Sudahkah Kita Jujur pada Diri Sendiri?

Katanya, alasan untuk tidak mengungkapkan perasaan yang sesungguhnya adalah karena takut orang lain akan meninggalkan. Oleh karena itu, baginya sungguh tak apa bila ia tak baik-baik saja. Asalkan orang tetap berada disisinya, ia yakin akan baik-baik saja. Ia akan berusaha menahan dengan sekuat tenaga. Bila bersedih, ia akan tetap tersenyum. Bila marah, ia akan tetap tertawa. Bila tersakiti, ia akan berusaha memendamnya sendiri. Namun, dalam hati ia pun bertanya-tanya, “Mengapa orang lain tak menghargai dirinya?”,”Mengapa orang lain bertindak sesuka hati?”

Ia menunjukkan bahwa dirinya baik-baik saja, kemudian ia bertanya pada dirinya sendiri mengapa orang lain berlaku tak baik padanya. Ia juga menanyakan hal yang sama kepadaku. Kemudian aku memikirkannya. Berusaha mengingat kembali bagaimana ia bersikap. Saat itu, kutahu bahwa ada sesuatu yang tak benar pada dirinya. Saat itu juga kutahu, apa yang terlihat tak selalu sesuai dengan kenyataannya. Apa yang terlihat tak selalu menunjukkan yang sebenarnya. 

Kamu mengatakan ketidaksukaanmu padaku. Apakah kamu mengatakannya juga pada teman-temanmu itu?” aku bertanya penasaran.

“Hmm, aku selalu tersenyum dan tertawa bagaimanapun teman-teman memperlakukanku. Bahkan untuk hal-hal yang tidak kusukai dan mengangguku. Aku terlalu takut untuk mengatakannya.” ia menjawab cukup lama dan mengatakan dengan ragu-ragu.

“Apa yang membuatmu takut?” kepadanya, aku tak pernah berkata bertele-tele. Aku selalu mengatakan inti pertanyaan, yang menurutnya seringkali pertanyaanku terkesan menyudutkannya. Padahal, sungguh, tujuanku tak pernah seperti itu.

“Aku terlalu takut untuk mengungkapkan perasaanku. Aku terlalu khawatir atas dampak kejujuranku. Aku terlalu tak berani menghadapi kenyataan bila nanti mereka menjauhiku.” dan perlahan, ia mengungkapkan apa yang ia pikirkan dan rasakan.

“Mengapa kamu berpikir mereka akan menjauhimu?” aku mengajukan pertanyaan lagi. Aku masih tak mengerti apa yang sedang ia katakan.

“Aku tahu setiap orang selalu ingin keinginannya terwujud. Aku tahu setiap orang pasti tak suka bila pandangannya ditolak. Aku tahu setiap orang pasti tak suka bila dirinya tak didukung. Aku tahu setiap orang selalu senang bila tujuannya tercapai. Dan aku tahu, bila aku mengungkapkan pikiran dan perasaan yang tidak sesuai keinginan mereka, aku pasti dibuang. Aku pasti dijauhi. Aku pasti ditolak. Dan aku pasti tidak disenangi. Aku tak ingin diperlakukan seperti itu.” ia menjelaskan panjang lebar pandangannya yang membuat aku semakin tak mengerti. Dari mana asal pandangan-pandangannya itu? Mengapa ia berprasangka?

“Terima kasih telah mengungkapkan perasaanmu padaku. Terima kasih telah jujur padaku. Tapi, sadarkah sedari tadi kamu hanya memikirkan tentang orang lain? Bagaimana denganmu? Apakah kamu baik-baik saja?” kupikir, pertanyaan ini penting  diajukan. Kamu harus mencoba jujur terhadap dirimu sendiri.

Ia kembali diam. Ia menatap ke depan dengan tatapan kosong. Cukup lama ia berdiam diri. Kemudian ia terisak.

“Aku tak baik-baik saja. Hatiku sakit tiap kali mereka berbicara. Mulutku kelu tiap kali mereka mengejekku. Mataku perih menahan tangis tiap kali aku ingin menangis. Aku selalu ingin berteriak tiap kali menahan semua dengan sekuat tenaga. Aku sungguh tak baik-baik saja.” ia mengatakan dengan kalimat terbata-bata. Ia menangis tersedu-sedu. Ia tak baik-baik saja. Dan ia mulai jujur dengan perasaannya. Aku tahu. Aku merasakannya.

“Kamu berhak atas ketenangan hati. Kamu berhak mengungkapkan pikiran. Kamu berhak jujur atas perasaanmu sendiri. Bila kecewa, tak apa kamu mengatakan bahwa dirimu kecewa. Bila menganggu, tak apa kamu mengatakan bahwa dirimu terganggu. Bila tak suka, tak apa kamu mengatakan bahwa tak menyukainya. Bila bersedih, tak apa kamu mengatakan bahwa dirimu sedang bersedih. Bila terlalu sakit, tak apa kamu mengatakan bahwa dirimu tersakiti. Bila kamu dalam keadaan tak baik, tak apa kamu mengatakan bahwa tak baik-baik saja. Kamu berhak mengungkapkan segalanya. Memikirkan perasaan orang lain itu baik. Takut ditinggal dan tak disukai juga merupakan hal normal. Namun, bukankah selalu ada cara yang lebih baik daripada mengorbankan dirimu sendiri? Ketenangan dan kebahagiaan  dirimu adalah utama.” aku tak tahu adakah ‘pikiran tak benar’ lain yang mengendap dalam pikirannya. Mohon izinkanlah kali ini aku mengatakan kalimat panjang tersebut padamu. Semoga kalimat ini juga mengendap dalam hati dan pikiranmu.

Ia mendengarkan dengan baik dan kemudian menunduk. Ia merenungkannya.

Aku bersyukur karena kamu memilihku untuk mendengarkanmu. Aku juga bersyukur kita telah melakukan percakapan itu. Aku tahu kamu adalah pembelajar yang baik. Kamu selalu membuka lebar pendengaranmu untuk menerima hal baru. Kamu selalu membuka hati dan  pikiran seluas-luasnya untuk menyimpannya. Kamu selalu berusaha untuk berubah. Dan kamu tetap berusaha meskipun kutahu semua itu sulit untuk dilakukan. Terima kasih karena selalu mencoba memperbaiki dan berubah menjadi baik setiap waktu.

**

Jika masih saja ada kekhawatiran perlakuan buruk orang lain atas kejujuranmu, maka aku sarankan lupakan hal itu saat ini juga. Kehidupan memang seperti ini. Suka atau tidak, waktu akan tetap berjalan. Senang atau tidak, kejadian akan tetap datang.

Meskipun begitu, setiap orang berhak untuk jujur atas apa-apa yang dipikirkan. Setiap orang berhak untuk jujur atas perasaannya. Manusia manapun tak akan tahu apa yang dipikirkan dan dirasakan bila kita tidak mengungkapkannya. Oleh karena itu, jangan mengharapkan hal-hal yang tidak mungkin. Tidak mungkin? Sungguh tak mungkin orang lain akan tahu segalanya, bila kita enggan mengatakan apa yang ada dalam hati dan pikiran. Sungguh tak mungkin orang lain menghargai bila kita tak pernah jujur atas keinginan sendiri. Atas dasar apa orang lain menghargai bila kita tak memberi tahu apa-apa?

Jika memutuskan untuk jujur atas perasaan dan pikiran, maka kita harus siap menghadapi sikap orang lain yang akan terjadi. Kita harus realistis dengan kehidupan ini, bukan? Dengan banyaknya manusia di dunia ini dan segala perbedaannya, adalah hal wajar bila ada dua golongan di sekitar kita. Dua golongan yang akan merespon kejujuran perasaan dan pikiran kita. Golongan itu adalah golongan yang mendukung segala pikiran dan golongan yang tak mendukung segala pandanganmu. Jadi, jalani saja realita yang ada. Karena kita tak akan bisa merubah orang lain. Yang kita bisa lakukan adalah mengatur diri kita sendiri. Diri ini harus pandai menyikapi keadaan.

