Bila Cleaning Service Tak Ada, Kita Bisa Apa?

Pagiku di tempat kerja selalu menyenangkan. Salah satu alasannya adalah karena Bu RiRi. Berkat ibu, ruanganku harum sekali. Toiletnya tidak bau lagi. Lantainya bersih. Plastik tong sampah selalu rutin diganti. Wastafel bersih. Tissue dan hand soap selalu terisi. Kaca ruangan gymnasium juga selalu berkilau. Pokoknya semua bersih! Aku berterima kasih sekali pada Bu Riri.

Bu Riri adalah cleaning service (CS) baru di ruanganku. Sebenarnya Bu Riri bukan karyawan baru. Bu Riri adalah penanggung jawab CS di RS tempatku bekerja. Namun, karena ada banyak keluhan tentang ruanganku yang ‘katanya’ sulit sekali dibersihkan, Bu Riri pun memutuskan untuk turun langsung ke lapangan untuk mencoba. Hebat ya!

“Assalammu’alaikum, Bu Riri. Selamat pagi ibuuuuuuuu.” aku menyapa ibu dengan senyum ceria. Mungkin dalam hati, Bu Riri bingung, ada apa denganku. Mengapa senyumku selebar dan suaraku sebahagia ini. Mengapa aku menatapnya begitu penuh cinta hahaha

Pada hari yang lain.

“Mbak, Bu Riri mana?” tanyaku pada petugas kebersihan yang sedang menyapu di depanku.

“Ada mbak, di dekat toilet tuh.” jawab si mbak singkat.

“Buuuuuuu, Shinta kangen nih bu. Nyariin Bu Riri melulu.” ledek Pak Sanusi si kepala ruanganku.

“Eh iya kenapa Mbak Shinta?” jawab Bu Riri dengan wajah bingung.

“Hahahaha nggak apa-apa bu. Mau liat ibu aja. Kan kangen. Aku mah nggak bisa jauh dari Bu Riri pokoknya.” candaku.

“Hahaha Mbak Shinta mah.” ibu tertawa malu sambil perlahan pergi melanjutkan pekerjaannya.

Mungkin orang lain akan bingung mengapa aku begitu senang terhadap Bu Riri ini. Tetapi, aku benar-benar bersyukur Bu Riri bekerja di tempatku.

Mengamati cara Bu Riri bekerja aku semakin yakin perkataan dosen saat di kampus dulu. Katanya, kemudahan kita bekerja sehari-hari adalah hasil dari bantuan orang-orang di sekeliling kita. Tanpa mereka kita bukan apa-apa.

Aku merasakan sendiri kebenaran perkataaan beliau. Berkat kerajinan Bu Riri, ruanganku bersih dan wangi sekali. Karena Bu Riri pekerjaanku pun berjalan lancar.

Hampir satu tahun bekerja di rumah sakit ini, ada beberapa hal yang mengganjal di hati. Tentang kebersihan poli tempatku bekerja. Banyak orang mengeluh tentang ruanganku. Bau toilet menguap hingga ke ruangan tenpat pasien menunggu. Banyak dugaan muncul. Apakah ada masalah pada toilet. Atau ada masalah pada wastafel. Sampai-sampai petugas teknisi mengecek semua itu. Hasilnya, semua dalam keadaan normal. Masalah bau pun tak kunjung ditemukan.

Kosong atau tidak plastik tong sampah sangat berpengaruh pada pekerjaanku. Salah satu tindakan yang aku kerjakan adalah menggunakan gel seperti saat USG kehamilan. Setelah tindakan, gel harus dibersihkan menggunakan tissue. Tissue pun kami buang ke tong sampah.

Sebelum Bu Riri datang, seringkali kami bingung saat ingin membuang tissue karena plastik tong sampah penuh. Akhirnya, kami pun harus mencari-cari CS atau menelepon penanggung jawab CS bila petugas CS ruanganku tak ada. Mencari CS saat pelayanan ternyata lumayan menyulitkan.

Ketika ada pasien anak muntah saat latihan dan CS tidak standby di ruangan juga cukup menyulitkan kami. Waktu yang seharusnya kami gunakan untuk melatih pasien akan sedikit tersita untuk mencari-cari CS.

Yang sangat berbahaya adalah saat ada pasien yang menumpahkan air di ruang tunggu. Bila CS sulit dicari, meskipun sudah memasang penanda ‘wet floor’, kami harus tetap mengingatkan pasien untuk berhati-hati. Kegiatan seperti itu juga cukup menyita waktu kami yang seharusnya bisa digunakan untuk memerhatikan pasien yang sedang diterapi. Peran CS benar-benar besar di poliku.

Di rumah sakit (RS) tempatku bekerja sebelumnya, RS bekerja sama dengan perusahaan kebersihan. Pemiliknya adalah orang luar negeri. Aku lupa asalnya dari mana. Motto perusahaan itu adalah tidak boleh ada kotoran sedikit pun yang terlihat oleh mata.

Aku tahu hal ini karena pernah mengobrol dengan Agus salah satu CS yang bekerja di perusahaan itu. Kebetulan, saat itu Agus bertugas di ruanganku. Agar kebersihan selalu terjaga, bahkan si Agus ini tidak boleh duduk selama jam kerja. Bila ketahuan duduk, ia akan mendapat hukuman yang cukup berat dari perusahaan. Mendapat surat peringatan atau pemotongan gaji, misalnya.

Aku ingat betul saat Agus kutawarkan sepotong kue. Ia harus bersembunyi di area tanpa CCTV supaya tidak ketahuan. Ketat betul aturan perusahaan itu. Oleh karena itu, Agus selalu tampak di sekitarku. Entah ia sedang menyapu, mengepel, atau mengelap debu.

Melihat Agus bekerja sekeras itu aku merasa kasihan. Aku bisa duduk kapan saja bila lelah, tetapi Agus tidak bisa. Aku bisa memakan camilan bila lapar, tetapi Agus tidak boleh. Tetapi, aku senang dan bersyukur merasakan hasil pekerjaan Agus. Berkatnya, aku nyaman sekali selama bekerja. Kebersihan ruangan benar-benar membantuku bekerja. Pelayanan tidak pernah terganggu.

