[Day 10] Jangan Takut

Kata “takut” memiliki banyak definisi. Kalau kamu ketik kata “Fears” disertai kata “Pyschology Today” di belakangnya pada google.com, kamu akan menemukan banyak artikel tentang rasa takut. Coba saja.

Begitu pula dengan aku. Aku memiliki banyak definisi rasa takut.

Sebagai anak, aku takut mengecewakan orang tua dan menjadi anak yang tidak berbakti. Sebagai kakak, aku takut menjadi kakak buruk yang tidak memberikan teladan baik untuk adik-adiknya. Sebagai teman, aku takut menjadi teman buruk yang melupa teman bahkan untuk sebuah pertanyaan “apa kabar?”. Sebagai seorang Shinta, aku takut melupa rasa syukur. Bila rasa syukur saja aku tidak ingat, bagaimana mungkin aku mampu mengingat Tuhan?

Menurutku, rasa takut itu selalu ada pada setiap manusia. Dan tidak melulu memiliki makna buruk. Rasa takut membuat kita lebih berhati-hati. Rasa takut juga menjadi petanda bahwa kita masih memiliki emosi normal. Jadi, bersyukurlah karena kita masih memiliki rasa takut.

Rasa takut yang sehat adalah rasa takut yang tidak menghambat seseorang menjadi sukses dan maju.

Pertanyaannya, gimana cara mengelola rasa takut? Khususnya, definisi rasa takut yang aku sebutkan pada paragraf panjang tadi? Caranya cuma dua. Pertama, pelajari bagaimana cara menjadi anak, kakak, teman, dan individu yang baik. Kedua, hadapi dan terima apapun hasilnya nanti.

Lakukan sebuah langkah kecil dan perlahan saja. Sesuaikan dengan “caramu bekerja”. Sebab, mengalahkan rasa takut itu tidak mudah dan cepat. Akan selalu ada seribu alasan agar kita berhenti mencoba dan berusaha.

Aku tidak tahu cara tersebut tepat atau tidak untukmu. Namun, aku sudah mencobanya. Dan Alhamdulillah memberikan perubahan baik.

Semua tulisanku pada blog ini adalah contohnya. Sedari kecil aku suka menulis. Namun, selalu gagal menulis diblog hanya karena takut mendapat penilaian dari orang lain. Aku merasa tidak pantas membagikan buah pikiran yang ada dikepala. “Aku ini siapa?” begitu kataku.

Dan ternyata ketakutanku itu hanya menghambatku saja. Karena rasa takut itu malah membuat aku berhenti menulis dan tidak melakukan perubahan apa-apa. Aku menjadi abai pada hobi menulis itu.

Sejak kesadaran itu muncul, aku pun memutuskan untuk terus menulis. Di awali menulis apapun yang aku suka. Kemudian muncullah ide-ide menarik selama perjalanan. Dan jadilah sebuah karya. Meskipun masih pemula, aku merasa senang dan bersyukur sudah menghasilkan beberapa karya tulisan pada blogku sendiri.

Hadapi rasa takutmu. Jangan menunggu rasa takut benar-benar hilang, baru kemudian melakukan perubahan. Lakukan saja langkah kecil bersama rasa takut yang kian menghilang. Dari pengalamanku selama ini, kurasa cara itu adalah yang paling baik dilakukan 😉

Advertisements

[Day 5] Aku, Dea, dan Jilbab

Dea, perempuan berusia 5 tahun di bawahku bertanya alasanku menggunakan jilbab. Malam itu adalah malam pertama setelah bertahun-tahun kami tidak pernah bertemu.

Ia juga bertanya sejak kapan aku menggunakan pakaian rapi. Definisi rapi baginya adalah pakaianku seperti malam ini yakni, menggunakan jilbab menutup dada dan memakai rok.

Setelah mengajukan dua pertanyaan sekaligus, ia mengungkapkan keinginannya dan kecemasannya terkait jilbab. Ia ingin menggunakan jilbab, namun merasa tidak pantas karena belum tahu banyak ilmu agama. Dari tatap matanya, Dea terlihat menunggu tanggapanku. Aku pun menjawab pertanyaannya satu persatu.

Sebelum menjawab, kuingatkan padanya jawabanku nanti adalah murni pengalamanku sendiri. Semoga bisa membantu memantapkan hati. Syukur-syukur mampu membulatkan tekad untuk memilih dan membuat keputusan hidupnya sendiri.

“Aku berjilbab karena termotivasi dari tiga sahabatku yang berjilbab lebih dulu.” begitu kataku untuk menjawab pertanyaan pertama.

“Aku berubah pelan-pelan, De. Saat kelas 2 Sekolah Menengah Atas, aku mengubah gaya berpakaian dengan baju dan celana panjang. Baju-baju pendekku diplastikkan semua. Aku cuma menyisakan baju-baju berlengan panjang aja di lemari. Aku mau tau gimana rasanya pake baju berlengan panjang setiap hari. Aku ingin memastikan rumor yang beredar. Katanya, kita bakal kepanasan kalo berjilbab. Nyatanya nggak, De. Aku malah terlindung dari cahaya matahari. Nggak pake sunblock pun gapapa. Malah ngerasa aman. Oh iya, aku udah menggunakan macam-macam gaya berjilbab. Kelak, kamu akan menemukan cara berpakaian yang membuatmu nyaman kok, De.” jawabku. Begitu jawabanku untuk pertanyaan dia yang kedua.

“De, terkadang kita emang perlu menyederhanakan segala hal yang rumit. Pake jilbab memang pada awalnya bakal ngerasa rumit dan sulit. Kita ngerasa takut nggak bisa kasih jawaban terkait Islam kalo teman ada yang nanya. Kita juga takut ngejelekin nama Islam kalo setelah berjilbab masih aja berperilaku nggak baik. Pokoknya banyak deh ketakutan-ketakutannya.” kataku.

“Tapi, De, ternyata Allah nyuruh kita berjilbab bukan untuk sempurna di mata manusia, lho. Kita itu berjilbab karena Allah yang memerintahkan. Allah ingin menjaga kita. Kamu tau nggak? Setelah berjilbab, aku jadi semakin termotivasi jadi orang baik gitu, De. Kayak ada perasaan takut bikin Allah kecewa. Mungkin hikmah berjilbab kayak gitu. Kita jadi punya tenaga super dan tameng kuat. Tenaga super untuk ngelakuin perbuatan baik. Serta tameng kuat untuk menjauhi perbuatan buruk.” tambahku. Ini adalah jawaban untuk kecemasan Dea.

“Kamu ingin berjilbab kan? Yaudah pake aja, De. Hayuk, jangan cuma pengen aja. Pengen aja mah nggak bakal jadi-jadi hehehe jangan takut nggak bisa jawab pertanyaan. Emangnya kenapa kalo kita nggak bisa jawab? Kan kamu bisa cari jawaban bareng-bareng temanmu. Bisa tanya ke gurumu, orang tua, dari buku, atau kajian kan. Jadi sama-sama belajar deh :D.” kataku. Jawaban kali ini untuk menyemangati Dea. Kuharap ia tidak takut lagi.

Dea lebih banyak menyimak dan mengangguk tanda mengerti. Dari raut wajahnya terlihat tidak cemas dan takut lagi. Sebaliknya, ia tampak bersemangat dengan senyum simpulnya.

