Manners? Tata Krama?

Story instagram di atas adalah milik kawanku. Kami sedikit berbagi cerita bahwa masih banyak orang di sekitar yang tidak peduli dengan aturan. Mereka lebih suka bersikap semaunya dan diperlakukan cepat sesuai keinginannya. Padahal, yang namanya hidup bersama kita harus mau mempertimbangkan keadaan orang lain. Yang namanya hidup bersosial, kita harus peduli bagaimana perasaan orang lain atas sikap kita.

Ingat selalu kalimat bijak yang sudah kita kenal sejak lama,

If you are respectful to others, then you are more likely to be treated with respect by them.

If you show good manners everywhere you go, then you are more likely to encourage others to behave in the same way towards you.

Ingat selalu, selalu ada hubungan dua arah tiap kali kita berurusan dengan orang. Selalu ada kata “saling” supaya hubungan baik tetap terjaga.

Bukan hanya diri kita yang perlu dipikirkan. Namun, orang lain pun juga. Bukan hanya diri kita yang memiliki urusan penting. Namun, orang lain juga sama.

Bagaimana manusia bersikap dan memberi pengaruh pada orang disekitar adalah peran tata krama.

Tata krama, memang tak pernah ada aturan bakunya. Aku pun memahami perihal itu karena didikan orang tua. Ibu dan ayah selalu mengingatkan sikap baik apa yang perlu aku biasakan dan pertahankan. Keduanya, selalu memberi tahu sikap buruk apa yang perlu aku tinggalkan.

Seperti kebiasaan mengucapkan salam tiap kali keluar dan masuk rumah, bersalaman kepada seluruh orang tiap kali arisan keluarga, mengatakan permisi tiap kali melewati beberapa orang di kanan dan kiri, menyapa orang lain tiap kali bertemu, tidak membuka kaki terlalu lebar saat duduk dibangku, atau tidak menaikkan kedua tungkai ke atas bangku tiap kali bertamu. Dan masih banyak yang lainnya. Aku yakin, tentang tata krama ini kamu pun sering diingatkan oleh ayah dan ibumu, ya.

Oleh karena itu, tiap kali berhubungan dengan orang yang tidak sopan aku pun menjadi penuh tanya. Bagaimana bisa ia melupakan tata krama, padahal ayah dan ibunya sudah mendidiknya sejak ia belum terlahir di dunia? Bagaimana bisa ia melupakan tata krama, padahal ayah dan ibunya selalu memberi teladan baik sekuat tenaga? Ada apa sebenarnya?

Tata krama bukanlah ilmu yang hanya didapat dari buku. Sebab, ia dapat kita pelajari di mana saja. Selama kita masih bisa berpikir dan merasa, seharusnya kita bisa.

Tata krama adalah tentang bagaimana kita mempertimbangkan keadaan orang lain atas perbuatan kita. Dan pada akhirnya, kita pun berusaha menjadi manusia baik yang orang lain hormati dan suka. Bagaimana? Semoga kita tidak melupa. Bahwa di dunia ini bukan cuma kita semata. Jadilah manusia yang berhati mulia.

Advertisements

Bertukar Pikiran

Percakapan kala itu,

Kamu suka jalan-jalan ke mana?” tanyaku.

“Maksudnya bagaimana?” ia bertanya balik dan tampak bingung.

“Kalau aku ajak kamu bepergian jauh, tempat seperti apa yang ingin kamu datangi?” aku bertanya lagi dan memberikan pertanyaan lebih rinci.

Oh, itu maksudnya. Aku senang bepergian yang melakukan sesuatu.” jawabnya.

“Maksudnya bagaimana?” tanyaku. Kali ini aku yang bingung atas pertanyaannya.

“Maksudnya begini, kita pergi ke Pulau Pahawang beberapa tahun lalu, kan. Di sana kita melakukan snorkeling. Lalu, kita juga pergi ke Pulau Sempu. Kita menuju pulau tersembunyi dan berkemah di sana.” ia menjelaskan.

“Oh gitu. Kalau kita piknik di taman, kemudian melakukan hobi yang disuka bagaimana? Suka atau tidak?” tanyaku.

Entahlah. Sepertinya aku tidak memiliki hobi apapun. Aku pasti bingung akan melakukan apa.” jawabnya singkat.

“Kamu suka membaca buku. Bagaimana kalau kamu membawa beberapa buku dan menyelesaikan di sana?” tanyaku penasaran.

“Entahlah. Sepertinya aku kurang suka melakukan itu.” jawabnya. Kali ini ia benar-benar memberikan pernyataan.

“Bukankah kamu senang merajut dan berencana belajar lagi tentang itu?” tanyaku. Rupanya aku masih berupaya memengaruhi dia.

“Tidak, aku tidak ingin dan tidak tertarik.” ia memberi pernyataan yang kedua kalinya.

“Bagaimana kalau kamu datang untuk menemaniku saja? Aku selalu senang piknik di taman yang sepi. Aku bisa menulis di sana. Aku juga bisa belajar menggambar di sana. Aku suka suasana taman. Rerumputan dan pepohonan mampu menambah semangatku.” ucapku panjang lebar. Aku selalu begini. Selalu cerewet tiap kali membicarakan topik yang begitu kusuka.

“Oh iya! Kamu senang musik kan? Sembari menemaniku, kamu bisa mendengarkan musik apapun. Meskipun aku tidak terlalu suka musik, aku bersedia mendengarkan musik pilihanmu.” lagi-lagi aku berkata panjang untuk meyakinkan dia.

“Baiklah. Aku akan menemanimu. Bawakan aku makanan yang banyak!” jawabnya.

“Di lain waktu, kamu harus menemaniku. Suka ataupun tidak suka. Tertarik ataupun tidak tertarik. Kamu harus menemaniku.” pintanya.

“Baiklah! Aku siap menemanimu. Bahkan kala hatiku menolak untuk setuju.” kataku. Aku menyakinkannya. Tentu saja aku mau. Bagiku, yang paling penting bukan ‘melakukan apa’. Melainkan, ‘bersama siapa’ aku melakukan itu. Kebersamaan bersama orang tersayang selalu pertama dan utama.

