Sepenggal Kisah Masa Kecilku

Rumahku bukan di perumahan. Jadi, sulit sekali menemukan lapangan kosong untuk anak-anak bermain. Beberapa tahun lalu, masih ada satu lapangan sepak bola di dekat rumahku. Namun, kini sudah tak ada lagi. Di sana sudah dibangun rumah-rumah penduduk.

Karena sulit mencari lapangan, anak-anak kecil senang bermain di halaman rumahku. Halaman rumahku sebenarnya tidak terlalu besar. Kurang lebih hanya sekitar 6×7 meter saja. Meskipun begitu, anak-anak senang bermain di sini. Halaman ini sangat cukup untuk bermain hujan-hujanan, vespa-vespaan, petak jongkok, dan main tanah.

Melihat fenomena ini aku sangat prihatin. Ada apa dengan zaman ini. Lapangan bola pun menjadi tempat yang mahal dan sulit sekali ditemui.

Anak-anak zaman sekarang terlalu asyik dengan permainan yang ada digawai mereka. Main bersama-sama kawan pun tak ada guna. Mereka hanya sibuk menatap layar gawainya. Tanpa ada interaksi apapun.

Dan semakin berbahaya bila orang tua belum paham bahayanya gawai yang ada di tangan anak mereka. Apalagi jika orang tua tak paham pentingnya permainan outdoor yang saat ini menjadi aktivitas langka.

Sepenggal Kisah Masa Kecilku

Mengamati kisah anak kecil zaman sekarang seperti ini, aku tergerak untuk berbagi kisahku sendiri.

Ingatanku tentang masa kecil tidak begitu baik. Maka, jangan kamu tanyakan bagaimana kisah saat taman kanak-kanak dulu. Aku tidak akan ingat.

Kenangan masa kecil di sekolah yang kuingat hanya saat aku kelas 5 dan 6 sekolah dasar. Kala itu tahun 2004-2005.

Jarak sekolah dan rumahku hanya 1,3 km. Pada masa itu belum ada angkot. Aku dan teman-teman biasa diantar orang tua. Tetapi tidak berlaku untukku. Aku biasa berjalan kaki atau naik sepeda saat sekolah.

Entah jumlah kejahatan yang tidak tinggi atau memang jarak rumah yang sangat dekat. Seingatku, kebanyakan teman-teman juga berjalan kaki. Kami tidak pernah diantar. Biasanya, selepas pulang sekolah kami akan pulang bersama-sama.

Bermain Biji Pohon Karet

Saat perjalanan pulang, kami selalu berhenti sebentar di kebun karet. Kami saling berlomba-lomba mencari biji karet yang sudah jatuh dari pohonnya. Kalau beruntung, bijinya masih bulat sempurna tanpa ada retakan. Kalau biji karet sudah terkumpul semua, biasanya kami langsung melakukan adu biji karet!

Aku tidak tahu permainan ini ada atau tidak di tempat tinggalmu. Tetapi setahuku, meskipun cara bermainnya sama, bisa jadi pemberian namanya berbeda. Bagaimana kalau kuceritakan sedikit tentang permainan biji karet ini? Permainan biji karet dimulai dengan menumpuk kedua biji dalam posisi atas dan bawah. Secara bergantian, kami akan memukul biji karet kawan dengan milik biji karet sendiri menggunakan punggung tangan.

Inti permainannya, kita harus berhasil memecahkan biji karet lawan. Kalau tidak berhasil, berarti saatnya bergantian. Kini giliran kawan yang memukul biji karet kita.

Hasil kemenangan dan kekalahan akan dibuatkan skor. Pemenangnya akan mendapat hadiah sesuai kesepakatan. Kalau aku dan teman-teman, biasanya akan merelakan ‘biji karet jagoan’ untuk diberikan kepada kawan yang menang wkwk anak-anak memang sekreatif itu ya. Biji yang berkali-kali berhasil memecahkan biji lawan saja diberi nama ‘biji karet jagoan’ πŸ˜‚.

Bermain Getah Pohon Karet

Selain biji karet yang bisa dijadikan permainan, getah karet juga bisa kami gunakan. Kami hanya perlu membelah sedikit batang karet menggunakan pisau. Nanti, getah karet akan keluar perlahan dari celah batang yang sudah kami belah.

Getah karet pun menetes dengan pelan-pelan. Anak-anak yang tak sabaran tak akan mau menunggu getah karet tersebut menetes sampai penuh.

Bagaimana cara memainkan getah karet ini? Sebenarnya tidak jelas akan digunakan untuk apa si getah ini hahaha kami hanya merasa senang saja melihat perubahan getah karet yang awalnya cair menjadi mengeras. Kami juga merasa senang karena berhasil membuktikan bahwa benar adanya karet gelang yang digunakan untuk bermain lompat tali berasal dari getah karet yang kami kumpulkan 😁

Bermain Sepeda

Selepas sekolah kami segera pulang ke rumah. Berganti baju sebentar, kemudian berangkat lagi untuk bermain sepeda. Kami pantang mundur meski panas matahari membakar wajah. Dulu, kami tak mengenal sunblock. Orang tua juga tidak menganjurkan πŸ˜… Akhirnya, wajah dan badan kami hitam gosong tiap kali selesai bermain sepeda. Meskipun begitu, kami tetap senang.

Oh iya, pada zaman itu, aku dan teman-teman sudah mengenal tustel. Kamera tersebut milik Ayu, sahabatku. Ayu adalah anak tentara. Ia murid pindahan dari Maroko. Ayu orang Indonesia, tetapi ayahnya sempat bertugas di sana beberapa tahun. Mungkin karena pernah tinggal di luar negeri, pengetahuan Ayu tentang teknologi lebih baik dibanding kami. Oleh karena itu, tiap kali bermain sepeda ia selalu membawa kamera. Jadilah kami sering berpose di manapun berada. Dulu, kami paling senang menumpang foto di rumah-rumah bagus di dekat sekolah. Entahlah untuk apa hahaha mungkin pengaruh sinetron membuat kami tergila-gila dengan rumah-rumah orang kaya. Ada-ada saja ya πŸ˜‚

Foto-foto pada zaman itu pun masih kusimpan sampai sekarang. Dan selalu memicu gelak tawa bagi siapapun yang melihatnya wkwk

Aku adalah orang yang beruntung karena memiliki kisah seperti di atas. Kisah yang mampu menguatkan diri dan bisa dibagi kepada anak-anak supaya mencintai budaya bermain bangsanya.

Entah kisah apa yang tersimpan dalam otak anak-anak zaman sekarang. Semoga anak-anak kita tidak dikendalikan teknologi. Teknologi ada bukan untuk menggerus kisah-kisah manis yang seharusnya terekam masa. Semoga kita bisa mengendalikannya.

Meski lapangan luas sudah jarang bahkan tak ada, kita bisa mengajak anak-anak bermain di alam terbuka, kok. Bermain di taman dan kebun, misalnya.

Meski di sekitar sudah jarang anak-anak memainkan permainan tradisional, kita bisa mengajari mereka. Bermain congklak, bola bekel, atau lompat tali, misalnya.

Meski di sekitar sudah jarang hal-hal tentang budaya bangsa, kita bisa mengenalkan semua itu kepada mereka. Mengunjugi museum-museum, misalnya.

Teknologi akan semakin pesat saja. Sikap konsumtif semakin meraja lela. Kebiasaan sedentari dianggap hal biasa. Hidup individual juga dianggap perihal yang menenangkan jiwa. Bagaimana nasip anak cucu kita? Ingin sampai kapan menutup kata?

Aku cukupkan tulisan tentang kecemasan dan kisahku ini. Bagi kamu yang juga memiliki kecemasan yang sama, kutunggu secuplik kisahmu juga. Akan senang sekali membaca kisah beragam dengan harapan yang sama πŸ™‚

Advertisements

Bila Cleaning Service Tak Ada, Kita Bisa Apa?

Pagiku di tempat kerja selalu menyenangkan. Salah satu alasannya adalah karena Bu RiRi. Berkat ibu, ruanganku harum sekali. Toiletnya tidak bau lagi. Lantainya bersih. Plastik tong sampah selalu rutin diganti. Wastafel bersih. Tissue dan hand soap selalu terisi. Kaca ruangan gymnasium juga selalu berkilau. Pokoknya semua bersih! Aku berterima kasih sekali pada Bu Riri.

Bu Riri adalah cleaning service (CS) baru di ruanganku. Sebenarnya Bu Riri bukan karyawan baru. Bu Riri adalah penanggung jawab CS di RS tempatku bekerja. Namun, karena ada banyak keluhan tentang ruanganku yang ‘katanya’ sulit sekali dibersihkan, Bu Riri pun memutuskan untuk turun langsung ke lapangan untuk mencoba. Hebat ya!

“Assalammu’alaikum, Bu Riri. Selamat pagi ibuuuuuuuu.” aku menyapa ibu dengan senyum ceria. Mungkin dalam hati, Bu Riri bingung, ada apa denganku. Mengapa senyumku selebar dan suaraku sebahagia ini. Mengapa aku menatapnya begitu penuh cinta hahaha

Pada hari yang lain.

