Sejak Kapan Mulai Mendidik Anak?

Many years ago, I met a young child who had memorised the Quran at 3 years old, so I asked his parents about how they nurtured him.

The father said, โ€œWhen his mother was carrying him in her womb, she would recite Quran everyday. When she cooked, she recited Quran upon the food. When she drank, she recited Quran upon the drink. When she was sitting down freely, she would listen to the Quran. When she made du’a, she asked Allah to bless her child to be a person of the Quran. When he was born – his mother would recite Quran before feeding him. When he would sleep, he would listen to the Quran. When she played with him, she recited Quran to him. His entire life of three years was nothing but the Quran, so Allah made its memorisation easy for him. Dear parents, do you see how your piety affects your child? Do you see how your lifestyle can shape your child? Do you see how parenting starts before parenting?

Shaykh Mohammad Aslam

Kalimat di atas adalah kiriman dari sahabatku. Aku dan sahabatku sepakat berbagi satu ayat atau satu hadist setiap pagi. Semua berawal dari unggahan status whatsappku,”Sun will rise and we will try again.” Ia pun menanggapi,“Apapun yang sudah dilakukan, satu langkah kecil, selanjutnya tawakallah kepada Allah.” Setelah berbalas chat, ia mengajakku untuk melakukan tukar ayat dan hadist setiap pagi. Maka, dengan senang hati aku menyetujuinya.

Pagi tadi, aku tidak berbagi ayat atau hadist. Tetapi, berbagi sedikit materi tentang Kajian Kemuslimahan di Masjid UI Hari Rabu kemarin. Materinya bagus sekali. Tentang bagaimana cara memilih sekolah untuk anak. Sahabatku pun menanggapi chatku dengan semangat. Akhirnya, kami pun diskusi tentang topik itu.

Aku dan sahabatku bersyukur sekali mendapat ilmu tentang ini. Oleh karena itu, aku ingin berbagi juga ke teman-teman wordpress. Selamat membaca. Semoga bermanfaat ๐Ÿ™‚

Materi ini disampaikan oleh Ustadzah Masfarwati Muslim. Kemarin, ustadzah senang sekali banyak muslimah single yang hadir. Kata beliau, dengan tahu ilmunya lebih awal, semoga kami bisa menjadi ibu yang baik.

Mendidik anak ada tiga yaitu sebelum anak di dalam rahim, saat di rahim, dan setelah anak dilahirkan.

Sebelum Anak di dalam Rahim

Pertama, memilih calon yang shalih/shalihah. Semoga dalam memilih teman hidup kita tidak hanya memikirkan diri sendiri. Seperti hanya memikirkan kriteria idaman atau memikirkan kesamaan antara diri kita dengan dia. Ternyata rumah tangga tidak sesederhana itu. Kelak, ada banyak amanah yang akan kita terima. Kita harus menjalaninya dengan tanggung jawab. Kita tak akan mampu mengemban itu semua seorang diri saja. Kita membutuhkan teman hidup yang memiliki visi sama. Mau di bawa ke mana rumah tangga? Mau dididik seperti apa anak-anak kita? Memilih calon yang shalih/shalihah adalah modal penting untuk mendidik anak yang taat pada Allah.

Kedua, melakukan doa bersama sebelum melakukan hubungan intim suami istri. Kata Ustadzah ini penting dan harus menjadi kebiasaan. Karena ada banyak keberkahan yang didapatkan oleh suami, istri, dan keturunannya.

Setelah Anak di dalam Rahim

Orang tua harus melakukan kebiasaan baik bersama-sama. Organ tubuh pertama yang berfungsi dengan baik adalah telinga. Maka, sering membaca Al-Qur’an adalah keharusan. Orang tua juga harus mendoakan anak secara lisan. Khusus ibu, lakukan belaian lembut ke perut sambil mendoakan. Anak mendengar semua yang kita lakukan. Yakinlah, ada hal-hal yang tak kasat mata mungkin kita tidak memahaminya. Namun, kuasa Allah itu tidak terbatas. Bayi yang tampak tak tahu apapun ternyata mendengar dan menyadari apa-apa yang orang tua lakukan. Oleh karena itu, perbanyak lakukan amal kebaikan dan perbanyak doa. Allah akan mengabulkan.

