Kenalan Lagi dengan Diri Sendiri

Tulisan kali ini adalah kesan dan pesan menulis 30 hari di Bulan Juni. Kesannya, aku benar-benar senang bisa menulis dengan tema ini. Aku menjadi semakin kenal dengan diriku sendiri dan hati pun lebih bahagia 😊 pesannya? Nanti aku tuliskan di bawah, ya.

30 hari lalu, aku memulai pendekatan lagi dengan diriku sendiri. Karena ternyata, tanggung jawab dan peran seringkali membuat kita lupa “ngobrol sama diri sendiri”. Kita berusaha keras untuk jadi seseorang yang nggak menyusahkan hidup orang lain dan bisa memposisikan diri dengan baik. Tetapi, kita lupa bertanya ke diri sendiri sebenarnya mau kita apa dan bagaimana. Kita lupa bertanya kalau perasaan kita baik-baik saja atau tidak.

Sebelumnya, aku nggak tahu pentingnya ngobrol sama diri sendiri itu apa. Toh aku sudah mampu memilih dan membuat keputusan untuk hidupku sendiri. Tetapi ternyata, untuk hal sederhana seperti pertanyaan “hari ini kita mau makan apa atau bagaimana keadaan perasaan dan pikiranku” pun kita berhak lho menanyakannya.

Kita nggak perlu terpengaruh sama pilihan-pilihan orang lain hanya karena merasa “nggak enakan”. Kita boleh kok mengungkapkan apa yang diinginkan. Setelah itu, sesuaikan deh dengan keadaan. Memungkinkan atau tidak untuk direalisasikan.

Aku ini tipikal yang selalu mendahulukan orang lain dibandingkan diri sendiri. Rasanya ikut bahagia saja kalau melihat orang lain bahagia. Rasanya ingin saja memperlakukan orang lain dengan sebaik-baiknya. Tapi ternyata, saking pedulinya sama orang lain, tipikal orang kayak aku ini suka lupa memperhatikan diri sendiri. Suka lupa nanya ke diri sendiri, aku benar-benar mau atau keadaan yang membuat aku memaksa diriku untuk mau. Gawat kan πŸ˜…

Jadi, untuk teman-teman yang tipe orangnya seperti aku, boleh banget kamu meluangkan waktu untuk ngobrol dengan dirimu. Kalau masih bingung apa yang mau ditanyain, lihat saja tema pertanyaannya pada tulisan aku di sini.

Kalau masih bingung juga, coba baca tulisan-tulisanku selama 30 hari kemarin. Tulisannya tentang obrolanku dengan diriku sendiri.

Ini pengalaman pertamaku. Rasanya ternyata nggak gampang jujur sama diri sendiri πŸ˜‚ aku benar-benar mikir keras menulisnya wkwk jadi, mohon maafkan kalau penyusunan kalimatnya kurang enak dibaca.

Meskipun begitu, semoga ada manfaat yang dapat diambil, ya. Dan semoga jadi termotivasi untuk ngobrol sama diri sendiri juga. Baiklah, silakan dibaca. Aku sudah lampirkan judul tulisan beserta linknya di bawah πŸ˜πŸ‘Œ

Day 1 – Kala Ketulusan Terpancar dari Matamu

Day 2 – Senyum Itu Memberikan Kekuatan

Day 3 – Mengenal Kata Hati

Day 4 – Cintai Tubuhmu Sendiri

Day 5 – Aku, Dea, dan Jilbab

Day 6 – Tentukan Seleramu!

Day 7 – Fisioterapis Sakit Lutut

Day 8 – Healthy Self-Esteem

Day 9 – Si Insecure

Day 10 – Jangan Takut

Day 11 – Percaya Diri Bisa Diciptakan

Day 12 – Asal Muasal Menjadi Kuat

Day 13 – Sekadarnya Saja

Day 14 – Namaku

Day 15 – Kebiasaan Unik

Day 16 – Untuk Shinta

Day 17 – Musik

Day 18 – Sense of Humor

Day 19 – Bukan Sekadar Makan

Day 20 – Terlalu Suka Fotografi

Day 21 – Perihal Membantu

Day 22 – Terfavorit

Day 23 – Mereka yang Berhak Memelihara Hewan

Day 24 – Makna Keluarga Untukku

Day 25 – Rumah

Day 26 – Teman Hidup, Katanya

Day 27 – Luka Masa Kecil

Day 28 – Krisis Identitas Diri

Day 29 – Present Self

Day 30 – Ketuk Semua Pintu

Bagaimana? Sudah beranikah menulis dengan tema-tema di atas? Saranku, ayo beranikan diri dan coba dulu.

Setelah menulis itu semua, kamu akan merasa lebih bahagia. Kamu akan diingatkan kembali, ternyata selama ini kamu sudah berjuang keras. Ternyata kamu sudah berhasil melawan rasa takutmu dan memilih untuk tetap maju. Dan pada akhirnya, kamu akan semakin sayang pada dirimu sendiri 😊

Sosok kita yang sekarang adalah perjuangan banyak orang. Perjuangan kita yang terus menguatkan diri sendiri, perjuangan orang tua kita yang tidak pernah lelah mendidik, perjuangan sahabat-sahabat kita yang masih terus membersamai, dan yang paling utama adalah berkat kebaikan Allah yang masih memberikan kesempatan kita untuk hidup serta memberikan pertolongan-Nya.

Semangat, ya 😁πŸ’ͺ

[Day 30] Ketuk Semua Pintu

“Ketuk semua pintu yang ada lalu lihat mana rezeki yang Allah pilihkan untuk kita.” – Dewi Nur Aisyah

Teringat percakapan antara aku dan Dela dalam pesan singkat beberapa hari lalu. Dela baru saja lulus dari pendidikan magisternya. Ia melanjutkan pendidikan tidak sesuai dengan pendidikan sebelumnya. Seorang fisioterapis yang melanjutkan pendidikan di bidang K3. Terbayang kah kamu apa yang Dela pikirkan paska kelulusan ini?

Dela menyadari kelulusan ini tidak selesai sampai di sini saja. Kini, pikirannya ramai oleh segala rencana. Saking banyaknya, ia pun sampai pusing dibuatnya. Kuingatkan saja ia dengan kutipan Mbak Dewi di atas.

Kalimat sederhananya, Mbak Dewi menyarankan agar kita mencoba semuanya. Mencoba semua peluang yang sejalan dengan rencana kita. Tetapi jangan lupa libatkan Allah selalu dalam segala rencana. Sehingga, hati kita lebih luas menerima segala ketentuan-Nya.

Ternyata meluaskan hati tidak mudah, lho. Aku pun masih sering begini. Kecewa berkepanjangan kala proses tidak lancar sesuai rencana. Atau ketika hasil tidak sesuai harapan. Entah mengapa, kita mendadak lupa tentang hakikat manusia. Bahwa manusia ya memang tugasnya hanya berencana dan melakukan aksi saja. Hasil akhir murni berada pada kuasa-Nya.

