Masa Lalu adalah Bagian Tubuhku

“Aku mau tanya. Kalo misalkan kamu udah bertemu dengan jodohmu. Lalu, ia mengungkapkan kisah masa lalu yang sangat tidak enak didengar. Apa yang akan kamu lakukan? Berhenti atau tetap melanjutkan?” tanyanya.

“Keputusan tergantung bagaimana dia bersikap,” jawabku.

“Maksudnya?” Wajahnya serius dan penuh rasa ingin tahu.

“Kalau perihal ini tidak ada hubungannya tentang pertanggung jawaban atas hidup orang lain. Dia sudah menerima masa lalunya secara utuh dan tenang. Aku akan melanjutkan,” jawabku.

“Maksudnya?” Mukanya tambah penasaran.

Ah, kamu. Nanya maksudnya melulu hahahaha,” Ledekku.

“Serius aku. Cepet jawab,” jawabnya ketus.

Percakapan di atas tidak begitu membuatku kaget. Aku biasa saja. Pertanyaan ini seperti pertanyaan, “Apa makna seorang sahabat bagi seorang Shinta?” Yang artinya, aku selalu siap sedia menjawab pertanyaan tersebut dengan diskusi panjang. Aku siap menghilangkan rasa penasarannya.

Read more

Tata Krama “Copy-Paste” Karya Orang Lain

“Ini quotes digambar lo yang bikin?” tanyaku.

“Nggak. Gue nemu dipinterest.” jawab si adik.

“Siapa yang nulisnya?” tanyaku lagi

“Nggak tau mbak. Makanya nggak gue cantumin kan.”

“Ditulis aja anonim. Kalo nggak ditulis kayak gitu, itu artinya lo yg bikin quotes.” kataku.

“Sabar ya punya mbak kayak gue. Karena gue tau banget, di balik satu kalimat panjang itu ada proses “berpikir” panjang di belakangnya wkwk itu sebuah karya sis, karya! Hahahaha.” tambahku.

Mengcopy Tulisan Orang Lain

Sejak belajar menulis dan tahu kalau nulis itu ternyata nggak mudah, aku semakin peduli tentang kepenulisan. Aku semakin menghargai setiap karya yang orang lain hasilkan.

Makanya, kalau ada kawan yang mengunggah suatu quotes tanpa dicantumkan siapa penulisnya, aku “gemas” banget rasanya ingin segera negur gitu. Kalau adik sendiri, bisa langsung kutegur. Kalau kawan lama yang bertahun-tahun tidak pernah berjumpa, sulit juga ya hahahaha

Aku juga terganggu sama mereka yang mengunggah sepotong artikel seseorang tanpa dicantumkan siapa penulisnya. Ya meskipun sepotong, tetap saja mereka merasakan manfaat dari tulisan itu kan 😂

Kalau kamu lupa esensi menulis sumber bacaan, aku coba berikan sedikit pandanganku tentang itu, ya 😊

Sebuah kalimat atau artikel yang kita temukan di mana saja, sungguh tidak boleh disepelekan. Karya tersebut tidak muncul begitu saja, kan? Karya itu dihasilkan oleh seseorang yang telah berpikir panjang dan mendalam. Maka, cara terbaik menghargai pemikirannya adalah dengan mencantumkan namanya ketika kita menggunakan karyanya 👌

Lho, bukankah bila ia membagi tulisannya untuk publik itu artinya boleh dikonsumsi oleh publik? Iya benar, boleh banget. Ia membagi tulisannya memang untuk dikonsumsi oleh publik. Dan ia juga senang kalau tulisannya bermanfaat untuk publik.

Namun, bukankah mengonsumsi dengan menjiplak adalah dua hal yang berbeda? Mengonsumsi adalah menggunakan. Menjiplak tanpa sumber rujukan adalah sama saja seperti mencuri karya orang lain. Kalau mencuri barang saja tidak boleh, bukankah sama saja dengan mencuri tulisan 😅

Screenshot Foto

Ada satu hal lagi yang membuat aku cukup “gemas”. Yakni, perihal mengunggah foto orang lain tanpa izin si punya foto.

