[Day 26] Teman Hidup, katanya

Ini adalah tentang kamu yang selalu orang-orang cari tiap kali melihatku. Teman hidup, katanya.

Mereka sibuk bertanya-tanya apa kriteriaku. Sampai-sampai ada yang berkata seperti ini,“Tipe seperti apa yang kamu cari? Jangan terlalu jadi pemilih.” Mendengar perkataan itu, aku hanya tersenyum simpul.

Aku menjadi penasaran. Jika orang-orang yang mencari pacar saja memiliki sederet kriteria untuk standar memilih. Mengapa aku yang sedang menunggu teman hidup tidak boleh menetapkan kriteria? Padahal pernikahan adalah bukanlah perihal sembarangan. Padahal topik yang sedang kita bahas ini adalah tentang mencari teman hidup di dunia hingga ke surga.

Lantas, apa kriteriaku hingga kini masih saja terus menunggu? Kriteriaku bersifat umum sebenarnya. Aku ingin bersama dia yang ketika melihatnya, aku mengingat Allah. Ketika aku bersamanya, aku semakin bersemangat berbuat baik.

Sebenarnya, aku yang saat ini entah mengapa tidak terlalu fokus tentang orang lain. Daripada terus memikirkan “aku ingin keriteria yang begini dan begitu“, aku lebih suka memikirkan “bagaimana cara aku menjadi baik seperti ini dan itu“.

Apalagi sejak menyadari kalau pemilik hati dan pikiran hanya Allah semata. Sebesar apapun aku berusaha mendapatkannya, hasilnya akan sia-sia bila Allah belum menyetujuinya.

Yang aku bisa lakukan hanya satu, berusaha mendapat rida-Nya saja. Maka, Allah akan mendatangkan dia dengan cara yang tak terduga. Jadi, cara terbaik ya fokus saja untuk “menjadi versi terbaik”. Bukan fokus “mencari yang paling baik”.

Aku pun yakin, calon teman hidupku juga sedang berjuang memperbaiki diri.

Mungkin kamu akan bertanya, apa saja yang perlu aku perbaiki? Banyak. Tentang ini tidak hanya perihal agama saja.

Tentang Diri Sendiri

Aku harus mampu mengendalikan diri di segala situasi. Aku juga harus belajar menerima segala kekurangan diri. Aku harus percaya pada diri sendiri. Kalimat sederhananya, sebelum membersamai orang lain dalam rumah tangga, aku harus sudah “beres” dengan diri sendiri.

Meskipun belum “beres”sepenuhnya, aku harus memiliki kesadaran bahwa aku adalah manusia yang tidak sempurna. Maka, aku harus terbuka menerima segala kritik dan saran yang membangun. Dengan begitu, aku akan menjadi teman hidup yang “enak dan asyik” diajak berdiskusi. Dan menjadi teman hidup yang mampu “berbaik sangka dengan apa yang terjadi serta selalu bersemangat” menjalani hari.

Tentang Orang Lain

Aku harus benar-benar paham bahwa orang lain persis seperti diri sendiri. Diri sendiri yang tidak sempurna dan harus banyak belajar. Aku harus mengingat, dalam rumah tangga memang akan ada hak dan kewajiban. Aku pun pasti memiliki harapan bagaimana kelak rumah tanggaku akan dibangun.

Namun, tentang semua itu, aku harus mendiskusikannya dengan teman hidupku. Menyelaraskan kemampuan berdua hingga kita tidak kesulitan mencapai tujuan bersama. Menyelaraskan kecepatan kaki berdua hingga tidak kesulitan melangkahkan kaki bersama. Jangan sampai, aku malah sibuk menuntut hak dan kewajiban si teman hidup, hingga terlupa makna ketenangan rumah tangga itu sendiri.

Kurasa kata terbaik untuk kondisi ini adalah “memaklumi” dan “menerima”. Jika aku menyadari diri ini penuh kekhilafan dan selalu ingin diterima, mengapa aku tidak melakukan hal yang sama?

Semoga aku mengingatnya. Tujuan rumah tangga sebaiknya hanya ditautkan pada Allah semata. Sebab, dengan begitu aku akan memuliakan dan bersikap baik pada teman hidupku. Karena apa? Karena Allah adalah Maha Penyayang yang selalu menyukai hamba yang saling berbuat kebaikan dan saling menyayangi.

Semoga aku tidak akan lupa. Kelemahan hadir bukan untuk dihakimi. Kelebihan hadir juga bukan saling menyombongkan diri. Setelah menikah, bukankah tidak ada istilah aku ataupun kamu? Ini tentang kita. Jadi, mari siasati tentang kelemahan dan kelebihan diri bersama-sama. Hingga kita saling membantu untuk menjadi versi terbaik diri.

Kepada teman hidupku yang kelak akan datang, semoga kita saling menerima. Tidak hanya saling menerima diri. Namun, menerima keluarga masing-masing. Bukankah menikah itu tidak hanya menyatukan kita? Namun, menyatukan dua keluarga? Semangat ya, semoga kita segera dipertemukan sama Allah. Di saat dan di waktu yang tepat 😊

Advertisements

[Day 24] Makna Keluarga Untukku

Keluarga Selalu Utama

Keluarga selalu menjadi yang pertama. Maka, bila seseorang ingin bersamaku, ia harus mau menerima keluargaku.

Daripada memberi kebahagiaan, sepertinya aku lebih banyak memberi luka pada keluarga. Di luar rumah, mungkin aku begitu mudah menjadi versi terbaik diriku. Yang mampu mengendalikan emosi, menata hati, menjaga lisan agar tidak menyakiti, dan bersikap hati-hati. Sehingga “tampak” begitu menginspirasi. Namun, di rumah, bersama keluarga, egoku berkata bahwa aku bisa menjadi apa saja. Sebebas-bebasnya.

Aku selalu yakin bahwa keluarga akan selalu menerima. Apa adanya. Lalu, aku pun bersikap semena-mena. Namun keluarga, bagaimana pun egoisnya aku, mereka selalu memaafkan. Memahami hal ini, bagaimana bisa aku lupa dan tidak menempatkan keluarga pada posisi yang pertama?

Keluarga adalah Sumber Kekuatan

Yang menguatkan seorang hamba pastilah Allah semata. Namun, ternyata bantuan kekuatan yang Allah berikan dapat melalui perantara tempat lain, yakni pemikiran kita sendiri.

Manusia berusaha menjadi kuat agar tidak menyulitkan hidup orang lain. Aku pun begitu. Aku berusaha supaya kuat dan tangguh demi keluargaku.

Aku tidak ingin menambah beban yang ayah sedang pikul. Aku tidak ingin menambah beban pikiran mamaku. Aku tidak ingin menjadi beban untuk adik-adikku karena sikapku yang tidak bijaksana. Hal-hal itulah motivasi terbesarku agar tidak mengeluh dan selalu melakukan aksi. Paling tidak, bila tidak bisa meringankan, bukankah sebaiknya aku tidak membebani?

Tidak apa dilabeli “sok kuat”. Menurutku, “sok kuat” adalah bentuk usaha manusia agar menjadi kuat. Afirmasi diri memegang peranan penting untuk mempengaruhi diri, lho. Afirmasi positif yang dilakukan berulang kali akan terpatri dalam hati. Apa-apa yang sudah terpatri pada hati, akan memberi pengaruh pada pikiran kita sendiri. Coba deh. 😊

Bersama keluarga, aku bisa menjadi orang yang berkali-kali lipat lebih tangguh, kuat, dan bersyukur.

Keluarga adalah Tempat Belajar

Tempat yang paling banyak menemukan kesalahanku adalah rumah. Orang yang paling banyak menemukan kekhilafanku adalah keluarga.

