Memutus Rasa Benci

“Pernahkah kamu membenci seseorang yang belum pernah ditemui?” tanya dia.

Apa definisi benci?” jawabku.

“Coba buka KBBI!” jawabnya kesal.

“Langsung jawab saja. Biar cepat!” balasku tak kalah kesal.

“Benci itu ketika kamu sangat merasa tidak suka terhadap sesuatu.” Akhirnya ia mengalah dan menjabarkan definisi itu.

Oh, pernah, kok. Tapi dulu sekali. Berbeda kasus denganmu. Aku pernah membenci temanku sendiri. Kalau tidak salah, 7 tahun yang lalu hahaha,” jawabku.

“Ih jawaban macam apa itu. Serius!”

“Aku serius!” jawabku tak kalah serius.

Adikku memang unik begini. Ia suka menanyakan hal-hal random, namun seru untuk bahan diskusi. Saking serunya, diskusi kami biasanya berlangsung sampai tengah malam 😅

Perihal rasa benci, 7 tahun lalu aku pernah membenci seseorang. Aku membenci perbuatannya. Namun, aku pun turut membenci orangnya.

Membenci orang lain ternyata melelahkan. Hatimu menjadi sesak tiap kali berada dekat si dia yang kamu benci. Hatimu pun menjadi tidak tenang tiap kali melihat sosoknya. Melihat orang tersebut tertawa, kamu kesal. Melihat orang tersebut tersenyum, kamu marah. Pokoknya, selama kamu dan dia berada dalam ruang yang sama tak pernah ada hidup tentram dan damai 😂😂😂

Manfaatnya pun tidak ada sama sekali. Semua hal tentang orang tersebut menjadi buruk. Padahal, seburuk-buruknya perbuatan seseorang, pastilah ada kebaikan pada sifat yang lainnya. Hanya saja, karena rasa benci yang terperihara itu, kebaikan orang tersebut seakan tak tampak oleh mata. Mata kita dibutakan oleh rasa benci dan amarah. Pada akhirnya, hati kita pun menjadi terkotori oleh hal-hal negatif. Yang rugi diri sendiri, deh.

Setelah sadar bahwa membenci hanya memberi kepuasan pada ego semata dan tidak memberi manfaat apa-apa, aku tidak ingin membenci orang lain lagi.

Benci Perbuatannya Bukan Orangnya

Kamu pasti sudah sering membaca kalimat di atas, ya. Meskipun sulit untuk dilakukan, kamu harus tetap berusaha. Dulu aku pun begitu. Tiap kali kesal terhadap sesuatu, aku berusaha mengingatkan diri bahwa yang aku benci hanyalah perbuatannya. Bukan orangnya. Kalau sudah begitu, biasanya akan lebih mudah menerima. Menerima kekurangan orang lain serta menerima pelajaran yang didapatkan kala itu.

Pada akhirnya, aku menjadi tahu bahwa tugas manusia memang sebatas mengamati, mempelajari, dan memetik hikmahnya saja. Kita tidak berhak menentukan dan menjustifikasi sikap manusia yang lainnya.

Fokus pada Kelebihannya

Kamu pasti memiliki teman yang super menyebalkan. Misalnya, orang ini sangat ambisius hingga lupa makna pertemanan. Ia rela mengorbankan kawan untuk sebuah pencapaian. Kamu pasti malas ya berdekatan dengan orang seperti ini.

Namun, pada kenyataannya, sekeras apapun kamu kesal dan berusaha menjauh, kamu harus tetap berdekatan sama dia. Karena kamu dan dia dalam satu tim yang harus bekerja sama melakukan sebuah tugas “negara”.

Saranku, daripada terus memelihara rasa tidak suka, kesal, dan benci terhadap dia, sebaiknya kamu fokus pada kelebihannya saja. Temanmu yang ambisius itu pasti rajin, bertekad kuat, dan gesit. Kamu boleh sekali belajar sama dia tentang hal-hal itu 😄

Tetapi jangan lupa, meskipun kamu fokus pada kelebihan dia, bukan berarti rela dimanfaatkan, ya! Kamu harus tetap berhati-hati dan bersikap tegas padanya. Tetap tunjukkan prinsip yang kamu pegang teguh bahwa mencapai sesuatu tidak perlu mengorbankan orang lain. Tunjukkan pula bahwa sebaik-baiknya usaha untuk mencapai tujuan adalah dengan kemampuan.

