Definisi Bahagia

Sumber foto: http://www.timsr.ca

Definisi bahagia untukku adalah ketika mampu melakukan banyak kebaikan untuk diri sendiri dan juga orang lain. Dan berharap Allah meridainya.

Apa definisi bahagia untukmu?

Hal yang paling mudah memang melakukan semua hal demi diri sendiri. Kamu tidak perlu memikirkan orang lain. Kamu tidak perlu berlelah-lelah memposisikan diri menjadi orang lain. Dan kamu juga tidak perlu berkoordinasi dengan orang lain untuk kebaikan bersama.

Sebaliknya, hidup berdampingan dengan orang lain itu sulit. Kamu tidak boleh memutuskan sesuatu tanpa memikirkan keadaan orang lain. Kamu tidak boleh berbuat sesuai keinginanmu. Kamu harus mementingan kepentingan orang banyak dibanding kepentingan pribadi. Kamu juga harus memandang hal dengan luas dan menggunakan banyak kaca mata.

Kamu mau menjalani hidup yang seperti apa? Yang paling mudah atau yang paling sulit?

Aku harap kamu tidak memilih pilihan pertama. Sayang banget. Kita sama-sama tahu kalau masuk surga itu memang tidak mudah. Allah menyediakan surga untuk manusia yang membuktikannya. Dengan apa? Dengan syukur dan sabar. Supaya apa? Supaya jadi orang yang bertakwa. Sulit? Ya tidak, kalau kita cinta Allah semua akan terasa mudah. Kalau ada yang jatuh cinta sama kita aja, maunya dibuktiin, kan? Sama. Allah juga mau dibuktiin. Kita benar-benar cinta sama Allah atau tidak, nih.

Melakukan semua hal demi diri sendiri memang “terasa”nya mudah. Padahal, kalau mau memeriksa keadaan hati, hati kita tidak benar-benar bahagia. Coba periksa saja. Pasti kita tidak pernah menemukan kepuasan dan ketenangan hati. Akibat sikap egois ini, tingkat keegoisan kita akan semakin bertambah. Segala keinginan jadi harus dituruti. Semua harapan pun harus segera terealisasi. Kalau tidak, kita akan stres dan merasa jadi orang paling menderita di dunia. Pokoknya, yang sengsara hanya kita saja. Orang lain di luar sana hidupnya mudah dan baik-baik saja.

Padahal, di luar sana yang hidup sulit dan susah banyak banget, lho. Bukan kita aja. Mereka ingin hidup begini, eh Allah malah memberikan kehidupan yang begitu.

Suka lihat tidak orang-orang yang minta-minta di depan masjid saat kita salat eid? Kita hidup lebih baik dari mereka. Buktinya kita masih bisa makan ketupat lengkap dengan lauk pauknya, kan? Bahkan, kita masih mampu membeli baju lebaran. Kita jauh lebih beruntung dari mereka.

Atau seseorang yang memiliki banyak penyakit. Ia harus melakukan pengobatan di rumah sakit secara berkala. Entah untuk cuci darah, pemeriksaan laboratorium, pemeriksaan rutin ke dokter spesialis setiap bulan, atau melakukan fisioterapi setiap dua kali sehari. Hidupnya hampir selalu di rumah sakit. Ini kejadian nyata. Ada banyak pasienku memiliki jadwal padat di rumah sakit setiap harinya.

Jadi, kalau satu keinginan saja tidak terpenuhi mampu membuat kita menderita, kayaknya terlalu berlebihan. Mungkin, rasa syukur kita memang perlu diperiksa lagi :’)

Melakukan semua hal demi kebaikan bersama bukan berarti tidak memikirkan diri sendiri, lho. Kita berhak dan layak bahagia. Tetapi, jangan lupa. Apa yang kita lakukan akan berdampak pada sekitar. Entah lingkungan atau manusianya. Kebahagiaan kita tidak boleh menjadi sebab kesengsaraan bagi orang lain.

Bagaimana kita tahu kebahagiaan kita tidak akan menyengsarakan orang lain? Caranya, amati keadaan orang lain dan berpikir dengan banyak kaca mata. Serta sadari bahwa di dunia ini kita tidak hidup sendiri.

Kita bisa berpikir dan merasa. Seperti, memikirkan bagaimana keadaan orang lain atas pilihan yang diambil. Dan merasakan bagaimana perasaan orang lain atas keputusan yang dibuat. Lalu, kedua hal itu kita pastikan dengan bertanya apakah ia berkenan atas pilihan dan keputusan kita.