Apakah keluarga akan harmonis dan hangat selalu? Tidak. Perselisihan di dalam keluarga tentu saja sering terjadi. Karena semua orang bersikap apa adanya dan semaunya, pada akhirnya kita pun lupa menghargai antar anggota keluarga.

Kita lupa, dari ucapan yang “sembarangan” ternyata bisa mencipta luka. Dari sikap yang “semaunya” ternyata bisa menghadirkan pertikaian.

Dalam menghadapi masalah keluarga, Ayahku lebih sering mengalah. Mamaku lebih memilih diam untuk hal-hal yang menganggunya. Orang yang paling sering menegur segala khilafku adalah adikku. Dan aku sangat berterima kasih sekali padanya. Tanpa kejujuran dan keberaniannya mengungkapkan apa yang dirasa, aku tidak akan menyadarinya.

Kini, aku sadar bahwa segala yang kuanggap sebagai “iktikad baik” ternyata tidak selalu kusampaikan dengan “cara yang baik”. Dan hal-hal seperti ini harus aku renungkan dan segera diperbaiki lagi.

Ada satu hal yang aku dan adikku yakini,”Bagaimana pun keadaannya, kita sudah tertakdir menjadi keluarga. Yang artinya, Allah ingin kita berjuang dan selalu bersama-sama. Maka, daripada saling menghakimi, bagaimana kalau kita berusaha saling melengkapi? Sebab, hanya dengan cara itulah kita akan terus berusaha perbaiki diri dan menjadi versi terbaik diri.”

Komunikasi itu Penting: Group Whatsapp

Tahukah kamu perbuatan apa yang paling menyebalkan? Yang paling menyebalkan adalah ketika seseorang merasa paling tahu tentang sesuatu, kemudian menjustifikasi.

Aku ingin berbagi pandangan tentang group whatsapp. Bagiku komunikasi itu sangat penting. Tanpanya, akan terjadi sebuah miskomunikasi. Miskomunikasi bukan hal yang bisa dibiarkan begitu saja. Dampak miskomunikasi itu berat. Bisa memutuskan sebuah hubungan dan membuat situasi menjadi buruk sekali.

Menyadari bahwa manusia tidak memiliki kemampuan khusus seperti membaca pikiran orang lain, maka komunikasi adalah modal penting. Karenanya, kita bisa mengutarakan pikiran dan perasaan. Begitu pula dengan lawan bicara kita. Sehingga didapatkan sebuah kesepakatan yang baik untuk ke dua belah pihak.

Namun, komunikasi tidaklah mudah. Bahkan untuk dua orang manusia yang saling tatap muka. Selalu saja ada yang menghambat agar kita tidak melakukannya. Biasanya, faktor utama adalah keegoisan kita sendiri. Kita enggan membicarakan sesuatu bila masalah datang. Atau kita enggan membicarakannya ‘lagi’ karena ‘merasa sudah tahu’ bagaimana tanggapan lawan bicara. Kita selalu ingin orang lain yang memulai lebih dulu. Ego kita ingin seperti itu. Akhirnya, kita saling bungkam dalam waktu lama. Terjadilah perang dingin. Berada di tempat yang sama dan melakukan hal bersama-sama, namun tak ada interaksi apapun di sana. Kita saling diam seribu bahasa.

Mengetahui bahwa dampak miskomunikasi sangat berbahaya, aku ingin meminimalisir hal itu. Bahkan kalau bisa, aku tidak mau hal seperti itu terjadi. Oleh karena itu, aku selalu menjadi pencetus pertama membuat group whatsapp untuk kegiatan apapun. Bahkan untuk acara sederhana ketemuan bersama beberapa kawan lama. Aku membuat group sementara. Untuk apa? Banyak manfaatnya. Dalam group itu kita bisa mencocokkan jadwal satu sama lain, kita bisa mengemukakan masalah bila tiba-tiba ada acara mendadak dan tak bisa bergabung dalam pertemuan itu, kita juga bisa mengonfirmasi bila datang terlambat saat hari-H. Semua hal bisa kita komunikasikan digroup. Jadi, tidak ada lagi kejadian hilang kabar tanpa memberikan konfirmasi apa-apa. Hal tersebut sangat merugikan kawan-kawan.

Baiklah, langsung saja aku ke pokok pembahasan. Ini tentang group whatsapp keluarga. Beberapa hari lalu ada seorang kawan tidak sengaja melihat tampilan whatsappku. Dan ia merasa aneh dengan apa yang dilihat. Seperti ini percakapannya.

“Itu group keluarga apa? Kok unik tulisannya keluarga bahagia?” tanyanya setelah melihat tampilan whatsappku.

“Itu group keluargaku. Keluarga inti. Di dalamnya ada ayah, mama, dan adik-adikku.” jawabku singkat.

“Buat apaan group keluarga inti? Kalo aku, group itu untuk keluarga besar. Yang isinya ada banyak banget orang. Kalo keluarga inti mah setiap hari juga ketemu. Ngapain dibikin group.” dengan nada tidak bersahabat ia bertanya sekaligus menjawab pertanyaannya sendiri.

Aku sebenarnya tidak berminat menjawab pertanyaan yang sudah disandingkan dengan sebuah asumsi. Karena hasil akhirnya mudah ditebak. Ia hanya mau menyakini apa yang ia yakini. Dan tak ingin mendengar pandangan orang lain. Tapi, untuk menghormati yang lebih tua, maka aku tetap menanggapi.

“Group itu biasa aku gunakan untuk mengabari keluargaku. Misalnya aku pulang terlambat. Aku akan mengabari dalam group. Kurasa, yang khawatir tentangku tidak hanya orang tuaku saja. Adik-adikku pun juga.” aku menjawab singkat saja. Dan tak ingin berbagi lebih banyak lagi kepada ia yang tak senang mendengarkan orang lain.

“Lah untuk apa mengabari adik-adikmu segala? Kamu cuma berkewajiban mengabari orang tuamu saja. Lagi pula, kehadiran group hanya akan mengurangi komunikasi secara langsung saja. Kamu dan keluarga pasti enggan berbicara secara langsung.” ia menyangkal semua pendapatku. Dan menjelaskan panjang lebar apa yang ia anggap benar.

“……………” aku memutuskan untuk menghentikan pembicaraan dan tak melanjutkan lagi. Aku tidak berminat. Terkadang, kita memang tidak perlu menjelaskan apa-apa kepada orang yang tidak mau mendengarkan.

Melihat sikapnya membuat aku semakin sadar bahwa mendengarkan itu banyak memberikan manfaat daripada berbicara. Mendengarkan akan memberikan pengetahuan baru, sedangkan berbicara hanya mengeluarkan apa-apa yang kita tahu. Seandainya saja kawanku mau mendengarkan sebentar ceritaku, ia akan mendapat pengalaman baru tentang keluarga orang lain yang belum ia temui dalam keluarganya.

Kawanku ini belum memiliki anak remaja. Anak terbesarnya baru kelas enam sekolah dasar dan anak yang paling kecil kelas dua sekolah dasar. Wajar saja bila ia belum merasakan pentingnya sebuah group whatsapp keluarga inti.

Aku kali pertama membuat group keluarga tahun 2015. Saat itu, aku masih tinggal di indekos. Meskipun hanya Depok-Jakarta, aku tidak bisa pulang setiap akhir minggu. Paling cepat aku pulang dua minggu sekali. Penyususan skripsi dan tugas pekerjaan mengambil waktu luang akhir pekanku. Oleh karena itu, kehadiran group whatsapp sangat membantu. Aku bisa turut merasakan kebersamaan keluarga di rumah melalui foto, video, atau voice note yang dikirimkan. Dan keluargaku pun begitu, bisa mengetahui keadaanku melalui foto dan video yang aku kirimkan. Group whatsapp pengobat rindu.

