Cerita: Memasak Egg RollΒ 

Masak lagi, yeay!

Ketika mama harus menghadiri acara di luar rumah dalam jangka waktu yang lama, kami (saya dan Yuniar) selalu bertugas memasak lagi di rumah. Sebenarnya bisa saja kami membeli makan di luar, namun pengeluaran tentunya akan lebih besar. Oleh karena itu, kami memutuskan untuk memasak.

Tukang sayur keliling adalah penyelamat kami ketika memutuskan memasak di rumah. Kalau belanja di pasar, kami tidak bisa membeli bahan makanan dalam jumlah sedikit. Kami juga belum ahli membeli bahan makanan di pasar. Selain itu, berbelanja di tukang sayur keliling juga sangat memudahkan. Disana, semua bahan makanan sudah diatur dan dibungkus. Jadi, kami tinggal memilih saja bahan makanan yang diperlukan. Harganya pun murah. 

Saat berbelanja, kami menyadari, menjadi ibu tidak hanya tentang pandai memasak saja. Namun, juga harus pandai mengatur keuangan. Harus mampu menyeimbangkan antara rencana memasak dengan keuangan. Jangan sampai pengeluaran berbelanja melebihi budget memasak hari itu. 

Sebelum memasak, kami menuliskan beberapa bahan yang diperlukan. Yang tidak boleh dilupakan, menyusun bahan yang diperlukan harus disesuaikan pula dengan budget. Hal tersebut dilakukan supaya proses berbelanja dan penggunaan waktu lebih efektif dan efisien. Meminimalisir berbelanja di luar rencana juga. 

Bahan yang diperlukan membuat egg roll sangat sederhana, yaitu: 

1. Telur enam butir

2. Bihun satu (Sesuai selera. Namun, jangan terlalu banyak. Supaya bihun terbalur dengan telur)

3. Wortel dua buah

4. Satu buah daun bawang.

Untuk bawang merah dan bawang putih, Alhamdulillah masih ada di rumah. Lumayan mengurangi pengeluaran πŸ˜€

Proses masak pun dimulai dengan pembagian tugas. Saya menyiapkan bumbu untuk menumis sayur taoge, telur dadar, dan tempe balado, memotong tempe (pada postingan ini tidak dibahas ya cara membuatnya :D), menumis sayur taoge, dan memasak tempe balado. Lalu, tugas Yuniar merebus bihun, memotong wortel, membuat adonan telur dadar, dan memasak telur dadar.

Ternyata, ide dapat muncul selama proses memasak loh! Yang awalnya ingin memasak telur dadar biasa, tiba-tiba Yuniar menyarankan agar membuat egg roll. Dan saya pun menyetujuinya. Egg roll adalah telur yang dimasak dengan digulung lalu dipotong-potong. Kalau kamu sering menonton drama korea, pasti sudah terbayang egg roll yang saya maksud πŸ˜€ Penasaran? Yuk, saya beritahu bagaimana cara membuatnya.

Berikut cara memasak egg roll:

1. Potong wortel dan daun bawang dengan ukuran kecil dan tipis. Tujuannya, supaya wortel dan daun bawang cepat matang saat digoreng.

2. Rebus bihun hingga lembut. Caranya, panaskan air, lalu tuangkan air panas ke dalam wadah yang sudah terisi bihun. Tuangkan sedikit minyak goreng ke dalam wadah tersebut. Tujuannya, supaya bihun tidak lengket dan tidak saling menempel antar bihun. Aduk hingga bihun lembut (bihun akan lembut dalam waktu dua menit saja, maka hati-hati jangan merebus terlalu lama. Nanti bihun akan menjadi lunak sekali). Lalu, sisihkan dan letakkan bihun di wadah kering.

3. Haluskan bumbu telur. Bumbu yang digunakan adalah tiga buah bawang merah, garam, dan sedikit royco. (Jika menyukai makanan pedas, dapat tambahkan cabai dan lada).

