Kita Berbeda

Berbincang dengan Kak Dhika memang selalu menyenangkan. Selalu saja ada topik seru yang kami bicarakan. Topik tak melulu tentang hal serius dan berat. Kadangkala, kami juga membicarakan topik ringan yang membuat perut begitu sakit karena menahan tawa.

Pengalaman Kak Dhika bersosialisasi dengan orang kukira sudah banyak sekali. Terbukti dari cara Kak Dhika mengendalikan diri dalam keadaan yang tidak menyenangkan. Kak Dhika tak pernah tersulut meskipun pihak lain begitu menyulut. Kak Dhika tak pernah meninggikan intonasi suara, meskipun pihak lain begitu meninggikan intonasi suaranya. Darinya, aku melihat bagaimana orang dewasa menempatkan diri dengan baik diberbagai situasi. Darinya, aku belajar bagaimana bersikap profesional.

Ada seseorang yang mengganggu kami. Seseorang yang begitu gigih mengejar tujuan, namun tak peduli dengan sekitar. Seseorang yang begitu gigih mencapai target-target, namun tak menganggap orang disekitarnya ‘hadir’. Seseorang yang memiliki begitu banyak kemampuan, tapi tak pernah mau untuk berbagi. Mengamatinya, kami pun menyadari satu hal. Ternyata benar adanya, memang ada seseorang yang ‘lupa’ hakikat hadirnya ia di dunia ini. Ia lupa bahwa sebaik-baiknya manusia adalah yang bermanfaat untuk orang lain. Ia lupa bahwa sebaik-baiknya ilmu adalah ilmu yang dirasakan manfaatnya oleh orang banyak.

Perbincangan kami begitu unik. Ketika mendiskusikannya, kami kesal, kami jengkel, kami marah, kami tak bisa memahaminya meskipun berulang kali berusaha memahami, kami tak bisa berkata apa-apa.

Namun akhirnya, kami pun tahu sikap apa yang sebaiknya dipilih. Kami tak perlu memaksakan diri untuk mengerti dan memahami. Kami tak perlu memaksakan diri untuk menerima kehadiran dirinya dalam hidup kami. Kami juga tak perlu begitu memikirkan ‘nilai’ apa yang ia yakini. Kami tak perlu menyakiti dan mengotori pikiran dan hati kami hanya karena hal-hal yang bersebrangan. Biarlah ia hidup dengan caranya sendiri, namun kita pun tetap harus menjaga diri jangan sampai menjadi korban atas perilakunya. Bersikap hati-hati untuk diri sendiri adalah keharusan, kan?

Dalam kehidupan, memang akan ada orang-orang yang ‘berbeda’. Ia tak mengenal kata ‘saling’. Ia tak mengenal kata ’empati’. Ia tak mengenal kata ‘simpati’. Dan ia tak mengenal kata ‘memberi’. Namun, biarkan saja ia hidup dengan caranya. Manusia itu banyak. Karakter itu beragam. Nilai yang dianut pun berbeda. Tujuan yang ditentukan berbeda. Cara yang dipilih pun tentu berbeda. Apakah itu menjadi masalah? Tidak. Jalani saja kehidupan kita dengan baik. Pilih saja pilihan-pilihan yang membuat hati kita tenang dan bahagia.

Advertisements

Hati yang Bahagia

Jika menjalani hari dengan hati yang bahagia, maka jalan terjal atau landai pun tak ada beda. Keduanya sama-sama mudah dijalani. Hati adalah modal untuk memulai sesuatu. Oleh sebab itu, banyak orang mengatakan “luruskan niat”, karena dengan begitu tak akan ada kesulitan berarti.

Niat yang lurus dan hati yang ikhlas akan memudahkan segala urusan. Solusi juga akan mudah didapatkan. Gagal rencana A, kita akan berusaha melakukan rencana B, rencana B gagal lagi, kita akan mencoba rencana C, begitu seterusnya sampai kita berhasil melewatinya. Kita tak akan lelah mencoba dan berusaha. Kita tak akan berputus asa. Karena kita yakin, siapa yang bersungguh-sunguh pasti akan berhasil. Kita pun mengerti dengan baik arti sebuah kegagalan. Gagal berarti memang belum berjodoh, bukan hal yang baik untuk kita, dan harus belajar lebih banyak.

Untuk Kejadian yang Menyakitkan

Hati yang bahagia akan membuat kita mudah memaafkan. Hati yang bahagia membuat kita mudah mengerti perlakuan tak baik dari orang lain. Hati yang bahagia membuat kita lebih mudah memetik hikmah pada setiap kejadian. Hati yang bahagia membuat kita mampu berpikir dengan jernih bahwa berbuat salah sungguh tak apa. Kita dan orang lain hanyalah manusia biasa. Yang tak akan luput dari kesalahan. Hidup tidak hanya tentang hal-hal yang membuat hati senang, kan?

