Tata Krama “Copy-Paste” Karya Orang Lain

“Ini quotes digambar lo yang bikin?” tanyaku.

“Nggak. Gue nemu dipinterest.” jawab si adik.

“Siapa yang nulisnya?” tanyaku lagi

“Nggak tau mbak. Makanya nggak gue cantumin kan.”

“Ditulis aja anonim. Kalo nggak ditulis kayak gitu, itu artinya lo yg bikin quotes.” kataku.

“Sabar ya punya mbak kayak gue. Karena gue tau banget, di balik satu kalimat panjang itu ada proses “berpikir” panjang di belakangnya wkwk itu sebuah karya sis, karya! Hahahaha.” tambahku.

Mengcopy Tulisan Orang Lain

Sejak belajar menulis dan tahu kalau nulis itu ternyata nggak mudah, aku semakin peduli tentang kepenulisan. Aku semakin menghargai setiap karya yang orang lain hasilkan.

Makanya, kalau ada kawan yang mengunggah suatu quotes tanpa dicantumkan siapa penulisnya, aku “gemas” banget rasanya ingin segera negur gitu. Kalau adik sendiri, bisa langsung kutegur. Kalau kawan lama yang bertahun-tahun tidak pernah berjumpa, sulit juga ya hahahaha

Aku juga terganggu sama mereka yang mengunggah sepotong artikel seseorang tanpa dicantumkan siapa penulisnya. Ya meskipun sepotong, tetap saja mereka merasakan manfaat dari tulisan itu kan 😂

Kalau kamu lupa esensi pentingnya menulis sumber bacaan, aku coba berikan sedikit pandanganku tentang itu, ya 😊

Sebuah kalimat atau artikel yang kita temukan di mana saja, sungguh tidak boleh disepelekan. Karya tersebut tidak muncul begitu saja, kan? Karya itu dihasilkan oleh seseorang yang telah berpikir panjang dan mendalam. Maka, cara terbaik menghargai pemikirannya adalah dengan mencantumkan namanya ketika kita menggunakan karyanya 👌

Lho, bukankah bila ia membagi tulisannya untuk publik itu artinya boleh dikonsumsi oleh publik? Iya benar, boleh banget. Ia membagi tulisannya memang untuk dikonsumsi oleh publik. Dan ia juga senang kalau tulisannya bermanfaat untuk publik.

Namun, bukankah mengonsumsi dengan menjiplak adalah dua hal yang berbeda? Mengonsumsi adalah menggunakan. Menjiplak tanpa sumber rujukan adalah sama saja seperti mencuri karya orang lain. Kalau mencuri barang saja tidak boleh, bukankah sama saja dengan mencuri tulisan 😅

Screen Shot Foto

Ada satu hal lagi yang membuat aku cukup “gemas”. Yakni, perihal mengunggah foto orang lain tanpa izin si punya foto.

Tentang tata krama memang tidak pernah ada aturan bakunya. Namun, selama kita memikirkan keadaan orang lain, kurasa selama itu pula kita tidak akan kesulitan perihal tata krama ini.

Kita pasti pernah ya, ingin sekali menggunggah foto yang sama dengan foto kawan kita. Ingin meminta kepada dia, rasanya kok lama dan ribet. Akhirnya, kita memilih cara cepat. Langsung saja kita screen shot foto yang diinginkan. Lalu, kita unggah deh dalam sosial media. Bukankah begitu cara kerja zaman now?

Aku juga sering begitu. Namun, aku selalu berusaha mencantumkan nama si pemilik foto itu. Kalau aku ingin mengunggah dalam status whatsapp, biasanya aku sebut saja nama dia. Kalau distory atau postingan instagram, aku juga “me-mention” akun si pemilik foto itu. Kalau aku kenal orangnya, aku pun izin lebih dulu untuk menggunakan karya atau fotonya.

Kenapa sih “ribet-ribet” melakukan itu? Iya ribet, tetapi harus. Gimana dong hahahaha mencantumkan nama seseorang yang karyanya digunakan adalah bentuk apresiasi kita terhadap karya dan si pembuat karya 😊

Betapa kita bersyukur atas karya yang sudah ia ciptakan. Betapa kita berterima kasih atas karya yang sudah ia “munculkan ke permukaan”.

Ketika orang-orang sibuk mengonsumsi banyak hal, orang ini mampu menghasilkan karya yang berguna untuk banyak orang. Hebat banget kan orang ini? Nah, karena rasa terima kasih yang besar inilah aku harus mencantumkan nama si pemilik karya.

Bagaimana kalau kita menjadi pelopor kebaikan? Menjadi pembuka jalan kebaikan. Kebaikan di sini maksudku, kebaikan mencantumkan sumber bacaan atau sumber karya yang kita gunakan.

Mungkin di luar sana masih banyak yang belum peduli tentang hal ini. Mungkin juga mereka lupa. Namun, kita tidak boleh seperti itu.

Sebaliknya, kita bisa memulai lebih dulu. Memulai dari diri sendiri. Nanti, tularkan kebiasaan ini ke saudara-saudara kita. Lalu, ke sahabat-sahabat kita. Lakukan gerakan kebaikan kecil ini dari lingkungan kita sendiri. Bagaimana? Siap?! 😄👍

Advertisements

Cerita Si Kecil Novan: Hadapi dengan Berani

Seorang anak kecil rutin datang ke ruanganku. Ia baru saja melepas gips yang ada disikunya. Sebut saja namanya Novan.

Novan kelas 5 sekolah dasar. Ia datang ke ruanganku untuk mengobati sikunya. Sikunya retak akibat kecelakaan sepeda. Karena menggunakan gips selama satu bulan penuh, alhasil sikunya sulit untuk ditekuk dan diluruskan lagi. Novan pun kesulitan melakukan apa-apa sendiri. Bahkan untuk menyentuh belakang kepalanya pun Novan belum mampu mandiri.

Novan cukup terkenal di Poli Rehabilitasi Medik ini. Suaranya yang berisik membuat ia mudah dikenali. Tiap kali sesi latihan dimulai, Novan bisa teriak dan menangis kencang sekali 😂

Kami, sebagai fisioterapis tentu tidak merasa aneh dengan sikap Novan ini. Siku yang tidak digerakkan selama satu bulan pasti mengalami berbagai masalah. Beberapa masalahnya adalah pemendekan dan kelemahan otot lengan. Hal inilah yang membuat Novan kesakitan tiap kali sikunya diluruskan atau ditekuk oleh fisioterapis. Kasihan memang melihat Novan menangis karena sakit.

