Bagaimana Bila Hatinya Berlabuh Padamu?

Selalu ada aturan untuk melakukan sesuatu. Bahkan sesederhana saat kamu membuka pintu. Aturan umum menyebutkan bahwa ketika membuka sebuah pintu, kita pun juga harus menutupnya kembali. Meskipun begitu, boleh saja bila kita tidak mau. Namun, siap-siap saja kita akan disebut sebagai orang tak sopan yang tak tahu malu.

Aku adalah orang yang menganggap penting perihal itu. Maka, ketika adikku bertanya tentang menemukan hati yang baru, aku memberi tahu dirinya tentang aturan itu.

“Tentang hati yang terluka, kamu tidak perlu terburu-buru menemukan sepotong hati yang baru. Yang paling utama adalah menyembuhkan hatimu dulu. Hatimu harus benar-benar sembuh. Setelah sembuh, hatimu pun harus tahu apa yang benar-benar ia mau. Setelah tahu, hatimu harus yakin tentang pilihan itu.” kataku.

“Kamu tahu mengapa alurnya harus serumit itu? Alasannya karena kamu tidak boleh bermain-main dengan hati orang lain, Yun. Kamu tidak boleh coba-coba tentang kehidupan orang lain. Kehidupan orang lain bukanlah pintu. Yang boleh kamu masuki dan tidak tutup semaumu. Tahukah kamu harga yang harus dibayar untuk sebuah senyuman yang ia tunjukkan saat berjumpa denganmu? Ia pasti telah melalui hari-hari yang sulit dan panjang hingga akhirnya berani membersamaimu dengan senyum itu.” tambahku. Aku harus mengatakan perihal ini kepadanya. Sebelum ia masuk lebih dalam ke kehidupan orang lain. Sebelum dirinya begitu berarti bagi orang lain.

Aku bukanlah seseorang yang pandai perihal ini. Namun satu hal yang aku tahu, kita tak akan pernah bisa memahami dan mengerti orang lain, sebelum kita mengenal diri sendiri. Kalau masih ada luka dihati yang masih mengganggu diri menjalani hari, mengapa kita terburu-buru mencari sepotong hati untuk menggenapkan diri?

***

Aturan tertulis tentang bagaimana dua hati bekerja memang tak ada. Tetapi kita punya hati nurani yang selalu tahu pilihan terbaik apa yang pantas dipilih. Keputusan apa yang layak diambil. Cara apa yang baik dilakukan. Perbuatan-perbuatan yang tidak mengorbankan perasaan orang lain hanya untuk kebahagiaan diri sendiri.

Saranku untuk adikku tentang ini, jangan pernah masuk ke dalam kehidupan orang lain dengan niat hanya ingin ‘coba-coba’. Sebab, kamu tak akan bisa menghentikan hati yang telah berlabuh. Bagaimana bila akhirnya hatinya berlabuh padamu? Bila kamu terus meragu tentang apa keinginanmu, alih-alih mencipta bahagia, bukankah kamu malah menoreh luka?

Advertisements

Komunikasi itu Penting: Group Whatsapp

Tahukah kamu perbuatan apa yang paling menyebalkan? Yang paling menyebalkan adalah ketika seseorang merasa paling tahu tentang sesuatu, kemudian menjustifikasi.

Aku ingin berbagi pandangan tentang group whatsapp. Bagiku komunikasi itu sangat penting. Tanpanya, akan terjadi sebuah miskomunikasi. Miskomunikasi bukan hal yang bisa dibiarkan begitu saja. Dampak miskomunikasi itu berat. Bisa memutuskan sebuah hubungan dan membuat situasi menjadi buruk sekali.

Menyadari bahwa manusia tidak memiliki kemampuan khusus seperti membaca pikiran orang lain, maka komunikasi adalah modal penting. Karenanya, kita bisa mengutarakan pikiran dan perasaan. Begitu pula dengan lawan bicara kita. Sehingga didapatkan sebuah kesepakatan yang baik untuk ke dua belah pihak.

Namun, komunikasi tidaklah mudah. Bahkan untuk dua orang manusia yang saling tatap muka. Selalu saja ada yang menghambat agar kita tidak melakukannya. Biasanya, faktor utama adalah keegoisan kita sendiri. Kita enggan membicarakan sesuatu bila masalah datang. Atau kita enggan membicarakannya ‘lagi’ karena ‘merasa sudah tahu’ bagaimana tanggapan lawan bicara. Kita selalu ingin orang lain yang memulai lebih dulu. Ego kita ingin seperti itu. Akhirnya, kita saling bungkam dalam waktu lama. Terjadilah perang dingin. Berada di tempat yang sama dan melakukan hal bersama-sama, namun tak ada interaksi apapun di sana. Kita saling diam seribu bahasa.

Mengetahui bahwa dampak miskomunikasi sangat berbahaya, aku ingin meminimalisir hal itu. Bahkan kalau bisa, aku tidak mau hal seperti itu terjadi. Oleh karena itu, aku selalu menjadi pencetus pertama membuat group whatsapp untuk kegiatan apapun. Bahkan untuk acara sederhana ketemuan bersama beberapa kawan lama. Aku membuat group sementara. Untuk apa? Banyak manfaatnya. Dalam group itu kita bisa mencocokkan jadwal satu sama lain, kita bisa mengemukakan masalah bila tiba-tiba ada acara mendadak dan tak bisa bergabung dalam pertemuan itu, kita juga bisa mengonfirmasi bila datang terlambat saat hari-H. Semua hal bisa kita komunikasikan digroup. Jadi, tidak ada lagi kejadian hilang kabar tanpa memberikan konfirmasi apa-apa. Hal tersebut sangat merugikan kawan-kawan.

Baiklah, langsung saja aku ke pokok pembahasan. Ini tentang group whatsapp keluarga. Beberapa hari lalu ada seorang kawan tidak sengaja melihat tampilan whatsappku. Dan ia merasa aneh dengan apa yang dilihat. Seperti ini percakapannya.

“Itu group keluarga apa? Kok unik tulisannya keluarga bahagia?” tanyanya setelah melihat tampilan whatsappku.

“Itu group keluargaku. Keluarga inti. Di dalamnya ada ayah, mama, dan adik-adikku.” jawabku singkat.

“Buat apaan group keluarga inti? Kalo aku, group itu untuk keluarga besar. Yang isinya ada banyak banget orang. Kalo keluarga inti mah setiap hari juga ketemu. Ngapain dibikin group.” dengan nada tidak bersahabat ia bertanya sekaligus menjawab pertanyaannya sendiri.

Aku sebenarnya tidak berminat menjawab pertanyaan yang sudah disandingkan dengan sebuah asumsi. Karena hasil akhirnya mudah ditebak. Ia hanya mau menyakini apa yang ia yakini. Dan tak ingin mendengar pandangan orang lain. Tapi, untuk menghormati yang lebih tua, maka aku tetap menanggapi.

“Group itu biasa aku gunakan untuk mengabari keluargaku. Misalnya aku pulang terlambat. Aku akan mengabari dalam group. Kurasa, yang khawatir tentangku tidak hanya orang tuaku saja. Adik-adikku pun juga.” aku menjawab singkat saja. Dan tak ingin berbagi lebih banyak lagi kepada ia yang tak senang mendengarkan orang lain.

“Lah untuk apa mengabari adik-adikmu segala? Kamu cuma berkewajiban mengabari orang tuamu saja. Lagi pula, kehadiran group hanya akan mengurangi komunikasi secara langsung saja. Kamu dan keluarga pasti enggan berbicara secara langsung.” ia menyangkal semua pendapatku. Dan menjelaskan panjang lebar apa yang ia anggap benar.

“……………” aku memutuskan untuk menghentikan pembicaraan dan tak melanjutkan lagi. Aku tidak berminat. Terkadang, kita memang tidak perlu menjelaskan apa-apa kepada orang yang tidak mau mendengarkan.

