Manners? Tata Krama?

Story instagram di atas adalah milik kawanku. Kami sedikit berbagi cerita bahwa masih banyak orang di sekitar yang tidak peduli dengan aturan. Mereka lebih suka bersikap semaunya dan diperlakukan cepat sesuai keinginannya. Padahal, yang namanya hidup bersama kita harus mau mempertimbangkan keadaan orang lain. Yang namanya hidup bersosial, kita harus peduli bagaimana perasaan orang lain atas sikap kita.

Ingat selalu kalimat bijak yang sudah kita kenal sejak lama,

If you are respectful to others, then you are more likely to be treated with respect by them.

If you show good manners everywhere you go, then you are more likely to encourage others to behave in the same way towards you.

Ingat selalu, selalu ada hubungan dua arah tiap kali kita berurusan dengan orang. Selalu ada kata “saling” supaya hubungan baik tetap terjaga.

Bukan hanya diri kita yang perlu dipikirkan. Namun, orang lain pun juga. Bukan hanya diri kita yang memiliki urusan penting. Namun, orang lain juga sama.

Bagaimana manusia bersikap dan memberi pengaruh pada orang disekitar adalah peran tata krama.

Tata krama, memang tak pernah ada aturan bakunya. Aku pun memahami perihal itu karena didikan orang tua. Ibu dan ayah selalu mengingatkan sikap baik apa yang perlu aku biasakan dan pertahankan. Keduanya, selalu memberi tahu sikap buruk apa yang perlu aku tinggalkan.

Seperti kebiasaan mengucapkan salam tiap kali keluar dan masuk rumah, bersalaman kepada seluruh orang tiap kali arisan keluarga, mengatakan permisi tiap kali melewati beberapa orang di kanan dan kiri, menyapa orang lain tiap kali bertemu, tidak membuka kaki terlalu lebar saat duduk dibangku, atau tidak menaikkan kedua tungkai ke atas bangku tiap kali bertamu. Dan masih banyak yang lainnya. Aku yakin, tentang tata krama ini kamu pun sering diingatkan oleh ayah dan ibumu, ya.

Oleh karena itu, tiap kali berhubungan dengan orang yang tidak sopan aku pun menjadi penuh tanya. Bagaimana bisa ia melupakan tata krama, padahal ayah dan ibunya sudah mendidiknya sejak ia belum terlahir di dunia? Bagaimana bisa ia melupakan tata krama, padahal ayah dan ibunya selalu memberi teladan baik sekuat tenaga? Ada apa sebenarnya?

Tata krama bukanlah ilmu yang hanya didapat dari buku. Sebab, ia dapat kita pelajari di mana saja. Selama kita masih bisa berpikir dan merasa, seharusnya kita bisa.

Tata krama adalah tentang bagaimana kita mempertimbangkan keadaan orang lain atas perbuatan kita. Dan pada akhirnya, kita pun berusaha menjadi manusia baik yang orang lain hormati dan suka. Bagaimana? Semoga kita tidak melupa. Bahwa di dunia ini bukan cuma kita semata. Jadilah manusia yang berhati mulia.

Advertisements

Memutus Rasa Benci

“Pernahkah kamu membenci seseorang yang belum pernah ditemui?” tanya dia.

Apa definisi benci?” jawabku.

“Coba buka KBBI!” jawabnya kesal.

“Langsung jawab saja. Biar cepat!” balasku tak kalah kesal.

“Benci itu ketika kamu sangat merasa tidak suka terhadap sesuatu.” akhirnya ia mengalah dan menjabarkan definisi itu.

Oh, pernah, kok. Tapi dulu sekali. Berbeda kasus denganmu. Aku pernah membenci temanku sendiri. Kalau tidak salah, 7 tahun yang lalu hahaha.” jawabku.

“Ih jawaban macam apa itu. Serius!”

“Aku serius!” jawabku tak kalah serius.