Lagi-lagi ribet, ya? Memang. Tetapi, hidup bersama memang seperti ini. Ada banyak sekali manfaatnya. Dua manfaat yang paling terasa adalah mencegah miskomunikasi dan terjalin hubungan yang baik. Dan ingat-ingat lagi tentang cara masuk ke surga. Surga tidak akan didapat dengan “cuma-cuma” tanpa perjuangan, kan?

Definisi bahagia setiap orang pasti beragam. Kita boleh membuat definisi apa pun. Namun, aku harap semoga kita mau menjadi bijaksana. Bijaksana memikirkan segala hal menjadi lebih luas. Seperti, untuk apa dan untuk siapa kita hidup di dunia. Di mana kah tujuan akhir kehidupan kita. Bagaimana membuat hati tenang. Dan bagaimana cara berbahagia bersama-sama.

Rasulullah manusia paling sempurna saja tidak egois. Rasulullah memikirkan dan membutuhkan kehadiran para sahabat untuk mendapatkan Rida-Nya, apalagi kita?

Advertisements

Enjoy the Little Things

Sahabatku tak pernah lelah memberikan doa-doa terbaiknya untukku. Bahkan saat kondisinya sedang kesulitan. Ia baru saja melahirkan. Dan sedang beradaptasi dengan peran dan keadaan yang baru. Ditambah permasalahan ASInya. Semakin berjuang saja ia pada Ramadan ini. Meskipun begitu, ia selalu mengingat kawan.

Pagi ini, ia mengirimkan sebuah kado. Katanya, kado ini adalah tanda cinta.

Sahabatku berharap, kado ini akan menjadi sebab kehadiran kami di surga kelak. Masya Allah :’)

Sebuah goodie bag biru datang ke rumahku diantar oleh ojek online. Di dalamnya terdapat sebuah gamis, jilbab, dan sekotak kue nastar. Di bagian paling atas direkatkan sebuah kartu ucapan bertuliskan “Enjoy the Little Things”. Ternyata kalimat tersebut tidak sekadar beberapa torehan kata yang biasa-biasa saja. Kalimat itu memiliki makna khusus. Di dalam kartu ucapan ia pun berbagi pandangan tentang itu.

Makna kalimatnya bagus. Hari ini, aku akan berbagi sedikit makna kalimat itu, ya. Mari kita berefleksi bersama.

Sahabatku mengatakan, katanya lebaran bukan tentang banyaknya kue, opor, dan ketupat yang aku habiskan. Bukan seberapa banyak THR yang aku dapatkan. Atau seberapa banyak orang-orang yang aku temui.

Maknanya sungguh jauh lebih besar dari itu. Versi sahabatku, lebaran adalah refleksi diri tentang bagaimana kabar dosa-dosa kita. Dosa kita banyak. Pada Bulan Ramadan ini ampunan Allah juga banyak. Namun, kita tidak tahu apakah dosa kita yang amat banyak ini sudah diampuni atau belum sama Allah. Meskipun begitu, kita harus tetap bersyukur dan yakin pada ketentuan Allah. Yakin bahwa Allah akan memberikan ampunan-Nya kepada siapa pun yang bersungguh-sungguh.

Lebaran juga sebagai tempat berefleksi diri bahwa betapa sedikitnya rasa syukur kita akan nikmat Allah. Padahal nikmat Allah begitu banyak tercurahkan pada hidup kita.

Sahabatku berharap, tanda cinta yang ia berikan mampu meningkatkan rasa syukurku. Sebab, Allah Maha Pemurah dan Maha Penyayang masih mengizinkan kami tetap menjalin persahabatan hingga kini.

Ia juga berharap, tanda cintanya mampu mempererat ukhuwah kami. Semoga kami juga selalu meluruskan niat. Perjalanan ukhuwah kami selama ini untuk siapa dan karena siapa. Dan semoga kami semakin istiqomah.

Di akhir kartu ucapan ia mengucapkan,“Selamat berbahagia di Hari Lebaran ♥.”

Setelah membaca ucapan tersebut aku pun tersenyum. Iya benar adanya bahwa kasih sayang Allah itu luas sekali. Allah sayang, maka, Allah menghadirkan sahabat baik yang selalu setia membersamai. Allah sayang, maka, Allah memberikan peringatan melalui nasihat sahabat-sahabat yang shalih.

