Cerita: Niat adalah Awal Perubahan

Masih tentang ST.

Hampir dua pekan sesi latihan bersama ST tidak lagi dilakukan. Aku menjadwalkan latihan bersamanya tiga kali selama satu pekan yaitu, Senin, Rabu, dan Jumat. Setiap hari itu, kegiatan pagi yang rutin aku lakukan adalah mengirimkan pesan singkat via aplikasi whatsapp kepada mamanya ST. Pesan singkat berisikan pertanyaan singkat apakah hari tersebut ST mau melakukan latihan.

Satu pekan awal latihan berjalan lancar. Dalam pesan singkat, mama selalu menjawab,“Wa’alaikumsalam, Kak Shinta. ST latihan ya hari ini.” Dalam pertemuan langsung bersama ST tak kalah lancar. ST berhasil mengalahkan rasa takutnya. ST berhasil mengalahkan rasa cemasnya. Yang paling penting, ST mau mencoba dan berusaha.

Sebagai fisioterapis, target keberhasilan melatih ST adalah ketika ia tidak mengeluhkan rasa sakit pada tubuhnya, ia bisa melakukan kegiatan secara mandiri, dan ia mampu berpartisipasi kegiatan bersama dengan orang lain. Namun, dalam kasus ST ini berbeda. Targetku hanya dua yaitu, ST mau mencoba dan berusaha. Aku tahu betul permasalahan pada anak ini bukan pada kemampuan fisiknya. Melainkan, ada pada dirinya sendiri. Ia belum mampu mengendalikan diri sendiri. Dan mungkin, seperti kata psikolog dalam kajian kemuslimahan pekan lalu, pengetahuan ST tentang dunia luar masih sangat sedikit. Sehingga, hal-hal negatif mengendalikan dirinya sepenuhnya. Ia lupa bahwa setiap orang memiliki potensi. Ia lupa bahwa setiap orang memiliki masalah sesuai dengan kapasitasnya. Bukan hanya dirinya yang merasa kesulitan. Orang lain di luar sana juga merasakan kesulitan. Ia belum tahu bahwa tanpa kesulitan kita tak akan pernah belajar. Tanpa kesulitan, kita tak akan pernah mendapat hikmah.

***

Semua hanya tentang mau atau tidak. Niat memang menjadi awal sebuah perubahan. Begitu pula dengan keadaan ST. Permasalahan mental benar-benar mampu mengendalikan penuh kehidupan seseorang. Pesan singkat mama dalam aplikasi itu memberikan kabar tidak menyenangkan.

“Maaf kak, ST tidak latihan hari ini ya. Kaki bekas latihan kemarin masih sakit katanya kak.”

“Kak, ST nggak mau latihan hari ini. Karena tiap kali telapak kaki menyentuh lantai, ia kesakitan. ST nggak mau berjalan lagi kak.”

“Maaf kak, hari ini nggak latihan. ST bilang, percuma bisa berjalan kalo mukanya jelek.”

“Kak, hari ini ia menstruasi. Perutnya sakit. Jadi, kemungkinan empat hari ke depan ST nggak latihan dulu.”

Seperti yang aku bilang sejak awal, niat adalah awal sebuah perubahan. Aku tahu, belum ada niat yang kuat dalam diri ST. Belum ada motivasi kuat dalam dirinya. Oleh karena itu, ST pasti mudah sekali mencari alasan-alasan seperti di atas untuk menolak latihan.

Dalam pesan singkat, mama terlihat bingung dan kehilangan ide menghadapi ST. Begitu juga dengan aku. Aku belum memiliki ilmu tentang memotivasi seseorang yang mengalami gangguan mental. Apalagi gangguan ini telah berlangsung bertahun-tahun. Akhirnya, aku memberikan saran kepada mama agar mengundang psikolog ke rumah. Mungkin, keadaan ST akan menjadi lebih baik setelah ngobrol dengan psikolog.

Rabu pekan lalu, psikolog Ibu Dini Rahma Bintari menjadi pembicara dalam kajian kemuslimahan rutin Masjid UI. Materinya adalah tentang manajemen stres. Dalam sesi tanya jawab, aku tanyakan kasus ST ini. Pertanyaanku, pendekatan apa yang bisa digunakan keluarga dan khususnya aku sebagai pelatihnya dalam menghadapi ST. Dengan kondisi ST sedang jauh dari Tuhannya dan dalam fase tidak merasakan hal-hal positif dalam hidup.

Tanggapan dan saran yang diberikan adalah Ibu Dini menduga bahwa penanganan keluarga terhadap masalah ST terlalu lama. Karena gangguan ini telah berlangsung lama. Saran utama yang dilakukan untuk keluarga adalah mengundang psikolog ke rumah. Lalu, memberikan buku dan film yang menceritakan tentang semangat hidup. Banyak tokoh berhasil menghadapi keterbatasan dirinya dan menjadi orang sukses. Berikan ST pengetahuan itu. Tidak hanya dirinya yang kesulitan. Semua orang di dunia juga merasakan kesulitan. Semua orang sama-sama berjuang menghadapi kesulitan itu. Kesulitan pasti berlalu. Kemudahan pasti datang kepada orang-orang yang berusaha.

Saran untuk aku sebagai fisioterapis, dalam sesi latihan, selalu berikan apresiasi untuk usaha yang ST lakukan. Ungkapkan potensi-potensi yang ia miliki. Berikan cerita tentang perjuanganku menghadapi masa sulit. Aku hanya perlu mengingatkan bahwa ST mampu. Tunjukkan bukti-bukti seperti, ia masih bisa menggerakkan seluruh tubuh, ia masih bisa berdiri, dan ia masih bisa berjalan.

Terima kasih panitia kajian kemuslimahan Masjid UI telah mengundang Ibu Dini. Waktunya sungguh tepat sekali. Materi yang disampaikan sangat berguna (nanti kalau ada kesempatan, akan aku tuliskan materi lengkapnya) dan saran yang diberikan sangat mencerahkan. Masalah ST ini cukup mengambil penuh pikiranku selama dua pekan kemarin. Semoga saja ada kesempatan bertemu ST lagi.