Adikku memang unik begini. Ia suka menanyakan hal-hal random, namun seru untuk bahan diskusi. Saking serunya, diskusi kami biasanya berlangsung sampai tengah malam 😅

Perihal rasa benci, 7 tahun lalu aku pernah membenci seseorang. Aku membenci perbuatannya. Namun, aku pun turut membenci orangnya.

Membenci orang lain ternyata melelahkan. Hatimu menjadi sesak tiap kali berada dekat si dia yang kamu benci. Hatimu pun menjadi tidak tenang tiap kali melihat sosoknya. Melihat orang tersebut tertawa, kamu kesal. Melihat orang tersebut tersenyum, kamu marah. Pokoknya, selama kamu dan dia berada dalam ruang yang sama tak pernah ada hidup tentram dan damai 😂😂😂

Manfaatnya pun tidak ada sama sekali. Semua hal tentang orang tersebut menjadi buruk. Padahal, seburuk-buruknya perbuatan seseorang, pastilah ada kebaikan pada sifat yang lainnya. Hanya saja, karena rasa benci yang terperihara itu, kebaikan orang tersebut seakan tak tampak oleh mata. Mata kita dibutakan oleh rasa benci dan amarah. Pada akhirnya, hati kita pun menjadi terkotori oleh hal-hal negatif. Yang rugi diri sendiri, deh.

Setelah sadar bahwa membenci hanya memberi kepuasan pada ego semata dan tidak memberi manfaat apa-apa, aku tidak ingin membenci orang lain lagi.

Benci Perbuatannya Bukan Orangnya

Kamu pasti sudah sering membaca kalimat di atas, ya. Meskipun sulit untuk dilakukan, kamu harus tetap berusaha. Dulu aku pun begitu. Tiap kali kesal terhadap sesuatu, aku berusaha mengingatkan diri bahwa yang aku benci hanyalah perbuatannya. Bukan orangnya. Kalau sudah begitu, biasanya akan lebih mudah menerima. Menerima kekurangan orang lain serta menerima pelajaran yang didapatkan kala itu.

Pada akhirnya, aku menjadi tahu bahwa tugas manusia memang sebatas mengamati, mempelajari, dan memetik hikmahnya saja. Kita tidak berhak menentukan dan menjustifikasi sikap manusia yang lainnya.

Fokus pada Kelebihannya

Kamu pasti memiliki teman yang super menyebalkan. Misalnya, orang ini sangat ambisius hingga lupa makna pertemanan. Ia rela mengorbankan kawan untuk sebuah pencapaian. Kamu pasti malas ya berdekatan dengan orang seperti ini.

Namun, pada kenyataannya, sekeras apapun kamu kesal dan berusaha menjauh, kamu harus tetap berdekatan sama dia. Karena kamu dan dia dalam satu tim yang harus bekerja sama melakukan sebuah tugas “negara”.

Saranku, daripada terus memelihara rasa tidak suka, kesal, dan benci terhadap dia, sebaiknya kamu fokus pada kelebihannya saja. Temanmu yang ambisius itu pasti rajin, bertekad kuat, dan gesit. Kamu boleh sekali belajar sama dia tentang hal-hal itu 😄

Tetapi jangan lupa, meskipun kamu fokus pada kelebihan dia, bukan berarti rela dimanfaatkan, ya! Kamu harus tetap berhati-hati dan bersikap tegas padanya. Tetap tunjukkan prinsip yang kamu pegang teguh bahwa mencapai sesuatu tidak perlu mengorbankan orang lain. Tunjukkan pula bahwa sebaik-baiknya usaha untuk mencapai tujuan adalah dengan kemampuan.

Lakukan Perubahan untuk Menyesuaikan

Mengalah tidak berarti kalah. Dalam bekerja, mengalah juga berarti tidak mempertahankan pendapat bila hal tersebut menghasilkan perpecahan. Demi kebaikan bersama, semua harus kita upayakan. Termasuk perihal mengalah ini.