Bagaimana cara menyikapi dua golongan tadi? Jadikan golongan yang mendukung sebagai motivasi untuk kita melakukan kejujuran yang lebih banyak lagi. Lalu, jadikan golongan yang tak mendukung sebagai pelajaran untuk kita introspeksi lebih sering lagi. Mungkin, ada tindakan yang keliru saat kita mengungkapkan pikiran dan perasaan kita. Mungkin, ada lisan yang tak sengaja terucap melukai hati orang lain. Hati-hati dengan perasaan, terkadang kita bisa menjadi orang yang paling peka sedunia. Namun, terkadang juga kita bisa menjadi orang yang paling tak terkendali.

Semoga kita tak ragu lagi. Kamu, aku, kita berhak memiliki hati dan pikiran yang damai. Yuk, jujur dengan hati dan pikiran ini 🙂

Advertisements

Belajar dari Si Mbak: Berbakti kepada Orang Tua

Buah jatuh tak jauh dari pohonnya. Peribahasa itu memiliki arti tentang kemiripan antara anak dan orang tua. Dari segi intelegensi, karakter, ataupun sikap. Ungkapan itu benar adanya. Kita pun sama-sama tahu bahwa seorang anak akan meniru tindak tanduk sang ayah dan bunda. Oleh karena itu, kemiripan antara anak dan orang tua adalah hal yang sangat wajar.

Siang kemarin, ada satu  pemandangan yang menyentuh hati saya. Ketika melihat seorang anak membujuk ibunya untuk melakukan latihan fisik. Ketika melihat anak itu menyemangati ibunya supaya bersemangat kembali melakukan rehabilitasi. Sedikitpun tak ada raut wajah terpaksa dari sang anak. Ini adalah kali pertama saya melihat sosok anak seperti dia. Tutur kata yang hangat dan lembut benar-benar menyentuh hati saya. Sekaligus membuat berkaca, sudahkah saya menjadi anak seperti dia?

Dan, tahukah bagaimana hasil dari ketulusan anak itu kepada ibunya? Dengan raut wajah sedih karena melihat sisi tubuh kirinya sulit untuk digerakkan, sang ibu tetap berusaha dan bersemangat. Sesekali memang berhenti melakukan latihan, karena kesulitan dan kelelahan. Namun, sang anak tetap menyemangati dan membantu dengan lembut.

“Ibu ndak bisa. Itu jarinya semuanya nekuk. Ndak bisa dilurusin.” Sang ibu mengeluh dengan raut wajah sedih menggunakan logat jawa tengah yang khas.

“Ndak apa-apa, bu. Kan proses. Pelan-pelan aja ya bu. Kan kemarin aja lidahnya ndak bisa ditekuk, kan? Coba lihat sekarang lidahnya, udah bisa ditekuk kan?! :D” Sang anak menyemangati dengan wajah hangat dan intonasi suara yang sungguh santun.

Iya, ini bisa. Lidah ibu bisa melet ke samping. Minum pake sedotan dibibir kiri juga udah bisa. Sedotannya ndak jatuh lho, mbak.” Berkat motivasi sang anak, ibu pun semangat lagi. Dengan bangga ia memberitahu ke saya 🙂

“Wah, coba lagi bu, saya mau liat. Mana coba lidahnya ke samping kiri. Ohiyaaa, hebatnya ibu. Sekarang gampang ya bu minum pakai sedotan? Alhamdulillah. Digunakan terus ya bu sisi yang sakitnya. Insya Allah, nanti akan meningkat kemampuannya.” Aku pun tak ingin kalah dari sang anak untuk menyemangati ibu.

Bertemu dengan seseorang yang mengalami keterbatasan fisik, kita memang harus terus memotivasi dan memberikan pujian. Dan menggunakan bagian lain yang sehat untuk menopang bagian yang sakit. Berikan kemudahan dengan cara fasilitasi setiap kegiatan. Dengan begitu, ibu akan lebih ringan melakukannya.

Tak banyak ditemui orang macam si anak dan ibu ini. Keduanya terlihat sekali memiliki hati yang luas. Keduanya, melihat kesulitan bukan sebagai musuh. Namun, sebagai ujian yang memang harus dijalani. Mereka tahu betul, yang dibutuhkan ketika menghadapi masa-masa sulit bukanlah solusi kilat nan cepat. Melainkan, kehadiran orang-orang tersayang yang membersamai dan menguatkan. Mereka memahami betul, kesulitan akan terasa ringan bila dihadapi bersama. Mereka memahami betul, yang dibutuhkan saat masa-masa sulit adalah ketenangan hati dan pikiran.

Sang anak membuat saya belajar bahwa sejatinya peran anak sangat penting ketika orang tua sakit. Sesungguhnya, orang tua tak butuh sejumlah uang untuk membiayai rumah sakit mewah dan kamar perawatan vip. Orang tua juga tak benar-benar membutuhkan makanan lezat dan bergizi untuk memulihkan kesehatan. Namun, kehadiran anak disaat-saat sulit inilah yang akan menjadi obat alami untuknya. Hati yang tenang ketika anak disisinya dan pikiran yang damai ketika anak memperhatikannyalah yang akan menjadi penyembuh untuknya.

Menjadi sosok seperti anak ini memang tak mudah. Karena memang anak akan benar-benar diuji. Kondisi fisik yang sakit akan membuat perasaan dan pikiran sang ibu tidak dalam keadaan stabil. Jadi, selain meluangkan waktu, anak juga harus memiliki sabar yang seluas langit.

Tidak perlu mengeluh dan merasa terbebani. Mungkin, sebaiknya kita memikirkan kembali kasih sayang orang tua mengasuh dan mendidik kita. Bukankah selama ini orang tua selalu melakukan itu semua untuk kita? Bukankah mereka sedikitpun tak pernah mengeluh dan merasa terbebani? Bukankah mereka melakukannya dengan kasih sayang tak terhingga? :’) Hal ini sepertinya harus menjadi perhatian dan renungan para anak bersama. Bagaimana menjadi anak yang berbakti. Jangan sampai, ketika kelak ujian sakit datang kepada orang tua, kita lupa hakikat sebagai anak berbakti. Jangan sampai kita malah mengeluh dan tak ikhlas melakukannya. Semoga Allah mengingatkan dan memudahkan kita menjadi anak yang berbakti.

**

Terima kasih telah menjadi anak yang berbakti, mbak. Berkat mbak, saya berkaca. Menjadi anak berbakti memang perlu diperjuangkan. Perlu diniatkan. Apa kabar dengan saya? Ternyata masih banyak hal perlu  diperbaiki. Ternyata masih banyak hal perlu dilakukan untuk orang tua. Ternyata, saya harus banyak belajar lagi menjadi anak yang berbakti.

Kemudahan dan Kesulitan: Keduanya Tak akan Berlangsung Selamanya

Sejak kali pertama memutuskan sesuatu, aku sudah berjanji pada diri sendiri supaya tidak mengeluh, menyerah, dan berhenti.

Sejak saat itu, aku juga mengingatkan diri sendiri bahwa jalan yang kutempuh tidak akan mudah dan penuh rintangan. Tidak ada pilihan untuk menyerah, mundur, dan berhenti. Aku hanya perlu terus maju dan menghadapinya.

Sejak awal, aku juga tidak menetapkan hasil akhir akan seperti apa. Aku tak pernah bosan mengingatkan diri sendiri bahwa proses adalah utama. Setiap manusia normal tentu ingin mendapat hasil akhir yang bahagia. Namun, apalah artinya hasil akhir yang bahagia bila jalan hidupku tidak mendapat ridho dari-Nya. Maka, aku memutuskan untuk menciptakan proses dengan sebaik-baiknya. Hasil akhir akan aku serahkan pada-Nya. Aku akan berusaha mempersiapkan diri untuk menerima semuanya. Hasil baik ataupun buruk. Apapun hasil dan ketentuan-Nya pasti terbaik untukku.

Tidak Mengeluh, Menyerah, dan Berhenti

Jika kamu memahami betul bahwa setiap kejadian pasti memiliki alasan, maka kamu tidak akan mengeluh. Mengeluh adalah perbuatan yang membuat diri ini semakin lelah dan tidak memiliki manfaat. Menyerah akan membuat diri ini semakin tidak baik. Berhenti hanya akan menghambat kita mendapatkan banyak karunia-Nya.

