Rumpi Mami #KitaTemenanPlis

The friend zone is a situation in which one member of a friendship wishes to enter into a romantic or sexual relationship, while the other does not. kata wikipedia, begitu.

Friendzone terjadi ketika apa yang lo berikan jauh dari apa yang lo minta.” kata Bu Ninda dan Bu Saskhya.

Kita Temenan Plis

Kemarin, aku dengerin podcast rumpi mami yang topiknya ngebahas tentang friendzone. Dua mami ini berbagi cerita gitu tentang pengalaman mereka nge-friendzone-in orang. Mereka berbagi alasan-alasan mengapa melakukan itu. Di akhir cerita, mereka mengaku menyesal. Lalu, si dua mami berbagi deh tips and trick supaya tidak menjadi korban friendzone.

Selama dengerin podcast itu, sebenarnya aku kesel banget hahahaha aku ingin berteriak begini,

“Tega banget sih!!”

Pasalnya, aku adalah orang yang menentang keras isu friendzone ini. Aku tidak berminat melakukan itu dan tidak paham dengan pola pikir para pelaku friendzone.

Menurut si dua mami, korban friendzone kebanyakan adalah laki-laki. Menurut riset yang mereka lakukan, ternyata ada dua penyebab utama mengapa perempuan melakukan itu.

Pertama, dia tidak sadar bahwa perbuatannya adalah tidak baik. Mereka ngerasanya biasa aja memberikan perhatian seperti itu. Mereka merasa biasa aja meminta tolong ke cowok. Padahal, menurut si cowok, dua perbuatan itu adalah memberi harapan.

Kedua, dia sadar tetapi menolak untuk sadar. Pura-pura aja, gitu. Menurut mereka, meskipun tidak suka, rasanya sulit melepas si cowok. Seperti ada rasa takut kalau si cowok pergi. Mereka cemas, kalau nantinya tidak ada lagi cowok yang siap sedia menemaninya ke mana saja. Mereka takut, kalau nanti tidak ada lagi tempat cerita dan bersandar. Egois ya! Hahaha duh, kesal *robek-robek kertas* 😂

Terus, gimana dong supaya tidak jadi korban friendzone? Jawaban para mami cuma dua yakni, beranilah membuat keputusan dan menghadapi kenyataan. Si cowok harus berani menyatakan perasaan. Si cowok juga harus berani mendengar jawaban si cewek.

Kalau si cewek juga memiliki rasa untuk dia, ya akan langsung jadi dan menikah, kan. Kalau si cewek tidak memiliki rasa yang sama, ya siap-siap aja temenan atau musuhan hahaha

Kata si dua mami, intinya, si cowok harus menentukan sikap. Jangan berada pada situasi tidak jelas yang membingungkan. Karena, hasilnya nanti si cowok hanya berada pada situasi friendzone saja.

Setiap Manusia Punya Perasaan

Aku tidak memposisikan orang lain pada situasi friendzone karena aku pun tidak mau berada diposisi itu. Aku akan bilang tidak, kalau memang aku tidak mau. Dan aku akan bilang iya, bila aku mau. Seseserhana itu saja sih.

Bagi sebagian orang, perbuatanku memang ekstrem. Kata mereka, aku seperti tidak memberikan kesempatan. Padahal maksudku bukan seperti itu. Aku ini tipikal orang yang to the point dan jujur pada perasaan. Dan tidak suka terhadap kepura-puraan.

Aku juga paham betul bahwa manusia sulit mengontrol perasaan. Apalagi bila diberikan kesempatan dan ruang. Bisa jadi, rasa suka yang awalnya kecil berubah menjadi besar.

Nah, kalau sudah begini bagaimana coba? Menghentikan rasa yang sudah berkembang itu susah, Gaes. Saranku, janganlah kita memulai bila dari awal sudah tahu tidak ada rasa “klik” di sana. Apalagi bila dari awal dirinya tidak membuat hati kita berdebar. Hehe

Aku percaya, manusia pasti mengenal hatinya dengan baik. Ia tahu kapan dan kepada hati siapa hatinya berlabuh. Jadi, jangan coba-coba kalau memang sedari awal sudah tahu tidak ada ketertarikan pada dia. Sebab, taruhannya adalah luka.

Luka hati itu rumit. Proses penyembuhannya bermacam-macam. Perjuangannya juga tidak gampang. Apalagi menumbuhkan kembali rasa percaya yang pernah hilang. Wah, sulit. Mereka yang sudah sepenuhnya sembuh pun, kelak, akan lebih hati-hati lagi di masa depan.

