Bila Kita Tahu Semua Hanya Titipan

Sore tadi, rekan kerjaku menonton ceramah almarhum Ustadz Zainuddin MZ. Sambil mengerjakan tugas, aku pun turut mendengarkan ceramah tersebut. Materi yang dibicarakan ustadz sangat menarik. Masalah ini sering kita temui dalam kehidupan sehari-hari.

Beberapa hari yang lalu, mama bercerita bahwa kakaknya teman kecilku sakit jiwa. Aku sebut Daren saja ya supaya lebih mudah menyebutnya.

Daren memang sudah pindah sejak 15 tahun yang lalu. Sejak itu, kami tidak tahu kabar Daren dan keluarganya. Teknologi yang belum canggih membuat kami kesulitan komunikasi. Kami tidak saling memberi kabar.

Jadi, mamaku dapat informasi ini dari mantan pembantu rumah tangga Daren. Ia bercerita, semua berawal ketika Daren kehilangan motornya. Aku tidak tahu merk motornya apa. Tetapi, mama bilang ‘motor besar’. Mungkin sejenis motor ninja atau CBR.

Sejak kehilangan motor, Daren mengurung diri di kamar. Mungkin Daren belum menerima kenyataan bahwa motor yang ia beli dari tabungannya sendiri telah kandas. Entah bagaimana kehidupan Daren selama ini hingga karakternya bisa serapuh itu. Aku benar-benar sedih mendengar kabar Daren.

Ceramah Ustadz Zainuddin membahas perihal ini. Kata ustadz, seandainya saja setiap manusia tahu bahwa ia tidak memiliki apa-apa di dunia. Mereka tidak akan sombong. Seandainya saja manusia tahu bahwa apa-apa yang dianggap milik adalah hanya sebuah titipan. Mereka akan sadar diri.

Ada banyak kasus-kasus Daren lainnya. Ketika dua orang saling jatuh cinta dan bergantung. Keduanya merasa saling memiliki. Sehingga saat salah satu berkhianat, seringkali pihak yang dikhianati akan begitu patah dan rapuh. Kalau tidak kuat iman dan mental, bisa-bisa yang dikhianati itu tidak akan sanggup menjalani hidup lagi. Ia merasa hidupnya telah berakhir. Sama seperti kisah cintanya yang telah berakhir.

Atau tentang calon anggota legislatif yang berharap menjadi anggota DPRD, DPD atau DPR. Ketika hasil perhitungan selesai, ternyata skor miliknya tidak mencapai batas minimal. Akhirnya ia pun gagal terpilih menjadi anggota legislatif. Lalu, berikutnya apa yang terjadi? Ia tidak mampu menerima kenyataan. Pikirnya, bagaimana bisa ia gagal terpilih. Padahal ia sudah mengeluarkan banyak dana dan tenaga. Padahal ia sebegitu yakinnya atas pemilihan umum ini. Calon legislatif pun akhirnya masuk rumah sakit jiwa.

Kita seringkali lupa. Menggantungkan mimpi dan harapan setinggi-tingginya, namun tidak menyertakan faktor Tuhan di dalamnya.

Semua yang kita punya dan rasakan di dunia, sungguh hanya sebuah titipan. Yang kelak bila sudah tiba waktunya, sang penitip akan mengambil kembali apa-apa yang dititipkannya.

Ustadz Zainuddin Mz memberikan analogi perihal titipan ini dengan tukang parkir. Katanya, kita perlu belajar dari cara kerja tukang parkir.

Si tukang memiliki lahan yang begitu luas. Sedari awal ia sudah tahu bahwa lahannya akan digunakan sebagai tempat penitipan mobil dan motor orang lain. Ia tahu tugasnya adalah hanya untuk menjaga motor dan mobil yang telah dititipkan. Bila sudah waktunya, entah sore atau malam, si penitip akan mengambil kendaraannya kembali.

Si tukang parkir juga memahami bahwa ia hanya boleh menjaga kendaraan dengan baik tanpa merasa memiliki. Sesuka apapun si tukang pada merk motor dan mobil di sana, ia tetap sadar bahwa keduanya memang bukan miliknya.

Bila sore atau malam tiba, sang pemilik kendaraan pun datang. Si tukang parkir harus mengembalikan titipan kendaraan tersebut dengan hati yang lapang. Ia tidak marah atau sedih. Sebab ia sudah tahu sejak awal bahwa tugasnya hanya untuk menjaga kendaraan dalam batas waktu tertentu.

Kita pun seharusnya seperti itu. Dalam hal apapun. Tentang cinta, suami, istri, anak, harta, atau jabatan. Semua hanya titipan Tuhan. Dan Tuhan akan mengambil titipan itu kembali. Entah kapan. Semoga bila waktunya datang, kita sudah menyiapkan hati yang lapang untuk menerimanya dengan ikhlas.

Melakukannya tidak akan mudah. Namun, aku harap serapuh apapun nanti saat titipan tersebut diambil Tuhan, kita tetap memiliki prinsip yang kuat. Kita tidak boleh hilang arah. Ataupun merasa kehidupan telah selesai. Kita tidak boleh menyerah.

Bagi muslim, kala situasi begitu menyulitkan dan tak ada satu orang pun dapat membantu, jangan takut. Allah selalu membantu.

Kita pasti pernah merasakan hari-hari sulit dan kemudian merasakan manfaatnya setelah beberapa tahun kemudian, kan? Begitulah cara Allah. Cara Allah begitu luas dan baik sehingga terkadang kita tak mampu memahami dalam waktu cepat.

Kemampuan manusia yang terbatas, membuat kita kesulitan membaca banyak hikmah.

Kemampuan kita yang terbatas, sehingga hanya tahu segala hal yang diinginkan bukan apa-apa yang dibutuhkan.

Ingat, segala hal yang kita punya saat ini hanya titipan Allah. Cintai segala hal yang ada di hidup kita karena Allah. Sehingga, bila ketetapan-Nya datang, kita tak akan menolak dan terus meratap. Melainkan, bersedih sekadarnya dalam sebuah penerimaan. Karena kita yakin, tidak ada ketentuan terbaik selain takdir yang Allah berikan.

Advertisements

Bila Cleaning Service Tak Ada, Kita Bisa Apa?

Pagiku di tempat kerja selalu menyenangkan. Salah satu alasannya adalah karena Bu RiRi. Berkat ibu, ruanganku harum sekali. Toiletnya tidak bau lagi. Lantainya bersih. Plastik tong sampah selalu rutin diganti. Wastafel bersih. Tissue dan hand soap selalu terisi. Kaca ruangan gymnasium juga selalu berkilau. Pokoknya semua bersih! Aku berterima kasih sekali pada Bu Riri.

