Sepenggal Kisah Masa Kecilku

Rumahku bukan di perumahan. Jadi, sulit sekali menemukan lapangan kosong untuk anak-anak bermain. Beberapa tahun lalu, masih ada satu lapangan sepak bola di dekat rumahku. Namun, kini sudah tak ada lagi. Di sana sudah dibangun rumah-rumah penduduk.

Karena sulit mencari lapangan, anak-anak kecil senang bermain di halaman rumahku. Halaman rumahku sebenarnya tidak terlalu besar. Kurang lebih hanya sekitar 6×7 meter saja. Meskipun begitu, anak-anak senang bermain di sini. Halaman ini sangat cukup untuk bermain hujan-hujanan, vespa-vespaan, petak jongkok, dan main tanah.

Melihat fenomena ini aku sangat prihatin. Ada apa dengan zaman ini. Lapangan bola pun menjadi tempat yang mahal dan sulit sekali ditemui.

Anak-anak zaman sekarang terlalu asyik dengan permainan yang ada digawai mereka. Main bersama-sama kawan pun tak ada guna. Mereka hanya sibuk menatap layar gawainya. Tanpa ada interaksi apapun.

Dan semakin berbahaya bila orang tua belum paham bahayanya gawai yang ada di tangan anak mereka. Apalagi jika orang tua tak paham pentingnya permainan outdoor yang saat ini menjadi aktivitas langka.

Sepenggal Kisah Masa Kecilku

Mengamati kisah anak kecil zaman sekarang seperti ini, aku tergerak untuk berbagi kisahku sendiri.

Ingatanku tentang masa kecil tidak begitu baik. Maka, jangan kamu tanyakan bagaimana kisah saat taman kanak-kanak dulu. Aku tidak akan ingat.

Kenangan masa kecil di sekolah yang kuingat hanya saat aku kelas 5 dan 6 sekolah dasar. Kala itu tahun 2004-2005.

Jarak sekolah dan rumahku hanya 1,3 km. Pada masa itu belum ada angkot. Aku dan teman-teman biasa diantar orang tua. Tetapi tidak berlaku untukku. Aku biasa berjalan kaki atau naik sepeda saat sekolah.

Entah jumlah kejahatan yang tidak tinggi atau memang jarak rumah yang sangat dekat. Seingatku, kebanyakan teman-teman juga berjalan kaki. Kami tidak pernah diantar. Biasanya, selepas pulang sekolah kami akan pulang bersama-sama.

Bermain Biji Pohon Karet

Saat perjalanan pulang, kami selalu berhenti sebentar di kebun karet. Kami saling berlomba-lomba mencari biji karet yang sudah jatuh dari pohonnya. Kalau beruntung, bijinya masih bulat sempurna tanpa ada retakan. Kalau biji karet sudah terkumpul semua, biasanya kami langsung melakukan adu biji karet!

Aku tidak tahu permainan ini ada atau tidak di tempat tinggalmu. Tetapi setahuku, meskipun cara bermainnya sama, bisa jadi pemberian namanya berbeda. Bagaimana kalau kuceritakan sedikit tentang permainan biji karet ini? Permainan biji karet dimulai dengan menumpuk kedua biji dalam posisi atas dan bawah. Secara bergantian, kami akan memukul biji karet kawan dengan milik biji karet sendiri menggunakan punggung tangan.

Inti permainannya, kita harus berhasil memecahkan biji karet lawan. Kalau tidak berhasil, berarti saatnya bergantian. Kini giliran kawan yang memukul biji karet kita.

Hasil kemenangan dan kekalahan akan dibuatkan skor. Pemenangnya akan mendapat hadiah sesuai kesepakatan. Kalau aku dan teman-teman, biasanya akan merelakan ‘biji karet jagoan’ untuk diberikan kepada kawan yang menang wkwk anak-anak memang sekreatif itu ya. Biji yang berkali-kali berhasil memecahkan biji lawan saja diberi nama ‘biji karet jagoan’ 😂.

Bermain Getah Pohon Karet

Selain biji karet yang bisa dijadikan permainan, getah karet juga bisa kami gunakan. Kami hanya perlu membelah sedikit batang karet menggunakan pisau. Nanti, getah karet akan keluar perlahan dari celah batang yang sudah kami belah.

Getah karet pun menetes dengan pelan-pelan. Anak-anak yang tak sabaran tak akan mau menunggu getah karet tersebut menetes sampai penuh.

Bagaimana cara memainkan getah karet ini? Sebenarnya tidak jelas akan digunakan untuk apa si getah ini hahaha kami hanya merasa senang saja melihat perubahan getah karet yang awalnya cair menjadi mengeras. Kami juga merasa senang karena berhasil membuktikan bahwa benar adanya karet gelang yang digunakan untuk bermain lompat tali berasal dari getah karet yang kami kumpulkan 😁

Bermain Sepeda

Selepas sekolah kami segera pulang ke rumah. Berganti baju sebentar, kemudian berangkat lagi untuk bermain sepeda. Kami pantang mundur meski panas matahari membakar wajah. Dulu, kami tak mengenal sunblock. Orang tua juga tidak menganjurkan 😅 Akhirnya, wajah dan badan kami hitam gosong tiap kali selesai bermain sepeda. Meskipun begitu, kami tetap senang.

Oh iya, pada zaman itu, aku dan teman-teman sudah mengenal tustel. Kamera tersebut milik Ayu, sahabatku. Ayu adalah anak tentara. Ia murid pindahan dari Maroko. Ayu orang Indonesia, tetapi ayahnya sempat bertugas di sana beberapa tahun. Mungkin karena pernah tinggal di luar negeri, pengetahuan Ayu tentang teknologi lebih baik dibanding kami. Oleh karena itu, tiap kali bermain sepeda ia selalu membawa kamera. Jadilah kami sering berpose di manapun berada. Dulu, kami paling senang menumpang foto di rumah-rumah bagus di dekat sekolah. Entahlah untuk apa hahaha mungkin pengaruh sinetron membuat kami tergila-gila dengan rumah-rumah orang kaya. Ada-ada saja ya 😂

Foto-foto pada zaman itu pun masih kusimpan sampai sekarang. Dan selalu memicu gelak tawa bagi siapapun yang melihatnya wkwk

Aku adalah orang yang beruntung karena memiliki kisah seperti di atas. Kisah yang mampu menguatkan diri dan bisa dibagi kepada anak-anak supaya mencintai budaya bermain bangsanya.

Entah kisah apa yang tersimpan dalam otak anak-anak zaman sekarang. Semoga anak-anak kita tidak dikendalikan teknologi. Teknologi ada bukan untuk menggerus kisah-kisah manis yang seharusnya terekam masa. Semoga kita bisa mengendalikannya.

Meski lapangan luas sudah jarang bahkan tak ada, kita bisa mengajak anak-anak bermain di alam terbuka, kok. Bermain di taman dan kebun, misalnya.

Meski di sekitar sudah jarang anak-anak memainkan permainan tradisional, kita bisa mengajari mereka. Bermain congklak, bola bekel, atau lompat tali, misalnya.

Meski di sekitar sudah jarang hal-hal tentang budaya bangsa, kita bisa mengenalkan semua itu kepada mereka. Mengunjugi museum-museum, misalnya.