Untuk meredakan rasa benci dan tidak suka, kita harus memulai perubahan dari diri sendiri.

Di sekitar kita, ada orang-orang yang begitu senang diberi pujian. Terkesan berlebihan pun bukan masalah untuknya. Bagi dia, pujian dan penghargaan adalah segalanya.

Ia akan terusik dan marah bila ada orang lain yang dipuji selain dirinya. Kalau bertemu orang seperti itu, kamu jangan kesal dan benci. Mengalah saja.

Berikan pujian untuk setiap kerja keras yang ia lakukan. Sesekali, minta ajari ilmu yang ia kuasai dan banggakan. Berikan ruang pengalaman tentang apresiasi untuk dia. Maklumi saja, mungkin perihal apresiasi ini adalah sebuah luka masa kecil yang belum ia dapatkan.

Percaya, di balik perbuatan menyebalkan seseorang, pasti ada kisah tidak menyenangkan di belakangnya. Maka, daripada memelihara rasa benci dihati, bagaimana kalau kita maklumi dan pahami?

**

Memutuskan rasa benci yang bersemayam dihati tidak mudah dilakukan. Apalagi kalau kamu dan dia berada pada atap yang sama. Tetapi, kita tidak pernah bisa menghindar dari masalah yang ada. Pilihannya hanya ada dua, segera berdamai dan mencari solusi agar hati menjadi tenang, atau tetap keras kepala pada keinginan yang manfaatnya pun tidak jelas apa.

Setiap kita berhak melanjutkan hidup dan mencipta keadaan yang lebih baik, kan? Maka, lepaskan segala rasa benci yang menyesakkan hati dan rangkailah masa depan dengan semangat tinggi.

Ada kalimat Wang Geum Hee dalam drama korea Home for Summer yang menyentuh hati. Katanya begini,

“Aku bisa saja membenci kamu. Karena kamu sudah melukai hatiku. Namun, aku memutuskan untuk tidak membenci. Membenci hanya akan menyiksa diriku sendiri. Membenci hanya akan menyulitkan diriku ini. Maka, aku memilih untuk meninggalkan masa lalu dan memulai hal yang baru. Aku ingin hidup.”

Untuk Perempuan

Untuk perempuan,

Kita memiliki kisah hidup yang beragam dan penuh tantangan.

Tentang dirimu dan bagaimana kamu menghadapi dunia adalah tugasmu seorang, sungguh. Tidak ada satu pun orang yang mampu menolong dirimu selain dirimu sendiri.

Jangan pernah mencari pembenaran atas apa-apa yang sebenarnya bisa kamu ubah. Jangan pernah mencari kambing hitam atas kesalahan orang-orang di masa lalu yang mempengaruhi hidupmu. Jangan melakukan kesalahan yang sama dan lakukan perubahan. Siapa kamu dan bagaimana kamu hidup adalah pilihanmu. Rencanakan masa depan dan libatkan Allah untuk setiap langkahnya.

Hal yang salah tidak akan menjadi benar meskipun kamu menjadi korban. Dan hal yang benar tidak akan menjadi salah bila kamu berani mengambil langkah benar. Jangan berdiam diri. Bergeraklah dan percayakan semua hal pada dirimu sendiri. Kamu pasti bisa menghadapi semuanya.

Bersikap ramah bukan berarti tidak bisa menjadi perempuan tegas. Tersenyumlah pada orang dan tempat yang tepat. Jangan tersenyum pada orang yang melakukan hal tidak benar. Jangan tertawa jika kamu bersedih. Jangan ucapkan kata baik-baik saja bila kamu dalam keadaan tidak baik. Jujurlah pada perasaanmu sendiri. Sebab, orang pertama yang berhak mendapat kejujuranmu adalah dirimu sendiri.