Supaya tidak mengeluh, menyerah, dan berhenti, setiap orang perlu memiliki pemahaman yang kuat tentang berbaik sangka. Berbaik sangka akan membuat diri ini memandang segala hal menjadi lebih luas. Berbaik sangka akan membuat diri ini memiliki harapan masa depan yang cerah. Berbaik sangka akan membuat pikiran kita lebih jernih dan hati lebih tenang.

Bagaimana cara berbaik sangka pada setiap situasi tidak menyenangkan? Situasi memang dicipta menjadi dua. Situasi menyenangkan dan situasi tidak menyenangkan. Manusia tidak memiliki masalah dengan situasi menyenangkan. Bahkan, kita seringkali lupa pada Sang Pemberi Kebahagiaan, Allah. Kita lupa mengucapkan terima kasih padanya. Kita lupa bersyukur pada-Nya.
Tidak semua manusia mampu menghadapi situasi tidak menyenangkan dengan tenang. Kita cenderung egois, lupa, dan diskriminasi. Mana mungkin bisa, kita senang menerima situasi menyenangkan, tetapi menolak situasi tidak menyenangkan? Sungguh tak adil.

Padahal, kedua hal itu memberikan kita pelajaran. 

Jika saja kita tahu bahwa situasi menyenangkan mengajarkan tentang rasa syukur, kita tidak akan terlena dan alpa. Kita tidak akan lupa mengucapkan terima kasih pada Allah. Kita akan membuktikan rasa syukur dengan lebih banyak berbuat baik.

Jika saja kita tahu bahwa situasi tidak menyenangkan mengajarkan tentang sabar, kita tidak akan menolak untuk menjalaninya. Situasi itu menguji kesabaran dan ketaqwaan kita. Jika diberikan situasi sesak dan sempit, masihkah kita terus berusaha sebaik-baiknya dan mencari ridho-Nya? Jika dihadapkan situasi yang sulit, masihkah kita berjalan dijalan-Nya?

Kedua, sebagai penguat diri. Sungguh merugi bila kesulitan tak membuat kita semakin kuat. Seharusnya, kesulitan yang besar, juga membuat kita mempersiapkan diri agar lebih kuat. Lebih sabar, lebih tegar, lebih tangguh, lebih pantang menyerah, lebih semangat, dan lebih tahan lelah.

Jangan mendramatisir keadaan. Allah memang tidak memberi tahu kapan kesulitan ini akan berakhir. Orang-orang sekitar pun tak selalu mendukung dan menyemangati. Bahkan, ada kalanya, selain Allah, semesta terasa berjalan berlawanan dan tak berkawan. Kita seolah-olah hanya disisihkan bersama kesulitan. Kita membersamai kesulitan seorang diri. Hanya kepada Allah segala keluh dan kesah dapat tercurahkan. Namun, bagaimanapun keadaannya, tetaplah kuat.

Bahkan jika semesta menolak keberadaanmu, ada Allah disisimu. Allah itu dekat. Lebih dekat dari urat nadi kita. Dekat sekali, kan? Jangan takut dan berputus asa. Allah bersamamu. Tunggulah dengan berusaha. Yakin, hasil baik sudah Allah siapkan.

Tapi, kok hingga kini aku belum mendapat jalan keluar dan titik cerah? Padahal aku sudah berusaha dan mendekat pada-Nya. Jawaban terbaik adalah menanti dengan sabar dan berbuat baik. Semua hanya tentang waktu terbaik. Saat ini bukan waktu terbaik untuk kita. Mungkin, beberapa jam ke depan, beberapa hari, beberapa minggu, beberapa bulan, atau beberapa tahun hasil yang baik akan tiba.

Jangan terburu-buru dan jangan memaksakan jalan hidup berbelok ke arah lain tanpa ridho dari-Nya. Jalan pintas bukanlah hal yang dibenarkan. Jalan pintas seringkali menghilangkan proses di dalamnya. Padahal, proses merupakan hal penting dalam kehidupan. Ingat selalu, keputusan yang tidak menyertai Allah dan proses yang tak baik, tidak akan memberikan hasil yang baik.

Kemudahan tak akan selamanya membersamai waktu, begitu pula dengan kesulitan. Semua tak akan berlangsung selamanya. Jika dunia hanya tempat persinggahan semata dan tempat untuk berbuat baik yang banyak, mengapa kita masih sekeras kepala itu mengejar kebahagiaan dunia? Mengapa kita masih sekeras kepala itu menolak kesulitan yang sejatinya wadah untuk kita belajar?

Permasalahan Bukan Beban

Saya percaya, permasalahan akan berbanding lurus dengan mental kita. Semakin besar masalah, maka akan semakin kuat mental. Semakin kecil masalah, maka akan semakin lemah juga mentalnya. Sebenarnya, saya tidak bisa menjamin seluruh manusia akan seperti ini. Karena semua tergantung tingkat kepandaian seseorang dalam mempelajari permasalahan.

Ada orang yang dengan mudah menemukan pelajaran. Penglihatannya terbuka lebar karena keyakinannya. Ia yakin bahwa permasalahan tidak akan berlangsung selamanya. Ia yakin bahwa permasalahan datang selalu bersama dengan jalan keluar. Ia juga yakin, permasalahan adalah sarana untuknya belajar. Namun, tidak semua orang mau belajar dari kesalahan. 

Ada orang yang berpikiran sebaliknya. Entah keyakinan apa yang ia yakini, ia menganggap permasalah adalah beban. Beban yang harus dengan segera ia hindari dan buang. Beban yang sebisa mungkin ia alihkan ke orang lain. Terlepas dari berkenan atau tidak orang tersebut. Ia tidak ingin tahu dan tidak peduli. Yang ia pedulikan saat itu adalah bagaimana menemukan cara untuk ‘menghindar’ dan ‘melemparkan beban’. Kita tidak boleh egois. Membeda-bedakan si permasalahan dengan fase hidup kita yang lainnya. Fase kemudahan, fase kebahagiaan, fase keberhasilan, fase kesuksesan. Jika kita baik-baik saja menghadapi itu semua, seharusnya kita juga baik-baik saja menghadapi permasalahan.

Khawatir dengan hal-hal yang tidak berjalan dengan rencana dan keinginan itu boleh. Karena artinya otak kita sedang melakukan proses berpikir. Otak kita menganalisa situasi apa yang sedang dialami. Otak kita juga menganalisa kemungkinan-kemungkinan yang akan terjadi. Kemungkinan terburuk pun otak menganalisanya. Karena itulah rasa khawatir muncul. Rasa khawatir juga sebagai indikator bahwa hati kita bekerja dengan baik. Kalau kita tidak peduli dan pasrah dengan keadaan malah mengindikasikan bahwa kita bermasalah. Perlu dipertanyakan kepekaan hati dan pikiran kita.

Rasa khawatir yang berlebihan akan menyulitkan diri sendiri dan membunuh secara perlahan. Apalagi jika rasa khawatir tersebut membuat kita takut melakukan perubahan. Kita tidak melakukan apa-apa. Akhirnya, jalan keluar pun tidak kita temukan. Sayang banget, kan?

Semua ini bukan tentang seberapa besar masalah dan seberapa keras kita berusaha. Namun, tentang bagaimana cara kita menghadapi masalah tersebut. Apakah pilihan kita adalah menghindari masalah dan tidak mendapatkan apa-apa. Atau kita memilih untuk menghadapinya dan mendapatkan jalan keluar?

**

Jangan pernah menyerah dengan keadaan.

Jangan juga melimpahkan kekesalan kepada orang lain dan lingkungan.

Kendalikan dirimu.

Kamu bukan anak-anak yang masih kesulitan mengontrol diri.

Kamu juga bukan anak remaja yang masih kesulitan menempatkan diri diberbagai situasi.

Kamu dewasa, cakap, dan bijaksana.

Kamu memahami betul permasalahan adalah sama seperti fase-fase hidupmu yang lain. Ia tidak akan menetap dalam hidupmu selamanya.

Jangan memandang masalah seperti hal yang kamu harapkan atau inginkan.

Namun, pandanglah masalah seperti hal yang kamu butuhkan.

Pandanglah masalah seperti kesempatan yang berkatnya, kamu mendapatkan banyak hal untuk membuat dirimu lebih baik lagi.