4. Siapkan satu wadah kosong. Lalu, masukkan wortel, bihun, telur, dan bumbu. Aduk rata seluruh bahan dan pastikan telur membaluri seluruh bahan-bahan tersebut.

5. Panaskan teflon dengan api kecil. Tuangkan sedikit adonan telur. Ratakan adonan telur di atas teflon. Diamkan hingga telur berwarna kuning. Dalam keadaan setengah matang, gulung telur perlahan hingga telur terlipat. Jika ingin gulungan telur lebih tebal, gulung setengah saja. Lalu, tambahkan lagi adonan di atas teflon. Kemudian, gulung kembali. (Pastikan menggulung dalam keadaan setengah matang. Sebab, jika keadaan telur terlalu matang, telur tidak akan bisa digulung).

6. Diamkan telur hingga matang. 

7. Setelah matang, potong telur menjadi beberapa bagian. Ukuran sesuai selera. Kalau Yuniar, memotong telur dengan ukuran sedang.

8. Hidangkan. Menikmati egg roll dalam keadaan hangat lebih nikmat πŸ˜€

Saran:

1. Untuk isian telur, dapat dikreasikan sesuai selera. Namun, ukuranlah yang perlu diperhatikan. Potong semua bahan dalam ukuran kecil dan tipis supaya memudahkan dalam proses menggulung.

2. Memasak harus dengan api kecil. Agar mudah mengontrol kematangan telur untuk digulung. 

3. Menggunakan dua telfon lebih baik. Proses mematangkan telur sambil menggulung, akan membuat proses memasak lebih lama. Jika yang menggoreng telur lebih dari satu orang lebih baik.

4. Jika ingin memasak egg roll untuk hidangan keluarga, lebih baik dipersiapkan di awal waktu. Sebab, proses membuat egg rol membutuhkan waktu yang cukup lama. Kasian sekali jika keluarga besar harus menunggu terlalu lama dalam keadaan lapar.

Sekian pengalaman memasak egg roll saya dan Yuniar. Semoga informasi memasak egg roll ini bermanfaat πŸ˜€

Rasanya enak. Percampuran rasa telur yang empuk dengan sayur dan bihun, membuat cita rasa menjadi tidak biasa. Jika ingin memasak makanan dengan bahan sederhana, hidangan egg roll ini boleh dicoba!
​
​

Juga cocok untuk makanan balita! Satria aja bolak-balik menyantap makanan ini πŸ˜‰
​

​

Advertisements

Being Mother is Challenging

I’m an oldest sister. So, if my mother can’t do her job because of something, automatically her job is my job.
A few days ago my mother was sick. She said that her throat was pain and her tongue feels uncomfortable. My mother couldn’t do her job as usual. So, I decided to do her job as soon as possible. I was checked her daily jobdesk like cleaning the plates, forks, cook, take care of my young brother, and etc.

Mother has a big energy to do all the jobs at home. I tried all of the job that usually my mother do. You know what? I felt so tired and not able to do it again. At that time, I think about my mother, how strong and amazing she is. She did all job by herself. 

I saw my mother never complain about her job. Mother looks happy to do that. For her, tired is nothing If all members of the family live comfortably.  

I think, the human who do their task without expecting to receive repayment is only a mother. I thanks to Allah to gave me a mother like my mother in my life. I thanks to Allah because I could learned directly how to be a good mother by seen what mother’s did for family. Being mother is challenging and amazing πŸ™‚

Peminjam yang Bijaksana

Diri ini bukanlah milik kita. Seluruh bagian tubuh yang saat ini masih dapat kita raba dan rasakan, bukanlah milik kita. Seluruh fungsi tubuh yang dapat kita gunakan sehari-hari dengan sangat baik, bukanlah milik kita. Kemampuan diri ini untuk berpikir dan merasa, bukanlah milik kita. Kita hanya meminjam dari Sang Maha Kuasa. Bila saat ini status kita hanya sebagai ‘peminjam’, lantas tindakan apakah yang sebaiknya kita lakukan?