Berbeda dengan RSku dulu, RSku saat ini tidak bekerja sama dengan perusahaan luar negeri untuk tenaga CS. RS merekrut sendiri SDM untuk CS. Aku tidak mengerti mengapa perbedaannya benar-benar terasa. Apakah sistemnya berbeda, atau memang individunya saja yang tidak menjalankan pekerjaan sesuai prosedur. Sehingga tidak bisa menjaga ruangan kebersihan dengan baik. Fakta lapangan yang aku tahu, Bu Riri dan petugas CS sebelumnya adalah sama-sama karyawan RS. Namun, cara kerjanya benar-benar berbeda.

Aku mungkin adalah satu dari banyaknya orang yang merasakan dan menyadari betul manfaat tentang kebersihan ruangan. Maka, kehadiran Bu Riri yang begitu rajin sangat membuat hatiku senang. Apalagi masalah kebersihan ini benar-benar mengganggu sejak lama. Kehadiran Bu Riri benar-benar kunanti hehehe

Karena terlalu ‘ngefans’ dengan cara kerja Bu Riri aku pernah bertanya ke ibu,”Bu, ini toiletnya ibu bersihin pake apa? Kok wangi banget bu? Ini kali pertama toiletnya sewangi ini lho bu.

“Itu pake pengharum toilet yang digantung di dinding aja, Mbak Shinta.” jawab Bu Riri.

“Masa sih bu? Dari dulu juga pake kamper kaya gitu kayaknya bu. Tapi nggak pernah wangi kayak gini.”

“Aku gosokin semua area mbak. Semua celah deh pokoknya. Kotor itu emang bikin bau mbak.” jawab ibu.

“Oh gitu, keren ibu. Makasih ya, Bu Riri. Yaudah, aku ke dalam ya bu. Mari buuu.” aku berterima kasih sambil tersenyum dan melanjutkan pekerjaanku.

***

Sesekali, coba amati CS di kantormu. Kalau bertemu CS yang rajin sebaiknya ucapkan terima kasih. Jangan lupa juga beri sapa dan seyum tiap kali bertemu. Kantor yang kotor dan bau akan mengganggu kita bekerja, sungguh.

Percaya, sehebat apapun kita bekerja, tanpa hadirnya CS yang membantu, akan menyulitkan urusan kita. Mungkin pekerjaan akan tetap selesai juga. Tetapi, ruangan yang tidak nyaman akan sangat menghambat kita bekerja. Tanpa mereka, apa jadinya kita?

Advertisements

Januariku

Sebaik-baiknya sikap terhadap diri sendiri kurasa adalah mengapresiasi diri.

Bulan Januari selalu spesial. Karena pada bulan ini mama melahirkan anak pertamanya yaitu, aku. Bila tiba tanggal itu, betapa bahagianya aku. Aku diberi kesempatan untuk hidup. Dan aku dilimpahkan banyak doa baik dari keluarga dan sahabat tersayang.

Menyadari bahwa masih ada orang-orang terdekat masih mengingat, aku bersyukur dan berterima kasih akan itu.

Beberapa ada yang mengucapkan dan mendoakan tepat waktu.

Beberapa ada yang meminta maaf karena terlambat mengucapkan dan mendoakan.

Tak pernah ada kata terlambat untuk doa-doa yang terapalkan. Bukankah bulan dan tanggal kelahiran hanya momen semata? Doa kapanpun bisa kita rapalkan untuk orang-orang tersayang.

Tentang Kesyukuran Selama Tahun 2018

Tahun 2017 adalah tahun pertama setelah aku pulang dari ngekos. Selama satu tahun, waktuku lebih banyak dihabiskan bersama keluarga. Pulang kerja, langsung pulang ke rumah. Libur akhir pekan, aku juga memilih berada di rumah. Keluar rumah pun tetap bersama keluarga. Entah makan bersama atau aku meminta ditemani adik membeli kebutuhan sehari-hari. Saat itu, aku rindu sekali dengan rumah dan keluargaku.

Berbeda dengan tahun 2018. Selama 2018, aku mulai melakukan beberapa kegiatan di luar rumah seperti, hadir dalam liqo dan kajian pekanan, hadir dalam seminar Teman Bicara, berpartisipasi menjadi kakak mentor pesantren anak, bekerja di luar Depok (lagi), bertemu secara rutin dengan sahabat, ikut arisan, dan berkenalan dengan teman-teman baru. Tetap konsisten melakukan kegiatan itu semua, aku berterima kasih pada diriku sendiri. Meskipun tahun 2018 belum terlalu banyak mengikuti kegiatan relawan, aku tetap bersyukur. Terima kasih Shinta telah bergerak mencoba.

Dalam hal mengelola emosi, tahun 2018 juga menjadi saksi betapa aku berjuang mengendalikan diri.

Berikut ada beberapa hal yang aku pelajari yaitu, menjaga diri agar tidak marah. Meskipun sulit, aku harus bisa. Terutama terhadap orang-orang terdekat. Terkadang, mengendalikan diri di luar rumah lebih mudah dibandingkan di rumah sendiri. Karena kita merasa, bagaimana pun keadaan kita, keluarga akan selalu menerima. Jadilah kita bertindak semena-mena 😦

Menjadi terlalu peka dan perhatian terkadang harus dikondisikan. Sebab, ada hal-hal memang bukan dalam kendali kita. Kita harus sadar, tidak semua hal dapat diselesaikan oleh diri sendiri. Ada sosok lain yang lebih bertanggung jawab untuk perihal itu.

Bersikap manis itu tak ada salahnya. Menunjukkan wajah senyum ramah, menebarkan sapa dan salam, tertawa sekadarnya, dan memberikan intonasi suara yang bersahabat. Bukankah setiap manusia selalu senang diperlakukan dengan manis?

Mengalah demi kebaikan bersama sungguh tak apa. Toh, mengalah tak akan membuatku sakit kepala. Terkadang, yang membuat aku begitu egois adalah keinginan untuk dihargai lebih dulu. Padahal, saat itu yang terpenting bukan itu. Yang paling penting adalah bagaimana cara memperbaiki hubungan yang sedang renggang.