Setelah Anak Dilahirkan

Ibu adalah madrasah pertama. Maka, mengajarkan agama kepada anak adalah kewajiban seorang ibu. Menurut ustadzah, pendidikan awal anak adalah mengenal dan mencintai Allah, mengenal dan mencintai Rasul, dan mengenal dan mencintai Al-Qur’an.

Setelah memasuki usia sekolah, tugas orang tua adalah memilihkan anak sekolah yang baik. Definisi baik di sini adalah sekolah yang mengajarkan secara seimbang antara ilmu agama dan ilmu-ilmu lainnya. Rekomendasi ustadzah, anak di sekolahkan di Sekolah Islam Terpadu. Jika keuangan tidak memungkinkan, tak apa anak bersekolah di sekolah lainnya. Namun, anak harus mengikuti kegiatan mengaji setiap hari. Pendidikan agama itu penting. Tanpa itu, anak tidak akan memiliki ilmu tentang kebenaran. Seseorang yang tidak memiliki konsep kebenaran tak akan bisa membedakan antara hal benar dan salah. Ia juga tidak memiliki prinsip yang kokoh ketika bergabung pada lingkungan yang heterogen.

Di sela-sela kajian, ustadzah pun bercanda. Ia mengatakan,“Minimal, ibulah yang mengajarkan anak Surat Al-Fatihah sampai hafal. Jangan biarkan guru ngajinya yang mengajari. Ibu tahu? Bila ada pembanding, Ibu mengajarkan Surat An-Naba. Lalu, guru ngaji mengajarkan Surat Al-Fatihah. Siapakah yang mendapatkan pahala paling banyak? Ibu atau guru ngaji? Guru ngaji bu. Si anak lebih sering baca Al-Fatihah dibanding Surat An-Naba bu. Dia baca surat Al-Fatihah 17 kali dalam sehari bu. Anak ibu jarang baca An-Naba. Kepanjangan, katanya. Jangan sia-siakan kesempatan itu bu. Surat Al-Fatihah, wajib para ibu yang mengajarkan!” aku tertawa sambil berbicara dan mencatat dalam hati. Iya, kelak, harus aku sendiri yang mengajarkan anakku mengaji.

Dalam chat whatsapp, sahabatku mengatakan bahwa anak adalah investasi akhirat. Apapun harus dimulai dari diri sendiri. Jika ingin anak shalih atau shalihah, maka kita harus jadi orang tua yang shalih dan shalihah juga. Semoga bermanfaat ya, teman-teman. Semangat menjadi orang tua dan calon orang tua yang shalih dan shalihah ya. Semoga Allah memudahkan ๐Ÿ™‚

Advertisements

Hikmah Satu Bulan Tanpa Ayah

Ayah yang biasa membantu segala keperluan, harus absen selama satu bulan karena keperluan pendidikan. Alhasil, kami harus bertahan satu bulan di rumah tanpa sosok ayah. Kami harus bertahan satu bulan di rumah, tanpa peran ayah. Rasanya seperti apa? Rasanya sungguh sedih dan kehilangan. Ah, mengapa menusia selalu saja begini, baru merasakan pentingnya seseorang ketika orang tersebut menghilang? Baru mensyukuri kebaikan seseorang ketika orang tersebut pergi? Apakah harus merasakan kehilangan dahulu, baru setelahnya kita memiliki hati yang peka? Ah dasar manusia. Ah dasar aku.

Banyak ketidakeraturan hadir ketika ayah tak ada di rumah. Banyak kegamangan hadir ketika ayah tak ada. Banyak kekhawatiran hadir ketika ayah jauh dari sisi kami. Banyak kecemasan hadir ketika ayah tak disini. Kami tidak merasa tenang tanpa ayah di rumah. Mungkin kami tidak bisa jauh dari ayah. Kata orang, bisa karena kita terbiasa. Tetapi aku tak yakin perkataan orang tersebut. Sebulan terbiasa tanpa ayah, nyatanya kami tetap saja tidak terbiasa. Seperti ada yang hilang. Kami tidak lengkap tanpa hadirnya ayah.