Melihat sikapnya membuat aku semakin sadar bahwa mendengarkan itu banyak memberikan manfaat daripada berbicara. Mendengarkan akan memberikan pengetahuan baru, sedangkan berbicara hanya mengeluarkan apa-apa yang kita tahu. Seandainya saja kawanku mau mendengarkan sebentar ceritaku, ia akan mendapat pengalaman baru tentang keluarga orang lain yang belum ia temui dalam keluarganya.

Kawanku ini belum memiliki anak remaja. Anak terbesarnya baru kelas enam sekolah dasar dan anak yang paling kecil kelas dua sekolah dasar. Wajar saja bila ia belum merasakan pentingnya sebuah group whatsapp keluarga inti.

Aku kali pertama membuat group keluarga tahun 2015. Saat itu, aku masih tinggal di indekos. Meskipun hanya Depok-Jakarta, aku tidak bisa pulang setiap akhir minggu. Paling cepat aku pulang dua minggu sekali. Penyususan skripsi dan tugas pekerjaan mengambil waktu luang akhir pekanku. Oleh karena itu, kehadiran group whatsapp sangat membantu. Aku bisa turut merasakan kebersamaan keluarga di rumah melalui foto, video, atau voice note yang dikirimkan. Dan keluargaku pun begitu, bisa mengetahui keadaanku melalui foto dan video yang aku kirimkan. Group whatsapp pengobat rindu.

Saat itu, adikku pun sedang sibuk di kampus. Ia juga jarang di rumah. Melalui group whatsapplah ia bisa mengabari keberadaannya. Apakah ia sedang mengerjakan tugas bersama temannya, apakah ia akan pulang terlambat karena harus menghadiri rapat organisasi, atau sesederhana sarana untuk menanyakan atau meminta tolong sesuatu bila ada keperluan.

Kalau aku, merasakan sekali manfaat kehadiran group keluarga inti diaplikasi whatsapp ini. Entah, dengan kawanku itu. Mungkin ia belum mengerti. Mungkin nanti bila anak-anaknya sudah tumbuh dewasa dan harus berhubungan jarak jauh, pemahaman ia tentang group keluarga inti di whatsapp akan lebih baik 🙂

Komunikasi itu penting. Maka, cara apapun akan aku usahakan supaya komunikasi tetap terjalin dengan baik. Contohnya pembuatan group dalam aplikasi whatsapp ini 😀

Pesta Demokrasi

Dua hari beristirahat di rumah Alhamdulillah cukup mengembalikan energiku. Dua hari lalu berada di keramaian cukup membuat aku kelelahan. Sebenarnya bukan lelah fisik karena tugas yang banyak. Melainkan lelah karena terlalu lama berada pada lingkungan yang bising.

Ketua KPPS menginstruksikan agar kami berkumpul pukul enam pagi. Pada kenyataannya, aku terlambat sepuluh menit. Aku terlalu ngantuk untuk bangun pagi karena malam harinya petugas KPPS harus menyiapkan lokasi tempat pemilihan umum. Kami selesai menyiapkan semuanya pukul sebelas malam. Kalau kamu bertanya apakah aku lelah atau tidak tentu saja jawabannya iya. Apalagi aku tidak terbiasa tidur larut malam. Pukul sepuluh malam lewat masih di luar rumah mengerjakan tugas adalah kegiatan yang menyulitkan untukku. Mata benar-benar tidak kuat untuk tetap terjaga.

Tanggal 17 April 2019, tepat pukul tujuh pagi warga sudah berkumpul di TPS 41. Mereka antusias sekali. Tetapi kasihan, mereka harus menunggu lama di luar TPS. Tak ada bangku pula. Aku baru tahu ternyata sebelum memulai proses pencoblosan, ada proses panjang yang harus dilakukan. Aku kira petugas KPPS hanya perlu bersumpah saja dan kemudian warga boleh masuk ke dalam. Ternyata masih ada perhitungan kertas suara yang membutuhkan waktu cukup lama. Warga pun tampak mulai gelisah dan lelah menunggu.

Setelah semua kertas suara dihitung oleh panitia, warga segera masuk ke dalam TPS untuk memberikan suaranya. Sekitar 80 % warga RT 03 hadir. Bahkan tetanggaku yang baru saja terserang stroke tetap memberikan suaranya. Padahal berjalan pun ia belum mampu. Beberapa panitia dan saksi pun akhirnya datang ke rumahnya.

Proses pemilihan suara berakhir tepat pukul satu siang. Ada beberapa orang datang pukul satu lewat. Dengan terpaksa dan bersedih kami pun menolaknya.

Proses perhitungan suara berlangsung panjang sekali. Karena pemilihan presiden, DPR, DPD, DPRD kota, dan DPRD Provinsi dilakukan pada satu waktu. Butuh waktu sangat lama untuk menghitung suara yang warga berikan. TPSku saja selesai menghitung suara kurang lebih pukul sembilan malam. Perjuangan tidak selesai sampai di sana. Setelahnya, petugas KPPS harus menulis hasil perhitungan suara pada lembar khusus yang disebut C1. Berita acara juga harus ditulis pada formulir khusus. Semua harus ditulis secara manual dan dibubuhkan tanda tangan panitia dan saksi. Ada beberapa formulir yang harus diisi. Sebenarnya, yang membuat lama bukanlah proses perhitungannya. Melainkan, proses tulis menulis pada banyak formulir dan amplop. Lelahkah? Iya, lelah sekali. Otot-otot tangan dan lengan yang lelah karena dipakai terus menerus sedari pagi.

Bagi aku dan beberapa anggota yang kali pertama bertugas tentu merasa kelelahan. Apalagi tak sempat mandi hingga sore hari. Badan lelah dan tak segar. Urusan administrasi rupanya benar-benar membuat pusing kepala bagi aku yang tidak terbiasa. Tetapi hal itu tidak berlaku bagi Pak Budi dan bapak-bapak lainnya. Mereka tetap semangat dan ceria. Padahal tugas mereka lebih melelahkan dibanding aku. Merentangkan kertas suara seluas koran ke langit-langit sambil berteriak “SAH” adalah kegiatan yang pastinya melelahkan. Meskipun begitu, candaan kerap mereka lakukan untuk membuat suasana menyenangkan dan tidak membosankan.

Ketua KPPS membagi tugas secara rata. Para bapak menghitung suara dan para wanita menuliskan hasil perhitungan suara. Ada yang bertugas mengelompokkan kertas suara yang sah dan tidak ke dalam amplop. Ada yang bertugas menulis pada amplop dan formulir. Lalu, semua petugas bertugas membubuhkan ratusan tanda tangan pada formulir.

Ada beberapa hal yang sulit aku mengerti. Mengapa formulir harus dituliskan secara manual? Satu formulir berisi lebih dari lima lembar. Dan kami harus menyalin formulir itu sebanyak minimal lima buah. Coba kita kalikan saja hasilnya berapa. Ada ratusan kertas yang harus kami isi. Padahal jika saja hasil perhitungan suara kita ketik pada laptop akan jauh lebih efektif. Lalu, diprint saja sesuai kebutuhan. Kalau perihal tanda tangan, jika memang harus, mungkin boleh saja dilakukan secara manual. Namun, aku belum memahami mengapa urusan tulis menulis juga harus dilakukan secara manual.