Semoga cerita sederhana ini bisa menjadi salah satu suntikan semangat kala semangatnya turun. Aku percaya, setiap orang berhak berubah menjadi lebih baik berdasarkan episode kehidupannya sendiri.

Kamu tidak perlu terburu-buru hanya karena melihat para pendahulu sudah maju lebih dulu. Lalu, terlupa makna apa yang ingin dicari.

Perlahan saja sampai kamu temukan caramu sendiri. Cara paling benar dan nyaman yang mendekatkanmu pada Allah Sang Pemilik Hati.

Sumber foto: http://www.gaphotoworks.com

[Day 4] Cintai Tubuhmu Sendiri

Aku menikmati setiap proses penerimaan diriku ini. Maka, aku tidak menyesal untuk segala perbuatan khilafku di masa lalu. Sebab, tanpa semua itu, aku tidak akan menjadi sosok Shinta seperti hari ini.

Jangan memandangku penuh takjub seperti itu. Aku sama saja seperti kamu. Yang pernah tidak mensyukuri apa-apa dalam diri. Yang pernah mengalami krisis kepercayaan diri. Jadi, jika saat ini kamu masih berjuang untuk mencintai diri sendiri, lanjutkanlah perjuanganmu. Hadapilah sesulit apapun itu. Kesulitan yang kamu hadapi hari ini, akan membentukmu menjadi sosok luar biasa di kemudian hari.

Krisis Kepercayaan Diri

Shinta kecil memiliki kulit hitam legam. Kesukaannya bermain sepeda di siang hari membuat kulitnya terbakar sinar matahari. Maka, bullying verbal seperti sebutan “Si hitam” adalah kalimat biasa yang sering kudengar saat itu. Tetapi, Shinta kecil tidak terganggu dengan sebutan itu. Ia terlalu sibuk dengan dunia bermain bersama teman-teman.

Semua berubah saat aku sekolah menengah pertama (SMP). Masa pubertas ini membuatku memerhatikan fisik sekali. Saat itu, aku mengikuti ekstrakurikuler (ekskul) paskibra. Siapa pun pasti tahu ekskul tersebut sangat akrab dengan panasnya matahari. Kami selalu latihan baris berbaris saat matahari sedang terik. Hasilnya? Kulit kami terbakar sinar matahari. Kami tidak mengenal sunscreen. Jadi, habislah sudah kulit kami ini. Kulit kami menjadi hitam dan merah.

Fase pubertas membuat aku begitu perhatian dengan permasalahan kulit ini. Aku sadar kulitku hitam sekali. Meskipun masih berani tampil paskibra untuk lomba ke sana dan ke mari, aku tidak sepenuhnya mencintai diriku sendiri. Aku selalu menutupi kulit hitamku dengan bedak tabur. Dan selalu membawa bedak itu kemana pun aku berada. Mimpiku saat itu adalah memiliki kulit putih yang berseri.

Jika berpikir dengan cara pandang saat ini, keadaanku saat SMP dulu sepertinya dipengaruhi oleh orang-orang sekitar. Sampai sekarang aku ingat betul siapa saja orang-orang yang membullyku dengan sebutan “si hitam”. Mereka adalah saudara dekatku sendiri. Saat saudara dekat melakukan hal seperti itu, orang tuaku juga tidak membantuku banyak. Seingatku, orang tuaku diam saja. Mungkin, orang tuaku juga bingung bagaimana cara meningkatkan kepercayaan diri anaknya. Akhirnya, krisis kepercayaan diri ini pun berlangsung hingga Sekolah Menengah Atas (SMA).

Titik Balik

Aku tidak ingat kapan tepatnya. Namun, sejak kuliah aku mulai lebih bijak mengendalikan diri. Sikap bijak ini dimulai dari merawat tubuhku dengan baik. Ketika menyadari tipe kulitku adalah kulit berminyak, aku berusaha mencari perawatan wajah yang khusus untuk kulit berminyak. Ketika jerawat tiba-tiba muncul, aku segera mencari tahu hal-hal apa aja yang menyebabkan jerawat muncul. Ketika sadar wajah mulai kusam, aku evaluasi diri bagaimana kebiasaanku merawat wajah. Apakah aku sudah rajin membersihkan wajah atau belum.

Sikap bijak selanjutnya, aku sudah semakin paham segala tubuhku adalah ciptaan Allah. Maka, menghina tubuhku sendiri, berarti aku menghina Allah. Aku pun mulai menerima diri sendiri. Segala kelebihan sekaligus kekurangannya.

Intinya, sejak kuliah aku tidak lagi mencari hal-hal negatif dalam diri. Karena aku menyadari, segala masalah pada tubuh ini bisa jadi karena kurangnya aku merawat diri.

Aku juga tidak lagi membandingkan dan menilai tubuhku dengan tubuh orang lain. Karena aku tahu, kondisi tubuh tiap orang berbeda-beda. Contohnya saja dalam hal tipe kulit. Masalah dan perawatan kulit kering dan berminyak itu berbeda. Rasanya tidak adil bila aku menginginkan keadaan tubuh orang lain, bila aku tidak mengenal dan merawat tubuhku sendiri.

Kalau kamu bertanya bagian tubuh mana yang paling aku sukai, aku tidak akan memilih apa-apa. Karena aku tidak bisa memilih. Aku menyukai seluruh bagian dalam tubuhku ini. Setiap bagian tubuhku memiliki manfaat dan keunikan masing-masing.

Bahkan untuk kulit berminyakku. Aku bersyukur memiliki tipe kulit seperti ini. Meskipun kata orang kulit berminyak mudah berjerawat, kenyataannya tidak, kok. Selama aku rutin membersihkan wajah tiap kali beraktivitas, Insya Allah wajahnya baik-baik saja. Keuntungan lain yang aku rasakan, kulit berminyak jarang sekali kering dan dehidrasi, lho.

Kalau tipe wajahmu sama seperti aku, saranku, tiap kali beraktivitas, kamu siapkan saja kertas minyak di tasmu. Kertas minyak itu membantu sekali mengurangi kelebihan minyak yang ada di wajahku 🙂

Lalu, tentang alis. Sekarang itu lagi booming dandan-dandanan, ya. Di youtube banyak sekali tutorial dandan. Contohnya dalam membentuk dan menebalkan alis. Alisku itu bentuknya tidak lurus rata. Di beberapa sisi ada yang bergelombang naik ke atas. Kalau kata mereka yang ahli di bidang dandan, tipikal alisku akan susah sekali dibentuk. Supaya terbentuk alis yang bagus, katanya harus dicukur dulu. Kalau tidak mau, alisku bisa pakai concealer. Fungsinya, untuk menutup si alisku yang bergelombang itu. Ribet ya? Iya. Tapi, aku biasa saja.

Bagiku, alis tebal atau tidak tebal bukan masalah. Pakai pensil alis atau tidak pakai juga bukan masalah. Kalau harus memilih, aku lebih baik tidak pakai apa-apa. Aku lebih nyaman alis normal milikku apa adanya. Alasan utama sih, aku memang tidak pandai membuat alis hahaha

Beberapa hal di atas tentang fisik. Masih banyak lagi faktor lain yang membuat seseorang tidak percaya diri.