Namun, cara kerjanya memang begini. Novan harus berani melawan sakitnya. Agar sikunya normal dan fungsional kembali.

Respon pasien lain pun beragam. Ada yang merasa tidak tega dan turut bersedih. Ada pula yang malah merasa kesal karena suara Novan membuat ruangan poli menjadi berisik sekali 😅

Pada awalnya, aku pun memberikan penilaian negatif ke anak ini. Begini kataku dalam hati,“Ini anak manja, ya. Dan sepertinya sulit diajak komunikasi. Sedari awal terapi ia selalu menangis. Wajarlah ia bersikap begini. Wong, ia anak bungsu yang jarak usia dengan kakaknya jauh sekali. Pasti segala maunya selalu dituruti.”

Kemarin, aku berkesempatan melatih siku Novan. Ternyata penilaian negatifku salah besar. Sebaliknya, aku malah takjub dan bangga banget sama dia. Anaknya super kooperatif, komunikatif, berani, dan tegar ternyata 😆

Novan bercerita, kecelakaan terjadi saat ia bermain sepeda dengan kawannya. Novan dibonceng. Saat mereka naik sepeda, tiba-tiba seorang anak kecil dengan sepedanya muncul dari arah samping kiri. Akhirnya, Novan, kawannya, serta si anak kecil bertabrakan. Mereka pun jatuh.

Novan tidak ingat kronologi lengkapnya. Yang ia tahu, dirinya tersungkur begitu saja dengan lengan menempel di tanah. Kala itu, lengannya sulit untuk digerakkan. Rasanya sakit dan lemah.

Novan juga tahu lho bagaimana kondisi sikunya. Kata Novan, ada tulang rawan siku yang retak. Retakan itu tidak perlu dipasang implant logam. Cukup dengan gips saja, maka, retakan tulang rawan akan menyatu kembali.

Ternyata Novan tidak semanja itu. Saat aku melatih dia dan kuberi tahu rasanya akan sakit, Novan kooperatif sekali. Ia tidak melakukan gerakan perlawanan. Bahkan ia menahan diri untuk berteriak. Novan hanya meringis dan menutup mulutnya rapat-rapat supaya tidak berteriak kencang.

Novan, nangis boleh kok. Ayo nangis aja! Teriak nggak apa-apa. Jangan ditahan entar kamu pingsan haha.” ledekku. Aku gemas melihat dia menahan diri agar tidak nangis. Terlalu berani anak ini wkwk

Sesi latihan aku akhiri dengan menyuruh Novan mengusap rambutnya dan memegang telinga yang berlawanan dengan tangannya. Meskipun gerakannya masih terbatas dan ia belum mampu melakukan gerakan normal, Novan sudah berusaha keras, guys. Aku benar-benar menghargai dan memaklumi.

Dari kasus Novan ini aku belajar banyak. Pertama, jangan pernah berasumsi apapun sebelum kita memastikannya sendiri. Sebab, kebenaran hanya bisa didapat dari informasi yang lengkap dan menyeluruh. Jangan kayak aku. Aku menduga si novan anak yang manja. Padahal aku belum kenal dia. Kenyataannya, setelah kenal, Novan jauh dari kata manja. Ia anak yang pemberani.

Kedua, berempati akan memudahkan kita menghadapi setiap kondisi. Sebab, yang membuat sulit sesungguhnya bukan masalah itu sendiri. Melainkan, kitalah yang belum mengenal medan apa yang sedang dihadapi. Lagi-lagi jangan kayak aku. Karena Novan “heboh” banget tiap kali dilatih, pada awalnya aku cemas tidak bisa menangani dia. Ternyata, setelah mengobrol banyak dengan Novan dan memeriksa kondisinya, keadaan Novan sangat bisa ditangani kok 😊

Kenali banyak hal, kenali diri, dan kenali orang lain. Yuk, hadapi apapun dengan berani 😄

Teman Hidup: Kesamaan “Nilai”?

Hidup Bukan Hanya tentang Diri Sendiri Saja

“Setiap orang memiliki definisi cinta sendiri.”

“Geum Hui melihat ke arah yang sama denganku.”

“Itu sebabnya kami tidak pernah berseteru saat berbicara.”

“Rasanya aku mendengar pendapatku sendiri melalui mulutnya.”

“Aku seperti melihat diriku yang lain.”

Perkataan di atas adalah pengakuan Ju Sang Won dalam drama Home for Summer.

Setelah adegan itu, ada rasa “klik” dalam hatiku. Seolah-olah aku mengatakan kata setuju berulang kali.

Aku sangat setuju dengan apa yang Ju Sang Won katakan. Iya, aku tahu percakapan ini hanya dalam drama. Dan sangat mungkin ceritanya hanya fiktif belaka. Namun, bukan itu intinya.

Fiktif atau tidak, poin yang menarik perhatianku adalah tentang nilai yang penulis sampaikan. Dalam percakapan Ju Sang Won dan temannya, penulis ingin memberitahu penonton bahwa kesamaan nilai adalah hal penting dalam sebuah hubungan.

Meskipun tidak diucapkan melalui kata, Ju Sang Won dan Wang Geum Hui percaya bahwa hidup bukan hanya tentang diri mereka. Ada banyak orang di sekeliling yang harus diperhatikan dan dijaga perasaannya. Maka, dalam mengambil keputusan pun mereka tidak hanya memikirkan diri sendiri saja. Mereka sangat hati-hati dalam bersikap agar tidak melukai orang-orang di sekitarnya.

Atas dasar kepercayaan itulah akhirnya Ju Sang Won dan Wang Geum Hui ingin hidup bersama. Seperti kata Ju Sang Won, ia seperti mendengar pendapatnya sendiri melalui perkataan Wang Geum Hui. Dan ia memiliki pandangan yang sama terhadap Wang Geum Hui.

Belajar dan Berproses Bersama

Ada cerita lain,

Kalau cerita tadi berasal dari drama, kali ini berasal dari cerita nyata Kak Vrina dan Kak Faldo.

Kak Vrina dan Kak Faldo adalah suami istri. Mereka satu almamater denganku. Meskipun kami tidak saling mengenal, entah mengapa aku selalu tertular energi positif tiap kali melihat unggahan mereka di instagram. Mereka super menginspirasi!