Secara menyeluruh aku bersyukur bisa terlibat dalam pesta demokrasi tahun ini. Pengetahuanku tentang persiapan pemilu menjadi lebih baik. Bahwa saat kita begitu mudahnya menyoblos pada lembar suara, ada usaha para petugas KPPS di belakangnya. Selain petugas KPPS, ada banyak pihak lain yang membantu sehingga pemilu berjalan lancar, aman, dan damai. Aku juga banyak berdiskusi dengan para ibu dan bapak yang sudah terbiasa terlibat dalam kegiatan seperti ini. Ternyata ada banyak sekali orang berjiwa sosial tinggi di sekitarku. Mereka mengabdi dengan tulus untuk lingkungan dan orang-orang di sekitarnya 😊

Jika ditanya apakah aku bersedia menjadi petugas KPPS lagi, aku belum tahu jawabannya. Sebab, berada dalam keramaian lebih dari 12 jam ternyata hal yang tidak mudah untukku. Aku seperti kehabisan tenaga wkwk Tidak mandi dalam waktu lebih dari 10 jam juga bukan hal yang mudah 😂

Sekian ceritaku tentang pengalaman menjadi petugas KPPS. Semoga menambah informasi untuk teman-teman yang membutuhkan, ya. Berlelah-berlelah untuk kepentingan orang banyak Insya Allah berkah 😁

Menyebar Undangan Pemilu

Tepat saat adzan magrib berkumandang, masuk sebuah pesan singkat pada gawaiku. Ternyata pesan tersebut dari Pak Budi. Bapak ini adalah ketua kpps timku, TPS 41. Pak Budi mengajak aku dan anggota lainnya menyebar undangan pemilu ke rumah-rumah warga. Saat membaca pesan singkat, ada rasa malas muncul dalam benakku. Malam itu hujan lumayan deras. Pikirku, akan ribet sekali kalau harus hujan-hujanan dan becek-becekkan. Lagi pula, aku juga lelah karena baru saja pulang bekerja. Inginnya berbaring saja di kasurku.

Dibalik rasa dan pikiranku itu, kata hati menolak. Bagaimana bisa aku berpikiran seperti itu. Sebenarnya aku tak perlu hujan-hujanan, sebab ada payung. Aku juga bisa mencuci kaki bila nanti kakiku penuh dengan tanah basah. Semua petugas kpps kurasa juga lelah. Kami memiliki kesibukan yang berbeda. Enam orang sudah bekerja. Dan tiga orang sedang kuliah di tahun terakhir. Tak ada yang paling lelah diantara orang-orang bekerja. Sebab, rasa lelah ada pada setiap kita yang berusaha.

Aku segera menghubungi Dhea untuk mengajak ia pergi bersama. Ternyata Dhea tidak bisa menemani. Katanya, pintu rumahnya sudah terlanjur terkunci. Begitu pula dengan teman-teman lainnya. Aku sungguh tak tega membiarkan Pak Budi dan Pak Arifin menyebar undangan hanya berdua saja. Para bapak sudah mengurus tenda dan segala keperluan lainnya. Bebal sekali hati bila menyebar undangan pun aku tak mau. Akhirnya, aku memutuskan untuk membantu.

Dari kejauhan tampak dua orang bapak menggunakan payung hitam besar. Mereka adalah Pak Arifin dan Pak Budi. Wajah keduanya tampak senang saat melihat aku datang. Supaya cepat, aku langsung menyapa mereka dan meminta undangan yang masih belum tersebar. Dan ternyata masih banyak sekali undangan yang tersisa. Pak Budi mengatakan, semua undangan harus selesai disebar malam ini.

Aku memang mudah tersentuh dengan hal-hal kecil. Contohnya malam itu. Aku terharu dengan perjuangan para bapak. Dibalik undangan pemilu yang biasa kudapat selama ini, ternyata ada perjuangan beberapa orang di belakangnya. Orang yang tak tampak usahanya, namun kebermanfaatannya dirasakan oleh banyak orang. Orang-orang yang meluangkan waktunya meski rasa lelah menyerang tubuhnya. Hujan malam itu tak menghentikan tekad para bapak menunaikan tugasnya. Melihat para bapak berusaha sekeras itu, mana mungkin aku bisa membiarkan rasa malas ini bersemayam dalam diri?

Ada banyak hal aku dapatkan setelah menyebar undangan pemilu. Semenjak lulus sekolah dasar, aku tak pernah bertatap muka dengan tetangga, kecuali tetangga dekat rumahku. Aku juga tak pernah berkeliling rumah-rumah tetangga lagi. Aku terlalu ‘sibuk’ dengan aktivitas sekolahku. Sepertinya kata sibuk kurang tepat. Akulah yang enggan meluangkan waktu. Sikap yang buruk, bukan? Dan malam itu, setelah lebih dari 10 tahun berlalu, aku melakukannya lagi. Aku berkeliling rumah dan bertatap muka dengan mereka :’) Ada rasa tiba-tiba datang. Rasa rindu yang terobati. Sebuah kelegaan dan kebahagiaan. Aku rindu masa kecilku. Aku rindu lingkungan dan orang-orang di dalamnya.

“Assalammu’alaikum, bude. Maaf mengganggu malam-malam. Kami mau kasih undangan pemilu, bude.” aku mengetuk pintu sambil memberitahu tujuan kedatangan kami.

“Wa’alaikumsalam. Iya, nggak apa-apa. Silakan masuk, mbak.” kata bude. Ia mempersilakan aku masuk ke dalam rumahnya.

“Bude, ini undangannya. Bude apa kabar? Hayooo, inget nggak ini siapa bude? kataku. Aku menyodorkan undangan sambil merangkul bahu bude.

“Aduh, maaf, bude nggak inget. Ini siapa ya? Maklum ya mbak, udah tua ingatannya begini deh.” Bude menjawab dengan nada merasa bersalah.

“Hehehe, ini Shinta bude. Beda ya, bude? Udah tinggi ya? Hahaha” kataku.

“Yaampun, Mbak Shinta, bude nggak ngenalin. Iya tinggi banget, kalah nih bude hahaha Udah lulus kuliah ya sekarang mbak?” jawab bude.

“Iya bude. Bukan cuma lulus kuliah, bude. Sekarang udah kerja dan udah memasuki usia nikah malah hahaha.” candaku pada bude.

“Hahaha kamu ini. Semoga bude segera diundang ya!” kata bude.

“Siap bude!! Haha.” jawabku.

Begitulah percakapan hangat singkat yang mengobati rasa rinduku. Iya memang benar adanya, pengobat rindu memang temu.

Lingkungan rumah warga RT 03 tidak terlalu luas ternyata. Aku tidak berjalan begitu jauh. Meskipun seperti itu, kami menghabiskan waktu tiga jam hingga akhirnya seluruh undangan tersebar semuanya.

Aktivitas menyebar undangan berakhir tepat saat rintik hujan berhenti membasahi payung kami. Aku bersyukur bisa mengalahkan rasa malas yang singgah dalam diri. Tanpa itu, mungkin pemahamanku tentang undangan pemilu tidak sebaik sekarang ini. Tanpa itu, rasa rindu pada masa kecil tidak terobati. Dan tanpa itu, aku tidak akan bertemu bude yang meminta diundang bila aku menikah nanti 😂

Bahaya Mengemudi dalam Keadaan Kantuk

Beberapa hari lalu mama memberi kabar tentang kecelakaan seorang wanita di jalan margonda sambil menunjukkan sebuah gambar KTP dari gawainya. Aku tidak merespon secara serius. Aku hanya mendengarkan ceritanya, mengangguk sebentar, dan kemudian melanjutkan kegiatanku lagi. Esok harinya ada kiriman video dari ayahku dalam group keluarga. Ternyata isi video tersebut adalah suasana paska kejadian kecelakaan di jalan margonda yang merenggut nyawa. Bulu kudukku langsung berdiri saat melihat videonya dan tak sanggup menonton sampai selesai. Ada rasa sedih karena turut berduka dan perasaan takut karena aku pengendara motor juga.

Setelah mendapat kabar dan menonton video aku tak kunjung googling berita itu. Aku tak tahu mengapa melakukan itu. Mungkin aku terlalu ‘ngeri’ membayangkan bagaimana kronologi kecelakaan. Namun, setelah melewati lokasi kejadian semua menjadi berbeda. Aku benar-benar ingin tahu bagaimana kejadiannya hingga korban mengalami kecelakaan sadis seperti itu.