“Mbak, Bu Riri mana?” tanyaku pada petugas kebersihan yang sedang menyapu di depanku.

“Ada mbak, di dekat toilet tuh.” jawab si mbak singkat.

“Buuuuuuu, Shinta kangen nih bu. Nyariin Bu Riri melulu.” ledek Pak Sanusi si kepala ruanganku.

“Eh iya kenapa Mbak Shinta?” jawab Bu Riri dengan wajah bingung.

“Hahahaha nggak apa-apa bu. Mau liat ibu aja. Kan kangen. Aku mah nggak bisa jauh dari Bu Riri pokoknya.” candaku.

“Hahaha Mbak Shinta mah.” ibu tertawa malu sambil perlahan pergi melanjutkan pekerjaannya.

Mungkin orang lain akan bingung mengapa aku begitu senang terhadap Bu Riri ini. Tetapi, aku benar-benar bersyukur Bu Riri bekerja di tempatku.

Mengamati cara Bu Riri bekerja aku semakin yakin perkataan dosen saat di kampus dulu. Katanya, kemudahan kita bekerja sehari-hari adalah hasil dari bantuan orang-orang di sekeliling kita. Tanpa mereka kita bukan apa-apa.

Aku merasakan sendiri kebenaran perkataaan beliau. Berkat kerajinan Bu Riri, ruanganku bersih dan wangi sekali. Karena Bu Riri pekerjaanku pun berjalan lancar.

Hampir satu tahun bekerja di rumah sakit ini, ada beberapa hal yang mengganjal di hati. Tentang kebersihan poli tempatku bekerja. Banyak orang mengeluh tentang ruanganku. Bau toilet menguap hingga ke ruangan tenpat pasien menunggu. Banyak dugaan muncul. Apakah ada masalah pada toilet. Atau ada masalah pada wastafel. Sampai-sampai petugas teknisi mengecek semua itu. Hasilnya, semua dalam keadaan normal. Masalah bau pun tak kunjung ditemukan.

Kosong atau tidak plastik tong sampah sangat berpengaruh pada pekerjaanku. Salah satu tindakan yang aku kerjakan adalah menggunakan gel seperti saat USG kehamilan. Setelah tindakan, gel harus dibersihkan menggunakan tissue. Tissue pun kami buang ke tong sampah.

Sebelum Bu Riri datang, seringkali kami bingung saat ingin membuang tissue karena plastik tong sampah penuh. Akhirnya, kami pun harus mencari-cari CS atau menelepon penanggung jawab CS bila petugas CS ruanganku tak ada. Mencari CS saat pelayanan ternyata lumayan menyulitkan.

Ketika ada pasien anak muntah saat latihan dan CS tidak standby di ruangan juga cukup menyulitkan kami. Waktu yang seharusnya kami gunakan untuk melatih pasien akan sedikit tersita untuk mencari-cari CS.

Yang sangat berbahaya adalah saat ada pasien yang menumpahkan air di ruang tunggu. Bila CS sulit dicari, meskipun sudah memasang penanda ‘wet floor’, kami harus tetap mengingatkan pasien untuk berhati-hati. Kegiatan seperti itu juga cukup menyita waktu kami yang seharusnya bisa digunakan untuk memerhatikan pasien yang sedang diterapi. Peran CS benar-benar besar di poliku.

Di rumah sakit (RS) tempatku bekerja sebelumnya, RS bekerja sama dengan perusahaan kebersihan. Pemiliknya adalah orang luar negeri. Aku lupa asalnya dari mana. Motto perusahaan itu adalah tidak boleh ada kotoran sedikit pun yang terlihat oleh mata.

Aku tahu hal ini karena pernah mengobrol dengan Agus salah satu CS yang bekerja di perusahaan itu. Kebetulan, saat itu Agus bertugas di ruanganku. Agar kebersihan selalu terjaga, bahkan si Agus ini tidak boleh duduk selama jam kerja. Bila ketahuan duduk, ia akan mendapat hukuman yang cukup berat dari perusahaan. Mendapat surat peringatan atau pemotongan gaji, misalnya.

Aku ingat betul saat Agus kutawarkan sepotong kue. Ia harus bersembunyi di area tanpa CCTV supaya tidak ketahuan. Ketat betul aturan perusahaan itu. Oleh karena itu, Agus selalu tampak di sekitarku. Entah ia sedang menyapu, mengepel, atau mengelap debu.

Melihat Agus bekerja sekeras itu aku merasa kasihan. Aku bisa duduk kapan saja bila lelah, tetapi Agus tidak bisa. Aku bisa memakan camilan bila lapar, tetapi Agus tidak boleh. Tetapi, aku senang dan bersyukur merasakan hasil pekerjaan Agus. Berkatnya, aku nyaman sekali selama bekerja. Kebersihan ruangan benar-benar membantuku bekerja. Pelayanan tidak pernah terganggu.

Berbeda dengan RSku dulu, RSku saat ini tidak bekerja sama dengan perusahaan luar negeri untuk tenaga CS. RS merekrut sendiri SDM untuk CS. Aku tidak mengerti mengapa perbedaannya benar-benar terasa. Apakah sistemnya berbeda, atau memang individunya saja yang tidak menjalankan pekerjaan sesuai prosedur. Sehingga tidak bisa menjaga ruangan kebersihan dengan baik. Fakta lapangan yang aku tahu, Bu Riri dan petugas CS sebelumnya adalah sama-sama karyawan RS. Namun, cara kerjanya benar-benar berbeda.

Aku mungkin adalah satu dari banyaknya orang yang merasakan dan menyadari betul manfaat tentang kebersihan ruangan. Maka, kehadiran Bu Riri yang begitu rajin sangat membuat hatiku senang. Apalagi masalah kebersihan ini benar-benar mengganggu sejak lama. Kehadiran Bu Riri benar-benar kunanti hehehe

Karena terlalu ‘ngefans’ dengan cara kerja Bu Riri aku pernah bertanya ke ibu,”Bu, ini toiletnya ibu bersihin pake apa? Kok wangi banget bu? Ini kali pertama toiletnya sewangi ini lho bu.

“Itu pake pengharum toilet yang digantung di dinding aja, Mbak Shinta.” jawab Bu Riri.

“Masa sih bu? Dari dulu juga pake kamper kaya gitu kayaknya bu. Tapi nggak pernah wangi kayak gini.”

“Aku gosokin semua area mbak. Semua celah deh pokoknya. Kotor itu emang bikin bau mbak.” jawab ibu.

“Oh gitu, keren ibu. Makasih ya, Bu Riri. Yaudah, aku ke dalam ya bu. Mari buuu.” aku berterima kasih sambil tersenyum dan melanjutkan pekerjaanku.

***

Sesekali, coba amati CS di kantormu. Kalau bertemu CS yang rajin sebaiknya ucapkan terima kasih. Jangan lupa juga beri sapa dan seyum tiap kali bertemu. Kantor yang kotor dan bau akan mengganggu kita bekerja, sungguh.

Percaya, sehebat apapun kita bekerja, tanpa hadirnya CS yang membantu, akan menyulitkan urusan kita. Mungkin pekerjaan akan tetap selesai juga. Tetapi, ruangan yang tidak nyaman akan sangat menghambat kita bekerja. Tanpa mereka, apa jadinya kita?

Pesta Demokrasi

Dua hari beristirahat di rumah Alhamdulillah cukup mengembalikan energiku. Dua hari lalu berada di keramaian cukup membuat aku kelelahan. Sebenarnya bukan lelah fisik karena tugas yang banyak. Melainkan lelah karena terlalu lama berada pada lingkungan yang bising.

Ketua KPPS menginstruksikan agar kami berkumpul pukul enam pagi. Pada kenyataannya, aku terlambat sepuluh menit. Aku terlalu ngantuk untuk bangun pagi karena malam harinya petugas KPPS harus menyiapkan lokasi tempat pemilihan umum. Kami selesai menyiapkan semuanya pukul sebelas malam. Kalau kamu bertanya apakah aku lelah atau tidak tentu saja jawabannya iya. Apalagi aku tidak terbiasa tidur larut malam. Pukul sepuluh malam lewat masih di luar rumah mengerjakan tugas adalah kegiatan yang menyulitkan untukku. Mata benar-benar tidak kuat untuk tetap terjaga.

Tanggal 17 April 2019, tepat pukul tujuh pagi warga sudah berkumpul di TPS 41. Mereka antusias sekali. Tetapi kasihan, mereka harus menunggu lama di luar TPS. Tak ada bangku pula. Aku baru tahu ternyata sebelum memulai proses pencoblosan, ada proses panjang yang harus dilakukan. Aku kira petugas KPPS hanya perlu bersumpah saja dan kemudian warga boleh masuk ke dalam. Ternyata masih ada perhitungan kertas suara yang membutuhkan waktu cukup lama. Warga pun tampak mulai gelisah dan lelah menunggu.

