Masa Lalu adalah Bagian Tubuhku

“Aku mau tanya. Kalo misalkan kamu udah bertemu dengan jodohmu. Lalu, ia mengungkapkan kisah masa lalu yang sangat tidak enak didengar. Apa yang akan kamu lakukan? Berhenti atau tetap melanjutkan?” tanyanya.

“Keputusan tergantung bagaimana dia bersikap,” jawabku.

“Maksudnya?” Wajahnya serius dan penuh rasa ingin tahu.

“Kalau perihal ini tidak ada hubungannya tentang pertanggung jawaban atas hidup orang lain. Dia sudah menerima masa lalunya secara utuh dan tenang. Aku akan melanjutkan,” jawabku.

“Maksudnya?” Mukanya tambah penasaran.

Ah, kamu. Nanya maksudnya melulu hahahaha,” Ledekku.

“Serius aku. Cepet jawab,” jawabnya ketus.

Percakapan di atas tidak begitu membuatku kaget. Aku biasa saja. Pertanyaan ini seperti pertanyaan, “Apa makna seorang sahabat bagi seorang Shinta?” Yang artinya, aku selalu siap sedia menjawab pertanyaan tersebut dengan diskusi panjang. Aku siap menghilangkan rasa penasarannya.

Read more

Pelajaran Berharga Hari Ini

Memberi kabar seseorang sebuah berita buruk, mungkin akan membuat hari orang itu menjadi buruk. Memberi kabar seseorang berita tidak menyenangkan, mungkin juga membuat hari orang tersebut menjadi tidak menyenangkan. Seburuk apapun hasilnya, tetaplah katakan sesuai keadaan. Jujur apa adanya dan memberi kejelasan adalah proses yang baik. Dengan begitu, orang tersebut akan bersegera pula menata hati dan mengendalikan dirinya sendiri.

Pagi tadi, ada begitu banyak orang nasibnya digantungkan. Mereka tidak tahu apa yang harus dilakukan. Informasi terakhir yang mereka dapat hari ini adalah jadwal mereka. Namun, sesampainya di lokasi tujuan tiba-tiba saja jadwal mereka dibatalkan.

Sebenarnya, masalahnya bukan pada jadwal yang dibatalkan. Melainkan, orang yang membuat janji (sebut saja si A) hilang kabar dan tidak menginfokan secara langsung kepada mereka. Mereka tahu informasi ini dari orang ketiga, yakni kami (aku dan kawan-kawan) Wajarlah mereka merasa kebingungan. Informasi yang tidak jelas membuat mereka merasa “digantungkan”.

Kami pun sebenarnya tidak tahu informasi ini secara jelas. Yang kami tahu si A memang berhalangan hadir. Namun, si A tidak menitip pesan apapun kepada kami. Dan pagi ini orang-orang tersebut bertanya tentang jadwal yang telah dijanjikan si A kepada kami.

Sejujurnya, kami tidak tahu harus menjawab apa. Si A pun sudah dihubungi. Namun, si A tidak menjawab pesan singkat dan tidak mengangkat telepon kami. Mungkin si A memang sibuk sekali. Akhirnya, kami menyuruh orang-orang itu menghubungi si A sendiri.

Melihat wajah para ibu, bapak, dan anak yang telah menunggu lama entah mengapa membuat aku kesal sekali. Aku kesal pada si A. Bagaimana bisa ia mengorbankan banyak orang hanya untuk kepentingan pribadi. Bagaimana bisa ia sembarangan memperlakukan orang begini 🙁

Mungkin si A kesulitan memposisikan diri menjadi orang lain. Hingga akhirnya menyusahkan banyak orang di sini. Baiklah. A, aku akan coba deskripsikan sedikit agar kamu mengerti.

Orang-orang yang pagi ini datang, mereka tidak semudah itu datang ke sini. Tidakkah kamu mengerti? Ada banyak hal mereka tinggalkan, demi bertemu denganmu.

Sang bapak, mungkin telah izin kepada atasannya untuk datang telat ke kantor. Sang ibu, mungkin sudah bekerja keras sedari dini hari menyiapkan sarapan serta keperluan seluruh anaknya, supaya pagi-pagi bisa datang ke tempat ini. Sang anak, yang awalnya takut, mungkin sudah memberanikan diri untuk menemuimu lagi. Bukankah mereka sudah berusaha keras untuk pertemuan hari ini?

Deskripsi di atas mungkin belum cukup membuatmu mengerti. Karena segala tentangmu selalu menjadi prioritas utama, kan? Seperti pengakuanmu beberapa hari yang lalu. Katamu, berkorban untuk orang lain adalah hal yang tidak berguna. Urusanmu masih banyak yang belum diselesaikan. Dan kamu enggan memberi sedikit saja waktumu untuk digunakan orang lain.

Saat itu, aku kehilangan selera untuk menanggapimu, sungguh. Ingin sekali berteriak begini,“Kau pergi saja dari bumi! Jika inginnya menang sendiri, jangan pernah menggunakan kebaikan orang lain untuk keuntunganmu sendiri!”