Merasakan ketidakhadiran sosok ayah dalam keluarga membuat aku sadar mengapa setiap manusia harus menikah. Manusia membutuhkan manusia lainnya untuk saling membantu. Manusia membutuhkan manusia lainnya untuk bekerja sama. Manusia membutuhkan manusia lainnya untuk saling menguatkan.

Istri yang begitu mudah menggunakan perasaannya, hingga terkadang hal tersebut menyulitkan dalam menyelesaikan setiap masalah. Suami yang begitu mudah menggunakan logika, terkadang hal tersebut menyulitkan dalam memahami perasaan orang lain. Suami dan istri bersama untuk saling melengkapi kan? Allah Maha Tahu segala kelebihan dan kekurangan ciptaan-Nya. Sungguh indah dan sempurna segala ketentuan Allah :’)

Pelajaran terbaik memang mendapat hikmah dari sebuah kehilangan. Namun, jika mau mengusahakannya, kita bisa mendapatkan hikmah tanpa harus merasakan kehilangan dahulu. Melihat kekurangan orang lain memang lebih mudah daripada melihat kebaikan. Karena pada dasarnya manusia lebih sering melihat kekurangan dibandingkan nikmat. Tetapi, jika mau, kita bisa kok melihat kebaikan-kebaikan orang lain. Ada banyak nikmat dan kebaikan yang patut kita syukuri.

Ada banyak hal sederhana yang sering orang lain lakukan, tapi kita selalu saja salah fokus dalam memandang. Misalnya, daripada mengomentari rasa pedas yang begitu menyengat lidah, bagaimana kalau kita berterima kasih dan memuji cita rasa makanan itu dahulu? Daripada mengomentari keterlambatan seseorang, bagaimana kalau kita berterima kasih atas kebaikannya meluangkan waktu? Daripada mengomentari hadiah seseorang karena tidak sesuai selera kita, bagaimana kalau kita berterima kasih dahulu atas perhatian yang diberikan? Dengan melakukan semua itu, kita akan terlatih untuk menghargai tindakan orang lain. Hati kita akan lebih peka untuk melihat kebaikan. Dan akhirnya, kita akan menyadari pentingnya kehadiran seseorang dalam hidup kita.

Aku belajar dari kehilangan. Banyak hal sederhana ternyata telah luput dari perhatian. Hal sederhana yang sebenarnya memiliki arti sangat bermakna. Hal sederhana yang baru kusadari ketika ayah pergi. Ayah yang tak pernah absen membangunkan ketika waktunya shalat subuh. Ayah yang selalu mengingatkan ketika aku meletakkan sesuatu bukan pada tempatnya. Ayah yang selalu mengingatkan agar menyiapkan segala keperluan jauh-jauh hari keberangkatan. Ayah yang selalu memanaskan mesin motor sebelum aku berangkat kerja. Ayah yang selalu memastikan bensin motor penuh ketika ingin digunakan. Ayah yang selalu duduk di teras ketika aku tak juga sampai rumah hingga larut malam. Ayah memberi begitu banyak, kan? Semua itu luput dari perhatian. Hingga tak sempat mengatakan terima kasih. Hingga tak sempat mensyukuri.

Seringkali aku, kamu, dan kita tidak menghargai tindakan orang lain karena terlalu terbiasa merasakan. Seringkali aku, kamu, dan kita, merindui hal-hal sederhana itu, ketika kehilangan.

Semoga kita tidak seperti itu lagi. Sebab, tentang sebuah kehilangan, tak pernah ada yang bisa menjamin ia akan kembali. Syukur-syukur ia bisa kembali dan kita dapat berterima kasih lagi. Jika tidak, yang kita dapat hanya sebuah penyesalan. Penyesalan yang tak akan hilang meskipun berkali-kali menyembuhkan diri.

Tentang Ayah dan Pendamping Hidup

Mungkin ini yang dimaksud pentingnya wanita memiliki panutan laki-laki dari sosok ayah. Sebab, wanita tak akan bingung lagi bagaimana memilih pendamping hidup.