Supaya menjadi hamba yang berencana dengan baik dan melakukan aksi nyata, aku pun harus merencanakan masa depan. Untuk itu, aku ingin mengawalinya dengan meluruskan niat dan pikiranku. Beberapa hal diantaranya yaitu,

Aktualisasi Diri

Untuk bakat yang dipunya atau kelebihanku yang Allah berikan. Aku berharap dapat menggunakan keduanya dengan sebaik-baiknya. Aku juga berharap dapat berbuat baik sebanyak-banyaknya. Sebab, penghambat paling utama biasanya adalah diri sendiri.

Pandangan yang rendah terhadap diri sendiri membuatku tidak berani melakukan sesuatu. Penilaian yang buruk terhadap diri sendiri juga membuatku terus menerus berdiam diri.

Di masa depan, aku akan berupaya mendorong diriku sekuat-kuatnya. Dan menyemangatiku sebesar-besarnya. Kalau kata orang-orang bijak, peluang itu dicari dan kesempatan itu digunakan. Maka, aku memutuskan mengembangkan diri pada bidang-bidang yang kuminati.

Jangan Ragu Berbagi Kebaikan

Jangan ragu untuk berbuat baik. Kalau hati ingin melakukan hal baik, lakukan saja. Orang-orang sering mengurungkan niatnya untuk berbuat baik hanya karena takut “dibilang sok baik”πŸ˜…

Aku akan mengingatkan diri bahwa setiap manusia memang selalu sibuk pada pikirannya sendiri. Dari sana akan muncul banyak prasangka dan asumsi. Dan semua itu adalah urusannya masing-masing manusia. Maka, penilaian yang mereka berikan atas perbuatan kita adalah hal biasa. Hal manusiawi yang setiap orang akan lakukan. Jadi, tak perlulah terlalu dirasa atau dimasukkan ke dalam relung hati segala lisannya.

Percayalah, untuk segala komentar negatif yang orang lain berikan kepada sesama hanya bersifat sementara saja. Beberapa detik kemudian, orang tersebut tidak akan lagi mengingat atau memikirkan komentar negatif yang ia ucapkan tadi. Lalu, mengapa kita terlalu memikirkan sampai sebegitunya hingga mengurungkan perbuatan baik kita?

Di masa depan, aku akan lebih bersemangat untuk berbagi kebaikan kepada sesama. Aku tidak akan meragu meskipun ada banyak orang yang meragukan kemampuanku. Biarlah orang-orang sibuk pada prasangkanya dan aku akan sibuk pada usaha-usahaku saja.

Aku percaya, setiap orang pasti punya hal baik yang bisa dibagi. Semua hanya tentang mau atau tidak kita berbagi. Semua hanya tentang percaya atau tidak akan kemampuan diri.

Jangan lagi ucapkan “Aku mah apah atuh. Aku mah cuma serpihan rengginang.” Bahkan, serpihan rengginang pun akan dimakan lho sama si pecinta rengginang. Akhirnya, serpihan rengginang pun dapat bermanfaat untuk mengenyangkan perut si pecinta rengginang 😊

Tentang masa depan, aku memutuskan untuk percaya pada diriku sendiri. Dan berusaha menjadi versi terbaik diri. Seperti saran Mbak Dewi Nur Aisyah, karena aku tidak tahu apa yang terbaik untukku, maka aku akan mengetuk semua pintu dan menunggu. Biarlah Allah yang akan menunjukkan apa dan bagaimana rezeki yang Allah pilihkan untukku.

Tentang masa depan, aku memutuskan untuk bermanfaat sebanyak-banyaknya untuk sesama. Sayang sekali bila pengetahuan yang kita miliki hanya dirasakan oleh kita sendiri. Selagi aku masih mampu membantu, mengapa aku harus meragu?

[Day 29] Present Self

Sosok kamu atau aku saat ini, mungkin belum begitu mumpuni. Kita masih perlu membenahi diri. Dan kita masih perlu mengingatkan dan menyemangati diri dalam menjalani hari. Apakah hal-hal itu menunjukkan kita bukanlah sebaik-baiknya diri? Tentu saja tidak.

Menurutku, tidak apa bila kita belum mumpuni atau baik sekali. Selama ada niat berubah dalam diri, selama itu pula kita perlu bersyukur sekali. Sebab, Allah masih “memberi petunjuk” pada kita hamba yang sering alpa ini.

Aku pernah mendengar cerita seorang kawan, katanya, salah satu tanda hati kita masih Allah beri petunjuk yakni, adanya rasa takut berbuat dosa dan adanya rasa ingin berubah menjadi lebih baik lagi.

Jadi, bagi kamu yang masih tertatih-tatih dalam proses berubah atau masih sering gagal saat proses perbaiki diri, tetap semangat. Usaha kita tidak akan sia-sia, sungguh.

Daripada terus memikirkan “sulitnya” proses berubah, lebih baik kita syukuri segala perubahan yang ada. Dengan begitu, semangat kita akan terus terjaga dan tidak mudah putus asa 😊

Aku ingin berbagi. Ada tiga kebiasaan sedang aku terapkan sehari-hari. Menyadari bahwa aku adalah tipikal orang yang mudah panik dan sulit beradaptasi, maka aku pelan-pelan melakukan kebiasaan-kebiasaan ini.

Kenali

Aku pernah bercerita di blog bahwa aku senang mengamati. Mengamati manusia, hewan, ataupun lingkungan. Sebetulnya kesenangan ini memberikan dampak positif yang banyak sekali. Namun, kalau tidak dibatasi, perihal ini malah menghambatku untuk mengenali banyak hal di sekitar. Padahal, dengan mengenali banyak hal, akan ada banyak pula pelajaran yang aku dapati.

Mengamati terlalu banyak tanpa dibarengi dengan “penerimaan” akan membuatku mudah menjustifikasi sesuatu tanpa mengenali orangnya dulu. Seolah-olah aku merasa tahu atas orang itu secara menyeluruh. Padahal, apa yang terlihat oleh mata seringkali tidak sama dengan realita.

Di sinilah pentingnya proses “mengenal”. Kita jadi bisa memastikan apa-apa yang terlihat dengan keadaan yang sebenarnya. Setelah itu barulah kita memilah hal baik dan tidak. Ambil hal baiknya dan tinggalkan hal buruknya.

Aku merasakan sekali manfaat dari proses mengenal ini. Aku menjadi orang yang lebih terbuka dan siap menerima hal baru dari siapa pun. Paling tidak, aku tidak lagi menjadi orang yang mudah menjustifikasi sesuatu.

Sebelum menjustifikasi, aku biasanya melakukan beberapa proses dulu. Seperti, melihat dengan banyak kaca mata dan mendengar lebih banyak.

