[Day 20] Terlalu Suka Fotografi

“Mbak, ngapain si foto-fotoin pemandangan dan orang-orang?”

“Aku nggak tau mau fotoin apaan.”

“Ngapain si kirim foto via email segala?”

Adalah beberapa contoh pertanyaan yang sering ditanyakan kepadaku. Kali pertama mendengar cukup bingung, sih. Bingung dari mana menjawab dan menjelaskannya wkwk

Tetapi, aku tahu hal yang melatarbelakangi pertanyaan itu. Temanku memang tidak memiliki ketertarikan dengan fotografi.

Aku memiliki minat pada fotografi. Selalu merasa kurang bila tidak mengabadikan foto pada momen-momen yang aku sukai. Dan selalu tidak kekurangan ide untuk memotret apa-apa yang kutemui. Meskipun belum mendalami, ada tiga hal yang sering aku lakukan dan sepertinya sudah cocok dikatakan sebagai hobi.

Pertama, aku senang mengabadikan momen. Momen waktu sendiri ataupun bersama orang lain. Kedua, aku senang menyimpan rapi foto-foto itu dalam sebuah folder dengan nama khusus. Folder laptop atau pun folder gawai. Ketiga, kalau memungkinkan, aku akan menyimpan dan meminta foto dengan resolusi foto sesuai asli tanpa dikompres. Kalau boleh menambah satu hal lagi, aku juga senang mencetak foto-foto itu. Kemudian kusimpan dalam bingkai atau album foto.

Karena memiliki ketertarikan besar pada fotografi, aku pun memperhatikan hal sederhana yang seringkali orang-orang abaikan.

Kesimetrisan Foto

Misalnya, ketika memotret. Mengukur kesimetrisan antara objek foto dan lingkungan di sekitarnya adalah wajib. Kalau ingin memotret dalam posisi portrait, ya harus portrait sepenuhnya. Kalau ingin memotret dalam posisi landscape, ya harus landscape total. Jangan sampai hasil foto menjadi setengah-setengah alias miring. Portrait bukan, landscape pun bukan.

Memindahkan Objek yang Menganggu

Memindahkan benda-benda mengganggu keindahan objek yang akan difoto juga wajib. Misalnya, saat ingin memotret kutemukan sebuah sapu lidi di pinggir objek. Maka, sebelum memotret, aku akan menyingkirkan sapu lidi dahulu. Atau saat foto bersama di restoran. Kalau ada piring kotor bekas makan kami, akan kutumpuk dahulu piring-piring itu supaya tidak menganggu objek yang akan difoto.

Menjaga Foto Agar Tetap Fokus

Aku juga tidak senang hasil foto yang ngeblur atau tidak fokus. Kalau kutemukan lebih awal, aku pasti akan meminta difotokan lagi. Foto yang ngeblur itu akan menganggu makna foto itu sendiri. Hasil foto wajah yang ngeblur, akan membuat tidak jelas wajah orang-orang di dalamnya. Padahal, orang-orang dalam foto itu sungguh berarti. Hasil pemandangan yang ngeblur juga akan mengurangi keindahan objek tersebut.

Tetapi, ada pengecualian. Kalau memang tidak ada kesempatan memotret ulang, hasil foto ngeblur pun tidak apa-apa. Menurutku, lebih baik ngeblur daripada tidak ada sama sekali :’)

Mengedit Foto dengan Aplikasi Gawai

Memoles foto supaya lebih cantik dengan aplikasi foto juga sebuah keharusan. Aku tidak senang melihat hasil foto yang gelap dan tidak nyaman dipandang. Mengedit foto digawai tidak sulit, kok. Kamu hanya perlu mengatur penerangan, kekontrasan, saturasi, dan kehangatan warna fotonya saja.

Bagaimana cara mengukur bahwa tingkat kecerahan dan kekontrasan foto sudah “pas”?

