[Day 25] Rumah

Rumahmu pasti memiliki “nilai” tersendiri dalam hatimu. Setiap rumah selalu memiliki cerita. Setiap orang yang hadir selalu memiliki kisah. Dan setiap suara yang kamu dengar dalam rumahmu selalu memiliki kenangan.

Bila rumahmu belum memiliki “nilai” dalam hatimu. Atau rumahmu belum memiliki makna apa-apa untukmu, mungkin sesekali kamu perlu melangkah lebih jauh. Bepergian selama beberapa hari, misalnya. Agar apa-apa yang lupa diamati dapat kamu ingat lagi. Agar semua hal yang terlewatkan dapat kamu renungkan kembali.

Aku menyukai rumah. Dan aku selalu betah berlama-lama di dalam rumah. Menurutku, rumah tidak hanya memiliki arti sebagai tempat tinggal saja. Rumah berisi lengkap dengan banyak hal. Orang-orang, cerita, kisah, aktivitas, serta ruangan-ruangan di dalamnya.

Rumah juga mengerti kebutuhanku. Aku dibersamai oleh keluargaku, aku mendapatkan banyak fasilitas dengan “cuma-cuma”, aku mendapatkan teman bercerita “tanpa batas waktu”, dan aku mendapatkan ruang belajar yang selalu “membantu dan memotivasiku agar tetap maju”.

Kalimat sepanjang apapun kurasa tak akan mampu menggambarkan bagaimana bahagianya aku memiliki rumah. Rumah adalah salah satu dari banyaknya nikmat Allah yang sering kali luput dari perhatianku. Karena selalu ada di depan mata, aku pun lupa bahwa ia istimewa.

Bagaimana pun nyamannya rumah untukku, semoga tidak menjauhkanku pada-Mu. Sebab kutahu, semua tentang rumah yang aku sukai itu, datangnya hanya dari-Mu 😊

Advertisements

[Day 15] Kebiasaan Unik

Unik atau tidak adalah perkara penilaian saja. Tergantung bagaimana kamu memandang sesuatu. Sama seperti ketika aku melabeli kebiasaan sahabatku sebagai tindakan yang unik. Seperti, kebiasaan Dela merekatkan sticker harga pada sampul plastik buku barunya. Tidak ada alasan khusus. Ia hanya senang saja.

Aku juga pernah membaca cerita orang lain kalau kesukaannya adalah memberi nama pada tanaman-tanamannya. Kali ini ada alasannya. Kata dia, tanaman tersebut begitu berarti untuknya. Maka, pemberian nama adalah sebagai penghargaan untuk tanaman-tanamannya.

Lalu, bagaimana dengan aku? Aku tidak tahu perbuatan ini unik atau tidak. Tapi, perihal ini cukup “aneh” bagi orang-orang di sekitarku. Kata mereka, “Bagaimana bisa aku tahu?”

Aku memiliki kebiasaan mengingat kebiasaan orang lain. Meskipun tidak dengan sengaja mengingat, aku akan mengingatnya. Dan ingatan itu akan bertahan dalam waktu lama.

Apakah ini menandakan bahwa ingatanku cukup baik? Tidak juga. Aku buruk mengingat kisah masa kecil. Aku juga buruk dalam mengingat cerita-cerita dalam film. Kalau tidak “diniatkan”, aku tidak bisa mengingat cerita dalam film dengan rinci.

Jadi, kebiasaan orang lain seperti apa yang biasanya aku ingat?

Aku bisa mengingat dengan banyak mengamati. Misalnya saja pengetahuanku tentang kesukaan Dela dengan camilan. Dela memang tidak secara gamblang mengatakan bahwa dirinya suka melahap camilan. Tapi aku bisa tahu dari kebiasaannya sehari-hari.

Dela ini selalu membeli camilan tiap pulang kerja. Yang aku perhatikan, camilan yang Dela beli biasanya berupa makanan manis. Di kamarnya juga selalu ada satu atau dua toples berisi camilan. Dari hal-hal itu, aku tahu Dela memang suka nyemil.

Lalu, tentang Wira yang suka sekali sate padang. Dulu saat di kampus, tiap ada kesempatan makan sate padang, Wira akan memilih sate padang. Padahal kala itu banyak sekali pilihan makanan.

Saat di kosan pun, Wira rela keluar kamar sebentar hanya untuk mencari tukang sate padang. Mengamati kebiasaan Wira, aku jadi tahu kalau makanan kesukaan dia adalah sate padang. Apakah Wira pernah secara terang-terangan mengatakan? Tentu saja tidak. Tapi, melalui pengulangan yang Wira lakukan, aku tahu Wira benar-benar suka sate padang.

Atau tentang Kak Dhika yang suka sekali teh pahit hangat. Tiap kali bekerja, Kak Dhika selalu membuat teh hangat. Ketidaksukaannya terhadap air putih, membuat Kak Dhika harus melakukan itu. Kalau kakak datang lebih awal, biasanya ia akan mampir sebentar ke mini market untuk membeli minuman manis kemasan. Dari mana aku tahu kalau Kak Dhika suka sekali teh pahit hangat? Apakah Kak Dhika bercerita? Lagi-lagi jawabannya tentu saja tidak.

Aku tahu hal tersebut dari hasil ngobrol bareng Kak Dhika. Saat itu, Kak Dhika sedang minum teh. Kulihat tehnya hitam pekat sekali. Lansung saja aku bertanya,“Kak, tehnya hitam banget. Itu sengaja tehnya nggak diangkat?”

“Iya. Teh enakan begini, Shin. Berasa tehnya. Harum gitu.” jawabnya.

“Pake gula nggak, Kak?” tanyaku.

“Pake lah. Aku suka teh manis hehehe mau coba?” jawab Kak Dhika sekaligus menawari tehnya.

“Boleh boleh.” langsung kucoba teh buatannya. Dan memasang mimik muka kepahutan. Rasanya sungguh pahit wkwk

“Ini mah teh pahit namanya kak. Bukan teh manis hahahaha.” kataku.