Alhamdulillah, diumurku yang saat ini aku menerima diriku seutuhnya. Aku menerima segala bentuk wajahku. Alis, mata, hidung, mulut, dan lain sebagainya.

Apalagi aku ini fisioterapis. Aku sering menangani pasien bell’s palsy. Gejalanya, otot-otot wajah kita menurun kekuatannya. Jadi, fungsi wajah kita untuk sementara terganggu. Kita tidak bisa mengedipkan mata, kita tidak bisa mengangkat alis, kita tidak bisa tersenyum simetris, kita tidak bisa menutup mata secara sempurna, dan masih banyak gangguan lainnya.

Melihat pasien-pasien mengalami keadaan itu dan mendengar keluhan mereka saat fungsi wajahnya terganggu, membuat aku introspeksi diri. Ternyata aku bersyukur banget lho wajahnya lengkap dan berfungsi dengan baik seperti saat ini.

Menyadari bahwa rumput tetangga memang selalu lebih hijau, aku selalu berusaha mengingatkan diri. Bahwa nikmat yang aku rasakan akan selalu lebih banyak daripada kekurangan yang dicari-cari. Dan yakin bahwa Allah selalu memberi setiap hal sesuai kebutuhannya.

Aku juga berusaha untuk sadar diri bahwa setiap manusia memiliki keadaan yang berbeda-beda. Jadi, sangat tidak adil bila aku terlalu mengagumi apa-apa yang ada pada orang lain, dan tidak peduli dengan kelebihan yang ada pada diri. Setiap orang berjuang pada medan perangnya sendiri, kan?

Aku akan berusaha menyukai dan merawat apa-apa yang ada pada diri. Entah itu fisik, karakter, kemampuan, dan sebagainya. Karena apa? Karena aku adalah ciptaan Allah. Maka, aku akan menyukai dan merawat semua hal yang Allah berikan. Insya Allah. Kita semua cinta Allah, kan? Aku percaya, seseorang yang mencinta akan melakukan apa saja untuk sesuatu yang dicinta 🙂

[Day 3] Mengenal Kata Hati

Menua semakin membuatku mengenal kata hati. Dan aku pun ingin tahu, sejauh mana diri ini mengenal hati.

***

Aku mengenal dia saat pelatihan di rumah sakit. Aku yang datang sendirian langsung disapa olehnya dengan sapaan yang hangat. Saat itu, ia bersama beberapa kawan. Ia juga meminta nomor whatsappku. Katanya, ia ingin bertanya banyak tentang keluhan sakit pinggang. Melihat bagaimana ia memperkenalkan diri, aku menyimpulkan ia adalah orang yang ramah dan mudah berkawan dengan orang lain.

Namun, siapa sangka ternyata karakternya bisa benar-benar berubah 180 derajat setelah kami berpisah dari ruangan pelatihan itu. Ia yang kukenal sebagai seseorang yang ramah dan hangat, ternyata tidak terbiasa menyapa orang lain saat berpapasan di jalan.

Pada awalnya, tentu saja aku menyapa lebih dulu. Ia pun tersenyum. Pada kesempatan yang lainnya, berulang kali ia menundukkan wajahnya setiap berpapasan denganku. Kuledek saja dia,“Hei Ai, ih kok nunduk aja sih. Nyariin apa? Hehehe kamu mau ke mana?” ia menjawab seadanya dengan sedikit tertawa.

Namun, pada pertemuan ke sekian kalinya, ketika aku lupa menyapa, ia melewatiku begitu saja. Ia tidak menyapa ataupun tersenyum. Padahal jarak kami hanya sekitar 1 meter saja.

Melihat polanya, aku menyadari bahwa ia adalah tipikal orang yang tidak senang menyapa orang lain lebih dulu. Entah apa alasannya.

Pada kondisi ini, aku berdebat dengan diri sendiri. Egoku menyuruh agar tidak menyapa dia lagi. Kalau dia menunduk, biarkanlah. Aku tak perlu menyapanya lagi. Aku kesal dengan perilakunya.

Tetapi, kata hatiku menolak ide itu. Ia mengatakan bahwa rencanaku tersebut tidak benar. Tersenyum dan menyapa orang lain lebih dulu adalah perbuatan baik. Mengapa aku harus mengorbankan perbuatan baik hanya untuk sebuah rasa kesal yang sifatnya sementara? Mengapa menjustifikasi karakter orang lain, padahal apa-apa tentangnya pun aku tidak tahu?

Egoku kalah. Dan aku menuruti kata hatiku.

***

Mendengarkan kata hati, membuatku menjadi lebih peka. Aku menjadi mudah merasakan perasaan lawan bicaraku. Aku juga semakin mudah memahami pikiran mereka. Daripada merasa kesal atas perbuatannya, aku berusaha memikirkan mengapa ia bisa menjadi sosok yang seperti itu. Ia pasti memiliki luka masa lalu sehingga tidak memahami aturan tegur sapa kepada orang lain.

Mengikuti kata hati, membuatku menjadi lebih bijaksana. Aku menjadi lebih mudah berpikir jauh ke depan atas apa-apa yang terjadi. Daripada membiarkan perasaan negatif menguasai diri, aku berusaha menerima segala kepahitan. Menerima bahwa kepahitan hidup memang sebuah kepastian. Menerima bahwa perilaku buruk orang lain juga sebuah kepastian. Orang lain bebas berperilaku apa saja.

Yang tidak boleh bebas itu aku. Aku tidak boleh terpengaruh oleh kejadian buruk yang menempa. Aku tidak boleh terlalu lama tenggelam dalam pikiran dan perasaan negatif. Sebab pikiran dan perasaan yang negatif akan berpengaruh pada perilakuku.

Bersediakah aku menjadi orang yang buruk hanya karena tak sanggup mengendalikan diri sendiri? Sungguh tidak bersedia. Aku terlalu berharga untuk melakukan perbuatan itu. Sebab, Allah yang Maha Baik sudah menciptakan diri ini dalam bentuk yang paling baik.

Kata hati adalah pesan Allah yang seringkali tidak disadari. Ego terlalu mendominasi hingga aku lupa diri. Semoga aku tidak melakukan itu lagi. Dan berusaha untuk selalu mendengarkan dan mengikuti kata hati. Sebab, hanya dengan cara itu aku mampu mengendalikan diri.

Definisi Bahagia

Sumber foto: http://www.timsr.ca

Definisi bahagia untukku adalah ketika mampu melakukan banyak kebaikan untuk diri sendiri dan juga orang lain. Dan berharap Allah meridainya.

Apa definisi bahagia untukmu?

Hal yang paling mudah memang melakukan semua hal demi diri sendiri. Kamu tidak perlu memikirkan orang lain. Kamu tidak perlu berlelah-lelah memposisikan diri menjadi orang lain. Dan kamu juga tidak perlu berkoordinasi dengan orang lain untuk kebaikan bersama.

Sebaliknya, hidup berdampingan dengan orang lain itu sulit. Kamu tidak boleh memutuskan sesuatu tanpa memikirkan keadaan orang lain. Kamu tidak boleh berbuat sesuai keinginanmu. Kamu harus mementingan kepentingan orang banyak dibanding kepentingan pribadi. Kamu juga harus memandang hal dengan luas dan menggunakan banyak kaca mata.