Lakukan Perubahan untuk Menyesuaikan

Mengalah tidak berarti kalah. Dalam bekerja, mengalah juga berarti tidak mempertahankan pendapat bila hal tersebut menghasilkan perpecahan. Demi kebaikan bersama, semua harus kita upayakan. Termasuk perihal mengalah ini.

Untuk meredakan rasa benci dan tidak suka, kita harus memulai perubahan dari diri sendiri.

Di sekitar kita, ada orang-orang yang begitu senang diberi pujian. Terkesan berlebihan pun bukan masalah untuknya. Bagi dia, pujian dan penghargaan adalah segalanya.

Ia akan terusik dan marah bila ada orang lain yang dipuji selain dirinya. Kalau bertemu orang seperti itu, kamu jangan kesal dan benci. Mengalah saja.

Berikan pujian untuk setiap kerja keras yang ia lakukan. Sesekali, minta ajari ilmu yang ia kuasai dan banggakan. Berikan ruang pengalaman tentang apresiasi untuk dia. Maklumi saja, mungkin perihal apresiasi ini adalah sebuah luka masa kecil yang belum ia dapatkan.

Percaya, di balik perbuatan menyebalkan seseorang, pasti ada kisah tidak menyenangkan di belakangnya. Maka, daripada memelihara rasa benci dihati, bagaimana kalau kita maklumi dan pahami?

**

Memutuskan rasa benci yang bersemayam dihati tidak mudah dilakukan. Apalagi kalau kamu dan dia berada pada atap yang sama. Tetapi, kita tidak pernah bisa menghindar dari masalah yang ada. Pilihannya hanya ada dua, segera berdamai dan mencari solusi agar hati menjadi tenang, atau tetap keras kepala pada keinginan yang manfaatnya pun tidak jelas apa.

Setiap kita berhak melanjutkan hidup dan mencipta keadaan yang lebih baik, kan? Maka, lepaskan segala rasa benci yang menyesakkan hati dan rangkailah masa depan dengan semangat tinggi.

Ada kalimat Wang Geum Hee dalam drama korea Home for Summer yang menyentuh hati. Katanya begini,

“Aku bisa saja membenci kamu. Karena kamu sudah melukai hatiku. Namun, aku memutuskan untuk tidak membenci. Membenci hanya akan menyiksa diriku sendiri. Membenci hanya akan menyulitkan diriku ini. Maka, aku memilih untuk meninggalkan masa lalu dan memulai hal yang baru. Aku ingin hidup.”

Untuk Perempuan

Untuk perempuan,

Kita memiliki kisah hidup yang beragam dan penuh tantangan.

Tentang dirimu dan bagaimana kamu menghadapi dunia adalah tugasmu seorang, sungguh. Tidak ada satu pun orang yang mampu menolong dirimu selain dirimu sendiri.

Jangan pernah mencari pembenaran atas apa-apa yang sebenarnya bisa kamu ubah. Jangan pernah mencari kambing hitam atas kesalahan orang-orang di masa lalu yang mempengaruhi hidupmu. Jangan melakukan kesalahan yang sama dan lakukan perubahan. Siapa kamu dan bagaimana kamu hidup adalah pilihanmu. Rencanakan masa depan dan libatkan Allah untuk setiap langkahnya.

Hal yang salah tidak akan menjadi benar meskipun kamu menjadi korban. Dan hal yang benar tidak akan menjadi salah bila kamu berani mengambil langkah benar. Jangan berdiam diri. Bergeraklah dan percayakan semua hal pada dirimu sendiri. Kamu pasti bisa menghadapi semuanya.

Bersikap ramah bukan berarti tidak bisa menjadi perempuan tegas. Tersenyumlah pada orang dan tempat yang tepat. Jangan tersenyum pada orang yang melakukan hal tidak benar. Jangan tertawa jika kamu bersedih. Jangan ucapkan kata baik-baik saja bila kamu dalam keadaan tidak baik. Jujurlah pada perasaanmu sendiri. Sebab, orang pertama yang berhak mendapat kejujuranmu adalah dirimu sendiri.

