[Day 10] Jangan Takut

Kata “takut” memiliki banyak definisi. Kalau kamu ketik kata “Fears” disertai kata “Pyschology Today” di belakangnya pada google.com, kamu akan menemukan banyak artikel tentang rasa takut. Coba saja.

Begitu pula dengan aku. Aku memiliki banyak definisi rasa takut.

Sebagai anak, aku takut mengecewakan orang tua dan menjadi anak yang tidak berbakti. Sebagai kakak, aku takut menjadi kakak buruk yang tidak memberikan teladan baik untuk adik-adiknya. Sebagai teman, aku takut menjadi teman buruk yang melupa teman bahkan untuk sebuah pertanyaan “apa kabar?”. Sebagai seorang Shinta, aku takut melupa rasa syukur. Bila rasa syukur saja aku tidak ingat, bagaimana mungkin aku mampu mengingat Tuhan?

Menurutku, rasa takut itu selalu ada pada setiap manusia. Dan tidak melulu memiliki makna buruk. Rasa takut membuat kita lebih berhati-hati. Rasa takut juga menjadi petanda bahwa kita masih memiliki emosi normal. Jadi, bersyukurlah karena kita masih memiliki rasa takut.

Rasa takut yang sehat adalah rasa takut yang tidak menghambat seseorang menjadi sukses dan maju.

Pertanyaannya, gimana cara mengelola rasa takut? Khususnya, definisi rasa takut yang aku sebutkan pada paragraf panjang tadi? Caranya cuma dua. Pertama, pelajari bagaimana cara menjadi anak, kakak, teman, dan individu yang baik. Kedua, hadapi dan terima apapun hasilnya nanti.

Lakukan sebuah langkah kecil dan perlahan saja. Sesuaikan dengan “caramu bekerja”. Sebab, mengalahkan rasa takut itu tidak mudah dan cepat. Akan selalu ada seribu alasan agar kita berhenti mencoba dan berusaha.

Aku tidak tahu cara tersebut tepat atau tidak untukmu. Namun, aku sudah mencobanya. Dan Alhamdulillah memberikan perubahan baik.

Semua tulisanku pada blog ini adalah contohnya. Sedari kecil aku suka menulis. Namun, selalu gagal menulis diblog hanya karena takut mendapat penilaian dari orang lain. Aku merasa tidak pantas membagikan buah pikiran yang ada dikepala. “Aku ini siapa?” begitu kataku.

Dan ternyata ketakutanku itu hanya menghambatku saja. Karena rasa takut itu malah membuat aku berhenti menulis dan tidak melakukan perubahan apa-apa. Aku menjadi abai pada hobi menulis itu.

Sejak kesadaran itu muncul, aku pun memutuskan untuk terus menulis. Di awali menulis apapun yang aku suka. Kemudian muncullah ide-ide menarik selama perjalanan. Dan jadilah sebuah karya. Meskipun masih pemula, aku merasa senang dan bersyukur sudah menghasilkan beberapa karya tulisan pada blogku sendiri.

Hadapi rasa takutmu. Jangan menunggu rasa takut benar-benar hilang, baru kemudian melakukan perubahan. Lakukan saja langkah kecil bersama rasa takut yang kian menghilang. Dari pengalamanku selama ini, kurasa cara itu adalah yang paling baik dilakukan 😉

Advertisements

[Day 9] Si Insecure

Insecure, dulu biasa digunakan untuk menyebut sikap orang-orang yang terlalu pencemburu kepada pasangannya. Meski tidak tahu pasti makna kata itu, aku menduga, sepertinya maknanya adalah rasa khawatir yang berlebihan.

Ternyata dugaanku nyaris benar. Namun, insecure memiliki makna yang lebih luas dari itu. Insecure berarti tidak merasa puas terhadap dirinya sendiri. Ia tidak puas bukan karena dirinya sudah merasa mampu. Melainkan, ia selalu merasa dirinya “kecil” yang tak bisa melakukan apa-apa. Orang lain selalu tampak “besar” bagi dirinya.

Tidak hanya sampai pada diri sendiri saja, seseorang yang memiliki sikap insecure akan berusaha menutupi keaslian dirinya di hadapan orang lain. Ia tidak mau orang lain mengenal dirinya, karena khawatir mereka akan menolak kehadirannya.

Karena si insecure merasa “kecil”, maka, rasa takut akan penolakan orang lain menjadi semakin besar saja. Ia khawatir, apa-apa yang ia punya dan lakukan akan ditolak oleh orang lain. Ia juga selalu merasa “pandangannya” selalu salah. Dan akhirnya si insecure pun memandang rendah dirinya.

Pendeskripsian di atas tentang seseorang yang memiliki sikap insecure adalah hasil pemikiran dan imajinasiku saja. Artikel yang membahas insecure ternyata tidak terlalu banyak. Atau mungkin, aku yang tidak terlalu “rajin” mencarinya, ya hahaha

Saat browsing kata “insecure” pun, yang muncul rata-rata definisinya saja. Meskipun hasil imajinasi dan pemikiran, semoga bisa sedikit menggambarkan. Kalau kamu memiliki penggambaran lain, boleh sekali berbagi ke aku dikolom komentar, ya 🙂

Meskipun bukan termasuk orang-orang yang insecure, dulu, aku pun hampir merasakan sikap itu. Aku tahu bagaimana rasanya cemas dan gelisah ketika terus-menerus “merasa kecil” dibandingkan orang lain.

Rasa itu, membuat aku terlalu fokus melihat kelebihan orang lain. Seperti,“Kok dia hidupnya enak ya, mudah sekali gonta ganti gawai. Aku kalau ingin beli gawai, harus menabung dulu dan tak langsung dibelikan.” Atau, “Kok dia berbakat banget ya, apa aja bisa. Kayaknya, bakatku nggak banyak-banyak banget, deh.”

Pemikiran itu terjadi saat masih pencarian jari diri dan sama sekali belum mengenal diri. Aku terlalu sibuk memikirkan kehidupan orang lain dan tidak peduli akan potensi diri. Dan kehidupan seperti itu sungguh meresahkan. Ketenangan hati pun sulit sekali didapatkan.