Bu Riri adalah cleaning service (CS) baru di ruanganku. Sebenarnya Bu Riri bukan karyawan baru. Bu Riri adalah penanggung jawab CS di RS tempatku bekerja. Namun, karena ada banyak keluhan tentang ruanganku yang ‘katanya’ sulit sekali dibersihkan, Bu Riri pun memutuskan untuk turun langsung ke lapangan untuk mencoba. Hebat ya!

“Assalammu’alaikum, Bu Riri. Selamat pagi ibuuuuuuuu.” aku menyapa ibu dengan senyum ceria. Mungkin dalam hati, Bu Riri bingung, ada apa denganku. Mengapa senyumku selebar dan suaraku sebahagia ini. Mengapa aku menatapnya begitu penuh cinta hahaha

Pada hari yang lain.

“Mbak, Bu Riri mana?” tanyaku pada petugas kebersihan yang sedang menyapu di depanku.

“Ada mbak, di dekat toilet tuh.” jawab si mbak singkat.

“Buuuuuuu, Shinta kangen nih bu. Nyariin Bu Riri melulu.” ledek Pak Sanusi si kepala ruanganku.

“Eh iya kenapa Mbak Shinta?” jawab Bu Riri dengan wajah bingung.

“Hahahaha nggak apa-apa bu. Mau liat ibu aja. Kan kangen. Aku mah nggak bisa jauh dari Bu Riri pokoknya.” candaku.

“Hahaha Mbak Shinta mah.” ibu tertawa malu sambil perlahan pergi melanjutkan pekerjaannya.

Mungkin orang lain akan bingung mengapa aku begitu senang terhadap Bu Riri ini. Tetapi, aku benar-benar bersyukur Bu Riri bekerja di tempatku.

Mengamati cara Bu Riri bekerja aku semakin yakin perkataan dosen saat di kampus dulu. Katanya, kemudahan kita bekerja sehari-hari adalah hasil dari bantuan orang-orang di sekeliling kita. Tanpa mereka kita bukan apa-apa.

Aku merasakan sendiri kebenaran perkataaan beliau. Berkat kerajinan Bu Riri, ruanganku bersih dan wangi sekali. Karena Bu Riri pekerjaanku pun berjalan lancar.

Hampir satu tahun bekerja di rumah sakit ini, ada beberapa hal yang mengganjal di hati. Tentang kebersihan poli tempatku bekerja. Banyak orang mengeluh tentang ruanganku. Bau toilet menguap hingga ke ruangan tenpat pasien menunggu. Banyak dugaan muncul. Apakah ada masalah pada toilet. Atau ada masalah pada wastafel. Sampai-sampai petugas teknisi mengecek semua itu. Hasilnya, semua dalam keadaan normal. Masalah bau pun tak kunjung ditemukan.

Kosong atau tidak plastik tong sampah sangat berpengaruh pada pekerjaanku. Salah satu tindakan yang aku kerjakan adalah menggunakan gel seperti saat USG kehamilan. Setelah tindakan, gel harus dibersihkan menggunakan tissue. Tissue pun kami buang ke tong sampah.

Sebelum Bu Riri datang, seringkali kami bingung saat ingin membuang tissue karena plastik tong sampah penuh. Akhirnya, kami pun harus mencari-cari CS atau menelepon penanggung jawab CS bila petugas CS ruanganku tak ada. Mencari CS saat pelayanan ternyata lumayan menyulitkan.

Ketika ada pasien anak muntah saat latihan dan CS tidak standby di ruangan juga cukup menyulitkan kami. Waktu yang seharusnya kami gunakan untuk melatih pasien akan sedikit tersita untuk mencari-cari CS.

Yang sangat berbahaya adalah saat ada pasien yang menumpahkan air di ruang tunggu. Bila CS sulit dicari, meskipun sudah memasang penanda ‘wet floor’, kami harus tetap mengingatkan pasien untuk berhati-hati. Kegiatan seperti itu juga cukup menyita waktu kami yang seharusnya bisa digunakan untuk memerhatikan pasien yang sedang diterapi. Peran CS benar-benar besar di poliku.

Di rumah sakit (RS) tempatku bekerja sebelumnya, RS bekerja sama dengan perusahaan kebersihan. Pemiliknya adalah orang luar negeri. Aku lupa asalnya dari mana. Motto perusahaan itu adalah tidak boleh ada kotoran sedikit pun yang terlihat oleh mata.

Aku tahu hal ini karena pernah mengobrol dengan Agus salah satu CS yang bekerja di perusahaan itu. Kebetulan, saat itu Agus bertugas di ruanganku. Agar kebersihan selalu terjaga, bahkan si Agus ini tidak boleh duduk selama jam kerja. Bila ketahuan duduk, ia akan mendapat hukuman yang cukup berat dari perusahaan. Mendapat surat peringatan atau pemotongan gaji, misalnya.

Aku ingat betul saat Agus kutawarkan sepotong kue. Ia harus bersembunyi di area tanpa CCTV supaya tidak ketahuan. Ketat betul aturan perusahaan itu. Oleh karena itu, Agus selalu tampak di sekitarku. Entah ia sedang menyapu, mengepel, atau mengelap debu.

Melihat Agus bekerja sekeras itu aku merasa kasihan. Aku bisa duduk kapan saja bila lelah, tetapi Agus tidak bisa. Aku bisa memakan camilan bila lapar, tetapi Agus tidak boleh. Tetapi, aku senang dan bersyukur merasakan hasil pekerjaan Agus. Berkatnya, aku nyaman sekali selama bekerja. Kebersihan ruangan benar-benar membantuku bekerja. Pelayanan tidak pernah terganggu.

Berbeda dengan RSku dulu, RSku saat ini tidak bekerja sama dengan perusahaan luar negeri untuk tenaga CS. RS merekrut sendiri SDM untuk CS. Aku tidak mengerti mengapa perbedaannya benar-benar terasa. Apakah sistemnya berbeda, atau memang individunya saja yang tidak menjalankan pekerjaan sesuai prosedur. Sehingga tidak bisa menjaga ruangan kebersihan dengan baik. Fakta lapangan yang aku tahu, Bu Riri dan petugas CS sebelumnya adalah sama-sama karyawan RS. Namun, cara kerjanya benar-benar berbeda.

Aku mungkin adalah satu dari banyaknya orang yang merasakan dan menyadari betul manfaat tentang kebersihan ruangan. Maka, kehadiran Bu Riri yang begitu rajin sangat membuat hatiku senang. Apalagi masalah kebersihan ini benar-benar mengganggu sejak lama. Kehadiran Bu Riri benar-benar kunanti hehehe

Karena terlalu ‘ngefans’ dengan cara kerja Bu Riri aku pernah bertanya ke ibu,”Bu, ini toiletnya ibu bersihin pake apa? Kok wangi banget bu? Ini kali pertama toiletnya sewangi ini lho bu.

“Itu pake pengharum toilet yang digantung di dinding aja, Mbak Shinta.” jawab Bu Riri.

“Masa sih bu? Dari dulu juga pake kamper kaya gitu kayaknya bu. Tapi nggak pernah wangi kayak gini.”