Hadapi

Dulu, aku selalu khawatir menghadapi hal baru. Alhamdulillah, sekarang tidak lagi. Rasa khawatir tentu saja ada, menurutku manusiawi sekali kalau manusia merasa takut dan cemas. Poin pentingnya adalah bagaimana aku mengelola rasa takut dan cemas itu.

Aku mengingatkan diri bahwa cara terbaik menghadapi sesuatu adalah sadari bahwa kehidupan memang arena tempat ujian datang. Dan tugas manusia memang mengerjakan ujian-ujian itu.

Sadari bahwa ujian tersebut pasti memberikan kebaikan untukku. Cepat atau lambat. Kalau masih ragu, biasanya aku coba ingat-ingat lagi, diusia yang sekarang ini aku sering mikir begini,“Alhamdulillah ya, kalo dulu aku nggak begitu, pasti aku nggak bakal kayak sekarang deh.”

Setelah itu, biasanya keraguan hilang. Kalau kamu juga pernah bicara kayak gitu dalam hati, artinya kamu juga sudah sadar kalau ternyata selama ini kita sudah menikmati banyak banget kebaikan.

Dengan berusaha memberanikan diri menghadapi sesuatu, aku merasakan banget manfaatnya. Aku yang sekarang jadi lebih kuat dan bijaksana, gitu. Karena sadar, kalau rasa cemas dan takut tidak boleh menghambat diri untuk maju.

Memberanikan diri untuk “menghadapi” ternyata membantu kita cepat lulus dari ujian-ujian kehidupan, lho. Aku pun jadi terhindar dari rasa takut dan cemas yang berlebihan.

Aku beri contoh ya, misalnya nih, aku pernah kerja sama bareng senior yang masih otoriter. Jadi, beliau memegang teguh bahwa senior adalah utama. Perkataan senior selalu benar. Beliau juga selalu ingin merasa unggul. Junior tidak boleh unggul. Pokoknya, beliau tidak mengenal regenerasi πŸ˜‚

Pada awalnya, aku memilih untuk menjauh. Males soalnya menghadapi orang yang keras kepala hahaha tapi, ternyata keputusan itu tidak memberi banyak manfaat. Aku jadi kayak kabur dari masalah.

Akhirnya, aku pun memutuskan untuk mengenali karakternya dan mencoba menyesuaikan diri dengannya. Mengalah tidak apa-apa demi kenyamanan bersama. Hasilnya bagaimana? Alhamdulillah, bekerja sama pun menjadi lebih nyaman dan aku belajar banyak dari beliau. Belajar tentang kegigihannya dalam bekerja dan rajinnya beliau mempelajari hal baru πŸ˜πŸ‘

Yakinkan Diri

Cara terakhir yang aku lagi biasakan adalah yakin bahwa Allah pasti membantu dan memudahkan segala urusanku. Biasanya, kalau pikiran dan hati sedang tidak enak, aku berusaha mengingatkan diri bahwa kejadian sulit ini datangnya dari Allah.

Allah ingin aku menyelesaikan misi ini. Tujuannya pasti untuk diriku sendiri. Allah ingin aku lebih sabar dan tangguh lagi. Kalau dalam masalah senior tadi, mungkin Allah ingin aku lebih melapangkan hati lagi. Supaya belajar tentang cara menerima sikap orang lain yang tidak aku sukai.

Tiga hal di atas tidak mudah. Tetapi, sedang aku upayakan. Kalau gagal, aku coba lagi. Kalau berhasil melakukan, aku syukuri. Kalau masih kesusahan, aku evaluasi diri lagi di mana letak masalahnya. Sikap aku yang mana harus aku perbaiki lagi.

Aku memang belum mumpuni dan masih sering gagal berulang kali. Tetapi aku percaya, selama ada tekad di dalam hati untuk menjadi versi terbaik diri, selama itu pula kemudahan akan Allah beri 😊πŸ’ͺ

[Day 28] Krisis Identitas Diri

Yang paling berbahaya dari kurangnya mencintai diri adalah kamu kehilangan ide untuk mendefinisikan “siapa aku”.

Aku pernah mengalaminya. Dan cukup lama berada pada fase itu.

Waktu kecil, aku tidak ingat kapan terakhir kali aku dipuji. Yang aku ingat, aku harus juara satu pada perankingan di kelas. Sistem SD negeri dulu masih seperti ini. Nilai akademik selalu menjadi perhatian utama. Dari guru, orang tua, mau pun siswa.

Meskipun begitu, aku tetap bersemangat untuk berprestasi, kok. Aku bisa meraih juara dua di kelas dan mengikuti banyak kegiatan di sekolah. Menurut tolok ukur keberhasilan siswa masa itu, iya benar aku berhasil. Aku berhasil memenuhi standar masa itu.

Apa hubungannya sebuah pujian dan prestasi? Tentu saja berhubungan. Semakin kamu dipuji, maka peluang berprestasi pun akan semakin besar. Tetapi, bukan ini yang akan aku bahas.

Pada kondisiku, aku jarang dipuji, namun tetap bisa berprestasi? Apa yang terjadi?

Aku beritahu rahasia kecil, dulu, Shinta kecil berusaha sekali berprestasi karena ingin membuktikan kepada orang tua kalau ia juga mampu seperti teman-temannya. Shinta kecil juga ingin sekali berprestasi supaya ia mendapatkan pujian dari orang tuanya.

Lalu, hasilnya apa? Aku berhasil berprestasi, aku tetap jarang dipuji, dan aku tidak mencintai diriku sendiriπŸ˜…

Kalau aku renungkan kembali, dulu, karena pola yang dianut orang tua dan lingkungan seperti itu, aku jadi lupa untuk mengapresiasi diriku sendiri. Bukan karena aku tidak mau, sepertinya aku tidak tahu bagaimana cara memuji diri.

Yang aku tahu adalah bagaimana cara memuji orang lain. Sepertinya aku belajar dari ayah dan mamaku. Aku juga belajar dari para orang dewasa di sekitarku. Mereka melakukan itu, menurut pemikiran sederhana Shinta kecil, adalah hal yang benar bila aku melakukan hal yang sama.

Ayah dan mama memang sering memuji orang lain. Mungkin, menurut mereka dengan memuji orang lain, anaknya akan termotivasi untuk menjadi lebih baik. Iya memang benar sih aku jadi termotivasi untuk lebih unggul dari orang lain. Tetapi sesungguhnya, aku tidak benar-benar tahu untuk apa melakukan itu. Yang aku tahu, pokoknya aku harus juara satu. Karena hanya dengan cara itu orang tuaku akan bangga padaku.

Karena pengalaman itu, masa kecilku sepertinya habis untuk mengejar prestasi tanpa mengenal siapa diri.

Terakhir kali memikirkan apa-apa tentangku sepertinya saat SD saja. Ketika itu, aku berpikir keras apa makanan dan minuman favoritku. Oh iya, aku juga lumayan berpikir keras untuk menentukan apa hobiku.

