Pengalaman Menari Saman: Hebatnya Kebersamaan

Video berdurasi lima menit itu mampu membuatku menangis bahagia. Sepertinya aku benar-benar rindu. Aku rindu Tari Saman.

Mungkin kamu juga sudah menontonnya. 1.600 putri Bangsa Indonesia menampilkan Tari Ratoh Jaroe pada acara Opening Ceremony Asian Games 2018 dengan sangat menakjubkan. Perasaanku campur aduk. Ada rasa bangga sebagai rakyat Indonesia. Ada rasa haru dan lega sebagai mantan penari saman. Aku pernah menari saman selama tiga tahun selama Sekolah Menengah Atas (SMA). Aku tahu, dibalik penampilan yang memukau, ada usaha keras yang tak akan pernah terukur berapa besarnya :’) Meskipun ada beberapa perbedaan antara Tari Saman dan Tari Ratoh Jaroe, kurasa prinsip dasar menarinya tetaplah sama yaitu, kekompakkan dan kebersamaan. Kalau ingin tahu lebih banyak tentang perbedaan keduanya silakan klik disini dan disini.

Meskipun tidak begitu senang berkumpul dengan banyak orang, aku selalu senang melihat penampilan yang melibatkan banyak orang. Satu penari menari di atas panggung itu bagus. Namun, 10 penari menari dengan tarian yang sama, itu memesona. Satu orang baris-berbaris di lapangan itu hebat. Namun, 15 orang melakukan baris-berbaris di lapangan, itu menakjubkan. Apapun yang dilakukan kelompok memang selalu menghasilkan sesuatu yang hebat. Ada satu kutipan yang begitu bagus,” A dream you dream is only a dream. A dream you dream together is Reality -YO.” Kekuatan kebersamaan begitu hebat, ya?

Mungkin, alasanku terharu melihat mereka menari karena aku turut merasakan apa yang mereka rasakan. Meskipun, tentu saja tidak sepenuhnya benar-benar merasakan. Yang sepenuhnya tahu hanya mereka sendiri.

Baiklah, aku akan berbagi sedikit tentang perjuangan para penari saman. Dengan ceritaku ini, semoga kamu akan menonton video Tari Ratoh Jaroe sekali lagi. Setelahnya, mungkin saja kamu akan turut terharu juga :’) dan yang utama, semoga pemahamanmu tentang Tari Saman dan Tari Ratoh Jaroe akan menjadi lebih baik.

Aku memutuskan bergabung dengan ekstrakurikuler Tari Saman karena merasa takjub sekaligus tertantang dengan kerumitan gerakan tariannya. Saat itu, kupikir akan keren sekali bila aku mampu melakukan gerakan tangan dengan cepat. Aku juga bangga sekali dengan anggota Tari Saman. Mereka hebat karena bisa bekerja sama dengan sangat baik. Akhirnya, aku pun memutuskan menjadi bagian dari mereka.

Aku tak mudah menyerah dan memiliki tekad yang kuat. Jika aku tertantang, maka aku akan melakukannya sampai bisa. Begitu juga dengan Tari Saman ini. Aku begitu tekun belajar setiap gerakan dan lagu. Beberapa teknik yang harus aku kuasai adalah menghafal gerakan tari dan menghafal lagu.

Dulu, aku tidak mengetahui perbedaan Tari Ratoh Jaroe dan Tari Saman. Yang kutahu saat SMA, tari saman itu tidak menggunakan lagu yang sudah direkam. Para penari bernyanyi secara langsung sambil menari dan diiringi oleh satu orang yang memainkan alat musik gendang. Lelah? Itu pasti. Kami menggerakkan tubuh bagian atas untuk menari dan menyanyikan lagu dengan keras. Gerakan tari yang dominan dilakukan adalah berupa tepukan tangan, tepukan dada, dan tepukan paha. Kebayang kan seru dan ramainya tari saman? Benar-benar meriah dan kaya akan suara. Suara tepukan, suara nyanyian, dan suara gendang.

Tentang Tari Saman, tidak hanya tentang keseruan dan kemeriahannya saja. Ada beberapa hal yang menjadi tantangan bagi para penari seperti, teknik gerakan yang rumit dan panjang, lagu asal aceh yang tak mudah kami hafalkan (karena menggunakan bahasa Aceh, ada beberapa kata yang dibaca tidak sesuai dengan tulisannya), harus bekerja sama dengan baik, serta lecet (dan kemudian kapalan) dibagian punggung kaki dan lutut saat kali pertama melakukan latihan.