***

Melihat kondisi ST secara langsung membuat aku tahu bahwa rasa cemas yang berlebihan dan tidak segera ditangani akan menjadi masalah serius. Karena sejatinya, setiap orang seharusnya bisa mengendalikan rasa cemas. Rasa cemas yang ada secara terus menerus tanpa pondasi yang kuat akan meluluh lantakkan kehidupan seseorang. Dari cerita yang keluarga ungkapkan, ST kehilangan jati diri. ST kehilangan pondasi hidup. ST selalu mencemaskan hal-hal yang ada di dunia. Dan terlupa tentang akhirat.

Mendengarkan materi yang Ibu Dini sampaikan, seperti mendapatkan jawaban-jawaban atas masalah ST. Banyak tips agar hidup bahagia dan bermakna versi Ibu Dini tidak dimiliki ST.

Bagi muslim, hal fundamental yang harus dimiliki supaya hidup bermakna adalah dekat-dekat dengan Allah. Ibu Dini mengatakan, seseorang akan mampu menjalani hidup dengan baik bila hidupnya bermakna. Dengan dekat-dekat dengan Allah, kita sadar siapa diri ini dan untuk apa kita dicipta. Dengan dekat-dekat dengan Allah, kita menjadi lebih bermakna. Sebab semua yang dilakukan kita adalah kebaikan. Bukankah bila datang kemudahan kita bersyukur? Bukankah bila datang kesulitan kita bersabar? Adakah yang lebih baik dibandingkan syukur dan sabar?

ST melewatkan hal tersebut. ST teralihkan dengan ketakutan-ketakutan. Sehingga ketakutan itu menghambat ia maju. ST lupa untuk bersyukur dan bersabar. Padahal, yang membuat manusia tetap kuat adalah dengan syukur dan sabar. Dan yang paling utama ST menjauh dari Allah. Padahal, jika saja ST mengingat, ia tak akan takut lagi. Jika saja ST mengingat, ia tak akan cemas lagi. Jika saja ST mengingat, ia akan mendapatkan ketenangan. Dan jika saja ST mengingat, ia akan menghargai hidupnya.

Mungkinkah ST bisa memikirkan hal di atas dalam kondisinya saat ini?

Sangat mungkin. ST memang tidak bisa melakukannya sendiri. Ia butuh keluarga disisi. Ia butuh aku untuk melatih. Ia butuh teman-teman pembaca tulisan ini untuk mendoakan. Doakan, semoga keluarga ST segera menemukan psikolog yang mau datang ke rumah dalam waktu dekat. Doakan, semoga ST mau latihan berdiri dan berjalan lagi. Aamiin.

Advertisements

Ingin Bahagia atau Sengsara?

Entah bagaimana skenario Allah bekerja, mengapa banyak orang begitu mudah mencipta luka.

Entah bagaimana skenario Allah bekerja, mengapa banyak orang begitu mudah menggenggam hati dan kemudian melepaskannya.

Entah bagaimana skenario Allah bekerja, mengapa seringkali ketulusan tak digunakan dengan sebaik-baiknya.

Katanya, tidak pernah ada ketulusan yang salah.

Iya, aku percaya.

Sebab, bila tidak, siapa lagi yang akan percaya bahwa ketulusan memang benar adanya?

Sebab, bila tidak, bukankah aku meragu pada ketentuan-Nya?

Padahal, Allah sudah berjanji, tak pernah ada kebaikan yang sia-sia. Ia akan menghasilkan kebaikan yang berlipat ganda.

***

Kukira seseorang lebih mudah untuk tegar bila telah merasakan rasa sakit sebelumnya.

Namun ternyata tidak.

Hati tetaplah hati.

Meskipun telah mengenal rasa sakit, ia tak pernah mati rasa. Ia tahu itu luka. Ia bisa merasa.

***

Aku memohon pada hati, jangan pernah hilang rasa percaya.

Ketika siap untuk bahagia, maka harus siap pula untuk terluka.

Ini hanya tentang waktu saja.

Menemukan yang tidak tepat hingga akhirnya bertemu dengan yang tepat.

Menemukan yang salah hingga akhirnya bertemu dengan yang benar.

Seperti waktu yang terus melaju, begitu pula dengan takdir-Nya.

Tangguhlah.

Kuatlah.

Sebab, pilihan ada pada kita.

Ingin bahagia atau malah sengsara?

Kalau aku, tentu memilih bahagia.

Bangkitlah.

Sekarang juga.

Mudahkan Dirimu

Aku telah lama berkelana.

Berjalan melewati jalan setapak tanpa hiasan apa-apa di kanan kiri.

Berlari melewati tanjakan hingga napasku tersengal.

Berlari melewati turunan hingga aku tertawa kegirangan.

Berloncat-loncat pada perbukitan itu.

Beristirahat sejenak dan meneguk banyak air dari botol yang kuraih dari ranselku.

Berbaring di padang rumput sambil menatap indahnya langit malam.

Berteduh dipinggir rumah warga sambil mendengarkan rintik hujan.

Bertegur sapa dengan kawan baru.

Bercengkrama dengan kawan seperjalanan.

Tergelincir tanah basah di musim hujan.

Dan terjatuh tersandung kerikil jalan.

Semua pengalaman itu membuat kita semakin tangguh dan kuat, kan?

***

Aku telah lama berkelana.

Bila terjatuh, aku hanya perlu berdiri lagi.

Bila terjerembab, aku hanya perlu mencari sesuatu untuk bergantung dan bersandar.

Bila tergelincir, aku hanya perlu bangkit kembali.

Aku tahu apapun tak akan bersemayam lama.

Aku tahu apapun sifatnya hanya sementara.

Sebuah rasa sakit kelak akan hilang jua.

Sebuah luka kelak akan sembuh jua.

Sebuah kesulitan kelak akan mudah jua.

Sebuah ketakutan kelak akan hilang jua.

Setiap kejadian tidak akan terjadi selamanya, kan?

Seburuk dan sesakit apapun itu, setiap kejadian pasti terbaik untuk kita, kan?

***

Manusia tercipta untuk berjuang.

Berjuang membuktikan pada-Nya.

Berjuang melawan ego.

Berjuang menjadi sebaik-baiknya hamba.

Lewati saja semuanya.

Hadapi saja semuanya.

Diantara dua pilihan, pasti ada satu yang baik.

Pilih itu saja.

Mudahkan dirimu menjalani skenario Tuhan ini, ya?

