Definisi Bahagia

Sumber foto: http://www.timsr.ca

Definisi bahagia untukku adalah ketika mampu melakukan banyak kebaikan untuk diri sendiri dan juga orang lain. Dan berharap Allah meridainya.

Apa definisi bahagia untukmu?

Hal yang paling mudah memang melakukan semua hal demi diri sendiri. Kamu tidak perlu memikirkan orang lain. Kamu tidak perlu berlelah-lelah memposisikan diri menjadi orang lain. Dan kamu juga tidak perlu berkoordinasi dengan orang lain untuk kebaikan bersama.

Sebaliknya, hidup berdampingan dengan orang lain itu sulit. Kamu tidak boleh memutuskan sesuatu tanpa memikirkan keadaan orang lain. Kamu tidak boleh berbuat sesuai keinginanmu. Kamu harus mementingan kepentingan orang banyak dibanding kepentingan pribadi. Kamu juga harus memandang hal dengan luas dan menggunakan banyak kaca mata.

Kamu mau menjalani hidup yang seperti apa? Yang paling mudah atau yang paling sulit?

Aku harap kamu tidak memilih pilihan pertama. Sayang banget. Kita sama-sama tahu kalau masuk surga itu memang tidak mudah. Allah menyediakan surga untuk manusia yang membuktikannya. Dengan apa? Dengan syukur dan sabar. Supaya apa? Supaya jadi orang yang bertakwa. Sulit? Ya tidak, kalau kita cinta Allah semua akan terasa mudah. Kalau ada yang jatuh cinta sama kita aja, maunya dibuktiin, kan? Sama. Allah juga mau dibuktiin. Kita benar-benar cinta sama Allah atau tidak, nih.

Melakukan semua hal demi diri sendiri memang “terasa”nya mudah. Padahal, kalau mau memeriksa keadaan hati, hati kita tidak benar-benar bahagia. Coba periksa saja. Pasti kita tidak pernah menemukan kepuasan dan ketenangan hati. Akibat sikap egois ini, tingkat keegoisan kita akan semakin bertambah. Segala keinginan jadi harus dituruti. Semua harapan pun harus segera terealisasi. Kalau tidak, kita akan stres dan merasa jadi orang paling menderita di dunia. Pokoknya, yang sengsara hanya kita saja. Orang lain di luar sana hidupnya mudah dan baik-baik saja.

Padahal, di luar sana yang hidup sulit dan susah banyak banget, lho. Bukan kita aja. Mereka ingin hidup begini, eh Allah malah memberikan kehidupan yang begitu.

Suka lihat tidak orang-orang yang minta-minta di depan masjid saat kita salat eid? Kita hidup lebih baik dari mereka. Buktinya kita masih bisa makan ketupat lengkap dengan lauk pauknya, kan? Bahkan, kita masih mampu membeli baju lebaran. Kita jauh lebih beruntung dari mereka.

Atau seseorang yang memiliki banyak penyakit. Ia harus melakukan pengobatan di rumah sakit secara berkala. Entah untuk cuci darah, pemeriksaan laboratorium, pemeriksaan rutin ke dokter spesialis setiap bulan, atau melakukan fisioterapi setiap dua kali sehari. Hidupnya hampir selalu di rumah sakit. Ini kejadian nyata. Ada banyak pasienku memiliki jadwal padat di rumah sakit setiap harinya.

Jadi, kalau satu keinginan saja tidak terpenuhi mampu membuat kita menderita, kayaknya terlalu berlebihan. Mungkin, rasa syukur kita memang perlu diperiksa lagi :’)

Melakukan semua hal demi kebaikan bersama bukan berarti tidak memikirkan diri sendiri, lho. Kita berhak dan layak bahagia. Tetapi, jangan lupa. Apa yang kita lakukan akan berdampak pada sekitar. Entah lingkungan atau manusianya. Kebahagiaan kita tidak boleh menjadi sebab kesengsaraan bagi orang lain.

Bagaimana kita tahu kebahagiaan kita tidak akan menyengsarakan orang lain? Caranya, amati keadaan orang lain dan berpikir dengan banyak kaca mata. Serta sadari bahwa di dunia ini kita tidak hidup sendiri.

Kita bisa berpikir dan merasa. Seperti, memikirkan bagaimana keadaan orang lain atas pilihan yang diambil. Dan merasakan bagaimana perasaan orang lain atas keputusan yang dibuat. Lalu, kedua hal itu kita pastikan dengan bertanya apakah ia berkenan atas pilihan dan keputusan kita.

Lagi-lagi ribet, ya? Memang. Tetapi, hidup bersama memang seperti ini. Ada banyak sekali manfaatnya. Dua manfaat yang paling terasa adalah mencegah miskomunikasi dan terjalin hubungan yang baik. Dan ingat-ingat lagi tentang cara masuk ke surga. Surga tidak akan didapat dengan “cuma-cuma” tanpa perjuangan, kan?

Definisi bahagia setiap orang pasti beragam. Kita boleh membuat definisi apa pun. Namun, aku harap semoga kita mau menjadi bijaksana. Bijaksana memikirkan segala hal menjadi lebih luas. Seperti, untuk apa dan untuk siapa kita hidup di dunia. Di mana kah tujuan akhir kehidupan kita. Bagaimana membuat hati tenang. Dan bagaimana cara berbahagia bersama-sama.

Rasulullah manusia paling sempurna saja tidak egois. Rasulullah memikirkan dan membutuhkan kehadiran para sahabat untuk mendapatkan Rida-Nya, apalagi kita?

Advertisements

Ia Menangis

Menangis adalah hak setiap manusia. Selama kamu hidup, artinya selama itu pula kamu boleh menangis.

Menangis tiada beda dengan tertawa. Menangis tiada beda dengan tersenyum. Menangis tiada beda dengan cemberut. Kita senang, maka tertawa. Kita bahagia, maka tersenyum. Kita kecewa, maka cemberut. Kita bersedih, maka menangis. Kita berhak mengekspresikan apapun sesuai rasa yang sedang dialami. Kita berhak jujur pada perasaan sendiri.

Menangis bagi orang dewasa selalu memiliki arti yang berbeda. Ia tidak sekadar menangis karena merasa kecewa. Ia tidak sekadar menangis karena merasa sedih. Ia tidak sekadar menangis karena merasa marah. Menangis bukan hanya sekadar bukti nyata bahwa seseorang telah mengekspresikan ‘rasanya’. Tangisannya memiliki arti yang lebih dalam dari itu.

