Tentang Sekolah: Fakta Si Kecil

Anak kecil itu nyebelin? Apa iya? Nggak, kok. Bukan anak kecil yang nyebelin, kayaknya kita sebagai orang dewasa yang kurang sabar 😅

Lagi-lagi masalah ego. Mungkin, kalau emosi dan pikiran dalam keadaan baik semua akan berjalan baik-baik saja. Namun, kalau kondisi lagi ribet dan repot, seringkali pikiran dan emosi jadi tidak terkendali dengan baik. Pada akhirnya kita pun merasa direpotkan oleh si kecil.

Aku mau berbagi tiga fakta tentang anak kecil ini. Fakta ini didapat dari pengalaman mamaku dan aku yang mempersiapkan si kecil masuk sekolah taman kanak-kanak kemarin.

Fakta #1 Anak Tidak Akan Menangis Jika Ia Tahu ‘Medan’ yang Dihadapi

Aku percaya, marah dan tantrumnya anak pasti karena ia ingin menyampaikan sesuatu namun tak tahu bagaimana memberi tahu. Apalagi bila si anak belum bisa berkomunikasi secara verbal. Wah, siap-siap saja ia akan menangis terus-menerus.

Di rumah sakit pun begitu, anak-anak selalu menangis ketika pertama kali bertemu aku. Jangankan langsung dilatih, aku sapa saja ia sudah menangis kencang sekali 😂 tapi, jangan panik dan kesal. Mereka seperti itu karena cemas dan takut melihat hal-hal baru.

Jadi, bagaimana sih cara mama dan aku mempersiapkan si kecil yang mau sekolah?

Jadi, begini, aku terbiasa menjelaskan “medan baru” yang akan si kecil datangi. Menceritakan bagaimana kondisi di sana. Memberitahu tempat tersebut melalui gambar ataupun youtube. Dan memberitahu apa saja hal yang boleh dan tidak dilakukan di sana.

Lalu, setelah dijelaskan, apakah di sekolah si kecil tidak menangis? Iya, tidak menangis. Mukanya memang tegang dan sedikit senyum, namun ia mengikuti semua instruksi yang ibu guru berikan. Sesekali ia mengintip ke arah aku dan mama, mungkin jantungnya berdegup kencang hahahaha tapi, ia mampu berpartisipasi dengan baik bersama kawan-kawan. Alhamdulillah.

Yang harus diingat selalu bagi kita si orang dewasa, jangan pernah lelah menjelaskan kepada si kecil yang rasa ingin tahunya tinggi ini. Kita egois sekali kalau berharap si kecil mengerti keadaan tanpa dibimbing dan diarahkan. Kita egois sekali kalau maunya si kecil tidak menangis padahal ia belum mengerti apa yang sedang dihadapi 🙁

Fakta #2 Konsisten Melakukan Proses, Si Kecil Akan Mengikuti

Jangan bangun kesiangan, ya! Kalau bangun kesiangan, jangan marah-marah dan salahkan si kecil.

Sesenang apapun di sekolah, anak kecil tetaplah anak kecil. Ia akan menangis bila merasa terganggu. Ia akan marah bila merasa tidak nyaman. Ia akan cemberut bila merasa tidak senang.

Kurasa tentang bangun pagi ini memang masalah kebanyakan orang tua, ya. Nyatanya, meskipun sedari malam sudah diingatkan besok akan pergi ke sekolah, tetap saja si kecil akan susah bangunnya.

Sama seperti pagi ini. Ia susah sekali dibangunkan. Saat bangun pun, wajahnya cemberut dan mengeluh berulang kali. Mama pun nyaris tersulut amarahnya hahaha langsung saja kuajak si kecil ke kamar mandi. Meskipun sembari marah, ia tetap mau melangkahkan kaki.

Sesampainya di kamar mandi, ia masih menangis. Meskipun tidak menolak mandi, sepanjang proses mandi ia tetap cemberut dan menangis wkwk namun, aku tetap memandikannya. Saat proses pakai baju pun proses menangisnya masih dilanjutkan 😂

Si kecil mulai berhenti menangis saat baju selesai dipakai. Dan mulai tersenyum saat roti coklat diberikan hahaha

Intinya, jangan marah dan kesal melihat si kecil menangis. Anak kecil itu kan memang belum pandai mengungkapkan perasaan. Kitalah yang harus menanyakan bagaimana perasaannya. Kita juga yang harus bisa menenangkannya.

Prosesnya memang panjang dan repot. Tetapi percaya deh, proses panjang itu akan memberikan hasil baik. Kamu akan takjub melihat bagaimana si kecil berproses dan berkembang :’) Ia akan menjadi anak manis, mau memperhatikan, dan pengertian.

Fakta #3 Biasakan Memandirikan Anak, Ia Akan Menjadi Anak yang Mandiri

Beberapa hal sederhana yang dapat dilakukan anak beberapa saat sebelum sekolah yaitu, pakai baju dan celana sendiri, makan sendiri, pakai kaos kaki sendiri, dan pakai sepatu sendiri.

Kalau adikku, masih kami bantu saat proses mandi. Soalnya si kecil masih sering melamun saat di kamar mandi wkwk kalau hal-hal yang kusebutkan di atas, Alhamdulillah ia sudah bisa melakukannya sendiri.

Namun, agar semua bisa dilakukan oleh si kecil, ia bangunnya pun harus lebih pagi. Jangan samakan kecepatan orang dewasa dengan anak kecil saat melakukan sesuatu. Tentu saja berbeda. Ia melakukan semua hal akan jauh lebih lambat. Bangun pagi lebih awal akan memberikan waktu panjang agar si kecil semua hal tersebut sendiri. Dan kita harus mengajari dan menunggu dengan sabar.

Pada awalnya, si kecil mengeluh kesusahan dan berulang kali ingin berhenti mencoba. Namun, kami tetap menyemangati, mengajari, dan menunggu agar si kecil melakukannya sendiri.

Untuk apa sih pembelajaran kemandirian ini? Banyak manfaatnya. Pertama, ia akan belajar bertanggung jawab atas barang miliknya sendiri. Kedua, ia akan belajar kesabaran dari proses yang dijalani. Ketiga, ia akan semakin percaya diri bahwa dirinya mampu melakukan banyak hal baru 😁👍

Fakta-fakta ini semoga semakin membuka pemikiran kita bahwa anak memang perlu diajari. Semua hal. Jangan pernah berpikir ia akan mampu sendiri tanpa diberikan pengalaman lebih dulu. Memang benar, pada akhirnya ia akan mampu. Tetapi, orang tua harus mencontohkan di awal. Lalu, terlibat dalam prosesnya untuk memberi tahu hal benar dan tidak.

Jangan biarkan ia tumbuh sendiri. Bukankah pohon saja tidak boleh dibiarkan tumbuh sendiri? Ia akan tumbuh ke segala arah tanpa arah yang jelas. Ia akan mati bila tidak diberi pupuk dan sirami. Semoga kita dapat memahami :’)

Advertisements

Tentang Sekolah: Si Kecil Perlu Merasai dan Mengalami Sendiri

“Ini adalah kali pertama untukku.”

“Katanya, aku disuruh baris. Siapa orang di sebelahku ini? Baru saja ia mendorong badanku. Ia juga menginjak sepatuku. Kenapa aku harus baris di sini? Sempit sekali di sini. Bahuku dan bahu temanku saling menempel. Aku sulit bergerak. Aku benar-benar bingung situasi di sini.”

“Aku harus makan bekal ini. Apa yang harus aku lakukan untuk pertama kali? Ambil kotak makan kah? Ambil botol minum kah? Bagaimana cara membuka tempat makanku? Aku belum lancar makan sendiri.”