Katakan tidak pada orang-orang yang bersikap tidak sopan. Dan katakan tidak pada mereka yang tidak bisa berlaku sesuai norma dan agama. Tegas bukan sebuah pilihan, namun keharusan.

Untuk perempuan,

Sesulit apapun kisahmu, jangan pernah takut menghadapi risiko atas keberanian dan ketegasan yang kamu ambil. Yakinlah, apapun risikonya, hal tersebut pasti memberikan banyak pembelajaran.

Cara kerja semesta memang ada pada kuasa-Nya. Namun, bagaimana orang memperlakukan kita, biasanya akan tergantung bagaimana sikap kita kepada mereka. Maka, hati-hatilah. Bersikaplah sesuai kondisi dan keperluan. Kamu tidak perlu bersikap berlebihan hanya untuk sebuah perhatian. Jaga dirimu baik-baik.

Kenali dan sayangi diri, yakin pada identitas dan prinsip, berani memilih dan mengungkapkan aspirasi, bersikap santun namun tegas, dan libatkan Allah selalu dalam menjalani hari.

Semangat selalu, karena Allah selalu bersamamu dan pasti membantu. Bismillah 💕

Definisi Bahagia

Sumber foto: http://www.timsr.ca

Definisi bahagia untukku adalah ketika mampu melakukan banyak kebaikan untuk diri sendiri dan juga orang lain. Dan berharap Allah meridainya.

Apa definisi bahagia untukmu?

Hal yang paling mudah memang melakukan semua hal demi diri sendiri. Kamu tidak perlu memikirkan orang lain. Kamu tidak perlu berlelah-lelah memposisikan diri menjadi orang lain. Dan kamu juga tidak perlu berkoordinasi dengan orang lain untuk kebaikan bersama.

Sebaliknya, hidup berdampingan dengan orang lain itu sulit. Kamu tidak boleh memutuskan sesuatu tanpa memikirkan keadaan orang lain. Kamu tidak boleh berbuat sesuai keinginanmu. Kamu harus mementingan kepentingan orang banyak dibanding kepentingan pribadi. Kamu juga harus memandang hal dengan luas dan menggunakan banyak kaca mata.

Kamu mau menjalani hidup yang seperti apa? Yang paling mudah atau yang paling sulit?

Aku harap kamu tidak memilih pilihan pertama. Sayang banget. Kita sama-sama tahu kalau masuk surga itu memang tidak mudah. Allah menyediakan surga untuk manusia yang membuktikannya. Dengan apa? Dengan syukur dan sabar. Supaya apa? Supaya jadi orang yang bertakwa. Sulit? Ya tidak, kalau kita cinta Allah semua akan terasa mudah. Kalau ada yang jatuh cinta sama kita aja, maunya dibuktiin, kan? Sama. Allah juga mau dibuktiin. Kita benar-benar cinta sama Allah atau tidak, nih.

Melakukan semua hal demi diri sendiri memang “terasa”nya mudah. Padahal, kalau mau memeriksa keadaan hati, hati kita tidak benar-benar bahagia. Coba periksa saja. Pasti kita tidak pernah menemukan kepuasan dan ketenangan hati. Akibat sikap egois ini, tingkat keegoisan kita akan semakin bertambah. Segala keinginan jadi harus dituruti. Semua harapan pun harus segera terealisasi. Kalau tidak, kita akan stres dan merasa jadi orang paling menderita di dunia. Pokoknya, yang sengsara hanya kita saja. Orang lain di luar sana hidupnya mudah dan baik-baik saja.

Padahal, di luar sana yang hidup sulit dan susah banyak banget, lho. Bukan kita aja. Mereka ingin hidup begini, eh Allah malah memberikan kehidupan yang begitu.

Suka lihat tidak orang-orang yang minta-minta di depan masjid saat kita salat eid? Kita hidup lebih baik dari mereka. Buktinya kita masih bisa makan ketupat lengkap dengan lauk pauknya, kan? Bahkan, kita masih mampu membeli baju lebaran. Kita jauh lebih beruntung dari mereka.