Tetap berada di koridor baik meskipun berada pada koridor yang salah. Seringkali kejadian menyakitkan membuat aku kehilangan kewarasan. Aku lupa sikap baik apa yang sebaiknya dilakukan pada kondisi ini. Aku lupa prinsip ‘tetap menjadi baik meskipun diperlakukan tidak baik’. Aku belajar, bagaimana menjaga kesadaran apapun keadaannya. Aku belajar, bagaimana menjaga identitas diri apapun kondisinya.

Jangan terbuai dengan kenyataan. Seringkali kenyataan membuat kita terlalu yakin bahwa situasi akan berjalan sesuai prediksi. Apa yang kita amati, lihat, dan rasakan memang seringkali terasa begitu nyata. Seolah-olah kita yakin dengan masa depan. Pikiran yang visioner sering kali mengaitkan kenyataan dengan harapan. Bila kenyataan dan harapan berjalan beriringan, oh sungguh bahagianya diri. Meskipun beriringan, padahal tidak ada yang tahu bagaimana takdir esok hari. Bisa jadi buruk, bisa jadi baik.

Manusia tidak pernah tahu apa yang akan terjadi esok hari. Semua hanya Tuhan yang tahu. Oleh karena itu, jika tidak ingin kecewa, tautkan semua harapan dan mimpi hanya pada-Nya.

Sebaik-baiknya sikap terhadap diri sendiri kurasa adalah mengapresiasi diri.

Maka aku ingin mengapresiasi diri. Terima kasih banyak, Shinta. Terima kasih telah melakukan banyak hal baru, terima kasih telah memutuskan untuk kuat dan tegar, terima kasih telah berbaik sangka, terima kasih telah berusaha memperbaiki diri, dan terima kasih karena memilih berjalan meskipun banyak kesempatan untuk berhenti.

Hikmah Satu Bulan Tanpa Ayah

Ayah yang biasa membantu segala keperluan, harus absen selama satu bulan karena keperluan pendidikan. Alhasil, kami harus bertahan satu bulan di rumah tanpa sosok ayah. Kami harus bertahan satu bulan di rumah, tanpa peran ayah. Rasanya seperti apa? Rasanya sungguh sedih dan kehilangan. Ah, mengapa menusia selalu saja begini, baru merasakan pentingnya seseorang ketika orang tersebut menghilang? Baru mensyukuri kebaikan seseorang ketika orang tersebut pergi? Apakah harus merasakan kehilangan dahulu, baru setelahnya kita memiliki hati yang peka? Ah dasar manusia. Ah dasar aku.

Banyak ketidakeraturan hadir ketika ayah tak ada di rumah. Banyak kegamangan hadir ketika ayah tak ada. Banyak kekhawatiran hadir ketika ayah jauh dari sisi kami. Banyak kecemasan hadir ketika ayah tak disini. Kami tidak merasa tenang tanpa ayah di rumah. Mungkin kami tidak bisa jauh dari ayah. Kata orang, bisa karena kita terbiasa. Tetapi aku tak yakin perkataan orang tersebut. Sebulan terbiasa tanpa ayah, nyatanya kami tetap saja tidak terbiasa. Seperti ada yang hilang. Kami tidak lengkap tanpa hadirnya ayah.

Merasakan ketidakhadiran sosok ayah dalam keluarga membuat aku sadar mengapa setiap manusia harus menikah. Manusia membutuhkan manusia lainnya untuk saling membantu. Manusia membutuhkan manusia lainnya untuk bekerja sama. Manusia membutuhkan manusia lainnya untuk saling menguatkan.

Istri yang begitu mudah menggunakan perasaannya, hingga terkadang hal tersebut menyulitkan dalam menyelesaikan setiap masalah. Suami yang begitu mudah menggunakan logika, terkadang hal tersebut menyulitkan dalam memahami perasaan orang lain. Suami dan istri bersama untuk saling melengkapi kan? Allah Maha Tahu segala kelebihan dan kekurangan ciptaan-Nya. Sungguh indah dan sempurna segala ketentuan Allah :’)

Pelajaran terbaik memang mendapat hikmah dari sebuah kehilangan. Namun, jika mau mengusahakannya, kita bisa mendapatkan hikmah tanpa harus merasakan kehilangan dahulu. Melihat kekurangan orang lain memang lebih mudah daripada melihat kebaikan. Karena pada dasarnya manusia lebih sering melihat kekurangan dibandingkan nikmat. Tetapi, jika mau, kita bisa kok melihat kebaikan-kebaikan orang lain. Ada banyak nikmat dan kebaikan yang patut kita syukuri.

Ada banyak hal sederhana yang sering orang lain lakukan, tapi kita selalu saja salah fokus dalam memandang. Misalnya, daripada mengomentari rasa pedas yang begitu menyengat lidah, bagaimana kalau kita berterima kasih dan memuji cita rasa makanan itu dahulu? Daripada mengomentari keterlambatan seseorang, bagaimana kalau kita berterima kasih atas kebaikannya meluangkan waktu? Daripada mengomentari hadiah seseorang karena tidak sesuai selera kita, bagaimana kalau kita berterima kasih dahulu atas perhatian yang diberikan? Dengan melakukan semua itu, kita akan terlatih untuk menghargai tindakan orang lain. Hati kita akan lebih peka untuk melihat kebaikan. Dan akhirnya, kita akan menyadari pentingnya kehadiran seseorang dalam hidup kita.

Aku belajar dari kehilangan. Banyak hal sederhana ternyata telah luput dari perhatian. Hal sederhana yang sebenarnya memiliki arti sangat bermakna. Hal sederhana yang baru kusadari ketika ayah pergi. Ayah yang tak pernah absen membangunkan ketika waktunya shalat subuh. Ayah yang selalu mengingatkan ketika aku meletakkan sesuatu bukan pada tempatnya. Ayah yang selalu mengingatkan agar menyiapkan segala keperluan jauh-jauh hari keberangkatan. Ayah yang selalu memanaskan mesin motor sebelum aku berangkat kerja. Ayah yang selalu memastikan bensin motor penuh ketika ingin digunakan. Ayah yang selalu duduk di teras ketika aku tak juga sampai rumah hingga larut malam. Ayah memberi begitu banyak, kan? Semua itu luput dari perhatian. Hingga tak sempat mengatakan terima kasih. Hingga tak sempat mensyukuri.