“Sampai kapan aku harus mengantre? Apakah aku harus berdiri terus begini? Ke mana mamaku? Aku bosan kalau terus-terusan di sini.”

***

Percakapan di atas adalah imajinasiku saat melihat wajah polos anak-anak di taman kanak-kanak hahaha

Di balik wajah polosnya, aku yakin mereka mengajukan banyak pertanyaan dalam pikirannya. Memahami itu, bagaimana kalau kita biarkan mereka belajar dengan caranya? Bagaimana kalau kita bebaskan ia berpikir dan merasa?

Saat di sekolah, biarkan saja si anak belajar dari semua hal yang ditemuinya. Salah, tidak apa-apa. Bingung pun bukan masalah. Namanya juga belajar kan, salah dan keliru adalah hal normal. Malah dua hal itu penanda kalau si anak sudah berusaha 😁

Orang dewasa ada untuk meluruskan hal yang salah ketika si anak sudah berusaha. Bukan mengatur “agar selalu benar dan tepat” saat si anak belum melakukan apa-apa.

Mungkin tantangan orang tua memang di sini. Ketika orang tua tidak tega melihat anaknya kesulitan, jadilah si orang tua memberikan pertolongan meskipun si anak belum membutuhkan. Atau ketika orang tua merasa kasihan ketika melihat si anak kebingungan, jadilah si orang tua memberikan arahan meskipun si anak belum meminta. Pada akhirnya, orang tua pun menjadi bingung. Kasih sayang yang ia berikan berdasarkan kebutuhan anaknya atau kebutuhan dirinya.

Kemarin, saat mengantar adik ke sekolah, aku pun baru menyadari hal ini. Anak kecil memang perlu belajar banyak hal. Jika di rumah si anak diajarkan oleh orang tuanya tentang Tuhan, agama, budi pekerti, dan kemandiriannya. Maka, di sekolah anak belajar tentang lingkungan dan orang-orang selain keluarganya.

Hanya di sekolah, adikku harus antre panjang sekali saat ingin mencuci tangan, harus bersabar saat beberapa kawan saling dorong-dorongan, dan harus kebingungan kala ia ketinggalan rombongan saat perkenalan ruangan 😂

Pada kondisi itu, haruskah orang tua atau orang dewasa ikut campur dan turun tangan? Kurasa tidak perlu. Biarkan si anak menyelesaikan masalahnya sendiri. Bahkan ketika sang guru menegur adikku dan kawan-kawannya karena saling mendorong, bukankah hal tersebut juga sebuah pembelajaran? 🥺

Sebaik-baiknya pembelajaran adalah ketika si anak merasakan dan mengalaminya sendiri. Seharusnya, anak tidaklah belajar dari kemudahan dan rasa senang saja. Namun, anak juga perlu merasakan kesulitan dan rasa sedih. Supaya si anak menjadi seseorang yang peka hati, wawas diri, serta mudah menghargai apapun yang ia miliki dan hadapi.

Sejak Kapan Mulai Mendidik Anak?

Many years ago, I met a young child who had memorised the Quran at 3 years old, so I asked his parents about how they nurtured him.

The father said, “When his mother was carrying him in her womb, she would recite Quran everyday. When she cooked, she recited Quran upon the food. When she drank, she recited Quran upon the drink. When she was sitting down freely, she would listen to the Quran. When she made du’a, she asked Allah to bless her child to be a person of the Quran. When he was born – his mother would recite Quran before feeding him. When he would sleep, he would listen to the Quran. When she played with him, she recited Quran to him. His entire life of three years was nothing but the Quran, so Allah made its memorisation easy for him. Dear parents, do you see how your piety affects your child? Do you see how your lifestyle can shape your child? Do you see how parenting starts before parenting?

Shaykh Mohammad Aslam

Kalimat di atas adalah kiriman dari sahabatku. Aku dan sahabatku sepakat berbagi satu ayat atau satu hadist setiap pagi. Semua berawal dari unggahan status whatsappku,”Sun will rise and we will try again.” Ia pun menanggapi,“Apapun yang sudah dilakukan, satu langkah kecil, selanjutnya tawakallah kepada Allah.” Setelah berbalas chat, ia mengajakku untuk melakukan tukar ayat dan hadist setiap pagi. Maka, dengan senang hati aku menyetujuinya.

Pagi tadi, aku tidak berbagi ayat atau hadist. Tetapi, berbagi sedikit materi tentang Kajian Kemuslimahan di Masjid UI Hari Rabu kemarin. Materinya bagus sekali. Tentang bagaimana cara memilih sekolah untuk anak. Sahabatku pun menanggapi chatku dengan semangat. Akhirnya, kami pun diskusi tentang topik itu.

Aku dan sahabatku bersyukur sekali mendapat ilmu tentang ini. Oleh karena itu, aku ingin berbagi juga ke teman-teman wordpress. Selamat membaca. Semoga bermanfaat 🙂

Materi ini disampaikan oleh Ustadzah Masfarwati Muslim. Kemarin, ustadzah senang sekali banyak muslimah single yang hadir. Kata beliau, dengan tahu ilmunya lebih awal, semoga kami bisa menjadi ibu yang baik.

Mendidik anak ada tiga yaitu sebelum anak di dalam rahim, saat di rahim, dan setelah anak dilahirkan.

Sebelum Anak di dalam Rahim

Pertama, memilih calon yang shalih/shalihah. Semoga dalam memilih teman hidup kita tidak hanya memikirkan diri sendiri. Seperti hanya memikirkan kriteria idaman atau memikirkan kesamaan antara diri kita dengan dia. Ternyata rumah tangga tidak sesederhana itu. Kelak, ada banyak amanah yang akan kita terima. Kita harus menjalaninya dengan tanggung jawab. Kita tak akan mampu mengemban itu semua seorang diri saja. Kita membutuhkan teman hidup yang memiliki visi sama. Mau di bawa ke mana rumah tangga? Mau dididik seperti apa anak-anak kita? Memilih calon yang shalih/shalihah adalah modal penting untuk mendidik anak yang taat pada Allah.

Kedua, melakukan doa bersama sebelum melakukan hubungan intim suami istri. Kata Ustadzah ini penting dan harus menjadi kebiasaan. Karena ada banyak keberkahan yang didapatkan oleh suami, istri, dan keturunannya.

Setelah Anak di dalam Rahim

Orang tua harus melakukan kebiasaan baik bersama-sama. Organ tubuh pertama yang berfungsi dengan baik adalah telinga. Maka, sering membaca Al-Qur’an adalah keharusan. Orang tua juga harus mendoakan anak secara lisan. Khusus ibu, lakukan belaian lembut ke perut sambil mendoakan. Anak mendengar semua yang kita lakukan. Yakinlah, ada hal-hal yang tak kasat mata mungkin kita tidak memahaminya. Namun, kuasa Allah itu tidak terbatas. Bayi yang tampak tak tahu apapun ternyata mendengar dan menyadari apa-apa yang orang tua lakukan. Oleh karena itu, perbanyak lakukan amal kebaikan dan perbanyak doa. Allah akan mengabulkan.

Setelah Anak Dilahirkan

Ibu adalah madrasah pertama. Maka, mengajarkan agama kepada anak adalah kewajiban seorang ibu. Menurut ustadzah, pendidikan awal anak adalah mengenal dan mencintai Allah, mengenal dan mencintai Rasul, dan mengenal dan mencintai Al-Qur’an.