Bila saat ini kita sedang meminjam sebuah tas carrier untuk melakukan hiking, saat kali pertama menggunakan tentu rasnya begitu menyenangkan, bukan? Namun, ketika meminjam dalam jangka waktu yang lama, bukan hal yang sulit menemukan segala kekurangan atas tas tersebut. Lalu membuat kita tidak nyaman dan tidak puas. Seberapa pun bermanfaatnya tas, sebagai manusia normal pasti merasa kecewa dan tidak suka atas kekurangan. Apalagi bila membandingkan tas milik orang lain yang tampak lebih baik dibandingkan tas kita. Dan kita merasa, sebagai ‘peminjam’ dan memberikan biaya ‘peminjaman’, sangat pantas mendapatkan tas dengan kualitas yang lebih baik. Akhirnya, kita melupakan manfaat tas carrier yang sesungguhnya. Bukankah tanpanya kegiatan hiking kita tidak akan berjalan dengan lancar? Mana mungkin kita hiking menggunakan tas ransel biasa? Kita melupakan sisi baik dan manfaat tas hanya karena beberapa kekurangan. Seakan segala manfaat terhempas begitu saja tanpa sisa dan tidak membekas. Segala manfaat terlupakan. Sungguh tidak adil bagi tas carrier

Diri ini bukanlah milik kita. Kita meminjam pada Allah. Namun, seringkali kita melupakan hakikat itu. Dengan mudahnya mencari-cari kekurangan diri. Dengan mudahnya mencari kelemahan diri. Dengan mudahnya melupakan segala kesempurnaan diri. Padahal, Allah menciptakan manusia dalam keadaan sebaik-baiknya. Padahal, sebagai ‘peminjam’, kita tidak perlu mengeluarkan biaya apapun kepada Allah ‘Sang Pemberi Pinjaman’. Bersembunyi dimanakah rasa syukur kita? Hingga benar-benar lupa.

Manusia tidak hanya diberikan akal dan fisik yang baik. Namun, semuanya dapat berfungsi dengan baik pula. Sehingga kita dapat menjalani kehidupan dengan mudah. Sungguh, tak akan bisa kita menyebutkan satu persatu segala karunia Allah yang tak terhingga itu.

Manusia harus mencintai dirinya dengan tulus, agar dapat menjadi manusia yang terbaik. Manusia harus pandai mengenali dirinya sendiri, agar dapat mengoptimalkan potensi diri. Manusia juga harus pandai mengendalikan diri sendiri, agar dapat membedakan hal baik dan buruk serta bertindak dengan bijaksana. Semua tergantung diri kita sendiri, ingin menjadi manusia yang seperti apa. Ingin menjadi ‘peminjam’ seperti apa. Bukankah segala hal yang dinikmati dalam diri ini pada akhirnya akan kembali kepada-Nya? Semua hanya sementara. Dan kita akan mempertanggungjawabkan segala perbuatan. 

Semoga kita menjadi ‘peminjam’ yang bijaksana. Dan menyadari posisi diri. Kita hanyalah ‘peminjam’ dan Allah lah ‘Pemberi Pinjaman’. Sangat tidak bijaksana dan tidak adil jika kita hanya mementingkan segala kekurangan yang sesungguhnya hanya penilaian subjektif oleh diri kita sendiri. Manusia merasa kurang, sebab terlalu mengagumi dan menginginkan milik orang lain. Manusia tidak bersyukur, sebab kita melupakan segala nikmat yang Allah telah berikan.

Kapan terakhir kali kita memikirkan dan mengingat segala kemudahan dan kelancaran dalam hidup ini? Kapan terakhir kali kita memikirkan dan mengingat segala kebaikan Allah? Kapan terakhir kali kita memikirkan dan mengingat betapa banyak hal membahagiakan telah hadir dalam hidup ini? Ingatlah, sungguh kita akan merasa malu.

Liqo: Ridha

Oleh: Mbak Nia

Minggu, 11 Februari 2018

Materi: Ridha/Rela

Alhamdulillah, pagi ini saya masih diberi kesempatan oleh Allah untuk menghadiri majelis ilmu. 

