Gagal Setoran Tunai BNI

Aku menjadi nasabah BNI sejak tahun 2011. Pelayanan yang cepat tanggap dan petugas bank yang ramah adalah beberapa alasan mengapa aku setia dengan BNI. Dan alasan tambahannya, aku tidak pernah mendapat masalah dalam hal transaksi. Semakin betah sajalah aku pada bank ini.

Hingga sampai pada Bulan April kemarin. Aku mendapat masalah tentang setoran tunai pada mesin ATM. Aku akan menuliskan pengalaman tersebut pada tulisan ini. Semoga saja, teman-teman dapat memetik hikmah dan lebih berhati-hati.

Aku jarang sekali menyetor uang melalui bank. Alasannya, mungkin karena aku belum perlu menyetor uang dalam jumlah banyak. Bahkan biasanya, setoran tunai ini aku gunakan untuk mentransfer ke bank lain kala saldo BNIku kosong hahaha

Gagal Setoran Tunai

Bulan April lalu aku mendapat arisan. Jumlahnya tidak terlalu besar. Namun, sangat cukup membantu memenuhi kebutuhanku sampai hari gajian tiba. Malam itu, aku datang ke BNI margonda raya untuk menyetor uang arisan sebesar 500.000. Aku senang ke ATM sana. Mungkin alasannya karena faktor kebiasaan saja. Tidak ada alasan khusus tentang ini.

Dengan percaya diri aku langsung melakukan setoran tunai. Tidak ada kecurigaan apapun. Karena memang tidak ada pemberitahuan apapun pada mesin ATM di sana.

Setelah sukses melakukan setoran, aku langsung mengecek saldo. Dan, setoran 500.000 itu tidak masuk ke dalam saldoku. Langsung saja aku menekan tombol cancel dan berencana melakukan pengecekan kembali. Seketika, kertas resi pun keluar dari mesin ATM. Tidak seperti setoran tunai biasanya yang tertuliskan bahwa setoran telah sukses, malam itu tulisannya berbeda.

Resi yang keluar dari mesin setelah gagal melakukan setoran tunai.

Singkatnya, aku diberitahu bahwa terjadi kesalahan komunikasi penyetoran tunai. Aku juga disuruh untuk mengecek saldo dan menghubungi call centre. Membaca tulisan itu aku pun langsung memahami situasinya. Dugaanku, pasti saldoku tidak bertambah karena masalah itu. Aku pun segera mendatangi pak satpam yang berjaga di bank.

Pak satpam membantuku untuk menghubungi call centre BNI. Namun, setelah berkali-kali mencoba hasilnya nihil. Call centre BNI terlalu sibuk.

Setelah berupaya menelepon, ia memberitahuku bahwa pelaporan yang dilakukan via telepon prosesnya akan lebih cepat. Paling lama hanya 14 hari saja. Kalau pelaporan melalui bank akan lebih lama. Membutuhkan waktu 20 hari hingga akhirnya uang kembali.

Paska kejadian gagalnya setoran tunai, aku sempat mengajukan banyak pertanyaan ke Pak Satpam. Beberapa pertanyaannya seperti adakah cara awal kita tahu bahwa sebuah mesin ATM tidak bisa beroperasi dengan baik. Adakah kemungkinan pengembalian uang berlangsung lebih cepat, hanya dua atau tiga hari, misalnya. Dan ada masalah apa sesungguhnya sampai-sampai setoran tunai tidak masuk ke dalam saldo.

Menurut pak satpam, rusak atau tidaknya sebuah mesin ATM memang tidak bisa diprediksi. Apalagi bila masalahnya ada pada jaringan. Kita akan tahu ada masalah pada mesin tersebut kalau ada korban. Seperti masalah aku ini. Setelah aku jadi korban, barulah mesin tersebut ditempelkan pemberitahuan bahwa mesin ATM rusak 😅

Terkait pengembalian uang, memang tidak bisa cepat. Karena ada prosedur dan proses panjang hingga akhirnya uang nababah dapat dikembalikan. Tentang alasan mengapa terjadi masalah setoran tunai, pak satpam tidak tahu pasti. Kemungkinannya, kata si bapak masalah ada pada jaringan.

Setelah mengobrol panjang lebar, pak satpam mencatat data pribadiku seperti nomor KTP, nomor ATM, dan cerita singkat kronologi kejadian.

Melapor ke Customer Service di Bank

Tidak ada informasi banyak yang aku dapatkan setelah “ngobrol” sama Mbak customer service. Aku hanya bercerita singkat tentang masalahku, kemudian aku disuruh mengisi formulir kronologi kejadian, dan mbak customer service memberikan penjelasan singkat tentang pengembalian uang.

Informasi yang paling aku ingat adalah, proses paling lama pengembalian uang adalah 20 hari. Nanti uang akan kembali secara otomatis ke saldoku. Mbak juga bilang, kalau setelah 20 hari uang belum juga kembali, aku bisa menghubungi bank lagi. Nanti, akan dikaji lebih dalam lagi. Seperti, pengecekan kamera CCTV dan pengecekan buku satpam yang berisi data nasabah yang bermasalah. Ribet kan 😂

Saat mendengar penjelasan itu, aku merasa bingung dengan prosedurnya. aku yang membawa data lengkap dan bukti saja mengurusnya “seribet” ini. Bagaimana bila nasabah yang bermasalah tidak memiliki bukti resi seperti milikku. Pasti prosesnya akan lebih panjang lagi.

Uangku Kembali

Tepat 20 hari akhirnya uangku kembali. Selama menunggu uangku kembali, aku sempat browing membaca keluhan-keluhan nasabah lain yang memiliki masalah sama. Rata-rata uang mereka jauh lebih besar dibanding aku.

Ada pula nasabah yang marah sekali karena uangnya tidak juga kembali setelah 20 hari. Ia berkeluh kesah dan meminta pihak BNI mengatasi masalah ini dengan cepat. Di zaman seperti saat ini yang teknologinya super canggih, seharusnya prosesnya akan lebih singkat dan praktis.

Kasihan kepada nasabah yang benar-benar membutuhkan uang. Ada kepala keluarga yang “curhat”, kalau masalah seperti ini taruhannya adalah keberlangsungan rumah tangga. Ia merasa dirugikan karena dana yang seharusnya digunakan untuk kebutuhan rumah tangga harus “ditahan” hingga 20 hari lamanya.

Aku juga mencari tahu bagaimana bank lain menyelesaikan masalah seperti ini. Entah bagaimana kerumitan yang dialami BNI, ternyata ada kok bank lain yang mengurus kepentingan seperti ini lebih cepat. Dalam waktu 24 jam saja uang sudah dapat kembali.

Bagi aku pribadi, pengalaman ini benar-benar menjadi pelajaran. Menunggu 20 hari ternyata lama banget, lho. Apalagi untuk orang-orang yang sedang membutuhkan uang. Pengembalian uang yang terlalu lama bisa menganggu keberlangsungan hidup sehari-hari.

