Teman Hidup: Kesamaan “Nilai”?

Hidup Bukan Hanya tentang Diri Sendiri Saja

“Setiap orang memiliki definisi cinta sendiri.”

“Geum Hui melihat ke arah yang sama denganku.”

“Itu sebabnya kami tidak pernah berseteru saat berbicara.”

“Rasanya aku mendengar pendapatku sendiri melalui mulutnya.”

“Aku seperti melihat diriku yang lain.”

Perkataan di atas adalah pengakuan Ju Sang Won dalam drama Home for Summer.

Setelah adegan itu, ada rasa “klik” dalam hatiku. Seolah-olah aku mengatakan kata setuju berulang kali.

Aku sangat setuju dengan apa yang Ju Sang Won katakan. Iya, aku tahu percakapan ini hanya dalam drama. Dan sangat mungkin ceritanya hanya fiktif belaka. Namun, bukan itu intinya.

Fiktif atau tidak, poin yang menarik perhatianku adalah tentang nilai yang penulis sampaikan. Dalam percakapan Ju Sang Won dan temannya, penulis ingin memberitahu penonton bahwa kesamaan nilai adalah hal penting dalam sebuah hubungan.

Meskipun tidak diucapkan melalui kata, Ju Sang Won dan Wang Geum Hui percaya bahwa hidup bukan hanya tentang diri mereka. Ada banyak orang di sekeliling yang harus diperhatikan dan dijaga perasaannya. Maka, dalam mengambil keputusan pun mereka tidak hanya memikirkan diri sendiri saja. Mereka sangat hati-hati dalam bersikap agar tidak melukai orang-orang di sekitarnya.

Atas dasar kepercayaan itulah akhirnya Ju Sang Won dan Wang Geum Hui ingin hidup bersama. Seperti kata Ju Sang Won, ia seperti mendengar pendapatnya sendiri melalui perkataan Wang Geum Hui. Dan ia memiliki pandangan yang sama terhadap Wang Geum Hui.

Belajar dan Berproses Bersama

Ada cerita lain,

Kalau cerita tadi berasal dari drama, kali ini berasal dari cerita nyata Kak Vrina dan Kak Faldo.

Kak Vrina dan Kak Faldo adalah suami istri. Mereka satu almamater denganku. Meskipun kami tidak saling mengenal, entah mengapa aku selalu tertular energi positif tiap kali melihat unggahan mereka di instagram. Mereka super menginspirasi!

Kak Vrina adalah dokter sekaligus penulis buku. Kak Vrina rajin betul berbagi informasi. Tentang kesehatan, parenting, dan kemuslimahan. Gaya bicara yang lucu juga menambah daya tarik Kak Vrina ini. Sehingga memudahkan kami menyerap informasi ๐Ÿ˜Š kalau kamu ingin tahu informasi apa saja yang Kak Vrina bagi, coba buka instagram beliau di @davrinarianda.

Kalau Kak Faldo, sama seperti waktu kuliah dulu, Kak Faldo tetap bersemangat menyalurkan aspirasi masyarakat. Jika dulu, Kak Faldo aktif di Badan Eksekutif Mahasiswa. Paska lulus, Kak Faldo menyalurkan aspirasi masyarakat melalui ranah politik. Oh iya, Kak Faldo juga sering membuat video dalam channel youtubenya, lho. Dalam channel itu, Kak Faldo banyak memberikan opini. Coba cari deh channelnya. Namanya, Faldo Maldini.

Nah, beberapa hari lalu Kak Vrina dan Kak Faldo berbagi sedikit pandangan mereka melalui video singkat. Tema yang mereka bicarakan adalah kesamaan nilai apa yang membuat keduanya merasa “cocok”.

Dalam video itu mereka sepakat, suka belajar dan suka berproses adalah dua hal yang membuat mereka cocok satu sama lain. Dan hal itu juga yang membuat mereka “sejalan” dalam menjalani rumah tangga.

Sepenting itu kah memiliki nilai yang sama? Iya, penting banget.

Dengan memiliki nilai yang sama, kita berdiskusi bukan untuk bersiteru. Melainkan, mencari kesepakatan yang terbaik untuk keduanya.

Dengan memiliki nilai yang sama, kita berdiskusi bukan untuk saling menyalahkan. Melainkan, saling mendengarkan dan memberi tanggapan yang tidak menyakiti hati.

Dari pengalamanku sendiri, melakukan perjalanan dengan seseorang yang memiliki nilai sama pun sangat menyenangkan, lho. Hal sulit menjadi lebih mudah. Dan hal berat terasa jauh lebih ringan.

Bagaimana nilai yang aku percaya sampai saat ini? Tentunya ada banyak sekali hahaha setiap kita pasti memiliki nilai-nilai yang sudah tertanam sejak dini, kan?

Aku setuju dengan nilai Ju Sang Won dan Wang Geum Hui. Aku juga sejalan dengan nilai Kak Vrina dan Kak Faldo ๐Ÿ˜

Tetapi, jika boleh aku sebutkan satu nilai lagi, keluarga penting untukku. Sebab, di sana setiap individu belajar banyak hal, mendapat cinta dan kasih sayang, tersakiti dan kemudian tersembuhkan kembali, serta merenungi setiap jejak langkah yang sudah ditapaki.

Meskipun anggota keluarga sering melakukan kesalahan, aku yakin keluarga selalu menjadi penguat setiap insan. Sejauh apapun kita berkelana, bukankah keluarga selalu menjadi tempat untuk pulang?

Kalau kamu bagaimana? Setujukah kalau kesamaan nilai adalah poin penting dalam menjalani hubungan? Khususnya dalam menjalani rumah tangga bersama Teman Hidup? ๐Ÿ˜

Advertisements

Masalah Remaja: Mari Berbenah Bersama

Beberapa hari yang lalu, adikku menunjukkan sebuah video. Di dalamnya tampak beberapa remaja wanita. Mereka sedang meremukkan puluhan bungkusan mie kemasan di supermarket. Tanpa ada keraguan sedikit pun mereka melakukan perbuatan tersebut dengan suka cita. Bahkan mereka tertawa bersama.

Hari ini muncul lagi video yang lain. Informasi tentang video ini kudapatkan dari temanku. Dalam video itu, beberapa remaja laki-laki sedang balapan motor di area pemakaman. Tanpa malu dan ragu, mereka melindas semua kuburan itu. Sama seperti si remaja perempuan, mereka tertawa bersama-sama. Sedih sekali melihat video-video itu ๐Ÿ˜ฅ

Tanggapan teman-teman pun beragam. Salah satu tanggapan seperti ini,“Anak zaman sekarang emang begitu. Kebanyakan main gadget si.” begitu kata salah satu temanku.

