Cerita: Hati Selalu Tahu Tempat Nyaman untuk Berlabuh

Kita tidak pernah tahu akan berteman dengan siapa. Sebab, hati yang akan memilihnya. Hati selalu tahu tempat nyaman untuk berlabuh.

Siapa yang pernah menyangka kita akan bersahabat setelah lulus kuliah? Padahal sudah satu kelas tiga tahun lamanya? Begitulah kisah antara aku dan Anisa Hermala.

Persahabatan kami dimulai karena sama-sama menyukai tidur dengan lampu dimatikan. Setiap orang memang selalu memiliki kisah spesial saat kali pertama berjumpa ya 🙂 Saat itu, aku harus mencari teman sekamar selama satu bulan praktik klinik di Bandung. Karena hanya Anisa yang senang tidur dengan lampu dimatikan, akhirnya kami menjadi teman sekamar.

Tidak ada kesan mendalam saat tahu saya akan sekamar dengan Anisa. Melihat Anisa dari luar, aku tak pernah menyangka akan menjadi sahabatnya. Bagaimana tidak? Anisa itu terkenal galaknya. Di kelas dulu, dia paling senang berteriak-teriak bila ada orang berisik di kelas. Tipikalnya memang cocok sekali menjadi ketua kelas. Selain itu, aku dan Anisa juga belum pernah mengalami momen bersama. Sekelompok pun belum pernah. Oleh karena itu, aku dan dia tidak saling mengenal dengan baik selama di kelas.

Setelah tahu akan sekamar, kami memutuskan berangkat bersama. Ia menawarkan aku dan Hasan untuk berangkat bersama. Kebetulan, orang tuanya memang akan mengantarnya. Saat itu, aku langsung tahu, Anisa adalah orang yang baik. Ia tak hanya memikirkan diri sendiri. Padahal, kalau ia mau, mudah saja ia berangkat bersama keluarganya tanpa harus memikirkan aku dan Hasan. Terkadang, kita hanya perlu mengamatinya lebih lama saja untuk tahu ia orang baik atau bukan. Karakter akan terlihat ketika kita melakukan perbuatan, kan?

Cara terbaik untuk mengenal seseorang memang menghabiskan waktu bersama. Sekamar dengan Anisa, aku menjadi tahu banyak hal tentangnya. Banyak hal yang tak akan pernah terlihat bila hanya dilihat saja. Banyak hal yang tak akan terlihat bila aku tidak menghabiskan banyak waktu dengannya.

Anisa tidak egois. Saat itu, aku memang berencana tidak pulang ke rumah. Biarlah selama satu bulan aku di Bandung saja. Alasannya adalah masalah keuangan. Bila aku pulang, tentunya akan ada dana tambahan untuk ongkos pulang. Aku meminta Anisa untuk tidak pulang ke Jakarta. Anisa pun menyetujuinya. Kami berjanji untuk tinggal di Bandung saja selama satu bulan. Mengetahui Anisa mau mendengarkanku dan mengerti keadaanku dengan ikut tidak pulang, aku tahu Anisa adalah orang yang peduli. Padahal, pulang pergi ke Jakarta tiap akhir pekan bukan hal yang sulit untuknya. Orang tua bisa saja menjemput dia. Atau dia juga bisa pulang menggunakan kereta. Tetapi, ia memilih menemaniku.

Dua bulan selanjutnya, aku dan Anisa pindah tempat praktik. Kami praktik di Rumah Sakit Umum Daerah Gunung Jati, Cirebon. Alhasil, kami harus ngekos lagi. Tanpa pikir panjang, aku dan Anisa sepakat untuk satu kamar lagi. Kali ini bukan keadaan yang membuat kami sekamar. Melainkan, atas dasar keinginan sendiri. Aku cocok dengan Anisa. Anisa pun begitu.

Aku tak pernah menyangka akan belajar banyak hal dari sosoknya. Dari pengalaman itu aku belajar, menilai dan meyakini karakter seseorang hanya dari pengamatan semata adalah bukan tindakan benar. Kita tidak akan tahu betul karakter seseorang sebelum menghabiskan banyak waktu bersamanya. Melakukan pengamatan saat kali pertama berjumpa boleh saja. Namun, jangan jadikan itu sebagai patokan untuk menilai seseorang. Jadikanlah pengamatan itu sebagai modal agar kita berhati-hati dalam bersikap.