Lagi-lagi tentang Kucing

20181202_115147.jpg

Namanya kucing. Begitu kira-kira Satria memanggilnya. Satria belum dapat ide untuk memberi nama si kucing ini. Hobinya bersandar pada Shinta. Padahal diantara anggota keluarga, hanya aku yang belum pernah mengelus bulu halusnya. Padahal diantara anggota keluarga, hanya aku yang belum pernah menggendongnya. Padahal di antara anggota keluarga, hanya aku yang belum menyadari sosok lucu dari dirinya.

Mungkin ini adalah cara Tuhan agar aku melihat dan menganggap kehadirannya. Maka, aku didekatkan dengan si kucing :’)

Si kucing paling senang nongkrong di kamarku. Apalagi setelah aku shalat, posisi paling wuenak bagi kucing yaitu, selonjoran sambil bersandar dikakiku. Meskipun sudah selesai melaksanakan shalat, aku paling senang duduk di atas sajadah. Seperti biasa, melakukan aktivitas di atasnya dengan masih menggunakan mukena. Saat-saat seperti itu biasanya si kucing datang.

Tetap berada didekat kucing adalah pencapaianku yang perlu diapresiasi. Sebab, aku belajar membiasakan diri pada suatu hal yang tidak membuatku nyaman. Aku menghargai usahaku itu.

Aku tidak nyaman dengan cakarnya. Meskipun belum pernah dicakar, melihat cakarnya sudah cukup membuatku merasa perlu hati-hati.

Aku tidak nyaman dengan bulu kucing yang bertebaran. Melihat bulu rontok pada baju dan seprei membuatku ingin segera membersihkannya.

Aku juga tidak nyaman dengan kebiasaan kucing yang mengesek-gesekkan bulunya ke badanku. Aku juga tidak tahu alasannya apa. Mungkin aku belum terbiasa dengan bulu kucing. Waktu kecil, aku memang tidak main boneka yang berbulu. Aku lebih senang main masak-masakkan daripada harus bermain boneka. Aku lebih senang bermain sepeda daripada harus bermain boneka. Mungkin hal itu yang membuatku tidak terbiasa dengan bulu. Bulu kucing asli atau bulu boneka, misalnya.

Entah bagaimana perilaku kucing bekerja, ia sering sekali duduk atau berbaring di dekatku. Kapanpun. Saat aku makan, saat duduk di teras, saat nonton televisi, atau saat berkumpul dengan keluarga. Adikku saja sampai bertanya-tanya,”Kucing ini aneh. Dia masa deket-deket sama orang yang mau pegang dia juga nggak hahahaha.” Lalu ia menambahkan,“Mungkin si kucing tetap merasakan kehangatan dibalik sikap dingin lo mbak hahahahaha.” Dan masih banyak lagi pernyataan ngeselin dia yang lainnya. Seperti biasa, dalam hal ledek-meledek memang dia juaranya. Dan dia bahagia wkwk

Aku memang orang yang sama. Orang yang belum menemukan kelucuan kucing. Kata orang ia menggemaskan. Kata aku, kucing biasa saja. Aku belum menemukan alasan mengapa kucing begitu menggemaskan 😂 Aku juga belum terbiasa mengelus bulu kucing, bukan karena enggan atau tak suka. Hanya saja, naluriku belum secara otomatis melakukan itu wkwk

Yang biasa aku lakukan saat ini hanya membiarkan si kucing berada di dekatku. Membiarkan ia bermanja ria di dekatku. Membiarkan ia duduk di sampingku. Dan membiarkan ia menemaniku di atas sajadah wkwk aku juga senang memberikan ia makanan.

Pernah suatu ketika temanku mengatakan seperti ini,“Kalau ada seseorang yang belum menyukai kucing, ada pintu hatinya yang belum terbuka.”

Saat mendengarnya aku langsung tersindir dan menanggapi (merasa tidak terima hahaha),“Ih kok tega bener hahaha Aku kan hanya belum terbiasa saja bercengkrama dengan binatang. Dalam hal ini, si kucing. Aku memiliki sedikit pengalaman dengan binatang. Aku tahu kok kepada binatang kita harus sayang dan tidak memukul. Aku juga tahu kita harus berbagi makanan dengan binatang. Aku juga tahu binatang memang harus dirawat :p Hanya sebatas itu saja, sih.”

Kemudian aku menambahkan,“Tetapi, sampai sekarang, aku belum melihat kucing itu hewan menggemaskan. Sejak kecil aku memang belum pernah memelihara binatang sih. Mungkin itu alasannya? Hahaha baiklah, mungkin mulai sekarang aku harus lebih sering mengamati binatang. Mungkin kelak, setelahnya aku akan melihat tingkah menggemaskannya 😂.”

Tentang menyukai binatang atau tidak. Nyaman berada didekat binatang atau tidak, aku rasa hanya tentang waktu. Seberapa sering kita membersamai mereka. Kalau sedikit sekali pengalaman seperti aku, wajar kok kalau kamu belum mendapat chemistry bersamanya hehe yuk mulai sekarang, kita perhatikan si kucing. Mungkin esok kita akan selalu ingin berada didekatnya 😝

**

Sebelumnya aku pernah menulis tentang kucing juga. Silakan klik disini kalau teman-teman ingin membaca 😀

Mengusahakan Kebaikan Bersama

Pada setiap perkara, kita akan diberikan begitu banyak pilihan untuk setiap kesempatan. Pilihan yang memang datang sendiri pada skenario kehidupan. Atau pilihan yang memang kita cari tahu sendiri.

Pada pilihan yang kita cari tahu sendiri, seringkali kita menemukan orang bersikap egois namun beralasan ‘setiap orang berhak mendapatkan yang terbaik’. Mendengarnya sungguh ironis. Kenyataan menunjukkan bahwa sikap egois seringkali melukai perasaan orang lain. Kita begitu gigih mengutamakan diri sendiri hingga terlupa bagaimana keadaan orang lain. Kita lupa melontarkan pertanyaan ini pada diri sendiri,“Atas pilihan dan keputusanku ini, adakah hati yang tersakiti?”

Beberapa orang berkata, kita harus bertahan pada kehidupan yang keras ini. Kita harus menyadari setiap orang tidak sama seperti diri kita. Tidak semua orang berbuat baik seperti yang kita lakukan. Jadi, adaptasilah pada kehidupan yang keras ini. Tidak ada yang benar-benar tulus seperti itu.