Saat itu, adikku pun sedang sibuk di kampus. Ia juga jarang di rumah. Melalui group whatsapplah ia bisa mengabari keberadaannya. Apakah ia sedang mengerjakan tugas bersama temannya, apakah ia akan pulang terlambat karena harus menghadiri rapat organisasi, atau sesederhana sarana untuk menanyakan atau meminta tolong sesuatu bila ada keperluan.

Kalau aku, merasakan sekali manfaat kehadiran group keluarga inti diaplikasi whatsapp ini. Entah, dengan kawanku itu. Mungkin ia belum mengerti. Mungkin nanti bila anak-anaknya sudah tumbuh dewasa dan harus berhubungan jarak jauh, pemahaman ia tentang group keluarga inti di whatsapp akan lebih baik 🙂

Komunikasi itu penting. Maka, cara apapun akan aku usahakan supaya komunikasi tetap terjalin dengan baik. Contohnya pembuatan group dalam aplikasi whatsapp ini 😀

Sejak Kapan Mulai Mendidik Anak?

Many years ago, I met a young child who had memorised the Quran at 3 years old, so I asked his parents about how they nurtured him.

The father said, “When his mother was carrying him in her womb, she would recite Quran everyday. When she cooked, she recited Quran upon the food. When she drank, she recited Quran upon the drink. When she was sitting down freely, she would listen to the Quran. When she made du’a, she asked Allah to bless her child to be a person of the Quran. When he was born – his mother would recite Quran before feeding him. When he would sleep, he would listen to the Quran. When she played with him, she recited Quran to him. His entire life of three years was nothing but the Quran, so Allah made its memorisation easy for him. Dear parents, do you see how your piety affects your child? Do you see how your lifestyle can shape your child? Do you see how parenting starts before parenting?

Shaykh Mohammad Aslam

Kalimat di atas adalah kiriman dari sahabatku. Aku dan sahabatku sepakat berbagi satu ayat atau satu hadist setiap pagi. Semua berawal dari unggahan status whatsappku,”Sun will rise and we will try again.” Ia pun menanggapi,“Apapun yang sudah dilakukan, satu langkah kecil, selanjutnya tawakallah kepada Allah.” Setelah berbalas chat, ia mengajakku untuk melakukan tukar ayat dan hadist setiap pagi. Maka, dengan senang hati aku menyetujuinya.

Pagi tadi, aku tidak berbagi ayat atau hadist. Tetapi, berbagi sedikit materi tentang Kajian Kemuslimahan di Masjid UI Hari Rabu kemarin. Materinya bagus sekali. Tentang bagaimana cara memilih sekolah untuk anak. Sahabatku pun menanggapi chatku dengan semangat. Akhirnya, kami pun diskusi tentang topik itu.

Aku dan sahabatku bersyukur sekali mendapat ilmu tentang ini. Oleh karena itu, aku ingin berbagi juga ke teman-teman wordpress. Selamat membaca. Semoga bermanfaat 🙂

Materi ini disampaikan oleh Ustadzah Masfarwati Muslim. Kemarin, ustadzah senang sekali banyak muslimah single yang hadir. Kata beliau, dengan tahu ilmunya lebih awal, semoga kami bisa menjadi ibu yang baik.

Mendidik anak ada tiga yaitu sebelum anak di dalam rahim, saat di rahim, dan setelah anak dilahirkan.

Sebelum Anak di dalam Rahim

Pertama, memilih calon yang shalih/shalihah. Semoga dalam memilih teman hidup kita tidak hanya memikirkan diri sendiri. Seperti hanya memikirkan kriteria idaman atau memikirkan kesamaan antara diri kita dengan dia. Ternyata rumah tangga tidak sesederhana itu. Kelak, ada banyak amanah yang akan kita terima. Kita harus menjalaninya dengan tanggung jawab. Kita tak akan mampu mengemban itu semua seorang diri saja. Kita membutuhkan teman hidup yang memiliki visi sama. Mau di bawa ke mana rumah tangga? Mau dididik seperti apa anak-anak kita? Memilih calon yang shalih/shalihah adalah modal penting untuk mendidik anak yang taat pada Allah.

Kedua, melakukan doa bersama sebelum melakukan hubungan intim suami istri. Kata Ustadzah ini penting dan harus menjadi kebiasaan. Karena ada banyak keberkahan yang didapatkan oleh suami, istri, dan keturunannya.

Setelah Anak di dalam Rahim

Orang tua harus melakukan kebiasaan baik bersama-sama. Organ tubuh pertama yang berfungsi dengan baik adalah telinga. Maka, sering membaca Al-Qur’an adalah keharusan. Orang tua juga harus mendoakan anak secara lisan. Khusus ibu, lakukan belaian lembut ke perut sambil mendoakan. Anak mendengar semua yang kita lakukan. Yakinlah, ada hal-hal yang tak kasat mata mungkin kita tidak memahaminya. Namun, kuasa Allah itu tidak terbatas. Bayi yang tampak tak tahu apapun ternyata mendengar dan menyadari apa-apa yang orang tua lakukan. Oleh karena itu, perbanyak lakukan amal kebaikan dan perbanyak doa. Allah akan mengabulkan.

Setelah Anak Dilahirkan

Ibu adalah madrasah pertama. Maka, mengajarkan agama kepada anak adalah kewajiban seorang ibu. Menurut ustadzah, pendidikan awal anak adalah mengenal dan mencintai Allah, mengenal dan mencintai Rasul, dan mengenal dan mencintai Al-Qur’an.

Setelah memasuki usia sekolah, tugas orang tua adalah memilihkan anak sekolah yang baik. Definisi baik di sini adalah sekolah yang mengajarkan secara seimbang antara ilmu agama dan ilmu-ilmu lainnya. Rekomendasi ustadzah, anak di sekolahkan di Sekolah Islam Terpadu. Jika keuangan tidak memungkinkan, tak apa anak bersekolah di sekolah lainnya. Namun, anak harus mengikuti kegiatan mengaji setiap hari. Pendidikan agama itu penting. Tanpa itu, anak tidak akan memiliki ilmu tentang kebenaran. Seseorang yang tidak memiliki konsep kebenaran tak akan bisa membedakan antara hal benar dan salah. Ia juga tidak memiliki prinsip yang kokoh ketika bergabung pada lingkungan yang heterogen.

Di sela-sela kajian, ustadzah pun bercanda. Ia mengatakan,“Minimal, ibulah yang mengajarkan anak Surat Al-Fatihah sampai hafal. Jangan biarkan guru ngajinya yang mengajari. Ibu tahu? Bila ada pembanding, Ibu mengajarkan Surat An-Naba. Lalu, guru ngaji mengajarkan Surat Al-Fatihah. Siapakah yang mendapatkan pahala paling banyak? Ibu atau guru ngaji? Guru ngaji bu. Si anak lebih sering baca Al-Fatihah dibanding Surat An-Naba bu. Dia baca surat Al-Fatihah 17 kali dalam sehari bu. Anak ibu jarang baca An-Naba. Kepanjangan, katanya. Jangan sia-siakan kesempatan itu bu. Surat Al-Fatihah, wajib para ibu yang mengajarkan!” aku tertawa sambil berbicara dan mencatat dalam hati. Iya, kelak, harus aku sendiri yang mengajarkan anakku mengaji.