Nikmati kebaikan kecil yang menghampiri hidup kita. Karena kebaikan itu, akan meluaskan dan menenangkan jiwa 🙂

Gagal Setoran Tunai BNI

Aku menjadi nasabah BNI sejak tahun 2011. Pelayanan yang cepat tanggap dan petugas bank yang ramah adalah beberapa alasan mengapa aku setia dengan BNI. Dan alasan tambahannya, aku tidak pernah mendapat masalah dalam hal transaksi. Semakin betah sajalah aku pada bank ini.

Hingga sampai pada Bulan April kemarin. Aku mendapat masalah tentang setoran tunai pada mesin ATM. Aku akan menuliskan pengalaman tersebut pada tulisan ini. Semoga saja, teman-teman dapat memetik hikmah dan lebih berhati-hati.

Aku jarang sekali menyetor uang melalui bank. Alasannya, mungkin karena aku belum perlu menyetor uang dalam jumlah banyak. Bahkan biasanya, setoran tunai ini aku gunakan untuk mentransfer ke bank lain kala saldo BNIku kosong hahaha

Gagal Setoran Tunai

Bulan April lalu aku mendapat arisan. Jumlahnya tidak terlalu besar. Namun, sangat cukup membantu memenuhi kebutuhanku sampai hari gajian tiba. Malam itu, aku datang ke BNI margonda raya untuk menyetor uang arisan sebesar 500.000. Aku senang ke ATM sana. Mungkin alasannya karena faktor kebiasaan saja. Tidak ada alasan khusus tentang ini.

Dengan percaya diri aku langsung melakukan setoran tunai. Tidak ada kecurigaan apapun. Karena memang tidak ada pemberitahuan apapun pada mesin ATM di sana.

Setelah sukses melakukan setoran, aku langsung mengecek saldo. Dan, setoran 500.000 itu tidak masuk ke dalam saldoku. Langsung saja aku menekan tombol cancel dan berencana melakukan pengecekan kembali. Seketika, kertas resi pun keluar dari mesin ATM. Tidak seperti setoran tunai biasanya yang tertuliskan bahwa setoran telah sukses, malam itu tulisannya berbeda.

Resi yang keluar dari mesin setelah gagal melakukan setoran tunai.

Singkatnya, aku diberitahu bahwa terjadi kesalahan komunikasi penyetoran tunai. Aku juga disuruh untuk mengecek saldo dan menghubungi call centre. Membaca tulisan itu aku pun langsung memahami situasinya. Dugaanku, pasti saldoku tidak bertambah karena masalah itu. Aku pun segera mendatangi pak satpam yang berjaga di bank.

Pak satpam membantuku untuk menghubungi call centre BNI. Namun, setelah berkali-kali mencoba hasilnya nihil. Call centre BNI terlalu sibuk.

Setelah berupaya menelepon, ia memberitahuku bahwa pelaporan yang dilakukan via telepon prosesnya akan lebih cepat. Paling lama hanya 14 hari saja. Kalau pelaporan melalui bank akan lebih lama. Membutuhkan waktu 20 hari hingga akhirnya uang kembali.

Paska kejadian gagalnya setoran tunai, aku sempat mengajukan banyak pertanyaan ke Pak Satpam. Beberapa pertanyaannya seperti adakah cara awal kita tahu bahwa sebuah mesin ATM tidak bisa beroperasi dengan baik. Adakah kemungkinan pengembalian uang berlangsung lebih cepat, hanya dua atau tiga hari, misalnya. Dan ada masalah apa sesungguhnya sampai-sampai setoran tunai tidak masuk ke dalam saldo.

Menurut pak satpam, rusak atau tidaknya sebuah mesin ATM memang tidak bisa diprediksi. Apalagi bila masalahnya ada pada jaringan. Kita akan tahu ada masalah pada mesin tersebut kalau ada korban. Seperti masalah aku ini. Setelah aku jadi korban, barulah mesin tersebut ditempelkan pemberitahuan bahwa mesin ATM rusak 😅

Terkait pengembalian uang, memang tidak bisa cepat. Karena ada prosedur dan proses panjang hingga akhirnya uang nababah dapat dikembalikan. Tentang alasan mengapa terjadi masalah setoran tunai, pak satpam tidak tahu pasti. Kemungkinannya, kata si bapak masalah ada pada jaringan.

Setelah mengobrol panjang lebar, pak satpam mencatat data pribadiku seperti nomor KTP, nomor ATM, dan cerita singkat kronologi kejadian.

