Tentang Uki yang Tersipu Malu

Aku memiliki seorang murid yang lucu. Namanya, Uki. Usianya 4 tahun. Saat datang pertama kali ke sini, ia masih berusia 3 tahun.

Uki memiliki kelainan katup jantung sejak lahir dan harus melakukan operasi pada usia dua tahun. Aku agak lupa kapan tepatnya sebenarnya. Karena proses operasi dan pemulihan itulah, Uki mengalami keterbatasan menggerakkan tubuhnya.

Lho, kok begitu? Iya, jadi setelah operasi jantung, Uki dan keluarga fokus pada pemulihan jantungnya. Tubuh Uki pun masih lemah. Alhasil, Uki sedikit sekali melakukan gerakan tubuh. Tumbuh kembangnya pun akhirnya menjadi terhambat.

Saat pertama kali berjumpa sama Uki, ia hanya bisa duduk dan ngesot (menyeret badannya menggunakan tangan pada posisi duduk di lantai). Bagaimana dengan berjalan? Tentu saja belum bisa. Saat itu, bahkan Uki belum bisa jongkok sendiri.

Butuh usaha keras melakukan pendekatan sama Uki. Ia cenderung pasif. Ia sangat konsisten tidak bergerak meskipun aku stimulasi apapun. Pernah suatu ketika aku jail gelitik perut Uki. Ia tetap diam saja πŸ˜…

Motivasi Uki juga tidak terlalu besar. Ketika anak seusianya akan bersemangat ketika dinyanyikan, berbeda dengan Uki. Meskipun aku sudah bernyanyi dengan gaya super heboh, Uki tetap konsisten dengan diam seribu bahasanya hahaha

Oh iya, Uki juga punya jurus andalan, lho. Aku biasa menyebutnya dengan “jurus pingsan”. Uki itu pintar. Ia bisa membaca situasi. Ia juga bisa melihat kesempatan. Ia tahu betul kapan waktunya latihan. Bila saat itu tiba, dalam hitungan detik, Uki langsung pura-pura pingsan wkwk

Kalau lagi pura-pura pingsan, segala stimulasi apapun tidak akan ampuh dilakukan. Aku gendong pun tetap saja matanya tetap terpejam 🀣

Satu-satunya cara supaya dia berhenti menggunakan “jurus pingsan” adalah dengan pura-pura pergi. Nah, langsung deh matanya akan terbuka dan mengeluarkan suara rengekannya haha

Singkat cerita, setelah enam bulan latihan bersama, akhirnya aku tak sanggup juga dengan jurus andalannya. Bukannya aku menyerah atau lelah, hanya saja, terasa tidak efektif kalau selama latihan si Uki selalu mengeluarkan jurus andalan. Sayang sekali kalau Uki tidak latihan secara optimal, kan?

Apalagi setelah aku tahu kalau Uki merasa sungkan dengan laki-laki. Kata mamanya, Uki sangat nurut bila dilatih oleh papanya. Dan selalu mengeluarkan jurus andalan tiap kali dilatih oleh sang mama. Yasudah, aku pun yakin akan mengoper si Uki ini ke rekanku, Pak Sanusi.

Hasilnya bagaimana? Sungguh singnifikan, saudara-saudara. Bersama Pak Sanusi, Uki tidak lagi mengeluarkan jurus itu. Sebaliknya, ia nurut sekali diinstruksikan untuk jongkok, berdiri, ataupun berjalan.

Hatiku pun terpotek-potek melihat si Uki bergerak hahaha terpotek-potek karena merasa tidak berhasil menaklukan hatinya, maksudnya 😝 Pasalnya, aku berjuang betul supaya tubuh Uki bergerak. Namun, sulit sekali. Bersama Pak Sanusi, semua terasa mudah sekali πŸ˜‚πŸ‘πŸ‘

Dan pada akhirnya aku pun menyadari. Uki ini sepertinya grogi tiap kali bertemu denganku. Entah apa yang membuat dia grogi wkwk

Pernah suatu hari aku mengintip dari balik celah pintu. Jelas-jelas aku melihat Uki berjalan berpegangan dinding. Eh, setelah ia menyadari ada aku di balik pintu, ia langsung duduk dan senyum-senyum sendiri 🀣 Duh, Uki. Kamu menggemaskan sekali, Nak.

Beberapa hari yang lalu, mamanya Uki memanggilku. Katanya, ia ingin menyampaikan sesuatu. Begini,

Bu Shinta, aku titip sesuatu buat Ibu dan teman-teman. Isinya bukan apa-apa. Tapi, semoga berguna untuk dipakai sehari-hari. Isinya nggak sebanding sama kesabaran yang ibu dan teman-teman beri. Uki sudah bisa jalan bu. Uki nggak fisioterapi lagi. Terima kasih ya, Bu Shinta.”

“………” aku tidak menjawab dan hanya tersenyum mendengarkan mamanya Uki bicara. Hmm entah kenapa lidahku tiba-tiba kelu saking terharunya :”’

“Sekali lagi, terima kasih, Bu Shinta.” kata Mama Uki.

Sama-sama, Mah. Ini berkat kesabaran mama yang selalu menemani Uki setiap hari datang ke sini. Mama itu keren dan rajin banget tau, Maaaaah. Salut aku tuh.” akhirnya bisa juga aku menganggapi. Saat bingung ingin menanggapi apa, otomatis teringat perjuangan mamanya Uki.

Mamanya Uki ini rajin banget. Selalu rutin datang ke sini. Tepat waktu. Dan selalu menunjukkan wajah bahagia. Keren banget deh pokoknya.

Lalu, setelah bisa jalan, Uki grogi atau tidak ketemu aku? Tentu saja masih grogi. Saat asyik-asyiknya berjalan, ia langsung duduk di lantai saat tahu aku akan mendekatinya hahaha semoga saja ia grogi hanya karena malu. Bukan karena takut melihat penampilan Bu Shinta ya, Ki πŸ˜‚

Ini adalah pengalaman pertamaku mendapat ucapan terima kasih yang sehangat itu. Masih teringat jelas bagaimana tatapan mata mama Uki saat mengatakannya. Ada rasa haru, terima kasih, dan syukur di sana. Yang jelas, aku tahu mama Uki bahagia. Begitu pula dengan Uki yang masih tersipu malu saat bertemu aku. Ia juga tak kalah bahagia.

Terima kasih Uki dan Mama. Terima kasih telah memilih tetap berusaha dan berjuang. Meskipun, rasa lelah terus meronta untuk menghentikan segala juang. Sehat selalu, Mama. Semakin pintar, Uki πŸ’•

Menangani Cidera pada Balita

“Mbak, kaki Satria sakit tuh. Coba diperiksa. Jalannya pincang.” kata Niar.

“Oke. Sebentar ya. Gue salat magrib dulu.” jawabku cepat.

Aku langsung menduga apa yang terjadi. Kondisi ini cukup familiar dalam ingatanku. Beberapa bulan lalu aku juga pernah menemui kasus yang serupa. Pertama, pasienku di rumah sakit. Kedua, saudaraku sendiri yang tinggal persis di samping rumahku.

Dan penyelesaiannya pun juga sama. Ternyata dua anak itu dalam keadaan baik-baik saja. Tidak ada luka serius pada kakinya. Memar pun tidak ada. Meskipun begitu, pernyataan mereka bahwa kakinya sakit benarlah adanya. Aku yakin mereka benar-benar merasa sakit. Hanya saja, rasa sakitnya bukan karena luka terbuka. Melainkan, otot yang terlalu lelah karena terlalu banyak diajak “bekerja”.