Setelah memasuki usia sekolah, tugas orang tua adalah memilihkan anak sekolah yang baik. Definisi baik di sini adalah sekolah yang mengajarkan secara seimbang antara ilmu agama dan ilmu-ilmu lainnya. Rekomendasi ustadzah, anak di sekolahkan di Sekolah Islam Terpadu. Jika keuangan tidak memungkinkan, tak apa anak bersekolah di sekolah lainnya. Namun, anak harus mengikuti kegiatan mengaji setiap hari. Pendidikan agama itu penting. Tanpa itu, anak tidak akan memiliki ilmu tentang kebenaran. Seseorang yang tidak memiliki konsep kebenaran tak akan bisa membedakan antara hal benar dan salah. Ia juga tidak memiliki prinsip yang kokoh ketika bergabung pada lingkungan yang heterogen.

Di sela-sela kajian, ustadzah pun bercanda. Ia mengatakan,“Minimal, ibulah yang mengajarkan anak Surat Al-Fatihah sampai hafal. Jangan biarkan guru ngajinya yang mengajari. Ibu tahu? Bila ada pembanding, Ibu mengajarkan Surat An-Naba. Lalu, guru ngaji mengajarkan Surat Al-Fatihah. Siapakah yang mendapatkan pahala paling banyak? Ibu atau guru ngaji? Guru ngaji bu. Si anak lebih sering baca Al-Fatihah dibanding Surat An-Naba bu. Dia baca surat Al-Fatihah 17 kali dalam sehari bu. Anak ibu jarang baca An-Naba. Kepanjangan, katanya. Jangan sia-siakan kesempatan itu bu. Surat Al-Fatihah, wajib para ibu yang mengajarkan!” aku tertawa sambil berbicara dan mencatat dalam hati. Iya, kelak, harus aku sendiri yang mengajarkan anakku mengaji.

Dalam chat whatsapp, sahabatku mengatakan bahwa anak adalah investasi akhirat. Apapun harus dimulai dari diri sendiri. Jika ingin anak shalih atau shalihah, maka kita harus jadi orang tua yang shalih dan shalihah juga. Semoga bermanfaat ya, teman-teman. Semangat menjadi orang tua dan calon orang tua yang shalih dan shalihah ya. Semoga Allah memudahkan 🙂

Sepenggal Kisah Bersama Mami dan Razi

Saat ini, ada banyak hal berbeda. Tak lagi sama dengan yang dulu pernah ada. Meskipun begitu, jangan pernah menyesalinya. Percayalah, segala hal hadir selalu tepat pada waktunya. Semua hanya tergantung bagaimana cara kita memandang dan menikmatinya ☺

***

Kamu meminta maaf berkali-kali. Kamu mengatakan,“Maafin aku, Razi emang nggak betah diam lama-lama. Dia sukanya jalan-jalan.”

Aku benar-benar tak apa, sungguh. Meskipun ada begitu banyak keinginan bertukar cerita denganmu. Ada yang lebih penting dari pada itu. Aku ingin bertatap muka langsung denganmu. Dengan begitu, aku tahu, kamu benar-benar dalam keadaan baik atau tidak.

Aku dan Ira sama-sama tahu, pertemuan ini tidak akan memberikan banyak waktu untuk bertukar cerita. Razi yang berusia 10 bulan tentu tak akan mudah untuk diajak duduk dalam waktu lama. Lalu, ada suami Ira pula yang akan bergabung. Tak mungkin keduanya kita abaikan. Tak apa. Bagi kami, makan dan berjalan-jalan bersama di mall sudah lebih dari cukup untuk melepas sebuah kerinduan.

Kami mendorong stroller secara bergantian. Aku juga sesekali menggendong Razi untuk melihat-lihat sekitar. Meski Ira selalu menolaknya, ah, mana mau aku menurut padanya. Ini adalah perjalanan kita bersama. Maka, sebaiknya kita saling tolong-menolong, kan?

Kami tidak begitu lama berjalan-jalan di mall. Waktu sudah terlalu malam dan Razi tampak kelelahan. Akhirnya, kami memutuskan untuk segera makan.

Di tempat makan, Ira dan suami makan secara bergantian. Aku menatap mereka dengan tersenyum. Mungkin ini yang dinamakan bekerja tim dalam rumah tangga. Saling menopang beban dan tugas agar terasa lebih ringan. Aku sebenarnya ingin membantu menggendong Razi. Tetapi, kali ini Ira menolak dengan tegas. Katanya,”Udah makan dulu cepetan! Abis ini kita ke mushola susuin Razi. Sambil ngobrol juga di sana hihihi.” Dan aku pun menuruti perkataannya.

Kata Ira, ketika sudah berumah tangga, seorang ibu akan mengubah segala keinginannya. Yang penting, semua suka dan bahagia. Contohnya, Ira dan suami ini. Suami Ira tidak senang memakan makanan western. Pokoknya, sang suami lebih senang makanan Indonesia. Padahal, Ira senang sekali dengan burger, pizza, dan pasta. Tetapi, untuk makan bersama keluarga, Ira lebih memilih mengalah. Lagipula, Ira memang bukan pemilih makanan. Ira senang semua jenis makanan.

Setelah menjadi ibu, Ira juga memilih makanan yang tidak pedas. Tujuannya, supaya Razi juga bisa menikmati makanan bersamanya. Ira melakukannya tidak terpaksa. Sepertinya, semua itu dilakukan karena cinta. Maka, Ira pun melakukannya dengan bahagia.

Di musala, meski tampak lelah dan ngantuk, Razi tak juga bisa memejamkan mata. Padahal, suasana di sana lumayan tenang. Entahlah. Mungkin, Razi bimbang karena terlalu rindu dengan Tante Shinta? Wkwk

Di musala, ada beberapa anak tangga dan satu jalur untuk kursi roda. Razi tak bisa menahan diri untuk tidak bermain di sana. Razi pun merangkak di tangga-tangga tersebut. Mami Ira yang sudah terbiasa multitasking, mampu bercerita tentang kegiatan tahsinnya sambil mengawasi si lincah Razi. Keren si mami 😂

Aku berterima kasih pada Ira. Bertemu kawan saat memiliki bayi 10 bulan tentu bukan hal yang mudah. Tetapi, Ira meluangkan waktunya untukku. Terima kasih banyak, Ira.

Aku juga berterima kasih pada suami Ira, Kak Arif. Terima kasih telah mengizinkan Ira bertemu denganku. Terima kasih telah sabar menunggu.

Razi, terima kasih sudah bekerja sama dengan Mami Ira. Terima kasih karena bersabar dan tidak menangis. Sehat selalu ya, Razi. Nanti kalau sudah bisa jalan, sebaiknya, tante dan mami mengajakmu ke padang rumput yang begitu luas, yaaaaa. Supaya Razi bisa bebas berlari-larian ke mana saja.

***

Aku dan Ira bahagia dengan peran baru yang kami jalani ini. Ira menjalani peran sebagai istri dan ibu. Aku menjalani peran sebagai muslimah, anak, dan karyawan dari sebuah institusi. Kami memang tidak melulu bertukar kabar melalui pesan singkat. Kami jarang melakukan video call. Kami jarang bertukar cerita melalui voice note. Saat berjumpa pun kami tak bisa lagi bercerita panjang lebar seperti dulu. Tak apa. Sebab, kami menyadari beberapa hal. Yang paling penting adalah kami masih bisa bertemu, saling tersenyum, dan melakukan aktivitas bersama.

Aku merasa, ketika tanggung jawab semakin banyak dan masalah hadir silih berganti, kehadiran sahabat di sisi sungguh meringankan sebuah beban. Ketika kehidupan begitu sulit untuk dijalani, senyuman dan genggaman tangan sahabat dapat menenangkan.

Untuk sebuah pertemuan, bagaimana kalau kita bersyukur? Ada banyak pertemuan yang masih ditangguhkan, karena Allah belum mengizinkan.