Di sore yang ke sekian kalinya, kami tetap menjadi orang yang sama. Orang yang selalu senang bertukar pikiran. Membicarakan banyak hal seperti, topik yang bertujuan, atau topik random yang arahnya tidak jelas apa. Seringkali, kesimpulan pun tak pernah kami dapatkan. Meskipun begitu, kami bersyukur masih berkesempatan bertukar pikiran hingga saat ini.

Bagi kami, bertukar pikiran adalah kebutuhan yang tak bisa ditinggalkan. Kami memiliki banyak gagasan yang perlu disampaikan. Kami juga memiliki banyak keresahan yang harus dilepaskan. Kami pun memiliki keinginan yang harus direalisasikan.

Bertukar pikiran memang tak menjamin semua ingin dan angan menjadi kenyataan. Bertukar pikiran juga tidak menjamin “kata sepakat” mudah kami utarakan. Tak apa.

Bertukar pikiran memiliki makna lebih dari itu. Berkatnya, kami menjadi tahu bahwa berani mengungkapkan pikiran dan perasaan adalah langkah awal sebuah perubahan. Dan kami akan terus melakukan. Hingga segala keresahan dalam hati dan pikiran tidak muncul ke permukaan. Sampai kapan? Tentu saja sampai batas waktu yang tak bisa ditentukan.

Love Yourself First

Allah memang selalu memberi pelajaran melalui jalan yang tidak terduga. Ia datang di waktu yang tepat meski kita tidak meminta.

Pagi yang penuh kejutan. Seseorang yang tidak aku kenal berbagi kisah hidupnya.

Ini tentang temanku. Kami bekerja di tempat yang sama. Ia bercerita di balik telepon sana. Dengan suara parau dan putus asa ia meminta saran terkait anaknya. Aku tidak mengenal dia. Meskipun ia menyebutkan nama dan departemen tempatnya bertugas, aku tetap tidak mengenalnya.

Kami berbicara cukup lama. Singkat cerita, buah hatinya yang saat ini berusia 8 tahun mengalami masalah belajar. Si kecil mendapat nilai 5 pada pelajaran matematika. Lalu, ibu guru memberitahu bahwa si kecil kesulitan memperhatikan pelajaran yang diajarkan. Perhatiannya mudah teralih. Ia juga tidak mampu duduk lama dibangkunya.

Temanku melanjutkan cerita. Katanya, si kecil sudah les privat di rumah. Ia pun mampu mengerjakan semua sendiri. Si kecil selalu mempelajari materi pelajaran sebelum ibu guru mengajarkan di sekolah. Si kecil juga mampu menghafal juz 30 sejak taman kanak-kanak. Ia bingung. Temanku sungguh tidak percaya cerita yang ibu guru sampaikan.

Aku masih menyimak cerita dan belum menanggapi apa-apa.

Ia melanjutkan cerita. Temanku berharap banyak pada anak pertamanya. Dulu, saat temanku kecil, ia hidup dalam keterbatasan. Jangankan les privat. Untuk biaya sekolah saja orang tuanya harus benar-benar banting tulang.

Karena saat ini temanku merasa mampu dan cukup, ia pun memberikan segala hal untuk anaknya. Segala hal yang anak inginkan, maupun tentang kegiatan yang menunjang akademik anaknya. Ia mengakui, dirinya memang tipikal orang ambisius dan menerapkan hal seperti itu juga kepada anaknya.

Di telepon, temanku mengaku padaku, dirinya merasa bersalah pada anaknya. Ia sadar telah memaksa anaknya dengan keras. Ia juga sadar telah berlaku kasar kepada anaknya. Saking putus asanya, ia berkata seperti ini padaku,“Menurutku, yang harus bertemu psikolog adalah aku, Mbak. Aku yang bermasalah. Aku yang membuat anakku bermasalah. Iya kan, Mbak?” ia menangis.

Aku berdiam diri cukup lama. Memikirkan perkataan apa yang tepat untuk menanggapi cerita temanku.

Terkait kondisi anaknya, tentu saja aku tidak akan memberikan pendapat banyak. Meskipun aku sedikit menduga masalah anaknya, kurasa lebih baik temanku bertemu dulu kepada ahlinya, yakni, dokter anak dan dokter rehabilitasi medis.

Sebenarnya ada banyak pertanyaan ingin kutanyakan kepada temanku ini. Seperti, sejauh apa ketidakfokusan si kecil, adakah hal-hal aneh yang si kecil lakukan saat di rumah, bagaimana interaksi dan komunikasi si kecil, apakah ia bisa mengerjakan suatu tugas di rumah sesuai waktu yang telah disepakati, apakah ia mampu menyelesaikan sebuah pekerjaan sampai selesai, dan lain-lain. Namun, melihat kondisinya yang sedang tidak baik, aku mengurungkan niatku.

Akhirnya aku menanggapi begini,”Mbak, pasti kaget ya tiba-tiba dapat kabar si kecil dapat nilai 5. Padahal di rumah ia mampu mengerjakan soal-soal sampai selesai. Tapi, jangan lagi marahin si kecil ya, Mbak. Hal tersebut nggak menyelesaikan masalah. Pesan mbak pun nggak akan sampai ke si kecil. Yang ia tahu, Mbak itu marah besar ke dia.”

Mbak nggak perlu ke klinik yang sekali konsultasi 500.000 itu. Saranku, Mbak konsultasikan dulu aja si kecil ke dokter anak dan dokter rehabilitasi medis di sini. Kalo si kecil memang membutuhkan terapi, para dokter akan menentukan terapi apa yang tepat untuk kondisi si kecil ini, Mbak.” tambahku. Temanku sempat bingung juga masalah keuangan. Pada awalnya, ia ingin konsultasi ke klinik anak di luar rumah sakit. Namun, biaya konsultasinya benar-benar mahal. Dan tidak mungkin dilakukan saat ini.

Iya menyetujuinya. Dari nada suaranya, temanku lebih tenang. Mungkin ia lega sudah bercerita segala kecemasannya.