“Jarang ngobrol sama orang tua si. Sekalinya ketemu, tetep aja si anak sibuk pegang gadget.” tambahnya.

Temanku hanya berpikir dari sudut pandang orang tua dan aku tidak setuju dengan pandangannya.

Kita akan menjadi orang tua yang egois sekali bila berpikir tidak dengan banyak kaca mata. Supaya adil, bagaimana kalau kita memandang kasus ini lebih luas lagi? Bagaimana kalau kita ajukan banyak pertanyaan lagi? Seperti apa orang tuanya? Bagaimana cara orang tua mendidik mereka? Sudahkah orang tua memberikan perhatian penuh pada anaknya? Bagaimana lingkungan rumah dan sekolahnya? Siapakah teman-teman mereka? Kita harus mengkaji secara menyeluruh hingga menemukan akar permasalahannya.

Mungkin Mereka Kesepian dan Kurang Perhatian

Bagaimana tanggapanku terkait video-video tersebut? Ada rasa sedih sekaligus kasihan melihat perbuatan para remaja itu. Dari apa yang dilakukan, kurasa mereka adalah remaja yang kesepian dan kurang perhatian.

Dari pengalamanku sendiri, aku belajar, sikap manusia tidak terjadi begitu saja. Selalu ada proses panjang hingga akhirnya terbentuklah banyak sikap dalam diri kita.

Aku selalu percaya, akumulasi pengalaman memberi pengaruh banyak dalam membentuk sikap seseorang. Maka, ketika aku melihat sikap seseorang, di saat yang sama, aku juga memikirkan pengalaman apa yang melatarbelakanginya.

Pada kasus remaja ini, aku pun bertanya dalam hati,“Perbuatan buruk apa yang orang dewasa lakukan, hingga para remaja bisa melakukan perbuatan tak bernurani seperti ini?”

Aktivitas sepenting apa yang kami utamakan, hingga kami alpa mencontohkan, mengingatkan, serta menasehati kalian si belia yang berhak dididik dan dikasihi?” tanyaku lagi pada diri sendiri. Kejadian ini sungguh menohok tepat dihati.

Mungkin Mereka Memang Tidak Tahu

Selain masalah kesepian dan kurang perhatian, bisa jadi mereka memang tidak tahu apa yang dilakukan adalah salah. Bisa jadi, dalam pikiran mereka memang belum ada konsep benar dan salah. Padahal seharusnya konsep ini sudah dimiliki setiap orang sedari dini. Manfaatnya apa? Supaya setiap orang bisa memutuskan sikap apa yang boleh dan tidak untuk dilakukan. Supaya setiap orang bisa memahami bahwa perbuatannya akan memberi dampak untuk sekitar. Untuk diri sendiri maupun untuk orang lain.

Lalu, apa yang terjadi pada remaja yang belum tahu konsep benar dan salah? Mereka akan berbuat sesuka hati dan tidak mempedulikan dampaknya. Mereka tidak akan merasa bersalah tiap kali melakukan perbuatan merugikan untuk orang lain dan lingkungan. Pikiran dan nurani mereka pun seakan tidak dapat digunakan dengan baik ๐Ÿ˜ฅ contoh nyatanya, seperti perbuatan remaja pada video yang aku ceritakan di atas tadi ๐Ÿ˜ฅ

Daripada mengutuki dan menyalahkan perbuatan remaja pada video-video itu, bagaimana kalau kita berefleksi bersama tentang perbuatan yang mereka lakukan? Sudahkah kita menjadi orang dewasa yang perhatian, bijaksana, dan memberi teladan?

Ini tugas kita bersama. Agar kejadian seperti ini tidak terulang di masa depan. Mari kita tanamkan tanggung jawab itu pada hati kita masing-masing.

Tentang Sekolah: Si Kecil Perlu Merasai dan Mengalami Sendiri

“Ini adalah kali pertama untukku.”

“Katanya, aku disuruh baris. Siapa orang di sebelahku ini? Baru saja ia mendorong badanku. Ia juga menginjak sepatuku. Kenapa aku harus baris di sini? Sempit sekali di sini. Bahuku dan bahu temanku saling menempel. Aku sulit bergerak. Aku benar-benar bingung situasi di sini.”

“Aku harus makan bekal ini. Apa yang harus aku lakukan untuk pertama kali? Ambil kotak makan kah? Ambil botol minum kah? Bagaimana cara membuka tempat makanku? Aku belum lancar makan sendiri.”

“Sampai kapan aku harus mengantre? Apakah aku harus berdiri terus begini? Ke mana mamaku? Aku bosan kalau terus-terusan di sini.”

***

Percakapan di atas adalah imajinasiku saat melihat wajah polos anak-anak di taman kanak-kanak hahaha

Di balik wajah polosnya, aku yakin mereka mengajukan banyak pertanyaan dalam pikirannya. Memahami itu, bagaimana kalau kita biarkan mereka belajar dengan caranya? Bagaimana kalau kita bebaskan ia berpikir dan merasa?

Saat di sekolah, biarkan saja si anak belajar dari semua hal yang ditemuinya. Salah, tidak apa-apa. Bingung pun bukan masalah. Namanya juga belajar kan, salah dan keliru adalah hal normal. Malah dua hal itu penanda kalau si anak sudah berusaha ๐Ÿ˜

Orang dewasa ada untuk meluruskan hal yang salah ketika si anak sudah berusaha. Bukan mengatur “agar selalu benar dan tepat” saat si anak belum melakukan apa-apa.

Mungkin tantangan orang tua memang di sini. Ketika orang tua tidak tega melihat anaknya kesulitan, jadilah si orang tua memberikan pertolongan meskipun si anak belum membutuhkan. Atau ketika orang tua merasa kasihan ketika melihat si anak kebingungan, jadilah si orang tua memberikan arahan meskipun si anak belum meminta. Pada akhirnya, orang tua pun menjadi bingung. Kasih sayang yang ia berikan berdasarkan kebutuhan anaknya atau kebutuhan dirinya.

Kemarin, saat mengantar adik ke sekolah, aku pun baru menyadari hal ini. Anak kecil memang perlu belajar banyak hal. Jika di rumah si anak diajarkan oleh orang tuanya tentang Tuhan, agama, budi pekerti, dan kemandiriannya. Maka, di sekolah anak belajar tentang lingkungan dan orang-orang selain keluarganya.

