Penjelasan

Setiap orang memandang persoalan berbeda-beda.
Ada yang membutuhkan penjelasan, ada juga yang tidak.

Dari hasil ‘ngobrol’ bersama seseorang yang tidak membutuhkan penjelasan,
Ia akan memutuskan sesuatu setelah melakukan pengamatan.
Bila teman berbuat baik, ia akan berlaku lebih baik.
Bila teman berbuat jahat, ia akan meninggalkannya.
Ia tidak membutuhkan penjelasan melalui lisan atau tulisan.
Jadi, jangan heran bila seseorang akan segera pergi tanpa kata setelah dikecewakan.
Pada fase itu, bisa jadi ia sangat kecewa.

Dari hasil ‘ngobrol’ bersama seseorang yang membutuhkan penjelasan,
Ia tidak akan pernah merasa cukup memutuskan sesuatu hanya dari pengamatan.
Ia menganggap penting suatu hubungan.
Ia menganggap penting sebuah komunikasi.
Apa-apa yang tidak dikatakan tidak akan memberikan kesepakatan, kan? Jadi, jangan heran bila ia mengkonfirmasi ulang sebuah ketidakjelasan.
Sebab, baginya, hal itu adalah langkah awal untuk memutus penantian yang berkepanjangan.

***

Apapun tipe orangnya, dalam sebuah hubungan, komunikasi tetaplah perihal penting. Kita tidak bisa membaca pikiran setiap orang. Satu-satunya cara yang dapat dilakukan adalah bicara.

Hal yang paling menyakitkan sesungguhnya bukanlah mendapat kenyataan tidak menyenangkan. Melainkan, tidak dihargai oleh teman. Dalam pertemanan, saling terbuka dan jujur bukankah cara kita menghargai teman? Bukankah keduanya adalah modal untuk ‘menjelaskan’?

Advertisements

Januariku

Sebaik-baiknya sikap terhadap diri sendiri kurasa adalah mengapresiasi diri.

Bulan Januari selalu spesial. Karena pada bulan ini mama melahirkan anak pertamanya yaitu, aku. Bila tiba tanggal itu, betapa bahagianya aku. Aku diberi kesempatan untuk hidup. Dan aku dilimpahkan banyak doa-doa baik dari keluarga dan sahabat tersayang.

Menyadari bahwa masih ada orang-orang terdekat masih mengingat, aku bersyukur dan berterima kasih akan itu.

Beberapa ada yang mengucapkan dan mendoakan tepat waktu.

Beberapa ada yang meminta maaf karena terlambat mengucapkan dan mendoakan.

Tak pernah ada kata terlambat untuk doa-doa yang terapalkan. Bukankah bulan dan tanggal kelahiran hanya momen semata? Doa kapanpun bisa kita rapalkan untuk orang-orang tersayang.

Tentang Kesyukuran Selama Tahun 2018

Tahun 2017 adalah tahun pertama setelah aku pulang dari ngekos. Selama satu tahun, waktuku lebih banyak dihabiskan bersama keluarga. Pulang kerja, langsung pulang ke rumah. Libur akhir pekan, aku juga memilih berada di rumah. Keluar rumah pun tetap bersama keluarga. Entah makan bersama atau aku meminta ditemani adik membeli kebutuhan sehari-hari. Saat itu, aku rindu sekali dengan rumah dan keluargaku.

Berbeda dengan tahun 2018. Selama 2018, aku mulai melakukan beberapa kegiatan di luar rumah seperti, hadir dalam liqo dan kajian pekanan, hadir dalam seminar Teman Bicara, berpartisipasi menjadi kakak mentor pesantren anak, bekerja di luar Depok (lagi), bertemu secara rutin dengan sahabat, ikut arisan, dan berkenalan dengan teman-teman baru. Tetap konsisten melakukan kegiatan itu semua, aku berterima kasih pada diriku sendiri. Meskipun tahun 2018 belum terlalu banyak mengikuti kegiatan relawan, aku tetap bersyukur. Terima kasih Shinta telah bergerak mencoba.

Dalam hal mengelola emosi, tahun 2018 juga menjadi saksi betapa aku berjuang mengendalikan diri.

Berikut ada beberapa hal yang aku pelajari yaitu, menjaga diri agar tidak marah. Meskipun sulit, aku harus bisa. Terutama terhadap orang-orang terdekat. Terkadang, mengendalikan diri di luar rumah lebih mudah dibandingkan di rumah sendiri. Karena kita merasa, bagaimana pun keadaan kita, keluarga akan selalu menerima. Jadilah kita bertindak semena-mena 😦

Menjadi terlalu peka dan perhatian terkadang harus dikondisikan. Sebab, ada hal-hal memang bukan dalam kendali kita. Kita harus sadar, tidak semua hal dapat diselesaikan oleh diri sendiri. Ada sosok lain yang lebih bertanggung jawab untuk perihal itu.

Bersikap manis itu tak ada salahnya. Menunjukkan wajah senyum ramah, menebarkan sapa dan salam, tertawa sekadarnya, dan memberikan intonasi suara yang bersahabat. Bukankah setiap manusia selalu senang diperlakukan dengan manis?