Setiap orang pasti memiliki masalahnya sendiri. Bahkan masalah yang saya anggap paling sulit pun, orang lain juga memiliki masalah yang tak kalah sulit. Jadi, jangan merasa kita adalah manusia yang paling menderita dan sedih. Pemikiran tersebut benar-benar keliru. Allah memberikan kesulitan pada manusia sesuai dengan kapasitasnya. Yuk, sudahi saja membanding-bandingkan permasalahan. Lebih baik kita berusaha membuat keadaan menjadi lebih baik. 

Bagi saya, siraman rohani secara berkala penting sekali. Untuk pengingat diri. Hati mudah sekali dibolak balik dan berubah. Maka, kita harus pandai merawat dan menjaga hati dalam keadaan bersih dan jernih. Kita bisa memperolehnya melalui buku, ceramah diyoutube, atau mendatangi kajian di Masjid. Akhir pekan bisa sekali digunakan untuk mendatangi majelis ilmu. Sebab, mendatangi langsung banyak sekali memberikan manfaat. Mendapat ilmu dan menjalin silaturrahim dengan saudara-saudara seiman. Seru kan?

Hari ini kajian dilaksanakan di Masjid Al Huda, Depok Dua. Meskipun sedikit mendung, Alhamdulillah tidak turun hujan.

Berikut uraian materi yang saya dapatkan dari liqo hari ini:

Kita diperintahkan untuk menerima apa-apa yang Allah berikan. Tidak ada alasan untuk berargumentasi, bertanya, dan protes mengapa takdir ini terjadi pada hidup kita. Karena hubungan Allah dengan kita memang berbeda. Allah adalah sebagai Sang Pencipta dan Yang Maha Kuasa. Dan kita adalah sesuatu yang diciptakan oleh-Nya. Allah Maha Tahu dan Allah Maha Benar. Sungguh, kita tidak benar-benar tahu apa yang terbaik untuk diri sendiri. Yang diinginkan belum tentu terbaik kan? 

Kita tidak bisa hidup hanya dengan kaca mata diri sendiri saja. Kita tidak boleh hidup apatis dan berputus asa dengan rahmat Allah. Yang bisa kita lakukan adalah berusaha, berdoa, dan yakin dengan rahmat Allah. Jika kita meyakini rahmat Allah, maka kita akan optimis dan berusaha menjalani hidup dengan baik.

Kita juga seharusnya berusaha semaksimal mungkin. Minimal usaha yang dilakukan adalah berdoa. Ukhuwah Islam yang tertinggi selain mendoakan diri sendiri adalah mendoakan orang lain. Allah akan mengabulkan doa-doa yang diucapkan oleh sahabat. Begitu juga sebaliknya.

Beberapa hal yang harus dilakukan agar ridha dengan segala takdir Allah:

1. Kita harus yakin dengan alam gaib. Bahwa akan ada kehidupan selanjutnya setelah kehidupan di dunia.

2. Kita harus meyakini Qada dan Qadar. Dengan berusaha dan berdoa, maka kita bisa merubah takdir. Allah Maha Pemurah, Maha Penyayang, dan Maha Baik. Meskipun Allah sudah menentukan seluruh nasib manusia dan tahu bagaimana awal dan akhir kehidupan dunia akhirat, namun, Allah punya kuasa untuk merubahnya jika kita berusaha.

3. Kita harus mengambil hikmah-hikmah dibalik takdir yang Allah berikan. Kita mentadaburi dan mengintrospeksi diri. Jika kita bersabar, maka Allah akan mengangkat derajat kita dan dihapus segala dosa.

Kita harus rela dan ridha dengan apa yang terjadi di alam ini. Kita harus pandai mengkaji bencana. Yang terjadi adalah bencana atau ujian. Semua tentang alam adalah kuasa Allah. Manusia hanya mentadaburi dan berusaha melakukan upaya pencegahan untuk menghindari hal-hal yang tidak diinginkan. Hal-hal untuk merubah kejadian alam, bukan kuasa manusia. 