Melapor ke Customer Service di Bank

Tidak ada informasi banyak yang aku dapatkan setelah “ngobrol” sama Mbak customer service. Aku hanya bercerita singkat tentang masalahku, kemudian aku disuruh mengisi formulir kronologi kejadian, dan mbak customer service memberikan penjelasan singkat tentang pengembalian uang.

Informasi yang paling aku ingat adalah, proses paling lama pengembalian uang adalah 20 hari. Nanti uang akan kembali secara otomatis ke saldoku. Mbak juga bilang, kalau setelah 20 hari uang belum juga kembali, aku bisa menghubungi bank lagi. Nanti, akan dikaji lebih dalam lagi. Seperti, pengecekan kamera CCTV dan pengecekan buku satpam yang berisi data nasabah yang bermasalah. Ribet kan 😂

Saat mendengar penjelasan itu, aku merasa bingung dengan prosedurnya. aku yang membawa data lengkap dan bukti saja mengurusnya “seribet” ini. Bagaimana bila nasabah yang bermasalah tidak memiliki bukti resi seperti milikku. Pasti prosesnya akan lebih panjang lagi.

Uangku Kembali

Tepat 20 hari akhirnya uangku kembali. Selama menunggu uangku kembali, aku sempat browing membaca keluhan-keluhan nasabah lain yang memiliki masalah sama. Rata-rata uang mereka jauh lebih besar dibanding aku.

Ada pula nasabah yang marah sekali karena uangnya tidak juga kembali setelah 20 hari. Ia berkeluh kesah dan meminta pihak BNI mengatasi masalah ini dengan cepat. Di zaman seperti saat ini yang teknologinya super canggih, seharusnya prosesnya akan lebih singkat dan praktis.

Kasihan kepada nasabah yang benar-benar membutuhkan uang. Ada kepala keluarga yang “curhat”, kalau masalah seperti ini taruhannya adalah keberlangsungan rumah tangga. Ia merasa dirugikan karena dana yang seharusnya digunakan untuk kebutuhan rumah tangga harus “ditahan” hingga 20 hari lamanya.

Aku juga mencari tahu bagaimana bank lain menyelesaikan masalah seperti ini. Entah bagaimana kerumitan yang dialami BNI, ternyata ada kok bank lain yang mengurus kepentingan seperti ini lebih cepat. Dalam waktu 24 jam saja uang sudah dapat kembali.

Bagi aku pribadi, pengalaman ini benar-benar menjadi pelajaran. Menunggu 20 hari ternyata lama banget, lho. Apalagi untuk orang-orang yang sedang membutuhkan uang. Pengembalian uang yang terlalu lama bisa menganggu keberlangsungan hidup sehari-hari.

Saranku untuk teman-teman, beberapa hal yang harus diperhatikan sebelum setoran tunai:

1. Pastikan kamu setoran tunai di ATM yang bersatu dengan bank. Sebab, kalau ada permasalahan pada mesin ATM, kamu bisa meminta tolong langsung kepada Pak Satpam untuk memberikan informasi.

2. Jangan setor uang seluruhnya sekaligus. Periksa dulu apakah mesin ATM berfungsi dengan baik. Bagaimana cara mengeceknya? Kamu lakukan dulu setoran tunai dalam jumlah sedikit. 20.000 atau 50.000, misalnya. Kalau berhasil, barulah kamu menyetor semua uangnya.

3. Kalau mengalami masalah seperti aku, sebaiknya langsung telepon call centre. Kalau misalkan sibuk, telepon saja terus sampai berhasil. Sebab, pelaporan yang dilakukan via telepon, proses pengembalian uangnya akan lebih cepat. Untuk BNI, hanya 14 hari saja.

4. Kalau sudah melapor dan ingin tahu sudah sampai tahap mana pengaduanmu diproses oleh BNI, kamu tanyakan saja via BNI call centre. Kamu tidak perlu ke bank langsung. Karena akan buang-buang waktu saja. Customer service tidak akan mempercepat proses. Ia hanya akan memberi tahu pengaduan kamu sudah sampai tahap apa.

5. Tidak perlu khawatir, uangmu akan tetap kembali. Hanya saja tentang waktu sifatnya tentatif. Tergantung pihak BNI. Saranku, kalau proses sudah melebihi 14 atau 20 hari, kamu perlu tanyakan kembali kepada pihak BNI.

