Bila Kita Tahu Semua Hanya Titipan

Sore tadi, rekan kerjaku menonton ceramah almarhum Ustadz Zainuddin MZ. Sambil mengerjakan tugas, aku pun turut mendengarkan ceramah tersebut. Materi yang dibicarakan ustadz sangat menarik. Masalah ini sering kita temui dalam kehidupan sehari-hari.

Beberapa hari yang lalu, mama bercerita bahwa kakaknya teman kecilku sakit jiwa. Aku sebut Daren saja ya supaya lebih mudah menyebutnya.

Daren memang sudah pindah sejak 15 tahun yang lalu. Sejak itu, kami tidak tahu kabar Daren dan keluarganya. Teknologi yang belum canggih membuat kami kesulitan komunikasi. Kami tidak saling memberi kabar.

Jadi, mamaku dapat informasi ini dari mantan pembantu rumah tangga Daren. Ia bercerita, semua berawal ketika Daren kehilangan motornya. Aku tidak tahu merk motornya apa. Tetapi, mama bilang ‘motor besar’. Mungkin sejenis motor ninja atau CBR.

Sejak kehilangan motor, Daren mengurung diri di kamar. Mungkin Daren belum menerima kenyataan bahwa motor yang ia beli dari tabungannya sendiri telah kandas. Entah bagaimana kehidupan Daren selama ini hingga karakternya bisa serapuh itu. Aku benar-benar sedih mendengar kabar Daren.

Ceramah Ustadz Zainuddin membahas perihal ini. Kata ustadz, seandainya saja setiap manusia tahu bahwa ia tidak memiliki apa-apa di dunia. Mereka tidak akan sombong. Seandainya saja manusia tahu bahwa apa-apa yang dianggap milik adalah hanya sebuah titipan. Mereka akan sadar diri.

Ada banyak kasus-kasus Daren lainnya. Ketika dua orang saling jatuh cinta dan bergantung. Keduanya merasa saling memiliki. Sehingga saat salah satu berkhianat, seringkali pihak yang dikhianati akan begitu patah dan rapuh. Kalau tidak kuat iman dan mental, bisa-bisa yang dikhianati itu tidak akan sanggup menjalani hidup lagi. Ia merasa hidupnya telah berakhir. Sama seperti kisah cintanya yang telah berakhir.

Atau tentang calon anggota legislatif yang berharap menjadi anggota DPRD, DPD atau DPR. Ketika hasil perhitungan selesai, ternyata skor miliknya tidak mencapai batas minimal. Akhirnya ia pun gagal terpilih menjadi anggota legislatif. Lalu, berikutnya apa yang terjadi? Ia tidak mampu menerima kenyataan. Pikirnya, bagaimana bisa ia gagal terpilih. Padahal ia sudah mengeluarkan banyak dana dan tenaga. Padahal ia sebegitu yakinnya atas pemilihan umum ini. Calon legislatif pun akhirnya masuk rumah sakit jiwa.

Kita seringkali lupa. Menggantungkan mimpi dan harapan setinggi-tingginya, namun tidak menyertakan faktor Tuhan di dalamnya.

Semua yang kita punya dan rasakan di dunia, sungguh hanya sebuah titipan. Yang kelak bila sudah tiba waktunya, sang penitip akan mengambil kembali apa-apa yang dititipkannya.

Ustadz Zainuddin Mz memberikan analogi perihal titipan ini dengan tukang parkir. Katanya, kita perlu belajar dari cara kerja tukang parkir.

Si tukang memiliki lahan yang begitu luas. Sedari awal ia sudah tahu bahwa lahannya akan digunakan sebagai tempat penitipan mobil dan motor orang lain. Ia tahu tugasnya adalah hanya untuk menjaga motor dan mobil yang telah dititipkan. Bila sudah waktunya, entah sore atau malam, si penitip akan mengambil kendaraannya kembali.

Si tukang parkir juga memahami bahwa ia hanya boleh menjaga kendaraan dengan baik tanpa merasa memiliki. Sesuka apapun si tukang pada merk motor dan mobil di sana, ia tetap sadar bahwa keduanya memang bukan miliknya.

Bila sore atau malam tiba, sang pemilik kendaraan pun datang. Si tukang parkir harus mengembalikan titipan kendaraan tersebut dengan hati yang lapang. Ia tidak marah atau sedih. Sebab ia sudah tahu sejak awal bahwa tugasnya hanya untuk menjaga kendaraan dalam batas waktu tertentu.

Kita pun seharusnya seperti itu. Dalam hal apapun. Tentang cinta, suami, istri, anak, harta, atau jabatan. Semua hanya titipan Tuhan. Dan Tuhan akan mengambil titipan itu kembali. Entah kapan. Semoga bila waktunya datang, kita sudah menyiapkan hati yang lapang untuk menerimanya dengan ikhlas.

Melakukannya tidak akan mudah. Namun, aku harap serapuh apapun nanti saat titipan tersebut diambil Tuhan, kita tetap memiliki prinsip yang kuat. Kita tidak boleh hilang arah. Ataupun merasa kehidupan telah selesai. Kita tidak boleh menyerah.

Bagi muslim, kala situasi begitu menyulitkan dan tak ada satu orang pun dapat membantu, jangan takut. Allah selalu membantu.

Kita pasti pernah merasakan hari-hari sulit dan kemudian merasakan manfaatnya setelah beberapa tahun kemudian, kan? Begitulah cara Allah. Cara Allah begitu luas dan baik sehingga terkadang kita tak mampu memahami dalam waktu cepat.