Anisa rajin shalat tepat waktu dan mengaji. Aku ingat betul, meski terkantuk-kantuk, Anisa selalu bangun lebih dulu saat waktunya shalat subuh. Seberapa serunya aktivitas yang dilakukan, Anisa selalu menghentikan kegiatan tersebut bila waktu shalat sudah datang. Tiap selesai shalat magrib, Anisa juga rutin tilawah Qur’an. Aku belajar banyak dari Anisa.

Selain rajin beribadah, Anisa juga rajin membersihkan diri dan lingkungan sekitarnya. Ia mandi tepat waktu dan sigap dalam membersihkan kamar. Tiap pulang praktik, aku pasti duduk selama lima sampai sepuluh menit dulu. Aku capek. Tetapi berbeda dengan Anisa. Sesampainya di kamar, ia segera membersihkan apapun yang berantakan. Seketika kamar pun menjadi bersih dan nyaman. Aku terkesiap melihatnya dan langsung bertanya,”Plak, nggak capek? Di luar panas banget lho. Nggak mau duduk dulu?”,”Kalo ditunda-tunda entar malas, Shin. Enakan capek sekalian. Nanti udahannya enak. Tinggal mandi dan tidur-tiduran.” begitu katanya.

Saat mendengar penjelasannya aku langsung merenungi. Penjelasannya sungguh masuk akal dan baik untuk ditiru. Aku pun perlahan mulai mengikuti kebiasaannya yaitu, rajin beribadah dan rajin membereskan kamar.

Aku menyukai Anisa. Selain memberikan banyak pelajaran, kami memiliki banyak ketertarikan yang sama. Akan aku sebutkan dua hal saja ya. Pertama, aku dan Anisa senang travelling. Naik gunung ataupun ke tempat-tempat menantang lainnya. Kami sering bepergian bersama. Kami pernah ke Pulau Sempu dan Pulau Pahawang bersama. Sayangnya, kami belum ada kesempatan naik gunung bersama. Kami juga pandai bekerja sama saat melakukan perjalanan. Oleh karena itu, tiap kali membuat rencana perjalanan, Anisa selalu kuajak untuk melakukannya bersama.

Aku dan Anisa juga senang nonton drama korea. Kami menonton bukan karena mengagumi betapa cantik dan tampan aktornya. Namun, kami menyukai jalan cerita dan pengetahuan yang ada di drama itu. Drama korea juga yang berkontribusi menautkan hati kami. Dulu saat di kosan, kami sering menonton drama bersama dengan dua laptop yang berbeda hahaha jadi, meskipun satu kamar, kami menonton drama yang berbeda. Hal itu tidak masalah untuk kami. Meskipun satu kamar, aku dan Anisa bebas melakukan aktivitas yang diinginkan.

Tinggal satu kamar dengan Anisa adalah pengalaman yang patut disyukuri. Kesukaan mematikan lampu di kamar saat tidur membuat aku mendapatkan sahabat baru. Terima kasih telah dilahirkan di Bumi, Anisa. Kamu telah mengajarkan banyak hal. Kisah di atas hanya sebagian saja. Masih banyak kisah lainnya yang tak akan mungkin aku tuliskan semuanya.

Terima kasih atas kebersamaannya, Nis. Kebersamaan yang tak akan bisa digantikan oleh apapun. Bahkan, materi sekalipun. Aku bersyukur bertemu denganmu. Aku bersyukur diberi kesempatan mengenalmu.

**

Sekarang tanggal 6 September kan? Aku tak lagi lupa tanggal. Hari ini adalah ulang tahunmu. Katamu, hari ulang tahunmu adalah jumlah tanggal ulang tahunku dan Dela. Katamu, jangan lagi lupa. Iya, aku tak lagi lupa.

Aku dan kamu memang masih saja sulit bertemu. Aku yang penuh perencanaan dan kamu yang tak suka berencana sulit sekali memutuskan tanggal. Semoga segera bertemu ya, Nis!

Kutahu, hakikatnya ulang tahun adalah berkurangnya usia kita di dunia ini. Namun, aku berharap kemudahan yang Allah berikan tak berkurang dalam hidupmu. Aku berharap, keberkahan juga tak berkurang dalam hidupmu.

Anisa itu baik. Jadi, aku berharap Allah mendekatkan kamu dengan orang-orang baik. Tetap jadi mbak yang kuat, ya! Kalau lagi rapuh, jangan sungkan berbagi kerapuhan dengan aku. Aku tahu lho, sekuat-kuatnya seorang mbak, adakalanya ingin bersandar juga. Insya Allah, bahuku ini selalu siap menjadi tempatmu bersandar.