Lalu, bagaimana caranya supaya aku tidak lagi “merasa kecil” dan terhindar dari rasa cemas berlebihan? Semua butuh proses. Aku pun melalui proses yang panjang hingga akhirnya berdamai dengan diri sendiri. Pelan-pelan saja 🙂

Dulu, kesadaran yang kali pertama muncul adalah aku memahami bahwa setiap orang memiliki keunikannya tersendiri. Unik dalam hal kelebihan, juga kekurangannya.

Begitu pula unik dalam menyelesaikan masalahnya. Setiap orang memiliki cara tersendiri untuk menyelesaikan masalahnya. Oleh karena itu, aneh rasanya kalau aku masih membanding-bandingkan diri sendiri dan orang lain untuk mencari siapa pemenangnya.

Padahal, setiap orang adalah pejuang dalam medan kehidupannya. Hanya dia yang bisa menjadi pemenang atau bukan dalam kehidupannya. Dan hanya diri sendiri yang bisa menentukan. Ingin menjadi penonton kehidupan orang lain, atau menjadi pemenang yang mampu mengendalikan dirinya.

Ingin menjadi apa kita dalam menjalani kehidupan adalah pilihan. Begitu pula menjadi insecure atau tidak. Kalau aku, tidak senang terus menerus berada dalam ketakutan dan kegelisahan. Karena, rasanya melelahkan.

Yang masih aku yakini sampai saat ini, aku akan tetap melangkah ke depan. Bahkan ketika aku belum tahu apa yang akan terjadi di masa depan. Sebab, aku selalu punya Allah yang selalu mengarahkan dan menguatkan. Dan aku tahu hasil memang bukan tujuan, namun proseslah yang memberikan banyak pelajaran. Bukankah memang begini hakikat kehidupan?

Sejak Awal Kita Memang Berbeda

Kepada kamu. Bila nanti kita bertemu dan hidup di atap yang sama, jangan pernah menyesal telah memilih aku. Sebab, nanti, di atap yang sama, kamu akan benar-benar tahu siapa aku. Sudah siapkah kamu?

Semoga kita selalu mengingat tentang ini. Kita adalah dua orang yang berbeda. Aku perempuan dan kamu laki-laki. Allah yang telah memberikan takdir itu. Kita berasal dari orang tua dan keluarga yang berbeda. Kita tumbuh dan mendewasa pada lingkungan yang berbeda. Kita memang hidup pada kebiasaan yang berbeda. Kita adalah dua manusia yang memiliki karakter yang berbeda. Lantas, bila nanti kita menemukan banyak hal berbeda ketika tinggal bersama, haruskah kita menyesal, berputus asa, dan kemudian memilih menyerah? Semoga hal-hal itu tak pernah muncul di dalam benak kita.

Tahukah kamu? Sungguh, yang kita butuhkan bukanlah menjadi sama, melainkan kemampuan untuk saling memaafkan dan menerima.

Sedari awal, memiliki kemampuan menerima keadaan orang lain memang bukan hal mudah. Aku yakin kita sudah terbiasa menemukan hal yang benar-benar beda. Contohnya saja tentang aku dan adik perempuanku. Usia kami terpaut empat tahun. Saat kecil, masalah kami hanya seputar memperebutkan mainan atau rasa cemburu karena merasa ayah dan mama lebih sayang kepada salah satu kami. Ketika besar, masalah datang dari berbedanya karakter kami.

Aku yang terlalu perhatian selalu merasa terganggu dengan sifat adikku yang super cuek. Adikku yang super cuek selalu merasa terganggu dengan aku yang cerewet karena selalu mengingatkan dirinya. Aku yang tak senang diburu waktu saat mengerjakan tugas selalu terganggu dengan adikku yang senang mengerjakan apapun pada detik-detik terakhir. Pada awalnya semua perbedaan ini tidak menjadi masalah ketika kami berjalan pada jalan masing-masing. Namun ternyata, semua perbedaan menjadi masalah besar ketika kami harus bekerja sama.

Ketika ego memimpin segalanya, tentu saja kami kesulitan mendapatkan kesepakatan. Aku hanya melihat kesalahan-kesalahan yang adikku perbuat. Begitu juga dengan adikku. Kami hanya ingin dimengerti dan dipahami, tanpa introspeksi diri. Kami lupa tentang kesalahan diri sendiri. Pokoknya, kamu yang salah. Aku yang paling benar. Begitu, pikiran kami berkata.

Ketika ego mengendalikan keadaan, saling bungkam dalam waktu panjang bukan sebuah persoalan. Ketika ego menjadi acuan, saling menuntut tanpa mencari penyelesaian selalu menjadi pilihan. Benarkah keadaan seperti ini yang benar-benar kita mimpikan?

Lalu, bagaimana aku dan adikku akhirnya menemukan kesepakatan? Kami membutuhkan waktu untuk saling merenungkan. Merenungkan tentang kesalahan diri yang telah dilakukan. Merenungkan perkataan dan perbuatan diri yang menyakitkan. Setelah perenungan panjang, maka akan timbul kesadaran. Bahwa perbedaan hadir bukan untuk dipersoalkan. Melainkan untuk dipelajari bersama dan dicari jalan terbaik untuk keduanya. Jalan yang membuat kami merasa nyaman tanpa ada yang dikorbankan. Bukankah hal seperti ini yang disebut indahnya kebersamaan?

Aku dan adikku yang telah hidup kurang-lebih 20 tahun bersama terkadang masih sulit saling menerima, lalu, apa kabar dengan kita yang baru saja memulai hidup di atap yang sama? Aku tahu, hubungan adik-kakak dengan hubungan kita adalah dua hal berbeda. Namun, tentang perbedaan karakter dan kebiasaan di antara dua manusia bukankah tetap sama?

Kelak, mungkin aku akan banyak membuatmu bingung. Mungkin, aku akan banyak membuatmu lelah. Mungkin, aku akan banyak membuatmu kecewa. Jika kamu benar-benar tahu siapa aku, sangat mungkin aku akan menorehkan luka.