Kemampuan manusia yang terbatas, membuat kita kesulitan membaca banyak hikmah.

Kemampuan kita yang terbatas, sehingga hanya tahu segala hal yang diinginkan bukan apa-apa yang dibutuhkan.

Ingat, segala hal yang kita punya saat ini hanya titipan Allah. Cintai segala hal yang ada di hidup kita karena Allah. Sehingga, bila ketetapan-Nya datang, kita tak akan menolak dan terus meratap. Melainkan, bersedih sekadarnya dalam sebuah penerimaan. Karena kita yakin, tidak ada ketentuan terbaik selain takdir yang Allah berikan.

Adakah Alasan untuk Meragukan Kemampuan Sendiri?

“Aku mengatakan kepada mereka aku menjalani hidupku dengan falsafah yang sederhana: aku selalu mengatakan pertama-tama ya; kemudian bertanya, nah, apa yang harus aku lakukan untuk memenuhinya? Lalu, aku bertanya pada diriku, hal terburuk apa yang akan terjadi jika aku tak berhasil? Dan jawabannya adalah, aku benar-benar tak berhasil! Dan bila aku bertanya apa yang terbaik yang bisa terjadi? Aku pun berhasil! Apalagi yang akan diminta hidup ini dari anda? Jadilah diri anda sendiri dan selamat menikmati!” begitu kata Fran Capo.

Kalimat di atas adalah kutipan dari cerita pendek dalam buku Chicken Soup for the Woman’s Soul.

Aku suka sekali dengan kalimat di atas. Betapa menjakjubkan wanita dengan pemikiran seperti ini. Ia yakin bahwa prinsip yang terus menggema dalam pikiran dan hati akan memengaruhi perilakunya. Ia yakin bahwa rasa percaya pada diri sendiri, akan memberikan hasil yang luar biasa. Ia juga yakin bahwa berpikir positif akan memberikan hasil yang juga positif. Lagi-lagi kekuatan pikiran bekerja disini. Oleh karena itu, mengatur pikiran pada mode positif adalah keharusan. Hal-hal baik terjadi berawal dari pikiran-pikiran yang baik, kan?

Dulu sekali aku melakukan hal yang serupa. Saat itu, adalah kali pertama aku percaya pada diriku sendiri bahwa aku mampu. Aku mampu melakukan apapun asalkan ‘aku mau’. Tidak ada hal yang tak dapat dilakukan selama ada niat, kemauan, dan usaha keras. Saat itu, aku belum berpikiran seperti Fran Capo di atas. Pikiranku hanya sederhana yaitu, aku tidak ingin mengecewakan orang-orang yang memberikan kepercayaan. Aku ingin memberikan yang terbaik. Dan, hasilnya adalah kemauan yang tinggi akan berbanding lurus dengan hasil yang tinggi. Usaha yang tinggi juga berbanding lurus dengan hasil yang tinggi. Jadi, pepatah yang mengatakan usaha tak akan mengkhianati hasil memang benar adanya. Bukan semata-mata kata-kata mutiara saja, lho.

Semesta pun mendukung perubahan baik pada diriku. Seketika itu pula ada banyak tantangan yang datang. Tantangan yang sesuai dengan ketertarikanku dan tantangan di luar ketertarikanku. Aku menerima semuanya. Aku mencoba semuanya. Aku tahu, menerima artinya akan ada tanggung jawab yang harus dipertanggung jawabkan. Mencoba artinya aku harus siap belajar dan berguru pada ahlinya. Entah motivasi datang dari mana, saat itu aku memiliki semangat yang tinggi sekali. Mungkin karena saat itu aku jauh dari orang tua. Keadaan membuatku harus kuat dan berani. Aku tak takut gagal. Aku pun tak takut tak mampu. Saat itu, aku yakin selalu ada jalan untuk orang-orang yang mau belajar dan berusaha. Aku yakin, Allah akan memudahkan orang-orang dengan niat baik.

Menjadi bisa dan mencapai sesuatu memang tak terjadi begitu saja. Seperti pertanyaan Fran Capo,”Apa yang harus aku lakukan untuk memenuhinya?” Tentu ada banyak perjuangan dan pengorbanan yang dilakukan. Seperti, tak boleh malu bertanya pada sang ahli. Tak boleh malas berlatih. Tak boleh malas mencari referensi. Tak boleh pelit meluangkan waktu sebanyak-banyaknya untuk belajar. Tak boleh takut gagal. Tak boleh menyerah. Dan harus rela meninggalkan hal-hal menyenangkan yang tak berhubungan dengan sesuatu yang diperjuangkan. Mudah? Tentu saja tidak. Seberapa kuat niat, pasti ada pula saat-saat turunnya semangat. Dan pada saat itu, cara terbaik menghadapinya adalah dekat-dekat sama Allah. Biasanya, setelah itu hati akan lapang dan semangat akan kembali lagi 🙂

Aku pun merasakan hasilnya sendiri bahwa ada hasil luar biasa untuk para pejuang. Aku dapat bertanggung jawab dengan apa-apa yang telah kuterima. Aku dapat mencoba banyak hal baru yang sebelumnya terpikirkan pun tidak. Aku dapat menggunakan kesempatan dengan sebaik-baiknya. Aku menggunakan peluang untuk menjadi bermanfaat. Dan akhirnya, kebermanfaatan pun dapat dirasakan oleh orang-orang sekitar.

