksa atas tindakan orang lain? Masih pantaskah kita kesal atas keputusan  orang lain? Kita tidak boleh tersiksa dan kesal atas tindakan orang lain. Yang dapat kita lakukan hanya mengendalikan diri ini. Bagaimana memberikan respon terbaik. Bagaimana membuat hati dan pikiran ini tenang. Jangan biarkan orang lain dan lingkungan mengganggu ketenangan hidup kita.

Menjaga kewarasan pada setiap situasi memang tidak mudah. Apalagi perasaan turut terlibat di dalamnya. Perasaan seringkali membiaskan suatu persoalan. Perasaan seringkali memecahkan kefokusan kita. Perasaan seringkali menghilangkan keobjektifan kita. Namun, meskipun tidak mudah, kita harus mengusahakannya. Apalagi ketika usia ini terus bertambah. Semoga kedewasaan kita pun terus bertambah. Katanya, yang membedakan orang dewasa dan tidak adalah bagaimana orang tersebut menempatkan diri di berbagai situasi. Katanya, yang  membedakan orang dewasa dan tidak adalah bagaimana orang tersebut mengendalikan perasaannya dengan baik. Menjadi dewasa perlu diusahakan, kan? Yuk, sama-sama belajar. 

Dalam menghadapi persoalan, tidak perlu merasa stres dan kesal sendirian, tidak semua hal memang bisa kita kendalikan. Tidak semua hal dalam kuasa kita. Tidak semua hal bisa kita selesaikan saat ini juga.

Tarik napas panjang dan ambil waktumu saja. Terkadang, kita memang butuh waktu lebih banyak dari biasanya untuk memikirkannya. Terkadang, kita memang membutuhkan waktu sendiri untuk menenangkan diri. Take your time. Selamat mendewasa. Selamat berjuang! 🙂 

Belajar dari Si Mbak: Berbakti kepada Orang Tua

Buah jatuh tak jauh dari pohonnya. Peribahasa itu memiliki arti tentang kemiripan antara anak dan orang tua. Dari segi intelegensi, karakter, ataupun sikap. Ungkapan itu benar adanya. Kita pun sama-sama tahu bahwa seorang anak akan meniru tindak tanduk sang ayah dan bunda. Oleh karena itu, kemiripan antara anak dan orang tua adalah hal yang sangat wajar.

Siang kemarin, ada satu  pemandangan yang menyentuh hati saya. Ketika melihat seorang anak membujuk ibunya untuk melakukan latihan fisik. Ketika melihat anak itu menyemangati ibunya supaya bersemangat kembali melakukan rehabilitasi. Sedikitpun tak ada raut wajah terpaksa dari sang anak. Ini adalah kali pertama saya melihat sosok anak seperti dia. Tutur kata yang hangat dan lembut benar-benar menyentuh hati saya. Sekaligus membuat berkaca, sudahkah saya menjadi anak seperti dia?

Dan, tahukah bagaimana hasil dari ketulusan anak itu kepada ibunya? Dengan raut wajah sedih karena melihat sisi tubuh kirinya sulit untuk digerakkan, sang ibu tetap berusaha dan bersemangat. Sesekali memang berhenti melakukan latihan, karena kesulitan dan kelelahan. Namun, sang anak tetap menyemangati dan membantu dengan lembut.

“Ibu ndak bisa. Itu jarinya semuanya nekuk. Ndak bisa dilurusin.” Sang ibu mengeluh dengan raut wajah sedih menggunakan logat jawa tengah yang khas.

“Ndak apa-apa, bu. Kan proses. Pelan-pelan aja ya bu. Kan kemarin aja lidahnya ndak bisa ditekuk, kan? Coba lihat sekarang lidahnya, udah bisa ditekuk kan?! :D” Sang anak menyemangati dengan wajah hangat dan intonasi suara yang sungguh santun.