Ada kabar baik yang mau kamu sampaikan, kan? Aku doakan semoga lancar segala rencanamu. Hal-hal baik yang ingin disegerakan, Insya Allah, Allah mudahkan.

Terima kasih masih hadir dalam skenario kehidupan Shinta, Nis. Kita memang tidak bisa bersama secara fisik. Kita tak bisa bertegur sapa secara langsung. Kita juga tak sering bertegur sapa via chat. Namun, semoga doa-doa untuk saling mendoakan tak bosan terapalkan. Semoga usaha kita untuk terus mendekat kepada-Nya adalah sebagai usaha agar kita berada di Surga bersama 🙂

Selamat Ulang Tahun, Anisa Hermala. Jangan lupa bersyukur dan tersenyum. Kita harus jadi wanita yang berbahagia! ♥

Ayahku (Tidak) Menyebalkan

Ayahku menyebalkan. Begitu kataku. Dahulu, aku adalah anak yang begitu egois. Selalu ingin ayah begini dan begitu sesuai dengan keinginanku. Aku juga tak jarang bertengkar dengan ayah. Aku dan ayah sama-sama keras kepala.

Kala itu, aku masih sekolah dasar.

“Hari Minggu besok aku mau berenang sama keluarga, yah.” aku meminta kepadanya.

“Maaf, ayah tidak bisa. Ayah harus dinas. Lagi pula apa sih manfaatnya jalan-jalan di akhir pekan?” ayahku menolak dan mempertanyakan permintaanku.

“Untuk menyegarkan otak yah. Kan enak jalan-jalan. Aku bosan di rumah yah. Senin sampai Sabtu kan sekolah terus.” aku berusaha memberikan alasan agar ayah merubah pikirannya.

“Kalau mau, ini ayah kasih aja uangnya. Kamu pergi sama mama aja ya.” ayahku tetap menolak karena keperluan dinas dan menawarkan uang sebagai kompensasi.

“Aku mau ayah juga ikut. Ih, ayah nyebelin.” aku tetap kokoh pada pendirianku. Enggan memahami kondisi ayah. Dan tetap menuntut.

**

Beranjak remaja, aku dan ayah semakin tidak cocok saja. Aku dan ayah ibarat dua kutub positif magnet yang di dekatkan. Kami saling tolak menolak. Saat itu, usiaku kira-kira 14 tahun. Aku masih sekolah menengah pertama. Ayah benar-benar menyebalkan. Bagaimana tidak? Ayah tak pernah semudah itu memberikan uang padaku. Aku harus melakukan pekerjaan terlebih dulu sebelum akhirnya diberikan uang. Pikirku saat itu, ayah ini menyebalkan sekali. Tega sekali sama anaknya.

Kamu tahu? Aku harus membantu ayah seperti mencuci motor, membelikan sesuatu di warung, membuatkan kopi, membayar tagihan telepon di kantor telkom, atau membayar tagihan listrik di kantor pos, dan lain-lain. Aku kesal. Tetapi tetap melakukannya. Karena, aku membutuhkan uang untuk membeli keperluanku saat itu. Dan, hubunganku dengan ayah semakin jauh. Aku tidak menerima perlakuan ayah.

“Ayah, aku mau minta uang untuk main ke rumah teman besok setelah pulang sekolah.” meskipun kesal, aku tetap saja meminta uang ke ayah. Karena mamaku menyuruh begitu.

“Iya nanti ayah kasih uang. Tapi, kamu bayar tagihan telepon dulu ya. Kantornya dekat banget kok itu. Nggak sampe satu kilo. Gampang mbak proses pembayarannya.” ayah memberikan aku penawaran.

“Aku nggak tau caranya, yah. Aku takut. Langkah-langkahnya gimana yah?” aku takut, tetapi tetap menanyakan caranya. Karena apa? Aku butuh uang.

“Nggak usah takut. Kan belajar, mbak. Tanya aja sama pak satpam gimana cara bayar tagihan telepon. Kamu kan sudah besar, malu bertanya sesat di jalan.” ayahku enggan memberikan langkah-langkah. Dalam hati, aku kesal sekali sama ayah.