Ini adalah pengalaman pertama aku melewati tempat kejadian perkara (TKP) sebuah kecelakaan. Lokasi kejadian diberi tanda dan digambar menggunakan cat putih. Terlihat sebuah tanda bertuliskan huruf a, b, dan c. Serta tanda berbentuk motor dan manusia. Saat itu, aku belum tahu arti tanda-tanda itu. Meskipun begitu, aku langsung merinding seketika melihatnya. Pikiranku langsung mengoneksikan informasi video paska kecelakaan yang aku punya dengan dengan suasana TKP. Aku membayangkan betapa mengerikan suasana saat kecelakaan. Aku pun tak sanggup membayangkannya.

Tadi malam akhirnya aku bertanya pada ayah tentang kronologi kejadian sesungguhnya dan apa arti tanda-tanda yang kutemui di jalan tadi. Ayah bilang, penanda dibuat untuk menunjukkan lokasi korban, motor, dan kronologinya.

Lalu, ayah kembali bercerita, katanya, kecelakaan itu adalah kecelakaan tunggal. Sudah dibuktikan melalui CCTV. Kemungkinan korban mengebut dalam keadaan kantuk dengan kecepatan tinggi. Akhirnya, korban pun menabrak median jalan. Kebetulan, median jalan adalah sebuah taman yang dipinggirnya terdapat pagar besi. Dan terjadilah kecelakaan itu. Aku tak sanggup menceritakan lebih lanjut. Kalau ingin tahu, sebaiknya baca saja di berita, ya.

Kemudian ayah memberitahu bahayanya mengemudi dalam keadaan kantuk. Orang yang tidur tentu akan mengalami penurunan kesadaran. Begitu pula saat kita bangun. Kita tak akan mampu secara cepat sadar penuh. Kita pasti membutuhkan waktu beberapa menit hingga akhirnya kesadaran kembali. Terbayang kan bagaimana keadaan seseorang yang tertidur saat mengemudi? Apalagi dengan kecepatan tinggi? Saat bangun, ia pasti kaget sekali dan hilang kendali. Syukur-syukur secara refleks tombol ‘rem’ yang ia tekan. Bagaimana kalau ‘gas’ yang ia aktifkan? Tentu keadaan dirinya dan kendaraan tak akan terkendali. Oleh karena itu ayah menyarankan, lebih baik menunda perjalanan dan beristirahat dahulu, daripada harus memaksakan diri. Akibatnya fatal, bisa merenggut nyawa kita sendiri.

Aku sangat menyetujui saran ayah. Sebab, aku pernah merasakan sendiri. Aku pernah hampir menabrak kendaraan di depan karena kelalaianku. Untung, aku masih bisa mengerem. Terakhir kali, aku pernah mengalaminya lagi. Kali ini aku menabrak polisi tidur di jalanan kampus UI. Di sana, polisi tidur memang dipasang beberapa dan berjajar. Ada sekitar 4-5 polisi tidur dipasang berdekatan. Tujuannya pasti agar pengendara tidak mengebut. Jalanan Kampus UI itu mulus sekali. Tempat yang asyik untuk mengebut memang. Sayangnya, kala itu aku tidak beruntung. Lagi-lagi aku mengerem mendadak dan akhirnya motorku jatuh ke samping. Tidak ada luka serius. Lutut dan pahaku luka sedikit. Ini memang teguran dari Allah supaya aku tak lalai lagi. Aku salah. Dan aku akan introspeksi diri. Aku akan berusaha berhenti bila kantuk datang lagi. Tak ada yang paling penting daripada keselamatan.

Kecelakaan ini teguran keras untuk diriku sendiri. Aku masih sering mengebut bila berkendara di jalan raya. Aku masih sering lalai. Aku menyepelekan nyawa sendiri. Semoga aku lebih mawas diri lagi.

**

Mbak Ita,

Kejadian yang menimpamu adalah duka teramat berat untuk keluargamu. Namun, pembelajaran besar untuk kami di sini.

Wanita mana yang tak takut berkendara sendiri pada dini hari? Aku yakin kamu pun begitu. Namun, kamu tetap melakukannya. Kamu mengalahkan rasa takut dan tetap tegar bekerja setiap hari. Kamu berjuang untuk keluarga yang kamu cintai.

Entah bagaimana perasaanmu saat peristiwa itu terjadi. Pasti takut sekali. Hingga kami di sini tak sanggup dan tak mampu membayangkannya.

Semoga segala amal ibadahmu diterima Allah. Semoga Allah melapangkan kubur, mengampuni dosa, dan memberatkan timbangan kebaikanmu. Aamiin. Allah tahu perjuanganmu dan tak akan pernah alpa menghitungnya :’)

Akhirnya Hemoglobinku Naik!

Akhirnya hemoglobinku mencapai angka 13,7! Hemoglobin (HB) normal adalah 12-16 gram/dL. Meskipun angkanya tidak terlalu besar, aku bersyukur sekali mendapat angka itu. Tiap kali pengukuran HB, aku selalu iri pada bapak-bapak yang memiliki HB 14. Bagaimana cara bapak mendapatkan angka sebesar ini. Padahal, menurut teori pun usia juga dapat memengaruhi HB. Seharusnya bapak memiliki HB di bawahku. Tapi, kenyataan malah sebaliknya wkwk

Pemeriksaan HB secara rutin ini aku lakukan untuk keperluan donor darah. Aku sudah rutin melakukan donor darah setiap tiga bulan sekali sejak 2017 lalu. Sejak Juni 2018 hingga Februari 2019 aku belum melakukan donor darah lagi. Bukan karena aku tidak mau. Melainkan karena HBku yang selalu di bawah normal. Tiap kali diukur, HBku selalu diangka 11. Sedih sekali saat ditolak. Padahal semua persyaratan sudah kupenuhi.

Satu tahun belakang ini, aku sudah mencoba empat kali dan semuanya ditolak. Saat pertama kali ditolak, esok harinya aku rutin minum jus jambu merah dan biskuit gandum. Alhamdulillah, dua hari kemudian HBku naik menjadi 12 koma sekian. Aku pun dibolehkan donor darah. Namun, penolakan-penolakan selanjutnya karena HBku tidak mencukupi membuatku lelah dan akhirnya tidak mencoba donor darah lagi 😢 Dan semakin dirundung kebingungan, ada apa dengan aku. HBku rendah tetapi tak ada keluhan yang aku rasakan.

Malam itu, entah bagaimana awalnya aku dan Niar berdiskusi. Mengapa di keluarga ini hanya aku yang memiliki HB rendah. Padahal seluruh anggota keluarga memakan jenis makanan yang sama. Bahkan, ayahku sempat tes kesehatan dan memiliki HB 14 gram/dL. Niar mengatakan, mungkin pekerjaanku terlalu berat dan nutrisiku belum mencukupi. Oleh karena itu HBku tidak normal. Dan aku pun tercerahkan. Iya benar, semenjak bekerja di tempat yang baru ini aku memang selalu gagal untuk donor darah. Iya benar, aku memang makan apa adanya tanpa ada masukan vitamin yang lain. Iya benar, aku hanya makan apa saja tanpa memikirkan nutrisi apa yang masuk untuk tubuhku. Padahal, pekerjaanku termasuk banyak melakukan pergerakan. Tubuhku pasti membutuhkan nutrisi yang lebih banyak untuk memenuhi aktivitasku.