Teknologi akan semakin pesat saja. Sikap konsumtif semakin meraja lela. Kebiasaan sedentari dianggap hal biasa. Hidup individual juga dianggap perihal yang menenangkan jiwa. Bagaimana nasip anak cucu kita? Ingin sampai kapan menutup kata?

Aku cukupkan tulisan tentang kecemasan dan kisahku ini. Bagi kamu yang juga memiliki kecemasan yang sama, kutunggu secuplik kisahmu juga. Akan senang sekali membaca kisah beragam dengan harapan yang sama 🙂

Advertisements

Kebaikan di Pagi Hari

Pagiku menyebalkan. Aku terlambat bangun dan sudah bisa dipastikan aku pun akan terlambat sampai di tempat kerja. Hujan sedari malam tak juga reda. Meskipun masih mendung, waktu menunjukan bahwa hari sudah semakin siang. Maka, tak ada pilihan lain. Aku harus tetap berangkat menerjang hujan. Baju ganti tetap harus kukenakan. Sebab, jas hujan milikku tidak sepenuhnya menahan air hujan.

Di perjalanan, aku teringat, rupanya kemarin siang aku tak sempat memenuhkan tangki bensin motor. Kulirik cepat pada spidometer, di sana terlihat panah penanda sudah menunjuk ke tanda merah. Yang artinya, motor akan mogok bila tangki tidak segera diisi bensin. Menyadari betapa kurang persiapan dan tidak disiplinnya diriku, aku menyesal. Namun hanya bisa menghembuskan napas saja. Kuurungkan niat untuk mengeluh. Pagi tadi, tak ada pilihan lain. Aku harus bertanggung jawab dengan cara menjalaninya dengan ikhlas.

Tikungan di jalan Perumahan Korps Brimob memang pusat kemacetan. Jalan yang memiliki lebar tak lebih dari empat meter itu selalu dipenuhi kendaraan. Apalagi bila ada perbaikan jalan atau kejadian tidak terduga. Seperti pagi ini. Keinginanku untuk mengebut hanya mimpi belaka. Motorku tidak dapat bergerak maju. Seluruh pengendara saling melempar tatapan kebingungan. Rintik hujan semakin membasahi jas hujanku, tetapi sedikit pun roda motorku tidak bergerak maju. Jam tanganku sudah menunjukkan pukul tujuh kurang sepuluh menit. Aku masuk kerja pukul tujuh. Sepuluh menit tak akan cukup untuk sampai di tempat kerja. Aku segera sadar, terlambat sampai tempat kerja adalah sebuah kepastian :’)

Antrean kendaraan perlahan bergerak. Motorku bergerak maju. Akhirnya, aku dapat melihat si penyebab kemacetan pagi ini. Di sisi kanan terlihat sebuah mobil terjebak dan tak bisa bergerak. Bannya terperosok ke dalam tanah yang posisinya lebih rendah dari jalan beraspal. Mobil akhirnya tak bisa maju ataupun mundur. Aku tidak tahu sejak kapan mobil itu terjebak. Aku juga tidak tahu sejak kapan kemacetan ini terjadi. Yang aku tahu, motorku tidak bergerak selama 10 menit. Aku mengatakan dalam hati,“Lengkap sudah. Pagiku semakin menyebalkan saja heu.”

Di dalam mobil yang terjebak, pengemudi sendirian. Tak ada kawan yang bisa membantu mendorong mobil. Pengendara lain juga tak ada yang membantu. Bahkan beberapa saling menekan tombol klakson sebagai tanda mereka tak sabar menunggu. Aku menduga, alasan mengapa orang-orang tidak langsung membantu mungkin karena kondisi saat itu sedang turun hujan. Hujan membuat semua orang sibuk dengan urusannya. Aku pun sama seperti mereka, sedang sibuk dengan pikiranku sendiri. Aku sedang mengkhawatirkan nasibku yang tak akan mampu sampai tempat kerja tepat waktu. Namun yang membuat berbeda, aku masih bisa menahan diri untuk tidak menekan tombol klakson.

Beberapa menit kemudian, seorang laki-laki menghentikan motornya tepat di depan mobil yang terjebak. Meskipun hanya seorang diri, ia tak ragu. Ia segera memberi aba-aba kepada pemilik mobil dan mendorong sekuat tenaga mobil tersebut ke arah belakang. Tak berselang lama, satu orang laki-laki kembali menghentikan motornya. Kali ini, ia bertugas memberi aba-aba dari arah belakang mobil untuk memberi tahu kondisi tanah dan jalan beraspal.

Pemandangan itu membuat rasa cemasku berubah seketika. Aku tak lagi sibuk dengan diriku sendiri. Aku tak lagi memikirkan bagaimana cara cepat tiba di tempat kerja. Aku memandang mereka cukup lama. Aku seakan tersihir dengan mereka yang saling membantu. Siapa pun yang melihat, pasti tahu pekerjaan mereka bukan hal yang mudah. Namun, hal itu tidak mengurungkan niat mereka untuk membantu. Dua orang laki-laki itu tentu saja memiliki kegiatan yang harus dikerjakan atau tempat yang harus didatangi. Sama seperti aku dan pengendara lainnya. Tetapi, sikap tolong menolong yang ada di diri mereka lebih tinggi dibanding urusan duniawi. Luar biasa, ya.

Iya, memang benar pagiku menyebalkan. Aku yang tidak disiplin membuat awal hariku menjadi tidak menyenangkan. Terlambat bangun pagi, perjalanan menerjang hujan, dan mengalami kemacetan cukup membuatku kelelahan. Namun, benar adanya bahwa kebaikan itu menular. Suasana hatiku yang tidak baik, berubah menjadi lebih baik karena mengamati kebaikan dua laki-laki itu. Betapa mulia hati mereka. Keadaan sulit tidak membuat hati mereka sempit. Mereka memahami betul bahwa keegoisan adalah tak ada guna. Sebab, tak ada yang lebih penting dibanding menjadi bermanfaat untuk sesama.

Membeli Makanan Si Kucing

Si kucing makan dengan lahap dan tenang hari ini. Ia tidak perlu makan dengan perasaan takut karena diburu waktu. Ia juga tidak perlu makan dengan perasaan khawatir karena memakan makanan kami 😂

Kami telah berjanji pada hati masing-masing akan membelikan si kucing makanan. Alhamdulillah, dua hari lalu janji kami tertunaikan.

Cerita awal mengapa si kucing berada di rumah kami, jadi, si kucing adalah kucing kampung yang kesasar. Tiba-tiba saja ia datang ke rumah dan tidak pergi lagi. Dua adik laki-lakiku si penyuka binatang tentu saja senang. Mereka dengan senang hati menampung kucing kampung yang kesasar itu.

Ketika dua adik laki-lakiku memutuskan memelihara si kucing, kami tidak menolak ataupun sungguh-sungguh mendukungnya. Kami hanya diam saja. Diam yang berarti mengizinkan secara tersirat wkwk

Sebelum si kucing memiliki makanan khusus untuknya, kami dilanda rasa gelisah berkepanjangan. Pertama, tiap kali ingin makan ada rasa takut karena si kucing selalu ‘menyerang’ kepingin ikutan makan. Kedua, tiap kali mengeluarkan makanan apapun ada rasa kesal karena si kucing selalu ‘berantakin’ makanan tersebut. Ketiga, kami tahu si kucing sangat lapar, namun belum mampu memberi makan ia secara ‘sungguh-sungguh’. Sebenarnya, kami tetap berbagi makanan tiap kali makan, tetapi belum ada ‘niatan penuh’ untuk menyiapkan makanan untuk si kucing. Keempat, kami merasa berdosa kepada kucing. Kami merasa bersalah tiap kali kami kenyang, tetapi si kucing tidak. Atas dasar empat kegelisahan itulah, kami yakin akan memulai membeli makanan kucing secara rutin.