Namun aku meminta, bagaimana pun keadaanku nanti, jangan pernah berputus asa dan menyerah terhadapku. Sebab, tak ada Surga untukku tanpa ridhomu. Sebab ridho Allah, tergantung pada ridhomu. Maukah kamu memberi hati yang seluas langit untuk memaafkan segala khilafku? Maukah kamu memberi hati yang lapang untuk menerima aku dengan segala kurangku?

‘Terpapar’ dengan Perbuatan Baik

Saya ini selalu kagum dengan orang-orang yang konsisten melakukan perbuatan baik. Saya kagum dengan Ira dan Kak Dhika.

Ira

Pertama kali saya mengagumi perbuatan baik seseorang adalah saat masih kuliah dulu. Saya kagum pada sahabat saya. Namanya Ira. Rumah Ira di Tangerang Selatan (Tangsel). Jarak Depok-Tangsel sebenarnya bisa ditempuh menggunakan motor. Namun, karena perkuliahan dilakukan setiap hari, Ira tidak mungkin setiap hari pulang ke rumah. Kalau dipaksakan, taruhannya adalah kesehatan Ira. Akhirnya, Ira pun ngekos.

Selama kuliah, saya sering main di kosan Ira. Sekadar numpang tidur siang sambil nunggu kelas kuliah selanjutnya atau nugas bareng. Saking seringnya di kosan Ira, saya pun terbiasa dengan kebiasaan Ira. Ira ini anaknya rajin. Rajin datang tepat waktu, rajin merapikan kamar, dan rajin mandi. Karena sering ‘terpapar’ dengan rajinnya Ira, tanpa sadar, saya pun mengikuti kebiasaannya.

Selain rajin, Ira juga dermawan dan perhatian. Ira suka sekali memberi. Saya ingat betul dulu saat sering main ke kosan Ira, ketika saya sedang malas-malasan di kasurnya, Ira sibuk di dapur menyiapkan makanan untuk saya. Tanpa pertanyaan apapun, tiba-tiba Ira datang membawa semangkuk mie rebus, sepiring nasi, dan sepiring naget ayam. Rezeki anak kuliahan, bahagia betul dapat makanan gratisan :’)

Ada cerita lain tentang sikap perhatian Ira ini. Rumah saya dekat dengan kampus. Saya membutuhkan waktu sepuluh menit saja untuk sampai di rumah. Karena begitu dekat, Ira pun sering main ke rumah. Ira tahu kalau saya memiliki adik-adik kecil. Maka, tiap kali ke rumah, Ira selalu membawa dua kotak yakult. Katanya,”Ini untuk adik-adikmu!” Hati mana yang tidak tersentuh jika selalu ‘terpapar’ perbuatan-perbuatan baikmu, Ra? :’)

Berteman dengan Ira, membuat saya memahami alasan mengapa kita perlu dekat-dekat dengan orang dan lingkungan yang baik. Ternyata, dekat-dekat dengan hal baik akan membuat kita ‘tertular’ dengan banyak kebaikan.

Kali pertama melihat kebaikan Ira, memang tidak secara langsung membuat saya berubah saat itu juga. Kali pertama merasakan kebaikan Ira, juga tidak secara langsung membuat saya ingin melakukan hal itu juga. Yang saya pahami saat itu, saya sadar Ira adalah teman yang baik. Dan saya senang diperlakukan seperti itu. Sesederhana itu pikiran saya.

Kamu tahu? Ternyata ‘terpapar’ dengan kebaikan akan membuat alam bawah sadar kita ‘merekam’ semua itu dalam pikiran. Akhirnya, secara perlahan kita pun akan melakukan hal yang sama dalam keseharian. Mungkin, pada awalnya semua dilakukan untuk membalas kebaikan teman. Tak tahunya lama-lama menjadi kebiasaan.

Kak Dhika

Kali ini, saya kagum pada Kak Dhika. Kak Dhika adalah rekan kerja saya. Kali pertama berjumpa, si kakak langsung memberikan hadiah kepada saya. Saat itu, Poli Rehabilitasi Medik (Rehab Medik) akan membuat seragam baru. Maka, kami pun membeli jilbab baru. Jilbab yang harus dibeli ada tiga buah. Kebetulan yang bertugas mengumpulkan uang adalah Kak Dhika. Ketika ingin membayar, Kak Dhika bilang seperti ini,“Kamu bayar dua jilbab aja. Satu jilbab hadiah dari saya untuk kamu.” Mendengar perkataan Kak Dhika tentu saja saya bingung. Orang yang baru dikenal belum genap dua bulan, langsung memberikan hadiah sebagai tanpa pertemanan. Hati siapa yang tidak terharu bila diperlakukan baik seperti itu. Siapapun kurasa hatinya akan ‘meleleh‘.

Masih tentang Kak Dhika. Sore itu ada seorang perempuan datang ke Poli Rehab Medik membawa sekotak brownis. Langsung saja saya tanyakan Kak Dhika tentang brownis itu,“Kak, itu siapa? Kok tiba-tiba bawa brownis?”, Kak Dhika menjawab,“Dia bagian pendaftaran pasien BPJS. Kemarin, aku minta tolong sama dia cariin berkas berobat bapakku. Karena dia udah baik banget mau bantu, aku kasih aja sekotak yakult. Eh barusan dia malah bawain aku brownis. Kan yang minta tolong aku, kenapa dia bawain brownis ckck.” Kebaikan memang menular, ya. Dan saling menebar kebaikan itu indah.

Ada lagi cerita lain. Aku dan Kak Dhika sedang membahas tentang arisan. Ternyata, Kak Dhika memiliki kebiasaan unik. Ia selalu memberikan buah tangan kepada si pemegang uang arisan tiap kali mendapat arisan. Kata Kak Dhika, si pemegang arisan itu harus kita hargai kebaikannya. Ia sudah berbaik hati menjaga uang arisan dan mengurus urusan arisan. Tanpa dia, mungkin arisan ini tidak akan berjalan dengan baik. Mendengar pandangan Kak Dhika, menambah pandangan baru untuk saya. Kebiasaan unik Kak Dhika sangat bagus dicontoh. Jujur saja, ini adalah kali pertama saya mendengar pandangan seperti itu. Kak Dhika memang baik hati :’)

***

Ira dan Kak Dhika menunjukkan bahwa kebaikan hati bisa dirasakan dari hangatnya seseorang memperlakukan orang lain.

