Mempersiapkan Anak Memasuki Akil Baligh

Sejak kali pertama Nunu memberitahu kajian di Masjid Walikota Depok itu, aku sudah semangat sekali. Sembari mendaftar kajian melalui gawai, aku juga mengirim pesan melalui instagram ke Nunu. Kami pun sepakat akan datang ke sana bersama-sama. Tak lupa aku juga mengajak adikku.

Materinya tentang “Mempersiapkan Anak Memasuki Akil Baligh“. Pembicaranya ada tiga yaitu Ummu Balqis, dra. Zulia, dan Ustadzah.

Acaranya baru saja kemarin. Karena tidak ada motor di rumah, aku dan adik akhirnya berjalan kaki ke kantor walikota Depok. Pagi itu, kami tak sempat sarapan. Tapi, tetap semangat. Mantap ya hahaha

Motivasi terbesar kami ingin belajar tentang materi ini sebenarnya untuk si bujang Danang. Ngobrol tentang pendidikan sex ke remaja ternyata nggak gampang, lho. Apalagi kami ini perempuan. Kami masih bingung batasan-batasan apa saja yang pantas dibahas untuk berbagi ke si adik laki-laki ini.

Nunu sampai lebih dulu. Ia menunggu di depan masjid. Tak lama setelah itu, kami pun tiba di sana. Di dalam masjid, ternyata ruangan sudah dipenuhi para ibu dan anaknya. Sama seperti kami, ibu-ibu ini juga semangat sekali. Hampir sebagian besar pesertanya adalah para ibu memang membawa anaknya. Begitu pula sahabatku Nunu. Si cantik Rumaisha yang baru saja memulai fase makannya, juga ikut datang ke kajian bersama kami 😁

Karena datang tidak di awal waktu, kami pun duduk di bagian belakang. Lagipula, si cantik Rumaisha kan juga hadir. Jadi, tak mungkin kami duduk di depan. Demi kemudahan mobilisasi ke luar masjid bila Rumaisha bosan atau menangis hehe

Berikut aku akan bagikan beberapa informasi yang kudapat dari Ummu Balqis,

Ajarkan Anak untuk Menjaga Diri

Kita sama-sama tahu bahwa pengaruh negatif dari luar rumah itu besar banget. Dan satu-satunya cara menghadapinya adalah dengan menjaga diri kita sendiri.

Ummu Balqis mengingatkan dengan tegas bahwa setiap orang tua bisa memulai mengajarkan anak tentang menjaga diri ini dari rumahnya sendiri.

Mengenalkan batasan aurat, misalnya. Langkah awal, orang tua bisa mengenalkan anak rasa malu. Tanamkan rasa malu kala bagian tubuhnya terlihat oleh orang lain. Meskipun si anak masih kecil, jangan pernah biarkan ia membuka baju sembarangan. Bahkan saat di dalam rumah.

Bebeberapa hal yang orang tua bisa lakukan di rumah, biasakan si anak mandi di dalam kamar mandi, biasakan anak memakai baju di dalam ruang tertutup, beritahu bagian tubuh mana saja yang harus dijaga dan tidak boleh diperlihatkan ke orang lain.

Adab di dalam rumah juga boleh banget diajarkan ke balita. Bila tidur bersama adik atau kakak tidak dalam satu selimut, mengetuk pintu kala masuk ke dalam kamar orang tua atau saudara, dan tidak mandi bersama bahkan untuk adik dan kakak.

Hal-hal yang kusebutkan di atas adalah adab yang memang harus ditanamkan sejak dini. Supaya apa? Supaya anak tahu bahwa selalu ada aturan untuk menjalani kehidupan. Untuk apa? Pastilah untuk kebaikan manusia itu sendiri. Untuk kebaikan bersama.

Bagi Ummu Balqis, untuk balita, yang utama bukanlah memaksa si anak memakai pakaian yang menutup aurat. Namun, yang terpenting adalah pemahaman mengapa ia harus menutup tubuhnya. Pemahaman siapa saja yang boleh melihat dan menyentuh tubuhnya. Berikan pemahaman dengan bahasa sederhana yang mudah dimengerti balita. Kalau bisa, carilah cara yang menyenangkan untuk anak-anak 😁

Jika Memang Harus Menitip Anak Ke Asisten Rumah Tangga

Sebagai tambahan, Ummu Balqis juga memberikan saran kepada orang tua dalam pemilihan Asisten Rumah Tangga (ART). Ada pertanyaan menohok yang Ummu Balqis utarakan. Katanya begini,“Perusahan saja memilih karyawannya dengan sebegitu telitinya. Kita, memilih ART untuk menjaga anak beginikah caranya? Memilih mereka tanpa kriteria? Ini untuk anak kita lho, bu. Anak yang Allah titipkan langsung kepada kita.” Mendengar itu, entah mengapa hatiku ikut tertohok.

Mendidik dan mengasuh anak adalah kewajiban orang tua. Bahkan, ketika kakek dan nenek ingin membantu pun, tetap pemegang kewajiban penuh adalah orang tua. Semua kendali dan tanggung jawab ada pada orang tua.

Namun, ada kalanya situasi memang mengharuskan orang tua menitipkan anak sementara karena urusan bekerja. Ummu Balqis memahami dan mengerti betul tentang itu. Satu saran yang Ummu berikan, sebelum ART menjaga anak, menyamakan visi dan misi keluarga adalah kewajiban. Beritahu ART hal apa saja yang boleh dilakukan dan tidak. Sebelumnya, bahkan orang tua juga perlu mewawancarai si ART secara mendalam. Tentang karakter dan keilmuannya.

Ummu Balqis menyarankan, bila ada kesempatan, ajaklah si ART itu ke kajian tentang bagaimana cara mendidik anak. Jangan hanya orang tua saja yang datang ke kajian. Tapi, si ART juga.

Semua perkataan Ummu Balqis membuat aku, adikku, dan Nunu saling tatap. Dan kemudian berdiskusi kecil tentang besarnya tanggung jawab orang tua ini.

Dan semakin sadar, benar adanya menjadi orang tua itu tidak mudah. Dan ilmu tentang menjadi orang tua memang tidak didapat begitu saja.

Ilmu itu harus dipelajari. Iya, memang betul ilmu tidak akan menjamin setiap hal akan selalu berjalan lancar dan baik-baik saja. Dengan ilmu, orang tua pun tidak akan seketika menjadi hebat dan luar biasa.

Namun, dengan ilmu kita akan menjadi lebih siap. Kita akan meminimalisir kesalahan dan akan berusaha melakukan hal-hal yang benar. Dengan ilmu, kita juga bisa berusaha menjadi sebaik-baiknya insan.

Semangat mencari ilmu, para orang tua dan calon orang tua! Sebab, akan seperti apa generasi di masa depan itu benar-benar tergantung pada kita. Ayo, kita berusaha! πŸ’ͺ

Advertisements

Menata dan Memorakporandakan

Tugasku adalah menata kembali. Tugasmu adalah memorakporandakan. Selalu begitu.

Bukankah memang begitu hakikat kehidupan? Ada yang merapikan dan ada pula yang membuat segala yang rapi menjadi tercerai-berai?

Pikiran usilku pun muncul ke permukaan. Katanya begini, “Apakah tidak bisa segala hal di dunia ini serba saling? Saling beriringan, misalnya? Sehingga tidak perlu ada kesenjangan dan ketidakadilan?”

Pikiran usil orang lain pun turut menanggapi pertanyaanku. Jawabnya begini,“Entahlah. Pada kenyatannya, sering kutemukan sesuatu yang sepasang selalu berasal dari dua hal yang berkebalikan.”

Pikiran usilku lagi-lagi memberi tanggapan. Begini kataku,“Kata berkebalikan yang kamu maksud, apakah mengarah pada sesuatu yang tidak selaras? Yang satu selalu memberi dan yang satu selalu menerima. Yang satu selalu menata dan yang satunya lagi selalu memorakporandakan? Begitu kah?”

Entah. Pikiran dan hati manusia itu misteri. Dan semua penilaian tergantung bagaimana cara pandang.” jawabnya.

“Jadi, tugasmu apa? Menata atau memorakporandakan? tanyaku.

Setiap kita pastilah ingin melakukan yang baik. Menjadi versi terbaik diri, misalnya. Namun, penilaian orang lain bukankah di luar kendali diri kita sendiri?” jawabnya.

Iya, tetapi setiap orang sesungguhnya bisa memantapkan hati dan pikiran. Sehingga benar-benar bisa menjadi versi terbaik diri. Tanpa ada keraguan. Tanpa memorakporandakan. Iya kan?” jawabku.

Dua pikiran usil pun terus bersahutan dengan gagasan yang berkebalikan. Mereka terus menyuarakan keyakinannya. Entah sampai kapan.

