Kenalan Lagi dengan Diri Sendiri

Tulisan kali ini adalah kesan dan pesan menulis 30 hari di Bulan Juni. Kesannya, aku benar-benar senang bisa menulis dengan tema ini. Aku menjadi semakin kenal dengan diriku sendiri dan hati pun lebih bahagia 😊 pesannya? Nanti aku tuliskan di bawah, ya.

30 hari lalu, aku memulai pendekatan lagi dengan diriku sendiri. Karena ternyata, tanggung jawab dan peran seringkali membuat kita lupa “ngobrol sama diri sendiri”. Kita berusaha keras untuk jadi seseorang yang nggak menyusahkan hidup orang lain dan bisa memposisikan diri dengan baik. Tetapi, kita lupa bertanya ke diri sendiri sebenarnya mau kita apa dan bagaimana. Kita lupa bertanya kalau perasaan kita baik-baik saja atau tidak.

Sebelumnya, aku nggak tahu pentingnya ngobrol sama diri sendiri itu apa. Toh aku sudah mampu memilih dan membuat keputusan untuk hidupku sendiri. Tetapi ternyata, untuk hal sederhana seperti pertanyaan “hari ini kita mau makan apa atau bagaimana keadaan perasaan dan pikiranku” pun kita berhak lho menanyakannya.

Kita nggak perlu terpengaruh sama pilihan-pilihan orang lain hanya karena merasa “nggak enakan”. Kita boleh kok mengungkapkan apa yang diinginkan. Setelah itu, sesuaikan deh dengan keadaan. Memungkinkan atau tidak untuk direalisasikan.

Aku ini tipikal yang selalu mendahulukan orang lain dibandingkan diri sendiri. Rasanya ikut bahagia saja kalau melihat orang lain bahagia. Rasanya ingin saja memperlakukan orang lain dengan sebaik-baiknya. Tapi ternyata, saking pedulinya sama orang lain, tipikal orang kayak aku ini suka lupa memperhatikan diri sendiri. Suka lupa nanya ke diri sendiri, aku benar-benar mau atau keadaan yang membuat aku memaksa diriku untuk mau. Gawat kan πŸ˜…

Jadi, untuk teman-teman yang tipe orangnya seperti aku, boleh banget kamu meluangkan waktu untuk ngobrol dengan dirimu. Kalau masih bingung apa yang mau ditanyain, lihat saja tema pertanyaannya pada tulisan aku di sini.

Kalau masih bingung juga, coba baca tulisan-tulisanku selama 30 hari kemarin. Tulisannya tentang obrolanku dengan diriku sendiri.

Ini pengalaman pertamaku. Rasanya ternyata nggak gampang jujur sama diri sendiri πŸ˜‚ aku benar-benar mikir keras menulisnya wkwk jadi, mohon maafkan kalau penyusunan kalimatnya kurang enak dibaca.

Meskipun begitu, semoga ada manfaat yang dapat diambil, ya. Dan semoga jadi termotivasi untuk ngobrol sama diri sendiri juga. Baiklah, silakan dibaca. Aku sudah lampirkan judul tulisan beserta linknya di bawah πŸ˜πŸ‘Œ

Day 1 – Kala Ketulusan Terpancar dari Matamu

Day 2 – Senyum Itu Memberikan Kekuatan

Day 3 – Mengenal Kata Hati

Day 4 – Cintai Tubuhmu Sendiri

Day 5 – Aku, Dea, dan Jilbab

Day 6 – Tentukan Seleramu!

Day 7 – Fisioterapis Sakit Lutut

Day 8 – Healthy Self-Esteem

Day 9 – Si Insecure

Day 10 – Jangan Takut

Day 11 – Percaya Diri Bisa Diciptakan

Day 12 – Asal Muasal Menjadi Kuat

Day 13 – Sekadarnya Saja

Day 14 – Namaku

Day 15 – Kebiasaan Unik

Day 16 – Untuk Shinta

Day 17 – Musik

Day 18 – Sense of Humor

Day 19 – Bukan Sekadar Makan

Day 20 – Terlalu Suka Fotografi

Day 21 – Perihal Membantu

Day 22 – Terfavorit

Day 23 – Mereka yang Berhak Memelihara Hewan

Day 24 – Makna Keluarga Untukku

Day 25 – Rumah

Day 26 – Teman Hidup, Katanya

Day 27 – Luka Masa Kecil

Day 28 – Krisis Identitas Diri

Day 29 – Present Self

Day 30 – Ketuk Semua Pintu

Bagaimana? Sudah beranikah menulis dengan tema-tema di atas? Saranku, ayo beranikan diri dan coba dulu.