“Manis tahu!!!” sanggahnya. Definisi pahit atau tidak memang relatif, ya. Tergantung selera setiap orang memang :’)

Sejak saat itu, aku tahu kalau Kak Dhika menyukai teh pekat manis sedikit hehehe

Aku biasa melakukan semua itu. Mengamati lebih banyak dan juga bertanya yang tak kalah banyak. Dari obrolan ringan maupun mendalam, biasanya aku bisa menyimpulkan selera dan kesukaan teman. Meskipun tidak melalui ungkapan lisan.

Dari kebiasaanku itu biasanya aku menjadi tidak kesulitan memberikan hadiah kecil untuk teman. Atau membelikan titipan. Tanpa bertanya banyak kepada mereka, aku tahu apa yang mereka inginkan. Meskipun tidak semua hal aku tahu, paling tidak pengamatan yang aku lakukan bisa memberikan sedikit “bocoran” 😆

Bagaimana dengan kamu? Apa hal unik yang biasa kamu lakukan? 😁

[Day 14] Namaku

Aku tidak pernah membicarakan arti namaku sendiri secara serius. Pernah suatu ketika aku menanyakan arti namaku, mamaku malah menjawab begini,“Dulu saat mengandung kamu, mama nonton film india Rama dan Shinta. Pemeran Shintanya si Sri Devi, Mbak. Cantik banget. Yaudah, mama namain kamu Shinta aja hahaha.”

Pembicaraan serius pun paling seperti ini,“Shinta itu artinya perempuan yang pemberani. Anggraini itu artinya Hari Selasa.” jawab ayahku. Singkat dan tidak menarik hahaha

Karena kedua orang tua menjawabnya sambil bercanda, aku pun jadi hilang minat untuk bertanya lebih rinci lagi. Saat itu, sepertinya aku juga belum terlalu peduli arti sebuah nama.

Saat Sekolah Dasar (SD) pada zamanku, nama-nama yang ada disinetron itu keren banget. Semisal, Chika, Nadia, Anastasya, Nafisa, Citra, dan lain sebagainya. Ingin rasanya punya nama seperti itu. Entah apa definisi keren pada zaman itu. Dan entah apa motifnya. Yang jelas, aku tidak terlalu bangga dengan namaku sendiri. Dan nama-nama yang ada disinetron selalu menjadi kesukaan.

Apalagi nama belakangku adalah nama ayahku, Karsono. Dulu, saat SD ejekan nama ayah sedang booming sekali. Anak SD selalu merasa bangga dan terhibur tiap kali menemukan “sebutan lucu” untuk nama orang tua. Bagi teman-temanku itu hiburan.

Dulu, nama ayahku diubah menjadi “ke sono”. Dan semua tertawa. Untuk angkatanku, yang biasa membuat lelucon biasanya laki-laki. Akibat hal tersebut sebuah nama tidak menjadi berharga dan spesial lagi. Malahan, bagi orang-orang yang memiliki nama ayah di belakang namanya, menjadi pengalaman yang tidak menyenangkan sama sekali.

Pada saat Sekolah Menengah Pertama (SMP), lelucon dengan nama orang tua sudah tak terdengar lagi. Namun, pada zaman itu, menggunakan nama samaran sedang ngetrend sekali. Nama samaran seperti, botak, koplak, gendut, kurus, cungkring, dan lain-lain. Siapa pun tidak ada yang merasa tersinggung. Dan nama tersebut biasanya melekat hingga lulus sekolah.

Oh iya, aku sempat dipanggil gendut 😂 Alhamdulillah tidak tersinggung, karena pada saat itu aku menganggapnya sebagai “panggilan sayang” dari para sahabat hahaha

Sampai Sekolah Menengah Atas (SMA) pun arti nama hanya sebatas itu saja. Usia dan pengalaman pun akhirnya berperan. Semenjak kuliah, sebuah nama menjadi sesuatu yang berbeda untukku. Sebuah nama menjadi lebih berharga.

Saat awal kuliah, aku disuruh mengisi biodata dengan benar. Dan diingatkan bahwa nama yang dicantumkan pada biodata, akan tercantum pada lembar ijazah. Jadi, mengisinya harus hati-hati dan tidak boleh sembarangan.

Ditambah, diwajibkannya menulis nama lengkap teman-teman untuk cover sebuah karya ilmiah atau laporan. Aku terbiasa memperlakukan sebuah nama dengan benar. Kesalahan ketik tidak diizinkan. Berkat semua itu, aku menjadi semakin tahu bahwa sebuah nama selalu spesial dan tidak boleh diperlakukan asal-asalan.

Apalagi diusia sekarang. Ketika melihat kawan-kawan mencari nama untuk buah hatinya. Mereka mencari informasi melalui buku, internet, atau pun berdiskusi dengan banyak orang. Perjuangan mereka sungguh membuat terkesan.

“Nama adalah doa. Maka, memilih nama dengan baik adalah sama seperti mendoakan anak dengan banyak kebaikan.” begitu kata mereka.

Hatiku pun akhirnya tergerakkan. Sore tadi aku bertanya lagi sama ayah tentang arti namaku. Setelah sekian tahun berlalu, keingintahuanku tentang arti nama muncul kembali.

“Apa arti Shinta Anggraini Karsono, yah?” tanyaku.

“Kenapa kok tiba-tiba nanya?” tanya ayahku dengan mimik muka penasaran.

“Nggak apa-apa. Mau nulis tentang nama hehehe.” jawabku singkat dan penuh harap supaya ayah segera menjawab rasa penasaran.

“Shinta itu artinya orang yang tenang dan mudah diatur. Anggraini itu asal katanya Anggoro. Itu bahasa Jawa, Mbak. Artinya Hari Selasa. Kamu lahir Hari Selasa. Karsono ya nama ayah. Biar orang tau kamu anak ayah hahaha.” jawab ayah panjang. Aku takjub ayah menjawab dengan super panjang. Sungguh, ini kejadian jarang.

“Kok ayah nggak pernah kasih tau arti nama ke anaknya?” tanyaku.