Meskipun hati begitu menolak keras atas pernyataan itu, aku memilih untuk mendengarkan saja. Aku tahu, berdiskusi dengan dia yang tidak memiliki nilai dan tujuan sama adalah sia-sia. Sebab, tidak akan ada kesepakatan. Hal itu wajar. Tentang nilai dan tujuan memang tidak akan pernah bisa dipaksakan.

**

Setiap Orang Berhak Mendapatkan yang Terbaik

Aku setuju dengan pernyataan di atas. Allah telah berjanji, setiap hal telah berpasang-pasangan. Yang baik akan berpasangan dengan yang baik, begitu juga sebaliknya. Maka, agar janji Allah terjadi, kita pun harus mengusahakannya.

Berusaha mendapatkan yang terbaik bukan berarti hanya memikirkan diri sendiri. ‘Selalu ada cara’ memilih sikap untuk kebaikan bersama. ‘Selalu ada cara’ memilih tanpa menyakiti sesama. ‘Selalu ada cara’ membuat keputusan tanpa membuat luka. Aku yakin setiap orang bisa memilih ‘cara’ itu. Aku yakin setiap orang tahu bawa ‘cara’ itu adalah baik. Aku tahu setiap orang memiliki hati yang tulus untuk selalu peka pada setiap ‘cara yang benar’. Hanya saja, semua tergantung setiap orang. Mau atau tidak mengambil cara itu.

Berdasarkan pengalamanku, ketika memutuskan mengambil cara yang baik, jangan pernah berharap apa-apa atas keputusan itu. Tugas kita berakhir ketika selesai melakukan perbuatan baik. Dampak setelahnya adalah urusan Allah.

Jangan membuat pengharapan berdasarkan nilai dan tujuan kita. Jangan berharap pada manusia. Labuhkan harapan kita hanya pada Allah. Hanya dengan cara itu, kita melindungi hati ini agar tidak terluka dan kecewa. Hanya dengan cara itu, hati kita akan terjaga dan tetap bahagia.

Bertahan pada Kehidupan yang Keras

Seseorang mengatakan,“Ketulusan tidak pernah salah. Yang salah adalah memberikan ketulusan pada orang orang yang salah.”

Inti dari kalimat itu sebenarnya, Ia ingin mengingatkanku. Jangan pernah menyesal telah melakukan segala hal menggunakan hati. Jangan pernah menyesal telah melakukan perbuatan dengan dengan tulus. Meskipun perlakuan yang didapat tidak begitu baik, bahkan buruk, tak apa. Kamu melakukan itu bukan untuk mendapatkan hal baik dari orang lain, kan? Kamu melakukan itu, karena hanya dengan cara itu hati dan pikiranmu merasa nyaman. Hanya dengan perbuatan seperti itu hati dan pikiranmu merasa bahagia.

Bertahan pada kehidupan yang keras bukan berarti kita harus bersikap keras. Hingga saat ini, yang aku yakini, jangan sampai rasa sakit merubah diri sendiri menjadi lebih buruk. Melakukan hal yang sama hanya karena ia melakukan hal tidak baik, hanya akan melukai hati kita sendiri.

Yang tidak boleh dilupa, hal baik akan mendatangkan hal baik. Jika tidak hari ini, mungkin esok. Jika tidak esok, mungkin lusa. Jika tidak lusa, mungkin suatu saat. Saat-saat itu pasti akan datang. Yakin, Allah Maha Baik akan mendatangkan hal baik pada waktu dan saat yang tepat 🙂

Satu hal lagi yang tidak boleh dilupa, hal baik tidak akan datang dari seseorang atau hal yang sama. Bisa jadi hal baik itu datang dari orang lain atau tempat lain. Bukankah, kebaikan itu begitu luas? Bukankah kebaikan itu bisa datang dari banyak hal? Bukankah kebaikan itu bisa datang dari mana saja?

**

Kita selalu berhak mendapatkan yang terbaik. Dalam mengusahakannya, semoga kita tak lupa bahwa setiap pilihan dan keputusan yang diambil, akan memberikan dampak pada kehidupan orang lain. Jika kebaikan bersama bisa kita dapatkan, mengapa harus ada orang lain yang dikorbankan?

Aji dan Fitri

Kami adalah tiga orang yang memiliki karakter berbeda. Namun, hukum alam tetap bekerja. Bagaimana pun perbedaan hadir, pasti ada beberapa kesamaan yang akan mendekatkan. Itulah yang terjadi dengan kami.

Kami memiliki hobi dan kesukaan yang berbeda. Aji hobi touring. Fitri hobi kulineran. Aku hobi travelling. Aji senang ngecat motor. Fitri senang datang ke tempat kekinian. Aku senang menulis. Aji dan Fitri suka ngelawak. Kalo aku, suka dengerin mereka ngelawak 😂😂

Lumayan banyak perbedaan kesukaan kami. Meskipun begitu, ada satu kesamaan kami. Kami sama-sama tidak mudah percaya dengan orang baru. Kami membutuhkan waktu lama untuk mengenal orang lain. Kami membutuhkan waktu lebih lama untuk percaya orang lain. Baca saja beberapa faktanya. Harus menunggu lima bulan lamanya, hingga kami saling mengenal. Harus menunggu lima bulan lamanya, hingga kami bisa begitu mudah saling bercerita. Harus menunggu lima bulan lamanya, hingga kami begitu leluasa berkeluh kesah. Harus menunggu lima bulan lamanya, hingga kami berani saling meminta tolong. Harus menunggu lima bulan lamanya, hingga kami merasa nyaman satu sama lain.

Bagi beberapa orang melakukan semua itu mungkin mudah dilakukan dengan siapa saja. Bagi kami tidak.

Perkenalkan, mereka adalah Aji dan Fitri. Usia mereka dua dan tiga tahun di bawahku. Tulisan di bawah nanti adalah tentang keduanya.

***

Aji. Ia adalah anak pertama dari dua bersaudara. Memiliki kedua orang tua yang bekerja. Namun, ia tidak menjadikan alasan itu agar bergantung pada orang tua. Aji sudah mandiri sejak remaja. Aku lupa sejak SMP atau SMA. Yang jelas, sejak saat itu, ia ingin menghasilkan uang sendiri. Dan sejak saat itu pula hobinya adalah berwirausaha.