Katakan tidak pada orang-orang yang bersikap tidak sopan. Dan katakan tidak pada mereka yang tidak bisa berlaku sesuai norma dan agama. Tegas bukan sebuah pilihan, namun keharusan.

Untuk perempuan,

Sesulit apapun kisahmu, jangan pernah takut menghadapi risiko atas keberanian dan ketegasan yang kamu ambil. Yakinlah, apapun risikonya, hal tersebut pasti memberikan banyak pembelajaran.

Cara kerja semesta memang ada pada kuasa-Nya. Namun, bagaimana orang memperlakukan kita, biasanya akan tergantung bagaimana sikap kita kepada mereka. Maka, hati-hatilah. Bersikaplah sesuai kondisi dan keperluan. Kamu tidak perlu bersikap berlebihan hanya untuk sebuah perhatian. Jaga dirimu baik-baik.

Kenali dan sayangi diri, yakin pada identitas dan prinsip, berani memilih dan mengungkapkan aspirasi, bersikap santun namun tegas, dan libatkan Allah selalu dalam menjalani hari.

Semangat selalu, karena Allah selalu bersamamu dan pasti membantu. Bismillah 💕

Definisi Bahagia

Sumber foto: http://www.timsr.ca

Definisi bahagia untukku adalah ketika mampu melakukan banyak kebaikan untuk diri sendiri dan juga orang lain. Dan berharap Allah meridainya.

Apa definisi bahagia untukmu?

Hal yang paling mudah memang melakukan semua hal demi diri sendiri. Kamu tidak perlu memikirkan orang lain. Kamu tidak perlu berlelah-lelah memposisikan diri menjadi orang lain. Dan kamu juga tidak perlu berkoordinasi dengan orang lain untuk kebaikan bersama.

Sebaliknya, hidup berdampingan dengan orang lain itu sulit. Kamu tidak boleh memutuskan sesuatu tanpa memikirkan keadaan orang lain. Kamu tidak boleh berbuat sesuai keinginanmu. Kamu harus mementingan kepentingan orang banyak dibanding kepentingan pribadi. Kamu juga harus memandang hal dengan luas dan menggunakan banyak kaca mata.

Kamu mau menjalani hidup yang seperti apa? Yang paling mudah atau yang paling sulit?

Aku harap kamu tidak memilih pilihan pertama. Sayang banget. Kita sama-sama tahu kalau masuk surga itu memang tidak mudah. Allah menyediakan surga untuk manusia yang membuktikannya. Dengan apa? Dengan syukur dan sabar. Supaya apa? Supaya jadi orang yang bertakwa. Sulit? Ya tidak, kalau kita cinta Allah semua akan terasa mudah. Kalau ada yang jatuh cinta sama kita aja, maunya dibuktiin, kan? Sama. Allah juga mau dibuktiin. Kita benar-benar cinta sama Allah atau tidak, nih.

Melakukan semua hal demi diri sendiri memang “terasa”nya mudah. Padahal, kalau mau memeriksa keadaan hati, hati kita tidak benar-benar bahagia. Coba periksa saja. Pasti kita tidak pernah menemukan kepuasan dan ketenangan hati. Akibat sikap egois ini, tingkat keegoisan kita akan semakin bertambah. Segala keinginan jadi harus dituruti. Semua harapan pun harus segera terealisasi. Kalau tidak, kita akan stres dan merasa jadi orang paling menderita di dunia. Pokoknya, yang sengsara hanya kita saja. Orang lain di luar sana hidupnya mudah dan baik-baik saja.

Padahal, di luar sana yang hidup sulit dan susah banyak banget, lho. Bukan kita aja. Mereka ingin hidup begini, eh Allah malah memberikan kehidupan yang begitu.

Suka lihat tidak orang-orang yang minta-minta di depan masjid saat kita salat eid? Kita hidup lebih baik dari mereka. Buktinya kita masih bisa makan ketupat lengkap dengan lauk pauknya, kan? Bahkan, kita masih mampu membeli baju lebaran. Kita jauh lebih beruntung dari mereka.