“Anak kecil dikasih tau nggak akan ngerti. Entar kalo udah dewasa juga akan paham.” jawab ayah. Pada poin ini aku tidak setuju sama ayah. Meskipun tidak akan mengerti dan paham, anak-anak harus tahu arti namanya sendiri. Untuk apa? Untuk kekuatan diri menjalani kehidupan.

Untuk memastikan dan semakin mantap, sesudah mengobrol aku browsing sebentar. Arti nama yang kutemukan sama persis seperti kata ayahku. Ternyata namaku berasal dari Bahasa Sansekerta. Setelah paham, aku jadi malu sendiri. Kemana saja aku, menunggu usia lebih dari seperempat abad dahulu untuk mencari tahu.

Seandainya sudah tahu sejak kecil, sepertinya pemahamanku tentang nama akan lebih baik. Kurasa, bullying verbal tentang nama dari siapa pun tak akan berarti apa-apa. Dan pengertianku tentang sebuah nama juga akan semakin bijak. Meskipun begitu aku tidak menyesal. Lebih baik terlambat daripada tidak tahu sama sekali, kan? 😊

[Day 11] Percaya Diri Bisa Diciptakan

Percaya diri itu bisa diciptakan. Salah didikan orang tua tidak bisa menjadi alasan. Kita hidup untuk masa depan, kan? Jadi, alih-alih menyalahkan didikan yang tidak membentukmu menjadi seseorang yang percaya diri, bagaimana kalau kamu sendiri yang membuat perubahan?

Pandanganku ini diperkuat dengan satu artikel yang aku baca barusan. Di sana dituliskan bahwa percaya diri bisa diubah dan dibentuk melalui berbagai cara seperti, perencanaan, persiapan, pembelajaran, latihan, dan berpikir positif.

Tantangan terberat untuk rasa percaya diri adalah melakukan hal baru atau melakukan hal di luar kemampuan. Melakukan keduanya tentu bukan hal mudah untuk dilakukan. Apalagi bila sebelumnya memiliki pengalaman buruk yang menyebabkan kegagalan. Ditambah kritik orang-orang yang membuat keadaan semakin tidak menyenangkan. Bagaimana bisa kondisi ini membuat kita percaya diri, kan? Bila berpikir cepat, pasti jawabannya hal itu sungguh sulit sekali dilakukan.

Tetapi, mau tidak mau, siap tidak siap, kita memang harus memutuskan. Jalan apa yang kita pilih untuk masa depan.

Usia yang semakin bertambah membuat kita harus mengambil banyak peran dan tugas. Misalnya saja ketika diberi tugas baru oleh atasan yang sebelumnya belum pernah dikerjakan. Pastilah muncul keraguan akan kemampuan.

Namun, bukan hidup namanya kalau kita langsung menolak tugas tersebut hanya karena keraguan. Padahal, hakikat hidup memang selalu penuh tantangan dan ujian.

Aku percaya, keraguan datang hanya karena kita belum memantapkan keyakinan. Maka, satu-satunya cara memantapkan keyakinan adalah libatkan Tuhan dalam mengambil keputusan. Dan kemudian mempersiapkan. Hanya dengan cara itulah rasa percaya diri bisa didapatkan.

Karena rasa percaya diri bisa diciptakan, bagaimana kalau kita berusaha menaklukkan? Jangan pernah menyerah dengan keadaan. Diri ini terlalu berharga bila kita menyia-nyiakan kesempatan.

Sumber foto: http://www.pngtree.com

[Day 9] Si Insecure

Insecure, dulu biasa digunakan untuk menyebut sikap orang-orang yang terlalu pencemburu kepada pasangannya. Meski tidak tahu pasti makna kata itu, aku menduga, sepertinya maknanya adalah rasa khawatir yang berlebihan.

Ternyata dugaanku nyaris benar. Namun, insecure memiliki makna yang lebih luas dari itu. Insecure berarti tidak merasa puas terhadap dirinya sendiri. Ia tidak puas bukan karena dirinya sudah merasa mampu. Melainkan, ia selalu merasa dirinya “kecil” yang tak bisa melakukan apa-apa. Orang lain selalu tampak “besar” bagi dirinya.

Tidak hanya sampai pada diri sendiri saja, seseorang yang memiliki sikap insecure akan berusaha menutupi keaslian dirinya di hadapan orang lain. Ia tidak mau orang lain mengenal dirinya, karena khawatir mereka akan menolak kehadirannya.

Karena si insecure merasa “kecil”, maka, rasa takut akan penolakan orang lain menjadi semakin besar saja. Ia khawatir, apa-apa yang ia punya dan lakukan akan ditolak oleh orang lain. Ia juga selalu merasa “pandangannya” selalu salah. Dan akhirnya si insecure pun memandang rendah dirinya.

Pendeskripsian di atas tentang seseorang yang memiliki sikap insecure adalah hasil pemikiran dan imajinasiku saja. Artikel yang membahas insecure ternyata tidak terlalu banyak. Atau mungkin, aku yang tidak terlalu “rajin” mencarinya, ya hahaha

Saat browsing kata “insecure” pun, yang muncul rata-rata definisinya saja. Meskipun hasil imajinasi dan pemikiran, semoga bisa sedikit menggambarkan. Kalau kamu memiliki penggambaran lain, boleh sekali berbagi ke aku dikolom komentar, ya 🙂

Meskipun bukan termasuk orang-orang yang insecure, dulu, aku pun hampir merasakan sikap itu. Aku tahu bagaimana rasanya cemas dan gelisah ketika terus-menerus “merasa kecil” dibandingkan orang lain.

Rasa itu, membuat aku terlalu fokus melihat kelebihan orang lain. Seperti,“Kok dia hidupnya enak ya, mudah sekali gonta ganti gawai. Aku kalau ingin beli gawai, harus menabung dulu dan tak langsung dibelikan.” Atau, “Kok dia berbakat banget ya, apa aja bisa. Kayaknya, bakatku nggak banyak-banyak banget, deh.”