Setiap Kita Memiliki Kisah yang Berbeda

Bagaimanapun peliknya kehidupan seseorang, jangan sampai membuat kita takut berjuang. Setiap kita memiliki kisah masing-masing. Bahkan, ketika kelak mendapatkan kehidupan pelik yang serupa, bukan berarti hakikat kehidupan memang begitu adanya.

Kumpulkan energi positif di dalam diri. Ungkapkan kalimat membangun tiap kali kita merasa tidak percaya diri. Dan yakinlah kesulitan yang kita rasakan adalah akibat keterbatasan manusia saja. Karena sejatinya, setiap takdir yang ada pastilah terbaik untuk kita.

***

Bagi kita yang merasakan putus cinta. Apalagi dengan cara yang tidak bisa diterima. Tentu akan menyebabkan rasa sakit yang tidak terkira. Rasa percaya kepada lawan jenis rasanya sirna. Ketakutan menaruh harapan selalu tampak di depan mata.

Pada akhirnya, kita pun enggan merasakan jatuh cinta. “Waktu akan menyembuhkan” adalah kalimat mantra sekaligus alasan agar tak menjalin hubungan untuk sementara.

Bagi kita yang berkali-kali hatinya terluka. Entah karena lisan yang dikeluarkan seenaknya. Atau karena laku yang dilakukan sesukanya. Lagi-lagi mampu menyebabkan rasa sakit yang tak terkira. Menjalani hari rasanya sungguh melelahkan. Menghirup udara yang sama dengan si pembuat luka juga rasanya menyesakkan.

Pada akhirnya, kita enggan menaruh harapan bertemu orang-orang yang baik budinya. Kita menolak untuk menerima mereka. Dan kita semakin lelah serta tersiksa.

**

Lihatlah, menulis cerita di atas pun aku turut merasa sesak. Bagaimana bisa bahagia bila energi negatif memenuhi pikiran dan perasaan kita?

Sama halnya seperti sebuah pertemuan dan perpisahan yang akan terus terjadi. Begitu pula dengan luka. Entah luka yang disebabkan oleh putus cinta, atau luka karena laku dan lisan orang-orang tak bertanggung jawab.

Bukankah duka dan suka adalah dua hal yang akan terjadi bergantian dalam hidup kita? Karena duka, kita menjadi tahu rasanya bahagia. Karena suka, kita pun menjadi sadar bahwa ada banyak hal mampu membuat kita bahagia. Begitu kan hukum alamnya?

Seperti yang aku sebutkan di awal, setiap kita pasti memiliki kisah berbeda. Jangan takut menghadapi masa depan hanya karena kisah-kisah orang lain yang begitu menyedihkan. Jangan takut menjemput masa depan hanya karena luka masa lalu kita yang begitu menyakitkan.

Ingat selalu, setiap kita memiliki kisah. Terima dan buatlah strategi untuk kisah kita sendiri. Allah adalah pembuat skenario kisahnya. Maka, janganlah cemas dan ragu. Allah pasti memberikan takdir yang terbaik untuk kita.

Manusia adalah pemerannya. Maka, berusaha saja menampilkan yang terbaik dalam setiap perannya.

Hidup itu berat. Jangan membuatnya semakin berat. Berusahalah untuk meringankannya. Atur pikiran dan perasaan dengan berbaik sangka. Sebab, hanya dengan cara itu kita bisa menyembuhkan luka lalu berbahagia.

Yang memiliki kuasa atas pikiran dan perasaan manusia itu ada dua. Pertama, Allah yang Maha Kuasa. Yang kedua adalah diri kita. Yuk, berusaha 😊

Zubair bin Awwam Sang Penghunus Pedang Pertama

Ustadz Khalid bercerita dalam channel youtubenya,

Zubair bin Awwam memang istimewa. Ia terlahir dari ibu yang juga istimewa. Shafiyyah, ibu Zubair adalah tante Rasulullah yang berasal dari ayahnya (Abdullah).

Sejak Shafiyyah masuk Islam, ia bertekad akan berkontribusi untuk Islam dengan caranya. Apa cara yang Shafiyyah ambil? Ia berjanji akan mendidik anaknya berdasarkan nilai-nilai Islam.

Shafiyyah terkenal sebagai ibu yang tegas. Ia jujur dan selalu memberi tahu Zubair konsep benar dan salah. Tekadnya membuahkan hasil. Zubair pun tumbuh menjadi laki-laki yang memiliki keberanian di atas rata-rata. Bahkan, Ali bin Abi Thalib sang sahabat Rasulullah yang terkenal karena keberaniannya pun mengatakan bahwa Zubair adalah sahabat yang sangat pemberani.

Shafiyyah selalu memberi tahu Zubair bahwa ia tidak boleh takut terhadap apapun. Ia hanya boleh takut kepada Allah. Zubair pun tumbuh menjadi pemuda yang tak mengenal rasa takut. Binatang buas? Musuh yang kejam? Atau medan yang menyeramkan? Adalah bukan hal seberapa.

Tiap kali berperang, Zubair adalah orang pertama yang turun ke medan perang. Ia akan terus maju dan mendesak lawan hingga berhasil membunuh mereka. Prinsipnya hanya satu yaitu, lawan yang mati atau dirinya yang mati.

Mengetahui fakta ini, tentu saja membuat aku takjub sekaligus malu. Zubair menjadi pemberani tanpa syarat. Ia melakukan semua ini hanya untuk Allah. Dan demi Allah.

Beberapa keistimewaan lainnya yang Zubair miliki adalah ia termasuk 7 orang yang pertama kali masuk Islam, termasuk ke dalam 10 orang yang pasti masuk surga bahkan sebelum dirinya wafat, mendapat jaminan mati syahid, orang pertama yang menghunuskan pedang di jalan Allah, ahli syura pada zaman Umar bin Khattab, orang yang sangat rajin bersedekah, dan masih banyak yang lainnya.

Membandingkan semua keistimewaan Zubair dengan manusia zaman sekarang tentu saja tidak bisa. Apalagi tentang keberaniannya yang menjadi ciri khasnya. Kita masih sangat jauh dari itu semua.

Namun, semoga kisah ini membuat kita merenungi bersama. Bahwa setiap manusia juga bisa menjadi istimewa sesuai kapasitasnya.

Sama seperti Shafiyyah yang berjuang di jalan Allah menggunakan “jalan pendidikan”. Ia mendidik anaknya agar cinta kepada Allah dan agama Islam. Kita pun juga bisa. Mari memilih “jalan” dan cara yang sesuai dengan kita.

Lalu, terkait sikap berani yang diteladankan oleh Zubair, semoga kita juga mau berusaha. Meskipun tidak melakukan perbuatan-perbuatan yang persis sama, paling tidak prinsip kita sama. Kita harus yakin atas pertolongan Allah. Selama Allah menguatkan dan menolong hamba-Nya, bukankah tak pernah ada kata mustahil untuk kita?

Semoga kita tidak mendefinisikan sikap berani dengan cara yang salah.
Bersikap berani bukan berarti melakukan hal nekat di luar kenormalan dan melupakan kesantunan. Bersikap berani bukan berarti melakukan banyak hal menakjubkan tanpa rasa malu. Dan bersikap berani bukan berarti kita menjunjung tinggi segala hak hingga terlupa hak orang lain di sekitar kita.

Aku belum menonton ceramah Ustadz Khalid sampai selesai. Ceramahnya kurang-lebih selama dua jam. Dan aku baru berhasil menonton 1 jam saja. Barangkali teman-teman ingin tahu lebih banyak kisah Zubair bin Awwam. Silakan menonton di channel youtube ini.

Semangat mencari tahu kisah-kisah di zaman Rasulullah, ya! Dari kisah itu kita akan belajar banyak hal. Jangan merasa berkecil hati karena perjuangan para sahabat Rasul yang luar biasa. Jangan juga merasa tidak percaya diri karena perjuangan kita yang terlampau sangat jauh.

Kita belajar kisah mereka bukan untuk membandingkan, lalu menjadi lemah. Melainkan untuk belajar, mengambil hikmah, dan meningkatkan semangat perjuangan.

Terima kasih Ustadz Khalid telah bercerita dengan cara yang sederhana namun amat bermakna. Terima kasih untuk ilmunya. Semoga menjadi amal jariyah. Aamin πŸ’“

Berhati-hari dalam Menerima Kebaikan

Screenshot whatsapp di atas adalah percakapanku dengan si sipit kemarin malam. Sepertinya chatku sangat menghibur dirinya hahaha

Karena beberapa kali menjadi korban pencopetan dan pencurian gawai, aku berubah seperti ini. Aku menjadi mudah curiga dan waspada terhadap “sesuatu yang tidak wajar” πŸ˜‚

Malam itu, bapak ojek online berbaik hati memberi tumpangan gratis. Seharusnya tujuan akhir perjalanan ojek onlineku hanya sampai stasiun saja. Namun, aku tak jadi turun di stasiun karena bapak ojek online memberi tumpangan untukku.