Baiklah, sekian cerita pengalamanku tentang gagal setoran tunai BNI. Semoga tidak terulang lagi. Semoga menjadi penyemangat untuk kamu yang sedang menunggu pengembalian uang dari BNI 💪

Dan untuk teman-teman wordpress, semoga menambah informasi terkait setoran tunai ini 😊

Semoga ke depannya, BNI pun memperbaiki sistemnya. Semoga lebih cepat dan praktis. Aamiin.

Sticky Notes adalah Tanda Kita Peka

Menulis catatan pada selembar kertas tiap kali memberikan hadiah kepada orang lain adalah satu kebiasaan yang sering aku lakukan. Dan sulit sekali bila harus ditinggalkan. Kalau tidak melakukannya, aku merasa tidak sepenuhnya menjadi “seorang Shinta”.

Media yang sering aku gunakan biasanya sticky notes yang warna warni.

Tidak hanya untuk sebuah hadiah acara spesial, dalam kegiatan sehari-hari pun begitu. Memberikan hadiah kecil sebuah susu kemasan di pagi hari untuk seorang kawan misalnya, harus ada sebuah sticky notes yang tertempel di atasnya. Apa isi tulisannya? Bebas saja. Kalau aku, biasanya memberikan sebuah ucapan selamat pagi dan beberapa kata penyemangat untuk mengawali hari.

Mengapa harus? Sebenarnya tidak harus. Namun, aku butuh melakukan itu. Berbagi kebaikan di pagi hari rasanya melegakan saja. Dan kita sama-sama tahu bahwa mendapat perhatian dari orang lain rasanya menyenangkan. Kalau kita sadari itu, mengapa tidak memulainya lebih dulu? Memberi energi positif kepada sekitar, akan berdampak pada diri sendiri, lho. Apalagi dalam hal berbagi. Sesuatu yang kita beri dengan tulus hati akan memberi ketenangan hati 🙂

Sticky notes juga bermanfaat untuk media permintaan maaf. Pernah suatu kali seseorang berbuat salah kepada kawannya, namun tak memiliki keberanian untuk meminta maaf secara langsung. Tahukah kamu apa yang ia lakukan? Ia membeli hadiah kecil lalu ia sematkan selembar sticky notes di atasnya. Sticky notes berisikan kalimat penyesalan. Setelah itu, ia pun berbaikan dengan kawannya.

Menurutku, keberanian dia menuliskan penyesalan dan permintaan maaf dalam sticky notes perlu diapresiasi. Sebab, ada lho kasus di mana dua orang yang “perang dingin” tak juga saling sapa hanya karena sebuah gengsi. Akhirnya, mereka tak juga bertukar sapa dalam waktu yang sangat lama. Mengerikan, kan? Jadi, sticky notes di sini berperan sebagai perantara awal saja. Langkah selanjutnya, mereka berbicara secara langsung membicarakan permasalahnya.

Ada beberapa orang masih menganggap tidak penting perihal pesan singkat dalam sticky notes ini. Menurutku sayang sekali. Setiap kita pasti memiliki perhatian dan keinginan yang ingin disampaikan kepada orang lain. Namun, karena satu dan lain hal akhirnya kita mengurungkan niat untuk menunjukkan pikiran dan perasaan itu. Akhirnya, siapa pun tidak bisa mengerti dan merasakan pikiran serta perasaan kita.

Lalu, dampak negatifnya apa? Dampaknya negatifnya banyak dan berbahaya. Kelak, kita akan menjadi apatis terhadap orang-orang di sekitar. Kita tidak peduli apakah mereka sedang berduka atau tidak. Kita juga tidak peduli apakah mereka baik-baik saja atau tidak. Akhirnya, terjalinkah lingkungan yang super individualis. Kita tidak mengenal arti simpati dan empati. Kita pun tidak mengenal makna seorang “kawan” dan “pertemanan”. Kita tidak memahami makna kebersamaan. Yang kita tahu hanya tentang diri sendiri saja. Hati kita pun menjadi tidak peka.

Ada banyak cara sederhana berbagi kebaikan. Menyematkan sebuah sticky notes pada sebuah hadiah hanya salah satunya. Dari sticky notes, si pengirim pesan singkat akan belajar jujur pada pikiran dan perasaannya. Si penerima pesan singkat akan berbahagia. Bahwa ternyata, ada banyak orang di sekitarnya mendoakan dan berharap kebaikan untuk kehidupannya. Hidup dengan cara yang sederhana ternyata indah, ya :’)

Day 30 – Terima Kasih

Aku sangat bersyukur bisa mengikuti event 30 hari bercerita yang diadakan oleh @pejuang30dwc.