Hasilnya mungkin bagi orang lain biasa saja. Namun, bagiku istimewa. Mengendalikan rasa takut adalah istimewa. Mengendalikan diri untuk berani mencoba hal baru adalah istimewa. Melakukan proses panjang untuk belajar dan berusaha adalah istimewa.

**

Berikan kepercayaan penuh pada dirimu sendiri. Sebab, kamu berhak melakukan banyak hal, mangambil banyak peluang, dan menggunakan banyak kesempatan. Jangan tutupi potensi yang ada pada diri dengan rasa tak percaya diri. Jangan pernah membandingkan dirimu dengan orang di luar sana. Kamu dan dia memiliki potensi yang berbeda. Kamu dan dia memiliki potensi hebat yang bila dikolaborasikan akan menghasilkan sesuatu yang luar biasa. Jadi, jalankan peran masing-masing dan berikan yang terbaik.

Jangan memikirkan pandangan dan harapan orang lain terhadap apa yang kita lakukan. Kamu ingin mencoba hal baru, silakan. Kamu ingin memilih suatu hal, silakan. Kamu ingin menekuni suatu bidang, silakan. Kamu ingin mengatakan iya, silakan. Kamu ingin mengatakan tidak, silakan. Kamu berbuat kesalahan, boleh. Kamu ingin menolak, boleh. Kamu ingin berhenti sejenak, boleh. Kamu bebas melakukan apa saja.

Kamu perlu melakukan semua itu. Karena hanya melalui semua itu kamu akan belajar banyak hal. Karena hanya melalui semua itu kamu akan semakin mengenal dirimu sendiri.

**

Allah selalu disini untuk membersamai. Allah selalu siap sedia memberikan jalan keluar bila tersesat. Allah selalu siap sedia menguatkan bila diri ini lemah. Adakah alasan untuk meragukan kehidupan ini? Adakah alasan untuk meragukan kemampuan sendiri?

Manusia Biasa yang Memiliki Tuhan Luar Biasa

Sebut saja namanya M. Ia berusia lima tahun. Anak yang manis, cantik, dan lucu. Lengkap ya? Ditambah dengan rambut panjang yang diikat seperti ekor kuda. Semakin manis saya melihatnya.

Kali pertama datang ke poli, ia langsung memeluk kami dengan wajah ceria tanpa malu-malu. Saat itu, saya pun segera tahu bahwa M memang berbeda. Ternyata memang benar dugaan saya. M adalah anak berkebutuhan khusus. Ia mengalami keterlambatan bicara, gangguan perhatian, dan tidak mampu diam dalam waktu lama. M pun kerap melakukan beberapa terapi seperti terapi wicara dan terapi sensori integrasi.

M mengalami kelainan pada otot lehernya. Kita dapat melihat secara langsung kalau leher M tidak simetris atau miring sebelah. Kelainan otot leher ini dapat terjadi karena kelainan sejak lahir atau salah posisi sehari-hari. Otot leher menjadi tegang dan sulit untuk diregangkan kembali. Kalian bisa membaca artikel ini untuk tahu lebih banyak tentang tortikolis.

Orang tua mengakui bahwa M memang terlalu banyak menggunakan gadget sejak batita. Namun, orang tua sedikit menyangkal kelainan otot leher dikarenakan hal itu. Mereka mengatakan kemungkinan kesalahan posisi leher terjadi saat M demam. Sebab, saat itu M terus-menerus memiringkan kepalanya karena alasan sakit kepala.

Seseorang mengalami tortikolis bisa karena kesalahan posisi. Memiringkan kepala secara terus menerus saat bermain gadget, misalnya. Kepala yang miring dalam waktu lama dan terus menerus akan membuat otot leher kontraksi tanpa henti. Kontraksi otot yang tidak disertai rileksasi akan membuat otot memendek secara permanen. Padahal, normalnya, otot kita harus mengalami fase kontraksi dan rileksasi. Otot yang memendek, bila kita raba dengan tangan, akan terasa keras sekali. Otot yang memendek, juga akan sulit untuk digerakkan. Begitulah yang terjadi pada otot leher M.

Mengamati bahwa M adalah tipikal anak yang ingin tahu banyak hal dan tidak akan menurut bila alasannya tidak jelas, maka saya memutuskan untuk mengajak M berdikusi. Saya menjelaskan tindakan apa yang akan dilakukan untuknya. Dan apa manfaatnya. Cukup menantang memang menjelaskan ke anak kecil. Kita harus pandai memilih bahasa yang mudah dipahami mereka. Apalagi berdiskusi dengan M. Ia lebih banyak memotong pembicaraan dibanding mendengarkan.

Pertemuan awal, saya memutuskan mencari kesepakatan bersama dengan M. Saya tidak ingin M trauma dengan tindakan yang dilakukan. Tindakan yang dilakukan adalah terapi ultrasound, stretching otot leher, dan latihan gerakan leher.

Terapi ultrasound memang rasanya tidak menyenangkan. Kita akan merasa ngilu dan sakit secara bersamaan. Apalagi bila terkena tepat pada daerah yang bermasalah. Wah, rasanya sangat tidak nyaman. Karena M masih kecil, intensitas memang akan dikurangi. Jadi, rasanya tidak akan setidakmenyenangkan itu. Ia akan merasakan sedikit ngilu saja. Terapi ini dilakukan untuk memfleksibelkan otot leher yang tegang.

M adalah anak yang pandai bicara, banyak akal, dan pandai mencari alasan. Dengan tiga bekal itu, sukseslah ia mengulur-ulur waktu untuk dilakukan terapi ultrasound.