Biasanya, aku akan lanjut naik kereta untuk menuju rumahku. Jaraknya tidak begitu jauh. Hanya 11 km. Berbeda dengan malam kemarin, 11 km terasa jauh banget guys karena dijalani dengan perasaan was-was hahaha

Rumah si bapak di Sawangan. Rumahku tidak jauh dari Jalan Margonda Raya. Rute kami sama. Karena alasan itulah si bapak berbaik hati menawarkan tumpangan gratis. Kurang-lebih begini percakapan kami.

Mbak, bareng aja sama saya sampai Depok. Nggak usah bayar, mbak. Sekalian saya jalan pulang.” kata si bapak.

Eh? Terima kasih tawarannya, pak. Saya turun di stasiun aja hehe.” kataku.

“Nggak apa-apa mbak, nggak usah sungkan.” kata si bapak.

“Eh? Jangan pak, bapak kan mau ambil penumpang lagi.” jawabku kikuk.

Mbak penumpang terakhir saya. Saya ambil penumpang memang cuma sampai jam segini aja. Sekalian menuju rumah aja mbak tiap kali pulang kerja.” kata si bapak.

Baru saja ingin membuka mulut untuk menanggapi perkataan si bapak, ia sudah mengklik tombol pada gawainya. Entah apa yang ia klik. Namun, saat itu juga, muncul notifikasi pada gawaiku bahwa aku sudah sampai tempat tujuan.

Jalanan pada malam itu ramai. Padahal jam tanganku sudah menunjukkan pukul 21.30. Jakarta memang tidak mengenal siang dan malam, ya. 24 jam nonstop selalu ramai.

Si bapak yang cenderung memaksa membuat aku cemas. Aku akui, sikapku ini memang kurang baik. Bukankah mewaspadai kebaikan orang lain adalah perbuatan tak baik? Namun, kata pikiranku, aku harus mewaspadai siapa pun itu. Bahkan untuk si bapak yang berbaik hati menolongku.

Mungkin bagi sebagian orang terdengar berlebihan. Tetapi, percayalah, bagi seseorang yang pernah mengalami kejahatan secara langsung, pikiran ini memang sudah terpatri di dalam diri. Sungguh πŸ˜‚

Meskipun cemas, aku tetap mengobrol dengan si bapak. Ia termasuk tipikal orang yang senang mengobrol. Si bapak menanyakan “hal-hal yang biasa orang tanyakan” seperti, kerja di mana, rumahnya di mana, dan alasan mengapa aku memilih naik kendaraan umum.

Aku pun juga menanyakan hal serupa. Ternyata si bapak tidak familiar dengan rute perjalanan yang kami lewati. Kata bapak, orang-orang yang tinggal di Sawangan lebih senang bepergian ke arah Ciputat dibandingkan ke arah Jalan Margonda Raya. “Macet banget, Mbak.” begitu katanya.

Sebenarnya, aku sudah terbiasa mendengar keluhan si bapak ini. Sahabatku juga tinggal di Sawangan. Dan dia selalu keberatan bertemu di daerah Margonda Raya wkwk

Jarak 11 km terasa lama. Rasa tidak tenang ternyata mampu membuat situasi perjalanan tidak menyenangkan. Dan perjalanan bersama orang asing yang tidak kita percaya sangat mampu membuat situasi begitu menegangkan hahaha

Terkait sikap waspada terhadap orang asing, aku teringat percakapan bersama kawanku beberapa tahun lalu. Saat itu, kami berada di kereta. Di sisi kiriku ada seorang anak kecil. Mungkin usianya 3 tahun. Tanpa pikir panjang, aku menawarkan camilan yang sedang kumakan. Lalu, dari arah depan kawanku memberi sinyal non verbal. Ia menggelengkan kepalanya.

Mengetahui bahwa kawanku memberi sinyal tanda tidak setuju, aku pun menghentikan tindakanku itu.

Setelah sampai tempat tujuan, ia langsung berbicara kepadaku. Katanya begini,

Jangan kasih makanan ke orang yang kita nggak kenal. Apalagi anak kecil. Pasti orang tuanya cemas anaknya dapat makanan dari orang asing.” kata kawanku.

Lho? Kan aku cuma mau berbagi makanan aja. Nggak boleh ya?” tanyaku.

Bukan nggak boleh. Niatmu baik, tetapi tempatnya tidak pas. Begini Shin, kita harus memahami perasaan orang tuanya itu. Hati si orang tua pasti tidak tenang anaknya diberi makanan dari orang asing. Setiap orang tua pasti ingin melindungi anaknya.” jawabnya.

Begitu kah?” tanyaku untuk memastikan.

Iya. Kejahatan itu dekat, Shin. Jadi, kita harus memahami untuk setiap sikap waspada orang lain. Bahkan waspada untuk setiap kebaikan yang kita beri.” jawabnya lagi.

Iya, aku paham. Makasih untuk wawasan baru yang belum pernah aku dengar sebelum ini. Aku akan lebih hati-hati lagi.” kataku.

Sesungguhnya, pada saat mengobrol itu aku belum terlalu paham maksud kawanku itu. “Aneh ya. Masa berbuat baik pun tidak sebebas itu bisa kita beri. Masa sikap baik pun bisa-bisanya dicurigai.” kataku dalam hati.

Kejadian kemarin malam membuat aku mengerti. Ternyata benar adanya bahwa kita memang tak mudah menerima kebaikan dari orang asing yang baru saja ditemui. Selalu ada kecurigaan dan kewaspadaan mengikuti. Seakan, ada tameng besar membatasi diri.

Dan menurutku perihal ini wajar terjadi. Bukankah setiap kita memang tak bisa membaca isi hati? Maka, satu-satunya cara hanya berhati-hati.

E-receipt yang berisi beberapa informasi tentang perjalanan ojek online

Bagaimana cara berhati-hati dalam menerima kebaikan orang lain? Dari pengalamanku sendiri, kita harus tetap menerima kebaikan siapa pun itu. Namun, sertai sikap waspada. Contohnya, seperti e-receipt yang aku kirimkan ke sipit di atas tadi. E-receipt adalah bentuk sikap waspadaku pada malam itu hahaha

Meskipun dalam e-receipt tidak tertera plat nomor si bapak, paling tidak aku sudah meninggalkan rekam jejak sebelum menerima kebaikan si bapak ini. Paling tidak, si sipit tahu bahwa malam itu aku sedang dibonceng oleh bapak ojek online secara gratis.

Dunia itu penuh kejutan. Kita tidak pernah tahu siapa saja yang menjadi serigala berbulu domba. Yang kita bisa lakukan adalah melindungi diri sendiri. Salah satu caranya ya selalu waspada dan berhati-hati. Dan jangan lupa, selalu meminta perlindungan dari Sang Ilahi.

Alhamdulillah malam itu aku sampai rumah dengan selamat. Si bapak mengantarku sampai Depok. Aku meminta diturunkan di pinggir jalan saja. Dan masih harus berjalan kaki lagi. Meskipun begitu aku terbantu sekali atas bantuan si bapak.

Sebagai ucapan terima kasih, aku beri sebuah biskuit coklat ke si bapak. “Untuk camilan selama perjananan, pak!” begitu kataku sembari meninggalkan motor si bapak.

Aku tahu biskuit coklatku memang tidak bisa membalas kebaikan si bapak. Rasa curigaku juga membuatku merasa tidak enak hati karena telah berburuk sangka.

Namun semoga si bapak menerima rasa terima kasihku. Semoga si bapak merasakan rasa syukurku atas kebaikannya melalui biskuit yang kuberi itu.

Sehat selalu ya, Pak. Semoga Allah membalas kebaikan bapak 😊

Semangat menjaga diri, guys! Setiap kita harus bisa melindungi diri sendiri πŸ’ͺπŸ’ͺ

Menangani Cidera pada Balita

“Mbak, kaki Satria sakit tuh. Coba diperiksa. Jalannya pincang.” kata Niar.

“Oke. Sebentar ya. Gue salat magrib dulu.” jawabku cepat.

Aku langsung menduga apa yang terjadi. Kondisi ini cukup familiar dalam ingatanku. Beberapa bulan lalu aku juga pernah menemui kasus yang serupa. Pertama, pasienku di rumah sakit. Kedua, saudaraku sendiri yang tinggal persis di samping rumahku.