Setelah menulis itu semua, kamu akan merasa lebih bahagia. Kamu akan diingatkan kembali, ternyata selama ini kamu sudah berjuang keras. Ternyata kamu sudah berhasil melawan rasa takutmu dan memilih untuk tetap maju. Dan pada akhirnya, kamu akan semakin sayang pada dirimu sendiri 😊

Sosok kita yang sekarang adalah perjuangan banyak orang. Perjuangan kita yang terus menguatkan diri sendiri, perjuangan orang tua kita yang tidak pernah lelah mendidik, perjuangan sahabat-sahabat kita yang masih terus membersamai, dan yang paling utama adalah berkat kebaikan Allah yang masih memberikan kesempatan kita untuk hidup serta memberikan pertolongan-Nya.

Semangat, ya 😁πŸ’ͺ

[Day 30] Ketuk Semua Pintu

“Ketuk semua pintu yang ada lalu lihat mana rezeki yang Allah pilihkan untuk kita.” – Dewi Nur Aisyah

Teringat percakapan antara aku dan Dela dalam pesan singkat beberapa hari lalu. Dela baru saja lulus dari pendidikan magisternya. Ia melanjutkan pendidikan tidak sesuai dengan pendidikan sebelumnya. Seorang fisioterapis yang melanjutkan pendidikan di bidang K3. Terbayang kah kamu apa yang Dela pikirkan paska kelulusan ini?

Dela menyadari kelulusan ini tidak selesai sampai di sini saja. Kini, pikirannya ramai oleh segala rencana. Saking banyaknya, ia pun sampai pusing dibuatnya. Kuingatkan saja ia dengan kutipan Mbak Dewi di atas.

Kalimat sederhananya, Mbak Dewi menyarankan agar kita mencoba semuanya. Mencoba semua peluang yang sejalan dengan rencana kita. Tetapi jangan lupa libatkan Allah selalu dalam segala rencana. Sehingga, hati kita lebih luas menerima segala ketentuan-Nya.

Ternyata meluaskan hati tidak mudah, lho. Aku pun masih sering begini. Kecewa berkepanjangan kala proses tidak lancar sesuai rencana. Atau ketika hasil tidak sesuai harapan. Entah mengapa, kita mendadak lupa tentang hakikat manusia. Bahwa manusia ya memang tugasnya hanya berencana dan melakukan aksi saja. Hasil akhir murni berada pada kuasa-Nya.

Supaya menjadi hamba yang berencana dengan baik dan melakukan aksi nyata, aku pun harus merencanakan masa depan. Untuk itu, aku ingin mengawalinya dengan meluruskan niat dan pikiranku. Beberapa hal diantaranya yaitu,

Aktualisasi Diri

Untuk bakat yang dipunya atau kelebihanku yang Allah berikan. Aku berharap dapat menggunakan keduanya dengan sebaik-baiknya. Aku juga berharap dapat berbuat baik sebanyak-banyaknya. Sebab, penghambat paling utama biasanya adalah diri sendiri.

Pandangan yang rendah terhadap diri sendiri membuatku tidak berani melakukan sesuatu. Penilaian yang buruk terhadap diri sendiri juga membuatku terus menerus berdiam diri.

Di masa depan, aku akan berupaya mendorong diriku sekuat-kuatnya. Dan menyemangatiku sebesar-besarnya. Kalau kata orang-orang bijak, peluang itu dicari dan kesempatan itu digunakan. Maka, aku memutuskan mengembangkan diri pada bidang-bidang yang kuminati.