Hanya di sekolah, adikku harus antre panjang sekali saat ingin mencuci tangan, harus bersabar saat beberapa kawan saling dorong-dorongan, dan harus kebingungan kala ia ketinggalan rombongan saat perkenalan ruangan ๐Ÿ˜‚

Pada kondisi itu, haruskah orang tua atau orang dewasa ikut campur dan turun tangan? Kurasa tidak perlu. Biarkan si anak menyelesaikan masalahnya sendiri. Bahkan ketika sang guru menegur adikku dan kawan-kawannya karena saling mendorong, bukankah hal tersebut juga sebuah pembelajaran? ๐Ÿฅบ

Sebaik-baiknya pembelajaran adalah ketika si anak merasakan dan mengalaminya sendiri. Seharusnya, anak tidaklah belajar dari kemudahan dan rasa senang saja. Namun, anak juga perlu merasakan kesulitan dan rasa sedih. Supaya si anak menjadi seseorang yang peka hati, wawas diri, serta mudah menghargai apapun yang ia miliki dan hadapi.

Perjuangan Para Pencari Ilmu

Bu Endah tetap datang, meskipun sedang flu berat. Ia pun bersin berkali-kali.

Bu Sassy juga tetap datang, padahal ia baru saja sembuh dari diarenya.

Bu Ita juga datang bersama si kecil Ibrahim. Ibrahim kini berusia 3 bulan.

Melihat perjuangan ketiga ibu ini membuatku malu. Faktanya, Sabtu pagi kemarin sebenarnya aku hampir saja mengurungkan niat untuk datang ke masjid itu. Alasannya hanya karena perutku sedikit sakit. Namun, hatiku menolak keinginanku. Dengan langkah kaki yang berat, aku pun memaksakan diri agar tetap pergi.

Ada rasa bersalah di dalam hati tiap kali aku mengedepankan ego duniawi dan mengabaikan masalah akhirat. Dan ada dorongan kuat dari dalam hati untuk segera melakukan urusan akhirat ini. Mungkinkah ini yang dimaksud tanda bahwa Allah masih mencintai seorang hamba? Semoga Allah tetap memberikan petunjuk, meskipun hamba-Nya seringkali mengingkari.

Jika saja para ibu mengedepankan rasa malasnya, alasan Bu Endah kurasa cukup kuat untuk tidak hadir dalam pengajian pekanan ini, flu beratnya cukup mengganggu dirinya. Alasan Bu Sassy juga cukup kuat untuk absen, badan lemasnya akan menyulitkan dirinya bepergian pagi itu. Atau Bu Ita yang sedang mengasuh bayi. Ia pasti repot mempersiapkan diri dan bayinya. Jika saja Bu Ita mengurungkan niatnya untuk mengaji, kurasa Allah akan memaklumi.

Alhamdulillah, ibu-ibu yang sedang sakit tetap hadir dan Bu Ita juga hadir dengan membawa si bayi.

Mungkin hal seperti ini yang dimaksud para guru ngaji mengapa hadir ke majelis ilmu itu penting. Kita bisa saja menonton ceramah di youtube. Atau mendengarkan podcast-podcast Islami. Namun, datang langsung ke majelis dan bertemu para pencari ilmu akan mengembalikan semangat kita yang hampir redup. Kita pun akan tergerak dan mempersiapkan amunisi untuk menggencarkan ibadah harian lagi. Dan dua hal itu sulit kita dapatkan dari youtube ataupun podcast tadi.

Pernah suatu ketika beberapa temanku yang seorang guru harus menghadiri acara seminar parenting di sekolah. Dan acara dilaksanakan Hari Sabtu pukul 08.00 pagi. Sedangkan jadwal mengaji kami adalah pukul 06.30 atau 07.00. Ia pun memberitahu guru ngaji kami tentang kegiatan itu.

Tahukah kamu bagaimana respon para ibu setelah tahu kegiatan para guru? Hampir semua ibu menyarankan agar jadwal mengaji dimajukan. Jadilah kami mulai mengaji pukul 06.00 pagi. Masya Allah ๐Ÿฅบ

Jika bukan karena cinta-Nya pada Allah, kurasa para ibu akan mencari berbagai alasan untuk tidak hadir pada jadwal mengaji pekanan ini. Sebaik-baiknya penguat niat dan tekad memang hanya rasa cinta, ya. Ia mampu mengalahkan segala masalah yang ada. Semoga kita selalu menautkan segala cinta hanya karena-Nya.

Datang ke majelis ilmu memberi banyak manfaat sekali. Semangat mengaji yang kusebutkan tadi adalah hanya salah satu manfaatnya saja. Beberapa manfaat lainnya adalah kita akan akan mendapat ketenangan hati, rahmat, dimuliakan malaikat, dan masih banyak yang lainnya. Kamu bisa baca di sini.

Semangat mengalahkan rasa malas, para pencari ilmu ๐Ÿ’ชPikirkan lagi, lagi, dan lagi bila dirimu mendapatkan seribu alasan untuk menggagalkan rencana mengaji. Ikuti kata hati, ia akan memberi petunjuk dari Allah yang kita cintai ๐Ÿ˜Š Bismillah, mudahkan kami, ya Allah.

Dakwah dengan Caranya Sendiri

Lagi-lagi kamu memberikan kejutan pagi. Jika dahulu satu buah gamis berwana merah muda. Kali ini, satu buah gamis berwarna hijau muda, kamu selipkan diantara buku dan kue moci. “Mamaku memberikan moci untukmu, bukunya kamu pinjam saja dulu, dan itu gamis untuk kamu.” katamu. Seperti biasa, kamu bisa menyelipkan dakwah dengan cara yang menyenangkan.

Melihat apa yang kamu lakukan untukku, aku semakin menyadari nasihat yang Ustadz Adi Hidayat katakan. Saat itu, Ustadz meluruskan perihal yang keliru. Kata salah satu jamaah kajian, dakwah itu hanya tugas seorang ustadz. Dengan kalimat yang nyaman didengar dan tidak menyakiti, Ustadz pun menjelaskan. Katanya, penceramah memang sebuah profesi. Namun, tentang berdakwah, hal itu adalah tugas setiap muslim. Sebab, dakwah bukan tentang seberapa banyak ayat yang kita hafal atau seberapa banyak ayat yang kita kaji. Dakwah adalah tentang bagaimana kita menunjukkan sifat-sifat seorang muslim dalam menjalani hari. Sehingga ada kebermanfaatan yang orang sekitar rasakan.

Pada kalimat penutup, Ustadz Adi mengingatkan bahwa kita bisa memperkenalkan indahnya Islam dalam kehidupan sehari-hari. Berlaku jujur dan amanah dalam bekerja, misalnya. Bukankah keduanya adalah sifat yang Rasul ajarkan kepada umatnya? Kita bisa berdakwah dengan cara yang sederhana namun bermakna. Dari kejutan pagi yang sahabatku berikan, aku sadar, ia berdakwah dengan caranya sendiri. Dan hal tersebut benar-benar menyentuh hati.