Untuk Menjalani Kehidupan Sehari-hari

Hati yang bahagia akan membuat kita melakukan banyak hal dengan cara yang menyenangkan. Hati yang bahagia akan memudahkan kita mengambil keputusan dengan kepala dingin dan bijaksana. Hati yang bahagia juga memudahkan kita untuk tersenyum tulus pada kondisi apapun.

Layaknya iman yang mudah dibolak-balikkan, begitu juga dengan keadaan hati. Saya tak akan mengatakan membuat hati bahagia itu mudah. Membuat hati bahagia adalah sebuah tantangan. Namun, kita perlu mengusahakannya. Hal ini semata-mata bukan demi orang lain. Melainkan, demi diri sendiri. Demi kebahagiaan kita. Bukankah setiap orang berhak untuk bahagia?

Mari bersama-sama berjuang! Hati yang bahagia tidak hanya mimpi semata jika kita memperjuangkan dalam kehidupan nyata 😉

Terima kasih Malam, Langit, dan Hujan

Tempat paling menyenangkan ketika ingin mengembalikan energi adalah duduk di teras rumah. Suasana yang paling kusukai adalah ketika malam tiba. Hujan ataupun tidak bagiku sama saja. Sama-sama indah.

Malam ini hujan. Udara dingin kurasakan. Tapi aku tak membutuhkan pakaian tebal untuk menghangatkan badan. Aku menyukai udara dingin malam ini.

Aku menatap lama langit. Tak ada bintang. Hanya ada hamparan warna hitam pekat disana. Tapi tak apa, aku tetap menyukai langit meskipun tanpa bintang. Menatapnya membuatku mengingat-Nya. Mengingat-Nya membuat hatiku tenang. Ketenangan membuat keadaanku menjadi lebih baik.

Ada kalanya kau tak mengerti dengan skenario yang sedang terjadi. Ada kalanya mulut tak ingin berbicara dan otak tak ingin berpikir terlalu dalam. Ada kalanya kau tak ingin berharap pada suatu hal. Ada kalanya kau hanya ingin menikmati segala skenario Tuhan. Ada kalanya kau hanya ingin memberi dan menerima kebaikan. Sungguh, semua dilakukan bukan tak punya keinginan atau harapan. Akan kuberitahu satu rahasia kecil. Ada satu keadaan dimana seseorang akan menunggu dan berserah sepenuhnya ketika telah melalui banyak jalan perjuangan. Mungkin, saat ini aku dalam keadaan itu.

Menikmati malam, langit, dan hujan. Mengembalikan energi untuk melanjutkan perjalanan. Mensyukuri keindahan alam dengan mengamati lebih dalam. Menumpahkan pikiran dalam tulisan. Memasukkan rasa dalam kata-kata. Dan kembali diingatkan, bila kehidupan begitu sulit untuk dimengerti, tak mengapa mengambil jeda sejenak. Seringkali ‘jeda’ membuatku lebih mudah mengerti keadaan dan kembali berbaik sangka. Ketentuan Tuhan selalu terbaik. Semua tergantung bagaimana aku menyikapinya.

Terima kasih malam, langit, dan hujan. Terima kasih telah membantuku mengambil ‘jeda’. Kini aku siap melanjutkan perjalanan.

Memaknai Pengalaman

Orang-orang yang lebih dulu hidup dibanding aku, kuharap memiliki rasa syukur yang jauh lebih banyak. Seharusnya, pengalaman mampu membuat seseorang menjadi lebih bijaksana. Pengalaman mampu membuat hati seseorang lebih lapang menerima. Pengalaman mampu membuat hati lebih luas. Pengalaman mampu membuat kita lebih paham, tiada yang lebih penting dari memiliki hati yang bahagia.

Menurutku, kita sungguh merugi bila pengalaman tidak dibarengi proses introspeksi diri. Kita sama saja tidak menggunakan kesempatan dengan sebaik mungkin. Kita sama saja membiarkan air mengalir tanpa peduli kemana air tersebut bermuara. Kita sama saja bertahan dalam kesalahan tanpa ingin tahu bagaimana cara memperbaiki. Padahal, jika saja kita mau berdiam diri sebentar untuk merenungi, ada banyak sekali perbuatan yang perlu diperbaiki.

Hakikat merenung yang tak boleh kita lupa, merenung bukanlah untuk memikirkan kesalahan orang lain. Kita merenung untuk memikirkan kesalahan pada diri. Hanya dengan pemahaman seperti itu kita bisa memahami bahwa pengalaman memang memberikan hal-hal berarti.