Kamu mau menjalani hidup yang seperti apa? Yang paling mudah atau yang paling sulit?

Aku harap kamu tidak memilih pilihan pertama. Sayang banget. Kita sama-sama tahu kalau masuk surga itu memang tidak mudah. Allah menyediakan surga untuk manusia yang membuktikannya. Dengan apa? Dengan syukur dan sabar. Supaya apa? Supaya jadi orang yang bertakwa. Sulit? Ya tidak, kalau kita cinta Allah semua akan terasa mudah. Kalau ada yang jatuh cinta sama kita aja, maunya dibuktiin, kan? Sama. Allah juga mau dibuktiin. Kita benar-benar cinta sama Allah atau tidak, nih.

Melakukan semua hal demi diri sendiri memang “terasa”nya mudah. Padahal, kalau mau memeriksa keadaan hati, hati kita tidak benar-benar bahagia. Coba periksa saja. Pasti kita tidak pernah menemukan kepuasan dan ketenangan hati. Akibat sikap egois ini, tingkat keegoisan kita akan semakin bertambah. Segala keinginan jadi harus dituruti. Semua harapan pun harus segera terealisasi. Kalau tidak, kita akan stres dan merasa jadi orang paling menderita di dunia. Pokoknya, yang sengsara hanya kita saja. Orang lain di luar sana hidupnya mudah dan baik-baik saja.

Padahal, di luar sana yang hidup sulit dan susah banyak banget, lho. Bukan kita aja. Mereka ingin hidup begini, eh Allah malah memberikan kehidupan yang begitu.

Suka lihat tidak orang-orang yang minta-minta di depan masjid saat kita salat eid? Kita hidup lebih baik dari mereka. Buktinya kita masih bisa makan ketupat lengkap dengan lauk pauknya, kan? Bahkan, kita masih mampu membeli baju lebaran. Kita jauh lebih beruntung dari mereka.

Atau seseorang yang memiliki banyak penyakit. Ia harus melakukan pengobatan di rumah sakit secara berkala. Entah untuk cuci darah, pemeriksaan laboratorium, pemeriksaan rutin ke dokter spesialis setiap bulan, atau melakukan fisioterapi setiap dua kali sehari. Hidupnya hampir selalu di rumah sakit. Ini kejadian nyata. Ada banyak pasienku memiliki jadwal padat di rumah sakit setiap harinya.

Jadi, kalau satu keinginan saja tidak terpenuhi mampu membuat kita menderita, kayaknya terlalu berlebihan. Mungkin, rasa syukur kita memang perlu diperiksa lagi :’)

Melakukan semua hal demi kebaikan bersama bukan berarti tidak memikirkan diri sendiri, lho. Kita berhak dan layak bahagia. Tetapi, jangan lupa. Apa yang kita lakukan akan berdampak pada sekitar. Entah lingkungan atau manusianya. Kebahagiaan kita tidak boleh menjadi sebab kesengsaraan bagi orang lain.

Bagaimana kita tahu kebahagiaan kita tidak akan menyengsarakan orang lain? Caranya, amati keadaan orang lain dan berpikir dengan banyak kaca mata. Serta sadari bahwa di dunia ini kita tidak hidup sendiri.

Kita bisa berpikir dan merasa. Seperti, memikirkan bagaimana keadaan orang lain atas pilihan yang diambil. Dan merasakan bagaimana perasaan orang lain atas keputusan yang dibuat. Lalu, kedua hal itu kita pastikan dengan bertanya apakah ia berkenan atas pilihan dan keputusan kita.

Lagi-lagi ribet, ya? Memang. Tetapi, hidup bersama memang seperti ini. Ada banyak sekali manfaatnya. Dua manfaat yang paling terasa adalah mencegah miskomunikasi dan terjalin hubungan yang baik. Dan ingat-ingat lagi tentang cara masuk ke surga. Surga tidak akan didapat dengan “cuma-cuma” tanpa perjuangan, kan?

Definisi bahagia setiap orang pasti beragam. Kita boleh membuat definisi apa pun. Namun, aku harap semoga kita mau menjadi bijaksana. Bijaksana memikirkan segala hal menjadi lebih luas. Seperti, untuk apa dan untuk siapa kita hidup di dunia. Di mana kah tujuan akhir kehidupan kita. Bagaimana membuat hati tenang. Dan bagaimana cara berbahagia bersama-sama.

Rasulullah manusia paling sempurna saja tidak egois. Rasulullah memikirkan dan membutuhkan kehadiran para sahabat untuk mendapatkan Rida-Nya, apalagi kita?

Bila Kita Tahu Semua Hanya Titipan

Sore tadi, rekan kerjaku menonton ceramah almarhum Ustadz Zainuddin MZ. Sambil mengerjakan tugas, aku pun turut mendengarkan ceramah tersebut. Materi yang dibicarakan ustadz sangat menarik. Masalah ini sering kita temui dalam kehidupan sehari-hari.

Beberapa hari yang lalu, mama bercerita bahwa kakaknya teman kecilku sakit jiwa. Aku sebut Daren saja ya supaya lebih mudah menyebutnya.

Daren memang sudah pindah sejak 15 tahun yang lalu. Sejak itu, kami tidak tahu kabar Daren dan keluarganya. Teknologi yang belum canggih membuat kami kesulitan komunikasi. Kami tidak saling memberi kabar.

Jadi, mamaku dapat informasi ini dari mantan pembantu rumah tangga Daren. Ia bercerita, semua berawal ketika Daren kehilangan motornya. Aku tidak tahu merk motornya apa. Tetapi, mama bilang ‘motor besar’. Mungkin sejenis motor ninja atau CBR.

Sejak kehilangan motor, Daren mengurung diri di kamar. Mungkin Daren belum menerima kenyataan bahwa motor yang ia beli dari tabungannya sendiri telah kandas. Entah bagaimana kehidupan Daren selama ini hingga karakternya bisa serapuh itu. Aku benar-benar sedih mendengar kabar Daren.

Ceramah Ustadz Zainuddin membahas perihal ini. Kata ustadz, seandainya saja setiap manusia tahu bahwa ia tidak memiliki apa-apa di dunia. Mereka tidak akan sombong. Seandainya saja manusia tahu bahwa apa-apa yang dianggap milik adalah hanya sebuah titipan. Mereka akan sadar diri.

Ada banyak kasus-kasus Daren lainnya. Ketika dua orang saling jatuh cinta dan bergantung. Keduanya merasa saling memiliki. Sehingga saat salah satu berkhianat, seringkali pihak yang dikhianati akan begitu patah dan rapuh. Kalau tidak kuat iman dan mental, bisa-bisa yang dikhianati itu tidak akan sanggup menjalani hidup lagi. Ia merasa hidupnya telah berakhir. Sama seperti kisah cintanya yang telah berakhir.

Atau tentang calon anggota legislatif yang berharap menjadi anggota DPRD, DPD atau DPR. Ketika hasil perhitungan selesai, ternyata skor miliknya tidak mencapai batas minimal. Akhirnya ia pun gagal terpilih menjadi anggota legislatif. Lalu, berikutnya apa yang terjadi? Ia tidak mampu menerima kenyataan. Pikirnya, bagaimana bisa ia gagal terpilih. Padahal ia sudah mengeluarkan banyak dana dan tenaga. Padahal ia sebegitu yakinnya atas pemilihan umum ini. Calon legislatif pun akhirnya masuk rumah sakit jiwa.

