Fokus pada Dampak Baiknya

Si sipit pernah membagikan postingan instagram @tirtoid pada storynya. Pada story tersebut ia mengungkapkan keluh-kesahnya. Khususnya pada komentar netizen yang sungguh “tidak tahu tempat”.

Kita seringkali hilang rasa peka. Alih-alih introspeksi diri dan mencari solusi bersama dari kenyataan yang ada. Kita malah lebih suka mencari-cari kesalahan siapa saja. Kau tahu apa komentar kebanyakan para netizen di kolom komentar pada postingan itu? Seperti biasa, komentar tersebut mengandung lebih banyak kebencian dibanding prasangka baiknya.

“Demi pencitraan.”

“Kenapa tidak diantar langsung? Supaya kelihatan kah proses bagi-bagi makanannya?”

“Gini nih kalo buat aksi sosial buat gimmick doang.”

Perihal bagaimana niat seseorang melakukan kebaikan, bukanlah urusan kita. Bila seseorang sudah mau melakukan kebaikan, aku rasa perbuatan itu sudah sungguh mulia. Apalagi yang melakukan adalah aparat yang selalu menjadi sorotan “kamera”. Semoga saja, aksi baik yang aparat lakukan akan ditiru oleh pihak-pihak lainnya. Bukankah rakyat miskin menjadi untung bila bantuan sosial ada di mana-mana?

Read more

Mereka yang Akrab dengan Kesulitan

Sore tadi aku mengintip sisi lain kehidupan mereka. Mereka, orang-orang yang kehidupannya kurang beruntung. Mereka, orang-orang yang hidupnya “akrab” sekali dengan kesulitan.

Kakek tua berusia 60 tahun duduk di pinggir jalan sembari meluruskan kakinya. Pakaian dan masker yang digunakan lusuh, tetapi selalu tersenyum kepada siapapun yang menyapanya. Pekerjaan kakek adalah pengangkut sampah. Sampah apapun. Sampah rumah tangga maupun sampah dedaunan hasil tebangan untuk pembangunan.

Kakek bercerita, kedua lututnya sakit. Ia tak mampu berjalan mandiri. Tapi, ia tetap mampu mendorong gerobak. Gerobak adalah tempat untuk bersandar. Dengan gerobak itulah ia bisa berjalan dari rumah ke rumah untuk mengambil sampah.

Read more

[Day 25] Rumah

Rumahmu pasti memiliki “nilai” tersendiri dalam hatimu. Setiap rumah selalu memiliki cerita. Setiap orang yang hadir selalu memiliki kisah. Dan setiap suara yang kamu dengar dalam rumahmu selalu memiliki kenangan.

Bila rumahmu belum memiliki “nilai” dalam hatimu. Atau rumahmu belum memiliki makna apa-apa untukmu, mungkin sesekali kamu perlu melangkah lebih jauh. Bepergian selama beberapa hari, misalnya. Agar apa-apa yang lupa diamati dapat kamu ingat lagi. Agar semua hal yang terlewatkan dapat kamu renungkan kembali.

Aku menyukai rumah. Dan aku selalu betah berlama-lama di dalam rumah. Menurutku, rumah tidak hanya memiliki arti sebagai tempat tinggal saja. Rumah berisi lengkap dengan banyak hal. Orang-orang, cerita, kisah, aktivitas, serta ruangan-ruangan di dalamnya.

Rumah juga mengerti kebutuhanku. Aku dibersamai oleh keluargaku, aku mendapatkan banyak fasilitas dengan “cuma-cuma”, aku mendapatkan teman bercerita “tanpa batas waktu”, dan aku mendapatkan ruang belajar yang selalu “membantu dan memotivasiku agar tetap maju”.

Kalimat sepanjang apapun kurasa tak akan mampu menggambarkan bagaimana bahagianya aku memiliki rumah. Rumah adalah salah satu dari banyaknya nikmat Allah yang sering kali luput dari perhatianku. Karena selalu ada di depan mata, aku pun lupa bahwa ia istimewa.