Pemikiran itu terjadi saat masih pencarian jari diri dan sama sekali belum mengenal diri. Aku terlalu sibuk memikirkan kehidupan orang lain dan tidak peduli akan potensi diri. Dan kehidupan seperti itu sungguh meresahkan. Ketenangan hati pun sulit sekali didapatkan.

Lalu, bagaimana caranya supaya aku tidak lagi “merasa kecil” dan terhindar dari rasa cemas berlebihan? Semua butuh proses. Aku pun melalui proses yang panjang hingga akhirnya berdamai dengan diri sendiri. Pelan-pelan saja 🙂

Dulu, kesadaran yang kali pertama muncul adalah aku memahami bahwa setiap orang memiliki keunikannya tersendiri. Unik dalam hal kelebihan, juga kekurangannya.

Begitu pula unik dalam menyelesaikan masalahnya. Setiap orang memiliki cara tersendiri untuk menyelesaikan masalahnya. Oleh karena itu, aneh rasanya kalau aku masih membanding-bandingkan diri sendiri dan orang lain untuk mencari siapa pemenangnya.

Padahal, setiap orang adalah pejuang dalam medan kehidupannya. Hanya dia yang bisa menjadi pemenang atau bukan dalam kehidupannya. Dan hanya diri sendiri yang bisa menentukan. Ingin menjadi penonton kehidupan orang lain, atau menjadi pemenang yang mampu mengendalikan dirinya.

Ingin menjadi apa kita dalam menjalani kehidupan adalah pilihan. Begitu pula menjadi insecure atau tidak. Kalau aku, tidak senang terus menerus berada dalam ketakutan dan kegelisahan. Karena, rasanya melelahkan.

Yang masih aku yakini sampai saat ini, aku akan tetap melangkah ke depan. Bahkan ketika aku belum tahu apa yang akan terjadi di masa depan. Sebab, aku selalu punya Allah yang selalu mengarahkan dan menguatkan. Dan aku tahu hasil memang bukan tujuan, namun proseslah yang memberikan banyak pelajaran. Bukankah memang begini hakikat kehidupan?

Apa Kamu Tahu Arti Berjuang?

Kalau kamu mendengar kata berjuang, tak perlulah kamu mengira berjuang itu hanya untuk hal-hal besar yang hasilnya pasti terlihat oleh mata. Tak perlu juga kamu merasa berjuang adalah hanya untuk orang-orang pemberani. Kegiatan berjuang itu sangat dekat dengan kita. Apakah kamu tahu definisi berjuang? Berjuang adalah berusaha sekuat tenaga terhadap sesuatu. Berjuang adalah berusaha penuh dengan kesukaran dan bahaya. Bagaimana? Bukankah kita sudah melakukan semua itu setiap hari? Iya, kita sudah berjuang. Dan kita lupa berterima kasih. Pada diri.

Ini adalah cerita tentang kamu yang tak ingin namanya disebutkan. Tulisan ini adalah tentang perjuangan yang sudah kamu lakukan. Mungkin kamu tidak menyadari usaha apa yang sudah dilakukan. Aku tahu. Aku akan mengingatkan.

Kenyataan yang Mengkhianati Harapan

Saat kali pertama mengetahui kenyataan itu, aku sudah melihat sebuah perjuangan di sana. Kamu telah berjuang. Kamu yang senang memendam semuanya sendiri dengan rela berbagi cerita. Kamu yang tahu betul, kamu tak akan bisa sendirian bila ada masalah besar datang. Kamu mendatangiku untuk sekadar menghabiskan malam lara bersama.

“Gue sebenarnya mau jalan kaki aja di luar sana. Tapi, gue tahu apa yang akan dilakukan di luar kalau keadaan lagi nggak beres gini. Gue sebenernya maunya sendirian aja di kamar. Tapi, rasa putus asa terlalu menguasai diri gue. Gue takut ngelakuin hal-hal mengerikan. Makanya, gue datengin elo. Lebih baik gue di sini aja sama lo.” ia bercerita sambil terisak.

Aku memilih diam mendengarkan. Biarkan ia luapkan kegelisahan dan rasa sedihnya melalui tangisan.

Ketika kenyataan begitu pahit. Kakimu terasa lemas dan tak sanggup berdiri. Hatimu begitu sakit seperti dihujam belati. Jantungmu berdegup kencang. Tanganmu bergetar. Dunia terasa samar. Kamu hanya melihat dirimu sendiri yang sedang terduduk dengan luka yang tak berdarah. Namun, kamu masih bisa duduk tenang, tidak berteriak, dan terus menangis. Kamu juga masih bisa berbagi duka denganku. Kamu tidak berduka sendirian. Saat itu, kamu telah berjuang.

Kehidupan Tidak Akan Menunggumu

Seperti biasa. Meskipun keadaan kamu belum begitu baik, kehidupan tetap berjalan. Setuju atau tidak, kamu tetap harus menjalani peranmu. Dalam keadaan terluka, kamu masih bisa menggunakan akal dengan baik. Kamu tahu, sulitnya keadaan tidak membuat kewajiban berhenti sejenak. Kewajiban tetaplah kewajiban. Yang harus dibayar dengan tanggung jawab.

Kamu menyambut pagi dengan senyuman. Kamu makan dengan lahap. Kamu menjalani aktivitas dengan suka cita. Orang-orang mungkin tertipu. Mereka menyangka kamu baik-baik saja. Sebenarnya tidak, masih ada luka yang masih basah di dalam dirimu. Kenyataan tidak seperti itu, lidahmu mati rasa. Semua rasa terasa hampa. Kamu tidak bisa merasakan semua rasa masakan itu dengan baik. Kamu tidak nafsu makan. Tetapi, tubuhmu memiliki hak untuk makan. Kamu sadar itu dan kamu tetap makan.

Ketika keadaan diri sedang tidak baik. Namun kamu sadar tentang peran, kewajiban, dan hak diri. Kamu pun tetap menjalani hari dengan baik. Saat itu, kamu telah berjuang.