Kali pertama masuk ke petshop, ada rasa senang di hati. Aku tidak menyangka rasanya akan sesenang ini datang ke toko pernak-pernik hewan. Ternyata seru sekali melihat kandang, tempat makan, tempat minuman, macam-macam jenis makanan, dan perlengkapan hewan lainnya. Dan tiba-tiba kami menjadi tidak sabar ingin segera memberi makan si kucing wkwk

Setelah berkeliling petshop, kami memilih makanan merk maxi ukuran kecil. Harganya 30.000. Kami juga membeli tempat makan kucing yang juga ukuran kecil. Harganya 20.000. Untuk pengalaman pertama ini, kami memilih yang murah saja untuk mencegah kemubaziran. Mungkin nanti bila makanan ini habis, kami akan mencari tahu tips and trick memilih makanan kucing yang lebih baik.

Sampai di rumah, si kucing sedang santai di teras. Kami segera menghampiri dan mengeluarkan makanan si kucing. Kami juga mencoba mencium aroma makanan tersebut. Ternyata harum ikannya kuat sekali. Pantas saja si kucing menggigiti plastik pembungkus makanan itu. Mungkin ia begitu tergoda dengan harum ikannya.

Kami menuangkan makanan hingga tempat makan kucing terisi penuh. Kami juga memberikan semangkuk air di sisi kiri. Tanpa menunggu dipersilakan, si kucing segera menyantapnya. Ia lahap sekali :’) aku lega melihat ia makan selahap itu. Adikku Niar bahkan menitikkan air mata hahaha katanya, ia seperti melihat anaknya sendiri yang sedang makan. Ia senang sekaligus sedih. Senang karena akhirnya si kucing bisa makan dengan leluasa. Sedih karena ia kasihan sama si kucing. Saat diberi makan, si kucing terlihat begitu kelaparan. Ia juga sedih karena baru mampu memberi makan si kucing dengan sungguh-sungguh seperti ini. Aku pun setuju dengan perkataannya. Aku juga merasakan hal yang sama seperti dirinya. Maafkan kami, kucing.

Karena telah memutuskan memberi makan kucing, kami pun harus tahu bagaimana aturan memberi makan si kucing. Informasi yang kami dapat dari teman Niar, temannya ini biasa memberi makan kucing sehari dua kali yaitu, pagi dan sore. Itu pun dengan syarat, satu tempat makan kucing terisi penuh. Bila tidak penuh, maka kita memberi makan kucing tiga kali sehari. Kami akan mengingat dengan baik informasi itu. Terima kasih, informasinya, Arin 🙂

Beberapa hikmah yang kami dapat setelah memiliki makanannya sendiri, si kucing tidak lagi menganggu kami ketika makan. Ia juga tidak mencuri makanan lagi. Bahkan jika kami meletakkan makanan sembarangan, ia hanya menoleh sebentar, kemudian segera pergi lagi.

Malunya diri ini. Aku malu karena pernah begitu kesal terhadap kucing. Aku kesal karena ia sering mencuri makanan. Padahal, mana tahu si kucing mencuri itu tidak baik. Ia hanya sedang lapar saja dan kebetulan kami tidak menyimpan makanan dengan rapi. Ia hanya sedang lapar saja dan saat itu kami tidak memberikan makanan dengan cukup. Wajar saja ia mengambil makanan kami. Sekali lagi, maafkan kami kucing. Semoga kami istiqomah berbagi. Sehat selalu ya, kucing 😊

Teman Seperjalanan

Saya tidak nyaman dengan keramaian. Menumpuknya orang di kiri, kanan, depan, dan belakang mampu membuat keadaan fisik menjadi tidak baik.

Kekuatan pikiran bekerja disini. Ketika saya meyakini ketidaknyamanan akan tempat ramai, maka otak saya pun akan memberi instruksi kepada semua sistem tubuh. Alhasil, pikiran tidak nyaman dan tubuh pun menjadi tidak karuan.

Siapapun tahu, melakukan perjalanan pada akhir pekan tentu akan penuh dengan banyak orang. Namun, demi kebersamaan dan momen ini sangat langka, maka saya pun mengalah dan menguatkan diri agar bertahan pada keramaian.

Taman Hebal Insani, namanya. Lokasinya berada di Depok. Taman ini tidak begitu luas. Taman sederhana yang sebenarnya cukup untuk menghibur warga Depok. Saya belum mencari informasi tentang taman ini melalui internet. Namun, hasil dari pengamatan yang dilakukan kemarin, beberapa arena bermain yang disediakan di sana adalah kolam renang, tempat memancing, rakit (Bagi yang belum tahu, rakit itu semacam bambu yang disusun menyerupai perahu. Jadi, bisa mengambang dan bisa dinaiki oleh kita. Rakit tidak bisa dinaiki oleh banyak orang. Perkiraan saya, kemungkinan rakit hanya bisa menampung dua atau tiga orang saja), kolam ikan, peternakan kambing dan kerbau, dan beberapa spot disertai beberapa aksesoris untuk foto bersama keluarga.

Kesan pertama terhadap tempat wisata ini memang kurang baik. Sebab, jalur masuk dan keluar kendaraan hanya satu pintu. Jadi, antara mobil dan motor saling bentrok. Para tukang parkir pun terlihat kebingungan. Melihat aksi tukang parkir, saya menduga tempat wisata ini masih baru. Sebab, pengaturan dasar tentang jalur masuk dan keluar kendaraan saja belum jelas. Beruntungnya, para pengunjung memiliki kesabaran dan kesadaran yang tinggi. Jadi, selain tukang parkir yang memang mengatur, para pengunjung pun turut bersabar dan menahan diri untuk tidak saling mendahului.

Karena lokasi tidak begitu luas, para pengunjung lebih banyak menggelar tikar/alas untuk duduk daripada menikmati arena bermain. Menikmati arena bermain pun sulit. Melangkahkan kaki saja sulit karena penuh dengan orang. Sejujurnya, saya tak sanggup dengan kondisi tersebut. Jika bisa, rasanya ingin mengibarkan bendera putih tanda menyerah. Jika ada, rasanya ingin menggunakan jurus menghilangnya Kiansantang. Jika bisa, rasanya ingin menggunakan pintu kemana sajanya doraemon. Sayang, tak ada dan tak bisa. Maka, untuk mensiasatinya dan mengendalikan diri agar tetap kuat (hahaha, ini nggak berlebihan, serius. Saya selalu hampir pingsan bila berada dalam keramaian 😂), saya mencari lokasi yang lumayan luas dan sedikit orang . Ada sebuah kali dengan pagar berada di sisi kanan saya. Saya pun berdiam diri disana. Supaya tetap bahagia, saya juga membeli minuman dingin. Beristirahat di pinggir kali ditemani minuman dingin, Alhamdulillah, membuat keadaan menjadi lebih baik. Alhamdulillah, tidak jadi pingsan hahaha 😂

Melihat kondisi tempat wisata seperti itu membuat saya tidak ingin berlama-lama di sana. Saya dan teman seperjalanan pun sepakat untuk segera pulang. Sebenarnya tidak pulang, akan lebih baik bila kami mencari tempat makan untuk mengisi perut ini. Kami lapar sekali. Selain beristirahat di pinggir kali dan minuman dingin, saya rasa mencari tempat makan adalah ide yang brilian 😁

“Aku mau foto di rumah bambu itu.” ia menunjuk sebuah rumah bambu dengan aksesoris topi petani. Di sekitarnya, penuh dengan lautan manusia. Sungguh, ramai sekali disana. Saya pun tidak bisa membedakan tim mana yang sedang berfoto dan tim mana yang sedang antre.