Seringkali aku, kamu, dan kita tidak menghargai tindakan orang lain karena terlalu terbiasa merasakan. Seringkali aku, kamu, dan kita, merindui hal-hal sederhana itu, ketika kehilangan.

Semoga kita tidak seperti itu lagi. Sebab, tentang sebuah kehilangan, tak pernah ada yang bisa menjamin ia akan kembali. Syukur-syukur ia bisa kembali dan kita dapat berterima kasih lagi. Jika tidak, yang kita dapat hanya sebuah penyesalan. Penyesalan yang tak akan hilang meskipun berkali-kali menyembuhkan diri.

Apa Peran Orang Lain untuk Hidup Kita?

“Kemudahan hidup kita hari ini adalah berasal dari ketentuan-Nya, usaha diri sendiri, dan dari peran orang-orang di sekitar kita.”

“Lho, peran orang-orang di sekitar?  Iya, betul. Mau tahu buktinya tidak? Saya akan bercerita ya. Setiap pagi, ketika datang ke kampus, saya membiasakan diri untuk mengucapkan terima kasih kepada cleaning service yang bertugas membersihkan kelas. Saya menyadari, berkat bantuannya, saya bisa mengajar dengan nyaman tanpa harus melihat kelas yang kotor atau menghirup aroma yang tidak sedap.”

“Banyak peran orang lain dalam kehidupan yang kita tak sadari kehadirannya. Padahal, begitu banyak manfaat yang kita rasakan. Sebagai contoh, ketika Air conditioner kantor rusak, namun teknisi tak kunjung datang karena banyak pekerjaan yang harus ia kerjakan. Saat itu, kita baru menyadari pentingnya teknisi dalam hidup kita. Padahal, sudah bertahun-tahun kita merasakan sejuknya air conditioner di kantor, kan? Manusia memang begitu. Baru merasakan pentingnya seseorang ketika kita kehilangan. Oleh karena itu, baik-baiklah kepada orang-orang di sekeliling kita. Mereka sungguh berkontribusi banyak atas kemudahan hidup kita.”

Kalimat di atas adalah nasihat Pak Darmansyah dosen saat kuliah dulu. Pak Darmansyah senang sekali bercerita. Isi ceritanya selalu mengandung rasa syukur. Si bapak senang menulis dan memiliki blog  Kategori blognya bervariasi seperti, materi perkuliahan, lirik lagu yang paling beliau senangi, dan cerita tentang kehidupannya. Dari blognya, kita akan tahu beliau sangat menikmati dan mensyukuri kehidupannya.

Bapak Darmansyah banyak sekali memberikan nasihat tentang hidup melalui cerita. Saya senang mendengarkan beliau bercerita. Oleh karena itu, ketika beliau mengajar tak pernah sedikit pun perhatian saya teralihkan dengan hal yang lain. Yang paling berkesan dan tak pernah terlupakan adalah perkataan beliau yang saya tuliskan di atas. 

Setelah mendapat nasihat Bapak Darmansyah, saya mencoba memikirkan kembali hal-hal yang telah terjadi. Dan saya tersadar, ternyata ada banyak kemudahan yang kita rasakan karena bantuan orang lain. Contoh paling dekat dengan kita adalah ibu yang membuatkan sarapan di pagi hari. Sudah merasakan kemudahannya? Sudah bersyukur? Atau belum? Jika belum, coba bayangkan ibu tidak menyiapkan sarapan untuk kita di pagi hari. Apa yang terjadi? Kita harus membeli sarapan dulu. Kita harus merelakan beberapa menit untuk menunggu antrean di warung ibu nasi uduk. Karena menunggu antrean terlalu lama, kita pun terlambat untuk naik kereta. Terlambat beberapa detik naik kereta, itu artinya kita harus menunggu beberapa menit lagi.

Lalu, ketika kereta datang, kita harus naik kereta dalam keadaan penuh dan padat. Sekarang, sudah terasa perbedaan antara dibuatkan sarapan oleh ibu dan tidak dibuatkan? Faktanya, kehadiran ibu menyiapkan sarapan berperan penting dalam memudahkan aktivitas kita di pagi hari. Berkat ibu, kita tak perlu membeli sarapan. Tak perlu antre di warung ibu nasi uduk. Kita juga bisa segera tiba di stasiun kereta lebih cepat. Dan kita tidak perlu merasakan penuh dan padatnya kereta. Kenyataannya, seringkali kita tak menyadari peran penting ibu ini dalam kehidupan :’)

Banyak peran-peran orang lain juga luput dari ingatan.

Bagaimana peran abang gojek yang membantu kita agar sampai kantor dengan cepat? Bagaimana peran bapak satpam kantor yang setiap pagi tak pernah bosan menyapa kita dengan kalimat “selamat pagi”? Bagaimana peran rekan sejawat atau rekan kerja yang membuat pekerjaan kita menjadi lebih ringan? Bagaimana peran ibu dan bapak kantin yang begitu rajin memasak dan menyiapkan banyak makanan supaya kita bebas memilih? Bagaimana peran cleaning service yang membersihkan setiap ruangan sehingga kita merasa nyaman berada di dalamnya? Bagaimana peran office boy yang seringkali membantu membelikan kebutuhan tiap kali kita membutuhkan pertolongan? 

Mereka adalah orang-orang yang membantu kita dalam menjalani hari. Mereka adalah orang-orang yang memudahkan urusan kita. Mereka adalah orang-orang yang meringankan beban yang sedang kita pikul. Namun, karena terjadi setiap hari, kita merasa biasa saja. Kita merasa perbuatan mereka itu hal ‘wajar’ yang seharusnya memang dilakukan setiap orang. Hal wajar karena memang itu ‘tugasnya’. Tidak ada yang istimewa.