Gimana? Masih kepikiran memasukkan orang ke situasi friendzone hanya untuk keuntungan dan kenyamananmu doang? Tolong dipikirkan lagi ya, shayang.

Gagal Setoran Tunai BNI

Aku menjadi nasabah BNI sejak tahun 2011. Pelayanan yang cepat tanggap dan petugas bank yang ramah adalah beberapa alasan mengapa aku setia dengan BNI. Dan alasan tambahannya, aku tidak pernah mendapat masalah dalam hal transaksi. Semakin betah sajalah aku pada bank ini.

Hingga sampai pada Bulan April kemarin. Aku mendapat masalah tentang setoran tunai pada mesin ATM. Aku akan menuliskan pengalaman tersebut pada tulisan ini. Semoga saja, teman-teman dapat memetik hikmah dan lebih berhati-hati.

Aku jarang sekali menyetor uang melalui bank. Alasannya, mungkin karena aku belum perlu menyetor uang dalam jumlah banyak. Bahkan biasanya, setoran tunai ini aku gunakan untuk mentransfer ke bank lain kala saldo BNIku kosong hahaha

Gagal Setoran Tunai

Bulan April lalu aku mendapat arisan. Jumlahnya tidak terlalu besar. Namun, sangat cukup membantu memenuhi kebutuhanku sampai hari gajian tiba. Malam itu, aku datang ke BNI margonda raya untuk menyetor uang arisan sebesar 500.000. Aku senang ke ATM sana. Mungkin alasannya karena faktor kebiasaan saja. Tidak ada alasan khusus tentang ini.

Dengan percaya diri aku langsung melakukan setoran tunai. Tidak ada kecurigaan apapun. Karena memang tidak ada pemberitahuan apapun pada mesin ATM di sana.

Setelah sukses melakukan setoran, aku langsung mengecek saldo. Dan, setoran 500.000 itu tidak masuk ke dalam saldoku. Langsung saja aku menekan tombol cancel dan berencana melakukan pengecekan kembali. Seketika, kertas resi pun keluar dari mesin ATM. Tidak seperti setoran tunai biasanya yang tertuliskan bahwa setoran telah sukses, malam itu tulisannya berbeda.

Resi yang keluar dari mesin setelah gagal melakukan setoran tunai.

Singkatnya, aku diberitahu bahwa terjadi kesalahan komunikasi penyetoran tunai. Aku juga disuruh untuk mengecek saldo dan menghubungi call centre. Membaca tulisan itu aku pun langsung memahami situasinya. Dugaanku, pasti saldoku tidak bertambah karena masalah itu. Aku pun segera mendatangi pak satpam yang berjaga di bank.

Pak satpam membantuku untuk menghubungi call centre BNI. Namun, setelah berkali-kali mencoba hasilnya nihil. Call centre BNI terlalu sibuk.

Setelah berupaya menelepon, ia memberitahuku bahwa pelaporan yang dilakukan via telepon prosesnya akan lebih cepat. Paling lama hanya 14 hari saja. Kalau pelaporan melalui bank akan lebih lama. Membutuhkan waktu 20 hari hingga akhirnya uang kembali.

Paska kejadian gagalnya setoran tunai, aku sempat mengajukan banyak pertanyaan ke Pak Satpam. Beberapa pertanyaannya seperti adakah cara awal kita tahu bahwa sebuah mesin ATM tidak bisa beroperasi dengan baik. Adakah kemungkinan pengembalian uang berlangsung lebih cepat, hanya dua atau tiga hari, misalnya. Dan ada masalah apa sesungguhnya sampai-sampai setoran tunai tidak masuk ke dalam saldo.

Menurut pak satpam, rusak atau tidaknya sebuah mesin ATM memang tidak bisa diprediksi. Apalagi bila masalahnya ada pada jaringan. Kita akan tahu ada masalah pada mesin tersebut kalau ada korban. Seperti masalah aku ini. Setelah aku jadi korban, barulah mesin tersebut ditempelkan pemberitahuan bahwa mesin ATM rusak 😅

Terkait pengembalian uang, memang tidak bisa cepat. Karena ada prosedur dan proses panjang hingga akhirnya uang nababah dapat dikembalikan. Tentang alasan mengapa terjadi masalah setoran tunai, pak satpam tidak tahu pasti. Kemungkinannya, kata si bapak masalah ada pada jaringan.