Nunu, ia adalah sahabatku yang memberi kejutan pagi itu. Teman perjalananku belajar tentang Islam dan memperbaiki diri. Kami senang berdiskusi tentang hal-hal ‘serius’. Aku ingat betul topik pertama yang kami diskusikan adalah bagaimana cara muslimah berpakaian. Saat itu kami masih berkuliah. Upaya yang kami lakukan pertama kali adalah membiasakan diri menggunakan rok saat di kampus. Alhamdulillah, nyaman sekali.

Nunu selalu senang berbagi. Ia sering memberi hadiah kepadaku. Entah itu jilbab, gamis, atau buku. Dan aku terharu. Allah begitu tahu kalau aku sedang haus akan ilmu dan ingin sekali memperbaiki diri. Melalui Nunu, Allah memudahkan jalanku. Ternyata ‘berbagi’ juga bisa menjadi jalan dakwah yang kita pilih. Nunu mengenalkan indahnya Islam melalui ‘berbagi’. Berkat Nunu, aku pun menjadi tahu nyamannya menggunakan gamis dan jilbab yang menutup dada. Berkat Nunu pula, ilmuku bertambah melalui buku. Nunu selalu mampu menyentuh hati, tanpa pernah menyakiti.

Ada banyak jalan dakwah. Setiap kita berkewajiban memperkenalkan Islam dengan cara yang indah. Seperti kejutan pagi ini. Sebuah gamis, buku, dan kue moci yang kamu beri. Kasih sayang, perhatian dan kemurahan hati mampu masuk ke dalam relung hati. Aku akan menggunakan gamis dengan senang hati. Bukankah ini adalah pakaian muslimah yang kita bicarakan dahulu sekali? Tanpa kamu sadari, kamu berdakwah tentang pakaian muslimah, sahabatku. Dan aku sama sekali tidak merasa digurui. Terima kasih, Nunu. Terima kasih telah menjadi teman perjalanan memperbaiki diri ๐Ÿ™‚

***

Ada tulisan dr. Davrina Rianda di Instagram yang aku sukai,“Bahwa dakwah tidak hanya tentang menjadi ‘guru’, tetapi juga menjadi ‘teman’ dalam perjalanan memperbaiki diri. Dakwah tidak hanya tentang mengajari, tetapi juga menempatkan diri pada ‘kaki’ orang lain sehingga pesan yang disampaikan lebih pas untuk menggerakkan dan menyentuh hati.”

“Pertama kali aku merasa, dengan berbagai nikmat ‘dibimbing’ oleh teman-teman shalih yang kita terima, kita punya tanggung jawab untuk melakukan hal yang sama kepada teman lainnya. Mungkin, kita punya poin tersendiri, karena melewati proses hijrah: kita paham bagaimana pesan kebaikan itu bisa menyentuh hati, tanpa menyakiti. Kita paham, betapa beratnya, kita paham betapa nikmat setelahnya. Dan betul, adanya, “Sampaikan meskipun hanya satu ayat :).”

Berbagi Kebaikan

Bagaimanapun kejamnya dunia, jangan pernah menyesal karena telah berbagi kebaikan kepada sesama. Meskipun seringkali berakhir dengan percuma. Karena ternyata, ada banyak kepala yang menggunakan kebaikan orang lain hanya untuk keuntungan dirinya semata.

Dunia memang begini adanya. Semakin kamu menyelam lebih dalam, semakin kamu menemui keberagaman. Maka jangan heran, bila nanti ada dia dan dia yang melakukan perbuatan sungguh tak berperikemanusiaan. Tak perlu merana. Tak perlu membebani pikiran. Biarkan saja.

Rasanya tentu sakit bila kepercayaan yang telah terbangun sejak lama hancur begitu saja hanya karena setiap orang mencari keuntungan dan mengutamakan kepentingannya.

Rasanya tentu sakit bila usaha yang begitu banyak tak pernah dilihat, namun kesalahan sedikit tak pernah dilupa sepanjang masa.

Rasanya tentu tidak nyaman diperlakukan dengan ‘cara yang tak baik’ sedangkan sesungguhnya selalu ada pilihan ‘cara yang baik’ bila memang mau.

Rasanya tentu menyebalkan jika ternyata orang tersebut menganggap perbuatannya adalah hal biasa yang tak perlu dipermasalahkan atau diperdebatkan. Sebab, menurutnya, cara terbaik bertahan pada kehidupan adalah dengan menggunakan ‘caranya’. Kurasa, berdiskusi lebih jauh dengannya adalah percuma. Karena tujuan kita memang sudah tak sama. Maka, biarkan saja. Biarkan ia berjalan di jalannya. Dan kamu pun tetap fokus pada pendirian dan jalanmu.

Jangan pernah menyesal telah berbuat baik hanya karena bertemu dengan dia yang tak baik. Sebab, bagaimana pun dia, kehadirannya pasti untuk memberikan pelajaran. Pelajaran untuk terus berbuat baik ataupun pelajaran agar kita lebih berhati-hati lagi. Proses penerimaannya memang tak mudah. Namun, bersabar saja. Pelan-pelan saja. Ambil saja waktumu. Sembuhkan lukamu. Lalu, melangkah maju.

Jika kebaikanmu terus menerus dimanfaatkan oleh orang lain dan kekuranganmu tak pernah mendapat penerimaan, tetaplah jangan bosan berbuat baik. Kita berbuat baik karena memang butuh menjadi orang baik. Kita berbuat baik bukan untuk memuaskan orang lain. Kita berbuat baik karena Allah menyukai manusia yang berbuat baik.

Jika Allah menjadi tujuan, Insya Allah lebih mudah mengobati hati yang terluka. Jika Allah menjadi tujuan, Insya Allah lebih mudah mengumpulkan semangat dan bangkit kembali. Meskipun luka tetap membekas, dengan mengingat Allah, hati kita akan mendapatkan ketenangan. Yuk, cintai hatimu, cintai pikiranmu, cintai dirimu seutuhnya. Dengan cara apa? Dengan cara tidak mengingat-mengingat perbuatan buruk orang lain dan terus berusaha melakukan kebaikan.

Adakah Alasan untuk Meragukan Kemampuan Sendiri?

“Aku mengatakan kepada mereka aku menjalani hidupku dengan falsafah yang sederhana: aku selalu mengatakan pertama-tama ya; kemudian bertanya, nah, apa yang harus aku lakukan untuk memenuhinya? Lalu, aku bertanya pada diriku, hal terburuk apa yang akan terjadi jika aku tak berhasil? Dan jawabannya adalah, aku benar-benar tak berhasil! Dan bila aku bertanya apa yang terbaik yang bisa terjadi? Aku pun berhasil! Apalagi yang akan diminta hidup ini dari anda? Jadilah diri anda sendiri dan selamat menikmati!” begitu kata Fran Capo.

Kalimat di atas adalah kutipan dari cerita pendek dalam buku Chicken Soup for the Woman’s Soul.