Dan penyelesaiannya pun juga sama. Ternyata dua anak itu dalam keadaan baik-baik saja. Tidak ada luka serius pada kakinya. Memar pun tidak ada. Meskipun begitu, pernyataan mereka bahwa kakinya sakit benarlah adanya. Aku yakin mereka benar-benar merasa sakit. Hanya saja, rasa sakitnya bukan karena luka terbuka. Melainkan, otot yang terlalu lelah karena terlalu banyak diajak “bekerja”.

Si Kecil Tidak Mau Meluruskan Kakinya

Sore itu, datang sepasang suami istri ke poliku. Sang bapak menggendong anaknya. Aku lupa usia tepatnya berapa. Yang jelas ia masih balita. Setelah menunggu antrean dokter yang cukup lama, akhirnya si kecil dan orang tua masuk ke ruang dokter juga.

Setelah selesai konsultasi dengan dokter, aku baca rekam medisnya. Ternyata si kecil tidak diberikan tindakan apa-apa. Langsung saja kutanya ke dua orang tuanya tentang si kecil ini.

Orang tua bercerita, sejak tiga hari lalu, si kecil enggan meluruskan lututnya. Si kecil mengaku, kakinya selalu sakit tiap kali diluruskan. Jadilah dia tetap konsisten menekuk kakinya selama aktivitas. Ia pun berjalan dengan pincang.

Kedua orang tuanya tidak tahu ada apa dengan anaknya. Faktanya, tidak ada aktivitas fisik apapun yang dilakukan si kecil sebelumnya.

Akhirnya, dokter pun memberi home program kepada si kecil ini. Inti dari home programnya, orang tua lebih melakukan pendekatan ke si anak. Agar si anak terbuka tentang keluhannya. Dan si anak percaya kepada orang tua bahwa kakinya baik-baik saja. Secara medis, si kecil tidak ada masalah apa-apa. Ini hanya tentang psikis saja.

Alvaro (5 at Menangis Tersedu Karena Kram pada Kakinya

Teh lela datang tergopoh ke rumahku. Karena Alvaro kesakitan, Teh Lela pun menjadi panik. Sama seperti anak perempuan di atas. Alvaro juga masih balita. Tahun ini usianya 5 tahun.

Teh Lela bercerita, sejak sore tadi Alvaro menangis kencang sambil memegang betisnya. Alvaro menolak untuk dilakukan tindakan apa-apa. Dipegang ataupun digerakkan kakinya membuat Alvaro semakin menangis. Teh lela pun bingung dibuatnya.

Malam itu saat di rumahku, Alvaro sudah lebih tenang. Hanya saja ia masih belum mau berjalan kaki sendiri.

Al kakinya sakit ya?” tanyaku.

Iya.” jawab Alvaro dengan wajah bersedih.

Mbak Shinta pegang kaki Alvaro sebentar boleh, ya? Kalo nanti rasanya sakit, bilang ya, Al.” kataku. Aku ingin memeriksa si betisnya itu.

Aku pun menekuk dan meluruskan kakinya. Ia tidak kesakitan. Gerakan dilututnya normal. Sambil menggerakkan kakinya, aku juga bertanya ke Teh Lela apa saja aktivitas yang Alvaro lakukan kemarin dan hari ini.

Kemarin, Alvaro mandi bola hampir seharian penuh, Mbak. Kan tempatnya luas, ya. Ada perosotan juga. Jadi, si Alvaro lari-larian nonstop. Setelah pulang ke rumah dia nggak apa-apa kok, Mbak. Baru hari ini aja kesakitannya.” Teh Lela bercerita.

Lalu, aku mengecek keadaan betisnya. Dan menekan pelan untuk menemukan di mana masalahnya. Terasa betul si betis Alvaro keras sekali. Saat aku menekan dilokasi keras itu, Alvaro pun teriak kesakitan.

Aku menyimpulkan. Tidak ada masalah serius pada Alvaro. Gerakan lututnya normal. Ia mampu berdiri sendiri. Masalahnya hanya satu yakni, otot betis yang terlalu tegang.

Aku pun memijat dan meregangkan betis Alvaro. Setelah selesai, wajah Alvaro tampak lebih baik. Aku meminta dia berjalan mondar-mandir sepuluh kali. Alvaro menurut. Ia berjalan kaki tanpa mengeluh sakit. Alvaro pun pulang dengan riang.

Satria Berjalan Pincang

Melanjutkan cerita pada awal tulisan ini, selepas salat magrib, aku berencana melanjutkan salat Isya. Baru saja selesai salat sunnah, Satria menghampiriku di kamar. Begini katanya,“Mbak, udah selesai? Sini liat kaki aku.”

Mendengar permintaan dia, rasanya aku ingin tertawa. Semangat betul dia kakinya diperiksa hahaha

“Tadi sore mbak liat kamu lari-larian sama temen-temenmu.” aku membuka percakapan.

“Iya, tadi seru banget mbak manjat-manjat dan lari-larian.” kata Satria.

“Di bagian mana yang sakit, Dek? tanyaku.

“Di sini, Mbak.” ia menunjuk di bagian betis samping.

“Coba tekuk kaki kamu. Terus lurusin lagi, ya.” pintaku padanya.

“Bagus, kok. Lutut kamu masih sehat. Lutut kamu masih bisa digerakkin.” kataku.

“Mbak mau tekan betis kamu, ya. Kalo sakit, ditahan sebentar, ya.” aku meminta izin kepada Satria.

“Aduhhhhhh.” keluhnya.

“Di sini sakitnya?” tanyaku.

Iya, bener.” jawabnya.

Oke, sebentar ya mbak mau ambil es batu.” aku ingin mengompres dingin betisnya. Aku yakin betul penyebab betisnya sakit pasti karena aktivitasnya sore tadi. Aku melihat dengan mataku sendiri, dia berlarian kecang sekali. Dan turun-naik ke dinding entah sudah berapa kali. Pokoknya banyak.

Aku mengompres betisnya sekitar 20 menit. Satria pun gelisah. Berulang kali dia meminta untuk dihentikan proses mengompresnya. Kata dia, kelamaan. Tentu saja aku tidak menuruti inginnya. Aku alihkan saja dengan cara mengajak dia mengobrol. Dia pun bersemangat.

Kuberitahu rahasia kecil, anak kecil mana pun selalu bersemangat kalau diajak ngobrol tentang “dunianya”. Jadi, cara terbaik menghilangkan rasa bosan si kecil adalah masuk ke dunianya. Jangan lupa berikan batasan. Sore ini, bercerita tentang sekolahnya, misalnya. Kalau tidak, semua hal bakal diceritakan. Tentang mainannya, teman sekolahnya, sepatunya, bajunya, dan lain sebagainya hahaha

Setelah proses kompres selesai, aku instruksikan Satria untuk berdiri. Lalu, aku meminta dia untuk jinjit, angkat satu kaki, dan berjalan mondar-mandir.

Satria mampu melakukannya. Itu artinya betisnya baik-baik saja. Kukira, Satria hanya butuh istirahat tiga hari untuk masa pemulihan. Aku pun meminta Satria tidak berlarian di sekolah dan di rumah. Kira-kira balita menurut atau tidak? Entah hahaha semoga saja 🀣

Kesimpulan

Keluhan si kecil atas rasa sakitnya adalah hal baik. Hal itu menandakan bahwa ia peduli dengan tubuhnya sendiri.

Namun, semoga orang dewasa tidak salah menentukan sikap. Jangan sampai, sikap panik kitalah yang membuat si kecil ikutan panik. Padahal, tidak ada masalah serius apapun pada kakinya.

Cara terbaik membantu rasa sakit pada si kecil adalah mengelola rasa sakit itu. Bantu si kecil menemukan di mana sumber sakitnya. Bantu si kecil mengatasi rasa sakitnya. Lalu, yakinkan si kecil bahwa kakinya akan segera pulih dan baik-baik saja.

Ketiga anak yang aku ceritakan di atas mengalami masalah serupa. Aktivitas fisik yang terlalu banyak membuat otot-otot kaki mereka lelah bekerja.

Penyembuhan otot kaki yang tegang sebenarnya sederhana. Kompres saja air dingin pada bagian yang bermasalah. Air dingin ini membantu mempercepat pemulihan otot yang tegang. Lalu, kurangi aktivitas anak. Kalau bisa, si anak harus menghentikan aktivitas bermainnya sementara.

Jangan panik kalau bertemu anak yang cidera, ya. Keadaan akan menjadi lebih baik jika kita bersikap tenang dan fokus pada solusinya.

Jangan memperburuk suasana dengan rasa panik yang berkepanjangan. Bukankah anak selalu meniru orang-orang dewasa disekitarnya? Hati-hati ya 😁😁😁

Sampai Jumpa Semarang!

Minggu, 22 September 2019

Rasanya baru saja kemarin tiba di Stasiun Semarang Tawang. Pagi itu, kami harus mengemasi barang dan kembali ke Jakarta.