Ia pun mengatakan, akan mendiskusikan dahulu perihal ini kepada suaminya. Kalau sudah sepakat, ia akan datang ke dokter anak dan poli rehabilitasi medis. Sembari meminta maaf karena sudah bercerita panjang kepadaku dan mengambil waktu luangku, ia menutup teleponnya. Masalah ini pasti berat untuk temanku.

Dari sosok temanku, aku melihat luka masa kecil yang tak kunjung sembuh. Temanku belum berdamai dengan diri sendiri. Ia melakukan semua hal yang tidak bisa dilakukan dulu, kepada anaknya. Ia tetap melakukan semua hal yang diinginkan tanpa bertanya kepada anaknya. Ia memikirkan kebaikan untuk anaknya berdasarkan standarnya.

Sampai akhir percakapan, Ia terus menerus menyalahkan diri atas apa yang terjadi. Tampak jelas, temanku lupa untuk mengapresiasi diri. Padahal ia sudah sangat berjuang untuk anaknya. Meskipun menjadi ibu yang bekerja, temanku selalu meluangkan waktu untuk urusan sekolah dan pelajaran anaknya. Perihal ini sudah kusampaikan kepada dia. Ia pun terisak. Temanku bilang, ia memang tidak pernah sekali pun mengatakan terima kasih untuk dirinya sendiri.

Mendengar cerita temanku ini, hatiku sakit. Bagaimana bisa perihal self-love yang belum terselesaikan, benar-benar bisa mengganggu rumah tangga secara keseluruhan. Bagaimana bisa perihal self-love orang tua yang belum terselesaikan, benar-benar bisa membuat sang buah hati mengalami masalah perilaku.

Lihat, tentang self-love tidak boleh kita abaikan. Kenali diri dan selesaikan pelan-pelan. Kita pasti bisa menaklukkan :’)

Kamu Suka Film Apa?

Setiap orang tentu memiliki alasan mengapa meluangkan waktu untuk menonton sesuatu. Entah drama atau film.

Aku mulai senang menonton film tahun 2008. Pada tahun itu, film tidak mudah didapat seperti sekarang. Kemajuan internet tidak seperti saat ini. Entah aku yang belum mengerti atau kurang informasi, jasa rental DVD lah yang menjadi andalanku tiap kali ingin menonton film.

Aku hanya perlu mendaftar menjadi anggota, kemudian bebas deh ingin menyewa film apa saja. Harganya pun murah. Seingatku, satu film hanya seharga 2000 hingga 3000 rupiah saja. Sama seperti meminjam buku di perpustakaan, meminjam film pun ada batas waktu. Dan harus membayar denda tiap kali aku telat mengembalikannya.

Dulu, genre film yang paling aku suka adalah film fantasy seperti Harry Potter, The Golden Compass, The Bridge of Terabithia, The Chronicles of Narnia, Zathura, Alice in Wonderland, Charlie and The Chocolate Factory dan masih banyak yang lainnya. Sudah lupa.

Karena dulu internet belum pesat seperti sekarang, informasi film terbaik dan terbaru biasanya aku dapatkan dari mas-mas penjaga rental DVDnya. Nanti si mas yang akan memberi tahu cerita singkat tentang filmnya. Meskipun di belakang sampul DVD ada sinopsis filmnya, menurutku, tetap saja penjelasan si mas yang lebih lengkap wkwk

Kalau diingat kembali, ketertarikanku terhadap alam seperti saat ini mungkin dipengaruhi oleh film yang aku tonton waktu kecil. Kalian tahu sendiri kan bagaimana pemandangan film-film fantasy. Contohnya film Narnia dan Harry Potter, penonton akan disuguhkan pemandangan alam yang luar biasa. Padang rumput, pepohonan, bukit, gunung, langit, gua, sungai, laut, danau, dan sebagainya.

Selain film fantasy, aku juga senang menonton film thriller. Aku penggemar film SAW wkwk dan masih banyak film thriller yang aku tonton atas rekomendasi mas-mas rental DVD. Kalau diingat kembali, aku kurang paham mengapa si mas membolehkan aku menyewa film itu. Padahal saat itu aku masih SMP. Kalau ditanya mengapa suka film tersebut, aku tidak tahu. Padahal selama menonton pun aku ketakutan tiap kali melihat adegan pembunuhan. Tetapi, tetap saja ketagihan dan menyewa kembali film-film bergenre sama dengan judul berbeda.

Aku tidak memiliki alasan khusus mengapa menonton film-film tersebut. Pokoknya “ingin” saja. Ingin menonton film fantasy karena ceritanya seru dan pemandangannya bagus. Ingin menonton film thriller karena ceritanya menegangkan dan membuat aku penasaran. Penasaran tentang siapa pembunuhnya dan mengapa ia melakukan pembunuhan itu.

Semakin dewasa, selera film pun perlahan berubah. Aku tidak suka film thriller lagi. Aku tidak penasaran siapa pembunuhnya dan alasan di balik semua itu. Entah mengapa, rasa takut melihat adegan pembunuhan lebih besar dari rasa penasaranku. Pikirku, masih banyak film bergenre lain yang lebih “manusiawi” dan sarat makna dibanding film-film itu wkwk (mungkinkah ini karena faktor usia? 🀣)

Kalau film fantasy, aku masih suka sekali. Meskipun tidak terlalu tahu lagi film fantasy terbaru, aku tetap senang menonton film tersebut bila ada kesempatan dan waktu luang. Apalagi setelah tahu hobiku adalah melakukan perjalanan. Aku semakin bersemangat tiap kali menonton film fantasy.

Setelah mengenal Drama Korea (drakor) dan termudahkan dalam mengaksesnya, sebetulnya aku sudah jarang menonton film. Aku lebih banyak menonton drama korea dibandingkan film terkini. Lalu drama seperti apa yang biasanya aku tonton? Aku selalu suka drakor tentang keluarga dan profesi. Meskipun agak “berat” dan kurang cocok menjadi teman saat makan, aku tetap memilih genre drama itu.