Saranku untuk teman-teman, beberapa hal yang harus diperhatikan sebelum setoran tunai:

1. Pastikan kamu setoran tunai di ATM yang bersatu dengan bank. Sebab, kalau ada permasalahan pada mesin ATM, kamu bisa meminta tolong langsung kepada Pak Satpam untuk memberikan informasi.

2. Jangan setor uang seluruhnya sekaligus. Periksa dulu apakah mesin ATM berfungsi dengan baik. Bagaimana cara mengeceknya? Kamu lakukan dulu setoran tunai dalam jumlah sedikit. 20.000 atau 50.000, misalnya. Kalau berhasil, barulah kamu menyetor semua uangnya.

3. Kalau mengalami masalah seperti aku, sebaiknya langsung telepon call centre. Kalau misalkan sibuk, telepon saja terus sampai berhasil. Sebab, pelaporan yang dilakukan via telepon, proses pengembalian uangnya akan lebih cepat. Untuk BNI, hanya 14 hari saja.

4. Kalau sudah melapor dan ingin tahu sudah sampai tahap mana pengaduanmu diproses oleh BNI, kamu tanyakan saja via BNI call centre. Kamu tidak perlu ke bank langsung. Karena akan buang-buang waktu saja. Customer service tidak akan mempercepat proses. Ia hanya akan memberi tahu pengaduan kamu sudah sampai tahap apa.

5. Tidak perlu khawatir, uangmu akan tetap kembali. Hanya saja tentang waktu sifatnya tentatif. Tergantung pihak BNI. Saranku, kalau proses sudah melebihi 14 atau 20 hari, kamu perlu tanyakan kembali kepada pihak BNI.

Baiklah, sekian cerita pengalamanku tentang gagal setoran tunai BNI. Semoga tidak terulang lagi. Semoga menjadi penyemangat untuk kamu yang sedang menunggu pengembalian uang dari BNI 💪

Dan untuk teman-teman wordpress, semoga menambah informasi terkait setoran tunai ini 😊

Semoga ke depannya, BNI pun memperbaiki sistemnya. Semoga lebih cepat dan praktis. Aamiin.

Advertisements

Kontak Fisik

“Apa pendapatmu tentang seorang laki-laki yang meremas bahu rekan perempuan sebagai tanda bercanda atau sapaan? Normalkah tindakan itu menurutmu?” tanyaku. Aku bertanya pada teman laki-lakiku dan sungguh tak sabar mendengar jawabannya.

“Normal saja. Bukankah itu tanda persahabatan?” ia menjawab dan kembali bertanya.

“Menurutku, tidak normal. Selalu ada banyak cara bila tujuannya hanya untuk bercanda. Bila ia terbiasa kontak fisik, kurasa, tanda persahabatan pun bisa dilakukan dengan menggunakan tepukan bahu. Ya kan?” jawabku. aku menjawab agak panjang sebagai tanda keberatan atas jawabannya.

“Iya, benar. Seharusnya temanmu itu dapat memposisikan diri. Kalau lawan bicaranya tidak biasa melakukan kontak fisik, harusnya ia tidak melakukan itu.” jawab temanku.

“Nah. Seharusnya ia menyesuaikan keadaan teman. Jika ia menganggap perbuatannya itu untuk bercanda antar teman, maka lakukanlah kepada mereka yang memiliki pemikiran yang juga sama sepertinya.” jawabku.

“Bagaimana cara ia tahu siapa saja yang memiliki pemikiran sama dengannya?”

“Mereka yang menganggap kontak fisik seperti itu hal lumrah, tentu sering melakukan perbuatan itu juga dalam kehidupan sehari-hari. Jika seseorang tidak pernah melakukan kontak fisik seperti itu, bukankah bukti yang cukup jelas bahwa ia tidak menyukai hal itu?” kataku.

“Iya benar. Aku pun tidak akan berani kontak fisik ke sembarang orang. Bukan karena takut. Namun, aku menghargai prinsip setiap orang.” jawab temanku.

“Nah, keren kamu! Dunia akan begitu tentram, aman, dan damai kalau ada banyak orang peduli dan perhatian seperti kamu.” kataku. Aku memujinya. “Setiap orang selalu memiliki batasan berbeda saat berteman.” tambahku.

“Iya. Dan kita wajib menghargai batasan itu. Kita juga tidak boleh menghakimi atas pilihan orang lain. Sudah lega mengeluarkan unek-unek?”

“Setuju! Iya, sudah Alhamdulillah.”

“Kamu harus ingat, ada kalanya kita harus bicara kalau memang tidak setuju atau tidak suka terhadap sesuatu. Tidak semua orang mampu mengenal orang lain dengan baik. Contohnya, tentang kontak fisik ini. Mungkin, temanmu tidak peka dan tidak mengerti.”

“Iya. Terima kasih sarannya. Terima kasih. Aku akan ingatkan teman-teman perempuanku yang lain supaya berani mengungkapkan pikiran. Bila tidak nyaman, ia perlu mengungkapkan. Sekali lagi, terima kasih, ya.” jawabku. Aku menutup percakapan dengan ucapan terima kasih berkali-kali. Betapa beruntung aku memiliki teman bercerita yang memiliki pikiran seterbuka ini.

Perlukah Nilai dan Tujuan Kita Sama?

Ternyata usia memang tidak menjamin tingkat kebijaksanaan seseorang. Mungkin, bukan kebijaksanaanlah yang menjadi permasalahannya. Namun, memang kita memiliki perbedaan ‘nilai’ yang diyakini dan ‘jalan’ yang dituju.

‘Nilai’ yang diyakini dan ‘jalan’ yang dituju, keduanya adalah faktor utama dalam menjalin hubungan. Kita akan menjalin hubungan dengan orang-orang yang menganut nilai dan tujuan yang sama. Sebab bila tidak, hanya ketidaknyamanlah yang akan kita rasakan. Sebab bila tidak, kita tak akan bisa berjalan beriringan.

Sebelumnya, aku tidak begitu paham tentang pentingnya memiliki ‘tujuan yang sama’ dan ‘nilai yang sama’ menjalin hubungan dengan seseorang. Namun kini aku paham, ternyata tujuan dan nilai adalah pangkal dari mau dibawa kemana kehidupan kita ini. Tujuan dan nilai juga adalah pangkal dari apa-apa yang kita lakukan. Meskipun ‘cara yang dilakukan setiap orang berbeda-beda’, pangkalnya tetaplah sama. Maka, kita dapat berjalan beriringan bersama.

Berbeda dengan seseorang yang tidak memiliki tujuan dan nilai yang sama. Tentu, arah yang akan diambil pun akan berbeda. Jalan manapun yang dipilih, kita tidak akan pernah bertemu. Sepanjang perjalanan pun kita akan terus bertanya-tanya. Sepanjang jalan pun kita akan bingung dan berdebat. Kita tak akan bisa berjalan beriringan dalam damai. Kita tak akan memiliki rasa aman dan nyaman. Karena, pangkal yang kita tuju tidaklah sama.

Cara yang dipilih setiap orang pasti berbeda dan beragam. Namun, selama nilai dan tujuan kita sama, kita bisa saling membersamai. Membersamai untuk saling menyemangati, membersamai untuk saling mengingatkan, membersamai untuk saling menjaga, dan membersamai untuk saling menguatkan.