Jangan Ragu Berbagi Kebaikan

Jangan ragu untuk berbuat baik. Kalau hati ingin melakukan hal baik, lakukan saja. Orang-orang sering mengurungkan niatnya untuk berbuat baik hanya karena takut “dibilang sok baik”πŸ˜…

Aku akan mengingatkan diri bahwa setiap manusia memang selalu sibuk pada pikirannya sendiri. Dari sana akan muncul banyak prasangka dan asumsi. Dan semua itu adalah urusannya masing-masing manusia. Maka, penilaian yang mereka berikan atas perbuatan kita adalah hal biasa. Hal manusiawi yang setiap orang akan lakukan. Jadi, tak perlulah terlalu dirasa atau dimasukkan ke dalam relung hati segala lisannya.

Percayalah, untuk segala komentar negatif yang orang lain berikan kepada sesama hanya bersifat sementara saja. Beberapa detik kemudian, orang tersebut tidak akan lagi mengingat atau memikirkan komentar negatif yang ia ucapkan tadi. Lalu, mengapa kita terlalu memikirkan sampai sebegitunya hingga mengurungkan perbuatan baik kita?

Di masa depan, aku akan lebih bersemangat untuk berbagi kebaikan kepada sesama. Aku tidak akan meragu meskipun ada banyak orang yang meragukan kemampuanku. Biarlah orang-orang sibuk pada prasangkanya dan aku akan sibuk pada usaha-usahaku saja.

Aku percaya, setiap orang pasti punya hal baik yang bisa dibagi. Semua hanya tentang mau atau tidak kita berbagi. Semua hanya tentang percaya atau tidak akan kemampuan diri.

Jangan lagi ucapkan “Aku mah apah atuh. Aku mah cuma serpihan rengginang.” Bahkan, serpihan rengginang pun akan dimakan lho sama si pecinta rengginang. Akhirnya, serpihan rengginang pun dapat bermanfaat untuk mengenyangkan perut si pecinta rengginang 😊

Tentang masa depan, aku memutuskan untuk percaya pada diriku sendiri. Dan berusaha menjadi versi terbaik diri. Seperti saran Mbak Dewi Nur Aisyah, karena aku tidak tahu apa yang terbaik untukku, maka aku akan mengetuk semua pintu dan menunggu. Biarlah Allah yang akan menunjukkan apa dan bagaimana rezeki yang Allah pilihkan untukku.

Tentang masa depan, aku memutuskan untuk bermanfaat sebanyak-banyaknya untuk sesama. Sayang sekali bila pengetahuan yang kita miliki hanya dirasakan oleh kita sendiri. Selagi aku masih mampu membantu, mengapa aku harus meragu?

[Day 29] Present Self

Sosok kamu atau aku saat ini, mungkin belum begitu mumpuni. Kita masih perlu membenahi diri. Dan kita masih perlu mengingatkan dan menyemangati diri dalam menjalani hari. Apakah hal-hal itu menunjukkan kita bukanlah sebaik-baiknya diri? Tentu saja tidak.

Menurutku, tidak apa bila kita belum mumpuni atau baik sekali. Selama ada niat berubah dalam diri, selama itu pula kita perlu bersyukur sekali. Sebab, Allah masih “memberi petunjuk” pada kita hamba yang sering alpa ini.

Aku pernah mendengar cerita seorang kawan, katanya, salah satu tanda hati kita masih Allah beri petunjuk yakni, adanya rasa takut berbuat dosa dan adanya rasa ingin berubah menjadi lebih baik lagi.

Jadi, bagi kamu yang masih tertatih-tatih dalam proses berubah atau masih sering gagal saat proses perbaiki diri, tetap semangat. Usaha kita tidak akan sia-sia, sungguh.

Daripada terus memikirkan “sulitnya” proses berubah, lebih baik kita syukuri segala perubahan yang ada. Dengan begitu, semangat kita akan terus terjaga dan tidak mudah putus asa 😊

Aku ingin berbagi. Ada tiga kebiasaan sedang aku terapkan sehari-hari. Menyadari bahwa aku adalah tipikal orang yang mudah panik dan sulit beradaptasi, maka aku pelan-pelan melakukan kebiasaan-kebiasaan ini.

Kenali

Aku pernah bercerita di blog bahwa aku senang mengamati. Mengamati manusia, hewan, ataupun lingkungan. Sebetulnya kesenangan ini memberikan dampak positif yang banyak sekali. Namun, kalau tidak dibatasi, perihal ini malah menghambatku untuk mengenali banyak hal di sekitar. Padahal, dengan mengenali banyak hal, akan ada banyak pula pelajaran yang aku dapati.