Pandanglah masalah seperti karunia yang berkatnya, kamu menjadi manusia yang berlipat-lipat kali lebih kuat dan lebih luas hatinya.

Sebuah Perjuangan dan Pertolongan Allah

Jika kali ini gagal, mungkin saya akan kesulitan untuk bangkit. Rasa lelah membuat saya melupakan bagaimana cara untuk semangat lagi. Hal-hal seperti itu terlintas dalam pikiran. Meskipun hanya sesaat.

Allah mengetahui batas mampu hamba bukan hanya sekadar ‘katanya’. Allah mengatakannya sendiri. Janji Allah tertulis jelas dalam Al-Qur’an. Saya percaya itu.

Ada kalanya kita ‘tak tahu cara untuk bangkit’ bukan karena tak memiliki alasan. Ada kalanya kita ‘kesulitan untuk bangkit’ bukan karena menyerah pada kehidupan. Hanya saja, terkadang ada ‘rasa lelah’ setelah melalui jalan yang cukup panjang. Hanya saja, terkadang otak dan pikiran ini ‘membutuhkan waktu’ untuk dipulihkan.

Saya ingin berhenti sejenak. Antara rasa lelah dan tanggung jawab harus diberi jeda. Jeda untuk memikirkan ulang tentang tujuan hidup. Jeda untuk mengumpulkan tenaga. Jeda untuk ‘membaca’ pesan Allah pada setiap kejadian.

Jeda hadir untuk memberikan ruang. Ruang untuk meluruskan niat. Ruang untuk melompat lebih tinggi. Ruang untuk menguatkan diri.

Pernahkah kamu berada pada kondisi dimana harus menguatkan diri sendiri bagaimanapun caranya? Sebab, saat itu kamu tahu dalam hal ini hanya Allah dan diri sendiri yang mampu menyembuhkan, menguatkan, dan meyakinkan.

Pernahkah kamu berada pada kondisi harus menjadi orang yang tegar dan kuat? Meskipun sebenarnya kamu tidak dalam keadaan baik-baik saja? Karena kamu tahu, hanya dengan cara itu kamu tetap hidup. Karena kamu tahu, kamulah yang bertanggung jawab atas dirimu sendiri.

Pernahkah kamu berada pada kondisi bingung dan mempertanyakan takdir yang terjadi? Kemudian akhirnya hanya bisa menangis? Menangis mengadu pada Allah. Mengadu bahwa diri ini tempatnya segala kelemahan. Mengadu bahwa hanya Allah yang mampu menguatkan. Karena kamu tahu, sebaiknya-baiknya pelampiasan dari rasa kecewa, gelisah, dan takut adalah menangis mengadu pada Allah. Menangis untuk melepaskan segala rasa yang membebani hati dan pikiran. Menangis untuk menyambut semangat baru. Menangis untuk dikuatkan.

Saya mengalami semua itu. Mungkin kamu pun mengalaminya juga. Tanpa kekuatan yang diberikan oleh-Nya, kita mungkin tak mampu melalui semua ini. Kita mungkin tak mampu menghadapi semuanya.

Allah tahu. Allah tahu apa yang hamba-Nya pikirkan. Allah mengetahui dengan baik apa yang hamba-Nya rasakan. Allah tahu dimana ambang batas kemampuan kita. Dimana batas kekuatan kita. 

Allah tahu bahwa ada hamba-Nya yang sedang kesulitan. Allah tahu bahwa ada hamba-Nya yang bersedih. Allah tahu bahwa kita membutuhkan pertolongan-Nya.

Saat itu, saya merasa begitu lelah. Saya bersedih karena nampaknya dunia enggan memberikan kesempatan. Karena nampaknya dunia tidak melihat sebuah perjuangan. Karena nampaknya dunia tidak peduli lagi arti kerja keras dan pantang menyerah. Karena nampaknya dunia tidak membutuhkan lagi ketulusan dan kejujuran.

Allah pun segera meluruskan pemikiran saya yang keliru. Allah pun segera memberikan pertolongan. Allah menunjukkan kekuasan-Nya. Allah memberikan jalan keluar.

Melalui jalan keluar ini, Allah menunjukkan bahwa usaha yang di awali dengan niat baik tak pernah sia-sia. Allah menunjukkan bahwa mengutamakan kebaikan bukan hal percuma. Allah menunjukkan bahwa kesabaran akan memberikan banyak hikmah. Allah menunjukkan bahwa Dia selalu membersamai. Allah menunjukkan niat yang baik akan menghasilkan kebaikan pula. Allah menunjukkan bahwa Dia mengetahui waktu yang paling ‘tepat’ bagi setiap hamba-Nya.

Saya hanya perlu meyakinkannya. Saya hanya perlu menunjukkan keteguhan hati seorang hamba untuk memperjuangkan kebaikan. Dengan cara meluruskan niat karena Allah semata, tak lelah melakukan kebaikan, tetap berdoa, tetap berbaik sangka, dan tetap bersabar.

Pesantren Anak Hari Pertama: Ketika Aku Rindu


Sabtu, 26 Mei 2018

Open recruitment di instagram untuk menjadi mentor kegiatan Pesantren Anak menarik perhatianku. Aku rindu dengan anak-anak. Mengapa aku rindu? Ya, rindu saja. Kurasa kata dan kalimat tak akan pernah cukup menggambarkan dengan jelas rasa rinduku ini. Terkadang rasa rindu sulit dideskripsikan. Yang kutahu, aku ingin segera bertemu.

Proses recruitmentnya tidak sulit. Aku hanya perlu mengisi formulir yang sudah disiapkan panitia. Kemudian, aku hanya perlu mengklik link yang sudah disediakan. Selesai. Aku mendaftar menjadi mentor kegiatan pesantren anak selama dua hari yaitu, 26 Mei dan 27 Mei 2018.

Aku memilih menjadi mentor untuk anak-anak rentang usia 10-15 tahun. Alasannya sederhana, karena ini adalah pengalaman pertama, maka aku ingin mengisinya dengan diskusi dan membaca situasi. Supaya aku memahami konsep kegiatan pesantren anak ini. Mungkin tahun depan kalau masih ada kesempatan, aku akan coba menjadi mentor anak rentang usia 5-6 tahun atau 6-10 tahun.

Saat itu sebenarnya aku belum tahu tugas mentor seperti apa. Tapi, kurasa menjadi mentor tak akan jauh dari kegiatan mendidik dan membimbing. Aku menyukai kegiatan seperti itu. Kata orang, bila kita suka, hal apapun akan menjadi mudah dan ringan. Oleh karena itu, aku berani mengambil tantangan ini.

Satu minggu sebelum kegiatan berlangsung, panitia mengadakan training mentor selama satu hari. Informasi singkat yang aku dapat di group whatsapp, training tersebut akan berisi materi tentang bagaimana cara menghadapi anak, tentang jobdesk mentor, dan teknis kegiatan pesantren anak. Aku menghadiri training mentor itu. Karena aku niat sekali mengikuti kegiatan ini, kurasa persiapannya pun harus totalitas.

Acara training menyenangkan. Sebab, selain diisi dengan materi-materi di atas, calon mentor juga diajarkan beberapa tepuk-tepukan. Kamu tahu tepuk-tepukan? Itu lho semacam tepuk semangat, tepuk salute, tepuk senyum, tepuk good job, dan lain sebagainya. Tepuk-tepukan berguna untuk mencairkan suasana.

Alhamdulillah, calon mentor berlatih tanpa malu dan semangat. Hal ini penting. Apa jadinya kelak jika mentor membimbing adik dengan cara malu-malu? Wah, si adik yang mengikuti pesantren anak bisa-bisa tak akan berani mencoba dan tampil ke depan.

Saat waktu luang pun aku menyempatkan diri menonton tepuk-tepukan penyemangat di youtube. Dan aku menemukan channel Gerakan Universitas Indonesia (UI) Mengajar. Bersyukur sekali menemukan channel seperti itu diwaktu yang tepat. Terima kasih, adik-adik kampus UI! Berkat video kalian, aku pun menjadi mudah berlatih. Berlatih juga tidak kalah penting dengan tampil berani. Coba saja bayangkan, apa jadinya bila mentor lupa lirik dan gerakan saat memberikan contoh ke adik-adik? Tidak jadi masalah sebenarnya. Tetapi, sepertinya akan menurunkan semangat adik-adik nanti.