Kak Vrina adalah dokter sekaligus penulis buku. Kak Vrina rajin betul berbagi informasi. Tentang kesehatan, parenting, dan kemuslimahan. Gaya bicara yang lucu juga menambah daya tarik Kak Vrina ini. Sehingga memudahkan kami menyerap informasi 😊 kalau kamu ingin tahu informasi apa saja yang Kak Vrina bagi, coba buka instagram beliau di @davrinarianda.

Kalau Kak Faldo, sama seperti waktu kuliah dulu, Kak Faldo tetap bersemangat menyalurkan aspirasi masyarakat. Jika dulu, Kak Faldo aktif di Badan Eksekutif Mahasiswa. Paska lulus, Kak Faldo menyalurkan aspirasi masyarakat melalui ranah politik. Oh iya, Kak Faldo juga sering membuat video dalam channel youtubenya, lho. Dalam channel itu, Kak Faldo banyak memberikan opini. Coba cari deh channelnya. Namanya, Faldo Maldini.

Nah, beberapa hari lalu Kak Vrina dan Kak Faldo berbagi sedikit pandangan mereka melalui video singkat. Tema yang mereka bicarakan adalah kesamaan nilai apa yang membuat keduanya merasa “cocok”.

Dalam video itu mereka sepakat, suka belajar dan suka berproses adalah dua hal yang membuat mereka cocok satu sama lain. Dan hal itu juga yang membuat mereka “sejalan” dalam menjalani rumah tangga.

Sepenting itu kah memiliki nilai yang sama? Iya, penting banget.

Dengan memiliki nilai yang sama, kita berdiskusi bukan untuk bersiteru. Melainkan, mencari kesepakatan yang terbaik untuk keduanya.

Dengan memiliki nilai yang sama, kita berdiskusi bukan untuk saling menyalahkan. Melainkan, saling mendengarkan dan memberi tanggapan yang tidak menyakiti hati.

Dari pengalamanku sendiri, melakukan perjalanan dengan seseorang yang memiliki nilai sama pun sangat menyenangkan, lho. Hal sulit menjadi lebih mudah. Dan hal berat terasa jauh lebih ringan.

Bagaimana nilai yang aku percaya sampai saat ini? Tentunya ada banyak sekali hahaha setiap kita pasti memiliki nilai-nilai yang sudah tertanam sejak dini, kan?

Aku setuju dengan nilai Ju Sang Won dan Wang Geum Hui. Aku juga sejalan dengan nilai Kak Vrina dan Kak Faldo 😁

Tetapi, jika boleh aku sebutkan satu nilai lagi, keluarga penting untukku. Sebab, di sana setiap individu belajar banyak hal, mendapat cinta dan kasih sayang, tersakiti dan kemudian tersembuhkan kembali, serta merenungi setiap jejak langkah yang sudah ditapaki.

Meskipun anggota keluarga sering melakukan kesalahan, aku yakin keluarga selalu menjadi penguat setiap insan. Sejauh apapun kita berkelana, bukankah keluarga selalu menjadi tempat untuk pulang?

Kalau kamu bagaimana? Setujukah kalau kesamaan nilai adalah poin penting dalam menjalani hubungan? Khususnya dalam menjalani rumah tangga bersama Teman Hidup? 😁

Manners? Tata Krama?

Story instagram di atas adalah milik kawanku. Kami sedikit berbagi cerita bahwa masih banyak orang di sekitar yang tidak peduli dengan aturan. Mereka lebih suka bersikap semaunya dan diperlakukan cepat sesuai keinginannya. Padahal, yang namanya hidup bersama kita harus mau mempertimbangkan keadaan orang lain. Yang namanya hidup bersosial, kita harus peduli bagaimana perasaan orang lain atas sikap kita.

Ingat selalu kalimat bijak yang sudah kita kenal sejak lama,

If you are respectful to others, then you are more likely to be treated with respect by them.

If you show good manners everywhere you go, then you are more likely to encourage others to behave in the same way towards you.

Ingat selalu, selalu ada hubungan dua arah tiap kali kita berurusan dengan orang. Selalu ada kata “saling” supaya hubungan baik tetap terjaga.

Bukan hanya diri kita yang perlu dipikirkan. Namun, orang lain pun juga. Bukan hanya diri kita yang memiliki urusan penting. Namun, orang lain juga sama.

Bagaimana manusia bersikap dan memberi pengaruh pada orang disekitar adalah peran tata krama.

Tata krama, memang tak pernah ada aturan bakunya. Aku pun memahami perihal itu karena didikan orang tua. Ibu dan ayah selalu mengingatkan sikap baik apa yang perlu aku biasakan dan pertahankan. Keduanya, selalu memberi tahu sikap buruk apa yang perlu aku tinggalkan.

Seperti kebiasaan mengucapkan salam tiap kali keluar dan masuk rumah, bersalaman kepada seluruh orang tiap kali arisan keluarga, mengatakan permisi tiap kali melewati beberapa orang di kanan dan kiri, menyapa orang lain tiap kali bertemu, tidak membuka kaki terlalu lebar saat duduk dibangku, atau tidak menaikkan kedua tungkai ke atas bangku tiap kali bertamu. Dan masih banyak yang lainnya. Aku yakin, tentang tata krama ini kamu pun sering diingatkan oleh ayah dan ibumu, ya.

Oleh karena itu, tiap kali berhubungan dengan orang yang tidak sopan aku pun menjadi penuh tanya. Bagaimana bisa ia melupakan tata krama, padahal ayah dan ibunya sudah mendidiknya sejak ia belum terlahir di dunia? Bagaimana bisa ia melupakan tata krama, padahal ayah dan ibunya selalu memberi teladan baik sekuat tenaga? Ada apa sebenarnya?

Tata krama bukanlah ilmu yang hanya didapat dari buku. Sebab, ia dapat kita pelajari di mana saja. Selama kita masih bisa berpikir dan merasa, seharusnya kita bisa.

Tata krama adalah tentang bagaimana kita mempertimbangkan keadaan orang lain atas perbuatan kita. Dan pada akhirnya, kita pun berusaha menjadi manusia baik yang orang lain hormati dan suka. Bagaimana? Semoga kita tidak melupa. Bahwa di dunia ini bukan cuma kita semata. Jadilah manusia yang berhati mulia.

[Day 10] Jangan Takut

Kata “takut” memiliki banyak definisi. Kalau kamu ketik kata “Fears” disertai kata “Pyschology Today” di belakangnya pada google.com, kamu akan menemukan banyak artikel tentang rasa takut. Coba saja.

