Sejak Awal Kita Memang Berbeda

Kepada kamu. Bila nanti kita bertemu dan hidup di atap yang sama, jangan pernah menyesal telah memilih aku. Sebab, nanti, di atap yang sama, kamu akan benar-benar tahu siapa aku. Sudah siapkah kamu?

Semoga kita selalu mengingat tentang ini. Kita adalah dua orang yang berbeda. Aku perempuan dan kamu laki-laki. Allah yang telah memberikan takdir itu. Kita berasal dari orang tua dan keluarga yang berbeda. Kita tumbuh dan mendewasa pada lingkungan yang berbeda. Kita memang hidup pada kebiasaan yang berbeda. Kita adalah dua manusia yang memiliki karakter yang berbeda. Lantas, bila nanti kita menemukan banyak hal berbeda ketika tinggal bersama, haruskah kita menyesal, berputus asa, dan kemudian memilih menyerah? Semoga hal-hal itu tak pernah muncul di dalam benak kita.

Tahukah kamu? Sungguh, yang kita butuhkan bukanlah menjadi sama, melainkan kemampuan untuk saling memaafkan dan menerima.

Sedari awal, memiliki kemampuan menerima keadaan orang lain memang bukan hal mudah. Aku yakin kita sudah terbiasa menemukan hal yang benar-benar beda. Contohnya saja tentang aku dan adik perempuanku. Usia kami terpaut empat tahun. Saat kecil, masalah kami hanya seputar memperebutkan mainan atau rasa cemburu karena merasa ayah dan mama lebih sayang kepada salah satu kami. Ketika besar, masalah datang dari berbedanya karakter kami.

Aku yang terlalu perhatian selalu merasa terganggu dengan sifat adikku yang super cuek. Adikku yang super cuek selalu merasa terganggu dengan aku yang cerewet karena selalu mengingatkan dirinya. Aku yang tak senang diburu waktu saat mengerjakan tugas selalu terganggu dengan adikku yang senang mengerjakan apapun pada detik-detik terakhir. Pada awalnya semua perbedaan ini tidak menjadi masalah ketika kami berjalan pada jalan masing-masing. Namun ternyata, semua perbedaan menjadi masalah besar ketika kami harus bekerja sama.

Ketika ego memimpin segalanya, tentu saja kami kesulitan mendapatkan kesepakatan. Aku hanya melihat kesalahan-kesalahan yang adikku perbuat. Begitu juga dengan adikku. Kami hanya ingin dimengerti dan dipahami, tanpa introspeksi diri. Kami lupa tentang kesalahan diri sendiri. Pokoknya, kamu yang salah. Aku yang paling benar. Begitu, pikiran kami berkata.

Ketika ego mengendalikan keadaan, saling bungkam dalam waktu panjang bukan sebuah persoalan. Ketika ego menjadi acuan, saling menuntut tanpa mencari penyelesaian selalu menjadi pilihan. Benarkah keadaan seperti ini yang benar-benar kita mimpikan?

Lalu, bagaimana aku dan adikku akhirnya menemukan kesepakatan? Kami membutuhkan waktu untuk saling merenungkan. Merenungkan tentang kesalahan diri yang telah dilakukan. Merenungkan perkataan dan perbuatan diri yang menyakitkan. Setelah perenungan panjang, maka akan timbul kesadaran. Bahwa perbedaan hadir bukan untuk dipersoalkan. Melainkan untuk dipelajari bersama dan dicari jalan terbaik untuk keduanya. Jalan yang membuat kami merasa nyaman tanpa ada yang dikorbankan. Bukankah hal seperti ini yang disebut indahnya kebersamaan?

Aku dan adikku yang telah hidup kurang-lebih 20 tahun bersama terkadang masih sulit saling menerima, lalu, apa kabar dengan kita yang baru saja memulai hidup di atap yang sama? Aku tahu, hubungan adik-kakak dengan hubungan kita adalah dua hal berbeda. Namun, tentang perbedaan karakter dan kebiasaan di antara dua manusia bukankah tetap sama?

Kelak, mungkin aku akan banyak membuatmu bingung. Mungkin, aku akan banyak membuatmu lelah. Mungkin, aku akan banyak membuatmu kecewa. Jika kamu benar-benar tahu siapa aku, sangat mungkin aku akan menorehkan luka.

Namun aku meminta, bagaimana pun keadaanku nanti, jangan pernah berputus asa dan menyerah terhadapku. Sebab, tak ada Surga untukku tanpa ridhomu. Sebab ridho Allah, tergantung pada ridhomu. Maukah kamu memberi hati yang seluas langit untuk memaafkan segala khilafku? Maukah kamu memberi hati yang lapang untuk menerima aku dengan segala kurangku?

Advertisements

‘Terpapar’ dengan Perbuatan Baik

Saya ini selalu kagum dengan orang-orang yang konsisten melakukan perbuatan baik. Saya kagum dengan Ira dan Kak Dhika.

Ira

Pertama kali saya mengagumi perbuatan baik seseorang adalah saat masih kuliah dulu. Saya kagum pada sahabat saya. Namanya Ira. Rumah Ira di Tangerang Selatan (Tangsel). Jarak Depok-Tangsel sebenarnya bisa ditempuh menggunakan motor. Namun, karena perkuliahan dilakukan setiap hari, Ira tidak mungkin setiap hari pulang ke rumah. Kalau dipaksakan, taruhannya adalah kesehatan Ira. Akhirnya, Ira pun ngekos.

Selama kuliah, saya sering main di kosan Ira. Sekadar numpang tidur siang sambil nunggu kelas kuliah selanjutnya atau nugas bareng. Saking seringnya di kosan Ira, saya pun terbiasa dengan kebiasaan Ira. Ira ini anaknya rajin. Rajin datang tepat waktu, rajin merapikan kamar, dan rajin mandi. Karena sering ‘terpapar’ dengan rajinnya Ira, tanpa sadar, saya pun mengikuti kebiasaannya.

Selain rajin, Ira juga dermawan dan perhatian. Ira suka sekali memberi. Saya ingat betul dulu saat sering main ke kosan Ira, ketika saya sedang malas-malasan di kasurnya, Ira sibuk di dapur menyiapkan makanan untuk saya. Tanpa pertanyaan apapun, tiba-tiba Ira datang membawa semangkuk mie rebus, sepiring nasi, dan sepiring naget ayam. Rezeki anak kuliahan, bahagia betul dapat makanan gratisan :’)

Ada cerita lain tentang sikap perhatian Ira ini. Rumah saya dekat dengan kampus. Saya membutuhkan waktu sepuluh menit saja untuk sampai di rumah. Karena begitu dekat, Ira pun sering main ke rumah. Ira tahu kalau saya memiliki adik-adik kecil. Maka, tiap kali ke rumah, Ira selalu membawa dua kotak yakult. Katanya,”Ini untuk adik-adikmu!” Hati mana yang tidak tersentuh jika selalu ‘terpapar’ perbuatan-perbuatan baikmu, Ra? :’)

Berteman dengan Ira, membuat saya memahami alasan mengapa kita perlu dekat-dekat dengan orang dan lingkungan yang baik. Ternyata, dekat-dekat dengan hal baik akan membuat kita ‘tertular’ dengan banyak kebaikan.