Menuju Fakultas Hukum. Kegiatan kelompok C, 90% berada di Fakultas Hukum.

​Para mentor juga diberikan booklet. Di dalamnya terdapat rundown acara, teknis acara, dan materi yang akan disampaikan oleh mentor. Jadi, untuk jadi mentor sebenarnya tidak perlu keahlian khusus. Yang penting menyukai anak-anak dan mau belajar lagi. Paling tidak, kita membaca bookletnya. Supaya materi yang ingin panitia sampaikan tersampaikan ke anak.

Mentor bebas memilih cara untuk menyampaikan materi ke si anak. Yang penting, anak mengerti dan materi pun tersampaikan. Jangan lupa tepuk-tepukan supaya anak-anak semangat dan tidak bosan 😀

Tongkat yang ditempelkan bendera huruf ini bermanfaat untuk memudahkan adik-adik menemukan kelompoknya. Karena kami adalah kelompok C2, maka huruf yang tertulis pun C2 🙂

Hari Pertama Kegiatan Pesantren Anak 
Kegiatan ini berlangsung di Masjid Universitas Indonesia (MUI) dan Fakultas Hukum. Dilaksanakan sejak pukul 07.00 sampai dengan 15.00. Tetapi, kalau untuk panitia dan mentor, kami harus hadir lebih awal. Pukul 05.30 kami harus sudah sampai di sana.

Setelah proses registrasi pendaftaran selesai, anak-anak segera ditempatkan di kelompoknya. Di setiap kelompok ada dua kakak mentor. Dalam satu kelompok, akan berisikan anak dengan rentang 12-15 orang.

Nama kelompokku C2 dan terdapat 15 anak. Banyak ya? Hahaha

Di selasar ini dilakukan perkenalan antara kakak mentor dan peserta.

Perkenalan antara Kakak Mentor dan Peserta Pesantren Anak
Kegiatan hari pertama adalah berkenalan dalam kelompok, tilawah dan tadabbur Al-Qur’an, sholat zuhur berjama’ah, games sambung ayat, dan melukis goodie bag.

Awal perkenalan dengan anak-anak, aku hanya sendiri. Partnerku, Annida, sedang membantu bagian registrasi di depan masjid. Saat aku mulai memperkenalkan diri dan menanyakan identitas mereka, tatapan mereka membuatku lumayan kikuk hahaha aku memperkenalkan diri dan bertanya dengan wajah dan intonasi suara bersemangat, tetapi mereka tetap memasang wajah datar.

Lalu, mereka tersenyum atau tidak, Kak Shinta? Senyum. Tetapi, sedikit sekali. Wajah mereka ternyata cukup membuat aku ragu apakah sambutanku menarik atau membosankan hahaha namun, aku tetap meyakinkan diri bahwa mereka berekspresi seperti itu hanya belum terbiasa dan malu saja. Mereka belum merasa nyaman dan penuh waspada. Mereka pun sama sepertiku, masih melakukan pengamatan lingkungan dan orang-orang di sekitarnya. Kami masih sama-sama beradaptasi.

Suasana mulai mencair ketika aku melibatkan mereka untuk berbicara dan mengenali teman-teman barunya. Suasana juga mencair sejak aku mulai mendorong mereka agar berani berbicara dan berekspresi. Setelah itu, mereka sudah tak memasang wajah penuh waspada lagi. Mereka pun sudah mampu tersenyum dengan manis dan hangat. Senyuman mereka mampu membuat Kak Shinta tidak ragu lagi. Kak Shinta pun semakin yakin bahwa mereka akan bersenang-senang, nyaman, dan  mengambil banyak manfaat dari pesantren anak ini 😀 

Kakak Sulfani menyampaikan materi saat training bahwa untuk membuat anak-anak menuruti aturan yang kita buat, syarat utamanya hanya satu yaitu, membuat mereka percaya dan nyaman. Jika kedua hal itu berhasil dicapai, maka mudah sekali membuat anak-anak berpartisipasi dalam kegiatan dan patuh terhadap aturan yang dibuat bersama. 

Kata Kak Sulfani benar adanya. Setelah mereka nyaman denganku, apapun instruksi yang aku berikan, mereka lakukan dengan baik 🙂


Anak-anak ditugaskan untuk merangkai ayat. Kemarin, soalnya terdiri dari beberapa ayat dari surat yang berbeda.

Games Sambung Ayat Al-Qur’an
Bagi anak-anak, menjalin hubungan dengan sesama teman bukan hal yang sulit. Selama satu jam bersama teman-teman, ternyata mampu membuat hubungan anak-anak ini semakin dekat. Kok Kak Shinta tahu sih anak-anak ini semakin dekat? Tentu, tahu. Saat games sambung ayat, terlihat sekali anak-anak sudah tak canggung lagi berdekatan dengan teman-temannya. Mereka duduk melingkar dan segera menyelesaikan permainan. Apakah mereka menikmati kegiatan dan senang? Iya, gelak tawa dan wajah ceria tak dapat dipisahkan dari anak-anak di sepanjang pagi itu.

Melukis Goodie Bag

Melukis goodie back adalah kegiatan akhir di hari pertama. Panitia menyediakan satu set spidol kain dan mereka harus menggunakannya bersama-sama. Tujuan kegiatan ini adalah agar anak mau berbagi, bekerja sama, bersabar, dan percaya diri.

Karena anak diharuskan menggunakan spidol bersama-sama, mereka pun harus rela berbagi spidol. Aku dan partner sebenarnya sudah memberitahu bahwa menggunakannya harus ‘bergantian’.

Tetapi, kenyataannya, rasa egois mereka masih sangat tinggi. Mereka malah ‘berebutan’ untuk memilih warna spidol yang mereka sukai. Kalian tahu apa yang terjadi selanjutnya? Mereka kesulitan, karena tak dapat menggunakan warna lain selain warna yang mereka pegang itu. Padahal, gambar mereka memerlukan banyak warna.

Akhirnya, kami pun menginstruksikan kembagi bahwa harap meletakkan spidol di tengah tiap kali selesai menggunakan. Hal tersebut dilakukan supaya memudahkan mereka menggunakan spidol bergantian. Alhamdulillah, mereka segera patuh karena sudah merasakan sendiri ‘sulitnya’ menggunakan spidol bila tidak saling meminjamkan hahaha

Di dalam ruangan ini dilakukan sholat berjama’ah, melukis goodie bag, menonton film bersama, dan games rangking 1.


Gambar yang mereka hasilkan sangat bervariasi. Ternyata, hanya dengan instruksi sederhana seperti ‘gambarlah apapun yang berhubungan dengan Islam’, mampu menciptakan hasil karya yang sangat luar biasa. Beberapa kali mereka memang bertanya, namun hanya sekadar memastikan bahwa gambarnya tidak di luar tema. Sebagian besar anak di kelompokku memiliki ide kreatif dan inovatif. Hanya satu orang saja yang belum percaya diri dengan kemampuannya. Sebut saja namanya AT. AT Bahkan hampir menyerah dan tak mau menghasilkan sesuatu dari kemampuannya sendiri. Ia mengatakan,“Aku nggak bisa gambar kak! Gambarku jelek. Kakak aja yang  gambarin tasku ya.”

Disini peran mentor ditantang bagaimana meningkatkan motivasi si AT, namun tak terkesan memaksa.

Masya Allah, bagus ya? :’) anak yang melukis ini tidak senang banyak bicara. Namun, jika ditanya mampu menjawab dengan santun 😉

​​

Perbedaan zaman dulu dan sekarang terlihat, ya? Zaman dulu saat aku sekolah dasar, gambar yang mendominasi tak jauh dari dua buah gunung dan matahari yang berada di tengah :”’

Yang melukis ini usianya baru 9 tahun. Pemalu sekali, namun rajin tersenyum. Sekecil ini sudah tahu senyum itu sunnah. Hebat ya 🙂 Dan masih banyak gambar-gambar keren lainnya.