Aji senang mencoba hal baru. Ia tidak malas belajar hal baru. Ia juga tidak mudah menyerah. Pernah suatu ketika ia bercerita, Aji pernah belajar merakit mesin motor. Namun ternyata, keahliannya bukan dalam bidang itu. Beberapa teman juga mengejek ketidakmampuannya. Kata mereka, untuk apa melakukan hal yang tidak ia kuasai? Kata mereka, melakukan hal itu hanya buang-buang waktu saja.

Aji itu keren. Ejekan teman tidak menurunkan tekadnya untuk maju. Ejekan malah ia jadikan motivasi agar sukses. Kamu tahu apa yang Aji lakukan selanjutnya? Karena ia senang belajar, Aji mengubah minatnya itu. Ia menyadari keahliannya bukan merakit mesin motor, maka Aji mengalihkan minatnya ke bidang lain.

Aji belajar mengecat bagian-bagian motor. Alhamdulillah, berkat ketekunannya, ia berhasil melakukannya dengan baik dan masih melakukan hobinya hingga saat ini.

Usia Aji memang lebih muda dariku. Namun, untuk perjuangan hidup, kemandirian, ketekunan, sikap pantang menyerah, dan semangat belajarnya, kupikir, aku masih harus banyak belajar darinya.

***

Fitri. Ia adalah anak pertama dari dua bersaudara. Seperti anak pertama pada umumnya, Fitri terbentuk menjadi sosok yang bertanggung jawab. Saking tanggung jawabnya, terkadang ia terlalu takut untuk salah dan terlalu takut untuk mengecewakan orang lain. Ia adalah tipikal orang yang sangat menjaga perasaan orang lain. Ia sangat berhati-hati menjaga lisan dan perbuatannya. Katanya, jangan sampai ia melukai orang lain. Katanya, jangan sampai ia mengecewakan orang lain.

Dalam pekerjaan, Fitri adalah anak yang rajin. Ia tidak suka menunda pekerjaan dan senang menyelesaikan tugas segera mungkin. Sepertinya, aku belum pernah mendengar anak ini mengeluh capek atau males gerak :’)

Selain baik dalam pekerjaan, Fitri juga ceria dan rajin menyapa orang lain. Oleh karena itu, siapapun akan senang berada didekatnya. Siapapun tak akan pernah canggung berada didekatnya. Mimik wajah yang bersahabat membuat siapapun tak akan pernah takut untuk menyapanya lebih dulu.

Fitri sangat ramah. Ia akan menyapa siapapun. Mas-mas penjaga parkiran, mbak-mbak kasir, ibu-ibu cleaning service, adik-adik penjaga kantin, abang-abang bakso malang, pokoknya siapapun orang yang ia kenal akan disapa. Berada didekatnya dan berjalan bersamanya, aku selalu diingatkan bahwa sejatinya sesama manusia memang harus menebar senyum dan keramahan. Kita hidup di dunia memang untuk menebar kebaikan, kan?

Fitri juga memiliki selera humor yang tinggi, lho. Jadi, kalau didekatnya aku senang sekali. Dia lucu. Kata-katanya selalu berhasil membuat aku sakit perut. Sakit perut karena nahan ketawa supaya nggak berisik wkwk Kemampuan humorku lumayan meningkat berkat dirinya hahaha terima kasih, Fitri!

Usia Fitri tidak jauh dari usia adikku. Ketertarikannya juga hampir sama dengan adikku. Oleh karena itu, kalau lagi bersamanya, ngerasanya kayak teman kerja rasa adik 😂 aku belajar banyak dari Fitri bahwa membuat orang lain nyaman itu penting. Karena dengan begitu, orang lain tidak akan sungkan dengan kita. Karena dengan begitu, orang lain akan mudah berteman dengan kita. Bersama Fitri, aku jadi tahu lho pentingnya bersikap ramah dan murah senyum kepada orang lain 🙂

***

Rezeki tidak hanya tentang uang. Rezeki lebih luas dari itu. Bertemu dengan Aji dan Fitri adalah rezeki yang Allah berikan untukku. Bertemu dengan mereka membuat aku yakin bahwa usia hanyalah angka semata. Kedewasaan tidaklah pernah bisa diukur dengan seberapa banyak jumlah usia.

Kenyataannya, hanya mereka yang pandai mengambil pelajaranlah yang semakin mendewasa. Hanya mereka yang paham kebermanfaatan dirinya untuk orang lainlah yang semakin mendewasa. Hanya mareka yang mau mengerti perasaan orang lain lah yang semakin mendewasa. Dan hanya mereka yang menghilangkan keegoisanlah yang semakin mendewasa.

Aji dan Fitri mungkin tidak begitu menyadari bahwa perbuatan yang mereka lakukan selama ini ternyata menginspirasi orang lain. Aku terinspirasi dengan mereka. Aji yang bermental baja. Fitri yang begitu menyenangkan. Terima kasih telah memberi begitu banyak. Terima kasih telah hadir dalam kehidupan Shinta
😊🙏

Rasa Cemas Tidak Sesederhana Itu

Mulai hari ini, aku tidak akan menganggap rasa cemas begitu saja. Aku tidak akan menyepelekan lagi rasa cemas yang dirasakan orang lain. Aku tidak lagi menyamakan rasa cemas satu orang dengan orang lainnya.

Kini aku tahu. Rasa cemas setiap orang berbeda-beda. Rasa cemas ada karena ‘pengalaman’ yang melatarbelakanginya. Rasa cemas harus benar-benar dikelola dengan baik dan benar. Rasa cemas tidak sesederhana itu.

Apalagi untuk orang-orang yang kesulitan mengendalikan rasa cemasnya. Mereka bukan tak ingin berhenti untuk cemas. Mereka ingin, tapi pada beberapa kondisi, rasa cemas mampu mengendalikan kehidupannya. Hingga ia tak mampu berdiri pada kakinya sendiri. Ia tak mampu merasa nyaman pada rumahnya sendiri. Ia tak mampu bermimpi pada hidupnya sendiri. Benarkah? Iya. Aku dapat menjaminnya.