Ayahku adalah orang yang senang belajar. Ayah tak pernah memanfaatkan kemampuan anaknya untuk menyelesaikan tugasnya. Aku ingat betul bagaimana ayah belajar menggunakan komputer beberapa tahun lalu. Ayah juga belajar mengoperasikan handphonenya sendiri. Aku bahkan tak pernah merasa kesulitan berkomunikasi dengan ayah tentang teknologi terkini. Kurasa, ayah lebih tahu dibanding aku.

Ayahku sedang mempersiapkan diri untuk seleksi melanjutkan pendidikan. Meskipun administrasi sudah memenuhi syarat, masih ada tes kesehatan dan tes psikotest untuk seleksi tahapan selanjutnya.

Karena senang belajar, ayahku pun memiliki pikiran yang terbuka dan mau berubah menjadi lebih baik. Contohnya masalah kesehatan ini. Sudah sedari lama, ayah tak lagi meminum minuman yang mengandung bahan kimia. Ayah tak lagi memakan makanan yang mengandung lemak. Ayah meminum banyak air putih. Dan ayah rutin melakukan olahraga tenis meja. Alasannya sederhana, ayah tidak ingin sakit. Ada banyak sekali teman-teman sebayanya yang memiliki penyakit berat seperti stroke, gagal jantung, dan diabetes. Melihat kenyataan seperti itu, ayah pun lebih sadar dengan kesehatannya. Oleh karena itu, untuk persiapan seleksi kesehatan ini, ayah tak begitu khawatir. Ayah sudah menjaga kesehatannya sejak lama.

Lalu, untuk tes psikotest, ayah juga mempersiapkannya dengan serius. Seringkali aku memergoki ayah sedang melihat soal-soal di youtube, lalu mengerjakannya pada kertas kosong. Melihat pemandangan itu, aku merasa malu sekaligus bangga. Malu karena semangat belajarku tidak sebesar ayah dan bangga karena memiliki panutan seperti ayah. Ayah juga mengikuti bimbingan belajar bersama beberapa temannya. Jadi, mereka latihan soal psikotest yang jumlahnya ratusan. Semangat juangnya keren banget ya? Kelak, saat seusia ayah, belum tentu aku memiliki semangat juang seperti itu.

Ayahku pandai berbaik sangka. Terkait seleksi melanjutkan pendidikan ini, ayah menunjukkan usaha terbaiknya, namun tak memaksakan takdir. Ayah mengatakan,“Tugas manusia memang berusaha seoptimal mungkin, mbak. Kalau belum lulus seleksi, ya artinya memang takdir terbaiknya seperti itu. Ayah tak tahu segala hal. Tetapi, Allah Maha Tahu, kan?”

Melihat ayah mengatakan itu ada rasa bahagia dan haru. Betapa Allah Maha Baik memberikan ayah seperti ayahku.

Di usia ayah yang sebentar lagi 52 tahun, tentunya fisik tak lagi sama. Namun, jiwa muda ayah tetap terjaga. Proses seleksi ini cukup panjang. Ayah harus menghadiri pertemuan awal yang menjelaskan bagaimana prosedur selama seleksi dan apa saja yang harus dipersiapkan. Ayah juga harus datang lagi untuk melakukan tes kesehatan. Ayah harus tes psikotest. Dan beberapa hari ke depan, ayah masih harus tes psikotest lanjutan. Kalau aku, mungkin akan baik-baik saja karena usia yang masih terbilang muda. Kalau ayah? Pasti tak mudah dan melelahkan. Tetapi berbeda dengan ayah. Ayah tak merasa terbebani. Ayah begitu santai namun melangkah pasti. Mungkin inilah yang disebut berkawan dengan proses. Seberat apapun ujian, proses akan terasa mudah.

Ayahku bukanlah ayah yang sempurna. Namun, ayah memberi begitu banyak kepadaku. Ayah memberi begitu banyak pelajaran untukku. Salah satu contohnya, tentang persiapan seleksi melanjutkan sekolah ini. Kamu dapat membayangkan sendiri bagaimana sikap ayahku dari cerita di atas :’) Aku dibuat takjub berkali-kali atas usahanya. Aku dibuat haru berkali-kali atas sikap pantang menyerahnya. Aku dibuat bangga berkali-kali atas perjuangannya.