Ira dan Kak Dhika senang memerhatikan orang lain. Sehingga mereka tahu apa yang orang lain butuhkan.

Ira tahu bagaimana memperlakukan teman dengan baik di kosannya, maka ia menjamu saya dengan baik. Ira juga tahu bagaimana cara menyenangkan hati anak kecil, maka ia memberikan yakult untuk adik-adik saya.

Kak Dhika tahu bagaimana membuat nyaman anggota baru, maka ia memberikan hadiah saat saya menjadi pegawai baru.

Kak Dhika juga tahu bagaimana menghargai kebaikan orang lain, maka ia memberikan sekotak yakult kepada mbak pendaftaran BPJS sebagai tanda terima kasih.

Hingga kini saya masih kagum dengan mereka. Semoga rasa kagum ini juga diiringi dengan usaha-usaha melakukan kebaikan yang sama. Terima kasih, Ira dan Kak Dhika. Terima kasih telah menunjukkan banyak kebaikan secara nyata. Semoga Allah senantiasa melimpahkan banyak kebaikan kepada kalian dan keluarga. Aamiin 🙂

Semua Karena Gengsi

Jika kamu menyangka mengungkapkan perasaan akan membuat harga dirimu jatuh, hey, sepertinya kamu keliru. Apa yang akan terjadi pada hatimu, bila jujur pada diri sendiri saja kamu tak mampu?

Menurutku, jujur pada diri sendiri adalah ketika kita mampu mengungkapkan perasaan. Apapun perasaan itu, sedih maupun bahagia. Tanpa dipengaruhi oleh pandangan dan sikap orang lain terhadap diri ini. Sebab kita tahu, yang paling penting adalah ketenangan hati. Bukan ‘apa kata orang lain’ tentang kita. Bukan ‘sikap orang lain’ terhadap kita.

Baru saja aku membuka aplikasi KBBI di gawaiku. Aku menulis kata ‘gengsi’ di sana. Kamu tahu apa definisinya? Di sana tertulis bahwa gengsi adalah terlalu membanggakan ketinggiannya, kehormatan, harga diri, dan martabat. Setelah membaca definisi itu aku pun mengernyitkan dahi. Aku bingung. Bagaimana bisa seseorang menggadaikan kedamaian hatinya hanya untuk menjujunjung tinggi semua itu? Hatinya pasti sesak tiap kali menahan perasaannya.

Banyak sekali pepatah yang mengatakan bahwa jangan pernah bermimpi ‘mengerti’ orang lain sebelum kita mengerti diri sendiri. Dan jangan pernah bermimpi ‘mencintai’ orang lain sebelum kita mencintai diri sendiri. Lalu, apa hubungannya dengan si gengsi ini? Ada hubungannya. Bila kita terus menerus menahan diri untuk tidak jujur terhadap perasaan sendiri, bagaimana mungkin kita mampu mengerti dan memahami kejujuran perasaan orang lain?

Jujur pada diri sendiri memang seringkali menjadi ‘sasaran empuk’ orang-orang yang tidak berperasaan. Mereka menggunakan kejujuran kita untuk keuntungannya sendiri. Jujur pada perasaan sendiri juga seringkali menghadirkan banyak rasa kecewa. Rasa kecewa yang disebabkan oleh ‘reaksi’ yang diberikan orang lain terhadap aksi jujur kita. Reaksi yang menyakitkan hati. Meskipun begitu, ketenangan hati tetaplah utama. Yang menentukan bahagia atau tidak diri kita bukanlah akhir yang baik-baik saja. Melainkan, hati yang berbahagia. Hati kita berhak berbahagia, kan? Kita tidak akan bisa hidup dengan hati yang sesak selamanya.

Dalam hidup, hukum aksi-reaksi pastilah ada. Aksi yang baik tak melulu memberikan reaksi yang baik. Aksi yang buruk juga tidak melulu memberikan reaksi yang buruk. Hasil akhirnya pun tak ada yang tahu. Entah membuat hati luka atau berbunga. Semua kejadian memang hak prerogatif Allah. Maka, dalam bersikap pun kita seharusnya paham tentang itu.

Jujur pada perasaan memang tidak selalu memberikan hasil yang baik. Namun, satu hal yang pasti, jujur pada perasaan akan menyelamatkan diri sendiri. Menyelamatkan diri dari ketidaktenangan hati.

Kebaikan di Pagi Hari

Pagiku menyebalkan. Aku terlambat bangun dan sudah bisa dipastikan aku pun akan terlambat sampai di tempat kerja. Hujan sedari malam tak juga reda. Meskipun masih mendung, waktu menunjukan bahwa hari sudah semakin siang. Maka, tak ada pilihan lain. Aku harus tetap berangkat menerjang hujan. Baju ganti tetap harus kukenakan. Sebab, jas hujan milikku tidak sepenuhnya menahan air hujan.

Di perjalanan, aku teringat, rupanya kemarin siang aku tak sempat memenuhkan tangki bensin motor. Kulirik cepat pada spidometer, di sana terlihat panah penanda sudah menunjuk ke tanda merah. Yang artinya, motor akan mogok bila tangki tidak segera diisi bensin. Menyadari betapa kurang persiapan dan tidak disiplinnya diriku, aku menyesal. Namun hanya bisa menghembuskan napas saja. Kuurungkan niat untuk mengeluh. Pagi tadi, tak ada pilihan lain. Aku harus bertanggung jawab dengan cara menjalaninya dengan ikhlas.