Setelah semua kertas suara dihitung oleh panitia, warga segera masuk ke dalam TPS untuk memberikan suaranya. Sekitar 80 % warga RT 03 hadir. Bahkan tetanggaku yang baru saja terserang stroke tetap memberikan suaranya. Padahal berjalan pun ia belum mampu. Beberapa panitia dan saksi pun akhirnya datang ke rumahnya.

Proses pemilihan suara berakhir tepat pukul satu siang. Ada beberapa orang datang pukul satu lewat. Dengan terpaksa dan bersedih kami pun menolaknya.

Proses perhitungan suara berlangsung panjang sekali. Karena pemilihan presiden, DPR, DPD, DPRD kota, dan DPRD Provinsi dilakukan pada satu waktu. Butuh waktu sangat lama untuk menghitung suara yang warga berikan. TPSku saja selesai menghitung suara kurang lebih pukul sembilan malam. Perjuangan tidak selesai sampai di sana. Setelahnya, petugas KPPS harus menulis hasil perhitungan suara pada lembar khusus yang disebut C1. Berita acara juga harus ditulis pada formulir khusus. Semua harus ditulis secara manual dan dibubuhkan tanda tangan panitia dan saksi. Ada beberapa formulir yang harus diisi. Sebenarnya, yang membuat lama bukanlah proses perhitungannya. Melainkan, proses tulis menulis pada banyak formulir dan amplop. Lelahkah? Iya, lelah sekali. Otot-otot tangan dan lengan yang lelah karena dipakai terus menerus sedari pagi.

Bagi aku dan beberapa anggota yang kali pertama bertugas tentu merasa kelelahan. Apalagi tak sempat mandi hingga sore hari. Badan lelah dan tak segar. Urusan administrasi rupanya benar-benar membuat pusing kepala bagi aku yang tidak terbiasa. Tetapi hal itu tidak berlaku bagi Pak Budi dan bapak-bapak lainnya. Mereka tetap semangat dan ceria. Padahal tugas mereka lebih melelahkan dibanding aku. Merentangkan kertas suara seluas koran ke langit-langit sambil berteriak “SAH” adalah kegiatan yang pastinya melelahkan. Meskipun begitu, candaan kerap mereka lakukan untuk membuat suasana menyenangkan dan tidak membosankan.

Ketua KPPS membagi tugas secara rata. Para bapak menghitung suara dan para wanita menuliskan hasil perhitungan suara. Ada yang bertugas mengelompokkan kertas suara yang sah dan tidak ke dalam amplop. Ada yang bertugas menulis pada amplop dan formulir. Lalu, semua petugas bertugas membubuhkan ratusan tanda tangan pada formulir.

Ada beberapa hal yang sulit aku mengerti. Mengapa formulir harus dituliskan secara manual? Satu formulir berisi lebih dari lima lembar. Dan kami harus menyalin formulir itu sebanyak minimal lima buah. Coba kita kalikan saja hasilnya berapa. Ada ratusan kertas yang harus kami isi. Padahal jika saja hasil perhitungan suara kita ketik pada laptop akan jauh lebih efektif. Lalu, diprint saja sesuai kebutuhan. Kalau perihal tanda tangan, jika memang harus, mungkin boleh saja dilakukan secara manual. Namun, aku belum memahami mengapa urusan tulis menulis juga harus dilakukan secara manual.

Secara menyeluruh aku bersyukur bisa terlibat dalam pesta demokrasi tahun ini. Pengetahuanku tentang persiapan pemilu menjadi lebih baik. Bahwa saat kita begitu mudahnya menyoblos pada lembar suara, ada usaha para petugas KPPS di belakangnya. Selain petugas KPPS, ada banyak pihak lain yang membantu sehingga pemilu berjalan lancar, aman, dan damai. Aku juga banyak berdiskusi dengan para ibu dan bapak yang sudah terbiasa terlibat dalam kegiatan seperti ini. Ternyata ada banyak sekali orang berjiwa sosial tinggi di sekitarku. Mereka mengabdi dengan tulus untuk lingkungan dan orang-orang di sekitarnya 😊

Jika ditanya apakah aku bersedia menjadi petugas KPPS lagi, aku belum tahu jawabannya. Sebab, berada dalam keramaian lebih dari 12 jam ternyata hal yang tidak mudah untukku. Aku seperti kehabisan tenaga wkwk Tidak mandi dalam waktu lebih dari 10 jam juga bukan hal yang mudah πŸ˜‚

Sekian ceritaku tentang pengalaman menjadi petugas KPPS. Semoga menambah informasi untuk teman-teman yang membutuhkan, ya. Berlelah-berlelah untuk kepentingan orang banyak Insya Allah berkah 😁

Menyebar Undangan Pemilu

Tepat saat adzan magrib berkumandang, masuk sebuah pesan singkat pada gawaiku. Ternyata pesan tersebut dari Pak Budi. Bapak ini adalah ketua kpps timku, TPS 41. Pak Budi mengajak aku dan anggota lainnya menyebar undangan pemilu ke rumah-rumah warga. Saat membaca pesan singkat, ada rasa malas muncul dalam benakku. Malam itu hujan lumayan deras. Pikirku, akan ribet sekali kalau harus hujan-hujanan dan becek-becekkan. Lagi pula, aku juga lelah karena baru saja pulang bekerja. Inginnya berbaring saja di kasurku.

Dibalik rasa dan pikiranku itu, kata hati menolak. Bagaimana bisa aku berpikiran seperti itu. Sebenarnya aku tak perlu hujan-hujanan, sebab ada payung. Aku juga bisa mencuci kaki bila nanti kakiku penuh dengan tanah basah. Semua petugas kpps kurasa juga lelah. Kami memiliki kesibukan yang berbeda. Enam orang sudah bekerja. Dan tiga orang sedang kuliah di tahun terakhir. Tak ada yang paling lelah diantara orang-orang bekerja. Sebab, rasa lelah ada pada setiap kita yang berusaha.

Aku segera menghubungi Dhea untuk mengajak ia pergi bersama. Ternyata Dhea tidak bisa menemani. Katanya, pintu rumahnya sudah terlanjur terkunci. Begitu pula dengan teman-teman lainnya. Aku sungguh tak tega membiarkan Pak Budi dan Pak Arifin menyebar undangan hanya berdua saja. Para bapak sudah mengurus tenda dan segala keperluan lainnya. Bebal sekali hati bila menyebar undangan pun aku tak mau. Akhirnya, aku memutuskan untuk membantu.

Dari kejauhan tampak dua orang bapak menggunakan payung hitam besar. Mereka adalah Pak Arifin dan Pak Budi. Wajah keduanya tampak senang saat melihat aku datang. Supaya cepat, aku langsung menyapa mereka dan meminta undangan yang masih belum tersebar. Dan ternyata masih banyak sekali undangan yang tersisa. Pak Budi mengatakan, semua undangan harus selesai disebar malam ini.

Aku memang mudah tersentuh dengan hal-hal kecil. Contohnya malam itu. Aku terharu dengan perjuangan para bapak. Dibalik undangan pemilu yang biasa kudapat selama ini, ternyata ada perjuangan beberapa orang di belakangnya. Orang yang tak tampak usahanya, namun kebermanfaatannya dirasakan oleh banyak orang. Orang-orang yang meluangkan waktunya meski rasa lelah menyerang tubuhnya. Hujan malam itu tak menghentikan tekad para bapak menunaikan tugasnya. Melihat para bapak berusaha sekeras itu, mana mungkin aku bisa membiarkan rasa malas ini bersemayam dalam diri?

Ada banyak hal aku dapatkan setelah menyebar undangan pemilu. Semenjak lulus sekolah dasar, aku tak pernah bertatap muka dengan tetangga, kecuali tetangga dekat rumahku. Aku juga tak pernah berkeliling rumah-rumah tetangga lagi. Aku terlalu ‘sibuk’ dengan aktivitas sekolahku. Sepertinya kata sibuk kurang tepat. Akulah yang enggan meluangkan waktu. Sikap yang buruk, bukan? Dan malam itu, setelah lebih dari 10 tahun berlalu, aku melakukannya lagi. Aku berkeliling rumah dan bertatap muka dengan mereka :’) Ada rasa tiba-tiba datang. Rasa rindu yang terobati. Sebuah kelegaan dan kebahagiaan. Aku rindu masa kecilku. Aku rindu lingkungan dan orang-orang di dalamnya.

“Assalammu’alaikum, bude. Maaf mengganggu malam-malam. Kami mau kasih undangan pemilu, bude.” aku mengetuk pintu sambil memberitahu tujuan kedatangan kami.

“Wa’alaikumsalam. Iya, nggak apa-apa. Silakan masuk, mbak.” kata bude. Ia mempersilakan aku masuk ke dalam rumahnya.

“Bude, ini undangannya. Bude apa kabar? Hayooo, inget nggak ini siapa bude? kataku. Aku menyodorkan undangan sambil merangkul bahu bude.

“Aduh, maaf, bude nggak inget. Ini siapa ya? Maklum ya mbak, udah tua ingatannya begini deh.” Bude menjawab dengan nada merasa bersalah.