Biasanya, untuk persiapan lomba atau pertunjukkan sebuah acara, aku dan teman-teman harus latihan setiap hari selama minimal dua bulan. Kami saja latihan sekeras itu, bagaimana dengan para penari Ratoh Jaroe yang berjumlah 1.600 orang itu? Mereka pasti mempersiapkan sudah sejak lama, dengan sungguh-sungguh, dan dengan usaha yang keras. 1.600 orang banyak sekali lho. Dulu, latihan 15 orang saja perjuangannya besar sekali. Kamu bisa bayangkan sendiri bagaimana 1.600 orang itu berlatih hingga menghasilkan penampilan yang sangat spektakuler.

Aku mewakili rakyat Indonesia dan mantan penari saman, sangat bangga dengan para penari Ratoh Jaroe Opening Ceremony Asian Games 2018. Kalian super hebat. Saking hebatnya, aku sampai terharu sekali. Jantungku berdegup kencang selama kalian tampil! πŸ’•πŸ‘

Melihat penampilan kalian sekompak itu membuat aku semakin yakin, apapun yang dilakukan dengan hati yang bahagia, akan tersampaikan pula rasa bahagianya ke hati para penonton. Apapun yang dipersiapkan dengan totalitas dan usaha keras, akan menghasilkan penampilan yang sangat membanggakan. Selamat untuk kalian! Aku bangga. Rakyat Indonesia bangga.

Advertisements

Cerita: Saya Suka Baris Berbaris

Foto ini diambil saat acara ulang tahun Kota Depok ke 19. Saya senang sekali bisa foto bersama adik-adik paskibra Kota Depok πŸ™‚

​Saat sekolah dasar, saya menyukai kegiatan baris berbaris. Karena suka, saya menjadi bersemangat dan tidak merasa terbebani saat mempelajarinya. Dahulu, di sekolah dasar negeri (SDN) belum banyak ekstrakurikulernya. Hanya ada ekstrakurikuler (ekskul) pramuka saja. Pada saat itu, ekskul pramuka adalah kegiatan yang paling diminati oleh anak-anak. Selain diminati, ekskul pramuka juga sangat aktif. Banyak sekali kegiatan yang dilakukan seperti latihan rutin di akhir pekan, perkemahan sabtu minggu, dan perkemahan bersama siswa SD se-kota Depok.

Latihan pekanan merupakan saat-saat yang dinantikan. Karena menurut kami, seluruh kegiatan pramuka itu seru! Bernyanyi bersama, latihan baris berbaris, belajar menggunakan bendera semaphore, belajar membuat patok, belajar membuat simpul, dan masih banyak kegiatan menyenangkan lainnya. Bagi saya, diantara semua kegiatan pramuka, latihan baris berbarislah yang paling saya gemari. Lho kok bisa? Bukankah latihan baris berbaris melelahkan? Iya benar melelahkan, tetapi keren. Menurut saya, ketika mereka mampu berdiri sikap sempurna dengan tegap, itu keren. Ketika mereka melakukan gerakan baris berbaris dengan power yang baik dan tidak malas-malasan, itu keren. Ketika mereka melakukan gerakan baris berbaris dengan kompak, itu keren πŸ˜€