“Aku capek banget. Dia juga capek. Kami kehabisan tenaga. Gimana kalo kita foto disini aja? Yang penting foto bersama ‘siapanya’ kan bukan foto ‘dimananya’?” saya mengungkapkan perasaan dengan peluh keringat didahi dan berharap ia mengerti.

“Aku pernah kesini satu kali dan nggak berhasil foto di sana. Teman-temanku waktu itu puas banget foto di sana. Aku juga mau. Ayo, aku pengin foto.” ia menjawab cepat sambil menunjuk spot berfoto yang ia inginkan. Ia tidak mempertimbangkan keadaan kami. Ia pun tidak menanggapi keluhan kami tadi. Ia hanya memikirkan dirinya sendiri. Kami kehabisan kata-kata bagaimana menanggapi perkataannya kali ini.

Kami beradu argumen sebentar. Aku dan dia sama-sama keras kepala. Sulit sekali menemukan titik temu dan kesepakatan.

“Baiklah, ayo kita kesana. Setelah itu kita pulang ya.” kataku mengalah. Sebelum mengatakan itu, sebenarnya aku menarik napas panjang sejenak. Dalam hati aku mengatakan, ia benar-benar belum tahu hakikat perjalanan bersama teman.

Dalam keramaian itu, tak ada barisan antre. Orang-orang saling memotong antrean dan berpose ria disana. Seakan tak peduli siapakah yang berdiri lebih dulu di sana. Seakan tak peduli tentang orang lain yang juga begitu ingin berpose ria di sana, seperti teman saya contohnya. Sungguh pemandangan yang tak baik disaksikan anak-anak.

Selesai berfoto di sana, teman saya tersenyum riang dan tidak merengek lagi. Ia pun menurut kami ajak pulang. Bukan pulang, tetapi mencari tempat makan yang nyaman dan membuat perut kenyang.

***

Temanku sayang,

Tahukah kamu mengapa sebaik-baiknya perjalanan adalah bersama teman? Tentu, sebagian orang merasa mampu melakukan perjalanan panjang tanpa satu orang pun teman. Tetapi, sejatinya ia tetaplah tidak mampu. Ia mungkin saja berangkat seorang diri dari rumah. Namun, pada lokasi yang ia tuju, tetap saja ia membutuhkan bantuan orang lain. Orang lain untuk membuatkan ia satu gelas teh hangat di warung kopi, misalnya. Atau orang lain yang membantu menunjukkan arah, misalnya. Manusia tak akan pernah bisa hidup seorang diri.

Lalu, jika memang bisa melakukan perjalanan seorang diri, tahukah kamu mengapa perjalanan bersama teman tetaplah yang paling baik? Alasannya, perjalanan bersama teman akan memberikan kamu banyak hal.

Perjalanan bersama teman akan melatihmu untuk bersabar. Meskipun kamu mampu berlari, kamu harus tetap berjalan perlahan. Ada teman yang perlu kamu tunggu dan bantu.

Perjalanan bersama teman akan melatihmu untuk bersabar dan membuat hatimu lebih lapang. Meskipun kamu mampu meraih segala keinginan, kamu harus tetap menahan. Ada banyak pikiran teman seperjalanan yang perlu kamu pikirkan. Ada banyak perasaan teman seperjalanan yang perlu kamu pertimbangkan. Bersama teman, kamu akan menjadi sosok yang baru. Sosok yang tidak egois, bersabar, dan mengutamakan kebaikan bersama.

Temanku sayang, perjalanan bersama kalian kemarin pun melatih kemampuan baru untukku. Aku dilatih untuk mencari kenyamanan di dalam ketidaknyamanan. Dan semakin sadar bahwa aku tak akan pernah bisa mengendalikan orang-orang dan lingkungan di sekitarku. Maka, aku harus mengendalikan diriku sendiri.

Semoga kita bisa memaknai dengan baik sebuah perjalanan. Tetapi, tanpa pernah kamu minta, perjalanan akan memberimu begitu banyak, kok. Sama seperti pengalaman, ia selalu menjadi guru terbaik.

Pengagum Seni

Seni selalu memiliki tempat khusus dalam diriku. Tiap kali berinteraksi dengan seni, selalu ada perasaan membuncah dihati. Perasaan nyaman dan senang. Maka, aku selalu setuju dengan istilah tidak pernah ada yang salah dengan seni. Bersama seni kesalahan pun tetap bisa menghasilkan karya yang indah.

Aku tahu bakat tidak sepenuhnya menjadi faktor penentu karya seseorang. Jadi, jika saat ini kamu pandai menggambar dan melukis, bisa jadi itu karena memang ketekunanmu sendiri. Kamu pasti senang berlatih, berlatih, dan berlatih. Kalau aku, berlatih pun tidak. Jadi, wajar sekali kemampuan menggambar hanya sebatas dua buah gunung, matahari di tengah, dua awan di atas, dan beberapa persawahan di bawahnya 😂

Menyanyi

Saat sekolah dasar dulu, aku pernah beberapa kali lomba bernyanyi lagu wajib mewakili sekolah. Meskipun tidak pernah peringkat satu, mendapat peringkat ke dua membuktikan kepada diriku sendiri bahwa suaraku tidak begitu jelek-jelek banget. Kemampuan bernyanyiku memang lumayan sering diasah. Hal itu terjadi karena hobi ibuku adalah karaokean di rumah. Jadi, jika ibu senang karaokean, normalnya, sebagai anak pasti termotivasi untuk melakukannya juga kan? Pengalaman memang berperan penting dalam meningkatkan bakat dan kemampuan seseorang, ya.

Membuat scrapbook

Aku tidak ingat sejak kapan. Yang jelas, saat sekolah menengah atas aku senang melakukan uji coba membuat prakarya. Saat itu, aku sedang gencar membuat scrapbook. Cara membuatnya sebenarnya tidak begitu sulit. Kamu hanya perlu mengumpulkan niat yang besar untuk mengumpulkan foto-foto lama. Lalu, foto tersebut dicetak dan kemudian digunting sesuai keinginan.

Supaya semakin enak dipandang, dulu, aku senang menghias scrapbook dengan tulisan dan beberapa kertas origami. Dan beberapa pita untuk mempermanis karya tersebut. Hasilnya lumayan bagus. Hobi ini dulu kugunakan untuk membuat kado teman. Teman senang dan aku pun riang.