Mengamati terlalu banyak tanpa dibarengi dengan “penerimaan” akan membuatku mudah menjustifikasi sesuatu tanpa mengenali orangnya dulu. Seolah-olah aku merasa tahu atas orang itu secara menyeluruh. Padahal, apa yang terlihat oleh mata seringkali tidak sama dengan realita.

Di sinilah pentingnya proses “mengenal”. Kita jadi bisa memastikan apa-apa yang terlihat dengan keadaan yang sebenarnya. Setelah itu barulah kita memilah hal baik dan tidak. Ambil hal baiknya dan tinggalkan hal buruknya.

Aku merasakan sekali manfaat dari proses mengenal ini. Aku menjadi orang yang lebih terbuka dan siap menerima hal baru dari siapa pun. Paling tidak, aku tidak lagi menjadi orang yang mudah menjustifikasi sesuatu.

Sebelum menjustifikasi, aku biasanya melakukan beberapa proses dulu. Seperti, melihat dengan banyak kaca mata dan mendengar lebih banyak.

Hadapi

Dulu, aku selalu khawatir menghadapi hal baru. Alhamdulillah, sekarang tidak lagi. Rasa khawatir tentu saja ada, menurutku manusiawi sekali kalau manusia merasa takut dan cemas. Poin pentingnya adalah bagaimana aku mengelola rasa takut dan cemas itu.

Aku mengingatkan diri bahwa cara terbaik menghadapi sesuatu adalah sadari bahwa kehidupan memang arena tempat ujian datang. Dan tugas manusia memang mengerjakan ujian-ujian itu.

Sadari bahwa ujian tersebut pasti memberikan kebaikan untukku. Cepat atau lambat. Kalau masih ragu, biasanya aku coba ingat-ingat lagi, diusia yang sekarang ini aku sering mikir begini,“Alhamdulillah ya, kalo dulu aku nggak begitu, pasti aku nggak bakal kayak sekarang deh.”

Setelah itu, biasanya keraguan hilang. Kalau kamu juga pernah bicara kayak gitu dalam hati, artinya kamu juga sudah sadar kalau ternyata selama ini kita sudah menikmati banyak banget kebaikan.

Dengan berusaha memberanikan diri menghadapi sesuatu, aku merasakan banget manfaatnya. Aku yang sekarang jadi lebih kuat dan bijaksana, gitu. Karena sadar, kalau rasa cemas dan takut tidak boleh menghambat diri untuk maju.

Memberanikan diri untuk “menghadapi” ternyata membantu kita cepat lulus dari ujian-ujian kehidupan, lho. Aku pun jadi terhindar dari rasa takut dan cemas yang berlebihan.

Aku beri contoh ya, misalnya nih, aku pernah kerja sama bareng senior yang masih otoriter. Jadi, beliau memegang teguh bahwa senior adalah utama. Perkataan senior selalu benar. Beliau juga selalu ingin merasa unggul. Junior tidak boleh unggul. Pokoknya, beliau tidak mengenal regenerasi πŸ˜‚

Pada awalnya, aku memilih untuk menjauh. Males soalnya menghadapi orang yang keras kepala hahaha tapi, ternyata keputusan itu tidak memberi banyak manfaat. Aku jadi kayak kabur dari masalah.

Akhirnya, aku pun memutuskan untuk mengenali karakternya dan mencoba menyesuaikan diri dengannya. Mengalah tidak apa-apa demi kenyamanan bersama. Hasilnya bagaimana? Alhamdulillah, bekerja sama pun menjadi lebih nyaman dan aku belajar banyak dari beliau. Belajar tentang kegigihannya dalam bekerja dan rajinnya beliau mempelajari hal baru πŸ˜πŸ‘

Yakinkan Diri

Cara terakhir yang aku lagi biasakan adalah yakin bahwa Allah pasti membantu dan memudahkan segala urusanku. Biasanya, kalau pikiran dan hati sedang tidak enak, aku berusaha mengingatkan diri bahwa kejadian sulit ini datangnya dari Allah.