Kita seringkali lupa. Menggantungkan mimpi dan harapan setinggi-tingginya, namun tidak menyertakan faktor Tuhan di dalamnya.

Semua yang kita punya dan rasakan di dunia, sungguh hanya sebuah titipan. Yang kelak bila sudah tiba waktunya, sang penitip akan mengambil kembali apa-apa yang dititipkannya.

Ustadz Zainuddin Mz memberikan analogi perihal titipan ini dengan tukang parkir. Katanya, kita perlu belajar dari cara kerja tukang parkir.

Si tukang memiliki lahan yang begitu luas. Sedari awal ia sudah tahu bahwa lahannya akan digunakan sebagai tempat penitipan mobil dan motor orang lain. Ia tahu tugasnya adalah hanya untuk menjaga motor dan mobil yang telah dititipkan. Bila sudah waktunya, entah sore atau malam, si penitip akan mengambil kendaraannya kembali.

Si tukang parkir juga memahami bahwa ia hanya boleh menjaga kendaraan dengan baik tanpa merasa memiliki. Sesuka apapun si tukang pada merk motor dan mobil di sana, ia tetap sadar bahwa keduanya memang bukan miliknya.

Bila sore atau malam tiba, sang pemilik kendaraan pun datang. Si tukang parkir harus mengembalikan titipan kendaraan tersebut dengan hati yang lapang. Ia tidak marah atau sedih. Sebab ia sudah tahu sejak awal bahwa tugasnya hanya untuk menjaga kendaraan dalam batas waktu tertentu.

Kita pun seharusnya seperti itu. Dalam hal apapun. Tentang cinta, suami, istri, anak, harta, atau jabatan. Semua hanya titipan Tuhan. Dan Tuhan akan mengambil titipan itu kembali. Entah kapan. Semoga bila waktunya datang, kita sudah menyiapkan hati yang lapang untuk menerimanya dengan ikhlas.

Melakukannya tidak akan mudah. Namun, aku harap serapuh apapun nanti saat titipan tersebut diambil Tuhan, kita tetap memiliki prinsip yang kuat. Kita tidak boleh hilang arah. Ataupun merasa kehidupan telah selesai. Kita tidak boleh menyerah.

Bagi muslim, kala situasi begitu menyulitkan dan tak ada satu orang pun dapat membantu, jangan takut. Allah selalu membantu.

Kita pasti pernah merasakan hari-hari sulit dan kemudian merasakan manfaatnya setelah beberapa tahun kemudian, kan? Begitulah cara Allah. Cara Allah begitu luas dan baik sehingga terkadang kita tak mampu memahami dalam waktu cepat.

Kemampuan manusia yang terbatas, membuat kita kesulitan membaca banyak hikmah.

Kemampuan kita yang terbatas, sehingga hanya tahu segala hal yang diinginkan bukan apa-apa yang dibutuhkan.

Ingat, segala hal yang kita punya saat ini hanya titipan Allah. Cintai segala hal yang ada di hidup kita karena Allah. Sehingga, bila ketetapan-Nya datang, kita tak akan menolak dan terus meratap. Melainkan, bersedih sekadarnya dalam sebuah penerimaan. Karena kita yakin, tidak ada ketentuan terbaik selain takdir yang Allah berikan.

Bila Cleaning Service Tak Ada, Kita Bisa Apa?

Pagiku di tempat kerja selalu menyenangkan. Salah satu alasannya adalah karena Bu RiRi. Berkat ibu, ruanganku harum sekali. Toiletnya tidak bau lagi. Lantainya bersih. Plastik tong sampah selalu rutin diganti. Wastafel bersih. Tissue dan hand soap selalu terisi. Kaca ruangan gymnasium juga selalu berkilau. Pokoknya semua bersih! Aku berterima kasih sekali pada Bu Riri.

Bu Riri adalah cleaning service (CS) baru di ruanganku. Sebenarnya Bu Riri bukan karyawan baru. Bu Riri adalah penanggung jawab CS di RS tempatku bekerja. Namun, karena ada banyak keluhan tentang ruanganku yang ‘katanya’ sulit sekali dibersihkan, Bu Riri pun memutuskan untuk turun langsung ke lapangan untuk mencoba. Hebat ya!

“Assalammu’alaikum, Bu Riri. Selamat pagi ibuuuuuuuu.” aku menyapa ibu dengan senyum ceria. Mungkin dalam hati, Bu Riri bingung, ada apa denganku. Mengapa senyumku selebar dan suaraku sebahagia ini. Mengapa aku menatapnya begitu penuh cinta hahaha

Pada hari yang lain.

“Mbak, Bu Riri mana?” tanyaku pada petugas kebersihan yang sedang menyapu di depanku.

“Ada mbak, di dekat toilet tuh.” jawab si mbak singkat.

“Buuuuuuu, Shinta kangen nih bu. Nyariin Bu Riri melulu.” ledek Pak Sanusi si kepala ruanganku.

“Eh iya kenapa Mbak Shinta?” jawab Bu Riri dengan wajah bingung.

“Hahahaha nggak apa-apa bu. Mau liat ibu aja. Kan kangen. Aku mah nggak bisa jauh dari Bu Riri pokoknya.” candaku.

“Hahaha Mbak Shinta mah.” ibu tertawa malu sambil perlahan pergi melanjutkan pekerjaannya.

Mungkin orang lain akan bingung mengapa aku begitu senang terhadap Bu Riri ini. Tetapi, aku benar-benar bersyukur Bu Riri bekerja di tempatku.

Mengamati cara Bu Riri bekerja aku semakin yakin perkataan dosen saat di kampus dulu. Katanya, kemudahan kita bekerja sehari-hari adalah hasil dari bantuan orang-orang di sekeliling kita. Tanpa mereka kita bukan apa-apa.

Aku merasakan sendiri kebenaran perkataaan beliau. Berkat kerajinan Bu Riri, ruanganku bersih dan wangi sekali. Karena Bu Riri pekerjaanku pun berjalan lancar.

Hampir satu tahun bekerja di rumah sakit ini, ada beberapa hal yang mengganjal di hati. Tentang kebersihan poli tempatku bekerja. Banyak orang mengeluh tentang ruanganku. Bau toilet menguap hingga ke ruangan tenpat pasien menunggu. Banyak dugaan muncul. Apakah ada masalah pada toilet. Atau ada masalah pada wastafel. Sampai-sampai petugas teknisi mengecek semua itu. Hasilnya, semua dalam keadaan normal. Masalah bau pun tak kunjung ditemukan.

Kosong atau tidak plastik tong sampah sangat berpengaruh pada pekerjaanku. Salah satu tindakan yang aku kerjakan adalah menggunakan gel seperti saat USG kehamilan. Setelah tindakan, gel harus dibersihkan menggunakan tissue. Tissue pun kami buang ke tong sampah.

Sebelum Bu Riri datang, seringkali kami bingung saat ingin membuang tissue karena plastik tong sampah penuh. Akhirnya, kami pun harus mencari-cari CS atau menelepon penanggung jawab CS bila petugas CS ruanganku tak ada. Mencari CS saat pelayanan ternyata lumayan menyulitkan.