Sejak saat itu aku tahu, membuat scrapbook tidak membutuhkan keahlian khusus. Kita hanya perlu niat yang besar, keuletan dan kesabaran. Aku dulu pernah membakar sedikit pinggiran kertas dengan menggunakan api. Tujuannya, supaya motif bakaran tersebut memberikan kesan unik pada kertas.

Aku juga pernah memotong dan membolongkan lebih dari 20 kertas untuk dijadikan buku secara manual. Alasannya sederhana, aku ingin motif yang berbeda pada setiap halaman hahaha ribet ya? Tidak juga. Niat yang besar terkadang melupakan logika. Niat yang besar terkadang bisa mendobrak batas kemampuan kita. Ternyata, kita mampu lho bila kita mau.

Menggambar

Aku belum bisa menggambar. Menggambar satu manusia utuh pun belum bisa. Goresan pensilnya masih terlihat sangat kaku. Beberapa tahun yang lalu, aku pernah mencoba membuat gambar naruto untuk adikku. Ternyata bisa. Meskipun tidak begitu bagus, gambar tersebut berhasil terlihat seperti naruto. Dari pengalaman itu aku menjadi tahu bahwa setiap orang sebenarnya bisa menggambar. Kita hanya perlu berlatih lebih banyak.

Aku senang membuat karya seni. Aku juga selalu menjadi pengagum seni. Aku mengagumi mereka yang memiliki suara bagus. Aku mengagumi mereka yang pandai bermain alat musik. Aku mengagumi mereka yang mampu menggambar dan melukis. Aku betah berlama-lama mengamati mereka melakukan bakat-bakat itu. Aku betah berlama-lama mengamati karya mereka. Aku juga tak sungkan memuji karya-karya mereka.

Karya yang luar biasa bukan hasil dari bakat yang sudah di bawa sejak lahir. Ada perjuangan keras yang menyertainya. Mereka pasti telah melalui hari-hari berat untuk terus berlatih. Mereka pasti telah melakukan apresiasi diri berulang kali hingga akhirnya menghasilkan karya yang begitu mengagumkan.

***

Tulisan ini terinspirasi dari adikku yang sedang mencoba berkarya lagi. Mengalahkan rasa takut memang tidak mudah. Sebab, ada banyak sekali pembanding yang lebih bagus dan lebih luar biasa. Tetapi, pada karya setiap orang pasti memiliki keistimewaan tersendiri. Setiap orang memiliki ciri khas tersendiri. Jadi, berkarya saja yang banyak. Sebab, kamu tidak tahu, karyamu yang ke berapa, mampu menginspirasi orang lain. Kamu tidak tahu, karyamu yang mana, mampu membuat orang lain bahagia.

Seperti aku ini, berkatmu, aku jadi termotivasi untuk belajar menggambar lagi.

Seperti aku ini, aku mengagumi karya-karyamu. Bahkan untuk setiap kesalahan yang kamu lakukan, aku tetap mengagumimu. Karena kamu, telah mengalahkan rasa takut dan memilih maju 😍👍

Lagi-lagi tentang Kucing

20181202_115147.jpg

Namanya kucing. Begitu kira-kira Satria memanggilnya. Satria belum dapat ide untuk memberi nama si kucing ini. Hobinya bersandar pada Shinta. Padahal diantara anggota keluarga, hanya aku yang belum pernah mengelus bulu halusnya. Padahal diantara anggota keluarga, hanya aku yang belum pernah menggendongnya. Padahal di antara anggota keluarga, hanya aku yang belum menyadari sosok lucu dari dirinya.

Mungkin ini adalah cara Tuhan agar aku melihat dan menganggap kehadirannya. Maka, aku didekatkan dengan si kucing :’)

Si kucing paling senang nongkrong di kamarku. Apalagi setelah aku shalat, posisi paling wuenak bagi kucing yaitu, selonjoran sambil bersandar dikakiku. Meskipun sudah selesai melaksanakan shalat, aku paling senang duduk di atas sajadah. Seperti biasa, melakukan aktivitas di atasnya dengan masih menggunakan mukena. Saat-saat seperti itu biasanya si kucing datang.

Tetap berada didekat kucing adalah pencapaianku yang perlu diapresiasi. Sebab, aku belajar membiasakan diri pada suatu hal yang tidak membuatku nyaman. Aku menghargai usahaku itu.

Aku tidak nyaman dengan cakarnya. Meskipun belum pernah dicakar, melihat cakarnya sudah cukup membuatku merasa perlu hati-hati.

Aku tidak nyaman dengan bulu kucing yang bertebaran. Melihat bulu rontok pada baju dan seprei membuatku ingin segera membersihkannya.

Aku juga tidak nyaman dengan kebiasaan kucing yang mengesek-gesekkan bulunya ke badanku. Aku juga tidak tahu alasannya apa. Mungkin aku belum terbiasa dengan bulu kucing. Waktu kecil, aku memang tidak main boneka yang berbulu. Aku lebih senang main masak-masakkan daripada harus bermain boneka. Aku lebih senang bermain sepeda daripada harus bermain boneka. Mungkin hal itu yang membuatku tidak terbiasa dengan bulu. Bulu kucing asli atau bulu boneka, misalnya.

Entah bagaimana perilaku kucing bekerja, ia sering sekali duduk atau berbaring di dekatku. Kapanpun. Saat aku makan, saat duduk di teras, saat nonton televisi, atau saat berkumpul dengan keluarga. Adikku saja sampai bertanya-tanya,”Kucing ini aneh. Dia masa deket-deket sama orang yang mau pegang dia juga nggak hahahaha.” Lalu ia menambahkan,“Mungkin si kucing tetap merasakan kehangatan dibalik sikap dingin lo mbak hahahahaha.” Dan masih banyak lagi pernyataan ngeselin dia yang lainnya. Seperti biasa, dalam hal ledek-meledek memang dia juaranya. Dan dia bahagia wkwk

Aku memang orang yang sama. Orang yang belum menemukan kelucuan kucing. Kata orang ia menggemaskan. Kata aku, kucing biasa saja. Aku belum menemukan alasan mengapa kucing begitu menggemaskan 😂 Aku juga belum terbiasa mengelus bulu kucing, bukan karena enggan atau tak suka. Hanya saja, naluriku belum secara otomatis melakukan itu wkwk

Yang biasa aku lakukan saat ini hanya membiarkan si kucing berada di dekatku. Membiarkan ia bermanja ria di dekatku. Membiarkan ia duduk di sampingku. Dan membiarkan ia menemaniku di atas sajadah wkwk aku juga senang memberikan ia makanan.

Pernah suatu ketika temanku mengatakan seperti ini,“Kalau ada seseorang yang belum menyukai kucing, ada pintu hatinya yang belum terbuka.”

Saat mendengarnya aku langsung tersindir dan menanggapi (merasa tidak terima hahaha),“Ih kok tega bener hahaha Aku kan hanya belum terbiasa saja bercengkrama dengan binatang. Dalam hal ini, si kucing. Aku memiliki sedikit pengalaman dengan binatang. Aku tahu kok kepada binatang kita harus sayang dan tidak memukul. Aku juga tahu kita harus berbagi makanan dengan binatang. Aku juga tahu binatang memang harus dirawat :p Hanya sebatas itu saja, sih.”

Kemudian aku menambahkan,“Tetapi, sampai sekarang, aku belum melihat kucing itu hewan menggemaskan. Sejak kecil aku memang belum pernah memelihara binatang sih. Mungkin itu alasannya? Hahaha baiklah, mungkin mulai sekarang aku harus lebih sering mengamati binatang. Mungkin kelak, setelahnya aku akan melihat tingkah menggemaskannya 😂.”