​Aku pun memutuskan untuk menggali kelebihannya. Beberapa kali aku menanyakan tentang hal yang disukainya. Ternyata AT pun belum tahu apa yang ia sukai.
Cara tersebut tak berhasil. Aku mencoba untuk mengajukan beberapa ide untuk kemudian bisa ia pilih. AT mau memilih. Memang membutuhkan waktu yang lumayan lama, tetapi Alhamdulillah AT tetap mau menggambar di goodie bag sesuai dengan kemampuannya. Tantangan tidak hanya sampai disana. Setelah gambarnya berhasil dilukis, AT tak juga menghargai hasil lukisannya. Ia lagi-lagi mengatakan kata-kata negatif seperti,“Tuh kan kak, gambar aku  jelek. Warnanya berantakan.” keluhnya dengan wajah tidak bersemangat.

Semua gambar itu bagus. Seni tidak ada yang jelek, dek. Gambar kamu ini  bagus loh. Coba itu warnanya dirapiin lagi. Masih ada putih-putihnga kan. Ayooooo semangattttt!” ujarku dengan semangat. Berharap  ia pun tak memasang wajah sedih lagi. Alhamdulillah, AT berhasil melukis sampai selesai 🙂

Alhamdulillah, bisa foto full team 😀

​**
Cerita di atas adalah hasil dari rasa rinduku pada anak-anak. Semua hal tentang anak menyentuh hatiku. Bahkan untuk hal yang menantang pun tak akan menyulitkanku. Aku menikmati semua aktivitas bersama anak-anak.

Bersama mereka, aku belajar agar menjadi orang yang lebih baik. Bagaimana mengubah pikiran negatif atas tindakan mereka yang ‘terkadang’ menguji kesabaran, menjadi pikiran positif. Pikiran positif yang membuat aku ingin tahu lebih banyak tentang karakter mereka.

Tindakan mereka yang seringkali menguji kesabaran, membuat aku menjadi orang yang benar-benar peduli. Bukan berpikir ‘kok karakter mereka kayak gitu sih’, melainkan ‘mengapa dia bersikap seperti itu’, ‘penyebab apa yang membuat ia seperti itu’. Berkat anak-anak, aku menjadi orang yang lebih peka dan lebih peduli.

Bersama mereka, aku dapat berbagi ilmu yang bermanfaat. Pada dasarnya, anak selalu suka dan penasaran hal baru. Mereka sangat senang berdiskusi dengan orang dewasa. Coba saja berbagi cerita. Maka, kamu harus siap-siap menerima banyak pertanyaan ajaib dan luar biasa.

Mereka juga pengingat yang baik. Tanpa perlu kita ingatkan berkali-kali, mereka akan mengingat semua pesan yang sudah kita sampaikan. Mengetahui fakta ini, membuatku lebih berhati-hati dalam memberikan informasi. Jangan sampai aku salah memberikan informasi. Maka, jika aku tak tahu, aku tak pernah sungkan untuk jujur kepada mereka. Lebih baik mengajak mereka mencari jawaban bersama-sama, daripada aku harus memberikan informasi yang tidak benar. Berkat anak-anak, aku memiliki kesempatan yang besar untuk berbagi ilmu yang bermanfaat dan bersikap hati-hati.

**

Beginilah rindu. Meski aku tak tahu mengapa aku rindu, nyatanya rasa rindu mampu membuatku menulis cerita sebanyak ini. Yang mungkin tulisan ini bagi orang lain biasa saja, namun bagiku tidak.

Ketika aku rindu, aku senang mengingatnya. Lalu, menuliskan segala hal tentangnya. Ketika aku rindu, aku ingin mengabadikan momen bersamanya. Jadi, jika kelak aku kembali rindu, aku bisa membacanya kembali. Entah nanti rindunya akan hilang atau malah akan bertambah, biarkan sajalah!

Apa Peran Orang Lain untuk Hidup Kita?

“Kemudahan hidup kita hari ini adalah berasal dari ketentuan-Nya, usaha diri sendiri, dan dari peran orang-orang di sekitar kita.”

“Lho, peran orang-orang di sekitar?  Iya, betul. Mau tahu buktinya tidak? Saya akan bercerita ya. Setiap pagi, ketika datang ke kampus, saya membiasakan diri untuk mengucapkan terima kasih kepada cleaning service yang bertugas membersihkan kelas. Saya menyadari, berkat bantuannya, saya bisa mengajar dengan nyaman tanpa harus melihat kelas yang kotor atau menghirup aroma yang tidak sedap.”

“Banyak peran orang lain dalam kehidupan yang kita tak sadari kehadirannya. Padahal, begitu banyak manfaat yang kita rasakan. Sebagai contoh, ketika Air conditioner kantor rusak, namun teknisi tak kunjung datang karena banyak pekerjaan yang harus ia kerjakan. Saat itu, kita baru menyadari pentingnya teknisi dalam hidup kita. Padahal, sudah bertahun-tahun kita merasakan sejuknya air conditioner di kantor, kan? Manusia memang begitu. Baru merasakan pentingnya seseorang ketika kita kehilangan. Oleh karena itu, baik-baiklah kepada orang-orang di sekeliling kita. Mereka sungguh berkontribusi banyak atas kemudahan hidup kita.”

Kalimat di atas adalah nasihat Pak Darmansyah dosen saat kuliah dulu. Pak Darmansyah senang sekali bercerita. Isi ceritanya selalu mengandung rasa syukur. Si bapak senang menulis dan memiliki blog  Kategori blognya bervariasi seperti, materi perkuliahan, lirik lagu yang paling beliau senangi, dan cerita tentang kehidupannya. Dari blognya, kita akan tahu beliau sangat menikmati dan mensyukuri kehidupannya.

Bapak Darmansyah banyak sekali memberikan nasihat tentang hidup melalui cerita. Saya senang mendengarkan beliau bercerita. Oleh karena itu, ketika beliau mengajar tak pernah sedikit pun perhatian saya teralihkan dengan hal yang lain. Yang paling berkesan dan tak pernah terlupakan adalah perkataan beliau yang saya tuliskan di atas. 

Setelah mendapat nasihat Bapak Darmansyah, saya mencoba memikirkan kembali hal-hal yang telah terjadi. Dan saya tersadar, ternyata ada banyak kemudahan yang kita rasakan karena bantuan orang lain. Contoh paling dekat dengan kita adalah ibu yang membuatkan sarapan di pagi hari. Sudah merasakan kemudahannya? Sudah bersyukur? Atau belum? Jika belum, coba bayangkan ibu tidak menyiapkan sarapan untuk kita di pagi hari. Apa yang terjadi? Kita harus membeli sarapan dulu. Kita harus merelakan beberapa menit untuk menunggu antrean di warung ibu nasi uduk. Karena menunggu antrean terlalu lama, kita pun terlambat untuk naik kereta. Terlambat beberapa detik naik kereta, itu artinya kita harus menunggu beberapa menit lagi.

Lalu, ketika kereta datang, kita harus naik kereta dalam keadaan penuh dan padat. Sekarang, sudah terasa perbedaan antara dibuatkan sarapan oleh ibu dan tidak dibuatkan? Faktanya, kehadiran ibu menyiapkan sarapan berperan penting dalam memudahkan aktivitas kita di pagi hari. Berkat ibu, kita tak perlu membeli sarapan. Tak perlu antre di warung ibu nasi uduk. Kita juga bisa segera tiba di stasiun kereta lebih cepat. Dan kita tidak perlu merasakan penuh dan padatnya kereta. Kenyataannya, seringkali kita tak menyadari peran penting ibu ini dalam kehidupan :’)

Banyak peran-peran orang lain juga luput dari ingatan.

Bagaimana peran abang gojek yang membantu kita agar sampai kantor dengan cepat? Bagaimana peran bapak satpam kantor yang setiap pagi tak pernah bosan menyapa kita dengan kalimat “selamat pagi”? Bagaimana peran rekan sejawat atau rekan kerja yang membuat pekerjaan kita menjadi lebih ringan? Bagaimana peran ibu dan bapak kantin yang begitu rajin memasak dan menyiapkan banyak makanan supaya kita bebas memilih? Bagaimana peran cleaning service yang membersihkan setiap ruangan sehingga kita merasa nyaman berada di dalamnya? Bagaimana peran office boy yang seringkali membantu membelikan kebutuhan tiap kali kita membutuhkan pertolongan? 