Selain mengkaji tentang alam, kita juga harus mencari kebermanfaatannya. Agar manusia bisa terus menjalani hidup.

Setelah ridha dengan apa-apa yang Allah telah berikan, kita harus siap menerima konsekuensi yang ada. Apa yang telah kita tanam dan kita lakukan, maka, Allah akan bertanya tentang semua hal itu di akhirat nanti.

Parameter ridha adalah menerimanya dengan lapang dada, patuh, dan taat kepada Allah.

Ridha tidak bisa dilakukan tanpa adanya keimanan. Maka, keimanan adalah kunci awal yang perlu kita pertanyakan pada diri kita sendiri.
Ridha perlu sekali dimiliki oleh setiap manusia. Demi diri kita sendiri. Kita harus hidup dengan baik. Kita harus hidup dengan tenang. Kita harus hidup dengan semangat yang tinggi. Semoga kita termasuk ke dalam orang-orang yang ridha. Dan semoga kita termasuk ke dalam orang-orang yang terus menjaga keimanan. Aamiin ya Rabbal’alamin.

Membuat Kartu Kuning

dKSeP6aW97R6t9AT8WDANJDA.jpg
Sisi Belakang Kartu Kuning. Informasi dari kartu tersebut, kalau sudah mendapat pekerjaan, jangan lupa menghubungi pihak pemerintah bagian ketenagakerjaan. Nomornya tertera disana. Jangan lupa ya!

​
Kemarin, saya ke Balaikota Depok. Ada keperluan membuat Kartu Tanda Pencari Kerja. Kartu tersebut lebih dikenal dengan sebutan Kartu Kuning. Bagi yang belum tahu, kartu kuning adalah satu lembar kartu berwarna putih (loh kok warnanya tidak kuning? Begini, katanya dulu warna kartu tersebut kuning. Sekarang sudah diganti :D) yang isinya biodata, pendidikan terakhir, pengalaman bekerja, dan terdapat nomor kartu kuning. Kita biasanya membutuhkan kartu kuning untuk melengkapi berkas saat melamar kerja di perusahaan milik pemerintah. Padahal, kartu kuning sebenarnya program pemerintah agar setiap warga mudah mendapatkan pekerjaan dan mengurangi jumlah pengangguran. Program pemerintah juga agar mengetahui jumlah warga yang belum mendapat pekerjaan.

Informasi yang saya dapat dari websiteΒ pemerintah Kota Depok, ternyata kantor pemerintahan setiap daerah bekerja sama dengan beberapa perusahan negeri dan swasta untuk membantu warga untuk mencari pekerjaan. Jadi, nanti warga dihubungi oleh pihak pemerintah kalau ada lowongan pekerjaan yang sesuai dengan pendidikan kita. Nah, melalui data kartu kuning ini nanti tiap warga dihubungi kalau ada lowongan pekerjaan. Itulah manfaatnya mengapa kita harus membuat kartu kuning, agar data kita tercatat oleh pemerintah.

Saya juga baru mengetahui informasi ini. Sebelumnya, saya mengira kartu kuning hanya dibutuhkan untuk melengkapi berkas pendaftaran tes CPNS saja. Entahlah, saya yang kurang update berita atau pemerintah daerah juga kurang sosialisasi tentang kartu kuning ini. Mungkin, kedua alasan itu benar.

Berikut berkas-berkas yang dibutuhkan untuk membuat kartu kuning:

1. Ijazah terakhir (nanti dikembalikan, hanya untuk pendataan saja)

2. KTP (nanti juga dikembalikan)

3. Foto berwarna ukuran 3Γ—4 (dua lembar)

Yang perlu dilakukan di Balaikota Depok:

1. Datang ke gedung ketenagakerjaan. Di sekitar Balaikota ada banyak sekali satpam, dishub, dan tukang kebun. Kalau bingung, jangan sungkan bertanya kepada mereka πŸ™‚