Mengalah demi kebaikan bersama sungguh tak apa. Toh, mengalah tak akan membuatku sakit kepala. Terkadang, yang membuat aku begitu egois adalah keinginan untuk dihargai lebih dulu. Padahal, saat itu yang terpenting bukan itu. Yang paling penting adalah bagaimana cara memperbaiki hubungan yang sedang renggang.

Tetap berada di koridor baik meskipun berada pada koridor yang salah. Seringkali kejadian menyakitkan membuat aku kehilangan kewarasan. Aku lupa sikap baik apa yang sebaiknya dilakukan pada kondisi ini. Aku lupa prinsip ‘tetap menjadi baik meskipun diperlakukan tidak baik’. Aku belajar, bagaimana menjaga kesadaran apapun keadaannya. Aku belajar, bagaimana menjaga identitas diri apapun kondisinya.

Jangan terbuai dengan kenyataan. Seringkali kenyataan membuat kita terlalu yakin bahwa situasi akan berjalan sesuai prediksi. Apa yang kita amati, lihat, dan rasakan memang seringkali terasa begitu nyata. Seolah-olah kita yakin dengan masa depan. Pikiran yang visoner sering kali mengaitkan kenyataan dengan harapan. Bila kenyataan dan harapan berjalan beriringan, oh sungguh bahagianya diri. Meskipun beriringan, padahal tidak ada yang tahu bagaimana takdir esok hari. Bisa jadi buruk, bisa jadi baik.

Manusia tidak pernah tahu apa yang akan terjadi esok hari. Semua hanya Tuhan yang tahu. Oleh karena itu, jika tidak ingin kecewa, tautkan semua harapan dan mimpi hanya pada-Nya.

Sebaik-baiknya sikap terhadap diri sendiri kurasa adalah mengapresiasi diri.

Maka aku ingin mengapresiasi diri. Terima kasih banyak, shinta. Terima kasih telah melakukan banyak hal baru, terima kasih telah memutuskan untuk kuat dan tegar, terima kasih telah berbaik sangka, terima kasih telah berusaha memperbaiki diri, dan terima kasih karena memilih berjalan meskipun banyak kesempatan untuk berhenti.

Mengelola Rasa Mencipta Bahagia

Keluarga itu terdiri dari lima orang.
Kakek dan nenek, satu wanita dewasa, satu pria remaja, dan satu anak kecil.
Aku menebak anak kecil itu adalah cucu si kakek dan nenek.
Aku menebak wanita dewasa adalah ibu si anak kecil.
Dan si pria remaja adalah adik si wanita dewasa.

Pengamatan memang sering menciptakan asumsi, ya.
Baiknya, asumsi segera diverifikasi dengan bertanya langsung.
Namun, kondisiku saat ini tidak perlu melakukan itu.
Aku hanya ingin menikmati kehangatan keluarga itu.

Si kakek sedang sakit.
Ia terapi wicara hari ini.
Namun, antrean masih begitu lama.
Keluarga tampak biasa saja.
Kebanyakan orang, biasanya akan menunjukkan mimik wajah kecewa.
Tetapi berbeda dengan mereka.

Mereka menikmati waktu tunggunya.
Si wanita dewasa mengeluarkan beberapa potong roti.
Keluarga melahap roti sambil berbagi tawa.
Sesekali si nenek bercengrama dengan si kecil dengan wajah bahagia.
Sesekali dikecupnya pipi si kecil sebuah tanda cinta.
Begitu juga si kecil, ia tampak seperti sedang bermain saja.
Kakek pun juga sama.
Tak menunjukkan wajah kecewa.
Ia menunggu dengan tenang tanpa mengeluh apa-apa.

Mencipta bahagia ternyata hanya perlu kemauan kita mengelola rasa.
Mencipta bahagia ternyata hanya tergantung bagaimana cara pandang kita.

Memang bukan hal mudah tetap berbahagia pada kondisi yang kurang menyenangkan. Tetapi, mereka bisa. Kita pun juga bisa bila mau mengusahakannya. Semangat, ya 💪

Tak Ada yang Bilang Menjadi Teladan Itu Mudah

Melunakkan hati si keras kepala sesungguhnya sederhana. Kamu hanya perlu menurunkan intonasi suara. Bila kamu mampu, maka, kamu akan meraih hati si keras kepala.

Memenangkan hati si keras kepala sesungguhnya sederhana. Kamu hanya perlu mendengarkan untuk empati. Bukan mendengarkan untuk bereaksi.

Aku, si keras kepala ini, sesungguhnya terganggu dengan ucapanmu tadi pagi.

***

Pagi tadi, hatiku berkata lirih, jika memang belum memahami, mengapa harus pernyataan itu yang kamu pilih?

Biar saja. Nanti ia akan mengerti dengan sendirinya.” begitu katamu. Mendengar kalimat itu, aku kehabisan kata-kata. Aku tak tahu harus menanggapi seperti apa. Bagaimana bisa kamu mengatakan kalimat itu, ketika kami sedang berusaha terus memperbaiki diri? Tahu kah kamu apa yang sedang kami perjuangkan? Kami sedang menekan semua ego agar mampu berperilaku yang pantas diteladani. Sebab, kami tahu. Dua manusia kecil itu selalu mengamati gerak-gerik kami. Dua manusia kecil itu selalu mencontoh perilaku kami.