Maka, tulisan penutup tantangan menulis 30 hari ini, akan berisi beberapa ucapan terima kasih untuk orang-orang yang super menginspirasi 🙂

Pertama, untuk seluruh teman-teman yang mengikuti 30 Days Writing Challenge Jilid 18, atau biasa disebut “fighter”, terima kasih sudah memberanikan diri berbagi pikiran melalui tulisan selama 30 hari ini.

Meskipun sama-sama masih bingung konten apa yang seharusnya ditulis selama 30 hari, kita tidak pernah menyerah menulis. Dan tetap menyetor tulisan apa pun yang terjadi. Kalian luar biasa!

Kedua, untuk Kak Sari dan Kak Syamsu yang setia dan sedia setiap saat menjadi admin group selama 30 hari. Terima kasih sudah menghidupkan suasana group dan memimpin setiap diskusi online. Kak Syamsu yang selalu mengeluarkan kata-kata bijak tiap kali menyapa. Serta Kak Sari si ramah yang membuat “atmosfer” group full team terasa hangat. Sukses selalu untuk kakak!

Ketiga, untuk Kak Rezky sebagai mentor tulisan non fiksi. Terima kasih sudah memberi banyak sekali saran dan pertanyaan “menohok” untuk kami. Keduanya cukup membuat kami “berpikir keras merenungi”. Insya Allah kami selalu mengingat saran kakak, menjadi unik dan berbeda adalah modal untuk penulis. Sebab, pembaca kritis tak akan mau membaca karya yang “biasa-biasa saja”.

Ke empat, untuk Kak Rizka sebagai mentor tulisan fiksi. Terima kasih sudah memberi saran dan dukungan dengan cara yang menyenangkan. Berkat Kak Rizka, kami menjadi tahu bahwa menulis tidak sesulit itu. Selama kita masih bisa berpikir dan merasa, selama itu pula kita masih bisa menulis.

Ke lima, untuk squad 8, Hamda, Mas Hery, Kak Rose, Mbak Ika, Kak Imas, dan Kak Mamay. Terima kasih sudah “heboh” di group squad selama 30 hari ini wkwk tanpa kehebohan kalian, entahlah aku mampu atau tidak menyelesaikan tantangan menulis selama 30 hari.

Mengingat perkataan Hamda, yang tersulit adalah “terlalu banyak berpikir” namun lupa untuk “mengeksekusi”. Semoga kita tidak begitu lagi. Lakukan aksi meskipun hanya sedikit yang terealisasi.

Atau mengingat perkataan Kak Rose, sulitnya menuliskan pengalaman pribadi adalah karena tak juga menemukan figur. Semoga kita tidak kesulitan lagi. Karena sesungguhnya figur itu dekat. Ia ada pada diri kita sendiri. Semua hanya tentang mau atau tidak berpikir sejenak untuk memahami diri.

Sekian. Maafkan ucapan terima kasihnya panjang sekali. Terlalu sulit menahan diri karena rasa syukur yang super banyak ini 😂

#30DWC #30DWCJilid18 #squad8 @Pejuang30dwc #30dwcjilid18day30

Sumber foto: http://www.pexels.com

Day 29 – Merenung

Pernahkah kamu merasa pikiran terlalu penuh dan dada begitu sesak? Lalu bagaimana caramu menangani kondisi ini?

Kalau aku, tidak akan memaksakan diri. Sebab aku tahu, kondisi seperti ini adalah “tanda” bahwa aku butuh menyendiri untuk merenungi.

Dunia itu ramai dan bising. Dunia seringkali memaksa otak kita berpikir tiada henti. Dan dunia seringkali memaksa diri untuk selalu menerima orang yang banyak rupa. Tak peduli bagaimana kondisi diri.

Bila tidak pandai-pandai mengelola waktu, kita pun menjadi lupa memberikan “hak” pada diri sendiri. Kita tak sempat menenangkan pikiran dan merenungi semua hal yang sudah terjadi.

Lalu, apa jadinya bila sudah begini? Dampaknya akan bahaya sekali. Apa pun tak akan bermakna apa-apa untuk diri ini. Apa-apa yang orang lain lakukan tak akan memiliki arti. Semua hal yang pernah diperjuangkan tak pernah kita puji. Akhirnya, kita tak tahu arti menghargai dan lupa mensyukuri.

Semoga semua itu tidak terjadi. Tak apa pikiranmu penuh dan dadamu sesak sesekali. Namun, jangan lupa memberi waktu dan jeda untuk diri sendiri.