Pengalaman menyadarkan kita bahwa masalah memang tak akan pernah berhenti. Selesainya suatu masalah adalah awal bagi masalah lainnya. Jadi, santai dan hadapi saja. Bukankah apa-apa yang datang pada akhirnya akan pergi? Bukankah apa-apa yang telah dimulai pada akhirnya akan berakhir? Bagaimanapun hasil akhir suatu proses, apakah itu yang kita cari? Tidak, kita membutuhkan sesuatu yang jauh lebih bermakna dari itu. Kita membutuhkan pembelajaran dari sebuah proses. Bukan hasil akhir saja.

Aku berharap tak salah lagi dalam memaknai sebuah pengalaman. Sebab jika tidak, usia hanyalah angka yang bertambah semata. Namun, tak bertambah matang pula mental, karakter, dan sikap. Semoga pengalaman mampu membuatku memiliki hati dan pikiran yang luas. Karena dengan begitu, aku tak lagi merasa sulit untuk membaca kesalahan pada diriku sendiri. Karena dengan begitu, aku tak lagi merasa sulit untuk mensyukuri hal-hal yang sederhana. Karena dengan begitu, aku tak lagi merasa sulit untuk berbahagia dengan hal-hal sederhana.

Hal-hal sederhana selalu mengajarkan hal besar. Tak pernah ada hal-hal besar tanpa adanya sesuatu yang kecil dan sederhana. Jadi, hargai apapun itu. Bahkan untuk hal-hal yang tak dapat terlihat mata sekali pun. Hanya dengan cara itu hati kita terlatih untuk peka dan terbuka.

Mohon Doa untuk Bapak

Satu buah foto dalam group whatsapp itu membuat hatiku sakit. Satu kalimat dalam chat group whatsap hampir membuatku menitikkan air mata.

Orang dalam foto adalah seseorang yang sangat aku hargai. Beliau adalah teman sejawatku. Rekan kerjaku. Aku memanggilnya Bapak.

Pada foto terlihat bapak dalam keadaan tidak baik. Ia berbaring. Mata kirinya terluka dan berdarah. Malam itu, ia berada di Unit Gawat Darurat.

Kalimat dalam chat memberitahu kabar menyedihkan. Bapak dilukai oleh seseorang tak bertanggung jawab saat mengendarai motor. Bapak adalah korban begal. Si pembegal tak berhasil menjatuhkan bapak dari kendaraan roda dua itu. Namun, berhasil melukai salah satu panca indera yang benar-benar vital bagi manusia manapun. Mata kirinya terluka.

Temanku menceritakan kronologi saat mata bapak dilukai. Peristiwa itu terjadi setelah magrib. Bapak sedang menuju rumah. Saat itu, bapak melewati jalanan sepi. Jalanan begitu licin karena hujan malam itu. Terlalu rawan bila harus meningkatkan kecepatan motor. Bapak pun mengendarai motor hanya 40 km/jam saja. Dari arah berlawanan tiba-tiba motor mendekat dan menghatamkan suatu benda ke mata kirinya. Bapak tidak tahu itu benda tumpul atau tajam. Yang bapak tahu, ada rasa sakit menyerang pada daerah mata. Yang bapak tahu, ada sesuatu yang basah mengalir dari matanya. Saat itu, ia belum tahu yang mengalir itu adalah darah. Paska kejadian, dalam keadaan terluka, bapak masih berusaha mengendarai motor sejauh 3 kilometer. Bapak menuju rumah. Setelah sampai rumah, bapak pun menuju rumah sakit diantar oleh sang kakak.

Pukul sepuluh malam bapak dioperasi. Dokter mengatakan keadaan luka pada area mata masuk dalam kategori berat. Banyak jaringan mata rusak akibat benturan keras yang dilakukan si pembegal itu.

Operasi pun selesai. Dokter menjelaskan bahwa terjadi pendarahan di mata. Banyak jaringan mata yang rusak. Ada satu jaringan yang tak bisa diselamatkan. Aku lupa nama jaringan itu. Dokter juga memberitahu keadaan mata bapak paska operasi. Bola mata bapak tidak dapat berfungsi lagi. Bapak tidak bisa melihat menggunakan mata kiri. Mendengar kabar itu seperti ada sesuatu yang menusuk hatiku. Aku merasa sedih sekaligus sakit.

Entah siapa yang memberitahu atau mendengar dari mana, ternyata bapak sudah mengetahui kondisi matanya saat ini. Bahkan ia juga tahu kondisi terburuknya. Kondisi terburuknya adalah bola mata bapak akan diangkat bila jaringan dan saraf mata tak berfungsi lagi. Sebab, bila tidak diangkat, bola mata akan mengecil. Kemungkinan infeksi juga cukup besar.