“Bagaimana cara ia sadar dengan sendirinya, bila ia belum tahu cara seperti apa yang baik dan benar?” aku menanggapi.

“Kesadaran hanya datang bila ada input positif pada kehidupannya. Entah datangnya dari luar. Atau dari diri sendiri karena ia mencari. Dua manusia kecil belum bisa mencari sendiri.” aku menambahkan, dalam hati. Adalah kesia-sian berbicara pada seseorang yang tidak mau mendengar. Pagi tadi, aku enggan melanjutkan percakapan.

Melakukan perbuatan apapun sesuka hati memang paling dinanti. Melakukan perbuatan apapun sesuai keinginan memang paling diharapkan. Melakukan perbuatan apapun tanpa berpikir panjang memang jalan pintas paling cepat. Tapi, tahukah kamu, ternyata segala keputusan kita akan berpengaruh pada kehidupan orang lain? Tahukah kamu, segala perbuatan kita akan berdampak pada kehidupan orang lain?

Aku pun memahami, menjadi teladan memang ujiannya besar sekali. Manusia tak akan luput dari kekhilafan. Tetapi, aku berharap, kita pun berusaha melakukan yang baik-baik minimal di depan kedua manusia kecil itu.

Jika melakukan banyak perbuatan baik cukup membebanimu, bagaimana kalau kita melakukan satu perbuatan saja secara konsisten? Aku mau, kita saling mengingatkan dalam kebaikan. Maukah kamu, melakukannya bersama kami?

***

Sampai tulisan di atas selesai, si keras kepala masih belum mendapatkan kesepakatan.

Aku menengadahkan kepala ke langit.

Hatiku pun berkata,“Jika segala upaya telah dilakukan namun tetap saja tak dihiraukan, kupikir tugasmu memang hanya sampai di sana saja. Kuasa penuh atas hati seseorang memang hanya pada Tuhan. Kini, kamu hanya bisa mendoakan. Biarlah Allah yang membuka hatinya.”

Masih menengadahkan kepala ke langit.

Aku menutup wajah dengan kedua tangan dan membukanya kembali. Aku menarik napas panjang. Dan kemudian menghembuskan.

Teman Seperjalanan

Saya tidak nyaman dengan keramaian. Menumpuknya orang di kiri, kanan, depan, dan belakang mampu membuat keadaan fisik menjadi tidak baik.

Kekuatan pikiran bekerja disini. Ketika saya meyakini ketidaknyamanan akan tempat ramai, maka otak saya pun akan memberi instruksi kepada semua sistem tubuh. Alhasil, pikiran tidak nyaman dan tubuh pun menjadi tidak karuan.

Siapapun tahu, melakukan perjalanan pada akhir pekan tentu akan penuh dengan banyak orang. Namun, demi kebersamaan dan momen ini sangat langka, maka saya pun mengalah dan menguatkan diri agar bertahan pada keramaian.

Taman Hebal Insani, namanya. Lokasinya berada di Depok. Taman ini tidak begitu luas. Taman sederhana yang sebenarnya cukup untuk menghibur warga Depok. Saya belum mencari informasi tentang taman ini melalui internet. Namun, hasil dari pengamatan yang dilakukan kemarin, beberapa arena bermain yang disediakan di sana adalah kolam renang, tempat memancing, rakit (Bagi yang belum tahu, rakit itu semacam bambu yang disusun menyerupai perahu. Jadi, bisa mengambang dan bisa dinaiki oleh kita. Rakit tidak bisa dinaiki oleh banyak orang. Perkiraan saya, kemungkinan rakit hanya bisa menampung dua atau tiga orang saja), kolam ikan, peternakan kambing dan kerbau, dan beberapa spot disertai beberapa aksesoris untuk foto bersama keluarga.

Kesan pertama terhadap tempat wisata ini memang kurang baik. Sebab, jalur masuk dan keluar kendaraan hanya satu pintu. Jadi, antara mobil dan motor saling bentrok. Para tukang parkir pun terlihat kebingungan. Melihat aksi tukang parkir, saya menduga tempat wisata ini masih baru. Sebab, pengaturan dasar tentang jalur masuk dan keluar kendaraan saja belum jelas. Beruntungnya, para pengunjung memiliki kesabaran dan kesadaran yang tinggi. Jadi, selain tukang parkir yang memang mengatur, para pengunjung pun turut bersabar dan menahan diri untuk tidak saling mendahului.

Karena lokasi tidak begitu luas, para pengunjung lebih banyak menggelar tikar/alas untuk duduk daripada menikmati arena bermain. Menikmati arena bermain pun sulit. Melangkahkan kaki saja sulit karena penuh dengan orang. Sejujurnya, saya tak sanggup dengan kondisi tersebut. Jika bisa, rasanya ingin mengibarkan bendera putih tanda menyerah. Jika ada, rasanya ingin menggunakan jurus menghilangnya Kiansantang. Jika bisa, rasanya ingin menggunakan pintu kemana sajanya doraemon. Sayang, tak ada dan tak bisa. Maka, untuk mensiasatinya dan mengendalikan diri agar tetap kuat (hahaha, ini nggak berlebihan, serius. Saya selalu hampir pingsan bila berada dalam keramaian 😂), saya mencari lokasi yang lumayan luas dan sedikit orang . Ada sebuah kali dengan pagar berada di sisi kanan saya. Saya pun berdiam diri disana. Supaya tetap bahagia, saya juga membeli minuman dingin. Beristirahat di pinggir kali ditemani minuman dingin, Alhamdulillah, membuat keadaan menjadi lebih baik. Alhamdulillah, tidak jadi pingsan hahaha 😂