Semoga kita tak memiliki pemikiran seperti itu lagi. Kita tidak peka atas kebaikan orang lain dan terlalu sensitif atas kesalahan orang lain. Semoga kita tidak melakukan itu lagi. Nyatanya, jika diuraikan seperti pertanyaan di atas, sudah banyak sekali kita menerima kebaikan orang lain, kan? Sudah banyak sekali kita menerima manfaat dari peran-peran orang lain, kan? Sudah banyak sekali kemudahan yang kita rasakan, kan? Semoga kita sadar dan segera menghargai peran orang lain.

Menyadari peran orang lain banyak berkontribusi dalam kemudahan hidup, semoga kita semakin rendah hati. 

Menyadari peran orang lain banyak memberikan kelancaran hidup, semoga kita juga termotivasi untuk menjalani peran dengan baik setiap hari.

Bukan kita yang hebat, tetapi banyak orang di sekitar kita yang menjalani peran dengan baik dan membantu. Bukan kita yang hebat, tetapi Allah yang memudahkan urusan kita.

Cerita: Saya Suka Baris Berbaris

Foto ini diambil saat acara ulang tahun Kota Depok ke 19. Saya senang sekali bisa foto bersama adik-adik paskibra Kota Depok πŸ™‚

​Saat sekolah dasar, saya menyukai kegiatan baris berbaris. Karena suka, saya menjadi bersemangat dan tidak merasa terbebani saat mempelajarinya. Dahulu, di sekolah dasar negeri (SDN) belum banyak ekstrakurikulernya. Hanya ada ekstrakurikuler (ekskul) pramuka saja. Pada saat itu, ekskul pramuka adalah kegiatan yang paling diminati oleh anak-anak. Selain diminati, ekskul pramuka juga sangat aktif. Banyak sekali kegiatan yang dilakukan seperti latihan rutin di akhir pekan, perkemahan sabtu minggu, dan perkemahan bersama siswa SD se-kota Depok.

Latihan pekanan merupakan saat-saat yang dinantikan. Karena menurut kami, seluruh kegiatan pramuka itu seru! Bernyanyi bersama, latihan baris berbaris, belajar menggunakan bendera semaphore, belajar membuat patok, belajar membuat simpul, dan masih banyak kegiatan menyenangkan lainnya. Bagi saya, diantara semua kegiatan pramuka, latihan baris berbarislah yang paling saya gemari. Lho kok bisa? Bukankah latihan baris berbaris melelahkan? Iya benar melelahkan, tetapi keren. Menurut saya, ketika mereka mampu berdiri sikap sempurna dengan tegap, itu keren. Ketika mereka melakukan gerakan baris berbaris dengan power yang baik dan tidak malas-malasan, itu keren. Ketika mereka melakukan gerakan baris berbaris dengan kompak, itu keren πŸ˜€

Saat sekolah menengah pertama (SMP), masa orientasi kehidupan di SMP juga dilakukan. Salah satu kegiatannya adalah demo esktrakurikuler. Jadi, setiap ekskul melakukan penampilan sesuai peminatannya. Penampilan tersebut bertujuan untuk memperkenalkan ekskul-ekskul di sekolah sekaligus mencari anggota baru. Tidak seperti di sekolah dasar (SD), di SMP, ekskulnya sangat beragam. Dari ekskul baris berbaris, seni tari, seni bela diri, sanggar bahasa, hingga kegiatan keagamaan juga ada. Sebagai anak-anak yang sedang menuju masa remaja, saya bersemangat sekali. Dan semakin bersemangat saat menyaksikan demo ekskul paskibra. Saat menyaksikannya, saya seperti tidak berkedip dan pertanyaan-pertanyaan bermunculan dalam pikiran. Bagaimana cara berbaris dengan benar dan kompak seperti itu? Bagaimana cara mereka menghafalkan gerakan-gerakan sebanyak itu? (Sebab, saat SD, yang saya ketahui adalah baris berbaris hanya melakukan hadap kanan, hadap kiri, balik kanan, istirahat di tempat, lencang depan, dan lencang kanan saja). Dan, seragam yang mereka gunakan juga keren sekali. Seragam membuat mereka tampak gagah. Kesan pertama tentang paskibra saat itu adalah kompak, rapi, teratur, dan keren. Tanpa pikir panjang, saya langsung mendaftar ekskul paskibra! Singkat cerita, Alhamdulillah, saya aktif dalam kegiatan tersebut selama tiga tahun penuh. Alhamdulillah, banyak sekali manfaat yang didapatkan. Terutama untuk mental, kerapihan, dan kedisiplinan.

Saat sekolah menengah atas (SMA), saya tidak lagi mengikuti ekskul paskibra. Padahal, saya memiliki mimpi ingin menjadi pasukan pengibar bendera pusaka. Namun, setelah menyaksikan penampilan tari saman, ekskul tari saman selalu menari-nari dalam pikiran. Gerakan yang cukup menantang pada tarian itu dan kekompakan para penari memperkuat alasan mengapa saya harus ikut ekskul tari saman. Menimbang kondisi saat itu, mengikuti dua ekskul sekaligus tidak mungkin dilakukan. Karena jarak rumah dan sekolah cukup jauh, hal itu juga mengharuskan saya memilih diantara dua ekskul tersebut. Keputusan pun dibuat. Tari saman menjadi pilihan. Tetapi, paskibra tetap memiliki tempat khusus dalam hati saya.