Kali pertama melihat kebaikan Ira, memang tidak secara langsung membuat saya berubah saat itu juga. Kali pertama merasakan kebaikan Ira, juga tidak secara langsung membuat saya ingin melakukan hal itu juga. Yang saya pahami saat itu, saya sadar Ira adalah teman yang baik. Dan saya senang diperlakukan seperti itu. Sesederhana itu pikiran saya.

Kamu tahu? Ternyata ‘terpapar’ dengan kebaikan akan membuat alam bawah sadar kita ‘merekam’ semua itu dalam pikiran. Akhirnya, secara perlahan kita pun akan melakukan hal yang sama dalam keseharian. Mungkin, pada awalnya semua dilakukan untuk membalas kebaikan teman. Tak tahunya lama-lama menjadi kebiasaan.

Kak Dhika

Kali ini, saya kagum pada Kak Dhika. Kak Dhika adalah rekan kerja saya. Kali pertama berjumpa, si kakak langsung memberikan hadiah kepada saya. Saat itu, Poli Rehabilitasi Medik (Rehab Medik) akan membuat seragam baru. Maka, kami pun membeli jilbab baru. Jilbab yang harus dibeli ada tiga buah. Kebetulan yang bertugas mengumpulkan uang adalah Kak Dhika. Ketika ingin membayar, Kak Dhika bilang seperti ini,“Kamu bayar dua jilbab aja. Satu jilbab hadiah dari saya untuk kamu.” Mendengar perkataan Kak Dhika tentu saja saya bingung. Orang yang baru dikenal belum genap dua bulan, langsung memberikan hadiah sebagai tanpa pertemanan. Hati siapa yang tidak terharu bila diperlakukan baik seperti itu. Siapapun kurasa hatinya akan ‘meleleh‘.

Masih tentang Kak Dhika. Sore itu ada seorang perempuan datang ke Poli Rehab Medik membawa sekotak brownis. Langsung saja saya tanyakan Kak Dhika tentang brownis itu,“Kak, itu siapa? Kok tiba-tiba bawa brownis?”, Kak Dhika menjawab,“Dia bagian pendaftaran pasien BPJS. Kemarin, aku minta tolong sama dia cariin berkas berobat bapakku. Karena dia udah baik banget mau bantu, aku kasih aja sekotak yakult. Eh barusan dia malah bawain aku brownis. Kan yang minta tolong aku, kenapa dia bawain brownis ckck.” Kebaikan memang menular, ya. Dan saling menebar kebaikan itu indah.

Ada lagi cerita lain. Aku dan Kak Dhika sedang membahas tentang arisan. Ternyata, Kak Dhika memiliki kebiasaan unik. Ia selalu memberikan buah tangan kepada si pemegang uang arisan tiap kali mendapat arisan. Kata Kak Dhika, si pemegang arisan itu harus kita hargai kebaikannya. Ia sudah berbaik hati menjaga uang arisan dan mengurus urusan arisan. Tanpa dia, mungkin arisan ini tidak akan berjalan dengan baik. Mendengar pandangan Kak Dhika, menambah pandangan baru untuk saya. Kebiasaan unik Kak Dhika sangat bagus dicontoh. Jujur saja, ini adalah kali pertama saya mendengar pandangan seperti itu. Kak Dhika memang baik hati :’)

***

Ira dan Kak Dhika menunjukkan bahwa kebaikan hati bisa dirasakan dari hangatnya seseorang memperlakukan orang lain.

Ira dan Kak Dhika senang memerhatikan orang lain. Sehingga mereka tahu apa yang orang lain butuhkan.

Ira tahu bagaimana memperlakukan teman dengan baik di kosannya, maka ia menjamu saya dengan baik. Ira juga tahu bagaimana cara menyenangkan hati anak kecil, maka ia memberikan yakult untuk adik-adik saya.

Kak Dhika tahu bagaimana membuat nyaman anggota baru, maka ia memberikan hadiah saat saya menjadi pegawai baru.

Kak Dhika juga tahu bagaimana menghargai kebaikan orang lain, maka ia memberikan sekotak yakult kepada mbak pendaftaran BPJS sebagai tanda terima kasih.

Hingga kini saya masih kagum dengan mereka. Semoga rasa kagum ini juga diiringi dengan usaha-usaha melakukan kebaikan yang sama. Terima kasih, Ira dan Kak Dhika. Terima kasih telah menunjukkan banyak kebaikan secara nyata. Semoga Allah senantiasa melimpahkan banyak kebaikan kepada kalian dan keluarga. Aamiin πŸ™‚

Semua Karena Gengsi

Jika kamu menyangka mengungkapkan perasaan akan membuat harga dirimu jatuh, hey, sepertinya kamu keliru. Apa yang akan terjadi pada hatimu, bila jujur pada diri sendiri saja kamu tak mampu?

Menurutku, jujur pada diri sendiri adalah ketika kita mampu mengungkapkan perasaan. Apapun perasaan itu, sedih maupun bahagia. Tanpa dipengaruhi oleh pandangan dan sikap orang lain terhadap diri ini. Sebab kita tahu, yang paling penting adalah ketenangan hati. Bukan ‘apa kata orang lain’ tentang kita. Bukan ‘sikap orang lain’ terhadap kita.

Baru saja aku membuka aplikasi KBBI di gawaiku. Aku menulis kata ‘gengsi’ di sana. Kamu tahu apa definisinya? Di sana tertulis bahwa gengsi adalah terlalu membanggakan ketinggiannya, kehormatan, harga diri, dan martabat. Setelah membaca definisi itu aku pun mengernyitkan dahi. Aku bingung. Bagaimana bisa seseorang menggadaikan kedamaian hatinya hanya untuk menjujunjung tinggi semua itu? Hatinya pasti sesak tiap kali menahan perasaannya.

Banyak sekali pepatah yang mengatakan bahwa jangan pernah bermimpi ‘mengerti’ orang lain sebelum kita mengerti diri sendiri. Dan jangan pernah bermimpi ‘mencintai’ orang lain sebelum kita mencintai diri sendiri. Lalu, apa hubungannya dengan si gengsi ini? Ada hubungannya. Bila kita terus menerus menahan diri untuk tidak jujur terhadap perasaan sendiri, bagaimana mungkin kita mampu mengerti dan memahami kejujuran perasaan orang lain?

Jujur pada diri sendiri memang seringkali menjadi ‘sasaran empuk’ orang-orang yang tidak berperasaan. Mereka menggunakan kejujuran kita untuk keuntungannya sendiri. Jujur pada perasaan sendiri juga seringkali menghadirkan banyak rasa kecewa. Rasa kecewa yang disebabkan oleh ‘reaksi’ yang diberikan orang lain terhadap aksi jujur kita. Reaksi yang menyakitkan hati. Meskipun begitu, ketenangan hati tetaplah utama. Yang menentukan bahagia atau tidak diri kita bukanlah akhir yang baik-baik saja. Melainkan, hati yang berbahagia. Hati kita berhak berbahagia, kan? Kita tidak akan bisa hidup dengan hati yang sesak selamanya.

Dalam hidup, hukum aksi-reaksi pastilah ada. Aksi yang baik tak melulu memberikan reaksi yang baik. Aksi yang buruk juga tidak melulu memberikan reaksi yang buruk. Hasil akhirnya pun tak ada yang tahu. Entah membuat hati luka atau berbunga. Semua kejadian memang hak prerogatif Allah. Maka, dalam bersikap pun kita seharusnya paham tentang itu.

Jujur pada perasaan memang tidak selalu memberikan hasil yang baik. Namun, satu hal yang pasti, jujur pada perasaan akan menyelamatkan diri sendiri. Menyelamatkan diri dari ketidaktenangan hati.