Si Kecil Tidak Mau Meluruskan Kakinya

Sore itu, datang sepasang suami istri ke poliku. Sang bapak menggendong anaknya. Aku lupa usia tepatnya berapa. Yang jelas ia masih balita. Setelah menunggu antrean dokter yang cukup lama, akhirnya si kecil dan orang tua masuk ke ruang dokter juga.

Setelah selesai konsultasi dengan dokter, aku baca rekam medisnya. Ternyata si kecil tidak diberikan tindakan apa-apa. Langsung saja kutanya ke dua orang tuanya tentang si kecil ini.

Orang tua bercerita, sejak tiga hari lalu, si kecil enggan meluruskan lututnya. Si kecil mengaku, kakinya selalu sakit tiap kali diluruskan. Jadilah dia tetap konsisten menekuk kakinya selama aktivitas. Ia pun berjalan dengan pincang.

Kedua orang tuanya tidak tahu ada apa dengan anaknya. Faktanya, tidak ada aktivitas fisik apapun yang dilakukan si kecil sebelumnya.

Akhirnya, dokter pun memberi home program kepada si kecil ini. Inti dari home programnya, orang tua lebih melakukan pendekatan ke si anak. Agar si anak terbuka tentang keluhannya. Dan si anak percaya kepada orang tua bahwa kakinya baik-baik saja. Secara medis, si kecil tidak ada masalah apa-apa. Ini hanya tentang psikis saja.

Alvaro (5 at Menangis Tersedu Karena Kram pada Kakinya

Teh lela datang tergopoh ke rumahku. Karena Alvaro kesakitan, Teh Lela pun menjadi panik. Sama seperti anak perempuan di atas. Alvaro juga masih balita. Tahun ini usianya 5 tahun.

Teh Lela bercerita, sejak sore tadi Alvaro menangis kencang sambil memegang betisnya. Alvaro menolak untuk dilakukan tindakan apa-apa. Dipegang ataupun digerakkan kakinya membuat Alvaro semakin menangis. Teh lela pun bingung dibuatnya.

Malam itu saat di rumahku, Alvaro sudah lebih tenang. Hanya saja ia masih belum mau berjalan kaki sendiri.

Al kakinya sakit ya?” tanyaku.

Iya.” jawab Alvaro dengan wajah bersedih.

Mbak Shinta pegang kaki Alvaro sebentar boleh, ya? Kalo nanti rasanya sakit, bilang ya, Al.” kataku. Aku ingin memeriksa si betisnya itu.

Aku pun menekuk dan meluruskan kakinya. Ia tidak kesakitan. Gerakan dilututnya normal. Sambil menggerakkan kakinya, aku juga bertanya ke Teh Lela apa saja aktivitas yang Alvaro lakukan kemarin dan hari ini.

Kemarin, Alvaro mandi bola hampir seharian penuh, Mbak. Kan tempatnya luas, ya. Ada perosotan juga. Jadi, si Alvaro lari-larian nonstop. Setelah pulang ke rumah dia nggak apa-apa kok, Mbak. Baru hari ini aja kesakitannya.” Teh Lela bercerita.

Lalu, aku mengecek keadaan betisnya. Dan menekan pelan untuk menemukan di mana masalahnya. Terasa betul si betis Alvaro keras sekali. Saat aku menekan dilokasi keras itu, Alvaro pun teriak kesakitan.

Aku menyimpulkan. Tidak ada masalah serius pada Alvaro. Gerakan lututnya normal. Ia mampu berdiri sendiri. Masalahnya hanya satu yakni, otot betis yang terlalu tegang.

Aku pun memijat dan meregangkan betis Alvaro. Setelah selesai, wajah Alvaro tampak lebih baik. Aku meminta dia berjalan mondar-mandir sepuluh kali. Alvaro menurut. Ia berjalan kaki tanpa mengeluh sakit. Alvaro pun pulang dengan riang.

Satria Berjalan Pincang

Melanjutkan cerita pada awal tulisan ini, selepas salat magrib, aku berencana melanjutkan salat Isya. Baru saja selesai salat sunnah, Satria menghampiriku di kamar. Begini katanya,“Mbak, udah selesai? Sini liat kaki aku.”

Mendengar permintaan dia, rasanya aku ingin tertawa. Semangat betul dia kakinya diperiksa hahaha

“Tadi sore mbak liat kamu lari-larian sama temen-temenmu.” aku membuka percakapan.

“Iya, tadi seru banget mbak manjat-manjat dan lari-larian.” kata Satria.

“Di bagian mana yang sakit, Dek? tanyaku.

“Di sini, Mbak.” ia menunjuk di bagian betis samping.

“Coba tekuk kaki kamu. Terus lurusin lagi, ya.” pintaku padanya.

“Bagus, kok. Lutut kamu masih sehat. Lutut kamu masih bisa digerakkin.” kataku.

“Mbak mau tekan betis kamu, ya. Kalo sakit, ditahan sebentar, ya.” aku meminta izin kepada Satria.

“Aduhhhhhh.” keluhnya.

“Di sini sakitnya?” tanyaku.

Iya, bener.” jawabnya.

Oke, sebentar ya mbak mau ambil es batu.” aku ingin mengompres dingin betisnya. Aku yakin betul penyebab betisnya sakit pasti karena aktivitasnya sore tadi. Aku melihat dengan mataku sendiri, dia berlarian kecang sekali. Dan turun-naik ke dinding entah sudah berapa kali. Pokoknya banyak.

Aku mengompres betisnya sekitar 20 menit. Satria pun gelisah. Berulang kali dia meminta untuk dihentikan proses mengompresnya. Kata dia, kelamaan. Tentu saja aku tidak menuruti inginnya. Aku alihkan saja dengan cara mengajak dia mengobrol. Dia pun bersemangat.

Kuberitahu rahasia kecil, anak kecil mana pun selalu bersemangat kalau diajak ngobrol tentang “dunianya”. Jadi, cara terbaik menghilangkan rasa bosan si kecil adalah masuk ke dunianya. Jangan lupa berikan batasan. Sore ini, bercerita tentang sekolahnya, misalnya. Kalau tidak, semua hal bakal diceritakan. Tentang mainannya, teman sekolahnya, sepatunya, bajunya, dan lain sebagainya hahaha

Setelah proses kompres selesai, aku instruksikan Satria untuk berdiri. Lalu, aku meminta dia untuk jinjit, angkat satu kaki, dan berjalan mondar-mandir.

Satria mampu melakukannya. Itu artinya betisnya baik-baik saja. Kukira, Satria hanya butuh istirahat tiga hari untuk masa pemulihan. Aku pun meminta Satria tidak berlarian di sekolah dan di rumah. Kira-kira balita menurut atau tidak? Entah hahaha semoga saja 🀣

Kesimpulan

Keluhan si kecil atas rasa sakitnya adalah hal baik. Hal itu menandakan bahwa ia peduli dengan tubuhnya sendiri.

Namun, semoga orang dewasa tidak salah menentukan sikap. Jangan sampai, sikap panik kitalah yang membuat si kecil ikutan panik. Padahal, tidak ada masalah serius apapun pada kakinya.

Cara terbaik membantu rasa sakit pada si kecil adalah mengelola rasa sakit itu. Bantu si kecil menemukan di mana sumber sakitnya. Bantu si kecil mengatasi rasa sakitnya. Lalu, yakinkan si kecil bahwa kakinya akan segera pulih dan baik-baik saja.

Ketiga anak yang aku ceritakan di atas mengalami masalah serupa. Aktivitas fisik yang terlalu banyak membuat otot-otot kaki mereka lelah bekerja.