Saat kuliah, istilah ekskul tak lagi digunakan. Untuk kegiatan yang memfasilitasi minat dan bakat, biasa disebut Unit Kegiatan Mahasiswa. Saat masa orientasi kehidupan kampus, diadakan lagi demo Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM). Kami dibebaskan untuk memilih. Semakin tinggi jenjang pendidikan, ternyata semakin banyak pula pilihan UKM untuk mahasiswa. Wah, saya benar-benar takjub dan bangga melihat mahasiswa-mahasiswa memberikan penampilan. Kala itu, UKM marching bandΒ cukup membuat jantung saya berdetak lebih cepat. Penampilan mereka membuat perhatian saya tak teralihkan. Kekompakan mereka membuat saya merinding takjub. Kerapihan mereka dalam berpakaian membuat saya respek. Dan yang membuat marching band semakin keren, perpaduan antara baris berbaris dengan permainan alat musik dan tari, membuat penampilan mereka menjadi sangat luar biasa πŸ™‚ Akhirnya, saya memutuskan bergabung dengan UKM marching band. Saya mendapat tugas memainkan alat musik trompet. Meskipun hanya bergabung selama satu tahun saja, pernah menjadi bagian dari marching band adalah pengalaman yang tak terlupakan dan sangat disyukuri. Menggabungkan baris berbaris, musik, dan tari ternyata tak mudah. Agar menghasilkan penampilan yang bagus, dibutuhkan tanggung jawab dan kedisiplinan yang tinggi. Saya ingat betul bagaimana rasanya latihan wajib dua kali seminggu selama lima jam. Dan latihan tambahan dihari lain untuk latihan trompet. Demi menghasilkan yang terbaik, dibutuhkan perjuangan dan pengorbanan yang totalitas πŸ™‚

Dan, saya pun dapat memberikan kesimpulan. Entah itu paskibra, tari saman, atau marching band, mereka memang memiliki banyak perbedaan. Namun, mereka juga memiliki beberapa kesamaan yaitu, kegiatan yang membutuhkan kesabaran, kedisiplinan, kerja sama, dan tanggung jawab. Kesabaran untuk belajar dan mengajarkan materi ekskul. Kedisiplinan menggunakan waktu dan kesempatan. Kerja sama untuk saling membantu dan menopang. Tanggung jawab untuk memberikan yang terbaik. Tanpa keempat hal itu, tak akan tercipta penampilan harmoni yang dapat kita lihat, rasakan, banggakan, dan syukuri.

Persahabatan Terjadi Begitu Saja

Bercerita menjadi sebuah kebutuhan. Karena, saat kita bahagia maka kebahagiaan akan berkali-kali lipat. Dan saat kita bersedih maka kesedihan akan berkurang. – Dela

​Kami adalah dua manusia yang dipertemukan oleh takdir. Sebab, asal muasal sebuah pertemuan memang bukan atas kehendak sendiri. Jika ada pertanyaan mengapa kita bisa bertemu, berkenalan, dan terus bersahabat, maka tidak ada alasannya. Semua terjadi begitu saja.

Jika ada yang mengatakan karakter dan kecenderungan yang sama adalah beberapa faktor yang membuat antar manusia semakin dekat mungkin benar. Saya mengalaminya.

Dela dan saya memiliki banyak perbedaan. Kenyataan itu sungguh wajar. Sebab, kami pun berasal dari dua keluarga yang berbeda. Kebiasaan yang dilakukan pun pasti berbeda. Selalu bersama bukan berarti kita sama, kan?

Waktu membuat kami saling mengenal. Saling mengetahui kesukaan. Saling mengetahui masing-masing ketertarikan. Saling mengetahui kebiasaan. Menyukai hal yang sama mungkin adalah hal pertama yang menghubungkan kami.

​
Awal masuk kuliah kami sama-sama mengikuti Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) yang sama, yaitu Marching Band. Jurusan dan UKM yang sama membuat kami sering pergi bersama. Tentunya sering pula kami makan bersama. Makan bersama adalah kegiatan yang membuka peluang besar untuk melakukan percakapan, kan? Saya yang banyak bicara dan Dela yang sedikit bicara membuat kami seperti paket komplit yang saling melengkapi. Meskipun baru mengenal Dela dan ia sedikit bicara, saya menyadari, melakukan kegiatan bersama Dela sungguh menyenangkan.

​Di awal menjalin pertemanan, meluangkan banyak waktu ternyata membuat hubungan semakin dekat. Mengenal orang lain membutuhkan waktu, kan? Yang membuat kami semakin dekat adalah kesamaan dalam meluangkan waktu. Kami adalah tipikal orang yang mudah meluangkan waktu untuk kawan. Berkat hal tersebut, banyak kegiatan kami lakukan bersama-sama. Jangan pernah meremehkan hal kecil. Hal kecil seperti makan bersama, mengerjakan tugas bersama, membantu teman yang kesulitan memahami materi, dan menemani teman yang membutuhkan, nyatanya mampu menyuburkan tali persahabatan.

​​Kenyamanan yang kami rasakan saat melakukan kegiatan bersama menumbuhkan rasa saling percaya. Maka, diawali dengan menyukai hal yang sama dan melakukan kegiatan bersama, membuat kami ingin berbagi cerita lebih sering dan lebih banyak. Tentang hal apapun.

Saya membutuhkan kawan. Saya membutuhkan sahabat. Begitu juga Dela. Bukan karena kami tidak mandiri dan saling ketergantungan, sama sekali bukan. Tentang kemandirian mungkin tak perlu diragukan lagi. Dela sejak sekolah menengah pertama sudah ngekos. Dan saya juga sudah terbiasa dibiasakan melakukan apa-apa sendiri oleh ayah. Kami berani dan cukup mandiri. Tapi, kami tetap membutuhkan sahabat.

Kami memahami bahwa semandiri apapun diri, tetap ada hal-hal yang perlu dibagi. Kami butuh berbagi suka dan duka. Kami butuh melepaskan segala sesak dihati. Kami butuh bercerita. Kami butuh didengarkan dan mendengarkan. Kami butuh ditolong dan menolong. Kami butuh belajar tentang hidup. Kami perlu belajar dari orang lain. Semua hal itu tak dapat dilakukan sendiri. Bersama sahabat kami bisa melakukan semuanya.