Takdir Allah memang selalu datang pada saat yang tepat. Meski kita tak ingin, ia tetap datang. Meski kita tak pernah menanti, ia akan datang.

Siang itu, tiba-tiba bapak memberitahu bahwa ada seseorang yang membutuhkan bantuanku. Ia tak bisa berjalan karena baru saja mengalami operasi. Kini, ia ingin berjalan lagi. Ia adalah wanita berusia 20 tahun. Ia membutuhkan ‘seorang wanita’ untuk melatih dirinya berjalan. Dengan alasan jenis kelamin itulah, bapak mempercayakan orang tersebut padaku.

Saat mendapatkan kabar itu, aku menduga ia baru saja mengalami suatu kecelakaan. Entah tangan atau kaki yang mengalami cidera sehingga harus dioperasi. Namun ternyata tidak. Setelah melakukan komunikasi bersama orang tuanya melalui whatsapp, ternyata wanita ini melakukan operasi empedu enam bulan yang lalu. Aku semakin penasaran saja. Sepengetahuanku, kemungkinannya kecil sekali ada orang yang tak mampu berjalan hanya karena operasi empedu. Apalagi wanita ini masih 20 tahun. Kalau untuk lansia, bisa saja terjadi. Adanya komplikasi penyakit dan luka operasi empedu bisa membuat lansia tak bisa bangun dari tempat tidur dalam waktu lama. Tak bangun dalam waktu lama bisa membuat otot-otot tubuh seseorang mengalami kelemahan. Tak bangun dalam waktu lama akan membuat seseorang kesulitan berjalan.

***

Pada tulisan ini, aku akan memanggil ia, ST. Beberapa hari lalu, aku datang ke rumah ST. Saat itu, aku tidak langsung bertemu ST. Neneknya mengatakan, ST tidur di kamar atas. Sambil menunggu orang tua ST sampai rumah, aku berbincang saja dengan si nenek. Nenek bercerita dengan sedih namun menunjukkan ketegaran. Aku melihat raut kecemasan dan kesedihan disana. Melihat mimik dan intonasi suara nenek, ia berusaha agar tidak menangis di depanku.

Untuk bisa membantu, aku harus menggali banyak informasi tentang ST dan peran keluarganya. Melihat kondisi nenek, aku pun harus bertanya dengan hati-hati. Jangan sampai aku membuat luka di atas luka. Jangan sampai aku menggali informasi dengan cara yang tidak tepat.

Setelah berbincang dengan nenek, aku tahu ST tidak bisa berjalan bukan karena operasi empedunya. Ada masalah lain yang sangat serius. Masalah yang tidak akan kumengerti secara utuh jika tidak mendengarkan langsung dari narasumbernya. Aku harus mendengar langsung dari orang tuanya.

Mama ST menceritakan awal mengapa ST tidak mampu berjalan lagi. Sebenarnya, ST tumbuh dan berkembang seperti anak normal lainnya. Namun ia adalah sosok anak yang pemalu. Meskipun pemalu, ia tetap melakukan banyak hal persis sama seperti anak seumurannya. Hingga akhirnya datang satu peristiwa yang merubah kehidupan ST menjadi buruk. Hingga seperti saat ini.

ST berhenti sekolah sejak kelas 5 SD. Beberapa alasan seperti sahabat dekat pindah sekolah, merasa dirinya tidak cantik, dan diejek teman-teman karena menggunakan kaca mata tebal menjadi alasan ST untuk menolak sekolah. Sejak saat itu, ST belajar di rumah bersama guru dan neneknya yang berprofesi sebagai guru SMP.

Sejak berhenti sekolah sampai usia 17 tahun, ST masih mau keluar rumah, meskipun sebisa mungkin sedikit melakukan komunikasi dengan orang lain.

Saat usia 17 tahun, ST mengalami masalah pada empedunya dan dokter menganjurkan agar segera dilakukan operasi. Penyakit tersebut semakin membuat ST tidak percaya diri dan menyerah pada hidupnya sendiri. Ia kehilangan semangat untuk hidup.

ST memutuskan untuk tidak keluar kamar dan memilih membersamai waktu di dalam sana. Ia memutuskan hubungan sosial dengan orang lain. Ia memberi jarak pada saudara kandung dan keluarga besarnya. Ia memilih berdiam diri di tempat tidur.

Ia tak menemukan alasan mengapa ia perlu memiliki mimpi. Ia tak menemukan alasan mengapa harus mencoba. Ia memikirkan kemungkinan-kemungkinan terburuk sebelum mencoba. Ia memikirkan kegagalan-kegagalan sebelum mengahadapi. Ia pun mempertanyakan takdir Allah. Mengapa ia harus mengalami kehidupan sulit seperti ini? Selain itu, masalah fisik juga menjadi alasan ST menolak untuk berjalan. ST merasa sesak dan jantung seperti meledak tiap kali duduk atau berjalan. Karena hal tersebut ST takut menggerakkan tubuhnya.

Mama adalah orang terpilih yang ST percaya. Hanya kepada mama segala pikiran negatif ia ungkapkan. Hanya kepada mama segala kekhawatiran ia ceritakan. Hanya kepada mama segala kecemasan ia luapkan. Dan hanya kepada mama segala penolakan ia katakan. Bagaimana dengan orang lain? ST hanya akan mengatakan satu kata saja. Ia tidak akan mau berbicara banyak. Segala upaya sudah orang tua lakukan. Namun, nihil hasilnya. Pemeriksaan dokter atau psikolog tak bisa dilakukan. Sebab, ST memilih diam seribu bahasa. Bahkan, bergerak pun tidak.

***

Saat ini, ST berusia 20 tahun. Lebih dari 5 tahun ST mengalami gangguan kecemasan. Ia hidup dalam ketakutan dan ketidaktenangan.

Gangguan kecemasan bukan hanya kalimat biasa. Gangguan kecemasan adalah masalah serius yang bila tidak diatasi segera mungkin akan merenggut kehidupan seseorang.

Sebelumnya, yang kutahu, cemas hanya rasa tidak menyenangkan yang sifatnya sementara. Ia akan hilang bila penyebab cemas telah dihadapi. Ia akan hilang bila kita telah melaluinya. Ia akan hilang bila kita telah melewati momen. Namun ternyata tidak semua mengalami seperti itu. Ada orang-orang yang kesulitan menghadapi rasa cemasnya.