Kemarin siang bapak sudah tidak perlu di rawat inap lagi. Bapak boleh pulang. Tetapi harus bedrest selama satu bulan. Kabar buruknya, mata kiri bapak tetap tidak bisa berfungsi normal. Bapak juga harus memeriksakan kembali sinus yang berada di kantung mata. Hasil pemeriksaan menunjukkan terdapat penggumpalan darah disana. Rencana pengobatan rawat jalan selanjutnya adalah mengatasi penggumpalan darah di sinus. Kabar baiknya, Alhamdulillah bola mata tak perlu diangkat. Bila melihat sisi positif, paling tidak, meskipun mata tidak berfungsi lagi, secara estetika masih baik. Sehingga bapak tidak perlu mendapat tekanan tambahan atas pertanyaan-pertanyaan orang terkait fisik. Bapak tidak perlu menjawab pertanyaan-pertanyaan tiap kali orang melihat matanya. Menerima kenyataan bahwa mata tak dapat berfungsi lagi saja sudah sangat sulit. Kurasa tekanan pertanyaan dari luar akan membuat keadaan semakin sulit.

Atas kejadian bapak ada banyak sekali pelajaran yang dapat diambil. Takdir memang begini. Baru saja pukul dua siang aku bertemu dan mengobrol dengan bapak dan keadaannya sangat baik, pukul tujuh malam keadaan sudah berubah drastis. Keadaan bapak sangat tidak baik. Bapak mendapat musibah dan harus menerima kenyataan yang begitu menguji kesabaran.

Ternyata rasanya begini. Melihat pembegalan di berita rasanya memang menyayat hati dan menyedihkan. Namun, bila kerabat dekat yang menjadi korban, rasanya berlipat-lipat lebih tersayat dan sakit.

Ternyata rasanya begini. Melihat seseorang berjuang menerima kenyataan pahit dalam televisi rasanya memang membuat pilu dan sedih hati. Namun, bila kerabat dekat yang sedang berjuang menerima kenyataan pahit, rasanya berlipat-lipat lebih pilu dan sedih. Dan mulut menjadi kelu. Kalimat penyemangat seperti apa yang tepat untuk kondisi seperti ini?

Pada akhirnya manusia hanya bisa mengambil hikmah atas takdir yang terjadi. Menerima kenyataan pahit pasti sulit sekali. Fase penolakan dengan pertanyaan ‘mengapa’ tentu akan terlintas dikepala. Namun, ingatlah hal-hal ini.

Takdir Allah pastilah yang terbaik. Manusialah yang memiliki kemampuan terbatas. Bila saat ini kita belum merasakan kebaikan atas takdir yang menempa, mungkin keterbatasan manusia yang membuat kita sulit merasakan. Bila saat ini kita belum menyadari kebaikan atas takdir yang terjadi, mungkin keterbatasan manusia yang membuat kita sulit memahami. Semoga Allah selalu memberikan kekuatan dan kelapangan hati. Aamiin.

**

Mohon doanya untuk bapak yang sedang mendapat musibah, teman-teman. Beliau adalah orang yang baik dan senang memudahkan urusan orang lain. Semoga kesehatan bapak segera pulih dan bangkit kembali. Aamiin.

Menjadi Orang Tua Asyik

Topik kajian yang dibawakan Ustadz Bendri dua pekan lalu adalah tentang mendidik anak yang beranjak pubertas. Saya semangat sekali datang ke kajian itu. Alasannya karena ingin tahu. Kalau bahasa anak milenial, saya benar-benar pengen tau banget lah gitu.

Saya sadar, kelak akan mendidik anak yang beranjak pubertas. Saya juga memiliki adik laki-laki yang sedang memasuki masa-masa pubertas. Dua hal itulah yang menjadi alasan kuat mengapa saya perlu menghadiri kajian Ustadz Bendri.

Dari kajian itu, saya tahu, ada beberapa hal yang perlu dipersiapkan orang tua untuk mendidik remaja yaitu, menanamkan tauhid, menanamkan rasa malu, menguatkan ikatan hati ke anak, mengajarkan menundukkan pandangan, mengajarkan mengendalikan nafsu perut, menyibukkan anak dengan banyak aktivitas, dan membantu anak memilih pergaulan yang baik.