Aku suka sekali dengan kalimat di atas. Betapa menjakjubkan wanita dengan pemikiran seperti ini. Ia yakin bahwa prinsip yang terus menggema dalam pikiran dan hati akan memengaruhi perilakunya. Ia yakin bahwa rasa percaya pada diri sendiri, akan memberikan hasil yang luar biasa. Ia juga yakin bahwa berpikir positif akan memberikan hasil yang juga positif. Lagi-lagi kekuatan pikiran bekerja disini. Oleh karena itu, mengatur pikiran pada mode positif adalah keharusan. Hal-hal baik terjadi berawal dari pikiran-pikiran yang baik, kan?

Dulu sekali aku melakukan hal yang serupa. Saat itu, adalah kali pertama aku percaya pada diriku sendiri bahwa aku mampu. Aku mampu melakukan apapun asalkan ‘aku mau’. Tidak ada hal yang tak dapat dilakukan selama ada niat, kemauan, dan usaha keras. Saat itu, aku belum berpikiran seperti Fran Capo di atas. Pikiranku hanya sederhana yaitu, aku tidak ingin mengecewakan orang-orang yang memberikan kepercayaan. Aku ingin memberikan yang terbaik. Dan, hasilnya adalah kemauan yang tinggi akan berbanding lurus dengan hasil yang tinggi. Usaha yang tinggi juga berbanding lurus dengan hasil yang tinggi. Jadi, pepatah yang mengatakan usaha tak akan mengkhianati hasil memang benar adanya. Bukan semata-mata kata-kata mutiara saja, lho.

Semesta pun mendukung perubahan baik pada diriku. Seketika itu pula ada banyak tantangan yang datang. Tantangan yang sesuai dengan ketertarikanku dan tantangan di luar ketertarikanku. Aku menerima semuanya. Aku mencoba semuanya. Aku tahu, menerima artinya akan ada tanggung jawab yang harus dipertanggung jawabkan. Mencoba artinya aku harus siap belajar dan berguru pada ahlinya. Entah motivasi datang dari mana, saat itu aku memiliki semangat yang tinggi sekali. Mungkin karena saat itu aku jauh dari orang tua. Keadaan membuatku harus kuat dan berani. Aku tak takut gagal. Aku pun tak takut tak mampu. Saat itu, aku yakin selalu ada jalan untuk orang-orang yang mau belajar dan berusaha. Aku yakin, Allah akan memudahkan orang-orang dengan niat baik.

Menjadi bisa dan mencapai sesuatu memang tak terjadi begitu saja. Seperti pertanyaan Fran Capo,”Apa yang harus aku lakukan untuk memenuhinya?” Tentu ada banyak perjuangan dan pengorbanan yang dilakukan. Seperti, tak boleh malu bertanya pada sang ahli. Tak boleh malas berlatih. Tak boleh malas mencari referensi. Tak boleh pelit meluangkan waktu sebanyak-banyaknya untuk belajar. Tak boleh takut gagal. Tak boleh menyerah. Dan harus rela meninggalkan hal-hal menyenangkan yang tak berhubungan dengan sesuatu yang diperjuangkan. Mudah? Tentu saja tidak. Seberapa kuat niat, pasti ada pula saat-saat turunnya semangat. Dan pada saat itu, cara terbaik menghadapinya adalah dekat-dekat sama Allah. Biasanya, setelah itu hati akan lapang dan semangat akan kembali lagi ๐Ÿ™‚

Aku pun merasakan hasilnya sendiri bahwa ada hasil luar biasa untuk para pejuang. Aku dapat bertanggung jawab dengan apa-apa yang telah kuterima. Aku dapat mencoba banyak hal baru yang sebelumnya terpikirkan pun tidak. Aku dapat menggunakan kesempatan dengan sebaik-baiknya. Aku menggunakan peluang untuk menjadi bermanfaat. Dan akhirnya, kebermanfaatan pun dapat dirasakan oleh orang-orang sekitar.

Hasilnya mungkin bagi orang lain biasa saja. Namun, bagiku istimewa. Mengendalikan rasa takut adalah istimewa. Mengendalikan diri untuk berani mencoba hal baru adalah istimewa. Melakukan proses panjang untuk belajar dan berusaha adalah istimewa.

**

Berikan kepercayaan penuh pada dirimu sendiri. Sebab, kamu berhak melakukan banyak hal, mangambil banyak peluang, dan menggunakan banyak kesempatan. Jangan tutupi potensi yang ada pada diri dengan rasa tak percaya diri. Jangan pernah membandingkan dirimu dengan orang di luar sana. Kamu dan dia memiliki potensi yang berbeda. Kamu dan dia memiliki potensi hebat yang bila dikolaborasikan akan menghasilkan sesuatu yang luar biasa. Jadi, jalankan peran masing-masing dan berikan yang terbaik.

Jangan memikirkan pandangan dan harapan orang lain terhadap apa yang kita lakukan. Kamu ingin mencoba hal baru, silakan. Kamu ingin memilih suatu hal, silakan. Kamu ingin menekuni suatu bidang, silakan. Kamu ingin mengatakan iya, silakan. Kamu ingin mengatakan tidak, silakan. Kamu berbuat kesalahan, boleh. Kamu ingin menolak, boleh. Kamu ingin berhenti sejenak, boleh. Kamu bebas melakukan apa saja.

Kamu perlu melakukan semua itu. Karena hanya melalui semua itu kamu akan belajar banyak hal. Karena hanya melalui semua itu kamu akan semakin mengenal dirimu sendiri.

**

Allah selalu disini untuk membersamai. Allah selalu siap sedia memberikan jalan keluar bila tersesat. Allah selalu siap sedia menguatkan bila diri ini lemah. Adakah alasan untuk meragukan kehidupan ini? Adakah alasan untuk meragukan kemampuan sendiri?

Coba Saja Sepatunya, Kau Akan Memakluminya

Jangan pernah mengatakan ‘salah’ sebelum kita tahu usaha-usaha apa yang telah orang lain lakukan. Sebab, cara paling cepat membunuh harapan seseorang adalah dengan mengatakan apa yang ‘mau kamu katakan’, ‘tanpa pernah mau’ memberikan jeda untuk memikirkan perasaan orang lain.

Ia memang selalu begitu. Ia menganggap standar yang dianut adalah standar yang orang lain harus anut juga. Jika tidak sama, maka orang itu tidak dapat dipercaya dan tidak dianggap kompeten.

Ia memang selalu begitu. Ia hanya percaya pada dirinya sendiri. Sebab, selama berpuluh-puluh tahun ia hidup, orang-orang tak pernah melakukan tindakan sesuai harapannya. Orang-orang selalu mengecewakannya. Dari mana kutahu? Ia mengatakannya sendiri.