Hikmah Satu Bulan Tanpa Ayah

Ayah yang biasa membantu segala keperluan, harus absen selama satu bulan karena keperluan pendidikan. Alhasil, kami harus bertahan satu bulan di rumah tanpa sosok ayah. Kami harus bertahan satu bulan di rumah, tanpa peran ayah. Rasanya seperti apa? Rasanya sungguh sedih dan kehilangan. Ah, mengapa menusia selalu saja begini, baru merasakan pentingnya seseorang ketika orang tersebut menghilang? Baru mensyukuri kebaikan seseorang ketika orang tersebut pergi? Apakah harus merasakan kehilangan dahulu, baru setelahnya kita memiliki hati yang peka? Ah dasar manusia. Ah dasar aku.

Banyak ketidakeraturan hadir ketika ayah tak ada di rumah. Banyak kegamangan hadir ketika ayah tak ada. Banyak kekhawatiran hadir ketika ayah jauh dari sisi kami. Banyak kecemasan hadir ketika ayah tak disini. Kami tidak merasa tenang tanpa ayah di rumah. Mungkin kami tidak bisa jauh dari ayah. Kata orang, bisa karena kita terbiasa. Tetapi aku tak yakin perkataan orang tersebut. Sebulan terbiasa tanpa ayah, nyatanya kami tetap saja tidak terbiasa. Seperti ada yang hilang. Kami tidak lengkap tanpa hadirnya ayah.

Merasakan ketidakhadiran sosok ayah dalam keluarga membuat aku sadar mengapa setiap manusia harus menikah. Manusia membutuhkan manusia lainnya untuk saling membantu. Manusia membutuhkan manusia lainnya untuk bekerja sama. Manusia membutuhkan manusia lainnya untuk saling menguatkan.

Istri yang begitu mudah menggunakan perasaannya, hingga terkadang hal tersebut menyulitkan dalam menyelesaikan setiap masalah. Suami yang begitu mudah menggunakan logika, terkadang hal tersebut menyulitkan dalam memahami perasaan orang lain. Suami dan istri bersama untuk saling melengkapi kan? Allah Maha Tahu segala kelebihan dan kekurangan ciptaan-Nya. Sungguh indah dan sempurna segala ketentuan Allah :’)

Pelajaran terbaik memang mendapat hikmah dari sebuah kehilangan. Namun, jika mau mengusahakannya, kita bisa mendapatkan hikmah tanpa harus merasakan kehilangan dahulu. Melihat kekurangan orang lain memang lebih mudah daripada melihat kebaikan. Karena pada dasarnya manusia lebih sering melihat kekurangan dibandingkan nikmat. Tetapi, jika mau, kita bisa kok melihat kebaikan-kebaikan orang lain. Ada banyak nikmat dan kebaikan yang patut kita syukuri.

Ada banyak hal sederhana yang sering orang lain lakukan, tapi kita selalu saja salah fokus dalam memandang. Misalnya, daripada mengomentari rasa pedas yang begitu menyengat lidah, bagaimana kalau kita berterima kasih dan memuji cita rasa makanan itu dahulu? Daripada mengomentari keterlambatan seseorang, bagaimana kalau kita berterima kasih atas kebaikannya meluangkan waktu? Daripada mengomentari hadiah seseorang karena tidak sesuai selera kita, bagaimana kalau kita berterima kasih dahulu atas perhatian yang diberikan? Dengan melakukan semua itu, kita akan terlatih untuk menghargai tindakan orang lain. Hati kita akan lebih peka untuk melihat kebaikan. Dan akhirnya, kita akan menyadari pentingnya kehadiran seseorang dalam hidup kita.

Aku belajar dari kehilangan. Banyak hal sederhana ternyata telah luput dari perhatian. Hal sederhana yang sebenarnya memiliki arti sangat bermakna. Hal sederhana yang baru kusadari ketika ayah pergi. Ayah yang tak pernah absen membangunkan ketika waktunya shalat subuh. Ayah yang selalu mengingatkan ketika aku meletakkan sesuatu bukan pada tempatnya. Ayah yang selalu mengingatkan agar menyiapkan segala keperluan jauh-jauh hari keberangkatan. Ayah yang selalu memanaskan mesin motor sebelum aku berangkat kerja. Ayah yang selalu memastikan bensin motor penuh ketika ingin digunakan. Ayah yang selalu duduk di teras ketika aku tak juga sampai rumah hingga larut malam. Ayah memberi begitu banyak, kan? Semua itu luput dari perhatian. Hingga tak sempat mengatakan terima kasih. Hingga tak sempat mensyukuri.

Seringkali aku, kamu, dan kita tidak menghargai tindakan orang lain karena terlalu terbiasa merasakan. Seringkali aku, kamu, dan kita, merindui hal-hal sederhana itu, ketika kehilangan.

Semoga kita tidak seperti itu lagi. Sebab, tentang sebuah kehilangan, tak pernah ada yang bisa menjamin ia akan kembali. Syukur-syukur ia bisa kembali dan kita dapat berterima kasih lagi. Jika tidak, yang kita dapat hanya sebuah penyesalan. Penyesalan yang tak akan hilang meskipun berkali-kali menyembuhkan diri.

Menjadi Orang Tua Asyik

Topik kajian yang dibawakan Ustadz Bendri dua pekan lalu adalah tentang mendidik anak yang beranjak pubertas. Saya semangat sekali datang ke kajian itu. Alasannya karena ingin tahu. Kalau bahasa anak milenial, saya benar-benar pengen tau banget lah gitu.

Saya sadar, kelak akan mendidik anak yang beranjak pubertas. Saya juga memiliki adik laki-laki yang sedang memasuki masa-masa pubertas. Dua hal itulah yang menjadi alasan kuat mengapa saya perlu menghadiri kajian Ustadz Bendri.

Dari kajian itu, saya tahu, ada beberapa hal yang perlu dipersiapkan orang tua untuk mendidik remaja yaitu, menanamkan tauhid, menanamkan rasa malu, menguatkan ikatan hati ke anak, mengajarkan menundukkan pandangan, mengajarkan mengendalikan nafsu perut, menyibukkan anak dengan banyak aktivitas, dan membantu anak memilih pergaulan yang baik.

Nah, salah satu persiapan yang menarik perhatian saya adalah menguatkan ikatan ke anak. Karena menarik banget, saya mau berbagi pandangan tentang hal ini ke teman-teman. Tentunya berdasarkan pengalaman saya sendiri. Jadi, kalau teman-teman memiliki pandangan lain, boleh sekali berbagi ke saya 😉

Kata Ustadz, cara menguatkan ikatan ke anak adalah dengan menjadi orang tua yang asyik. Mengapa penting? Ikatan hati yang kuat antara anak dan orang tua akan menghadirkan cinta. Hadirnya cinta, akan menghadirkan rasa percaya. Kalau anak sudah percaya ke orang tua, maka, nasihat orang tua akan mudah sekali didengarkan oleh anak. Anak akan nurut sama orang tua. Ia akan percaya semua perkataan orang tua. Ikatan hati benar-benar sangat penting, ya? Cinta dan rasa percaya adalah dua hal yang tak bisa dipisahkan.

Menjadi orang tua asyik sebenarnya tidak sulit. Orang tua hanya perlu memperlakukan anak sebagai sahabat. Kita saja mampu membuat nyaman para sahabat. Masa kita tak mampu membuat anak nyaman? Kalau kata Ustadz Bendri, orang tua harus PDKT (Pedekatan) sama anak. Apalagi mendidik anak perempuan. Orang tua harus benar-benar menunjukkan perhatiannya. Sebab, secara takdir, perempuan memang selalu senang diperhatikan. Jadi, tidak perlu malu memuji anak dengan sebutan cantik atau ganteng. Tidak perlu malu mengajak anak kencan berdua. Tidak perlu malu mengajak anak nonton bioskop bersama. Tidak perlu malu mengatakan cinta.