Penyembuhan otot kaki yang tegang sebenarnya sederhana. Kompres saja air dingin pada bagian yang bermasalah. Air dingin ini membantu mempercepat pemulihan otot yang tegang. Lalu, kurangi aktivitas anak. Kalau bisa, si anak harus menghentikan aktivitas bermainnya sementara.

Jangan panik kalau bertemu anak yang cidera, ya. Keadaan akan menjadi lebih baik jika kita bersikap tenang dan fokus pada solusinya.

Jangan memperburuk suasana dengan rasa panik yang berkepanjangan. Bukankah anak selalu meniru orang-orang dewasa disekitarnya? Hati-hati ya 😁😁😁

Tentang Sekolah: Fakta Si Kecil

Anak kecil itu nyebelin? Apa iya? Nggak, kok. Bukan anak kecil yang nyebelin, kayaknya kita sebagai orang dewasa yang kurang sabar πŸ˜…

Lagi-lagi masalah ego. Mungkin, kalau emosi dan pikiran dalam keadaan baik semua akan berjalan baik-baik saja. Namun, kalau kondisi lagi ribet dan repot, seringkali pikiran dan emosi jadi tidak terkendali dengan baik. Pada akhirnya kita pun merasa direpotkan oleh si kecil.

Aku mau berbagi tiga fakta tentang anak kecil ini. Fakta ini didapat dari pengalaman mamaku dan aku yang mempersiapkan si kecil masuk sekolah taman kanak-kanak kemarin.

Fakta #1 Anak Tidak Akan Menangis Jika Ia Tahu ‘Medan’ yang Dihadapi

Aku percaya, marah dan tantrumnya anak pasti karena ia ingin menyampaikan sesuatu namun tak tahu bagaimana memberi tahu. Apalagi bila si anak belum bisa berkomunikasi secara verbal. Wah, siap-siap saja ia akan menangis terus-menerus.

Di rumah sakit pun begitu, anak-anak selalu menangis ketika pertama kali bertemu aku. Jangankan langsung dilatih, aku sapa saja ia sudah menangis kencang sekali πŸ˜‚ tapi, jangan panik dan kesal. Mereka seperti itu karena cemas dan takut melihat hal-hal baru.

Jadi, bagaimana sih cara mama dan aku mempersiapkan si kecil yang mau sekolah?

Jadi, begini, aku terbiasa menjelaskan “medan baru” yang akan si kecil datangi. Menceritakan bagaimana kondisi di sana. Memberitahu tempat tersebut melalui gambar ataupun youtube. Dan memberitahu apa saja hal yang boleh dan tidak dilakukan di sana.

Lalu, setelah dijelaskan, apakah di sekolah si kecil tidak menangis? Iya, tidak menangis. Mukanya memang tegang dan sedikit senyum, namun ia mengikuti semua instruksi yang ibu guru berikan. Sesekali ia mengintip ke arah aku dan mama, mungkin jantungnya berdegup kencang hahahaha tapi, ia mampu berpartisipasi dengan baik bersama kawan-kawan. Alhamdulillah.

Yang harus diingat selalu bagi kita si orang dewasa, jangan pernah lelah menjelaskan kepada si kecil yang rasa ingin tahunya tinggi ini. Kita egois sekali kalau berharap si kecil mengerti keadaan tanpa dibimbing dan diarahkan. Kita egois sekali kalau maunya si kecil tidak menangis padahal ia belum mengerti apa yang sedang dihadapi πŸ™

Fakta #2 Konsisten Melakukan Proses, Si Kecil Akan Mengikuti

Jangan bangun kesiangan, ya! Kalau bangun kesiangan, jangan marah-marah dan salahkan si kecil.

Sesenang apapun di sekolah, anak kecil tetaplah anak kecil. Ia akan menangis bila merasa terganggu. Ia akan marah bila merasa tidak nyaman. Ia akan cemberut bila merasa tidak senang.

Kurasa tentang bangun pagi ini memang masalah kebanyakan orang tua, ya. Nyatanya, meskipun sedari malam sudah diingatkan besok akan pergi ke sekolah, tetap saja si kecil akan susah bangunnya.

Sama seperti pagi ini. Ia susah sekali dibangunkan. Saat bangun pun, wajahnya cemberut dan mengeluh berulang kali. Mama pun nyaris tersulut amarahnya hahaha langsung saja kuajak si kecil ke kamar mandi. Meskipun sembari marah, ia tetap mau melangkahkan kaki.

Sesampainya di kamar mandi, ia masih menangis. Meskipun tidak menolak mandi, sepanjang proses mandi ia tetap cemberut dan menangis wkwk namun, aku tetap memandikannya. Saat proses pakai baju pun proses menangisnya masih dilanjutkan πŸ˜‚

Si kecil mulai berhenti menangis saat baju selesai dipakai. Dan mulai tersenyum saat roti coklat diberikan hahaha

Intinya, jangan marah dan kesal melihat si kecil menangis. Anak kecil itu kan memang belum pandai mengungkapkan perasaan. Kitalah yang harus menanyakan bagaimana perasaannya. Kita juga yang harus bisa menenangkannya.

Prosesnya memang panjang dan repot. Tetapi percaya deh, proses panjang itu akan memberikan hasil baik. Kamu akan takjub melihat bagaimana si kecil berproses dan berkembang :’) Ia akan menjadi anak manis, mau memperhatikan, dan pengertian.

Fakta #3 Biasakan Memandirikan Anak, Ia Akan Menjadi Anak yang Mandiri

Beberapa hal sederhana yang dapat dilakukan anak beberapa saat sebelum sekolah yaitu, pakai baju dan celana sendiri, makan sendiri, pakai kaos kaki sendiri, dan pakai sepatu sendiri.

Kalau adikku, masih kami bantu saat proses mandi. Soalnya si kecil masih sering melamun saat di kamar mandi wkwk kalau hal-hal yang kusebutkan di atas, Alhamdulillah ia sudah bisa melakukannya sendiri.

Namun, agar semua bisa dilakukan oleh si kecil, ia bangunnya pun harus lebih pagi. Jangan samakan kecepatan orang dewasa dengan anak kecil saat melakukan sesuatu. Tentu saja berbeda. Ia melakukan semua hal akan jauh lebih lambat. Bangun pagi lebih awal akan memberikan waktu panjang agar si kecil semua hal tersebut sendiri. Dan kita harus mengajari dan menunggu dengan sabar.

Pada awalnya, si kecil mengeluh kesusahan dan berulang kali ingin berhenti mencoba. Namun, kami tetap menyemangati, mengajari, dan menunggu agar si kecil melakukannya sendiri.

Untuk apa sih pembelajaran kemandirian ini? Banyak manfaatnya. Pertama, ia akan belajar bertanggung jawab atas barang miliknya sendiri. Kedua, ia akan belajar kesabaran dari proses yang dijalani. Ketiga, ia akan semakin percaya diri bahwa dirinya mampu melakukan banyak hal baru πŸ˜πŸ‘

Fakta-fakta ini semoga semakin membuka pemikiran kita bahwa anak memang perlu diajari. Semua hal. Jangan pernah berpikir ia akan mampu sendiri tanpa diberikan pengalaman lebih dulu. Memang benar, pada akhirnya ia akan mampu. Tetapi, orang tua harus mencontohkan di awal. Lalu, terlibat dalam prosesnya untuk memberi tahu hal benar dan tidak.