Setengah hatiku masih ingin di Karimun Jawa, setengah yang lainnya ingin segera pulang. Semenyenangkan apapun liburan di sana, tetap saja ada sebagian diriku tertinggal. Meskipun senang bepergian, aku tetap anak rumahan yang selalu senang berada di rumah.

Naik Kapal Lagi

Detik-detik menuju pelabuhan, kenangan buruk tentang mabuk laut memenuhi pikiranku. Membayangkan 4 jam di kapal yang bergoyang benar-benar membuat aku ketakutan. Padahal, beberapa jam sebelum pulang aku sudah sarapan dan afirmasi diri berulang-ulang. Tetap saja rasa takut ini menyerang.

Kata orang, rasa cemas hilang ketika manusia memiliki persiapan, kan? Memahami itu, aku pun menonton beberapa channel youtube tentang mabuk laut ini. Niat betul Shinta, ya . Iya memang, aku yakin kamu pun akan begitu kalau sudah merasakan mabuk laut πŸ˜‚

Dari channel youtube itu, aku mendapatkan beberapa informasi cara mencegah mabuk laut. Pertama, aku tidak boleh membaca buku dan bermain gawai. Pokoknya, kegiatan yang membuat otak berpikir keras jangan dilakukan. Kata si bapak pembuat channel, posisi yang tidak stabil (posisi kapal yang bergoyang karena ombak) mampu membuat otak kita tidak menerima input dari luar dengan baik. Hal itulah yang membuat kita mual. Dan akhirnya kita pun muntah.

Kedua, jangan banyak bergerak. Baiknya si kepala kita sandarkan saja ke bangku kapal. Atur napas dengan baik dan lihatlah pemandangan luas. Contohnya, kamu bisa lihat pemandangan air laut di balik kaca kapal. Kamu juga boleh memejamkan mata sambil membayangkan pemandangan alam yang menakjubkan.

Ketiga, oleskan minyak kayu putih atau freshcare ke perutmu. Biasanya, kalau perut terasa hangat, mual pun akan hilang. Kamu juga bisa menghirup aroma mint. Aroma mint juga cukup baik menghilangkan mual, lho.

Keempat, minum antimo . Dari hasil browsing, si antimo ini sebenarnya untuk mengatasi mual dan muntah. Jadi, kandungan obat di dalam si antimo mencegah adanya rangsangan di saraf otak dan telinga dalam yang menjadi penyebab timbulnya rasa mual, muntah, dan pusing kepala.

Tetapi, menurut pendapat orang-orang, si antimo bisa bikin kita ngantuk. Jadi, tujuan orang-orang meminum antimo sebenarnya supaya selama perjalanan dirinya tidur. Kenapa dia pingin tidur? Kalau selama perjalanan tidur, itu artinya dia akan terhindar dari mabuk laut πŸ˜‚πŸ‘

Saat aku minum antimo pun efeknya langsung terasa. Aku langsung tertidur pulas, lho. Apakah ini yang disebut kekuatan sugesti? Hahaha entah. Kenyataannya, selama perjalanan pulang keadaanku baik-baik saja berkat tidur haha Aku berhasil tidak mabuk laut πŸ‘πŸ‘πŸ‘

Tidak hanya aku. Hampir seluruh penumpang pun tidak mabuk. Padahal, penumpang saat itu sama seperti penumpang saat aku datang ke Karimun Jawa. Kalau kata Dela, ombak saat siang tidak terlalu besar. Kapal pun cukup tenang. Hanya dibeberapa tempat saja si kapal bergoyang dengan cukup kencang.

Kesimpulannya, hati-hatilah kalau kamu naik kapal pada pagi hari. Biasanya air laut itu pasang memang pagi-pagi. Kalau air sedang pasang, ombak akan kencang. Kalau ombak kencang, kapal-kapal pun akan bergoyang πŸ˜…

Terlalu Cepat Tiba di Stasiun Semarang Tawang

Kereta menuju Jakarta datang pukul 19.00. Aku dan Dela tiba di stasiun pukul 15.00. Masih ada waktu luang kurang lebih 4 jam untuk berkeliling Stasiun Semarang Tawang.

Awalnya, aku mengajak Dela ke Lawang Sewu. Jaraknya hanya 3 km saja dari stasiun. Karena perut tiba-tiba lapar, kami sepakat mengubah tempat tujuan. Kami ingin ke mall saja. Kami ingin ke mcd wkwk (Selalu makan ikan di siang dan malam selama tiga hari. Kami rindu makan ayam tepung 🀣)

Lalu, Dela mengusulkan untuk mengunjungi Kelenteng Sam Poo Kong. Tanpa tahu informasi apa-apa tentang kelenteng itu, aku pun langsung menyetujuinya.

Sejujurnya, aku bukan tipikal orang yang pergi ke suatu tempat tanpa tahu apa-apa. Aku tidak suka bepergian tanpa persiapan. Apalagi tempat yang didatangi adalah tempat bersejarah. Bepergian tanpa tahu informasi apapun tentang tempat tujuan, sama saja seperti bepergian tanpa “rasa”. Berjalan-jalan tanpa ada “rasa” tentu hambar rasanya.

Kelenteng Sam Poo Kong

Kesan pertama datang ke tempat ini adalah “wow“. Wow, aku seperti ada di Istana Drama Sageuk Korea haha Wow, gedung-gedungnya bagus banget. Wow, ini Indonesia rasa luar negri, ya. Wow, tiba-tiba suasananya jadi mistis. Apalagi saat melihat patung yang besar banget. Lalu, jadi ngebayangin gimana suasana kelenteng ini pada zaman dahulu.

Setelah berbagai kalimat wow bermunculan dikepala, aku dan Dela tidak berminat langsung keliling kelenteng haha kami lapar! Kami ingin makan. Alhamdulillah, di dalam kelenteng ada beberapa tukang jualan. Ada abang tukang bakso, abang tukang somay, abang tukang mie ayam, dan lain sebagainya. Kami memilih somay. Setelah rasa haus hilang dan perut kenyang kami pun langsung berkeliling kelenteng.

Destinasi ke kelenteng hanya diisi dengan mengobrol seadanya, foto-foto sepuasnya, dan sedikit mengamati sekitar. Waktu berkunjung yang singkat membuat kami bergerak cepat.

Tidak ada “rasa” yang muncul saat berkeliling kelenteng sebetulnya membuat aku kurang puas. Meskipun begitu, tentu saja aku dan Dela senang. Khususnya aku, ini adalah pengalaman pertama aku datang ke kelenteng. Aku sangat menikmati indahnya bangunan-bangunan dalam kelenteng.

Terlalu asyik melihat-lihat kelenteng dan berpose membuat aku tidak sadar bahwa hari mulai gelap. Kami harus bergegas. Kereta kami berangkat pukul 19.00.

Azan magrib berkumandang. Namun, kami memutuskan salat di stasiun saja. Dela dengan sigap memesan grabcar. Tanpa menunggu terlalu lama, grabcar pun datang.

Perjalanan 5,3 km tidak terasa lama. Mungkin hal ini terjadi karena bapak supir yang berasal Pekalongan itu ramah sekali. Si bapak bercerita singkat tentang gedung-gedung tua di sekitar Stasiun Semarang Tawang.

Bapak juga menyarankan, kalau sempat, sebaiknya kami berjalan kaki melihat gedung-gedung tua sebentar. Sekadar mengisi waktu luang sebelum naik kereta, katanya.

Namun sayang, waktu belum mengizinkan. Waktu yang tersisa hanya cukup untuk salat magrib serta meminum chatime yang baru saja kami pesan. Semoga kami bisa berkeliling ke gedung-gedung itu di lain kesempatan. Terima kasih, bapak untuk segala keramahan 😊

Bapak supir grabcar yang ramah, masjid di luar stasiun, dan minuman chatime yang dingin adalah beberapa kemudahan di akhir perjalanan. Bukannya rasa lelah yang terakumulasikan, rasa senanglah yang kami rasakan. Alhamdulillah.

Sampai jumpa Semarang! Sampai jumpa di waktu yang akan datang. Karena energi sudah penuh terisi, aku berjanji akan semangat menjalani hari. Dan berusaha menjadi lebih baik lagi. Bukankah ada begitu banyak tempat menunggu untuk didatangi lagi? πŸ˜†

Karimun Jawa: Day 3 – Melihat Laut dari Bukit Love

Hari terakhir di Karimun Jawa ditutup dengan naik motor “tumpuk tiga” hahaha aku, Dela, dan Mas Yulian naik motor bertiga, maksudnya. Dan merasa beruntung saat tahu di sana terdapat tanjakan yang tinggi sekali. Serem deh pokoknya. Saat aku dibonceng pun, rasanya seperti ingin jatuh ke belakang saking tingginya itu tanjakan πŸ˜…

Bukit Love ramai sekali. Sebagian pengunjung memang pulang hari ini. Kurasa itulah alasan mengapa si bukit bisa penuh begini.