Seandainya Kita Mengenal Bulan Ramadhan

Sabtu kemarin adalah liqo pertamaku tahun ini. Dengan guru dan tempat belajar yang baru. Masjid yang aku datangi berada di dalam sebuah kompleks perumahan muslim. Ini adalah pengalaman pertamaku masuk ke dalam kompleks perumahan muslim. Masjid yang aku datangi tidak jauh dari gerbang utama. Saking dekatnya, kita bisa melihat masjid hanya dari depan gerbang. Keren, ya?

Di depan masjid ada abang tukang sayur dan beberapa ibu-ibu sedang memilih sayur. Karena ini adalah kompleks perumahan muslim, seluruh ibu-ibu pun menggunakan jilbab. Beberapa anak bermain di depan masjid. Mereka juga menggunakan jilbab. Benar-benar lingkungan yang indah, gumamku dalam hati.

Setelah mengamati mereka sekilas, aku segera masuk ke dalam masjid. Rupanya Bu Cucu lebih dulu sampai dan sedang duduk di karpet itu. Sebenarnya aku belum pernah bertemu Bu Cucu. Tetapi, bermodalkan informasi foto profile whatsapp, aku yakin betul itu Bu Cucu.

Bu Cucu tersenyum dan mengulurkan tangannya untuk berkenalan. Aku tersenyum balik dan menyapanya. Bu Cucu masih muda. Mungkin berusia 40 tahun. Berwajah teduh dan ramah. Siapapun tak akan sungkan menyapanya lebih dulu. Seperti perkenalan pada umumnya, kami saling memperkenalkan diri dan bertukar tanya. Kesan pertama bertemu dengannya, Bu Cucu adalah orang yang komunikatif dan rendah hati. Saat asik mengobrol, beberapa temanku datang dan pengajian pun di mulai.

Tidak seperti kelompok pengajianku sebelumnya yang lebih banyak didominasi wanita muda dan belum menikah, kelompok ini kebalikannya. Aku adalah yang paling bungsu. Teman-temanku sudah menikah dan memiliki anak. Mayoritas rentang usia mereka adalah 35-40 tahun. Meskipun begitu, dari segi fisik, mereka tampak tak jauh dariku. Mereka begitu ceria dan senang tersenyum. Mungkin perihal tersebut yang membuat mereka awet muda πŸ˜€

Bu Cucu menjelaskan, kegiatan pengajian ini ada empat yaitu, kultum yang disampaikan oleh anggota, tilawah, materi oleh Bu Cucu, dan setor hafalan. Program kami adalah menghafal juz 30. Dimulai dari Surat An-Naba.

Materi yang disampaikan Bu Cucu adalah tentang keutamaan Bulan Ramadhan. Bu Cucu menjelaskan dengan bahasa yang sederhana dan mudah dimengerti. Ia membuka materi dengan pertanyaan ini,“Apa yang ibu-ibu persiapkan untuk Bulan Ramadhan? Kulkas yang dipenuhin untuk buka puasa dan sahurkah, bu?” kami saling melempar tatap dan terseyum malu. Benar sekali Bu Cucu. Kita seringkali salah memaknai suatu hal penting.

Meteri yang Bu Cucu sampaikan seperti ini,

Bulan ramadhan itu istimewa. Tetapi, orang-orang tidak mempersiapkannya dengan baik.

Ada satu contoh, mungkin akan menggerakkan hati kita. Jika saja kita memiliki baju seharga 100.000 dengan baju seharga 10 juta apakah kita akan memperlakukan keduanya dengan sama? Tentu tidak. Kita akan merawat dengan baik baju yang 10 juta. Mungkin, baju tersebut akan kita kirim ke laundry. Mungkin, kita akan memberi pesan kepada pihak laundry agar mencuci baju dengan hati-hati. Begitu pula dengan Bulan Ramadhan. Jika saja kita tahu keutamaan Bulan Ramadhan, maka kita akan menjaga amal ibadah sebaik mungkin. Sebab, kita tahu Bulan Ramadhan begitu berharga.

Muslim memiliki empat Bulan Haram (Rajab, Dzul Qo’dah, Dzul Hijjah, Al-Muharram) yang bila kita melakukan banyak amal ibadah, akan mendapatkan pahala yang berlipat ganda. Begitu juga sebaliknya. Tetapi, Bulan Ramadhan lebih istimewa dibandingkan bulan tersebut. Kebayang tidak betapa mulianya Bulan Ramadhan ini? Hanya Bulan Ramadhanlah, bila kita beribadah dengan baik, maka segala dosa akan digugurkan. Bulan Ramadhan ibarat Olimpiade bagi umat Islam, goalnya adalah takwa.

Bu Cucu juga menceritakan beberapa fakta di sekitar kita. Aku tertunduk malu mendengarnya. Fenomena itu begitu ‘akrab’ denganku. Sebelum Bulan Ramadhan tiba, semua orang memuaskan diri menyantap makanan yang disuka dan mendatangi tempat yang disenangi, sebab kita tahu saat Bulan Ramadhan tiba akan sulit melakukan semua itu. Saat Bulan Ramadhan tiba, kita begitu sibuk mempersiapkan menu buka puasa dan menyusun agenda kegiatan buka puasa bersama. Saat Bulan Ramadhan berakhir, kita bergembira karena tak sabar menunggu lebaran tiba.

Ada apa dengan kita? Kita seringkali salah fokus terhadap banyak hal. Kita tidak berusaha beribadah sebaik mungkin. Kita malah memikirkan hal lain. Mungkin semua itu dilakukan tanpa sadar. Sebab, kita tak tahu ada banyak kemuliaan yang didapat selama Bulan Ramadhan. Kita tak tahu, Allah memberikan banyak pahala berlimpah bila kita melakukan amal kebaikan. Dan kita tak tahu, Allah mengampuni segala dosa bila kita memohon ampun atas segala kekhilafan.

Bila kita begitu mengenal Bulan Ramadhan, bukankah kita akan bergembira menyambutnya datang? Bila kita begitu mengenal Bulan Ramadhan, bukankah kita akan bersedih bila bulan mulia ini berakhir?

Kamu tahu? Para sahabat Rasul mempersiapkan diri sebelum Bulan Ramadhan tiba enam bulan lamanya. Mereka berlatih beribadah sunnah dan berdoa. Mereka berdoa, agar mendapat keutamaan-keutamaan Bulan Ramadhan dan meraih derajat ketakwaan. Setelah Bulan Ramadhan, mereka juga berdoa agar semua amal kebaikan yang dilakukan diterima oleh Allah. Para sahabat yang sudah dijamin masuk surga saja begitu cemas terhadap amal ibadahnya, bagaimana dengan kita? Kita sepertinya harus banyak introspeksi lagi :’)

Kemarin, ada doa bagus yang Bu Cucu ajarkan. Begini doanya,”Allahumma Ahillahu ‘Alaina Bilyumni. Wal-iman Wassalaamati, Wal-Islam Rabbi Warabbakallah.”

Ya Allah hadirkanlah ramadhan itu kepada kami dengan rasa tenang dan keimanan. Dengan keislaman. Wahai Allah Tuhanku dan Tuhanmu juga.

Sejak Kapan Mulai Mendidik Anak?

Many years ago, I met a young child who had memorised the Quran at 3 years old, so I asked his parents about how they nurtured him.