Setelah mengobrol panjang lebar, pak satpam mencatat data pribadiku seperti nomor KTP, nomor ATM, dan cerita singkat kronologi kejadian.

Melapor ke Customer Service di Bank

Tidak ada informasi banyak yang aku dapatkan setelah “ngobrol” sama Mbak customer service. Aku hanya bercerita singkat tentang masalahku, kemudian aku disuruh mengisi formulir kronologi kejadian, dan mbak customer service memberikan penjelasan singkat tentang pengembalian uang.

Informasi yang paling aku ingat adalah, proses paling lama pengembalian uang adalah 20 hari. Nanti uang akan kembali secara otomatis ke saldoku. Mbak juga bilang, kalau setelah 20 hari uang belum juga kembali, aku bisa menghubungi bank lagi. Nanti, akan dikaji lebih dalam lagi. Seperti, pengecekan kamera CCTV dan pengecekan buku satpam yang berisi data nasabah yang bermasalah. Ribet kan 😂

Saat mendengar penjelasan itu, aku merasa bingung dengan prosedurnya. aku yang membawa data lengkap dan bukti saja mengurusnya “seribet” ini. Bagaimana bila nasabah yang bermasalah tidak memiliki bukti resi seperti milikku. Pasti prosesnya akan lebih panjang lagi.

Uangku Kembali

Tepat 20 hari akhirnya uangku kembali. Selama menunggu uangku kembali, aku sempat browing membaca keluhan-keluhan nasabah lain yang memiliki masalah sama. Rata-rata uang mereka jauh lebih besar dibanding aku.

Ada pula nasabah yang marah sekali karena uangnya tidak juga kembali setelah 20 hari. Ia berkeluh kesah dan meminta pihak BNI mengatasi masalah ini dengan cepat. Di zaman seperti saat ini yang teknologinya super canggih, seharusnya prosesnya akan lebih singkat dan praktis.

Kasihan kepada nasabah yang benar-benar membutuhkan uang. Ada kepala keluarga yang “curhat”, kalau masalah seperti ini taruhannya adalah keberlangsungan rumah tangga. Ia merasa dirugikan karena dana yang seharusnya digunakan untuk kebutuhan rumah tangga harus “ditahan” hingga 20 hari lamanya.

Aku juga mencari tahu bagaimana bank lain menyelesaikan masalah seperti ini. Entah bagaimana kerumitan yang dialami BNI, ternyata ada kok bank lain yang mengurus kepentingan seperti ini lebih cepat. Dalam waktu 24 jam saja uang sudah dapat kembali.

Bagi aku pribadi, pengalaman ini benar-benar menjadi pelajaran. Menunggu 20 hari ternyata lama banget, lho. Apalagi untuk orang-orang yang sedang membutuhkan uang. Pengembalian uang yang terlalu lama bisa menganggu keberlangsungan hidup sehari-hari.

Saranku untuk teman-teman, beberapa hal yang harus diperhatikan sebelum setoran tunai:

1. Pastikan kamu setoran tunai di ATM yang bersatu dengan bank. Sebab, kalau ada permasalahan pada mesin ATM, kamu bisa meminta tolong langsung kepada Pak Satpam untuk memberikan informasi.

2. Jangan setor uang seluruhnya sekaligus. Periksa dulu apakah mesin ATM berfungsi dengan baik. Bagaimana cara mengeceknya? Kamu lakukan dulu setoran tunai dalam jumlah sedikit. 20.000 atau 50.000, misalnya. Kalau berhasil, barulah kamu menyetor semua uangnya.

3. Kalau mengalami masalah seperti aku, sebaiknya langsung telepon call centre. Kalau misalkan sibuk, telepon saja terus sampai berhasil. Sebab, pelaporan yang dilakukan via telepon, proses pengembalian uangnya akan lebih cepat. Untuk BNI, hanya 14 hari saja.

4. Kalau sudah melapor dan ingin tahu sudah sampai tahap mana pengaduanmu diproses oleh BNI, kamu tanyakan saja via BNI call centre. Kamu tidak perlu ke bank langsung. Karena akan buang-buang waktu saja. Customer service tidak akan mempercepat proses. Ia hanya akan memberi tahu pengaduan kamu sudah sampai tahap apa.

5. Tidak perlu khawatir, uangmu akan tetap kembali. Hanya saja tentang waktu sifatnya tentatif. Tergantung pihak BNI. Saranku, kalau proses sudah melebihi 14 atau 20 hari, kamu perlu tanyakan kembali kepada pihak BNI.