Begitu pula dengan aku. Aku memiliki banyak definisi rasa takut.

Sebagai anak, aku takut mengecewakan orang tua dan menjadi anak yang tidak berbakti. Sebagai kakak, aku takut menjadi kakak buruk yang tidak memberikan teladan baik untuk adik-adiknya. Sebagai teman, aku takut menjadi teman buruk yang melupa teman bahkan untuk sebuah pertanyaan “apa kabar?”. Sebagai seorang Shinta, aku takut melupa rasa syukur. Bila rasa syukur saja aku tidak ingat, bagaimana mungkin aku mampu mengingat Tuhan?

Menurutku, rasa takut itu selalu ada pada setiap manusia. Dan tidak melulu memiliki makna buruk. Rasa takut membuat kita lebih berhati-hati. Rasa takut juga menjadi petanda bahwa kita masih memiliki emosi normal. Jadi, bersyukurlah karena kita masih memiliki rasa takut.

Rasa takut yang sehat adalah rasa takut yang tidak menghambat seseorang menjadi sukses dan maju.

Pertanyaannya, gimana cara mengelola rasa takut? Khususnya, definisi rasa takut yang aku sebutkan pada paragraf panjang tadi? Caranya cuma dua. Pertama, pelajari bagaimana cara menjadi anak, kakak, teman, dan individu yang baik. Kedua, hadapi dan terima apapun hasilnya nanti.

Lakukan sebuah langkah kecil dan perlahan saja. Sesuaikan dengan “caramu bekerja”. Sebab, mengalahkan rasa takut itu tidak mudah dan cepat. Akan selalu ada seribu alasan agar kita berhenti mencoba dan berusaha.

Aku tidak tahu cara tersebut tepat atau tidak untukmu. Namun, aku sudah mencobanya. Dan Alhamdulillah memberikan perubahan baik.

Semua tulisanku pada blog ini adalah contohnya. Sedari kecil aku suka menulis. Namun, selalu gagal menulis diblog hanya karena takut mendapat penilaian dari orang lain. Aku merasa tidak pantas membagikan buah pikiran yang ada dikepala. “Aku ini siapa?” begitu kataku.

Dan ternyata ketakutanku itu hanya menghambatku saja. Karena rasa takut itu malah membuat aku berhenti menulis dan tidak melakukan perubahan apa-apa. Aku menjadi abai pada hobi menulis itu.

Sejak kesadaran itu muncul, aku pun memutuskan untuk terus menulis. Di awali menulis apapun yang aku suka. Kemudian muncullah ide-ide menarik selama perjalanan. Dan jadilah sebuah karya. Meskipun masih pemula, aku merasa senang dan bersyukur sudah menghasilkan beberapa karya tulisan pada blogku sendiri.

Hadapi rasa takutmu. Jangan menunggu rasa takut benar-benar hilang, baru kemudian melakukan perubahan. Lakukan saja langkah kecil bersama rasa takut yang kian menghilang. Dari pengalamanku selama ini, kurasa cara itu adalah yang paling baik dilakukan 😉

[Day 5] Aku, Dea, dan Jilbab

Dea, perempuan berusia 5 tahun di bawahku bertanya alasanku menggunakan jilbab. Malam itu adalah malam pertama setelah bertahun-tahun kami tidak pernah bertemu.

Ia juga bertanya sejak kapan aku menggunakan pakaian rapi. Definisi rapi baginya adalah pakaianku seperti malam ini yakni, menggunakan jilbab menutup dada dan memakai rok.

Setelah mengajukan dua pertanyaan sekaligus, ia mengungkapkan keinginannya dan kecemasannya terkait jilbab. Ia ingin menggunakan jilbab, namun merasa tidak pantas karena belum tahu banyak ilmu agama. Dari tatap matanya, Dea terlihat menunggu tanggapanku. Aku pun menjawab pertanyaannya satu persatu.

Sebelum menjawab, kuingatkan padanya jawabanku nanti adalah murni pengalamanku sendiri. Semoga bisa membantu memantapkan hati. Syukur-syukur mampu membulatkan tekad untuk memilih dan membuat keputusan hidupnya sendiri.

“Aku berjilbab karena termotivasi dari tiga sahabatku yang berjilbab lebih dulu.” begitu kataku untuk menjawab pertanyaan pertama.

“Aku berubah pelan-pelan, De. Saat kelas 2 Sekolah Menengah Atas, aku mengubah gaya berpakaian dengan baju dan celana panjang. Baju-baju pendekku diplastikkan semua. Aku cuma menyisakan baju-baju berlengan panjang aja di lemari. Aku mau tau gimana rasanya pake baju berlengan panjang setiap hari. Aku ingin memastikan rumor yang beredar. Katanya, kita bakal kepanasan kalo berjilbab. Nyatanya nggak, De. Aku malah terlindung dari cahaya matahari. Nggak pake sunblock pun gapapa. Malah ngerasa aman. Oh iya, aku udah menggunakan macam-macam gaya berjilbab. Kelak, kamu akan menemukan cara berpakaian yang membuatmu nyaman kok, De.” jawabku. Begitu jawabanku untuk pertanyaan dia yang kedua.

“De, terkadang kita emang perlu menyederhanakan segala hal yang rumit. Pake jilbab memang pada awalnya bakal ngerasa rumit dan sulit. Kita ngerasa takut nggak bisa kasih jawaban terkait Islam kalo teman ada yang nanya. Kita juga takut ngejelekin nama Islam kalo setelah berjilbab masih aja berperilaku nggak baik. Pokoknya banyak deh ketakutan-ketakutannya.” kataku.

“Tapi, De, ternyata Allah nyuruh kita berjilbab bukan untuk sempurna di mata manusia, lho. Kita itu berjilbab karena Allah yang memerintahkan. Allah ingin menjaga kita. Kamu tau nggak? Setelah berjilbab, aku jadi semakin termotivasi jadi orang baik gitu, De. Kayak ada perasaan takut bikin Allah kecewa. Mungkin hikmah berjilbab kayak gitu. Kita jadi punya tenaga super dan tameng kuat. Tenaga super untuk ngelakuin perbuatan baik. Serta tameng kuat untuk menjauhi perbuatan buruk.” tambahku. Ini adalah jawaban untuk kecemasan Dea.