Mereka adalah orang-orang yang membantu kita dalam menjalani hari. Mereka adalah orang-orang yang memudahkan urusan kita. Mereka adalah orang-orang yang meringankan beban yang sedang kita pikul. Namun, karena terjadi setiap hari, kita merasa biasa saja. Kita merasa perbuatan mereka itu hal ‘wajar’ yang seharusnya memang dilakukan setiap orang. Hal wajar karena memang itu ‘tugasnya’. Tidak ada yang istimewa.

Semoga kita tak memiliki pemikiran seperti itu lagi. Kita tidak peka atas kebaikan orang lain dan terlalu sensitif atas kesalahan orang lain. Semoga kita tidak melakukan itu lagi. Nyatanya, jika diuraikan seperti pertanyaan di atas, sudah banyak sekali kita menerima kebaikan orang lain, kan? Sudah banyak sekali kita menerima manfaat dari peran-peran orang lain, kan? Sudah banyak sekali kemudahan yang kita rasakan, kan? Semoga kita sadar dan segera menghargai peran orang lain.

Menyadari peran orang lain banyak berkontribusi dalam kemudahan hidup, semoga kita semakin rendah hati. 

Menyadari peran orang lain banyak memberikan kelancaran hidup, semoga kita juga termotivasi untuk menjalani peran dengan baik setiap hari.

Bukan kita yang hebat, tetapi banyak orang di sekitar kita yang menjalani peran dengan baik dan membantu. Bukan kita yang hebat, tetapi Allah yang memudahkan urusan kita.

Berdamai dengan Diri Sendiri

“Mengapa kita berjalan pada arah yang tidak benar dahulu sebelum akhirnya berada pada jalan-Nya?” begitu katamu dengan wajah menunduk. Siapa pun akan tahu bahwa kamu sedang bersedih.

“Mengapa lingkungan kita berbeda dengan mereka? rasanya tidak adil. Mereka berada di lingkungan yang mendekatkan dirinya kepada-Nya. Sedangkan kita? kita tidak memiliki lingkungan seperti itu sejak dahulu. Bahkan saat ini.” kamu mengatakan dengan suara bergetar dan lirih.

“Ada banyak lisan dan laku keliru yang telah aku lakukan. Ada banyak kisah lalu yang sungguh tak ingin aku torehkan. Jika bisa, aku ingin terlahir kembali menjadi sosok yang baru.” kali ini, ia memandangku dengan tatapan tajam dan penuh harap.

“Mengapa kita harus mendewasa dahulu, hingga akhirnya baru kini mendapatkan kesadaran seperti ini? bagaimana masa-masa dahulu yang sudah dilewati? akankah termaafkan?”  dengan wajah masih dirundung duka ia memberikan pertanyaan lagi bertubi-tubi.

Dan aku menanggapi, 

“Kurasa, kita memiliki jalan hidup yang sama. Kita memang harus menemukan kekeliruan terlebih dahulu, hingga pada akhirnya mendapatkan kebenaran. Kita memang harus menemukan jalan yang tidak tepat dahulu, hingga pada akhirnya menemukan jalan yang tepat. Sungguh tak apa. Mungkin, segala kekeliruan dan ketidaktepatan itulah yang membawa hidayah datang kepada kita.  Daripada menyesali dan menolak masa lalu, bukankah seharusnya kita mensyukuri hidayah itu?” aku berusaha meyakinkannya bahwa tak masalah bila kita berbuat salah lalu memperbaikinya. Sebab, selalu ada kesempatan untuk orang-orang yang ingin berubah menjadi lebih baik.

“Kurasa, tidak adil bila kita membandingkan lingkungan orang lain dengan lingkungan kita ini. Dimana pun lingkungan kita berada, bukankah ini adalah sesuai ketentuan-Nya? Bukankah ketentuan-Nya pasti yang terbaik untuk kita? Tidak perlu menyesali yang sudah terjadi. Kisah lalu dan saat ini, keduanya adalah milik kita. Peluk erat kisah lalu dan ambil pelajarannya. Peluk erat saat ini dengan berusaha yang terbaik dijalan-Nya. Bisa jadi, perubahan diri menjadi lebih baik, berguna sebagai penerang untuk lingkungan kita saat ini, kan? Yuk, kita berbaik sangka saja.” begitu kataku. Kuharap ia dapat memeluk semua kisah lalu dengan keikhlasan.

“Selalu ada alasan mengapa suatu peristiwa terjadi. Kisah-kisah lalu merupakan anak-anak tangga yang terus meninggi dan menuju sebuah tujuan. Insya Allah, tujuan kita ridho Allah, kan? Tiap anak tangganya memberikan ujian dan pelajaran. Jadi, keadaan kita saat ini yang jauh lebih baik, lebih kuat, lebih sabar, lebih bijaksana, dan lebih-lebih lainnya tidak lepas dari kontribusi kisah-kisah lalu itu. Tanpanya, kurasa kita tidak akan menjadi wanita setangguh ini.” aku menyemangatinya. Semoga ia memaafkan dirinya sendiri dan bersegera berlari lagi.

Entahlah. Namun, satu yang pasti, manusia memiliki jalan masing-masing. Kita tidak tahu betul kehidupan orang lain. Kita hanya tahu jelas kehidupan diri sendiri. Kamu harus tahu, yang mungkin saja terlihat berada di lingkungan dekat dengan-Nya, bisa jadi kurang menghayati dan mensyukuri karunia tersebut. Bisa jadi, ia menganggap karunia itu biasa saja. Mungkin baginya, kegiatan-kegiatan Islami merupakan rutinitas biasa yang dengan mudah didapatkan tanpa perjuangan. Jadi, ya jalani saja tanpa ada rasa syukur yang sangat. Sedangkan kita, Alhamdulillah Allah menggerakkan hati untuk menjemput lingkungan seperti itu. Langkah kita juga diringankan Allah untuk mendekati apa-apa yang disukai-Nya. Hal tersebut patut untuk disyukuri.”

“Semoga, segala usaha ini menjadi nilai tambah dan memberatkan timbangan amal kebaikan kita. Jadi, nikmati saja yuk jalan kehidupan ini? Setiap orang memiliki jalan dan ujian yang berbeda. Tak perlu risau. Allah Maha Pengampun. Kita juga harus memaafkan diri sendiri. Dan tak lupa untuk berbaik sangka dan beramal saleh. Semangat, ya?!” jawaban terakhir atas pertanyaannya aku akhiri dengan memberikan motivasi. Semoga ia bersemangat lagi. Semoga ia dapat berdamai dengan dirinya sendiri.

***

Skenario Allah memang penuh misteri. Namun, jangan sampai kita menyesali apa-apa yang terjadi. Merenungi dan introspeksi diri bagus sekali. Tetapi, jangan sampai menghambat semangat ini untuk terus memperbaiki diri.

Berbuat salah sungguh tak apa. Keliru pun wajar terjadi. Masa lalu dan masa kini adalah milik dirimu sendiri. Jangan sampai pilih kasih. Sebab, dirimu yang hebat saat ini adalah hasil dari masa lalu yang telah dipelajari dan diperbaiki. Semangat 🙂

 

Hidup adalah Perjuangan, kan?

Jalan yang sedang ditempuh mengandung banyak misteri.

Sudah sejak beberapa tahun yang lalu, aku memutuskan untuk tidak mengutuki dan menyalahkan apapun yang terjadi. Mengutuki saja tak boleh, apalagi menyalahkan. Kedua hal itu benar-benar tidak boleh dilakukan. Karena tidak akan membuat perasaanku menjadi lebih baik. Dan tidak membuat keadaan menjadi lebih baik.

Aku berjanji pada diriku sendiri, seberapa gelap jalan di depan sana, akan tetap kulalui. Mudah saja, aku hanya perlu satu buah senter untuk menerangi jalan setapak di depan sana. Bila tak ada senter, aku akan menggunakan indera peraba untuk merasakan lingkungan sekitar, supaya bisa membayangkan medan seperti apa yang ada di depan sana. Alih-alih menyerah, aku memilih untuk mencoba. Apapun caranya.

