Tentang Sekolah: Fakta Si Kecil

Anak kecil itu nyebelin? Apa iya? Nggak, kok. Bukan anak kecil yang nyebelin, kayaknya kita sebagai orang dewasa yang kurang sabar πŸ˜…

Lagi-lagi masalah ego. Mungkin, kalau emosi dan pikiran dalam keadaan baik semua akan berjalan baik-baik saja. Namun, kalau kondisi lagi ribet dan repot, seringkali pikiran dan emosi jadi tidak terkendali dengan baik. Pada akhirnya kita pun merasa direpotkan oleh si kecil.

Aku mau berbagi tiga fakta tentang anak kecil ini. Fakta ini didapat dari pengalaman mamaku dan aku yang mempersiapkan si kecil masuk sekolah taman kanak-kanak kemarin.

Fakta #1 Anak Tidak Akan Menangis Jika Ia Tahu ‘Medan’ yang Dihadapi

Aku percaya, marah dan tantrumnya anak pasti karena ia ingin menyampaikan sesuatu namun tak tahu bagaimana memberi tahu. Apalagi bila si anak belum bisa berkomunikasi secara verbal. Wah, siap-siap saja ia akan menangis terus-menerus.

Di rumah sakit pun begitu, anak-anak selalu menangis ketika pertama kali bertemu aku. Jangankan langsung dilatih, aku sapa saja ia sudah menangis kencang sekali πŸ˜‚ tapi, jangan panik dan kesal. Mereka seperti itu karena cemas dan takut melihat hal-hal baru.

Jadi, bagaimana sih cara mama dan aku mempersiapkan si kecil yang mau sekolah?

Jadi, begini, aku terbiasa menjelaskan “medan baru” yang akan si kecil datangi. Menceritakan bagaimana kondisi di sana. Memberitahu tempat tersebut melalui gambar ataupun youtube. Dan memberitahu apa saja hal yang boleh dan tidak dilakukan di sana.

Lalu, setelah dijelaskan, apakah di sekolah si kecil tidak menangis? Iya, tidak menangis. Mukanya memang tegang dan sedikit senyum, namun ia mengikuti semua instruksi yang ibu guru berikan. Sesekali ia mengintip ke arah aku dan mama, mungkin jantungnya berdegup kencang hahahaha tapi, ia mampu berpartisipasi dengan baik bersama kawan-kawan. Alhamdulillah.

Yang harus diingat selalu bagi kita si orang dewasa, jangan pernah lelah menjelaskan kepada si kecil yang rasa ingin tahunya tinggi ini. Kita egois sekali kalau berharap si kecil mengerti keadaan tanpa dibimbing dan diarahkan. Kita egois sekali kalau maunya si kecil tidak menangis padahal ia belum mengerti apa yang sedang dihadapi πŸ™

Fakta #2 Konsisten Melakukan Proses, Si Kecil Akan Mengikuti

Jangan bangun kesiangan, ya! Kalau bangun kesiangan, jangan marah-marah dan salahkan si kecil.

Sesenang apapun di sekolah, anak kecil tetaplah anak kecil. Ia akan menangis bila merasa terganggu. Ia akan marah bila merasa tidak nyaman. Ia akan cemberut bila merasa tidak senang.

Kurasa tentang bangun pagi ini memang masalah kebanyakan orang tua, ya. Nyatanya, meskipun sedari malam sudah diingatkan besok akan pergi ke sekolah, tetap saja si kecil akan susah bangunnya.

Sama seperti pagi ini. Ia susah sekali dibangunkan. Saat bangun pun, wajahnya cemberut dan mengeluh berulang kali. Mama pun nyaris tersulut amarahnya hahaha langsung saja kuajak si kecil ke kamar mandi. Meskipun sembari marah, ia tetap mau melangkahkan kaki.

Sesampainya di kamar mandi, ia masih menangis. Meskipun tidak menolak mandi, sepanjang proses mandi ia tetap cemberut dan menangis wkwk namun, aku tetap memandikannya. Saat proses pakai baju pun proses menangisnya masih dilanjutkan πŸ˜‚

Si kecil mulai berhenti menangis saat baju selesai dipakai. Dan mulai tersenyum saat roti coklat diberikan hahaha

Intinya, jangan marah dan kesal melihat si kecil menangis. Anak kecil itu kan memang belum pandai mengungkapkan perasaan. Kitalah yang harus menanyakan bagaimana perasaannya. Kita juga yang harus bisa menenangkannya.

Prosesnya memang panjang dan repot. Tetapi percaya deh, proses panjang itu akan memberikan hasil baik. Kamu akan takjub melihat bagaimana si kecil berproses dan berkembang :’) Ia akan menjadi anak manis, mau memperhatikan, dan pengertian.

Fakta #3 Biasakan Memandirikan Anak, Ia Akan Menjadi Anak yang Mandiri

Beberapa hal sederhana yang dapat dilakukan anak beberapa saat sebelum sekolah yaitu, pakai baju dan celana sendiri, makan sendiri, pakai kaos kaki sendiri, dan pakai sepatu sendiri.

Kalau adikku, masih kami bantu saat proses mandi. Soalnya si kecil masih sering melamun saat di kamar mandi wkwk kalau hal-hal yang kusebutkan di atas, Alhamdulillah ia sudah bisa melakukannya sendiri.

Namun, agar semua bisa dilakukan oleh si kecil, ia bangunnya pun harus lebih pagi. Jangan samakan kecepatan orang dewasa dengan anak kecil saat melakukan sesuatu. Tentu saja berbeda. Ia melakukan semua hal akan jauh lebih lambat. Bangun pagi lebih awal akan memberikan waktu panjang agar si kecil semua hal tersebut sendiri. Dan kita harus mengajari dan menunggu dengan sabar.

Pada awalnya, si kecil mengeluh kesusahan dan berulang kali ingin berhenti mencoba. Namun, kami tetap menyemangati, mengajari, dan menunggu agar si kecil melakukannya sendiri.

Untuk apa sih pembelajaran kemandirian ini? Banyak manfaatnya. Pertama, ia akan belajar bertanggung jawab atas barang miliknya sendiri. Kedua, ia akan belajar kesabaran dari proses yang dijalani. Ketiga, ia akan semakin percaya diri bahwa dirinya mampu melakukan banyak hal baru πŸ˜πŸ‘

Fakta-fakta ini semoga semakin membuka pemikiran kita bahwa anak memang perlu diajari. Semua hal. Jangan pernah berpikir ia akan mampu sendiri tanpa diberikan pengalaman lebih dulu. Memang benar, pada akhirnya ia akan mampu. Tetapi, orang tua harus mencontohkan di awal. Lalu, terlibat dalam prosesnya untuk memberi tahu hal benar dan tidak.