Melihat kondisi tempat wisata seperti itu membuat saya tidak ingin berlama-lama di sana. Saya dan teman seperjalanan pun sepakat untuk segera pulang. Sebenarnya tidak pulang, akan lebih baik bila kami mencari tempat makan untuk mengisi perut ini. Kami lapar sekali. Selain beristirahat di pinggir kali dan minuman dingin, saya rasa mencari tempat makan adalah ide yang brilian 😁

“Aku mau foto di rumah bambu itu.” ia menunjuk sebuah rumah bambu dengan aksesoris topi petani. Di sekitarnya, penuh dengan lautan manusia. Sungguh, ramai sekali disana. Saya pun tidak bisa membedakan tim mana yang sedang berfoto dan tim mana yang sedang antre.

“Aku capek banget. Dia juga capek. Kami kehabisan tenaga. Gimana kalo kita foto disini aja? Yang penting foto bersama ‘siapanya’ kan bukan foto ‘dimananya’?” saya mengungkapkan perasaan dengan peluh keringat didahi dan berharap ia mengerti.

“Aku pernah kesini satu kali dan nggak berhasil foto di sana. Teman-temanku waktu itu puas banget foto di sana. Aku juga mau. Ayo, aku pengin foto.” ia menjawab cepat sambil menunjuk spot berfoto yang ia inginkan. Ia tidak mempertimbangkan keadaan kami. Ia pun tidak menanggapi keluhan kami tadi. Ia hanya memikirkan dirinya sendiri. Kami kehabisan kata-kata bagaimana menanggapi perkataannya kali ini.

Kami beradu argumen sebentar. Aku dan dia sama-sama keras kepala. Sulit sekali menemukan titik temu dan kesepakatan.

“Baiklah, ayo kita kesana. Setelah itu kita pulang ya.” kataku mengalah. Sebelum mengatakan itu, sebenarnya aku menarik napas panjang sejenak. Dalam hati aku mengatakan, ia benar-benar belum tahu hakikat perjalanan bersama teman.

Dalam keramaian itu, tak ada barisan antre. Orang-orang saling memotong antrean dan berpose ria disana. Seakan tak peduli siapakah yang berdiri lebih dulu di sana. Seakan tak peduli tentang orang lain yang juga begitu ingin berpose ria di sana, seperti teman saya contohnya. Sungguh pemandangan yang tak baik disaksikan anak-anak.

Selesai berfoto di sana, teman saya tersenyum riang dan tidak merengek lagi. Ia pun menurut kami ajak pulang. Bukan pulang, tetapi mencari tempat makan yang nyaman dan membuat perut kenyang.

***

Temanku sayang,

Tahukah kamu mengapa sebaik-baiknya perjalanan adalah bersama teman? Tentu, sebagian orang merasa mampu melakukan perjalanan panjang tanpa satu orang pun teman. Tetapi, sejatinya ia tetaplah tidak mampu. Ia mungkin saja berangkat seorang diri dari rumah. Namun, pada lokasi yang ia tuju, tetap saja ia membutuhkan bantuan orang lain. Orang lain untuk membuatkan ia satu gelas teh hangat di warung kopi, misalnya. Atau orang lain yang membantu menunjukkan arah, misalnya. Manusia tak akan pernah bisa hidup seorang diri.

Lalu, jika memang bisa melakukan perjalanan seorang diri, tahukah kamu mengapa perjalanan bersama teman tetaplah yang paling baik? Alasannya, perjalanan bersama teman akan memberikan kamu banyak hal.

Perjalanan bersama teman akan melatihmu untuk bersabar. Meskipun kamu mampu berlari, kamu harus tetap berjalan perlahan. Ada teman yang perlu kamu tunggu dan bantu.

Perjalanan bersama teman akan melatihmu untuk bersabar dan membuat hatimu lebih lapang. Meskipun kamu mampu meraih segala keinginan, kamu harus tetap menahan. Ada banyak pikiran teman seperjalanan yang perlu kamu pikirkan. Ada banyak perasaan teman seperjalanan yang perlu kamu pertimbangkan. Bersama teman, kamu akan menjadi sosok yang baru. Sosok yang tidak egois, bersabar, dan mengutamakan kebaikan bersama.

Temanku sayang, perjalanan bersama kalian kemarin pun melatih kemampuan baru untukku. Aku dilatih untuk mencari kenyamanan di dalam ketidaknyamanan. Dan semakin sadar bahwa aku tak akan pernah bisa mengendalikan orang-orang dan lingkungan di sekitarku. Maka, aku harus mengendalikan diriku sendiri.

Semoga kita bisa memaknai dengan baik sebuah perjalanan. Tetapi, tanpa pernah kamu minta, perjalanan akan memberimu begitu banyak, kok. Sama seperti pengalaman, ia selalu menjadi guru terbaik.