Memaksa anak usia 5 tahun adalah tindakan tidak berguna. Karena akan menghasilkan situasi yang tidak kondusif. Dia pasti akan tantrum, marah, dan tidak kooperatif. Akhirnya, saya memutuskan membuat kesepakatan dengannya.

Saya berdiskusi dan bernegosiasi dengan M selama 30 menit lebih. Lama banget ya? Iya. Kesepakatannya adalah bila ia tidak menurut untuk dilakukan terapi saya akan memanggil bundanya (M takut sekali dengan bunda. Bunda tidak galak. Hanya tegas saja). Bila ia menurut, maka hanya Tante Shinta yang bersama dengannya. “Iya, aku mau menurut aja. Aku sama Tante Shinta aja.” begitu katanya.

Yang perlu M lakukan sebenarnya hanya berbaring dengan nyaman dikasur dan memiringkan kepalanya ke kanan. Tetapi, ia membuat situasi menjadi rumit. M meminta posisi duduk, bantal dipangkuannya, kemudian diselimutkan kakinya. Saya menurutinya. Sedetik kemudian, ia meminta pindah ke tempat tidur lain dan meminta banyak hal lainnya. Terakhir, ia menjatuhkan bantalnya dan enggan mengambilnya kembali. M meminta tolong saya untuk mengambilkan. Tentu saja saya menolak dan tidak menurutinya. Saya menunggu saja di luar bilik. Ia menangis dan segera mengambil bantalnya.

Setelah 30 menit berlalu dan M tak kunjung menuruti instruksi, sesuai kesepakatan, saya pun segera memanggil bundanya. Ia menangis dengan kencang. M takut dengan bunda. Ruangan pun penuh dengan tangisannya.

Sedikit paksaan dan peringatan telah bunda lakukan. Paksaan untuk diposisikan tidur dan peringatan bahwa kali ini M tidak bisa mengelak lagi. Terapi ultrasound harus dilakukan saat itu juga. Dengan wajah takut dan khawatir, M menuruti instruksi bunda. Ayahpun berada disisinya. Sambil memegang tangan ayah, M memiringkan kepala dan menangis perlahan. Akhirnya, kami berhasil menaklukkan si M. Alhamdulillah.


30 menit lebih berusaha membujuk dan menenangkan M memang tak mudah. Dibutuhkan kesabaran yang sangat luas. Mudah? Tentu saja tidak. Ada perut yang lapar karena tak sempat makan malam dahulu. Ada nyeri pinggang karena salah posisi saat memberikan terapi. Ada rasa haus karena berbicara tak henti-henti. Ada lelah fisik karena duduk dalam waktu yang sangat lama. Ada rasa kesal pada diri sendiri mengapa M tak juga luluh dengan bujukan ini. Dan masih banyak hal-hal manusiawi lainnya yang akan dirasakan.

Namun, Alhamdulillah Dia hadir dalam ingatan dan hati untuk menguatkan diri. Dan kembali diingatkan untuk apa saya melakukan semua ini. Allah memang tak pernah meninggalkan hamba-Nya.

Menghadapi diri sendiri adalah usaha mandiri tiada henti. Kita memang bukan manusia super yang langsung bijaksana dalam hitungan detik. Kita memang bukan manusia super yang mampu menjadi tenang dalam hitungan detik. Kita juga bukan manusia super yang langsung bisa sabar dalam hitungan detik. Kita butuh proses untuk mencapai semua itu.

Kita memang manusia biasa. Yang memiliki keadaan jiwa naik dan turun. Yang seringkali kesulitan mengendalikan diri. Yang seringkali mengeluh. Yang terkadang kehilangan motivasi. Kita manusia biasa yang seringkali tidak stabil.

Namun, kita tak boleh lupa. Kita adalah manusia biasa yang memiliki Tuhan Luar Biasa. Bagaimanapun tidak stabilnya keadaan kita, jangan pernah lupa kehadiran-Nya. Karena hanya dengan cara itu, kita mampu kuat kembali. Kita mampu semangat lagi. Kita mampu bangkit lagi. Dan kita mampu berlari lebih jauh lagi.

Sebuah Perjuangan dan Pertolongan Allah

Jika kali ini gagal, mungkin saya akan kesulitan untuk bangkit. Rasa lelah membuat saya melupakan bagaimana cara untuk semangat lagi. Hal-hal seperti itu terlintas dalam pikiran. Meskipun hanya sesaat.

Allah mengetahui batas mampu hamba bukan hanya sekadar ‘katanya’. Allah mengatakannya sendiri. Janji Allah tertulis jelas dalam Al-Qur’an. Saya percaya itu.

Ada kalanya kita ‘tak tahu cara untuk bangkit’ bukan karena tak memiliki alasan. Ada kalanya kita ‘kesulitan untuk bangkit’ bukan karena menyerah pada kehidupan. Hanya saja, terkadang ada ‘rasa lelah’ setelah melalui jalan yang cukup panjang. Hanya saja, terkadang otak dan pikiran ini ‘membutuhkan waktu’ untuk dipulihkan.

Saya ingin berhenti sejenak. Antara rasa lelah dan tanggung jawab harus diberi jeda. Jeda untuk memikirkan ulang tentang tujuan hidup. Jeda untuk mengumpulkan tenaga. Jeda untuk ‘membaca’ pesan Allah pada setiap kejadian.

Jeda hadir untuk memberikan ruang. Ruang untuk meluruskan niat. Ruang untuk melompat lebih tinggi. Ruang untuk menguatkan diri.