Ketika ada pasien anak muntah saat latihan dan CS tidak standby di ruangan juga cukup menyulitkan kami. Waktu yang seharusnya kami gunakan untuk melatih pasien akan sedikit tersita untuk mencari-cari CS.

Yang sangat berbahaya adalah saat ada pasien yang menumpahkan air di ruang tunggu. Bila CS sulit dicari, meskipun sudah memasang penanda ‘wet floor’, kami harus tetap mengingatkan pasien untuk berhati-hati. Kegiatan seperti itu juga cukup menyita waktu kami yang seharusnya bisa digunakan untuk memerhatikan pasien yang sedang diterapi. Peran CS benar-benar besar di poliku.

Di rumah sakit (RS) tempatku bekerja sebelumnya, RS bekerja sama dengan perusahaan kebersihan. Pemiliknya adalah orang luar negeri. Aku lupa asalnya dari mana. Motto perusahaan itu adalah tidak boleh ada kotoran sedikit pun yang terlihat oleh mata.

Aku tahu hal ini karena pernah mengobrol dengan Agus salah satu CS yang bekerja di perusahaan itu. Kebetulan, saat itu Agus bertugas di ruanganku. Agar kebersihan selalu terjaga, bahkan si Agus ini tidak boleh duduk selama jam kerja. Bila ketahuan duduk, ia akan mendapat hukuman yang cukup berat dari perusahaan. Mendapat surat peringatan atau pemotongan gaji, misalnya.

Aku ingat betul saat Agus kutawarkan sepotong kue. Ia harus bersembunyi di area tanpa CCTV supaya tidak ketahuan. Ketat betul aturan perusahaan itu. Oleh karena itu, Agus selalu tampak di sekitarku. Entah ia sedang menyapu, mengepel, atau mengelap debu.

Melihat Agus bekerja sekeras itu aku merasa kasihan. Aku bisa duduk kapan saja bila lelah, tetapi Agus tidak bisa. Aku bisa memakan camilan bila lapar, tetapi Agus tidak boleh. Tetapi, aku senang dan bersyukur merasakan hasil pekerjaan Agus. Berkatnya, aku nyaman sekali selama bekerja. Kebersihan ruangan benar-benar membantuku bekerja. Pelayanan tidak pernah terganggu.

Berbeda dengan RSku dulu, RSku saat ini tidak bekerja sama dengan perusahaan luar negeri untuk tenaga CS. RS merekrut sendiri SDM untuk CS. Aku tidak mengerti mengapa perbedaannya benar-benar terasa. Apakah sistemnya berbeda, atau memang individunya saja yang tidak menjalankan pekerjaan sesuai prosedur. Sehingga tidak bisa menjaga ruangan kebersihan dengan baik. Fakta lapangan yang aku tahu, Bu Riri dan petugas CS sebelumnya adalah sama-sama karyawan RS. Namun, cara kerjanya benar-benar berbeda.

Aku mungkin adalah satu dari banyaknya orang yang merasakan dan menyadari betul manfaat tentang kebersihan ruangan. Maka, kehadiran Bu Riri yang begitu rajin sangat membuat hatiku senang. Apalagi masalah kebersihan ini benar-benar mengganggu sejak lama. Kehadiran Bu Riri benar-benar kunanti hehehe

Karena terlalu ‘ngefans’ dengan cara kerja Bu Riri aku pernah bertanya ke ibu,”Bu, ini toiletnya ibu bersihin pake apa? Kok wangi banget bu? Ini kali pertama toiletnya sewangi ini lho bu.

“Itu pake pengharum toilet yang digantung di dinding aja, Mbak Shinta.” jawab Bu Riri.

“Masa sih bu? Dari dulu juga pake kamper kaya gitu kayaknya bu. Tapi nggak pernah wangi kayak gini.”

“Aku gosokin semua area mbak. Semua celah deh pokoknya. Kotor itu emang bikin bau mbak.” jawab ibu.

“Oh gitu, keren ibu. Makasih ya, Bu Riri. Yaudah, aku ke dalam ya bu. Mari buuu.” aku berterima kasih sambil tersenyum dan melanjutkan pekerjaanku.

***

Sesekali, coba amati CS di kantormu. Kalau bertemu CS yang rajin sebaiknya ucapkan terima kasih. Jangan lupa juga beri sapa dan seyum tiap kali bertemu. Kantor yang kotor dan bau akan mengganggu kita bekerja, sungguh.

Percaya, sehebat apapun kita bekerja, tanpa hadirnya CS yang membantu, akan menyulitkan urusan kita. Mungkin pekerjaan akan tetap selesai juga. Tetapi, ruangan yang tidak nyaman akan sangat menghambat kita bekerja. Tanpa mereka, apa jadinya kita?

Sejak Awal Kita Memang Berbeda

Kepada kamu. Bila nanti kita bertemu dan hidup di atap yang sama, jangan pernah menyesal telah memilih aku. Sebab, nanti, di atap yang sama, kamu akan benar-benar tahu siapa aku. Sudah siapkah kamu?

Semoga kita selalu mengingat tentang ini. Kita adalah dua orang yang berbeda. Aku perempuan dan kamu laki-laki. Allah yang telah memberikan takdir itu. Kita berasal dari orang tua dan keluarga yang berbeda. Kita tumbuh dan mendewasa pada lingkungan yang berbeda. Kita memang hidup pada kebiasaan yang berbeda. Kita adalah dua manusia yang memiliki karakter yang berbeda. Lantas, bila nanti kita menemukan banyak hal berbeda ketika tinggal bersama, haruskah kita menyesal, berputus asa, dan kemudian memilih menyerah? Semoga hal-hal itu tak pernah muncul di dalam benak kita.

Tahukah kamu? Sungguh, yang kita butuhkan bukanlah menjadi sama, melainkan kemampuan untuk saling memaafkan dan menerima.

Sedari awal, memiliki kemampuan menerima keadaan orang lain memang bukan hal mudah. Aku yakin kita sudah terbiasa menemukan hal yang benar-benar beda. Contohnya saja tentang aku dan adik perempuanku. Usia kami terpaut empat tahun. Saat kecil, masalah kami hanya seputar memperebutkan mainan atau rasa cemburu karena merasa ayah dan mama lebih sayang kepada salah satu kami. Ketika besar, masalah datang dari berbedanya karakter kami.

Aku yang terlalu perhatian selalu merasa terganggu dengan sifat adikku yang super cuek. Adikku yang super cuek selalu merasa terganggu dengan aku yang cerewet karena selalu mengingatkan dirinya. Aku yang tak senang diburu waktu saat mengerjakan tugas selalu terganggu dengan adikku yang senang mengerjakan apapun pada detik-detik terakhir. Pada awalnya semua perbedaan ini tidak menjadi masalah ketika kami berjalan pada jalan masing-masing. Namun ternyata, semua perbedaan menjadi masalah besar ketika kami harus bekerja sama.

Ketika ego memimpin segalanya, tentu saja kami kesulitan mendapatkan kesepakatan. Aku hanya melihat kesalahan-kesalahan yang adikku perbuat. Begitu juga dengan adikku. Kami hanya ingin dimengerti dan dipahami, tanpa introspeksi diri. Kami lupa tentang kesalahan diri sendiri. Pokoknya, kamu yang salah. Aku yang paling benar. Begitu, pikiran kami berkata.