Allah ingin aku menyelesaikan misi ini. Tujuannya pasti untuk diriku sendiri. Allah ingin aku lebih sabar dan tangguh lagi. Kalau dalam masalah senior tadi, mungkin Allah ingin aku lebih melapangkan hati lagi. Supaya belajar tentang cara menerima sikap orang lain yang tidak aku sukai.

Tiga hal di atas tidak mudah. Tetapi, sedang aku upayakan. Kalau gagal, aku coba lagi. Kalau berhasil melakukan, aku syukuri. Kalau masih kesusahan, aku evaluasi diri lagi di mana letak masalahnya. Sikap aku yang mana harus aku perbaiki lagi.

Aku memang belum mumpuni dan masih sering gagal berulang kali. Tetapi aku percaya, selama ada tekad di dalam hati untuk menjadi versi terbaik diri, selama itu pula kemudahan akan Allah beri 😊πŸ’ͺ

[Day 28] Krisis Identitas Diri

Yang paling berbahaya dari kurangnya mencintai diri adalah kamu kehilangan ide untuk mendefinisikan “siapa aku”.

Aku pernah mengalaminya. Dan cukup lama berada pada fase itu.

Waktu kecil, aku tidak ingat kapan terakhir kali aku dipuji. Yang aku ingat, aku harus juara satu pada perankingan di kelas. Sistem SD negeri dulu masih seperti ini. Nilai akademik selalu menjadi perhatian utama. Dari guru, orang tua, mau pun siswa.

Meskipun begitu, aku tetap bersemangat untuk berprestasi, kok. Aku bisa meraih juara dua di kelas dan mengikuti banyak kegiatan di sekolah. Menurut tolok ukur keberhasilan siswa masa itu, iya benar aku berhasil. Aku berhasil memenuhi standar masa itu.

Apa hubungannya sebuah pujian dan prestasi? Tentu saja berhubungan. Semakin kamu dipuji, maka peluang berprestasi pun akan semakin besar. Tetapi, bukan ini yang akan aku bahas.

Pada kondisiku, aku jarang dipuji, namun tetap bisa berprestasi? Apa yang terjadi?

Aku beritahu rahasia kecil, dulu, Shinta kecil berusaha sekali berprestasi karena ingin membuktikan kepada orang tua kalau ia juga mampu seperti teman-temannya. Shinta kecil juga ingin sekali berprestasi supaya ia mendapatkan pujian dari orang tuanya.

Lalu, hasilnya apa? Aku berhasil berprestasi, aku tetap jarang dipuji, dan aku tidak mencintai diriku sendiriπŸ˜…

Kalau aku renungkan kembali, dulu, karena pola yang dianut orang tua dan lingkungan seperti itu, aku jadi lupa untuk mengapresiasi diriku sendiri. Bukan karena aku tidak mau, sepertinya aku tidak tahu bagaimana cara memuji diri.

Yang aku tahu adalah bagaimana cara memuji orang lain. Sepertinya aku belajar dari ayah dan mamaku. Aku juga belajar dari para orang dewasa di sekitarku. Mereka melakukan itu, menurut pemikiran sederhana Shinta kecil, adalah hal yang benar bila aku melakukan hal yang sama.

Ayah dan mama memang sering memuji orang lain. Mungkin, menurut mereka dengan memuji orang lain, anaknya akan termotivasi untuk menjadi lebih baik. Iya memang benar sih aku jadi termotivasi untuk lebih unggul dari orang lain. Tetapi sesungguhnya, aku tidak benar-benar tahu untuk apa melakukan itu. Yang aku tahu, pokoknya aku harus juara satu. Karena hanya dengan cara itu orang tuaku akan bangga padaku.

Karena pengalaman itu, masa kecilku sepertinya habis untuk mengejar prestasi tanpa mengenal siapa diri.

Terakhir kali memikirkan apa-apa tentangku sepertinya saat SD saja. Ketika itu, aku berpikir keras apa makanan dan minuman favoritku. Oh iya, aku juga lumayan berpikir keras untuk menentukan apa hobiku.

Kok aku parah banget sih? Iya memang. Makanya, saat SMA dulu, tiap kali ditanyakan “makna sukses” untuk diri sendiri rasanya sulit sekali. Entah mengapa selalu kehabisan ide untuk memikirkan jawabannya.