Mungkin beberapa orang akan beranggapan cinta itu lebih penting dibuktikan dengan perbuatan daripada perkataan. Iya benar sekali, namun, jika tidak dikatakan, bukankah anak tidak akan tahu? Apalagi dengan pemahaman dan tingkat kedewasaan anak remaja yang belum mumpuni. Bukankah anak remaja tidak akan sepeka itu memerhatikan perbuatan sebagai bukti cinta kedua orang tuanya? Bukankah setiap orang akan bahagia bila mendengar kalimat manis seperti kalimat ‘aku/kami menyayangimu’? Bukankah lebih baik pembuktian cinta dilakukan bersama-sama melalui perbuatan dan perkataan?

Menjadi orang tua asyik tidak hanya penting sebagai persiapan mendidik anak yang beranjak pubertas. Namun, juga penting untuk membuat anak merasa dicintai, dikasihi, dan merasa dipentingkan oleh seseorang. Jangan sampai, hanya karena orang tua merasa sungkan menjadi orang tua asyik, membuat anak menjauhi kedua orang tua. Dan akhirnya terbentuk jarak yang begitu luas antara anak dan orang tua.

Jangan sampai, hanya karena orang tua malu/tidak terbiasa berlaku asyik di depan anak, membuat anak merasa tidak cintai. Dan akhirnya ia akan mencari keasyikan dan cinta di luar rumah. Beruntung bila anak bertemu teman yang asyik dan baik. Bagaimana bila anak bertemu dengan teman yang asyik, namun memberikan pengaruh yang tidak baik? Hal tersebut berbahaya sekali. Hal tersebut akan merusak anak.

Sebelum menutup kajian dua pekan lalu, Ustadz Bendri juga mengingatkan, menjadi orang tua asyik sungguh sangat penting. Sebab, hal tersebut adalah pintu kesempatan orang tua memasukkan nilai-nilai kebenaran kepada anak. Pintu kesempatan orang tua memasukkan nilai-nilai Islam kepada anak. Karena hakikatnya, orang tua hadir dalam kehidupan anak memang untuk mendidiknya menjadi manusia yang cinta Allah dan memiliki sikap terpuji.

Semangat berusaha menjadi orang tua asyik, para orang tua ataupun calon orang tua! 🙂 meskipun tidak mudah, kita harus tetap berjuang dan melangkah. Kita pasti bisa. Apa-apa yang baik tak akan terjadi begitu saja tanpa adanya perjuangan, kan?

Tentang Ayah dan Pendamping Hidup

Mungkin ini yang dimaksud pentingnya wanita memiliki panutan laki-laki dari sosok ayah. Sebab, wanita tak akan bingung lagi bagaimana memilih pendamping hidup.

Ayahku adalah orang yang senang belajar. Ayah tak pernah memanfaatkan kemampuan anaknya untuk menyelesaikan tugasnya. Aku ingat betul bagaimana ayah belajar menggunakan komputer beberapa tahun lalu. Ayah juga belajar mengoperasikan handphonenya sendiri. Aku bahkan tak pernah merasa kesulitan berkomunikasi dengan ayah tentang teknologi terkini. Kurasa, ayah lebih tahu dibanding aku.

Ayahku sedang mempersiapkan diri untuk seleksi melanjutkan pendidikan. Meskipun administrasi sudah memenuhi syarat, masih ada tes kesehatan dan tes psikotest untuk seleksi tahapan selanjutnya.

Karena senang belajar, ayahku pun memiliki pikiran yang terbuka dan mau berubah menjadi lebih baik. Contohnya masalah kesehatan ini. Sudah sedari lama, ayah tak lagi meminum minuman yang mengandung bahan kimia. Ayah tak lagi memakan makanan yang mengandung lemak. Ayah meminum banyak air putih. Dan ayah rutin melakukan olahraga tenis meja. Alasannya sederhana, ayah tidak ingin sakit. Ada banyak sekali teman-teman sebayanya yang memiliki penyakit berat seperti stroke, gagal jantung, dan diabetes. Melihat kenyataan seperti itu, ayah pun lebih sadar dengan kesehatannya. Oleh karena itu, untuk persiapan seleksi kesehatan ini, ayah tak begitu khawatir. Ayah sudah menjaga kesehatannya sejak lama.

Lalu, untuk tes psikotest, ayah juga mempersiapkannya dengan serius. Seringkali aku memergoki ayah sedang melihat soal-soal di youtube, lalu mengerjakannya pada kertas kosong. Melihat pemandangan itu, aku merasa malu sekaligus bangga. Malu karena semangat belajarku tidak sebesar ayah dan bangga karena memiliki panutan seperti ayah. Ayah juga mengikuti bimbingan belajar bersama beberapa temannya. Jadi, mereka latihan soal psikotest yang jumlahnya ratusan. Semangat juangnya keren banget ya? Kelak, saat seusia ayah, belum tentu aku memiliki semangat juang seperti itu.

Ayahku pandai berbaik sangka. Terkait seleksi melanjutkan pendidikan ini, ayah menunjukkan usaha terbaiknya, namun tak memaksakan takdir. Ayah mengatakan,“Tugas manusia memang berusaha seoptimal mungkin, mbak. Kalau belum lulus seleksi, ya artinya memang takdir terbaiknya seperti itu. Ayah tak tahu segala hal. Tetapi, Allah Maha Tahu, kan?”

Melihat ayah mengatakan itu ada rasa bahagia dan haru. Betapa Allah Maha Baik memberikan ayah seperti ayahku.

Di usia ayah yang sebentar lagi 52 tahun, tentunya fisik tak lagi sama. Namun, jiwa muda ayah tetap terjaga. Proses seleksi ini cukup panjang. Ayah harus menghadiri pertemuan awal yang menjelaskan bagaimana prosedur selama seleksi dan apa saja yang harus dipersiapkan. Ayah juga harus datang lagi untuk melakukan tes kesehatan. Ayah harus tes psikotest. Dan beberapa hari ke depan, ayah masih harus tes psikotest lanjutan. Kalau aku, mungkin akan baik-baik saja karena usia yang masih terbilang muda. Kalau ayah? Pasti tak mudah dan melelahkan. Tetapi berbeda dengan ayah. Ayah tak merasa terbebani. Ayah begitu santai namun melangkah pasti. Mungkin inilah yang disebut berkawan dengan proses. Seberat apapun ujian, proses akan terasa mudah.

Ayahku bukanlah ayah yang sempurna. Namun, ayah memberi begitu banyak kepadaku. Ayah memberi begitu banyak pelajaran untukku. Salah satu contohnya, tentang persiapan seleksi melanjutkan sekolah ini. Kamu dapat membayangkan sendiri bagaimana sikap ayahku dari cerita di atas :’) Aku dibuat takjub berkali-kali atas usahanya. Aku dibuat haru berkali-kali atas sikap pantang menyerahnya. Aku dibuat bangga berkali-kali atas perjuangannya.

Melihat perjuangan ayah, tanpa sadar membuat aku mengagumi sosok baru. Sosok baru yang kelak menjadi pendamping hidupku. Kurasa, kini aku memiliki standar untuk memilihnya.

Sebaik-baiknya pendamping hidup adalah laki-laki seperti ayah. Laki-laki yang menghargai kehidupan. Laki-laki yang memiliki semangat hidup tinggi. Ia yang tak pernah menyerah meskipun kehidupan tampak tak memberikan harapan. Ia yang terus melangkah meskipun kaki telah terluka. Ia yang tetap tersenyum meskipun ada banyak luka pada hatinya. Ia yang tak pernah berhenti belajar. Ia yang hanya berharap dan menyerahkan seluruh hidupnya pada Allah.

Terima kasih telah lahir ke dunia, Ayah. Terima kasih telah menjadi ayahku.