Baiklah, sekian cerita pengalamanku tentang gagal setoran tunai BNI. Semoga tidak terulang lagi. Semoga menjadi penyemangat untuk kamu yang sedang menunggu pengembalian uang dari BNI 💪

Dan untuk teman-teman wordpress, semoga menambah informasi terkait setoran tunai ini 😊

Semoga ke depannya, BNI pun memperbaiki sistemnya. Semoga lebih cepat dan praktis. Aamiin.

Apa Benar Berani Kotor itu Baik?

Belakangan ini, aku sedang membaca buku karya Fira Basuki. Judulnya Cerita di Balik Noda (2013). Sudah lama sekali ya, bukunya? Iya memang. Aku mendapat buku ini akhir tahun 2018 di cuci gudang Gramedia. Beruntung sekali menemukan buku Fira Basuki diantara tumpukan buku-buku itu.

Isi dari buku Cerita di Balik Noda sebenarnya adalah kumpulan cerita dari hasil lomba menulis yang diadakan oleh Rinso Indonesia. Dan Fira Basuki diamanahkan membuat kumpulan cerita tersebut menjadi buku.

Aku belum menamatkan buku Cerita di Balik Noda. Meskipun begitu, energi positif sudah masuk ke dalam diri sejak kali pertama membaca buku ini. “Anak-anak itu polos, sederhana, dan banyak memberikan pelajaran, ya!” begitu kataku saat membaca cerita pertama. “Ah malunya diri ini, seringkali kita mengamati anak kecil dengan kaca mata orang dewasa. Mana mungkin pesan bermakna dari tingkah polos si kecil bisa menyentuh hati ini?” begitu kataku saat membaca cerita ibu-ibu pada lembar selanjutnya.

Karena tema ceritanya adalah Cerita di Balik Noda, maka seluruh cerita bercerita tentang anak yang bermain ‘kotor-kotoran’. Dan dalam seluruh cerita pun terdapat ibu bijaksana yang menghadapi ‘hal-hal kotor’ dengan tidak marah-marah. Sosok ibu dalam buku ini menunjukkan bahwa selalu ada cerita di balik baju anak yang kotor. Maka, memberikan respon marah saat kali pertama melihat mereka bercengkrama dengan kotoran itu tidak tepat. Para ibu memberikan telinganya untuk mendengarkan segala penjelasan dan cerita anaknya. Para ibu juga memberikan pikiran yang terbuka untuk menerima hal-hal menakjubkan yang anak-anak ini lakukan.

Innez yang Berhati baik

Innez 12 tahun menunggu di Pos Ronda karena takut pulang ke rumah. Baju Innez kotor dan uang untuk membeli buku pun telah habis. Dengan kondisi seperti itu, Innez tidak berani pulang.

Mengapa Innez mengalami hal-hal itu, ternyata Innez tidak sengaja menabrak bapak tukang sampah yang sedang makan nasi bungkus sambil berdiri. Alhasil, nasi bungkus tersebut tumpah ke jalan dan ke baju Innez. Karena merasa bersalah, Innez pun meminta maaf dan membantu bapak merapikan tumpahan nasi di jalan. Innez juga membantu bapak menyapu tumpahan nasi yang berserakan. Lalu, Innez mengganti nasi bungkus dengan uang ibunya (uang yang seharusnya digunakan untuk membeli buku). Lengkap sudah ketakutan Innez. Baju kotor, badan kotor, dan uang pun habis.

Ibu Innez diberitahu tentangga bahwa Innez duduk di Pos Ronda. Ibu datang menjemputnya. Melihat keadaan Innez, Ibu tidak memarahinya. Ibu mendengarkan dan mengerti kejadian yang baru saja menimpanya. Dan ibu menasehati atas tindakan Innez yang kurang berhati-hati. Innez tidak hati-hati karena berjalan sambil bermain gawai yang akhirnya menabrak bapak tukang sampah.

Jika saja ibu Innez tidak mau mendengarkan cerita dan langsung marah, akankah ibu tahu bahwa putri bungsunya ternyata sungguh bertanggung jawab dan memiliki hati yang baik?