Jangan biarkan ia tumbuh sendiri. Bukankah pohon saja tidak boleh dibiarkan tumbuh sendiri? Ia akan tumbuh ke segala arah tanpa arah yang jelas. Ia akan mati bila tidak diberi pupuk dan sirami. Semoga kita dapat memahami :’)

Advertisements

Makna Cukup: Bolehkah Aku Meminta Pendapat Teman-teman?

Tantangan menulis 30 hari bercerita yang diadakan akun IG @Pejuang30DWC ternyata tidak berakhir begitu saja. Alhamdulillah, sang founder membuat group whatsapp alumni untuk peserta yang mengikuti tantangan menulis itu.

Keuntungan bergabung dengan group alumni adalah kami bisa mengikuti kelas online gratis. Kelas online tersebut diadakan satu bulan sekali. Materinya seputar literasi. Beberapa agendanya adalah tentang bedah buku dan motivasi kepenulisan.

Yang membuat semakin seru, ternyata anggota dalam group sudah banyak yang menerbitkan buku. Buku antologi maupun buku terbitannya sendiri. Selalu merasa turut berbahagia tiap kali mereka membagikan sebuah flyer pre order buku terbaru :’)

Aku belum pernah menerbitkan buku dan hanya penulis blog biasa. Lalu, merasa minder tidak bergabung dalam group itu? Daripada merasa minder, melihat mereka yang lebih dulu menghasilkan karya malahan membuat aku terpacu untuk segera membuat sebuah karya.

Dan aku percaya, terus terhubung dan terpapar dengan orang-orang yang bersemangat akan menularkan semangat yang sama. Paling tidak, setelah mengenal mereka yang memiliki minat sama, aku menjadi lebih bersemangat mengunggah tulisan di blog ini setiap harinya 😁

Selain kuliah online dan tempat berbagi buku yang akan terbit, teman-teman group sering membagikan informasi terbaru tentang acara-acara literasi. Mereka juga sering membagikan informasi tentang perlombaan atau kesempatan menulis buku yang diadakan perusahaan tertentu. Mantap kan πŸ˜„

Tujuan tulisanku hari ini, sebenarnya ingin meminta pendapat teman-teman wordpress. Melihat teman-teman menerbitkan buku, aku ingin belajar membuat naskah dengan tema tertentu. Tema yang aku ingin bahas adalah tentang kecukupan.

Aku mau tahu gimana pandangan teman-teman tentang “makna cukup” ini. Untuk diri sendiri, keluarga, maupun teman. Bagi teman-teman yang berkenan, aku minta pendapat kalian di kolom komentar, ya 😁

Kalau pendapat kalian bisa lebih panjang, aku bakal senang banget. Pendapat kalian boleh dikirimkan ke email aku ini shintaanggrainikarsono50.sak@gmail.com

Terima kasih banyak, ya πŸ˜„πŸ™

Mengatasi Bibir Dehidrasi Karena Alergi

Aku mengalami masalah pada bibirku. Entah bagaimana awalnya, tiba-tiba saja bibir bagian atas pinggir menjadi kering dan mengelupas. Tanpa pikir panjang, aku menarik serpihan bibir yang kering itu menggunakan jari. Setelah itu, aku oleskan bagian yang kering menggunakan baby oil. Hasilnya pun nihil.

Setelah menunggu beberapa hari, bibirku tidak membaik. Sebaliknya, area yang aku berikan baby oil itu menjadi kasar sekali. Karena sudah sering mengalami masalah pada bibir dan akan membaik sendiri, aku pun tidak memikirkan serius tentang hal ini.

Bibir Kering, Kebas, dan Bengkak

Dan tiga hari yang lalu, bibirku menjadi semakin parah saja. Jika sebelumnya masalahnya hanya seputar kering dan berkelupas, kali ini bibirku menjadi bengkak dan kebas. Makan dan minum pun menjadi tidak nyaman πŸ˜₯

Karena khawatir sekaligus penasaran, aku mencari informasi pada artikel-artikel kesehatan. Artikel itu mengatakan, bibirku ini alergi. Bisa jadi karena tidak cocok menggunakan lipstick ataupun memakai produk kosmetik yang lain.

Namun, aku yakin sekali masalahnya bukan karena itu. Aku sudah biasa menggunakan lipcream wardah sehari-hari. Dan lipcream tersebut sudah kugunakan sejak 3 bulan yang lalu. Selama 3 bulan kemarin bibirku baik-baik saja, kok.

Akhirnya, aku berusaha mengingat apa kegiatan baru yang kulakukan akhir-akhir ini. Khususnya terkait pada bagian wajahku. Dan setelah berusaha mengingat, aku pun mendapatkan jawabannya πŸ₯Ί

Masker Mulut Sekali Pakai

Masalahnya adalah masker mulut yang sekali pakai! Selama satu bulan ini aku memang menggunakan masker tersebut tiap kali naik motor. Pada awal pemakaian, aku merasakan gatal pada area mulut. Namun, tidak aku hiraukan. Pikirku, mungkin itu hanya gatal biasa.

Sebenarnya, aku sudah sering menggunakan masker tipe seperti itu. Di tempat umum pun sudah banyak dijual, kan. Aku sering melihat banyak orang berjualan masker di depan stasiun kereta. Aku yakin, teman-teman pun juga pernah atau sering menggunakan masker tipe itu.

“Apa yang salah dengan masker itu?” pertanyaan itu muncul berkali-kali. Aku bingung sendiri.

Setelah mengingat kembali, sepertinya masalah utamanya ada pada wajah sensitifku. Aku terbiasa menggunakan masker berbahan kain setiap hari. Selama bepergian ke mana pun, aku jarang menggunakan masker sekali pakai. Namun, karena di rumah kebetulan ada beberapa masker sekali pakai, aku pun menggunakannya. Mubazir sekali kalau si masker teronggok begitu saja tidak terpakai.

Memulihkan Bibir Kering dan Dehidrasi

Setelah sadar sumber masalahnya adalah ketidakcocokan antara masker dengan kulit sensitifku, aku menghentikan pemakaian masker itu.