Saat sekolah menengah pertama (SMP), masa orientasi kehidupan di SMP juga dilakukan. Salah satu kegiatannya adalah demo esktrakurikuler. Jadi, setiap ekskul melakukan penampilan sesuai peminatannya. Penampilan tersebut bertujuan untuk memperkenalkan ekskul-ekskul di sekolah sekaligus mencari anggota baru. Tidak seperti di sekolah dasar (SD), di SMP, ekskulnya sangat beragam. Dari ekskul baris berbaris, seni tari, seni bela diri, sanggar bahasa, hingga kegiatan keagamaan juga ada. Sebagai anak-anak yang sedang menuju masa remaja, saya bersemangat sekali. Dan semakin bersemangat saat menyaksikan demo ekskul paskibra. Saat menyaksikannya, saya seperti tidak berkedip dan pertanyaan-pertanyaan bermunculan dalam pikiran. Bagaimana cara berbaris dengan benar dan kompak seperti itu? Bagaimana cara mereka menghafalkan gerakan-gerakan sebanyak itu? (Sebab, saat SD, yang saya ketahui adalah baris berbaris hanya melakukan hadap kanan, hadap kiri, balik kanan, istirahat di tempat, lencang depan, dan lencang kanan saja). Dan, seragam yang mereka gunakan juga keren sekali. Seragam membuat mereka tampak gagah. Kesan pertama tentang paskibra saat itu adalah kompak, rapi, teratur, dan keren. Tanpa pikir panjang, saya langsung mendaftar ekskul paskibra! Singkat cerita, Alhamdulillah, saya aktif dalam kegiatan tersebut selama tiga tahun penuh. Alhamdulillah, banyak sekali manfaat yang didapatkan. Terutama untuk mental, kerapihan, dan kedisiplinan.

Saat sekolah menengah atas (SMA), saya tidak lagi mengikuti ekskul paskibra. Padahal, saya memiliki mimpi ingin menjadi pasukan pengibar bendera pusaka. Namun, setelah menyaksikan penampilan tari saman, ekskul tari saman selalu menari-nari dalam pikiran. Gerakan yang cukup menantang pada tarian itu dan kekompakan para penari memperkuat alasan mengapa saya harus ikut ekskul tari saman. Menimbang kondisi saat itu, mengikuti dua ekskul sekaligus tidak mungkin dilakukan. Karena jarak rumah dan sekolah cukup jauh, hal itu juga mengharuskan saya memilih diantara dua ekskul tersebut. Keputusan pun dibuat. Tari saman menjadi pilihan. Tetapi, paskibra tetap memiliki tempat khusus dalam hati saya.

Saat kuliah, istilah ekskul tak lagi digunakan. Untuk kegiatan yang memfasilitasi minat dan bakat, biasa disebut Unit Kegiatan Mahasiswa. Saat masa orientasi kehidupan kampus, diadakan lagi demo Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM). Kami dibebaskan untuk memilih. Semakin tinggi jenjang pendidikan, ternyata semakin banyak pula pilihan UKM untuk mahasiswa. Wah, saya benar-benar takjub dan bangga melihat mahasiswa-mahasiswa memberikan penampilan. Kala itu, UKM marching bandΒ cukup membuat jantung saya berdetak lebih cepat. Penampilan mereka membuat perhatian saya tak teralihkan. Kekompakan mereka membuat saya merinding takjub. Kerapihan mereka dalam berpakaian membuat saya respek. Dan yang membuat marching band semakin keren, perpaduan antara baris berbaris dengan permainan alat musik dan tari, membuat penampilan mereka menjadi sangat luar biasa πŸ™‚ Akhirnya, saya memutuskan bergabung dengan UKM marching band. Saya mendapat tugas memainkan alat musik trompet. Meskipun hanya bergabung selama satu tahun saja, pernah menjadi bagian dari marching band adalah pengalaman yang tak terlupakan dan sangat disyukuri. Menggabungkan baris berbaris, musik, dan tari ternyata tak mudah. Agar menghasilkan penampilan yang bagus, dibutuhkan tanggung jawab dan kedisiplinan yang tinggi. Saya ingat betul bagaimana rasanya latihan wajib dua kali seminggu selama lima jam. Dan latihan tambahan dihari lain untuk latihan trompet. Demi menghasilkan yang terbaik, dibutuhkan perjuangan dan pengorbanan yang totalitas πŸ™‚

Dan, saya pun dapat memberikan kesimpulan. Entah itu paskibra, tari saman, atau marching band, mereka memang memiliki banyak perbedaan. Namun, mereka juga memiliki beberapa kesamaan yaitu, kegiatan yang membutuhkan kesabaran, kedisiplinan, kerja sama, dan tanggung jawab. Kesabaran untuk belajar dan mengajarkan materi ekskul. Kedisiplinan menggunakan waktu dan kesempatan. Kerja sama untuk saling membantu dan menopang. Tanggung jawab untuk memberikan yang terbaik. Tanpa keempat hal itu, tak akan tercipta penampilan harmoni yang dapat kita lihat, rasakan, banggakan, dan syukuri.