Kok aku parah banget sih? Iya memang. Makanya, saat SMA dulu, tiap kali ditanyakan “makna sukses” untuk diri sendiri rasanya sulit sekali. Entah mengapa selalu kehabisan ide untuk memikirkan jawabannya.

Dari pengalaman Shinta kecil aku belajar, mengenal diri sendiri adalah langkah awal menentukan jalan kehidupan apa yang kita akan ambil untuk masa depan. Apakah ingin mengikuti jalan orang lain, atau, kita yakin terhadap jalan kita sendiri.

Mengenal diri sendiri juga modal dasar bagi kita untuk menerima diri secara menyeluruh. Bahwa kita memang memiliki keterbatasan. Kita tidak bisa meraih semua hal dalam waktu yang bersamaan. Maka, mengorbankan sesuatu demi mendapatkan hal yang dituju adalah hal wajar yang perlu kita tahu.

Intinya, sebelum kita memikirkan mimpi besar untuk dunia, kayaknya, kenali dan cintai dulu diri kita dengan baik, deh. Yakinkan diri sampai hilang semua keraguan.

Krisis mengenal diri adalah bagian dari diriku di masa lalu. Namun, aku tidak malu. Selalu ada alasan dari kejadian yang aku lalui.

Meski dulu rasanya begitu melukai, serasa sulit dilupai, dan menyulitkanku melewati masa-masa setelahnya, namun Alhamdulillah sekarang tidak lagi. Segala kejadian hadir untuk memberi hikmah dan mendewasakan diri 😊

Jadi, haruskah aku terus menerus merasa menyesal, menyalahkan keadaan, meratapi, dan berdiam diri? Tentu saja tidak. Sebab, setiap kita adalah pejuang untuk kehidupan kita sendiri πŸ’ͺ

[Day 27] Luka Masa Kecil

Mungkin bisa dibilang saat itu adalah fase aku bosan meminta tolong. Karena aku sudah tahu jawabannya, ayah tidak akan mau mengantar. Alasannya pasti begitu. “Supaya mandiri”.

Aku Kecewa

Sejak awal kuliah, aku sudah melakukan perihal administrasi sendiri. Membayar kuliah, datang ke kampus pertama kali untuk mengambil jaket almamater, serta mengatasi segala permasalahan selama di kampus.

Sejujurnya, dibandingkan harus meminta tolong kepada ayah, aku lebih nyaman meminta tolong kepada teman. Aku juga senang menyelesaikan masalah bersama-sama mereka. Meminta tolong kepada ayah berarti akan merasakan kecewa. Karena aku tahu hasilnya tetap sama, ayah akan menyuruhku menyelesaikan masalah sendiri.

Sejak dulu, ayahku tipikal orang yang senang diajak diskusi. Namun, ia tidak suka memanjakan anaknya. Ayah suka memberikan saran terhadap sesuatu. Tetapi, perihal aksi, ayah akan menyuruhku melakukannya sendiri.

Ayahku masih suka mengantar anaknya ke sana dan ke mari. Tetapi, biasanya ayah akan menunggu di parkiran saja. Dengan alasan “supaya mandiri”.

Dari cara pandang orang tua, mungkin maksud ayah adalah baik. Lagipula, ayah pun sejak sekolah menengah atas sudah merantau dari Jawa Tengah ke Jakarta sendirian. Ayah tidak pernah diantar dan ditemani orang tua maupun saudara. Mungkin, menurut ayah, ayah saja mampu. Maka, anaknya juga pasti mampu.

Dari cara pandang anak, yaitu aku, aku sedih diperlakukan seperti itu. Aku ingat betul saat kali pertama pergi ke Ciputat saat ujian mandiri perguruan tinggi, ayahku enggan menemani. Padahal, aku ini belum ada pengalaman bepergian ke tempat jauh seperti itu. Aku hanya bepergian sekitar Depok saja.

Lalu, apa mauku? Paling tidak, untuk pertama kali, mauku ayah menemani. Untuk selanjutnya, bolehlah aku bepergian sendiri.

Apakah saat itu aku mengatakan perihal ini ke ayah? Tentu saja tidak. Shinta remaja tidak sedekat itu sama ayah.

Pengalaman seperti ini terus berlanjut hingga dewasa. Akhirnya aku berani melakukan apa-apa sendiri dan bepergian seorang diri. Aku berani karena terbiasa menghadapi masalah sendiri.

Sejak saat itu pula, aku enggan meminta tolong kepada orang lain lagi. Entah mengapa, jiwa di dalam diri selalu mengatakan seperti ini,“Aku enggan mengalami penolakan dan kecewa lagi. Daripada merasakan hal-hal seperti itu lagi, lebih baik aku lakukan semua sendiri.”

Alhasil, tanpa tahu latar belakangnya, jadilah aku dikenal dengan Shinta si pemberani dan tangguh sekali.

Mengubah Cara Pandang

Semakin dewasa, cara pandangku menjadi lebih luas. Aku bisa berpikir dengan banyak kaca mata. Akhirnya, aku pun dapat memahami ayah.

Rasa kecewaku saat kecil dulu karena ayah memaksaku untuk mandiri, aku luruhkan pelan-pelan. Aku berusaha berpikir menggunakan cara pandang ayah bahwa apa yang ayah lakukan dulu tujuannya murni agar memandirikanku.

Hingga kini, sebenarnya aku pun tidak membenarkan “cara ayah”. Namun, aku memaklumi. Mungkin dulu, hanya cara itu yang ayah tahu.

Menurut pengetahuan ayah kala itu, membiarkan anaknya terjun ke “medan perang” seorang diri adalah cara terbaik untuk mendidik karakter anak yang tangguh dan pemberani. Mungkin juga, pendidikan militer yang ayah lakukan sewaktu muda juga membentuk cara pandang ayah saat itu.

Aku memutuskan untuk mengobati luka hatiku sendiri. Lagi pula, berkat didikan ayah itu, aku memiliki mental yang tidak lemah dan berani. Aku merasakan betul manfaatnya saat ini.

Dan kurasa, orang tua hanyalah manusia biasa yang tidak sempurna. Sebesar apapun mereka berusaha, orang tua pasti melakukan kekhilafan juga.

Cara terbaik yang sebaiknya kulakukan adalah mensyukuri kebermanfaatannya, memaafkan kejadian tidak menyenangkan di masa lalu, dan lakukan perubahan dari diri sendiri untuk masa depan.

Tugas kita sebagai generasi muda, bukankah melakukan perubahan dan tidak mengulangi kesalahan yang sama?

Inner Child

Aku baru tahu dari artikel ini, ternyata rasa kecewaku pada sikap ayahku yang masih terpendam hingga kuliah dulu ternyata inner child yang ada pada jiwaku.

Inner child itu membuat hatiku tertutup untuk meminta bantuan kepada orang lain. Aku takut ditolak lagi. Aku takut kecewa lagi. Akhirnya, aku enggan meminta tolong dan memilih berjuang seorang diri.