Pernahkah kamu berada pada kondisi dimana harus menguatkan diri sendiri bagaimanapun caranya? Sebab, saat itu kamu tahu dalam hal ini hanya Allah dan diri sendiri yang mampu menyembuhkan, menguatkan, dan meyakinkan.

Pernahkah kamu berada pada kondisi harus menjadi orang yang tegar dan kuat? Meskipun sebenarnya kamu tidak dalam keadaan baik-baik saja? Karena kamu tahu, hanya dengan cara itu kamu tetap hidup. Karena kamu tahu, kamulah yang bertanggung jawab atas dirimu sendiri.

Pernahkah kamu berada pada kondisi bingung dan mempertanyakan takdir yang terjadi? Kemudian akhirnya hanya bisa menangis? Menangis mengadu pada Allah. Mengadu bahwa diri ini tempatnya segala kelemahan. Mengadu bahwa hanya Allah yang mampu menguatkan. Karena kamu tahu, sebaiknya-baiknya pelampiasan dari rasa kecewa, gelisah, dan takut adalah menangis mengadu pada Allah. Menangis untuk melepaskan segala rasa yang membebani hati dan pikiran. Menangis untuk menyambut semangat baru. Menangis untuk dikuatkan.

Saya mengalami semua itu. Mungkin kamu pun mengalaminya juga. Tanpa kekuatan yang diberikan oleh-Nya, kita mungkin tak mampu melalui semua ini. Kita mungkin tak mampu menghadapi semuanya.

Allah tahu. Allah tahu apa yang hamba-Nya pikirkan. Allah mengetahui dengan baik apa yang hamba-Nya rasakan. Allah tahu dimana ambang batas kemampuan kita. Dimana batas kekuatan kita. 

Allah tahu bahwa ada hamba-Nya yang sedang kesulitan. Allah tahu bahwa ada hamba-Nya yang bersedih. Allah tahu bahwa kita membutuhkan pertolongan-Nya.

Saat itu, saya merasa begitu lelah. Saya bersedih karena nampaknya dunia enggan memberikan kesempatan. Karena nampaknya dunia tidak melihat sebuah perjuangan. Karena nampaknya dunia tidak peduli lagi arti kerja keras dan pantang menyerah. Karena nampaknya dunia tidak membutuhkan lagi ketulusan dan kejujuran.

Allah pun segera meluruskan pemikiran saya yang keliru. Allah pun segera memberikan pertolongan. Allah menunjukkan kekuasan-Nya. Allah memberikan jalan keluar.

Melalui jalan keluar ini, Allah menunjukkan bahwa usaha yang di awali dengan niat baik tak pernah sia-sia. Allah menunjukkan bahwa mengutamakan kebaikan bukan hal percuma. Allah menunjukkan bahwa kesabaran akan memberikan banyak hikmah. Allah menunjukkan bahwa Dia selalu membersamai. Allah menunjukkan niat yang baik akan menghasilkan kebaikan pula. Allah menunjukkan bahwa Dia mengetahui waktu yang paling ‘tepat’ bagi setiap hamba-Nya.

Saya hanya perlu meyakinkannya. Saya hanya perlu menunjukkan keteguhan hati seorang hamba untuk memperjuangkan kebaikan. Dengan cara meluruskan niat karena Allah semata, tak lelah melakukan kebaikan, tetap berdoa, tetap berbaik sangka, dan tetap bersabar.

Lingkungan yang Dirindukan

Image source: Pinterest


Di sekolah.

Pagi yang cerah menjadi semakin lengkap ketika ada yang menyapa. Apalagi disapa dengan kalimat “Assalammu’alaikum”. Rasanya dalam sekejap semangat ini menjadi penuh terisi. Dan siap menjalani hari.

Sapa tak hanya sampai disitu. Namun, akan berlanjut ke ruangan berikutnya, berikutnya, dan berikutnya. Sampai akhirnya saya tiba di kelas. Para guru akan saling menyapa tiap kali bertemu. Indahnya kebersamaan.

Setelah sampai di dalam kelas, saya selalu disambut dengan lantunan ayat-ayat Al-Qur’an yang berasal dari televisi yang terpasang di dinding atas itu.

Dahulu, biasanya setelah sampai kelas saya langsung sarapan nasi uduk yang dibeli saat perjalanan ke sekolah. Dan juga ditemani satu buah susu kotak coklat. Mendapat rezeki di pagi hari berupa sarapan yang enak sambil mendengarkan lantunan ayat-ayat Al-Qur’an membuat saya tersenyum sepanjang pagi. Pagi yang begitu membuat hati damai. Dan kemudian berpikir, masih bisa merasakan pagi yang seperti ini, pantaskah saya lupa bersyukur?

Budaya saling memberi sapa dengan mengucapkan salam memang dibiasakan oleh pihak sekolah. Jadi, guru-guru harus melakukannya. Selain bermanfaat untuk diri sendiri, saling memberi sapa juga sebagai upaya mencontohkan anak-anak. Supaya mereka terbiasa mengucapkan salam tiap kali bertemu guru dan teman.

Sebelum memulai kegiatan belajar mengajar, anak-anak selalu membaca juz 30 dan menyebutkan asma’ul husna bersama-sama. Kegiatan itu memang bertujuan supaya anak-anak   dekat dengan Al-Qur’an dan terbiasa mengingat Allah. Dan supaya cepat hafal juga hehe ternyata, kegiatan tersebut juga berguna untuk bapak dan ibu guru. Kami jadi diingatkan bahwa menjalani hari harus di awali dengan mengingat Allah. Semua perbuatan sehari-hari memang dalam rangka mencari ridho Allah. Supaya kami tidak mengeluh dan terpaksa melakukan kegiatan sehari-hari.