The father said, β€œWhen his mother was carrying him in her womb, she would recite Quran everyday. When she cooked, she recited Quran upon the food. When she drank, she recited Quran upon the drink. When she was sitting down freely, she would listen to the Quran. When she made du’a, she asked Allah to bless her child to be a person of the Quran. When he was born – his mother would recite Quran before feeding him. When he would sleep, he would listen to the Quran. When she played with him, she recited Quran to him. His entire life of three years was nothing but the Quran, so Allah made its memorisation easy for him. Dear parents, do you see how your piety affects your child? Do you see how your lifestyle can shape your child? Do you see how parenting starts before parenting?

Shaykh Mohammad Aslam

Kalimat di atas adalah kiriman dari sahabatku. Aku dan sahabatku sepakat berbagi satu ayat atau satu hadist setiap pagi. Semua berawal dari unggahan status whatsappku,”Sun will rise and we will try again.” Ia pun menanggapi,“Apapun yang sudah dilakukan, satu langkah kecil, selanjutnya tawakallah kepada Allah.” Setelah berbalas chat, ia mengajakku untuk melakukan tukar ayat dan hadist setiap pagi. Maka, dengan senang hati aku menyetujuinya.

Pagi tadi, aku tidak berbagi ayat atau hadist. Tetapi, berbagi sedikit materi tentang Kajian Kemuslimahan di Masjid UI Hari Rabu kemarin. Materinya bagus sekali. Tentang bagaimana cara memilih sekolah untuk anak. Sahabatku pun menanggapi chatku dengan semangat. Akhirnya, kami pun diskusi tentang topik itu.

Aku dan sahabatku bersyukur sekali mendapat ilmu tentang ini. Oleh karena itu, aku ingin berbagi juga ke teman-teman wordpress. Selamat membaca. Semoga bermanfaat πŸ™‚

Materi ini disampaikan oleh Ustadzah Masfarwati Muslim. Kemarin, ustadzah senang sekali banyak muslimah single yang hadir. Kata beliau, dengan tahu ilmunya lebih awal, semoga kami bisa menjadi ibu yang baik.

Mendidik anak ada tiga yaitu sebelum anak di dalam rahim, saat di rahim, dan setelah anak dilahirkan.

Sebelum Anak di dalam Rahim

Pertama, memilih calon yang shalih/shalihah. Semoga dalam memilih teman hidup kita tidak hanya memikirkan diri sendiri. Seperti hanya memikirkan kriteria idaman atau memikirkan kesamaan antara diri kita dengan dia. Ternyata rumah tangga tidak sesederhana itu. Kelak, ada banyak amanah yang akan kita terima. Kita harus menjalaninya dengan tanggung jawab. Kita tak akan mampu mengemban itu semua seorang diri saja. Kita membutuhkan teman hidup yang memiliki visi sama. Mau di bawa ke mana rumah tangga? Mau dididik seperti apa anak-anak kita? Memilih calon yang shalih/shalihah adalah modal penting untuk mendidik anak yang taat pada Allah.

Kedua, melakukan doa bersama sebelum melakukan hubungan intim suami istri. Kata Ustadzah ini penting dan harus menjadi kebiasaan. Karena ada banyak keberkahan yang didapatkan oleh suami, istri, dan keturunannya.

Setelah Anak di dalam Rahim

Orang tua harus melakukan kebiasaan baik bersama-sama. Organ tubuh pertama yang berfungsi dengan baik adalah telinga. Maka, sering membaca Al-Qur’an adalah keharusan. Orang tua juga harus mendoakan anak secara lisan. Khusus ibu, lakukan belaian lembut ke perut sambil mendoakan. Anak mendengar semua yang kita lakukan. Yakinlah, ada hal-hal yang tak kasat mata mungkin kita tidak memahaminya. Namun, kuasa Allah itu tidak terbatas. Bayi yang tampak tak tahu apapun ternyata mendengar dan menyadari apa-apa yang orang tua lakukan. Oleh karena itu, perbanyak lakukan amal kebaikan dan perbanyak doa. Allah akan mengabulkan.

Setelah Anak Dilahirkan

Ibu adalah madrasah pertama. Maka, mengajarkan agama kepada anak adalah kewajiban seorang ibu. Menurut ustadzah, pendidikan awal anak adalah mengenal dan mencintai Allah, mengenal dan mencintai Rasul, dan mengenal dan mencintai Al-Qur’an.

Setelah memasuki usia sekolah, tugas orang tua adalah memilihkan anak sekolah yang baik. Definisi baik di sini adalah sekolah yang mengajarkan secara seimbang antara ilmu agama dan ilmu-ilmu lainnya. Rekomendasi ustadzah, anak di sekolahkan di Sekolah Islam Terpadu. Jika keuangan tidak memungkinkan, tak apa anak bersekolah di sekolah lainnya. Namun, anak harus mengikuti kegiatan mengaji setiap hari. Pendidikan agama itu penting. Tanpa itu, anak tidak akan memiliki ilmu tentang kebenaran. Seseorang yang tidak memiliki konsep kebenaran tak akan bisa membedakan antara hal benar dan salah. Ia juga tidak memiliki prinsip yang kokoh ketika bergabung pada lingkungan yang heterogen.

Di sela-sela kajian, ustadzah pun bercanda. Ia mengatakan,“Minimal, ibulah yang mengajarkan anak Surat Al-Fatihah sampai hafal. Jangan biarkan guru ngajinya yang mengajari. Ibu tahu? Bila ada pembanding, Ibu mengajarkan Surat An-Naba. Lalu, guru ngaji mengajarkan Surat Al-Fatihah. Siapakah yang mendapatkan pahala paling banyak? Ibu atau guru ngaji? Guru ngaji bu. Si anak lebih sering baca Al-Fatihah dibanding Surat An-Naba bu. Dia baca surat Al-Fatihah 17 kali dalam sehari bu. Anak ibu jarang baca An-Naba. Kepanjangan, katanya. Jangan sia-siakan kesempatan itu bu. Surat Al-Fatihah, wajib para ibu yang mengajarkan!” aku tertawa sambil berbicara dan mencatat dalam hati. Iya, kelak, harus aku sendiri yang mengajarkan anakku mengaji.

Dalam chat whatsapp, sahabatku mengatakan bahwa anak adalah investasi akhirat. Apapun harus dimulai dari diri sendiri. Jika ingin anak shalih atau shalihah, maka kita harus jadi orang tua yang shalih dan shalihah juga. Semoga bermanfaat ya, teman-teman. Semangat menjadi orang tua dan calon orang tua yang shalih dan shalihah ya. Semoga Allah memudahkan πŸ™‚

Apa Kamu Tahu Arti Berjuang?

Kalau kamu mendengar kata berjuang, tak perlulah kamu mengira berjuang itu hanya untuk hal-hal besar yang hasilnya pasti terlihat oleh mata. Tak perlu juga kamu merasa berjuang adalah hanya untuk orang-orang pemberani. Kegiatan berjuang itu sangat dekat dengan kita. Apakah kamu tahu definisi berjuang? Berjuang adalah berusaha sekuat tenaga terhadap sesuatu. Berjuang adalah berusaha penuh dengan kesukaran dan bahaya. Bagaimana? Bukankah kita sudah melakukan semua itu setiap hari? Iya, kita sudah berjuang. Dan kita lupa berterima kasih. Pada diri.