Deva yang Gigih dan Memiliki Empati Tinggi

Deva adalah anak berusia 7 tahun yang selalu bersemangat dan tidak takut kotor. Deva senang membantu ibu berkebun dan membersihkan selokan depan rumah. Dengan tawaran hadiah ‘upah’ sehabis membantu ibu, Deva pun semakin bersemangat saja ‘bermain dengan kotor-kotoran’.

Deva ingin sekali membeli sepeda. Maka, tiap kali diberikan upah uang, ia selalu memasukkan uang tersebut ke dalam celengan.

Suatu ketika, warung kelontong kakek kemalingan. Uang hasil warung kakek habis dibobol maling. Melihat kakek bersedih, Deva pun memberikan uang tabungannya untuk kakek. Deva rela menunda membeli sepeda, karena memahami bahwa kakek lebih membutuhkan uang tersebut dibanding dirinya.

Jika saja ibu tidak mengizinkan Deva membersihkan selokan hanya karena alasan ‘kotor’, akankah Deva tumbuh menjadi anak yang gigih dan memiliki empati yang tinggi?

Ada banyak cerita tentang anak dan kotoran. Pada dasarnya, semua anak tidak takut dengan hal kotor. Karena mereka penasaran dan ingin tahu banyak hal. Terkadang, kitalah sebagai orang dewasa yang menutup itu semua. Padahal, rasa penasaran dan rasa ingin tahu adalah kunci bahwa anak senang belajar hal baru.

Masih inginkah kita memberikan ‘respon marah’ bila nanti menemui anak yang sedang ‘berkotor-kotoran’? Masih inginkah kita mengabaikan momen mendengarkan cerita anak hanya karena emosi sesaat yang tidak bermakna?

Dari dua cerita di atas, semoga kita tidak seperti itu lagi, ya. Ada banyak cerita dibalik hal-hal yang kita anggap ‘menyebalkan’. Ada banyak pelajaran dibalik hal-hal yang menguji kesabaran.

Belajar dan Udara adalah Sama: Sama-sama Kita Butuhkan

​Keinginan untuk belajar tidak hanya dimiliki oleh orang-orang yang merasakan pendidikan tinggi saja. Hal tersebut dapat dilihat dari sejauh mana seseorang dapat menerima hal baru, menerima nasihat, dan menerima kritikan yang membangun. Jenjang pendidikan memang tidak mutlak menjadi tolak ukur besar kecilnya keinginan belajar seseorang.

Keinginan untuk belajar juga dapat dipengaruhi oleh banyak hal. Beberapa hal diantaranya: orang-orang terdekat, lingkungan, dan pengalaman. Orang yang membersamai dapat mempengaruhi pola pikir dan kebiasaan kita agar terus termotivasi untuk belajar. Lingkungan dapat memfasilitasi dan memudahkan proses belajar. Pengalaman juga akan memberikan banyak referensi cara belajar yang baik. Oleh karena itu, kita harus selektif dalam memilih orang untuk membersamai dan memilih lingkungan tempat kita berada.

Ada pepatah mengatakan,”Kegagalan terbesar manusia adalah ketika seseorang kehilangan keinginan untuk belajar.” Saya setuju dengan pepatah tersebut. Karena seharusnya selama hidup adalah belajar. Belajar adalah jembatan agar kita mengetahui dan memahami hal baru. Belajar juga membuat kita peka atas perubahan. Jika belajar saja tidak mau, bagaimana cara kita mengerti dan memahami sesuatu? Bagaimana cara kita menerima hal yang baru? Bagaimana cara  kita membaca kehidupan? Bagaimana kita introspeksi diri? Bagaimana cara kita memperbaiki diri?

Menjadi orang yang merasa cukup atas rezeki Allah adalah baik. Namun, jika seseorang merasa cukup dengan ilmu yang dimiliki sungguh tidak baik dan mengkhawatirkan. Merasa cukup dengan ilmu menurunkan semangat kita untuk terus belajar. Merasa cukup dengan ilmu adalah gerbang tertutupnya pengetahuan baru. Merasa cukup dengan ilmu adalah awal tertutupnya pikiran kita menerima hal baru.

Yang paling mengkhawatirkan dari merasa cukup dengan ilmu adalah kita merasa tak butuh ilmu dari luar. Tak butuh ilmu dari orang lain.

Keinginan untuk belajar harus dimiliki oleh semua usia dan semua orang. Karena sejatinya belajar adalah kebutuhan manusia. Belajar tidak hanya berkaitan tentang buku dan guru saja. Belajar memiliki arti yang luas. Belajar dapat melalui apa saja. Kita dapat belajar melalui banyak hal. Melalui hal yang terlihat, teraba, terdengar, dan terasa.