Terima kasih telah menciptakan ayahku ke dunia ini, Allah. Mohon lindungi dan kuatkan ayah selalu. Aamiin.

Belajar dari Si Mbak: Berbakti kepada Orang Tua

Buah jatuh tak jauh dari pohonnya. Peribahasa itu memiliki arti tentang kemiripan antara anak dan orang tua. Dari segi intelegensi, karakter, ataupun sikap. Ungkapan itu benar adanya. Kita pun sama-sama tahu bahwa seorang anak akan meniru tindak tanduk sang ayah dan bunda. Oleh karena itu, kemiripan antara anak dan orang tua adalah hal yang sangat wajar.

Siang kemarin, ada satu  pemandangan yang menyentuh hati saya. Ketika melihat seorang anak membujuk ibunya untuk melakukan latihan fisik. Ketika melihat anak itu menyemangati ibunya supaya bersemangat kembali melakukan rehabilitasi. Sedikitpun tak ada raut wajah terpaksa dari sang anak. Ini adalah kali pertama saya melihat sosok anak seperti dia. Tutur kata yang hangat dan lembut benar-benar menyentuh hati saya. Sekaligus membuat berkaca, sudahkah saya menjadi anak seperti dia?

Dan, tahukah bagaimana hasil dari ketulusan anak itu kepada ibunya? Dengan raut wajah sedih karena melihat sisi tubuh kirinya sulit untuk digerakkan, sang ibu tetap berusaha dan bersemangat. Sesekali memang berhenti melakukan latihan, karena kesulitan dan kelelahan. Namun, sang anak tetap menyemangati dan membantu dengan lembut.

“Ibu ndak bisa. Itu jarinya semuanya nekuk. Ndak bisa dilurusin.” Sang ibu mengeluh dengan raut wajah sedih menggunakan logat jawa tengah yang khas.

“Ndak apa-apa, bu. Kan proses. Pelan-pelan aja ya bu. Kan kemarin aja lidahnya ndak bisa ditekuk, kan? Coba lihat sekarang lidahnya, udah bisa ditekuk kan?! :D” Sang anak menyemangati dengan wajah hangat dan intonasi suara yang sungguh santun.

Iya, ini bisa. Lidah ibu bisa melet ke samping. Minum pake sedotan dibibir kiri juga udah bisa. Sedotannya ndak jatuh lho, mbak.” Berkat motivasi sang anak, ibu pun semangat lagi. Dengan bangga ia memberitahu ke saya 🙂

“Wah, coba lagi bu, saya mau liat. Mana coba lidahnya ke samping kiri. Ohiyaaa, hebatnya ibu. Sekarang gampang ya bu minum pakai sedotan? Alhamdulillah. Digunakan terus ya bu sisi yang sakitnya. Insya Allah, nanti akan meningkat kemampuannya.” Aku pun tak ingin kalah dari sang anak untuk menyemangati ibu.

Bertemu dengan seseorang yang mengalami keterbatasan fisik, kita memang harus terus memotivasi dan memberikan pujian. Dan menggunakan bagian lain yang sehat untuk menopang bagian yang sakit. Berikan kemudahan dengan cara fasilitasi setiap kegiatan. Dengan begitu, ibu akan lebih ringan melakukannya.

Tak banyak ditemui orang macam si anak dan ibu ini. Keduanya terlihat sekali memiliki hati yang luas. Keduanya, melihat kesulitan bukan sebagai musuh. Namun, sebagai ujian yang memang harus dijalani. Mereka tahu betul, yang dibutuhkan ketika menghadapi masa-masa sulit bukanlah solusi kilat nan cepat. Melainkan, kehadiran orang-orang tersayang yang membersamai dan menguatkan. Mereka memahami betul, kesulitan akan terasa ringan bila dihadapi bersama. Mereka memahami betul, yang dibutuhkan saat masa-masa sulit adalah ketenangan hati dan pikiran.

Sang anak membuat saya belajar bahwa sejatinya peran anak sangat penting ketika orang tua sakit. Sesungguhnya, orang tua tak butuh sejumlah uang untuk membiayai rumah sakit mewah dan kamar perawatan vip. Orang tua juga tak benar-benar membutuhkan makanan lezat dan bergizi untuk memulihkan kesehatan. Namun, kehadiran anak disaat-saat sulit inilah yang akan menjadi obat alami untuknya. Hati yang tenang ketika anak disisinya dan pikiran yang damai ketika anak memperhatikannyalah yang akan menjadi penyembuh untuknya.

Menjadi sosok seperti anak ini memang tak mudah. Karena memang anak akan benar-benar diuji. Kondisi fisik yang sakit akan membuat perasaan dan pikiran sang ibu tidak dalam keadaan stabil. Jadi, selain meluangkan waktu, anak juga harus memiliki sabar yang seluas langit.

Tidak perlu mengeluh dan merasa terbebani. Mungkin, sebaiknya kita memikirkan kembali kasih sayang orang tua mengasuh dan mendidik kita. Bukankah selama ini orang tua selalu melakukan itu semua untuk kita? Bukankah mereka sedikitpun tak pernah mengeluh dan merasa terbebani? Bukankah mereka melakukannya dengan kasih sayang tak terhingga? :’) Hal ini sepertinya harus menjadi perhatian dan renungan para anak bersama. Bagaimana menjadi anak yang berbakti. Jangan sampai, ketika kelak ujian sakit datang kepada orang tua, kita lupa hakikat sebagai anak berbakti. Jangan sampai kita malah mengeluh dan tak ikhlas melakukannya. Semoga Allah mengingatkan dan memudahkan kita menjadi anak yang berbakti.

**

Terima kasih telah menjadi anak yang berbakti, mbak. Berkat mbak, saya berkaca. Menjadi anak berbakti memang perlu diperjuangkan. Perlu diniatkan. Apa kabar dengan saya? Ternyata masih banyak hal perlu  diperbaiki. Ternyata masih banyak hal perlu dilakukan untuk orang tua. Ternyata, saya harus banyak belajar lagi menjadi anak yang berbakti.

Merundung: Ia Tidak Tahu Perbuatan Itu Tidak Baik

Anak itu mungkin usianya sekitar 3 tahun. Tipikal anak yang aktif dan tidak bisa menahan diri untuk duduk dengan tertib. Hal itu dapat disimpulkan dari aktivitas ia selama shalat tarawih berlangsung. Ia tidak mampu duduk dengan tenang di samping sang bunda. Ia berjalan bolak balik di belakang sajadah sang bunda. Matanya menatap ke kanan dan ke kiri melihat anak-anak kecil seusianya.

Saya duduk berjarak satu shaf dengan dirinya. Kebetulan, mama, Satria, Teh Lela dan anaknya (Alvaro) sholat tepat di belakang anak itu. Satria dan Alvaro berusia 4 tahun. Sebelum shalat tarawih di mulai, sosok anak itu membuat saya ingin mengamati. Mungkin karena ia tidak tertib dan tangannya cenderung usil. Sejak kali pertama berjumpa dengan Satria dan Alvaro, ia tak ragu untuk mencolek pipi kedua anak itu. Sesekali, saat duduk bersama ia juga mendorong-dorong Satria dan Alvaro hingga keduanya terjatuh. Setelah mengamatinya, mudah sekali menyimpulkan bahwa anak ini belum tahu konsep aturan dan belum tahu bagaimana menjalin hubungan yang baik dengan sesama teman.

**

Tahun ini adalah tahun pertama Satria mengikuti shalat tarawih. Pengalaman satu-satunya Satria duduk tertib dalam waktu lama adalah saat saya datang ke kajian beberapa bulan yang lalu. Kala itu, selama 2 jam Satria mampu duduk dengan tenang. Camilan dan mainan cukup membantu supaya Satria bertahan duduk dalam waktu lama. Maka, untuk tarawih ini saya rasa akan lebih mudah menjelaskan aturan selama di masjid kepadanya.