Tentang Menjelaskan dan Mendengarkan: Harus Seimbang

Saat itu peran saya hanya sebagai pendengar saja. Sebab, lawan bicara suka sekali berbicara. Saya tidak tahu alasan tepatnya. Mungkin, ia kesepian dan butuh teman bicara. Mungkin, ia merasa perlu menyampaikan ‘informasi yang ia anggap penting’ itu. Mungkin, ia senang bercerita. Mungkin, ia senang menjelaskan sesuatu. Mungkin, ia belum tertarik mendengarkan orang lain.

Saya pribadi, jika bertemu dengan seseorang yang lebih senang berbicara dibandingkan mendengarkan, saya cenderung diam. Saya lebih memilih mendengarkan saja dan memberi respon non verbal sebagai tanda saya masih mendengarkannya. Saya merasa cukup sulit melakukan komunikasi dua arah jika saya tidak diberi kesempatan sama sekali untuk berbicara.

Saya mengamatinya. Banyak sekali hal yang ia sampaikan. Tentang perasaannya, tentang pengalaman hidupnya, tentang kegiatannya, dan masih banyak hal lainnya.

Dari tindakan yang ia lakukan, saya menebak-nebak apa yang sebenarnya orang ini pikirkan. Apa yang sebenarnya orang ini rasakan. Dan bagaimana arti kehadiran orang lain baginya. Terlihat sekali ia tidak ingin tahu informasi apa-apa dari lawan bicaranya. Tak ada pertanyaan yang ia ajukan. Padahal, saya menanti ia bertanya. Namun, rupanya ia tak menyadari kehadiran saya disini selain sebagai “orang yang harus mendengarkannya”.

5ef0001dacc2a134cc84fd28004de826

Dulu, saya pernah membaca sebuah artikel, disana dituliskan bahwa jika ingin menambah ilmu, banyak-banyaklah mendengarkan. Sebab, jika kita terlalu banyak bicara, ilmu yang kita dapat tak akan berkembang. Ilmu yang kita tahu hanya dari diri sendiri saja. Hal tersebut terjadi karena, kita terus-menerus memberikan informasi tanpa pernah mendapat koreksi dan ilmu tambahan dari orang lain. Ternyata apa yang disampaikan artikel itu benar adanya. Kemarin, tak ada kesempatan untuk saya berbicara. Ia terus menerus memberi informasi kepada saya. Tak ada kesempatan saya untuk memberikan informasi kepadanya. Kalau begitu terus, bisa jadi saya yang pintar karena mendapat informasi terus-menerus, ya hehehe

Percakapan kemarin, ia menjelaskan suatu topik yang sebetulnya saya sudah tahu. Saya cukup memahami topik itu dengan jelas. Saya juga sempat mengatakan kepadanya bahwa saya pernah memiliki pengalaman dan pernah mempelajari keilmuan itu. Namun, ia tampak tidak tertarik dengan apa yang saya sampaikan. Ia mengabaikannya. Ia segera memotong pembicaraan dan melanjutkan kembali apa yang ingin dibicarakan. Akhirnya, saya tak lagi melanjutkan pembicaraan dan kembali diam untuk mendengarkan. Ada kalanya kita tak perlu menjelaskan bila lawan bicara tak butuh penjelasan. Jangan membuang tenaga sia-sia. 

Pengalaman saya dengan orang itu membuat saya menyadari bahwa menjelaskan dan mendengarkan adalah dua hal yang sangat penting dalam kehidupan. Dan harus dijaga keseimbangannya. Bila tidak, maka akan ada banyak kerugian yang didapat. Salah satu akibatnya adalah terjadi ketidaknyamanan dan miskomunikasi.

Menjelaskan tidak hanya tentang apa-apa yang ‘ingin’ kita jelaskan. Tidak semua hal juga harus diceritakan. Menjelaskan tidak hanya tentang kamu saja. Tetapi, ada dia si pendengar. Pikirkan tentang si pendengar. Mungkin kamu butuh menjelaskan, namun, apakah si pendengar membutuhkan penjelasanmu? Mungkin bagimu, penjelasan ini bermanfaat untuk orang lain, namun, apakah si pendengar merasakan kebermanfaatannya?

Mendengarkan tidak hanya tentang hal-hal yang ingin kita dengarkan saja. Mendengarkan memiliki arti lebih luas dari itu. Bahkan, ketika ada hal-hal yang tidak baik untuk didengarkan, selalu ada cara yang sopan untuk menolak secara halus. Namun, sebelum menolak, supaya mengerti topik yang dibicarakan, kita tentu harus mendengarkannya dulu, kan? Mendengarkan itu penting. Kita mendengarkan karena menghormatinya. Kita mendengarkan karena ingin mengetahui tentangnya. Kita mendengarkan karena ingin menambah ilmu pengetahuan. Percayalah, selalu ada hal baru dan manfaat dari mendengarkan.

Berbicaralah seperlunya dan sesuai kebutuhan. Jangan terlalu banyak berbicara. Apalagi yang tidak bermanfaat. Ada hal-hal yang perlu disimpan sendiri dan ada hal-hal yang boleh dibagi dengan orang lain. Pintar-pintarlah memilah. Bijaksanalah dalam bertindak. Dan hati-hatilah dalam menjaga lisan. Jika berhubungan dengan kebermanfaatan bersama, maka tak perlu ragu. Bicara dan jelaskanlah.

Belajar dan Udara adalah Sama: Sama-sama Kita Butuhkan

​Keinginan untuk belajar tidak hanya dimiliki oleh orang-orang yang merasakan pendidikan tinggi saja. Hal tersebut dapat dilihat dari sejauh mana seseorang dapat menerima hal baru, menerima nasihat, dan menerima kritikan yang membangun. Jenjang pendidikan memang tidak mutlak menjadi tolak ukur besar kecilnya keinginan belajar seseorang.

Keinginan untuk belajar juga dapat dipengaruhi oleh banyak hal. Beberapa hal diantaranya: orang-orang terdekat, lingkungan, dan pengalaman. Orang yang membersamai dapat mempengaruhi pola pikir dan kebiasaan kita agar terus termotivasi untuk belajar. Lingkungan dapat memfasilitasi dan memudahkan proses belajar. Pengalaman juga akan memberikan banyak referensi cara belajar yang baik. Oleh karena itu, kita harus selektif dalam memilih orang untuk membersamai dan memilih lingkungan tempat kita berada.

Ada pepatah mengatakan,”Kegagalan terbesar manusia adalah ketika seseorang kehilangan keinginan untuk belajar.” Saya setuju dengan pepatah tersebut. Karena seharusnya selama hidup adalah belajar. Belajar adalah jembatan agar kita mengetahui dan memahami hal baru. Belajar juga membuat kita peka atas perubahan. Jika belajar saja tidak mau, bagaimana cara kita mengerti dan memahami sesuatu? Bagaimana cara kita menerima hal yang baru? Bagaimana cara  kita membaca kehidupan? Bagaimana kita introspeksi diri? Bagaimana cara kita memperbaiki diri?