Orang dewasa tentu memiliki kendali lebih baik terhadap dirinya sendiri. Ia lebih mudah mengontrol dirinya untuk setiap kondisi. Ia tahu bagaimana cara memegang kendali atas dirinya. Ia tak akan menangis bila dikecewakan dengan orang lain. Ia tak akan menangis bila mendapatkan hal-hal yang tidak sesuai dengan keinginan. Ia tak akan menangis bila tidak diperlakukan dengan baik.

Tahukah kamu hal apa yang membuat orang dewasa menangis?

Biasanya, hal yang membuat menangis adalah ketidaktenangan pada hatinya. Ketika ia tidak tenang terhadap keputusan yang dibuat oleh diri sendiri. Apakah keputusan ini dibuat benar-benar berharap Ridho-Nya? Atau hanya berdasarkan ukuran-ukuran menurut dirinya semata?

Ia sadar, pangkal ketidaktenangannya itu ternyata karena ada kealpaan yang ia lakukan. Ukuran-ukuran yang dibuat untuk membuat keputusan ternyata tidak sepenuhnya diserahkan pada Allah semata.

Ia masih berharap pada yang lain. Ia berharap pada manusia. Ia berharap manusia melakukan ini dan itu. Ia berharap, paling tidak ada satu manusia mengerti dirinya. Ia menyadari kekeliruannya. Ia menangis.

Tahukah kamu hal apa yang membuat orang dewasa menangis?

Pada akhirnya, yang membuat orang dewasa menangis bukanlah ketika ia mengekspresikan ‘rasa sedihnya’. Bukanlah ketika ia belum mampu berdamai dengan dirinya sendiri. Bukanlah ketika ia belum mampu berdamai dengan orang lain. Namun, ketika menyadari kesalahannya. Ia sadar bahwa telah lupa petunjuk-Nya. Ia lupa, sebaik-baiknya tempat berharap memang hanya Allah semata. Berharap pada yang lain sudah pasti akan memberikan rasa kecewa. Ia menyadari kesalahannya dan menyesal. Ia menangis.

Lingkungan yang Dirindukan

Image source: Pinterest


Di sekolah.

Pagi yang cerah menjadi semakin lengkap ketika ada yang menyapa. Apalagi disapa dengan kalimat “Assalammu’alaikum”. Rasanya dalam sekejap semangat ini menjadi penuh terisi. Dan siap menjalani hari.

Sapa tak hanya sampai disitu. Namun, akan berlanjut ke ruangan berikutnya, berikutnya, dan berikutnya. Sampai akhirnya saya tiba di kelas. Para guru akan saling menyapa tiap kali bertemu. Indahnya kebersamaan.

Setelah sampai di dalam kelas, saya selalu disambut dengan lantunan ayat-ayat Al-Qur’an yang berasal dari televisi yang terpasang di dinding atas itu.

Dahulu, biasanya setelah sampai kelas saya langsung sarapan nasi uduk yang dibeli saat perjalanan ke sekolah. Dan juga ditemani satu buah susu kotak coklat. Mendapat rezeki di pagi hari berupa sarapan yang enak sambil mendengarkan lantunan ayat-ayat Al-Qur’an membuat saya tersenyum sepanjang pagi. Pagi yang begitu membuat hati damai. Dan kemudian berpikir, masih bisa merasakan pagi yang seperti ini, pantaskah saya lupa bersyukur?

Budaya saling memberi sapa dengan mengucapkan salam memang dibiasakan oleh pihak sekolah. Jadi, guru-guru harus melakukannya. Selain bermanfaat untuk diri sendiri, saling memberi sapa juga sebagai upaya mencontohkan anak-anak. Supaya mereka terbiasa mengucapkan salam tiap kali bertemu guru dan teman.

Sebelum memulai kegiatan belajar mengajar, anak-anak selalu membaca juz 30 dan menyebutkan asma’ul husna bersama-sama. Kegiatan itu memang bertujuan supaya anak-anak   dekat dengan Al-Qur’an dan terbiasa mengingat Allah. Dan supaya cepat hafal juga hehe ternyata, kegiatan tersebut juga berguna untuk bapak dan ibu guru. Kami jadi diingatkan bahwa menjalani hari harus di awali dengan mengingat Allah. Semua perbuatan sehari-hari memang dalam rangka mencari ridho Allah. Supaya kami tidak mengeluh dan terpaksa melakukan kegiatan sehari-hari.

Para guru juga sering mendapatkan siraman rohani dari ceramah yang di sampaikan oleh sesama rekan atau ustadz dari luar sekolah. Seingat saya, biasanya sih satu bulan sekali. Saya sangat bersyukur dengan adanya program ini. Guru hanya manusia biasa yang seringkali emosinya tidak stabil dan pikiran sedang tidak jernih. Jadi, guru butuh diingatkan. Supaya pikirannya jernih kembali dan emosinya terkendali.

Yang tak akan pernah di lupa, di sekolah, guru-guru juga saling berlomba-lomba berbuat baik. Tiap kali adzan berkumandang, lokasi yang paling banyak didatangi adalah tempat wudhu. Padahal, makan siang sudah tersedia dan boleh diambil. Tetapi, tempat wudhu dan mushola lebih diminati dari pada makan siang. Melihat pemandangan seperti itu membuat saya terharu dan introspeksi diri. Terharu karena rasa bahagia melihat orang-orang semangat beribadah. Introspeksi diri untuk mengukur diri sudah disiplinkah saya sholat tepat waktu seperti mereka.

Saat bulan ramadhan, waktu luang juga digunakan para guru untuk membaca Al-Qur’an. Tiap kali saya datang ke ruangan saat istirahat sekolah, selalu saja ada satu atau dua guru sedang membaca Al-Qur’an di sudut ruangan. Melihat semangat mereka membaca Al-Qur’an, membuat saya semangat membaca Al-Qur’an juga

Cerita di atas adalah gambaran bahwa kebiasan baik teman-teman saya di sekolah mampu memberi pengaruh baik kepada saya. Dengan mengamati mereka, membuat saya bercermin ribuan kali. Bagaimana hubungan saya dengan Allah, apa yang saya perbuat untuk Allah, sudah sedisplin apa saya beribadah, dan sebagainya. Pertanyaan-pertanyaan seperti itu memenuhi pikiran saya. Pertanyaan tersebut membuat saya sadar dan menilai diri. Yang pada akhirnya, saya semangat untuk memperbaiki diri.