Jangan biarkan ia tumbuh sendiri. Bukankah pohon saja tidak boleh dibiarkan tumbuh sendiri? Ia akan tumbuh ke segala arah tanpa arah yang jelas. Ia akan mati bila tidak diberi pupuk dan sirami. Semoga kita dapat memahami :’)

Tentang Sekolah: Si Kecil Perlu Merasai dan Mengalami Sendiri

“Ini adalah kali pertama untukku.”

“Katanya, aku disuruh baris. Siapa orang di sebelahku ini? Baru saja ia mendorong badanku. Ia juga menginjak sepatuku. Kenapa aku harus baris di sini? Sempit sekali di sini. Bahuku dan bahu temanku saling menempel. Aku sulit bergerak. Aku benar-benar bingung situasi di sini.”

“Aku harus makan bekal ini. Apa yang harus aku lakukan untuk pertama kali? Ambil kotak makan kah? Ambil botol minum kah? Bagaimana cara membuka tempat makanku? Aku belum lancar makan sendiri.”

“Sampai kapan aku harus mengantre? Apakah aku harus berdiri terus begini? Ke mana mamaku? Aku bosan kalau terus-terusan di sini.”

***

Percakapan di atas adalah imajinasiku saat melihat wajah polos anak-anak di taman kanak-kanak hahaha

Di balik wajah polosnya, aku yakin mereka mengajukan banyak pertanyaan dalam pikirannya. Memahami itu, bagaimana kalau kita biarkan mereka belajar dengan caranya? Bagaimana kalau kita bebaskan ia berpikir dan merasa?

Saat di sekolah, biarkan saja si anak belajar dari semua hal yang ditemuinya. Salah, tidak apa-apa. Bingung pun bukan masalah. Namanya juga belajar kan, salah dan keliru adalah hal normal. Malah dua hal itu penanda kalau si anak sudah berusaha 😁

Orang dewasa ada untuk meluruskan hal yang salah ketika si anak sudah berusaha. Bukan mengatur “agar selalu benar dan tepat” saat si anak belum melakukan apa-apa.

Mungkin tantangan orang tua memang di sini. Ketika orang tua tidak tega melihat anaknya kesulitan, jadilah si orang tua memberikan pertolongan meskipun si anak belum membutuhkan. Atau ketika orang tua merasa kasihan ketika melihat si anak kebingungan, jadilah si orang tua memberikan arahan meskipun si anak belum meminta. Pada akhirnya, orang tua pun menjadi bingung. Kasih sayang yang ia berikan berdasarkan kebutuhan anaknya atau kebutuhan dirinya.

Kemarin, saat mengantar adik ke sekolah, aku pun baru menyadari hal ini. Anak kecil memang perlu belajar banyak hal. Jika di rumah si anak diajarkan oleh orang tuanya tentang Tuhan, agama, budi pekerti, dan kemandiriannya. Maka, di sekolah anak belajar tentang lingkungan dan orang-orang selain keluarganya.

Hanya di sekolah, adikku harus antre panjang sekali saat ingin mencuci tangan, harus bersabar saat beberapa kawan saling dorong-dorongan, dan harus kebingungan kala ia ketinggalan rombongan saat perkenalan ruangan πŸ˜‚

Pada kondisi itu, haruskah orang tua atau orang dewasa ikut campur dan turun tangan? Kurasa tidak perlu. Biarkan si anak menyelesaikan masalahnya sendiri. Bahkan ketika sang guru menegur adikku dan kawan-kawannya karena saling mendorong, bukankah hal tersebut juga sebuah pembelajaran? πŸ₯Ί

Sebaik-baiknya pembelajaran adalah ketika si anak merasakan dan mengalaminya sendiri. Seharusnya, anak tidaklah belajar dari kemudahan dan rasa senang saja. Namun, anak juga perlu merasakan kesulitan dan rasa sedih. Supaya si anak menjadi seseorang yang peka hati, wawas diri, serta mudah menghargai apapun yang ia miliki dan hadapi.

Sejak Kapan Mulai Mendidik Anak?

Many years ago, I met a young child who had memorised the Quran at 3 years old, so I asked his parents about how they nurtured him.

The father said, β€œWhen his mother was carrying him in her womb, she would recite Quran everyday. When she cooked, she recited Quran upon the food. When she drank, she recited Quran upon the drink. When she was sitting down freely, she would listen to the Quran. When she made du’a, she asked Allah to bless her child to be a person of the Quran. When he was born – his mother would recite Quran before feeding him. When he would sleep, he would listen to the Quran. When she played with him, she recited Quran to him. His entire life of three years was nothing but the Quran, so Allah made its memorisation easy for him. Dear parents, do you see how your piety affects your child? Do you see how your lifestyle can shape your child? Do you see how parenting starts before parenting?

Shaykh Mohammad Aslam

Kalimat di atas adalah kiriman dari sahabatku. Aku dan sahabatku sepakat berbagi satu ayat atau satu hadist setiap pagi. Semua berawal dari unggahan status whatsappku,”Sun will rise and we will try again.” Ia pun menanggapi,“Apapun yang sudah dilakukan, satu langkah kecil, selanjutnya tawakallah kepada Allah.” Setelah berbalas chat, ia mengajakku untuk melakukan tukar ayat dan hadist setiap pagi. Maka, dengan senang hati aku menyetujuinya.

Pagi tadi, aku tidak berbagi ayat atau hadist. Tetapi, berbagi sedikit materi tentang Kajian Kemuslimahan di Masjid UI Hari Rabu kemarin. Materinya bagus sekali. Tentang bagaimana cara memilih sekolah untuk anak. Sahabatku pun menanggapi chatku dengan semangat. Akhirnya, kami pun diskusi tentang topik itu.

Aku dan sahabatku bersyukur sekali mendapat ilmu tentang ini. Oleh karena itu, aku ingin berbagi juga ke teman-teman wordpress. Selamat membaca. Semoga bermanfaat πŸ™‚

Materi ini disampaikan oleh Ustadzah Masfarwati Muslim. Kemarin, ustadzah senang sekali banyak muslimah single yang hadir. Kata beliau, dengan tahu ilmunya lebih awal, semoga kami bisa menjadi ibu yang baik.

Mendidik anak ada tiga yaitu sebelum anak di dalam rahim, saat di rahim, dan setelah anak dilahirkan.

Sebelum Anak di dalam Rahim

Pertama, memilih calon yang shalih/shalihah. Semoga dalam memilih teman hidup kita tidak hanya memikirkan diri sendiri. Seperti hanya memikirkan kriteria idaman atau memikirkan kesamaan antara diri kita dengan dia. Ternyata rumah tangga tidak sesederhana itu. Kelak, ada banyak amanah yang akan kita terima. Kita harus menjalaninya dengan tanggung jawab. Kita tak akan mampu mengemban itu semua seorang diri saja. Kita membutuhkan teman hidup yang memiliki visi sama. Mau di bawa ke mana rumah tangga? Mau dididik seperti apa anak-anak kita? Memilih calon yang shalih/shalihah adalah modal penting untuk mendidik anak yang taat pada Allah.

Kedua, melakukan doa bersama sebelum melakukan hubungan intim suami istri. Kata Ustadzah ini penting dan harus menjadi kebiasaan. Karena ada banyak keberkahan yang didapatkan oleh suami, istri, dan keturunannya.

Setelah Anak di dalam Rahim

Orang tua harus melakukan kebiasaan baik bersama-sama. Organ tubuh pertama yang berfungsi dengan baik adalah telinga. Maka, sering membaca Al-Qur’an adalah keharusan. Orang tua juga harus mendoakan anak secara lisan. Khusus ibu, lakukan belaian lembut ke perut sambil mendoakan. Anak mendengar semua yang kita lakukan. Yakinlah, ada hal-hal yang tak kasat mata mungkin kita tidak memahaminya. Namun, kuasa Allah itu tidak terbatas. Bayi yang tampak tak tahu apapun ternyata mendengar dan menyadari apa-apa yang orang tua lakukan. Oleh karena itu, perbanyak lakukan amal kebaikan dan perbanyak doa. Allah akan mengabulkan.