Nah, salah satu persiapan yang menarik perhatian saya adalah menguatkan ikatan ke anak. Karena menarik banget, saya mau berbagi pandangan tentang hal ini ke teman-teman. Tentunya berdasarkan pengalaman saya sendiri. Jadi, kalau teman-teman memiliki pandangan lain, boleh sekali berbagi ke saya 😉

Kata Ustadz, cara menguatkan ikatan ke anak adalah dengan menjadi orang tua yang asyik. Mengapa penting? Ikatan hati yang kuat antara anak dan orang tua akan menghadirkan cinta. Hadirnya cinta, akan menghadirkan rasa percaya. Kalau anak sudah percaya ke orang tua, maka, nasihat orang tua akan mudah sekali didengarkan oleh anak. Anak akan nurut sama orang tua. Ia akan percaya semua perkataan orang tua. Ikatan hati benar-benar sangat penting, ya? Cinta dan rasa percaya adalah dua hal yang tak bisa dipisahkan.

Menjadi orang tua asyik sebenarnya tidak sulit. Orang tua hanya perlu memperlakukan anak sebagai sahabat. Kita saja mampu membuat nyaman para sahabat. Masa kita tak mampu membuat anak nyaman? Kalau kata Ustadz Bendri, orang tua harus PDKT (Pedekatan) sama anak. Apalagi mendidik anak perempuan. Orang tua harus benar-benar menunjukkan perhatiannya. Sebab, secara takdir, perempuan memang selalu senang diperhatikan. Jadi, tidak perlu malu memuji anak dengan sebutan cantik atau ganteng. Tidak perlu malu mengajak anak kencan berdua. Tidak perlu malu mengajak anak nonton bioskop bersama. Tidak perlu malu mengatakan cinta.

Mungkin beberapa orang akan beranggapan cinta itu lebih penting dibuktikan dengan perbuatan daripada perkataan. Iya benar sekali, namun, jika tidak dikatakan, bukankah anak tidak akan tahu? Apalagi dengan pemahaman dan tingkat kedewasaan anak remaja yang belum mumpuni. Bukankah anak remaja tidak akan sepeka itu memerhatikan perbuatan sebagai bukti cinta kedua orang tuanya? Bukankah setiap orang akan bahagia bila mendengar kalimat manis seperti kalimat ‘aku/kami menyayangimu’? Bukankah lebih baik pembuktian cinta dilakukan bersama-sama melalui perbuatan dan perkataan?

Menjadi orang tua asyik tidak hanya penting sebagai persiapan mendidik anak yang beranjak pubertas. Namun, juga penting untuk membuat anak merasa dicintai, dikasihi, dan merasa dipentingkan oleh seseorang. Jangan sampai, hanya karena orang tua merasa sungkan menjadi orang tua asyik, membuat anak menjauhi kedua orang tua. Dan akhirnya terbentuk jarak yang begitu luas antara anak dan orang tua.

Jangan sampai, hanya karena orang tua malu/tidak terbiasa berlaku asyik di depan anak, membuat anak merasa tidak cintai. Dan akhirnya ia akan mencari keasyikan dan cinta di luar rumah. Beruntung bila anak bertemu teman yang asyik dan baik. Bagaimana bila anak bertemu dengan teman yang asyik, namun memberikan pengaruh yang tidak baik? Hal tersebut berbahaya sekali. Hal tersebut akan merusak anak.

Sebelum menutup kajian dua pekan lalu, Ustadz Bendri juga mengingatkan, menjadi orang tua asyik sungguh sangat penting. Sebab, hal tersebut adalah pintu kesempatan orang tua memasukkan nilai-nilai kebenaran kepada anak. Pintu kesempatan orang tua memasukkan nilai-nilai Islam kepada anak. Karena hakikatnya, orang tua hadir dalam kehidupan anak memang untuk mendidiknya menjadi manusia yang cinta Allah dan memiliki sikap terpuji.

Semangat berusaha menjadi orang tua asyik, para orang tua ataupun calon orang tua! 🙂 meskipun tidak mudah, kita harus tetap berjuang dan melangkah. Kita pasti bisa. Apa-apa yang baik tak akan terjadi begitu saja tanpa adanya perjuangan, kan?

Hati-hati dengan Rindu

Bulan yang begitu terang malam ini, mengingatkanku pada malam itu.

Malam itu, dua lembar koran, satu buah selimut sebagai alas, dan satu buah jaket yang kukenakan sudah cukup melindungi tubuhku dari angin malam. Dingin, mungkin kurasakan. Namun, keindahan langit malam sepertinya membuatku lupa. Atau mungkin, rasa letih membuatku mati rasa. Malam itu, aku hanya ingin membaringkan tubuhku.

Aku tak ingat berapa lama waktu dihabiskan selama perjalanan menuju Pulau Sempu. Yang kuingat, saat matahari telah terbit, aku dan teman-teman sudah sampai di Malang. Kemudian, melanjutkan perjalanan lagi menuju pulau. Kami tiba di Pulau Sempu ketika matahari telah terbenam. Aku tak akan pernah lupa kapan kami tiba disana. Kenyataan bahwa diantara kami tak ada yang membawa senter dan harus meraba medan dengan telapak tangan dalam gelap adalah momen mengerikan sekaligus membanggakan. Mengerikan karena kami menantang maut di malam hari. Membanggakan karena kami tetap bersama hingga akhir. Berkat kebersamaan, medan sesulit itu dapat kami hadapi dan lalui.