Dari pengalaman Shinta kecil aku belajar, mengenal diri sendiri adalah langkah awal menentukan jalan kehidupan apa yang kita akan ambil untuk masa depan. Apakah ingin mengikuti jalan orang lain, atau, kita yakin terhadap jalan kita sendiri.

Mengenal diri sendiri juga modal dasar bagi kita untuk menerima diri secara menyeluruh. Bahwa kita memang memiliki keterbatasan. Kita tidak bisa meraih semua hal dalam waktu yang bersamaan. Maka, mengorbankan sesuatu demi mendapatkan hal yang dituju adalah hal wajar yang perlu kita tahu.

Intinya, sebelum kita memikirkan mimpi besar untuk dunia, kayaknya, kenali dan cintai dulu diri kita dengan baik, deh. Yakinkan diri sampai hilang semua keraguan.

Krisis mengenal diri adalah bagian dari diriku di masa lalu. Namun, aku tidak malu. Selalu ada alasan dari kejadian yang aku lalui.

Meski dulu rasanya begitu melukai, serasa sulit dilupai, dan menyulitkanku melewati masa-masa setelahnya, namun Alhamdulillah sekarang tidak lagi. Segala kejadian hadir untuk memberi hikmah dan mendewasakan diri 😊

Jadi, haruskah aku terus menerus merasa menyesal, menyalahkan keadaan, meratapi, dan berdiam diri? Tentu saja tidak. Sebab, setiap kita adalah pejuang untuk kehidupan kita sendiri πŸ’ͺ

[Day 27] Luka Masa Kecil

Mungkin bisa dibilang saat itu adalah fase aku bosan meminta tolong. Karena aku sudah tahu jawabannya, ayah tidak akan mau mengantar. Alasannya pasti begitu. “Supaya mandiri”.

Aku Kecewa

Sejak awal kuliah, aku sudah melakukan perihal administrasi sendiri. Membayar kuliah, datang ke kampus pertama kali untuk mengambil jaket almamater, serta mengatasi segala permasalahan selama di kampus.

Sejujurnya, dibandingkan harus meminta tolong kepada ayah, aku lebih nyaman meminta tolong kepada teman. Aku juga senang menyelesaikan masalah bersama-sama mereka. Meminta tolong kepada ayah berarti akan merasakan kecewa. Karena aku tahu hasilnya tetap sama, ayah akan menyuruhku menyelesaikan masalah sendiri.

Sejak dulu, ayahku tipikal orang yang senang diajak diskusi. Namun, ia tidak suka memanjakan anaknya. Ayah suka memberikan saran terhadap sesuatu. Tetapi, perihal aksi, ayah akan menyuruhku melakukannya sendiri.

Ayahku masih suka mengantar anaknya ke sana dan ke mari. Tetapi, biasanya ayah akan menunggu di parkiran saja. Dengan alasan “supaya mandiri”.

Dari cara pandang orang tua, mungkin maksud ayah adalah baik. Lagipula, ayah pun sejak sekolah menengah atas sudah merantau dari Jawa Tengah ke Jakarta sendirian. Ayah tidak pernah diantar dan ditemani orang tua maupun saudara. Mungkin, menurut ayah, ayah saja mampu. Maka, anaknya juga pasti mampu.

Dari cara pandang anak, yaitu aku, aku sedih diperlakukan seperti itu. Aku ingat betul saat kali pertama pergi ke Ciputat saat ujian mandiri perguruan tinggi, ayahku enggan menemani. Padahal, aku ini belum ada pengalaman bepergian ke tempat jauh seperti itu. Aku hanya bepergian sekitar Depok saja.

Lalu, apa mauku? Paling tidak, untuk pertama kali, mauku ayah menemani. Untuk selanjutnya, bolehlah aku bepergian sendiri.

Apakah saat itu aku mengatakan perihal ini ke ayah? Tentu saja tidak. Shinta remaja tidak sedekat itu sama ayah.

Pengalaman seperti ini terus berlanjut hingga dewasa. Akhirnya aku berani melakukan apa-apa sendiri dan bepergian seorang diri. Aku berani karena terbiasa menghadapi masalah sendiri.

Sejak saat itu pula, aku enggan meminta tolong kepada orang lain lagi. Entah mengapa, jiwa di dalam diri selalu mengatakan seperti ini,“Aku enggan mengalami penolakan dan kecewa lagi. Daripada merasakan hal-hal seperti itu lagi, lebih baik aku lakukan semua sendiri.”