**

Lingkungan benar-benar mempengaruhi kebiasaan kita. Lingkungan yang di dalamnya penuh dengan aktivitas kebaikan, akan menular pada kita. Rasa-rasanya malu sekali bila teman-teman semangat beribadah, tetapi kita malah sibuk mengurusi kesibukan dunia. Tanpa sadar, yang awalnya mungkin saja kita belum sekonsisten itu beribadah, bila lingkungan penuh dengan orang-orang yang konsisten, kita akan konsisten pula melakukan ibadah itu.

Lingkungan yang dirindukan. Saya menyebutnya seperti itu. Setelah tidak berada disana lagi, saya menyadari bahwa tak banyak lingkungan baik seperti itu. Lingkungan yang setiap aktivitasnya membuat kita mengingat Allah. Lingkungan yang di dalamnya berisi orang-orang yang terus berusaha mendekat pada Allah. Dan akhirnya, saya pun semangat untuk terus mengingat dan mendekat pada Allah.

Maka, jika saat ini kamu berada pada lingkungan seperti itu, bersyukurlah. Tidak semua orang mendapatkan karunia seperti kamu. Dan ada beberapa orang yang sangat berharap berada di lingkungan seperti itu.

**

Allah, hati ini mudah sekali ternodai.

Pikiran ini mudah sekali keruh.

Perbuatan ini mudah sekali keliru.

Lisan ini mudah sekali mengatakan hal tak berguna.

Maka, tempatkanlah aku pada lingkungan seperti itu.

Lingkungan yang setiap sudutnya mengingatkanku pada-Mu.

Lingkungan yang di dalamnya terdapat manusia-manusia yang berusaha berjalan di jalan-Mu.

Jika engkau belum berkehendak,

Maka, bantulah aku.

Supaya tak pernah lupa membersihkan hati  ini.

Supaya mudah membaca peringatan-Mu.

Supaya mudah menerima petunjuk-Mu.

Agar aku terus memperbaiki laku dan lisanku.

Hal Sederhana untuk Proses Pembelajaran Anak: Bicara dan Berbagi

​Sebenarnya ada hal sederhana yang dapat kita lakukan untuk proses pembelajaran anak. Kita hanya perlu banyak bicara dan berbagi informasi kepadanya. Lalu, berikan kepercayaan bahwa anak mampu melakukannya sendiri. Kita harus membedakan rasa sayang untuk memenuhi kebutuhan kita atau rasa sayang untuk memenuhi kebutuhan anak.

Rasa sayang untuk memenuhi kebutuhan kita adalah ketika kita melakukan semua hal yang seharusnya anak lakukan sendiri. Alasannya satu, tidak tega. Tidak tega melihat anak sedikit kesulitan. Tidak tega melihat anak sedikit kelelahan. Padahal, kesulitan dan kelelahan saat proses pembelajaran adalah hal yang normal. Hal tersebut menunjukkan anak sedang berusaha.

Rasa sayang untuk memenuhi kebutuhan anak adalah ketika kita memberikan kesempatan anak untuk berusaha. Kesempatan untuk menggunakan kemampuannya, untuk percaya bahwa dirinya mampu, dan kesempatan untuk mengembangkan dan mempelajari suatu keterampilan. Lelah dan kesulitan adalah bagian dari proses. Tidak ada keberhasilan yang didapatkan dari proses yang mudah dan tantangan yang sedikit.

Memandirikan anak bukan berarti kita tidak boleh membantunya. Kita boleh membantu memberikan contoh di awal. Kita juga boleh menyemangati ketika anak mulai lelah berusaha. Namun, yang tak boleh dilupa, kita tidak boleh menutup kesempatan agar anak mencoba. Percayalah, ia akan senang dan bangga ketika berhasil menyelesaikan dengan kemampuannya sendiri.

Hari ini, saya mengajak Satria (usia: 4 tahun 5 bulan) naik kereta. Kegiatan hari ini adalah dalam rangka menepati janji. Sudah sejak lama satria menanti untuk menaiki kereta kesayangannya. Saya menyambut keinginannya dengan semangat. Di stasiun nanti, ada beberapa aktivitas yang ingin saya berikan kepadanya. Saya ingin Satria mencoba seluruh aktivitas dengan mandiri. Namun,  saya tetap akan mendampingi. Beberapa aktivitas yang akan dilakukan adalah mengajak Satria antre tiket bersama, memperkenalkan tiket kereta, mempercayakan Satria untuk mendorong tap gate sendiri, memperkenalkan tempat duduk untuk menunggu kereta, memperkenalkan rambu-rambu di stasiun yang harus ditaati, hingga memperkenalkan tata cara menjadi penumpang yang baik di dalam stasiun dan kereta api.


“Kok ribet banget sih anak kecil diajarkan hal-hal seperti itu?”

“Emangnya anak ngerti?”

Tenang, semua aktivitas itu tidak dilakukan seperti ujian nasional kok hehehe saya akan mengajak Satria ngobrol dan mengarahkannya saja. Lalu, disisipkan pembelajaran di dalamnya dengan cara-cara menyenangkan. Biasanya sih cara saya seperti ini:

“Dek, kalau di kereta boleh lari-larian nggak?”

“Nggak boleh.” jawabnya singkat.

“Lho, kenapa nggak boleh? Kan gerbongnya panjang dek. Luas lho untuk lari-larian.” saya menanggapi sambil sedikit menguji nalarnya dan memengaruhi.”

“Nanti jatuh. Kan keretanya goyang-goyang, mbak.” jawabnya polos.

“Iya, betuuuuul. Adek pintar yaaaaa. Bahaya dek kalo lari-larian disini. Nanti kamu jatuh terus terluka deh. Terus terus, kita boleh lari-larian dimana dek?” lagi-lagi saya bertanya untuk mengetahui sejauh mana si adek ini mengerti.”

“Di halaman rumah aja atau di lapangan bola, mbak.” Satria menjawab dengan senyum ceria.

“Iya betuuuuul. Yeay, adek pintar ya. Tapi, kalo ada yang main bola di lapangan, jangan lari disana ya dek. Nanti kamu kena bola. Lagi pula, mengganggu kakak-kakak yang main bola deeek.” aku memberikan sedikit penjelasan.


Kira-kira seperti itu yang biasa saya lakukan untuk menyisipkan pesan moral ke Satria hehe berikan saja penjelasan singkat dengan bahasa yang dapat dimengerti anak. Tidak perlu mengkhawatirkan anak akan mengerti atau tidak. Anak Insya Allah mengerti. Wajahnya memang terlihat polos. Seakan-akan tidak mengerti. Namun percayalah, otaknya merekam semua yang kita katakan.