“Aku gosokin semua area mbak. Semua celah deh pokoknya. Kotor itu emang bikin bau mbak.” jawab ibu.

“Oh gitu, keren ibu. Makasih ya, Bu Riri. Yaudah, aku ke dalam ya bu. Mari buuu.” aku berterima kasih sambil tersenyum dan melanjutkan pekerjaanku.

***

Sesekali, coba amati CS di kantormu. Kalau bertemu CS yang rajin sebaiknya ucapkan terima kasih. Jangan lupa juga beri sapa dan seyum tiap kali bertemu. Kantor yang kotor dan bau akan mengganggu kita bekerja, sungguh.

Percaya, sehebat apapun kita bekerja, tanpa hadirnya CS yang membantu, akan menyulitkan urusan kita. Mungkin pekerjaan akan tetap selesai juga. Tetapi, ruangan yang tidak nyaman akan sangat menghambat kita bekerja. Tanpa mereka, apa jadinya kita?

Sejak Awal Kita Memang Berbeda

Kepada kamu. Bila nanti kita bertemu dan hidup di atap yang sama, jangan pernah menyesal telah memilih aku. Sebab, nanti, di atap yang sama, kamu akan benar-benar tahu siapa aku. Sudah siapkah kamu?

Semoga kita selalu mengingat tentang ini. Kita adalah dua orang yang berbeda. Aku perempuan dan kamu laki-laki. Allah yang telah memberikan takdir itu. Kita berasal dari orang tua dan keluarga yang berbeda. Kita tumbuh dan mendewasa pada lingkungan yang berbeda. Kita memang hidup pada kebiasaan yang berbeda. Kita adalah dua manusia yang memiliki karakter yang berbeda. Lantas, bila nanti kita menemukan banyak hal berbeda ketika tinggal bersama, haruskah kita menyesal, berputus asa, dan kemudian memilih menyerah? Semoga hal-hal itu tak pernah muncul di dalam benak kita.

Tahukah kamu? Sungguh, yang kita butuhkan bukanlah menjadi sama, melainkan kemampuan untuk saling memaafkan dan menerima.

Sedari awal, memiliki kemampuan menerima keadaan orang lain memang bukan hal mudah. Aku yakin kita sudah terbiasa menemukan hal yang benar-benar beda. Contohnya saja tentang aku dan adik perempuanku. Usia kami terpaut empat tahun. Saat kecil, masalah kami hanya seputar memperebutkan mainan atau rasa cemburu karena merasa ayah dan mama lebih sayang kepada salah satu kami. Ketika besar, masalah datang dari berbedanya karakter kami.

Aku yang terlalu perhatian selalu merasa terganggu dengan sifat adikku yang super cuek. Adikku yang super cuek selalu merasa terganggu dengan aku yang cerewet karena selalu mengingatkan dirinya. Aku yang tak senang diburu waktu saat mengerjakan tugas selalu terganggu dengan adikku yang senang mengerjakan apapun pada detik-detik terakhir. Pada awalnya semua perbedaan ini tidak menjadi masalah ketika kami berjalan pada jalan masing-masing. Namun ternyata, semua perbedaan menjadi masalah besar ketika kami harus bekerja sama.

Ketika ego memimpin segalanya, tentu saja kami kesulitan mendapatkan kesepakatan. Aku hanya melihat kesalahan-kesalahan yang adikku perbuat. Begitu juga dengan adikku. Kami hanya ingin dimengerti dan dipahami, tanpa introspeksi diri. Kami lupa tentang kesalahan diri sendiri. Pokoknya, kamu yang salah. Aku yang paling benar. Begitu, pikiran kami berkata.

Ketika ego mengendalikan keadaan, saling bungkam dalam waktu panjang bukan sebuah persoalan. Ketika ego menjadi acuan, saling menuntut tanpa mencari penyelesaian selalu menjadi pilihan. Benarkah keadaan seperti ini yang benar-benar kita mimpikan?

Lalu, bagaimana aku dan adikku akhirnya menemukan kesepakatan? Kami membutuhkan waktu untuk saling merenungkan. Merenungkan tentang kesalahan diri yang telah dilakukan. Merenungkan perkataan dan perbuatan diri yang menyakitkan. Setelah perenungan panjang, maka akan timbul kesadaran. Bahwa perbedaan hadir bukan untuk dipersoalkan. Melainkan untuk dipelajari bersama dan dicari jalan terbaik untuk keduanya. Jalan yang membuat kami merasa nyaman tanpa ada yang dikorbankan. Bukankah hal seperti ini yang disebut indahnya kebersamaan?

Aku dan adikku yang telah hidup kurang-lebih 20 tahun bersama terkadang masih sulit saling menerima, lalu, apa kabar dengan kita yang baru saja memulai hidup di atap yang sama? Aku tahu, hubungan adik-kakak dengan hubungan kita adalah dua hal berbeda. Namun, tentang perbedaan karakter dan kebiasaan di antara dua manusia bukankah tetap sama?

Kelak, mungkin aku akan banyak membuatmu bingung. Mungkin, aku akan banyak membuatmu lelah. Mungkin, aku akan banyak membuatmu kecewa. Jika kamu benar-benar tahu siapa aku, sangat mungkin aku akan menorehkan luka.

Namun aku meminta, bagaimana pun keadaanku nanti, jangan pernah berputus asa dan menyerah terhadapku. Sebab, tak ada Surga untukku tanpa ridhomu. Sebab ridho Allah, tergantung pada ridhomu. Maukah kamu memberi hati yang seluas langit untuk memaafkan segala khilafku? Maukah kamu memberi hati yang lapang untuk menerima aku dengan segala kurangku?

‘Terpapar’ dengan Perbuatan Baik

Saya ini selalu kagum dengan orang-orang yang konsisten melakukan perbuatan baik. Saya kagum dengan Ira dan Kak Dhika.

Ira

Pertama kali saya mengagumi perbuatan baik seseorang adalah saat masih kuliah dulu. Saya kagum pada sahabat saya. Namanya Ira. Rumah Ira di Tangerang Selatan (Tangsel). Jarak Depok-Tangsel sebenarnya bisa ditempuh menggunakan motor. Namun, karena perkuliahan dilakukan setiap hari, Ira tidak mungkin setiap hari pulang ke rumah. Kalau dipaksakan, taruhannya adalah kesehatan Ira. Akhirnya, Ira pun ngekos.

Selama kuliah, saya sering main di kosan Ira. Sekadar numpang tidur siang sambil nunggu kelas kuliah selanjutnya atau nugas bareng. Saking seringnya di kosan Ira, saya pun terbiasa dengan kebiasaan Ira. Ira ini anaknya rajin. Rajin datang tepat waktu, rajin merapikan kamar, dan rajin mandi. Karena sering ‘terpapar’ dengan rajinnya Ira, tanpa sadar, saya pun mengikuti kebiasaannya.