Begitulah. Hal-hal seperti itu yang membuat aku tidak dekat dengan ayah. Yang kutahu, ayahku itu kaku sekali. Tidak lemah lembut seperti ayah-ayahnya temanku. Ayah tegas sekali padaku. Memang sih ayah lulusan militer, tapi apa harus kemiliteran itu juga diterapkan kepadaku? Bahkan ketika aku takut, bukannya diantar, aku malah disuruh tanya pak satpam. Menyebalkan, kan?

Hingga sekolah menengah atas, hubungan aku dan ayah tetap seperti itu. Berhubungan tetapi tidak dekat. Sampai pada saat itu, aku belum pernah curhat ke ayah. Mengajak foto bersama pun enggan. Mamalah penyelamatku. Mama yang selalu berada dipihakku bila ayah terlalu tegas dan keras.

Hingga akhirnya, saat kuliah, ada perkataan sahabatku yang sangat menyentuh hatiku. Sekaligus menyadarkanku. Begini katanya,“Bagaimanapun, ia adalah ayahmu. Bagaimanapun sikap ayah yang tidak kamu sukai, sampai kapanpun ia adalah ayahmu. Sekeras apapun kamu menolaknya, ia tetaplah ayahmu. Jadi, terimalah keadaan ayahmu apapun itu.”

Aku merenungi perkataannya di rumah. Aku tersadar, sejak kecil dulu hingga saat ini, tidak pernah sekalipun aku memikirkan perasaan ayah. Aku hanya memikirkan diriku sendiri. Aku hanya memikirkan kebahagiaan diriku sendiri. Aku memikirkan tindakan ayah yang tidak kusukai. Tetapi, aku tidak memikirkan apakah aku sudah menjadi anak yang baik. Aku egois. Mulai saat itu, aku mulai melihat ayah. Aku mulai mengamati setiap hal yang ayah lakukan. Aku berusaha memposisikan diriku sebagai ayah. Aku juga berusaha memahami hal-hal yang ayah sukai dan tidak. Aku menyadari, ayah juga manusia biasa sepertiku. Ada hal-hal yang ayah inginkan. Ada hal-hal yang ayah sukai dan tidak. Jadi, aku harus menghargai ayah dan hal-hal yang diyakininya. Dan aku mulai menyukai ayahku.

**

Sejak tahun ke tiga di perkuliahan, aku menjadi orang yang berbeda. Aku sudah mampu melihat segalanya lebih luas. Jika mengingat lagi kisah kecil dulu, ayahku yang menyebalkan itu sesungguhnya hanya ingin memandirikan aku. Ada nilai-nilai yang ayah ingin tanamkan kepadaku. Ayah ingin aku menjadi anak yang mandiri, berani, pantang menyerah. Ayah ingin aku memahami arti kerja keras. Bahwa, sebelum mendapatkan sesuatu, aku harus berusaha dan berjuang lebih dulu.

Aku pun melihat ayah dengan cara yang berbeda. Ada hal-hal yang tak kulihat dulu, namun saat ini semua terlihat dengan jelas. Ayah sangat peduli pada keluarganya. Ayah menularkan sikap tanggung jawab, percaya diri, bekerja keras, dan pantang menyerah. Jangan berharap ayah akan berkata lembut, bertutur kata manis, dan memeluk hangat anaknya. Karena ayah bukan tipikal orang seperti itu. Ayah menunjukkan kasih sayang dengan cara berbeda.

Ayah tetap berdiri penuh semangat, meskipun kami sudah terjatuh dan mengibarkan bendera putih tanda menyerah. Ayah tetap maju, meskipun di depan sana banyak rintangan menghalangi. Ayah berkata bisa dengan lantang, meskipun kenyataan berkata tidak. Ayah mendukung apapun keputusan anak-anaknya, meskipun semesta bersorak untuk menolak.

Terima kasih, ayah. Berkat ayah, kami tak ragu melangkahkan kaki. Berkat ayah, kami selalu percaya selalu ada jalan untuk siapapun yang berusaha. Berkat ayah, tidak ada yang tidak bisa dilakukan, selama niat masih bergelora di dalam dada. Terima kasih untuk segalanya, ayah. Kami tak akan pernah bisa membalasnya.

**

Tulisan ini spesial untuk ayah yang sedang berulang tahun hari ini. Semoga usia ayah diberkahi Allah. Semoga ayah diberikan kesehatan selalu. Semoga ayah bahagia di dunia dan akhirat. Semoga ayah selalu didekatkan dengan kebaikan. Semoga ayah dimudahkan berjuang di jalan-Nya.

 

Yang menyayangimu,

 

Shinta

 

 

Depok, 12 Mei 2018