Menurutku, drakor berbeda dengan drama Thailand maupun sinetron Indonesia. Cerita dalam drakor lebih rinci. Penulis naskah niat betul membuat ceritanya. Drama tentang keluarga misalnya, aku salut sama penulis naskahnya. Ia tidak hanya membuat cerita yang baik, namun juga sering menyisipkan pesan moral yang sarat makna. Dialog sederhana yang dibuat pun super bagus dan bermakna. Dialog tidak hanya berisi percakapan biasa untuk memenuhi setiap scene saja. Namun, dialognya berisi “pesan” yang menjadi penguat mengapa penonton harus tetap setia menonton drama tersebut sampai habis.

Lalu, tentang drama profesi. Riset yang dilakukan penulis naskah dan tim pembuat drama tidak main-main. Tugas profesi yang ditampilkan dalam drama benar-benar lengkap dan menyeluruh. Penonton awam yang tidak tahu pun akan menjadi tahu tentang profesi tersebut. Bagaimana perjuangan dan kebermanfaatannya untuk masyarakat. Sehingga, setelah menonton penonton akan mendapat pemahaman baru yang baik tentang profesi tersebut. Akhirnya, penonton pun akan lebih menghargainya.

Jika dulu menonton film hanya sekadar menonton, maka sekarang tidak begitu lagi. Bukankah menonton sesuatu berarti kita memberikan waktu untuk hal tersebut? Maka, jangan sembarangan menonton film yang tidak benar-benar kita tahu.

Kalau aku, saat ini sedang senang menonton drama atau film keluarga. Aku ingin mengambil pelajaran dari interaksi anggota keluarga di dalamnya. Bagaimana mereka menjalani peran dengan sungguh-sungguh, bagaimana mereka menghadapi masalah dengan tangguh, bagaimana mereka memperlakukan setiap orang dengan baik, dan masih banyak yang lainnya.

Aku pun bisa belajar dari tingkah laku setiap anggota keluarga dalam drama, lho. Bagaimana cara si suami ngobrol sama istri saat keduanya sedang emosi. Bagaimana cara si anak ngobrol sama orang tua saat keinginannya tidak sejalan dengan ayah dan bunda. Bagaimana cara si orang tua menghargai perasaan anak-anaknya saat anak melakukan sesuatu yang mereka tidak suka. Perkataan bahwa kita bisa belajar dari mana saja ternyata benar adanya, ya 😊

Selera filmku memang berubah lumayan signifikan hahaha dari yang dulu menonton apa saja, sekarang harus ada “alasannya”. πŸ˜‚

Setiap kita tentu memiliki selera. Namun, semoga selera itu tidak hanya didasari rasa ingin tahu saja. Bukankah menjadi lengkap bila apa-apa yang kita suka juga memberikan sesuatu yang bermakna? πŸ˜„

Memutus Rasa Benci

“Pernahkah kamu membenci seseorang yang belum pernah ditemui?” tanya dia.

Apa definisi benci?” jawabku.

“Coba buka KBBI!” jawabnya kesal.

“Langsung jawab saja. Biar cepat!” balasku tak kalah kesal.

“Benci itu ketika kamu sangat merasa tidak suka terhadap sesuatu.” akhirnya ia mengalah dan menjabarkan definisi itu.

Oh, pernah, kok. Tapi dulu sekali. Berbeda kasus denganmu. Aku pernah membenci temanku sendiri. Kalau tidak salah, 7 tahun yang lalu hahaha.” jawabku.

“Ih jawaban macam apa itu. Serius!”

“Aku serius!” jawabku tak kalah serius.

Adikku memang unik begini. Ia suka menanyakan hal-hal random, namun seru untuk bahan diskusi. Saking serunya, diskusi kami biasanya berlangsung sampai tengah malam πŸ˜…

Perihal rasa benci, 7 tahun lalu aku pernah membenci seseorang. Aku membenci perbuatannya. Namun, aku pun turut membenci orangnya.

Membenci orang lain ternyata melelahkan. Hatimu menjadi sesak tiap kali berada dekat si dia yang kamu benci. Hatimu pun menjadi tidak tenang tiap kali melihat sosoknya. Melihat orang tersebut tertawa, kamu kesal. Melihat orang tersebut tersenyum, kamu marah. Pokoknya, selama kamu dan dia berada dalam ruang yang sama tak pernah ada hidup tentram dan damai πŸ˜‚πŸ˜‚πŸ˜‚

Manfaatnya pun tidak ada sama sekali. Semua hal tentang orang tersebut menjadi buruk. Padahal, seburuk-buruknya perbuatan seseorang, pastilah ada kebaikan pada sifat yang lainnya. Hanya saja, karena rasa benci yang terperihara itu, kebaikan orang tersebut seakan tak tampak oleh mata. Mata kita dibutakan oleh rasa benci dan amarah. Pada akhirnya, hati kita pun menjadi terkotori oleh hal-hal negatif. Yang rugi diri sendiri, deh.

Setelah sadar bahwa membenci hanya memberi kepuasan pada ego semata dan tidak memberi manfaat apa-apa, aku tidak ingin membenci orang lain lagi.

Benci Perbuatannya Bukan Orangnya

Kamu pasti sudah sering membaca kalimat di atas, ya. Meskipun sulit untuk dilakukan, kamu harus tetap berusaha. Dulu aku pun begitu. Tiap kali kesal terhadap sesuatu, aku berusaha mengingatkan diri bahwa yang aku benci hanyalah perbuatannya. Bukan orangnya. Kalau sudah begitu, biasanya akan lebih mudah menerima. Menerima kekurangan orang lain serta menerima pelajaran yang didapatkan kala itu.

Pada akhirnya, aku menjadi tahu bahwa tugas manusia memang sebatas mengamati, mempelajari, dan memetik hikmahnya saja. Kita tidak berhak menentukan dan menjustifikasi sikap manusia yang lainnya.

Fokus pada Kelebihannya

Kamu pasti memiliki teman yang super menyebalkan. Misalnya, orang ini sangat ambisius hingga lupa makna pertemanan. Ia rela mengorbankan kawan untuk sebuah pencapaian. Kamu pasti malas ya berdekatan dengan orang seperti ini.

Namun, pada kenyataannya, sekeras apapun kamu kesal dan berusaha menjauh, kamu harus tetap berdekatan sama dia. Karena kamu dan dia dalam satu tim yang harus bekerja sama melakukan sebuah tugas “negara”.