Ia memang selalu begitu. Ia selalu mampu menghentikan usaha orang lain kapanpun. Sebab, ia sangat percaya bahwa dirinya selalu mampu berpikir visioner atas apa yang orang lain kerjakan. Tak ada toleransi kecatatan. Usaha tak berarti apa-apa bila hasilnya tidak istimewa.

Ia memang selalu begitu. Ia ‘belum mampu’ memahami kesulitan yang orang lain rasakan. Sebab, ia tak pernah kesulitan melakukan apapun. Dengan alasan ‘ketidakmampuan’ itu, ia pun begitu mudah mengintrupsi dan menghentikan pekerjaan seseorang. Tak ada toleransi untuk kelambanan, kesulitan, dan ketidakmampuan. Ia tak menyukai hal-hal seperti itu.

Ia sangat mencintai Tuhan. Ia pun sangat bergantung padanya. Namun, ada hal keliru yang selama ini ia yakini. Ia meyakini bahwa yang bisa menolong dirinya hanya Tuhan. Orang lain tak akan bisa membantunya. Sepengalamannya, bila orang lain tak mampu, ia selalu mampu. Dan bila ia tak mampu, orang lain tak akan mampu membantu pekerjaannya.

Apa kata yang tepat untuk menyebut orang ini? Entahlah. Menurutku ini rumit.

Ia sesungguhnya orang yang baik hati. Suka menolong orang lain dan suka memberi. Ia juga tidak memiliki niat buruk yang akan merugikan orang lain. Ia pun taat beribadah. Ia adalah orang yang sangat pekerja keras dan tidak mudah menyerah.

Tentang kepribadiannya yang seperti itu, kurasa, ada kesalahan penanaman ‘nilai’ sewaktu ia kecil. Kurasa, sedari kecil ia kurang sosialisasi dengan orang lain. Ia tidak memiliki pengalaman baik tentang hubungan antar manusia. Ia juga tidak memiliki banyak pengalaman bagaimana cara melihat peran dan kebaikan orang lain.

Karena kesalahan penanaman nilai itu, akhirnya ia pun kesulitan merasakan perasaan orang lain. Yang pada akhirnya, ia kesulitan melakukan tindakan yang ‘sesuai’ saat berhubungan dengan orang lain. Ia pun kesulitan melihat banyak kebaikan pada sosok orang lain. Dan ia juga kesulitan menghargai usaha orang lain. Apa dampaknya? Dampaknya cukup mengerikan. Akan ada banyak hati yang tersakiti.

Hal-hal di atas adalah hasil pengamatanku saja. Dari pada terus bertanya ‘kok bisa sih dia begitu?’, kurasa lebih baik memakluminya saja. Ternyata, mencoba memposisikan diri sebagai dirinya cukup berguna. Aku jadi tahu apa saja kelebihannya, memaklumi kekurangannya, dan mengambil pelajaran darinya.

Kelebihannya membantu aku semakin menghargai dirinya dan memotivasi diriku sendiri.

Kekurangannya membantu aku semakin sadar tak ada orang yang sempurna. Dibalik kekurangannya, pasti ada sesuatu yang salah di masa lalu saat dirinya tumbuh dan berkembang. Yang akhirnya, membentuk karakter seperti ia saat ini. Apakah itu permintaannya? Apakah itu keinginannya? Tidak. Hal itu di luar kendalinya.

Dari sikapnya aku belajar untuk lebih menghargai usaha orang lain. Karena kutahu, usaha yang tak dilihat rasanya begitu menyedihkan, maka, jangan pernah melakukan itu.

Dari sikapnya aku kembali diingatkan, sejatinya, kita selalu membutuhkan orang lain. Memang benar, pertolongan memang datang dari Tuhan. Namun, jalan pertolongan Tuhan bukankah datangnya dari mana saja? Salah satunya, kehadiran orang lain disisi yang melengkapi diri ini.

Kita sama-sama berusaha. Semua orang berhak mencoba. Kesalahan itu biasa. Salah artinya kita telah mencoba. Benar dan tepat hanya tentang waktu saja.

Tak ada usaha yang percuma. Tak ada usaha yang salah. Yang salah adalah ketika kita memutuskan untuk berhenti mencoba.

Menolak untuk Panik

Menolak panik dan tidak menyalahkan sesuatu yang telah terjadi adalah dua hal yang sangat tidak mudah dilakukan. Namun, berhasil saya taklukkan.

Saya telah lama berkawan dengan kritikan yang membangun maupun yang menyakitkan. Butuh proses memang. Saya pun pernah mengalami masa-masa penolakan atas kritikan. Tetapi, pengalaman memang mampu membuka pikiran untuk membenahi diri menjadi lebih baik lagi.

Sejak pemahaman bahwa kritikan akan membuat saya lebih baik tertanam dalam jiwa, saya berusaha sekali menerimanya dengan lapang dada. Apalagi bila kritikan disampaikan dengan cara yang tidak baik. Selain sulit diterima oleh otak, penyampaian yang tidak baik dapat menyakiti hati dan mengganggu pendengaran. Tidak semua kritikan enak didengar oleh telinga kan?

Saya juga telah lama berkawan dengan rasa panik. Kalau panik, logika seakan tertutup rapat dan hanya reaksilah yang kerap saya lakukan. Bagaimana dengan solusi? Pada saat itu, saya belum mengenal solusi.

Menjadi panik itu melelahkan. Karena saya selalu memandang persoalan dari sudut pandang kegagalan. Seolah-olah tiada kesempatan sama sekali untuk memperbaiki kesalahan. Dan biasanya, orang-orang yang panik akan kesulitan mengoreksi sesuatu yang salah. Selalu ada saja batu sandungan. Kepanikan selalu dekat dengan ketergesaan. Dan pada akhirnya, ketergesaan membuat saya menyalahkan keadaan. Menyalahkan keadaan menjauhkan sebuah penyelesaian.

“Kamu itu nggak usah panik. Santai aja. Kalo salah, nggak apa-apa. Setiap orang pernah melakukan kesalahan. Berpikir pelan-pelan. Hadapi dengan tenang. Nggak usah bereaksi berlebihan. Nggak usah salahkan keadaan. Dan, cari solusinya.” seseorang mengatakan itu. Benarlah kata orang, apapun memang harus dikatakan. Sebab, kata-kata mampu menyentuh hati orang lain. Kata-katanya, menyentuh hati saya.

Sejak saat itu, seburuk apapun keadaan, saya berusaha sekali untuk tenang. Butuh kerja keras memang. Butuh tarik napas panjang, memejamkan mata, dan berdiam diri sejenak untuk memikirkan. Butuh waktu lama untuk terus berlatih dan membiasakan. Butuh kesabaran untuk menjalankan. Dan, yang paling utama, butuh niat yang lurus untuk istiqomah melakukan.