Sebelum hari H, saya dan keluarga menjelaskan kepada Satria situasi yang akan dihadapi saat shalat tarawih nanti. Kami menjelaskan tentang apa itu shalat tarawih, berapa lama shalat tarawih, apa yang boleh dilakukan selama shalat tarawih, apa yang tidak boleh dilakukan saat shalat tarawih, dan yang utama adalah apa yang ia boleh lakukan ketika bertemu teman sebaya.

Tujuan utama mengajak Satria di usia saat ini bukan untuk shalat tarawih. Kalau memang Satria mengikuti setiap gerakan shalat, kami menganggapnya sebagai bonus. Kami ingin Satria mengenal shalat tarawih dan lingkungan masjid. Kami ingin Satria nyaman dan senang berada di Masjid. Kami juga ingin Satria mampu mengendalikan diri saat berada di luar rumah. Satria ini belum sekolah. Jadi, pengalaman ia bertemu dengan orang banyak sedikit sekali. Kalau tidak dibekali pengetahuan tentang lingkungan yang akan ia hadapi, ia akan kesulitan menyesuaikan diri. Alhamdulillah, Satria mengerti. Menjelaskan kepada anak tentang aturan dan gambaran lingkungan yang akan didatangi adalah penting. Anak akan percaya diri dan siap menempatkan diri sesuai situasi.

Malam pun tiba. Setelah berbuka puasa, kami segera menuju masjid untuk shalat tarawih. Setelah berada di dalam masjid, tanpa perlu diinstruksi Satria segera duduk dengan manis di samping mama. Kebetulan, di sebelahnya ada Teh Lela dan Alvaro. Terlihat jelas ekspresi riang dan senang di wajah Satria. Mungkin dalam hatinya mengatakan,“Horeeee, ada Alvaro!!”

Seperti anak kecil pada umumnya, setelah bertemu teman sebaya mereka segera berinteraksi. Mereka berinteraksi dengan tertib yaitu, saling tersenyum dan tertawa dengan suara dipelankan. Mungkin, Teh Lela pun sudah menjelaskan kepada Alvaro bagaimana bersikap baik di dalam Masjid. Sungguh, anak-anak yang manis.

Shalat tarawih segera dimulai. Lagi-lagi, tanpa harus diinstruksikan anak-anak manis itu segera memposisikan diri duduk di perbatasan sajadah para bunda. Jadi, mereka tidak menutupi area tengah sajadah tempat untuk bersujud. Kemanisan dan ketertiban anak-anak ternyata tidak berlangsung lama. Setelah beberapa rakaat shalat tarawih berlangsung, tragedi itu pun terjadi.

Kami sebagai orang dewasa tidak melihat jelas tragedinya seperti apa. Karena berlangsung saat shalat dilaksanakan. Kami sedang shalat. Meskipun sedang shalat, tetap saja kami menyadari ada sesuatu yang terjadi. Saya shalat tepat di depan mereka. Dan mama dan teh lela shalat tepat di samping mereka. Dari sudut mata kiri saya, terlihat samar ketiga anak itu duduk berdekatan dan ada suara berbisik meminta tolong. Terdengar suara ricuh yang sebenarnya tidak begitu menganggu tetapi dapat didengar oleh telinga.

Setelah shalat tarawih, mama menanyakan kejadian yang baru saja terjadi. Satria dan Alvaro menjelaskan dengan kalimat sederhana bahwa Satria diganggu anak itu. Katanya, pipi Satria dicubit. Mereka juga mengatakan bahwa mereka takut. Kemudian, mama dan Teh Lela menginstruksikan agar Satria dan Alvaro duduk dekat sang bunda. Kalau anak itu menganggu lagi, menjauh dan bersembunyi saja tepat di samping bunda. Anak-anak itu pun segera mengangguk sebagai tanda bahwa mereka memahami instruksi.

Saat shalat tarawih kembali berlangsung, rupanya kejadian tadi terulang lagi. Kami menyadari anak itu mendekati Satria dan Alvaro. Kali ini Avaro korbannya. Namun, saat kejadian terjadi ada Mbak Sashi yang menemani. Terlihat samar Mbak Sashi melindungi Satria dan Alvaro. Kejadian itu terjadi, rakaat terakhir sebelum shalat witir.

Mbak Sashi (usia: 9 tahun) mengatakan bahwa anak itu merebut peci Alvaro. Melihat kejadian itu, Mbak Sashi hanya bisa memeluk kedua anak itu tanpa bisa menjauhinya. Mbak Sashi juga mengatakan bahwa ia khawatir anak itu akan nangis. Kami menerima penjelasannya dan berterima kasih karena sudah melindungi Satria dan Alvaro.

Terkait kejadian itu, mama dan Teh Lela tidak dapat menegur bundanya anak itu. Karena, tidak ada bukti nyata yang menunjukkan anaknya telah merundung Satria dan Alvaro. Namun, dari apa yang saya amati, cara si bunda menanggapi perbuatan anaknya berteriak-teriak saat shalat tarawih berlangsung membuat saya mengetahui satu hal. Bunda adalah tipe orang yang melarang sesuatu tanpa menjelaskan alasannya. Wajar saja si anak belum memahami bahwa perbuatannya itu tidak baik dan tidak tepat di lakukan di dalam masjid. Mungkin bisa jadi, anak itu pun tak tahu bahwa perbuatan yang ia anggap “seru” adalah merundung. Ia tidak tahu merundung adalah perbuatan tidak baik.

Atas kejadian itu, kami menyadari bahwa menanamkan konsep aturan adalah penting. Sebagai upaya orang tua, agar anak mampu menempatkan diri di segala situasi. Sedikit saja kita lupa menanamkan konsep tersebut, jangan heran bila kelak anak akan tumbuh menjadi sosok yang tidak tahu aturan dan tidak peduli dengan lingkungan di sekitarnya. Sebab, yang ia tahu adalah berbuat sesuka hati tidak masalah dan dibolehkan.

Sampai saat ini, kami masih memikirkan cara yang baik dan tepat mengajak bunda diskusi bila si anak merundung lagi. Semoga, bunda pun menyadari bahwa melarang tanpa pernah memberikan penjelasan adalah sia-sia. Anak tidak akan memahami dan akan terus mengulangi perbuatan yang dilarang itu.

Kami tahu, tidak ada anak nakal. Anak itu bukan ‘anak nakal’. Ia hanya ‘tidak tahu’ bahwa perbuatannya tidak baik. Ia hanya ‘belum mampu’ membedakan hal-hal yang boleh dilakukan dan tidak. Namun, peran ayah dan bunda sangat menentukan perilaku si anak. Bila anak dibiarkan tidak tahu selamanya dan dibiarkan tumbuh dengan sendiri tanpa arahan, maka perbuatan tidak benar itu akan menjadi karakter. Ia tak tahu yang benar dan salah. Ia tak tahu aturan yang berlaku di masyarakat. Ia tak tahu arti kehadiran orang-orang di sekitarnya.

Bila ditangani dan diajarkan segera, maka sangat mungkin si anak menjadi anak baik kelak. Komunikasikanlah kepada si anak. Tak mengapa terlambat dan kemudian berubah menjadi lebih baik. Yang menyedihkan adalah sudah tahu ada ‘ketidakberesan’ pada diri anak, namun enggan memperbaikinya. Jangan merusak generasi masa depan hanya karena ketidakpedulian kita terhadap tumbuh kembang anak.