Menjadi orang yang merasa cukup atas rezeki Allah adalah baik. Namun, jika seseorang merasa cukup dengan ilmu yang dimiliki sungguh tidak baik dan mengkhawatirkan. Merasa cukup dengan ilmu menurunkan semangat kita untuk terus belajar. Merasa cukup dengan ilmu adalah gerbang tertutupnya pengetahuan baru. Merasa cukup dengan ilmu adalah awal tertutupnya pikiran kita menerima hal baru.

Yang paling mengkhawatirkan dari merasa cukup dengan ilmu adalah kita merasa tak butuh ilmu dari luar. Tak butuh ilmu dari orang lain.

Keinginan untuk belajar harus dimiliki oleh semua usia dan semua orang. Karena sejatinya belajar adalah kebutuhan manusia. Belajar tidak hanya berkaitan tentang buku dan guru saja. Belajar memiliki arti yang luas. Belajar dapat melalui apa saja. Kita dapat belajar melalui banyak hal. Melalui hal yang terlihat, teraba, terdengar, dan terasa.

Semoga kita memahami dengan baik pentingnya belajar dalam kehidupan. Seperti udara yang terus kita hirup, belajar pun harus membersamai seperti udara akan terus kita butuhkan. Ketika memutuskan ingin belajar, kosongkanlah pikiran seakan-akan tak mengerti apa-apa. Dan bertanyalah yang banyak pada seseorang yang lebih tahu. Karena, semakin banyak mendengarkan, semakin banyak pula ilmu yang kita dapatkan.

Opini: Peran Orang Tua dalam Mendidik Anak

Semua anak baik. Maka, jika seseorang memberikan sebutan “Si Anak Nakal”, mungkin dia salah memandang. Melihat ketidakbenaran perbuatan anak itu, seharusnya pertanyaan yang muncul adalah “Lingkungan dan orang-orang seperti apa yang membersamainya sehingga terbentuk pribadi seperti itu”. Semoga cara pikir seperti ini bukan hanya dimiliki oleh orang-orang yang merasakan “pendidikan tinggi”, namun juga dimiliki oleh “siapapun” yang memiliki niat untuk belajar.

Jangan pernah berpikir anak akan tumbuh dan berkembang dengan sendirinya. Berpikiran seperti ini sama saja seperti kita membiarkan kehidupan mengalir seperti air mengalir. Untung-untung jika mengalirnya ke muara yang berair jernih. Bila mengalir ke muara yang berair keruh, bagaimana? Jangan biarkan semua mengalir tanpa ada usaha di dalamnya. Hal ini berlaku sama dalam mendidik anak. Jika kita “merasa” semua pertumbuhan dan perkembangan anak akan baik seiring bertambahnya usia, pemikiran itu sangat kurang tepat. Anak sungguh tak tahu apa-apa. Anak itu ibarat kertas putih tanpa noda dan corak apapun. Tugas orang tualah yang menorehkan dan menuliskan hal-hal baik di dalamnya. Jika orang tua tak memberikan contoh, arahan, dan pendidikan yang baik . Dan, juga bertindak “sesuka hati”. Maka jangan pernah bermimpi anak akan tumbuh dan berkembang menjadi baik. Karena orang tualah yang menentukan bagaimana pribadi anak terbentuk. Sudah menjadi kewajiban orang tua agar terus belajar dan mempersiapkan.

Menjadi orang tua memang tak mudah, namun pasti bisa diupayakan dan diusahakan. Orang tua harus sangat berhati-hati. Memilih lingkungan untuk anak tinggali juga penting diperhatikan. Jika anak memasuki usia sekolah, orang tua tak selamanya 24 jam membersamai anak, bukan? Lingkungan memiliki andil yang besar dalam membentuk karakter anak.

Orang tua adalah manusia biasa yang tak sempurna. Tak ada yang bisa menjamin seluruh perilakunya baik. Mengetahui hal tersebut, semoga orang tua diseluruh dunia berpikiran terbuka untuk mau belajar dan menerima hal baru. Sebab, generasi Islam, generasi dunia, dan generasi Indonesia ditentukan oleh karakter tiap individu dalam keluarga. Semoga orang tua mampu bekerja sama sebagai tim untuk bersama-sama memberikan contoh dan mendidik anak dengan perilaku-perilaku baik. Lalu, bagaimana dengan akademik? Percayalah, jika karakter anak sudah dididik dengan baik, akademik mudah sekali dicapai. Jangan pernah mendahulukan pendidikan akademik dibandingkan pendidikan karakter. Jika hal itu terjadi, maka benar-benar celaka. Akan hadir manusia-manusia cerdas yang tak memiliki hati baik. Akan hadir manusia-manusia yang tak memedulikan orang-orang dan lingkungan di sekitarnya.

Pendidikan karakter adalah penting. Tanpanya, anak akan tumbuh menjadi sosok yang kosong. Kosong pikiran, kosong hati, bahkan ada yang memiliki kekosongan pikiran dan hati. Yang terjadi adalah anak akan tumbuh dengan dunianya sendiri dan menganggap kehadiran orang-orang dan lingkungan disekitarnya tak berarti. Saya memiliki pengalaman langsung bertemu dengan anak-anak seperti itu. Saya pikir, hal yang paling menyakitkan hati adalah mengetahui bahwa anak memiliki kelainan karakter dikarenakan salah pola asuh. Memikirkannya membuat saya berpikir, apakah orang tua menyadari dampak dari kekhilafannya ini? Jika iya, seberapa sakitkah hati mereka, karena perbuatannya, anak tak bisa mengoptimalkan potensi dengan baik. Menghambat mimpi-mimpi dan merusak diri sendiri. Jika tidak menyadari dan menganggap perbuatan mereka adalah benar dan menganggap anak dalam keadaan baik-baik saja, membuat hati saya sakit. Ingin sampai kapan orang tua tersebut tanpa sadar merusak anaknya sendiri? Sepenting apakah urusan yang sedang dilakukan hingga tak memedulikan tumbuh dan kembang anak?

Ada 18 nilai-nilai pengembangan dan pendidikan karakter bangsa yang dibuat oleh Diknas (Pendidikan Nasional), yaitu: religius, jujur, toleransi, disiplin, kerja keras, kreatif, mandiri, demokratis, rasa ingin tahu, semangat kebangsaan, cinta tanah air, menghargai prestasi, bersahabat, cinta damai, gemar membaca, peduli lingkungan, peduli sosial, dan tanggung jawab. Penjelasan lebih lengkap dapat dibaca disini.

Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia sejak tahun 2011 telah mewajibkan seluruh tingkat pendidikan menyisipkan pendidikan berkarakter tersebut dalam proses pendidikannya. Kementerian saja sudah menyadari pentingnya pendidikan karakter untuk seorang individu dalam menjalani kehidupan, semoga orang tua pun sangat memprioritaskan hal tersebut dalam mendidik anak. Setiap orang tua pasti ingin memiliki anak yang menjadi penyejuk jiwa. Anak yang memiliki karakter baik akan memberikan  manfaat dan pengaruh baik pula untuk orang-orang dan lingkungan disekelingnya. Yang paling utama, anak yang memiliki karakter baik akan mengenal dengan baik diri sendiri dan lingkungan. Tak mudah putus asa kala mengalami kegagalan dan tak mudah menyerah kala menghadapi kesulitan.