“Hehehe, ini Shinta bude. Beda ya, bude? Udah tinggi ya? Hahaha” kataku.

“Yaampun, Mbak Shinta, bude nggak ngenalin. Iya tinggi banget, kalah nih bude hahaha Udah lulus kuliah ya sekarang mbak?” jawab bude.

“Iya bude. Bukan cuma lulus kuliah, bude. Sekarang udah kerja dan udah memasuki usia nikah malah hahaha.” candaku pada bude.

“Hahaha kamu ini. Semoga bude segera diundang ya!” kata bude.

“Siap bude!! Haha.” jawabku.

Begitulah percakapan hangat singkat yang mengobati rasa rinduku. Iya memang benar adanya, pengobat rindu memang temu.

Lingkungan rumah warga RT 03 tidak terlalu luas ternyata. Aku tidak berjalan begitu jauh. Meskipun seperti itu, kami menghabiskan waktu tiga jam hingga akhirnya seluruh undangan tersebar semuanya.

Aktivitas menyebar undangan berakhir tepat saat rintik hujan berhenti membasahi payung kami. Aku bersyukur bisa mengalahkan rasa malas yang singgah dalam diri. Tanpa itu, mungkin pemahamanku tentang undangan pemilu tidak sebaik sekarang ini. Tanpa itu, rasa rindu pada masa kecil tidak terobati. Dan tanpa itu, aku tidak akan bertemu bude yang meminta diundang bila aku menikah nanti πŸ˜‚

Berkenalan dengan Penyandang Autis

Ms Nina baru saja mengunggah sebuah foto dalam akun instagramnya. Captionnya sangat menarik,”If they can’t learn the way we teach, we teach the way they learn.” Kalimat sederhana yang memiliki arti bermakna.

Ms Nina adalah guru sekolah dasar di sekolah inklusi swasta di Jakarta Barat. Pernah menjadi rekan kerjanya adalah anugerah yang berharga. Ms Nina juga teman diskusi yang seru. Dulu aku banyak bertanya tentang anak-anak berkebutuhan khusus dengannya. Dan Ms Nina selalu menyediakan banyak waktu untuk menjelaskan dengan rinci dan lengkap.

Tanggal 2 April adalah Hari Autis Sedunia. Sebenarnya aku lupa. Namun, berkat unggahan ibu-ibu guru sekolah inklusi itu, aku kembali diingatkan. Ibu-ibu guru mengunggah tulisan pada status whatsapp ‘World Autism Awareness Day‘. Mereka juga mengunggah beberapa video murid-murid membawa poster berkeliling sekitar sekolah. Mereka mengedukasi masyarakat sekitar bahwa penyandang autis adalah teman kita. Tak perlu memandang dengan tatapan aneh dan sebelah mata. Seperti caption Ms Nina, jika mereka kesulitan belajar dengan cara kita karena keterbatasannya, mengapa kita yang lebih mampu tidak mengajari mereka dengan caranya?

Aku teringat saat perjalanan pulang ke rumah menggunakan krl. Saat itu, ada dua orang mahasiswi sedang berbincang. Karena mereka memang berdiri persis di sampingku, aku pun mendengar jelas percakapan mereka. “Iya, dia tuh cowok aneh. Setiap di kelas dia sendirian aja. Kalo jalan kaki, ya nunduk aja. Kalo gue tanya, ngejawabnya pake bahasa baku. Oh iya! Gue pernah ketemu di lift kampus. Masa dia muter-muter di depan lift. Dia baru berhenti muter saat pintu liftnya kebuka. Temen-temen di kelas nggak ada yang bully dia sih. Kita cuma aneh aja.” cerita panjang lebar si mahasiswi berambut panjang itu. Dari intonasi suaranya, aku tahu ia benar-benar bingung.

Dari ceritanya aku bisa menduga siapa yang ia bicarakan. Kata kuncinya adalah ia ‘muter-muter di depan lift’ dan bahasanya ‘baku’. Aku menduga, kemungkinan teman sekelasnya adalah penyandang autis. Penyandang autis tidak asing di telingaku. Aku pernah membersamai mereka selama 1,5 tahun. Meskipun belum ahli menangani mereka, aku memiliki pengalaman berinteraksi dan berkomunikasi dengan mereka. Langsung saja aku tulisan ceritanya, ya.

Kali Pertama Bertemu Raka, Patra, dan Fakhri

Di sekolah inklusi tempatku bekerja dulu, aku berkenalan dengan tiga anak penyandang autis. Dua anak sudah mampu berkomunikasi dan berinteraksi, satunya lagi belum bisa berkomunikasi apa-apa.

Yang pertama sebut saja namanya Raka. Saat aku bertemu dengannya Raka sudah kelas 6 SD. Raka bisa bertanya dua hal yaitu tentang alamat rumah dan tentang rumah. Raka biasanya mengajukan pertanyaan seperti ini, ‘Ms rumahnya di mana?‘, ‘Ms rumahnya warna apa?’, ‘Di rumah Ms ada AC tidak?, ‘Ms rumahnya tingkat tidak?‘. Ketika kita sudah menjawab semua pertanyaannya, Raka akan mengingat semua jawaban kita. Ia hafal betul semua kalimat yang kita ucapkan tadi. Kali pertama tahu kemampuannya, aku kaget sekali. Ia benar-benar hafal jawabanku dalam hitungan detik.

Yang ke dua, sebut saja namanya Patra. Patra kelas 3 SD. Kebetulan aku mengajar di kelas itu. Jadi, aku lumayan tahu kemampuan dan sikap Patra sehari-hari. Patra berbeda dengan Raka. Patra masih sulit melakukan kontak mata. Masalah ini memang hampir dimiliki sebagian besar penyandang autis. Maka, yang dapat kita lakukan ketika berbincang dengannya adalah duduk sejajar dengan dirinya, memegang kepalanya agar menatap wajah kita, dan kemudian ajukan pertanyaan singkat jelas kepadanya. Apa yang kita lakukan itu akan memudahkan Patra menjawab pertanyaan.

Patra juga terlalu sensitif dengan suara keras. Ia masih mampu mendengar musik. Namun, mendengar suara anak-anak yang berteriak atau suara drum saat pelajaran musik akan membuat Patra ketakutan. Perihal ini juga ciri khas anak-anak penyandang autis. Mereka mengalami gangguan pada beberapa panca inderanya. Untuk Patra, ia mengalami gangguan pada pendengarannya. Aku pernah dijelaskan oleh koordinatorku saat di sekolah inklusi dulu. Katanya, pendengaran Patra terlalu sensitif. Jika kita mendengar suara tertawa dan drum biasa saja, bagi Patra tidak. Suara-suara itu super keras terdengar oleh telinganya. Dan kenyataan tersebut sangat menganggu Patra. Maka, tidak heran bila Patra menutup telinga dan menangis tiap kali mendengar suara keras. Kami pun memahami itu. Kelainan itu bisa disembuhkan. Patra hanya perlu dibiasakan mendengar suara-suara itu. Pelan-pelan saja dan tidak perlu dipaksa. Bila dilakukan secara terus menerus dan konsisten, Patra akan mengenal suara-suara keras.

Sama seperti Raka, Patra memiliki kemampuan menghafal yang super baik. Patra paling senang dengan gadget. Ia hafal betul spesifikasi bermacam-macam gadget. Aku takjub sekali saat ia berhasil menyebutkan spesifikasi Samsung Galaxi S7 beberapa tahun lalu πŸ˜‚

Yang ke tiga, kita sebut namanya Fakhri saja, ya. Fakhri kelas 1 SD. Aku tidak banyak berinteraksi dengan Fakhri. Kelainan Fakhri cukup berat. Ia belum memiliki kontak mata, masih berbicara sendiri tanpa makna, dan masih sering melakukan gerakan berulang. Berbicara dengan Fakhri harus di tempat yang sunyi supaya ia tidak terdistraksi dengan apapun. Fakhri juga belum mengenal instruksi. Dan tidak semua guru bisa berinteraksi dengan dia. Hanya Ms Nisa saja yang mampu mengarahkan Fakhri. Aku pernah beberapa jam bersamanya. Bahkan untuk menginstruksikan Fakhri memakai kaos kaki saja aku belum mampu.

Mereka Membutuhkan Perhatian dan Bantuan Kita

Apa yang penyandang autis lihat dan rasakan memang berbeda. Ada kerusakan pada bagian otak yang membuat beberapa fungsi menjadi terganggu. Beberapa kesulitan yang paling banyak dialami mereka adalah komunikasi dan interaksi dengan orang lain serta melakukan gerakan berulang. Mereka melihat dan mendengar hal sekitar dengan cara yang berbeda. Kalau kata dokter yang ahli di bidang ini, otak mereka terlalu penuh dan sibuk, namun, mereka tak mampu mengendalikannya. Mereka membutuhkan bantuan kita untuk memudahkan setiap hal.