***

Untuk kamu yang ingin identitasnya dirahasiakan. Kamu menunggu tulisanku ini, kan? Tulisan ini khusus untuk kamu. Kamu telah berjuang, sungguh. Peluk dirimu dengan pelukan yang paling hangat. Ucapkan terima kasih pada dirimu sendiri dengan ucapan yang paling tulus. Berikan tepukan bersahabat pada bahumu sebagai tepukan penyemangat. Dirimu sudah melakukan yang paling baik. Dirimu sudah berusaha sekuat tenaga menghadapi rasa sakit. Dirimu sudah berjuang 🙂 Kudoakan, semoga waktu segera menyembuhkan lukamu. Semoga Allah selalu menguatkanmu. Tetap kuat ya!

Pandanganku tentang Luka

“Aku adalah orang yang setia. Aku pernah membersamai orang lain lima tahun lamanya. Kami cocok. Aku mengandalkannya. Dia pun mengandalkanku. Kami saling percaya. Di usia yang dulu masih belum matang, bahkan aku sudah yakin ingin menjalani hubungan serius. Aku yakin menikah dengannya. Namun, semua selesai. Dia melepaskan tanganku. Ia mengambil jalan lain. Ia berjalan cepat tanpa menoleh ke belakang.” Ia bercerita dengan wajah datar.

“Aku butuh waktu lama untuk pulih. Setelah pulih, aku menjadi orang yang baru. Aku tidak lagi percaya kepada selain-Nya. Bagaimanapun orang meyakinkan, aku tak pernah percaya seutuhnya. Kita tidak boleh berharap banyak pada selain-Nya kan? Berharap pada manusia hanya memberi kecewa saja. Memberi cinta itu sekadarnya saja. Memberikan rasa sayang sekadarnya saja. Kamu harus seperti itu bila mau menjaga hati.” Ia berbicara lancar dengan penuh keyakinan.

“Begitu kah yang ada dalam pikiranmu tentang rasa cinta dan kepercayaan?” Aku hanya mendengarkan dan melontarkan satu pertanyaan saja. Tidak banyak menanggapi. Sebab, kondisi saat ini bukan lagi saat yang tepat untuk berdiskusi. Ia telah memilih jalannya. Bersama orang yang dicintainya. Dan aku pun tahu, ia meninggalkan ‘bagian dirinya di belakang’. Bagian untuk memberi rasa cinta dan kepercayaan pada orang lain. Ia berubah. Luka yang teramat membuat ia meninggalkan beberapa bagian dirinya di belakang. Ia tetap bahagia. Yang terlihat seperti itu. Tetapi, entah bagaimana kondisi hati yang sebenarnya. Semoga juga dalam keadaan bahagia.

***

Aku ingin menanggapi kondisi temanku itu. Tulisan di bawah akan berisikan pandanganku tentang luka dan cara menyembuhkannya.

Aku pernah terluka. Begitu dilukai, tentu rasanya sakit. Hatiku begitu sakit. Dilukai oleh perkataan seseorang yang tidak begitu kenal saja mampu melukai hati. Bagaimana rasanya bila seseorang yang melukai adalah dia yang kamu percaya? Dia yang begitu kamu sayangi dan kasihi? Tentu sakit sekali. Tentu butuh perjuangan keras untuk bangkit.

Kalau aku, biasanya, tiap kali terluka selalu membayangkan luka tersebut seperti luka cidera kecelakaan. Luka paska kecelakaan saja bisa sembuh. Luka dihati juga harus sembuh. Aku hanya perlu waktu saja. Waktu akan menyembuhkan.

Aku memilih untuk tidak seperti temanku. Aku tidak akan meninggalkan ‘beberapa bagian diriku’ di belakang karena luka. Aku akan berusaha menjadi orang yang sama. Aku akan tetap menjadi Shinta yang keluarga dan sahabatku kenal. Aku bisa memberikan rasa percaya bila orang lain berusaha dan memberikan bukti nyata.

Aku tetap percaya bahwa ketulusan itu tetap ada. Jika terus terlukai, itu hanya tentang waktu saja. Waktunya untuk merasakan luka. Mungkin, Allah ingin aku mengenal rasa sakit. Sehingga, jika nanti merasakan kebahagiaan, aku akan bersyukur.

Aku tetap percaya bahwa orang yang baik itu masih banyak. Jika terus bertemu orang yang tidak tepat, itu lagi-lagi hanya tentang waktu saja. Saat ini bukan waktu yang tepat bertemu dengan orang yang tepat. Mungkin, Allah ingin aku belajar tentang kesabaran. Sehingga, jika nanti bertemu dengan orang yang tepat, aku akan menjaga, memperlakukan, dan menghargainya dengan baik.

Lagipula, rasanya tidak adil bila aku berhenti percaya bahwa orang tulus itu ada. Rasanya juga tidak adil bila aku terlalu berhati-hati, hingga lupa menjadi diri sendiri. Setiap orang berhak diberikan kesempatan untuk membuktikan, kan? Dan sungguh sayang, bila identitas diri ini berubah hanya karena sebuah luka.

Bila aku mengatakan bekas luka itu tidak ada, tentu aku berbohong. Bekas luka tetaplah ada. Kenangan rasa sakit juga tetap ada. Bila mengingatnya kembali, tentu saja sakitnya tetap terasa. Tetapi, biarlah ia berada dalam ruang masa lalu di belakang sana. Biarlah ia berada di tempatnya. Fokusku, tetap berjalan ke depan. Berjalan ke masa depan.

Aku dan masa lalu adalah satu kesatuan. Tak akan pernah bisa dipisahkan. Masa lalu dan rasa sakit memberiku begitu banyak. Contohnya pemikiranku tentang tulisan ini. Berkatnya, aku mampu berpikiran luas dan terbuka terhadap hal yang tidak menyenangkan. Berkatnya, aku siap menyembuhkan luka yang kerap datang. Dan berkatnya, aku selalu berusaha membuka hati dan memberikan ruang kepada siapapun yang berbuat baik.