Selain rajin, Ira juga dermawan dan perhatian. Ira suka sekali memberi. Saya ingat betul dulu saat sering main ke kosan Ira, ketika saya sedang malas-malasan di kasurnya, Ira sibuk di dapur menyiapkan makanan untuk saya. Tanpa pertanyaan apapun, tiba-tiba Ira datang membawa semangkuk mie rebus, sepiring nasi, dan sepiring naget ayam. Rezeki anak kuliahan, bahagia betul dapat makanan gratisan :’)

Ada cerita lain tentang sikap perhatian Ira ini. Rumah saya dekat dengan kampus. Saya membutuhkan waktu sepuluh menit saja untuk sampai di rumah. Karena begitu dekat, Ira pun sering main ke rumah. Ira tahu kalau saya memiliki adik-adik kecil. Maka, tiap kali ke rumah, Ira selalu membawa dua kotak yakult. Katanya,”Ini untuk adik-adikmu!” Hati mana yang tidak tersentuh jika selalu ‘terpapar’ perbuatan-perbuatan baikmu, Ra? :’)

Berteman dengan Ira, membuat saya memahami alasan mengapa kita perlu dekat-dekat dengan orang dan lingkungan yang baik. Ternyata, dekat-dekat dengan hal baik akan membuat kita ‘tertular’ dengan banyak kebaikan.

Kali pertama melihat kebaikan Ira, memang tidak secara langsung membuat saya berubah saat itu juga. Kali pertama merasakan kebaikan Ira, juga tidak secara langsung membuat saya ingin melakukan hal itu juga. Yang saya pahami saat itu, saya sadar Ira adalah teman yang baik. Dan saya senang diperlakukan seperti itu. Sesederhana itu pikiran saya.

Kamu tahu? Ternyata ‘terpapar’ dengan kebaikan akan membuat alam bawah sadar kita ‘merekam’ semua itu dalam pikiran. Akhirnya, secara perlahan kita pun akan melakukan hal yang sama dalam keseharian. Mungkin, pada awalnya semua dilakukan untuk membalas kebaikan teman. Tak tahunya lama-lama menjadi kebiasaan.

Kak Dhika

Kali ini, saya kagum pada Kak Dhika. Kak Dhika adalah rekan kerja saya. Kali pertama berjumpa, si kakak langsung memberikan hadiah kepada saya. Saat itu, Poli Rehabilitasi Medik (Rehab Medik) akan membuat seragam baru. Maka, kami pun membeli jilbab baru. Jilbab yang harus dibeli ada tiga buah. Kebetulan yang bertugas mengumpulkan uang adalah Kak Dhika. Ketika ingin membayar, Kak Dhika bilang seperti ini,“Kamu bayar dua jilbab aja. Satu jilbab hadiah dari saya untuk kamu.” Mendengar perkataan Kak Dhika tentu saja saya bingung. Orang yang baru dikenal belum genap dua bulan, langsung memberikan hadiah sebagai tanpa pertemanan. Hati siapa yang tidak terharu bila diperlakukan baik seperti itu. Siapapun kurasa hatinya akan ‘meleleh‘.

Masih tentang Kak Dhika. Sore itu ada seorang perempuan datang ke Poli Rehab Medik membawa sekotak brownis. Langsung saja saya tanyakan Kak Dhika tentang brownis itu,“Kak, itu siapa? Kok tiba-tiba bawa brownis?”, Kak Dhika menjawab,“Dia bagian pendaftaran pasien BPJS. Kemarin, aku minta tolong sama dia cariin berkas berobat bapakku. Karena dia udah baik banget mau bantu, aku kasih aja sekotak yakult. Eh barusan dia malah bawain aku brownis. Kan yang minta tolong aku, kenapa dia bawain brownis ckck.” Kebaikan memang menular, ya. Dan saling menebar kebaikan itu indah.

Ada lagi cerita lain. Aku dan Kak Dhika sedang membahas tentang arisan. Ternyata, Kak Dhika memiliki kebiasaan unik. Ia selalu memberikan buah tangan kepada si pemegang uang arisan tiap kali mendapat arisan. Kata Kak Dhika, si pemegang arisan itu harus kita hargai kebaikannya. Ia sudah berbaik hati menjaga uang arisan dan mengurus urusan arisan. Tanpa dia, mungkin arisan ini tidak akan berjalan dengan baik. Mendengar pandangan Kak Dhika, menambah pandangan baru untuk saya. Kebiasaan unik Kak Dhika sangat bagus dicontoh. Jujur saja, ini adalah kali pertama saya mendengar pandangan seperti itu. Kak Dhika memang baik hati :’)

***

Ira dan Kak Dhika menunjukkan bahwa kebaikan hati bisa dirasakan dari hangatnya seseorang memperlakukan orang lain.

Ira dan Kak Dhika senang memerhatikan orang lain. Sehingga mereka tahu apa yang orang lain butuhkan.

Ira tahu bagaimana memperlakukan teman dengan baik di kosannya, maka ia menjamu saya dengan baik. Ira juga tahu bagaimana cara menyenangkan hati anak kecil, maka ia memberikan yakult untuk adik-adik saya.

Kak Dhika tahu bagaimana membuat nyaman anggota baru, maka ia memberikan hadiah saat saya menjadi pegawai baru.

Kak Dhika juga tahu bagaimana menghargai kebaikan orang lain, maka ia memberikan sekotak yakult kepada mbak pendaftaran BPJS sebagai tanda terima kasih.

Hingga kini saya masih kagum dengan mereka. Semoga rasa kagum ini juga diiringi dengan usaha-usaha melakukan kebaikan yang sama. Terima kasih, Ira dan Kak Dhika. Terima kasih telah menunjukkan banyak kebaikan secara nyata. Semoga Allah senantiasa melimpahkan banyak kebaikan kepada kalian dan keluarga. Aamiin 🙂

Kebaikan di Pagi Hari

Pagiku menyebalkan. Aku terlambat bangun dan sudah bisa dipastikan aku pun akan terlambat sampai di tempat kerja. Hujan sedari malam tak juga reda. Meskipun masih mendung, waktu menunjukan bahwa hari sudah semakin siang. Maka, tak ada pilihan lain. Aku harus tetap berangkat menerjang hujan. Baju ganti tetap harus kukenakan. Sebab, jas hujan milikku tidak sepenuhnya menahan air hujan.

Di perjalanan, aku teringat, rupanya kemarin siang aku tak sempat memenuhkan tangki bensin motor. Kulirik cepat pada spidometer, di sana terlihat panah penanda sudah menunjuk ke tanda merah. Yang artinya, motor akan mogok bila tangki tidak segera diisi bensin. Menyadari betapa kurang persiapan dan tidak disiplinnya diriku, aku menyesal. Namun hanya bisa menghembuskan napas saja. Kuurungkan niat untuk mengeluh. Pagi tadi, tak ada pilihan lain. Aku harus bertanggung jawab dengan cara menjalaninya dengan ikhlas.