Tentang menyukai binatang atau tidak. Nyaman berada didekat binatang atau tidak, aku rasa hanya tentang waktu. Seberapa sering kita membersamai mereka. Kalau sedikit sekali pengalaman seperti aku, wajar kok kalau kamu belum mendapat chemistry bersamanya hehe yuk mulai sekarang, kita perhatikan si kucing. Mungkin esok kita akan selalu ingin berada didekatnya 😝

**

Sebelumnya aku pernah menulis tentang kucing juga. Silakan klik disini kalau teman-teman ingin membaca 😀

Aji dan Fitri

Kami adalah tiga orang yang memiliki karakter berbeda. Namun, hukum alam tetap bekerja. Bagaimana pun perbedaan hadir, pasti ada beberapa kesamaan yang akan mendekatkan. Itulah yang terjadi dengan kami.

Kami memiliki hobi dan kesukaan yang berbeda. Aji hobi touring. Fitri hobi kulineran. Aku hobi travelling. Aji senang ngecat motor. Fitri senang datang ke tempat kekinian. Aku senang menulis. Aji dan Fitri suka ngelawak. Kalo aku, suka dengerin mereka ngelawak 😂😂

Lumayan banyak perbedaan kesukaan kami. Meskipun begitu, ada satu kesamaan kami. Kami sama-sama tidak mudah percaya dengan orang baru. Kami membutuhkan waktu lama untuk mengenal orang lain. Kami membutuhkan waktu lebih lama untuk percaya orang lain. Baca saja beberapa faktanya. Harus menunggu lima bulan lamanya, hingga kami saling mengenal. Harus menunggu lima bulan lamanya, hingga kami bisa begitu mudah saling bercerita. Harus menunggu lima bulan lamanya, hingga kami begitu leluasa berkeluh kesah. Harus menunggu lima bulan lamanya, hingga kami berani saling meminta tolong. Harus menunggu lima bulan lamanya, hingga kami merasa nyaman satu sama lain.

Bagi beberapa orang melakukan semua itu mungkin mudah dilakukan dengan siapa saja. Bagi kami tidak.

Perkenalkan, mereka adalah Aji dan Fitri. Usia mereka dua dan tiga tahun di bawahku. Tulisan di bawah nanti adalah tentang keduanya.

***

Aji. Ia adalah anak pertama dari dua bersaudara. Memiliki kedua orang tua yang bekerja. Namun, ia tidak menjadikan alasan itu agar bergantung pada orang tua. Aji sudah mandiri sejak remaja. Aku lupa sejak SMP atau SMA. Yang jelas, sejak saat itu, ia ingin menghasilkan uang sendiri. Dan sejak saat itu pula hobinya adalah berwirausaha.

Aji senang mencoba hal baru. Ia tidak malas belajar hal baru. Ia juga tidak mudah menyerah. Pernah suatu ketika ia bercerita, Aji pernah belajar merakit mesin motor. Namun ternyata, keahliannya bukan dalam bidang itu. Beberapa teman juga mengejek ketidakmampuannya. Kata mereka, untuk apa melakukan hal yang tidak ia kuasai? Kata mereka, melakukan hal itu hanya buang-buang waktu saja.

Aji itu keren. Ejekan teman tidak menurunkan tekadnya untuk maju. Ejekan malah ia jadikan motivasi agar sukses. Kamu tahu apa yang Aji lakukan selanjutnya? Karena ia senang belajar, Aji mengubah minatnya itu. Ia menyadari keahliannya bukan merakit mesin motor, maka Aji mengalihkan minatnya ke bidang lain.

Aji belajar mengecat bagian-bagian motor. Alhamdulillah, berkat ketekunannya, ia berhasil melakukannya dengan baik dan masih melakukan hobinya hingga saat ini.

Usia Aji memang lebih muda dariku. Namun, untuk perjuangan hidup, kemandirian, ketekunan, sikap pantang menyerah, dan semangat belajarnya, kupikir, aku masih harus banyak belajar darinya.

***

Fitri. Ia adalah anak pertama dari dua bersaudara. Seperti anak pertama pada umumnya, Fitri terbentuk menjadi sosok yang bertanggung jawab. Saking tanggung jawabnya, terkadang ia terlalu takut untuk salah dan terlalu takut untuk mengecewakan orang lain. Ia adalah tipikal orang yang sangat menjaga perasaan orang lain. Ia sangat berhati-hati menjaga lisan dan perbuatannya. Katanya, jangan sampai ia melukai orang lain. Katanya, jangan sampai ia mengecewakan orang lain.

Dalam pekerjaan, Fitri adalah anak yang rajin. Ia tidak suka menunda pekerjaan dan senang menyelesaikan tugas segera mungkin. Sepertinya, aku belum pernah mendengar anak ini mengeluh capek atau males gerak :’)

Selain baik dalam pekerjaan, Fitri juga ceria dan rajin menyapa orang lain. Oleh karena itu, siapapun akan senang berada didekatnya. Siapapun tak akan pernah canggung berada didekatnya. Mimik wajah yang bersahabat membuat siapapun tak akan pernah takut untuk menyapanya lebih dulu.

Fitri sangat ramah. Ia akan menyapa siapapun. Mas-mas penjaga parkiran, mbak-mbak kasir, ibu-ibu cleaning service, adik-adik penjaga kantin, abang-abang bakso malang, pokoknya siapapun orang yang ia kenal akan disapa. Berada didekatnya dan berjalan bersamanya, aku selalu diingatkan bahwa sejatinya sesama manusia memang harus menebar senyum dan keramahan. Kita hidup di dunia memang untuk menebar kebaikan, kan?

Fitri juga memiliki selera humor yang tinggi, lho. Jadi, kalau didekatnya aku senang sekali. Dia lucu. Kata-katanya selalu berhasil membuat aku sakit perut. Sakit perut karena nahan ketawa supaya nggak berisik wkwk Kemampuan humorku lumayan meningkat berkat dirinya hahaha terima kasih, Fitri!

Usia Fitri tidak jauh dari usia adikku. Ketertarikannya juga hampir sama dengan adikku. Oleh karena itu, kalau lagi bersamanya, ngerasanya kayak teman kerja rasa adik 😂 aku belajar banyak dari Fitri bahwa membuat orang lain nyaman itu penting. Karena dengan begitu, orang lain tidak akan sungkan dengan kita. Karena dengan begitu, orang lain akan mudah berteman dengan kita. Bersama Fitri, aku jadi tahu lho pentingnya bersikap ramah dan murah senyum kepada orang lain 🙂

***

Rezeki tidak hanya tentang uang. Rezeki lebih luas dari itu. Bertemu dengan Aji dan Fitri adalah rezeki yang Allah berikan untukku. Bertemu dengan mereka membuat aku yakin bahwa usia hanyalah angka semata. Kedewasaan tidaklah pernah bisa diukur dengan seberapa banyak jumlah usia.

Kenyataannya, hanya mereka yang pandai mengambil pelajaranlah yang semakin mendewasa. Hanya mereka yang paham kebermanfaatan dirinya untuk orang lainlah yang semakin mendewasa. Hanya mareka yang mau mengerti perasaan orang lain lah yang semakin mendewasa. Dan hanya mereka yang menghilangkan keegoisanlah yang semakin mendewasa.