Atau seseorang yang memiliki banyak penyakit. Ia harus melakukan pengobatan di rumah sakit secara berkala. Entah untuk cuci darah, pemeriksaan laboratorium, pemeriksaan rutin ke dokter spesialis setiap bulan, atau melakukan fisioterapi setiap dua kali sehari. Hidupnya hampir selalu di rumah sakit. Ini kejadian nyata. Ada banyak pasienku memiliki jadwal padat di rumah sakit setiap harinya.

Jadi, kalau satu keinginan saja tidak terpenuhi mampu membuat kita menderita, kayaknya terlalu berlebihan. Mungkin, rasa syukur kita memang perlu diperiksa lagi :’)

Melakukan semua hal demi kebaikan bersama bukan berarti tidak memikirkan diri sendiri, lho. Kita berhak dan layak bahagia. Tetapi, jangan lupa. Apa yang kita lakukan akan berdampak pada sekitar. Entah lingkungan atau manusianya. Kebahagiaan kita tidak boleh menjadi sebab kesengsaraan bagi orang lain.

Bagaimana kita tahu kebahagiaan kita tidak akan menyengsarakan orang lain? Caranya, amati keadaan orang lain dan berpikir dengan banyak kaca mata. Serta sadari bahwa di dunia ini kita tidak hidup sendiri.

Kita bisa berpikir dan merasa. Seperti, memikirkan bagaimana keadaan orang lain atas pilihan yang diambil. Dan merasakan bagaimana perasaan orang lain atas keputusan yang dibuat. Lalu, kedua hal itu kita pastikan dengan bertanya apakah ia berkenan atas pilihan dan keputusan kita.

Lagi-lagi ribet, ya? Memang. Tetapi, hidup bersama memang seperti ini. Ada banyak sekali manfaatnya. Dua manfaat yang paling terasa adalah mencegah miskomunikasi dan terjalin hubungan yang baik. Dan ingat-ingat lagi tentang cara masuk ke surga. Surga tidak akan didapat dengan “cuma-cuma” tanpa perjuangan, kan?

Definisi bahagia setiap orang pasti beragam. Kita boleh membuat definisi apa pun. Namun, aku harap semoga kita mau menjadi bijaksana. Bijaksana memikirkan segala hal menjadi lebih luas. Seperti, untuk apa dan untuk siapa kita hidup di dunia. Di mana kah tujuan akhir kehidupan kita. Bagaimana membuat hati tenang. Dan bagaimana cara berbahagia bersama-sama.

Rasulullah manusia paling sempurna saja tidak egois. Rasulullah memikirkan dan membutuhkan kehadiran para sahabat untuk mendapatkan Rida-Nya, apalagi kita?

Sticky Notes adalah Tanda Kita Peka

Menulis catatan pada selembar kertas tiap kali memberikan hadiah kepada orang lain adalah satu kebiasaan yang sering aku lakukan. Dan sulit sekali bila harus ditinggalkan. Kalau tidak melakukannya, aku merasa tidak sepenuhnya menjadi “seorang Shinta”.

Media yang sering aku gunakan biasanya sticky notes yang warna warni.

Tidak hanya untuk sebuah hadiah acara spesial, dalam kegiatan sehari-hari pun begitu. Memberikan hadiah kecil sebuah susu kemasan di pagi hari untuk seorang kawan misalnya, harus ada sebuah sticky notes yang tertempel di atasnya. Apa isi tulisannya? Bebas saja. Kalau aku, biasanya memberikan sebuah ucapan selamat pagi dan beberapa kata penyemangat untuk mengawali hari.

Mengapa harus? Sebenarnya tidak harus. Namun, aku butuh melakukan itu. Berbagi kebaikan di pagi hari rasanya melegakan saja. Dan kita sama-sama tahu bahwa mendapat perhatian dari orang lain rasanya menyenangkan. Kalau kita sadari itu, mengapa tidak memulainya lebih dulu? Memberi energi positif kepada sekitar, akan berdampak pada diri sendiri, lho. Apalagi dalam hal berbagi. Sesuatu yang kita beri dengan tulus hati akan memberi ketenangan hati 🙂

Sticky notes juga bermanfaat untuk media permintaan maaf. Pernah suatu kali seseorang berbuat salah kepada kawannya, namun tak memiliki keberanian untuk meminta maaf secara langsung. Tahukah kamu apa yang ia lakukan? Ia membeli hadiah kecil lalu ia sematkan selembar sticky notes di atasnya. Sticky notes berisikan kalimat penyesalan. Setelah itu, ia pun berbaikan dengan kawannya.