Saranku, daripada terus memelihara rasa tidak suka, kesal, dan benci terhadap dia, sebaiknya kamu fokus pada kelebihannya saja. Temanmu yang ambisius itu pasti rajin, bertekad kuat, dan gesit. Kamu boleh sekali belajar sama dia tentang hal-hal itu πŸ˜„

Tetapi jangan lupa, meskipun kamu fokus pada kelebihan dia, bukan berarti rela dimanfaatkan, ya! Kamu harus tetap berhati-hati dan bersikap tegas padanya. Tetap tunjukkan prinsip yang kamu pegang teguh bahwa mencapai sesuatu tidak perlu mengorbankan orang lain. Tunjukkan pula bahwa sebaik-baiknya usaha untuk mencapai tujuan adalah dengan kemampuan.

Lakukan Perubahan untuk Menyesuaikan

Mengalah tidak berarti kalah. Dalam bekerja, mengalah juga berarti tidak mempertahankan pendapat bila hal tersebut menghasilkan perpecahan. Demi kebaikan bersama, semua harus kita upayakan. Termasuk perihal mengalah ini.

Untuk meredakan rasa benci dan tidak suka, kita harus memulai perubahan dari diri sendiri.

Di sekitar kita, ada orang-orang yang begitu senang diberi pujian. Terkesan berlebihan pun bukan masalah untuknya. Bagi dia, pujian dan penghargaan adalah segalanya.

Ia akan terusik dan marah bila ada orang lain yang dipuji selain dirinya. Kalau bertemu orang seperti itu, kamu jangan kesal dan benci. Mengalah saja.

Berikan pujian untuk setiap kerja keras yang ia lakukan. Sesekali, minta ajari ilmu yang ia kuasai dan banggakan. Berikan ruang pengalaman tentang apresiasi untuk dia. Maklumi saja, mungkin perihal apresiasi ini adalah sebuah luka masa kecil yang belum ia dapatkan.

Percaya, di balik perbuatan menyebalkan seseorang, pasti ada kisah tidak menyenangkan di belakangnya. Maka, daripada memelihara rasa benci dihati, bagaimana kalau kita maklumi dan pahami?

**

Memutuskan rasa benci yang bersemayam dihati tidak mudah dilakukan. Apalagi kalau kamu dan dia berada pada atap yang sama. Tetapi, kita tidak pernah bisa menghindar dari masalah yang ada. Pilihannya hanya ada dua, segera berdamai dan mencari solusi agar hati menjadi tenang, atau tetap keras kepala pada keinginan yang manfaatnya pun tidak jelas apa.

Setiap kita berhak melanjutkan hidup dan mencipta keadaan yang lebih baik, kan? Maka, lepaskan segala rasa benci yang menyesakkan hati dan rangkailah masa depan dengan semangat tinggi.

Ada kalimat Wang Geum Hee dalam drama korea Home for Summer yang menyentuh hati. Katanya begini,

“Aku bisa saja membenci kamu. Karena kamu sudah melukai hatiku. Namun, aku memutuskan untuk tidak membenci. Membenci hanya akan menyiksa diriku sendiri. Membenci hanya akan menyulitkan diriku ini. Maka, aku memilih untuk meninggalkan masa lalu dan memulai hal yang baru. Aku ingin hidup.”

Untuk Perempuan

Untuk perempuan,

Kita memiliki kisah hidup yang beragam dan penuh tantangan.

Tentang dirimu dan bagaimana kamu menghadapi dunia adalah tugasmu seorang, sungguh. Tidak ada satu pun orang yang mampu menolong dirimu selain dirimu sendiri.

Jangan pernah mencari pembenaran atas apa-apa yang sebenarnya bisa kamu ubah. Jangan pernah mencari kambing hitam atas kesalahan orang-orang di masa lalu yang mempengaruhi hidupmu. Jangan melakukan kesalahan yang sama dan lakukan perubahan. Siapa kamu dan bagaimana kamu hidup adalah pilihanmu. Rencanakan masa depan dan libatkan Allah untuk setiap langkahnya.

Hal yang salah tidak akan menjadi benar meskipun kamu menjadi korban. Dan hal yang benar tidak akan menjadi salah bila kamu berani mengambil langkah benar. Jangan berdiam diri. Bergeraklah dan percayakan semua hal pada dirimu sendiri. Kamu pasti bisa menghadapi semuanya.

Bersikap ramah bukan berarti tidak bisa menjadi perempuan tegas. Tersenyumlah pada orang dan tempat yang tepat. Jangan tersenyum pada orang yang melakukan hal tidak benar. Jangan tertawa jika kamu bersedih. Jangan ucapkan kata baik-baik saja bila kamu dalam keadaan tidak baik. Jujurlah pada perasaanmu sendiri. Sebab, orang pertama yang berhak mendapat kejujuranmu adalah dirimu sendiri.

Katakan tidak pada orang-orang yang bersikap tidak sopan. Dan katakan tidak pada mereka yang tidak bisa berlaku sesuai norma dan agama. Tegas bukan sebuah pilihan, namun keharusan.

Untuk perempuan,

Sesulit apapun kisahmu, jangan pernah takut menghadapi risiko atas keberanian dan ketegasan yang kamu ambil. Yakinlah, apapun risikonya, hal tersebut pasti memberikan banyak pembelajaran.

Cara kerja semesta memang ada pada kuasa-Nya. Namun, bagaimana orang memperlakukan kita, biasanya akan tergantung bagaimana sikap kita kepada mereka. Maka, hati-hatilah. Bersikaplah sesuai kondisi dan keperluan. Kamu tidak perlu bersikap berlebihan hanya untuk sebuah perhatian. Jaga dirimu baik-baik.

Kenali dan sayangi diri, yakin pada identitas dan prinsip, berani memilih dan mengungkapkan aspirasi, bersikap santun namun tegas, dan libatkan Allah selalu dalam menjalani hari.