Saya belum menjadi orang tua. Saya masih belum mengalami secara nyata bagaimana menghadapi kehidupan yang sebenarnya sebagai orang tua. Saya juga belum mengalaminya sendiri bagaimana kesulitan dan tantangan dalam mendidik anak. Saya masih perlu banyak belajar. Buah pikiran yang tertulis di atas berdasarkan  sedikit pengalaman menjadi guru pendamping khusus dan sebagai kakak yang juga turut membantu orang tua mendidik adik balita. Semoga dapat menjadi renungan bersama. Dan semoga, meskipun belum menjadi orang tua, kita dapat belajar dari manapun, dimapun, dan dari siapapun.

Dari pengalaman menjadi guru saya belajar, kontribusi orang tua berperan penting dalam proses tumbuh dan kembang anak. Terkadang, kesibukan bekerja dan kurangnya “waktu” yang orang tua berikan menjadi sebab terhambatnya tumbuh kembang. Dan akhirnya, orang tua lebih mudah menyalahkan anaknya, mengapa berperilaku tidak baik, mengapa tidak patuh dengan orang tua, dan mengapa anak tidak pandai berkomunikasi dan interaksi sosial, tanpa introspeksi diri. Sudahkah orang tua menjalani peran dengan baik? Dan akhirnya pula, beberapa orang tua menyalahkan guru, mengapa anak tidak memiliki akademik yang baik, mengapa anaknya tidak pandai, dan mengapa anaknya tidak senang belajar, tanpa introspeksi diri. Sudah sejauh mana orang tua turut andil dalam proses belajar mengajar di rumah?

Dari pengalaman menjadi kakak saya belajar, kontribusi orang tua dan keluarga berperan penting dalam proses pendidikan karakter dan tumbuh kembang anak. Bahwa usaha kecil yang dilakukan orang tua dapat menjadi kontribusi besar untuk anak. Bahwa kesabaran seluas langit yang diberikan untuk mengajarkan hal baik dapat menjadi kontribusi besar untuk membentuk karakter baik anak. Siapa yang menyangka, bahwa kebiasan untuk mengingatkan hal-hal baik sungguh terpatri dalam perilaku anak sehari-hari? Bahkan dengan wajah polos, lucu. dan menggemaskan dia pun turut mengingatkan dalam hal-hal baik? Siapa yang menyangka, bahwa kebiasaan untuk membersamai anak dalam melakukan aktivitas baik menjadi kontribusi yang besar untuk menanamkan kebiasaan baik si anak. Bahkan dengan semangat dia pun ikut menawarkan diri untuk menemani dan membersamai. Siapa yang menyangka, bahwa nilai-nilai dan nasihat baik yang tak bosan diucapkan orang tua benar-benar diingat dalam hati dan pikirannya? Dengan wajah sumringan si kecil mengulang kembali nilai-nilai baik yang wajib dilakukan dalam menjalani kehidupan sehari-hari? 

Menjadi orang tua yang menjalani peran dengan baik memang tak mudah. Membutuhkan usaha, kesabaran, rela memberikan waktu, mencontohkan, menjelaskan, dan mengajarkan. Jangan pernah lelah melakukannya. Dan memohon pada Allah agar dikuatkan. Sebab, tindakan yang orang tua lakukan menentukan bagaimana anak akan tumbuh dan berkembang. Sebab, sikap orang tua juga menentukan bagaimana karakter anak terbentuk.

Bersabarlah, lelah orang tua akan terbayarkan menjadi pundi-pundi pahala yang semakin banyak. Lelah juga akan terbayarkan kelak ketika si kecil berperilaku baik dan manis. Ketika ia memperlakukan kedua orang tua, teman-temannya, binatang, bahkan tumbuhan dengan sangat baik, benar-benar membuat hati orang tua sungguh bahagia. Lelah karena Lillah Insya Allah berkah 🙂 Semangat untuk para orang tua dan calon orang tua (tidak ada istilah “terlalu cepat” untuk belajar ilmu parenting). Allah pasti memudahkan dan menguatkan.

Opini: Kita Bertanggung Jawab terhadap Anak-anak disekitar

Pengalaman adalah guru yang paling baik. Berkat pengalaman tersebut, kita akan siap menghadapi masa depan. Kita akan menjadi manusia yang lebih berhati-hati agar tidak melakukan kesalahan yang sama.

Pengalaman satu setengah tahun bekerja di sekolah dasar, membuat saya bertemu dengan anak-anak. Dan saya menjadi sangat peka dengan perilaku yang mereka lakukan. Saya menjadi tahu anak-anak memiliki karakteristik yang berbeda-beda. Setiap anak adalah spesial. Mereka spesial dibidangnya masing-masing. Seringkali perilaku polos dan lugunya membuat para guru mendapatkan banyak pelajaran.

Dan saya mengerti bahwa sebenarnya tidak ada anak yang nakal. Yang ada adalah anak yang kebutuhan dasarnya belum terpenuhi. Dan anak yang tidak difasilitasi dengan optimal. Sehingga anak tersebut memenuhi kebutuhan dasarnya sendiri. Dan karena memenuhinya atas kehendak ‘sendiri’, banyak perilaku yang belum benar terjadi dan cenderung bertindak ‘berbeda’ dengan anak-anak seusianya. Akibat ‘perbedaan’ ini, banyak orang-orang dewasa yang tidak paham, lalu segera melabeli mereka sebagai anak nakal.

Sesungguhnya anak memiliki standar normal kemampuan (seperti: motorik halus, motorik kasar, bahasa, koginitif, dll) disetiap fase usianya. Meskipun memiliki standar normal yang sudah terstandarisasi internasional, setiap tumbuh kembang anak berbeda. Perbedaan ini terjadi dipengaruhi oleh lingkungan dan orang-orang didekatnya. Disini peran orang tua sangat penting. Bagaimana orang tua memberikan segala kebutuhan dasar yang baik serta memfasilitasi tumbuh kembang di setiap fase usianya secara optimal. Jangan sampai anak dilabeli dengan kata-kata buruk oleh orang lain hanya karena kelalaian orang tua saat mendidik anak.

***

Saya senang mengamati sekitar. Dengan mengamati, kita akan lebih bersyukur betapa banyak memetik pelajaran dari perbedaan di sekeliling kita. Dan jika saja setiap manusia memberikan waktunya sedikit saja untuk merenungi segala perbedaan tersebut, kita akan sadar betapa banyak karunia yang telah didapatkan. Namun, dibalik perasaan nyaman, kita seringkali lupa untuk mengucapkan terima kasih kepada Allah. Lupa untuk bersyukur.