Ini adalah cerita tentang kamu yang tak ingin namanya disebutkan. Tulisan ini adalah tentang perjuangan yang sudah kamu lakukan. Mungkin kamu tidak menyadari usaha apa yang sudah dilakukan. Aku tahu. Aku akan mengingatkan.

Kenyataan yang Mengkhianati Harapan

Saat kali pertama mengetahui kenyataan itu, aku sudah melihat sebuah perjuangan di sana. Kamu telah berjuang. Kamu yang senang memendam semuanya sendiri dengan rela berbagi cerita. Kamu yang tahu betul, kamu tak akan bisa sendirian bila ada masalah besar datang. Kamu mendatangiku untuk sekadar menghabiskan malam lara bersama.

“Gue sebenarnya mau jalan kaki aja di luar sana. Tapi, gue tahu apa yang akan dilakukan di luar kalau keadaan lagi nggak beres gini. Gue sebenernya maunya sendirian aja di kamar. Tapi, rasa putus asa terlalu menguasai diri gue. Gue takut ngelakuin hal-hal mengerikan. Makanya, gue datengin elo. Lebih baik gue di sini aja sama lo.” ia bercerita sambil terisak.

Aku memilih diam mendengarkan. Biarkan ia luapkan kegelisahan dan rasa sedihnya melalui tangisan.

Ketika kenyataan begitu pahit. Kakimu terasa lemas dan tak sanggup berdiri. Hatimu begitu sakit seperti dihujam belati. Jantungmu berdegup kencang. Tanganmu bergetar. Dunia terasa samar. Kamu hanya melihat dirimu sendiri yang sedang terduduk dengan luka yang tak berdarah. Namun, kamu masih bisa duduk tenang, tidak berteriak, dan terus menangis. Kamu juga masih bisa berbagi duka denganku. Kamu tidak berduka sendirian. Saat itu, kamu telah berjuang.

Kehidupan Tidak Akan Menunggumu

Seperti biasa. Meskipun keadaan kamu belum begitu baik, kehidupan tetap berjalan. Setuju atau tidak, kamu tetap harus menjalani peranmu. Dalam keadaan terluka, kamu masih bisa menggunakan akal dengan baik. Kamu tahu, sulitnya keadaan tidak membuat kewajiban berhenti sejenak. Kewajiban tetaplah kewajiban. Yang harus dibayar dengan tanggung jawab.

Kamu menyambut pagi dengan senyuman. Kamu makan dengan lahap. Kamu menjalani aktivitas dengan suka cita. Orang-orang mungkin tertipu. Mereka menyangka kamu baik-baik saja. Sebenarnya tidak, masih ada luka yang masih basah di dalam dirimu. Kenyataan tidak seperti itu, lidahmu mati rasa. Semua rasa terasa hampa. Kamu tidak bisa merasakan semua rasa masakan itu dengan baik. Kamu tidak nafsu makan. Tetapi, tubuhmu memiliki hak untuk makan. Kamu sadar itu dan kamu tetap makan.

Ketika keadaan diri sedang tidak baik. Namun kamu sadar tentang peran, kewajiban, dan hak diri. Kamu pun tetap menjalani hari dengan baik. Saat itu, kamu telah berjuang.

***

Untuk kamu yang ingin identitasnya dirahasiakan. Kamu menunggu tulisanku ini, kan? Tulisan ini khusus untuk kamu. Kamu telah berjuang, sungguh. Peluk dirimu dengan pelukan yang paling hangat. Ucapkan terima kasih pada dirimu sendiri dengan ucapan yang paling tulus. Berikan tepukan bersahabat pada bahumu sebagai tepukan penyemangat. Dirimu sudah melakukan yang paling baik. Dirimu sudah berusaha sekuat tenaga menghadapi rasa sakit. Dirimu sudah berjuang πŸ™‚ Kudoakan, semoga waktu segera menyembuhkan lukamu. Semoga Allah selalu menguatkanmu. Tetap kuat ya!

Menjadi Petugas KPPS Pemilu 2019

Akan ada waktu di mana kamu akan mempertanyakan kebermanfaatan diri di lingkungan rumah. Dan hal apa sajakah yang sudah kamu berikan pada masyarakat.

Kita mungkin sering berpartisipasi pada kegiatan sekolah dan perkuliahan. Menjadi panitia ini dan itu. Menjadi staff dan koordinator suatu divisi. Atau menjadi ketua suatu acara. Bahkan menjadi kepala suatu organisasi. Kita begitu aktif membuat dan melakukan sesuatu untuk kepentingan banyak orang. Tetapi, lupa berkontribusi pada lingkungan rumah kita sendiri.

Entah aku yang kurang mencari informasi atau memang para pemimpin lingkunganku yang kurang mensosialisasikan, aku tak pernah menjadi panitia apapun di lingkungan rumahku. Waktu kecil, tentu saja aku tak akan peduli dan tak memikirkannya. Setelah besar, aku baru menyadari bahwa tak pernah memiliki peran apa-apa di lingkungan. Kesadaranku semakin membesar ketika menjadi pemilih pada pesta pemilu dan mengantar adikku imunisasi di Kantor RW. Mereka yang menjadi panitia adalah para orang tua. Bahkan ada yang sudah tua renta. Aku lirih berkata dalam hati,“Kemana para pemuda? Bukankah aku ini salah satu pemuda? Mana peranku?” Ah, seketika langsung malu.

Aku pernah bertanya kepada mama, bagaimana cara membantu kegiatan imunisasi. Kukatakan pada mama, aku bisa membantu apa saja. Hatiku benar-benar sedih ketika melihat para orang tua kebingungan mengukur tinggi badan anak pada saat imunisasi. Padahal, untuk mengukur berat badan, tinggi badan, dan lingkar kepala anak bukan hal yang sulit bagiku. Semua itu adalah kegiatan ‘akrab’ yang biasa kulakukan sehari-hari. Saat itu juga, aku bertekad akan membantu kegiatan imunisasi selanjutnya. Tak apa bila tidak diundang. Aku bisa mengajukan diri, kan?

Suatu sore datang sebuah undangan ke rumahku. Sayangnya, aku tidak berada di rumah saat itu. Aku tahu informasi tersebut saat malam ketika sudah sampai di rumah. Menurut informasi mama, Pak RT memberikan dua undangan menjadi petugas KPPS (Kelompok Panitia Pemungutan Suara) pemilu April 2019 nanti untuk aku dan adikku. Pak RT tampak putus asa karena sulit sekali mencari orang yang bersedia membantu. Saat Pak RT di rumahku, beliau bercerita bahwa masih membutuhkan 6 orang lagi untuk mengisi posisi panitia. Saat mendengar cerita mama, aku turut bersedih juga. Pasti si Pak RT kebingungan terhadap kondisi itu.

Tanpa perlu memikirkan dan meyakinkan diri, aku langsung menyetujui tawaran Pak RT. Tanpa perlu membujuk, adikku juga menyetujui tawaran itu. Kami pun mengisi formulir, menyerahkan Foto Kopi KTP, Foto kopi ijazah terakhir, dan Pas Foto.

Satu minggu lalu kami menghadiri rapat pertama. Rapat ini dihadiri oleh seluruh petugas KPPS di RW 10. Aku dan adik hadir tanpa didampingi orang tua. Kata hatiku, sebenarnya ada ragu dan takut karena tak mengenal siapapun selain Pak RT. Kata hatiku yang lain, ada semangat yang membuncah karena akan membantu lingkungan rumahku. Aku memang begini, selalu bersemangat tiap kali terlibat pada kegiatan sosial dan sukarelawan. Ada rasa bahagia yang kudapatkan setelah membantu orang lain. Rasa bahagia yang hanya bisa kurasakan tiap kali menjadi bermanfaat untuk sesama. Rasa bahagia yang berbeda dengan rasa bahagia yang lainnya. Benar adanya, kebahagiaan yang dirasakan bersama-sama memang akan selalu terpatri dalam relung hati.