Semangat selalu, karena Allah selalu bersamamu dan pasti membantu. Bismillah πŸ’•

Film Keluarga: Captain Fantastic (2016)

Dari kiri ke kanan: Zaja, Nai, Bodevan, Rellian, Kielyr, dan Vespyr

Ben dan Leslie hidup dengan cara yang berbeda. Mereka meyakini bahwa hidup bukan tentang mengikuti “pola yang sudah ada”, namun sebaliknya. Mereka harus tahu apa yang ingin dicari dan apa yang harus dicapai. Atas dasar pemikiran itulah mereka meninggalkan rumah di kota. Dan pergi ke hutan. Mereka berumah tangga di sana. Di sana pula anak-anak mereka dilahirkan dan dibesarkan. Kecuali Bodevan, ke lima anaknya lahir dan tumbuh di sana.

Tidak seperti film komedi dan keluarga biasanya, film ini dibuka dengan adegan Ben dan Bodevan si anak sulung sedang memburu binatang. Adegan menjijikkan pun datang. Bodevan memotong daging binatang buruan, kemudian memakannya. Adegan ini lumayan bikin aku ingin muntah πŸ˜…

“Mulai saat ini, kamu adalah lelaki dewasa dan pria sejati!” begitu kata Ben. Lelaki berjenggot dengan tubuh penuh lumpur.

Pikirku, film keluarga macam apa ini, mengapa adegan pembukanya mengerikan sekali. Namun, tetap kulanjutkan menonton. Menurut salah satu artikel yang aku baca, film ini termasuk film keluarga yang direkomendasikan. Tanpa ragu lagi, aku pun melanjutkan film tersebut.

Ben dan keluarganya tinggal dihutan. Layaknya tarzan, mereka pun mahir melompat serta memanjat tebing dan pohon. Ada beberapa kebiasaan unik yang keluarga Ben lakukan. Ternyata mereka bukanlah “tarzan sungguhan” seperti yang kita tahu. Mereka lebih tepat disebut “tarzan pembelajar”. 🀣

Setiap pagi keluarga Ben terbiasa melakukan aktivitas fisik. Lari berkeliling hutan, sit up, push up, back up, dan kegiatan lainnya. Ben percaya, untuk mampu hidup di dunia yang penuh tantangan ini, anak-anaknya harus memiliki badan yang sehat dan kuat. Mereka pun melakukan aktivitas fisik dengan serius. Bahkan Ben pernah mengatakan, tubuh anak-anaknya ini tidak akan kalah dengan tubuh atlet di ibu kota. Mantap ya!

Setelah melakukan aktivitas fisik, Ben dan keluarganya bekerja sama membersihkan rumah. Ben membuat jadwal bertugas dan anak-anaknya melakukan secara bergiliran. Bahkan untuk kegiatan menyiram pohon, mereka melakukannya secara tertib dan bergantian.

Bagaimana dengan sekolah? Ben dan sang istri, Leslie menjadi guru untuk anak-anaknya. Mereka belajar di rumah. Kegiatan belajar dilakukan pada malam hari. Mereka akan melakukan sesi belajar bersama-sama di luar rumah. Dengan suasana hangat ditambah hangatnya api unggun, mereka duduk melingkar membaca bukunya masing-masing. Pada sesi tersebut, Ben akan menanyakan sejauh apa proses belajar anak-anaknya. Mereka pun akan menjelaskan secara lisan dengan percaya diri.

Yang membuat semakin unik, selaku guru, Ben lebih banyak mendengarkan dibandingkan menjelaskan. Bahkan untuk beberapa kekeliruan yang anak lakukan, Ben lebih senang bertanya dari pada menjelaskan. Akhirnya, anak-anak pun tahu di mana letak kekeliruannya.

Di mana istrinya Ben? Di awal-awal film penonton juga akan dibikin penasaran ke mana istri Ben berada. Tetapi, pada pertengahan film penonton pun akan menemukan jawabannya. Sebab, anak-anak pun akan berkali-kali mengajukan pertanyaan tentang ibunya. Masalah utama film pun ada pada ibu ini. Mereka harus menjalankan misi keluarga untuk menyelamatkan ibu. Aku tidak akan menceritakan di sini. Kalian nonton sendiri saja, supaya semakin seru 😁

Seperti anak-anak pada umumnya yang tidak selalu menurut kepada orang tua. Rellian juga begitu. Ia adalah anak ke empat yang rasa penasarannya super tinggi. Saking tingginya, ia sering memberontak dibanding anak-anak lainnya.

Pernah suatu ketika ia menodongkan sebuah pisau kepada ayahnya. Ia begitu marah dan kesal. Ayahnyalah yang menjadi pelampiasan marahnya. Setelah menyadari apa yang dilakukan tidak benar, Rellian menurunkan pisaunya dan menusuk-nusuk lemari yang ada didekatnya. Ia menusuk lemari sambil menangis.

Apa yang Ben lakukan? Ben tidak memarahi Rellian. Ben malah memberikan tatapan simpati dan membiarkan Rellian meluapkan amarahnya. Pada adegan itu aku pun berkata dalam hati,“Ben hebat. Sebagai orang dewasa kita seringkali lupa. Alih-alih menenangkan si kecil yang marah, kita malah mengomeli mereka. Bahkan kita memaksa si kecil untuk berhenti menangis saat itu juga. Padahal menangis adalah hak setiap orang.”

Rellian juga mempertanyakan mengapa mereka tidak pernah merayakan natal. Ben tidak tersulut. Ia malah mengajukan pertanyaan,“Adakah yang ingin kamu sampaikan? Mengapa natal itu penting untuk dirayakan? Bukankah perayaan itu tidak memberi manfaat untuk menjalani kehidupan? Ungkapkan pendapatmu. Yakinkan kami. Barangkali pendapatmu dapat menyakinkan kami. Kalau kami yakin, barangkali tahun depan kita bisa merayakan natal bersama-sama.”

Ben selalu begitu. Ia memberikan ruang untuk anak-anaknya. Ruang untuk berpendapat dan mengaktualisasi diri. Di hutan, di rumahnya sendiri. Bolehkah mereka keluar hutan untuk belajar? Perihal ini juga menjadi masalah yang akan dipecahkan dalam film ini.