Dalam chat whatsapp, sahabatku mengatakan bahwa anak adalah investasi akhirat. Apapun harus dimulai dari diri sendiri. Jika ingin anak shalih atau shalihah, maka kita harus jadi orang tua yang shalih dan shalihah juga. Semoga bermanfaat ya, teman-teman. Semangat menjadi orang tua dan calon orang tua yang shalih dan shalihah ya. Semoga Allah memudahkan 🙂

Teman Diskusi

“Mbak, menurutmu cara paling ampuh untuk move on gimana?” tanya adikku.

“Nggak tau. Lagi nggak minat kasih pendapat tentang percintaan.” jawabku singkat.

“Wkwkwkwk, jawaban macam apa itu. Yaudah, lupain.” adikku tertawa terbahak-bahak.

Sebelum pertanyaan itu ditanyakan oleh adikku, ia bercerita tentang kawannya. Betapa ia bingung karena kawannya mudah sekali berganti pacar setelah putus cinta. Katanya, ia tahu kisah itu karena semua terlihat dalam sosial media. Aku tidak menanggapi serius pertanyaannya. Tidak seperti biasanya, siang tadi aku tidak berminat berdiskusi panjang tentang topik itu. Entahlah, aku kehilangan minat saja tiba-tiba hahaha

Aku dan adikku memiliki kebiasaan unik. Menurutku sih unik, entah menurut kalian. Kami sering berdiskusi tentang hal-hal yang membingungkan. Tentang hal-hal yang sulit diterima oleh pikiran. Misalnya saja tentang seseorang yang senang mentertawakan kekurangan orang lain, namun selalu bersedih bila orang lain membahas tentang kekurangannya.

“Menurutmu atas dasar apa dia memiliki pikiran seperti itu? Aku nggak paham. Menurut logika, kalau dia tahu bagaimana sedihnya diperlakukan seperti itu, seharusnya sih nggak melakukan hal yang sama kan?” kataku.

“Aneh sih. Aku juga bingung. Dia malah ketawa ya kalau melihat orang yang tampak buruk atau tampak kurang.” jawab adikku.

“Aku masih nggak ngerti dan sulit untuk ngerti sih.” sambungku.

“Tanpa punya maksud khusus, mungkin dia hanya senang saja melakukan itu, mbak.” jawabnya singkat.

“Mungkin ia mendapat salah pengasuhan. Dan ia memiliki luka masa kecil yang belum sembuh. Makanya dia bersikap seperti itu. Kita doakan saja semoga hatinya digerakkan sama Allah, ya.”

Selalu seperti itu. Kalau tidak menemukan kesepakatan, kesimpulan, dan solusi kami selalu menyerahkan saja semuanya sama Allah :’)

Atau tentang rahasia Allah yang tidak pernah bisa ditebak oleh manusia.

“Mbak, menurut pengamatan manusia mah hasil akhir udah bisa ditebak. Semua fakta menunjukkan hasil akhir yang bahagia. Namun, kalau Allah berkata lain, manusia bisa apa?” kata adikku.

“Iya, aku tahu. Kalau kita kasih kuesioner ke banyak orang, jawaban mereka pasti sama kaya kita haha “ kataku.

“Kejadian seperti ini semakin membuat kita sadar ya, mbak. Takdir aja bisa berubah sesuai kehendak-Nya. Apalagi hati manusia?” lagi-lagi ia memberi tanggapan dengan pertanyaan.

“Iya, benar kamu. Intinya, bagaimana pun kenyataan begitu terlihat nyata, kita nggak boleh terhanyut dan terlalu yakin. Sebab, bagaimana nasib kita beberapa detik atau menit ke depan aja kita nggak tau. Semua menjadi rahasia Allah.” aku menambahkan.

“Meskipun begitu, kita nggak boleh hilang percaya dan penuh curiga mbak. Nggak boleh juga terlalu hati-hati hingga kita lupa jadi diri sendiri. Apalagi sampai nggak peka tentang kebaikan orang lain” kata adikku.

“Iya, aku tahu. Seperti yang selama ini kita yakini, jalani sebaik mungkin, lalu serahkan semua hasilnya sama Allah. Allah pasti kasih yang terbaik. Nggak mungkin Allah menjerumuskan hamba-Nya ke jurang kesengsaraan kan?” jawabku.

“Iya, mbak nggak mungkin. Kalau kita nggak merasakan kebaikan takdir Allah, itu karena keterbatasan kita aja, mbak.”

“Iya, setuju banget. Keterbatasan kita yang belum mengerti dan memahami takdir baik Allah.”

***

Allah Maha Tahu kebutuhan hamba-Nya. Apa jadinya aku tanpa adikku. Mungkin segala kebingungan hanya akan mengendap dalam pikiran. Mungkin segala keraguan tak akan pernah berubah menjadi keyakinan. Mungkin segala kegembiraan tak pernah melimpah rasa bahagianya. Mungkin segala kesedihan tak akan meluruh rasa sedihnya.

Terima kasih adikku telah menjadi teman diskusiku 🙂

Hikmah Satu Bulan Tanpa Ayah

Ayah yang biasa membantu segala keperluan, harus absen selama satu bulan karena keperluan pendidikan. Alhasil, kami harus bertahan satu bulan di rumah tanpa sosok ayah. Kami harus bertahan satu bulan di rumah, tanpa peran ayah. Rasanya seperti apa? Rasanya sungguh sedih dan kehilangan. Ah, mengapa menusia selalu saja begini, baru merasakan pentingnya seseorang ketika orang tersebut menghilang? Baru mensyukuri kebaikan seseorang ketika orang tersebut pergi? Apakah harus merasakan kehilangan dahulu, baru setelahnya kita memiliki hati yang peka? Ah dasar manusia. Ah dasar aku.

Banyak ketidakeraturan hadir ketika ayah tak ada di rumah. Banyak kegamangan hadir ketika ayah tak ada. Banyak kekhawatiran hadir ketika ayah jauh dari sisi kami. Banyak kecemasan hadir ketika ayah tak disini. Kami tidak merasa tenang tanpa ayah di rumah. Mungkin kami tidak bisa jauh dari ayah. Kata orang, bisa karena kita terbiasa. Tetapi aku tak yakin perkataan orang tersebut. Sebulan terbiasa tanpa ayah, nyatanya kami tetap saja tidak terbiasa. Seperti ada yang hilang. Kami tidak lengkap tanpa hadirnya ayah.

Merasakan ketidakhadiran sosok ayah dalam keluarga membuat aku sadar mengapa setiap manusia harus menikah. Manusia membutuhkan manusia lainnya untuk saling membantu. Manusia membutuhkan manusia lainnya untuk bekerja sama. Manusia membutuhkan manusia lainnya untuk saling menguatkan.

Istri yang begitu mudah menggunakan perasaannya, hingga terkadang hal tersebut menyulitkan dalam menyelesaikan setiap masalah. Suami yang begitu mudah menggunakan logika, terkadang hal tersebut menyulitkan dalam memahami perasaan orang lain. Suami dan istri bersama untuk saling melengkapi kan? Allah Maha Tahu segala kelebihan dan kekurangan ciptaan-Nya. Sungguh indah dan sempurna segala ketentuan Allah :’)

Pelajaran terbaik memang mendapat hikmah dari sebuah kehilangan. Namun, jika mau mengusahakannya, kita bisa mendapatkan hikmah tanpa harus merasakan kehilangan dahulu. Melihat kekurangan orang lain memang lebih mudah daripada melihat kebaikan. Karena pada dasarnya manusia lebih sering melihat kekurangan dibandingkan nikmat. Tetapi, jika mau, kita bisa kok melihat kebaikan-kebaikan orang lain. Ada banyak nikmat dan kebaikan yang patut kita syukuri.