Ketika ego mengendalikan keadaan, saling bungkam dalam waktu panjang bukan sebuah persoalan. Ketika ego menjadi acuan, saling menuntut tanpa mencari penyelesaian selalu menjadi pilihan. Benarkah keadaan seperti ini yang benar-benar kita mimpikan?

Lalu, bagaimana aku dan adikku akhirnya menemukan kesepakatan? Kami membutuhkan waktu untuk saling merenungkan. Merenungkan tentang kesalahan diri yang telah dilakukan. Merenungkan perkataan dan perbuatan diri yang menyakitkan. Setelah perenungan panjang, maka akan timbul kesadaran. Bahwa perbedaan hadir bukan untuk dipersoalkan. Melainkan untuk dipelajari bersama dan dicari jalan terbaik untuk keduanya. Jalan yang membuat kami merasa nyaman tanpa ada yang dikorbankan. Bukankah hal seperti ini yang disebut indahnya kebersamaan?

Aku dan adikku yang telah hidup kurang-lebih 20 tahun bersama terkadang masih sulit saling menerima, lalu, apa kabar dengan kita yang baru saja memulai hidup di atap yang sama? Aku tahu, hubungan adik-kakak dengan hubungan kita adalah dua hal berbeda. Namun, tentang perbedaan karakter dan kebiasaan di antara dua manusia bukankah tetap sama?

Kelak, mungkin aku akan banyak membuatmu bingung. Mungkin, aku akan banyak membuatmu lelah. Mungkin, aku akan banyak membuatmu kecewa. Jika kamu benar-benar tahu siapa aku, sangat mungkin aku akan menorehkan luka.

Namun aku meminta, bagaimana pun keadaanku nanti, jangan pernah berputus asa dan menyerah terhadapku. Sebab, tak ada Surga untukku tanpa ridhomu. Sebab ridho Allah, tergantung pada ridhomu. Maukah kamu memberi hati yang seluas langit untuk memaafkan segala khilafku? Maukah kamu memberi hati yang lapang untuk menerima aku dengan segala kurangku?

‘Terpapar’ dengan Perbuatan Baik

Saya ini selalu kagum dengan orang-orang yang konsisten melakukan perbuatan baik. Saya kagum dengan Ira dan Kak Dhika.

Ira

Pertama kali saya mengagumi perbuatan baik seseorang adalah saat masih kuliah dulu. Saya kagum pada sahabat saya. Namanya Ira. Rumah Ira di Tangerang Selatan (Tangsel). Jarak Depok-Tangsel sebenarnya bisa ditempuh menggunakan motor. Namun, karena perkuliahan dilakukan setiap hari, Ira tidak mungkin setiap hari pulang ke rumah. Kalau dipaksakan, taruhannya adalah kesehatan Ira. Akhirnya, Ira pun ngekos.

Selama kuliah, saya sering main di kosan Ira. Sekadar numpang tidur siang sambil nunggu kelas kuliah selanjutnya atau nugas bareng. Saking seringnya di kosan Ira, saya pun terbiasa dengan kebiasaan Ira. Ira ini anaknya rajin. Rajin datang tepat waktu, rajin merapikan kamar, dan rajin mandi. Karena sering ‘terpapar’ dengan rajinnya Ira, tanpa sadar, saya pun mengikuti kebiasaannya.

Selain rajin, Ira juga dermawan dan perhatian. Ira suka sekali memberi. Saya ingat betul dulu saat sering main ke kosan Ira, ketika saya sedang malas-malasan di kasurnya, Ira sibuk di dapur menyiapkan makanan untuk saya. Tanpa pertanyaan apapun, tiba-tiba Ira datang membawa semangkuk mie rebus, sepiring nasi, dan sepiring naget ayam. Rezeki anak kuliahan, bahagia betul dapat makanan gratisan :’)

Ada cerita lain tentang sikap perhatian Ira ini. Rumah saya dekat dengan kampus. Saya membutuhkan waktu sepuluh menit saja untuk sampai di rumah. Karena begitu dekat, Ira pun sering main ke rumah. Ira tahu kalau saya memiliki adik-adik kecil. Maka, tiap kali ke rumah, Ira selalu membawa dua kotak yakult. Katanya,”Ini untuk adik-adikmu!” Hati mana yang tidak tersentuh jika selalu ‘terpapar’ perbuatan-perbuatan baikmu, Ra? :’)

Berteman dengan Ira, membuat saya memahami alasan mengapa kita perlu dekat-dekat dengan orang dan lingkungan yang baik. Ternyata, dekat-dekat dengan hal baik akan membuat kita ‘tertular’ dengan banyak kebaikan.

Kali pertama melihat kebaikan Ira, memang tidak secara langsung membuat saya berubah saat itu juga. Kali pertama merasakan kebaikan Ira, juga tidak secara langsung membuat saya ingin melakukan hal itu juga. Yang saya pahami saat itu, saya sadar Ira adalah teman yang baik. Dan saya senang diperlakukan seperti itu. Sesederhana itu pikiran saya.

Kamu tahu? Ternyata ‘terpapar’ dengan kebaikan akan membuat alam bawah sadar kita ‘merekam’ semua itu dalam pikiran. Akhirnya, secara perlahan kita pun akan melakukan hal yang sama dalam keseharian. Mungkin, pada awalnya semua dilakukan untuk membalas kebaikan teman. Tak tahunya lama-lama menjadi kebiasaan.

Kak Dhika

Kali ini, saya kagum pada Kak Dhika. Kak Dhika adalah rekan kerja saya. Kali pertama berjumpa, si kakak langsung memberikan hadiah kepada saya. Saat itu, Poli Rehabilitasi Medik (Rehab Medik) akan membuat seragam baru. Maka, kami pun membeli jilbab baru. Jilbab yang harus dibeli ada tiga buah. Kebetulan yang bertugas mengumpulkan uang adalah Kak Dhika. Ketika ingin membayar, Kak Dhika bilang seperti ini,“Kamu bayar dua jilbab aja. Satu jilbab hadiah dari saya untuk kamu.” Mendengar perkataan Kak Dhika tentu saja saya bingung. Orang yang baru dikenal belum genap dua bulan, langsung memberikan hadiah sebagai tanpa pertemanan. Hati siapa yang tidak terharu bila diperlakukan baik seperti itu. Siapapun kurasa hatinya akan ‘meleleh‘.

Masih tentang Kak Dhika. Sore itu ada seorang perempuan datang ke Poli Rehab Medik membawa sekotak brownis. Langsung saja saya tanyakan Kak Dhika tentang brownis itu,“Kak, itu siapa? Kok tiba-tiba bawa brownis?”, Kak Dhika menjawab,“Dia bagian pendaftaran pasien BPJS. Kemarin, aku minta tolong sama dia cariin berkas berobat bapakku. Karena dia udah baik banget mau bantu, aku kasih aja sekotak yakult. Eh barusan dia malah bawain aku brownis. Kan yang minta tolong aku, kenapa dia bawain brownis ckck.” Kebaikan memang menular, ya. Dan saling menebar kebaikan itu indah.