Tikungan di jalan Perumahan Korps Brimob memang pusat kemacetan. Jalan yang memiliki lebar tak lebih dari empat meter itu selalu dipenuhi kendaraan. Apalagi bila ada perbaikan jalan atau kejadian tidak terduga. Seperti pagi ini. Keinginanku untuk mengebut hanya mimpi belaka. Motorku tidak dapat bergerak maju. Seluruh pengendara saling melempar tatapan kebingungan. Rintik hujan semakin membasahi jas hujanku, tetapi sedikit pun roda motorku tidak bergerak maju. Jam tanganku sudah menunjukkan pukul tujuh kurang sepuluh menit. Aku masuk kerja pukul tujuh. Sepuluh menit tak akan cukup untuk sampai di tempat kerja. Aku segera sadar, terlambat sampai tempat kerja adalah sebuah kepastian :’)

Antrean kendaraan perlahan bergerak. Motorku bergerak maju. Akhirnya, aku dapat melihat si penyebab kemacetan pagi ini. Di sisi kanan terlihat sebuah mobil terjebak dan tak bisa bergerak. Bannya terperosok ke dalam tanah yang posisinya lebih rendah dari jalan beraspal. Mobil akhirnya tak bisa maju ataupun mundur. Aku tidak tahu sejak kapan mobil itu terjebak. Aku juga tidak tahu sejak kapan kemacetan ini terjadi. Yang aku tahu, motorku tidak bergerak selama 10 menit. Aku mengatakan dalam hati,“Lengkap sudah. Pagiku semakin menyebalkan saja heu.”

Di dalam mobil yang terjebak, pengemudi sendirian. Tak ada kawan yang bisa membantu mendorong mobil. Pengendara lain juga tak ada yang membantu. Bahkan beberapa saling menekan tombol klakson sebagai tanda mereka tak sabar menunggu. Aku menduga, alasan mengapa orang-orang tidak langsung membantu mungkin karena kondisi saat itu sedang turun hujan. Hujan membuat semua orang sibuk dengan urusannya. Aku pun sama seperti mereka, sedang sibuk dengan pikiranku sendiri. Aku sedang mengkhawatirkan nasibku yang tak akan mampu sampai tempat kerja tepat waktu. Namun yang membuat berbeda, aku masih bisa menahan diri untuk tidak menekan tombol klakson.

Beberapa menit kemudian, seorang laki-laki menghentikan motornya tepat di depan mobil yang terjebak. Meskipun hanya seorang diri, ia tak ragu. Ia segera memberi aba-aba kepada pemilik mobil dan mendorong sekuat tenaga mobil tersebut ke arah belakang. Tak berselang lama, satu orang laki-laki kembali menghentikan motornya. Kali ini, ia bertugas memberi aba-aba dari arah belakang mobil untuk memberi tahu kondisi tanah dan jalan beraspal.

Pemandangan itu membuat rasa cemasku berubah seketika. Aku tak lagi sibuk dengan diriku sendiri. Aku tak lagi memikirkan bagaimana cara cepat tiba di tempat kerja. Aku memandang mereka cukup lama. Aku seakan tersihir dengan mereka yang saling membantu. Siapa pun yang melihat, pasti tahu pekerjaan mereka bukan hal yang mudah. Namun, hal itu tidak mengurungkan niat mereka untuk membantu. Dua orang laki-laki itu tentu saja memiliki kegiatan yang harus dikerjakan atau tempat yang harus didatangi. Sama seperti aku dan pengendara lainnya. Tetapi, sikap tolong menolong yang ada di diri mereka lebih tinggi dibanding urusan duniawi. Luar biasa, ya.

Iya, memang benar pagiku menyebalkan. Aku yang tidak disiplin membuat awal hariku menjadi tidak menyenangkan. Terlambat bangun pagi, perjalanan menerjang hujan, dan mengalami kemacetan cukup membuatku kelelahan. Namun, benar adanya bahwa kebaikan itu menular. Suasana hatiku yang tidak baik, berubah menjadi lebih baik karena mengamati kebaikan dua laki-laki itu. Betapa mulia hati mereka. Keadaan sulit tidak membuat hati mereka sempit. Mereka memahami betul bahwa keegoisan adalah tak ada guna. Sebab, tak ada yang lebih penting dibanding menjadi bermanfaat untuk sesama.

Apa Benar Berani Kotor itu Baik?

Belakangan ini, aku sedang membaca buku karya Fira Basuki. Judulnya Cerita di Balik Noda (2013). Sudah lama sekali ya, bukunya? Iya memang. Aku mendapat buku ini akhir tahun 2018 di cuci gudang Gramedia. Beruntung sekali menemukan buku Fira Basuki diantara tumpukan buku-buku itu.

Isi dari buku Cerita di Balik Noda sebenarnya adalah kumpulan cerita dari hasil lomba menulis yang diadakan oleh Rinso Indonesia. Dan Fira Basuki diamanahkan membuat kumpulan cerita tersebut menjadi buku.

Aku belum menamatkan buku Cerita di Balik Noda. Meskipun begitu, energi positif sudah masuk ke dalam diri sejak kali pertama membaca buku ini. “Anak-anak itu polos, sederhana, dan banyak memberikan pelajaran, ya!” begitu kataku saat membaca cerita pertama. “Ah malunya diri ini, seringkali kita mengamati anak kecil dengan kaca mata orang dewasa. Mana mungkin pesan bermakna dari tingkah polos si kecil bisa menyentuh hati ini?” begitu kataku saat membaca cerita ibu-ibu pada lembar selanjutnya.

Karena tema ceritanya adalah Cerita di Balik Noda, maka seluruh cerita bercerita tentang anak yang bermain ‘kotor-kotoran’. Dan dalam seluruh cerita pun terdapat ibu bijaksana yang menghadapi ‘hal-hal kotor’ dengan tidak marah-marah. Sosok ibu dalam buku ini menunjukkan bahwa selalu ada cerita di balik baju anak yang kotor. Maka, memberikan respon marah saat kali pertama melihat mereka bercengkrama dengan kotoran itu tidak tepat. Para ibu memberikan telinganya untuk mendengarkan segala penjelasan dan cerita anaknya. Para ibu juga memberikan pikiran yang terbuka untuk menerima hal-hal menakjubkan yang anak-anak ini lakukan.

Innez yang Berhati baik

Innez 12 tahun menunggu di Pos Ronda karena takut pulang ke rumah. Baju Innez kotor dan uang untuk membeli buku pun telah habis. Dengan kondisi seperti itu, Innez tidak berani pulang.