Melihat bagaimana ST menjalani semua ini, rasanya sungguh menyakitkan hati. Ternyata ada seseorang yang hidup dengan rasa cemas yang terus menerus dalam waktu lama. Ternyata ada seseorang yang kehilangan kesempatan untuk menikmati karunia-Nya. Ternyata ada seseorang yang kehilangan kesempatan untuk menggunakan banyak peluang. Ternyata ada seseorang yang kehilangan kesempatan untuk bersyukur.

Mungkin kita harus membayangkan sejenak. Bagaimana keadaan kita ketika menghadapi sesuatu yang sangat menakutkan? Bukankah kita akan berkeringat, jantung berdebar, sakit kepala, bahkan muntah-muntah?

Bayangkanlah. Bila kita merasakan semua itu setiap hari, setiap saat, dan setiap waktu? Bisakah kita hidup dengan tenang? Bisakah kita hidup dalam damai? Bisakah kita melangkahkan kaki ini? Kurasa tidak. Pikiran dan hati tak akan mampu bekerja dengan baik dalam ketidaktenangan.

ST merasakan dan mengalami semua itu. Pasti rasanya lebih menyesakkan dan menakutkan.

***

November 2018

Meskipun rasa cemas masih sulit untuk dihilangkan, ST sudah mulai bersemangat lagi. ST ingin berjalan. ST ingin kuliah. ST ingin bekerja. Aku datang ke rumahnya atas permintaan ia sendiri. Ia ingin latihan berjalan. Ia ingin belajar. Mendengar kabar itu dari mamanya, aku senang sekali.

Saat bertemu dengannya, meskipun masih menatap dengan malu dan sering kali menunduk, aku tahu ia bersemangat. Ia melakukan latihan dengan baik. Ia mengikuti instruksi dan selalu mau mencoba setiap gerakan yang kuberikan.

Ia masih tak mudah menjawab pertanyaan. Tak apa. Seberapa pun lama ia menjawab, aku akan menunggu. Untuk satu kata yang ia ucapkan, aku ucapkan banyak terima kasih. Untuk sesekali kontak mata yang ia lakukan, aku ucapkan terima kasih. Untuk satu gerakan tubuh yang ia lakukan, aku ucapkan terima kasih. Terima kasih sudah berani mencoba. Terima kasih sudah berani melakukan. Terima kasih telah mengalahkan rasa takutmu. Meskipun rasa cemas tak henti menghampirimu.

**

Sesering mungkin, aku minta ia menarik napas dan menghembuskan napasnya. Tak perlu buru-buru berjalan. Tak perlu buru-buru bergerak, sungguh. Lakukan yang paling mudah bagimu. Lakukan dengan bahagia. Aku disini. Aku di sampingmu. Aku akan membantumu.

Berdoa Saja

Aku berusaha mencari tahu. Sebab aku menyadari, ‘dalam hal ini’ aku benar-benar tidak mengerti.

Aku seperti kehilangan empat tahun masa mudaku. Ah, seperti drama korea 30 but 17 saja. Singkat cerita, drama tersebut menceritakan tentang seseorang yang bangun dari koma. Ia mengalami kecelakaan pada usia remaja. Dan koma selama belasan tahun. Hingga akhirnya, ia terbangun pada usia 30 tahun. Bisa membayangkan tidak bagaimana kondisinya? Saat bangun pasti ia bingung sekali. Wajahnya berubah menjadi dewasa. Tanggung jawab pun sudah menunggu di depan sana. Padahal ia merasa, baru saja memejamkan mata. Ia merasa baru saja bangun dari tidur siangnya. Ia pun tak tahu apa-apa. Ia bingung dan tak tahu harus memulai dari mana.

Aku tidak mengalami koma seperti drama korea itu. Tapi aku seperti melewatkan kesempatan melakukan kekeliruan. Aku seperti melewatkan kesempatan untuk memikirkan diriku sendiri. Aku seperti melewatkan kesempatan untuk membahagiakan diri sendiri. Bersikap terlalu berhati-hati ternyata tak baik. Bersikap terlalu takut membuat kekeliruan ternyata tak baik. Yang berlebihan dan terlalu memang tak baik.

Aku berada pada lingkungan yang begitu baik saat itu. Tidak ada egoisme. Hanya ada toleransi dan kebijaksanaan. Semua orang berusaha memudahkan urusan orang lain. Semua orang berusaha mendahulukan kepentingan orang lain. Semua tidak hanya memikirkan dirinya sendiri. Aku bersyukur sekali diberikan kesempatan itu.

Aku melihat banyak teladan baik di sana. Bagaimana mungkin aku tidak belajar lebih cepat? Bagaimana mungkin aku tidak mendewasa lebih cepat? Aku belajar banyak hal disana. Namun ternyata, ada beberapa hal tentang ‘kebutuhan diriku sendiri’ yang terlewatkan.

Aku akan menyebutnya ‘dalam hal ini’ saja. Tak apa ya, aku tidak menjelaskan dengan rinci apa yang dimaksud dengan ‘dalam hal ini’. Tulisan ini tidak akan menceritakan tentang itu.

‘Dalam hal ini’, aku benar-benar tidak tahu. Entah karena lupa atau memang aku tak memiliki pengalaman itu. Rasanya seperti, aku baru belajar jalan dan tak tahu tahapan jalan seperti apa yang seharusnya kulakukan. Aku baru belajar bicara dan tak tahu kosa kata apa yang seharusnya kukatakan. Aku baru belajar merasakan dan tak tahu sesungguhnya rasa apa yang sedang kurasakan ini. Otakku seperti lupa bagaimana cara mengingat memori cara berjalan, cara berbicara, dan cara merasa. Benar-benar sesulit itu.

Ini tak mudah. Maka, aku bertanya pada mereka yang kuanggap lebih tahu. Aku mempercayai mereka. Aku berterima kasih. Meskipun merasa aneh dengan cara otakku bekerja ‘dalam hal ini’, mereka tetap mengajariku perlahan-lahan. Dan aku terperangah dibuatnya. Hanya kalimat, “oh begitu”, “ternyata begitu”, “haruskah seperti itu?”, hingga akhirnya aku pun mengatakan “baiklah, aku akan mempertimbangkannya”, pada mereka. Aku akan mempertimbangkan dan memikirkannya, sungguh.