Semoga kita memahami dengan baik pentingnya belajar dalam kehidupan. Seperti udara yang terus kita hirup, belajar pun harus membersamai seperti udara akan terus kita butuhkan. Ketika memutuskan ingin belajar, kosongkanlah pikiran seakan-akan tak mengerti apa-apa. Dan bertanyalah yang banyak pada seseorang yang lebih tahu. Karena, semakin banyak mendengarkan, semakin banyak pula ilmu yang kita dapatkan.

Opini: Novel Ayat-ayat Cinta 2

Ada banyak pembelajaran yang saya dapatkan ketika membaca novel Ayat-ayat Cinta 2 karya Habiburrahman El-Shirazy atau biasa dipanggil Kang Abik, berikut beberapa buah pikiran yang perlu dicatat.
Kang Abik memperkenalkan Islam dengan penuh rasa cinta. Betapa Islam mengedepankan hubungan antar sesama dan makhluk Allah lainnya dengan kasih dan sayang. Jika sayang, maka kita akan memperlakukan orang yang disayang dengan sebaik-baiknya. Begitulah Kang Abik memperkenalkan Islam, melalui sosok Fahri.

1. Menjadi teladan yang baik dan berusaha menjadi sebaik-baiknya pribadi

Fahri memang digambarkan sebagai muslim yang taat dan berhati lembut. Tutur katanya selalu dijaga supaya tidak menyakiti hati dan lakunya juga selalu dijaga agar selalu bermanfaat dan tidak merugikan orang lain. Namun, Fahri bisa menjadi sangat tegas bila Allah, Rasul, dan agamanya dihina dan disakiti.

Banyak kepribadian Fahri yang patut diteladani, seperti menggunakan kemampuan dan potensi diri di luar ambang batas, menggunakan waktu dengan adil untuk urusan akhirat dan dunia, mengutamakan akhirat dibandingkan dunia, memperkenalkan muslim melalui keunggulan intelektualnya, sebab Fahri sangat tahu, menjadi muslim yang minoritas harus bertanggung jawab menjadi juara di bidang yang sedang ditekuni. Demi agamanya. Supaya Islam dikenal. Supaya Islam dihormati dan dihargai. Bahkan diteladani segala tutur kata dan tingkah laku terpuji yang Fahri lakukan.

2. Menolong Sesama

Islam mengajarkan agar kita saling menyayangi sesama makhluk Allah. Jika sayang, maka sudah menjadi tugas kita untuk menolong orang yang membutuhkan. Maka, Rasulullah mengatakan:

Betapa Islam mengutamakan rasa kasih dan sayang sampai Allah menegaskan seperti hadist di atas 🙂 Fahri mengamalkan perintah Allah ini dengan membantu tetangga dan orang-orang fakir miskin disekelilingnya. Tanpa membedakan agama, ras, budaya, kewarganegaraan, dan sebagainya. Betapa indah hubungan saling tolong menolong seperti ini. Kang Abik dengan sangat baik menggambarkan sosok Fahri begitu nyata memiliki kepribadian yang sangat terpuji.

3. Mengutamakan Musyawarah

Dalam novel ini banyak konflik yang terjadi dan tak jarang menguji kesabaran Fahri. Begitu banyak kesempatan menyeselesaikan masalah dengan cara pertengkaran, permusuhan, dan perkelahian. Namun, bukan jalan itu yang Fahri pilih. Apa gunanya saling menunjukkan kebencian dan menghilangkan perdamaian? Begitu pikir Fahri. Maka, apapun masalahnya, sebisa mungkin menyelesaikan dengan diskusi dan musyawarah. Dalam novel ini, Kang Abik menunjukkan esensi musyawarah melalui debat ilmiah, diskusi kecil bersama karyawannya, dan berdiskusi dengan mahasiswanya.

4. Merentangkan Sayap Melejitkan  Potensi

Fahri berperan banyak di masyarakat tidak hanya dalam dunia perkuliahan saja. Selain menjadi dosen, Fahri juga menekuni dunia wirausaha hingga menjadi pengusaha yang sukses. Fahri juga mengamalkan ilmu Islam yang didapat saat menuntut Ilmu di Mesir. Di Britania Raya, Fahri banyak berbagi ilmu tentang Islam. Kang Abik menggambarkan sosok muslim yang produktif melalui sikap kerja keras dan pantang menyerah Fahri. Dan hasilpun tidak mengkhianati proses, banyak  pencapaian yang Fahri dapatkan.