Ada banyak hal sederhana yang sering orang lain lakukan, tapi kita selalu saja salah fokus dalam memandang. Misalnya, daripada mengomentari rasa pedas yang begitu menyengat lidah, bagaimana kalau kita berterima kasih dan memuji cita rasa makanan itu dahulu? Daripada mengomentari keterlambatan seseorang, bagaimana kalau kita berterima kasih atas kebaikannya meluangkan waktu? Daripada mengomentari hadiah seseorang karena tidak sesuai selera kita, bagaimana kalau kita berterima kasih dahulu atas perhatian yang diberikan? Dengan melakukan semua itu, kita akan terlatih untuk menghargai tindakan orang lain. Hati kita akan lebih peka untuk melihat kebaikan. Dan akhirnya, kita akan menyadari pentingnya kehadiran seseorang dalam hidup kita.

Aku belajar dari kehilangan. Banyak hal sederhana ternyata telah luput dari perhatian. Hal sederhana yang sebenarnya memiliki arti sangat bermakna. Hal sederhana yang baru kusadari ketika ayah pergi. Ayah yang tak pernah absen membangunkan ketika waktunya shalat subuh. Ayah yang selalu mengingatkan ketika aku meletakkan sesuatu bukan pada tempatnya. Ayah yang selalu mengingatkan agar menyiapkan segala keperluan jauh-jauh hari keberangkatan. Ayah yang selalu memanaskan mesin motor sebelum aku berangkat kerja. Ayah yang selalu memastikan bensin motor penuh ketika ingin digunakan. Ayah yang selalu duduk di teras ketika aku tak juga sampai rumah hingga larut malam. Ayah memberi begitu banyak, kan? Semua itu luput dari perhatian. Hingga tak sempat mengatakan terima kasih. Hingga tak sempat mensyukuri.

Seringkali aku, kamu, dan kita tidak menghargai tindakan orang lain karena terlalu terbiasa merasakan. Seringkali aku, kamu, dan kita, merindui hal-hal sederhana itu, ketika kehilangan.

Semoga kita tidak seperti itu lagi. Sebab, tentang sebuah kehilangan, tak pernah ada yang bisa menjamin ia akan kembali. Syukur-syukur ia bisa kembali dan kita dapat berterima kasih lagi. Jika tidak, yang kita dapat hanya sebuah penyesalan. Penyesalan yang tak akan hilang meskipun berkali-kali menyembuhkan diri.

Tentang Ayah dan Pendamping Hidup

Mungkin ini yang dimaksud pentingnya wanita memiliki panutan laki-laki dari sosok ayah. Sebab, wanita tak akan bingung lagi bagaimana memilih pendamping hidup.

Ayahku adalah orang yang senang belajar. Ayah tak pernah memanfaatkan kemampuan anaknya untuk menyelesaikan tugasnya. Aku ingat betul bagaimana ayah belajar menggunakan komputer beberapa tahun lalu. Ayah juga belajar mengoperasikan handphonenya sendiri. Aku bahkan tak pernah merasa kesulitan berkomunikasi dengan ayah tentang teknologi terkini. Kurasa, ayah lebih tahu dibanding aku.

Ayahku sedang mempersiapkan diri untuk seleksi melanjutkan pendidikan. Meskipun administrasi sudah memenuhi syarat, masih ada tes kesehatan dan tes psikotest untuk seleksi tahapan selanjutnya.

Karena senang belajar, ayahku pun memiliki pikiran yang terbuka dan mau berubah menjadi lebih baik. Contohnya masalah kesehatan ini. Sudah sedari lama, ayah tak lagi meminum minuman yang mengandung bahan kimia. Ayah tak lagi memakan makanan yang mengandung lemak. Ayah meminum banyak air putih. Dan ayah rutin melakukan olahraga tenis meja. Alasannya sederhana, ayah tidak ingin sakit. Ada banyak sekali teman-teman sebayanya yang memiliki penyakit berat seperti stroke, gagal jantung, dan diabetes. Melihat kenyataan seperti itu, ayah pun lebih sadar dengan kesehatannya. Oleh karena itu, untuk persiapan seleksi kesehatan ini, ayah tak begitu khawatir. Ayah sudah menjaga kesehatannya sejak lama.

Lalu, untuk tes psikotest, ayah juga mempersiapkannya dengan serius. Seringkali aku memergoki ayah sedang melihat soal-soal di youtube, lalu mengerjakannya pada kertas kosong. Melihat pemandangan itu, aku merasa malu sekaligus bangga. Malu karena semangat belajarku tidak sebesar ayah dan bangga karena memiliki panutan seperti ayah. Ayah juga mengikuti bimbingan belajar bersama beberapa temannya. Jadi, mereka latihan soal psikotest yang jumlahnya ratusan. Semangat juangnya keren banget ya? Kelak, saat seusia ayah, belum tentu aku memiliki semangat juang seperti itu.

Ayahku pandai berbaik sangka. Terkait seleksi melanjutkan pendidikan ini, ayah menunjukkan usaha terbaiknya, namun tak memaksakan takdir. Ayah mengatakan,“Tugas manusia memang berusaha seoptimal mungkin, mbak. Kalau belum lulus seleksi, ya artinya memang takdir terbaiknya seperti itu. Ayah tak tahu segala hal. Tetapi, Allah Maha Tahu, kan?”

Melihat ayah mengatakan itu ada rasa bahagia dan haru. Betapa Allah Maha Baik memberikan ayah seperti ayahku.

Di usia ayah yang sebentar lagi 52 tahun, tentunya fisik tak lagi sama. Namun, jiwa muda ayah tetap terjaga. Proses seleksi ini cukup panjang. Ayah harus menghadiri pertemuan awal yang menjelaskan bagaimana prosedur selama seleksi dan apa saja yang harus dipersiapkan. Ayah juga harus datang lagi untuk melakukan tes kesehatan. Ayah harus tes psikotest. Dan beberapa hari ke depan, ayah masih harus tes psikotest lanjutan. Kalau aku, mungkin akan baik-baik saja karena usia yang masih terbilang muda. Kalau ayah? Pasti tak mudah dan melelahkan. Tetapi berbeda dengan ayah. Ayah tak merasa terbebani. Ayah begitu santai namun melangkah pasti. Mungkin inilah yang disebut berkawan dengan proses. Seberat apapun ujian, proses akan terasa mudah.

Ayahku bukanlah ayah yang sempurna. Namun, ayah memberi begitu banyak kepadaku. Ayah memberi begitu banyak pelajaran untukku. Salah satu contohnya, tentang persiapan seleksi melanjutkan sekolah ini. Kamu dapat membayangkan sendiri bagaimana sikap ayahku dari cerita di atas :’) Aku dibuat takjub berkali-kali atas usahanya. Aku dibuat haru berkali-kali atas sikap pantang menyerahnya. Aku dibuat bangga berkali-kali atas perjuangannya.

Melihat perjuangan ayah, tanpa sadar membuat aku mengagumi sosok baru. Sosok baru yang kelak menjadi pendamping hidupku. Kurasa, kini aku memiliki standar untuk memilihnya.

Sebaik-baiknya pendamping hidup adalah laki-laki seperti ayah. Laki-laki yang menghargai kehidupan. Laki-laki yang memiliki semangat hidup tinggi. Ia yang tak pernah menyerah meskipun kehidupan tampak tak memberikan harapan. Ia yang terus melangkah meskipun kaki telah terluka. Ia yang tetap tersenyum meskipun ada banyak luka pada hatinya. Ia yang tak pernah berhenti belajar. Ia yang hanya berharap dan menyerahkan seluruh hidupnya pada Allah.