Bagaimana cara aku memulihkan bibirku yang dehidrasi dan alergi ini? Aku berbagi sedikit caranya ya, teman-teman.

1. Aku menggunakan minyak zaitun sesering mungkin saat di rumah. Saran adikku, setiap 2 jam sekali harus dioleskan kembali wkwk tetapi, aku tidak telaten. Akhirnya, aku hanya memakainya setelah mandi dan sebelum tidur.

2. Aku juga menggunakan lipbalm saat beraktivitas. Kemarin, aku masih bisa menggunakan lipcream saat bekerja. Namun sebelumnya, aku mengoleskan lipbalm dahulu. Tiap kali merasa bibirku kering, aku mengoleskan kembali lipbalm tersebut. Aku menggunakan lipbalm nivea red. Lipbalm nivea membantu sekali, sungguh :’)

Dari pengalamanku kemarin, ternyata baby oil dan vaseline repairing jelly kurang ampuh mengobati bibir kering. Mereka tidak bisa melembabkan dengan cepat. Aku tidak merasakan efek lembab setelah pemakaian produk-produk itu.

Yang super membantu melembabkan bibir malahan si minyak zaitun. Dengan sekali oles saja, bibir yang kering langsung menjadi lembab. Aku merasa nyaman sekali. Bahkan, rasa kebas pada bibir pun terasa berkurang drastis.

Untuk bengkak pada bibir, jangan lupa kompres air es, ya! Kompres selama 15-20 menit saja. Dan ulangi setiap 2 jam sekali. Sampai kapan? Sampai bibirmu terasa lebih baik dan lebih nyaman 😊

Berapa lama proses penyembuhan bibirku ini? Setelah meninggalkan masker sekali pakai dan rutin melakukan perawatan, kurang lebih tiga hari saja Insya Allah akan sehat kembali. Saat ini bibirku sudah hampir pulih sepenuhnya. Bengkak dan kebas sudah tidak ada. Kering pun hanya tinggal sedikit saja. Alhamdulillah πŸ™‚

Bagi teman-teman yang juga memiliki kulit sensitif lebih perhatian lagi, ya. Pemicu alergi ternyata tidak hanya dari produk perawatan yang kita gunakan saja. Namun, benda yang kita pakai pun bisa menjadi pemicunya.

Jangan pernah lupa, bahan kimia ada di mana-mana. Semoga lebih peka dan cepat tanggap ketika tanda alergi ada. Rasa gatal yang kita anggap biasa, bisa jadi petanda yang bermakna. Lebih hati-hati lagi ya πŸ™‚

**

[Catatan Tambahan]

Beberapa hari setelah tulisan ini aku unggah, ternyata bibirku gatal dan mulai bengkak lagi. Aku pun meminta rekomendasi temanku yang seorang dokter. Ia menyarankan salep betamethason. Kata temanku, salep ini cocok untuk peradangan akibat alergi. Setelah dua kali pemakaian rasa gatal dan bengkak pun hilang.

Sejak kemarin bibirku sudah sembuh dan kembali normal. Alhamdulillah.

Oh iya, harga salepnya hanya 5000 saja.

Pemakaian vaselin repairing jelly pun ternyata bermanfaat sekali bila gunakan selama aku tidur. Esok paginya bibirku lembab dan nyaman sekali πŸ‘Œ

Itu saja informasi tambahannya. Semoga bermanfaat ya teman-teman 😊

Salep ini cocok digunakan untuk bibir gatal dan bengkak karena alergi. Insya Allah ampuhπŸ‘
Krim ini harus digunakan rutin. Paling ampuh kalau kamu pakainya tiap kali ingin tidur 😁
Kamu yang mempunyai bibir mudah kering, apalagi paska alergi seperti aku, penggunaan lip balm itu wajib ya. Kalau aku pakainya lip balm nivea ini.

Masalah Remaja: Mari Berbenah Bersama

Beberapa hari yang lalu, adikku menunjukkan sebuah video. Di dalamnya tampak beberapa remaja wanita. Mereka sedang meremukkan puluhan bungkusan mie kemasan di supermarket. Tanpa ada keraguan sedikit pun mereka melakukan perbuatan tersebut dengan suka cita. Bahkan mereka tertawa bersama.

Hari ini muncul lagi video yang lain. Informasi tentang video ini kudapatkan dari temanku. Dalam video itu, beberapa remaja laki-laki sedang balapan motor di area pemakaman. Tanpa malu dan ragu, mereka melindas semua kuburan itu. Sama seperti si remaja perempuan, mereka tertawa bersama-sama. Sedih sekali melihat video-video itu πŸ˜₯

Tanggapan teman-teman pun beragam. Salah satu tanggapan seperti ini,“Anak zaman sekarang emang begitu. Kebanyakan main gadget si.” begitu kata salah satu temanku.

“Jarang ngobrol sama orang tua si. Sekalinya ketemu, tetep aja si anak sibuk pegang gadget.” tambahnya.

Temanku hanya berpikir dari sudut pandang orang tua dan aku tidak setuju dengan pandangannya.

Kita akan menjadi orang tua yang egois sekali bila berpikir tidak dengan banyak kaca mata. Supaya adil, bagaimana kalau kita memandang kasus ini lebih luas lagi? Bagaimana kalau kita ajukan banyak pertanyaan lagi? Seperti apa orang tuanya? Bagaimana cara orang tua mendidik mereka? Sudahkah orang tua memberikan perhatian penuh pada anaknya? Bagaimana lingkungan rumah dan sekolahnya? Siapakah teman-teman mereka? Kita harus mengkaji secara menyeluruh hingga menemukan akar permasalahannya.

Mungkin Mereka Kesepian dan Kurang Perhatian

Bagaimana tanggapanku terkait video-video tersebut? Ada rasa sedih sekaligus kasihan melihat perbuatan para remaja itu. Dari apa yang dilakukan, kurasa mereka adalah remaja yang kesepian dan kurang perhatian.

Dari pengalamanku sendiri, aku belajar, sikap manusia tidak terjadi begitu saja. Selalu ada proses panjang hingga akhirnya terbentuklah banyak sikap dalam diri kita.

Aku selalu percaya, akumulasi pengalaman memberi pengaruh banyak dalam membentuk sikap seseorang. Maka, ketika aku melihat sikap seseorang, di saat yang sama, aku juga memikirkan pengalaman apa yang melatarbelakanginya.