Semenjak kesadaran itu datang, aku bertekad untuk merubah pola makanku. Aku ingin donor darah lagi. Aku pun membaca beberapa artikel tentang hemoglobin dan menonton beberapa channel youtube yang membahas tentang itu. Ternyata, aku tidak boleh acuh pada hemoglobin ini. Aku sempat bertanya pada perawat yang mengambil darahku beberapa hari lalu, katanya, bila HB masih 11 memang tidak akan ada keluhan berarti. Meskipun tetap saja fungsi peredaran darahku tidak normal. Keluhan lemas, pusing, lunglai, dan jantung berdebar biasanya dirasakan oleh orang-orang yang memiliki HB di bawah 10. Jadi, kalau kamu memiliki keluhan seperti itu, hati-hati ya. Saranku, lebih baik kamu mengecek tekanan darah dan HBmu segera.

Hemoglobin itu penting untuk tubuh kita. Hemoglobin adalah sejenis molekul protein dalam sel darah merah. Fungsinya untuk membawa oksigen ke paru-paru dan dialirkan ke seluruh jaringan tubuh. Serta membawa karbondioksida dari jaringan tubuh kita ke paru-paru untuk di keluarkan melalui pernapasan. Singkatnya, HB ini seperti kendaraan yang membawa darah yang berisi oksigen. Tanpanya, darah kita tak akan bisa pergi ke mana-mana. Tanpa darah yang berisi oksigen, jaringan tubuh kita akan mati. Gawat kan?

Selain fungsi di atas HB juga berperan dalam menjaga bentuk sel darah merah. Bentuk normal sel darah merah kita itu bulat dan pipih di tengah. Bentuknya seperti donat tanpa lubang di tengah. Struktur HB yang tidak normal akan membuat bentuk menjadi tidak normal. Bentuk sel darah merah yang tidak normal akan menghalangi fungsinya untuk bekerja dalam pembuluh darah. Bahaya ya?

Usaha-usaha untuk Menaikkan Hemoglobin

Semenjak tahu manfaat HB dan sadar bahayanya rendah HB, aku merubah pola makanku. Sekarang lebih memerhatikan makanan apa saja yang berperan memenuhi HB dalam kadar normal. Ternyata, aku harus memakan makanan yang mengandung zat besi, asam folat, dan vitamin C. Serta istirahat yang cukup.

Zat besi berfungsi untuk membentuk HB. Zat besi bisa berasal dari hewani dan nabati. Zat besi berasal dari hewani adalah daging merah dan hati ayam. Kalau zat besi yang berasal dari nabati bisa berupa bayam dan gandum. Untuk memenuhi zat besi nabati aku memakan sayur bayam dan membeli camilan biskuit sari gandum. Untuk memenuhi zat besi hewani aku mengkonsumsi hati ayam.

Asam folat berfungsi untuk menjaga kekuatan sel darah merah. Asam folat berasal dari kacang-kacangan. Aku biasanya makan bubur kacang hijau yang dijual abang-abang dekat rumah. Kalau tidak sempat, aku membeli minuman kemasan sari kacang hijau di mini market.

Vitamin C membantu penyerapan zat besi dalam usus. Sehingga, zat besi dapat menghasilkan hemoglobin. Kemarin, kalau sempat aku beli jus jeruk. Kalau tidak sempat, aku ganti dengan UC 1000. Kalau kamu tidak terlalu suka jeruk, kamu bisa ganti dengan apel dan tomat. Keduanya juga mengandung vitamin C tinggi.

Yang terakhir, minum air putih dan istirahat yang cukup. Manfaatnya adalah untuk meningkatkan metabolisme. Sehingga, penyerapan nutrisi dan mineral menjadi optimal.

Aku berhasil menaikkan hemoglobin setelah melakukan perubahan pola makan selama kurang lebih 2 minggu. Hidup sehat itu ternyata tidak sulit. Semua hanya tergantung seberapa besar niat dan usaha kita mau berubah.

Hikmah

Alhamdulillah, aku memiliki tubuh yang sehat. Aku memiliki tanda-tanda vital normal seperti tekanan darah, denyut nadi, dan pernapasan. Tiap kali medical check up, hasilnya juga selalu normal. Oleh karena itu, karena merasa normal, aku tidak terlalu memerhatikan makanan yang dikonsumsi. Apa saja dimakan dan diminum asalkan enak. Meskipun suka sekali air putih, aku juga pecinta minuman teh kemasan. Teh apapun dengan rasa original. Meskipun tidak terlalu candu, tiap kali melakukan aktivitas di luar rumah dalam keadaan panas, aku selalu membeli minuman teh dingin itu di mini market. Sekarang, aku sudah mengurangi kebiasaanku itu.

Meskipun tidak membeli air mineral di mini market, aku sudah mengurangi membeli teh kemasan. Aku lebih memilih minuman jeruk atau minuman ion untuk menghilangkan rasa haus. Aku juga lebih memilih makanan yang lengkap vitamin seperti nasi, ayam goreng, dan lalapan dibandingkan mie ayam atau bakso. Bahkan kalau ada, aku akan memilih hati ayam dan daging dibandingkan lauk lain. Aku juga mengurangi konsumsi mie instan. Padahal, sebelumnya, aku hobi sekali memakan indomie goreng.

Selain tentang kebiasaan, mengubah pola makan ternyata ujiannya juga berat. Ketika ada dua pilihan bubur kacang hijau dan gorengan, tetapi aku harus memilih bubur kacang hijau. Ketika ada dua pilihan es jeruk dengan es teh manis, tetapi aku harus memilih es jeruk. Ketika ada dua pilihan biskuit sari gandum dengan telor gulung, tetapi aku harus memilih biskuit sari gandum. Meskipun begitu, aku harus istiqomah. Kita harus berkorban untuk sesuatu yang menjanjikan kan 😂💪

Ternyata kita memang perlu ditegur dengan ‘keadaan tubuh yang tidak nomal’ supaya lebih memerhatikan apa saja yang tubuh butuhkan. Ternyata kita perlu ditegur dengan ‘keadaan tubuh yang tidak stabil’ supaya lebih peduli pada makanan yang kita makan. Sehat itu harganya mahal kan?

Semoga pengalamanku ini bermanfaat untuk teman-teman. Kamu yang memiliki HB rendah atau kamu yang ingin menjaga HB tetap normal. Yang ingin donor darah, aku doakan kamu memenuhi persyaratannya. Aamiin. Tetap semangat ya, percaya, usaha yang optimal akan memberikan hasil yang optimal pula 🙂

***

Tulisan lainnya tentang donor darah:

Cerita: Donor Darah Berbagi kepada Sesama

Cerita: Untuk apa Donor Darah?

Berita Duka Hari Ini

Foto di atas adalah Milo. Satu dari tiga anaknya si Moi kucingku. Foto tersebut aku ambil satu hari yang lalu. Usia Milo belum genap satu bulan. Ia lahir tanggal 12 Maret kemarin.

Anak Moi baru aku belikan kandang kurang lebih satu satu minggu yang lalu. Aku tidak ingat kapan waktu tepatnya. Aku dan Niar sepakat membeli kandang karena kami tahu anak-anak Moi akan lincah sekali bila sudah bisa jalan. Kami khawatir mereka yang kecil itu bisa berjalan-jalan sembarangan. Rawan sekali terinjak orang.

Beberapa hari yang lalu Milo dan dua saudaranya sudah lancar berjalan. Bila hari sebelumnya mereka berjalan merayap pelan-pelan, menjelang usia sebulan mereka sudah bisa berjalan lebih cepat. Aku dan keluarga menyambut dengan riang setiap tumbuh kembang anak-anak Moi.

Hari ini kabar duka datang. Kejadian yang tidak kami inginkan benar-benar terjadi. Salah satu anak Moi tidak sengaja terinjak. Dan tersangkanya adalah aku.