Aku juga baru tahu, ternyata usaha penerimaan dan memaafkan yang kulakukan di atas adalah bentuk re-parent dari ilmu psikologi.

Re-parent adalah usaha yang dilakukan seseorang untuk kembali memenuhi kebutuhan yang belum dipenuhi sewaktu kecil. Sebab, tanpa ada re-parent, kita akan terjerembab pada inner child yang menghambat diri. Kita akan terkungkung pada luka masa lalu dan tumbuh menjadi sosok atas luka-luka itu.

Contohnya aku, tanpa proses penerimaan atau re-parent, aku tidak akan mudah percaya orang lain untuk meminta bantuan lagi. Istilah sederhananya, meskipun aku lelah dan berdarah-darah, kurasa aku akan tetap berusaha berdiri sendiri. Bahaya kan πŸ™

Kini, aku mulai lebih peduli tentang hal-hal yang “tidak biasa” pada diri. Kenangan buruk masa lalu yang masih sepintas teringat dan mempengaruhi sosokku masa kini, akan aku perhatikan lagi. Dan kutuntaskan dengan segera. Kalau bukan diri sendiri yang peduli, siapa lagi?

Kita harus mulai peduli pada kesehatan jiwa. Sebab, definisi sehat tidak hanya tentang seberapa sehat ragamu. Namun, juga seberapa sehat jiwamu.

Lakukan penyembuhan dengan terapi yang bisa dilakukan oleh diri sendiri. Contohnya mengubah cara pandang yang aku lakukan tadi.

Kalau ternyata masih sulit dilakukan, tak apa tanyakan saja kepada ahlinya. Kamu bisa konsultasi kepada psikolog, misalnya. Jangan malu untuk mencari tahu, sebab dirimu berhak untuk tahu secara menyeluruh. Semangat, ya! 😊

[Day 22] Terfavorit

Belakangan ini gaya yang kugunakan memang itu-itu saja. Bisakah hal ini kusebutkan sebagai perihal terfavoritku dalam bergaya? πŸ˜‚ kalau bisa, baiklah akan aku ceritakan apa adanya, ya πŸ˜†

Tidak ada gaya yang istimewa dariku. Meskipun begitu, aku tidak menyesalinya. Sebab yang utama adalah kenyamanan untuk diriku sendiri.

Gaya berpakaian yang paling nyaman untukku adalah kemeja atau kaos, rok, dan jilbab polos. Oh iya, aku kurang tertarik menggunakan jilbab bermotif lagi haha entah mengapa rasanya tidak cocok dengan kepribadianku.

Benda tambahan yang menjadi favoritku adalah sepatu, jam tangan, dan ransel. Dengan menggunakan ketiganya, aku merasa nyaman sekali menjalani hari.

Ransel adalah Sahabat Si Pelupa

Dari semuanya, satu benda terfavorit adalah ransel. Aku tidak bisa bepergian tanpa membawa ransel. Ransel adalah penyelamat bagi orang-orang pelupa seperti aku.

Selain itu, aku juga tipikal orang yang memegang teguh pepatah “sedia payung sebelum hujan” wkwk dengan ransel, aku bisa mempersiapkan segalanya dengan baik.

Karena pelupa, sebelum memasukkan benda-benda ke dalam ransel, biasanya aku membuat catatan tentang benda-benda yang akan dibawa.

Contohnya saat ke monas Hari Minggu kemarin. Pergi ke monas adalah perjalanan jarak pendek. Jadi, benda-benda yang dibawa tidak terlalu banyak. Aku hanya perlu membawa payung, botol minum, mukena, dan goodie bag.

Mungkin bagi beberapa orang barang-barang itu tidak terlalu penting. Bagi aku, penting.

Tentang payung. Aku suka hujan-hujanan. Namun, kehujanan saat belum sampai tempat tujuan itu rasanya tidak enak. Dengan membawa payung, aku tetap bisa sampai tempat tujuan tanpa kebasahan. Dengan payung, aku juga bisa membuat banyak rencana cadangan.

Tentang botol minum. Alasan pertama membawa botol minum adalah supaya terhindar dari dehidrasi. Apalagi aku adalah tipikal orang yang mudah haus. Siap sedia botol minum dalam tas benar-benar membantu. Alasan kedua, aku ini masih suka minum minuman teh kemasan. Dengan sedia botol minum di tas, membantu mengingatkanku bahwa sesuka apapun aku dengan minuman teh kemasan, air putih tetap harus dikonsumsi.

Tentang mukena. Membawa mukena sendiri kala bepergian adalah keharusan. Selain masalah kenyamanan, membawa mukena sendiri juga akan menghemat waktu. Seringkali kutemui, antara jumlah jamaah dan mukena tidak berbanding lurus. Maka, kita pun harus antre mukena lama tiap kali waktu salat datang. Dengan memakai mukena sendiri, kita bisa langsung salat berjamaah tanpa antre terlalu lama.

Tentang goodie bag. Membawa goodie bag kosong adalah bentuk usahaku menyayangi bumi. Meskipun tidak tahu ingin digunakan untuk apa, aku siap-siap saja hahaha

Sebenarnya aku masih bandel. Aku masih sering lupa membawa goodie bag sendiri ketika ke mini market. Aku juga masih sering lupa membawa sedotan sendiri tiap kali bepergian. Dengan “memaksa diri” membawa goodie bag dalam tas, akan memudahkanku menolak plastik tiap kali berbelanja.

Kira-kira itulah gaya dan benda terfavorit Shinta. Ribet atau nggaknya relatif ya hahaha tergantung bagaimana gaya dan seleramu. Apapun pilihanmu, semoga semakin membuat kamu semangat menjalani hari πŸ’“

Kita bebas berkreasi, sungguh. Namun, jangan lupa sertakan Allah untuk semua pilihan kita, ya πŸ˜πŸ‘

[Day 6] Tentukan Seleramu!

Ibuku memiliki selera tersendiri untuk anak-anaknya.

Selain keperluan sekolah, aku tidak pernah memakai sepatu. Alasan ibuku, anak-anak terlalu ribet menggunakan sepatu. Jadilah aku terbiasa menggunakan sandal atau sepatu sandal.

Begitu pula dengan pakaian. Ibuku tidak senang memakaikan anaknya pakaian yang tidak berlengan. Aku juga tidak dibiasakan menggunakan rok. Alasannya, anak-anak terlalu ribet menggunakan rok untuk bermain. Jadilah aku terbiasa menggunakan baju berlengan dan celana panjang.

Kebiasaan tersebut sebenarnya tidak sepenuhnya memberikan dampak positif. Dampak negatifnya, aku tidak terbiasa memilih dan membuat keputusan sendiri. Meskipun begitu, semakin dewasa sepertinya hanya dampak positifnya lah yang aku rasakan. Aku bersyukur ibuku memberikan aturan itu saat aku kecil.