Tapi, tak mungkinlah aku melakukan itu. Seseorang pernah bilang, jika kebenaran membuat hubungan dua manusia berjarak, sebaiknya kita tutup sajalah mulut ini rapat-rapat. Biarkan kebenaran itu menguap dan kemudian hilang. Asalkan kita baik-baik saja, maka itulah yang terbaik.

Mengingat perkataannya, aku mengurungkan niatku itu. Aku berhasil menahan diri untuk tidak berteriak begitu. Namun, dadaku sesak. Ah, sungguh sulit berhadapan dengan orang “sulit”.

Kembali ke cerita orang-orang itu dan si A. Pada akhirnya, mereka berhasil menghubungi si A. Setelah mendapat penjelasan, dengan wajah kecewa, mereka pun pulang.

Kami menatap punggung mereka dengan prihatin. “Seandainya si A memberitahu mereka lebih awal, mereka tak perlu jauh-jauh datang ke sini. Seandainya si A lebih memikirkan perasaan orang lain, si A tidak akan mengorbankan waktu dan usaha orang lain.” kataku dalam hati.

Pagi ini, pelajaran berharga lagi-lagi datang. Aku pun merenung. Apakah aku pernah melakukan hal yang sama seperti A? Bila nanti ada urusan yang begitu mendesak, apakah aku akan seperti A?

A, kebahagiaan dalam hidupmu tak akan berkurang meskipun kamu berbagi sedikit waktu kepada orang lain. A, percayalah, setiap hal sudah diciptakan Tuhan sesuai porsinya. Yang tertakdir untukmu tak akan pernah hilang, sungguh. Dan kebaikan yang kamu lakukan, tak akan pernah merugikanmu. Malah sebaliknya, ia akan menghadirkan kebaikan-kebaikan lainnya.

Pertanyaan itu terdengar berkali-kali dalam pikiran. Dan kata hatiku berteriak lantang,“Jangan sampai! Urusanmu dan urusan orang lain sama-sama penting. Lakukan semua urusan sesuai porsinya. Jangan pernah mengorbankan dan meninggalkan. Ingat selalu, kebaikan tak pernah bisa didapatkan dengan cara hidup yang salah.” aku menatap langit-langit dan bergumam,”Mudahkan dan ingatkan aku selalu, ya Allah.”

Manners? Tata Krama?

Story instagram di atas adalah milik kawanku. Kami sedikit berbagi cerita bahwa masih banyak orang di sekitar yang tidak peduli dengan aturan. Mereka lebih suka bersikap semaunya dan diperlakukan cepat sesuai keinginannya. Padahal, yang namanya hidup bersama kita harus mau mempertimbangkan keadaan orang lain. Yang namanya hidup bersosial, kita harus peduli bagaimana perasaan orang lain atas sikap kita.

Ingat selalu kalimat bijak yang sudah kita kenal sejak lama,

If you are respectful to others, then you are more likely to be treated with respect by them.

If you show good manners everywhere you go, then you are more likely to encourage others to behave in the same way towards you.

Ingat selalu, selalu ada hubungan dua arah tiap kali kita berurusan dengan orang. Selalu ada kata “saling” supaya hubungan baik tetap terjaga.

Bukan hanya diri kita yang perlu dipikirkan. Namun, orang lain pun juga. Bukan hanya diri kita yang memiliki urusan penting. Namun, orang lain juga sama.

Bagaimana manusia bersikap dan memberi pengaruh pada orang disekitar adalah peran tata krama.

Tata krama, memang tak pernah ada aturan bakunya. Aku pun memahami perihal itu karena didikan orang tua. Ibu dan ayah selalu mengingatkan sikap baik apa yang perlu aku biasakan dan pertahankan. Keduanya, selalu memberi tahu sikap buruk apa yang perlu aku tinggalkan.

Seperti kebiasaan mengucapkan salam tiap kali keluar dan masuk rumah, bersalaman kepada seluruh orang tiap kali arisan keluarga, mengatakan permisi tiap kali melewati beberapa orang di kanan dan kiri, menyapa orang lain tiap kali bertemu, tidak membuka kaki terlalu lebar saat duduk dibangku, atau tidak menaikkan kedua tungkai ke atas bangku tiap kali bertamu. Dan masih banyak yang lainnya. Aku yakin, tentang tata krama ini kamu pun sering diingatkan oleh ayah dan ibumu, ya.

Oleh karena itu, tiap kali berhubungan dengan orang yang tidak sopan aku pun menjadi penuh tanya. Bagaimana bisa ia melupakan tata krama, padahal ayah dan ibunya sudah mendidiknya sejak ia belum terlahir di dunia? Bagaimana bisa ia melupakan tata krama, padahal ayah dan ibunya selalu memberi teladan baik sekuat tenaga? Ada apa sebenarnya?

Tata krama bukanlah ilmu yang hanya didapat dari buku. Sebab, ia dapat kita pelajari di mana saja. Selama kita masih bisa berpikir dan merasa, seharusnya kita bisa.

Tata krama adalah tentang bagaimana kita mempertimbangkan keadaan orang lain atas perbuatan kita. Dan pada akhirnya, kita pun berusaha menjadi manusia baik yang orang lain hormati dan suka. Bagaimana? Semoga kita tidak melupa. Bahwa di dunia ini bukan cuma kita semata. Jadilah manusia yang berhati mulia.