Aji dan Fitri mungkin tidak begitu menyadari bahwa perbuatan yang mereka lakukan selama ini ternyata menginspirasi orang lain. Aku terinspirasi dengan mereka. Aji yang bermental baja. Fitri yang begitu menyenangkan. Terima kasih telah memberi begitu banyak. Terima kasih telah hadir dalam kehidupan Shinta
😊🙏

Memaknai Pengalaman

Orang-orang yang lebih dulu hidup dibanding aku, kuharap memiliki rasa syukur yang jauh lebih banyak. Seharusnya, pengalaman mampu membuat seseorang menjadi lebih bijaksana. Pengalaman mampu membuat hati seseorang lebih lapang menerima. Pengalaman mampu membuat hati lebih luas. Pengalaman mampu membuat kita lebih paham, tiada yang lebih penting dari memiliki hati yang bahagia.

Menurutku, kita sungguh merugi bila pengalaman tidak dibarengi proses introspeksi diri. Kita sama saja tidak menggunakan kesempatan dengan sebaik mungkin. Kita sama saja membiarkan air mengalir tanpa peduli kemana air tersebut bermuara. Kita sama saja bertahan dalam kesalahan tanpa ingin tahu bagaimana cara memperbaiki. Padahal, jika saja kita mau berdiam diri sebentar untuk merenungi, ada banyak sekali perbuatan yang perlu diperbaiki.

Hakikat merenung yang tak boleh kita lupa, merenung bukanlah untuk memikirkan kesalahan orang lain. Kita merenung untuk memikirkan kesalahan pada diri. Hanya dengan pemahaman seperti itu kita bisa memahami bahwa pengalaman memang memberikan hal-hal berarti.

Pengalaman menyadarkan kita bahwa masalah memang tak akan pernah berhenti. Selesainya suatu masalah adalah awal bagi masalah lainnya. Jadi, santai dan hadapi saja. Bukankah apa-apa yang datang pada akhirnya akan pergi? Bukankah apa-apa yang telah dimulai pada akhirnya akan berakhir? Bagaimanapun hasil akhir suatu proses, apakah itu yang kita cari? Tidak, kita membutuhkan sesuatu yang jauh lebih bermakna dari itu. Kita membutuhkan pembelajaran dari sebuah proses. Bukan hasil akhir saja.

Aku berharap tak salah lagi dalam memaknai sebuah pengalaman. Sebab jika tidak, usia hanyalah angka yang bertambah semata. Namun, tak bertambah matang pula mental, karakter, dan sikap. Semoga pengalaman mampu membuatku memiliki hati dan pikiran yang luas. Karena dengan begitu, aku tak lagi merasa sulit untuk membaca kesalahan pada diriku sendiri. Karena dengan begitu, aku tak lagi merasa sulit untuk mensyukuri hal-hal yang sederhana. Karena dengan begitu, aku tak lagi merasa sulit untuk berbahagia dengan hal-hal sederhana.

Hal-hal sederhana selalu mengajarkan hal besar. Tak pernah ada hal-hal besar tanpa adanya sesuatu yang kecil dan sederhana. Jadi, hargai apapun itu. Bahkan untuk hal-hal yang tak dapat terlihat mata sekali pun. Hanya dengan cara itu hati kita terlatih untuk peka dan terbuka.

Cerita: Si Om

Sebelumnya, aku memanggil beliau bapak. Namun, beberapa orang memanggil dengan sebutan ‘Om’. Kurasa memanggil ‘Om’ lebih baik. Kurasa sebutan ‘Om’ membuat suasana lebih cair dan menghilangkan kecanggungan. Sejak saat itu, aku pun memanggil beliau Om.

Kali pertama melihat om, kupikir om ‘anak band’. Rambutnya panjang. Om memakai gelang dan kalung. Om senang menggunakan kaos hitam. Beliau pun sering mendengarkan lagu ‘rock’. Aku tak segan menanyakannya langsung,“Om anak band ya?” Om pun langsung tertawa lepas mendengar pertanyaanku. Sepertinya, aku terlalu cepat menyimpulkan.

Setelah lama bekerja satu shift dengannya dan bertukar cerita, aku baru tahu ternyata beliau bukan anak band. Om hanya pecinta musik. Jadi, segala macam genre musik beliau cinta. Lagu yang sering diputar begitu beragam. Darinya, pengetahuanku tentang musik lumayan meningkat. Paling tidak, aku pernah mendengar dan menjadi tahu lagu-lagu yang diproduksi sebelum aku lahir 😂

Om adalah tipikal orang yang senang berdiskusi. Aku pernah berdiskusi tentang Islam dan kebudayaan jawa. Om mengatakan, yang om dan orang tuanya yakini adalah kita perlu tahu mengapa perlu ibadah. Kita tidak boleh hanya sekadar ibadah namun tak tahu sesungguhnya hakikat ibadah itu apa. Sehingga, kita pun tidak menerapkan perbuatan baik pada kehidupan sehari-hari. Kita perlu tahu bagaimana cara memperlakukan manusia dengan baik. Kita perlu tahu bagaimana cara memperlakukan alam dengan baik. Kita perlu tahu bagaimana cara memperlakukan binatang dengan baik. Intinya, memperhatikan bagaimana kita bersikap adalah keharusan. Kira-kira seperti itu singkatnya hasil diskusiku dan om. Belakangan ini, aku baru tahu ternyata si om senang membaca. Buku biografi, katanya. Beliau paling suka Biografi Tan Malaka. Pantas saja cara bicaranya bijaksana dan filosofis sekali :’)

Om tidak hanya senang berdiskusi. Beliau juga senang berbagi ilmu. Om berbagi namun tidak menggurui. Siapapun akan senang berdiskusi dengannya. Om juga humoris dan ekspresif sekali. Semakin seru saja belajar ilmu baru dengan om. Situasi dijamin tidak akan membosankan!

Bertemu dengan seseorang yang memiliki ilmu dan pengalaman banyak namun tak sombong, membuat aku selalu takjub berulang kali. Om orangnya seperti itu. Padahal, beliau sering menjadi pembicara di almamaternya. Masa kerja beliau sudah banyak. Om juga pandai bergaul diberbagai komunitas. Namun, om berlaku sangat santai dan sederhana. Om membuat lawan bicara merasa nyaman dan tidak terintimidasi tiap kali berdiskusi. Om juga berpikiran terbuka menerima hal baru.

Dalam bekerja, om selalu membantu bila ada yang kesulitan. Betapapun sibuknya, om selalu mendengarkan dan menanggapi siapapun yang membutuhkan. Meskipun sudah menjadi senior, Om juga melakukan pekerjaan yang sama dengan aku. Kita bekerja sama-sama dan saling membantu. Om berhasil membangun suasana nyaman tanpa ada tekanan. Om memberikan teladan begitu banyak kepadaku.

Terima kasih, Om. Terima kasih telah berbagi ilmu dan cerita. Terima kasih telah memposisikanku sebagai kawan dan rekan sejawat. Terima kasih telah menjadi teman diskusi yang baik. Terima kasih telah mengerti dan memahami keadaan orang lain. Terima kasih telah membantu. Kudoakan, semoga om dan keluarga selalu diberikan kesehatan dan diberkahi Allah. Semoga om dan keluarga selalu bahagia dunia dan akhirat. Aamiin.