Mengapa Innez mengalami hal-hal itu, ternyata Innez tidak sengaja menabrak bapak tukang sampah yang sedang makan nasi bungkus sambil berdiri. Alhasil, nasi bungkus tersebut tumpah ke jalan dan ke baju Innez. Karena merasa bersalah, Innez pun meminta maaf dan membantu bapak merapikan tumpahan nasi di jalan. Innez juga membantu bapak menyapu tumpahan nasi yang berserakan. Lalu, Innez mengganti nasi bungkus dengan uang ibunya (uang yang seharusnya digunakan untuk membeli buku). Lengkap sudah ketakutan Innez. Baju kotor, badan kotor, dan uang pun habis.

Ibu Innez diberitahu tentangga bahwa Innez duduk di Pos Ronda. Ibu datang menjemputnya. Melihat keadaan Innez, Ibu tidak memarahinya. Ibu mendengarkan dan mengerti kejadian yang baru saja menimpanya. Dan ibu menasehati atas tindakan Innez yang kurang berhati-hati. Innez tidak hati-hati karena berjalan sambil bermain gawai yang akhirnya menabrak bapak tukang sampah.

Jika saja ibu Innez tidak mau mendengarkan cerita dan langsung marah, akankah ibu tahu bahwa putri bungsunya ternyata sungguh bertanggung jawab dan memiliki hati yang baik?

Deva yang Gigih dan Memiliki Empati Tinggi

Deva adalah anak berusia 7 tahun yang selalu bersemangat dan tidak takut kotor. Deva senang membantu ibu berkebun dan membersihkan selokan depan rumah. Dengan tawaran hadiah ‘upah’ sehabis membantu ibu, Deva pun semakin bersemangat saja ‘bermain dengan kotor-kotoran’.

Deva ingin sekali membeli sepeda. Maka, tiap kali diberikan upah uang, ia selalu memasukkan uang tersebut ke dalam celengan.

Suatu ketika, warung kelontong kakek kemalingan. Uang hasil warung kakek habis dibobol maling. Melihat kakek bersedih, Deva pun memberikan uang tabungannya untuk kakek. Deva rela menunda membeli sepeda, karena memahami bahwa kakek lebih membutuhkan uang tersebut dibanding dirinya.

Jika saja ibu tidak mengizinkan Deva membersihkan selokan hanya karena alasan ‘kotor’, akankah Deva tumbuh menjadi anak yang gigih dan memiliki empati yang tinggi?

Ada banyak cerita tentang anak dan kotoran. Pada dasarnya, semua anak tidak takut dengan hal kotor. Karena mereka penasaran dan ingin tahu banyak hal. Terkadang, kitalah sebagai orang dewasa yang menutup itu semua. Padahal, rasa penasaran dan rasa ingin tahu adalah kunci bahwa anak senang belajar hal baru.

Masih inginkah kita memberikan ‘respon marah’ bila nanti menemui anak yang sedang ‘berkotor-kotoran’? Masih inginkah kita mengabaikan momen mendengarkan cerita anak hanya karena emosi sesaat yang tidak bermakna?

Dari dua cerita di atas, semoga kita tidak seperti itu lagi, ya. Ada banyak cerita dibalik hal-hal yang kita anggap ‘menyebalkan’. Ada banyak pelajaran dibalik hal-hal yang menguji kesabaran.

Aktivitas yang Berarti

Dia yang sedang memandang langit berbintang sendirian, mampu membuat hatinya yang dirundung duka menjadi lebih tenang. Karena, ketika memandang langit berbintang, dia mengingat kuasa-Nya. Membuat langit yang indah saja Allah bisa. Apalagi masalah dirinya?

Orang lain yang tidak mengerti, mungkin merasa aneh mengapa dia menatap langit begitu lama. Bagi orang lain, menatap langit tidak memiliki makna apa-apa. Namun, bagi dia, menatap langit begitu bermakna.

***

Menelusuri jalan setapak tanpa mengamati sekitar, tidak akan memberi makna apa-apa. Sebab, yang kita tahu, kita hanya berjalan kaki biasa saja. Jalan kaki yang dapat membuat kaki pegal dan badan lelah.

Sekali-kali, coba niatkan, kita berjalan kaki tidak hanya untuk menuju tempat yang dituju. Cobalah berjalan kaki tanpa buru-buru. Cobalah berjalan kaki untuk mengamati. Sayang sekali bila kita melewatkan momen berjalan kaki begitu saja. Padahal, ada banyak hal bisa kita amati dan pelajari.

Aku melihat dua perempuan sedang duduk di pinggir danau. Aku perkirakan, usianya sekitar 19-20 tahun. Mereka sedang bercengkrama dan tertawa sambil menatap kamera gawai. Kameranya memang sengaja di pasang tepat di depan mereka. Aku tidak tahu pasti untuk apa mereka melakukannya. Namun, kutahu mereka benar-benar menikmati siang tadi. Aktivitas sederhana yang mudah dilakukan di mana saja, ternyata mampu membuat keduanya begitu bahagia.

Aku melihat laki-laki dan perempuan sedang duduk sambil bercerita. Mereka memakan es krim yang sedari tadi sudah siap ditangannya. Sesekali saling menatap dan kemudian menunduk malu. Aku tak tahu mereka sepasang kekasih atau bukan. Yang kutahu, mereka adalah dua manusia yang sedang jatuh cinta. Mungkinkah aku sok tahu? Ah sepertinya tidak. Bukankah dua tatap mata saling cinta akan terlihat meski tidak diungkapkan lewat kata?

Aku melihat seorang perempuan sedang duduk sambil memegang nasi bungkus di tangan kirinya. Ia menatap danau sambil menyuap sesendok nasi dan mengunyah dengan perlahan. Aku tersenyum melihatnya. Danau dan situasi yang tenang kurasa teman yang tepat untuk mengisi perut lapar.

Aku duduk di samping rerumputan sambil mengamati sekitar. Dan ditemani beberapa potong buah nanas yang sengaja kubeli di jalan tadi. Memakan buah di siang yang terik ini ternyata membahagiakan. Entah apa yang orang lain pikirkan tentangku, biar saja. Kupikir, setiap orang bebas melihat, memikirkan, dan mengira apa yang orang lain lakukan.

Di sini, kami tidak saling mengenal. Kami juga tidak tahu apa yang orang lain pikirkan. Kami hanya dapat saling mengamati dan menerka. Kemudian menyadari, ternyata setiap orang selalu memiliki cara tertentu untuk menggunakan dan menikmati waktu.

***

Setiap kita, bebas menggunakan waktu 24 jam setiap hari. Semoga 24 jam itu bisa kita gunakan dengan sebaik-baiknya.

Setiap orang juga bebas memilih aktivitas apa yang paling cocok dengan dirinya. Maka, nikmati dan syukuri waktu kita. Lalu, hargai waktu orang lain.

Biarlah setiap manusia menikmati dan berbahagia dengan aktivitas yang paling disukai. Contohnya, seperti dia yang senang menatap langit pada kalimat pembuka tulisan ini. Bukankah setiap orang memiliki aktivitas yang berarti?