Tikungan di jalan Perumahan Korps Brimob memang pusat kemacetan. Jalan yang memiliki lebar tak lebih dari empat meter itu selalu dipenuhi kendaraan. Apalagi bila ada perbaikan jalan atau kejadian tidak terduga. Seperti pagi ini. Keinginanku untuk mengebut hanya mimpi belaka. Motorku tidak dapat bergerak maju. Seluruh pengendara saling melempar tatapan kebingungan. Rintik hujan semakin membasahi jas hujanku, tetapi sedikit pun roda motorku tidak bergerak maju. Jam tanganku sudah menunjukkan pukul tujuh kurang sepuluh menit. Aku masuk kerja pukul tujuh. Sepuluh menit tak akan cukup untuk sampai di tempat kerja. Aku segera sadar, terlambat sampai tempat kerja adalah sebuah kepastian :’)

Antrean kendaraan perlahan bergerak. Motorku bergerak maju. Akhirnya, aku dapat melihat si penyebab kemacetan pagi ini. Di sisi kanan terlihat sebuah mobil terjebak dan tak bisa bergerak. Bannya terperosok ke dalam tanah yang posisinya lebih rendah dari jalan beraspal. Mobil akhirnya tak bisa maju ataupun mundur. Aku tidak tahu sejak kapan mobil itu terjebak. Aku juga tidak tahu sejak kapan kemacetan ini terjadi. Yang aku tahu, motorku tidak bergerak selama 10 menit. Aku mengatakan dalam hati,“Lengkap sudah. Pagiku semakin menyebalkan saja heu.”

Di dalam mobil yang terjebak, pengemudi sendirian. Tak ada kawan yang bisa membantu mendorong mobil. Pengendara lain juga tak ada yang membantu. Bahkan beberapa saling menekan tombol klakson sebagai tanda mereka tak sabar menunggu. Aku menduga, alasan mengapa orang-orang tidak langsung membantu mungkin karena kondisi saat itu sedang turun hujan. Hujan membuat semua orang sibuk dengan urusannya. Aku pun sama seperti mereka, sedang sibuk dengan pikiranku sendiri. Aku sedang mengkhawatirkan nasibku yang tak akan mampu sampai tempat kerja tepat waktu. Namun yang membuat berbeda, aku masih bisa menahan diri untuk tidak menekan tombol klakson.

Beberapa menit kemudian, seorang laki-laki menghentikan motornya tepat di depan mobil yang terjebak. Meskipun hanya seorang diri, ia tak ragu. Ia segera memberi aba-aba kepada pemilik mobil dan mendorong sekuat tenaga mobil tersebut ke arah belakang. Tak berselang lama, satu orang laki-laki kembali menghentikan motornya. Kali ini, ia bertugas memberi aba-aba dari arah belakang mobil untuk memberi tahu kondisi tanah dan jalan beraspal.

Pemandangan itu membuat rasa cemasku berubah seketika. Aku tak lagi sibuk dengan diriku sendiri. Aku tak lagi memikirkan bagaimana cara cepat tiba di tempat kerja. Aku memandang mereka cukup lama. Aku seakan tersihir dengan mereka yang saling membantu. Siapa pun yang melihat, pasti tahu pekerjaan mereka bukan hal yang mudah. Namun, hal itu tidak mengurungkan niat mereka untuk membantu. Dua orang laki-laki itu tentu saja memiliki kegiatan yang harus dikerjakan atau tempat yang harus didatangi. Sama seperti aku dan pengendara lainnya. Tetapi, sikap tolong menolong yang ada di diri mereka lebih tinggi dibanding urusan duniawi. Luar biasa, ya.

Iya, memang benar pagiku menyebalkan. Aku yang tidak disiplin membuat awal hariku menjadi tidak menyenangkan. Terlambat bangun pagi, perjalanan menerjang hujan, dan mengalami kemacetan cukup membuatku kelelahan. Namun, benar adanya bahwa kebaikan itu menular. Suasana hatiku yang tidak baik, berubah menjadi lebih baik karena mengamati kebaikan dua laki-laki itu. Betapa mulia hati mereka. Keadaan sulit tidak membuat hati mereka sempit. Mereka memahami betul bahwa keegoisan adalah tak ada guna. Sebab, tak ada yang lebih penting dibanding menjadi bermanfaat untuk sesama.

Aktivitas yang Berarti

Dia yang sedang memandang langit berbintang sendirian, mampu membuat hatinya yang dirundung duka menjadi lebih tenang. Karena, ketika memandang langit berbintang, dia mengingat kuasa-Nya. Membuat langit yang indah saja Allah bisa. Apalagi masalah dirinya?

Orang lain yang tidak mengerti, mungkin merasa aneh mengapa dia menatap langit begitu lama. Bagi orang lain, menatap langit tidak memiliki makna apa-apa. Namun, bagi dia, menatap langit begitu bermakna.

***

Menelusuri jalan setapak tanpa mengamati sekitar, tidak akan memberi makna apa-apa. Sebab, yang kita tahu, kita hanya berjalan kaki biasa saja. Jalan kaki yang dapat membuat kaki pegal dan badan lelah.

Sekali-kali, coba niatkan, kita berjalan kaki tidak hanya untuk menuju tempat yang dituju. Cobalah berjalan kaki tanpa buru-buru. Cobalah berjalan kaki untuk mengamati. Sayang sekali bila kita melewatkan momen berjalan kaki begitu saja. Padahal, ada banyak hal bisa kita amati dan pelajari.

Aku melihat dua perempuan sedang duduk di pinggir danau. Aku perkirakan, usianya sekitar 19-20 tahun. Mereka sedang bercengkrama dan tertawa sambil menatap kamera gawai. Kameranya memang sengaja di pasang tepat di depan mereka. Aku tidak tahu pasti untuk apa mereka melakukannya. Namun, kutahu mereka benar-benar menikmati siang tadi. Aktivitas sederhana yang mudah dilakukan di mana saja, ternyata mampu membuat keduanya begitu bahagia.

Aku melihat laki-laki dan perempuan sedang duduk sambil bercerita. Mereka memakan es krim yang sedari tadi sudah siap ditangannya. Sesekali saling menatap dan kemudian menunduk malu. Aku tak tahu mereka sepasang kekasih atau bukan. Yang kutahu, mereka adalah dua manusia yang sedang jatuh cinta. Mungkinkah aku sok tahu? Ah sepertinya tidak. Bukankah dua tatap mata saling cinta akan terlihat meski tidak diungkapkan lewat kata?