Para guru juga sering mendapatkan siraman rohani dari ceramah yang di sampaikan oleh sesama rekan atau ustadz dari luar sekolah. Seingat saya, biasanya sih satu bulan sekali. Saya sangat bersyukur dengan adanya program ini. Guru hanya manusia biasa yang seringkali emosinya tidak stabil dan pikiran sedang tidak jernih. Jadi, guru butuh diingatkan. Supaya pikirannya jernih kembali dan emosinya terkendali.

Yang tak akan pernah di lupa, di sekolah, guru-guru juga saling berlomba-lomba berbuat baik. Tiap kali adzan berkumandang, lokasi yang paling banyak didatangi adalah tempat wudhu. Padahal, makan siang sudah tersedia dan boleh diambil. Tetapi, tempat wudhu dan mushola lebih diminati dari pada makan siang. Melihat pemandangan seperti itu membuat saya terharu dan introspeksi diri. Terharu karena rasa bahagia melihat orang-orang semangat beribadah. Introspeksi diri untuk mengukur diri sudah disiplinkah saya sholat tepat waktu seperti mereka.

Saat bulan ramadhan, waktu luang juga digunakan para guru untuk membaca Al-Qur’an. Tiap kali saya datang ke ruangan saat istirahat sekolah, selalu saja ada satu atau dua guru sedang membaca Al-Qur’an di sudut ruangan. Melihat semangat mereka membaca Al-Qur’an, membuat saya semangat membaca Al-Qur’an juga

Cerita di atas adalah gambaran bahwa kebiasan baik teman-teman saya di sekolah mampu memberi pengaruh baik kepada saya. Dengan mengamati mereka, membuat saya bercermin ribuan kali. Bagaimana hubungan saya dengan Allah, apa yang saya perbuat untuk Allah, sudah sedisplin apa saya beribadah, dan sebagainya. Pertanyaan-pertanyaan seperti itu memenuhi pikiran saya. Pertanyaan tersebut membuat saya sadar dan menilai diri. Yang pada akhirnya, saya semangat untuk memperbaiki diri.

**

Lingkungan benar-benar mempengaruhi kebiasaan kita. Lingkungan yang di dalamnya penuh dengan aktivitas kebaikan, akan menular pada kita. Rasa-rasanya malu sekali bila teman-teman semangat beribadah, tetapi kita malah sibuk mengurusi kesibukan dunia. Tanpa sadar, yang awalnya mungkin saja kita belum sekonsisten itu beribadah, bila lingkungan penuh dengan orang-orang yang konsisten, kita akan konsisten pula melakukan ibadah itu.

Lingkungan yang dirindukan. Saya menyebutnya seperti itu. Setelah tidak berada disana lagi, saya menyadari bahwa tak banyak lingkungan baik seperti itu. Lingkungan yang setiap aktivitasnya membuat kita mengingat Allah. Lingkungan yang di dalamnya berisi orang-orang yang terus berusaha mendekat pada Allah. Dan akhirnya, saya pun semangat untuk terus mengingat dan mendekat pada Allah.

Maka, jika saat ini kamu berada pada lingkungan seperti itu, bersyukurlah. Tidak semua orang mendapatkan karunia seperti kamu. Dan ada beberapa orang yang sangat berharap berada di lingkungan seperti itu.

**

Allah, hati ini mudah sekali ternodai.

Pikiran ini mudah sekali keruh.

Perbuatan ini mudah sekali keliru.

Lisan ini mudah sekali mengatakan hal tak berguna.

Maka, tempatkanlah aku pada lingkungan seperti itu.

Lingkungan yang setiap sudutnya mengingatkanku pada-Mu.

Lingkungan yang di dalamnya terdapat manusia-manusia yang berusaha berjalan di jalan-Mu.

Jika engkau belum berkehendak,

Maka, bantulah aku.

Supaya tak pernah lupa membersihkan hati  ini.

Supaya mudah membaca peringatan-Mu.

Supaya mudah menerima petunjuk-Mu.

Agar aku terus memperbaiki laku dan lisanku.

Cerita: Saya Suka Baris Berbaris

Foto ini diambil saat acara ulang tahun Kota Depok ke 19. Saya senang sekali bisa foto bersama adik-adik paskibra Kota Depok 🙂

​Saat sekolah dasar, saya menyukai kegiatan baris berbaris. Karena suka, saya menjadi bersemangat dan tidak merasa terbebani saat mempelajarinya. Dahulu, di sekolah dasar negeri (SDN) belum banyak ekstrakurikulernya. Hanya ada ekstrakurikuler (ekskul) pramuka saja. Pada saat itu, ekskul pramuka adalah kegiatan yang paling diminati oleh anak-anak. Selain diminati, ekskul pramuka juga sangat aktif. Banyak sekali kegiatan yang dilakukan seperti latihan rutin di akhir pekan, perkemahan sabtu minggu, dan perkemahan bersama siswa SD se-kota Depok.