Melihat perjuangan ayah, tanpa sadar membuat aku mengagumi sosok baru. Sosok baru yang kelak menjadi pendamping hidupku. Kurasa, kini aku memiliki standar untuk memilihnya.

Sebaik-baiknya pendamping hidup adalah laki-laki seperti ayah. Laki-laki yang menghargai kehidupan. Laki-laki yang memiliki semangat hidup tinggi. Ia yang tak pernah menyerah meskipun kehidupan tampak tak memberikan harapan. Ia yang terus melangkah meskipun kaki telah terluka. Ia yang tetap tersenyum meskipun ada banyak luka pada hatinya. Ia yang tak pernah berhenti belajar. Ia yang hanya berharap dan menyerahkan seluruh hidupnya pada Allah.

Terima kasih telah lahir ke dunia, Ayah. Terima kasih telah menjadi ayahku.

Terima kasih telah menciptakan ayahku ke dunia ini, Allah. Mohon lindungi dan kuatkan ayah selalu. Aamiin.

Ayahku (Tidak) Menyebalkan

Ayahku menyebalkan. Begitu kataku. Dahulu, aku adalah anak yang begitu egois. Selalu ingin ayah begini dan begitu sesuai dengan keinginanku. Aku juga tak jarang bertengkar dengan ayah. Aku dan ayah sama-sama keras kepala.

Kala itu, aku masih sekolah dasar.

“Hari Minggu besok aku mau berenang sama keluarga, yah.” aku meminta kepadanya.

“Maaf, ayah tidak bisa. Ayah harus dinas. Lagi pula apa sih manfaatnya jalan-jalan di akhir pekan?” ayahku menolak dan mempertanyakan permintaanku.

“Untuk menyegarkan otak yah. Kan enak jalan-jalan. Aku bosan di rumah yah. Senin sampai Sabtu kan sekolah terus.” aku berusaha memberikan alasan agar ayah merubah pikirannya.

“Kalau mau, ini ayah kasih aja uangnya. Kamu pergi sama mama aja ya.” ayahku tetap menolak karena keperluan dinas dan menawarkan uang sebagai kompensasi.

“Aku mau ayah juga ikut. Ih, ayah nyebelin.” aku tetap kokoh pada pendirianku. Enggan memahami kondisi ayah. Dan tetap menuntut.

**

Beranjak remaja, aku dan ayah semakin tidak cocok saja. Aku dan ayah ibarat dua kutub positif magnet yang di dekatkan. Kami saling tolak menolak. Saat itu, usiaku kira-kira 14 tahun. Aku masih sekolah menengah pertama. Ayah benar-benar menyebalkan. Bagaimana tidak? Ayah tak pernah semudah itu memberikan uang padaku. Aku harus melakukan pekerjaan terlebih dulu sebelum akhirnya diberikan uang. Pikirku saat itu, ayah ini menyebalkan sekali. Tega sekali sama anaknya.

Kamu tahu? Aku harus membantu ayah seperti mencuci motor, membelikan sesuatu di warung, membuatkan kopi, membayar tagihan telepon di kantor telkom, atau membayar tagihan listrik di kantor pos, dan lain-lain. Aku kesal. Tetapi tetap melakukannya. Karena, aku membutuhkan uang untuk membeli keperluanku saat itu. Dan, hubunganku dengan ayah semakin jauh. Aku tidak menerima perlakuan ayah.

“Ayah, aku mau minta uang untuk main ke rumah teman besok setelah pulang sekolah.” meskipun kesal, aku tetap saja meminta uang ke ayah. Karena mamaku menyuruh begitu.

“Iya nanti ayah kasih uang. Tapi, kamu bayar tagihan telepon dulu ya. Kantornya dekat banget kok itu. Nggak sampe satu kilo. Gampang mbak proses pembayarannya.” ayah memberikan aku penawaran.

“Aku nggak tau caranya, yah. Aku takut. Langkah-langkahnya gimana yah?” aku takut, tetapi tetap menanyakan caranya. Karena apa? Aku butuh uang.