Alhasil, tanpa tahu latar belakangnya, jadilah aku dikenal dengan Shinta si pemberani dan tangguh sekali.

Mengubah Cara Pandang

Semakin dewasa, cara pandangku menjadi lebih luas. Aku bisa berpikir dengan banyak kaca mata. Akhirnya, aku pun dapat memahami ayah.

Rasa kecewaku saat kecil dulu karena ayah memaksaku untuk mandiri, aku luruhkan pelan-pelan. Aku berusaha berpikir menggunakan cara pandang ayah bahwa apa yang ayah lakukan dulu tujuannya murni agar memandirikanku.

Hingga kini, sebenarnya aku pun tidak membenarkan “cara ayah”. Namun, aku memaklumi. Mungkin dulu, hanya cara itu yang ayah tahu.

Menurut pengetahuan ayah kala itu, membiarkan anaknya terjun ke “medan perang” seorang diri adalah cara terbaik untuk mendidik karakter anak yang tangguh dan pemberani. Mungkin juga, pendidikan militer yang ayah lakukan sewaktu muda juga membentuk cara pandang ayah saat itu.

Aku memutuskan untuk mengobati luka hatiku sendiri. Lagi pula, berkat didikan ayah itu, aku memiliki mental yang tidak lemah dan berani. Aku merasakan betul manfaatnya saat ini.

Dan kurasa, orang tua hanyalah manusia biasa yang tidak sempurna. Sebesar apapun mereka berusaha, orang tua pasti melakukan kekhilafan juga.

Cara terbaik yang sebaiknya kulakukan adalah mensyukuri kebermanfaatannya, memaafkan kejadian tidak menyenangkan di masa lalu, dan lakukan perubahan dari diri sendiri untuk masa depan.

Tugas kita sebagai generasi muda, bukankah melakukan perubahan dan tidak mengulangi kesalahan yang sama?

Inner Child

Aku baru tahu dari artikel ini, ternyata rasa kecewaku pada sikap ayahku yang masih terpendam hingga kuliah dulu ternyata inner child yang ada pada jiwaku.

Inner child itu membuat hatiku tertutup untuk meminta bantuan kepada orang lain. Aku takut ditolak lagi. Aku takut kecewa lagi. Akhirnya, aku enggan meminta tolong dan memilih berjuang seorang diri.

Aku juga baru tahu, ternyata usaha penerimaan dan memaafkan yang kulakukan di atas adalah bentuk re-parent dari ilmu psikologi.

Re-parent adalah usaha yang dilakukan seseorang untuk kembali memenuhi kebutuhan yang belum dipenuhi sewaktu kecil. Sebab, tanpa ada re-parent, kita akan terjerembab pada inner child yang menghambat diri. Kita akan terkungkung pada luka masa lalu dan tumbuh menjadi sosok atas luka-luka itu.

Contohnya aku, tanpa proses penerimaan atau re-parent, aku tidak akan mudah percaya orang lain untuk meminta bantuan lagi. Istilah sederhananya, meskipun aku lelah dan berdarah-darah, kurasa aku akan tetap berusaha berdiri sendiri. Bahaya kan πŸ™

Kini, aku mulai lebih peduli tentang hal-hal yang “tidak biasa” pada diri. Kenangan buruk masa lalu yang masih sepintas teringat dan mempengaruhi sosokku masa kini, akan aku perhatikan lagi. Dan kutuntaskan dengan segera. Kalau bukan diri sendiri yang peduli, siapa lagi?

Kita harus mulai peduli pada kesehatan jiwa. Sebab, definisi sehat tidak hanya tentang seberapa sehat ragamu. Namun, juga seberapa sehat jiwamu.

Lakukan penyembuhan dengan terapi yang bisa dilakukan oleh diri sendiri. Contohnya mengubah cara pandang yang aku lakukan tadi.

Kalau ternyata masih sulit dilakukan, tak apa tanyakan saja kepada ahlinya. Kamu bisa konsultasi kepada psikolog, misalnya. Jangan malu untuk mencari tahu, sebab dirimu berhak untuk tahu secara menyeluruh. Semangat, ya! 😊