Kebiasaan Menggunaan Sandal

Jangan takut, meskipun sejak kecil sampai remaja aku terbiasa menggunakan sandal atau sepatu sandal, tidak memengaruhi kebiasaanku saat dewasa, kok. Peraturan perkuliahan yang melarang penggunaan sandal saat belajar, membuat aku pakai sepatu setiap hari.

Pada awalnya tentu saja kesulitan. Namun, karena dilakukan setiap hari dan menjadi kebiasaan, akhirnya aku pun terbiasa memakai sepatu. Sampai bekerja pun begitu. Pekerjaanku memang mengharuskanku memakai sepatu. Bahkan sampai sekarang, barang kecintaanku adalah sepatu. Sneakers. Aku jarang sekali menggunakan sandal. Sandal digunakan hanya untuk ke warung dan aktivitas bermain air saja hehehe

Kebiasaan Menggunakan Baju Berlengan Panjang dan Celana

Aku bersyukur sekali dengan dua kebiasaan ini. Meskipun pada awalnya aku masih suka mengikuti “trend” berpakaian, namun lambat laun aku tidak sepenuhnya mengikuti trend itu. Aku selalu mempertimbangkan dua kebiasaan berpakaianku ini. Kalau trendnya bersebrangan dengan kebiasaan berpakaianku sejak kecil, biasanya aku tidak mengikuti trend tersebut.

Lalu, aku pun menyimpulkan. Ternyata kebiasaan berpakaian yang orang tua berikan akan membentuk selera berpakaian anaknya, lho. Memang tidak sepenuhnya. Karena, kita pun belajar tidak hanya dari orang tua. Lingkungan dan orang-orang di sekitar juga turut berperan membentuk selera kita.

Alhamdulillah, saat sekolah dulu, aku selalu memiliki sahabat yang berprinsip kuat. Jadi, mereka tidak pernah terbawa trend sepenuhnya. Mereka tetap mencari tahu trend yang ada, namun sebatas referensi saja. Untuk keputusan berpakaian, akan sepenuhnya ditentukan dengan prinsip dan nilai yang dipunya.

Karena sering bermain bersama mereka, akhirnya aku pun turut memiliki pemikiran yang sama. Bahwa selera, murni ditentukan oleh diri sendiri. Kita harus memiliki pertimbangan kuat hingga akhirnya mampu membuat keputusan.

Dan beginilah aku kini. Kalau kamu bertanya gaya apa yang “aku banget”. Jawabannya adalah sneakers dan ransel. Apapun pakaiannya, dua barang itu harus tetap aku pakai wkwkwk

Kamu pun pasti punya selera berpakaian atau selera memilih barang apapun. Meskipun ada banyak yang memengaruhimu, saranku, tetaplah bangga atas pilihanmu itu. Sebab, yang paling penting bukan seberapa baik penilaian orang. Melainkan, seberapa nyaman kamu memakai dan menggunakan suatu barang πŸ™‚

Sumber foto:
http://www.newfrog.com
http://www.dreamstime.com

[Day 4] Cintai Tubuhmu Sendiri

Aku menikmati setiap proses penerimaan diriku ini. Maka, aku tidak menyesal untuk segala perbuatan khilafku di masa lalu. Sebab, tanpa semua itu, aku tidak akan menjadi sosok Shinta seperti hari ini.

Jangan memandangku penuh takjub seperti itu. Aku sama saja seperti kamu. Yang pernah tidak mensyukuri apa-apa dalam diri. Yang pernah mengalami krisis kepercayaan diri. Jadi, jika saat ini kamu masih berjuang untuk mencintai diri sendiri, lanjutkanlah perjuanganmu. Hadapilah sesulit apapun itu. Kesulitan yang kamu hadapi hari ini, akan membentukmu menjadi sosok luar biasa di kemudian hari.

Krisis Kepercayaan Diri

Shinta kecil memiliki kulit hitam legam. Kesukaannya bermain sepeda di siang hari membuat kulitnya terbakar sinar matahari. Maka, bullying verbal seperti sebutan “Si hitam” adalah kalimat biasa yang sering kudengar saat itu. Tetapi, Shinta kecil tidak terganggu dengan sebutan itu. Ia terlalu sibuk dengan dunia bermain bersama teman-teman.

Semua berubah saat aku sekolah menengah pertama (SMP). Masa pubertas ini membuatku memerhatikan fisik sekali. Saat itu, aku mengikuti ekstrakurikuler (ekskul) paskibra. Siapa pun pasti tahu ekskul tersebut sangat akrab dengan panasnya matahari. Kami selalu latihan baris berbaris saat matahari sedang terik. Hasilnya? Kulit kami terbakar sinar matahari. Kami tidak mengenal sunscreen. Jadi, habislah sudah kulit kami ini. Kulit kami menjadi hitam dan merah.

Fase pubertas membuat aku begitu perhatian dengan permasalahan kulit ini. Aku sadar kulitku hitam sekali. Meskipun masih berani tampil paskibra untuk lomba ke sana dan ke mari, aku tidak sepenuhnya mencintai diriku sendiri. Aku selalu menutupi kulit hitamku dengan bedak tabur. Dan selalu membawa bedak itu kemana pun aku berada. Mimpiku saat itu adalah memiliki kulit putih yang berseri.

Jika berpikir dengan cara pandang saat ini, keadaanku saat SMP dulu sepertinya dipengaruhi oleh orang-orang sekitar. Sampai sekarang aku ingat betul siapa saja orang-orang yang membullyku dengan sebutan “si hitam”. Mereka adalah saudara dekatku sendiri. Saat saudara dekat melakukan hal seperti itu, orang tuaku juga tidak membantuku banyak. Seingatku, orang tuaku diam saja. Mungkin, orang tuaku juga bingung bagaimana cara meningkatkan kepercayaan diri anaknya. Akhirnya, krisis kepercayaan diri ini pun berlangsung hingga Sekolah Menengah Atas (SMA).

Titik Balik

Aku tidak ingat kapan tepatnya. Namun, sejak kuliah aku mulai lebih bijak mengendalikan diri. Sikap bijak ini dimulai dari merawat tubuhku dengan baik. Ketika menyadari tipe kulitku adalah kulit berminyak, aku berusaha mencari perawatan wajah yang khusus untuk kulit berminyak. Ketika jerawat tiba-tiba muncul, aku segera mencari tahu hal-hal apa aja yang menyebabkan jerawat muncul. Ketika sadar wajah mulai kusam, aku evaluasi diri bagaimana kebiasaanku merawat wajah. Apakah aku sudah rajin membersihkan wajah atau belum.

Sikap bijak selanjutnya, aku sudah semakin paham segala tubuhku adalah ciptaan Allah. Maka, menghina tubuhku sendiri, berarti aku menghina Allah. Aku pun mulai menerima diri sendiri. Segala kelebihan sekaligus kekurangannya.