“Kamu ingin berjilbab kan? Yaudah pake aja, De. Hayuk, jangan cuma pengen aja. Pengen aja mah nggak bakal jadi-jadi hehehe jangan takut nggak bisa jawab pertanyaan. Emangnya kenapa kalo kita nggak bisa jawab? Kan kamu bisa cari jawaban bareng-bareng temanmu. Bisa tanya ke gurumu, orang tua, dari buku, atau kajian kan. Jadi sama-sama belajar deh :D.” kataku. Jawaban kali ini untuk menyemangati Dea. Kuharap ia tidak takut lagi.

Dea lebih banyak menyimak dan mengangguk tanda mengerti. Dari raut wajahnya terlihat tidak cemas dan takut lagi. Sebaliknya, ia tampak bersemangat dengan senyum simpulnya.

Semoga cerita sederhana ini bisa menjadi salah satu suntikan semangat kala semangatnya turun. Aku percaya, setiap orang berhak berubah menjadi lebih baik berdasarkan episode kehidupannya sendiri.

Kamu tidak perlu terburu-buru hanya karena melihat para pendahulu sudah maju lebih dulu. Lalu, terlupa makna apa yang ingin dicari.

Perlahan saja sampai kamu temukan caramu sendiri. Cara paling benar dan nyaman yang mendekatkanmu pada Allah Sang Pemilik Hati.

Sumber foto: http://www.gaphotoworks.com

[Day 4] Cintai Tubuhmu Sendiri

Aku menikmati setiap proses penerimaan diriku ini. Maka, aku tidak menyesal untuk segala perbuatan khilafku di masa lalu. Sebab, tanpa semua itu, aku tidak akan menjadi sosok Shinta seperti hari ini.

Jangan memandangku penuh takjub seperti itu. Aku sama saja seperti kamu. Yang pernah tidak mensyukuri apa-apa dalam diri. Yang pernah mengalami krisis kepercayaan diri. Jadi, jika saat ini kamu masih berjuang untuk mencintai diri sendiri, lanjutkanlah perjuanganmu. Hadapilah sesulit apapun itu. Kesulitan yang kamu hadapi hari ini, akan membentukmu menjadi sosok luar biasa di kemudian hari.

Krisis Kepercayaan Diri

Shinta kecil memiliki kulit hitam legam. Kesukaannya bermain sepeda di siang hari membuat kulitnya terbakar sinar matahari. Maka, bullying verbal seperti sebutan “Si hitam” adalah kalimat biasa yang sering kudengar saat itu. Tetapi, Shinta kecil tidak terganggu dengan sebutan itu. Ia terlalu sibuk dengan dunia bermain bersama teman-teman.

Semua berubah saat aku sekolah menengah pertama (SMP). Masa pubertas ini membuatku memerhatikan fisik sekali. Saat itu, aku mengikuti ekstrakurikuler (ekskul) paskibra. Siapa pun pasti tahu ekskul tersebut sangat akrab dengan panasnya matahari. Kami selalu latihan baris berbaris saat matahari sedang terik. Hasilnya? Kulit kami terbakar sinar matahari. Kami tidak mengenal sunscreen. Jadi, habislah sudah kulit kami ini. Kulit kami menjadi hitam dan merah.

Fase pubertas membuat aku begitu perhatian dengan permasalahan kulit ini. Aku sadar kulitku hitam sekali. Meskipun masih berani tampil paskibra untuk lomba ke sana dan ke mari, aku tidak sepenuhnya mencintai diriku sendiri. Aku selalu menutupi kulit hitamku dengan bedak tabur. Dan selalu membawa bedak itu kemana pun aku berada. Mimpiku saat itu adalah memiliki kulit putih yang berseri.

Jika berpikir dengan cara pandang saat ini, keadaanku saat SMP dulu sepertinya dipengaruhi oleh orang-orang sekitar. Sampai sekarang aku ingat betul siapa saja orang-orang yang membullyku dengan sebutan “si hitam”. Mereka adalah saudara dekatku sendiri. Saat saudara dekat melakukan hal seperti itu, orang tuaku juga tidak membantuku banyak. Seingatku, orang tuaku diam saja. Mungkin, orang tuaku juga bingung bagaimana cara meningkatkan kepercayaan diri anaknya. Akhirnya, krisis kepercayaan diri ini pun berlangsung hingga Sekolah Menengah Atas (SMA).

Titik Balik

Aku tidak ingat kapan tepatnya. Namun, sejak kuliah aku mulai lebih bijak mengendalikan diri. Sikap bijak ini dimulai dari merawat tubuhku dengan baik. Ketika menyadari tipe kulitku adalah kulit berminyak, aku berusaha mencari perawatan wajah yang khusus untuk kulit berminyak. Ketika jerawat tiba-tiba muncul, aku segera mencari tahu hal-hal apa aja yang menyebabkan jerawat muncul. Ketika sadar wajah mulai kusam, aku evaluasi diri bagaimana kebiasaanku merawat wajah. Apakah aku sudah rajin membersihkan wajah atau belum.

Sikap bijak selanjutnya, aku sudah semakin paham segala tubuhku adalah ciptaan Allah. Maka, menghina tubuhku sendiri, berarti aku menghina Allah. Aku pun mulai menerima diri sendiri. Segala kelebihan sekaligus kekurangannya.

Intinya, sejak kuliah aku tidak lagi mencari hal-hal negatif dalam diri. Karena aku menyadari, segala masalah pada tubuh ini bisa jadi karena kurangnya aku merawat diri.

Aku juga tidak lagi membandingkan dan menilai tubuhku dengan tubuh orang lain. Karena aku tahu, kondisi tubuh tiap orang berbeda-beda. Contohnya saja dalam hal tipe kulit. Masalah dan perawatan kulit kering dan berminyak itu berbeda. Rasanya tidak adil bila aku menginginkan keadaan tubuh orang lain, bila aku tidak mengenal dan merawat tubuhku sendiri.

Kalau kamu bertanya bagian tubuh mana yang paling aku sukai, aku tidak akan memilih apa-apa. Karena aku tidak bisa memilih. Aku menyukai seluruh bagian dalam tubuhku ini. Setiap bagian tubuhku memiliki manfaat dan keunikan masing-masing.

Bahkan untuk kulit berminyakku. Aku bersyukur memiliki tipe kulit seperti ini. Meskipun kata orang kulit berminyak mudah berjerawat, kenyataannya tidak, kok. Selama aku rutin membersihkan wajah tiap kali beraktivitas, Insya Allah wajahnya baik-baik saja. Keuntungan lain yang aku rasakan, kulit berminyak jarang sekali kering dan dehidrasi, lho.