Aku melihat seorang perempuan sedang duduk sambil memegang nasi bungkus di tangan kirinya. Ia menatap danau sambil menyuap sesendok nasi dan mengunyah dengan perlahan. Aku tersenyum melihatnya. Danau dan situasi yang tenang kurasa teman yang tepat untuk mengisi perut lapar.

Aku duduk di samping rerumputan sambil mengamati sekitar. Dan ditemani beberapa potong buah nanas yang sengaja kubeli di jalan tadi. Memakan buah di siang yang terik ini ternyata membahagiakan. Entah apa yang orang lain pikirkan tentangku, biar saja. Kupikir, setiap orang bebas melihat, memikirkan, dan mengira apa yang orang lain lakukan.

Di sini, kami tidak saling mengenal. Kami juga tidak tahu apa yang orang lain pikirkan. Kami hanya dapat saling mengamati dan menerka. Kemudian menyadari, ternyata setiap orang selalu memiliki cara tertentu untuk menggunakan dan menikmati waktu.

***

Setiap kita, bebas menggunakan waktu 24 jam setiap hari. Semoga 24 jam itu bisa kita gunakan dengan sebaik-baiknya.

Setiap orang juga bebas memilih aktivitas apa yang paling cocok dengan dirinya. Maka, nikmati dan syukuri waktu kita. Lalu, hargai waktu orang lain.

Biarlah setiap manusia menikmati dan berbahagia dengan aktivitas yang paling disukai. Contohnya, seperti dia yang senang menatap langit pada kalimat pembuka tulisan ini. Bukankah setiap orang memiliki aktivitas yang berarti?

Semangat yang Menular

Usianya baru kepala tiga. Muslimah yang manis dan ceria. Saya biasa memanggilnya dengan sebutan mbak. Saya sebenarnya sudah beberapa kali melihat ia menunggu diantara para pasien. Namun, saya belum memiliki kesempatan bertemu langsung dengannya.

Sore itu, teman saya yang biasa melatih mbak sudah pulang. Jadi, saya yang menggantikan teman saya itu untuk melatih si mbak.

Mbak datang dengan kursi roda. Melihat rekam mediknya, saya sudah tahu mbak mengalami kelumpuhan pada kedua tungkai. Namun, mimik wajah mbak tidak menunjukkan kesedihan. Ia tampak sangat siap melakukan latihan.

Saya berkesempatan melatih mbak sebanyak dua kali. Pertemuan pertama, mbak ditemani oleh suami dan anaknya yang berusia dua tahun. Pertemuan kedua, mbak ditemani oleh orang tua dan dua anaknya yang lucu-lucu (mbak ini memiliki dua anak. Anak pertamanya, perempuan berusia dua tahun dan anak keduanya, laki-laki berusia delapan bulan). Mbak dan keluarga tampak ceria dan tabah. Terlepas benar-benar ceria atau tidak, saat itu saya tahu, mbak dan keluarga berusaha ikhlas menerima. Semua terlihat dari sikap yang mereka tunjukkan selama sesi latihan.

Dari hasil ngobrol dengan mbak, akhir tahun lalu ditemukan tumor pada tulang belakangnya. Tidak ada kejadian kecelakaan sebelumnya. Tidak ada juga gejala mengerikan yang ia rasakan. Ia hanya merasa pegal pada pinggang selama satu tahun kemarin. Dan, akhir tahun, sebelum operasi pembuangan tumor, mbak sudah mengalami kelemahan pada kedua tungkai. Setelah operasi menunjukkan tanda-tanda penurunan fungsi otot tungkai. Yang sebelumnya hanya terasa lemah, namun setelah melakukan operasi, kedua tungkai tidak dapat digerakkan.

Dua minggu awal setelah operasi, mbak mengatakan tungkainya benar-benar lumpuh. Ia juga tidak merasa ketika ingin buang air kecil (bak) dan buang air besar (bab). Namun, setelah minggu ketiga setelah operasi, tanda-tanda peningkatan sudah dapat terlihat oleh mata. Mbak sudah mulai merasa bila ingin bab dan bak. Apalagi setelah melakukan latihan bersama fisioterapi dan melakukan latihan di rumah, perlahan mbak sudah bisa menggerakkan tungkainya.

Selama bekerja di sini, ini adalah kali pertama saya melihat pasien yang begitu bersemangat. Padahal saya tahu betul mbak merasa sangat kesulitan. Meskipun tidak mengatakan melalui kata, mimik wajah kelelahan dan peluh keringat menunjukkan keadaan mbak yang sebenarnya. Padahal, saat itu pendingin ruangan cukup membuat kita kedinginan. Maka, saya mengingatkan mbak untuk beristirahat. Dan sesekali juga mengajak mbak bercanda. Alhamdulillah, si mbak sangat ceria. Sepanjang latihan mbak tersenyum dan tertawa.

Yang membuat mbak ini istimewa, ketika kesulitan melakukan gerakan ia tidak mengeluh. Ia malah tertawa dan berkata,“Duh, ini kok bandel sih nggak mau bergerak! Hahaha.” Atau ketika berhasil melakukan gerakan yang cukup sulit ia memuji tungkainya dengan cara lucu,“Nah, dia memang sering pintar mbak. Apalagi kalau aku bangun tidur terus ngulet. Dia bisa langsung nekuk sendiri gitu mbak hehehe.” (Kata ‘dia’ digunakan untuk menyebut kedua tungkainya).

Melihat sikap mbak, saya menjadi diingatkan, memang benar adanya kejadian apapun tergantung cara pandang kita. Si mbak pasti sedih dengan kondisinya. Di saat buah hati masih kecil dan sangat butuh bantuan, ia tidak bisa membantu. Di saat para ibu muda sedang menikmati momen mendidik si kecil untuk kali pertama, mbak diuji dengan keterbatasannya. Di saat para ibu muda menikmati momen mengurus buah hati, mbak tidak bisa melakukannya sendiri. Namun, keterbatasan tidak membuat mbak terkungkung dalam kesedihan. Mbak mampu mengendalikan dirinya dengan sangat baik.