Tentang tata krama memang tidak pernah ada aturan bakunya. Namun, selama kita memikirkan keadaan orang lain, kurasa selama itu pula kita tidak akan kesulitan perihal tata krama ini.

Kita pasti pernah ya, ingin sekali menggunggah foto yang sama dengan foto kawan kita. Ingin meminta kepada dia, rasanya kok lama dan ribet. Akhirnya, kita memilih cara cepat. Langsung saja kita screenshot foto yang diinginkan. Lalu, kita unggah deh dalam sosial media. Bukankah begitu cara kerja zaman now?

Aku juga sering begitu. Namun, aku selalu berusaha mencantumkan nama si pemilik foto itu. Kalau aku ingin mengunggah dalam status whatsapp, biasanya aku sebut saja nama dia. Kalau distory atau postingan instagram, aku juga “me-mention” akun si pemilik foto itu. Kalau aku kenal orangnya, aku pun izin lebih dulu untuk menggunakan karya atau fotonya.

Kenapa sih “ribet-ribet” melakukan itu? Iya ribet, tetapi harus. Gimana dong hahahaha mencantumkan nama seseorang yang karyanya digunakan adalah bentuk apresiasi kita terhadap karya dan si pembuat karya 😊

Betapa kita bersyukur atas karya yang sudah ia ciptakan. Betapa kita berterima kasih atas karya yang sudah ia “munculkan ke permukaan”.

Ketika orang-orang sibuk mengonsumsi banyak hal, orang ini mampu menghasilkan karya yang berguna untuk banyak orang. Hebat banget kan orang ini? Nah, karena rasa terima kasih yang besar inilah aku harus mencantumkan nama si pemilik karya.

Bagaimana kalau kita menjadi pelopor kebaikan? Menjadi pembuka jalan kebaikan. Kebaikan di sini maksudku, kebaikan mencantumkan sumber bacaan atau sumber karya yang kita gunakan.

Mungkin di luar sana masih banyak yang belum peduli tentang hal ini. Mungkin juga mereka lupa. Namun, kita tidak boleh seperti itu.

Sebaliknya, kita bisa memulai lebih dulu. Memulai dari diri sendiri. Nanti, tularkan kebiasaan ini ke saudara-saudara kita. Lalu, ke sahabat-sahabat kita. Lakukan gerakan kebaikan kecil ini dari lingkungan kita sendiri. Bagaimana? Siap?! 😄👍

Cerita Si Kecil Novan: Hadapi dengan Berani

Seorang anak kecil rutin datang ke ruanganku. Ia baru saja melepas gips yang ada disikunya. Sebut saja namanya Novan.

Novan kelas 5 sekolah dasar. Ia datang ke ruanganku untuk mengobati sikunya. Sikunya retak akibat kecelakaan sepeda. Karena menggunakan gips selama satu bulan penuh, alhasil sikunya sulit untuk ditekuk dan diluruskan lagi. Novan pun kesulitan melakukan apa-apa sendiri. Bahkan untuk menyentuh belakang kepalanya pun Novan belum mampu mandiri.

Novan cukup terkenal di Poli Rehabilitasi Medik ini. Suaranya yang berisik membuat ia mudah dikenali. Tiap kali sesi latihan dimulai, Novan bisa teriak dan menangis kencang sekali 😂

Kami, sebagai fisioterapis tentu tidak merasa aneh dengan sikap Novan ini. Siku yang tidak digerakkan selama satu bulan pasti mengalami berbagai masalah. Beberapa masalahnya adalah pemendekan dan kelemahan otot lengan. Hal inilah yang membuat Novan kesakitan tiap kali sikunya diluruskan atau ditekuk oleh fisioterapis. Kasihan memang melihat Novan menangis karena sakit.