Terima kasih telah lahir ke dunia, Ayah. Terima kasih telah menjadi ayahku.

Terima kasih telah menciptakan ayahku ke dunia ini, Allah. Mohon lindungi dan kuatkan ayah selalu. Aamiin.

Cerita: Memiliki Adik Perempuan adalah Anugerah

Katanya, ini foto dan tulisan spesial untuk mbaknya ♥ Terima kasih banyak, Dik 🙂
​Memiliki adik perempuan adalah anugerah. Berkatnya, menjadi dewasa tidak hanya mimpi semata. Kami mendewasa bersama melalui banyak kesalahan yang telah dilakukan. Kami memperbaiki kesalahan dan berupaya terus memperbaiki diri.

Rumah adalah tempat dimana hilang rasa kekhawatiran untuk menjadi diri sendiri. Meskipun, tetap saja ada sisi lain diri saya yang hanya milik saya sendiri. Saya dan adik merasa bebas bersikap apa adanya di rumah. Rumah adalah tempat bagi Saya dan dia jujur dengan perasaan. Mungkin karena kami tahu, keluarga akan selalu mengerti, menerima, memaafkan, dan tidak meninggalkan.

Saya dan adik sama-sama belajar. Saya terlalu berperasaan. Adik terlalu berpikir rasional. Apa hasilnya? Ada banyak konflik terjadi. Kami tidak saling mengerti dan memahami. Pada awalnya, tentu rasa egois menguasai. Saya berpikir,“Loh, masa kamu nggak bisa menghargai perasaan orang lain sih? Coba sedikit aja bayangin kamu diposisi orang lain supaya lebih peka”, dan dia berpikir,“Loh, mbak kok nggak ngerti sih? Nggak semua orang bisa peka mbak. Aku emang nggak ngerti cara peka. Bukan sengaja melakukan itu.”

Kalau berpikir dari sudut pandang saya, tentu rasanya sulit mengerti apa yang ia katakan. Bagaimana mungkin ada orang kesulitan memikirkan perasaan orang lain? Bagaimana mungkin ada orang orang yang kesulitan untuk peduli? Begitulah pertanyaan yang muncul bila saya hanya menggunakan sudut pandang dan kaca mata saya. Tetapi, itu bukan solusi. Itu buka jalan yang baik.

Akhirnya, saya memutuskan berpikir melalui sudut pandangnya. Saya berusaha mengingat kembali tentang proses karakter manusia terbentuk. Ada banyak hal yang membentuk karakter. Salah satunya adalah faktor pengalaman. Saya tidak boleh sok tahu berpikir pengalaman saya dan adik pasti sama. Meskipun sudah 20 tahun lebih kami tinggal bersama, belum tentu sama. Bisa jadi pengalaman waktu kecil yang orang tua berikan terhadap kami berbeda-beda. Ditambah pengalaman si adik dan saya saat masa sekolah dahulu. Banyak sekali perbedaan. Jadi, perbedaan karakter yang terjadi antara saya dan adik merupakan hal yang wajar. 

Mencari perbedaan di dalam keberagaman tak ada gunanya. Karena hasilnya tentu saja akan ada banyak keberagaman dan perbedaan. Menyamakan suatu perbedaan juga hal yang sia-sia. Menjadi sama bukanlah solusi membuat kehidupan lebih baik. Sebaiknya perbedaan itu membuat kita terus belajar. Bahwa ada banyak hal yang tidak sama dan kita tidak tahu. Disanalah tantangannya. Bisakah kita berjalan beriringan dalam perbedaan. Bisakah kita membuat diri ini kaya pembelajaran karena perbedaan. Bisakah kita menyelaraskan kehidupan karena perbedaan.

Kami Saling Membantu

Dari pada terus memikirkan perbedaan karakter diantara kami, saya memutuskan untuk memberikan pengalaman ke adik agar menjadi orang yang peka dan peduli. Kata orang, cara terbaik untuk mengajari seseorang adalah memberikan contoh. Sebenarnya, saya sudah melakukan itu kepadanya. Namun, karena memang belum memiliki pengalaman untuk memerhatikan tindakan orang lain, ia tidak memerhatikan tindakan saya itu. Ia tidak tahu tindakan yang saya lakukan adalah sebuah perhatian. Ia juga tidak tahu tindakan yang saya lakukan atas dasar kepedulian. Memahami kondisi tersebut, maka saya menggunakan cara lain agar ia ‘tahu’.

Saya tidak lagi menggunakan tindakan saja untuk memberikan contoh kepadanya. Tetapi, melalui perkataan seperti,“Nih, mbak bikinin teh hangat untuk nemenin begadang. Kurang perhatian apa lagi coba mbaknya?”, atau jujur dengan perasaan seperti ini,“Kalo balas wa jangan singkat-singkat apa. Mbak kan udah wa panjang-panjang. Peduli sedikit apa sama tindakan orang”, saya bahkan menjadi tidak tahu malu seperti ini,”Hei, kalo abis dianterin ke kampus, setelahnya wa bilang terima kasih apa. Kalo kamu bilang terima kasihnya di dalam hati doang orang lain nggak akan tau.”

Diajak seru-seruan foto pakai aplikasi snow sama anak 97’an 😂 Yaaaa, mbaknya nurut-nurut aja deh.

Alhamdulillah, karena ia memiliki keinginan besar untuk belajar dan berubah, perlahan si adik sudah mulai peka, perhatian, dan peduli terhadap orang lain. Saya sangat bersyukur si adik juga memiliki pikiran yang terbuka untuk menerima hal baru. 

Hal di atas memang harus dilakukan terus menerus dan harus sabar menjalaninya. Memang tidak instan dan hasilnya tidak langsung terlihat. Namun, percayalah, akan terlihat perbedaannya suatu saat kelak. Kuncinya, dua orang ini harus kerja sama. Yang ingin berubah harus berusaha keras dan yang ingin membantu harus bersabar.

Saya juga belajar banyak dari proses berubah si adik. Saya belajar untuk memiliki pikiran yang luas. Saya belajar pentingnya menggunakan banyak sudut pandang dalam memutuskan suatu persoalan. Tidak semua hal dapat dipikirkan dari sudut pandang saya saja. Jadi, untuk mendapatkan keputusan yang terbaik untuk kedua pihak, sudut pandang yang digunakan pun harus banyak. 

Kami juga saling belajar untuk terbuka dan jujur pada perasaan masing-masing. Mengutarakan hal disuka dan hal yang tidak disuka. Dan mengutarakan keinginan masing-masing, untuk kemudian disesuaikan dengan keadaan.

​**

Menyadari bahwa di dunia ini ada banyak manusia, kita pun harus sadar bahwa manusia lengkap dengan hati dan pikirannya. Kita harus menerima dan menghargai.

Bila memiliki hubungan dengan orang lain, jangan pernah memaksa orang lain berpikir sama dengan kita. Karena memang tak akan sama. Jangan juga berharap orang lain bertindak sama dengan kita. Karena memang tak akan mungkin. Setiap orang berhak memilih bagaimana ia berpikir, merasa, dan bertindak.

Perbedaan seharusnya membuat kita kaya akan pembelajaran. Belajar hal-hal yang sebelumnya tak kita tahu. Belajar hal-hal yang sebelumnya tak kita suka. Belajar hal-hal yang sebelumnya tak pernah kita temui.

Perbedaan seharusnya membuat kita saling melengkapi. Melengkapi hal-hal yang kurang. Melengkapi hal-hal yang ganjil. 