Mengobrol dengan anak kecil selalu bermanfaat dan tidak akan pernah merugi. Beberapa manfaat yang saya rasakan dan terlihat jelas pada Satria adalah semakin bertambah kosa kata dan semakin tajam konsep berpikirnya. Satria juga memiliki rasa ingin tahu yang tinggi, tidak mudah menyerah, dan pandai bercerita. Jadi, yuk buang jauh-jauh rasa malas dan hidupkan kebiasaan mengobrol pada anak 🙂

Hal yang paling membahayakan adalah bukan karena seseorang tidak pintar. Namun, seseorang yang tidak mau belajar, tidak mau berusaha, dan dengan mudahnya menjawab pertanyaan dengan kalimat “tidak tahu”.

Wajah ‘terlalu’ bahagia saat naik kereta 😂😂

​Mulai saat ini, semoga pola pikir kita tak lagi sama seperti dahulu. Anak itu ibarat kertas kosong. Kertas akan terisi sesuai paparan orang-orang dan lingkungan di sekitarnya. Jadi, kalau ingin anak tumbuh dan berkembang menjadi anak yang baik dan manis, kita harus bersedia mengisi kertas kosong itu dengan hal yang baik dan manis pula. Jangan menjadi egois. Menginginkan anak tumbuh dengan baik, namun enggan meluangkan waktu untuk mengisi kertas dengan sebaik-baiknya. Hal tersebut sama saja seperti berharap uang jatuh dari langit. Mungkinkah? Tidak mungkin.

Mengajarkan dan memberikan contoh pada anak dapat dilakukan dimana aja. Semua tergantung mau atau tidak kita meluangkan waktu. Bicaralah padanya. Jangan lelah menjelaskan dan memberitahu kebenaran. Sesederhana itu.

Tentang Senyum dan Sapa: Jangan takut ditolak

Pernahkah kamu bertemu seseorang yang tak tahu cara tersenyum?

Pernahkah kamu bertemu seseorang yang tak tahu cara menyapa?

Pernahkah kamu bertemu seseorang yang dengan sengaja memalingkan wajahnya?

Saya pernah.

Pada awalnya, tentu saja saya merasa bingung dan kesal. Ketika berjalan kaki dan berpapasan dengannya, saya tahu dia siapa. Kami saling mengenal. Pada keadaan normal, seharusnya kami akan saling tersenyum bahkan melambaikan tangan. Kenyataannya, tidak. Saat itu, saya menatap wajahnya sambil tersenyum. Lalu, bersiap memanggil  namanya. Dengan langkah kaki yang dipercepat, ia langsung masuk ke dalam rumah tanpa menengok. Saya terdiam sesaat dan bingung dengan apa yang terjadi.

Lalu, bagaimana bila sedang bertengkar? Itu berbeda persoalan. Kalau sedang bertengkar, alasannya sudah jelas bahwa hubungan kami sedang tidak baik. Maka, tidak menyapa dan tidak tersenyum masih dapat dimengerti. Kami hanya butuh waktu untuk memulihkan keadaan agar hangat kembali. Namun, bila tidak ada masalah apapun, ia dengan sengaja memalingkan wajah, tidak tersenyum, dan tidak menyapa, itu sungguh membingungkan dan membuat kesal. Hal itu memunculkan banyak pertanyaan. Ada apa dengan dia? Mungkinkah ada kesalahan yang tidak sengaja saya lakukan padanya? Mungkinkah ada perbuatan atau lisan saya yang melukai hatinya? Intinya, saya belum bisa menerima atas sikapnya.

Manusia dicipta untuk menggunakan akalnya. Bila hanya berpedoman atas perasaan saja, lantas apa gunanya akal? Bagaimanapun sikap orang lain tidak dapat diterima oleh logika, saya harus berusaha memandang persoalan tersebut dalam sudut pandang lain. Saya juga harus mencoba menempatkan diri pada posisinya. Supaya dapat membayangkan penyebab yang melatarbelakangi sikapnya itu. Memang butuh waktu untuk menyimpulkannya. Tetapi, saya harus bersabar dan berbaik sangka.

Saya menyadari manusia itu unik. Hidup manusia saling berkaitan. Karakter yang ada tentu ada kaitannya dengan pola asuh keluarga, pengalaman, lingkungan, orang-orang yang ditemui, dan pembelajaran yang didapatkan. Jadi, seluruh sikap orang lain yang terlihat bukan hasil dari sesuatu yang instan. Karakter yang terbentuk juga bukan hasil dari sesuatu yang terjadi dalam sekejap. Karakter dan sikap terbentuk melalui proses yang panjang. Oleh karena itu, kita tidak boleh menyalahkan semua proses panjang itu. Bukan kuasa kita juga untuk menentukan bagaimana orang lain bersikap. Tugas kita hanya satu yaitu, memberikan respon terbaik.

Lalu, bagaimana cara memberikan respon terbaik terhadap seseorang yang bersikap seperti itu? 

Pertama, kita tidak boleh berpedoman dengan ego (Memulai lebih dulu untuk tersenyum dan menyapa). Kedua, buka pikiran dan hati dengan luas (Harus sudah siap menerima dengan ikhlas apapun respon orang lain terhadap tindakan kita). Ketiga, lakukan perbuatan yang terbaik untuk semua pihak (Jangan mendahulukan keinginan pribadi. Contoh: berharap orang lain yang tersenyum dan menyapa lebih dulu). Keempat, kita tidak boleh berharap orang lain melakukan tindakan sesuai dengan apa yang kita inginkan (Berharap orang lain memberikan respon baik sesuai keinginan kita). Lakukan saja keempat hal ini. Yakinlah, perbuatan baik akan mendatangkan kebaikan pula.

Berdasarkan pengalaman saya, selama ini tidak pernah ada satu orang pun menolak senyuman dan sapaan. Yang awalnya mereka menundukkan wajah dan berpura-pura tidak melihat, ketika mendengar ada yang menyapa, ia akan mengangkat wajahnya dan tersenyum. Bahkan, mereka juga menanggapi sapaan tadi 🙂 Saya percaya, semua orang senang mendapatkan kebaikan. Bukankah, fitrahnya, setiap manusia senang diperlakukan dengan baik? Jadi, jangan ragu melakukan kebaikan. Bahkan, bila hasilnya tidak sesuai harapan, kita tetap sang pemenang. Karena memperjuangkan kebaikan.