Kronologinya seperti ini, siang tadi Satria dan mama sedang membersihkan kipas angin. Kami sedang asyik meledek si kecil Satria yang begitu sigap dan semangat membantu mama. Padahal, beberapa kali ia mengalami bersin-bersin. Karena tidak ada masker si rumah, aku pun menyodorkan selembar tissue kepada Satria untuk menutup hidungnya. Kondisiku saat itu adalah aku sudah siap berangkat kerja. Aku sudah menggunakan jaket, tas, dan sepatu. Hanya tinggal motor saja belum aku siapkan.

Posisi motorku dan Satria tidak jauh. Aku hanya perlu mundur satu langkah ke belakang dan menghadap kiri. Tanpa pikir panjang aku pun segera bergerak seperti itu. Aku berjalan mundur tanpa menoleh ke belakang. Dengan gerakan cepat dan tidak disadari, ternyata kaki kiriku menginjak sesuatu yang ‘lunak’. Aku nyaris jatuh karena menghindari sesuatu yang ‘lunak’ itu. Namun, terlambat sudah. Meskipun kakiku tidak menumpu penuh, aku tetap menginjaknya. Aku menginjak Milo. Iya, sesuatu yang ‘lunak’ itu adalah Milo.

Milo kesakitan. Aku melihat sendiri bagaimana Milo kesakitan. Aku melihat sendiri ada darah yang mengalir dari hidungnya. Milo bergerak lemas dan perlahan ia tidak bergerak lagi. Jangan tanya bagaimana perasaanku. Aku tidak bisa mendeskripsikannya menggunakan kata. Jantungku berdegup sangat kencang. Napasku tersengal. Aku gemetar. Aku tak dapat berbicara. Aku menangis.

Sungguh, aku ingin bolos bekerja saat itu. Aku tidak mengambil keputusan itu. Dalam keadaan shock, aku tetap berangkat. Sebelum berangkat, aku tidak berkata apa-apa pada keluarga. Aku tidak menenangkan mereka. Mereka juga tidak menenangkanku. Suasana sunyi dan senyap. Pemandangan terakhir yang aku lihat, mama dan Danang sedang memercikan air ke wajah Milo. Aku pun tetap pergi.

Di perjalanan, aku tak sanggup menahan semuanya. Aku menangis. Aku memang tidak sengaja. Tetapi, aku tetap berdosa pada Milo. Aku tidak berhati-hati. Semua kalimat berawalan ‘andai’ bermunculan di kepala. Andai, siang tadi aku lebih sigap saat mama menyuruh kami memindahkan Milo ke kandang. Andai, aku lebih inisiatif dan tidak menunda-nunda. Andai, aku lebih peduli dan perhatian. Aku tahu kata ‘andai’ tak pernah berguna dalam sebuah penyesalan. Tetapi, aku tetap ingin mengatakan semua kata ‘andai’ pada pikiranku. Andai, andai, dan andai.

“Milo udah dikubur di depan rumah. Mas Danang yang menggali dan menguburnya.” masuk sebuah pesan singkat dari mama. Milo meninggal. Mamaku mengirim foto terakhir Milo sedang terbujur kaku di atas bantal. Hatiku perih dan sakit. Seperti ada pisau yang menyayat hati. Seperti ada sebuah batu besar menghantam hatiku. Tubuhku lemas. Aku kehilangan tenaga. Aku terisak. Rekan kerjaku kebingungan. Biarlah, aku begini. Aku benar-benar tidak sanggup menahannya sore tadi.

Sepulang kerja, aku memandangi kandang Milo, Moi, dan Matcha. Kini, hanya ada Matcha dan Mocca. Danang membuka pintu dan berkata,“Keinjek lagi?!” Langsung kujawab dengan suara parau,“Menurutmu bagaimana perasaanku, seseorang yang sangat menyesal dan bersedih karena tidak sengaja menginjak Milo, kamu tanyakan seperti itu?”,”Tolong jangan berkata seperti itu lagi.” aku menambahkan.

Ternyata begini rasanya menjadi sebab sebuah kematian. Ada rasa bersalah yang terus menerus bersemayam dalam diri. Ada bayang-bayang Milo tiap kali melihat kucing. Seketika itu pula langsung teringat apa yang sudah aku lakukan kepadanya. Aku diburu rasa bersalah. Dan tak tahu bagaimana caranya rasa ini kubawa kelak.

Sisi kiri yang berwarna belang-belang, Milo. Sisi kanan yang berwarna hitam, Matcha.

Cerita tentang Hujan

Hujan selalu memiliki cerita bagi orang-orang yang menyambutnya dengan suka cita.

Beberapa tahun lalu sahabatku tidak menyukai hujan. Katanya, ia tidak senang bila harus basah-basahan karena hujan. Dulu, aku juga tidak menyukai hujan. Sebab, bepergian dalam keadaan hujan sungguh menyulitkan. Saat ini, aku suka hujan. Entah dengan sahabatku. Semoga, saat ini ia juga menyambut hujan dengan suka cita.

Ini adalah cerita tentang hujan. Sore itu kita membuat janji temu. Meskipun sudah tahu setiap sore akan hujan, aku dan kamu tetap sepakat akan pergi pukul empat. Aku, tentu saja tidak masalah bila harus pergi saat turun hujan. Tidak ada yang salah dengan hujan. Masalah hanya pada kita. Kita tidak ingin repot sebentar saja untuk hal-hal yang sesungguhnya tidak sulit. Semua selalu ada caranya bila kita mau mencari. Kupikir, bila ingin naik motor, aku bisa menggunakan jas hujan. Bila tidak ingin repot memakai jas hujan, aku bisa menggunakan jasa grab car. Kamu, ternyata juga tidak masalah bila harus hujan-hujanan. Kita pun sepakat menerjang hujan untuk memenuhi janji.

Jalan dekat rumahku memang selalu banjir bila hujan deras. Aku menebak masalah ada pada sistem drainasenya. Tidak ada satu saluran air pun di dekat sana. Pantas saja air yang turun menggenang begitu saja. Kamu mengabariku bahwa banjir menghalangimu melewati jalan itu. Kamu terjebak dan tidak bisa melewatinya. Tanpa pikir panjang, aku pun memintamu untuk menunggu di ujung jalan jembatan layang itu. Yang sesungguhnya, lumayan jauh dari rumahku. Namun, aku tidak masalah berjalan kaki dalam kondisi hujan. Entah apa yang kupikirkan sore itu.

Hujan semakin deras saja. Di rumah, aku bergegas mengganti sepatu dengan sendal dan membawa payung biruku. Keluargaku tentu saja bingung dengan apa yang kulakukan. Kata mereka,“Mengapa tidak menunggu reda dulu?”. Kujawab saja,“Kita tak tahu kapan hujan ini berhenti. Hujan tidak akan menyakitiku! Hihi.

Aku aneh? Iya, memang. Tetapi, itulah pilihanku. Seseorang pernah mengatakan, bila kita bingung memutuskan sesuatu, ikuti saja kata hati. Sore itu, hatiku memilih untuk tetap pergi. Sederas apapun hujan yang menghantam payung biruku, aku tetap berjalan menuju kamu. Bukankah satu-satunya pengobat rindu adalah temu?

Berkenalan dengan Penyandang Autis

Ms Nina baru saja mengunggah sebuah foto dalam akun instagramnya. Captionnya sangat menarik,”If they can’t learn the way we teach, we teach the way they learn.” Kalimat sederhana yang memiliki arti bermakna.

Ms Nina adalah guru sekolah dasar di sekolah inklusi swasta di Jakarta Barat. Pernah menjadi rekan kerjanya adalah anugerah yang berharga. Ms Nina juga teman diskusi yang seru. Dulu aku banyak bertanya tentang anak-anak berkebutuhan khusus dengannya. Dan Ms Nina selalu menyediakan banyak waktu untuk menjelaskan dengan rinci dan lengkap.