Rapat dilakukan di mushola sehabis Isya. Kami datang tepat waktu. Di mushola hanya ada dua laki-laki. Satu orang bapak dan satu orang pemuda. Aku hanya mengenal si pemuda itu saja. Meskipun tak mengenal dekat, aku mengingat wajah itu sebagai teman kecilku. “Bang Angga, ya?” aku memulai percakapan dengan pertanyaan. “Masih inget saya, bang?” kulontarkan satu pertanyaan lagi sambil tersenyum. “Ini Shinta ya? Ya Allah sudah besar banget. Ingetlah. Kemana aja Shin? Kok Bang Angga nggak pernah liat Shinta?” Bang Angga menanggapi pertanyaanku dengan antusias dan ramah. Ah senangnya. Bertemu teman bicara yang komunikatif dan ramah memang selalu menyenangkan πŸ˜€

Agenda rapat ini adalah pengenalan tentang proses pemungutan dan penghitungan suara. Materi disampaikan oleh Ketua PPS (Panitia Pemungutan Suara) Beji. Aku tak ingat nama bapak ini. Yang jelas, bapak menjelaskan dengan cara yang sederhana dan mudah dimengerti oleh awam. Seperti siapa saja yang menjadi pemilih tetap, siapa yang menjadi pemilih tambahan, siapa yang menjadi pemilih khusus, bagaimana aturan pemilihan suara, bagaimana aturan penghitungan suara, apa saja kriteria surat suara dikatakan sah dan tidak sah, dan sebagainya. Karena segala hal tentang pemilu adalah hal baru bagiku, maka aku mendengarkannya dengan sangat saksama dan tidak terpengaruh oleh apapun. Bahkan untuk camilan dan kopi yang melimpah ruah di depanku :p

Selain itu, firasakatku juga mengatakan, sepertinya aku akan mendapat bagian yang ‘agak sulit’. Penting bagiku untuk memahami dengan baik materi ini. Timku, yaitu, TPS 41 terdiri dari sembilan orang. Dua orang sebagai Pengamanan Langsung atau disingkat Pamsung (Bagian Keamanan selama proses Pemilu), Satu orang ketua KPPS (Pak Budi, sudah berpengalaman dalam kegiatan ini), Satu orang ibu (baru pertama kali menjadi panitia), dan empat orang anak muda yang juga baru pertama kali menjadi panitia. Di antara anak muda ini, usiaku lebih tua dibanding mereka. Oleh karena itu, menurut firasatku, Pak Ketua sepertinya akan mempercayakan tugas yang ‘agak sulit’ kepadaku :’)

Firasatku benar. Aku dan Dea ditugaskan dibagian pendaftaran. Yang aku maksud dengan ‘agak sulit’ sebenarnya bukan benar-benar sulit. Seperti kata Pak PPS, menjadi panitia tidak sulit. Kami hanya perlu teliti dan hati-hati. Tentunya kesabaran. Dan tidak perlu terburu-buru. Setelah Pak PPS selesai menyampaikan materi, kami dibolehkan pulang.

Saat rapat, aku berkenalan dengan ketua timku. Namanya Pak Budi. Pak Budi ini aktif sekali di lingkungan rumahku. Pak Budi menjalani peran dengan seimbang. Peran sebagai kepala keluarga, peran sebagai pegawai negara, dan peran sebagai masyarakat yang baik. Beliau juga seru diajak diskusi. Pengalaman yang banyak tidak membuat beliau berpikiran keras dan tertutup. Pak Budi memberikan banyak ruang untuk kami bertanya dan memberikan pendapat.

Bahkan saat rapat kedua kemarin (rapat khusus TPS 41), Pak Budi berulang kali mengingatkan bahwa menjadi Petugas KPPS ini mudah. Kita hanya perlu bekerja sama. Kita juga harus berkoordinasi dengan baik. TPS 41 harus memberikan suara yang sama tiap kali memberikan jawaban kepada masyarakat. Pak Budi juga menyemangati kami. Katanya, para pemuda harus belajar menjadi panitia kegiatan sosial seperti ini. Harus ada regenerasi. Beliau tahu kami masih awam tentang hal ini. Pak Budi mengerti dan memahami. Dan siap mengajari. Keren banget ya Pak Budi?

Kata Pak Budi, nanti akan ada rapat lagi. Satu minggu sebelum Pemilu juga akan dilakukan simulasi.

Ini adalah pengalaman pertama kami. Aku dan adik sangat antusias menjalani prosesnya. Bahkan di rumah pun, kami membuka forum diskusi hahaha

Untuk aku, berkenalan dengan orang baru dan melakukan adaptasi mungkin bukan hal yang begitu sulit. Tetapi, meluangkan waktu di tengah kesibukan bukan hal yang mudah. Aku berterima kasih pada diriku sendiri. Terima kasih karena mau meluangkan waktu untuk membantu orang lain. Terima kasih telah memikirkan orang lain.

Terima kasih juga untuk adikku. Keinginanmu untuk menjadi petugas KPPS perlu diapresiasi. Keberanianmu menghadiri rapat kedua khusus TPS 42 tanpa aku yang menemani juga perlu diapresiasi. Terima kasih telah bersedia menjadi teman belajarku untuk banyak hal. Seperti kali ini, kita belajar menjadi petugas KPPS.

Ada kalimat bagus yang sesuai dengan keadaan ini, keraguan adalah ketika kita tidak memahami apa yang diri ini inginkan. Maka, untuk menjadi tidak ragu, jadilah orang yang yakin dengan keinginan diri. Lalu buatlah sebuah keputusan.

Rasa takut bukan untuk terus dinikmati. Tetapi, untuk dihadapi. Maka, jangan takut untuk memulai hal yang baru. Sebab, ketakutan hanya menghentikan langkahmu. Tak akan membuatmu maju.

Jadi, siapkah kamu memulai hari baru dengan sesuatu yang baru? Kalau aku dan adik, sudah siap menjadi petugas KPPS. Sudah siap juga menjalani dengan tanggung jawab. Kalau kamu? Pilihanmu, akan menentukan bagaimana kisahmu. Aku tunggu ceritamuβ™₯

Kebaikan di Pagi Hari

Pagiku menyebalkan. Aku terlambat bangun dan sudah bisa dipastikan aku pun akan terlambat sampai di tempat kerja. Hujan sedari malam tak juga reda. Meskipun masih mendung, waktu menunjukan bahwa hari sudah semakin siang. Maka, tak ada pilihan lain. Aku harus tetap berangkat menerjang hujan. Baju ganti tetap harus kukenakan. Sebab, jas hujan milikku tidak sepenuhnya menahan air hujan.

Di perjalanan, aku teringat, rupanya kemarin siang aku tak sempat memenuhkan tangki bensin motor. Kulirik cepat pada spidometer, di sana terlihat panah penanda sudah menunjuk ke tanda merah. Yang artinya, motor akan mogok bila tangki tidak segera diisi bensin. Menyadari betapa kurang persiapan dan tidak disiplinnya diriku, aku menyesal. Namun hanya bisa menghembuskan napas saja. Kuurungkan niat untuk mengeluh. Pagi tadi, tak ada pilihan lain. Aku harus bertanggung jawab dengan cara menjalaninya dengan ikhlas.