Namun, pada akhirnya, sebanyak apapun aku mencari tahu, tak akan pernah cukup. Pada akhirnya, aku pun menyadari, ketidaktenangan tak akan pernah hilang. Hingga Allah memberikan keyakinan pada hati. Maka, ketika pikiran dan hati tidak terhubung dengan baik dan ketika suatu perkara begitu membingungkan, berdoa saja. Berdoa yang banyak. Berdoa lagi. Berdoa terus. Pada-Nya.

Kita Berbeda

Berbincang dengan Kak Dhika memang selalu menyenangkan. Selalu saja ada topik seru yang kami bicarakan. Topik tak melulu tentang hal serius dan berat. Kadangkala, kami juga membicarakan topik ringan yang membuat perut begitu sakit karena menahan tawa.

Pengalaman Kak Dhika bersosialisasi dengan orang kukira sudah banyak sekali. Terbukti dari cara Kak Dhika mengendalikan diri dalam keadaan yang tidak menyenangkan. Kak Dhika tak pernah tersulut meskipun pihak lain begitu menyulut. Kak Dhika tak pernah meninggikan intonasi suara, meskipun pihak lain begitu meninggikan intonasi suaranya. Darinya, aku melihat bagaimana orang dewasa menempatkan diri dengan baik diberbagai situasi. Darinya, aku belajar bagaimana bersikap profesional.

Ada seseorang yang mengganggu kami. Seseorang yang begitu gigih mengejar tujuan, namun tak peduli dengan sekitar. Seseorang yang begitu gigih mencapai target-target, namun tak menganggap orang disekitarnya ‘hadir’. Seseorang yang memiliki begitu banyak kemampuan, tapi tak pernah mau untuk berbagi. Mengamatinya, kami pun menyadari satu hal. Ternyata benar adanya, memang ada seseorang yang ‘lupa’ hakikat hadirnya ia di dunia ini. Ia lupa bahwa sebaik-baiknya manusia adalah yang bermanfaat untuk orang lain. Ia lupa bahwa sebaik-baiknya ilmu adalah ilmu yang dirasakan manfaatnya oleh orang banyak.

Perbincangan kami begitu unik. Ketika mendiskusikannya, kami kesal, kami jengkel, kami marah, kami tak bisa memahaminya meskipun berulang kali berusaha memahami, kami tak bisa berkata apa-apa.

Namun akhirnya, kami pun tahu sikap apa yang sebaiknya dipilih. Kami tak perlu memaksakan diri untuk mengerti dan memahami. Kami tak perlu memaksakan diri untuk menerima kehadiran dirinya dalam hidup kami. Kami juga tak perlu begitu memikirkan ‘nilai’ apa yang ia yakini. Kami tak perlu menyakiti dan mengotori pikiran dan hati kami hanya karena hal-hal yang bersebrangan. Biarlah ia hidup dengan caranya sendiri, namun kita pun tetap harus menjaga diri jangan sampai menjadi korban atas perilakunya. Bersikap hati-hati untuk diri sendiri adalah keharusan, kan?

Dalam kehidupan, memang akan ada orang-orang yang ‘berbeda’. Ia tak mengenal kata ‘saling’. Ia tak mengenal kata ’empati’. Ia tak mengenal kata ‘simpati’. Dan ia tak mengenal kata ‘memberi’. Namun, biarkan saja ia hidup dengan caranya. Manusia itu banyak. Karakter itu beragam. Nilai yang dianut pun berbeda. Tujuan yang ditentukan berbeda. Cara yang dipilih pun tentu berbeda. Apakah itu menjadi masalah? Tidak. Jalani saja kehidupan kita dengan baik. Pilih saja pilihan-pilihan yang membuat hati kita tenang dan bahagia.

Hati yang Bahagia

Jika menjalani hari dengan hati yang bahagia, maka jalan terjal atau landai pun tak ada beda. Keduanya sama-sama mudah dijalani. Hati adalah modal untuk memulai sesuatu. Oleh sebab itu, banyak orang mengatakan “luruskan niat”, karena dengan begitu tak akan ada kesulitan berarti.

Niat yang lurus dan hati yang ikhlas akan memudahkan segala urusan. Solusi juga akan mudah didapatkan. Gagal rencana A, kita akan berusaha melakukan rencana B, rencana B gagal lagi, kita akan mencoba rencana C, begitu seterusnya sampai kita berhasil melewatinya. Kita tak akan lelah mencoba dan berusaha. Kita tak akan berputus asa. Karena kita yakin, siapa yang bersungguh-sunguh pasti akan berhasil. Kita pun mengerti dengan baik arti sebuah kegagalan. Gagal berarti memang belum berjodoh, bukan hal yang baik untuk kita, dan harus belajar lebih banyak.

Untuk Kejadian yang Menyakitkan

Hati yang bahagia akan membuat kita mudah memaafkan. Hati yang bahagia membuat kita mudah mengerti perlakuan tak baik dari orang lain. Hati yang bahagia membuat kita lebih mudah memetik hikmah pada setiap kejadian. Hati yang bahagia membuat kita mampu berpikir dengan jernih bahwa berbuat salah sungguh tak apa. Kita dan orang lain hanyalah manusia biasa. Yang tak akan luput dari kesalahan. Hidup tidak hanya tentang hal-hal yang membuat hati senang, kan?

Untuk Menjalani Kehidupan Sehari-hari

Hati yang bahagia akan membuat kita melakukan banyak hal dengan cara yang menyenangkan. Hati yang bahagia akan memudahkan kita mengambil keputusan dengan kepala dingin dan bijaksana. Hati yang bahagia juga memudahkan kita untuk tersenyum tulus pada kondisi apapun.

Layaknya iman yang mudah dibolak-balikkan, begitu juga dengan keadaan hati. Saya tak akan mengatakan membuat hati bahagia itu mudah. Membuat hati bahagia adalah sebuah tantangan. Namun, kita perlu mengusahakannya. Hal ini semata-mata bukan demi orang lain. Melainkan, demi diri sendiri. Demi kebahagiaan kita. Bukankah setiap orang berhak untuk bahagia?

Mari bersama-sama berjuang! Hati yang bahagia tidak hanya mimpi semata jika kita memperjuangkan dalam kehidupan nyata 😉