Sebab, merenung adalah hak kita yang harus dipenuhi.

#30DWC #30DWCJilid18 #squad8 @Pejuang30dwc #30dwcjilid18day29

Sumber gambar: http://www.wikihow.com

Day 28 – Meningkatkan Kualitas Diri

Setelah melakukan perubahan, lantas apa perjuangan selanjutnya?

Kita sama-sama tahu bahwa perjuangan tak akan berhenti selama masih mengembuskan napas. Iya, kita harus tetap berjuang selama masih hidup di dunia.

Tak ada yang mudah dalam menjalani kehidupan. Sebab, surga memang tak bisa didapatkan oleh siapa saja. Hanya ia yang tetap berusaha menggapai rida-Nya yang dapat mencapainya.

Berubah menjadi lebih baik adalah sebuah langkah awal. Kita harus mempertanggungjawabkan keputusan itu dengan cara terus meningkatkan kualitas diri.

Kita bisa belajar dari mana saja. Ilmu tentang perilaku, misalnya. Cara paling mudah adalah banyak mengamati orang-orang di sekitar. Meniru segala perbuatan baik dan mengambil hikmah dari perbuatan buruk orang lain.

Semakin lama hidup di dunia, ternyata ada banyak ilmu kehidupan belum kita tahu. Bagaimana menjalani peran sebagai anak, kakak, dan teman yang baik. Atau bagaimana menjadi tetangga yang baik.

Pilih media apa saja sebagai media belajar kita untuk mencari ilmu. Buku, youtube, artikel, atau apapun. Namun, jangan lupa, sebaik-baiknya tempat belajar adalah kepada ahlinya. Jadi, pilihlah mentor mumpuni dalam ilmu yang sedang kita tekuni 😊

Niat dan tekad untuk menjadi lebih baik adalah sebuah anugerah. Semoga kita tak lupa tentang kesyukuran.

Berusaha meningkatkan kualitas diri adalah bukti bahwa kita benar-benar bersyukur atas anugerah yang Allah telah beri.

#30DWC #30DWCJilid18 #squad8 @Pejuang30dwc #30dwcjilid18day28

Sumber foto: http://www.istockphoto.com

Day 27 – Menjadi Lebih Baik

Ketika memutuskan menjadi lebih baik, kita memang harus siap menerima dengan lapang dada semua tanggapan yang muncul kelak.

Entah tanggapan negatif atau berupa pertanyaan yang menantang kita supaya belajar lebih banyak lagi.

Seorang kawan pernah bercerita bahwa sebelum dirinya memutuskan berjilbab, ketakutan terbesar adalah tanggapan orang-orang di sekitarnya.

Ia takut tak bisa menjawab pertanyaan terkait ilmu-ilmu Islam. Sebab, ia menyadari dirinya pun jauh dari kata “mumpuni”. Ia masih harus banyak belajar lagi.

Ia juga takut mendengar bercandaan orang lain terkait jilbab yang lebih seperti “ejekan” daripada sebuah “candaan”.

Menurutku, ketakutan setelah perubahan adalah hal wajar yang setiap manusia rasakan. Kita penasaran respon apa yang kelak teman-teman berikan. Kemudian, cemas terhadap tanggapan negatif yang bermunculan. Akhirnya meragukan diri,“Apakah benar aku mampu dan pantas melakukan perubahan ini?”

Namun, itulah tantangan untuk kita. Bagaimana menjaga semangat untuk berubah, namun tetap ikhlas menerima tanggapan apapun yang orang lain berikan.

Lagi pula, kita memang tak bisa mengatur bagaimana orang-orang dan lingkungan merespon setiap perubahan yang kita lakukan.

Kita hanya bisa meyakinkan diri bahwa semua tanggapan itu tak akan mengurangi kadar niat dan tekad untuk berubah menjadi lebih baik. Begitu pula sebuah pujian. Hal itu tak akan menambah kadar niat dan tekad kita.

Niat dan tekad adalah kuasa kita. Bukan berada pada tangan manusia.

Jika rasa takut masih membelenggu, mungkin sebaiknya kita renungkan kembali. Kalau kasusnya jilbab tadi, sebenarnya motivasi kita menggunakan hijab itu karena apa dan untuk siapa.

Semoga semua perubahan itu hanya karena berharap rida-Nya. Sebab, hanya dengan cara itu, segala tanggapan manusia tak akan mampu menggoyahkan segala niat dan tekad kita.