Kali ini aku tidak akan menceritakan tentang perjalanan. Aku akan menceritakan secuplik kisah malam yang cukup membekas dalam ingatan.

Perjalanan seharian itu membuat aku lelah fisik. Kami kelelahan. Lelah karena jarak yang begitu panjang. Dan lelah karena membawa beban pada punggung. Di Pulau Sempu tak ada sumber air bersih. Jadi, masing-masing orang harus membawa banyak botol air mineral ukuran 1,5 liter dalam tas ransel. Medan yang penuh lumpur dan akar pepohonan membuat kami semakin lelah saja. Sesampainya di pulau, kami pun harus membangun tenda. Berlipat-lipatlah rasa lelah kami. Seluruh otot terlalu lelah. Alhasil, tubuh kami sakit semua. Malam itu, kami hanya ingin membaringkan tubuh saja.

Kukira Pulau Sempu akan sejuk. Ternyata tidak. Pulau yang tertutup oleh tebing dan pepohonan seakan miskin akan angin. Ditambah jumlah orang yang begitu banyak, membuat pulau seperti tak berangin. Apa mungkin karena disana itu dataran rendah? Entahlah. Yang kuingat, disana terasa penuh dan padat. Aku pun memutuskan untuk tidur di luar tenda dan tidur di pasir saja. Dela dengan baik hati menemaniku.

Dengan barang seadanya yang telah kusebutkan di atas, aku dan Dela tidur di pasir pantai. Krim pereda otot tegang dan krim anti nyamuk juga kami gunakan. Tak lupa menaburkan garam pada sekitar area tempat kami berbaring. Katanya, binatang melata dan serangga takut melewati taburan garam itu. Hingga kini aku pun belum mencari tahu alasan ilmiahnya. Hal tersebut mitos atau fakta aku belum tahu. Tetapi Alhamdulillah, aku dan Dela baik-baik saja.

“Katanya, kalo di pantai pelosok kayak gini, langit malamnya bagus loh, Shin. Banyak bintang.” Dela berbicara memecahkan keheningan.

“Memang apa bedanya langit pantai pelosok sama langit Jakarta?” tanyaku penasaran.

“Katanya, kalo langit pelosok itu kan belum tercemar. Jadi, langitnya bersih. Beda sama perkotaan yang langitnya udah nggak bersih. Si bintang ketutupan sama polusi udara.” Dela menjelaskan sepengetahuannya.

“Oh gitu ya, gue baru tau nih. Tapi, sekarang belum ada bintangnya ya del. Masih gelap.” aku menanggapi tanpa ingin tahu kebenarannya. Siapa peduli tentang kebenaran bila pemandangan alam begitu indah untuk dinikmati?

Percakapan singkat pun berakhir. Kami tertidur tanpa ucapan selamat malam.

Tengah malam kami terbangun. Entah pukul berapa saat itu. Entah siapa juga yang bangun lebih dulu. Dan kami takjub dengan pemandangan di atas sana. Kami pun ragu ini langit sungguhan atau bukan. Langit yang tadi gelap gulita, saat itu langsung penuh dengan sesuatu yang berkedip-kedip. Yang membuat semakin takjub, jaraknya terasa begitu dekat. Tak perlu men-daya-akomodasikan mata agar langit terlihat jelas. Langit dengan bintangnya terlihat begitu jelas dan dekat.

Udara malam pun pandai menyesuaikan situasi. Udara yang tadi begitu pengap, padat, dan panas, saat itu berubah menjadi dingin dan berangin. Aku dan Dela tidak melakukan percakapan apapun. Kami hanya memandang lukisan alam malam itu dalam diam. Kami hanya merasakan dingin malam dengan kesyukuran. Kami hanya menikmati hembusan angin malam dengan senyuman.

Adakalanya, kita tak mampu mengungkapkan rasa takjub dan bahagia yang begitu besar dengan kata-kata. Diam dan bersyukur kepada-Nya adalah cara yang paling baik.

Rasa rindu begitu menarik, ya? Berawal dari bulan. Lalu, memunculkan kenangan. Teringatlah kenangan tentang bulan dan langit malam. Maka, jadilah sebuah tulisan. Hati-hati dengan rindu.

Cerita: Si Om

Sebelumnya, aku memanggil beliau bapak. Namun, beberapa orang memanggil dengan sebutan ‘Om’. Kurasa memanggil ‘Om’ lebih baik. Kurasa sebutan ‘Om’ membuat suasana lebih cair dan menghilangkan kecanggungan. Sejak saat itu, aku pun memanggil beliau Om.