Contohnya saja dalam hal komunikasi dan belajar. Dalam komunikasi, jangan berbicara pada mereka sebelum matanya benar-benar menatap mata kita. Ajarkan mereka pengalaman ini. Bahwa ketika berbicara dengan orang lain mata harus menatap lawan bicara. Jangan berbicara saat lingkungan tidak kondusif. Mudahkan mereka melakukan percakapan ini. Lingkungan yang sunyi akan memudahkan mereka menangkap informasi. Dalam belajar, bantu mereka menggunakan media pembelajaran. Belajar menggunakan bantuan gambar dan contoh konkret akan memudahkan mereka mengerti.

Karena mereka memandang segala hal dengan berbeda, memang akan ada banyak perilaku mereka yang menganggu. Mereka akan berteriak dan melempar barang tiap kali merasa cemas dan bingung. Bahkan mereka bisa melukai dirinya sendiri dan orang lain bila merasa terancam. Bila anak kecil normal diibaratkan seperti kertas kosong dan dapat kita isi. Anak-anak penyandang autis adalah ibarat kertas yang sudah terisi dan perlu kita perbaiki dan ajari. Mereka membutuhkan berkali-kali lipat pengertian dan bantuan kita. Mengerti segala keterbatasan mereka dan membantu mengembangkan potensi mereka secara optimal.

Tatapan aneh yang biasa kita berikan pada mereka yang berbeda, kurasa hanya karena ketidaktahuan kita. Jika kita mengenal mereka, aku yakin kita tidak akan memberikan tatapan itu lagi. Malah sebaliknya, kita akan bersemangat memberikan perhatian dan bantuan. Sesederhana menyapa, menanyakan nama, dan mengajak mereka bersalaman, misalnya 😊

Aku tidak memberi apa-apa pada Raka, Patra, dan Fakhri. Akulah yang mendapat banyak hal dari mereka. Berkenalan dengan mereka membuat aku sadar bahwa ada banyak anak spesial yang membutuhkan uluran tangan kita untuk melangkah bersama. Mereka membutuhkan tatapan hangat kita untuk meyakinkan bahwa dunia ini tidak mengerikan seperti yang mereka rasakan. Mereka membutuhkan kehadiran kita untuk memudahkan apa-apa yang sulit mereka mengerti.

Berkat mereka, aku sadar, ada banyak usaha perlu diapresiasi. Ada banyak proses memang harus dilalui supaya kita mendapatkan ilmu yang baru. Berkat mereka, aku lebih banyak bersyukur. Ternyata, ada begitu banyak kemampuan dan nikmat lupa untuk disyukuri.

If they can’t learn the way we teach, we teach the way they learn.” – Ms Nina

‘Terpapar’ dengan Perbuatan Baik

Saya ini selalu kagum dengan orang-orang yang konsisten melakukan perbuatan baik. Saya kagum dengan Ira dan Kak Dhika.

Ira

Pertama kali saya mengagumi perbuatan baik seseorang adalah saat masih kuliah dulu. Saya kagum pada sahabat saya. Namanya Ira. Rumah Ira di Tangerang Selatan (Tangsel). Jarak Depok-Tangsel sebenarnya bisa ditempuh menggunakan motor. Namun, karena perkuliahan dilakukan setiap hari, Ira tidak mungkin setiap hari pulang ke rumah. Kalau dipaksakan, taruhannya adalah kesehatan Ira. Akhirnya, Ira pun ngekos.

Selama kuliah, saya sering main di kosan Ira. Sekadar numpang tidur siang sambil nunggu kelas kuliah selanjutnya atau nugas bareng. Saking seringnya di kosan Ira, saya pun terbiasa dengan kebiasaan Ira. Ira ini anaknya rajin. Rajin datang tepat waktu, rajin merapikan kamar, dan rajin mandi. Karena sering ‘terpapar’ dengan rajinnya Ira, tanpa sadar, saya pun mengikuti kebiasaannya.

Selain rajin, Ira juga dermawan dan perhatian. Ira suka sekali memberi. Saya ingat betul dulu saat sering main ke kosan Ira, ketika saya sedang malas-malasan di kasurnya, Ira sibuk di dapur menyiapkan makanan untuk saya. Tanpa pertanyaan apapun, tiba-tiba Ira datang membawa semangkuk mie rebus, sepiring nasi, dan sepiring naget ayam. Rezeki anak kuliahan, bahagia betul dapat makanan gratisan :’)

Ada cerita lain tentang sikap perhatian Ira ini. Rumah saya dekat dengan kampus. Saya membutuhkan waktu sepuluh menit saja untuk sampai di rumah. Karena begitu dekat, Ira pun sering main ke rumah. Ira tahu kalau saya memiliki adik-adik kecil. Maka, tiap kali ke rumah, Ira selalu membawa dua kotak yakult. Katanya,”Ini untuk adik-adikmu!” Hati mana yang tidak tersentuh jika selalu ‘terpapar’ perbuatan-perbuatan baikmu, Ra? :’)

Berteman dengan Ira, membuat saya memahami alasan mengapa kita perlu dekat-dekat dengan orang dan lingkungan yang baik. Ternyata, dekat-dekat dengan hal baik akan membuat kita ‘tertular’ dengan banyak kebaikan.

Kali pertama melihat kebaikan Ira, memang tidak secara langsung membuat saya berubah saat itu juga. Kali pertama merasakan kebaikan Ira, juga tidak secara langsung membuat saya ingin melakukan hal itu juga. Yang saya pahami saat itu, saya sadar Ira adalah teman yang baik. Dan saya senang diperlakukan seperti itu. Sesederhana itu pikiran saya.

Kamu tahu? Ternyata ‘terpapar’ dengan kebaikan akan membuat alam bawah sadar kita ‘merekam’ semua itu dalam pikiran. Akhirnya, secara perlahan kita pun akan melakukan hal yang sama dalam keseharian. Mungkin, pada awalnya semua dilakukan untuk membalas kebaikan teman. Tak tahunya lama-lama menjadi kebiasaan.

Kak Dhika

Kali ini, saya kagum pada Kak Dhika. Kak Dhika adalah rekan kerja saya. Kali pertama berjumpa, si kakak langsung memberikan hadiah kepada saya. Saat itu, Poli Rehabilitasi Medik (Rehab Medik) akan membuat seragam baru. Maka, kami pun membeli jilbab baru. Jilbab yang harus dibeli ada tiga buah. Kebetulan yang bertugas mengumpulkan uang adalah Kak Dhika. Ketika ingin membayar, Kak Dhika bilang seperti ini,“Kamu bayar dua jilbab aja. Satu jilbab hadiah dari saya untuk kamu.” Mendengar perkataan Kak Dhika tentu saja saya bingung. Orang yang baru dikenal belum genap dua bulan, langsung memberikan hadiah sebagai tanpa pertemanan. Hati siapa yang tidak terharu bila diperlakukan baik seperti itu. Siapapun kurasa hatinya akan ‘meleleh‘.

Masih tentang Kak Dhika. Sore itu ada seorang perempuan datang ke Poli Rehab Medik membawa sekotak brownis. Langsung saja saya tanyakan Kak Dhika tentang brownis itu,“Kak, itu siapa? Kok tiba-tiba bawa brownis?”, Kak Dhika menjawab,“Dia bagian pendaftaran pasien BPJS. Kemarin, aku minta tolong sama dia cariin berkas berobat bapakku. Karena dia udah baik banget mau bantu, aku kasih aja sekotak yakult. Eh barusan dia malah bawain aku brownis. Kan yang minta tolong aku, kenapa dia bawain brownis ckck.” Kebaikan memang menular, ya. Dan saling menebar kebaikan itu indah.

Ada lagi cerita lain. Aku dan Kak Dhika sedang membahas tentang arisan. Ternyata, Kak Dhika memiliki kebiasaan unik. Ia selalu memberikan buah tangan kepada si pemegang uang arisan tiap kali mendapat arisan. Kata Kak Dhika, si pemegang arisan itu harus kita hargai kebaikannya. Ia sudah berbaik hati menjaga uang arisan dan mengurus urusan arisan. Tanpa dia, mungkin arisan ini tidak akan berjalan dengan baik. Mendengar pandangan Kak Dhika, menambah pandangan baru untuk saya. Kebiasaan unik Kak Dhika sangat bagus dicontoh. Jujur saja, ini adalah kali pertama saya mendengar pandangan seperti itu. Kak Dhika memang baik hati :’)

***

Ira dan Kak Dhika menunjukkan bahwa kebaikan hati bisa dirasakan dari hangatnya seseorang memperlakukan orang lain.

Ira dan Kak Dhika senang memerhatikan orang lain. Sehingga mereka tahu apa yang orang lain butuhkan.

Ira tahu bagaimana memperlakukan teman dengan baik di kosannya, maka ia menjamu saya dengan baik. Ira juga tahu bagaimana cara menyenangkan hati anak kecil, maka ia memberikan yakult untuk adik-adik saya.

Kak Dhika tahu bagaimana membuat nyaman anggota baru, maka ia memberikan hadiah saat saya menjadi pegawai baru.