Tempat yang tidak begitu luas dan padatnya pengunjung membuat aku tidak nyaman berada di sini. Apalagi saat Mas Tri meminta kami antre untuk “sesi pemotretan” lagi. Lengkaplah ketidaknyamanan kami hahaha

Tapi, aku mengingatkan diri bahwa kami adalah peserta open trip. Tugas aku dan Dela ya memang harus mematuhi. Sebenarnya boleh saja sih kami menolak untuk tidak ikut serta. Namun, rasanya tidak benar bila aku dan Dela meninggalkan rombongan dan berjalan-jalan berduaan. Akhirnya, kami pun mengikuti ke mana saja tempat-tempat yang menjadi tujuan.

Aku percaya, cara terbaik membuat lebih baik keadaan adalah dengan membuat diri kita nyaman. Apapun keadaannya. Maka, pagi itu di saat kegiatan tampak membosankan, aku berusaha membalikkan keadaan 😁 Contohnya bagaimana? Cari saja hal-hal yang menyenangkan. Mencari pemandangan indah, misalnya.

Bagus kan hamparan lautnya? 😍

Di balik kegiatan “pemotretan” yang melelahkan, ternyata Bukit Love memiliki pemandangan yang menakjubkan. Dari sini, seluruh laut di Karimun Jawa tampak secara keseluruhan. Alhasil, sejauh mata memandang tampak hamparan laut yang cantik nian. Semakin jatuh cinta saja aku dengan pemandangan dari ketinggian.

Pemerintah setempat rupanya membuat beberapa spot foto untuk hiburan. Bagi yang pandai bergaya di depan kamera, mereka pasti senang datang ke tempat ini. Tetapi, bagi kamu yang begitu suka pemandangan alam, spot foto tersebut tak akan kamu perhatikan. Sebab, lukisan alam memang tak pernah bisa tergantikan 🀣

Di Bukit Love juga terdapat sebuah kafe minimalis yang manis. Kurasa pemiliknya suka dengan Pulau Bali. Soalnya, dari interior serta pernak-perniknya “bergaya Bali” banget. Pagi itu cahaya mataharinya terik sekali. Kami pun mampir sebentar ke kafe minimalis untuk membeli minuman dingin. Haus gaessssss.

Kafe minimalis yang manis.

Oh iya, sembari menunggu minuman dibuat, aku mencoba duduk menghadap laut sebentar. Masya Allah, enak banget duduk di sana. Angin yang sejuk serta pemandangan laut di depan membuat siapapun nyaman. Kalau pergi sendirian, pastilah aku akan duduk lama-lama di kafe minimalis ini. Merenung ataupun mengobrol dengan yang tersayang, kurasa tempat seperti ini bisa menjadi pilihan πŸ˜„πŸ‘Œ

Setelah selesai minum dan mengunjungi kafe sebentar, aku dan Dela kembali bergabung dengan rombongan. Kembali bersama rombongan berarti melanjutkan “pemotretan” hahaha lol. Bagaimana rasanya menjadi model dadakan? Lelah banget. Aku beruntung berprofesi sebagai fisioterapis bukan menjadi model 🀣 Hebat euy para model. Ia sanggup betul bergaya dan tersenyum terus-terusan.

Setelah puas foto-foto, kami pun kembali ke penginapan. Kapal kami berangkat pukul 11.00. Namun, pukul 10.00 kami masih di Bukit Love. Sungguh nekat dua gadis ini wkwk dengan keahlian Mas Yulian dan Mas Tri dalam mengemudi, perjalanan pulang pun hanya ditempuh 30 menit saja, kawan-kawan! Luar biasa πŸ‘πŸ‘πŸ‘

Barang-barang sudah dirapikan sedari malam. Jadi, pulang dari Bukit Love kami bisa langsung ke pelabuhan. Mas Tri sedang sibuk sekali mengurus tamu selanjutnya yang akan datang. Alhasil, kami pun tidak bisa berpamitan. Hanya sebuah pesan singkatlah yang aku kirimkan. Aku ucapkan terima kasih banyak atas segala bantuan.

Aku dan Dela diantar Mas Yulian ke Pelabuhan menggunakan motornya. Karena tas kami besar-besar, kami tidak bisa boncengan bertiga lagi hahaha Mas Yulian mengantar kami secara bergantian.

Sesampainya di Pelabuhan, kami berpamitan. Dengan wajah ceria kami melambaikan tangan ke Mas Yulian. Mas Yulian tertawa dan turut melambaikan tangan. Berakhirlah perjalanan.

Sampai jumpa, Mas Tri dan Mas Yulian. Terima kasih untuk semua kebaikan. Sampai jumpa, Karimun Jawa. Terima kasih untuk perjalanan dan pemandangan yang menakjubkan. Kami benar-benar terkesan 😊 πŸ’•

Kepada diri aku berjanji, akan selalu kuluangkan ruang untuk sebuah perjalanan. Ruang yang memberiku kesempatan untuk terus berkembang dan berjuang. Berkembang menjadi sebaik-baiknya insan yang penuh kebaikan. Serta berjuang menikmati kehidupan yang penuh kesyukuran.

Tulisan love ini adalah salah satu dari banyaknya spot foto untuk pemotretanπŸ˜‚πŸ‘

Tulisan-tulisan tentang Perjalanan ke Karimun Jawa:

Menuju Pulau Karimun Jawa

Day 1 – Tour Darat Bersama Dela

Day 2 – Bermain Air dan Pasir [1]

Day 2 – Bertelanjang Kaki di Pasir Timbul [2]

Day 3 – Melihat Laut dari Bukit Love

Karimun Jawa: Day 2 – Bertelanjang Kaki di Pasir Timbul [2]

Destinasi terakhir hari kedua adalah pasir timbul. Dari kapal kami, sudah tampak hamparan luas pasir putih. Di sekitarnya, terlihat sedikit pepohonan. Langit di sana tetap cantik, warnanya biru cerah. Pantai dengan sedikit pohon, ternyata terasa ada yang kurang, ya. Kesan pertama melihat pasir timbul, sungguh biasa saja. Tidak ada rasa menggebu untuk segera tiba di sana.

Beberapa ibu dan bapak memutuskan untuk menunggu di kapal saja. Mungkin mereka sudah lelah seharian melakukan snorkeling. Semua anak muda turun ke pasir timbul.

Di dekat kapalku menepi, terlihat ada banyak tumbuhan laut di sana. Entah namanya apa. Yang jelas, si pasir tidak murni berwarna putih.

Aku segera melepaskan sandal dan menapaki pasir-pasir itu. Masya Allah, pasirnya lembut banget ternyata. Aku lupa, ciri khas pasir timbul kan memang begini. Teksturnya persis seperti tepung sagu.

“Del, ayo lari ke sana!” kataku. Tanpa meminta persetujuan Dela, aku mengajak paksa πŸ˜†

Ayo!” jawab Dela. Rupanya ia juga begitu semangat seperti aku.

Sejak kali pertama datang ke Karimun Jawa, aku belum puas bermain pasir. Maka, saat tiba di pasir timbul ini, gawai sengaja aku tinggal di kapal. Aku berlarian di pantai tanpa membawa apa-apa. Inginku saat itu cuma satu yaitu, bermain air dan pasir sepuasnya.

Pengunjung lain juga tampak bahagia. Saat aku datang, beberapa laki-laki berbaring di pantai. Mereka menatap langit lamat-lamat. Melihat pemandangan itu, memancing gelak tawa sebenarnya. Pak Rudi bahkan sempat meledek begini,“Lihat ke sana! Ada banyak ikan paus terdampar!” Mana mungkin aku bisa menahan tawa haha

Kami tidak berfoto sendiri di Pasir Timbul. Alhamdulillah, Mas Yulian berkenan memotret kami :’)

Di pasir timbul, kami memang dibebaskan bermain apa saja. Sepuasnya. Kami akan berada di sini hingga matahari terbenam.

Semua orang melakukan aktivitas yang paling disuka. Ada yang sibuk melakukan sesi pemotretan, ada yang bernyanyi bersama, dan ada yang berjalan-jalan santai berkeliling pasir timbul.

Lalu, aktivitas apa yang aku dan Dela lakukan? Karena begitu takjub dengan lembutnya si pasir timbul, sesampainya di sana, kami langsung berbaring hahaha seperti “para ikan paus terdampar” yang Pak Rudi katakan tadi, kami juga menatap langit lamat-lamat.

Warna langit pasir timbul tidak terlalu bergradasi. Warnanya senada, biru muda saja. Jika saja aku memotret langit saat itu, pasti hasilnya hanya biru saja.