5. Menjadi Suami yang Baik

Kesulitan dan kemudahan selalu berjalan beriringan. Dibalik kemudahan hidup yang Fahri rasakan, Fahri diuji dengan kehilangan Aisha. Aisha menghilang saat mengunjungi Palestina. Informasi yang simpang siur tentang hidup Aisha, membuat hati Fahri terluka berulang kali tiap kali diingatkan tentang Aisha. Membuat pelupuk mata selalu basah oleh tangis rindu kala mengingat kenangan bersama Aisha. Aisha masih hidup atau sudah meninggal tidak ada yang tahu. Mengetahui keberadaan Aisha tidak jelas, Fahri selalu mendoakan Aisha. Disetiap amal kebaikan yang Fahri lakukan, Fahri tidak pernah lupa merapalkan doa untuk keselamatan Aisha. Harapan Fahri, bila Aisha masih hidup, maka semoga Aisha dalam keadaan baik dan segera dipertemukan dengannya. Namun, bila Aisha telah meninggal, semoga Aisha berada di Surga-Nya dan diberikan tempat yang paling baik. Dalam hal ini, Kang Abik menggambarkan sosok suami yang berusaha ikhlas dan ridho atas kehidupan istrinya. Hingga tak pernah alpa sedetikpun mendoakan Aisha. Masya Allah.

Sekian opini saya tentang buku Ayat-ayat Cinta 2. Terima Kasih, Kang Abik sudah menulis buku ini 🙂 Jika penasaran dengan hikmah-hikmah cerita dalam novel, maka segera baca bukunya saja! 😀 Buku ini sarat makna dan hikmah untuk introspeksi diri.

Jadi, sudahkah kita menjadi muslim yang Allah sukai? Semoga Allah meluruskan segala pikiran, niat, dan tindakan supaya selalu berada di jalan-Nya. Aamiin.

Opini: Berpikir tentang Teman Hidup

Menyatukan dua keluarga nyatanya tidak semudah perkiraan. Karena tiap-tiap anggota keluarga memiliki standar tersendiri untuk menilai sesuatu baik atau tidak. Menyamakan pemikiran dua insan untuk menuju bahtera rumah tangga saja merupakan hal yang tidak mudah. Sebab, kita harus menyadari satu hal. Kita harus meninggalkan keinginan pribadi. Keinginan yang sebelumnya menjadi hal utama dalam mengambil keputusan. Namun kini, ketika memutuskan untuk berumah tangga, kita harus menyadari bahwa sebelum berumah tangga diri ini hanya separuh jiwa. Dan menjadi utuh saat dia hadir dalam hidup kita. Jika jiwa yang utuh ini adalah hasil dari gabungan dua jiwa manusia yang saling menggenapkan, masih pantaskah kita terus menerus mendeklarasikan keegoisan diri? Tanpa mempertimbangkan dia? Padahal pada jiwa yang kini utuh terdapat jiwa orang lain.

Kedewasaan yang terus bertambah membawa kita pada satu kesadaran, bahwa kita adalah seorang hamba yang harus melaksakan perintah-Nya. Yang harus bersabar dan bersyukur. Yang harus melakukan tindakan apapun dengan sebaik-baiknya. Yang harus berjuang dijalan-Nya. Agar menjadi manusia yang bertakwa.

Dengan kedewasaan itu pula, mengarahkan kita agar berpikir jauh ke depan. Tentang masa depan. Tentang pernikahan. Tentang rumah tangga. Tentang Dia. Dia yang ditakdirkan oleh-Nya untuk membersamai. Menjalani hari-hari lapang dan sempit. Untuk saling menguatkan, mengingatkan, belajar, berusaha, berdoa, dan bergandeng tangan.

Mendewasa bukan berarti kita sudah pandai mengendalikan keinginan. Banyak keinginan yang tersusun dengan rapi dan berharap semua keinginan adalah yang kita butuhkan. Dan lupa untuk menimbang apakah bersama keinginan ada harap mendapat ridho-Nya.

Segala keinginan sungguh tidak berguna bila tidak disertai dengan harap mendapat ridho dari-Nya. Hingga kini hal tersebut masih menjadi topik yang selalu dipikirkan sepanjang waktu. Jika waktunya telah tiba, bisakah hati ini ikhlas meninggalkan segala keinginan demi Sang Maha Kuasa. Bisakah hati ini berpasrah dengan segala ketentuan-Nya. Rasa bimbang merasuk dalam diri. Dan tak kunjung mereda.