Jika pikiranmu mengatakan seperti ini,

“Untuk apa aku melakukan semua itu? Untuk apa aku bersusah-susah menyapanya lebih dulu? Mengapa tidak dia saja? Toh, sudah kesekian kalinya ia mengabaikanku. Padahal, semestinya kami cukup mengenal diri masing-masing. Bertahun-tahun lamanya kami saling tatap dan bertemu. Aku tidak mau tersenyum dan menyapanya lebih dulu. Biarlah, jika itu yang ia inginkan.” dan ego menguasai diri seutuhnya.

Kita boleh saja memilih melakukan itu. Memilih menjadi tidak peduli. Toh ada banyak pilihan di depan kita. Kita bebas memilih dan memberikan keputusan. Tetapi ingatlah selalu, ketika ego memenangkan situasi, kepuasan yang dirasakan hanyalah sementara. Jauh di lubuk hati terdalam, akan menyisakan penyesalan dan banyak pertanyaan. Ada apa dengannya? Mungkinkah aku telah melukainya?

Kita harus mengingatkan diri sendiri bahwa setiap manusia yang ditemui adalah manusia utuh. Manusia yang terdidik, bertumbuh, dan berkembang dalam keluarga dan lingkungannya. Tentu, akan terbentuk karakter tersendiri. Akan ada banyak perbedaan perilaku dengan kita.

Jangan pernah membandingkan ia dengan kita. Bila kita mudah untuk menyapa orang lain, mungkin baginya tidak mudah. Mungkin ia malu, sungkan, atau alasan-alasan lainnya. Jangan membandingkan apa yang ia yakini dengan apa-apa yang kita yakini. Jangan pernah merasa diri sendiri lebih baik.

Manusia memiliki kelemahan dan kelebihan. Manusia memiliki permasalahannya tersendiri. Hanya karena satu kelemahan yang kita temui (dia tidak menyapa lebih dulu dan cenderung menghindar), bukan berarti ia adalah sosok yang penuh kelemahan dan tak layak dihormati. Ada begitu banyak hal tidak kita tahu. Begitu dalam lautan kisah miliknya yang tidak bisa kita capai. Begitu banyak puzzle kehidupannya yang penuh teka-teki dan tidak bisa kita selesaikan. Begitu banyak permasalahan-permasalahan yang dia hadapi dan kita tidak tahu. Apa pantas kita sok tahu atas hidup orang lain?

Perbuatan yang kita anggap tidak benar, mungkin saja ia tidak tahu bahwa itu tidak benar. Mungkin saja ia tidak tahu bagaimana melakukan hal dengan baik. Ia bukan dengan sengaja melakukan hal-hal yang tidak benar.

Jika berhadapan dengan seseorang yang tidak tahu, bukankah kita yang sedikit lebih tahu dapat bersikap lebih baik? Dapat menunjukkan perbuatan baik yang seharusnya dilakukan? Jika berhadapan dengan seseorang yang tidak bisa mengontrol diri, bukankah kita yang sedikit lebih mampu mengontrol diri tidak apa-apa meringankan bebannya? Bukankah tidak apa-apa kita menolongnya? Kalau pada kasus di atas, bukankah tidak apa-apa bila kita tersenyum dan menyapa lebih dulu? Bukankah kita bisa lebih memaklumi atas sikapnya?

Semoga ego tidak lagi menutupi kepekaan hati kita untuk memaklumi keadaan orang lain, menolong, dan memberikan manfaat pada lingkungan. Semoga Allah memudahkan segala niat baik kita. Aamiin. 

Bagaimana menjadi Teman Curhat yang Baik?

Ternyata, menjadi teman curhat itu ada aturannya. Namun, setelah mendengarkan materi yang disampaikan oleh Mbak Wulan Rigastutu S.Psi saat seminar Teman Bicara Sebaya, tanpa sadar kita telah melakukan standar menjadi teman curhat lho. Kunci utamanya adalah menjadi pendengar yang baik.

Standar Menjadi Teman Cuhat

Standar menjadi teman curhat adalah hal-hal yang perlu kita lakukan agar menjadi teman curhat yang baik. Beberapa hal yang perlu dilakukan yaitu, harus ada kesediaan dan persetujuan dari teman yang ingin curhat, menjaga rahasia, tahu batasan, tidak membebani diri di luar kemampuan (kita tidak harus memaksakan diri memberikan solusi, karena keputusan ada ditangannya), memiliki tujuan yang konkret dan realistis (ketika teman membutuhkan bantuan untuk berubah menjadi lebih baik, bantu ia dengan mencapai target yang mudah dahulu), membantu teman menjadi mandiri dan mengambil keputusan sendiri, dan menghargai keputusan yang teman pilih.

Saya pribadi, tidak kesulitan melakukan hal-hal di atas. Karena, secara alami kita akan melakukan hal seperti itu. Bila kita memiliki orang yang disayang dan dipercaya, kita akan dengan senang hati memperlakukan ia dengan sangat baik, bukan?

Kalau pengalaman saya sendiri, karena terlalu sayang, terkadang lupa, batasan teman curhat itu sejauh apa. Secara tidak langsung, saya lupa memberikan kepercayaan padanya. Kepercayaan bahwa teman tahu yang terbaik bagi hidupnya. Kepercayaan bahwa ia akan mengambil keputusan yang terbaik bagi dirinya. Yang terbaik bagi setiap orang tidak melulu sama kan? Masing-masing orang memiliki ukuran kebahagiaan tersendiri. Saya seringkali lupa dan akhirnya berusaha meyakinkan teman tentang pilihan seperti apa yang seharusnya dipilih. Serta keputusan seperti apa yang sebaiknya dibuat. Seolah-olah saya yang paling tahu duduk perkaranya karena posisi saya adalah sebagai orang ketiga serba tahu. Orang ketiga yang dapat melihat duduk perkara dengan jelas hanya karena saya tak terlibat dalam permasalahan. Sesungguhnya, pemikiran tersebut sama sekali tak benar. Perbuatan itu egois dan tidak memandirikan teman. Oleh karena itu, saat Mbak Wulan menjelaskan topik tersebut saya merasa amat tertohok. Karena saya sering seperti itu.

Selanjutnya, saya akan berbagi cara menjadi pendengar yang baik.