Apakah hidup Ben dan anak-anak selalu tentang aturan, belajar, dan latihan? Tentu saja tidak. Setelah sesi belajar pada malam hari, Ben dan anak-anak selalu bernyanyi dan bermain musik bersama. Bahkan si kecil Zaja dan Nai turut berdansa. Mereka pun tertawa bersama-sama 😊

Ada satu pembelajaran yang Ben berikan kepada keluarga menarik perhatianku. Apa yang Ben ajarkan mungkin masih sulit dilakukan orang tua kebanyakan. Suatu ketika Ben dan anak-anak sedang memanjat tebing bersama. Karena kelelahan, tangan Rellian tergelincir dari bebatuan yang ia pegang. Rellian pun melepas satu tangannya dan hampir terjatuh. Rellian menangis dan meminta tolong ayahnya.

Kau tahu? Ben tidak langsung membantu. Ia dengan tenang mengarahkan. Kata Ben,”STOP, Rellian. Stay calm, Observe, Think, and Plan!” Ia mengatakan berkali-kali. Ia tahu betul untuk menenangkan Rellian, dirinya juga harus tenang.

Saat Rellian menolak melakukan STOP dan memilih menyerah, Ben pun mengatakan,“Segala yang kamu inginkan tidak akan terjadi begitu saja seperti sihir. Ada usaha yang kamu harus lakukan untuk mendapatkan keinginanmu itu.” Ben selalu bicara apa adanya sesuai keadaan. Ben selalu ingin anaknya bertanggung jawab atas apa yang mereka lakukan. Akhirnya, sambil menangis, Rellian tetap berusaha untuk naik ke atas tebing.

Masih banyak ilmu parenting yang akan kita dapatkan selama menonton film ini. Film Captain Fantastic tidak membosankan. Seperti genrenya, komedi pun banyak terselipkan di setiap adegan. Penonton pun dibuat tertawa terbahak-bahak melihat kejenakaan Ben dan keluarga πŸ˜‚

Di sepanjang cerita, kita pun akan melihat bagaimana Ben “memanusiakan” anak-anaknya. Ia begitu menghargai pikiran dan perasaan anak-anaknya secara utuh. Bahkan untuk kondisi yang menyebalkan pun, Ben tetap menerapkan itu.

Di sepanjang adegan, kita juga akan melihat bagaimana anak-anak tersebut menghargai dan mencintai orang tuanya. Meskipun dibebaskan untuk merasa dan berpikir, mereka sangat menghargai kedua orang tuanya. Luar biasa pokoknya.

Untuk kamu yang tertarik dengan film-film keluarga, aku sangat merekomendasikan film ini πŸ˜πŸ‘πŸ‘

Sumber gambar: http://www.bleeckerstreetmedia.com

Sepotong Perjalanan Hari Ini

Di sekitarku ramai. Padahal langit sudah gelap sekali. Saat ini pukul 22.20, begitu yang terlihat pada gawaiku.

Di sampingku ada seorang perempuan muda. Sepertinya ia masih mahasiswa. Aku asal menebak saja. Sebab, ia menggunakan jaket hitam bertuliskan “enviromental enginering”.

Di depanku ada tiga orang perempuan. Mereka sedang duduk bersama dibangku prioritas. Sama sepertiku. Aku juga duduk dibangku ini. Ah, kami nakal ya. Padahal jelas-jelas ada papan pemberitahuan bertuliskan “lanjut usia, wanita hamil, penyandang disabilitas, dan ibu membawa anak”. Mungkin mereka hamil. Lalu bagaimana denganku? Tenang, aku akan siap berdiri kapan saja bila ada mereka yang lebih membutuhkan bangku ini.

Baru saja kereta datang. Penuh sekali. Aku pun mengetik tulisan ini sambil berdiri. Lalu, aku berjalan agak cepat dan kemudian berlari. Saat ini, aku berada dalam kereta. Tidak ada ruang untuk duduk. Semua bangku penuh terisi.

Aku hanya bisa berdiri. Berdiri tanpa jarak dengan orang-orang di kanan dan kiri. Aku tidak masalah dengan kondisi ini. Sebab aku merindukan momen-momen seperti ini. Aneh? Mungkin iya bagi kamu yang menaiki kereta setiap hari. Kereta bukanlah hal yang spesial lagi. Namun, bagiku tidak begitu. Aku benar-benar merindui situasi ini.

Sudah tiga tahun lamanya aku berkendara motor ke sana dan kemari. Aku jarang naik kereta lagi. Aku jarang naik transportasi umum. Makanya, aku rindu. Bukankah manusia memang mudah merindu pada hal-hal yang sudah lama ia tidak temui? Bukankah manusia memang merindu pada hal-hal yang sudah lama ia tidak rasakan lagi?

Beberapa detik yang lalu, terdengar suara perempuan dari pengeras suara. Ia memberi pengumuman bahwa kereta yang kunaiki ini akan tiba pada stasiun tujuanku. Seberapa besar inginku berdiri dalam kereta ini, sepertinya aku harus lekas turun. Seberapa besar rinduku pada situasi ini, sepertinya aku harus segera mempersiapkan diri. Aku harus pulang.

Stasiun tujuanku lebih ramai dari tempat awal yang kusinggahi kali pertama tadi. Bahkan beberapa orang masih duduk sambil mengetik gawainya. Entahlah apa yang sedang mereka lakukan. Mungkin mereka sedang memberi kabar keluarga tentang keberadaannya. Atau mungkin mereka sedang menulis seperti aku ini. Terserahlah mereka mau melakukan apa.

Sebentar lagi tulisan ini akan aku akhiri. Sudah malam. Aku ingin cepat sampai rumah.

Aku rindu, makanya aku menuliskan sepotong perjalanan hari ini. Aku hanya ingin bilang, nikmati apapun situasimu saat ini. Bahkan untuk keadaan yang melelahkan sekali pun.

Dulu, aku pun “muak” naik kereta setiap hari. Berangkat harus lebih awal dan pulang selalu terlambat. Belum lagi kondisi kereta yang menguji kesabaran sekali. Jalan kaki pun terasa berat karena begitu lelah. Bukan lelah fisik. Namun, lelah hati.