Intinya, sejak kuliah aku tidak lagi mencari hal-hal negatif dalam diri. Karena aku menyadari, segala masalah pada tubuh ini bisa jadi karena kurangnya aku merawat diri.

Aku juga tidak lagi membandingkan dan menilai tubuhku dengan tubuh orang lain. Karena aku tahu, kondisi tubuh tiap orang berbeda-beda. Contohnya saja dalam hal tipe kulit. Masalah dan perawatan kulit kering dan berminyak itu berbeda. Rasanya tidak adil bila aku menginginkan keadaan tubuh orang lain, bila aku tidak mengenal dan merawat tubuhku sendiri.

Kalau kamu bertanya bagian tubuh mana yang paling aku sukai, aku tidak akan memilih apa-apa. Karena aku tidak bisa memilih. Aku menyukai seluruh bagian dalam tubuhku ini. Setiap bagian tubuhku memiliki manfaat dan keunikan masing-masing.

Bahkan untuk kulit berminyakku. Aku bersyukur memiliki tipe kulit seperti ini. Meskipun kata orang kulit berminyak mudah berjerawat, kenyataannya tidak, kok. Selama aku rutin membersihkan wajah tiap kali beraktivitas, Insya Allah wajahnya baik-baik saja. Keuntungan lain yang aku rasakan, kulit berminyak jarang sekali kering dan dehidrasi, lho.

Kalau tipe wajahmu sama seperti aku, saranku, tiap kali beraktivitas, kamu siapkan saja kertas minyak di tasmu. Kertas minyak itu membantu sekali mengurangi kelebihan minyak yang ada di wajahku πŸ™‚

Lalu, tentang alis. Sekarang itu lagi booming dandan-dandanan, ya. Di youtube banyak sekali tutorial dandan. Contohnya dalam membentuk dan menebalkan alis. Alisku itu bentuknya tidak lurus rata. Di beberapa sisi ada yang bergelombang naik ke atas. Kalau kata mereka yang ahli di bidang dandan, tipikal alisku akan susah sekali dibentuk. Supaya terbentuk alis yang bagus, katanya harus dicukur dulu. Kalau tidak mau, alisku bisa pakai concealer. Fungsinya, untuk menutup si alisku yang bergelombang itu. Ribet ya? Iya. Tapi, aku biasa saja.

Bagiku, alis tebal atau tidak tebal bukan masalah. Pakai pensil alis atau tidak pakai juga bukan masalah. Kalau harus memilih, aku lebih baik tidak pakai apa-apa. Aku lebih nyaman alis normal milikku apa adanya. Alasan utama sih, aku memang tidak pandai membuat alis hahaha

Beberapa hal di atas tentang fisik. Masih banyak lagi faktor lain yang membuat seseorang tidak percaya diri.

Alhamdulillah, diumurku yang saat ini aku menerima diriku seutuhnya. Aku menerima segala bentuk wajahku. Alis, mata, hidung, mulut, dan lain sebagainya.

Apalagi aku ini fisioterapis. Aku sering menangani pasien bell’s palsy. Gejalanya, otot-otot wajah kita menurun kekuatannya. Jadi, fungsi wajah kita untuk sementara terganggu. Kita tidak bisa mengedipkan mata, kita tidak bisa mengangkat alis, kita tidak bisa tersenyum simetris, kita tidak bisa menutup mata secara sempurna, dan masih banyak gangguan lainnya.

Melihat pasien-pasien mengalami keadaan itu dan mendengar keluhan mereka saat fungsi wajahnya terganggu, membuat aku introspeksi diri. Ternyata aku bersyukur banget lho wajahnya lengkap dan berfungsi dengan baik seperti saat ini.

Menyadari bahwa rumput tetangga memang selalu lebih hijau, aku selalu berusaha mengingatkan diri. Bahwa nikmat yang aku rasakan akan selalu lebih banyak daripada kekurangan yang dicari-cari. Dan yakin bahwa Allah selalu memberi setiap hal sesuai kebutuhannya.

Aku juga berusaha untuk sadar diri bahwa setiap manusia memiliki keadaan yang berbeda-beda. Jadi, sangat tidak adil bila aku terlalu mengagumi apa-apa yang ada pada orang lain, dan tidak peduli dengan kelebihan yang ada pada diri. Setiap orang berjuang pada medan perangnya sendiri, kan?

Aku akan berusaha menyukai dan merawat apa-apa yang ada pada diri. Entah itu fisik, karakter, kemampuan, dan sebagainya. Karena apa? Karena aku adalah ciptaan Allah. Maka, aku akan menyukai dan merawat semua hal yang Allah berikan. Insya Allah. Kita semua cinta Allah, kan? Aku percaya, seseorang yang mencinta akan melakukan apa saja untuk sesuatu yang dicinta πŸ™‚

[Day 3] Mengenal Kata Hati

Menua semakin membuatku mengenal kata hati. Dan aku pun ingin tahu, sejauh mana diri ini mengenal hati.

***

Aku mengenal dia saat pelatihan di rumah sakit. Aku yang datang sendirian langsung disapa olehnya dengan sapaan yang hangat. Saat itu, ia bersama beberapa kawan. Ia juga meminta nomor whatsappku. Katanya, ia ingin bertanya banyak tentang keluhan sakit pinggang. Melihat bagaimana ia memperkenalkan diri, aku menyimpulkan ia adalah orang yang ramah dan mudah berkawan dengan orang lain.

Namun, siapa sangka ternyata karakternya bisa benar-benar berubah 180 derajat setelah kami berpisah dari ruangan pelatihan itu. Ia yang kukenal sebagai seseorang yang ramah dan hangat, ternyata tidak terbiasa menyapa orang lain saat berpapasan di jalan.

Pada awalnya, tentu saja aku menyapa lebih dulu. Ia pun tersenyum. Pada kesempatan yang lainnya, berulang kali ia menundukkan wajahnya setiap berpapasan denganku. Kuledek saja dia,“Hei Ai, ih kok nunduk aja sih. Nyariin apa? Hehehe kamu mau ke mana?” ia menjawab seadanya dengan sedikit tertawa.

Namun, pada pertemuan ke sekian kalinya, ketika aku lupa menyapa, ia melewatiku begitu saja. Ia tidak menyapa ataupun tersenyum. Padahal jarak kami hanya sekitar 1 meter saja.

Melihat polanya, aku menyadari bahwa ia adalah tipikal orang yang tidak senang menyapa orang lain lebih dulu. Entah apa alasannya.

Pada kondisi ini, aku berdebat dengan diri sendiri. Egoku menyuruh agar tidak menyapa dia lagi. Kalau dia menunduk, biarkanlah. Aku tak perlu menyapanya lagi. Aku kesal dengan perilakunya.