Berhati-hati boleh, namun, jika itu kebaikan, jangan mengingkari dan mengabaikannya. Terima kebaikan apapun, ucapkan terima kasih, dan syukuri. Berbaik sangka itu menyehatkan jiwa. Oh iya, menyehatkan tubuh juga 😉

Mengusahakan Kebaikan Bersama

Pada setiap perkara, kita akan diberikan begitu banyak pilihan untuk setiap kesempatan. Pilihan yang memang datang sendiri pada skenario kehidupan. Atau pilihan yang memang kita cari tahu sendiri.

Pada pilihan yang kita cari tahu sendiri, seringkali kita menemukan orang bersikap egois namun beralasan ‘setiap orang berhak mendapatkan yang terbaik’. Mendengarnya sungguh ironis. Kenyataan menunjukkan bahwa sikap egois seringkali melukai perasaan orang lain. Kita begitu gigih mengutamakan diri sendiri hingga terlupa bagaimana keadaan orang lain. Kita lupa melontarkan pertanyaan ini pada diri sendiri,“Atas pilihan dan keputusanku ini, adakah hati yang tersakiti?”

Beberapa orang berkata, kita harus bertahan pada kehidupan yang keras ini. Kita harus menyadari setiap orang tidak sama seperti diri kita. Tidak semua orang berbuat baik seperti yang kita lakukan. Jadi, adaptasilah pada kehidupan yang keras ini. Tidak ada yang benar-benar tulus seperti itu.

Meskipun hati begitu menolak keras atas pernyataan itu, aku memilih untuk mendengarkan saja. Aku tahu, berdiskusi dengan dia yang tidak memiliki nilai dan tujuan sama adalah sia-sia. Sebab, tidak akan ada kesepakatan. Hal itu wajar. Tentang nilai dan tujuan memang tidak akan pernah bisa dipaksakan.

**

Setiap Orang Berhak Mendapatkan yang Terbaik

Aku setuju dengan pernyataan di atas. Allah telah berjanji, setiap hal telah berpasang-pasangan. Yang baik akan berpasangan dengan yang baik, begitu juga sebaliknya. Maka, agar janji Allah terjadi, kita pun harus mengusahakannya.

Berusaha mendapatkan yang terbaik bukan berarti hanya memikirkan diri sendiri. ‘Selalu ada cara’ memilih sikap untuk kebaikan bersama. ‘Selalu ada cara’ memilih tanpa menyakiti sesama. ‘Selalu ada cara’ membuat keputusan tanpa membuat luka. Aku yakin setiap orang bisa memilih ‘cara’ itu. Aku yakin setiap orang tahu bawa ‘cara’ itu adalah baik. Aku tahu setiap orang memiliki hati yang tulus untuk selalu peka pada setiap ‘cara yang benar’. Hanya saja, semua tergantung setiap orang. Mau atau tidak mengambil cara itu.

Berdasarkan pengalamanku, ketika memutuskan mengambil cara yang baik, jangan pernah berharap apa-apa atas keputusan itu. Tugas kita berakhir ketika selesai melakukan perbuatan baik. Dampak setelahnya adalah urusan Allah.

Jangan membuat pengharapan berdasarkan nilai dan tujuan kita. Jangan berharap pada manusia. Labuhkan harapan kita hanya pada Allah. Hanya dengan cara itu, kita melindungi hati ini agar tidak terluka dan kecewa. Hanya dengan cara itu, hati kita akan terjaga dan tetap bahagia.

Bertahan pada Kehidupan yang Keras

Seseorang mengatakan,“Ketulusan tidak pernah salah. Yang salah adalah memberikan ketulusan pada orang orang yang salah.”

Inti dari kalimat itu sebenarnya, Ia ingin mengingatkanku. Jangan pernah menyesal telah melakukan segala hal menggunakan hati. Jangan pernah menyesal telah melakukan perbuatan dengan dengan tulus. Meskipun perlakuan yang didapat tidak begitu baik, bahkan buruk, tak apa. Kamu melakukan itu bukan untuk mendapatkan hal baik dari orang lain, kan? Kamu melakukan itu, karena hanya dengan cara itu hati dan pikiranmu merasa nyaman. Hanya dengan perbuatan seperti itu hati dan pikiranmu merasa bahagia.

Bertahan pada kehidupan yang keras bukan berarti kita harus bersikap keras. Hingga saat ini, yang aku yakini, jangan sampai rasa sakit merubah diri sendiri menjadi lebih buruk. Melakukan hal yang sama hanya karena ia melakukan hal tidak baik, hanya akan melukai hati kita sendiri.

Yang tidak boleh dilupa, hal baik akan mendatangkan hal baik. Jika tidak hari ini, mungkin esok. Jika tidak esok, mungkin lusa. Jika tidak lusa, mungkin suatu saat. Saat-saat itu pasti akan datang. Yakin, Allah Maha Baik akan mendatangkan hal baik pada waktu dan saat yang tepat 🙂

Satu hal lagi yang tidak boleh dilupa, hal baik tidak akan datang dari seseorang atau hal yang sama. Bisa jadi hal baik itu datang dari orang lain atau tempat lain. Bukankah, kebaikan itu begitu luas? Bukankah kebaikan itu bisa datang dari banyak hal? Bukankah kebaikan itu bisa datang dari mana saja?

**

Kita selalu berhak mendapatkan yang terbaik. Dalam mengusahakannya, semoga kita tak lupa bahwa setiap pilihan dan keputusan yang diambil, akan memberikan dampak pada kehidupan orang lain. Jika kebaikan bersama bisa kita dapatkan, mengapa harus ada orang lain yang dikorbankan?

Rasa Cemas Tidak Sesederhana Itu

Mulai hari ini, aku tidak akan menganggap rasa cemas begitu saja. Aku tidak akan menyepelekan lagi rasa cemas yang dirasakan orang lain. Aku tidak lagi menyamakan rasa cemas satu orang dengan orang lainnya.

Kini aku tahu. Rasa cemas setiap orang berbeda-beda. Rasa cemas ada karena ‘pengalaman’ yang melatarbelakanginya. Rasa cemas harus benar-benar dikelola dengan baik dan benar. Rasa cemas tidak sesederhana itu.