Pengagum Seni

Seni selalu memiliki tempat khusus dalam diriku. Tiap kali berinteraksi dengan seni, selalu ada perasaan membuncah dihati. Perasaan nyaman dan senang. Maka, aku selalu setuju dengan istilah tidak pernah ada yang salah dengan seni. Bersama seni kesalahan pun tetap bisa menghasilkan karya yang indah.

Aku tahu bakat tidak sepenuhnya menjadi faktor penentu karya seseorang. Jadi, jika saat ini kamu pandai menggambar dan melukis, bisa jadi itu karena memang ketekunanmu sendiri. Kamu pasti senang berlatih, berlatih, dan berlatih. Kalau aku, berlatih pun tidak. Jadi, wajar sekali kemampuan menggambar hanya sebatas dua buah gunung, matahari di tengah, dua awan di atas, dan beberapa persawahan di bawahnya 😂

Menyanyi

Saat sekolah dasar dulu, aku pernah beberapa kali lomba bernyanyi lagu wajib mewakili sekolah. Meskipun tidak pernah peringkat satu, mendapat peringkat ke dua membuktikan kepada diriku sendiri bahwa suaraku tidak begitu jelek-jelek banget. Kemampuan bernyanyiku memang lumayan sering diasah. Hal itu terjadi karena hobi ibuku adalah karaokean di rumah. Jadi, jika ibu senang karaokean, normalnya, sebagai anak pasti termotivasi untuk melakukannya juga kan? Pengalaman memang berperan penting dalam meningkatkan bakat dan kemampuan seseorang, ya.

Membuat scrapbook

Aku tidak ingat sejak kapan. Yang jelas, saat sekolah menengah atas aku senang melakukan uji coba membuat prakarya. Saat itu, aku sedang gencar membuat scrapbook. Cara membuatnya sebenarnya tidak begitu sulit. Kamu hanya perlu mengumpulkan niat yang besar untuk mengumpulkan foto-foto lama. Lalu, foto tersebut dicetak dan kemudian digunting sesuai keinginan.

Supaya semakin enak dipandang, dulu, aku senang menghias scrapbook dengan tulisan dan beberapa kertas origami. Dan beberapa pita untuk mempermanis karya tersebut. Hasilnya lumayan bagus. Hobi ini dulu kugunakan untuk membuat kado teman. Teman senang dan aku pun riang.

Sejak saat itu aku tahu, membuat scrapbook tidak membutuhkan keahlian khusus. Kita hanya perlu niat yang besar, keuletan dan kesabaran. Aku dulu pernah membakar sedikit pinggiran kertas dengan menggunakan api. Tujuannya, supaya motif bakaran tersebut memberikan kesan unik pada kertas.

Aku juga pernah memotong dan membolongkan lebih dari 20 kertas untuk dijadikan buku secara manual. Alasannya sederhana, aku ingin motif yang berbeda pada setiap halaman hahaha ribet ya? Tidak juga. Niat yang besar terkadang melupakan logika. Niat yang besar terkadang bisa mendobrak batas kemampuan kita. Ternyata, kita mampu lho bila kita mau.

Menggambar

Aku belum bisa menggambar. Menggambar satu manusia utuh pun belum bisa. Goresan pensilnya masih terlihat sangat kaku. Beberapa tahun yang lalu, aku pernah mencoba membuat gambar naruto untuk adikku. Ternyata bisa. Meskipun tidak begitu bagus, gambar tersebut berhasil terlihat seperti naruto. Dari pengalaman itu aku menjadi tahu bahwa setiap orang sebenarnya bisa menggambar. Kita hanya perlu berlatih lebih banyak.

Aku senang membuat karya seni. Aku juga selalu menjadi pengagum seni. Aku mengagumi mereka yang memiliki suara bagus. Aku mengagumi mereka yang pandai bermain alat musik. Aku mengagumi mereka yang mampu menggambar dan melukis. Aku betah berlama-lama mengamati mereka melakukan bakat-bakat itu. Aku betah berlama-lama mengamati karya mereka. Aku juga tak sungkan memuji karya-karya mereka.

Karya yang luar biasa bukan hasil dari bakat yang sudah di bawa sejak lahir. Ada perjuangan keras yang menyertainya. Mereka pasti telah melalui hari-hari berat untuk terus berlatih. Mereka pasti telah melakukan apresiasi diri berulang kali hingga akhirnya menghasilkan karya yang begitu mengagumkan.

***

Tulisan ini terinspirasi dari adikku yang sedang mencoba berkarya lagi. Mengalahkan rasa takut memang tidak mudah. Sebab, ada banyak sekali pembanding yang lebih bagus dan lebih luar biasa. Tetapi, pada karya setiap orang pasti memiliki keistimewaan tersendiri. Setiap orang memiliki ciri khas tersendiri. Jadi, berkarya saja yang banyak. Sebab, kamu tidak tahu, karyamu yang ke berapa, mampu menginspirasi orang lain. Kamu tidak tahu, karyamu yang mana, mampu membuat orang lain bahagia.

Seperti aku ini, berkatmu, aku jadi termotivasi untuk belajar menggambar lagi.