Pada kasus remaja ini, aku pun bertanya dalam hati,“Perbuatan buruk apa yang orang dewasa lakukan, hingga para remaja bisa melakukan perbuatan tak bernurani seperti ini?”

Aktivitas sepenting apa yang kami utamakan, hingga kami alpa mencontohkan, mengingatkan, serta menasehati kalian si belia yang berhak dididik dan dikasihi?” tanyaku lagi pada diri sendiri. Kejadian ini sungguh menohok tepat dihati.

Mungkin Mereka Memang Tidak Tahu

Selain masalah kesepian dan kurang perhatian, bisa jadi mereka memang tidak tahu apa yang dilakukan adalah salah. Bisa jadi, dalam pikiran mereka memang belum ada konsep benar dan salah. Padahal seharusnya konsep ini sudah dimiliki setiap orang sedari dini. Manfaatnya apa? Supaya setiap orang bisa memutuskan sikap apa yang boleh dan tidak untuk dilakukan. Supaya setiap orang bisa memahami bahwa perbuatannya akan memberi dampak untuk sekitar. Untuk diri sendiri maupun untuk orang lain.

Lalu, apa yang terjadi pada remaja yang belum tahu konsep benar dan salah? Mereka akan berbuat sesuka hati dan tidak mempedulikan dampaknya. Mereka tidak akan merasa bersalah tiap kali melakukan perbuatan merugikan untuk orang lain dan lingkungan. Pikiran dan nurani mereka pun seakan tidak dapat digunakan dengan baik πŸ˜₯ contoh nyatanya, seperti perbuatan remaja pada video yang aku ceritakan di atas tadi πŸ˜₯

Daripada mengutuki dan menyalahkan perbuatan remaja pada video-video itu, bagaimana kalau kita berefleksi bersama tentang perbuatan yang mereka lakukan? Sudahkah kita menjadi orang dewasa yang perhatian, bijaksana, dan memberi teladan?

Ini tugas kita bersama. Agar kejadian seperti ini tidak terulang di masa depan. Mari kita tanamkan tanggung jawab itu pada hati kita masing-masing.

Tentang Sekolah: Si Kecil Perlu Merasai dan Mengalami Sendiri

“Ini adalah kali pertama untukku.”

“Katanya, aku disuruh baris. Siapa orang di sebelahku ini? Baru saja ia mendorong badanku. Ia juga menginjak sepatuku. Kenapa aku harus baris di sini? Sempit sekali di sini. Bahuku dan bahu temanku saling menempel. Aku sulit bergerak. Aku benar-benar bingung situasi di sini.”

“Aku harus makan bekal ini. Apa yang harus aku lakukan untuk pertama kali? Ambil kotak makan kah? Ambil botol minum kah? Bagaimana cara membuka tempat makanku? Aku belum lancar makan sendiri.”

“Sampai kapan aku harus mengantre? Apakah aku harus berdiri terus begini? Ke mana mamaku? Aku bosan kalau terus-terusan di sini.”

***

Percakapan di atas adalah imajinasiku saat melihat wajah polos anak-anak di taman kanak-kanak hahaha

Di balik wajah polosnya, aku yakin mereka mengajukan banyak pertanyaan dalam pikirannya. Memahami itu, bagaimana kalau kita biarkan mereka belajar dengan caranya? Bagaimana kalau kita bebaskan ia berpikir dan merasa?

Saat di sekolah, biarkan saja si anak belajar dari semua hal yang ditemuinya. Salah, tidak apa-apa. Bingung pun bukan masalah. Namanya juga belajar kan, salah dan keliru adalah hal normal. Malah dua hal itu penanda kalau si anak sudah berusaha 😁

Orang dewasa ada untuk meluruskan hal yang salah ketika si anak sudah berusaha. Bukan mengatur “agar selalu benar dan tepat” saat si anak belum melakukan apa-apa.

Mungkin tantangan orang tua memang di sini. Ketika orang tua tidak tega melihat anaknya kesulitan, jadilah si orang tua memberikan pertolongan meskipun si anak belum membutuhkan. Atau ketika orang tua merasa kasihan ketika melihat si anak kebingungan, jadilah si orang tua memberikan arahan meskipun si anak belum meminta. Pada akhirnya, orang tua pun menjadi bingung. Kasih sayang yang ia berikan berdasarkan kebutuhan anaknya atau kebutuhan dirinya.

Kemarin, saat mengantar adik ke sekolah, aku pun baru menyadari hal ini. Anak kecil memang perlu belajar banyak hal. Jika di rumah si anak diajarkan oleh orang tuanya tentang Tuhan, agama, budi pekerti, dan kemandiriannya. Maka, di sekolah anak belajar tentang lingkungan dan orang-orang selain keluarganya.

Hanya di sekolah, adikku harus antre panjang sekali saat ingin mencuci tangan, harus bersabar saat beberapa kawan saling dorong-dorongan, dan harus kebingungan kala ia ketinggalan rombongan saat perkenalan ruangan πŸ˜‚

Pada kondisi itu, haruskah orang tua atau orang dewasa ikut campur dan turun tangan? Kurasa tidak perlu. Biarkan si anak menyelesaikan masalahnya sendiri. Bahkan ketika sang guru menegur adikku dan kawan-kawannya karena saling mendorong, bukankah hal tersebut juga sebuah pembelajaran? πŸ₯Ί

Sebaik-baiknya pembelajaran adalah ketika si anak merasakan dan mengalaminya sendiri. Seharusnya, anak tidaklah belajar dari kemudahan dan rasa senang saja. Namun, anak juga perlu merasakan kesulitan dan rasa sedih. Supaya si anak menjadi seseorang yang peka hati, wawas diri, serta mudah menghargai apapun yang ia miliki dan hadapi.

Perjuangan Para Pencari Ilmu

Bu Endah tetap datang, meskipun sedang flu berat. Ia pun bersin berkali-kali.

Bu Sassy juga tetap datang, padahal ia baru saja sembuh dari diarenya.

Bu Ita juga datang bersama si kecil Ibrahim. Ibrahim kini berusia 3 bulan.

Melihat perjuangan ketiga ibu ini membuatku malu. Faktanya, Sabtu pagi kemarin sebenarnya aku hampir saja mengurungkan niat untuk datang ke masjid itu. Alasannya hanya karena perutku sedikit sakit. Namun, hatiku menolak keinginanku. Dengan langkah kaki yang berat, aku pun memaksakan diri agar tetap pergi.