Apalagi untuk orang-orang yang kesulitan mengendalikan rasa cemasnya. Mereka bukan tak ingin berhenti untuk cemas. Mereka ingin, tapi pada beberapa kondisi, rasa cemas mampu mengendalikan kehidupannya. Hingga ia tak mampu berdiri pada kakinya sendiri. Ia tak mampu merasa nyaman pada rumahnya sendiri. Ia tak mampu bermimpi pada hidupnya sendiri. Benarkah? Iya. Aku dapat menjaminnya.

Takdir Allah memang selalu datang pada saat yang tepat. Meski kita tak ingin, ia tetap datang. Meski kita tak pernah menanti, ia akan datang.

Siang itu, tiba-tiba bapak memberitahu bahwa ada seseorang yang membutuhkan bantuanku. Ia tak bisa berjalan karena baru saja mengalami operasi. Kini, ia ingin berjalan lagi. Ia adalah wanita berusia 20 tahun. Ia membutuhkan ‘seorang wanita’ untuk melatih dirinya berjalan. Dengan alasan jenis kelamin itulah, bapak mempercayakan orang tersebut padaku.

Saat mendapatkan kabar itu, aku menduga ia baru saja mengalami suatu kecelakaan. Entah tangan atau kaki yang mengalami cidera sehingga harus dioperasi. Namun ternyata tidak. Setelah melakukan komunikasi bersama orang tuanya melalui whatsapp, ternyata wanita ini melakukan operasi empedu enam bulan yang lalu. Aku semakin penasaran saja. Sepengetahuanku, kemungkinannya kecil sekali ada orang yang tak mampu berjalan hanya karena operasi empedu. Apalagi wanita ini masih 20 tahun. Kalau untuk lansia, bisa saja terjadi. Adanya komplikasi penyakit dan luka operasi empedu bisa membuat lansia tak bisa bangun dari tempat tidur dalam waktu lama. Tak bangun dalam waktu lama bisa membuat otot-otot tubuh seseorang mengalami kelemahan. Tak bangun dalam waktu lama akan membuat seseorang kesulitan berjalan.

***

Pada tulisan ini, aku akan memanggil ia, ST. Beberapa hari lalu, aku datang ke rumah ST. Saat itu, aku tidak langsung bertemu ST. Neneknya mengatakan, ST tidur di kamar atas. Sambil menunggu orang tua ST sampai rumah, aku berbincang saja dengan si nenek. Nenek bercerita dengan sedih namun menunjukkan ketegaran. Aku melihat raut kecemasan dan kesedihan disana. Melihat mimik dan intonasi suara nenek, ia berusaha agar tidak menangis di depanku.

Untuk bisa membantu, aku harus menggali banyak informasi tentang ST dan peran keluarganya. Melihat kondisi nenek, aku pun harus bertanya dengan hati-hati. Jangan sampai aku membuat luka di atas luka. Jangan sampai aku menggali informasi dengan cara yang tidak tepat.

Setelah berbincang dengan nenek, aku tahu ST tidak bisa berjalan bukan karena operasi empedunya. Ada masalah lain yang sangat serius. Masalah yang tidak akan kumengerti secara utuh jika tidak mendengarkan langsung dari narasumbernya. Aku harus mendengar langsung dari orang tuanya.

Mama ST menceritakan awal mengapa ST tidak mampu berjalan lagi. Sebenarnya, ST tumbuh dan berkembang seperti anak normal lainnya. Namun ia adalah sosok anak yang pemalu. Meskipun pemalu, ia tetap melakukan banyak hal persis sama seperti anak seumurannya. Hingga akhirnya datang satu peristiwa yang merubah kehidupan ST menjadi buruk. Hingga seperti saat ini.

ST berhenti sekolah sejak kelas 5 SD. Beberapa alasan seperti sahabat dekat pindah sekolah, merasa dirinya tidak cantik, dan diejek teman-teman karena menggunakan kaca mata tebal menjadi alasan ST untuk menolak sekolah. Sejak saat itu, ST belajar di rumah bersama guru dan neneknya yang berprofesi sebagai guru SMP.

Sejak berhenti sekolah sampai usia 17 tahun, ST masih mau keluar rumah, meskipun sebisa mungkin sedikit melakukan komunikasi dengan orang lain.

Saat usia 17 tahun, ST mengalami masalah pada empedunya dan dokter menganjurkan agar segera dilakukan operasi. Penyakit tersebut semakin membuat ST tidak percaya diri dan menyerah pada hidupnya sendiri. Ia kehilangan semangat untuk hidup.

ST memutuskan untuk tidak keluar kamar dan memilih membersamai waktu di dalam sana. Ia memutuskan hubungan sosial dengan orang lain. Ia memberi jarak pada saudara kandung dan keluarga besarnya. Ia memilih berdiam diri di tempat tidur.

Ia tak menemukan alasan mengapa ia perlu memiliki mimpi. Ia tak menemukan alasan mengapa harus mencoba. Ia memikirkan kemungkinan-kemungkinan terburuk sebelum mencoba. Ia memikirkan kegagalan-kegagalan sebelum mengahadapi. Ia pun mempertanyakan takdir Allah. Mengapa ia harus mengalami kehidupan sulit seperti ini? Selain itu, masalah fisik juga menjadi alasan ST menolak untuk berjalan. ST merasa sesak dan jantung seperti meledak tiap kali duduk atau berjalan. Karena hal tersebut ST takut menggerakkan tubuhnya.

Mama adalah orang terpilih yang ST percaya. Hanya kepada mama segala pikiran negatif ia ungkapkan. Hanya kepada mama segala kekhawatiran ia ceritakan. Hanya kepada mama segala kecemasan ia luapkan. Dan hanya kepada mama segala penolakan ia katakan. Bagaimana dengan orang lain? ST hanya akan mengatakan satu kata saja. Ia tidak akan mau berbicara banyak. Segala upaya sudah orang tua lakukan. Namun, nihil hasilnya. Pemeriksaan dokter atau psikolog tak bisa dilakukan. Sebab, ST memilih diam seribu bahasa. Bahkan, bergerak pun tidak.