Seperti aku ini, aku mengagumi karya-karyamu. Bahkan untuk setiap kesalahan yang kamu lakukan, aku tetap mengagumimu. Karena kamu, telah mengalahkan rasa takut dan memilih maju 😍👍

Perihal Rasa dan Waktu

Ada yang merasa bingung mengapa rasa dan waktu tidak berbanding lurus. Yang ia tahu, rasa yang begitu dalam selalu dipengaruhi oleh waktu yang lama. Maka, ia pun bertanya padaku dari manakah rasa itu muncul. Padahal keduanya belum terlalu lama bersama.

Aku pun tidak bisa menjelaskan secara rinci bagaimana cara rasa bekerja. Tentang rasa memang terjadi begitu saja. Tak bisa diterka dan direkayasa.

Aku pun berbagi pengalaman. Aku mengatakan padanya, pengamatan yang begitu dalam pada seseorang, ternyata bisa menumbuhkan rasa secara perlahan. Maka, hati-hati dalam memperhatikan. Sebab, dari sanalah biasanya rasa dimulai.

Aku memahami hal ini beberapa tahun yang lalu ketika tanpa sadar memperhatikan seseorang.

Aku memperhatikan bagaimana ia memperlakukan orang lain. Aku memperhatikan bagaimana ia memandang setiap hal. Aku memperhatikan bagaimana ia menggunakan waktu untuk orang lain. Aku memperhatikan bagaimana ia menempatkan diri diberbagai situasi.

Dulu sekali, aku mengira yang menumbuhkan rasa hanya rupa dan kenyamanan. Waktu pun menunjukkan, mengamati kebaikan seseorang ternyata mampu membuat bibir ini tersenyum simpul. Mengamati kebaikan seseorang ternyata mampu membuat diri ini merasa nyaman. Mengamati kebaikan seseorang ternyata mampu menumbuhkan rasa.

Semoga saja kebingungan yang ia rasakan terjawabkan. Mengapa rasa dan waktu tidak berbanding lurus, menurutku, semakin kita mengamati, maka semakin banyak pula kita mengenal. Semakin kita mengamati, semakin lapang hati kita dalam menerima kelebihan dan kekurangan. Dan semakin kita mengamati, semakin banyak pula rasa yang ada.

Perihal rasa, tidak hanya tentang berapa banyak waktu yang dihabiskan bersama. Melainkan tentang bagaimana kita memaksimalkan waktu untuk saling mengamati apa-apa yang ada pada kita. Hingga akhirnya hadir sebuah kesyukuran atas sebuah pertemuan.

Pandanganku tentang Luka

“Aku adalah orang yang setia. Aku pernah membersamai orang lain lima tahun lamanya. Kami cocok. Aku mengandalkannya. Dia pun mengandalkanku. Kami saling percaya. Di usia yang dulu masih belum matang, bahkan aku sudah yakin ingin menjalani hubungan serius. Aku yakin menikah dengannya. Namun, semua selesai. Dia melepaskan tanganku. Ia mengambil jalan lain. Ia berjalan cepat tanpa menoleh ke belakang.” Ia bercerita dengan wajah datar.

“Aku butuh waktu lama untuk pulih. Setelah pulih, aku menjadi orang yang baru. Aku tidak lagi percaya kepada selain-Nya. Bagaimanapun orang meyakinkan, aku tak pernah percaya seutuhnya. Kita tidak boleh berharap banyak pada selain-Nya kan? Berharap pada manusia hanya memberi kecewa saja. Memberi cinta itu sekadarnya saja. Memberikan rasa sayang sekadarnya saja. Kamu harus seperti itu bila mau menjaga hati.” Ia berbicara lancar dengan penuh keyakinan.

“Begitu kah yang ada dalam pikiranmu tentang rasa cinta dan kepercayaan?” Aku hanya mendengarkan dan melontarkan satu pertanyaan saja. Tidak banyak menanggapi. Sebab, kondisi saat ini bukan lagi saat yang tepat untuk berdiskusi. Ia telah memilih jalannya. Bersama orang yang dicintainya. Dan aku pun tahu, ia meninggalkan ‘bagian dirinya di belakang’. Bagian untuk memberi rasa cinta dan kepercayaan pada orang lain. Ia berubah. Luka yang teramat membuat ia meninggalkan beberapa bagian dirinya di belakang. Ia tetap bahagia. Yang terlihat seperti itu. Tetapi, entah bagaimana kondisi hati yang sebenarnya. Semoga juga dalam keadaan bahagia.

***

Aku ingin menanggapi kondisi temanku itu. Tulisan di bawah akan berisikan pandanganku tentang luka dan cara menyembuhkannya.

Aku pernah terluka. Begitu dilukai, tentu rasanya sakit. Hatiku begitu sakit. Dilukai oleh perkataan seseorang yang tidak begitu kenal saja mampu melukai hati. Bagaimana rasanya bila seseorang yang melukai adalah dia yang kamu percaya? Dia yang begitu kamu sayangi dan kasihi? Tentu sakit sekali. Tentu butuh perjuangan keras untuk bangkit.

Kalau aku, biasanya, tiap kali terluka selalu membayangkan luka tersebut seperti luka cidera kecelakaan. Luka paska kecelakaan saja bisa sembuh. Luka dihati juga harus sembuh. Aku hanya perlu waktu saja. Waktu akan menyembuhkan.