2. Datang ke bagian pelayanan kependudukan. Di dalam ruangan tempat pelayanan Kartu Kuning, ada banyak loket. Disana tidak hanya mengurusi kartu kuning. Semua hal tentang kependudukan (KTP, Akte Kelahiran, Kartu Keluarga, Surat Pindah, dan lain sebagainya) diurus di ruangan itu juga. Jadi, tidak perlu bingung jika di dalam ruangan ramai sekali. Tanyakan saja pada petugas yang memberikan nomor antrean. Saat saya datang, loket pembuatan Kartu Kuning ada di sisi kiri pintu masuk dan tidak ramai. Jadi, saya bisa langsung menyerahkan syarat berkas-berkas.

3. Mengisi formulir. Formulir berisi tentang biodata, pendidikan terakhir, gaji yang diharapkan, pengalaman bekerja. Format formulirnya kurang lebih sama dengan formulir-formulir saat kita melamar pekerjaan. Namun, lebih singkat.

4. Menunggu Kartu Kuning dibuat (kurang lebih 10 menit saja).

5. Photo Copy kartu untuk dilegalisir. Saya Photo Copy di dekat gedung ketenagakerjaan. Letaknya di sisi kanan gedung, dekat parkiran. Kalau ingin photo copy di luar boleh saja. Tapi, tentunya tidak efektif. Karena akan membutuhkan waktu lebih lama.

6. Legalisir kartu oleh petugas.
Pembuatan Kartu Kuning tidak dikenakan biaya apapun. Biaya dibutuhkan hanya untuk photo copy saja.

Begitu pengalaman saya membuat Kartu Kuning. Membuat Kartu Kuning ternyata mudah dan cepat. Semoga bermanfaat πŸ˜€

Menjaga Hati? Iya, wajib!

Berusaha menjaga hati adalah kewajiban. Berusaha membersihkan hati juga keharusan. Memang tidak mudah. Karena, sebesar apapun usaha kita untuk menjaga dan membersihkannya, ujian akan terus datang. Datang untuk menguji kekukuhan hati kita. Hati yang kukuh? Iya, kita perlu memiliki hati yang kukuh. Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia, kukuh adalah kuat terpancang pada tempatnya dan tidak mudah roboh atau rusak. Jadi, betapa pun beratnya ujian datang dan terus menerus menempa, hati kita harus kukuh. Hati kita harus kuat. 

Pepatah populer mengatakan,”Mensana in Corpore Sano, di dalam tubuh yang sehat terdapat jiwa yang kuat”, menurut saya memang benar adanya. Jiwa yang kuat akan membuat kita berpikir positif terhadap apapun. Karena pikiran adalah pusat yang mengendalikan tubuh kita, berpikir positif akan membuat organ dan sistem pada tubuh berfungsi dengan baik. Maka, tubuh kita akan sehat. 

Bagaimana kalau sudah berpikir positif namun tetap tidak sehat? Itu artinya kita perlu mengevaluasi kembali, mungkin saja ada pola hidup yang belum baik sehingga terjadi masalah pada salah satu organ atau sistem tubuh kita. Lalu, bagaimana bila sudah memiliki pola hidup yang baik namun tetap sakit? Itu adalah takdir Allah. Takdir yang mungkin saja saat ini belum dapat kita pahami dan rasakan manfaatnya, namun sudah pasti akan membawa kebaikan untuk hidup kita.

Berusaha menjaga hati dalam keadaan baik bukan semata-mata kewajiban dan keharusan tanpa sebuah alasan. Alasan utama adalah karena kita membutuhkannya. Kita butuh memiliki hati yang bersih. Kita butuh memiliki hati yang tenang. Kita butuh memiliki hati yang ikhlas. Kita butuh hati yang selalu berbaik sangka pada Allah. Demi memiliki fisik yang sehat. Demi memiliki kehidupan yang baik. Demi diri kita sendiri. Jangan merusak kehidupan kita sendiri hanya karena kita tak pandai menjaga hati. Hati dibiarkan begitu saja, kotor dan keruh. Lalu, berubah menjadi penyakit hati. Jangan sampai terjadi.

