Antah Berantah

Di tempat antah berantah.
Dengan seseorang yang tidak kukenali rupanya.
Tetapi, aku merasa terhubung dengannya.

Pada saat itu, tanpa basa-basi, ia mengucapkan sebuah keinginan.

“Andai saja ada seseorang yang bersedia memelukku. Aku pasti merasa senang sekali.”

Continue reading “Antah Berantah”

Suara Alam

Panggil aku, Tangguh. Saat ini, aku sedang mendengarkan Relaxing Walk in the Rain, yang baru saja berhasil kuunduh dari channel youtube Nomadic Ambience.

Aku, si pria yang sedang berjuang tangguh seperti namaku, ingin sekali ditempa dengan hal-hal menantang dan menyulitkan. Bukannya sok kuat ataupun merasa hebat. Kupikir, manusia memang harus memosisikan diri pada situasi terdesak dan terhimpit. Setidaknya, sesekali. Kalau bisa, sesering mungkin. Manusia perlu diuji. Seberapa mampu ia bangkit meski terhimpit situasi sulit.

Continue reading “Suara Alam”

Surat Kontemplasi

Hai, namaku Tuti. Kalau kawanku sedang jail, mereka menyebut namaku menjadi panjang. Kata mereka, Tumpuk Tiga! Kamu tahulah istilah itu. Istilah tumpuk tiga biasa digunakan untuk orang-orang yang menaiki motor sekaligus tiga orang. Biar sajalah. Aku tidak peduli perkataan negatif orang-orang. Kata ibuku, kita akan gila kalau terus memikirkan apa kata orang. Setiap manusia pasti berbicara berdasarkan apa maunya. Jadi, aku pun boleh-boleh saja kan berpikir sesuai apa mauku.

Continue reading “Surat Kontemplasi”

Alam dan Kami

Siang yang terik. Dengan baju setengah basah aku menyusuri hamparan pasir putih. Pasir di sini lembut nian, tetapi masih kurasakan sentuhan ranting kering pada telapak kaki. Meskipun tidak melukai, ranting yang kering rupanya cukup menyakiti kaki. Aku harus melangkah perlahan supaya ranting tidak menusuk begitu dalam.

Tanpa kusadari, ternyata Rosie mengikutiku dari belakang. Ia tidak memanggil. Aku juga tidak bertanya. Jadilah kami berjalan beriringan dalam sepi.

Pulau yang sunyi dengan irama ombak yang syahdu membuatku ingin melangkah lebih jauh lagi. Entah apa yang dicari.

Continue reading “Alam dan Kami”

Lily dan Langit

Lily suka memandang langit. Lily juga suka berbicara dalam hati sambil menatap langit.

Sebelum tumbuh menjadi perempuan dewasa yang bebas ke mana-mana sendiri, Lily tidak tahu kalau langit biru itu indah sekali. Soalnya, langit di rumahnya hanya berwarna putih. Sejauh mata memandang, langit pun tidak terbentang luas. Langit selalu tertutupi oleh kabel dan tiang listrik serta gedung-gedung tinggi. Di mana coba letak indahnya? Tidak ada, kan?

Continue reading “Lily dan Langit”