Iya, ini bisa. Lidah ibu bisa melet ke samping. Minum pake sedotan dibibir kiri juga udah bisa. Sedotannya ndak jatuh lho, mbak.” Berkat motivasi sang anak, ibu pun semangat lagi. Dengan bangga ia memberitahu ke saya 🙂

“Wah, coba lagi bu, saya mau liat. Mana coba lidahnya ke samping kiri. Ohiyaaa, hebatnya ibu. Sekarang gampang ya bu minum pakai sedotan? Alhamdulillah. Digunakan terus ya bu sisi yang sakitnya. Insya Allah, nanti akan meningkat kemampuannya.” Aku pun tak ingin kalah dari sang anak untuk menyemangati ibu.

Bertemu dengan seseorang yang mengalami keterbatasan fisik, kita memang harus terus memotivasi dan memberikan pujian. Dan menggunakan bagian lain yang sehat untuk menopang bagian yang sakit. Berikan kemudahan dengan cara fasilitasi setiap kegiatan. Dengan begitu, ibu akan lebih ringan melakukannya.

Tak banyak ditemui orang macam si anak dan ibu ini. Keduanya terlihat sekali memiliki hati yang luas. Keduanya, melihat kesulitan bukan sebagai musuh. Namun, sebagai ujian yang memang harus dijalani. Mereka tahu betul, yang dibutuhkan ketika menghadapi masa-masa sulit bukanlah solusi kilat nan cepat. Melainkan, kehadiran orang-orang tersayang yang membersamai dan menguatkan. Mereka memahami betul, kesulitan akan terasa ringan bila dihadapi bersama. Mereka memahami betul, yang dibutuhkan saat masa-masa sulit adalah ketenangan hati dan pikiran.

Sang anak membuat saya belajar bahwa sejatinya peran anak sangat penting ketika orang tua sakit. Sesungguhnya, orang tua tak butuh sejumlah uang untuk membiayai rumah sakit mewah dan kamar perawatan vip. Orang tua juga tak benar-benar membutuhkan makanan lezat dan bergizi untuk memulihkan kesehatan. Namun, kehadiran anak disaat-saat sulit inilah yang akan menjadi obat alami untuknya. Hati yang tenang ketika anak disisinya dan pikiran yang damai ketika anak memperhatikannyalah yang akan menjadi penyembuh untuknya.

Menjadi sosok seperti anak ini memang tak mudah. Karena memang anak akan benar-benar diuji. Kondisi fisik yang sakit akan membuat perasaan dan pikiran sang ibu tidak dalam keadaan stabil. Jadi, selain meluangkan waktu, anak juga harus memiliki sabar yang seluas langit.

Tidak perlu mengeluh dan merasa terbebani. Mungkin, sebaiknya kita memikirkan kembali kasih sayang orang tua mengasuh dan mendidik kita. Bukankah selama ini orang tua selalu melakukan itu semua untuk kita? Bukankah mereka sedikitpun tak pernah mengeluh dan merasa terbebani? Bukankah mereka melakukannya dengan kasih sayang tak terhingga? :’) Hal ini sepertinya harus menjadi perhatian dan renungan para anak bersama. Bagaimana menjadi anak yang berbakti. Jangan sampai, ketika kelak ujian sakit datang kepada orang tua, kita lupa hakikat sebagai anak berbakti. Jangan sampai kita malah mengeluh dan tak ikhlas melakukannya. Semoga Allah mengingatkan dan memudahkan kita menjadi anak yang berbakti.

**

Terima kasih telah menjadi anak yang berbakti, mbak. Berkat mbak, saya berkaca. Menjadi anak berbakti memang perlu diperjuangkan. Perlu diniatkan. Apa kabar dengan saya? Ternyata masih banyak hal perlu  diperbaiki. Ternyata masih banyak hal perlu dilakukan untuk orang tua. Ternyata, saya harus banyak belajar lagi menjadi anak yang berbakti.