Suasana sore itu bising, tetapi tidak menganggu telinga. Entah mengapa, suara ombak, angin, dan orang-orang bercengkrama bersatu menjadi suara yang nyaman didengarkan.

“Shin, coba gerakkin tangan dan kaki lo kayak gini.” dalam posisi berbaring Dela mencontohkan. Kedua kaki dan tangannya bergerak-gerak ke atas dan ke bawah.

“Kalo mereka yang tinggal di negara empat musim, ngelakuinnya di salju. Kalo kita di pasir aja hahaha.” tambahnya.

“Begini? Hahaha.” aku mengikuti gerakan yang ia contohkan. Kami pun tertawa bersama πŸ˜† ternyata melakukan hal sederhana begini sangat menyenangkan, ya 😁

Setelah puas tidur-tiduran di pasir, aku mengajak Dela menggali pasir. Tujuan awalnya sih ingin membuat lubang yang besar, lalu menimbun sebagian badan Dela di sana. Tapi, bikin lubang di pasir pantai ternyata tidak gampang, guys hahaha capek tangannya.

Aku, Dela, Amel, dan Burhan 😊

Tidak lama kemudian, Amel dan Burhan bergabung. Kami terbagi menjadi dua tim. Tim satu, aku dan Amel. Tim dua, aku dan Dela. Kami sepakat akan lomba membuat lubang besar dalam waktu singkat. Sambil merasa kocak dengan apa yang baru saja kami sepakati, kami tetap menggali πŸ˜‚ tanpa ada pemenang, lomba pun di akhiri dengan lempar-lemparan pasir hahaha

Sesekali, Pak Rudi menghampiri kami. Ia tertawa melihat kelakuan kami ini. Kutawari saja si bapak untuk bermain bersama. Bukannya menerima tawaran, si bapak malah semakin lebar saja tawanya πŸ˜‚ maklum ya, pak. Sudah lama nggak bertemu pasir soalnya, makanya heboh sekali haha

Aku memang begini. Tidak ragu melakukan hal kekanakkan seperti ini. Bermain ayunan, bermain kejar-kejaran, bermain pasir, ataupun bermain lempar-lemparan pasir. Lalu, tertawa bersama.

Kata orang, terlalu serius itu tidak baik. Rilekskan diri. Oh iya, sebenarnya aku bukan tipikal orang yang humoris. Juga tidak “receh” terhadap sesuatu yang lucu. Tetapi aku bisa begini, melakukan tindakan kekanakkan tanpa takut dan ragu πŸ˜† Prinsipku, sesuaikan saja sama kondisi. Belajar fleksibellah, gitu hehe

Setelah puas bermain pasir, Mas Yulian ingin memotret kami. Karena suasana hati sedang bahagia, kami pun berpose dengan banyak gaya. Rupanya sore itu aku dan Dela benar-benar tertawa suasana.

Matahari akhirnya terbenam. Sunset di pasir timbul tidak secantik saat di Pantai tanjung gelam. Meskipun begitu, sunset di sini tetap menenangkan dan semakin merekatkan kebersamaan.

Para tour guide memberi aba-aba dengan lambaian tangan. Itu artinya sudah saatnya kembali ke penginapan.

Dan tour hari kedua pun selesai. Kututup hari itu dengan foto bersama tour guide yang baik hati dan bersahabat. Mas Tri, tour guide darat yang kaku namun humoris. Mas Yulian, tour guide laut yang begitu sabar membimbing kami selama snorkeling.

Mas Tri itu yang di depan. Mas Yulian yang di belakang.

Untuk setiap kesempatan melakukan perjalanan aku sangat bersyukur. Sebab, melakukan perjalanan memang tidak semudah itu. Ada kesehatan yang perlu dijaga, ada waktu yang perlu diluangkan, ada dana yang perlu disisihkan, ada izin yang perlu dimohonkan, dan paling utama ada kesempatan yang Allah telah berikan.

Karimun Jawa: Day 2 – Bermain Air dan Pasir [1]

Pengalaman Bermain Air di Pulau

Aku memiliki pengalaman ke Pulau dua kali. Pertama, saat ke Pulau Oar. Kedua, saat ke Pulau Pahawang. Pulau Oar dekat sekali dengan Pulau Umang. Mereka sama-sama berada di Pandeglang.

Informasi yang aku dapat dari Dela si penduduk Pandeglang, destinasi yang paling banyak didatangi traveller biasanya Pulau Umang. Di Pulau Umang itu banyak penginapan. Sedangkan Pulau Oar adalah pulau tak berpenghuni.

Aku heran, padahal dulu kami tahu lho kalau Pulau Oar tak ditinggali penduduk. Tetapi tetap nekat berkemah di sana. Saat itu, kami satu-satunya yang berkemah di sana πŸ˜‚

Di Pulau Oar, kami tidak snorkeling. Sejak awal, niat kami memang ingin berkemah dan main di pantai saja. Entah bagaimana awalnya, kami berkesempatan main banana boat, lho. Kebetulan, saat itu banana boat dari Pulau Umang datang. Yasudah, kami ikutan. Oh iya, pengunjung yang datang ke Pulau Umang biasanya bermain banana boat di Pulau Oar.

Seingatku, di Pulau Oar kami tidak begitu puas main air dan pasir. Kami tidak sepenuhnya basah-basahan. Di sana hanya ada satu toilet saja. Kami pun tidak banyak membawa baju ganti.

Karena keterbatasan itulah di Pulau Oar kami membatasi diri untuk bermain air. Di sana, kami lebih banyak mengobrol, membasahi kaki dengan air pantai, menikmati suasana Pulau Oar, serta berkeliling pulau.

Kalau di Pulau Pahawang, kami sangat puas bermain air. Kami mendatangi banyak pulau kecil dan snorkeling di sana. Seingatku, aku tidak puas bermain pasir. Bermain pasir pun sekadarnya. Sebab, saat bertemu pasir timbul yang lembut, aku dan teman-teman sudah menggunakan kostum pulang hahaha jadi tidak mungkin basah-basahan. Dan semua baju ganti sudah habis terpakai.

Briefing Sebelum Tour Laut di Karimun Jawa

Mas Yulian si Ahli Snorkeling dan Mas Gofur si Ahli Potret πŸ˜†

Kalau tour darat ditemani oleh Mas Tri, Tour Laut ini kami akan ditemani Mas Gofur dan Mas Yulian. Mas Gofur bertugas sebagai fotografer di air sekaligus tour guide selama di Menjangan resort. Sedangkan Mas Yulian bertugas menemani dan menjaga kami selama aktivitas snorkeling.

Sebelum melihat ikan-ikan di laut, Mas Tri memberi tahu beberapa hal yang harus kami ingat.

Pertama, Si Mas tidak menyarankan kami menggunakan kaki katak. Kata si mas, kaki katak hanya akan menyulitkan kami saat berenang. Karena kami masih pemula yang takut air, seringkali kaki katak malah mengenai karang di sekitar tempat snorkeling. Karangnya rusak deh πŸ˜”

Kedua, jangan berenang terlalu jauh dan hadapi apapun dengan tenang. Kami harus berada di dekat Mas Yulian. Mas Tri mengingatkan, intinya selama snorkeling jangan panik. Kalau tiba-tiba ada air masuk ke dalam mulut, kami hanya perlu meniup sekencang mungkin. Nanti airnya bakal keluar, kok.

Ketiga, alat-alat snorkeling yang sudah selesai digunakan harap diletakkan kembali ke tempat asalnya. Ada banyak kejadian, setelah selesai snorkeling, si pengunjung meletakkan alat tersebut sembarangan. Tak jarang alat-alat itu rusak karena tidak sengaja terinjak.

Aku menyimak setiap pesan yang Mas Tri sampaikan. Karena sudah pernah snorkeling sebelumnya, Alhamdulillah aku tidak takut dan tenang.

Burhan dan Amel mahasiswa asal Pekalongan

Ada perubahan kebiasaan aktivitas snorkeling antara 4 tahun lalu dengan sekarang.

Kalau dulu, si mas yang menemani kami snorkeling akan sibuk mencari spot bagus untuk melihat ikan-ikan. Aku ingat betul, kami beberapa kali berpindah tempat hanya untuk mencari keberadaan si ikan-ikan cantik. Si mas juga sesekali bercerita tentang pulau yang kami singgahi. Pokoknya puas deh melihat-lihat ikan cantik berwarna-warni. Apa kabar foto underwater? Ada, tetapi bukan hal utama untuk dilakukan. Itu pun kami yang memotret sendiri.