Setelah Anak Dilahirkan

Ibu adalah madrasah pertama. Maka, mengajarkan agama kepada anak adalah kewajiban seorang ibu. Menurut ustadzah, pendidikan awal anak adalah mengenal dan mencintai Allah, mengenal dan mencintai Rasul, dan mengenal dan mencintai Al-Qur’an.

Setelah memasuki usia sekolah, tugas orang tua adalah memilihkan anak sekolah yang baik. Definisi baik di sini adalah sekolah yang mengajarkan secara seimbang antara ilmu agama dan ilmu-ilmu lainnya. Rekomendasi ustadzah, anak di sekolahkan di Sekolah Islam Terpadu. Jika keuangan tidak memungkinkan, tak apa anak bersekolah di sekolah lainnya. Namun, anak harus mengikuti kegiatan mengaji setiap hari. Pendidikan agama itu penting. Tanpa itu, anak tidak akan memiliki ilmu tentang kebenaran. Seseorang yang tidak memiliki konsep kebenaran tak akan bisa membedakan antara hal benar dan salah. Ia juga tidak memiliki prinsip yang kokoh ketika bergabung pada lingkungan yang heterogen.

Di sela-sela kajian, ustadzah pun bercanda. Ia mengatakan,“Minimal, ibulah yang mengajarkan anak Surat Al-Fatihah sampai hafal. Jangan biarkan guru ngajinya yang mengajari. Ibu tahu? Bila ada pembanding, Ibu mengajarkan Surat An-Naba. Lalu, guru ngaji mengajarkan Surat Al-Fatihah. Siapakah yang mendapatkan pahala paling banyak? Ibu atau guru ngaji? Guru ngaji bu. Si anak lebih sering baca Al-Fatihah dibanding Surat An-Naba bu. Dia baca surat Al-Fatihah 17 kali dalam sehari bu. Anak ibu jarang baca An-Naba. Kepanjangan, katanya. Jangan sia-siakan kesempatan itu bu. Surat Al-Fatihah, wajib para ibu yang mengajarkan!” aku tertawa sambil berbicara dan mencatat dalam hati. Iya, kelak, harus aku sendiri yang mengajarkan anakku mengaji.

Dalam chat whatsapp, sahabatku mengatakan bahwa anak adalah investasi akhirat. Apapun harus dimulai dari diri sendiri. Jika ingin anak shalih atau shalihah, maka kita harus jadi orang tua yang shalih dan shalihah juga. Semoga bermanfaat ya, teman-teman. Semangat menjadi orang tua dan calon orang tua yang shalih dan shalihah ya. Semoga Allah memudahkan πŸ™‚

Sepenggal Kisah Bersama Mami dan Razi

Saat ini, ada banyak hal berbeda. Tak lagi sama dengan yang dulu pernah ada. Meskipun begitu, jangan pernah menyesalinya. Percayalah, segala hal hadir selalu tepat pada waktunya. Semua hanya tergantung bagaimana cara kita memandang dan menikmatinya ☺

***

Kamu meminta maaf berkali-kali. Kamu mengatakan,“Maafin aku, Razi emang nggak betah diam lama-lama. Dia sukanya jalan-jalan.”

Aku benar-benar tak apa, sungguh. Meskipun ada begitu banyak keinginan bertukar cerita denganmu. Ada yang lebih penting dari pada itu. Aku ingin bertatap muka langsung denganmu. Dengan begitu, aku tahu, kamu benar-benar dalam keadaan baik atau tidak.

Aku dan Ira sama-sama tahu, pertemuan ini tidak akan memberikan banyak waktu untuk bertukar cerita. Razi yang berusia 10 bulan tentu tak akan mudah untuk diajak duduk dalam waktu lama. Lalu, ada suami Ira pula yang akan bergabung. Tak mungkin keduanya kita abaikan. Tak apa. Bagi kami, makan dan berjalan-jalan bersama di mall sudah lebih dari cukup untuk melepas sebuah kerinduan.

Kami mendorong stroller secara bergantian. Aku juga sesekali menggendong Razi untuk melihat-lihat sekitar. Meski Ira selalu menolaknya, ah, mana mau aku menurut padanya. Ini adalah perjalanan kita bersama. Maka, sebaiknya kita saling tolong-menolong, kan?

Kami tidak begitu lama berjalan-jalan di mall. Waktu sudah terlalu malam dan Razi tampak kelelahan. Akhirnya, kami memutuskan untuk segera makan.

Di tempat makan, Ira dan suami makan secara bergantian. Aku menatap mereka dengan tersenyum. Mungkin ini yang dinamakan bekerja tim dalam rumah tangga. Saling menopang beban dan tugas agar terasa lebih ringan. Aku sebenarnya ingin membantu menggendong Razi. Tetapi, kali ini Ira menolak dengan tegas. Katanya,”Udah makan dulu cepetan! Abis ini kita ke mushola susuin Razi. Sambil ngobrol juga di sana hihihi.” Dan aku pun menuruti perkataannya.

Kata Ira, ketika sudah berumah tangga, seorang ibu akan mengubah segala keinginannya. Yang penting, semua suka dan bahagia. Contohnya, Ira dan suami ini. Suami Ira tidak senang memakan makanan western. Pokoknya, sang suami lebih senang makanan Indonesia. Padahal, Ira senang sekali dengan burger, pizza, dan pasta. Tetapi, untuk makan bersama keluarga, Ira lebih memilih mengalah. Lagipula, Ira memang bukan pemilih makanan. Ira senang semua jenis makanan.

Setelah menjadi ibu, Ira juga memilih makanan yang tidak pedas. Tujuannya, supaya Razi juga bisa menikmati makanan bersamanya. Ira melakukannya tidak terpaksa. Sepertinya, semua itu dilakukan karena cinta. Maka, Ira pun melakukannya dengan bahagia.

Di musala, meski tampak lelah dan ngantuk, Razi tak juga bisa memejamkan mata. Padahal, suasana di sana lumayan tenang. Entahlah. Mungkin, Razi bimbang karena terlalu rindu dengan Tante Shinta? Wkwk

Di musala, ada beberapa anak tangga dan satu jalur untuk kursi roda. Razi tak bisa menahan diri untuk tidak bermain di sana. Razi pun merangkak di tangga-tangga tersebut. Mami Ira yang sudah terbiasa multitasking, mampu bercerita tentang kegiatan tahsinnya sambil mengawasi si lincah Razi. Keren si mami πŸ˜‚

Aku berterima kasih pada Ira. Bertemu kawan saat memiliki bayi 10 bulan tentu bukan hal yang mudah. Tetapi, Ira meluangkan waktunya untukku. Terima kasih banyak, Ira.

Aku juga berterima kasih pada suami Ira, Kak Arif. Terima kasih telah mengizinkan Ira bertemu denganku. Terima kasih telah sabar menunggu.

Razi, terima kasih sudah bekerja sama dengan Mami Ira. Terima kasih karena bersabar dan tidak menangis. Sehat selalu ya, Razi. Nanti kalau sudah bisa jalan, sebaiknya, tante dan mami mengajakmu ke padang rumput yang begitu luas, yaaaaa. Supaya Razi bisa bebas berlari-larian ke mana saja.