Menjadi Pendengar yang Baik

Ada beberapa cara menjadi pendengar yang baik, yaitu:

1. Kehadiran diri, pikiran, dan perasaan

Ketika memutuskan mendengarkan orang lain bercerita, artinya kita sudah siap mengerahkan diri ini, pikiran, dan perasaan sepenuhnya padanya. Letakkan semua benda yang mengganggu konsentrasi seperti, buku, pensil, atau handphone. Pilihlah lokasi berbincang yang sesuai, sehingga meminimalisir segala hal yang mengganggu. Menciptakan fokus memang perlu diupayakan. Oleh karena itu, benda dan lingkungan yang sekiranya mengganggu perlu disingkirkan sementara. Supaya terjalin komunikasi yang nyaman, efektif, dan efisien.

2. Posisi Tubuh

Posisi tubuh yang paling baik adalah duduk menghadap kepada lawan bicara. Lalu, sedikit mencondongkan tubuh ke depan. Posisi ini menunjukkan bahwa kita siap mendengarkan. Coba saja kamu bayangkan bila suatu ketika sedang mengobrol dengan seorang teman, lalu ia tidak duduk menghadap kita. Ia memposisikan badan dan kepala miring ke samping seolah-olah tidak fokus memperhatikan dan tidak betah duduk di tempat itu. Kira-kira nyamankah kita berbagi cerita padanya?

3. Ekspresi Wajah

Jangan sungkan untuk memberikan ekspresi sesuai keadaan. Jangan pernah memberikan ekspresi datar. Wah, saya rasa lawan bicara akan merasa tak nyaman dan tak mau berbincang lama-lama bila kita seperti itu. Jangan malu untuk menunjukkan ekspresi senang bila teman sedang bercerita tentang hal yang membahagiakan. Atau jangan malu menunjukkan ekspresi sedih bila teman sedang berduka. Lho, kenapa sih harus seperti itu? Seperti sedang akting sinetron saja. Iya, harus dan penting sekali. Dengan memberikan ekspresi sesuai dengan keadaan, hal itu menunjukkan bahwa kita mendengarkan dengan baik ceritanya. Kita juga menunjukkan rasa simpati dan empati kepadanya.

4. Kontak Mata

Bagaimana pun mengganggunya lingkungan tempat kita berbincang, jangan pernah hilang kontak mata pada teman. Jika keadaan sekitar menganggu, lebih baik pindah tempat saja. Menjaga kontak mata juga salah satu usaha agar kita tetap fokus. Tetapi, perlu diingat, kita tidak boleh memberikan kontak mata secara terus-menerus tepat dimatanya ya. Nanti malah menjadi miskomunikasi dan salah sangka. Bagaimana kalau kamu malah dikira sedang jatuh cinta padanya? Hehehe Kontak mata tidak harus selalu tepat pada kedua mata. Kita bisa melakukan kontak mata dengan menatap pertengahan antara kedua mata atau menatap rambutnya.

5. Sentuhan

Ini tidak boleh dilakukan kepada lawan jenis ya. Khawatir menjadi salah sangka. Biasanya, sentuhan diberikan untuk menunjukkan rasa simpati. Misalnya, ketika teman sedang bersedih, kita bisa menggenggam tangan atau memberi tepukan kecil pada bahunya sebagai simbol untuk “menguatkan dirinya”.

6. Intonasi Suara

Mengontrol intonasi suara juga berkontribusi untuk melancarkan proses curhat dengan teman. Jika teman bersedih, tunjukkan kepedulian kita dengan memberikan suara lembut dan intonasi rendah sebagai upaya menenangkan dirinya. Cara seperti itu juga tersirat bahwa kita turut merasakan kesedihan yang ia rasakan.

Bila teman sedang putus asa dan tidak bersemangat, kita boleh memberikan suara dengan intonasi lebih tinggi untuk mengobarkan semangatnya.

Hindari intonasi suara datar. Intonasi datar menunjukkan bahwa kita tidak peduli. Meskipun niat kita lurus dan baik, intonasi datar membuat niat kita tak tersampaikan kepada teman.

**

Bagaimana? Standar menjadi teman curhat dan cara menjadi pendengar yang baik bukan hal yang asing kan? Kita pasti sudah sering melakukan hal ini bersama keluarga dan para sahabat. Tetapi, tidak ada salahnya membaca lagi untuk mengingat-ingat kembali. Barangkali, ada satu point terlupa dan tidak kita lakukan. Barangkali juga kita tak sadar melakukannya. Seperti kekhilafan yang saya ceritakan di atas, terlalu sayang bisa menyebabkan tidak memandirikan teman. Semoga kita terus berupaya menjadi teman curhat yang baik setiap harinya. Sebab, didengarkan itu sungguh membuat hati tenang dan senang. Mari saling menebar dan menerima kebahagiaan 🙂


Hidup adalah Perjuangan, kan?

Jalan yang sedang ditempuh mengandung banyak misteri.

Sudah sejak beberapa tahun yang lalu, aku memutuskan untuk tidak mengutuki dan menyalahkan apapun yang terjadi. Mengutuki saja tak boleh, apalagi menyalahkan. Kedua hal itu benar-benar tidak boleh dilakukan. Karena tidak akan membuat perasaanku menjadi lebih baik. Dan tidak membuat keadaan menjadi lebih baik.

Aku berjanji pada diriku sendiri, seberapa gelap jalan di depan sana, akan tetap kulalui. Mudah saja, aku hanya perlu satu buah senter untuk menerangi jalan setapak di depan sana. Bila tak ada senter, aku akan menggunakan indera peraba untuk merasakan lingkungan sekitar, supaya bisa membayangkan medan seperti apa yang ada di depan sana. Alih-alih menyerah, aku memilih untuk mencoba. Apapun caranya.

Seberapa membingungkan arah di depan sana, aku akan tetap melangkahkan kaki. Jika tak ada peta ataupun seseorang yang dapat kutanya, maka lebih baik aku coba semua arah itu. Jika aku salah memilih arah, maka aku bisa memutar arah dan mencoba arah yang lain. Di antara banyak arah, aku yakin ada satu arah yang tepat.

Jika di depan sana ada banyak kerikil dan batu menghalangi langkahku. Jika harus kulewati jalanan terjal dan berliku. Jika tak ada satu pun alas kali yang bisa kupakai. Jika kala itu matahari benar-benar terik. Jika memang hanya jalan itu tempat menuju, maka aku akan tetap berlari. Segala rasa lelah, kurasa hanya sementara. Aku hanya perlu meregangkan otot dan mengatur pernapasanku. Untuk rasa sakit yang akan dirasakan, kurasa itu hanyalah sebuah rasa seperti rasa-rasa lainnya. Rasa itu akan berlalu seiring berjalannya waktu. Bila batu dan kerikil melukai kaki, kurasa itu hanyalah sebuah luka seperti luka-luka lainnya. Luka itu akan sembuh seiring waktu berlalu. Waktu akan menyembuhkan segalanya, kan?