Atau seseorang yang memiliki banyak penyakit. Ia harus melakukan pengobatan di rumah sakit secara berkala. Entah untuk cuci darah, pemeriksaan laboratorium, pemeriksaan rutin ke dokter spesialis setiap bulan, atau melakukan fisioterapi setiap dua kali sehari. Hidupnya hampir selalu di rumah sakit. Ini kejadian nyata. Ada banyak pasienku memiliki jadwal padat di rumah sakit setiap harinya.

Jadi, kalau satu keinginan saja tidak terpenuhi mampu membuat kita menderita, kayaknya terlalu berlebihan. Mungkin, rasa syukur kita memang perlu diperiksa lagi :’)

Melakukan semua hal demi kebaikan bersama bukan berarti tidak memikirkan diri sendiri, lho. Kita berhak dan layak bahagia. Tetapi, jangan lupa. Apa yang kita lakukan akan berdampak pada sekitar. Entah lingkungan atau manusianya. Kebahagiaan kita tidak boleh menjadi sebab kesengsaraan bagi orang lain.

Bagaimana kita tahu kebahagiaan kita tidak akan menyengsarakan orang lain? Caranya, amati keadaan orang lain dan berpikir dengan banyak kaca mata. Serta sadari bahwa di dunia ini kita tidak hidup sendiri.

Kita bisa berpikir dan merasa. Seperti, memikirkan bagaimana keadaan orang lain atas pilihan yang diambil. Dan merasakan bagaimana perasaan orang lain atas keputusan yang dibuat. Lalu, kedua hal itu kita pastikan dengan bertanya apakah ia berkenan atas pilihan dan keputusan kita.

Lagi-lagi ribet, ya? Memang. Tetapi, hidup bersama memang seperti ini. Ada banyak sekali manfaatnya. Dua manfaat yang paling terasa adalah mencegah miskomunikasi dan terjalin hubungan yang baik. Dan ingat-ingat lagi tentang cara masuk ke surga. Surga tidak akan didapat dengan “cuma-cuma” tanpa perjuangan, kan?

Definisi bahagia setiap orang pasti beragam. Kita boleh membuat definisi apa pun. Namun, aku harap semoga kita mau menjadi bijaksana. Bijaksana memikirkan segala hal menjadi lebih luas. Seperti, untuk apa dan untuk siapa kita hidup di dunia. Di mana kah tujuan akhir kehidupan kita. Bagaimana membuat hati tenang. Dan bagaimana cara berbahagia bersama-sama.

Rasulullah manusia paling sempurna saja tidak egois. Rasulullah memikirkan dan membutuhkan kehadiran para sahabat untuk mendapatkan Rida-Nya, apalagi kita?

Sticky Notes adalah Tanda Kita Peka

Menulis catatan pada selembar kertas tiap kali memberikan hadiah kepada orang lain adalah satu kebiasaan yang sering aku lakukan. Dan sulit sekali bila harus ditinggalkan. Kalau tidak melakukannya, aku merasa tidak sepenuhnya menjadi “seorang Shinta”.

Media yang sering aku gunakan biasanya sticky notes yang warna warni.

Tidak hanya untuk sebuah hadiah acara spesial, dalam kegiatan sehari-hari pun begitu. Memberikan hadiah kecil sebuah susu kemasan di pagi hari untuk seorang kawan misalnya, harus ada sebuah sticky notes yang tertempel di atasnya. Apa isi tulisannya? Bebas saja. Kalau aku, biasanya memberikan sebuah ucapan selamat pagi dan beberapa kata penyemangat untuk mengawali hari.