***

Aku dan Ira bahagia dengan peran baru yang kami jalani ini. Ira menjalani peran sebagai istri dan ibu. Aku menjalani peran sebagai muslimah, anak, dan karyawan dari sebuah institusi. Kami memang tidak melulu bertukar kabar melalui pesan singkat. Kami jarang melakukan video call. Kami jarang bertukar cerita melalui voice note. Saat berjumpa pun kami tak bisa lagi bercerita panjang lebar seperti dulu. Tak apa. Sebab, kami menyadari beberapa hal. Yang paling penting adalah kami masih bisa bertemu, saling tersenyum, dan melakukan aktivitas bersama.

Aku merasa, ketika tanggung jawab semakin banyak dan masalah hadir silih berganti, kehadiran sahabat di sisi sungguh meringankan sebuah beban. Ketika kehidupan begitu sulit untuk dijalani, senyuman dan genggaman tangan sahabat dapat menenangkan.

Untuk sebuah pertemuan, bagaimana kalau kita bersyukur? Ada banyak pertemuan yang masih ditangguhkan, karena Allah belum mengizinkan.

Hikmah Satu Bulan Tanpa Ayah

Ayah yang biasa membantu segala keperluan, harus absen selama satu bulan karena keperluan pendidikan. Alhasil, kami harus bertahan satu bulan di rumah tanpa sosok ayah. Kami harus bertahan satu bulan di rumah, tanpa peran ayah. Rasanya seperti apa? Rasanya sungguh sedih dan kehilangan. Ah, mengapa menusia selalu saja begini, baru merasakan pentingnya seseorang ketika orang tersebut menghilang? Baru mensyukuri kebaikan seseorang ketika orang tersebut pergi? Apakah harus merasakan kehilangan dahulu, baru setelahnya kita memiliki hati yang peka? Ah dasar manusia. Ah dasar aku.

Banyak ketidakeraturan hadir ketika ayah tak ada di rumah. Banyak kegamangan hadir ketika ayah tak ada. Banyak kekhawatiran hadir ketika ayah jauh dari sisi kami. Banyak kecemasan hadir ketika ayah tak disini. Kami tidak merasa tenang tanpa ayah di rumah. Mungkin kami tidak bisa jauh dari ayah. Kata orang, bisa karena kita terbiasa. Tetapi aku tak yakin perkataan orang tersebut. Sebulan terbiasa tanpa ayah, nyatanya kami tetap saja tidak terbiasa. Seperti ada yang hilang. Kami tidak lengkap tanpa hadirnya ayah.

Merasakan ketidakhadiran sosok ayah dalam keluarga membuat aku sadar mengapa setiap manusia harus menikah. Manusia membutuhkan manusia lainnya untuk saling membantu. Manusia membutuhkan manusia lainnya untuk bekerja sama. Manusia membutuhkan manusia lainnya untuk saling menguatkan.

Istri yang begitu mudah menggunakan perasaannya, hingga terkadang hal tersebut menyulitkan dalam menyelesaikan setiap masalah. Suami yang begitu mudah menggunakan logika, terkadang hal tersebut menyulitkan dalam memahami perasaan orang lain. Suami dan istri bersama untuk saling melengkapi kan? Allah Maha Tahu segala kelebihan dan kekurangan ciptaan-Nya. Sungguh indah dan sempurna segala ketentuan Allah :’)

Pelajaran terbaik memang mendapat hikmah dari sebuah kehilangan. Namun, jika mau mengusahakannya, kita bisa mendapatkan hikmah tanpa harus merasakan kehilangan dahulu. Melihat kekurangan orang lain memang lebih mudah daripada melihat kebaikan. Karena pada dasarnya manusia lebih sering melihat kekurangan dibandingkan nikmat. Tetapi, jika mau, kita bisa kok melihat kebaikan-kebaikan orang lain. Ada banyak nikmat dan kebaikan yang patut kita syukuri.

Ada banyak hal sederhana yang sering orang lain lakukan, tapi kita selalu saja salah fokus dalam memandang. Misalnya, daripada mengomentari rasa pedas yang begitu menyengat lidah, bagaimana kalau kita berterima kasih dan memuji cita rasa makanan itu dahulu? Daripada mengomentari keterlambatan seseorang, bagaimana kalau kita berterima kasih atas kebaikannya meluangkan waktu? Daripada mengomentari hadiah seseorang karena tidak sesuai selera kita, bagaimana kalau kita berterima kasih dahulu atas perhatian yang diberikan? Dengan melakukan semua itu, kita akan terlatih untuk menghargai tindakan orang lain. Hati kita akan lebih peka untuk melihat kebaikan. Dan akhirnya, kita akan menyadari pentingnya kehadiran seseorang dalam hidup kita.

Aku belajar dari kehilangan. Banyak hal sederhana ternyata telah luput dari perhatian. Hal sederhana yang sebenarnya memiliki arti sangat bermakna. Hal sederhana yang baru kusadari ketika ayah pergi. Ayah yang tak pernah absen membangunkan ketika waktunya shalat subuh. Ayah yang selalu mengingatkan ketika aku meletakkan sesuatu bukan pada tempatnya. Ayah yang selalu mengingatkan agar menyiapkan segala keperluan jauh-jauh hari keberangkatan. Ayah yang selalu memanaskan mesin motor sebelum aku berangkat kerja. Ayah yang selalu memastikan bensin motor penuh ketika ingin digunakan. Ayah yang selalu duduk di teras ketika aku tak juga sampai rumah hingga larut malam. Ayah memberi begitu banyak, kan? Semua itu luput dari perhatian. Hingga tak sempat mengatakan terima kasih. Hingga tak sempat mensyukuri.

Seringkali aku, kamu, dan kita tidak menghargai tindakan orang lain karena terlalu terbiasa merasakan. Seringkali aku, kamu, dan kita, merindui hal-hal sederhana itu, ketika kehilangan.

Semoga kita tidak seperti itu lagi. Sebab, tentang sebuah kehilangan, tak pernah ada yang bisa menjamin ia akan kembali. Syukur-syukur ia bisa kembali dan kita dapat berterima kasih lagi. Jika tidak, yang kita dapat hanya sebuah penyesalan. Penyesalan yang tak akan hilang meskipun berkali-kali menyembuhkan diri.

Menjadi Orang Tua Asyik

Topik kajian yang dibawakan Ustadz Bendri dua pekan lalu adalah tentang mendidik anak yang beranjak pubertas. Saya semangat sekali datang ke kajian itu. Alasannya karena ingin tahu. Kalau bahasa anak milenial, saya benar-benar pengen tau banget lah gitu.

Saya sadar, kelak akan mendidik anak yang beranjak pubertas. Saya juga memiliki adik laki-laki yang sedang memasuki masa-masa pubertas. Dua hal itulah yang menjadi alasan kuat mengapa saya perlu menghadiri kajian Ustadz Bendri.

Dari kajian itu, saya tahu, ada beberapa hal yang perlu dipersiapkan orang tua untuk mendidik remaja yaitu, menanamkan tauhid, menanamkan rasa malu, menguatkan ikatan hati ke anak, mengajarkan menundukkan pandangan, mengajarkan mengendalikan nafsu perut, menyibukkan anak dengan banyak aktivitas, dan membantu anak memilih pergaulan yang baik.