Menolak untuk Panik

Menolak panik dan tidak menyalahkan sesuatu yang telah terjadi adalah dua hal yang sangat tidak mudah dilakukan. Namun, berhasil saya taklukkan.

Saya telah lama berkawan dengan kritikan yang membangun maupun yang menyakitkan. Butuh proses memang. Saya pun pernah mengalami masa-masa penolakan atas kritikan. Tetapi, pengalaman memang mampu membuka pikiran untuk membenahi diri menjadi lebih baik lagi.

Sejak pemahaman bahwa kritikan akan membuat saya lebih baik tertanam dalam jiwa, saya berusaha sekali menerimanya dengan lapang dada. Apalagi bila kritikan disampaikan dengan cara yang tidak baik. Selain sulit diterima oleh otak, penyampaian yang tidak baik dapat menyakiti hati dan mengganggu pendengaran. Tidak semua kritikan enak didengar oleh telinga kan?

Saya juga telah lama berkawan dengan rasa panik. Kalau panik, logika seakan tertutup rapat dan hanya reaksilah yang kerap saya lakukan. Bagaimana dengan solusi? Pada saat itu, saya belum mengenal solusi.

Menjadi panik itu melelahkan. Karena saya selalu memandang persoalan dari sudut pandang kegagalan. Seolah-olah tiada kesempatan sama sekali untuk memperbaiki kesalahan. Dan biasanya, orang-orang yang panik akan kesulitan mengoreksi sesuatu yang salah. Selalu ada saja batu sandungan. Kepanikan selalu dekat dengan ketergesaan. Dan pada akhirnya, ketergesaan membuat saya menyalahkan keadaan. Menyalahkan keadaan menjauhkan sebuah penyelesaian.

“Kamu itu nggak usah panik. Santai aja. Kalo salah, nggak apa-apa. Setiap orang pernah melakukan kesalahan. Berpikir pelan-pelan. Hadapi dengan tenang. Nggak usah bereaksi berlebihan. Nggak usah salahkan keadaan. Dan, cari solusinya.” seseorang mengatakan itu. Benarlah kata orang, apapun memang harus dikatakan. Sebab, kata-kata mampu menyentuh hati orang lain. Kata-katanya, menyentuh hati saya.

Sejak saat itu, seburuk apapun keadaan, saya berusaha sekali untuk tenang. Butuh kerja keras memang. Butuh tarik napas panjang, memejamkan mata, dan berdiam diri sejenak untuk memikirkan. Butuh waktu lama untuk terus berlatih dan membiasakan. Butuh kesabaran untuk menjalankan. Dan, yang paling utama, butuh niat yang lurus untuk istiqomah melakukan.

Dan kini, ketika berhasil menaklukan rasa panik, orang-orang sering bertanya, “Shin, kok nggak panik? Nggak sakit? Nggak takut?”

Saya manusia biasa yang memiliki rasa. Tentu saja ada rasa panik, takut, dan khawatir, ketika menghadapi situasi menegangkan. Tentu saja merasa khawatir dengan kesalahan. Tetapi, saya tahu, satu-satunya cara menghadapi semua itu adalah mencari solusinya. Dengan begitu, segala ketegangan akan sirna secara perlahan.

Ada proses panjang dilakukan untuk menolak rasa panik. Pemahaman tersebut tidak tertanam begitu saja. Ada proses afirmasi diri berulang kali dilakukan. Ada proses pembiasaan yang terus diusahakan. Dan ada proses-proses lainnya.

***

Sedikit Cerita tentang Menolak Rasa Panik

Agustus 2018

Botol ampul terbuat dari kaca. Sebenarnya, saya sudah terbiasa membukanya. Entah mengapa, kemarin tidak begitu lancar saat membuka. Jadilah, telunjuk kanan tergores sedikit kaca. Goresannya kurang lebih hanya satu sentimeter saja. Meskipun begitu, darahnya lumayan memenuhi telapak tangan, menetes pada lantai, dan tempat sampah.

Saya tahu teorinya, ketika terjadi luka, segera mungkin menutupnya dengan kain atau apapun juga untuk menghentikan pendarahan. Tetapi saat itu, tak ada kain dan tissue. Dan tidak mungkin menutupnya dengan baju yang digunakan. Saya pun bingung dibuatnya.

Rasa bingung tidak terjadi begitu lama. Saya menolak untuk panik dan memutuskan mencari solusinya. Saya segera berjalan cepat mencari tissue dan air mengalir untuk membersihkan luka. Setelah bersih, saya menekan telunjuk dengan tissue untuk menghentikan pendarahan. Dan segera mencari bantuan. Saya membutuhkan antiseptik.

Sesampainya di lokasi yang dituju, saya tak mendapat sambutan yang menenangkan dan menyenangkan. Dia tak peduli. Padahal, seharusnya ia adalah orang yang harus peduli dengan darah dan luka. Saya malah disarankan olehnya untuk mencari antiseptik tersebut. Ibaratnya, saya disuruh mencari barang di rumah orang lain yang sebelumnya tak pernah dikunjungi. Bingung? Tentu, bahkan saya pun tidak tahu dimana pintu masuknya. Meskipun dia begitu mengecewakan, saya tetap masuk dan mencari sendiri antiseptik tersebut.

Saya meyakinkan diri, bagaimanapun keadaan tidak menyenangkan itu, tidak boleh memengaruhi saya. Ada hal yang harus dilakukan yaitu, mencari antiseptik! Dengan cepat saya membuka laci dan mencari botol dengan tulisan antiseptik. Alhamdulillah, Allah meridhoi. Botol itu muncul dipermukaan dan segera saya gunakan.

Cairan antiseptik yang mengenai luka cukup membuat saya merasa nyeri dan ngeri. Namun, darah belum juga berhenti. Saya membutuhkan plester untuk menekan pendarahan, tetapi sejauh mata memandang tak terlihat plester itu. Indomaret adalah satu-satunya tempat yang terpikirkan. Saya segera pergi kesana untuk mendapatkan plester.

Lagi-lagi Allah memudahkan. Plester jenis apapun tersedia disana. Saya memilih plester anti air. Plester itu tepat sekali untuk memudahkan pekerjaan saya. Selesai mengurus perihal pembayaran di kasir indomaret, saya segera menempelkan plester pada luka dengan panjang satu sentimeter itu. Luka ditutup, darah pun berhenti. Urusan selesai. Kepanikan hilang. Saya panik? Tentu saja. Tetapi, dalam hati. Adakah orang yang tak panik bila melihat darah mengalir? 😂😂

***

Cerita di atas adalah sedikit pengalaman saya menolak untuk panik. Ada banyak proses di dalamnya. Dan ada banyak usaha juga di dalamnya. Menolak untuk panik bukan berarti tidak merasakan panik. Kepanikan tentu ada. Namun, jangan sampai kepanikan malah memperburuk keadaan yang ada. Jangan sampai, kepanikan malah menutupi logika kita. Panik boleh, tetapi rasakan saja. Tidak perlu ditunjukkan oleh laku. Bagaimanapun rumitnya keadaan, mencari solusi selalu nomor satu.

Menolak untuk panik perlu atau tidak? Bukan perlu, tetapi harus!