Dalam memutuskan suatu perkara tidak akan pernah bimbang bila menyertai Allah. Sebab, memilih yang Allah sukai tentulah membawa kebaikan. Memilih apa yang diinginkan tentulah sesuatu hal yang meragukan. Keinginan adalah segala hasrat, kehendak, dan harapan. Sedangkan kebutuhan adalah segala hal yang sangat diperlukan. Meskipun hal yang diinginkan tampak dan terasa benar-benar menggiurkan dan meyakinkan, kita tidak pernah tahu hal tersebut yang dibutuhkan atau tidak. Logika tidak selalu benar. Karena takdir bersifat gaib. Logika dan takdir tidak selalu berjalan beriringan. Maka, mintalah petunjuk dari Allah. Mendekat dengan hal-hal yang Allah sukai. Agar tidak terbelenggu dengan keinginan. Apalagi keinginan yang condong kepada nikmat dunia. Setelah mendekati yang Allah sukai, berdoalah. Maka, keyakinan dalam memutuskan perkara akan Allah tanamkan ke dalam hati kita. Awal yang baik akan mendekatkan kita pada kebaikan yang lainnya pula, Insya Allah.

Lagi-lagi saya mengatakan, menyatukan dua keluarga tidak semudah perkiraan. Meskipun kita telah memiliki prinsip dalam memilih teman hidup, nyatanya masih banyak hal yang perlu dipertimbangkan. Seperti, pendapat kedua orang tua kita. Orang tua telah hidup lebih dulu. Tahun-tahun kebahagiaan dan kesedihan telah mereka lalui. Manis dan pahit kehidupan telah mereka rasakan. Mengalami sulitnya bangkit dari keterpurukan juga melengkapi lika-liku kehidupannya. Mereka memiliki banyak pengalaman dan pelajaran. Sehingga, banyak pula hikmah yang mereka dapatkan. Dan hikmah tersebut akan menjadi pertimbangan untuk memutuskan setiap perkara dalam rumah tangganya. Begitu juga tentang memilih calon suami atau istri untuk anaknya. Mereka merasa bertanggung jawab untuk turut andil dalam mencari teman hidup sang anak.

Banyak nasihat yang diberikan sebagai bekal untuk memilih teman hidup. Demi kebahagiaan anaknya hingga mereka terlupa, kini si kecil telah beranjak dewasa. Kini, anaknya yang dahulu dimandikan, dipakaikan baju, dan ditimang, telah menjadi gadis atau pemuda dewasa. Artinya, anaknya telah memiliki prinsip hidup yang diyakini. Artinya, bukan lagi orang tua yang menentukan jalan hidup anak. Namun, sekarang sudah saatnya untuk saling berbagi dan mendiskusikan, sesungguhnya apa tujuan berumah tangga. Sesungguhnya apakah yang dimaksud dengan kebahagiaan. Bukankah semua yang dilakukan semata-mata agar menjadi hamba yang dicintai-Nya?

Semoga tak ada lagi prinsip yang berdiri sendiri-sendiri disini. Semoga kita bisa saling membuka diri. Semoga Allah selalu memberikan petunjuk agar berjalan dijalan-Nya. Karena tidak ada pendapat siapa yang paling tepat. Atau pendapat siapa yang paling benar. Semua tentang bagaimana selalu melibatkan Allah dalam bimbang, resah, gelisah, dan keraguan. Semua tentang bagaimana selalu melibatkan Allah dalam memutuskan semua perkara.

Tulisan ini adalah pemikiran random penulis akibat percakapan singkat dengan ayahnya tentang pernikahan dan nilai wanita dimata keluarga calon teman hidup. Ternyata, mendiskusikan pernikahan merupakan topik yang kompleks. Tentang keyakinan diri, tentang teman hidup, tentang tujuan berumah tangga, tentang kebahagiaan, tentang kebaikan menurut-Nya, tentang ridho dari-Nya, dan masih banyak yang lainnya. Mohon maaf bila tidak terstruktur. Sebab, tulisan tersusun begitu saja kala pikiran sedang dipenuhi oleh banyak pemikiran. Dan pemikiran yang telah tersusun dalam bentuk tulisan menjadi obat untuk menenangkan pikiran. Mohon dimaklumi. Semoga bermanfaat 🙂