Dan kini, ketika berhasil menaklukan rasa panik, orang-orang sering bertanya, “Shin, kok nggak panik? Nggak sakit? Nggak takut?”

Saya manusia biasa yang memiliki rasa. Tentu saja ada rasa panik, takut, dan khawatir, ketika menghadapi situasi menegangkan. Tentu saja merasa khawatir dengan kesalahan. Tetapi, saya tahu, satu-satunya cara menghadapi semua itu adalah mencari solusinya. Dengan begitu, segala ketegangan akan sirna secara perlahan.

Ada proses panjang dilakukan untuk menolak rasa panik. Pemahaman tersebut tidak tertanam begitu saja. Ada proses afirmasi diri berulang kali dilakukan. Ada proses pembiasaan yang terus diusahakan. Dan ada proses-proses lainnya.

***

Sedikit Cerita tentang Menolak Rasa Panik

Agustus 2018

Botol ampul terbuat dari kaca. Sebenarnya, saya sudah terbiasa membukanya. Entah mengapa, kemarin tidak begitu lancar saat membuka. Jadilah, telunjuk kanan tergores sedikit kaca. Goresannya kurang lebih hanya satu sentimeter saja. Meskipun begitu, darahnya lumayan memenuhi telapak tangan, menetes pada lantai, dan tempat sampah.

Saya tahu teorinya, ketika terjadi luka, segera mungkin menutupnya dengan kain atau apapun juga untuk menghentikan pendarahan. Tetapi saat itu, tak ada kain dan tissue. Dan tidak mungkin menutupnya dengan baju yang digunakan. Saya pun bingung dibuatnya.

Rasa bingung tidak terjadi begitu lama. Saya menolak untuk panik dan memutuskan mencari solusinya. Saya segera berjalan cepat mencari tissue dan air mengalir untuk membersihkan luka. Setelah bersih, saya menekan telunjuk dengan tissue untuk menghentikan pendarahan. Dan segera mencari bantuan. Saya membutuhkan antiseptik.

Sesampainya di lokasi yang dituju, saya tak mendapat sambutan yang menenangkan dan menyenangkan. Dia tak peduli. Padahal, seharusnya ia adalah orang yang harus peduli dengan darah dan luka. Saya malah disarankan olehnya untuk mencari antiseptik tersebut. Ibaratnya, saya disuruh mencari barang di rumah orang lain yang sebelumnya tak pernah dikunjungi. Bingung? Tentu, bahkan saya pun tidak tahu dimana pintu masuknya. Meskipun dia begitu mengecewakan, saya tetap masuk dan mencari sendiri antiseptik tersebut.

Saya meyakinkan diri, bagaimanapun keadaan tidak menyenangkan itu, tidak boleh memengaruhi saya. Ada hal yang harus dilakukan yaitu, mencari antiseptik! Dengan cepat saya membuka laci dan mencari botol dengan tulisan antiseptik. Alhamdulillah, Allah meridhoi. Botol itu muncul dipermukaan dan segera saya gunakan.

Cairan antiseptik yang mengenai luka cukup membuat saya merasa nyeri dan ngeri. Namun, darah belum juga berhenti. Saya membutuhkan plester untuk menekan pendarahan, tetapi sejauh mata memandang tak terlihat plester itu. Indomaret adalah satu-satunya tempat yang terpikirkan. Saya segera pergi kesana untuk mendapatkan plester.

Lagi-lagi Allah memudahkan. Plester jenis apapun tersedia disana. Saya memilih plester anti air. Plester itu tepat sekali untuk memudahkan pekerjaan saya. Selesai mengurus perihal pembayaran di kasir indomaret, saya segera menempelkan plester pada luka dengan panjang satu sentimeter itu. Luka ditutup, darah pun berhenti. Urusan selesai. Kepanikan hilang. Saya panik? Tentu saja. Tetapi, dalam hati. Adakah orang yang tak panik bila melihat darah mengalir? ๐Ÿ˜‚๐Ÿ˜‚

***

Cerita di atas adalah sedikit pengalaman saya menolak untuk panik. Ada banyak proses di dalamnya. Dan ada banyak usaha juga di dalamnya. Menolak untuk panik bukan berarti tidak merasakan panik. Kepanikan tentu ada. Namun, jangan sampai kepanikan malah memperburuk keadaan yang ada. Jangan sampai, kepanikan malah menutupi logika kita. Panik boleh, tetapi rasakan saja. Tidak perlu ditunjukkan oleh laku. Bagaimanapun rumitnya keadaan, mencari solusi selalu nomor satu.

Menolak untuk panik perlu atau tidak? Bukan perlu, tetapi harus!

Sudahkah Kita Jujur pada Diri Sendiri?

Katanya, alasan untuk tidak mengungkapkan perasaan yang sesungguhnya adalah karena takut orang lain akan meninggalkan. Oleh karena itu, baginya sungguh tak apa bila ia tak baik-baik saja. Asalkan orang tetap berada disisinya, ia yakin akan baik-baik saja. Ia akan berusaha menahan dengan sekuat tenaga. Bila bersedih, ia akan tetap tersenyum. Bila marah, ia akan tetap tertawa. Bila tersakiti, ia akan berusaha memendamnya sendiri. Namun, dalam hati ia pun bertanya-tanya, “Mengapa orang lain tak menghargai dirinya?”,”Mengapa orang lain bertindak sesuka hati?”

Ia menunjukkan bahwa dirinya baik-baik saja, kemudian ia bertanya pada dirinya sendiri mengapa orang lain berlaku tak baik padanya. Ia juga menanyakan hal yang sama kepadaku. Kemudian aku memikirkannya. Berusaha mengingat kembali bagaimana ia bersikap. Saat itu, kutahu bahwa ada sesuatu yang tak benar pada dirinya. Saat itu juga kutahu, apa yang terlihat tak selalu sesuai dengan kenyataannya. Apa yang terlihat tak selalu menunjukkan yang sebenarnya.ย 

Kamu mengatakan ketidaksukaanmu padaku. Apakah kamu mengatakannya juga pada teman-temanmu itu?” aku bertanya penasaran.

“Hmm, aku selalu tersenyum dan tertawa bagaimanapun teman-teman memperlakukanku. Bahkan untuk hal-hal yang tidak kusukai dan mengangguku. Aku terlalu takut untuk mengatakannya.” ia menjawab cukup lama dan mengatakan dengan ragu-ragu.

“Apa yang membuatmu takut?” kepadanya, aku tak pernah berkata bertele-tele. Aku selalu mengatakan inti pertanyaan, yang menurutnya seringkali pertanyaanku terkesan menyudutkannya. Padahal, sungguh, tujuanku tak pernah seperti itu.