Karena sejatinya manusia sungguh memiliki banyak kekhilafan, keterbatasan, dan kekurangan. Kita membutuhkan orang lain untuk menasehati, membantu, dan melengkapi.

**

Terima kasih kepadamu, karena berkat kamu, mbak bisa terus introspeksi dan berubah menjadi lebih baik. Terima kasih untuk sharingnya selama ini. 

Kalau mbak tidak punya adik, entahlah mau dikemanakan pikiran yang sudah menguap ini dibagi. Kalau mbak tidak punya adik, entahlah siapa lagi yang akan memberi kritik membangun demi perilaku mbak yang lebih baik. Kalau mbak tidak punya adik, entahlah siapa lagi yang akan memberi apresiasi tiap kali ada perubahan baik ini berhasil mbak lakukan.

Terima kasih sudah mendengarkan dan berbagi cerita. Sebab, dari sanalah mbak, kamu, dan kita menemukan hikmah yang berguna untuk kehidupan kita kelak.

Ayahku (Tidak) Menyebalkan

Ayahku menyebalkan. Begitu kataku. Dahulu, aku adalah anak yang begitu egois. Selalu ingin ayah begini dan begitu sesuai dengan keinginanku. Aku juga tak jarang bertengkar dengan ayah. Aku dan ayah sama-sama keras kepala.

Kala itu, aku masih sekolah dasar.

“Hari Minggu besok aku mau berenang sama keluarga, yah.” aku meminta kepadanya.

“Maaf, ayah tidak bisa. Ayah harus dinas. Lagi pula apa sih manfaatnya jalan-jalan di akhir pekan?” ayahku menolak dan mempertanyakan permintaanku.

“Untuk menyegarkan otak yah. Kan enak jalan-jalan. Aku bosan di rumah yah. Senin sampai Sabtu kan sekolah terus.” aku berusaha memberikan alasan agar ayah merubah pikirannya.

“Kalau mau, ini ayah kasih aja uangnya. Kamu pergi sama mama aja ya.” ayahku tetap menolak karena keperluan dinas dan menawarkan uang sebagai kompensasi.

“Aku mau ayah juga ikut. Ih, ayah nyebelin.” aku tetap kokoh pada pendirianku. Enggan memahami kondisi ayah. Dan tetap menuntut.

**

Beranjak remaja, aku dan ayah semakin tidak cocok saja. Aku dan ayah ibarat dua kutub positif magnet yang di dekatkan. Kami saling tolak menolak. Saat itu, usiaku kira-kira 14 tahun. Aku masih sekolah menengah pertama. Ayah benar-benar menyebalkan. Bagaimana tidak? Ayah tak pernah semudah itu memberikan uang padaku. Aku harus melakukan pekerjaan terlebih dulu sebelum akhirnya diberikan uang. Pikirku saat itu, ayah ini menyebalkan sekali. Tega sekali sama anaknya.

Kamu tahu? Aku harus membantu ayah seperti mencuci motor, membelikan sesuatu di warung, membuatkan kopi, membayar tagihan telepon di kantor telkom, atau membayar tagihan listrik di kantor pos, dan lain-lain. Aku kesal. Tetapi tetap melakukannya. Karena, aku membutuhkan uang untuk membeli keperluanku saat itu. Dan, hubunganku dengan ayah semakin jauh. Aku tidak menerima perlakuan ayah.

“Ayah, aku mau minta uang untuk main ke rumah teman besok setelah pulang sekolah.” meskipun kesal, aku tetap saja meminta uang ke ayah. Karena mamaku menyuruh begitu.

“Iya nanti ayah kasih uang. Tapi, kamu bayar tagihan telepon dulu ya. Kantornya dekat banget kok itu. Nggak sampe satu kilo. Gampang mbak proses pembayarannya.” ayah memberikan aku penawaran.

“Aku nggak tau caranya, yah. Aku takut. Langkah-langkahnya gimana yah?” aku takut, tetapi tetap menanyakan caranya. Karena apa? Aku butuh uang.

“Nggak usah takut. Kan belajar, mbak. Tanya aja sama pak satpam gimana cara bayar tagihan telepon. Kamu kan sudah besar, malu bertanya sesat di jalan.” ayahku enggan memberikan langkah-langkah. Dalam hati, aku kesal sekali sama ayah.

Begitulah. Hal-hal seperti itu yang membuat aku tidak dekat dengan ayah. Yang kutahu, ayahku itu kaku sekali. Tidak lemah lembut seperti ayah-ayahnya temanku. Ayah tegas sekali padaku. Memang sih ayah lulusan militer, tapi apa harus kemiliteran itu juga diterapkan kepadaku? Bahkan ketika aku takut, bukannya diantar, aku malah disuruh tanya pak satpam. Menyebalkan, kan?

Hingga sekolah menengah atas, hubungan aku dan ayah tetap seperti itu. Berhubungan tetapi tidak dekat. Sampai pada saat itu, aku belum pernah curhat ke ayah. Mengajak foto bersama pun enggan. Mamalah penyelamatku. Mama yang selalu berada dipihakku bila ayah terlalu tegas dan keras.

Hingga akhirnya, saat kuliah, ada perkataan sahabatku yang sangat menyentuh hatiku. Sekaligus menyadarkanku. Begini katanya,“Bagaimanapun, ia adalah ayahmu. Bagaimanapun sikap ayah yang tidak kamu sukai, sampai kapanpun ia adalah ayahmu. Sekeras apapun kamu menolaknya, ia tetaplah ayahmu. Jadi, terimalah keadaan ayahmu apapun itu.”

Aku merenungi perkataannya di rumah. Aku tersadar, sejak kecil dulu hingga saat ini, tidak pernah sekalipun aku memikirkan perasaan ayah. Aku hanya memikirkan diriku sendiri. Aku hanya memikirkan kebahagiaan diriku sendiri. Aku memikirkan tindakan ayah yang tidak kusukai. Tetapi, aku tidak memikirkan apakah aku sudah menjadi anak yang baik. Aku egois. Mulai saat itu, aku mulai melihat ayah. Aku mulai mengamati setiap hal yang ayah lakukan. Aku berusaha memposisikan diriku sebagai ayah. Aku juga berusaha memahami hal-hal yang ayah sukai dan tidak. Aku menyadari, ayah juga manusia biasa sepertiku. Ada hal-hal yang ayah inginkan. Ada hal-hal yang ayah sukai dan tidak. Jadi, aku harus menghargai ayah dan hal-hal yang diyakininya. Dan aku mulai menyukai ayahku.

**

Sejak tahun ke tiga di perkuliahan, aku menjadi orang yang berbeda. Aku sudah mampu melihat segalanya lebih luas. Jika mengingat lagi kisah kecil dulu, ayahku yang menyebalkan itu sesungguhnya hanya ingin memandirikan aku. Ada nilai-nilai yang ayah ingin tanamkan kepadaku. Ayah ingin aku menjadi anak yang mandiri, berani, pantang menyerah. Ayah ingin aku memahami arti kerja keras. Bahwa, sebelum mendapatkan sesuatu, aku harus berusaha dan berjuang lebih dulu.

Aku pun melihat ayah dengan cara yang berbeda. Ada hal-hal yang tak kulihat dulu, namun saat ini semua terlihat dengan jelas. Ayah sangat peduli pada keluarganya. Ayah menularkan sikap tanggung jawab, percaya diri, bekerja keras, dan pantang menyerah. Jangan berharap ayah akan berkata lembut, bertutur kata manis, dan memeluk hangat anaknya. Karena ayah bukan tipikal orang seperti itu. Ayah menunjukkan kasih sayang dengan cara berbeda.