Bagaimana pun nyamannya rumah untukku, semoga tidak menjauhkanku pada-Mu. Sebab kutahu, semua tentang rumah yang aku sukai itu, datangnya hanya dari-Mu 😊

[Day 15] Kebiasaan Unik

Unik atau tidak adalah perkara penilaian saja. Tergantung bagaimana kamu memandang sesuatu. Sama seperti ketika aku melabeli kebiasaan sahabatku sebagai tindakan yang unik. Seperti, kebiasaan Dela merekatkan sticker harga pada sampul plastik buku barunya. Tidak ada alasan khusus. Ia hanya senang saja.

Aku juga pernah membaca cerita orang lain kalau kesukaannya adalah memberi nama pada tanaman-tanamannya. Kali ini ada alasannya. Kata dia, tanaman tersebut begitu berarti untuknya. Maka, pemberian nama adalah sebagai penghargaan untuk tanaman-tanamannya.

Lalu, bagaimana dengan aku? Aku tidak tahu perbuatan ini unik atau tidak. Tapi, perihal ini cukup “aneh” bagi orang-orang di sekitarku. Kata mereka, “Bagaimana bisa aku tahu?”

Aku memiliki kebiasaan mengingat kebiasaan orang lain. Meskipun tidak dengan sengaja mengingat, aku akan mengingatnya. Dan ingatan itu akan bertahan dalam waktu lama.

Apakah ini menandakan bahwa ingatanku cukup baik? Tidak juga. Aku buruk mengingat kisah masa kecil. Aku juga buruk dalam mengingat cerita-cerita dalam film. Kalau tidak “diniatkan”, aku tidak bisa mengingat cerita dalam film dengan rinci.

Jadi, kebiasaan orang lain seperti apa yang biasanya aku ingat?

Aku bisa mengingat dengan banyak mengamati. Misalnya saja pengetahuanku tentang kesukaan Dela dengan camilan. Dela memang tidak secara gamblang mengatakan bahwa dirinya suka melahap camilan. Tapi aku bisa tahu dari kebiasaannya sehari-hari.

Dela ini selalu membeli camilan tiap pulang kerja. Yang aku perhatikan, camilan yang Dela beli biasanya berupa makanan manis. Di kamarnya juga selalu ada satu atau dua toples berisi camilan. Dari hal-hal itu, aku tahu Dela memang suka nyemil.

Lalu, tentang Wira yang suka sekali sate padang. Dulu saat di kampus, tiap ada kesempatan makan sate padang, Wira akan memilih sate padang. Padahal kala itu banyak sekali pilihan makanan.

Saat di kosan pun, Wira rela keluar kamar sebentar hanya untuk mencari tukang sate padang. Mengamati kebiasaan Wira, aku jadi tahu kalau makanan kesukaan dia adalah sate padang. Apakah Wira pernah secara terang-terangan mengatakan? Tentu saja tidak. Tapi, melalui pengulangan yang Wira lakukan, aku tahu Wira benar-benar suka sate padang.

Atau tentang Kak Dhika yang suka sekali teh pahit hangat. Tiap kali bekerja, Kak Dhika selalu membuat teh hangat. Ketidaksukaannya terhadap air putih, membuat Kak Dhika harus melakukan itu. Kalau kakak datang lebih awal, biasanya ia akan mampir sebentar ke mini market untuk membeli minuman manis kemasan. Dari mana aku tahu kalau Kak Dhika suka sekali teh pahit hangat? Apakah Kak Dhika bercerita? Lagi-lagi jawabannya tentu saja tidak.

Aku tahu hal tersebut dari hasil ngobrol bareng Kak Dhika. Saat itu, Kak Dhika sedang minum teh. Kulihat tehnya hitam pekat sekali. Lansung saja aku bertanya,“Kak, tehnya hitam banget. Itu sengaja tehnya nggak diangkat?”