Latihan pekanan merupakan saat-saat yang dinantikan. Karena menurut kami, seluruh kegiatan pramuka itu seru! Bernyanyi bersama, latihan baris berbaris, belajar menggunakan bendera semaphore, belajar membuat patok, belajar membuat simpul, dan masih banyak kegiatan menyenangkan lainnya. Bagi saya, diantara semua kegiatan pramuka, latihan baris berbarislah yang paling saya gemari. Lho kok bisa? Bukankah latihan baris berbaris melelahkan? Iya benar melelahkan, tetapi keren. Menurut saya, ketika mereka mampu berdiri sikap sempurna dengan tegap, itu keren. Ketika mereka melakukan gerakan baris berbaris dengan power yang baik dan tidak malas-malasan, itu keren. Ketika mereka melakukan gerakan baris berbaris dengan kompak, itu keren 😀

Saat sekolah menengah pertama (SMP), masa orientasi kehidupan di SMP juga dilakukan. Salah satu kegiatannya adalah demo esktrakurikuler. Jadi, setiap ekskul melakukan penampilan sesuai peminatannya. Penampilan tersebut bertujuan untuk memperkenalkan ekskul-ekskul di sekolah sekaligus mencari anggota baru. Tidak seperti di sekolah dasar (SD), di SMP, ekskulnya sangat beragam. Dari ekskul baris berbaris, seni tari, seni bela diri, sanggar bahasa, hingga kegiatan keagamaan juga ada. Sebagai anak-anak yang sedang menuju masa remaja, saya bersemangat sekali. Dan semakin bersemangat saat menyaksikan demo ekskul paskibra. Saat menyaksikannya, saya seperti tidak berkedip dan pertanyaan-pertanyaan bermunculan dalam pikiran. Bagaimana cara berbaris dengan benar dan kompak seperti itu? Bagaimana cara mereka menghafalkan gerakan-gerakan sebanyak itu? (Sebab, saat SD, yang saya ketahui adalah baris berbaris hanya melakukan hadap kanan, hadap kiri, balik kanan, istirahat di tempat, lencang depan, dan lencang kanan saja). Dan, seragam yang mereka gunakan juga keren sekali. Seragam membuat mereka tampak gagah. Kesan pertama tentang paskibra saat itu adalah kompak, rapi, teratur, dan keren. Tanpa pikir panjang, saya langsung mendaftar ekskul paskibra! Singkat cerita, Alhamdulillah, saya aktif dalam kegiatan tersebut selama tiga tahun penuh. Alhamdulillah, banyak sekali manfaat yang didapatkan. Terutama untuk mental, kerapihan, dan kedisiplinan.

Saat sekolah menengah atas (SMA), saya tidak lagi mengikuti ekskul paskibra. Padahal, saya memiliki mimpi ingin menjadi pasukan pengibar bendera pusaka. Namun, setelah menyaksikan penampilan tari saman, ekskul tari saman selalu menari-nari dalam pikiran. Gerakan yang cukup menantang pada tarian itu dan kekompakan para penari memperkuat alasan mengapa saya harus ikut ekskul tari saman. Menimbang kondisi saat itu, mengikuti dua ekskul sekaligus tidak mungkin dilakukan. Karena jarak rumah dan sekolah cukup jauh, hal itu juga mengharuskan saya memilih diantara dua ekskul tersebut. Keputusan pun dibuat. Tari saman menjadi pilihan. Tetapi, paskibra tetap memiliki tempat khusus dalam hati saya.

Saat kuliah, istilah ekskul tak lagi digunakan. Untuk kegiatan yang memfasilitasi minat dan bakat, biasa disebut Unit Kegiatan Mahasiswa. Saat masa orientasi kehidupan kampus, diadakan lagi demo Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM). Kami dibebaskan untuk memilih. Semakin tinggi jenjang pendidikan, ternyata semakin banyak pula pilihan UKM untuk mahasiswa. Wah, saya benar-benar takjub dan bangga melihat mahasiswa-mahasiswa memberikan penampilan. Kala itu, UKM marching band cukup membuat jantung saya berdetak lebih cepat. Penampilan mereka membuat perhatian saya tak teralihkan. Kekompakan mereka membuat saya merinding takjub. Kerapihan mereka dalam berpakaian membuat saya respek. Dan yang membuat marching band semakin keren, perpaduan antara baris berbaris dengan permainan alat musik dan tari, membuat penampilan mereka menjadi sangat luar biasa 🙂 Akhirnya, saya memutuskan bergabung dengan UKM marching band. Saya mendapat tugas memainkan alat musik trompet. Meskipun hanya bergabung selama satu tahun saja, pernah menjadi bagian dari marching band adalah pengalaman yang tak terlupakan dan sangat disyukuri. Menggabungkan baris berbaris, musik, dan tari ternyata tak mudah. Agar menghasilkan penampilan yang bagus, dibutuhkan tanggung jawab dan kedisiplinan yang tinggi. Saya ingat betul bagaimana rasanya latihan wajib dua kali seminggu selama lima jam. Dan latihan tambahan dihari lain untuk latihan trompet. Demi menghasilkan yang terbaik, dibutuhkan perjuangan dan pengorbanan yang totalitas 🙂

Dan, saya pun dapat memberikan kesimpulan. Entah itu paskibra, tari saman, atau marching band, mereka memang memiliki banyak perbedaan. Namun, mereka juga memiliki beberapa kesamaan yaitu, kegiatan yang membutuhkan kesabaran, kedisiplinan, kerja sama, dan tanggung jawab. Kesabaran untuk belajar dan mengajarkan materi ekskul. Kedisiplinan menggunakan waktu dan kesempatan. Kerja sama untuk saling membantu dan menopang. Tanggung jawab untuk memberikan yang terbaik. Tanpa keempat hal itu, tak akan tercipta penampilan harmoni yang dapat kita lihat, rasakan, banggakan, dan syukuri.