“Nggak usah takut. Kan belajar, mbak. Tanya aja sama pak satpam gimana cara bayar tagihan telepon. Kamu kan sudah besar, malu bertanya sesat di jalan.” ayahku enggan memberikan langkah-langkah. Dalam hati, aku kesal sekali sama ayah.

Begitulah. Hal-hal seperti itu yang membuat aku tidak dekat dengan ayah. Yang kutahu, ayahku itu kaku sekali. Tidak lemah lembut seperti ayah-ayahnya temanku. Ayah tegas sekali padaku. Memang sih ayah lulusan militer, tapi apa harus kemiliteran itu juga diterapkan kepadaku? Bahkan ketika aku takut, bukannya diantar, aku malah disuruh tanya pak satpam. Menyebalkan, kan?

Hingga sekolah menengah atas, hubungan aku dan ayah tetap seperti itu. Berhubungan tetapi tidak dekat. Sampai pada saat itu, aku belum pernah curhat ke ayah. Mengajak foto bersama pun enggan. Mamalah penyelamatku. Mama yang selalu berada dipihakku bila ayah terlalu tegas dan keras.

Hingga akhirnya, saat kuliah, ada perkataan sahabatku yang sangat menyentuh hatiku. Sekaligus menyadarkanku. Begini katanya,“Bagaimanapun, ia adalah ayahmu. Bagaimanapun sikap ayah yang tidak kamu sukai, sampai kapanpun ia adalah ayahmu. Sekeras apapun kamu menolaknya, ia tetaplah ayahmu. Jadi, terimalah keadaan ayahmu apapun itu.”

Aku merenungi perkataannya di rumah. Aku tersadar, sejak kecil dulu hingga saat ini, tidak pernah sekalipun aku memikirkan perasaan ayah. Aku hanya memikirkan diriku sendiri. Aku hanya memikirkan kebahagiaan diriku sendiri. Aku memikirkan tindakan ayah yang tidak kusukai. Tetapi, aku tidak memikirkan apakah aku sudah menjadi anak yang baik. Aku egois. Mulai saat itu, aku mulai melihat ayah. Aku mulai mengamati setiap hal yang ayah lakukan. Aku berusaha memposisikan diriku sebagai ayah. Aku juga berusaha memahami hal-hal yang ayah sukai dan tidak. Aku menyadari, ayah juga manusia biasa sepertiku. Ada hal-hal yang ayah inginkan. Ada hal-hal yang ayah sukai dan tidak. Jadi, aku harus menghargai ayah dan hal-hal yang diyakininya. Dan aku mulai menyukai ayahku.

**

Sejak tahun ke tiga di perkuliahan, aku menjadi orang yang berbeda. Aku sudah mampu melihat segalanya lebih luas. Jika mengingat lagi kisah kecil dulu, ayahku yang menyebalkan itu sesungguhnya hanya ingin memandirikan aku. Ada nilai-nilai yang ayah ingin tanamkan kepadaku. Ayah ingin aku menjadi anak yang mandiri, berani, pantang menyerah. Ayah ingin aku memahami arti kerja keras. Bahwa, sebelum mendapatkan sesuatu, aku harus berusaha dan berjuang lebih dulu.

Aku pun melihat ayah dengan cara yang berbeda. Ada hal-hal yang tak kulihat dulu, namun saat ini semua terlihat dengan jelas. Ayah sangat peduli pada keluarganya. Ayah menularkan sikap tanggung jawab, percaya diri, bekerja keras, dan pantang menyerah. Jangan berharap ayah akan berkata lembut, bertutur kata manis, dan memeluk hangat anaknya. Karena ayah bukan tipikal orang seperti itu. Ayah menunjukkan kasih sayang dengan cara berbeda.

Ayah tetap berdiri penuh semangat, meskipun kami sudah terjatuh dan mengibarkan bendera putih tanda menyerah. Ayah tetap maju, meskipun di depan sana banyak rintangan menghalangi. Ayah berkata bisa dengan lantang, meskipun kenyataan berkata tidak. Ayah mendukung apapun keputusan anak-anaknya, meskipun semesta bersorak untuk menolak.