“Iya. Teh enakan begini, Shin. Berasa tehnya. Harum gitu.” jawabnya.

“Pake gula nggak, Kak?” tanyaku.

“Pake lah. Aku suka teh manis hehehe mau coba?” jawab Kak Dhika sekaligus menawari tehnya.

“Boleh boleh.” langsung kucoba teh buatannya. Dan memasang mimik muka kepahutan. Rasanya sungguh pahit wkwk

“Ini mah teh pahit namanya kak. Bukan teh manis hahahaha.” kataku.

“Manis tahu!!!” sanggahnya. Definisi pahit atau tidak memang relatif, ya. Tergantung selera setiap orang memang :’)

Sejak saat itu, aku tahu kalau Kak Dhika menyukai teh pekat manis sedikit hehehe

Aku biasa melakukan semua itu. Mengamati lebih banyak dan juga bertanya yang tak kalah banyak. Dari obrolan ringan maupun mendalam, biasanya aku bisa menyimpulkan selera dan kesukaan teman. Meskipun tidak melalui ungkapan lisan.

Dari kebiasaanku itu biasanya aku menjadi tidak kesulitan memberikan hadiah kecil untuk teman. Atau membelikan titipan. Tanpa bertanya banyak kepada mereka, aku tahu apa yang mereka inginkan. Meskipun tidak semua hal aku tahu, paling tidak pengamatan yang aku lakukan bisa memberikan sedikit “bocoran” 😆

Bagaimana dengan kamu? Apa hal unik yang biasa kamu lakukan? 😁

[Day 14] Namaku

Aku tidak pernah membicarakan arti namaku sendiri secara serius. Pernah suatu ketika aku menanyakan arti namaku, mamaku malah menjawab begini,“Dulu saat mengandung kamu, mama nonton film india Rama dan Shinta. Pemeran Shintanya si Sri Devi, Mbak. Cantik banget. Yaudah, mama namain kamu Shinta aja hahaha.”

Pembicaraan serius pun paling seperti ini,“Shinta itu artinya perempuan yang pemberani. Anggraini itu artinya Hari Selasa.” jawab ayahku. Singkat dan tidak menarik hahaha

Karena kedua orang tua menjawabnya sambil bercanda, aku pun jadi hilang minat untuk bertanya lebih rinci lagi. Saat itu, sepertinya aku juga belum terlalu peduli arti sebuah nama.

Saat Sekolah Dasar (SD) pada zamanku, nama-nama yang ada disinetron itu keren banget. Semisal, Chika, Nadia, Anastasya, Nafisa, Citra, dan lain sebagainya. Ingin rasanya punya nama seperti itu. Entah apa definisi keren pada zaman itu. Dan entah apa motifnya. Yang jelas, aku tidak terlalu bangga dengan namaku sendiri. Dan nama-nama yang ada disinetron selalu menjadi kesukaan.

Apalagi nama belakangku adalah nama ayahku, Karsono. Dulu, saat SD ejekan nama ayah sedang booming sekali. Anak SD selalu merasa bangga dan terhibur tiap kali menemukan “sebutan lucu” untuk nama orang tua. Bagi teman-temanku itu hiburan.

Dulu, nama ayahku diubah menjadi “ke sono”. Dan semua tertawa. Untuk angkatanku, yang biasa membuat lelucon biasanya laki-laki. Akibat hal tersebut sebuah nama tidak menjadi berharga dan spesial lagi. Malahan, bagi orang-orang yang memiliki nama ayah di belakang namanya, menjadi pengalaman yang tidak menyenangkan sama sekali.

Pada saat Sekolah Menengah Pertama (SMP), lelucon dengan nama orang tua sudah tak terdengar lagi. Namun, pada zaman itu, menggunakan nama samaran sedang ngetrend sekali. Nama samaran seperti, botak, koplak, gendut, kurus, cungkring, dan lain-lain. Siapa pun tidak ada yang merasa tersinggung. Dan nama tersebut biasanya melekat hingga lulus sekolah.