Saat itu, sesuatu yang saya amati sungguh memprihatinkan. Ketika seorang anak perempuan berusia lima tahun ingin bermain dengan teman sebayanya. Namun, tingkah yang ia lakukan malah membuat tidak nyaman teman sebayanya itu. Bagaimana tidak? Ketika teman sebayanya sedang bernyanyi dengan nada-nada indah, si anak melirik dengan wajah ceria ke arah teman sebayanya, kemudian ikut bernyanyi dengan suara kencang sekali. Dia bernyanyi dengan keras. Hampir berteriak-berteriak. Siapa pun tidak akan nyaman dan senang mendengarnya. Dan jika tidak sabar, pasti orang dewasa akan segera memarahinya. Karena mengganggu sekitar.

Saat mendengar suaranya melengking keras, disana muncul kesadaran dalam diri saya. Seperti ada yang berbisik ke telinga saya bahwa sesungguhnya anak itu hanya ingin bermain dan bernyanyi bersama. Namun, ia tidak tahu bagaimana cara mengajak teman sebayanya berbicara. Ia tidak tahu bagaimana cara mengajak teman sebayanya bermain. Dan ia tidak tahu bagaimana mengungkapkan keinginannya. Keinginan anak itu sederhana sekali bukan? Namun, perilaku yang ia tunjukkan bukanlah permasalahan sederhana.  Semua yang ia tidak ketahui adalah dasar-dasar untuk berbahasa, berkomunikasi, dan berinteraksi dengan orang lain. Jika ia tidak tahu, bagaimana cara ia bermain dengan teman-teman sebayanya? Si anak akan kesulitan. Si anak akan menjadi ‘berbeda’.

***

Anak ibarat kertas putih yang kosong. Dan orang tua beserta lingkungan disekitar bertanggung jawab menorehkan tinta kebaikan di atas kertas tersebut. Tidak mudah menorehkan tinta kebaikan disana. Dibutuhkan usaha dan keinginan belajar sepanjang masa. Dibutuhkan pengetahuan menjadi orang tua yang baik. Sebab, tidak ada sekolah formal yang mengajarkan menjadi orang tua baik. Semua tergantung kesadaran setiap orang tua ingin mempertanggung-jawabkan seperti apa dihadapan Allah kelak. Bukankah setiap anak hakikatnya hanya titipan? Tugas setiap orang tua adalah memberikan pendidikan agama, karakter, serta keilmuan lainnya. Agar segala kebutuhan dasar dan tumbuh kembang anak tercapai dengan optimal. Agar anak dapat menjalani kehidupan dengan baik dan mandiri.

***

Cintai dan sayangilah anak-anak disekitar. Sebab, kita sebagai orang dewasa yang berada disekitar mereka, bertanggung jawab memberikan teladan yang baik. Kita memang bukan manusia sempurna. Kita banyak melakukan kesalahan. Namun, jika kita berusaha dan belajar, tidak apa-apa kan? Segala usaha yang kita lakukan, Insya Allah mendekatkan kita dengan kebaikan. Semoga Agama Islam dan Bangsa Indonesia dipenuhi dengan orang-orang yang tidak lelah untuk berusaha dan belajar. Karena sesungguhnya, keterpurukan seorang hamba terjadi ketika kita masa bodoh, tidak ingin berusaha, tidak ingin tahu, dan tidak ingin belajar.

Opini: Novel Ayat-ayat Cinta 2

Ada banyak pembelajaran yang saya dapatkan ketika membaca novel Ayat-ayat Cinta 2 karya Habiburrahman El-Shirazy atau biasa dipanggil Kang Abik, berikut beberapa buah pikiran yang perlu dicatat.
Kang Abik memperkenalkan Islam dengan penuh rasa cinta. Betapa Islam mengedepankan hubungan antar sesama dan makhluk Allah lainnya dengan kasih dan sayang. Jika sayang, maka kita akan memperlakukan orang yang disayang dengan sebaik-baiknya. Begitulah Kang Abik memperkenalkan Islam, melalui sosok Fahri.

1. Menjadi teladan yang baik dan berusaha menjadi sebaik-baiknya pribadi

Fahri memang digambarkan sebagai muslim yang taat dan berhati lembut. Tutur katanya selalu dijaga supaya tidak menyakiti hati dan lakunya juga selalu dijaga agar selalu bermanfaat dan tidak merugikan orang lain. Namun, Fahri bisa menjadi sangat tegas bila Allah, Rasul, dan agamanya dihina dan disakiti.

Banyak kepribadian Fahri yang patut diteladani, seperti menggunakan kemampuan dan potensi diri di luar ambang batas, menggunakan waktu dengan adil untuk urusan akhirat dan dunia, mengutamakan akhirat dibandingkan dunia, memperkenalkan muslim melalui keunggulan intelektualnya, sebab Fahri sangat tahu, menjadi muslim yang minoritas harus bertanggung jawab menjadi juara di bidang yang sedang ditekuni. Demi agamanya. Supaya Islam dikenal. Supaya Islam dihormati dan dihargai. Bahkan diteladani segala tutur kata dan tingkah laku terpuji yang Fahri lakukan.

2. Menolong Sesama

Islam mengajarkan agar kita saling menyayangi sesama makhluk Allah. Jika sayang, maka sudah menjadi tugas kita untuk menolong orang yang membutuhkan. Maka, Rasulullah mengatakan:

Betapa Islam mengutamakan rasa kasih dan sayang sampai Allah menegaskan seperti hadist di atas 🙂 Fahri mengamalkan perintah Allah ini dengan membantu tetangga dan orang-orang fakir miskin disekelilingnya. Tanpa membedakan agama, ras, budaya, kewarganegaraan, dan sebagainya. Betapa indah hubungan saling tolong menolong seperti ini. Kang Abik dengan sangat baik menggambarkan sosok Fahri begitu nyata memiliki kepribadian yang sangat terpuji.

3. Mengutamakan Musyawarah

Dalam novel ini banyak konflik yang terjadi dan tak jarang menguji kesabaran Fahri. Begitu banyak kesempatan menyeselesaikan masalah dengan cara pertengkaran, permusuhan, dan perkelahian. Namun, bukan jalan itu yang Fahri pilih. Apa gunanya saling menunjukkan kebencian dan menghilangkan perdamaian? Begitu pikir Fahri. Maka, apapun masalahnya, sebisa mungkin menyelesaikan dengan diskusi dan musyawarah. Dalam novel ini, Kang Abik menunjukkan esensi musyawarah melalui debat ilmiah, diskusi kecil bersama karyawannya, dan berdiskusi dengan mahasiswanya.

4. Merentangkan Sayap Melejitkan  Potensi

Fahri berperan banyak di masyarakat tidak hanya dalam dunia perkuliahan saja. Selain menjadi dosen, Fahri juga menekuni dunia wirausaha hingga menjadi pengusaha yang sukses. Fahri juga mengamalkan ilmu Islam yang didapat saat menuntut Ilmu di Mesir. Di Britania Raya, Fahri banyak berbagi ilmu tentang Islam. Kang Abik menggambarkan sosok muslim yang produktif melalui sikap kerja keras dan pantang menyerah Fahri. Dan hasilpun tidak mengkhianati proses, banyak  pencapaian yang Fahri dapatkan.