Seberapa membingungkan arah di depan sana, aku akan tetap melangkahkan kaki. Jika tak ada peta ataupun seseorang yang dapat kutanya, maka lebih baik aku coba semua arah itu. Jika aku salah memilih arah, maka aku bisa memutar arah dan mencoba arah yang lain. Di antara banyak arah, aku yakin ada satu arah yang tepat.

Jika di depan sana ada banyak kerikil dan batu menghalangi langkahku. Jika harus kulewati jalanan terjal dan berliku. Jika tak ada satu pun alas kali yang bisa kupakai. Jika kala itu matahari benar-benar terik. Jika memang hanya jalan itu tempat menuju, maka aku akan tetap berlari. Segala rasa lelah, kurasa hanya sementara. Aku hanya perlu meregangkan otot dan mengatur pernapasanku. Untuk rasa sakit yang akan dirasakan, kurasa itu hanyalah sebuah rasa seperti rasa-rasa lainnya. Rasa itu akan berlalu seiring berjalannya waktu. Bila batu dan kerikil melukai kaki, kurasa itu hanyalah sebuah luka seperti luka-luka lainnya. Luka itu akan sembuh seiring waktu berlalu. Waktu akan menyembuhkan segalanya, kan?

Aku hanya perlu berlapang dada menjalani semuanya. Aku hanya perlu terus berusaha. Mengerahkan segala upaya. Membersamai proses dengan hati yang tulus. Memeluk erat segala kesulitan. Menerima dengan ikhlas segala kegagalan. Menjalani peran sebaik-baiknya hamba. Aku hanya perlu berbaik sangka dengan seluruh jalan-Mu. Lalu berusaha. Aku harus yakin, setiap kejadian akan membuatku semakin kuat dan semakin tangguh.

**

Jalan yang ditempuh mengandung banyak misteri.

Aku berjanji pada diriku sendiri. Dalam menjalani perjalanan yang tak mudah, aku tak boleh melupakan orang lain. Sesulit apapun perjalanan, hak orang lain tetap harus dipenuhi. Bahkan jika mereka mau, mari kita menghadapi ujian itu bersama. Seberapa berat ujian itu, kurasa akan lebih ringan jika kita berjuang bersama-sama. Semangat kita akan berlipat-lipat ganda. Tenaga kita akan berlipat-lipat ganda pula. Saling meringankan, saling membantu, saling menguatkan, dan saling menopang. Masih adakah hal-hal yang membuat kita ragu dan khawatir?

**

Semakin jauh kumelangkah, tak juga kutemukan kemudahan. Bahkan lebih sering kutemukan kesulitan dan kegagalan. Tingkatan kesulitan pun semakin bertambah. Hati kecilku pun mengatakan, “Kehidupan ini benar-benar misteri. Usaha yang totalitas pun tak menjamin hasil yang menyenangkan. Berbaik sangka setiap waktu pun tak menjamin hasil sesuai harapan. Tetapi, bagaimana pun misteri kehidupan ini, aku yakin Allah akan mencatat seluruh perjuangan kita. Bahkan untuk niat baik yang hanya terlintas dalam pikiran semata. Allah Maha Tahu. Allah Maha Adil. Lelah karena Allah Insya Allah berkah.”

Masih sama seperti beberapa tahun yang lalu, aku berjanji pada diriku sendiri. Betapa sulit kehidupan memberatkan langkah kakiku, mempersempit jalan di depanku, menggagalkan usahaku, menjatuhkan diriku, aku akan bangkit. Menyusun rencana lagi. Mencoba lagi. Dan berlari lagi. Hidup adalah perjuangan, kan?

Hakikat Rezeki: Rezeki Berbeda dengan Uang

Jika saja pemahaman tentang rezeki seperti foto di atas, maka hati siapapun tentu akan merasa tenang dan penuh syukur. 

Rezeki tidak sama dengan kepemilikan. 

Jika kita menganggap rezeki adalah apa-apa yang dimiliki, maka nampaknya kita akan merasa selalu kurang. Karena ada banyak hal yang kita inginkan namun tak dapat dimiliki. Apalagi sifat dasar manusia adalah “tidak mudah merasa puas” atas apa yang dimiliki. Pada akhirnya, kita akan menjadi orang yang tak pandai bersyukur.

Rezeki adalah yang bisa kita nikmati dan manfaatkan.

Semua hal yang telah kita nikmati dan manfaatkan adalah rezeki. Kalau seperti itu, artinya rezeki sangat dekat dengan kehidupan kita. Kita bisa berteduh di dalam rumah, sehingga tidak kehujanan atau kepanasan. Kita bisa tidur di kasur yang nyaman dan hangat. Kita bisa mandi menggunakan sabun dan sampo yang super wangi. Kita bisa minum sepuasnya ketika haus. Kita juga bisa makan dengan nasi dan berbagai lauk pauk. Kita bisa baca buku sambil memakan camilan. Dan masih banyak kenikmatan lainnya, yang tak mungkin dapat diingat satu persatu 🙂 Jadi, jangan lagi berpikir sempit bahwa rezeki itu tentang uang semata ya? Bahkan, uang yang kita tabung itu belum tentu rezeki kita loh.

Rezeki Berbeda dengan Uang atau Penghasilan

Uang adalah salah satu dari banyaknya rezeki. Dengan syarat, uang tersebut sudah kita nikmati dan manfaatkan. Jika selama ini menganggap rezeki adalah uang semata, kita sangat keliru. Menganggap barang dan fasilitas yang dapat dibeli dengan uang adalah rezeki juga keliru.

Banyak orang salah memahami tentang rezeki. Sehingga yang terjadi timbulnya rasa tidak bersyukur. Seringkali manusia memiliki banyak keinginan, namun belum mampu membeli dan memilikinya. Akhirnya, merasa kecewa dan sedih. Merasa Allah tidak adil dan merasa tidak memiliki apa-apa. Apalagi jika sedang diuji masalah keuangan. Mudah sekali mengeluh bahwa rezeki mampet. Adakah rezeki mampet? Tidak ada. Setiap rezeki manusia telah Allah jamin agar hidup dengan baik.

Jika saja kita menyadari, sudah begitu banyak hal telah kita nikmati dan manfaatkan. Jika saja kita menyadari, sudah begitu banyak aktivitas yang telah kita lakukan. Kita akan merasa malu. Sudah berapa lama kita hidup di dunia ini? Selama itu pula kita telah melakukan banyak hal, menikmati, dan memanfaatkan banyak karunia Allah. Betapa banyak rezeki telah Allah curahkan untuk kita, kan?

**

Jika rezeki telah Allah jamin, mengapa kita harus berusaha?

Jika kita tidak berusaha, apakah rezeki tetap turun untuk manusia?

Berusaha atau tidak, rezeki akan tetap turun. Jika berusaha dengan cara halal, maka rezekinya halal dan mendapat pahala. Kelak, di akhirat nanti, pahala itu akan dihisab. Pahala akan memperberat timbangan amal kebaikan kita. Jika berusaha dengan cara tidak halal, rezeki yang didapat pun menjadi tidak halal. Kelak, di akhirat nanti, dosa itu akan dihisab. Dosa akan memperberat timbangan amal buruk kita.

Lantas, bagaimana yang tidak berusaha? Rezeki tetap kita dapatkan. Namun, rezeki itu tidak akan dihisab. Sayang sekali, bukan? Waktu terlewat begitu saja tanpa berarti apa-apa dan tidak mendapatkan pahala.

Lalu, untuk apa tetap berusaha padahal rezeki tetap akan turun? Jawabannya, supaya kita melakukan banyak kebaikan dan mendapat pahala. Bukankah Allah menciptakan manusia di dunia untuk ibadah dan mendapatkan pahala? Jika kita memahami betul hakikat Allah menciptakan manusia, tak akan ada lagi kebingungan dan keraguan mengapa manusia harus tetap berusaha meskipun rezeki sudah pasti didapatkan.

Karena Allah sudah menjamin rezeki manusia, kita tak perlu lagi mengkhawatirkannya. Kita hanya perlu berbaik sangka dan melakukan peran dengan baik. Dan jangan lupa  untuk bersyukur 🙂

**

Materi di atas disampaikan oleh Ustadz Weemar Aditya. Semoga bermanfaat ya, teman-teman. Semoga pemahaman kita tentang rezeki menjadi lebih baik. Aamiin