Ada lagi cerita lain. Aku dan Kak Dhika sedang membahas tentang arisan. Ternyata, Kak Dhika memiliki kebiasaan unik. Ia selalu memberikan buah tangan kepada si pemegang uang arisan tiap kali mendapat arisan. Kata Kak Dhika, si pemegang arisan itu harus kita hargai kebaikannya. Ia sudah berbaik hati menjaga uang arisan dan mengurus urusan arisan. Tanpa dia, mungkin arisan ini tidak akan berjalan dengan baik. Mendengar pandangan Kak Dhika, menambah pandangan baru untuk saya. Kebiasaan unik Kak Dhika sangat bagus dicontoh. Jujur saja, ini adalah kali pertama saya mendengar pandangan seperti itu. Kak Dhika memang baik hati :’)

***

Ira dan Kak Dhika menunjukkan bahwa kebaikan hati bisa dirasakan dari hangatnya seseorang memperlakukan orang lain.

Ira dan Kak Dhika senang memerhatikan orang lain. Sehingga mereka tahu apa yang orang lain butuhkan.

Ira tahu bagaimana memperlakukan teman dengan baik di kosannya, maka ia menjamu saya dengan baik. Ira juga tahu bagaimana cara menyenangkan hati anak kecil, maka ia memberikan yakult untuk adik-adik saya.

Kak Dhika tahu bagaimana membuat nyaman anggota baru, maka ia memberikan hadiah saat saya menjadi pegawai baru.

Kak Dhika juga tahu bagaimana menghargai kebaikan orang lain, maka ia memberikan sekotak yakult kepada mbak pendaftaran BPJS sebagai tanda terima kasih.

Hingga kini saya masih kagum dengan mereka. Semoga rasa kagum ini juga diiringi dengan usaha-usaha melakukan kebaikan yang sama. Terima kasih, Ira dan Kak Dhika. Terima kasih telah menunjukkan banyak kebaikan secara nyata. Semoga Allah senantiasa melimpahkan banyak kebaikan kepada kalian dan keluarga. Aamiin 🙂

Kebaikan di Pagi Hari

Pagiku menyebalkan. Aku terlambat bangun dan sudah bisa dipastikan aku pun akan terlambat sampai di tempat kerja. Hujan sedari malam tak juga reda. Meskipun masih mendung, waktu menunjukan bahwa hari sudah semakin siang. Maka, tak ada pilihan lain. Aku harus tetap berangkat menerjang hujan. Baju ganti tetap harus kukenakan. Sebab, jas hujan milikku tidak sepenuhnya menahan air hujan.

Di perjalanan, aku teringat, rupanya kemarin siang aku tak sempat memenuhkan tangki bensin motor. Kulirik cepat pada spidometer, di sana terlihat panah penanda sudah menunjuk ke tanda merah. Yang artinya, motor akan mogok bila tangki tidak segera diisi bensin. Menyadari betapa kurang persiapan dan tidak disiplinnya diriku, aku menyesal. Namun hanya bisa menghembuskan napas saja. Kuurungkan niat untuk mengeluh. Pagi tadi, tak ada pilihan lain. Aku harus bertanggung jawab dengan cara menjalaninya dengan ikhlas.

Tikungan di jalan Perumahan Korps Brimob memang pusat kemacetan. Jalan yang memiliki lebar tak lebih dari empat meter itu selalu dipenuhi kendaraan. Apalagi bila ada perbaikan jalan atau kejadian tidak terduga. Seperti pagi ini. Keinginanku untuk mengebut hanya mimpi belaka. Motorku tidak dapat bergerak maju. Seluruh pengendara saling melempar tatapan kebingungan. Rintik hujan semakin membasahi jas hujanku, tetapi sedikit pun roda motorku tidak bergerak maju. Jam tanganku sudah menunjukkan pukul tujuh kurang sepuluh menit. Aku masuk kerja pukul tujuh. Sepuluh menit tak akan cukup untuk sampai di tempat kerja. Aku segera sadar, terlambat sampai tempat kerja adalah sebuah kepastian :’)

Antrean kendaraan perlahan bergerak. Motorku bergerak maju. Akhirnya, aku dapat melihat si penyebab kemacetan pagi ini. Di sisi kanan terlihat sebuah mobil terjebak dan tak bisa bergerak. Bannya terperosok ke dalam tanah yang posisinya lebih rendah dari jalan beraspal. Mobil akhirnya tak bisa maju ataupun mundur. Aku tidak tahu sejak kapan mobil itu terjebak. Aku juga tidak tahu sejak kapan kemacetan ini terjadi. Yang aku tahu, motorku tidak bergerak selama 10 menit. Aku mengatakan dalam hati,“Lengkap sudah. Pagiku semakin menyebalkan saja heu.”

Di dalam mobil yang terjebak, pengemudi sendirian. Tak ada kawan yang bisa membantu mendorong mobil. Pengendara lain juga tak ada yang membantu. Bahkan beberapa saling menekan tombol klakson sebagai tanda mereka tak sabar menunggu. Aku menduga, alasan mengapa orang-orang tidak langsung membantu mungkin karena kondisi saat itu sedang turun hujan. Hujan membuat semua orang sibuk dengan urusannya. Aku pun sama seperti mereka, sedang sibuk dengan pikiranku sendiri. Aku sedang mengkhawatirkan nasibku yang tak akan mampu sampai tempat kerja tepat waktu. Namun yang membuat berbeda, aku masih bisa menahan diri untuk tidak menekan tombol klakson.

Beberapa menit kemudian, seorang laki-laki menghentikan motornya tepat di depan mobil yang terjebak. Meskipun hanya seorang diri, ia tak ragu. Ia segera memberi aba-aba kepada pemilik mobil dan mendorong sekuat tenaga mobil tersebut ke arah belakang. Tak berselang lama, satu orang laki-laki kembali menghentikan motornya. Kali ini, ia bertugas memberi aba-aba dari arah belakang mobil untuk memberi tahu kondisi tanah dan jalan beraspal.

Pemandangan itu membuat rasa cemasku berubah seketika. Aku tak lagi sibuk dengan diriku sendiri. Aku tak lagi memikirkan bagaimana cara cepat tiba di tempat kerja. Aku memandang mereka cukup lama. Aku seakan tersihir dengan mereka yang saling membantu. Siapa pun yang melihat, pasti tahu pekerjaan mereka bukan hal yang mudah. Namun, hal itu tidak mengurungkan niat mereka untuk membantu. Dua orang laki-laki itu tentu saja memiliki kegiatan yang harus dikerjakan atau tempat yang harus didatangi. Sama seperti aku dan pengendara lainnya. Tetapi, sikap tolong menolong yang ada di diri mereka lebih tinggi dibanding urusan duniawi. Luar biasa, ya.

Iya, memang benar pagiku menyebalkan. Aku yang tidak disiplin membuat awal hariku menjadi tidak menyenangkan. Terlambat bangun pagi, perjalanan menerjang hujan, dan mengalami kemacetan cukup membuatku kelelahan. Namun, benar adanya bahwa kebaikan itu menular. Suasana hatiku yang tidak baik, berubah menjadi lebih baik karena mengamati kebaikan dua laki-laki itu. Betapa mulia hati mereka. Keadaan sulit tidak membuat hati mereka sempit. Mereka memahami betul bahwa keegoisan adalah tak ada guna. Sebab, tak ada yang lebih penting dibanding menjadi bermanfaat untuk sesama.