Kalau sekarang, si mas yang menemani malah sibuk mencari spot foto dan membantu kami berpose underwater πŸ˜‚ jadi, kami hanya berhenti di satu spot snorkeling saja. Si mas sibuk fotoin orang-orang. Lalu, bagaimana pengunjung lain yang belum mendapat giliran pemotretan? Kami sibuk berenang sendirian haha

Bagi aku yang sudah memiliki pengalaman snorkeling sih baik-baik saja dibiarkan berenang sendirian. Aku malah asyik menundukkan kepala ke dalam air laut untuk mencari di mana keberadaan si ikan.

Pemandangan saat memasuki Menjangan Resort. Oh iya, di sini setiap pengunjung harus bayar 30.000

Memulai Snorkeling dengan Sepotong Roti

Berbekal sepotong roti dari si Mas Tri, aku mencari-cari ikan. Dalam hitungan beberapa detik saja, ikan-ikan pun berdatangan. Ia mendekat ke tanganku dan berebutan memakan roti-roti itu. Aku terkesima melihat apa yang mereka lakukan hahaha bahagia memang sederhana, guys. Melihat ikan berdatangan ke tanganku benar-benar membuat hati riang πŸ˜†

Aku tidak tahu roti ini aman atau tidak untuk ikan-ikan. Saat roti ini dilemparkan dari arah kapal, aku langsung menangkap dan memberi makan ikan tanpa pikir panjang. Semoga saja apa yang aku lakukan bukan kesalahan πŸ™

Di balik foto bagus kayak gini, ada afirmasi diri ribuan kali hahaha bagi seseorang yang belum bisa water trappen, melepas pelampung sungguh menegangkan πŸ˜†

Meskipun aku tidak terlalu senang kegiatan foto underwater yang lumayan banyak mengambil waktu snorkeling, saat proses foto ini berlangsung aku belajar tentang keberanian. Jadi begini, kalau ingin foto di bawah air, kami harus melepas pelampung yang dipakai. Bikin deg-degan sih. Soalnya aku belum bisa water trappen.

Pada awalnya tentu saja takut. Kaki yang tidak menapak dasar laut sesungguhnya cukup menakutkan πŸ˜… Sebenarnya kami tidak perlu takut. Karena spot snorkeling yang kami datangi ternyata tidak terlalu dalam. Kurang lebih 3 meter saja sepertinya. Dasar lautnya pun kelihatan.

Si mas mencontohkan bagaimana cara menyelam. Jadi, kami hanya perlu berpegangan sama si mas. Nanti, si mas akan mendorong kami perlahan ke bawah untuk menggapai karang. Untuk apa menggapai karang? Untuk berpegangan. Tujuan menyelam untuk berpose, kan. Jadi, kita perlu berada di dalam air beberapa detik supaya memudahkan si mas memotret. Sungguh ribet untuk sebuah satu jepretan ya πŸ˜…

Proses foto underwater ternyata melelahkan. Tetapi yang membuat seru adalah ketika aku melepaskan pelampung, menyelam, menahan napas dalam air, dan memegang karang. Berada di dalam air tanpa pelampung sungguh menegangkan. Tapi, menyenangkan hehe Ikan-ikan, karang, dan tumbuhan laut lainnya sangat indah dilihat dengan mata telanjang.

Menjangan Resort Tempat Penangkaran Hiu

Dari kiri ke kanan: Ibu Lubni, Pak Rudi, Burhan, Amel, Dela, dan aku 😊

Setelah snorkeling, kami berhenti di Menjangan Resort untuk makan siang. Oh iya, di Menjangan Resort ini kami akan bertemu hiu jinak dan bintang laut. Kami boleh masuk ke dalam penangkaran hiu dan memegang bintang laut.

Saat “dipaksa” berpose bersama hiu dan bintang laut, sebenarnya aku tidak begitu yakin. Aku takut. Muncul banyak pertanyaan dalam pikiranku. Apakah ikan hiu ini aman? Apakah tidak apa-apa aku masuk ke dalam kolam? Apakah si hiu tidak akan marah kalau “rumahnya” di masuki sembarangan orang?

Kata si Mas Gofur si tour guide sih aman. Iya, aku memang melihat si hiu baik-baik saja saat para pengunjung masuk ke dalam kolam bergantian. Tetapi, aku tidak melihat “pawang hiu” berada di sekitar kolam itu. Bagaimana bisa aku merasa aman? πŸ˜‚

Selain hiu, ada lagi yang membuat aku cemas yakni hadirnya si bintang laut. Rombonganku secara bergantian memegang bintang laut. Si bintang laut memang diam saja. Namun, di bagian bawah (mulutnya) keluar sesuatu berwarna merah yang menggelikan. Bentuknya seperti cacing merah kecil. Tidak hanya satu, tetapi banyak. Ngeri kan?

Lagi-lagi kata si Mas Gofur bintang laut ini aman. Mas gofur mengatakan kalau si bintang laut tidak memakan daging. Jadi, sudah bisa dipastikan ia tak akan menggigit. Si bintang laut hanya menyerap sari rumput laut.

Melihat mimik wajahku ketakutan, si Mas berusaha menenangkan, namun tak berhasil. Aku tetap takut hahaha tetapi tetap dipaksa untuk memegang. Aku pun menurut. Jantung rasanya seperti ingin lepas πŸ˜…

Jangan ditiru bagaimana cara aku memegang bintang laut. Itu salah besar hahaha cara yang benar adalah pegang ujung-ujungnya saja. Jangan biarkan telapak tanganmu menyentuh seluruh permukaan si bintang laut

Makan Ikan Bakar Sembari Berkenalan

Hasil fotonya kurang baik. Tidak apa, ya. Yang penting momennya kan? Dalam foto ini kami sedang makan siang bersama. Menunya ikan bakar. Oh iya, kami diberi semangka kuning juga. Segar!

Jika tour darat kemarin hanya bersama Dela, tour laut ini aku bertemu dengan teman baru. Pertama, ada Pak Rudi dan Bu Lubni. Mereka berasal dari Singapura. Keduanya berbicara menggunakan bahasa melayu. Usianya mungkin sekitar 50 tahunan. Kedua, ada Amel dan Burhan. Mereka berasal dari Pekalongan. Amel dan Burhan masih menjadi mahasiswa.

Aku mencoba mengakrabkan diri. Pasangan suami istri asal Singapura memulai percakapan lebih dulu. Aku menjawab kemudian memberi pertanyaan tanggapan.

“Istri saya tidak suka jalan-jalan seperti ini.” kata Pak Rudi.

“Tadi aja dia tidak ikutan snorkeling kan. Istriku cuma menonton dari atas kapal hahahaha.” tambah Pak Rudi.

“Tidak apa-apa, Pak. Yang penting si ibu tetap mau ikut, kan. Menemani pun itu sebuah keromantisan haha.” aku menanggapi.

Haha, iya benar. Oh iya, dari Singapura, sebenarnya lebih dekat ke Malaysia. Tapi, aku lebih suka jalan-jalan di Indonesia saja. Pelayanannya baik. Selama liburan, kita akan dilayani. Disiapkan alat snorkelingnya dan dipandu penuh selama kegiatan. Kalau di tempat lain tidak seperti itu. Kita dibiarkan aja sendirian membawa itu alat-alat snorkeling.” cerita Pak Rudi. Kami pun mendengarkan dan sesekali mengangguk-angguk.

Pak Rudi memberi pertanyaan balik tentang kami. Beberapa pertanyaan sederhana seperti kesibukannya apa, pekerjaannya apa, dan lain-lain.

“Bapak ke Indonesia memang untuk liburan?” tanyaku.

Tidak. Saya ke sini untuk pekerjaan. Saya mengurusi mebel di Jepara. Sekalian aja saya menyempatkan liburan. Sebelumnya, saya pernah ke Karimun Jawa satu hari. Tapi lelah ternyata hahaha jadi saya mengulangi liburan lagi. Kali ini lebih lama yakni sekitar 3 harian.” jawab Pak Rudi.

Ibu Lubni pendiam. Ia lebih banyak mendegarkan. Sesekali mengajukan pertanyaan. Tapi tidak banyak. Amel dan Burhan juga ikutan mengobrol sebenarnya. Tapi mereka cenderung menanggapi saja.

Percakapan singkat itu membuat kami cepat akrab. Kami pun melaksanakan destinasi selanjutnya dengan lebih hangat 😊

Di Menjangan Resort ada rumah pohon! 😁
Pemandangan tepat di depan rumah pohon

Mendatangi tempat baru serta berkenalan dengan orang baru adalah pengalaman mahal yang tak terbayarkan. Karena hakikat perjalanan bukan sesederhana mendatangi tempat-tempat yang dinginkan saja. Melainkan, sejauh mana kita mampu memaknai setiap hal. Dan sebanyak apa kita bisa mampu menjadi manusia berkecukupan dan banyak belajar. Cukup atas nikmat yang Allah berikan. Dan belajar menghargai sekitar.