Kalau tipe wajahmu sama seperti aku, saranku, tiap kali beraktivitas, kamu siapkan saja kertas minyak di tasmu. Kertas minyak itu membantu sekali mengurangi kelebihan minyak yang ada di wajahku 🙂

Lalu, tentang alis. Sekarang itu lagi booming dandan-dandanan, ya. Di youtube banyak sekali tutorial dandan. Contohnya dalam membentuk dan menebalkan alis. Alisku itu bentuknya tidak lurus rata. Di beberapa sisi ada yang bergelombang naik ke atas. Kalau kata mereka yang ahli di bidang dandan, tipikal alisku akan susah sekali dibentuk. Supaya terbentuk alis yang bagus, katanya harus dicukur dulu. Kalau tidak mau, alisku bisa pakai concealer. Fungsinya, untuk menutup si alisku yang bergelombang itu. Ribet ya? Iya. Tapi, aku biasa saja.

Bagiku, alis tebal atau tidak tebal bukan masalah. Pakai pensil alis atau tidak pakai juga bukan masalah. Kalau harus memilih, aku lebih baik tidak pakai apa-apa. Aku lebih nyaman alis normal milikku apa adanya. Alasan utama sih, aku memang tidak pandai membuat alis hahaha

Beberapa hal di atas tentang fisik. Masih banyak lagi faktor lain yang membuat seseorang tidak percaya diri.

Alhamdulillah, diumurku yang saat ini aku menerima diriku seutuhnya. Aku menerima segala bentuk wajahku. Alis, mata, hidung, mulut, dan lain sebagainya.

Apalagi aku ini fisioterapis. Aku sering menangani pasien bell’s palsy. Gejalanya, otot-otot wajah kita menurun kekuatannya. Jadi, fungsi wajah kita untuk sementara terganggu. Kita tidak bisa mengedipkan mata, kita tidak bisa mengangkat alis, kita tidak bisa tersenyum simetris, kita tidak bisa menutup mata secara sempurna, dan masih banyak gangguan lainnya.

Melihat pasien-pasien mengalami keadaan itu dan mendengar keluhan mereka saat fungsi wajahnya terganggu, membuat aku introspeksi diri. Ternyata aku bersyukur banget lho wajahnya lengkap dan berfungsi dengan baik seperti saat ini.

Menyadari bahwa rumput tetangga memang selalu lebih hijau, aku selalu berusaha mengingatkan diri. Bahwa nikmat yang aku rasakan akan selalu lebih banyak daripada kekurangan yang dicari-cari. Dan yakin bahwa Allah selalu memberi setiap hal sesuai kebutuhannya.

Aku juga berusaha untuk sadar diri bahwa setiap manusia memiliki keadaan yang berbeda-beda. Jadi, sangat tidak adil bila aku terlalu mengagumi apa-apa yang ada pada orang lain, dan tidak peduli dengan kelebihan yang ada pada diri. Setiap orang berjuang pada medan perangnya sendiri, kan?

Aku akan berusaha menyukai dan merawat apa-apa yang ada pada diri. Entah itu fisik, karakter, kemampuan, dan sebagainya. Karena apa? Karena aku adalah ciptaan Allah. Maka, aku akan menyukai dan merawat semua hal yang Allah berikan. Insya Allah. Kita semua cinta Allah, kan? Aku percaya, seseorang yang mencinta akan melakukan apa saja untuk sesuatu yang dicinta 🙂

[Day 3] Mengenal Kata Hati

Menua semakin membuatku mengenal kata hati. Dan aku pun ingin tahu, sejauh mana diri ini mengenal hati.

***

Aku mengenal dia saat pelatihan di rumah sakit. Aku yang datang sendirian langsung disapa olehnya dengan sapaan yang hangat. Saat itu, ia bersama beberapa kawan. Ia juga meminta nomor whatsappku. Katanya, ia ingin bertanya banyak tentang keluhan sakit pinggang. Melihat bagaimana ia memperkenalkan diri, aku menyimpulkan ia adalah orang yang ramah dan mudah berkawan dengan orang lain.

Namun, siapa sangka ternyata karakternya bisa benar-benar berubah 180 derajat setelah kami berpisah dari ruangan pelatihan itu. Ia yang kukenal sebagai seseorang yang ramah dan hangat, ternyata tidak terbiasa menyapa orang lain saat berpapasan di jalan.

Pada awalnya, tentu saja aku menyapa lebih dulu. Ia pun tersenyum. Pada kesempatan yang lainnya, berulang kali ia menundukkan wajahnya setiap berpapasan denganku. Kuledek saja dia,“Hei Ai, ih kok nunduk aja sih. Nyariin apa? Hehehe kamu mau ke mana?” ia menjawab seadanya dengan sedikit tertawa.

Namun, pada pertemuan ke sekian kalinya, ketika aku lupa menyapa, ia melewatiku begitu saja. Ia tidak menyapa ataupun tersenyum. Padahal jarak kami hanya sekitar 1 meter saja.

Melihat polanya, aku menyadari bahwa ia adalah tipikal orang yang tidak senang menyapa orang lain lebih dulu. Entah apa alasannya.

Pada kondisi ini, aku berdebat dengan diri sendiri. Egoku menyuruh agar tidak menyapa dia lagi. Kalau dia menunduk, biarkanlah. Aku tak perlu menyapanya lagi. Aku kesal dengan perilakunya.

Tetapi, kata hatiku menolak ide itu. Ia mengatakan bahwa rencanaku tersebut tidak benar. Tersenyum dan menyapa orang lain lebih dulu adalah perbuatan baik. Mengapa aku harus mengorbankan perbuatan baik hanya untuk sebuah rasa kesal yang sifatnya sementara? Mengapa menjustifikasi karakter orang lain, padahal apa-apa tentangnya pun aku tidak tahu?

Egoku kalah. Dan aku menuruti kata hatiku.

***

Mendengarkan kata hati, membuatku menjadi lebih peka. Aku menjadi mudah merasakan perasaan lawan bicaraku. Aku juga semakin mudah memahami pikiran mereka. Daripada merasa kesal atas perbuatannya, aku berusaha memikirkan mengapa ia bisa menjadi sosok yang seperti itu. Ia pasti memiliki luka masa lalu sehingga tidak memahami aturan tegur sapa kepada orang lain.