5. Menjadi Suami yang Baik

Kesulitan dan kemudahan selalu berjalan beriringan. Dibalik kemudahan hidup yang Fahri rasakan, Fahri diuji dengan kehilangan Aisha. Aisha menghilang saat mengunjungi Palestina. Informasi yang simpang siur tentang hidup Aisha, membuat hati Fahri terluka berulang kali tiap kali diingatkan tentang Aisha. Membuat pelupuk mata selalu basah oleh tangis rindu kala mengingat kenangan bersama Aisha. Aisha masih hidup atau sudah meninggal tidak ada yang tahu. Mengetahui keberadaan Aisha tidak jelas, Fahri selalu mendoakan Aisha. Disetiap amal kebaikan yang Fahri lakukan, Fahri tidak pernah lupa merapalkan doa untuk keselamatan Aisha. Harapan Fahri, bila Aisha masih hidup, maka semoga Aisha dalam keadaan baik dan segera dipertemukan dengannya. Namun, bila Aisha telah meninggal, semoga Aisha berada di Surga-Nya dan diberikan tempat yang paling baik. Dalam hal ini, Kang Abik menggambarkan sosok suami yang berusaha ikhlas dan ridho atas kehidupan istrinya. Hingga tak pernah alpa sedetikpun mendoakan Aisha. Masya Allah.

Sekian opini saya tentang buku Ayat-ayat Cinta 2. Terima Kasih, Kang Abik sudah menulis buku ini 🙂 Jika penasaran dengan hikmah-hikmah cerita dalam novel, maka segera baca bukunya saja! 😀 Buku ini sarat makna dan hikmah untuk introspeksi diri.

Jadi, sudahkah kita menjadi muslim yang Allah sukai? Semoga Allah meluruskan segala pikiran, niat, dan tindakan supaya selalu berada di jalan-Nya. Aamiin.

Opini: Berpikir tentang Teman Hidup

Menyatukan dua keluarga nyatanya tidak semudah perkiraan. Karena tiap-tiap anggota keluarga memiliki standar tersendiri untuk menilai sesuatu baik atau tidak. Menyamakan pemikiran dua insan untuk menuju bahtera rumah tangga saja merupakan hal yang tidak mudah. Sebab, kita harus menyadari satu hal. Kita harus meninggalkan keinginan pribadi. Keinginan yang sebelumnya menjadi hal utama dalam mengambil keputusan. Namun kini, ketika memutuskan untuk berumah tangga, kita harus menyadari bahwa sebelum berumah tangga diri ini hanya separuh jiwa. Dan menjadi utuh saat dia hadir dalam hidup kita. Jika jiwa yang utuh ini adalah hasil dari gabungan dua jiwa manusia yang saling menggenapkan, masih pantaskah kita terus menerus mendeklarasikan keegoisan diri? Tanpa mempertimbangkan dia? Padahal pada jiwa yang kini utuh terdapat jiwa orang lain.

Kedewasaan yang terus bertambah membawa kita pada satu kesadaran, bahwa kita adalah seorang hamba yang harus melaksakan perintah-Nya. Yang harus bersabar dan bersyukur. Yang harus melakukan tindakan apapun dengan sebaik-baiknya. Yang harus berjuang dijalan-Nya. Agar menjadi manusia yang bertakwa.

Dengan kedewasaan itu pula, mengarahkan kita agar berpikir jauh ke depan. Tentang masa depan. Tentang pernikahan. Tentang rumah tangga. Tentang Dia. Dia yang ditakdirkan oleh-Nya untuk membersamai. Menjalani hari-hari lapang dan sempit. Untuk saling menguatkan, mengingatkan, belajar, berusaha, berdoa, dan bergandeng tangan.

Mendewasa bukan berarti kita sudah pandai mengendalikan keinginan. Banyak keinginan yang tersusun dengan rapi dan berharap semua keinginan adalah yang kita butuhkan. Dan lupa untuk menimbang apakah bersama keinginan ada harap mendapat ridho-Nya.

Segala keinginan sungguh tidak berguna bila tidak disertai dengan harap mendapat ridho dari-Nya. Hingga kini hal tersebut masih menjadi topik yang selalu dipikirkan sepanjang waktu. Jika waktunya telah tiba, bisakah hati ini ikhlas meninggalkan segala keinginan demi Sang Maha Kuasa. Bisakah hati ini berpasrah dengan segala ketentuan-Nya. Rasa bimbang merasuk dalam diri. Dan tak kunjung mereda.

Dalam memutuskan suatu perkara tidak akan pernah bimbang bila menyertai Allah. Sebab, memilih yang Allah sukai tentulah membawa kebaikan. Memilih apa yang diinginkan tentulah sesuatu hal yang meragukan. Keinginan adalah segala hasrat, kehendak, dan harapan. Sedangkan kebutuhan adalah segala hal yang sangat diperlukan. Meskipun hal yang diinginkan tampak dan terasa benar-benar menggiurkan dan meyakinkan, kita tidak pernah tahu hal tersebut yang dibutuhkan atau tidak. Logika tidak selalu benar. Karena takdir bersifat gaib. Logika dan takdir tidak selalu berjalan beriringan. Maka, mintalah petunjuk dari Allah. Mendekat dengan hal-hal yang Allah sukai. Agar tidak terbelenggu dengan keinginan. Apalagi keinginan yang condong kepada nikmat dunia. Setelah mendekati yang Allah sukai, berdoalah. Maka, keyakinan dalam memutuskan perkara akan Allah tanamkan ke dalam hati kita. Awal yang baik akan mendekatkan kita pada kebaikan yang lainnya pula, Insya Allah.

Lagi-lagi saya mengatakan, menyatukan dua keluarga tidak semudah perkiraan. Meskipun kita telah memiliki prinsip dalam memilih teman hidup, nyatanya masih banyak hal yang perlu dipertimbangkan. Seperti, pendapat kedua orang tua kita. Orang tua telah hidup lebih dulu. Tahun-tahun kebahagiaan dan kesedihan telah mereka lalui. Manis dan pahit kehidupan telah mereka rasakan. Mengalami sulitnya bangkit dari keterpurukan juga melengkapi lika-liku kehidupannya. Mereka memiliki banyak pengalaman dan pelajaran. Sehingga, banyak pula hikmah yang mereka dapatkan. Dan hikmah tersebut akan menjadi pertimbangan untuk memutuskan setiap perkara dalam rumah tangganya. Begitu juga tentang memilih calon suami atau istri untuk anaknya. Mereka merasa bertanggung jawab untuk turut andil dalam mencari teman hidup sang anak.

Banyak nasihat yang diberikan sebagai bekal untuk memilih teman hidup. Demi kebahagiaan anaknya hingga mereka terlupa, kini si kecil telah beranjak dewasa. Kini, anaknya yang dahulu dimandikan, dipakaikan baju, dan ditimang, telah menjadi gadis atau pemuda dewasa. Artinya, anaknya telah memiliki prinsip hidup yang diyakini. Artinya, bukan lagi orang tua yang menentukan jalan hidup anak. Namun, sekarang sudah saatnya untuk saling berbagi dan mendiskusikan, sesungguhnya apa tujuan berumah tangga. Sesungguhnya apakah yang dimaksud dengan kebahagiaan. Bukankah semua yang dilakukan semata-mata agar menjadi hamba yang dicintai-Nya?