Ada rasa bersalah di dalam hati tiap kali aku mengedepankan ego duniawi dan mengabaikan masalah akhirat. Dan ada dorongan kuat dari dalam hati untuk segera melakukan urusan akhirat ini. Mungkinkah ini yang dimaksud tanda bahwa Allah masih mencintai seorang hamba? Semoga Allah tetap memberikan petunjuk, meskipun hamba-Nya seringkali mengingkari.

Jika saja para ibu mengedepankan rasa malasnya, alasan Bu Endah kurasa cukup kuat untuk tidak hadir dalam pengajian pekanan ini, flu beratnya cukup mengganggu dirinya. Alasan Bu Sassy juga cukup kuat untuk absen, badan lemasnya akan menyulitkan dirinya bepergian pagi itu. Atau Bu Ita yang sedang mengasuh bayi. Ia pasti repot mempersiapkan diri dan bayinya. Jika saja Bu Ita mengurungkan niatnya untuk mengaji, kurasa Allah akan memaklumi.

Alhamdulillah, ibu-ibu yang sedang sakit tetap hadir dan Bu Ita juga hadir dengan membawa si bayi.

Mungkin hal seperti ini yang dimaksud para guru ngaji mengapa hadir ke majelis ilmu itu penting. Kita bisa saja menonton ceramah di youtube. Atau mendengarkan podcast-podcast Islami. Namun, datang langsung ke majelis dan bertemu para pencari ilmu akan mengembalikan semangat kita yang hampir redup. Kita pun akan tergerak dan mempersiapkan amunisi untuk menggencarkan ibadah harian lagi. Dan dua hal itu sulit kita dapatkan dari youtube ataupun podcast tadi.

Pernah suatu ketika beberapa temanku yang seorang guru harus menghadiri acara seminar parenting di sekolah. Dan acara dilaksanakan Hari Sabtu pukul 08.00 pagi. Sedangkan jadwal mengaji kami adalah pukul 06.30 atau 07.00. Ia pun memberitahu guru ngaji kami tentang kegiatan itu.

Tahukah kamu bagaimana respon para ibu setelah tahu kegiatan para guru? Hampir semua ibu menyarankan agar jadwal mengaji dimajukan. Jadilah kami mulai mengaji pukul 06.00 pagi. Masya Allah πŸ₯Ί

Jika bukan karena cinta-Nya pada Allah, kurasa para ibu akan mencari berbagai alasan untuk tidak hadir pada jadwal mengaji pekanan ini. Sebaik-baiknya penguat niat dan tekad memang hanya rasa cinta, ya. Ia mampu mengalahkan segala masalah yang ada. Semoga kita selalu menautkan segala cinta hanya karena-Nya.

Datang ke majelis ilmu memberi banyak manfaat sekali. Semangat mengaji yang kusebutkan tadi adalah hanya salah satu manfaatnya saja. Beberapa manfaat lainnya adalah kita akan akan mendapat ketenangan hati, rahmat, dimuliakan malaikat, dan masih banyak yang lainnya. Kamu bisa baca di sini.

Semangat mengalahkan rasa malas, para pencari ilmu πŸ’ͺPikirkan lagi, lagi, dan lagi bila dirimu mendapatkan seribu alasan untuk menggagalkan rencana mengaji. Ikuti kata hati, ia akan memberi petunjuk dari Allah yang kita cintai 😊 Bismillah, mudahkan kami, ya Allah.

Kenalan Lagi dengan Diri Sendiri

Tulisan kali ini adalah kesan dan pesan menulis 30 hari di Bulan Juni. Kesannya, aku benar-benar senang bisa menulis dengan tema ini. Aku menjadi semakin kenal dengan diriku sendiri dan hati pun lebih bahagia 😊 pesannya? Nanti aku tuliskan di bawah, ya.

30 hari lalu, aku memulai pendekatan lagi dengan diriku sendiri. Karena ternyata, tanggung jawab dan peran seringkali membuat kita lupa “ngobrol sama diri sendiri”. Kita berusaha keras untuk jadi seseorang yang nggak menyusahkan hidup orang lain dan bisa memposisikan diri dengan baik. Tetapi, kita lupa bertanya ke diri sendiri sebenarnya mau kita apa dan bagaimana. Kita lupa bertanya kalau perasaan kita baik-baik saja atau tidak.

Sebelumnya, aku nggak tahu pentingnya ngobrol sama diri sendiri itu apa. Toh aku sudah mampu memilih dan membuat keputusan untuk hidupku sendiri. Tetapi ternyata, untuk hal sederhana seperti pertanyaan “hari ini kita mau makan apa atau bagaimana keadaan perasaan dan pikiranku” pun kita berhak lho menanyakannya.

Kita nggak perlu terpengaruh sama pilihan-pilihan orang lain hanya karena merasa “nggak enakan”. Kita boleh kok mengungkapkan apa yang diinginkan. Setelah itu, sesuaikan deh dengan keadaan. Memungkinkan atau tidak untuk direalisasikan.

Aku ini tipikal yang selalu mendahulukan orang lain dibandingkan diri sendiri. Rasanya ikut bahagia saja kalau melihat orang lain bahagia. Rasanya ingin saja memperlakukan orang lain dengan sebaik-baiknya. Tapi ternyata, saking pedulinya sama orang lain, tipikal orang kayak aku ini suka lupa memperhatikan diri sendiri. Suka lupa nanya ke diri sendiri, aku benar-benar mau atau keadaan yang membuat aku memaksa diriku untuk mau. Gawat kan πŸ˜…

Jadi, untuk teman-teman yang tipe orangnya seperti aku, boleh banget kamu meluangkan waktu untuk ngobrol dengan dirimu. Kalau masih bingung apa yang mau ditanyain, lihat saja tema pertanyaannya pada tulisan aku di sini.

Kalau masih bingung juga, coba baca tulisan-tulisanku selama 30 hari kemarin. Tulisannya tentang obrolanku dengan diriku sendiri.

Ini pengalaman pertamaku. Rasanya ternyata nggak gampang jujur sama diri sendiri πŸ˜‚ aku benar-benar mikir keras menulisnya wkwk jadi, mohon maafkan kalau penyusunan kalimatnya kurang enak dibaca.