Terima kasih, ayah. Berkat ayah, kami tak ragu melangkahkan kaki. Berkat ayah, kami selalu percaya selalu ada jalan untuk siapapun yang berusaha. Berkat ayah, tidak ada yang tidak bisa dilakukan, selama niat masih bergelora di dalam dada. Terima kasih untuk segalanya, ayah. Kami tak akan pernah bisa membalasnya.

**

Tulisan ini spesial untuk ayah yang sedang berulang tahun hari ini.ย Semoga usia ayah diberkahi Allah. Semoga ayah diberikan kesehatan selalu. Semoga ayah bahagia di dunia dan akhirat. Semoga ayah selalu didekatkan dengan kebaikan. Semoga ayah dimudahkan berjuang di jalan-Nya.

ย 

Yang menyayangimu,

ย 

Shinta

ย 

ย 

Depok, 12 Mei 2018

Lagu Cinta dari Ayah untuk Mama

Janganlah jangan kau sakiti cinta ini

Sampai nanti di saat ragaku

Sudah tidak bernyawa lagi

Dan menutup mata ini untuk yang terakhir

Kupilih Hatimu Feat Andhika Pratama – Ussy Sulistiawaty

Lagu di atas mampu membuat wanita berusia 46 tahun menangis bahagia. Mamaku menangis.

Pagi tadi, saat aku baru saja keluar kamar, ayah mengatakan seperti ini,” Mbak, ayah kirimin mama lagu tuh. Terus katanya nangis.” ayah bercerita dengan semangat.

“Hah? Lagu apa yah? Kenapa mama nangis?” aku bertanya kebingungan. Sebab, aku baru bangun tidur. Jadi, belum paham dan mengerti sepenuhnya.

“Kupilih hatimu tak ada kuragu. Mencintaimu adalah hal terindah. Dalam hidupku oh sayang. Kau detak jantung hatiku.” ayah langsung memutarkan lagu yang dimaksud di depan aku dan adik-adikku dengan wajah bahagia.

“Uwwwww kiwwww hahahaha si ayah.” Adik pertamaku langsung meledek ayah sambil ketawa malu.

“Yaiyalah, mama nangis terharu yah hahaha semua istri kayaknya bakal nangis deh kalo dikirimin lagu macam ini. Ayah lagi kenapa yah? Hahaha.” aku menanggapi perkataan Yuniar. Sungguh, aku tidak bisa menahan diri untuk tidak meledek ayah pagi tadi. Ayahku menggemaskan sekali.

“Mama bilang terharu karena nggak nyangka ayah ungkapin perasaannya lewat lagu itu. Dapat darimana coba lagunya. Begitu kata mama hahaha.” ayah pun menanggapi tanggapan aku dan adikku. Sekarang gantian, ayah yang meledek mama.

“Sering-sering aja yah kirimin mama lagu. Kayaknya mama lebih yakin kalo ayah ungkapinnya lewat lagu hahaha :D.” Adikku lagi-lagi meledek ayah dan mama. Hmm dia memang tipikal yang memiliki selera humor rendah. Mudah sekali terhibur dan tertawa dengan hal yang sebenarnya tidak lucu-lucu banget :”’)

“Mbak setuju sih sama Niar yah. Ungkapan cinta lewat kata itu perlu lho. Ayah emang tindakannya udah totalitas banget sebagai bukti rasa cinta ayah ke mama. Tapi, masih kurang kayaknya nih diungkapin langsung lewat kata-kata hehehe.” aku menanggapi sekaligus memberikan pendapat ke ayah. Ayahku memang bukan tipikal yang pandai merangkai kata. Oleh karena itu, mengungkapkan perasaan melalui lagu sepertinya ide bagus.

“Iya, besok-besok ayah kirimin lagu lagi deh buat mama hahaha.” begitu kata ayahku. Ayah memang senang bercanda. Bahkan keadaan mengharukan seperti pagi tadi saja, si ayah malah meledek mama ๐Ÿ˜€

**

Bagi yang belum menikah, dikirimkan lagu cinta mungkin biasa saja. Atau, bagi yang memiliki pacar, mendengarkan lagu cinta mungkin membuat hati berbunga. Tetapi, menurutku hati yang berbunga adalah hasil dari harapan-harapan yang sia-sia. Keromantisan yang diberikan oleh orang yang menyukai kita, sudah biasa. Dia yang belum menikah dengan kita, belum membersamai dalam duka yang tak terkira. Mungkin, kenangan yang dilalui baru manisnya saja. Lagu cinta itu tak akan membuat hati benar-benar bahagia.