Aku memilih untuk tidak seperti temanku. Aku tidak akan meninggalkan ‘beberapa bagian diriku’ di belakang karena luka. Aku akan berusaha menjadi orang yang sama. Aku akan tetap menjadi Shinta yang keluarga dan sahabatku kenal. Aku bisa memberikan rasa percaya bila orang lain berusaha dan memberikan bukti nyata.

Aku tetap percaya bahwa ketulusan itu tetap ada. Jika terus terlukai, itu hanya tentang waktu saja. Waktunya untuk merasakan luka. Mungkin, Allah ingin aku mengenal rasa sakit. Sehingga, jika nanti merasakan kebahagiaan, aku akan bersyukur.

Aku tetap percaya bahwa orang yang baik itu masih banyak. Jika terus bertemu orang yang tidak tepat, itu lagi-lagi hanya tentang waktu saja. Saat ini bukan waktu yang tepat bertemu dengan orang yang tepat. Mungkin, Allah ingin aku belajar tentang kesabaran. Sehingga, jika nanti bertemu dengan orang yang tepat, aku akan menjaga, memperlakukan, dan menghargainya dengan baik.

Lagipula, rasanya tidak adil bila aku berhenti percaya bahwa orang tulus itu ada. Rasanya juga tidak adil bila aku terlalu berhati-hati, hingga lupa menjadi diri sendiri. Setiap orang berhak diberikan kesempatan untuk membuktikan, kan? Dan sungguh sayang, bila identitas diri ini berubah hanya karena sebuah luka.

Bila aku mengatakan bekas luka itu tidak ada, tentu aku berbohong. Bekas luka tetaplah ada. Kenangan rasa sakit juga tetap ada. Bila mengingatnya kembali, tentu saja sakitnya tetap terasa. Tetapi, biarlah ia berada dalam ruang masa lalu di belakang sana. Biarlah ia berada di tempatnya. Fokusku, tetap berjalan ke depan. Berjalan ke masa depan.

Aku dan masa lalu adalah satu kesatuan. Tak akan pernah bisa dipisahkan. Masa lalu dan rasa sakit memberiku begitu banyak. Contohnya pemikiranku tentang tulisan ini. Berkatnya, aku mampu berpikiran luas dan terbuka terhadap hal yang tidak menyenangkan. Berkatnya, aku siap menyembuhkan luka yang kerap datang. Dan berkatnya, aku selalu berusaha membuka hati dan memberikan ruang kepada siapapun yang berbuat baik.

Berhati-hati boleh, namun, jika itu kebaikan, jangan mengingkari dan mengabaikannya. Terima kebaikan apapun, ucapkan terima kasih, dan syukuri. Berbaik sangka itu menyehatkan jiwa. Oh iya, menyehatkan tubuh juga 😉

Hikmah Satu Bulan Tanpa Ayah

Ayah yang biasa membantu segala keperluan, harus absen selama satu bulan karena keperluan pendidikan. Alhasil, kami harus bertahan satu bulan di rumah tanpa sosok ayah. Kami harus bertahan satu bulan di rumah, tanpa peran ayah. Rasanya seperti apa? Rasanya sungguh sedih dan kehilangan. Ah, mengapa menusia selalu saja begini, baru merasakan pentingnya seseorang ketika orang tersebut menghilang? Baru mensyukuri kebaikan seseorang ketika orang tersebut pergi? Apakah harus merasakan kehilangan dahulu, baru setelahnya kita memiliki hati yang peka? Ah dasar manusia. Ah dasar aku.

Banyak ketidakeraturan hadir ketika ayah tak ada di rumah. Banyak kegamangan hadir ketika ayah tak ada. Banyak kekhawatiran hadir ketika ayah jauh dari sisi kami. Banyak kecemasan hadir ketika ayah tak disini. Kami tidak merasa tenang tanpa ayah di rumah. Mungkin kami tidak bisa jauh dari ayah. Kata orang, bisa karena kita terbiasa. Tetapi aku tak yakin perkataan orang tersebut. Sebulan terbiasa tanpa ayah, nyatanya kami tetap saja tidak terbiasa. Seperti ada yang hilang. Kami tidak lengkap tanpa hadirnya ayah.

Merasakan ketidakhadiran sosok ayah dalam keluarga membuat aku sadar mengapa setiap manusia harus menikah. Manusia membutuhkan manusia lainnya untuk saling membantu. Manusia membutuhkan manusia lainnya untuk bekerja sama. Manusia membutuhkan manusia lainnya untuk saling menguatkan.

Istri yang begitu mudah menggunakan perasaannya, hingga terkadang hal tersebut menyulitkan dalam menyelesaikan setiap masalah. Suami yang begitu mudah menggunakan logika, terkadang hal tersebut menyulitkan dalam memahami perasaan orang lain. Suami dan istri bersama untuk saling melengkapi kan? Allah Maha Tahu segala kelebihan dan kekurangan ciptaan-Nya. Sungguh indah dan sempurna segala ketentuan Allah :’)

Pelajaran terbaik memang mendapat hikmah dari sebuah kehilangan. Namun, jika mau mengusahakannya, kita bisa mendapatkan hikmah tanpa harus merasakan kehilangan dahulu. Melihat kekurangan orang lain memang lebih mudah daripada melihat kebaikan. Karena pada dasarnya manusia lebih sering melihat kekurangan dibandingkan nikmat. Tetapi, jika mau, kita bisa kok melihat kebaikan-kebaikan orang lain. Ada banyak nikmat dan kebaikan yang patut kita syukuri.