Meskipun begitu, semoga ada manfaat yang dapat diambil, ya. Dan semoga jadi termotivasi untuk ngobrol sama diri sendiri juga. Baiklah, silakan dibaca. Aku sudah lampirkan judul tulisan beserta linknya di bawah πŸ˜πŸ‘Œ

Day 1 – Kala Ketulusan Terpancar dari Matamu

Day 2 – Senyum Itu Memberikan Kekuatan

Day 3 – Mengenal Kata Hati

Day 4 – Cintai Tubuhmu Sendiri

Day 5 – Aku, Dea, dan Jilbab

Day 6 – Tentukan Seleramu!

Day 7 – Fisioterapis Sakit Lutut

Day 8 – Healthy Self-Esteem

Day 9 – Si Insecure

Day 10 – Jangan Takut

Day 11 – Percaya Diri Bisa Diciptakan

Day 12 – Asal Muasal Menjadi Kuat

Day 13 – Sekadarnya Saja

Day 14 – Namaku

Day 15 – Kebiasaan Unik

Day 16 – Untuk Shinta

Day 17 – Musik

Day 18 – Sense of Humor

Day 19 – Bukan Sekadar Makan

Day 20 – Terlalu Suka Fotografi

Day 21 – Perihal Membantu

Day 22 – Terfavorit

Day 23 – Mereka yang Berhak Memelihara Hewan

Day 24 – Makna Keluarga Untukku

Day 25 – Rumah

Day 26 – Teman Hidup, Katanya

Day 27 – Luka Masa Kecil

Day 28 – Krisis Identitas Diri

Day 29 – Present Self

Day 30 – Ketuk Semua Pintu

Bagaimana? Sudah beranikah menulis dengan tema-tema di atas? Saranku, ayo beranikan diri dan coba dulu.

Setelah menulis itu semua, kamu akan merasa lebih bahagia. Kamu akan diingatkan kembali, ternyata selama ini kamu sudah berjuang keras. Ternyata kamu sudah berhasil melawan rasa takutmu dan memilih untuk tetap maju. Dan pada akhirnya, kamu akan semakin sayang pada dirimu sendiri 😊

Sosok kita yang sekarang adalah perjuangan banyak orang. Perjuangan kita yang terus menguatkan diri sendiri, perjuangan orang tua kita yang tidak pernah lelah mendidik, perjuangan sahabat-sahabat kita yang masih terus membersamai, dan yang paling utama adalah berkat kebaikan Allah yang masih memberikan kesempatan kita untuk hidup serta memberikan pertolongan-Nya.

Semangat, ya 😁πŸ’ͺ

[Day 30] Ketuk Semua Pintu

“Ketuk semua pintu yang ada lalu lihat mana rezeki yang Allah pilihkan untuk kita.” – Dewi Nur Aisyah

Teringat percakapan antara aku dan Dela dalam pesan singkat beberapa hari lalu. Dela baru saja lulus dari pendidikan magisternya. Ia melanjutkan pendidikan tidak sesuai dengan pendidikan sebelumnya. Seorang fisioterapis yang melanjutkan pendidikan di bidang K3. Terbayang kah kamu apa yang Dela pikirkan paska kelulusan ini?

Dela menyadari kelulusan ini tidak selesai sampai di sini saja. Kini, pikirannya ramai oleh segala rencana. Saking banyaknya, ia pun sampai pusing dibuatnya. Kuingatkan saja ia dengan kutipan Mbak Dewi di atas.

Kalimat sederhananya, Mbak Dewi menyarankan agar kita mencoba semuanya. Mencoba semua peluang yang sejalan dengan rencana kita. Tetapi jangan lupa libatkan Allah selalu dalam segala rencana. Sehingga, hati kita lebih luas menerima segala ketentuan-Nya.

Ternyata meluaskan hati tidak mudah, lho. Aku pun masih sering begini. Kecewa berkepanjangan kala proses tidak lancar sesuai rencana. Atau ketika hasil tidak sesuai harapan. Entah mengapa, kita mendadak lupa tentang hakikat manusia. Bahwa manusia ya memang tugasnya hanya berencana dan melakukan aksi saja. Hasil akhir murni berada pada kuasa-Nya.

Supaya menjadi hamba yang berencana dengan baik dan melakukan aksi nyata, aku pun harus merencanakan masa depan. Untuk itu, aku ingin mengawalinya dengan meluruskan niat dan pikiranku. Beberapa hal diantaranya yaitu,

Aktualisasi Diri

Untuk bakat yang dipunya atau kelebihanku yang Allah berikan. Aku berharap dapat menggunakan keduanya dengan sebaik-baiknya. Aku juga berharap dapat berbuat baik sebanyak-banyaknya. Sebab, penghambat paling utama biasanya adalah diri sendiri.

Pandangan yang rendah terhadap diri sendiri membuatku tidak berani melakukan sesuatu. Penilaian yang buruk terhadap diri sendiri juga membuatku terus menerus berdiam diri.

Di masa depan, aku akan berupaya mendorong diriku sekuat-kuatnya. Dan menyemangatiku sebesar-besarnya. Kalau kata orang-orang bijak, peluang itu dicari dan kesempatan itu digunakan. Maka, aku memutuskan mengembangkan diri pada bidang-bidang yang kuminati.

Jangan Ragu Berbagi Kebaikan

Jangan ragu untuk berbuat baik. Kalau hati ingin melakukan hal baik, lakukan saja. Orang-orang sering mengurungkan niatnya untuk berbuat baik hanya karena takut “dibilang sok baik”πŸ˜…

Aku akan mengingatkan diri bahwa setiap manusia memang selalu sibuk pada pikirannya sendiri. Dari sana akan muncul banyak prasangka dan asumsi. Dan semua itu adalah urusannya masing-masing manusia. Maka, penilaian yang mereka berikan atas perbuatan kita adalah hal biasa. Hal manusiawi yang setiap orang akan lakukan. Jadi, tak perlulah terlalu dirasa atau dimasukkan ke dalam relung hati segala lisannya.

Percayalah, untuk segala komentar negatif yang orang lain berikan kepada sesama hanya bersifat sementara saja. Beberapa detik kemudian, orang tersebut tidak akan lagi mengingat atau memikirkan komentar negatif yang ia ucapkan tadi. Lalu, mengapa kita terlalu memikirkan sampai sebegitunya hingga mengurungkan perbuatan baik kita?

Di masa depan, aku akan lebih bersemangat untuk berbagi kebaikan kepada sesama. Aku tidak akan meragu meskipun ada banyak orang yang meragukan kemampuanku. Biarlah orang-orang sibuk pada prasangkanya dan aku akan sibuk pada usaha-usahaku saja.