Semoga tak ada lagi prinsip yang berdiri sendiri-sendiri disini. Semoga kita bisa saling membuka diri. Semoga Allah selalu memberikan petunjuk agar berjalan dijalan-Nya. Karena tidak ada pendapat siapa yang paling tepat. Atau pendapat siapa yang paling benar. Semua tentang bagaimana selalu melibatkan Allah dalam bimbang, resah, gelisah, dan keraguan. Semua tentang bagaimana selalu melibatkan Allah dalam memutuskan semua perkara.

Tulisan ini adalah pemikiran random penulis akibat percakapan singkat dengan ayahnya tentang pernikahan dan nilai wanita dimata keluarga calon teman hidup. Ternyata, mendiskusikan pernikahan merupakan topik yang kompleks. Tentang keyakinan diri, tentang teman hidup, tentang tujuan berumah tangga, tentang kebahagiaan, tentang kebaikan menurut-Nya, tentang ridho dari-Nya, dan masih banyak yang lainnya. Mohon maaf bila tidak terstruktur. Sebab, tulisan tersusun begitu saja kala pikiran sedang dipenuhi oleh banyak pemikiran. Dan pemikiran yang telah tersusun dalam bentuk tulisan menjadi obat untuk menenangkan pikiran. Mohon dimaklumi. Semoga bermanfaat 🙂

Perubahan, Waktu, dan Kebiasaan

Sejak 2012. Dan kini 2017. Kita banyak berubah. Semoga hati kita terus tertaut membersamai waktu.

Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia:

Ubah v , berubah /ber·u·bah/ v 1 menjadi lain (berbeda) dari semula​

Perubahan /per·u·bah·an/ n hal (keadaan) berubah; peralihan; pertukaran

———————————————————-

Selama kita hidup, tidak akan bisa menolak untuk berubah atau menolak sebuah perubahan. Bahkan ketika tidur, kita sangat dekat dengan kata berubah. Yaitu, berubah posisi tidur, sungguh tidak mungkin sekali selama delapan jam kita hanya tidur dalam satu posisi, kan? Selama bernafas, artinya kita ditakdirkan Allah setiap detiknya akan berubah dan mengalami perubahan.

Tentang perubahan, waktu, dan kebiasaan, perubahan waktu membuat segala kebiasaan juga berubah.

Jika dulu begitu mudah bertemu kawan untuk bertukar cerita dan berbagi rasa, sekarang tidak seperti itu. Kita harus menyesuaikan agenda yang ada. Kita hidup di lingkungan bersama banyak orang, bukan? Maka, harus pintar-pintar membagi waktu untuk Allah, diri sendiri, keluarga, dan kawan-kawan. Agar tidak ada hak yang terabaikan. Tidak ada hak orang lain yang dikorbankan.

Kenyataannya, waktu bisa berubah tanpa pernah kita duga. Meskipun sudah menyesuaikan waktu sebaik mungkin agar bisa menghabiskan waktu bersama. Namun, akan ada kondisi dimana hadir urusan mendadak yang harus kita prioritaskan. Biasanya urusan keluarga. Bagi saya, keluarga akan selalu nomor satu. Apapun kondisinya. Jika hal ini terjadi, maka agenda yang telah kita susun akan berubah tidak sesuai rencana.

Sebagai contoh, bila sudah membuat janji dengan kawan, maka dengan berat hati kita harus menunda dahulu pertemuan tersebut. Haruskah kawan kecewa atas sikap kita? Mungkin iya. Atau, bila kondisinya dibalik dan kita sebagai korban, haruskah kita marah? Menurut saya, sepertinya tidak perlu. Kita hanya perlu mengerti. Ada kalanya hal-hal terjadi di luar kehendak kita. Bukan karena ingin ingkar janji atau ingin mengecewakan orang lain. Sama sekali bukan seperti itu. Percayalah, jika tidak ada kondisi darurat tentang keluarga, menepati janji pastilah dilakukan. Sebab, kita sangat bersyukur dan berbahagia masih bisa bertemu dengan kawan 🙂

Perubahan waktu membuat segala kebiasaan juga berubah.

Mengabadikan momen bersama melalui kamera adalah wajib dilakukan. Sebab, meskipun kenangan akan selalu terukir dengan rapi dalam ingatan, manusia hanyalah manusia biasa. Memiliki kemampuan yang terbatas. Semua momen sangat mungkin bisa kita lupakan. Di luar keinginan kita. Oleh karena itu, foto sangat berperan disini. Foto dapat membantu mengingat kenangan yang mungkin tak mampu kita ingat kembali. Dan foto tidak pernah berubah, meskipun orang-orang di dalamnya telah banyak berubah.

Foto adalah satu dari banyak bukti bahwa kita telah melalui banyak perjalanan. Bukankah hidup begitu membahagiakan? Kita berbahagia karena dikelilingi oleh banyak orang yang tidak pernah lelah membuat kita bahagia. Dan kita berbahagia karena telah bersama-sama membuat kenangan begitu berkesan.

Namun kini semua berbeda. Kita seringkali lupa untuk berfoto bersama. Seluruh waktu digunakan untuk bercerita. Begitu banyak kisah yang ingin diceritakan, namun waktu selalu terbatas. Kita merasa waktu bergulir begitu cepat tanpa bisa dihentikan, betapa pun bahagia momen yang kita rasakan kala itu.

Dan aku menyadari, meskipun merasa sedih karena seringkali kehilangan momen untuk foto bersama, tidak apa-apa. Bukankah waktu yang dihabiskan untuk berbagi cerita dan rengkuhan hangat begitu bermakna?

Mari kita peluk erat segala perubahan yang ada. Ke depannya, perubahan besar akan terus menerus terjadi. Kelak, segala agenda dibuat bukan hanya tentang diri kita sendiri. Namun, ada kehidupan suami dan anak-anak kita yang harus diperhitungkan juga. Kelak tidak ada lagi kata “aku”. Namun “kita”. Semua menjadi tantangan baru. Bisakah  memenuhi semua hak orang-orang tersayang disekeling kita? Pasti bisa.

Note: Meskipun momen bersama untuk bercerita begitu penting dan utama, bagi saya momen foto bersama juga penting dilakukan. Kelak, foto tersebut juga bisa digunakan untuk perenungan diri sendiri dan pelajaran untuk anak cucu. Perenungan diri sendiri, terima kasih telah berjuang dan kuat hingga kini. Pelajaran untuk anak cucu, bahwa Allah Maha Baik karena memberikan kesempatan untuk bertemu dengan banyak lingkungan, orang, dan pengalaman baru 🙂

Semoga esok hari kita semakin handal membagi waktu. Serta tidak lupa lagi untuk berfoto bersama saat berjumpa, hanya satu kali foto bersama sungguh tak apa 😀