Tanggal 2 April adalah Hari Autis Sedunia. Sebenarnya aku lupa. Namun, berkat unggahan ibu-ibu guru sekolah inklusi itu, aku kembali diingatkan. Ibu-ibu guru mengunggah tulisan pada status whatsapp ‘World Autism Awareness Day‘. Mereka juga mengunggah beberapa video murid-murid membawa poster berkeliling sekitar sekolah. Mereka mengedukasi masyarakat sekitar bahwa penyandang autis adalah teman kita. Tak perlu memandang dengan tatapan aneh dan sebelah mata. Seperti caption Ms Nina, jika mereka kesulitan belajar dengan cara kita karena keterbatasannya, mengapa kita yang lebih mampu tidak mengajari mereka dengan caranya?

Aku teringat saat perjalanan pulang ke rumah menggunakan krl. Saat itu, ada dua orang mahasiswi sedang berbincang. Karena mereka memang berdiri persis di sampingku, aku pun mendengar jelas percakapan mereka. “Iya, dia tuh cowok aneh. Setiap di kelas dia sendirian aja. Kalo jalan kaki, ya nunduk aja. Kalo gue tanya, ngejawabnya pake bahasa baku. Oh iya! Gue pernah ketemu di lift kampus. Masa dia muter-muter di depan lift. Dia baru berhenti muter saat pintu liftnya kebuka. Temen-temen di kelas nggak ada yang bully dia sih. Kita cuma aneh aja.” cerita panjang lebar si mahasiswi berambut panjang itu. Dari intonasi suaranya, aku tahu ia benar-benar bingung.

Dari ceritanya aku bisa menduga siapa yang ia bicarakan. Kata kuncinya adalah ia ‘muter-muter di depan lift’ dan bahasanya ‘baku’. Aku menduga, kemungkinan teman sekelasnya adalah penyandang autis. Penyandang autis tidak asing di telingaku. Aku pernah membersamai mereka selama 1,5 tahun. Meskipun belum ahli menangani mereka, aku memiliki pengalaman berinteraksi dan berkomunikasi dengan mereka. Langsung saja aku tulisan ceritanya, ya.

Kali Pertama Bertemu Raka, Patra, dan Fakhri

Di sekolah inklusi tempatku bekerja dulu, aku berkenalan dengan tiga anak penyandang autis. Dua anak sudah mampu berkomunikasi dan berinteraksi, satunya lagi belum bisa berkomunikasi apa-apa.

Yang pertama sebut saja namanya Raka. Saat aku bertemu dengannya Raka sudah kelas 6 SD. Raka bisa bertanya dua hal yaitu tentang alamat rumah dan tentang rumah. Raka biasanya mengajukan pertanyaan seperti ini, ‘Ms rumahnya di mana?‘, ‘Ms rumahnya warna apa?’, ‘Di rumah Ms ada AC tidak?, ‘Ms rumahnya tingkat tidak?‘. Ketika kita sudah menjawab semua pertanyaannya, Raka akan mengingat semua jawaban kita. Ia hafal betul semua kalimat yang kita ucapkan tadi. Kali pertama tahu kemampuannya, aku kaget sekali. Ia benar-benar hafal jawabanku dalam hitungan detik.

Yang ke dua, sebut saja namanya Patra. Patra kelas 3 SD. Kebetulan aku mengajar di kelas itu. Jadi, aku lumayan tahu kemampuan dan sikap Patra sehari-hari. Patra berbeda dengan Raka. Patra masih sulit melakukan kontak mata. Masalah ini memang hampir dimiliki sebagian besar penyandang autis. Maka, yang dapat kita lakukan ketika berbincang dengannya adalah duduk sejajar dengan dirinya, memegang kepalanya agar menatap wajah kita, dan kemudian ajukan pertanyaan singkat jelas kepadanya. Apa yang kita lakukan itu akan memudahkan Patra menjawab pertanyaan.

Patra juga terlalu sensitif dengan suara keras. Ia masih mampu mendengar musik. Namun, mendengar suara anak-anak yang berteriak atau suara drum saat pelajaran musik akan membuat Patra ketakutan. Perihal ini juga ciri khas anak-anak penyandang autis. Mereka mengalami gangguan pada beberapa panca inderanya. Untuk Patra, ia mengalami gangguan pada pendengarannya. Aku pernah dijelaskan oleh koordinatorku saat di sekolah inklusi dulu. Katanya, pendengaran Patra terlalu sensitif. Jika kita mendengar suara tertawa dan drum biasa saja, bagi Patra tidak. Suara-suara itu super keras terdengar oleh telinganya. Dan kenyataan tersebut sangat menganggu Patra. Maka, tidak heran bila Patra menutup telinga dan menangis tiap kali mendengar suara keras. Kami pun memahami itu. Kelainan itu bisa disembuhkan. Patra hanya perlu dibiasakan mendengar suara-suara itu. Pelan-pelan saja dan tidak perlu dipaksa. Bila dilakukan secara terus menerus dan konsisten, Patra akan mengenal suara-suara keras.

Sama seperti Raka, Patra memiliki kemampuan menghafal yang super baik. Patra paling senang dengan gadget. Ia hafal betul spesifikasi bermacam-macam gadget. Aku takjub sekali saat ia berhasil menyebutkan spesifikasi Samsung Galaxi S7 beberapa tahun lalu 😂

Yang ke tiga, kita sebut namanya Fakhri saja, ya. Fakhri kelas 1 SD. Aku tidak banyak berinteraksi dengan Fakhri. Kelainan Fakhri cukup berat. Ia belum memiliki kontak mata, masih berbicara sendiri tanpa makna, dan masih sering melakukan gerakan berulang. Berbicara dengan Fakhri harus di tempat yang sunyi supaya ia tidak terdistraksi dengan apapun. Fakhri juga belum mengenal instruksi. Dan tidak semua guru bisa berinteraksi dengan dia. Hanya Ms Nisa saja yang mampu mengarahkan Fakhri. Aku pernah beberapa jam bersamanya. Bahkan untuk menginstruksikan Fakhri memakai kaos kaki saja aku belum mampu.

Mereka Membutuhkan Perhatian dan Bantuan Kita

Apa yang penyandang autis lihat dan rasakan memang berbeda. Ada kerusakan pada bagian otak yang membuat beberapa fungsi menjadi terganggu. Beberapa kesulitan yang paling banyak dialami mereka adalah komunikasi dan interaksi dengan orang lain serta melakukan gerakan berulang. Mereka melihat dan mendengar hal sekitar dengan cara yang berbeda. Kalau kata dokter yang ahli di bidang ini, otak mereka terlalu penuh dan sibuk, namun, mereka tak mampu mengendalikannya. Mereka membutuhkan bantuan kita untuk memudahkan setiap hal.

Contohnya saja dalam hal komunikasi dan belajar. Dalam komunikasi, jangan berbicara pada mereka sebelum matanya benar-benar menatap mata kita. Ajarkan mereka pengalaman ini. Bahwa ketika berbicara dengan orang lain mata harus menatap lawan bicara. Jangan berbicara saat lingkungan tidak kondusif. Mudahkan mereka melakukan percakapan ini. Lingkungan yang sunyi akan memudahkan mereka menangkap informasi. Dalam belajar, bantu mereka menggunakan media pembelajaran. Belajar menggunakan bantuan gambar dan contoh konkret akan memudahkan mereka mengerti.

Karena mereka memandang segala hal dengan berbeda, memang akan ada banyak perilaku mereka yang menganggu. Mereka akan berteriak dan melempar barang tiap kali merasa cemas dan bingung. Bahkan mereka bisa melukai dirinya sendiri dan orang lain bila merasa terancam. Bila anak kecil normal diibaratkan seperti kertas kosong dan dapat kita isi. Anak-anak penyandang autis adalah ibarat kertas yang sudah terisi dan perlu kita perbaiki dan ajari. Mereka membutuhkan berkali-kali lipat pengertian dan bantuan kita. Mengerti segala keterbatasan mereka dan membantu mengembangkan potensi mereka secara optimal.