Nah, salah satu persiapan yang menarik perhatian saya adalah menguatkan ikatan ke anak. Karena menarik banget, saya mau berbagi pandangan tentang hal ini ke teman-teman. Tentunya berdasarkan pengalaman saya sendiri. Jadi, kalau teman-teman memiliki pandangan lain, boleh sekali berbagi ke saya πŸ˜‰

Kata Ustadz, cara menguatkan ikatan ke anak adalah dengan menjadi orang tua yang asyik. Mengapa penting? Ikatan hati yang kuat antara anak dan orang tua akan menghadirkan cinta. Hadirnya cinta, akan menghadirkan rasa percaya. Kalau anak sudah percaya ke orang tua, maka, nasihat orang tua akan mudah sekali didengarkan oleh anak. Anak akan nurut sama orang tua. Ia akan percaya semua perkataan orang tua. Ikatan hati benar-benar sangat penting, ya? Cinta dan rasa percaya adalah dua hal yang tak bisa dipisahkan.

Menjadi orang tua asyik sebenarnya tidak sulit. Orang tua hanya perlu memperlakukan anak sebagai sahabat. Kita saja mampu membuat nyaman para sahabat. Masa kita tak mampu membuat anak nyaman? Kalau kata Ustadz Bendri, orang tua harus PDKT (Pedekatan) sama anak. Apalagi mendidik anak perempuan. Orang tua harus benar-benar menunjukkan perhatiannya. Sebab, secara takdir, perempuan memang selalu senang diperhatikan. Jadi, tidak perlu malu memuji anak dengan sebutan cantik atau ganteng. Tidak perlu malu mengajak anak kencan berdua. Tidak perlu malu mengajak anak nonton bioskop bersama. Tidak perlu malu mengatakan cinta.

Mungkin beberapa orang akan beranggapan cinta itu lebih penting dibuktikan dengan perbuatan daripada perkataan. Iya benar sekali, namun, jika tidak dikatakan, bukankah anak tidak akan tahu? Apalagi dengan pemahaman dan tingkat kedewasaan anak remaja yang belum mumpuni. Bukankah anak remaja tidak akan sepeka itu memerhatikan perbuatan sebagai bukti cinta kedua orang tuanya? Bukankah setiap orang akan bahagia bila mendengar kalimat manis seperti kalimat ‘aku/kami menyayangimu’? Bukankah lebih baik pembuktian cinta dilakukan bersama-sama melalui perbuatan dan perkataan?

Menjadi orang tua asyik tidak hanya penting sebagai persiapan mendidik anak yang beranjak pubertas. Namun, juga penting untuk membuat anak merasa dicintai, dikasihi, dan merasa dipentingkan oleh seseorang. Jangan sampai, hanya karena orang tua merasa sungkan menjadi orang tua asyik, membuat anak menjauhi kedua orang tua. Dan akhirnya terbentuk jarak yang begitu luas antara anak dan orang tua.

Jangan sampai, hanya karena orang tua malu/tidak terbiasa berlaku asyik di depan anak, membuat anak merasa tidak cintai. Dan akhirnya ia akan mencari keasyikan dan cinta di luar rumah. Beruntung bila anak bertemu teman yang asyik dan baik. Bagaimana bila anak bertemu dengan teman yang asyik, namun memberikan pengaruh yang tidak baik? Hal tersebut berbahaya sekali. Hal tersebut akan merusak anak.

Sebelum menutup kajian dua pekan lalu, Ustadz Bendri juga mengingatkan, menjadi orang tua asyik sungguh sangat penting. Sebab, hal tersebut adalah pintu kesempatan orang tua memasukkan nilai-nilai kebenaran kepada anak. Pintu kesempatan orang tua memasukkan nilai-nilai Islam kepada anak. Karena hakikatnya, orang tua hadir dalam kehidupan anak memang untuk mendidiknya menjadi manusia yang cinta Allah dan memiliki sikap terpuji.

Semangat berusaha menjadi orang tua asyik, para orang tua ataupun calon orang tua! πŸ™‚ meskipun tidak mudah, kita harus tetap berjuang dan melangkah. Kita pasti bisa. Apa-apa yang baik tak akan terjadi begitu saja tanpa adanya perjuangan, kan?

Tentang Ayah dan Pendamping Hidup

Mungkin ini yang dimaksud pentingnya wanita memiliki panutan laki-laki dari sosok ayah. Sebab, wanita tak akan bingung lagi bagaimana memilih pendamping hidup.

Ayahku adalah orang yang senang belajar. Ayah tak pernah memanfaatkan kemampuan anaknya untuk menyelesaikan tugasnya. Aku ingat betul bagaimana ayah belajar menggunakan komputer beberapa tahun lalu. Ayah juga belajar mengoperasikan handphonenya sendiri. Aku bahkan tak pernah merasa kesulitan berkomunikasi dengan ayah tentang teknologi terkini. Kurasa, ayah lebih tahu dibanding aku.

Ayahku sedang mempersiapkan diri untuk seleksi melanjutkan pendidikan. Meskipun administrasi sudah memenuhi syarat, masih ada tes kesehatan dan tes psikotest untuk seleksi tahapan selanjutnya.

Karena senang belajar, ayahku pun memiliki pikiran yang terbuka dan mau berubah menjadi lebih baik. Contohnya masalah kesehatan ini. Sudah sedari lama, ayah tak lagi meminum minuman yang mengandung bahan kimia. Ayah tak lagi memakan makanan yang mengandung lemak. Ayah meminum banyak air putih. Dan ayah rutin melakukan olahraga tenis meja. Alasannya sederhana, ayah tidak ingin sakit. Ada banyak sekali teman-teman sebayanya yang memiliki penyakit berat seperti stroke, gagal jantung, dan diabetes. Melihat kenyataan seperti itu, ayah pun lebih sadar dengan kesehatannya. Oleh karena itu, untuk persiapan seleksi kesehatan ini, ayah tak begitu khawatir. Ayah sudah menjaga kesehatannya sejak lama.

Lalu, untuk tes psikotest, ayah juga mempersiapkannya dengan serius. Seringkali aku memergoki ayah sedang melihat soal-soal di youtube, lalu mengerjakannya pada kertas kosong. Melihat pemandangan itu, aku merasa malu sekaligus bangga. Malu karena semangat belajarku tidak sebesar ayah dan bangga karena memiliki panutan seperti ayah. Ayah juga mengikuti bimbingan belajar bersama beberapa temannya. Jadi, mereka latihan soal psikotest yang jumlahnya ratusan. Semangat juangnya keren banget ya? Kelak, saat seusia ayah, belum tentu aku memiliki semangat juang seperti itu.

Ayahku pandai berbaik sangka. Terkait seleksi melanjutkan pendidikan ini, ayah menunjukkan usaha terbaiknya, namun tak memaksakan takdir. Ayah mengatakan,“Tugas manusia memang berusaha seoptimal mungkin, mbak. Kalau belum lulus seleksi, ya artinya memang takdir terbaiknya seperti itu. Ayah tak tahu segala hal. Tetapi, Allah Maha Tahu, kan?”

Melihat ayah mengatakan itu ada rasa bahagia dan haru. Betapa Allah Maha Baik memberikan ayah seperti ayahku.

Di usia ayah yang sebentar lagi 52 tahun, tentunya fisik tak lagi sama. Namun, jiwa muda ayah tetap terjaga. Proses seleksi ini cukup panjang. Ayah harus menghadiri pertemuan awal yang menjelaskan bagaimana prosedur selama seleksi dan apa saja yang harus dipersiapkan. Ayah juga harus datang lagi untuk melakukan tes kesehatan. Ayah harus tes psikotest. Dan beberapa hari ke depan, ayah masih harus tes psikotest lanjutan. Kalau aku, mungkin akan baik-baik saja karena usia yang masih terbilang muda. Kalau ayah? Pasti tak mudah dan melelahkan. Tetapi berbeda dengan ayah. Ayah tak merasa terbebani. Ayah begitu santai namun melangkah pasti. Mungkin inilah yang disebut berkawan dengan proses. Seberat apapun ujian, proses akan terasa mudah.