Daaaaan dia terlalu mencintai alam πŸ˜‚

​Hampir tujuh tahun lamanya kami bersama. Kebersamaan itu mengajarkan kami banyak hal. Belajar mengenal orang lain. Belajar hidup toleransi. Belajar memaafkan. Belajar memperbaiki kesalahan. Belajar menolong orang lain. Belajar untuk saling mengingatkan dan menasehati dalam kebaikan. Belajar mendahulukan kepentingan bersama dibandingkan kepentingan pribadi. Belajar memperbaiki sikap. Belajar menerima perbedaan. Belajar memiliki hati dan pikiran yang luas. Belajar menjadi bijaksana πŸ™‚

​​Saya bersyukur bertemu dengan orang-orang baik yang bersedia membersamai. Saya bersyukur bertemu Dela. Terima kasih telah menerima saya apa adanya. Semoga Allah menjaga persahabatan kita hingga ke surga-Nya. Ingatlah selalu, segala sesuatu perlu “diusahakan”. Selayaknya waktu. Tidak ada istilah sibuk. Yang ada adalah mau atau tidak memprioritaskan. Semoga kita selalu “berusaha” menjaga persahabatan ini. Semoga kita selalu menjaga tali persaudaraan iman ini. Aamiin

​​

Peminjam yang Bijaksana

Diri ini bukanlah milik kita. Seluruh bagian tubuh yang saat ini masih dapat kita raba dan rasakan, bukanlah milik kita. Seluruh fungsi tubuh yang dapat kita gunakan sehari-hari dengan sangat baik, bukanlah milik kita. Kemampuan diri ini untuk berpikir dan merasa, bukanlah milik kita. Kita hanya meminjam dari Sang Maha Kuasa. Bila saat ini status kita hanya sebagai ‘peminjam’, lantas tindakan apakah yang sebaiknya kita lakukan?

Bila saat ini kita sedang meminjam sebuah tas carrier untuk melakukan hiking, saat kali pertama menggunakan tentu rasnya begitu menyenangkan, bukan? Namun, ketika meminjam dalam jangka waktu yang lama, bukan hal yang sulit menemukan segala kekurangan atas tas tersebut. Lalu membuat kita tidak nyaman dan tidak puas. Seberapa pun bermanfaatnya tas, sebagai manusia normal pasti merasa kecewa dan tidak suka atas kekurangan. Apalagi bila membandingkan tas milik orang lain yang tampak lebih baik dibandingkan tas kita. Dan kita merasa, sebagai ‘peminjam’ dan memberikan biaya ‘peminjaman’, sangat pantas mendapatkan tas dengan kualitas yang lebih baik. Akhirnya, kita melupakan manfaat tas carrier yang sesungguhnya. Bukankah tanpanya kegiatan hiking kita tidak akan berjalan dengan lancar? Mana mungkin kita hiking menggunakan tas ransel biasa? Kita melupakan sisi baik dan manfaat tas hanya karena beberapa kekurangan. Seakan segala manfaat terhempas begitu saja tanpa sisa dan tidak membekas. Segala manfaat terlupakan. Sungguh tidak adil bagi tas carrier.

Diri ini bukanlah milik kita. Kita meminjam pada Allah. Namun, seringkali kita melupakan hakikat itu. Dengan mudahnya mencari-cari kekurangan diri. Dengan mudahnya mencari kelemahan diri. Dengan mudahnya melupakan segala kesempurnaan diri. Padahal, Allah menciptakan manusia dalam keadaan sebaik-baiknya. Padahal, sebagai ‘peminjam’, kita tidak perlu mengeluarkan biaya apapun kepada Allah ‘Sang Pemberi Pinjaman’. Bersembunyi dimanakah rasa syukur kita? Hingga benar-benar lupa.

Manusia tidak hanya diberikan akal dan fisik yang baik. Namun, semuanya dapat berfungsi dengan baik pula. Sehingga kita dapat menjalani kehidupan dengan mudah. Sungguh, tak akan bisa kita menyebutkan satu persatu segala karunia Allah yang tak terhingga itu.

Manusia harus mencintai dirinya dengan tulus, agar dapat menjadi manusia yang terbaik. Manusia harus pandai mengenali dirinya sendiri, agar dapat mengoptimalkan potensi diri. Manusia juga harus pandai mengendalikan diri sendiri, agar dapat membedakan hal baik dan buruk serta bertindak dengan bijaksana. Semua tergantung diri kita sendiri, ingin menjadi manusia yang seperti apa. Ingin menjadi ‘peminjam’ seperti apa. Bukankah segala hal yang dinikmati dalam diri ini pada akhirnya akan kembali kepada-Nya? Semua hanya sementara. Dan kita akan mempertanggungjawabkan segala perbuatan.

Semoga kita menjadi ‘peminjam’ yang bijaksana. Dan menyadari posisi diri. Kita hanyalah ‘peminjam’ dan Allah lah ‘Pemberi Pinjaman’. Sangat tidak bijaksana dan tidak adil jika kita hanya mementingkan segala kekurangan yang sesungguhnya hanya penilaian subjektif oleh diri kita sendiri. Manusia merasa kurang, sebab terlalu mengagumi dan menginginkan milik orang lain. Manusia tidak bersyukur, sebab kita melupakan segala nikmat yang Allah telah berikan.

Kapan terakhir kali kita memikirkan dan mengingat segala kemudahan dan kelancaran dalam hidup ini? Kapan terakhir kali kita memikirkan dan mengingat segala kebaikan Allah? Kapan terakhir kali kita memikirkan dan mengingat betapa banyak hal membahagiakan telah hadir dalam hidup ini? Ingatlah, sungguh kita akan merasa malu.

Menjaga Hati? Iya, wajib!

Berusaha menjaga hati adalah kewajiban. Berusaha membersihkan hati juga keharusan. Memang tidak mudah. Karena, sebesar apapun usaha kita untuk menjaga dan membersihkannya, ujian akan terus datang. Datang untuk menguji kekukuhan hati kita. Hati yang kukuh? Iya, kita perlu memiliki hati yang kukuh. Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia, kukuh adalah kuat terpancang pada tempatnya dan tidak mudah roboh atau rusak. Jadi, betapa pun beratnya ujian datang dan terus menerus menempa, hati kita harus kukuh. Hati kita harus kuat. 

Pepatah populer mengatakan,”Mensana in Corpore Sano, di dalam tubuh yang sehat terdapat jiwa yang kuat”, menurut saya memang benar adanya. Jiwa yang kuat akan membuat kita berpikir positif terhadap apapun. Karena pikiran adalah pusat yang mengendalikan tubuh kita, berpikir positif akan membuat organ dan sistem pada tubuh berfungsi dengan baik. Maka, tubuh kita akan sehat. 