Aku hanya perlu berlapang dada menjalani semuanya. Aku hanya perlu terus berusaha. Mengerahkan segala upaya. Membersamai proses dengan hati yang tulus. Memeluk erat segala kesulitan. Menerima dengan ikhlas segala kegagalan. Menjalani peran sebaik-baiknya hamba. Aku hanya perlu berbaik sangka dengan seluruh jalan-Mu. Lalu berusaha. Aku harus yakin, setiap kejadian akan membuatku semakin kuat dan semakin tangguh.

**

Jalan yang ditempuh mengandung banyak misteri.

Aku berjanji pada diriku sendiri. Dalam menjalani perjalanan yang tak mudah, aku tak boleh melupakan orang lain. Sesulit apapun perjalanan, hak orang lain tetap harus dipenuhi. Bahkan jika mereka mau, mari kita menghadapi ujian itu bersama. Seberapa berat ujian itu, kurasa akan lebih ringan jika kita berjuang bersama-sama. Semangat kita akan berlipat-lipat ganda. Tenaga kita akan berlipat-lipat ganda pula. Saling meringankan, saling membantu, saling menguatkan, dan saling menopang. Masih adakah hal-hal yang membuat kita ragu dan khawatir?

**

Semakin jauh kumelangkah, tak juga kutemukan kemudahan. Bahkan lebih sering kutemukan kesulitan dan kegagalan. Tingkatan kesulitan pun semakin bertambah. Hati kecilku pun mengatakan, “Kehidupan ini benar-benar misteri. Usaha yang totalitas pun tak menjamin hasil yang menyenangkan. Berbaik sangka setiap waktu pun tak menjamin hasil sesuai harapan. Tetapi, bagaimana pun misteri kehidupan ini, aku yakin Allah akan mencatat seluruh perjuangan kita. Bahkan untuk niat baik yang hanya terlintas dalam pikiran semata. Allah Maha Tahu. Allah Maha Adil. Lelah karena Allah Insya Allah berkah.”

Masih sama seperti beberapa tahun yang lalu, aku berjanji pada diriku sendiri. Betapa sulit kehidupan memberatkan langkah kakiku, mempersempit jalan di depanku, menggagalkan usahaku, menjatuhkan diriku, aku akan bangkit. Menyusun rencana lagi. Mencoba lagi. Dan berlari lagi. Hidup adalah perjuangan, kan?

Hakikat Rezeki: Rezeki Berbeda dengan Uang

Jika saja pemahaman tentang rezeki seperti foto di atas, maka hati siapapun tentu akan merasa tenang dan penuh syukur. 

Rezeki tidak sama dengan kepemilikan. 

Jika kita menganggap rezeki adalah apa-apa yang dimiliki, maka nampaknya kita akan merasa selalu kurang. Karena ada banyak hal yang kita inginkan namun tak dapat dimiliki. Apalagi sifat dasar manusia adalah “tidak mudah merasa puas” atas apa yang dimiliki. Pada akhirnya, kita akan menjadi orang yang tak pandai bersyukur.

Rezeki adalah yang bisa kita nikmati dan manfaatkan.

Semua hal yang telah kita nikmati dan manfaatkan adalah rezeki. Kalau seperti itu, artinya rezeki sangat dekat dengan kehidupan kita. Kita bisa berteduh di dalam rumah, sehingga tidak kehujanan atau kepanasan. Kita bisa tidur di kasur yang nyaman dan hangat. Kita bisa mandi menggunakan sabun dan sampo yang super wangi. Kita bisa minum sepuasnya ketika haus. Kita juga bisa makan dengan nasi dan berbagai lauk pauk. Kita bisa baca buku sambil memakan camilan. Dan masih banyak kenikmatan lainnya, yang tak mungkin dapat diingat satu persatu 🙂 Jadi, jangan lagi berpikir sempit bahwa rezeki itu tentang uang semata ya? Bahkan, uang yang kita tabung itu belum tentu rezeki kita loh.

Rezeki Berbeda dengan Uang atau Penghasilan

Uang adalah salah satu dari banyaknya rezeki. Dengan syarat, uang tersebut sudah kita nikmati dan manfaatkan. Jika selama ini menganggap rezeki adalah uang semata, kita sangat keliru. Menganggap barang dan fasilitas yang dapat dibeli dengan uang adalah rezeki juga keliru.

Banyak orang salah memahami tentang rezeki. Sehingga yang terjadi timbulnya rasa tidak bersyukur. Seringkali manusia memiliki banyak keinginan, namun belum mampu membeli dan memilikinya. Akhirnya, merasa kecewa dan sedih. Merasa Allah tidak adil dan merasa tidak memiliki apa-apa. Apalagi jika sedang diuji masalah keuangan. Mudah sekali mengeluh bahwa rezeki mampet. Adakah rezeki mampet? Tidak ada. Setiap rezeki manusia telah Allah jamin agar hidup dengan baik.

Jika saja kita menyadari, sudah begitu banyak hal telah kita nikmati dan manfaatkan. Jika saja kita menyadari, sudah begitu banyak aktivitas yang telah kita lakukan. Kita akan merasa malu. Sudah berapa lama kita hidup di dunia ini? Selama itu pula kita telah melakukan banyak hal, menikmati, dan memanfaatkan banyak karunia Allah. Betapa banyak rezeki telah Allah curahkan untuk kita, kan?

**

Jika rezeki telah Allah jamin, mengapa kita harus berusaha?

Jika kita tidak berusaha, apakah rezeki tetap turun untuk manusia?

Berusaha atau tidak, rezeki akan tetap turun. Jika berusaha dengan cara halal, maka rezekinya halal dan mendapat pahala. Kelak, di akhirat nanti, pahala itu akan dihisab. Pahala akan memperberat timbangan amal kebaikan kita. Jika berusaha dengan cara tidak halal, rezeki yang didapat pun menjadi tidak halal. Kelak, di akhirat nanti, dosa itu akan dihisab. Dosa akan memperberat timbangan amal buruk kita.

Lantas, bagaimana yang tidak berusaha? Rezeki tetap kita dapatkan. Namun, rezeki itu tidak akan dihisab. Sayang sekali, bukan? Waktu terlewat begitu saja tanpa berarti apa-apa dan tidak mendapatkan pahala.