#30DWC #30DWCJilid18 #squad8 @Pejuang30dwc #30dwcjilid18day27

Sumber foto: http://www.stevegreerphotography.com

Day 26 – Tenaga Super

Ada beberapa pilihan kita seringkali tidak dimengerti orang lain.
Mereka merasa kita terlalu “tangguh”.
Atau mungkin saja mereka merasa kita terlalu “nekat” melakukan semua itu sendiri.
Tetapi, biarlah mereka terus merasa dalam perasaannya sendiri.

Yang perlu dipahami, sebenarnya perasaan mereka itu adalah bentuk perhatian dan kasih sayang pada diri kita, lho 😁

Kita yang katanya “nekat” dan “tangguh” pasti memiliki sebuah alasan.

Kira-kira, alasannya mungkin seperti ini,

Setiap orang pasti memiliki suatu keinginan yang ingin dipenuhi.
Bila belum terealisasi, akan ada sesuatu yang tidak lengkap di dalam diri. Dalam rangka “melengkapkan” diri, ia harus seperti itu.

Ada seseorang yang ingin sekali pergi ke Bali. Maka, ia akan mempersiapkan diri untuk melakukan perjalanan ke Bali. Bahkan, mungkin saja ia akan “nekat” bepergian sendiri untuk memenuhi keinginannya itu. Jangan tanya alasannya apa. Ia pasti memiliki alasan kuat yang tidak akan kita pahami sebelum merasakannya sendiri.

Atau aku yang ingin sekali mengikuti i’tikaf saat Bulan Ramadan. Namun, harus berkali-kali gagal karena beberapa alasan. Bila tahun ini ada kesempatan i’tikaf, maka, sepertinya aku akan nekat pergi sendiri.

Tentang suatu pilihan dan keputusan orang lain, kurasa tak ada yang benar-benar mengerti dan memahami. Sebab, setiap orang memang memiliki “medannya” sendiri. Otomatis, masalah dan kebutuhannya pun tiap orang akan berbeda. Wajar saja bila “logika” kita tak paham atas pilihannya.

Kita hanya perlu tahu bahwa manusia kadang kala memiliki “tenaga super” bila dihadapkan oleh sesuatu hal yang bernilai dalam hidupnya. Jadi, tak perlu lagi merasa aneh dengan pilihan orang lain. Sebab, setiap kita akan memiliki “tenaga super” pada waktunya 😊

#30DWC #30DWCJilid18 #squad8 @Pejuang30dwc #30dwcjilid18day26

Day 25 – Memaknai Kata “Menang”

Kita memaknai kata “menang” tidak seperti saat kecil dulu. Seperti, ketika mampu mendapat juara pertama, kita menang. Ketika mendapat nilai tertinggi pada suatu pelajaran sekolah, kita menang. Bahkan, ketika mampu mengalahkan seseorang yang dianggap “saingan” pun, kita merasa menang.

Semakin dewasa, kita paham bahwa kata “menang” memiliki makna lebih luas dari itu.

“Menang adalah ketika gue mampu mengalahkan diri sendiri.” kata niar.

“Menang adalah ketika kita mampu mencapai sesuatu dengan usaha, sabar, dan doa.” kata Nunu.

“Menang adalah sesuatu yang diraih dengan tekad serta perjuangan yang jujur, tanpa merugikan orang lain.” kata Syifa.

“Menang adalah tidak menyerah pada diri sendiri.” kata Dela.

“Menang adalah ketika kita mampu mengalahkan ego demi kepentingan bersama.” kataku.

Secara tersirat, makna menang bagi diri sendiri adalah bukti bahwa kita masih terus bersemangat menjadi manusia yang lebih baik lagi.

Kita yakin, ada tanggung jawab yang harus dikerjakan. Kita pun tahu, ada hak-hak orang lain yang harus ditunaikan.

Semakin dewasa, ternyata kita semakin bijaksana saja. Tidak seperti waktu kecil yang menganggap “lebih unggul dibanding orang lain” adalah suatu kemenangan yang harus didapatkan. Kini malah sebaliknya.

Kita sadari sepenuhnya bahwa “setiap manusia harus berusaha menjadi pemenang dalam hidupnya sendiri”. Bukan karena kita selalu berusaha memenuhi standar orang lain. Melainkan, kita tahu betul pengendali dalam diri ini hanyalah diri sendiri. Dengan cara itu, kita pun tak akan menjadi benalu pada kehidupan orang lain.

#30DWC #30DWCJilid18 #squad8 @Pejuang30dwc #30dwcjilid18day25