Kali pertama melihat om, kupikir om ‘anak band’. Rambutnya panjang. Om memakai gelang dan kalung. Om senang menggunakan kaos hitam. Beliau pun sering mendengarkan lagu ‘rock’. Aku tak segan menanyakannya langsung,“Om anak band ya?” Om pun langsung tertawa lepas mendengar pertanyaanku. Sepertinya, aku terlalu cepat menyimpulkan.

Setelah lama bekerja satu shift dengannya dan bertukar cerita, aku baru tahu ternyata beliau bukan anak band. Om hanya pecinta musik. Jadi, segala macam genre musik beliau cinta. Lagu yang sering diputar begitu beragam. Darinya, pengetahuanku tentang musik lumayan meningkat. Paling tidak, aku pernah mendengar dan menjadi tahu lagu-lagu yang diproduksi sebelum aku lahir 😂

Om adalah tipikal orang yang senang berdiskusi. Aku pernah berdiskusi tentang Islam dan kebudayaan jawa. Om mengatakan, yang om dan orang tuanya yakini adalah kita perlu tahu mengapa perlu ibadah. Kita tidak boleh hanya sekadar ibadah namun tak tahu sesungguhnya hakikat ibadah itu apa. Sehingga, kita pun tidak menerapkan perbuatan baik pada kehidupan sehari-hari. Kita perlu tahu bagaimana cara memperlakukan manusia dengan baik. Kita perlu tahu bagaimana cara memperlakukan alam dengan baik. Kita perlu tahu bagaimana cara memperlakukan binatang dengan baik. Intinya, memperhatikan bagaimana kita bersikap adalah keharusan. Kira-kira seperti itu singkatnya hasil diskusiku dan om. Belakangan ini, aku baru tahu ternyata si om senang membaca. Buku biografi, katanya. Beliau paling suka Biografi Tan Malaka. Pantas saja cara bicaranya bijaksana dan filosofis sekali :’)

Om tidak hanya senang berdiskusi. Beliau juga senang berbagi ilmu. Om berbagi namun tidak menggurui. Siapapun akan senang berdiskusi dengannya. Om juga humoris dan ekspresif sekali. Semakin seru saja belajar ilmu baru dengan om. Situasi dijamin tidak akan membosankan!

Bertemu dengan seseorang yang memiliki ilmu dan pengalaman banyak namun tak sombong, membuat aku selalu takjub berulang kali. Om orangnya seperti itu. Padahal, beliau sering menjadi pembicara di almamaternya. Masa kerja beliau sudah banyak. Om juga pandai bergaul diberbagai komunitas. Namun, om berlaku sangat santai dan sederhana. Om membuat lawan bicara merasa nyaman dan tidak terintimidasi tiap kali berdiskusi. Om juga berpikiran terbuka menerima hal baru.

Dalam bekerja, om selalu membantu bila ada yang kesulitan. Betapapun sibuknya, om selalu mendengarkan dan menanggapi siapapun yang membutuhkan. Meskipun sudah menjadi senior, Om juga melakukan pekerjaan yang sama dengan aku. Kita bekerja sama-sama dan saling membantu. Om berhasil membangun suasana nyaman tanpa ada tekanan. Om memberikan teladan begitu banyak kepadaku.

Terima kasih, Om. Terima kasih telah berbagi ilmu dan cerita. Terima kasih telah memposisikanku sebagai kawan dan rekan sejawat. Terima kasih telah menjadi teman diskusi yang baik. Terima kasih telah mengerti dan memahami keadaan orang lain. Terima kasih telah membantu. Kudoakan, semoga om dan keluarga selalu diberikan kesehatan dan diberkahi Allah. Semoga om dan keluarga selalu bahagia dunia dan akhirat. Aamiin.

Cerita: Aku Memanggilnya Kakak

Bila seseorang menyentuh hatiku, aku selalu ingin mengabadikannya melalui tulisan. Alasannya sederhana, aku bersyukur tentang kenangan itu dan mungkin saja menjadi penyemangat untuk yang membacanya. Penyemangat bahwa masih ada harapan pada dunia ini. Sebab, masih banyak sekali orang-orang baik disini.

Aku Memanggilnya Kakak

Kali pertama berada di lingkungan yang baru, entah mengapa takdir membawaku mendekat padanya. Seseorang yang berkuasa mengamanahkan agar kakak membimbingku mempelajari semua hal baru. Akhirnya, orang pertama yang kukenal saat itu adalah kakak.