Memiliki hati yang baik akan memberikan banyak manfaat untuk kita, seperti mudah menerima kejadian menyakitkan yang hadir dalam hidup kita, mudah melihat sisi baik orang lain, mudah menerima nasihat dari orang lain, mudah menerima kritikan dari orang lain, mudah introspeksi diri, mudah untuk bersemangat kembali, dan yang paling penting kita menjadi mudah untuk bersyukur dan bersabar.

Pantas saja Allah memberikan pesan untuk kita, bila ingin memiliki hidup yang bahagia di dunia dan akhirat, maka bersyukur dan bersabarlah. Kedua hal tersebut ternyata sangat bermanfaat untuk hidup kita. Bersyukur membuat kita selalu sadar dengan banyaknya karunia yang Allah berikan dan membuat kita selalu berterima kasih kepada Allah. Bersabar membuat hati kita menjadi lapang, sehingga tak mudah menyerah dan putus asa ketika ujian datang silih berganti. Dan bersabar juga membuat kita mendapatkan hikmah dari setiap kejadian. Dengan begitu, kita akan terus berusaha menjadi pribadi yang baik setiap harinya.

Dengan mengetahui pentingnya menjaga hati dan begitu banyak manfaatnya, semoga kita lebih peduli tentang hati. Tidak hanya fisik saja yang disehatkan. Namun, hati juga perlu diperhatikan πŸ™‚ Karena hati adalah kunci yang menentukan bagaimana kita hidup.

Mudahkan kami menjaga hati yang bersih agar istiqomah dijalan-Mu, ya Allah. Dekatkan kami dengan orang-orang dan lingkungan yang baik. Aamiin.

Menjaga Lisan dan Perbuatan

Teka-teki yang sulit untuk dipecahkan adalah mengetahui perasaan orang lain yang sebenarnya. Sebab, tentang hati akan selalu menjadi rahasia Illahi. 

Perkataan juga penuh dengan misteri. Perkataan yang paling meyakinkan pun, selalu ada kemungkinan terdapat ketidakjujuran disana. Apa yang dikatakan tidak sepenuhnya sesuai dengan kenyataan.

Apa yang terlihat juga tidak selalu mencerminkan sebuah kenyataan. Jadi, jangan terlalu yakin dan percaya dengan apa-apa yang hanya terlihat oleh mata saja. 

Setelah sekian lama, akhirnya dia mengatakan. Hal ini sungguh menyakiti. Kini aku tahu, dia benar-benar terluka. 

Maafkan aku karena tidak menjadi lebih peka. Karena sungguh, tidak pernah ada niat untuk melukai. Aku hanya ingin jujur dan bersikap apa adanya. Tidak pernah terpikirkan, ternyata tidak semua orang dapat menerima. Tidak semua orang dapat mengungkapkan hal-hal yang mengganggu. Tidak semua orang mampu melepaskan segala hal yang menyesakkan hati. Akhirnya, hal yang menyesakkan itu dapat benar-benar menyakitinya lahir dan batin.

Maafkan aku karena telah menyakiti.

Kini aku menyadari. Aku memang perlu selalu berhati-hati. Harus selalu menjaga lisan dan perbuatan. Niat yang baik menurut cara pandangku, tidak selalu mudah diterima oleh orang lain. Mungkin saja hal tersebut bukanlah hal yang baik bagi mereka.

Setiap orang melihat dan mendengar dengan cara yang berbeda-beda. Maka, jangan pernah meyakini sesuatu tanpa mengonfirmasi. 

Jika masih menyakiti orang lain, lihat kembali ke dalam diri. Bisa jadi, selama ini aku belum memahami situasi. Aku belum benar-benar tahu tentang orang lain. Aku hanya tahu yang terbaik untuk diriku sendiri. Jika hanya mampu mengenal diri sendiri saja, bagaimana aku hidup berdampingan dengan orang lain? Aku perlu belajar mengerti dan memahami orang lain, lagi. Hal ini perlu dipikirkan dan direnungi kembali.