Mengapa harus? Sebenarnya tidak harus. Namun, aku butuh melakukan itu. Berbagi kebaikan di pagi hari rasanya melegakan saja. Dan kita sama-sama tahu bahwa mendapat perhatian dari orang lain rasanya menyenangkan. Kalau kita sadari itu, mengapa tidak memulainya lebih dulu? Memberi energi positif kepada sekitar, akan berdampak pada diri sendiri, lho. Apalagi dalam hal berbagi. Sesuatu yang kita beri dengan tulus hati akan memberi ketenangan hati 🙂

Sticky notes juga bermanfaat untuk media permintaan maaf. Pernah suatu kali seseorang berbuat salah kepada kawannya, namun tak memiliki keberanian untuk meminta maaf secara langsung. Tahukah kamu apa yang ia lakukan? Ia membeli hadiah kecil lalu ia sematkan selembar sticky notes di atasnya. Sticky notes berisikan kalimat penyesalan. Setelah itu, ia pun berbaikan dengan kawannya.

Menurutku, keberanian dia menuliskan penyesalan dan permintaan maaf dalam sticky notes perlu diapresiasi. Sebab, ada lho kasus di mana dua orang yang “perang dingin” tak juga saling sapa hanya karena sebuah gengsi. Akhirnya, mereka tak juga bertukar sapa dalam waktu yang sangat lama. Mengerikan, kan? Jadi, sticky notes di sini berperan sebagai perantara awal saja. Langkah selanjutnya, mereka berbicara secara langsung membicarakan permasalahnya.

Ada beberapa orang masih menganggap tidak penting perihal pesan singkat dalam sticky notes ini. Menurutku sayang sekali. Setiap kita pasti memiliki perhatian dan keinginan yang ingin disampaikan kepada orang lain. Namun, karena satu dan lain hal akhirnya kita mengurungkan niat untuk menunjukkan pikiran dan perasaan itu. Akhirnya, siapa pun tidak bisa mengerti dan merasakan pikiran serta perasaan kita.

Lalu, dampak negatifnya apa? Dampaknya negatifnya banyak dan berbahaya. Kelak, kita akan menjadi apatis terhadap orang-orang di sekitar. Kita tidak peduli apakah mereka sedang berduka atau tidak. Kita juga tidak peduli apakah mereka baik-baik saja atau tidak. Akhirnya, terjalinkah lingkungan yang super individualis. Kita tidak mengenal arti simpati dan empati. Kita pun tidak mengenal makna seorang “kawan” dan “pertemanan”. Kita tidak memahami makna kebersamaan. Yang kita tahu hanya tentang diri sendiri saja. Hati kita pun menjadi tidak peka.

Ada banyak cara sederhana berbagi kebaikan. Menyematkan sebuah sticky notes pada sebuah hadiah hanya salah satunya. Dari sticky notes, si pengirim pesan singkat akan belajar jujur pada pikiran dan perasaannya. Si penerima pesan singkat akan berbahagia. Bahwa ternyata, ada banyak orang di sekitarnya mendoakan dan berharap kebaikan untuk kehidupannya. Hidup dengan cara yang sederhana ternyata indah, ya :’)

Bila Kita Tahu Semua Hanya Titipan

Sore tadi, rekan kerjaku menonton ceramah almarhum Ustadz Zainuddin MZ. Sambil mengerjakan tugas, aku pun turut mendengarkan ceramah tersebut. Materi yang dibicarakan ustadz sangat menarik. Masalah ini sering kita temui dalam kehidupan sehari-hari.

Beberapa hari yang lalu, mama bercerita bahwa kakaknya teman kecilku sakit jiwa. Aku sebut Daren saja ya supaya lebih mudah menyebutnya.

Daren memang sudah pindah sejak 15 tahun yang lalu. Sejak itu, kami tidak tahu kabar Daren dan keluarganya. Teknologi yang belum canggih membuat kami kesulitan komunikasi. Kami tidak saling memberi kabar.