Ayah tetap berdiri penuh semangat, meskipun kami sudah terjatuh dan mengibarkan bendera putih tanda menyerah. Ayah tetap maju, meskipun di depan sana banyak rintangan menghalangi. Ayah berkata bisa dengan lantang, meskipun kenyataan berkata tidak. Ayah mendukung apapun keputusan anak-anaknya, meskipun semesta bersorak untuk menolak.

Terima kasih, ayah. Berkat ayah, kami tak ragu melangkahkan kaki. Berkat ayah, kami selalu percaya selalu ada jalan untuk siapapun yang berusaha. Berkat ayah, tidak ada yang tidak bisa dilakukan, selama niat masih bergelora di dalam dada. Terima kasih untuk segalanya, ayah. Kami tak akan pernah bisa membalasnya.

**

Tulisan ini spesial untuk ayah yang sedang berulang tahun hari ini. Semoga usia ayah diberkahi Allah. Semoga ayah diberikan kesehatan selalu. Semoga ayah bahagia di dunia dan akhirat. Semoga ayah selalu didekatkan dengan kebaikan. Semoga ayah dimudahkan berjuang di jalan-Nya.

 

Yang menyayangimu,

 

Shinta

 

 

Depok, 12 Mei 2018

Hal Sederhana untuk Proses Pembelajaran Anak: Bicara dan Berbagi

​Sebenarnya ada hal sederhana yang dapat kita lakukan untuk proses pembelajaran anak. Kita hanya perlu banyak bicara dan berbagi informasi kepadanya. Lalu, berikan kepercayaan bahwa anak mampu melakukannya sendiri. Kita harus membedakan rasa sayang untuk memenuhi kebutuhan kita atau rasa sayang untuk memenuhi kebutuhan anak.

Rasa sayang untuk memenuhi kebutuhan kita adalah ketika kita melakukan semua hal yang seharusnya anak lakukan sendiri. Alasannya satu, tidak tega. Tidak tega melihat anak sedikit kesulitan. Tidak tega melihat anak sedikit kelelahan. Padahal, kesulitan dan kelelahan saat proses pembelajaran adalah hal yang normal. Hal tersebut menunjukkan anak sedang berusaha.

Rasa sayang untuk memenuhi kebutuhan anak adalah ketika kita memberikan kesempatan anak untuk berusaha. Kesempatan untuk menggunakan kemampuannya, untuk percaya bahwa dirinya mampu, dan kesempatan untuk mengembangkan dan mempelajari suatu keterampilan. Lelah dan kesulitan adalah bagian dari proses. Tidak ada keberhasilan yang didapatkan dari proses yang mudah dan tantangan yang sedikit.

Memandirikan anak bukan berarti kita tidak boleh membantunya. Kita boleh membantu memberikan contoh di awal. Kita juga boleh menyemangati ketika anak mulai lelah berusaha. Namun, yang tak boleh dilupa, kita tidak boleh menutup kesempatan agar anak mencoba. Percayalah, ia akan senang dan bangga ketika berhasil menyelesaikan dengan kemampuannya sendiri.

Hari ini, saya mengajak Satria (usia: 4 tahun 5 bulan) naik kereta. Kegiatan hari ini adalah dalam rangka menepati janji. Sudah sejak lama satria menanti untuk menaiki kereta kesayangannya. Saya menyambut keinginannya dengan semangat. Di stasiun nanti, ada beberapa aktivitas yang ingin saya berikan kepadanya. Saya ingin Satria mencoba seluruh aktivitas dengan mandiri. Namun,  saya tetap akan mendampingi. Beberapa aktivitas yang akan dilakukan adalah mengajak Satria antre tiket bersama, memperkenalkan tiket kereta, mempercayakan Satria untuk mendorong tap gate sendiri, memperkenalkan tempat duduk untuk menunggu kereta, memperkenalkan rambu-rambu di stasiun yang harus ditaati, hingga memperkenalkan tata cara menjadi penumpang yang baik di dalam stasiun dan kereta api.


“Kok ribet banget sih anak kecil diajarkan hal-hal seperti itu?”

“Emangnya anak ngerti?”

Tenang, semua aktivitas itu tidak dilakukan seperti ujian nasional kok hehehe saya akan mengajak Satria ngobrol dan mengarahkannya saja. Lalu, disisipkan pembelajaran di dalamnya dengan cara-cara menyenangkan. Biasanya sih cara saya seperti ini:

“Dek, kalau di kereta boleh lari-larian nggak?”

“Nggak boleh.” jawabnya singkat.

“Lho, kenapa nggak boleh? Kan gerbongnya panjang dek. Luas lho untuk lari-larian.” saya menanggapi sambil sedikit menguji nalarnya dan memengaruhi.”

“Nanti jatuh. Kan keretanya goyang-goyang, mbak.” jawabnya polos.

“Iya, betuuuuul. Adek pintar yaaaaa. Bahaya dek kalo lari-larian disini. Nanti kamu jatuh terus terluka deh. Terus terus, kita boleh lari-larian dimana dek?” lagi-lagi saya bertanya untuk mengetahui sejauh mana si adek ini mengerti.”

“Di halaman rumah aja atau di lapangan bola, mbak.” Satria menjawab dengan senyum ceria.

“Iya betuuuuul. Yeay, adek pintar ya. Tapi, kalo ada yang main bola di lapangan, jangan lari disana ya dek. Nanti kamu kena bola. Lagi pula, mengganggu kakak-kakak yang main bola deeek.” aku memberikan sedikit penjelasan.


Kira-kira seperti itu yang biasa saya lakukan untuk menyisipkan pesan moral ke Satria hehe berikan saja penjelasan singkat dengan bahasa yang dapat dimengerti anak. Tidak perlu mengkhawatirkan anak akan mengerti atau tidak. Anak Insya Allah mengerti. Wajahnya memang terlihat polos. Seakan-akan tidak mengerti. Namun percayalah, otaknya merekam semua yang kita katakan.

Mengobrol dengan anak kecil selalu bermanfaat dan tidak akan pernah merugi. Beberapa manfaat yang saya rasakan dan terlihat jelas pada Satria adalah semakin bertambah kosa kata dan semakin tajam konsep berpikirnya. Satria juga memiliki rasa ingin tahu yang tinggi, tidak mudah menyerah, dan pandai bercerita. Jadi, yuk buang jauh-jauh rasa malas dan hidupkan kebiasaan mengobrol pada anak 🙂

Hal yang paling membahayakan adalah bukan karena seseorang tidak pintar. Namun, seseorang yang tidak mau belajar, tidak mau berusaha, dan dengan mudahnya menjawab pertanyaan dengan kalimat “tidak tahu”.

Wajah ‘terlalu’ bahagia saat naik kereta 😂😂

​Mulai saat ini, semoga pola pikir kita tak lagi sama seperti dahulu. Anak itu ibarat kertas kosong. Kertas akan terisi sesuai paparan orang-orang dan lingkungan di sekitarnya. Jadi, kalau ingin anak tumbuh dan berkembang menjadi anak yang baik dan manis, kita harus bersedia mengisi kertas kosong itu dengan hal yang baik dan manis pula. Jangan menjadi egois. Menginginkan anak tumbuh dengan baik, namun enggan meluangkan waktu untuk mengisi kertas dengan sebaik-baiknya. Hal tersebut sama saja seperti berharap uang jatuh dari langit. Mungkinkah? Tidak mungkin.

Mengajarkan dan memberikan contoh pada anak dapat dilakukan dimana aja. Semua tergantung mau atau tidak kita meluangkan waktu. Bicaralah padanya. Jangan lelah menjelaskan dan memberitahu kebenaran. Sesederhana itu.