Mengikuti kata hati, membuatku menjadi lebih bijaksana. Aku menjadi lebih mudah berpikir jauh ke depan atas apa-apa yang terjadi. Daripada membiarkan perasaan negatif menguasai diri, aku berusaha menerima segala kepahitan. Menerima bahwa kepahitan hidup memang sebuah kepastian. Menerima bahwa perilaku buruk orang lain juga sebuah kepastian. Orang lain bebas berperilaku apa saja.

Yang tidak boleh bebas itu aku. Aku tidak boleh terpengaruh oleh kejadian buruk yang menempa. Aku tidak boleh terlalu lama tenggelam dalam pikiran dan perasaan negatif. Sebab pikiran dan perasaan yang negatif akan berpengaruh pada perilakuku.

Bersediakah aku menjadi orang yang buruk hanya karena tak sanggup mengendalikan diri sendiri? Sungguh tidak bersedia. Aku terlalu berharga untuk melakukan perbuatan itu. Sebab, Allah yang Maha Baik sudah menciptakan diri ini dalam bentuk yang paling baik.

Kata hati adalah pesan Allah yang seringkali tidak disadari. Ego terlalu mendominasi hingga aku lupa diri. Semoga aku tidak melakukan itu lagi. Dan berusaha untuk selalu mendengarkan dan mengikuti kata hati. Sebab, hanya dengan cara itu aku mampu mengendalikan diri.

Definisi Bahagia

Sumber foto: http://www.timsr.ca

Definisi bahagia untukku adalah ketika mampu melakukan banyak kebaikan untuk diri sendiri dan juga orang lain. Dan berharap Allah meridainya.

Apa definisi bahagia untukmu?

Hal yang paling mudah memang melakukan semua hal demi diri sendiri. Kamu tidak perlu memikirkan orang lain. Kamu tidak perlu berlelah-lelah memposisikan diri menjadi orang lain. Dan kamu juga tidak perlu berkoordinasi dengan orang lain untuk kebaikan bersama.

Sebaliknya, hidup berdampingan dengan orang lain itu sulit. Kamu tidak boleh memutuskan sesuatu tanpa memikirkan keadaan orang lain. Kamu tidak boleh berbuat sesuai keinginanmu. Kamu harus mementingan kepentingan orang banyak dibanding kepentingan pribadi. Kamu juga harus memandang hal dengan luas dan menggunakan banyak kaca mata.

Kamu mau menjalani hidup yang seperti apa? Yang paling mudah atau yang paling sulit?

Aku harap kamu tidak memilih pilihan pertama. Sayang banget. Kita sama-sama tahu kalau masuk surga itu memang tidak mudah. Allah menyediakan surga untuk manusia yang membuktikannya. Dengan apa? Dengan syukur dan sabar. Supaya apa? Supaya jadi orang yang bertakwa. Sulit? Ya tidak, kalau kita cinta Allah semua akan terasa mudah. Kalau ada yang jatuh cinta sama kita aja, maunya dibuktiin, kan? Sama. Allah juga mau dibuktiin. Kita benar-benar cinta sama Allah atau tidak, nih.

Melakukan semua hal demi diri sendiri memang “terasa”nya mudah. Padahal, kalau mau memeriksa keadaan hati, hati kita tidak benar-benar bahagia. Coba periksa saja. Pasti kita tidak pernah menemukan kepuasan dan ketenangan hati. Akibat sikap egois ini, tingkat keegoisan kita akan semakin bertambah. Segala keinginan jadi harus dituruti. Semua harapan pun harus segera terealisasi. Kalau tidak, kita akan stres dan merasa jadi orang paling menderita di dunia. Pokoknya, yang sengsara hanya kita saja. Orang lain di luar sana hidupnya mudah dan baik-baik saja.

Padahal, di luar sana yang hidup sulit dan susah banyak banget, lho. Bukan kita aja. Mereka ingin hidup begini, eh Allah malah memberikan kehidupan yang begitu.

Suka lihat tidak orang-orang yang minta-minta di depan masjid saat kita salat eid? Kita hidup lebih baik dari mereka. Buktinya kita masih bisa makan ketupat lengkap dengan lauk pauknya, kan? Bahkan, kita masih mampu membeli baju lebaran. Kita jauh lebih beruntung dari mereka.

Atau seseorang yang memiliki banyak penyakit. Ia harus melakukan pengobatan di rumah sakit secara berkala. Entah untuk cuci darah, pemeriksaan laboratorium, pemeriksaan rutin ke dokter spesialis setiap bulan, atau melakukan fisioterapi setiap dua kali sehari. Hidupnya hampir selalu di rumah sakit. Ini kejadian nyata. Ada banyak pasienku memiliki jadwal padat di rumah sakit setiap harinya.

Jadi, kalau satu keinginan saja tidak terpenuhi mampu membuat kita menderita, kayaknya terlalu berlebihan. Mungkin, rasa syukur kita memang perlu diperiksa lagi :’)

Melakukan semua hal demi kebaikan bersama bukan berarti tidak memikirkan diri sendiri, lho. Kita berhak dan layak bahagia. Tetapi, jangan lupa. Apa yang kita lakukan akan berdampak pada sekitar. Entah lingkungan atau manusianya. Kebahagiaan kita tidak boleh menjadi sebab kesengsaraan bagi orang lain.

Bagaimana kita tahu kebahagiaan kita tidak akan menyengsarakan orang lain? Caranya, amati keadaan orang lain dan berpikir dengan banyak kaca mata. Serta sadari bahwa di dunia ini kita tidak hidup sendiri.

Kita bisa berpikir dan merasa. Seperti, memikirkan bagaimana keadaan orang lain atas pilihan yang diambil. Dan merasakan bagaimana perasaan orang lain atas keputusan yang dibuat. Lalu, kedua hal itu kita pastikan dengan bertanya apakah ia berkenan atas pilihan dan keputusan kita.

Lagi-lagi ribet, ya? Memang. Tetapi, hidup bersama memang seperti ini. Ada banyak sekali manfaatnya. Dua manfaat yang paling terasa adalah mencegah miskomunikasi dan terjalin hubungan yang baik. Dan ingat-ingat lagi tentang cara masuk ke surga. Surga tidak akan didapat dengan “cuma-cuma” tanpa perjuangan, kan?

Definisi bahagia setiap orang pasti beragam. Kita boleh membuat definisi apa pun. Namun, aku harap semoga kita mau menjadi bijaksana. Bijaksana memikirkan segala hal menjadi lebih luas. Seperti, untuk apa dan untuk siapa kita hidup di dunia. Di mana kah tujuan akhir kehidupan kita. Bagaimana membuat hati tenang. Dan bagaimana cara berbahagia bersama-sama.