Reflection

I know nobody’s perfect in the world. Human being have weaknesses and strengths. I know everyone has a problem. It’s not fair If I always compared myself with other people. It’s not fair if I always get angry just because some difficulty. I am different. You are different. We are different. We also have a different problem levels.

Occasionally, We just look what we want to see and we just hear what we want to listen. We often make prejudice and not looking for the fact. For the truth, we don’t understand what people think and feel. We need to always trying to understand the other people. We should have more careful and take care of ourself.

Allah give us everything that we could deal with it. Allah given permission to live because Allah knows we were capable, can solved the problem, and responsible.

Look at yourself in front of the mirror. You still alive. You still breath perfectly. You still speak clearly. You still move your body freely. You looks amazing. You looks awesome. You are really capable more than anything that you can imagine. Be grateful and  be patience. Allah says grateful and patience are a vehicle to heaven.

Look at the people around you. There are many lessons from their lives. We can observe and learn more. Let’s smile sincerely. Allah will fasilitate and strengthen! Insya Allah 🙂 We should thanks to Allah for the wonderful life during this time.

Peminjam yang Bijaksana

Diri ini bukanlah milik kita. Seluruh bagian tubuh yang saat ini masih dapat kita raba dan rasakan, bukanlah milik kita. Seluruh fungsi tubuh yang dapat kita gunakan sehari-hari dengan sangat baik, bukanlah milik kita. Kemampuan diri ini untuk berpikir dan merasa, bukanlah milik kita. Kita hanya meminjam dari Sang Maha Kuasa. Bila saat ini status kita hanya sebagai ‘peminjam’, lantas tindakan apakah yang sebaiknya kita lakukan?

Bila saat ini kita sedang meminjam sebuah tas carrier untuk melakukan hiking, saat kali pertama menggunakan tentu rasnya begitu menyenangkan, bukan? Namun, ketika meminjam dalam jangka waktu yang lama, bukan hal yang sulit menemukan segala kekurangan atas tas tersebut. Lalu membuat kita tidak nyaman dan tidak puas. Seberapa pun bermanfaatnya tas, sebagai manusia normal pasti merasa kecewa dan tidak suka atas kekurangan. Apalagi bila membandingkan tas milik orang lain yang tampak lebih baik dibandingkan tas kita. Dan kita merasa, sebagai ‘peminjam’ dan memberikan biaya ‘peminjaman’, sangat pantas mendapatkan tas dengan kualitas yang lebih baik. Akhirnya, kita melupakan manfaat tas carrier yang sesungguhnya. Bukankah tanpanya kegiatan hiking kita tidak akan berjalan dengan lancar? Mana mungkin kita hiking menggunakan tas ransel biasa? Kita melupakan sisi baik dan manfaat tas hanya karena beberapa kekurangan. Seakan segala manfaat terhempas begitu saja tanpa sisa dan tidak membekas. Segala manfaat terlupakan. Sungguh tidak adil bagi tas carrier.

Diri ini bukanlah milik kita. Kita meminjam pada Allah. Namun, seringkali kita melupakan hakikat itu. Dengan mudahnya mencari-cari kekurangan diri. Dengan mudahnya mencari kelemahan diri. Dengan mudahnya melupakan segala kesempurnaan diri. Padahal, Allah menciptakan manusia dalam keadaan sebaik-baiknya. Padahal, sebagai ‘peminjam’, kita tidak perlu mengeluarkan biaya apapun kepada Allah ‘Sang Pemberi Pinjaman’. Bersembunyi dimanakah rasa syukur kita? Hingga benar-benar lupa.

Manusia tidak hanya diberikan akal dan fisik yang baik. Namun, semuanya dapat berfungsi dengan baik pula. Sehingga kita dapat menjalani kehidupan dengan mudah. Sungguh, tak akan bisa kita menyebutkan satu persatu segala karunia Allah yang tak terhingga itu.

Manusia harus mencintai dirinya dengan tulus, agar dapat menjadi manusia yang terbaik. Manusia harus pandai mengenali dirinya sendiri, agar dapat mengoptimalkan potensi diri. Manusia juga harus pandai mengendalikan diri sendiri, agar dapat membedakan hal baik dan buruk serta bertindak dengan bijaksana. Semua tergantung diri kita sendiri, ingin menjadi manusia yang seperti apa. Ingin menjadi ‘peminjam’ seperti apa. Bukankah segala hal yang dinikmati dalam diri ini pada akhirnya akan kembali kepada-Nya? Semua hanya sementara. Dan kita akan mempertanggungjawabkan segala perbuatan.

Semoga kita menjadi ‘peminjam’ yang bijaksana. Dan menyadari posisi diri. Kita hanyalah ‘peminjam’ dan Allah lah ‘Pemberi Pinjaman’. Sangat tidak bijaksana dan tidak adil jika kita hanya mementingkan segala kekurangan yang sesungguhnya hanya penilaian subjektif oleh diri kita sendiri. Manusia merasa kurang, sebab terlalu mengagumi dan menginginkan milik orang lain. Manusia tidak bersyukur, sebab kita melupakan segala nikmat yang Allah telah berikan.

Kapan terakhir kali kita memikirkan dan mengingat segala kemudahan dan kelancaran dalam hidup ini? Kapan terakhir kali kita memikirkan dan mengingat segala kebaikan Allah? Kapan terakhir kali kita memikirkan dan mengingat betapa banyak hal membahagiakan telah hadir dalam hidup ini? Ingatlah, sungguh kita akan merasa malu.