Tatapan aneh yang biasa kita berikan pada mereka yang berbeda, kurasa hanya karena ketidaktahuan kita. Jika kita mengenal mereka, aku yakin kita tidak akan memberikan tatapan itu lagi. Malah sebaliknya, kita akan bersemangat memberikan perhatian dan bantuan. Sesederhana menyapa, menanyakan nama, dan mengajak mereka bersalaman, misalnya 😊

Aku tidak memberi apa-apa pada Raka, Patra, dan Fakhri. Akulah yang mendapat banyak hal dari mereka. Berkenalan dengan mereka membuat aku sadar bahwa ada banyak anak spesial yang membutuhkan uluran tangan kita untuk melangkah bersama. Mereka membutuhkan tatapan hangat kita untuk meyakinkan bahwa dunia ini tidak mengerikan seperti yang mereka rasakan. Mereka membutuhkan kehadiran kita untuk memudahkan apa-apa yang sulit mereka mengerti.

Berkat mereka, aku sadar, ada banyak usaha perlu diapresiasi. Ada banyak proses memang harus dilalui supaya kita mendapatkan ilmu yang baru. Berkat mereka, aku lebih banyak bersyukur. Ternyata, ada begitu banyak kemampuan dan nikmat lupa untuk disyukuri.

If they can’t learn the way we teach, we teach the way they learn.” – Ms Nina

Cerita

Aku tidak menyangka kalau cerita mampu mengabadikan kenangan dalam hati kita. Aku baru menyadari kalau kata-kata yang menyentuh hati akan selalu teringat di dalam hati.

Gedung ini adalah gedung yang sama seperti dua tahun lalu. Yang berbeda hanya aku. Dua tahun lalu aku datang hanya untuk satu urusan dan kemudian pulang tanpa meninggalkan apa-apa. Hari ini berbeda.

Aku datang dengan banyak rasa yang sulit untuk didefinisikan. Aku dan gedung ini tak mempunyai cerita. Namun denganmu tentu semua berbeda. Berkat kamu dan ceritamu, aku merasa begitu ‘akrab’ dengan gedung dan orang di dalam sini. Rasa getir dan nostalgia mencipta sebuah rasa yang aku tak tahu namanya. Entah, sebenarnya aku memang tak tahu, atau hanya pura-pura saja.

Pagi ini gedung dipenuhi oleh banyak orang. Pada awal tahun, semua pekerja diwajibkan datang untuk melaporkan segala harta dan hutangnya. Dan akhir Bulan Maret ini adalah batas akhir pelaporan. Mungkin faktor ini yang membuat gedung ramai sekali. Saking ramainya, kegiatan pun di lakukan di luar gedung. Jadilah di depan gedung dipenuhi oleh meja dan bangku. Mataku langsung tertuju pada petugas yang bertugas. Mereka muda, lincah, dan ceria. Benar katamu, perusahaan ini memang banyak diisi oleh anak muda. Tiba-tiba saja aku teringat ceritamu. Kamu bilang, adalah beruntung divisimu diisi oleh anak muda. Sebab, ide-ide mereka begitu unik dan cemerlang. Contohnya saja acara perpisahan perpindahan karyawan ke luar kota waktu itu. Anak muda menyuruh ‘si yang pindah’ menggunakan toga sebagai tanda perpisahan. Kreatif ya!

Setelah mengamati petugas yang sedang bekerja, tibalah giliranku untuk masuk ke dalam gedung. Aku diarahkan untuk membuat akun. Saat menunggu antrean, aku lagi-lagi memandangi para petugas yang sedang melayani. Tiba-tiba aku membayangkan bagaimana kamu bekerja. Dan aku mengatakan dalam hati, ternyata begini suasana perusahaanmu ketika jam bekerja di mulai.

Antrean tidak begitu panjang dan proses pembuatan akun juga tidak begitu lama. Setelah selesai mendapat akun, aku diarahkan ke lantai dua untuk melakukan pengisian data online. Pada tahapan ini sebenarnya tidak wajib. Aku diberikan sebuah brosur cara melakukan pengisian online. Dan aku boleh melakukannya di rumah. Namun, karena ini adalah pengalaman pertama, maka, aku pun ke lantai dua supaya mendapatkan pengarahan.

Proses pengisian online juga tidak begitu lama. Menurutku, sepertinya aku sedang beruntung. Terbukti setelah aku selesai, di belakangku ada banyak sekali yang sedang mengantre.

Urusan pengisian online selesai. Aku ingin pulang. Saat menuju ke tangga, instingku menyuruh untuk menoleh ke kanan. Di sana ada sebuah kalender. Aku tertarik untuk melihatnya dan kuraih kalender itu. Kalender terdiri dari banyak foto. Pada lembar pertama terlihat pegawai perusahaan divisi pelayanan sedang bergaya bebas dengan senyum lepas.

Setelah puas mengamati, aku membalik kalender ke halaman selanjutnya. Tanganku berhenti pada foto mereka menggunakan seragam biru muda. Lagi-lagi aku mengingat ceritamu. Saat itu kita sedang melihat-lihat baju di salah satu toko. Kita sedang berbincang tentang seragam kerja. “Baju seragamku juga ada yang warnanya mirip kayak baju kamu hari ini. Biru muda. Eh bukan hanya mirip deh. Sepertinya emang seperti ini warnanya.” Langsung saja kutanggapi perkataanmu,”Aku kan juga pegawai perusahaanmu!” Kita pun tertawa bersama. Iya benar, seragam biru pada kalender ini adalah seragam biru yang kita bicarakan waktu itu. Iya, mirip sekali dengan baju biru mudaku! Aku pun menatap lama seragam biru muda pada kalender itu. Orang-orang yang mengenakan seragam itu tersenyum. Aku tidak mengenal mereka, namun aku pun turut tersenyum.

Urusanku sudah selesai. Aku juga sudah puas melihat-lihat foto dalam kalender. Aku pun pulang. Sebelum meninggalkan gedung, aku membaca sebuah pengumuman yang ditempel di dinding. Pengumuan itu berisikan informasi tentang cara memulihkan password akun bila klien lupa.

Mereka mengatakan bahwa kita tidak perlu datang langsung ke perusahaan hanya untuk mengganti password. Kita cukup menghubungi call centre saja. Membaca tulisan call centre membuat aku mengingat ceritamu lagi. Aku ingat betul bagaimana kamu bercerita saat itu. Kamu begitu antusias dan semangat berbagi cerita. Apalagi saat membahas tentang pengalamanmu menjadi call centre dan berhadapan dengan klien yang sok tahu. “Mereka telfon ke call centre cuma mau membuktikan bahwa apa yang diketahui adalah benar adanya. Makanya, mereka nggak akan mau dengerin apapun yang aku kasih tau.” katamu. Kamu bercerita dengan mimik wajah kesal. “Oh iya, temenku ada yang sakit telinga karena terlalu lama di bagian call centre. Kasihan deh.” kamu menambahkan. Seperti biasa, aku selalu senang mendengar ceritamu. Kamu pandai bercerita. Berkatmu, aku bisa membayangkan betapa menjengkelkan klien yang kamu maksud itu :’)

Setelah membaca pengumuman itu, aku segera memotretnya menggunakan kamera gawaiku. Jaga-jaga saja, siapa tahu kelak aku lupa password akunku.

Jantungku tidak berhenti berdegup kencang selama berada di gedung ini. Aku tidak memiliki cerita apa-apa di sini. Namun, karena ceritamu, aku merasa akrab berada di sini. Semua terasa nyata seperti aku menyaksikannya sendiri. Ah, sedang memikirkan apa aku ini. Aku menarik napas panjang dan menghembuskannya kembali. Seketika, hatiku terasa hangat sekali. Ceritamu ternyata benar-benar sudah menyentuh hati.