Sedangkan, bagi yang sudah menikah lebih dari 20 tahun, dikirimkan lagu cinta tentu rasanya akan berbeda. Karena mereka sudah membersamai waktu dalam suka dan duka. Dan kurasa, mereka sudah banyak merasakan pahit dan sulitnya kehidupan. Jadi, mendapatkan lagu cinta seperti itu dari pasangan pasti rasanya terharu sekaligus bahagia ๐Ÿ™‚

Hadirnya anak-anak di rumah kurasa untuk merekatkan hubungan kedua orang tua. Maka, ungkapan yang mengatakan bahwa orang tua bersatu karena anak adalah benar. Semenjak aku dan adik tumbuh menjadi perempuan dewasa, kami berusaha menyikapi kejadian di rumah dengan bijaksana. Seringkali kami juga menjadi pihak yang netral dalam menghadapi masalah. Kami berusaha adil. Untuk masalah apapun. Masalah orang tua, masalah kami sendiri, ataupun masalah adik-adik.

Kami juga berusaha untuk menyuburkan kembali rasa cinta kedua orang tua. Karena kenyataannya, ayah dan mama terkadang lupa untuk menyuburkan perasaannya karena sibuk memikirkan anak-anak. Ayah dan mama lupa menjalankan peran suami istri yang baik, karena terlalu sibuk berusaha menjaga peran sebagai orang tua agar tetap baik.

Disinilah peran anak. Kami seringkali menjadi pihak-pihak yang mendorong mereka agar tak lupa dengan peran suami istrinya. Kami juga sering menjadi perantara menyampaikan perasaan ayah dan mama jika mereka malu. Ternyata, bila sudah berumah tangga lebih dari 20 tahun, ada beberapa suami istri yang malu mengungkapkan rasa cinta dan bersikap manis terhadap pasangannya. Semua karena mereka sudah jarang melakukannya. Oleh karena itu, kami sering menjadi penyulut keromantisan mereka seperti:

“Mah, ayah beliin susu demi mama tuh. Padahal capek dinas 12 jam lho. Tapi, demi mama tetep dibeliin. Uwwww ayah romantis.”

“Ayah, mama marah ayah main tenis meja sebenarnya karena pingin ditemenin ngobrol tuh di teras. Makanya mukanya langsung bete kayak gitu. Iiiih ayah mah gak peka nih.”

Atau begini,

“Yah, kalo mama lagi marah terus diem, dideketin aja yaaaah. Dipuk-puk in aja bahunya. Atau dipegang aja tangannya. Terus minta maaf. Mama pasti luluh dan gak marah lagi deeeeh. Ih si ayah ini, perempuan mah digituin senengnya tak terhingga yah. Anaknya sok tau ya yah, padahal belum menikah hahaha.”

Kurasa, anak dilahirkan ke dunia juga bertugas untuk menyuburkan rasa cinta kedua orang tuanya. Anak juga dilahirkan untuk memahami kondisi kedua orang tua. Di dalam keluarga, anggota keluarga memiliki tugas menjaga kehangatan dan keharmonisan keluarga, kan? Tidak hanya kedua orang tua. Namun, anak pun memiliki kewajiban yang sama.

Apalagi jika anaknya sudah dewasa. Tentu akan mengerti sekali keadaan keluarga. Mengerti sekali karakter kedua orang tua. Adakalanya, orang tua tak memedulikan lagi kisah mereka. Karena yang terpenting adalah kebahagiaan dan kenyamanan anak-anaknya. Tetapi, anak pun ingin kedua orang tua nyaman dan bahagia. Tidak ada salahnya berkontribusi juga untuk memfasilitasi dan mendukung kedua orang tua menjalankan peran suami istri mereka ๐Ÿ™‚