“Aku baru tahu bisa angkat kaki setinggi ini lho mbak barusan. Ternyata aku bisa, ya. Aku juga baru tahu jari-jari kakiku bisa ditekuk dan dibuka seperti tadi. Tiga minggu lalu, kakinya diem aja mbak. Ternyata, kalau kita lakukan gerakan berulang kali, si kaki jadi terbiasa ya, mbak. Aku memang sering latihan juga di rumah setiap pagi sambil tiduran. Capek sih memang. Kalau kecapean, kakiku jadi tremor gitu. Tapi, setelahnya, jadi ada gerakan baru yang aku bisa lakuin :D.” Mbak bercerita dengan wajah riang di akhir sesi latihan. Mendengar ia bercerita, hati saya pun terharu dan dipenuhi bunga-bunga. Pelatih mana yang tidak bahagia, bila yang dilatih begitu bersemangat seperti si mbak? :’)

Sesi latihan selesai. Tiga puluh menit yang penuh dengan harapan dan perjuangan. Mbak pindah dari tempat tidur ke kursi roda secara mandiri. Saya hanya membantu mengawasi. Keluarga mendekat dan segera mendampingi. Hangat sekali. Mereka pun pulang. Tanpa sadar tercipta lengkung di pipi. Iya, saya tersenyum melihat kehangatan keluarga mbak di ruangan ini.

Sore itu, saya pun kembali bekerja dengan semangat yang penuh terisi. Kalimat ‘kebaikan itu menular’ ternyata tidak sekadar kalimat semata. Semangat mbak benar-benar menular kepada saya di sini.

Dan kembali mendapat pelajaran,

Bersabar dalam ketaatan adalah keharusan. Mereka memang tidak berkata apa-apa. Namun mata selalu jujur apa adanya, kan? Mata mbak dan keluarga menunjukkan keikhlasan dan penerimaan. Ada keyakinan pada Allah di sana. Keyakinan bahwa ketentuan Allah pasti baik. Bahkan untuk ujian yang begitu menyedihkan.

Mensyukuri apa-apa yang ada pada diri adalah kewajiban. Karena ternyata kesulitan yang kita miliki tak pernah sebanding dengan kemudahan yang sudah dirasakan. Ada begitu banyak nikmat yang kita dapatkan, namun terlupa kalimat syukur untuk kita ucapkan.

Mereka memilih untuk terus maju dan tersenyum. Mereka tahu, hanya dengan cara itu kehidupan lebih mudah dijalani.

Teman Diskusi

“Mbak, menurutmu cara paling ampuh untuk move on gimana?” tanya adikku.

“Nggak tau. Lagi nggak minat kasih pendapat tentang percintaan.” jawabku singkat.

“Wkwkwkwk, jawaban macam apa itu. Yaudah, lupain.” adikku tertawa terbahak-bahak.

Sebelum pertanyaan itu ditanyakan oleh adikku, ia bercerita tentang kawannya. Betapa ia bingung karena kawannya mudah sekali berganti pacar setelah putus cinta. Katanya, ia tahu kisah itu karena semua terlihat dalam sosial media. Aku tidak menanggapi serius pertanyaannya. Tidak seperti biasanya, siang tadi aku tidak berminat berdiskusi panjang tentang topik itu. Entahlah, aku kehilangan minat saja tiba-tiba hahaha

Aku dan adikku memiliki kebiasaan unik. Menurutku sih unik, entah menurut kalian. Kami sering berdiskusi tentang hal-hal yang membingungkan. Tentang hal-hal yang sulit diterima oleh pikiran. Misalnya saja tentang seseorang yang senang mentertawakan kekurangan orang lain, namun selalu bersedih bila orang lain membahas tentang kekurangannya.

“Menurutmu atas dasar apa dia memiliki pikiran seperti itu? Aku nggak paham. Menurut logika, kalau dia tahu bagaimana sedihnya diperlakukan seperti itu, seharusnya sih nggak melakukan hal yang sama kan?” kataku.

“Aneh sih. Aku juga bingung. Dia malah ketawa ya kalau melihat orang yang tampak buruk atau tampak kurang.” jawab adikku.

“Aku masih nggak ngerti dan sulit untuk ngerti sih.” sambungku.

“Tanpa punya maksud khusus, mungkin dia hanya senang saja melakukan itu, mbak.” jawabnya singkat.

“Mungkin ia mendapat salah pengasuhan. Dan ia memiliki luka masa kecil yang belum sembuh. Makanya dia bersikap seperti itu. Kita doakan saja semoga hatinya digerakkan sama Allah, ya.”

Selalu seperti itu. Kalau tidak menemukan kesepakatan, kesimpulan, dan solusi kami selalu menyerahkan saja semuanya sama Allah :’)

Atau tentang rahasia Allah yang tidak pernah bisa ditebak oleh manusia.

“Mbak, menurut pengamatan manusia mah hasil akhir udah bisa ditebak. Semua fakta menunjukkan hasil akhir yang bahagia. Namun, kalau Allah berkata lain, manusia bisa apa?” kata adikku.

“Iya, aku tahu. Kalau kita kasih kuesioner ke banyak orang, jawaban mereka pasti sama kaya kita haha “ kataku.

“Kejadian seperti ini semakin membuat kita sadar ya, mbak. Takdir aja bisa berubah sesuai kehendak-Nya. Apalagi hati manusia?” lagi-lagi ia memberi tanggapan dengan pertanyaan.

“Iya, benar kamu. Intinya, bagaimana pun kenyataan begitu terlihat nyata, kita nggak boleh terhanyut dan terlalu yakin. Sebab, bagaimana nasib kita beberapa detik atau menit ke depan aja kita nggak tau. Semua menjadi rahasia Allah.” aku menambahkan.

“Meskipun begitu, kita nggak boleh hilang percaya dan penuh curiga mbak. Nggak boleh juga terlalu hati-hati hingga kita lupa jadi diri sendiri. Apalagi sampai nggak peka tentang kebaikan orang lain” kata adikku.