Menurutku, keberanian dia menuliskan penyesalan dan permintaan maaf dalam sticky notes perlu diapresiasi. Sebab, ada lho kasus di mana dua orang yang “perang dingin” tak juga saling sapa hanya karena sebuah gengsi. Akhirnya, mereka tak juga bertukar sapa dalam waktu yang sangat lama. Mengerikan, kan? Jadi, sticky notes di sini berperan sebagai perantara awal saja. Langkah selanjutnya, mereka berbicara secara langsung membicarakan permasalahnya.

Ada beberapa orang masih menganggap tidak penting perihal pesan singkat dalam sticky notes ini. Menurutku sayang sekali. Setiap kita pasti memiliki perhatian dan keinginan yang ingin disampaikan kepada orang lain. Namun, karena satu dan lain hal akhirnya kita mengurungkan niat untuk menunjukkan pikiran dan perasaan itu. Akhirnya, siapa pun tidak bisa mengerti dan merasakan pikiran serta perasaan kita.

Lalu, dampak negatifnya apa? Dampaknya negatifnya banyak dan berbahaya. Kelak, kita akan menjadi apatis terhadap orang-orang di sekitar. Kita tidak peduli apakah mereka sedang berduka atau tidak. Kita juga tidak peduli apakah mereka baik-baik saja atau tidak. Akhirnya, terjalinkah lingkungan yang super individualis. Kita tidak mengenal arti simpati dan empati. Kita pun tidak mengenal makna seorang “kawan” dan “pertemanan”. Kita tidak memahami makna kebersamaan. Yang kita tahu hanya tentang diri sendiri saja. Hati kita pun menjadi tidak peka.

Ada banyak cara sederhana berbagi kebaikan. Menyematkan sebuah sticky notes pada sebuah hadiah hanya salah satunya. Dari sticky notes, si pengirim pesan singkat akan belajar jujur pada pikiran dan perasaannya. Si penerima pesan singkat akan berbahagia. Bahwa ternyata, ada banyak orang di sekitarnya mendoakan dan berharap kebaikan untuk kehidupannya. Hidup dengan cara yang sederhana ternyata indah, ya :’)

Bila Kita Tahu Semua Hanya Titipan

Sore tadi, rekan kerjaku menonton ceramah almarhum Ustadz Zainuddin MZ. Sambil mengerjakan tugas, aku pun turut mendengarkan ceramah tersebut. Materi yang dibicarakan ustadz sangat menarik. Masalah ini sering kita temui dalam kehidupan sehari-hari.

Beberapa hari yang lalu, mama bercerita bahwa kakaknya teman kecilku sakit jiwa. Aku sebut Daren saja ya supaya lebih mudah menyebutnya.

Daren memang sudah pindah sejak 15 tahun yang lalu. Sejak itu, kami tidak tahu kabar Daren dan keluarganya. Teknologi yang belum canggih membuat kami kesulitan komunikasi. Kami tidak saling memberi kabar.

Jadi, mamaku dapat informasi ini dari mantan pembantu rumah tangga Daren. Ia bercerita, semua berawal ketika Daren kehilangan motornya. Aku tidak tahu merk motornya apa. Tetapi, mama bilang ‘motor besar’. Mungkin sejenis motor ninja atau CBR.

Sejak kehilangan motor, Daren mengurung diri di kamar. Mungkin Daren belum menerima kenyataan bahwa motor yang ia beli dari tabungannya sendiri telah kandas. Entah bagaimana kehidupan Daren selama ini hingga karakternya bisa serapuh itu. Aku benar-benar sedih mendengar kabar Daren.

Ceramah Ustadz Zainuddin membahas perihal ini. Kata ustadz, seandainya saja setiap manusia tahu bahwa ia tidak memiliki apa-apa di dunia. Mereka tidak akan sombong. Seandainya saja manusia tahu bahwa apa-apa yang dianggap milik adalah hanya sebuah titipan. Mereka akan sadar diri.