“Aku terlalu takut untuk mengungkapkan perasaanku. Aku terlalu khawatir atas dampak kejujuranku. Aku terlalu tak berani menghadapi kenyataan bila nanti mereka menjauhiku.” dan perlahan, ia mengungkapkan apa yang ia pikirkan dan rasakan.

“Mengapa kamu berpikir mereka akan menjauhimu?” aku mengajukan pertanyaan lagi. Aku masih tak mengerti apa yang sedang ia katakan.

“Aku tahu setiap orang selalu ingin keinginannya terwujud. Aku tahu setiap orang pasti tak suka bila pandangannya ditolak. Aku tahu setiap orang pasti tak suka bila dirinya tak didukung. Aku tahu setiap orang selalu senang bila tujuannya tercapai. Dan aku tahu, bila aku mengungkapkan pikiran dan perasaan yang tidak sesuai keinginan mereka, aku pasti dibuang. Aku pasti dijauhi. Aku pasti ditolak. Dan aku pasti tidak disenangi. Aku tak ingin diperlakukan seperti itu.” ia menjelaskan panjang lebar pandangannya yang membuat aku semakin tak mengerti. Dari mana asal pandangan-pandangannya itu? Mengapa ia berprasangka?

“Terima kasih telah mengungkapkan perasaanmu padaku. Terima kasih telah jujur padaku. Tapi, sadarkah sedari tadi kamu hanya memikirkan tentang orang lain? Bagaimana denganmu? Apakah kamu baik-baik saja?” kupikir, pertanyaan ini penting ย diajukan. Kamu harus mencoba jujur terhadap dirimu sendiri.

Ia kembali diam. Ia menatap ke depan dengan tatapan kosong. Cukup lama ia berdiam diri. Kemudian ia terisak.

“Aku tak baik-baik saja. Hatiku sakit tiap kali mereka berbicara. Mulutku kelu tiap kali mereka mengejekku. Mataku perih menahan tangis tiap kali aku ingin menangis. Aku selalu ingin berteriak tiap kali menahan semua dengan sekuat tenaga. Aku sungguh tak baik-baik saja.” ia mengatakan dengan kalimat terbata-bata. Ia menangis tersedu-sedu. Ia tak baik-baik saja. Dan ia mulai jujur dengan perasaannya. Aku tahu. Aku merasakannya.

“Kamu berhak atas ketenangan hati. Kamu berhak mengungkapkan pikiran. Kamu berhak jujur atas perasaanmu sendiri. Bila kecewa, tak apa kamu mengatakan bahwa dirimu kecewa. Bila menganggu, tak apa kamu mengatakan bahwa dirimu terganggu. Bila tak suka, tak apa kamu mengatakan bahwa tak menyukainya. Bila bersedih, tak apa kamu mengatakan bahwa dirimu sedang bersedih. Bila terlalu sakit, tak apa kamu mengatakan bahwa dirimu tersakiti. Bila kamu dalam keadaan tak baik, tak apa kamu mengatakan bahwa tak baik-baik saja. Kamu berhak mengungkapkan segalanya. Memikirkan perasaan orang lain itu baik. Takut ditinggal dan tak disukai juga merupakan hal normal. Namun, bukankah selalu ada cara yang lebih baik daripada mengorbankan dirimu sendiri? Ketenangan dan kebahagiaan ย dirimu adalah utama.” aku tak tahu adakah ‘pikiran tak benar’ lain yang mengendap dalam pikirannya. Mohon izinkanlah kali ini aku mengatakan kalimat panjang tersebut padamu. Semoga kalimat ini juga mengendap dalam hati dan pikiranmu.

Ia mendengarkan dengan baik dan kemudian menunduk. Ia merenungkannya.

Aku bersyukur karena kamu memilihku untuk mendengarkanmu. Aku juga bersyukur kita telah melakukan percakapan itu. Aku tahu kamu adalah pembelajar yang baik. Kamu selalu membuka lebar pendengaranmu untuk menerima hal baru. Kamu selalu membuka hati dan ย pikiran seluas-luasnya untuk menyimpannya. Kamu selalu berusaha untuk berubah. Dan kamu tetap berusaha meskipun kutahu semua itu sulit untuk dilakukan. Terima kasih karena selalu mencoba memperbaiki dan berubah menjadi baik setiap waktu.

**

Jika masih saja ada kekhawatiran perlakuan buruk orang lain atas kejujuranmu, maka aku sarankan lupakan hal itu saat ini juga. Kehidupan memang seperti ini. Suka atau tidak, waktu akan tetap berjalan. Senang atau tidak, kejadian akan tetap datang.

Meskipun begitu, setiap orang berhak untuk jujur atas apa-apa yang dipikirkan. Setiap orang berhak untuk jujur atas perasaannya. Manusia manapun tak akan tahu apa yang dipikirkan dan dirasakan bila kita tidak mengungkapkannya. Oleh karena itu, jangan mengharapkan hal-hal yang tidak mungkin. Tidak mungkin? Sungguh tak mungkin orang lain akan tahu segalanya, bila kita enggan mengatakan apa yang ada dalam hati dan pikiran. Sungguh tak mungkin orang lain menghargai bila kita tak pernah jujur atas keinginan sendiri. Atas dasar apa orang lain menghargai bila kita tak memberi tahu apa-apa?

Jika memutuskan untuk jujur atas perasaan dan pikiran, maka kita harus siap menghadapi sikap orang lain yang akan terjadi. Kita harus realistis dengan kehidupan ini, bukan? Dengan banyaknya manusia di dunia ini dan segala perbedaannya, adalah hal wajar bila ada dua golongan di sekitar kita. Dua golongan yang akan merespon kejujuran perasaan dan pikiran kita. Golongan itu adalah golongan yang mendukung segala pikiran dan golongan yang tak mendukung segala pandanganmu. Jadi, jalani saja realita yang ada. Karena kita tak akan bisa merubah orang lain. Yang kita bisa lakukan adalah mengatur diri kita sendiri. Diri ini harus pandai menyikapi keadaan.

Bagaimana cara menyikapi dua golongan tadi? Jadikan golongan yang mendukung sebagai motivasi untuk kita melakukan kejujuran yang lebih banyak lagi. Lalu, jadikan golongan yang tak mendukung sebagai pelajaran untuk kita introspeksi lebih sering lagi. Mungkin, ada tindakan yang keliru saat kita mengungkapkan pikiran dan perasaan kita. Mungkin, ada lisan yang tak sengaja terucap melukai hati orang lain. Hati-hati dengan perasaan, terkadang kita bisa menjadi orang yang paling peka sedunia. Namun, terkadang juga kita bisa menjadi orang yang paling tak terkendali.

Semoga kita tak ragu lagi. Kamu, aku, kita berhak memiliki hati dan pikiran yang damai. Yuk, jujur dengan hati dan pikiran ini ๐Ÿ™‚