Aku percaya, setiap orang pasti punya hal baik yang bisa dibagi. Semua hanya tentang mau atau tidak kita berbagi. Semua hanya tentang percaya atau tidak akan kemampuan diri.

Jangan lagi ucapkan “Aku mah apah atuh. Aku mah cuma serpihan rengginang.” Bahkan, serpihan rengginang pun akan dimakan lho sama si pecinta rengginang. Akhirnya, serpihan rengginang pun dapat bermanfaat untuk mengenyangkan perut si pecinta rengginang 😊

Tentang masa depan, aku memutuskan untuk percaya pada diriku sendiri. Dan berusaha menjadi versi terbaik diri. Seperti saran Mbak Dewi Nur Aisyah, karena aku tidak tahu apa yang terbaik untukku, maka aku akan mengetuk semua pintu dan menunggu. Biarlah Allah yang akan menunjukkan apa dan bagaimana rezeki yang Allah pilihkan untukku.

Tentang masa depan, aku memutuskan untuk bermanfaat sebanyak-banyaknya untuk sesama. Sayang sekali bila pengetahuan yang kita miliki hanya dirasakan oleh kita sendiri. Selagi aku masih mampu membantu, mengapa aku harus meragu?

[Day 29] Present Self

Sosok kamu atau aku saat ini, mungkin belum begitu mumpuni. Kita masih perlu membenahi diri. Dan kita masih perlu mengingatkan dan menyemangati diri dalam menjalani hari. Apakah hal-hal itu menunjukkan kita bukanlah sebaik-baiknya diri? Tentu saja tidak.

Menurutku, tidak apa bila kita belum mumpuni atau baik sekali. Selama ada niat berubah dalam diri, selama itu pula kita perlu bersyukur sekali. Sebab, Allah masih “memberi petunjuk” pada kita hamba yang sering alpa ini.

Aku pernah mendengar cerita seorang kawan, katanya, salah satu tanda hati kita masih Allah beri petunjuk yakni, adanya rasa takut berbuat dosa dan adanya rasa ingin berubah menjadi lebih baik lagi.

Jadi, bagi kamu yang masih tertatih-tatih dalam proses berubah atau masih sering gagal saat proses perbaiki diri, tetap semangat. Usaha kita tidak akan sia-sia, sungguh.

Daripada terus memikirkan “sulitnya” proses berubah, lebih baik kita syukuri segala perubahan yang ada. Dengan begitu, semangat kita akan terus terjaga dan tidak mudah putus asa 😊

Aku ingin berbagi. Ada tiga kebiasaan sedang aku terapkan sehari-hari. Menyadari bahwa aku adalah tipikal orang yang mudah panik dan sulit beradaptasi, maka aku pelan-pelan melakukan kebiasaan-kebiasaan ini.

Kenali

Aku pernah bercerita di blog bahwa aku senang mengamati. Mengamati manusia, hewan, ataupun lingkungan. Sebetulnya kesenangan ini memberikan dampak positif yang banyak sekali. Namun, kalau tidak dibatasi, perihal ini malah menghambatku untuk mengenali banyak hal di sekitar. Padahal, dengan mengenali banyak hal, akan ada banyak pula pelajaran yang aku dapati.

Mengamati terlalu banyak tanpa dibarengi dengan “penerimaan” akan membuatku mudah menjustifikasi sesuatu tanpa mengenali orangnya dulu. Seolah-olah aku merasa tahu atas orang itu secara menyeluruh. Padahal, apa yang terlihat oleh mata seringkali tidak sama dengan realita.

Di sinilah pentingnya proses “mengenal”. Kita jadi bisa memastikan apa-apa yang terlihat dengan keadaan yang sebenarnya. Setelah itu barulah kita memilah hal baik dan tidak. Ambil hal baiknya dan tinggalkan hal buruknya.

Aku merasakan sekali manfaat dari proses mengenal ini. Aku menjadi orang yang lebih terbuka dan siap menerima hal baru dari siapa pun. Paling tidak, aku tidak lagi menjadi orang yang mudah menjustifikasi sesuatu.

Sebelum menjustifikasi, aku biasanya melakukan beberapa proses dulu. Seperti, melihat dengan banyak kaca mata dan mendengar lebih banyak.

Hadapi

Dulu, aku selalu khawatir menghadapi hal baru. Alhamdulillah, sekarang tidak lagi. Rasa khawatir tentu saja ada, menurutku manusiawi sekali kalau manusia merasa takut dan cemas. Poin pentingnya adalah bagaimana aku mengelola rasa takut dan cemas itu.

Aku mengingatkan diri bahwa cara terbaik menghadapi sesuatu adalah sadari bahwa kehidupan memang arena tempat ujian datang. Dan tugas manusia memang mengerjakan ujian-ujian itu.

Sadari bahwa ujian tersebut pasti memberikan kebaikan untukku. Cepat atau lambat. Kalau masih ragu, biasanya aku coba ingat-ingat lagi, diusia yang sekarang ini aku sering mikir begini,“Alhamdulillah ya, kalo dulu aku nggak begitu, pasti aku nggak bakal kayak sekarang deh.”

Setelah itu, biasanya keraguan hilang. Kalau kamu juga pernah bicara kayak gitu dalam hati, artinya kamu juga sudah sadar kalau ternyata selama ini kita sudah menikmati banyak banget kebaikan.

Dengan berusaha memberanikan diri menghadapi sesuatu, aku merasakan banget manfaatnya. Aku yang sekarang jadi lebih kuat dan bijaksana, gitu. Karena sadar, kalau rasa cemas dan takut tidak boleh menghambat diri untuk maju.

Memberanikan diri untuk “menghadapi” ternyata membantu kita cepat lulus dari ujian-ujian kehidupan, lho. Aku pun jadi terhindar dari rasa takut dan cemas yang berlebihan.

Aku beri contoh ya, misalnya nih, aku pernah kerja sama bareng senior yang masih otoriter. Jadi, beliau memegang teguh bahwa senior adalah utama. Perkataan senior selalu benar. Beliau juga selalu ingin merasa unggul. Junior tidak boleh unggul. Pokoknya, beliau tidak mengenal regenerasi πŸ˜‚

Pada awalnya, aku memilih untuk menjauh. Males soalnya menghadapi orang yang keras kepala hahaha tapi, ternyata keputusan itu tidak memberi banyak manfaat. Aku jadi kayak kabur dari masalah.