Tetapi, kata hatiku menolak ide itu. Ia mengatakan bahwa rencanaku tersebut tidak benar. Tersenyum dan menyapa orang lain lebih dulu adalah perbuatan baik. Mengapa aku harus mengorbankan perbuatan baik hanya untuk sebuah rasa kesal yang sifatnya sementara? Mengapa menjustifikasi karakter orang lain, padahal apa-apa tentangnya pun aku tidak tahu?

Egoku kalah. Dan aku menuruti kata hatiku.

***

Mendengarkan kata hati, membuatku menjadi lebih peka. Aku menjadi mudah merasakan perasaan lawan bicaraku. Aku juga semakin mudah memahami pikiran mereka. Daripada merasa kesal atas perbuatannya, aku berusaha memikirkan mengapa ia bisa menjadi sosok yang seperti itu. Ia pasti memiliki luka masa lalu sehingga tidak memahami aturan tegur sapa kepada orang lain.

Mengikuti kata hati, membuatku menjadi lebih bijaksana. Aku menjadi lebih mudah berpikir jauh ke depan atas apa-apa yang terjadi. Daripada membiarkan perasaan negatif menguasai diri, aku berusaha menerima segala kepahitan. Menerima bahwa kepahitan hidup memang sebuah kepastian. Menerima bahwa perilaku buruk orang lain juga sebuah kepastian. Orang lain bebas berperilaku apa saja.

Yang tidak boleh bebas itu aku. Aku tidak boleh terpengaruh oleh kejadian buruk yang menempa. Aku tidak boleh terlalu lama tenggelam dalam pikiran dan perasaan negatif. Sebab pikiran dan perasaan yang negatif akan berpengaruh pada perilakuku.

Bersediakah aku menjadi orang yang buruk hanya karena tak sanggup mengendalikan diri sendiri? Sungguh tidak bersedia. Aku terlalu berharga untuk melakukan perbuatan itu. Sebab, Allah yang Maha Baik sudah menciptakan diri ini dalam bentuk yang paling baik.

Kata hati adalah pesan Allah yang seringkali tidak disadari. Ego terlalu mendominasi hingga aku lupa diri. Semoga aku tidak melakukan itu lagi. Dan berusaha untuk selalu mendengarkan dan mengikuti kata hati. Sebab, hanya dengan cara itu aku mampu mengendalikan diri.

Sejak Awal Kita Memang Berbeda

Kepada kamu. Bila nanti kita bertemu dan hidup di atap yang sama, jangan pernah menyesal telah memilih aku. Sebab, nanti, di atap yang sama, kamu akan benar-benar tahu siapa aku. Sudah siapkah kamu?

Semoga kita selalu mengingat tentang ini. Kita adalah dua orang yang berbeda. Aku perempuan dan kamu laki-laki. Allah yang telah memberikan takdir itu. Kita berasal dari orang tua dan keluarga yang berbeda. Kita tumbuh dan mendewasa pada lingkungan yang berbeda. Kita memang hidup pada kebiasaan yang berbeda. Kita adalah dua manusia yang memiliki karakter yang berbeda. Lantas, bila nanti kita menemukan banyak hal berbeda ketika tinggal bersama, haruskah kita menyesal, berputus asa, dan kemudian memilih menyerah? Semoga hal-hal itu tak pernah muncul di dalam benak kita.

Tahukah kamu? Sungguh, yang kita butuhkan bukanlah menjadi sama, melainkan kemampuan untuk saling memaafkan dan menerima.

Sedari awal, memiliki kemampuan menerima keadaan orang lain memang bukan hal mudah. Aku yakin kita sudah terbiasa menemukan hal yang benar-benar beda. Contohnya saja tentang aku dan adik perempuanku. Usia kami terpaut empat tahun. Saat kecil, masalah kami hanya seputar memperebutkan mainan atau rasa cemburu karena merasa ayah dan mama lebih sayang kepada salah satu kami. Ketika besar, masalah datang dari berbedanya karakter kami.

Aku yang terlalu perhatian selalu merasa terganggu dengan sifat adikku yang super cuek. Adikku yang super cuek selalu merasa terganggu dengan aku yang cerewet karena selalu mengingatkan dirinya. Aku yang tak senang diburu waktu saat mengerjakan tugas selalu terganggu dengan adikku yang senang mengerjakan apapun pada detik-detik terakhir. Pada awalnya semua perbedaan ini tidak menjadi masalah ketika kami berjalan pada jalan masing-masing. Namun ternyata, semua perbedaan menjadi masalah besar ketika kami harus bekerja sama.

Ketika ego memimpin segalanya, tentu saja kami kesulitan mendapatkan kesepakatan. Aku hanya melihat kesalahan-kesalahan yang adikku perbuat. Begitu juga dengan adikku. Kami hanya ingin dimengerti dan dipahami, tanpa introspeksi diri. Kami lupa tentang kesalahan diri sendiri. Pokoknya, kamu yang salah. Aku yang paling benar. Begitu, pikiran kami berkata.

Ketika ego mengendalikan keadaan, saling bungkam dalam waktu panjang bukan sebuah persoalan. Ketika ego menjadi acuan, saling menuntut tanpa mencari penyelesaian selalu menjadi pilihan. Benarkah keadaan seperti ini yang benar-benar kita mimpikan?

Lalu, bagaimana aku dan adikku akhirnya menemukan kesepakatan? Kami membutuhkan waktu untuk saling merenungkan. Merenungkan tentang kesalahan diri yang telah dilakukan. Merenungkan perkataan dan perbuatan diri yang menyakitkan. Setelah perenungan panjang, maka akan timbul kesadaran. Bahwa perbedaan hadir bukan untuk dipersoalkan. Melainkan untuk dipelajari bersama dan dicari jalan terbaik untuk keduanya. Jalan yang membuat kami merasa nyaman tanpa ada yang dikorbankan. Bukankah hal seperti ini yang disebut indahnya kebersamaan?

Aku dan adikku yang telah hidup kurang-lebih 20 tahun bersama terkadang masih sulit saling menerima, lalu, apa kabar dengan kita yang baru saja memulai hidup di atap yang sama? Aku tahu, hubungan adik-kakak dengan hubungan kita adalah dua hal berbeda. Namun, tentang perbedaan karakter dan kebiasaan di antara dua manusia bukankah tetap sama?

Kelak, mungkin aku akan banyak membuatmu bingung. Mungkin, aku akan banyak membuatmu lelah. Mungkin, aku akan banyak membuatmu kecewa. Jika kamu benar-benar tahu siapa aku, sangat mungkin aku akan menorehkan luka.

Namun aku meminta, bagaimana pun keadaanku nanti, jangan pernah berputus asa dan menyerah terhadapku. Sebab, tak ada Surga untukku tanpa ridhomu. Sebab ridho Allah, tergantung pada ridhomu. Maukah kamu memberi hati yang seluas langit untuk memaafkan segala khilafku? Maukah kamu memberi hati yang lapang untuk menerima aku dengan segala kurangku?