Kak Dhika juga tahu bagaimana menghargai kebaikan orang lain, maka ia memberikan sekotak yakult kepada mbak pendaftaran BPJS sebagai tanda terima kasih.

Hingga kini saya masih kagum dengan mereka. Semoga rasa kagum ini juga diiringi dengan usaha-usaha melakukan kebaikan yang sama. Terima kasih, Ira dan Kak Dhika. Terima kasih telah menunjukkan banyak kebaikan secara nyata. Semoga Allah senantiasa melimpahkan banyak kebaikan kepada kalian dan keluarga. Aamiin πŸ™‚

Menjadi Petugas KPPS Pemilu 2019

Akan ada waktu di mana kamu akan mempertanyakan kebermanfaatan diri di lingkungan rumah. Dan hal apa sajakah yang sudah kamu berikan pada masyarakat.

Kita mungkin sering berpartisipasi pada kegiatan sekolah dan perkuliahan. Menjadi panitia ini dan itu. Menjadi staff dan koordinator suatu divisi. Atau menjadi ketua suatu acara. Bahkan menjadi kepala suatu organisasi. Kita begitu aktif membuat dan melakukan sesuatu untuk kepentingan banyak orang. Tetapi, lupa berkontribusi pada lingkungan rumah kita sendiri.

Entah aku yang kurang mencari informasi atau memang para pemimpin lingkunganku yang kurang mensosialisasikan, aku tak pernah menjadi panitia apapun di lingkungan rumahku. Waktu kecil, tentu saja aku tak akan peduli dan tak memikirkannya. Setelah besar, aku baru menyadari bahwa tak pernah memiliki peran apa-apa di lingkungan. Kesadaranku semakin membesar ketika menjadi pemilih pada pesta pemilu dan mengantar adikku imunisasi di Kantor RW. Mereka yang menjadi panitia adalah para orang tua. Bahkan ada yang sudah tua renta. Aku lirih berkata dalam hati,“Kemana para pemuda? Bukankah aku ini salah satu pemuda? Mana peranku?” Ah, seketika langsung malu.

Aku pernah bertanya kepada mama, bagaimana cara membantu kegiatan imunisasi. Kukatakan pada mama, aku bisa membantu apa saja. Hatiku benar-benar sedih ketika melihat para orang tua kebingungan mengukur tinggi badan anak pada saat imunisasi. Padahal, untuk mengukur berat badan, tinggi badan, dan lingkar kepala anak bukan hal yang sulit bagiku. Semua itu adalah kegiatan ‘akrab’ yang biasa kulakukan sehari-hari. Saat itu juga, aku bertekad akan membantu kegiatan imunisasi selanjutnya. Tak apa bila tidak diundang. Aku bisa mengajukan diri, kan?

Suatu sore datang sebuah undangan ke rumahku. Sayangnya, aku tidak berada di rumah saat itu. Aku tahu informasi tersebut saat malam ketika sudah sampai di rumah. Menurut informasi mama, Pak RT memberikan dua undangan menjadi petugas KPPS (Kelompok Panitia Pemungutan Suara) pemilu April 2019 nanti untuk aku dan adikku. Pak RT tampak putus asa karena sulit sekali mencari orang yang bersedia membantu. Saat Pak RT di rumahku, beliau bercerita bahwa masih membutuhkan 6 orang lagi untuk mengisi posisi panitia. Saat mendengar cerita mama, aku turut bersedih juga. Pasti si Pak RT kebingungan terhadap kondisi itu.

Tanpa perlu memikirkan dan meyakinkan diri, aku langsung menyetujui tawaran Pak RT. Tanpa perlu membujuk, adikku juga menyetujui tawaran itu. Kami pun mengisi formulir, menyerahkan Foto Kopi KTP, Foto kopi ijazah terakhir, dan Pas Foto.

Satu minggu lalu kami menghadiri rapat pertama. Rapat ini dihadiri oleh seluruh petugas KPPS di RW 10. Aku dan adik hadir tanpa didampingi orang tua. Kata hatiku, sebenarnya ada ragu dan takut karena tak mengenal siapapun selain Pak RT. Kata hatiku yang lain, ada semangat yang membuncah karena akan membantu lingkungan rumahku. Aku memang begini, selalu bersemangat tiap kali terlibat pada kegiatan sosial dan sukarelawan. Ada rasa bahagia yang kudapatkan setelah membantu orang lain. Rasa bahagia yang hanya bisa kurasakan tiap kali menjadi bermanfaat untuk sesama. Rasa bahagia yang berbeda dengan rasa bahagia yang lainnya. Benar adanya, kebahagiaan yang dirasakan bersama-sama memang akan selalu terpatri dalam relung hati.

Rapat dilakukan di mushola sehabis Isya. Kami datang tepat waktu. Di mushola hanya ada dua laki-laki. Satu orang bapak dan satu orang pemuda. Aku hanya mengenal si pemuda itu saja. Meskipun tak mengenal dekat, aku mengingat wajah itu sebagai teman kecilku. “Bang Angga, ya?” aku memulai percakapan dengan pertanyaan. “Masih inget saya, bang?” kulontarkan satu pertanyaan lagi sambil tersenyum. “Ini Shinta ya? Ya Allah sudah besar banget. Ingetlah. Kemana aja Shin? Kok Bang Angga nggak pernah liat Shinta?” Bang Angga menanggapi pertanyaanku dengan antusias dan ramah. Ah senangnya. Bertemu teman bicara yang komunikatif dan ramah memang selalu menyenangkan πŸ˜€

Agenda rapat ini adalah pengenalan tentang proses pemungutan dan penghitungan suara. Materi disampaikan oleh Ketua PPS (Panitia Pemungutan Suara) Beji. Aku tak ingat nama bapak ini. Yang jelas, bapak menjelaskan dengan cara yang sederhana dan mudah dimengerti oleh awam. Seperti siapa saja yang menjadi pemilih tetap, siapa yang menjadi pemilih tambahan, siapa yang menjadi pemilih khusus, bagaimana aturan pemilihan suara, bagaimana aturan penghitungan suara, apa saja kriteria surat suara dikatakan sah dan tidak sah, dan sebagainya. Karena segala hal tentang pemilu adalah hal baru bagiku, maka aku mendengarkannya dengan sangat saksama dan tidak terpengaruh oleh apapun. Bahkan untuk camilan dan kopi yang melimpah ruah di depanku :p

Selain itu, firasakatku juga mengatakan, sepertinya aku akan mendapat bagian yang ‘agak sulit’. Penting bagiku untuk memahami dengan baik materi ini. Timku, yaitu, TPS 41 terdiri dari sembilan orang. Dua orang sebagai Pengamanan Langsung atau disingkat Pamsung (Bagian Keamanan selama proses Pemilu), Satu orang ketua KPPS (Pak Budi, sudah berpengalaman dalam kegiatan ini), Satu orang ibu (baru pertama kali menjadi panitia), dan empat orang anak muda yang juga baru pertama kali menjadi panitia. Di antara anak muda ini, usiaku lebih tua dibanding mereka. Oleh karena itu, menurut firasatku, Pak Ketua sepertinya akan mempercayakan tugas yang ‘agak sulit’ kepadaku :’)

Firasatku benar. Aku dan Dea ditugaskan dibagian pendaftaran. Yang aku maksud dengan ‘agak sulit’ sebenarnya bukan benar-benar sulit. Seperti kata Pak PPS, menjadi panitia tidak sulit. Kami hanya perlu teliti dan hati-hati. Tentunya kesabaran. Dan tidak perlu terburu-buru. Setelah Pak PPS selesai menyampaikan materi, kami dibolehkan pulang.

Saat rapat, aku berkenalan dengan ketua timku. Namanya Pak Budi. Pak Budi ini aktif sekali di lingkungan rumahku. Pak Budi menjalani peran dengan seimbang. Peran sebagai kepala keluarga, peran sebagai pegawai negara, dan peran sebagai masyarakat yang baik. Beliau juga seru diajak diskusi. Pengalaman yang banyak tidak membuat beliau berpikiran keras dan tertutup. Pak Budi memberikan banyak ruang untuk kami bertanya dan memberikan pendapat.

Bahkan saat rapat kedua kemarin (rapat khusus TPS 41), Pak Budi berulang kali mengingatkan bahwa menjadi Petugas KPPS ini mudah. Kita hanya perlu bekerja sama. Kita juga harus berkoordinasi dengan baik. TPS 41 harus memberikan suara yang sama tiap kali memberikan jawaban kepada masyarakat. Pak Budi juga menyemangati kami. Katanya, para pemuda harus belajar menjadi panitia kegiatan sosial seperti ini. Harus ada regenerasi. Beliau tahu kami masih awam tentang hal ini. Pak Budi mengerti dan memahami. Dan siap mengajari. Keren banget ya Pak Budi?

Kata Pak Budi, nanti akan ada rapat lagi. Satu minggu sebelum Pemilu juga akan dilakukan simulasi.

