[Day 25] Rumah

Rumahmu pasti memiliki “nilai” tersendiri dalam hatimu. Setiap rumah selalu memiliki cerita. Setiap orang yang hadir selalu memiliki kisah. Dan setiap suara yang kamu dengar dalam rumahmu selalu memiliki kenangan.

Bila rumahmu belum memiliki “nilai” dalam hatimu. Atau rumahmu belum memiliki makna apa-apa untukmu, mungkin sesekali kamu perlu melangkah lebih jauh. Bepergian selama beberapa hari, misalnya. Agar apa-apa yang lupa diamati dapat kamu ingat lagi. Agar semua hal yang terlewatkan dapat kamu renungkan kembali.

Aku menyukai rumah. Dan aku selalu betah berlama-lama di dalam rumah. Menurutku, rumah tidak hanya memiliki arti sebagai tempat tinggal saja. Rumah berisi lengkap dengan banyak hal. Orang-orang, cerita, kisah, aktivitas, serta ruangan-ruangan di dalamnya.

Rumah juga mengerti kebutuhanku. Aku dibersamai oleh keluargaku, aku mendapatkan banyak fasilitas dengan “cuma-cuma”, aku mendapatkan teman bercerita “tanpa batas waktu”, dan aku mendapatkan ruang belajar yang selalu “membantu dan memotivasiku agar tetap maju”.

Kalimat sepanjang apapun kurasa tak akan mampu menggambarkan bagaimana bahagianya aku memiliki rumah. Rumah adalah salah satu dari banyaknya nikmat Allah yang sering kali luput dari perhatianku. Karena selalu ada di depan mata, aku pun lupa bahwa ia istimewa.

Bagaimana pun nyamannya rumah untukku, semoga tidak menjauhkanku pada-Mu. Sebab kutahu, semua tentang rumah yang aku sukai itu, datangnya hanya dari-Mu 😊

Jangan Terburu-buru Memberikan Solusi

Apa yang kamu pikirkan?

Bagaimana keadaanmu saat ini?

Apa yang kamu minati?

Apakah kamu ingin berbagi?

Daripada mendengar suatu kesimpulanmu tentangku sejak awal bertemu, aku lebih senang mendengar pertanyaan seperti itu lebih dulu.

Kalau ada pernyataan perempuan lebih senang didengarkan dibandingkan solusi, mungkin itu benar. Bukan berarti perempuan tidak membutuhkan solusi. Hanya saja kami memandang, dalam menjalani hidup, sebelum membantu penting sekali kita berempati dan bersimpati. Sebelum membantu, penting sekali kamu bertanya dan mendengarkan lebih dulu.

Bagi laki-laki, mungkin otak lebih mudah berfungsi untuk memberikan solusi. Aku juga tahu bahwa laki-laki dan perempuan memandang segala sesuatu dengan cara yang berbeda. Meskipun begitu, mungkin otak perlu dibiasakan dan belajar lagi untuk memproses kemampuan empati dan simpati. Supaya bisa mendengarkan dengan baik.

Betapa pun kamu pandai memahami situasi. Betapa pun kamu pandai memahami kondisi orang lain. Bahkan, betapa pun kamu pandai dalam koginisi, percayalah, kamu tidak pernah tahu keadaan orang lain yang sebenarnya jika tidak bertanya. Oleh karena itu, sebaiknya berhati-hati dengan sebuah penilaian sebelum tahapan memahami orang lain dilakukan.

Mungkin kamu ingin menanggapi seperti ini, bukankah orang lain juga bisa tahu dengan jelas duduk perkara hanya dengan mengamati saja? Bukankah semua itu mudah disimpulkan hanya melihat dari pola perilakumu saja? Bukankah masalah juga bisa terlihat hanya dari pola pengambilan keputusanmu saja?

Tentang hidup orang lain, kita tak boleh mengandalkan kemampuan kognisi seperti pengamatan, identifikasi, analisa, hipotesa, dan kesimpulan saja. Ada hal lain yang perlu menjadi pertimbangan. Manusia hidup kompleks dengan hati dan pikirannya. Manusia hidup kompleks dengan masalah diri dan masalah orang-orang di dekatnya. Jika kamu menilai sesuatu berdasarkan pemikiran saja dan mengabaikan perasaan orang lain, hal tersebut sungguh tidak menyenangkan hati.

Mungkin, kita dua orang manusia yang berbeda. Kita juga seringkali berjalan ke arah yang berlainan. Namun, semoga keinginan untuk membantu orang lain tetap sama. Semoga keinginan untuk memudahkan urusan orang lain tetap sama. Semoga keinginan untuk menjaga perasaan orang lain tetap sama.