Oh iya, aku sempat dipanggil gendut 😂 Alhamdulillah tidak tersinggung, karena pada saat itu aku menganggapnya sebagai “panggilan sayang” dari para sahabat hahaha

Sampai Sekolah Menengah Atas (SMA) pun arti nama hanya sebatas itu saja. Usia dan pengalaman pun akhirnya berperan. Semenjak kuliah, sebuah nama menjadi sesuatu yang berbeda untukku. Sebuah nama menjadi lebih berharga.

Saat awal kuliah, aku disuruh mengisi biodata dengan benar. Dan diingatkan bahwa nama yang dicantumkan pada biodata, akan tercantum pada lembar ijazah. Jadi, mengisinya harus hati-hati dan tidak boleh sembarangan.

Ditambah, diwajibkannya menulis nama lengkap teman-teman untuk cover sebuah karya ilmiah atau laporan. Aku terbiasa memperlakukan sebuah nama dengan benar. Kesalahan ketik tidak diizinkan. Berkat semua itu, aku menjadi semakin tahu bahwa sebuah nama selalu spesial dan tidak boleh diperlakukan asal-asalan.

Apalagi diusia sekarang. Ketika melihat kawan-kawan mencari nama untuk buah hatinya. Mereka mencari informasi melalui buku, internet, atau pun berdiskusi dengan banyak orang. Perjuangan mereka sungguh membuat terkesan.

“Nama adalah doa. Maka, memilih nama dengan baik adalah sama seperti mendoakan anak dengan banyak kebaikan.” begitu kata mereka.

Hatiku pun akhirnya tergerakkan. Sore tadi aku bertanya lagi sama ayah tentang arti namaku. Setelah sekian tahun berlalu, keingintahuanku tentang arti nama muncul kembali.

“Apa arti Shinta Anggraini Karsono, yah?” tanyaku.

“Kenapa kok tiba-tiba nanya?” tanya ayahku dengan mimik muka penasaran.

“Nggak apa-apa. Mau nulis tentang nama hehehe.” jawabku singkat dan penuh harap supaya ayah segera menjawab rasa penasaran.

“Shinta itu artinya orang yang tenang dan mudah diatur. Anggraini itu asal katanya Anggoro. Itu bahasa Jawa, Mbak. Artinya Hari Selasa. Kamu lahir Hari Selasa. Karsono ya nama ayah. Biar orang tau kamu anak ayah hahaha.” jawab ayah panjang. Aku takjub ayah menjawab dengan super panjang. Sungguh, ini kejadian jarang.

“Kok ayah nggak pernah kasih tau arti nama ke anaknya?” tanyaku.

“Anak kecil dikasih tau nggak akan ngerti. Entar kalo udah dewasa juga akan paham.” jawab ayah. Pada poin ini aku tidak setuju sama ayah. Meskipun tidak akan mengerti dan paham, anak-anak harus tahu arti namanya sendiri. Untuk apa? Untuk kekuatan diri menjalani kehidupan.

Untuk memastikan dan semakin mantap, sesudah mengobrol aku browsing sebentar. Arti nama yang kutemukan sama persis seperti kata ayahku. Ternyata namaku berasal dari Bahasa Sansekerta. Setelah paham, aku jadi malu sendiri. Kemana saja aku, menunggu usia lebih dari seperempat abad dahulu untuk mencari tahu.

Seandainya sudah tahu sejak kecil, sepertinya pemahamanku tentang nama akan lebih baik. Kurasa, bullying verbal tentang nama dari siapa pun tak akan berarti apa-apa. Dan pengertianku tentang sebuah nama juga akan semakin bijak. Meskipun begitu aku tidak menyesal. Lebih baik terlambat daripada tidak tahu sama sekali, kan? 😊