Membeli Makanan Si Kucing

Si kucing makan dengan lahap dan tenang hari ini. Ia tidak perlu makan dengan perasaan takut karena diburu waktu. Ia juga tidak perlu makan dengan perasaan khawatir karena memakan makanan kami 😂

Kami telah berjanji pada hati masing-masing akan membelikan si kucing makanan. Alhamdulillah, dua hari lalu janji kami tertunaikan.

Cerita awal mengapa si kucing berada di rumah kami, jadi, si kucing adalah kucing kampung yang kesasar. Tiba-tiba saja ia datang ke rumah dan tidak pergi lagi. Dua adik laki-lakiku si penyuka binatang tentu saja senang. Mereka dengan senang hati menampung kucing kampung yang kesasar itu.

Ketika dua adik laki-lakiku memutuskan memelihara si kucing, kami tidak menolak ataupun sungguh-sungguh mendukungnya. Kami hanya diam saja. Diam yang berarti mengizinkan secara tersirat wkwk

Sebelum si kucing memiliki makanan khusus untuknya, kami dilanda rasa gelisah berkepanjangan. Pertama, tiap kali ingin makan ada rasa takut karena si kucing selalu ‘menyerang’ kepingin ikutan makan. Kedua, tiap kali mengeluarkan makanan apapun ada rasa kesal karena si kucing selalu ‘berantakin’ makanan tersebut. Ketiga, kami tahu si kucing sangat lapar, namun belum mampu memberi makan ia secara ‘sungguh-sungguh’. Sebenarnya, kami tetap berbagi makanan tiap kali makan, tetapi belum ada ‘niatan penuh’ untuk menyiapkan makanan untuk si kucing. Keempat, kami merasa berdosa kepada kucing. Kami merasa bersalah tiap kali kami kenyang, tetapi si kucing tidak. Atas dasar empat kegelisahan itulah, kami yakin akan memulai membeli makanan kucing secara rutin.

Kali pertama masuk ke petshop, ada rasa senang di hati. Aku tidak menyangka rasanya akan sesenang ini datang ke toko pernak-pernik hewan. Ternyata seru sekali melihat kandang, tempat makan, tempat minuman, macam-macam jenis makanan, dan perlengkapan hewan lainnya. Dan tiba-tiba kami menjadi tidak sabar ingin segera memberi makan si kucing wkwk

Setelah berkeliling petshop, kami memilih makanan merk maxi ukuran kecil. Harganya 30.000. Kami juga membeli tempat makan kucing yang juga ukuran kecil. Harganya 20.000. Untuk pengalaman pertama ini, kami memilih yang murah saja untuk mencegah kemubaziran. Mungkin nanti bila makanan ini habis, kami akan mencari tahu tips and trick memilih makanan kucing yang lebih baik.

Sampai di rumah, si kucing sedang santai di teras. Kami segera menghampiri dan mengeluarkan makanan si kucing. Kami juga mencoba mencium aroma makanan tersebut. Ternyata harum ikannya kuat sekali. Pantas saja si kucing menggigiti plastik pembungkus makanan itu. Mungkin ia begitu tergoda dengan harum ikannya.

Kami menuangkan makanan hingga tempat makan kucing terisi penuh. Kami juga memberikan semangkuk air di sisi kiri. Tanpa menunggu dipersilakan, si kucing segera menyantapnya. Ia lahap sekali :’) aku lega melihat ia makan selahap itu. Adikku Niar bahkan menitikkan air mata hahaha katanya, ia seperti melihat anaknya sendiri yang sedang makan. Ia senang sekaligus sedih. Senang karena akhirnya si kucing bisa makan dengan leluasa. Sedih karena ia kasihan sama si kucing. Saat diberi makan, si kucing terlihat begitu kelaparan. Ia juga sedih karena baru mampu memberi makan si kucing dengan sungguh-sungguh seperti ini. Aku pun setuju dengan perkataannya. Aku juga merasakan hal yang sama seperti dirinya. Maafkan kami, kucing.

Karena telah memutuskan memberi makan kucing, kami pun harus tahu bagaimana aturan memberi makan si kucing. Informasi yang kami dapat dari teman Niar, temannya ini biasa memberi makan kucing sehari dua kali yaitu, pagi dan sore. Itu pun dengan syarat, satu tempat makan kucing terisi penuh. Bila tidak penuh, maka kita memberi makan kucing tiga kali sehari. Kami akan mengingat dengan baik informasi itu. Terima kasih, informasinya, Arin 🙂

Beberapa hikmah yang kami dapat setelah memiliki makanannya sendiri, si kucing tidak lagi menganggu kami ketika makan. Ia juga tidak mencuri makanan lagi. Bahkan jika kami meletakkan makanan sembarangan, ia hanya menoleh sebentar, kemudian segera pergi lagi.

Malunya diri ini. Aku malu karena pernah begitu kesal terhadap kucing. Aku kesal karena ia sering mencuri makanan. Padahal, mana tahu si kucing mencuri itu tidak baik. Ia hanya sedang lapar saja dan kebetulan kami tidak menyimpan makanan dengan rapi. Ia hanya sedang lapar saja dan saat itu kami tidak memberikan makanan dengan cukup. Wajar saja ia mengambil makanan kami. Sekali lagi, maafkan kami kucing. Semoga kami istiqomah berbagi. Sehat selalu ya, kucing 😊

Tiga Buah Nasihat

Nasihat tentang Memilih Calon Suami

“Kamu kalau memilih calon suami harus dapat rida orang tua, ya. Kalau orang tuamu tidak setuju, kamu harus nurut. Tinggalkan dia, pilih yang lain. Meskipun pada akhirnya kamu berhasil membujuk orang tuamu dan mereka menyetujui pernikahanmu, tetap saja tentang hati tidak ada yang tahu. Sangat mungkin, hati orang tuamu belum ikhlas menerima calonmu itu.” Ibu Siti memberi nasihat dengan kalimat yang menenangkan.

“Orang tua itu, punya insting Shin tentang memilih menantu. Mereka tahu laki-laki yang kamu bawa itu baik atau tidak untuk putrinya. Kamu jangan keras kepala, ya. Mereka itu sudah melewati banyak asam manis kehidupan. Jadi, mereka akan tahu bagaimana karakter si calon menantu bahkan dari kali pertama bertemu.” Ibu Siti melanjutkan nasihatnya.

Aku tidak memberikan tanggapan. Aku hanya menyimak saja.

“Rida Allah itu rida orang tua, kan? Maka, rida tersebut menentukan sekali bagaimana kehidupan rumah tanggamu nanti. Nurut aja ya sama orang tuamu. Percayalah, mereka tidak akan menyesatkanmu. Mereka selalu ingin Allah memberkahi kehidupan rumah tanggamu.”