Siapa sangka kondisi memuakkan itu kini aku rindui. Ternyata, ada hal-hal tidak aku dapatkan bila menjalani kehidupan yang mudah-mudah saja. Naik kereta memang melelahkan dan menyulitkan. Namun, ada banyak pelajaran yang aku dapat selama perjalanan. Salah satu contohnya ya bagaimana aku mengelola emosi saat menghadapi keadaan yang sulit tadi.

Baiklah, saat ini sudah pukul 22:51. Aku harus pulang. Aku akhiri saja tulisan ini.

Selamat malam.

Manusia Butuh Listrik

Sumber foto: Pexels

Semenjak mendengar cerita temanku, mati lampu bukan masalah besar untukku. Meskipun tetap saja terganggu, tetapi aku tahu, mereka sang ahli sedang berjuang memperbaikinya. Mati lampu berarti ada sesuatu yang bermasalah. Entah terdapat korsleting pada kabelnya ataupun masalah lain yang pastinya aku tidak memahami itu.

“Kalo di rumah lagi banjir, gue, nyokap, dan adik selalu berberes bertigaan aja. Bokap pasti nggak ada di rumah.” kata temanku.

Bokap ke mana?” tanyaku.

Benerin listrik. Kalo banjir, listrik pasti bermasalah, Shin. Korslet gitu. Tapi nggak tau korsletnya di mana. Makanya, si bokap dan tim yang cari tahu di mana yang rusak, gitu.” jawab temanku. Temanku ini adalah anak seorang petugas PLN. Ayahnya bertugas menjadi penanggung jawab beberapa kantor PLN di wilayah Jakarta.

Repot dong kalo pas banjir? Kan rumah lo selalu banjir kalo hujan deras. Harus pindah-pindahin barang ke lantai atas kan.” tanyaku.

Repot banget lah, Shin. Tapi udah terbiasa. Selain banjir, tiap hari-hari besar kayak lebaran dan natalan juga bokap nggak ada di rumah. Karyawan PLN pada siap siaga supaya listrik tetap aman.” curhat temanku.

Gue juga selalu khawatir kalo bokap manjat-manjat ke menara untuk benerin listrik. Pake alat pengaman sih. Tetapi tetap aja perasaan gue was-was.” tambahnya.

Iyalah pasti. Meskipun kita tau takdir itu Allah yang tentuin, tetep aja khawatir kalo bokap lagi deket banget sama lingkungan yang berbahaya.” kataku.

Percakapan di atas adalah percakapan singkat yang mengubah cara pandangku. Jika dulu selalu merasa kesal tiap kali mati lampu, saat ini tidak begitu lagi. Aku yakin, di balik pemadaman listrik pasti ada beberapa alasan. Entah untuk peningkatan kualitas ataupun untuk perbaikan.

Dan menjadi paham, di saat listrik mati, di saat itu pula para ahli listrik sedang bekerja memperbaiki.

Setelah sadar, aku pun merasa malu sendiri. Ternyata tidak ada gunanya marah-marah saat listrik mati. Tidak ada gunanya menyalahkan pemerintah ataupun PLN ketika listrik dimatikan sementara. Kurasa, daripada membuang energi untuk marah dan mengeluh, lebih baik kita ambil hikmah saja dari pemadaman listrik masal ini.

Hikmah pribadi yang aku rasakan, ternyata aku ini kesulitan banget lho tanpa listrik. Aku butuh listrik. Hampir semua benda di rumah ternyata menggunakan listrik. Untuk mengecharge gawai pun membutuhkan listrik. Lingkungan yang gelap gulita membuatku kesulitan melakukan apa-apa.

Lalu, aku mencoba mengingat kembali bagaimana sikapku terhadap listrik selama ini. Ternyata, aku belum bijaksana dan belum peduli sama listrik. Aku masih sering lupa mematikan lampu bila ruangan tidak sedang digunakan. Aku masih sering lupa melepas chasan gawai tiap kali selesai kupakai. Aku masih sering lupa mematikan air tiap kali mandi atau cuci tangan. Dan masih banyak keteledoranku lainnya. Ah aku, mengaku butuh namun enggan menjaganya dengan baik.

Pemadamaan listrik selama 18 jam kemarin menjadi teguran untukku. Ternyata, aku masih menjadi manusia yang egois dan jauh dari sebutan “bijaksana”.

Daripada menyalahkan sesuatu atau pihak lain terhadap suatu kejadian yang tidak menyenangkan. Bukankah sebaiknya aku terus merenung dan introspeksi diri?

Jangan Pernah Mengingkari Kata Hati

Ada beberapa hal lupa kita pahami,

Kita merasa tidak percaya diri karena kosa kata yang dimiliki cuma segini, akhirnya malu menuliskan kata-kata pada wordpress ini. Apalagi ketika membandingkan mereka yang kalimatnya mengalir aduhai sekali. Semakin ciutlah nyali ini.

Kita merasa tidak enak hati ketika menjenguk seorang kawan tanpa membawa apa-apa ditangan ini. Akhirnya, kita mengurungkan niat menjenguk dan menunggu hingga dompet terisi. Dan itu artinya, akan memakan waktu lama sekali.

Kita merasa takut maju seorang diri dalam kepanitiaan itu. Alih-alih menguatkan dan memberanikan diri, kita malah terlalu lama memikirkan kekurangan diri. Akhirnya, kita enggan maju dan menunggu di belakang sana seorang diri.

Kita merasa malu atas apa-apa yang disukai. Takut dikomentari. Takut diomeli. Bahkan kita pun takut mendapatkan penilaian atas selera yang sudah dipilih. Kita belum cukup berani tampil apanya tanpa terdistraksi. Akhirnya, suara bising di luar sana mempengaruhi setiap langkah dan keputusan setiap hari.

Sebaik-baiknya orang lain mengamati, mereka tidak akan pernah tahu keadaan sebenarnya yang sedang kita hadapi. Mereka tidak akan tahu sebesar apa perjuangan yang telah kita usahakan dan lalui.

Maka, lakukan saja semua kebaikan yang telah dipilih oleh hati. Jangan pernah mengingkari kata hati. Karena kita akan menyesali.