Ini adalah pengalaman pertama kami. Aku dan adik sangat antusias menjalani prosesnya. Bahkan di rumah pun, kami membuka forum diskusi hahaha

Untuk aku, berkenalan dengan orang baru dan melakukan adaptasi mungkin bukan hal yang begitu sulit. Tetapi, meluangkan waktu di tengah kesibukan bukan hal yang mudah. Aku berterima kasih pada diriku sendiri. Terima kasih karena mau meluangkan waktu untuk membantu orang lain. Terima kasih telah memikirkan orang lain.

Terima kasih juga untuk adikku. Keinginanmu untuk menjadi petugas KPPS perlu diapresiasi. Keberanianmu menghadiri rapat kedua khusus TPS 42 tanpa aku yang menemani juga perlu diapresiasi. Terima kasih telah bersedia menjadi teman belajarku untuk banyak hal. Seperti kali ini, kita belajar menjadi petugas KPPS.

Ada kalimat bagus yang sesuai dengan keadaan ini, keraguan adalah ketika kita tidak memahami apa yang diri ini inginkan. Maka, untuk menjadi tidak ragu, jadilah orang yang yakin dengan keinginan diri. Lalu buatlah sebuah keputusan.

Rasa takut bukan untuk terus dinikmati. Tetapi, untuk dihadapi. Maka, jangan takut untuk memulai hal yang baru. Sebab, ketakutan hanya menghentikan langkahmu. Tak akan membuatmu maju.

Jadi, siapkah kamu memulai hari baru dengan sesuatu yang baru? Kalau aku dan adik, sudah siap menjadi petugas KPPS. Sudah siap juga menjalani dengan tanggung jawab. Kalau kamu? Pilihanmu, akan menentukan bagaimana kisahmu. Aku tunggu ceritamuβ™₯

Kebaikan di Pagi Hari

Pagiku menyebalkan. Aku terlambat bangun dan sudah bisa dipastikan aku pun akan terlambat sampai di tempat kerja. Hujan sedari malam tak juga reda. Meskipun masih mendung, waktu menunjukan bahwa hari sudah semakin siang. Maka, tak ada pilihan lain. Aku harus tetap berangkat menerjang hujan. Baju ganti tetap harus kukenakan. Sebab, jas hujan milikku tidak sepenuhnya menahan air hujan.

Di perjalanan, aku teringat, rupanya kemarin siang aku tak sempat memenuhkan tangki bensin motor. Kulirik cepat pada spidometer, di sana terlihat panah penanda sudah menunjuk ke tanda merah. Yang artinya, motor akan mogok bila tangki tidak segera diisi bensin. Menyadari betapa kurang persiapan dan tidak disiplinnya diriku, aku menyesal. Namun hanya bisa menghembuskan napas saja. Kuurungkan niat untuk mengeluh. Pagi tadi, tak ada pilihan lain. Aku harus bertanggung jawab dengan cara menjalaninya dengan ikhlas.

Tikungan di jalan Perumahan Korps Brimob memang pusat kemacetan. Jalan yang memiliki lebar tak lebih dari empat meter itu selalu dipenuhi kendaraan. Apalagi bila ada perbaikan jalan atau kejadian tidak terduga. Seperti pagi ini. Keinginanku untuk mengebut hanya mimpi belaka. Motorku tidak dapat bergerak maju. Seluruh pengendara saling melempar tatapan kebingungan. Rintik hujan semakin membasahi jas hujanku, tetapi sedikit pun roda motorku tidak bergerak maju. Jam tanganku sudah menunjukkan pukul tujuh kurang sepuluh menit. Aku masuk kerja pukul tujuh. Sepuluh menit tak akan cukup untuk sampai di tempat kerja. Aku segera sadar, terlambat sampai tempat kerja adalah sebuah kepastian :’)

Antrean kendaraan perlahan bergerak. Motorku bergerak maju. Akhirnya, aku dapat melihat si penyebab kemacetan pagi ini. Di sisi kanan terlihat sebuah mobil terjebak dan tak bisa bergerak. Bannya terperosok ke dalam tanah yang posisinya lebih rendah dari jalan beraspal. Mobil akhirnya tak bisa maju ataupun mundur. Aku tidak tahu sejak kapan mobil itu terjebak. Aku juga tidak tahu sejak kapan kemacetan ini terjadi. Yang aku tahu, motorku tidak bergerak selama 10 menit. Aku mengatakan dalam hati,“Lengkap sudah. Pagiku semakin menyebalkan saja heu.”

Di dalam mobil yang terjebak, pengemudi sendirian. Tak ada kawan yang bisa membantu mendorong mobil. Pengendara lain juga tak ada yang membantu. Bahkan beberapa saling menekan tombol klakson sebagai tanda mereka tak sabar menunggu. Aku menduga, alasan mengapa orang-orang tidak langsung membantu mungkin karena kondisi saat itu sedang turun hujan. Hujan membuat semua orang sibuk dengan urusannya. Aku pun sama seperti mereka, sedang sibuk dengan pikiranku sendiri. Aku sedang mengkhawatirkan nasibku yang tak akan mampu sampai tempat kerja tepat waktu. Namun yang membuat berbeda, aku masih bisa menahan diri untuk tidak menekan tombol klakson.

Beberapa menit kemudian, seorang laki-laki menghentikan motornya tepat di depan mobil yang terjebak. Meskipun hanya seorang diri, ia tak ragu. Ia segera memberi aba-aba kepada pemilik mobil dan mendorong sekuat tenaga mobil tersebut ke arah belakang. Tak berselang lama, satu orang laki-laki kembali menghentikan motornya. Kali ini, ia bertugas memberi aba-aba dari arah belakang mobil untuk memberi tahu kondisi tanah dan jalan beraspal.

Pemandangan itu membuat rasa cemasku berubah seketika. Aku tak lagi sibuk dengan diriku sendiri. Aku tak lagi memikirkan bagaimana cara cepat tiba di tempat kerja. Aku memandang mereka cukup lama. Aku seakan tersihir dengan mereka yang saling membantu. Siapa pun yang melihat, pasti tahu pekerjaan mereka bukan hal yang mudah. Namun, hal itu tidak mengurungkan niat mereka untuk membantu. Dua orang laki-laki itu tentu saja memiliki kegiatan yang harus dikerjakan atau tempat yang harus didatangi. Sama seperti aku dan pengendara lainnya. Tetapi, sikap tolong menolong yang ada di diri mereka lebih tinggi dibanding urusan duniawi. Luar biasa, ya.

Iya, memang benar pagiku menyebalkan. Aku yang tidak disiplin membuat awal hariku menjadi tidak menyenangkan. Terlambat bangun pagi, perjalanan menerjang hujan, dan mengalami kemacetan cukup membuatku kelelahan. Namun, benar adanya bahwa kebaikan itu menular. Suasana hatiku yang tidak baik, berubah menjadi lebih baik karena mengamati kebaikan dua laki-laki itu. Betapa mulia hati mereka. Keadaan sulit tidak membuat hati mereka sempit. Mereka memahami betul bahwa keegoisan adalah tak ada guna. Sebab, tak ada yang lebih penting dibanding menjadi bermanfaat untuk sesama.

Sepenggal Kisah Bersama Mami dan Razi

Saat ini, ada banyak hal berbeda. Tak lagi sama dengan yang dulu pernah ada. Meskipun begitu, jangan pernah menyesalinya. Percayalah, segala hal hadir selalu tepat pada waktunya. Semua hanya tergantung bagaimana cara kita memandang dan menikmatinya ☺

***

Kamu meminta maaf berkali-kali. Kamu mengatakan,“Maafin aku, Razi emang nggak betah diam lama-lama. Dia sukanya jalan-jalan.”

Aku benar-benar tak apa, sungguh. Meskipun ada begitu banyak keinginan bertukar cerita denganmu. Ada yang lebih penting dari pada itu. Aku ingin bertatap muka langsung denganmu. Dengan begitu, aku tahu, kamu benar-benar dalam keadaan baik atau tidak.

Aku dan Ira sama-sama tahu, pertemuan ini tidak akan memberikan banyak waktu untuk bertukar cerita. Razi yang berusia 10 bulan tentu tak akan mudah untuk diajak duduk dalam waktu lama. Lalu, ada suami Ira pula yang akan bergabung. Tak mungkin keduanya kita abaikan. Tak apa. Bagi kami, makan dan berjalan-jalan bersama di mall sudah lebih dari cukup untuk melepas sebuah kerinduan.

Kami mendorong stroller secara bergantian. Aku juga sesekali menggendong Razi untuk melihat-lihat sekitar. Meski Ira selalu menolaknya, ah, mana mau aku menurut padanya. Ini adalah perjalanan kita bersama. Maka, sebaiknya kita saling tolong-menolong, kan?

Kami tidak begitu lama berjalan-jalan di mall. Waktu sudah terlalu malam dan Razi tampak kelelahan. Akhirnya, kami memutuskan untuk segera makan.