Ayahku bukanlah ayah yang sempurna. Namun, ayah memberi begitu banyak kepadaku. Ayah memberi begitu banyak pelajaran untukku. Salah satu contohnya, tentang persiapan seleksi melanjutkan sekolah ini. Kamu dapat membayangkan sendiri bagaimana sikap ayahku dari cerita di atas :’) Aku dibuat takjub berkali-kali atas usahanya. Aku dibuat haru berkali-kali atas sikap pantang menyerahnya. Aku dibuat bangga berkali-kali atas perjuangannya.

Melihat perjuangan ayah, tanpa sadar membuat aku mengagumi sosok baru. Sosok baru yang kelak menjadi pendamping hidupku. Kurasa, kini aku memiliki standar untuk memilihnya.

Sebaik-baiknya pendamping hidup adalah laki-laki seperti ayah. Laki-laki yang menghargai kehidupan. Laki-laki yang memiliki semangat hidup tinggi. Ia yang tak pernah menyerah meskipun kehidupan tampak tak memberikan harapan. Ia yang terus melangkah meskipun kaki telah terluka. Ia yang tetap tersenyum meskipun ada banyak luka pada hatinya. Ia yang tak pernah berhenti belajar. Ia yang hanya berharap dan menyerahkan seluruh hidupnya pada Allah.

Terima kasih telah lahir ke dunia, Ayah. Terima kasih telah menjadi ayahku.

Terima kasih telah menciptakan ayahku ke dunia ini, Allah. Mohon lindungi dan kuatkan ayah selalu. Aamiin.

Belajar dari Si Mbak: Berbakti kepada Orang Tua

Buah jatuh tak jauh dari pohonnya. Peribahasa itu memiliki arti tentang kemiripan antara anak dan orang tua. Dari segi intelegensi, karakter, ataupun sikap. Ungkapan itu benar adanya. Kita pun sama-sama tahu bahwa seorang anak akan meniru tindak tanduk sang ayah dan bunda. Oleh karena itu, kemiripan antara anak dan orang tua adalah hal yang sangat wajar.

Siang kemarin, ada satu Β pemandangan yang menyentuh hati saya. Ketika melihat seorang anak membujuk ibunya untuk melakukan latihan fisik. Ketika melihat anak itu menyemangati ibunya supaya bersemangat kembali melakukan rehabilitasi. Sedikitpun tak ada raut wajah terpaksa dari sang anak. Ini adalah kali pertama saya melihat sosok anak seperti dia. Tutur kata yang hangat dan lembut benar-benar menyentuh hati saya. Sekaligus membuat berkaca, sudahkah saya menjadi anak seperti dia?

Dan, tahukah bagaimana hasil dari ketulusan anak itu kepada ibunya? Dengan raut wajah sedih karena melihat sisi tubuh kirinya sulit untuk digerakkan, sang ibu tetap berusaha dan bersemangat. Sesekali memang berhenti melakukan latihan, karena kesulitan dan kelelahan. Namun, sang anak tetap menyemangati dan membantu dengan lembut.

“Ibu ndak bisa. Itu jarinya semuanya nekuk. Ndak bisa dilurusin.” Sang ibu mengeluh dengan raut wajah sedih menggunakan logat jawa tengah yang khas.

“Ndak apa-apa, bu. Kan proses. Pelan-pelan aja ya bu. Kan kemarin aja lidahnya ndak bisa ditekuk, kan? Coba lihat sekarang lidahnya, udah bisa ditekuk kan?! :D” Sang anak menyemangati dengan wajah hangat dan intonasi suara yang sungguh santun.

Iya, ini bisa. Lidah ibu bisa melet ke samping. Minum pake sedotan dibibir kiri juga udah bisa. Sedotannya ndak jatuh lho, mbak.” Berkat motivasi sang anak, ibu pun semangat lagi. Dengan bangga ia memberitahu ke saya πŸ™‚

“Wah, coba lagi bu, saya mau liat. Mana coba lidahnya ke samping kiri. Ohiyaaa, hebatnya ibu. Sekarang gampang ya bu minum pakai sedotan? Alhamdulillah. Digunakan terus ya bu sisi yang sakitnya. Insya Allah, nanti akan meningkat kemampuannya.” Aku pun tak ingin kalah dari sang anak untuk menyemangati ibu.

Bertemu dengan seseorang yang mengalami keterbatasan fisik, kita memang harus terus memotivasi dan memberikan pujian. Dan menggunakan bagian lain yang sehat untuk menopang bagian yang sakit. Berikan kemudahan dengan cara fasilitasi setiap kegiatan. Dengan begitu, ibu akan lebih ringan melakukannya.

Tak banyak ditemui orang macam si anak dan ibu ini. Keduanya terlihat sekali memiliki hati yang luas. Keduanya, melihat kesulitan bukan sebagai musuh. Namun, sebagai ujian yang memang harus dijalani. Mereka tahu betul, yang dibutuhkan ketika menghadapi masa-masa sulit bukanlah solusi kilat nan cepat. Melainkan, kehadiran orang-orang tersayang yang membersamai dan menguatkan. Mereka memahami betul, kesulitan akan terasa ringan bila dihadapi bersama. Mereka memahami betul, yang dibutuhkan saat masa-masa sulit adalah ketenangan hati dan pikiran.

Sang anak membuat saya belajar bahwa sejatinya peran anak sangat penting ketika orang tua sakit. Sesungguhnya, orang tua tak butuh sejumlah uang untuk membiayai rumah sakit mewah dan kamar perawatan vip. Orang tua juga tak benar-benar membutuhkan makanan lezat dan bergizi untuk memulihkan kesehatan. Namun, kehadiran anak disaat-saat sulit inilah yang akan menjadi obat alami untuknya. Hati yang tenang ketika anak disisinya dan pikiran yang damai ketika anak memperhatikannyalah yang akan menjadi penyembuh untuknya.

Menjadi sosok seperti anak ini memang tak mudah. Karena memang anak akan benar-benar diuji. Kondisi fisik yang sakit akan membuat perasaan dan pikiran sang ibu tidak dalam keadaan stabil. Jadi, selain meluangkan waktu, anak juga harus memiliki sabar yang seluas langit.

Tidak perlu mengeluh dan merasa terbebani. Mungkin, sebaiknya kita memikirkan kembali kasih sayang orang tua mengasuh dan mendidik kita. Bukankah selama ini orang tua selalu melakukan itu semua untuk kita? Bukankah mereka sedikitpun tak pernah mengeluh dan merasa terbebani? Bukankah mereka melakukannya dengan kasih sayang tak terhingga? :’) Hal ini sepertinya harus menjadi perhatian dan renungan para anak bersama. Bagaimana menjadi anak yang berbakti. Jangan sampai, ketika kelak ujian sakit datang kepada orang tua, kita lupa hakikat sebagai anak berbakti. Jangan sampai kita malah mengeluh dan tak ikhlas melakukannya. Semoga Allah mengingatkan dan memudahkan kita menjadi anak yang berbakti.

**

Terima kasih telah menjadi anak yang berbakti, mbak. Berkat mbak, saya berkaca. Menjadi anak berbakti memang perlu diperjuangkan. Perlu diniatkan. Apa kabar dengan saya? Ternyata masih banyak hal perlu Β diperbaiki. Ternyata masih banyak hal perlu dilakukan untuk orang tua. Ternyata, saya harus banyak belajar lagi menjadi anak yang berbakti.