Tikungan di jalan Perumahan Korps Brimob memang pusat kemacetan. Jalan yang memiliki lebar tak lebih dari empat meter itu selalu dipenuhi kendaraan. Apalagi bila ada perbaikan jalan atau kejadian tidak terduga. Seperti pagi ini. Keinginanku untuk mengebut hanya mimpi belaka. Motorku tidak dapat bergerak maju. Seluruh pengendara saling melempar tatapan kebingungan. Rintik hujan semakin membasahi jas hujanku, tetapi sedikit pun roda motorku tidak bergerak maju. Jam tanganku sudah menunjukkan pukul tujuh kurang sepuluh menit. Aku masuk kerja pukul tujuh. Sepuluh menit tak akan cukup untuk sampai di tempat kerja. Aku segera sadar, terlambat sampai tempat kerja adalah sebuah kepastian :’)

Antrean kendaraan perlahan bergerak. Motorku bergerak maju. Akhirnya, aku dapat melihat si penyebab kemacetan pagi ini. Di sisi kanan terlihat sebuah mobil terjebak dan tak bisa bergerak. Bannya terperosok ke dalam tanah yang posisinya lebih rendah dari jalan beraspal. Mobil akhirnya tak bisa maju ataupun mundur. Aku tidak tahu sejak kapan mobil itu terjebak. Aku juga tidak tahu sejak kapan kemacetan ini terjadi. Yang aku tahu, motorku tidak bergerak selama 10 menit. Aku mengatakan dalam hati,“Lengkap sudah. Pagiku semakin menyebalkan saja heu.”

Di dalam mobil yang terjebak, pengemudi sendirian. Tak ada kawan yang bisa membantu mendorong mobil. Pengendara lain juga tak ada yang membantu. Bahkan beberapa saling menekan tombol klakson sebagai tanda mereka tak sabar menunggu. Aku menduga, alasan mengapa orang-orang tidak langsung membantu mungkin karena kondisi saat itu sedang turun hujan. Hujan membuat semua orang sibuk dengan urusannya. Aku pun sama seperti mereka, sedang sibuk dengan pikiranku sendiri. Aku sedang mengkhawatirkan nasibku yang tak akan mampu sampai tempat kerja tepat waktu. Namun yang membuat berbeda, aku masih bisa menahan diri untuk tidak menekan tombol klakson.

Beberapa menit kemudian, seorang laki-laki menghentikan motornya tepat di depan mobil yang terjebak. Meskipun hanya seorang diri, ia tak ragu. Ia segera memberi aba-aba kepada pemilik mobil dan mendorong sekuat tenaga mobil tersebut ke arah belakang. Tak berselang lama, satu orang laki-laki kembali menghentikan motornya. Kali ini, ia bertugas memberi aba-aba dari arah belakang mobil untuk memberi tahu kondisi tanah dan jalan beraspal.

Pemandangan itu membuat rasa cemasku berubah seketika. Aku tak lagi sibuk dengan diriku sendiri. Aku tak lagi memikirkan bagaimana cara cepat tiba di tempat kerja. Aku memandang mereka cukup lama. Aku seakan tersihir dengan mereka yang saling membantu. Siapa pun yang melihat, pasti tahu pekerjaan mereka bukan hal yang mudah. Namun, hal itu tidak mengurungkan niat mereka untuk membantu. Dua orang laki-laki itu tentu saja memiliki kegiatan yang harus dikerjakan atau tempat yang harus didatangi. Sama seperti aku dan pengendara lainnya. Tetapi, sikap tolong menolong yang ada di diri mereka lebih tinggi dibanding urusan duniawi. Luar biasa, ya.

Iya, memang benar pagiku menyebalkan. Aku yang tidak disiplin membuat awal hariku menjadi tidak menyenangkan. Terlambat bangun pagi, perjalanan menerjang hujan, dan mengalami kemacetan cukup membuatku kelelahan. Namun, benar adanya bahwa kebaikan itu menular. Suasana hatiku yang tidak baik, berubah menjadi lebih baik karena mengamati kebaikan dua laki-laki itu. Betapa mulia hati mereka. Keadaan sulit tidak membuat hati mereka sempit. Mereka memahami betul bahwa keegoisan adalah tak ada guna. Sebab, tak ada yang lebih penting dibanding menjadi bermanfaat untuk sesama.

Apa Benar Berani Kotor itu Baik?

Belakangan ini, aku sedang membaca buku karya Fira Basuki. Judulnya Cerita di Balik Noda (2013). Sudah lama sekali ya, bukunya? Iya memang. Aku mendapat buku ini akhir tahun 2018 di cuci gudang Gramedia. Beruntung sekali menemukan buku Fira Basuki diantara tumpukan buku-buku itu.

Isi dari buku Cerita di Balik Noda sebenarnya adalah kumpulan cerita dari hasil lomba menulis yang diadakan oleh Rinso Indonesia. Dan Fira Basuki diamanahkan membuat kumpulan cerita tersebut menjadi buku.

Aku belum menamatkan buku Cerita di Balik Noda. Meskipun begitu, energi positif sudah masuk ke dalam diri sejak kali pertama membaca buku ini. “Anak-anak itu polos, sederhana, dan banyak memberikan pelajaran, ya!” begitu kataku saat membaca cerita pertama. “Ah malunya diri ini, seringkali kita mengamati anak kecil dengan kaca mata orang dewasa. Mana mungkin pesan bermakna dari tingkah polos si kecil bisa menyentuh hati ini?” begitu kataku saat membaca cerita ibu-ibu pada lembar selanjutnya.

Karena tema ceritanya adalah Cerita di Balik Noda, maka seluruh cerita bercerita tentang anak yang bermain ‘kotor-kotoran’. Dan dalam seluruh cerita pun terdapat ibu bijaksana yang menghadapi ‘hal-hal kotor’ dengan tidak marah-marah. Sosok ibu dalam buku ini menunjukkan bahwa selalu ada cerita di balik baju anak yang kotor. Maka, memberikan respon marah saat kali pertama melihat mereka bercengkrama dengan kotoran itu tidak tepat. Para ibu memberikan telinganya untuk mendengarkan segala penjelasan dan cerita anaknya. Para ibu juga memberikan pikiran yang terbuka untuk menerima hal-hal menakjubkan yang anak-anak ini lakukan.

Innez yang Berhati baik

Innez 12 tahun menunggu di Pos Ronda karena takut pulang ke rumah. Baju Innez kotor dan uang untuk membeli buku pun telah habis. Dengan kondisi seperti itu, Innez tidak berani pulang.

Mengapa Innez mengalami hal-hal itu, ternyata Innez tidak sengaja menabrak bapak tukang sampah yang sedang makan nasi bungkus sambil berdiri. Alhasil, nasi bungkus tersebut tumpah ke jalan dan ke baju Innez. Karena merasa bersalah, Innez pun meminta maaf dan membantu bapak merapikan tumpahan nasi di jalan. Innez juga membantu bapak menyapu tumpahan nasi yang berserakan. Lalu, Innez mengganti nasi bungkus dengan uang ibunya (uang yang seharusnya digunakan untuk membeli buku). Lengkap sudah ketakutan Innez. Baju kotor, badan kotor, dan uang pun habis.