Rasulullah manusia paling sempurna saja tidak egois. Rasulullah memikirkan dan membutuhkan kehadiran para sahabat untuk mendapatkan Rida-Nya, apalagi kita?

Bila Kita Tahu Semua Hanya Titipan

Sore tadi, rekan kerjaku menonton ceramah almarhum Ustadz Zainuddin MZ. Sambil mengerjakan tugas, aku pun turut mendengarkan ceramah tersebut. Materi yang dibicarakan ustadz sangat menarik. Masalah ini sering kita temui dalam kehidupan sehari-hari.

Beberapa hari yang lalu, mama bercerita bahwa kakaknya teman kecilku sakit jiwa. Aku sebut Daren saja ya supaya lebih mudah menyebutnya.

Daren memang sudah pindah sejak 15 tahun yang lalu. Sejak itu, kami tidak tahu kabar Daren dan keluarganya. Teknologi yang belum canggih membuat kami kesulitan komunikasi. Kami tidak saling memberi kabar.

Jadi, mamaku dapat informasi ini dari mantan pembantu rumah tangga Daren. Ia bercerita, semua berawal ketika Daren kehilangan motornya. Aku tidak tahu merk motornya apa. Tetapi, mama bilang ‘motor besar’. Mungkin sejenis motor ninja atau CBR.

Sejak kehilangan motor, Daren mengurung diri di kamar. Mungkin Daren belum menerima kenyataan bahwa motor yang ia beli dari tabungannya sendiri telah kandas. Entah bagaimana kehidupan Daren selama ini hingga karakternya bisa serapuh itu. Aku benar-benar sedih mendengar kabar Daren.

Ceramah Ustadz Zainuddin membahas perihal ini. Kata ustadz, seandainya saja setiap manusia tahu bahwa ia tidak memiliki apa-apa di dunia. Mereka tidak akan sombong. Seandainya saja manusia tahu bahwa apa-apa yang dianggap milik adalah hanya sebuah titipan. Mereka akan sadar diri.

Ada banyak kasus-kasus Daren lainnya. Ketika dua orang saling jatuh cinta dan bergantung. Keduanya merasa saling memiliki. Sehingga saat salah satu berkhianat, seringkali pihak yang dikhianati akan begitu patah dan rapuh. Kalau tidak kuat iman dan mental, bisa-bisa yang dikhianati itu tidak akan sanggup menjalani hidup lagi. Ia merasa hidupnya telah berakhir. Sama seperti kisah cintanya yang telah berakhir.

Atau tentang calon anggota legislatif yang berharap menjadi anggota DPRD, DPD atau DPR. Ketika hasil perhitungan selesai, ternyata skor miliknya tidak mencapai batas minimal. Akhirnya ia pun gagal terpilih menjadi anggota legislatif. Lalu, berikutnya apa yang terjadi? Ia tidak mampu menerima kenyataan. Pikirnya, bagaimana bisa ia gagal terpilih. Padahal ia sudah mengeluarkan banyak dana dan tenaga. Padahal ia sebegitu yakinnya atas pemilihan umum ini. Calon legislatif pun akhirnya masuk rumah sakit jiwa.

Kita seringkali lupa. Menggantungkan mimpi dan harapan setinggi-tingginya, namun tidak menyertakan faktor Tuhan di dalamnya.

Semua yang kita punya dan rasakan di dunia, sungguh hanya sebuah titipan. Yang kelak bila sudah tiba waktunya, sang penitip akan mengambil kembali apa-apa yang dititipkannya.

Ustadz Zainuddin Mz memberikan analogi perihal titipan ini dengan tukang parkir. Katanya, kita perlu belajar dari cara kerja tukang parkir.

Si tukang memiliki lahan yang begitu luas. Sedari awal ia sudah tahu bahwa lahannya akan digunakan sebagai tempat penitipan mobil dan motor orang lain. Ia tahu tugasnya adalah hanya untuk menjaga motor dan mobil yang telah dititipkan. Bila sudah waktunya, entah sore atau malam, si penitip akan mengambil kendaraannya kembali.

Si tukang parkir juga memahami bahwa ia hanya boleh menjaga kendaraan dengan baik tanpa merasa memiliki. Sesuka apapun si tukang pada merk motor dan mobil di sana, ia tetap sadar bahwa keduanya memang bukan miliknya.

Bila sore atau malam tiba, sang pemilik kendaraan pun datang. Si tukang parkir harus mengembalikan titipan kendaraan tersebut dengan hati yang lapang. Ia tidak marah atau sedih. Sebab ia sudah tahu sejak awal bahwa tugasnya hanya untuk menjaga kendaraan dalam batas waktu tertentu.

Kita pun seharusnya seperti itu. Dalam hal apapun. Tentang cinta, suami, istri, anak, harta, atau jabatan. Semua hanya titipan Tuhan. Dan Tuhan akan mengambil titipan itu kembali. Entah kapan. Semoga bila waktunya datang, kita sudah menyiapkan hati yang lapang untuk menerimanya dengan ikhlas.

Melakukannya tidak akan mudah. Namun, aku harap serapuh apapun nanti saat titipan tersebut diambil Tuhan, kita tetap memiliki prinsip yang kuat. Kita tidak boleh hilang arah. Ataupun merasa kehidupan telah selesai. Kita tidak boleh menyerah.

Bagi muslim, kala situasi begitu menyulitkan dan tak ada satu orang pun dapat membantu, jangan takut. Allah selalu membantu.

Kita pasti pernah merasakan hari-hari sulit dan kemudian merasakan manfaatnya setelah beberapa tahun kemudian, kan? Begitulah cara Allah. Cara Allah begitu luas dan baik sehingga terkadang kita tak mampu memahami dalam waktu cepat.

Kemampuan manusia yang terbatas, membuat kita kesulitan membaca banyak hikmah.

Kemampuan kita yang terbatas, sehingga hanya tahu segala hal yang diinginkan bukan apa-apa yang dibutuhkan.

Ingat, segala hal yang kita punya saat ini hanya titipan Allah. Cintai segala hal yang ada di hidup kita karena Allah. Sehingga, bila ketetapan-Nya datang, kita tak akan menolak dan terus meratap. Melainkan, bersedih sekadarnya dalam sebuah penerimaan. Karena kita yakin, tidak ada ketentuan terbaik selain takdir yang Allah berikan.