Jadi, mamaku dapat informasi ini dari mantan pembantu rumah tangga Daren. Ia bercerita, semua berawal ketika Daren kehilangan motornya. Aku tidak tahu merk motornya apa. Tetapi, mama bilang ‘motor besar’. Mungkin sejenis motor ninja atau CBR.

Sejak kehilangan motor, Daren mengurung diri di kamar. Mungkin Daren belum menerima kenyataan bahwa motor yang ia beli dari tabungannya sendiri telah kandas. Entah bagaimana kehidupan Daren selama ini hingga karakternya bisa serapuh itu. Aku benar-benar sedih mendengar kabar Daren.

Ceramah Ustadz Zainuddin membahas perihal ini. Kata ustadz, seandainya saja setiap manusia tahu bahwa ia tidak memiliki apa-apa di dunia. Mereka tidak akan sombong. Seandainya saja manusia tahu bahwa apa-apa yang dianggap milik adalah hanya sebuah titipan. Mereka akan sadar diri.

Ada banyak kasus-kasus Daren lainnya. Ketika dua orang saling jatuh cinta dan bergantung. Keduanya merasa saling memiliki. Sehingga saat salah satu berkhianat, seringkali pihak yang dikhianati akan begitu patah dan rapuh. Kalau tidak kuat iman dan mental, bisa-bisa yang dikhianati itu tidak akan sanggup menjalani hidup lagi. Ia merasa hidupnya telah berakhir. Sama seperti kisah cintanya yang telah berakhir.

Atau tentang calon anggota legislatif yang berharap menjadi anggota DPRD, DPD atau DPR. Ketika hasil perhitungan selesai, ternyata skor miliknya tidak mencapai batas minimal. Akhirnya ia pun gagal terpilih menjadi anggota legislatif. Lalu, berikutnya apa yang terjadi? Ia tidak mampu menerima kenyataan. Pikirnya, bagaimana bisa ia gagal terpilih. Padahal ia sudah mengeluarkan banyak dana dan tenaga. Padahal ia sebegitu yakinnya atas pemilihan umum ini. Calon legislatif pun akhirnya masuk rumah sakit jiwa.

Kita seringkali lupa. Menggantungkan mimpi dan harapan setinggi-tingginya, namun tidak menyertakan faktor Tuhan di dalamnya.

Semua yang kita punya dan rasakan di dunia, sungguh hanya sebuah titipan. Yang kelak bila sudah tiba waktunya, sang penitip akan mengambil kembali apa-apa yang dititipkannya.

Ustadz Zainuddin Mz memberikan analogi perihal titipan ini dengan tukang parkir. Katanya, kita perlu belajar dari cara kerja tukang parkir.

Si tukang memiliki lahan yang begitu luas. Sedari awal ia sudah tahu bahwa lahannya akan digunakan sebagai tempat penitipan mobil dan motor orang lain. Ia tahu tugasnya adalah hanya untuk menjaga motor dan mobil yang telah dititipkan. Bila sudah waktunya, entah sore atau malam, si penitip akan mengambil kendaraannya kembali.

Si tukang parkir juga memahami bahwa ia hanya boleh menjaga kendaraan dengan baik tanpa merasa memiliki. Sesuka apapun si tukang pada merk motor dan mobil di sana, ia tetap sadar bahwa keduanya memang bukan miliknya.

Bila sore atau malam tiba, sang pemilik kendaraan pun datang. Si tukang parkir harus mengembalikan titipan kendaraan tersebut dengan hati yang lapang. Ia tidak marah atau sedih. Sebab ia sudah tahu sejak awal bahwa tugasnya hanya untuk menjaga kendaraan dalam batas waktu tertentu.

Kita pun seharusnya seperti itu. Dalam hal apapun. Tentang cinta, suami, istri, anak, harta, atau jabatan. Semua hanya titipan Tuhan. Dan Tuhan akan mengambil titipan itu kembali. Entah kapan. Semoga bila waktunya datang, kita sudah menyiapkan hati yang lapang untuk menerimanya dengan ikhlas.