Kalau aku pakai intuisi saja. Saat foto sudah enak dipandang mata, artinya foto sudah bagus. Tenang, bisa karena biasa. Coba-coba saja aplikasi edit fotonya. Nanti, kamu akan menemukan selera fotomu, kok 😃

Hasil foto biasanya tergantung selera masing-masing orang. Kalau aku, karena terpengaruh sama hasil editan foto adikku, saat ini, lebih senang foto dengan efek secara keseluruhan berwarna “biru”. Daripada efek foto “orange” karena pengaturan saturasi yang terlalu besar. Entah mengapa rasanya sejuk saja dimata hehe Lain kesempatan, Insya Allah akan kutunjukkan maksud dari hasil foto berefek biru atau orange, ya. Saat ini fotonya sedang tidak tersedia dalam galeri foto gawaiku 🙏

Mengedit foto adalah salah satu hal yang sering aku lakukan untuk mengisi waktu luang. Waktu bergulir pun tidak terasa, tiap kali aku menggunakan waktu untuk mengedit foto. Pikiran tenang, hati pun menjadi riang. Adakah yang memiliki minat seperti aku ini? 😁

Day 24 – Kesadaran

Ini foto bersama sebelum ban motor bocor. Kami baru saja selesai menonton film Upin Ipin. Takdir memang begini. Kita tak pernah tahu kejadian apa yang menghampiri beberapa jam lagi :’)

Ini adalah kejadian ke sekian kalinya. Ketika logika seakan mati rasa karena keberanian yang berlebihan. Aku yang menolak ingat bahwa kejahatan itu sangat dekat.

Beberapa bulan lalu, ayah memarahi karena aku selalu nekat melewati jalan raya kampus itu pada malam hari.

Aku tidak takut. Karena di sana masih banyak mahasiswa berkumpul mengerjakan tugas.

Lagi pula, aku dapat memangkas jarak. Tidak ada kemacetan pula. Dan mendapat bonus merasakan udara malam yang dingin.

Ayah pun segera memberi pertanyaan menohok,“Lebih sayang sama nyawa atau mengutamakan jalan yang tidak macet?”

“Di sana rawan begal, Mbak. Jangan lewat sana.” tambahnya.

“Siap, yah!” kataku menurut.

Kejadian malam tadi,

Ban motorku bocor. Malam ini, aku bersama adik-adik. Danang dan Satria. Sebelum mengambil keputusan sendiri, seperti biasanya, aku pun meminta izin kepada ayah. Dan ayah mengizinkan.

Singkat cerita, aku akhirnya mendorong motor sampai rumah. Si kecil aku dudukkan di atas motor. Sedangkan Danang berjalan kaki memantau kami dari belakang.

Mendorong motor, aku kuat. Menjaga adik-adik, tentu saja aku bisa. Namun, mendorong motor di kegelapan bersama dua anak kecil ternyata super menakutkan. Bukan takut hantu. Melainkan, takut ada orang yang berbuat jahat.

Kejadian malam ini membuatku sadar bahwa tidak selamanya kita harus menuruti keberanian dalam diri. Ada kalanya, kita harus berpikir berulang kali untuk memikirkan kemungkinan-kemungkinan terburuk.

Tidak masalah, menunggu lama atau melalui jalan yang lebih jauh. Sebab, keselamatan selalu utama.

Kejahatan itu dekat. Ia tidak datang kepada orang yang lalai saja.

Kita harus waspada. Kalau kata Bang Napi pada berita sergap, kejahatan bukan semata-mata karena ada niat dari pelakunya, tetapi juga karena ada kesempatan.

Saranku untuk perempuan, sekuat apapun kita, kodrat perempuan memang tak memiliki kekuatan fisik sekuat laki-laki. Maka, bila berada dikondisi yang membahayakan, baiknya jangan terlalu merasa “mampu”. Karena, pada beberapa kondisi perempuan memang tidak bisa berjuang sendiri.

Apalagi seperti kedua contoh yang aku berikan di atas. Kita harus berhati-hati. Sebab, potensi para pelaku kejahatan adalah laki-laki. Kita sebagai perempuan tak akan mampu beradu fisik seorang diri.

#30DWC #30DWCJilid18 #squad8 @Pejuang30dwc #30dwcjilid18day24

***

Aku sedang latihan menulis rutin lagi. Jadi, aku mengikuti 30 hari bercerita yang diadakan akun instagram (IG) @Pejuang30dwc. Karena IG sedang bermasalah, untuk sementara aku unggah tulisan di wordpress ini.

Barangkali, teman-teman ingin membaca tulisan day 1 sampai day 21, silakan lihat di IG @shintakrs 🙂