Ayahku (Tidak) Menyebalkan

Ayahku menyebalkan. Begitu kataku. Dahulu, aku adalah anak yang begitu egois. Selalu ingin ayah begini dan begitu sesuai dengan keinginanku. Aku juga tak jarang bertengkar dengan ayah. Aku dan ayah sama-sama keras kepala.

Kala itu, aku masih sekolah dasar.

“Hari Minggu besok aku mau berenang sama keluarga, yah.” aku meminta kepadanya.

“Maaf, ayah tidak bisa. Ayah harus dinas. Lagi pula apa sih manfaatnya jalan-jalan di akhir pekan?” ayahku menolak dan mempertanyakan permintaanku.

“Untuk menyegarkan otak yah. Kan enak jalan-jalan. Aku bosan di rumah yah. Senin sampai Sabtu kan sekolah terus.” aku berusaha memberikan alasan agar ayah merubah pikirannya.

“Kalau mau, ini ayah kasih aja uangnya. Kamu pergi sama mama aja ya.” ayahku tetap menolak karena keperluan dinas dan menawarkan uang sebagai kompensasi.

“Aku mau ayah juga ikut. Ih, ayah nyebelin.” aku tetap kokoh pada pendirianku. Enggan memahami kondisi ayah. Dan tetap menuntut.

**

Beranjak remaja, aku dan ayah semakin tidak cocok saja. Aku dan ayah ibarat dua kutub positif magnet yang di dekatkan. Kami saling tolak menolak. Saat itu, usiaku kira-kira 14 tahun. Aku masih sekolah menengah pertama. Ayah benar-benar menyebalkan. Bagaimana tidak? Ayah tak pernah semudah itu memberikan uang padaku. Aku harus melakukan pekerjaan terlebih dulu sebelum akhirnya diberikan uang. Pikirku saat itu, ayah ini menyebalkan sekali. Tega sekali sama anaknya.

Kamu tahu? Aku harus membantu ayah seperti mencuci motor, membelikan sesuatu di warung, membuatkan kopi, membayar tagihan telepon di kantor telkom, atau membayar tagihan listrik di kantor pos, dan lain-lain. Aku kesal. Tetapi tetap melakukannya. Karena, aku membutuhkan uang untuk membeli keperluanku saat itu. Dan, hubunganku dengan ayah semakin jauh. Aku tidak menerima perlakuan ayah.

“Ayah, aku mau minta uang untuk main ke rumah teman besok setelah pulang sekolah.” meskipun kesal, aku tetap saja meminta uang ke ayah. Karena mamaku menyuruh begitu.

“Iya nanti ayah kasih uang. Tapi, kamu bayar tagihan telepon dulu ya. Kantornya dekat banget kok itu. Nggak sampe satu kilo. Gampang mbak proses pembayarannya.” ayah memberikan aku penawaran.

“Aku nggak tau caranya, yah. Aku takut. Langkah-langkahnya gimana yah?” aku takut, tetapi tetap menanyakan caranya. Karena apa? Aku butuh uang.

“Nggak usah takut. Kan belajar, mbak. Tanya aja sama pak satpam gimana cara bayar tagihan telepon. Kamu kan sudah besar, malu bertanya sesat di jalan.” ayahku enggan memberikan langkah-langkah. Dalam hati, aku kesal sekali sama ayah.

Begitulah. Hal-hal seperti itu yang membuat aku tidak dekat dengan ayah. Yang kutahu, ayahku itu kaku sekali. Tidak lemah lembut seperti ayah-ayahnya temanku. Ayah tegas sekali padaku. Memang sih ayah lulusan militer, tapi apa harus kemiliteran itu juga diterapkan kepadaku? Bahkan ketika aku takut, bukannya diantar, aku malah disuruh tanya pak satpam. Menyebalkan, kan?

Hingga sekolah menengah atas, hubungan aku dan ayah tetap seperti itu. Berhubungan tetapi tidak dekat. Sampai pada saat itu, aku belum pernah curhat ke ayah. Mengajak foto bersama pun enggan. Mamalah penyelamatku. Mama yang selalu berada dipihakku bila ayah terlalu tegas dan keras.

Hingga akhirnya, saat kuliah, ada perkataan sahabatku yang sangat menyentuh hatiku. Sekaligus menyadarkanku. Begini katanya,“Bagaimanapun, ia adalah ayahmu. Bagaimanapun sikap ayah yang tidak kamu sukai, sampai kapanpun ia adalah ayahmu. Sekeras apapun kamu menolaknya, ia tetaplah ayahmu. Jadi, terimalah keadaan ayahmu apapun itu.”

Aku merenungi perkataannya di rumah. Aku tersadar, sejak kecil dulu hingga saat ini, tidak pernah sekalipun aku memikirkan perasaan ayah. Aku hanya memikirkan diriku sendiri. Aku hanya memikirkan kebahagiaan diriku sendiri. Aku memikirkan tindakan ayah yang tidak kusukai. Tetapi, aku tidak memikirkan apakah aku sudah menjadi anak yang baik. Aku egois. Mulai saat itu, aku mulai melihat ayah. Aku mulai mengamati setiap hal yang ayah lakukan. Aku berusaha memposisikan diriku sebagai ayah. Aku juga berusaha memahami hal-hal yang ayah sukai dan tidak. Aku menyadari, ayah juga manusia biasa sepertiku. Ada hal-hal yang ayah inginkan. Ada hal-hal yang ayah sukai dan tidak. Jadi, aku harus menghargai ayah dan hal-hal yang diyakininya. Dan aku mulai menyukai ayahku.

**

Sejak tahun ke tiga di perkuliahan, aku menjadi orang yang berbeda. Aku sudah mampu melihat segalanya lebih luas. Jika mengingat lagi kisah kecil dulu, ayahku yang menyebalkan itu sesungguhnya hanya ingin memandirikan aku. Ada nilai-nilai yang ayah ingin tanamkan kepadaku. Ayah ingin aku menjadi anak yang mandiri, berani, pantang menyerah. Ayah ingin aku memahami arti kerja keras. Bahwa, sebelum mendapatkan sesuatu, aku harus berusaha dan berjuang lebih dulu.

Aku pun melihat ayah dengan cara yang berbeda. Ada hal-hal yang tak kulihat dulu, namun saat ini semua terlihat dengan jelas. Ayah sangat peduli pada keluarganya. Ayah menularkan sikap tanggung jawab, percaya diri, bekerja keras, dan pantang menyerah. Jangan berharap ayah akan berkata lembut, bertutur kata manis, dan memeluk hangat anaknya. Karena ayah bukan tipikal orang seperti itu. Ayah menunjukkan kasih sayang dengan cara berbeda.

Ayah tetap berdiri penuh semangat, meskipun kami sudah terjatuh dan mengibarkan bendera putih tanda menyerah. Ayah tetap maju, meskipun di depan sana banyak rintangan menghalangi. Ayah berkata bisa dengan lantang, meskipun kenyataan berkata tidak. Ayah mendukung apapun keputusan anak-anaknya, meskipun semesta bersorak untuk menolak.

Terima kasih, ayah. Berkat ayah, kami tak ragu melangkahkan kaki. Berkat ayah, kami selalu percaya selalu ada jalan untuk siapapun yang berusaha. Berkat ayah, tidak ada yang tidak bisa dilakukan, selama niat masih bergelora di dalam dada. Terima kasih untuk segalanya, ayah. Kami tak akan pernah bisa membalasnya.

**

Tulisan ini spesial untuk ayah yang sedang berulang tahun hari ini. Semoga usia ayah diberkahi Allah. Semoga ayah diberikan kesehatan selalu. Semoga ayah bahagia di dunia dan akhirat. Semoga ayah selalu didekatkan dengan kebaikan. Semoga ayah dimudahkan berjuang di jalan-Nya.

 

Yang menyayangimu,

 

Shinta

 

 

Depok, 12 Mei 2018