Kali pertama mengenal kakak, aku tahu bahwa ia senang mengajari dan membimbing orang lain. Ia tidak menggunakan metode senioritas. Ia lebih senang mengatakan,“Jadi, disini prosedur yang digunakan seperti ini, Shinta.” Bukan mengatakan,“Caranya harus begitu. Kamu harus bisa dengan cepat.” Ia juga lebih senang mengatakan,“Yang saya tahu seperti itu.” Dari pada harus mengatakan,“Saya memang tahu. Saya sudah lama disini.”

Kakak mengaplikasikan betul pepatah,“Memudahkan urusan orang lain adalah keharusan. Sebab, sejatinya sesama manusia pasti saling membutuhkan. Tiada orang yang mampu hidup sendiri.” Ia pernah bercerita dengan antusias,“Shin, tadi gue ke apotek mau nebus obat. Lama banget nunggunya. Gue nggak dapet tempat duduk. Eh, tiba-tiba petugasnya kasih gue bangku. Gue disuruh duduk. Ternyata begini ya rasanya jadi pasien yang dikasih tempat duduk. Seneng dan bersyukur banget, Shin :’)

“Yang kaya gini nih maksud gue, Shin. Kita nggak pernah tahu kapan orang lain memudahkan urusan kita. Yang kita tahu cuma mudahin aja urusan orang lain terus. Mungkin ini balasan dari Allah karena gue pernah mudahin urusan orang lain.” Kakak melanjutkan ceritanya lagi.

Aku selalu tertegun dengan celotehan santai kakak, namun sarat makna. Apa yang ia katakan selalu sama dengan perbuatannya. Ia begitu bijaksana dengan caranya sendiri. Kakak memang seperti itu. Memberikan begitu banyak teladan untuk orang sekitarnya. Terutama, untukku.

Sebagai orang baru, tentu aku melakukan banyak kesalahan. Sebagai orang baru, aku tidak tahu banyak hal. Aku harus banyak belajar. Kakak memahami dengan baik kondisiku. Kakak seringkali membantu tanpa menghakimiku. Kakak seringkali memberitahu tanpa menggurui. Kakak seringkali meluruskan, namun tak pernah terkesan menyalahkan. Tak jarang, kakak juga menggantikan posisiku, bila keadaan begitu sulit. Ia adalah sosok pemimpin yang baik. Semakin ia memberikan teladan yang baik, semakin aku menghormatinya. Semakin ia tidak meminta untuk dihormati, semakin aku ingin menghormatinya.

Untuk kakak, terima kasih atas pengertian yang telah diberikan. Terima kasih telah mengerti orang lain dengan begitu baik. Terima kasih telah membantu meringankan kesulitan orang lain. Terima kasih telah memahami orang lain dengan hati yang lapang. Terima kasih telah menciptakan lingkungan yang begitu nyaman. Terima kasih telah memberikan aku kesempatan untuk merasakan ketulusan.

Berkat kakak, keyakinanku untuk selalu menjadi diri sendiri semakin kuat. Berkat kakak, kemampuanku untuk lebih memahami orang lain semakin meningkat. Berkat kakak, pengertianku tentang ‘memudahkan urusan orang lain’ semakin baik. Berkat kakak, aku percaya bahwa masih banyak orang baik disini.

Semoga Allah selalu memberkahi kehidupan kakak dan keluarga kecilnya. Semoga kakak dan keluarga selalu diberikan kesehatan. Semoga Sha menjadi anak yang pintar dan shalihah. Kudoakan, semoga Allah segera menitipkan buah hati lagi untuk kakak. Aamiin 🙂

Aku Begitu Ingin Tersenyum

Aku melihat sebuah harapan disana. Hanya dengan melihatnya, aku merasa aman.

Aku melihat sebuah kenyamanan disana. Hanya dengan melihatnya, hatiku merasa tentram.

Aku melihat sebuah keterbukaan disana. Hanya dengan melihatnya, aku ingin berbagi apapun jua.

Aku melihat sebuah kepedulian disana. Hanya dengan melihatnya, aku ingin bersandar untuk waktu yang lama.

Aku melihat sebuah keyakinan disana. Hanya dengan melihatnya, aku tahu semua akan baik-baik saja.

Aku melihat sebuah kepercayaan disana. Hanya dengan melihatnya, aku merasa mampu untuk melaju.

Aku melihat kasih sayang disana. Hanya dengan melihatnya, aku ingin mengadu dan menangis.

Aku melihat kebahagiaan disana. Hanya dengan melihatnya, aku begitu ingin tersenyum dan bersyukur.

Dan hatiku berkata,“Terima kasih Allah untuk skenario kehidupan yang tak terduga, namun selalu memiliki akhir yang begitu indah. Aku akan menjalani hidup dengan baik. Aku akan berusaha menjadi manusia yang lebih baik lagi. Semoga Allah meridhoi.”