Di tempat makan, Ira dan suami makan secara bergantian. Aku menatap mereka dengan tersenyum. Mungkin ini yang dinamakan bekerja tim dalam rumah tangga. Saling menopang beban dan tugas agar terasa lebih ringan. Aku sebenarnya ingin membantu menggendong Razi. Tetapi, kali ini Ira menolak dengan tegas. Katanya,”Udah makan dulu cepetan! Abis ini kita ke mushola susuin Razi. Sambil ngobrol juga di sana hihihi.” Dan aku pun menuruti perkataannya.

Kata Ira, ketika sudah berumah tangga, seorang ibu akan mengubah segala keinginannya. Yang penting, semua suka dan bahagia. Contohnya, Ira dan suami ini. Suami Ira tidak senang memakan makanan western. Pokoknya, sang suami lebih senang makanan Indonesia. Padahal, Ira senang sekali dengan burger, pizza, dan pasta. Tetapi, untuk makan bersama keluarga, Ira lebih memilih mengalah. Lagipula, Ira memang bukan pemilih makanan. Ira senang semua jenis makanan.

Setelah menjadi ibu, Ira juga memilih makanan yang tidak pedas. Tujuannya, supaya Razi juga bisa menikmati makanan bersamanya. Ira melakukannya tidak terpaksa. Sepertinya, semua itu dilakukan karena cinta. Maka, Ira pun melakukannya dengan bahagia.

Di musala, meski tampak lelah dan ngantuk, Razi tak juga bisa memejamkan mata. Padahal, suasana di sana lumayan tenang. Entahlah. Mungkin, Razi bimbang karena terlalu rindu dengan Tante Shinta? Wkwk

Di musala, ada beberapa anak tangga dan satu jalur untuk kursi roda. Razi tak bisa menahan diri untuk tidak bermain di sana. Razi pun merangkak di tangga-tangga tersebut. Mami Ira yang sudah terbiasa multitasking, mampu bercerita tentang kegiatan tahsinnya sambil mengawasi si lincah Razi. Keren si mami πŸ˜‚

Aku berterima kasih pada Ira. Bertemu kawan saat memiliki bayi 10 bulan tentu bukan hal yang mudah. Tetapi, Ira meluangkan waktunya untukku. Terima kasih banyak, Ira.

Aku juga berterima kasih pada suami Ira, Kak Arif. Terima kasih telah mengizinkan Ira bertemu denganku. Terima kasih telah sabar menunggu.

Razi, terima kasih sudah bekerja sama dengan Mami Ira. Terima kasih karena bersabar dan tidak menangis. Sehat selalu ya, Razi. Nanti kalau sudah bisa jalan, sebaiknya, tante dan mami mengajakmu ke padang rumput yang begitu luas, yaaaaa. Supaya Razi bisa bebas berlari-larian ke mana saja.

***

Aku dan Ira bahagia dengan peran baru yang kami jalani ini. Ira menjalani peran sebagai istri dan ibu. Aku menjalani peran sebagai muslimah, anak, dan karyawan dari sebuah institusi. Kami memang tidak melulu bertukar kabar melalui pesan singkat. Kami jarang melakukan video call. Kami jarang bertukar cerita melalui voice note. Saat berjumpa pun kami tak bisa lagi bercerita panjang lebar seperti dulu. Tak apa. Sebab, kami menyadari beberapa hal. Yang paling penting adalah kami masih bisa bertemu, saling tersenyum, dan melakukan aktivitas bersama.

Aku merasa, ketika tanggung jawab semakin banyak dan masalah hadir silih berganti, kehadiran sahabat di sisi sungguh meringankan sebuah beban. Ketika kehidupan begitu sulit untuk dijalani, senyuman dan genggaman tangan sahabat dapat menenangkan.

Untuk sebuah pertemuan, bagaimana kalau kita bersyukur? Ada banyak pertemuan yang masih ditangguhkan, karena Allah belum mengizinkan.

Membeli Makanan Si Kucing

Si kucing makan dengan lahap dan tenang hari ini. Ia tidak perlu makan dengan perasaan takut karena diburu waktu. Ia juga tidak perlu makan dengan perasaan khawatir karena memakan makanan kami πŸ˜‚

Kami telah berjanji pada hati masing-masing akan membelikan si kucing makanan. Alhamdulillah, dua hari lalu janji kami tertunaikan.

Cerita awal mengapa si kucing berada di rumah kami, jadi, si kucing adalah kucing kampung yang kesasar. Tiba-tiba saja ia datang ke rumah dan tidak pergi lagi. Dua adik laki-lakiku si penyuka binatang tentu saja senang. Mereka dengan senang hati menampung kucing kampung yang kesasar itu.

Ketika dua adik laki-lakiku memutuskan memelihara si kucing, kami tidak menolak ataupun sungguh-sungguh mendukungnya. Kami hanya diam saja. Diam yang berarti mengizinkan secara tersirat wkwk

Sebelum si kucing memiliki makanan khusus untuknya, kami dilanda rasa gelisah berkepanjangan. Pertama, tiap kali ingin makan ada rasa takut karena si kucing selalu ‘menyerang’ kepingin ikutan makan. Kedua, tiap kali mengeluarkan makanan apapun ada rasa kesal karena si kucing selalu ‘berantakin’ makanan tersebut. Ketiga, kami tahu si kucing sangat lapar, namun belum mampu memberi makan ia secara ‘sungguh-sungguh’. Sebenarnya, kami tetap berbagi makanan tiap kali makan, tetapi belum ada ‘niatan penuh’ untuk menyiapkan makanan untuk si kucing. Keempat, kami merasa berdosa kepada kucing. Kami merasa bersalah tiap kali kami kenyang, tetapi si kucing tidak. Atas dasar empat kegelisahan itulah, kami yakin akan memulai membeli makanan kucing secara rutin.

Kali pertama masuk ke petshop, ada rasa senang di hati. Aku tidak menyangka rasanya akan sesenang ini datang ke toko pernak-pernik hewan. Ternyata seru sekali melihat kandang, tempat makan, tempat minuman, macam-macam jenis makanan, dan perlengkapan hewan lainnya. Dan tiba-tiba kami menjadi tidak sabar ingin segera memberi makan si kucing wkwk

Setelah berkeliling petshop, kami memilih makanan merk maxi ukuran kecil. Harganya 30.000. Kami juga membeli tempat makan kucing yang juga ukuran kecil. Harganya 20.000. Untuk pengalaman pertama ini, kami memilih yang murah saja untuk mencegah kemubaziran. Mungkin nanti bila makanan ini habis, kami akan mencari tahu tips and trick memilih makanan kucing yang lebih baik.

Sampai di rumah, si kucing sedang santai di teras. Kami segera menghampiri dan mengeluarkan makanan si kucing. Kami juga mencoba mencium aroma makanan tersebut. Ternyata harum ikannya kuat sekali. Pantas saja si kucing menggigiti plastik pembungkus makanan itu. Mungkin ia begitu tergoda dengan harum ikannya.

Kami menuangkan makanan hingga tempat makan kucing terisi penuh. Kami juga memberikan semangkuk air di sisi kiri. Tanpa menunggu dipersilakan, si kucing segera menyantapnya. Ia lahap sekali :’) aku lega melihat ia makan selahap itu. Adikku Niar bahkan menitikkan air mata hahaha katanya, ia seperti melihat anaknya sendiri yang sedang makan. Ia senang sekaligus sedih. Senang karena akhirnya si kucing bisa makan dengan leluasa. Sedih karena ia kasihan sama si kucing. Saat diberi makan, si kucing terlihat begitu kelaparan. Ia juga sedih karena baru mampu memberi makan si kucing dengan sungguh-sungguh seperti ini. Aku pun setuju dengan perkataannya. Aku juga merasakan hal yang sama seperti dirinya. Maafkan kami, kucing.

Karena telah memutuskan memberi makan kucing, kami pun harus tahu bagaimana aturan memberi makan si kucing. Informasi yang kami dapat dari teman Niar, temannya ini biasa memberi makan kucing sehari dua kali yaitu, pagi dan sore. Itu pun dengan syarat, satu tempat makan kucing terisi penuh. Bila tidak penuh, maka kita memberi makan kucing tiga kali sehari. Kami akan mengingat dengan baik informasi itu. Terima kasih, informasinya, Arin πŸ™‚

Beberapa hikmah yang kami dapat setelah memiliki makanannya sendiri, si kucing tidak lagi menganggu kami ketika makan. Ia juga tidak mencuri makanan lagi. Bahkan jika kami meletakkan makanan sembarangan, ia hanya menoleh sebentar, kemudian segera pergi lagi.

Malunya diri ini. Aku malu karena pernah begitu kesal terhadap kucing. Aku kesal karena ia sering mencuri makanan. Padahal, mana tahu si kucing mencuri itu tidak baik. Ia hanya sedang lapar saja dan kebetulan kami tidak menyimpan makanan dengan rapi. Ia hanya sedang lapar saja dan saat itu kami tidak memberikan makanan dengan cukup. Wajar saja ia mengambil makanan kami. Sekali lagi, maafkan kami kucing. Semoga kami istiqomah berbagi. Sehat selalu ya, kucing 😊