Lalu, untuk apa tetap berusaha padahal rezeki tetap akan turun? Jawabannya, supaya kita melakukan banyak kebaikan dan mendapat pahala. Bukankah Allah menciptakan manusia di dunia untuk ibadah dan mendapatkan pahala? Jika kita memahami betul hakikat Allah menciptakan manusia, tak akan ada lagi kebingungan dan keraguan mengapa manusia harus tetap berusaha meskipun rezeki sudah pasti didapatkan.

Karena Allah sudah menjamin rezeki manusia, kita tak perlu lagi mengkhawatirkannya. Kita hanya perlu berbaik sangka dan melakukan peran dengan baik. Dan jangan lupa  untuk bersyukur 🙂

**

Materi di atas disampaikan oleh Ustadz Weemar Aditya. Semoga bermanfaat ya, teman-teman. Semoga pemahaman kita tentang rezeki menjadi lebih baik. Aamiin

Bahagia Dunia dan Akhirat: Mari Periksa Kesehatan Hati

Jika kebahagiaan dunia adalah utama, kita tak akan mengingat hakikat manusia hidup di dunia ini untuk apa.

Jika kebahagiaan dunia adalah segalanya, kita juga tak akan mengingat bahwa semua perbuatan akan dipertanggung jawabkan di akhirat kelak.

Jangan sampai kita menjadikan dunia tujuan akhir. Sebab, dunia hanyalah tempat persinggahan sementara. Sebab, dunia adalah arena untuk menabung perbuatan baik sebanyak-banyaknya. Tabungan untuk diri kita sendiri.

Bila kita menjadikan kebahagiaan dunia utama dan segalanya, maka melakukan segala cara yang tak benar pun ringan rasanya. Selalu mengedepankan diri sendiri pun sungguh merasa tak mengapa. Harga diri di atas segalanya. Introspeksi diri tak lagi penting. Perbaikan diri tak lagi dilakukan. Kehadiran orang lain tak lagi dibutuhkan. Perasaan orang lain tak lagi dipikirkan. Semua hanya tentang aku. Semua hanya tentang kesenangan aku. Semua hanya tentang kemudahan hidup aku. Semua hanya tentang kebahagiaan diri sendiri.

Jika semua tentang “aku”, kita hanya tahu bagaimana cara menuntut dan menyalahkan. Kita tak lagi tahu bagaimana cara bertanya tentang orang lain. Apakah mereka baik-baik saja? Bagaimanakah perasaan mereka? Apakah aku sudah memperlakukan mereka dengan baik?

Hanya memikirkan kebahagiaan dunia semata sungguh menjadi bencana. Melupakan kebahagiaan akhirat sungguh menjadi malapetaka. Jika akhirat tak lagi dipikirkan, kesehatan hati (ruhiyah) perlu dipertanyakan. Apakah hati dalam keadaan sehat dan bersih?

Sebelum pintu hati tertutup. Sebelum ruangan hati tak ada ruang untuk menerima kebaikan. Sebelum hati melupakan-Nya. Sebelum hati tak lagi mengingat ayat-ayat-Nya. Sebelum hati semakin tersesat. Sebelum hati tertutup. Mari rawat hati ini dengan baik. Keadaan hati berbanding lurus dengan perilaku kita. Hati yang baik menghasilkan perilaku yang baik. Begitu juga sebaliknya. Mari periksa hati kita masing-masing. Memeriksa kesehatan hati adalah kewajiban. Agar berbahagia di dunia dan akhirat.

Menjalin Hubungan dengan Orang lain: Harus Mau Berbagi

Menjalin hubungan dengan orang lain memang membutuhkan sifat rela yang besar. Rela berbagi waktu. Rela berbagi kesempatan. Rela berbagi peluang. Rela berbagi banyak hal.

Rela Berbagi waktu. Jika kamu bertanya pada ego, tentu dia tak akan setuju. Untuk apa memberikan waktu yang berharga untuk orang lain. Lebih baik waktu seluruhnya digunakan untuk diri sendiri.

Rela berbagi kesempatan. Jika kamu bertanya pada ego, maka dia tak akan menyetujuinya. Dia tentu akan menyarankan agar seluruh kesempatan kamu gunakan sendiri. Supaya segala keuntungan juga kamu rasakan sendiri.

Rela berbagi peluang. Jika kamu tanyakan lagi pada ego, maka dia tak akan menyetujui idemu itu. Peluang harus digunakan semaksimal mungkin. Dahulukan dirimu sebelum mengurusi tentang orang lain.

Jangan bertanya pada ego.

Tanyakan pada hati nuranimu.

Muslim meyakini, semakin banyak kita berbagi, semakin banyak pula keuntungan yang kita dapatkan.

Hidup bukanlah tentang berapa banyak waktu yang kamu habiskan. Bukan tentang berapa banyak kesempatan yang kamu dapatkan. Bukan juga tentang berapa banyak peluang yang kamu ambil. Hidup bukan tentang berapa banyak keuntungan, kemudahan, dan kelancaran yang kita dapatkan.

Hidup adalah secermat dan sebijak apa kita menggunakan diri ini untuk kebaikan. Hidup adalah tentang bagaimana hubunganmu dengan Allah, hubunganmu dengan manusia, dan hubunganmu dengan lingkungan. Hidup adalah sebesar apa “rasa syukur” dan “menghargai” diri atas segala yang dipunya. Hidup adalah tentang sebesar apa “manfaat” diri untuk orang lain. Hidup adalah sesering apa kamu “memudahkan urusan orang lain”. Hidup adalah sebesar apa “usahamu” melakukan kebaikan. Hidup adalah seberapa “tenang” hati dan pikiran dalam menjalani hari.

Kita harus terus memikirkan sebesar apa peran diri ini untuk orang lain. Bukan sebesar apa peran orang lain untuk hidup kita. Jika setiap orang berpikir seperti ini, alangkah indahnya kehidupan. Karena setiap orang saling berhati-hati dalam bersikap. Setiap orang saling menjaga perasaan orang lain. Jangan sampai diri kita menjadi sebab atas rasa sakit orang lain. Jangan sampai diri ini menjadi sebab atas rasa sedih orang lain.

Karena sesungguhnya segala perbuatan baik yang dilakukan untuk kebaikan orang lain akan berdampak baik terhadap diri kita sendiri.​

Dan bersabarlah, karena sesungguhnya Allah swt. sekali-kali tidak menyia-nyiakan ganjaran orang-orang yang berbuat baik. (Q.S. 11: 115)