***

Saat ini, ST berusia 20 tahun. Lebih dari 5 tahun ST mengalami gangguan kecemasan. Ia hidup dalam ketakutan dan ketidaktenangan.

Gangguan kecemasan bukan hanya kalimat biasa. Gangguan kecemasan adalah masalah serius yang bila tidak diatasi segera mungkin akan merenggut kehidupan seseorang.

Sebelumnya, yang kutahu, cemas hanya rasa tidak menyenangkan yang sifatnya sementara. Ia akan hilang bila penyebab cemas telah dihadapi. Ia akan hilang bila kita telah melaluinya. Ia akan hilang bila kita telah melewati momen. Namun ternyata tidak semua mengalami seperti itu. Ada orang-orang yang kesulitan menghadapi rasa cemasnya.

Melihat bagaimana ST menjalani semua ini, rasanya sungguh menyakitkan hati. Ternyata ada seseorang yang hidup dengan rasa cemas yang terus menerus dalam waktu lama. Ternyata ada seseorang yang kehilangan kesempatan untuk menikmati karunia-Nya. Ternyata ada seseorang yang kehilangan kesempatan untuk menggunakan banyak peluang. Ternyata ada seseorang yang kehilangan kesempatan untuk bersyukur.

Mungkin kita harus membayangkan sejenak. Bagaimana keadaan kita ketika menghadapi sesuatu yang sangat menakutkan? Bukankah kita akan berkeringat, jantung berdebar, sakit kepala, bahkan muntah-muntah?

Bayangkanlah. Bila kita merasakan semua itu setiap hari, setiap saat, dan setiap waktu? Bisakah kita hidup dengan tenang? Bisakah kita hidup dalam damai? Bisakah kita melangkahkan kaki ini? Kurasa tidak. Pikiran dan hati tak akan mampu bekerja dengan baik dalam ketidaktenangan.

ST merasakan dan mengalami semua itu. Pasti rasanya lebih menyesakkan dan menakutkan.

***

November 2018

Meskipun rasa cemas masih sulit untuk dihilangkan, ST sudah mulai bersemangat lagi. ST ingin berjalan. ST ingin kuliah. ST ingin bekerja. Aku datang ke rumahnya atas permintaan ia sendiri. Ia ingin latihan berjalan. Ia ingin belajar. Mendengar kabar itu dari mamanya, aku senang sekali.

Saat bertemu dengannya, meskipun masih menatap dengan malu dan sering kali menunduk, aku tahu ia bersemangat. Ia melakukan latihan dengan baik. Ia mengikuti instruksi dan selalu mau mencoba setiap gerakan yang kuberikan.

Ia masih tak mudah menjawab pertanyaan. Tak apa. Seberapa pun lama ia menjawab, aku akan menunggu. Untuk satu kata yang ia ucapkan, aku ucapkan banyak terima kasih. Untuk sesekali kontak mata yang ia lakukan, aku ucapkan terima kasih. Untuk satu gerakan tubuh yang ia lakukan, aku ucapkan terima kasih. Terima kasih sudah berani mencoba. Terima kasih sudah berani melakukan. Terima kasih telah mengalahkan rasa takutmu. Meskipun rasa cemas tak henti menghampirimu.

**

Sesering mungkin, aku minta ia menarik napas dan menghembuskan napasnya. Tak perlu buru-buru berjalan. Tak perlu buru-buru bergerak, sungguh. Lakukan yang paling mudah bagimu. Lakukan dengan bahagia. Aku disini. Aku di sampingmu. Aku akan membantumu.

Hati yang Bahagia

Jika menjalani hari dengan hati yang bahagia, maka jalan terjal atau landai pun tak ada beda. Keduanya sama-sama mudah dijalani. Hati adalah modal untuk memulai sesuatu. Oleh sebab itu, banyak orang mengatakan “luruskan niat”, karena dengan begitu tak akan ada kesulitan berarti.

Niat yang lurus dan hati yang ikhlas akan memudahkan segala urusan. Solusi juga akan mudah didapatkan. Gagal rencana A, kita akan berusaha melakukan rencana B, rencana B gagal lagi, kita akan mencoba rencana C, begitu seterusnya sampai kita berhasil melewatinya. Kita tak akan lelah mencoba dan berusaha. Kita tak akan berputus asa. Karena kita yakin, siapa yang bersungguh-sunguh pasti akan berhasil. Kita pun mengerti dengan baik arti sebuah kegagalan. Gagal berarti memang belum berjodoh, bukan hal yang baik untuk kita, dan harus belajar lebih banyak.

Untuk Kejadian yang Menyakitkan

Hati yang bahagia akan membuat kita mudah memaafkan. Hati yang bahagia membuat kita mudah mengerti perlakuan tak baik dari orang lain. Hati yang bahagia membuat kita lebih mudah memetik hikmah pada setiap kejadian. Hati yang bahagia membuat kita mampu berpikir dengan jernih bahwa berbuat salah sungguh tak apa. Kita dan orang lain hanyalah manusia biasa. Yang tak akan luput dari kesalahan. Hidup tidak hanya tentang hal-hal yang membuat hati senang, kan?

Untuk Menjalani Kehidupan Sehari-hari

Hati yang bahagia akan membuat kita melakukan banyak hal dengan cara yang menyenangkan. Hati yang bahagia akan memudahkan kita mengambil keputusan dengan kepala dingin dan bijaksana. Hati yang bahagia juga memudahkan kita untuk tersenyum tulus pada kondisi apapun.

Layaknya iman yang mudah dibolak-balikkan, begitu juga dengan keadaan hati. Saya tak akan mengatakan membuat hati bahagia itu mudah. Membuat hati bahagia adalah sebuah tantangan. Namun, kita perlu mengusahakannya. Hal ini semata-mata bukan demi orang lain. Melainkan, demi diri sendiri. Demi kebahagiaan kita. Bukankah setiap orang berhak untuk bahagia?

Mari bersama-sama berjuang! Hati yang bahagia tidak hanya mimpi semata jika kita memperjuangkan dalam kehidupan nyata 😉