“Iya, aku tahu. Seperti yang selama ini kita yakini, jalani sebaik mungkin, lalu serahkan semua hasilnya sama Allah. Allah pasti kasih yang terbaik. Nggak mungkin Allah menjerumuskan hamba-Nya ke jurang kesengsaraan kan?” jawabku.

“Iya, mbak nggak mungkin. Kalau kita nggak merasakan kebaikan takdir Allah, itu karena keterbatasan kita aja, mbak.”

“Iya, setuju banget. Keterbatasan kita yang belum mengerti dan memahami takdir baik Allah.”

***

Allah Maha Tahu kebutuhan hamba-Nya. Apa jadinya aku tanpa adikku. Mungkin segala kebingungan hanya akan mengendap dalam pikiran. Mungkin segala keraguan tak akan pernah berubah menjadi keyakinan. Mungkin segala kegembiraan tak pernah melimpah rasa bahagianya. Mungkin segala kesedihan tak akan meluruh rasa sedihnya.

Terima kasih adikku telah menjadi teman diskusiku 🙂

Tiga Buah Nasihat

Nasihat tentang Memilih Calon Suami

“Kamu kalau memilih calon suami harus dapat rida orang tua, ya. Kalau orang tuamu tidak setuju, kamu harus nurut. Tinggalkan dia, pilih yang lain. Meskipun pada akhirnya kamu berhasil membujuk orang tuamu dan mereka menyetujui pernikahanmu, tetap saja tentang hati tidak ada yang tahu. Sangat mungkin, hati orang tuamu belum ikhlas menerima calonmu itu.” Ibu Siti memberi nasihat dengan kalimat yang menenangkan.

“Orang tua itu, punya insting Shin tentang memilih menantu. Mereka tahu laki-laki yang kamu bawa itu baik atau tidak untuk putrinya. Kamu jangan keras kepala, ya. Mereka itu sudah melewati banyak asam manis kehidupan. Jadi, mereka akan tahu bagaimana karakter si calon menantu bahkan dari kali pertama bertemu.” Ibu Siti melanjutkan nasihatnya.

Aku tidak memberikan tanggapan. Aku hanya menyimak saja.

“Rida Allah itu rida orang tua, kan? Maka, rida tersebut menentukan sekali bagaimana kehidupan rumah tanggamu nanti. Nurut aja ya sama orang tuamu. Percayalah, mereka tidak akan menyesatkanmu. Mereka selalu ingin Allah memberkahi kehidupan rumah tanggamu.”

Nasihat tentang Menghabiskan Ego

“Puas-puasin masa mudamu, Shin. Lakukan semua kegiatan positif yang kamu ingin sebelum menikah. Mau jalan-jalan, silakan. Mau beli buku yang banyak, silakan. Mau beli barang ini itu, silakan. Mau kulineran, silakan. Kamu tahu mengapa harus melakukan itu? Jika sudah berumah tangga nanti, tidak ada tentang kamu saja. Tidak ada tentang suamimu saja. Yang ada adalah tentang keluarga. Bagaimana meraih kebahagiaan keluarga di dunia dan akhirat. Intinya, kamu harus mendahulukan kepentingan keluarga dibandingkan kepentingan dirimu sendiri.” Ibu Siti berbicara sambil menatapku hangat.

Nasihat tentang Anak

“Kamu tahu? Tiap kali mengantar si mas ke pesantren, aku selalu menangis setiap perjalanan pulang. Aku selalu menahan diri untuk tidak menangis di depan si sulung. Jangan sampai mas melihat ibunya pergi dalam keadaan sedih. Setiap ibu tak akan tega membiarkan anak tinggal jauh dari rumah, Shin. Tapi, bila aku selalu berpikir seperti itu, artinya aku hanya memikirkan kebutuhanku sendiri. Iya benar aku egois, aku butuh anakku di dekatku selalu.” kali ini berbeda. Ibu Siti bercerita sambil menahan kesedihan. Aku tahu ia rindu si anak sulungnya yang saat itu sedang di pesantren.

“Si mas butuh belajar di Pesantren, Shin. Mas itu laki-laki. Kelak ia akan memimpin istri dan anak-anaknya. Ilmu agama selalu utama, Shin. Dengan ilmu itu, mas akan mencintai Allah. Bila ia mencintai Allah, ia akan menjaga perilakunya agar tetap dicintai Allah. Bekal itu penting untuk calon imam, Shin. Berbeda dengan anakku yang perempuan. Aku tidak akan mewajibkan dia belajar di pesantren. Biarlah ia di rumah saja. Biar aku sendiri yang mengajarkan ia belajar agama dan belajar memasak.” lanjutnya.

Aku terharu sekaligus bahagia mendengar nasihat Ibu Siti. Semoga ibu selalu dikuatkan dan dimudahkan Allah dalam mendidik anak-anaknya, aku berdoa dalam hati.

“Setelah belajar di Pesantren, Si Sulung mengajarkan aku banyak hal, Shin. Aku pernah menawarkan baju baru untuk lebaran kepadanya. Kamu tahu jawaban apa yang ia berikan? Ia mengatakan, tak perlu. Baju yang ia miliki saat ini masih sangat layak untuk dipakai. Ia belum membutuhkan baju baru. Ia bilang, hidup sederhana itu menenangkan hatinya. Anak kelas satu SMP mengatakan hal seperti itu kepadaku, Shin. Bagaimana mungkin aku tidak malu sekaligus terharu?” Ibu Siti berbagi pengalaman kepadaku. Ada ketenangan terlihat dari sorot mata. Melihatnya, aku pun turut merasa tenang.

***

Ibu Siti memberikan nasihat yang begitu menenangkan. Ibu selalu mampu menyampaikan nasihat dengan cara menyenangkan. Ibu tidak pernah merasa paling tahu. Ibu juga tidak memaksa orang lain agar setuju dengan apa yang diyakini. Ibu Siti berbagi pengalaman dengan tulus. Ketulusannya mampu menyentuh hatiku. Jika hati sudah tersentuh, semua hal menjadi mudah dilakukan, kan? 🙂 Semoga aku bisa menjalankan peran dengan baik seperti ibu. Terima kasih sudah berbagi, Ibu Siti ♡