Ibu Innez diberitahu tentangga bahwa Innez duduk di Pos Ronda. Ibu datang menjemputnya. Melihat keadaan Innez, Ibu tidak memarahinya. Ibu mendengarkan dan mengerti kejadian yang baru saja menimpanya. Dan ibu menasehati atas tindakan Innez yang kurang berhati-hati. Innez tidak hati-hati karena berjalan sambil bermain gawai yang akhirnya menabrak bapak tukang sampah.

Jika saja ibu Innez tidak mau mendengarkan cerita dan langsung marah, akankah ibu tahu bahwa putri bungsunya ternyata sungguh bertanggung jawab dan memiliki hati yang baik?

Deva yang Gigih dan Memiliki Empati Tinggi

Deva adalah anak berusia 7 tahun yang selalu bersemangat dan tidak takut kotor. Deva senang membantu ibu berkebun dan membersihkan selokan depan rumah. Dengan tawaran hadiah ‘upah’ sehabis membantu ibu, Deva pun semakin bersemangat saja ‘bermain dengan kotor-kotoran’.

Deva ingin sekali membeli sepeda. Maka, tiap kali diberikan upah uang, ia selalu memasukkan uang tersebut ke dalam celengan.

Suatu ketika, warung kelontong kakek kemalingan. Uang hasil warung kakek habis dibobol maling. Melihat kakek bersedih, Deva pun memberikan uang tabungannya untuk kakek. Deva rela menunda membeli sepeda, karena memahami bahwa kakek lebih membutuhkan uang tersebut dibanding dirinya.

Jika saja ibu tidak mengizinkan Deva membersihkan selokan hanya karena alasan ‘kotor’, akankah Deva tumbuh menjadi anak yang gigih dan memiliki empati yang tinggi?

Ada banyak cerita tentang anak dan kotoran. Pada dasarnya, semua anak tidak takut dengan hal kotor. Karena mereka penasaran dan ingin tahu banyak hal. Terkadang, kitalah sebagai orang dewasa yang menutup itu semua. Padahal, rasa penasaran dan rasa ingin tahu adalah kunci bahwa anak senang belajar hal baru.

Masih inginkah kita memberikan ‘respon marah’ bila nanti menemui anak yang sedang ‘berkotor-kotoran’? Masih inginkah kita mengabaikan momen mendengarkan cerita anak hanya karena emosi sesaat yang tidak bermakna?

Dari dua cerita di atas, semoga kita tidak seperti itu lagi, ya. Ada banyak cerita dibalik hal-hal yang kita anggap ‘menyebalkan’. Ada banyak pelajaran dibalik hal-hal yang menguji kesabaran.

Dakwah dengan Caranya Sendiri

Lagi-lagi kamu memberikan kejutan pagi. Jika dahulu satu buah gamis berwana merah muda. Kali ini, satu buah gamis berwarna hijau muda, kamu selipkan diantara buku dan kue moci. “Mamaku memberikan moci untukmu, bukunya kamu pinjam saja dulu, dan itu gamis untuk kamu.” katamu. Seperti biasa, kamu bisa menyelipkan dakwah dengan cara yang menyenangkan.

Melihat apa yang kamu lakukan untukku, aku semakin menyadari nasihat yang Ustadz Adi Hidayat katakan. Saat itu, Ustadz meluruskan perihal yang keliru. Kata salah satu jamaah kajian, dakwah itu hanya tugas seorang ustadz. Dengan kalimat yang nyaman didengar dan tidak menyakiti, Ustadz pun menjelaskan. Katanya, penceramah memang sebuah profesi. Namun, tentang berdakwah, hal itu adalah tugas setiap muslim. Sebab, dakwah bukan tentang seberapa banyak ayat yang kita hafal atau seberapa banyak ayat yang kita kaji. Dakwah adalah tentang bagaimana kita menunjukkan sifat-sifat seorang muslim dalam menjalani hari. Sehingga ada kebermanfaatan yang orang sekitar rasakan.

Pada kalimat penutup, Ustadz Adi mengingatkan bahwa kita bisa memperkenalkan indahnya Islam dalam kehidupan sehari-hari. Berlaku jujur dan amanah dalam bekerja, misalnya. Bukankah keduanya adalah sifat yang Rasul ajarkan kepada umatnya? Kita bisa berdakwah dengan cara yang sederhana namun bermakna. Dari kejutan pagi yang sahabatku berikan, aku sadar, ia berdakwah dengan caranya sendiri. Dan hal tersebut benar-benar menyentuh hati.

Nunu, ia adalah sahabatku yang memberi kejutan pagi itu. Teman perjalananku belajar tentang Islam dan memperbaiki diri. Kami senang berdiskusi tentang hal-hal ‘serius’. Aku ingat betul topik pertama yang kami diskusikan adalah bagaimana cara muslimah berpakaian. Saat itu kami masih berkuliah. Upaya yang kami lakukan pertama kali adalah membiasakan diri menggunakan rok saat di kampus. Alhamdulillah, nyaman sekali.

Nunu selalu senang berbagi. Ia sering memberi hadiah kepadaku. Entah itu jilbab, gamis, atau buku. Dan aku terharu. Allah begitu tahu kalau aku sedang haus akan ilmu dan ingin sekali memperbaiki diri. Melalui Nunu, Allah memudahkan jalanku. Ternyata ‘berbagi’ juga bisa menjadi jalan dakwah yang kita pilih. Nunu mengenalkan indahnya Islam melalui ‘berbagi’. Berkat Nunu, aku pun menjadi tahu nyamannya menggunakan gamis dan jilbab yang menutup dada. Berkat Nunu pula, ilmuku bertambah melalui buku. Nunu selalu mampu menyentuh hati, tanpa pernah menyakiti.

Ada banyak jalan dakwah. Setiap kita berkewajiban memperkenalkan Islam dengan cara yang indah. Seperti kejutan pagi ini. Sebuah gamis, buku, dan kue moci yang kamu beri. Kasih sayang, perhatian dan kemurahan hati mampu masuk ke dalam relung hati. Aku akan menggunakan gamis dengan senang hati. Bukankah ini adalah pakaian muslimah yang kita bicarakan dahulu sekali? Tanpa kamu sadari, kamu berdakwah tentang pakaian muslimah, sahabatku. Dan aku sama sekali tidak merasa digurui. Terima kasih, Nunu. Terima kasih telah menjadi teman perjalanan memperbaiki diri πŸ™‚

***

Ada tulisan dr. Davrina Rianda di Instagram yang aku sukai,“Bahwa dakwah tidak hanya tentang menjadi ‘guru’, tetapi juga menjadi ‘teman’ dalam perjalanan memperbaiki diri. Dakwah tidak hanya tentang mengajari, tetapi juga menempatkan diri pada ‘kaki’ orang lain sehingga pesan yang disampaikan lebih pas untuk menggerakkan dan menyentuh hati.”

“Pertama kali aku merasa, dengan berbagai nikmat ‘dibimbing’ oleh teman-teman shalih yang kita terima, kita punya tanggung jawab untuk melakukan hal yang sama kepada teman lainnya. Mungkin, kita punya poin tersendiri, karena melewati proses hijrah: kita paham bagaimana pesan kebaikan itu bisa menyentuh hati, tanpa menyakiti. Kita paham, betapa beratnya, kita paham betapa nikmat setelahnya. Dan betul, adanya, “Sampaikan meskipun hanya satu ayat :).”