Ada banyak hal sederhana yang sering orang lain lakukan, tapi kita selalu saja salah fokus dalam memandang. Misalnya, daripada mengomentari rasa pedas yang begitu menyengat lidah, bagaimana kalau kita berterima kasih dan memuji cita rasa makanan itu dahulu? Daripada mengomentari keterlambatan seseorang, bagaimana kalau kita berterima kasih atas kebaikannya meluangkan waktu? Daripada mengomentari hadiah seseorang karena tidak sesuai selera kita, bagaimana kalau kita berterima kasih dahulu atas perhatian yang diberikan? Dengan melakukan semua itu, kita akan terlatih untuk menghargai tindakan orang lain. Hati kita akan lebih peka untuk melihat kebaikan. Dan akhirnya, kita akan menyadari pentingnya kehadiran seseorang dalam hidup kita.

Aku belajar dari kehilangan. Banyak hal sederhana ternyata telah luput dari perhatian. Hal sederhana yang sebenarnya memiliki arti sangat bermakna. Hal sederhana yang baru kusadari ketika ayah pergi. Ayah yang tak pernah absen membangunkan ketika waktunya shalat subuh. Ayah yang selalu mengingatkan ketika aku meletakkan sesuatu bukan pada tempatnya. Ayah yang selalu mengingatkan agar menyiapkan segala keperluan jauh-jauh hari keberangkatan. Ayah yang selalu memanaskan mesin motor sebelum aku berangkat kerja. Ayah yang selalu memastikan bensin motor penuh ketika ingin digunakan. Ayah yang selalu duduk di teras ketika aku tak juga sampai rumah hingga larut malam. Ayah memberi begitu banyak, kan? Semua itu luput dari perhatian. Hingga tak sempat mengatakan terima kasih. Hingga tak sempat mensyukuri.

Seringkali aku, kamu, dan kita tidak menghargai tindakan orang lain karena terlalu terbiasa merasakan. Seringkali aku, kamu, dan kita, merindui hal-hal sederhana itu, ketika kehilangan.

Semoga kita tidak seperti itu lagi. Sebab, tentang sebuah kehilangan, tak pernah ada yang bisa menjamin ia akan kembali. Syukur-syukur ia bisa kembali dan kita dapat berterima kasih lagi. Jika tidak, yang kita dapat hanya sebuah penyesalan. Penyesalan yang tak akan hilang meskipun berkali-kali menyembuhkan diri.

Pagi Hari

Aku suka berjalan kaki di pagi hari.

Pepohonan rindang, langit yang jernih, dan udara yang sejuk bisa membuat aku bahagia.

Pagi itu, keadaannya seperti itu.

Bagaimana bisa aku tidak bahagia?

Esoknya, aku putuskan untuk berjalan kaki di pagi hari lagi.

Kekhawatiranku tentang hujan yang tiba-tiba dan kemudian petir yang menyambar sirna setelah aku menemukan pagi yang membahagiakan itu.

Pikirku, untuk apa takut pada sesuatu yang belum terjadi? Daripada tenggelam pada kekhawatiran yang belum terjadi, bukankah lebih baik menikmati?

Akhirnya, aku memberanikan diri untuk berdiri dan kemudian berjalan lagi.

Aku menanti indahnya pagi di hari lain.

Aku menanti kejutan apa yang akan terlihat nanti.

Aku menanti pemandangan pagi yang tak bosan kusyukuri.

Aku tak mengkhawatirkan pagi lagi.

Sebab, pagi akan tetap indah meskipun hujan. Pagi akan tetap membahagiakan hati meskipun tiba-tiba petir datang.

***

Dan apa kau tahu?

Berkat hujan dan petir, aku menjadi lebih menghargai pagi. Berkat hujan dan petir, aku menjadi lebih mensyukuri bahwa pagi yang cerah memang indah.

Pagi memang tak selalu cerah tanpa hujan dan petir. Kala hujan dan petir datang, memang akan menganggu hariku sebentar. Namun, menunggu hingga reda atau menggunakan payung bisa menjadi pilihan. Lagi pula, hujan dan petir yang datang sebentar tidak mengubah fakta pagi yang cerah membahagiakan. Pagi yang cerah tetap saja merupakan hal yang mampu membuat hati bahagia, kan?

Dan akhirnya aku menyimpulkan. Ketika siap merasakan hal membahagiakan, sebaiknya aku menyiapkan pula segala kemungkinan yang meremukkan. Sebab, sebaik-baiknya persiapan adalah kesadaran bahwa ‘setiap kejadian selalu ada masanya’.

***

Aku berjalan kaki lagi.

Aku suka pagi hari.

Tak apa bila hujan dan petir datang tiba-tiba.

Ada payung diranselku.

Jika petir terlalu menyeramkan untuk menjadi teman berjalan kaki,

Ada banyak tempat untuk berteduh.

Rumah biru di pojok itu, misalnya.

Bagaimana keadaan nanti yang tak mampu kuprediksi, pagi hari yang cerah tetap membahagiakan.