Nasihat tentang Menghabiskan Ego

“Puas-puasin masa mudamu, Shin. Lakukan semua kegiatan positif yang kamu ingin sebelum menikah. Mau jalan-jalan, silakan. Mau beli buku yang banyak, silakan. Mau beli barang ini itu, silakan. Mau kulineran, silakan. Kamu tahu mengapa harus melakukan itu? Jika sudah berumah tangga nanti, tidak ada tentang kamu saja. Tidak ada tentang suamimu saja. Yang ada adalah tentang keluarga. Bagaimana meraih kebahagiaan keluarga di dunia dan akhirat. Intinya, kamu harus mendahulukan kepentingan keluarga dibandingkan kepentingan dirimu sendiri.” Ibu Siti berbicara sambil menatapku hangat.

Nasihat tentang Anak

“Kamu tahu? Tiap kali mengantar si mas ke pesantren, aku selalu menangis setiap perjalanan pulang. Aku selalu menahan diri untuk tidak menangis di depan si sulung. Jangan sampai mas melihat ibunya pergi dalam keadaan sedih. Setiap ibu tak akan tega membiarkan anak tinggal jauh dari rumah, Shin. Tapi, bila aku selalu berpikir seperti itu, artinya aku hanya memikirkan kebutuhanku sendiri. Iya benar aku egois, aku butuh anakku di dekatku selalu.” kali ini berbeda. Ibu Siti bercerita sambil menahan kesedihan. Aku tahu ia rindu si anak sulungnya yang saat itu sedang di pesantren.

“Si mas butuh belajar di Pesantren, Shin. Mas itu laki-laki. Kelak ia akan memimpin istri dan anak-anaknya. Ilmu agama selalu utama, Shin. Dengan ilmu itu, mas akan mencintai Allah. Bila ia mencintai Allah, ia akan menjaga perilakunya agar tetap dicintai Allah. Bekal itu penting untuk calon imam, Shin. Berbeda dengan anakku yang perempuan. Aku tidak akan mewajibkan dia belajar di pesantren. Biarlah ia di rumah saja. Biar aku sendiri yang mengajarkan ia belajar agama dan belajar memasak.” lanjutnya.

Aku terharu sekaligus bahagia mendengar nasihat Ibu Siti. Semoga ibu selalu dikuatkan dan dimudahkan Allah dalam mendidik anak-anaknya, aku berdoa dalam hati.

“Setelah belajar di Pesantren, Si Sulung mengajarkan aku banyak hal, Shin. Aku pernah menawarkan baju baru untuk lebaran kepadanya. Kamu tahu jawaban apa yang ia berikan? Ia mengatakan, tak perlu. Baju yang ia miliki saat ini masih sangat layak untuk dipakai. Ia belum membutuhkan baju baru. Ia bilang, hidup sederhana itu menenangkan hatinya. Anak kelas satu SMP mengatakan hal seperti itu kepadaku, Shin. Bagaimana mungkin aku tidak malu sekaligus terharu?” Ibu Siti berbagi pengalaman kepadaku. Ada ketenangan terlihat dari sorot mata. Melihatnya, aku pun turut merasa tenang.

***

Ibu Siti memberikan nasihat yang begitu menenangkan. Ibu selalu mampu menyampaikan nasihat dengan cara menyenangkan. Ibu tidak pernah merasa paling tahu. Ibu juga tidak memaksa orang lain agar setuju dengan apa yang diyakini. Ibu Siti berbagi pengalaman dengan tulus. Ketulusannya mampu menyentuh hatiku. Jika hati sudah tersentuh, semua hal menjadi mudah dilakukan, kan? 🙂 Semoga aku bisa menjalankan peran dengan baik seperti ibu. Terima kasih sudah berbagi, Ibu Siti ♡

Tak Ada yang Bilang Menjadi Teladan Itu Mudah

Melunakkan hati si keras kepala sesungguhnya sederhana. Kamu hanya perlu menurunkan intonasi suara. Bila kamu mampu, maka, kamu akan meraih hati si keras kepala.

Memenangkan hati si keras kepala sesungguhnya sederhana. Kamu hanya perlu mendengarkan untuk empati. Bukan mendengarkan untuk bereaksi.

Aku, si keras kepala ini, sesungguhnya terganggu dengan ucapanmu tadi pagi.

***

Pagi tadi, hatiku berkata lirih, jika memang belum memahami, mengapa harus pernyataan itu yang kamu pilih?

Biar saja. Nanti ia akan mengerti dengan sendirinya.” begitu katamu. Mendengar kalimat itu, aku kehabisan kata-kata. Aku tak tahu harus menanggapi seperti apa. Bagaimana bisa kamu mengatakan kalimat itu, ketika kami sedang berusaha terus memperbaiki diri? Tahu kah kamu apa yang sedang kami perjuangkan? Kami sedang menekan semua ego agar mampu berperilaku yang pantas diteladani. Sebab, kami tahu. Dua manusia kecil itu selalu mengamati gerak-gerik kami. Dua manusia kecil itu selalu mencontoh perilaku kami.

“Bagaimana cara ia sadar dengan sendirinya, bila ia belum tahu cara seperti apa yang baik dan benar?” aku menanggapi.

“Kesadaran hanya datang bila ada input positif pada kehidupannya. Entah datangnya dari luar. Atau dari diri sendiri karena ia mencari. Dua manusia kecil belum bisa mencari sendiri.” aku menambahkan, dalam hati. Adalah kesia-sian berbicara pada seseorang yang tidak mau mendengar. Pagi tadi, aku enggan melanjutkan percakapan.

Melakukan perbuatan apapun sesuka hati memang paling dinanti. Melakukan perbuatan apapun sesuai keinginan memang paling diharapkan. Melakukan perbuatan apapun tanpa berpikir panjang memang jalan pintas paling cepat. Tapi, tahukah kamu, ternyata segala keputusan kita akan berpengaruh pada kehidupan orang lain? Tahukah kamu, segala perbuatan kita akan berdampak pada kehidupan orang lain?

Aku pun memahami, menjadi teladan memang ujiannya besar sekali. Manusia tak akan luput dari kekhilafan. Tetapi, aku berharap, kita pun berusaha melakukan yang baik-baik minimal di depan kedua manusia kecil itu.

Jika melakukan banyak perbuatan baik cukup membebanimu, bagaimana kalau kita melakukan satu perbuatan saja secara konsisten? Aku mau, kita saling mengingatkan dalam kebaikan. Maukah kamu, melakukannya bersama kami?

***

Sampai tulisan di atas selesai, si keras kepala masih belum mendapatkan kesepakatan.

Aku menengadahkan kepala ke langit.

Hatiku pun berkata,“Jika segala upaya telah dilakukan namun tetap saja tak dihiraukan, kupikir tugasmu memang hanya sampai di sana saja. Kuasa penuh atas hati seseorang memang hanya pada Tuhan. Kini, kamu hanya bisa mendoakan. Biarlah Allah yang membuka hatinya.”

Masih menengadahkan kepala ke langit.

Aku menutup wajah dengan kedua tangan dan membukanya kembali. Aku menarik napas panjang. Dan kemudian menghembuskan.