Akhirnya, aku pun memutuskan untuk mengenali karakternya dan mencoba menyesuaikan diri dengannya. Mengalah tidak apa-apa demi kenyamanan bersama. Hasilnya bagaimana? Alhamdulillah, bekerja sama pun menjadi lebih nyaman dan aku belajar banyak dari beliau. Belajar tentang kegigihannya dalam bekerja dan rajinnya beliau mempelajari hal baru πŸ˜πŸ‘

Yakinkan Diri

Cara terakhir yang aku lagi biasakan adalah yakin bahwa Allah pasti membantu dan memudahkan segala urusanku. Biasanya, kalau pikiran dan hati sedang tidak enak, aku berusaha mengingatkan diri bahwa kejadian sulit ini datangnya dari Allah.

Allah ingin aku menyelesaikan misi ini. Tujuannya pasti untuk diriku sendiri. Allah ingin aku lebih sabar dan tangguh lagi. Kalau dalam masalah senior tadi, mungkin Allah ingin aku lebih melapangkan hati lagi. Supaya belajar tentang cara menerima sikap orang lain yang tidak aku sukai.

Tiga hal di atas tidak mudah. Tetapi, sedang aku upayakan. Kalau gagal, aku coba lagi. Kalau berhasil melakukan, aku syukuri. Kalau masih kesusahan, aku evaluasi diri lagi di mana letak masalahnya. Sikap aku yang mana harus aku perbaiki lagi.

Aku memang belum mumpuni dan masih sering gagal berulang kali. Tetapi aku percaya, selama ada tekad di dalam hati untuk menjadi versi terbaik diri, selama itu pula kemudahan akan Allah beri 😊πŸ’ͺ

[Day 28] Krisis Identitas Diri

Yang paling berbahaya dari kurangnya mencintai diri adalah kamu kehilangan ide untuk mendefinisikan “siapa aku”.

Aku pernah mengalaminya. Dan cukup lama berada pada fase itu.

Waktu kecil, aku tidak ingat kapan terakhir kali aku dipuji. Yang aku ingat, aku harus juara satu pada perankingan di kelas. Sistem SD negeri dulu masih seperti ini. Nilai akademik selalu menjadi perhatian utama. Dari guru, orang tua, mau pun siswa.

Meskipun begitu, aku tetap bersemangat untuk berprestasi, kok. Aku bisa meraih juara dua di kelas dan mengikuti banyak kegiatan di sekolah. Menurut tolok ukur keberhasilan siswa masa itu, iya benar aku berhasil. Aku berhasil memenuhi standar masa itu.

Apa hubungannya sebuah pujian dan prestasi? Tentu saja berhubungan. Semakin kamu dipuji, maka peluang berprestasi pun akan semakin besar. Tetapi, bukan ini yang akan aku bahas.

Pada kondisiku, aku jarang dipuji, namun tetap bisa berprestasi? Apa yang terjadi?

Aku beritahu rahasia kecil, dulu, Shinta kecil berusaha sekali berprestasi karena ingin membuktikan kepada orang tua kalau ia juga mampu seperti teman-temannya. Shinta kecil juga ingin sekali berprestasi supaya ia mendapatkan pujian dari orang tuanya.

Lalu, hasilnya apa? Aku berhasil berprestasi, aku tetap jarang dipuji, dan aku tidak mencintai diriku sendiriπŸ˜…

Kalau aku renungkan kembali, dulu, karena pola yang dianut orang tua dan lingkungan seperti itu, aku jadi lupa untuk mengapresiasi diriku sendiri. Bukan karena aku tidak mau, sepertinya aku tidak tahu bagaimana cara memuji diri.

Yang aku tahu adalah bagaimana cara memuji orang lain. Sepertinya aku belajar dari ayah dan mamaku. Aku juga belajar dari para orang dewasa di sekitarku. Mereka melakukan itu, menurut pemikiran sederhana Shinta kecil, adalah hal yang benar bila aku melakukan hal yang sama.

Ayah dan mama memang sering memuji orang lain. Mungkin, menurut mereka dengan memuji orang lain, anaknya akan termotivasi untuk menjadi lebih baik. Iya memang benar sih aku jadi termotivasi untuk lebih unggul dari orang lain. Tetapi sesungguhnya, aku tidak benar-benar tahu untuk apa melakukan itu. Yang aku tahu, pokoknya aku harus juara satu. Karena hanya dengan cara itu orang tuaku akan bangga padaku.

Karena pengalaman itu, masa kecilku sepertinya habis untuk mengejar prestasi tanpa mengenal siapa diri.

Terakhir kali memikirkan apa-apa tentangku sepertinya saat SD saja. Ketika itu, aku berpikir keras apa makanan dan minuman favoritku. Oh iya, aku juga lumayan berpikir keras untuk menentukan apa hobiku.

Kok aku parah banget sih? Iya memang. Makanya, saat SMA dulu, tiap kali ditanyakan “makna sukses” untuk diri sendiri rasanya sulit sekali. Entah mengapa selalu kehabisan ide untuk memikirkan jawabannya.

Dari pengalaman Shinta kecil aku belajar, mengenal diri sendiri adalah langkah awal menentukan jalan kehidupan apa yang kita akan ambil untuk masa depan. Apakah ingin mengikuti jalan orang lain, atau, kita yakin terhadap jalan kita sendiri.

Mengenal diri sendiri juga modal dasar bagi kita untuk menerima diri secara menyeluruh. Bahwa kita memang memiliki keterbatasan. Kita tidak bisa meraih semua hal dalam waktu yang bersamaan. Maka, mengorbankan sesuatu demi mendapatkan hal yang dituju adalah hal wajar yang perlu kita tahu.

Intinya, sebelum kita memikirkan mimpi besar untuk dunia, kayaknya, kenali dan cintai dulu diri kita dengan baik, deh. Yakinkan diri sampai hilang semua keraguan.

Krisis mengenal diri adalah bagian dari diriku di masa lalu. Namun, aku tidak malu. Selalu ada alasan dari kejadian yang aku lalui.

Meski dulu rasanya begitu melukai, serasa sulit dilupai, dan menyulitkanku melewati masa-masa setelahnya, namun Alhamdulillah sekarang tidak lagi. Segala kejadian hadir untuk memberi hikmah dan mendewasakan diri 😊

Jadi, haruskah aku terus menerus merasa menyesal, menyalahkan keadaan, meratapi, dan berdiam diri? Tentu saja tidak. Sebab, setiap kita adalah pejuang untuk kehidupan kita sendiri πŸ’ͺ