Bagaimana kalau sudah berpikir positif namun tetap tidak sehat? Itu artinya kita perlu mengevaluasi kembali, mungkin saja ada pola hidup yang belum baik sehingga terjadi masalah pada salah satu organ atau sistem tubuh kita. Lalu, bagaimana bila sudah memiliki pola hidup yang baik namun tetap sakit? Itu adalah takdir Allah. Takdir yang mungkin saja saat ini belum dapat kita pahami dan rasakan manfaatnya, namun sudah pasti akan membawa kebaikan untuk hidup kita.

Berusaha menjaga hati dalam keadaan baik bukan semata-mata kewajiban dan keharusan tanpa sebuah alasan. Alasan utama adalah karena kita membutuhkannya. Kita butuh memiliki hati yang bersih. Kita butuh memiliki hati yang tenang. Kita butuh memiliki hati yang ikhlas. Kita butuh hati yang selalu berbaik sangka pada Allah. Demi memiliki fisik yang sehat. Demi memiliki kehidupan yang baik. Demi diri kita sendiri. Jangan merusak kehidupan kita sendiri hanya karena kita tak pandai menjaga hati. Hati dibiarkan begitu saja, kotor dan keruh. Lalu, berubah menjadi penyakit hati. Jangan sampai terjadi.

Memiliki hati yang baik akan memberikan banyak manfaat untuk kita, seperti mudah menerima kejadian menyakitkan yang hadir dalam hidup kita, mudah melihat sisi baik orang lain, mudah menerima nasihat dari orang lain, mudah menerima kritikan dari orang lain, mudah introspeksi diri, mudah untuk bersemangat kembali, dan yang paling penting kita menjadi mudah untuk bersyukur dan bersabar.

Pantas saja Allah memberikan pesan untuk kita, bila ingin memiliki hidup yang bahagia di dunia dan akhirat, maka bersyukur dan bersabarlah. Kedua hal tersebut ternyata sangat bermanfaat untuk hidup kita. Bersyukur membuat kita selalu sadar dengan banyaknya karunia yang Allah berikan dan membuat kita selalu berterima kasih kepada Allah. Bersabar membuat hati kita menjadi lapang, sehingga tak mudah menyerah dan putus asa ketika ujian datang silih berganti. Dan bersabar juga membuat kita mendapatkan hikmah dari setiap kejadian. Dengan begitu, kita akan terus berusaha menjadi pribadi yang baik setiap harinya.

Dengan mengetahui pentingnya menjaga hati dan begitu banyak manfaatnya, semoga kita lebih peduli tentang hati. Tidak hanya fisik saja yang disehatkan. Namun, hati juga perlu diperhatikan πŸ™‚ Karena hati adalah kunci yang menentukan bagaimana kita hidup.

Mudahkan kami menjaga hati yang bersih agar istiqomah dijalan-Mu, ya Allah. Dekatkan kami dengan orang-orang dan lingkungan yang baik. Aamiin.

Cerita: Terima kasih untuk Hadiah yang Super Manis Ini!

image

image

image

Di sebuah acara pernikahan sahabat saya. Maret 2017.

“Ini buat lo! Hadiah ulang tahun. Maaf telat banget!”

Kira-kira seperti itulah awalan percakapan kami. Seperti biasa, dengan caranya, dia menunjukkan perhatiannya. Tidak ada kata-kata manis dan langsung bicara ke intinya. Meskipun begitu, dia itu sangat perhatian. Saya mengenal dia dengan baik.

Namanya Anisa Hermala. Wanita tomboy tetapi memiliki kesukaan pada benda-benda yang wanita banget πŸ˜… Unik ya? Lihat saja pembungkus kado yang dia pilihkan itu. Perpaduan motif kotak-kotak dengan warna pink dan abu-abu terlihat manis sekali. Dia adalah sahabat saya. Sahabat memang tidak perlu dicari, akan bertemu dengan sendirinya tanpa pernah diduga. Biasanya, kemiripan pada beberapa hal akan menjadi awal untuk hubungan persahabatan yang manis. Awal kedekatan kami melalui drama korea! Kami berdua adalah pecinta drama korea. Kalau sudah diskusi tentang sebuah drama, wah bisa panjang urusannya. Bercerita satu atau dua jam tidak akan cukup πŸ˜… Untuk kadar cinta ke drama korea, Anisa lebih besar dan lebih cinta sih hahahaha dia lebih update drama korea dibanding saya.

Oke kembali ke pembahasan hadiahnya. Terima kasih untuk hadiah yang super manis. Semoga bisa menjadi wanita yang manis juga dan bisa memposisikan diri dengan pas disetiap situasi. Tentunya dengan perlengkapan yang kamu berikan itu πŸ˜€ Insya Allah bermanfaat!

Saya jadi malu. Rencana memberi hadiah kelulusanmu saja selalu tertunda. Dan sekarang, kamu malah memberikan hadiah lebih dulu πŸ˜‚ doakan saya agar segera menemukan hadiah yang sesuai dengan kebutuhanmu ya!

Sekali lagi, terima kasih, Anisaku!

Cerita: Aku Cemburu dengan Mereka

image

Aku cemburu.
Dengan mereka yang mengerti dan paham dengan baik tentang orang lain.
Hingga tahu apa yang menjadi kebutuhan.
Tanpa perlu diungkapkan dengan kata.

Aku cemburu.
Dengan mereka yang dengan murah hati dan selalu memberi.
Kepada siapapun yang mereka sayangi.
Tanpa pernah disesali.

Aku cemburu.
Dengan mereka yang memiliki hati tulus hati.
Memberi tanpa berharap kembali.

Terima kasih kepada mereka yang sangat baik hati.
Aku beruntung karena diberi kesempatan mengenalmu.
Aku beruntung karena diberikan sahabat seperti mereka.

Untuk sahabatku Dela Fariha Fuadi, terima kasih untuk kado ini.
Insya Allah bermanfaat πŸ™‚

image