Ada banyak kasus-kasus Daren lainnya. Ketika dua orang saling jatuh cinta dan bergantung. Keduanya merasa saling memiliki. Sehingga saat salah satu berkhianat, seringkali pihak yang dikhianati akan begitu patah dan rapuh. Kalau tidak kuat iman dan mental, bisa-bisa yang dikhianati itu tidak akan sanggup menjalani hidup lagi. Ia merasa hidupnya telah berakhir. Sama seperti kisah cintanya yang telah berakhir.

Atau tentang calon anggota legislatif yang berharap menjadi anggota DPRD, DPD atau DPR. Ketika hasil perhitungan selesai, ternyata skor miliknya tidak mencapai batas minimal. Akhirnya ia pun gagal terpilih menjadi anggota legislatif. Lalu, berikutnya apa yang terjadi? Ia tidak mampu menerima kenyataan. Pikirnya, bagaimana bisa ia gagal terpilih. Padahal ia sudah mengeluarkan banyak dana dan tenaga. Padahal ia sebegitu yakinnya atas pemilihan umum ini. Calon legislatif pun akhirnya masuk rumah sakit jiwa.

Kita seringkali lupa. Menggantungkan mimpi dan harapan setinggi-tingginya, namun tidak menyertakan faktor Tuhan di dalamnya.

Semua yang kita punya dan rasakan di dunia, sungguh hanya sebuah titipan. Yang kelak bila sudah tiba waktunya, sang penitip akan mengambil kembali apa-apa yang dititipkannya.

Ustadz Zainuddin Mz memberikan analogi perihal titipan ini dengan tukang parkir. Katanya, kita perlu belajar dari cara kerja tukang parkir.

Si tukang memiliki lahan yang begitu luas. Sedari awal ia sudah tahu bahwa lahannya akan digunakan sebagai tempat penitipan mobil dan motor orang lain. Ia tahu tugasnya adalah hanya untuk menjaga motor dan mobil yang telah dititipkan. Bila sudah waktunya, entah sore atau malam, si penitip akan mengambil kendaraannya kembali.

Si tukang parkir juga memahami bahwa ia hanya boleh menjaga kendaraan dengan baik tanpa merasa memiliki. Sesuka apapun si tukang pada merk motor dan mobil di sana, ia tetap sadar bahwa keduanya memang bukan miliknya.

Bila sore atau malam tiba, sang pemilik kendaraan pun datang. Si tukang parkir harus mengembalikan titipan kendaraan tersebut dengan hati yang lapang. Ia tidak marah atau sedih. Sebab ia sudah tahu sejak awal bahwa tugasnya hanya untuk menjaga kendaraan dalam batas waktu tertentu.

Kita pun seharusnya seperti itu. Dalam hal apapun. Tentang cinta, suami, istri, anak, harta, atau jabatan. Semua hanya titipan Tuhan. Dan Tuhan akan mengambil titipan itu kembali. Entah kapan. Semoga bila waktunya datang, kita sudah menyiapkan hati yang lapang untuk menerimanya dengan ikhlas.

Melakukannya tidak akan mudah. Namun, aku harap serapuh apapun nanti saat titipan tersebut diambil Tuhan, kita tetap memiliki prinsip yang kuat. Kita tidak boleh hilang arah. Ataupun merasa kehidupan telah selesai. Kita tidak boleh menyerah.

Bagi muslim, kala situasi begitu menyulitkan dan tak ada satu orang pun dapat membantu, jangan takut. Allah selalu membantu.

Kita pasti pernah merasakan hari-hari sulit dan kemudian merasakan manfaatnya setelah beberapa tahun kemudian, kan? Begitulah cara Allah. Cara Allah begitu luas dan baik sehingga terkadang kita tak mampu memahami dalam waktu cepat.

Kemampuan manusia yang terbatas, membuat kita kesulitan membaca banyak hikmah.

Kemampuan kita yang terbatas, sehingga hanya tahu segala hal yang diinginkan bukan apa-apa yang dibutuhkan.

Ingat, segala hal yang kita punya saat ini hanya titipan Allah. Cintai segala hal yang ada di hidup kita karena Allah. Sehingga, bila ketetapan-Nya datang, kita tak akan menolak dan terus meratap. Melainkan, bersedih sekadarnya dalam sebuah penerimaan. Karena kita yakin, tidak ada ketentuan terbaik selain takdir yang Allah berikan.