Namun, cara kerjanya memang begini. Novan harus berani melawan sakitnya. Agar sikunya normal dan fungsional kembali.

Respon pasien lain pun beragam. Ada yang merasa tidak tega dan turut bersedih. Ada pula yang malah merasa kesal karena suara Novan membuat ruangan poli menjadi berisik sekali 😅

Pada awalnya, aku pun memberikan penilaian negatif ke anak ini. Begini kataku dalam hati,“Ini anak manja, ya. Dan sepertinya sulit diajak komunikasi. Sedari awal terapi ia selalu menangis. Wajarlah ia bersikap begini. Wong, ia anak bungsu yang jarak usia dengan kakaknya jauh sekali. Pasti segala maunya selalu dituruti.”

Kemarin, aku berkesempatan melatih siku Novan. Ternyata penilaian negatifku salah besar. Sebaliknya, aku malah takjub dan bangga banget sama dia. Anaknya super kooperatif, komunikatif, berani, dan tegar ternyata 😆

Novan bercerita, kecelakaan terjadi saat ia bermain sepeda dengan kawannya. Novan dibonceng. Saat mereka naik sepeda, tiba-tiba seorang anak kecil dengan sepedanya muncul dari arah samping kiri. Akhirnya, Novan, kawannya, serta si anak kecil bertabrakan. Mereka pun jatuh.

Novan tidak ingat kronologi lengkapnya. Yang ia tahu, dirinya tersungkur begitu saja dengan lengan menempel di tanah. Kala itu, lengannya sulit untuk digerakkan. Rasanya sakit dan lemah.

Novan juga tahu lho bagaimana kondisi sikunya. Kata Novan, ada tulang rawan siku yang retak. Retakan itu tidak perlu dipasang implant logam. Cukup dengan gips saja, maka, retakan tulang rawan akan menyatu kembali.

Ternyata Novan tidak semanja itu. Saat aku melatih dia dan kuberi tahu rasanya akan sakit, Novan kooperatif sekali. Ia tidak melakukan gerakan perlawanan. Bahkan ia menahan diri untuk berteriak. Novan hanya meringis dan menutup mulutnya rapat-rapat supaya tidak berteriak kencang.

Novan, nangis boleh kok. Ayo nangis aja! Teriak nggak apa-apa. Jangan ditahan entar kamu pingsan haha.” ledekku. Aku gemas melihat dia menahan diri agar tidak nangis. Terlalu berani anak ini wkwk

Sesi latihan aku akhiri dengan menyuruh Novan mengusap rambutnya dan memegang telinga yang berlawanan dengan tangannya. Meskipun gerakannya masih terbatas dan ia belum mampu melakukan gerakan normal, Novan sudah berusaha keras, guys. Aku benar-benar menghargai dan memaklumi.

Dari kasus Novan ini aku belajar banyak. Pertama, jangan pernah berasumsi apapun sebelum kita memastikannya sendiri. Sebab, kebenaran hanya bisa didapat dari informasi yang lengkap dan menyeluruh. Jangan kayak aku. Aku menduga si novan anak yang manja. Padahal aku belum kenal dia. Kenyataannya, setelah kenal, Novan jauh dari kata manja. Ia anak yang pemberani.

Kedua, berempati akan memudahkan kita menghadapi setiap kondisi. Sebab, yang membuat sulit sesungguhnya bukan masalah itu sendiri. Melainkan, kitalah yang belum mengenal medan apa yang sedang dihadapi. Lagi-lagi jangan kayak aku. Karena Novan “heboh” banget tiap kali dilatih, pada awalnya aku cemas tidak bisa menangani dia. Ternyata, setelah mengobrol banyak dengan Novan dan memeriksa kondisinya, keadaan Novan sangat bisa ditangani kok 😊

Kenali banyak hal, kenali diri, dan kenali orang lain. Yuk, hadapi apapun dengan berani 😄