Melakukannya tidak akan mudah. Namun, aku harap serapuh apapun nanti saat titipan tersebut diambil Tuhan, kita tetap memiliki prinsip yang kuat. Kita tidak boleh hilang arah. Ataupun merasa kehidupan telah selesai. Kita tidak boleh menyerah.

Bagi muslim, kala situasi begitu menyulitkan dan tak ada satu orang pun dapat membantu, jangan takut. Allah selalu membantu.

Kita pasti pernah merasakan hari-hari sulit dan kemudian merasakan manfaatnya setelah beberapa tahun kemudian, kan? Begitulah cara Allah. Cara Allah begitu luas dan baik sehingga terkadang kita tak mampu memahami dalam waktu cepat.

Kemampuan manusia yang terbatas, membuat kita kesulitan membaca banyak hikmah.

Kemampuan kita yang terbatas, sehingga hanya tahu segala hal yang diinginkan bukan apa-apa yang dibutuhkan.

Ingat, segala hal yang kita punya saat ini hanya titipan Allah. Cintai segala hal yang ada di hidup kita karena Allah. Sehingga, bila ketetapan-Nya datang, kita tak akan menolak dan terus meratap. Melainkan, bersedih sekadarnya dalam sebuah penerimaan. Karena kita yakin, tidak ada ketentuan terbaik selain takdir yang Allah berikan.

Menjemput Pemahaman Baru yang Menakjubkan

Setiap kita tentu memiliki tujuan yang ingin dicapai. Kita juga memiliki nilai yang selalu menjadi acuan. Tetapi, menuju tujuan dan menjalani nilai tidak semudah menuliskannya menjadi kata. Sebab kita, di dunia ini tidak hidup sendiri saja. Ada mereka di sekitar kita. Mereka yang memiliki tujuan dan nilai yang berbeda, namun harus tetap hidup bersama. Maka, menjadi manusia yang keras kepala dan tidak fleksibel akan menjadi malapetaka.

Seorang mahasiswa baru, bernama Tita memiliki semangat yang membara dan mental sekuat baja. Ia menyambut tugas dengan suka cita. Meskipun saat menjalaninya tidak melulu tentang suka, Tita akan berusaha sekuat tenaga. Namun, kehidupan kampus tidak semudah membalikkan telapak tangan. Ada saja hambatannya.

Ketika bekerja sama dengan kawan yang berbuat semaunya, misalnya. Yang tak juga mengirimkan bagian tinjauan pustaka saat diminta. Ah, membuat pusing kepala, bukan?

Tetapi inilah tantangannya. Bagaimana cara Tita mengajak kawan yang berbuat semaunya itu mau bekerja sama. Sebab, defisini berhasil bukanlah saat Tita mampu mendapat nilai A sempurna. Melainkan, bagaimana Tita menjadi bermanfaat untuk sesama.

Atau cerita tentang seorang karyawan baru yang tak akur dengan seniornya. Perihal ini bukan tentang kesalahan dalam bekerja. Melainkan hanya tentang dua orang manusia yang memiliki karakter berbeda. Si karyawan baru mendapat kritik subjektif yang tak enak didengar telinga. Sampai-sampai membuat hati si karyawan baru terluka.

Tetapi, hidup hanya menjadi sia-sia bila segala luka dibiarkan mengendap begitu saja. Maka, si karyawan baru berusaha mengubah pola pikirnya. Ia mencoba, bagaimana bila berusaha memahami seniornya.

Ia tidak memosisikan dirinya menjadi korban. Atau menjadikan sang senior sebagai sosok yang merisak. Ia berusaha menjadi orang dewasa. Katanya, orang dewasa adalah ia yang mampu bertanya tentang apa yang orang lain butuhkan. Maka, ia pun berusaha mencari tahu tentang apa yang senior butuhkan.

Keberhasilan bukan tentang mendapatkan kritik pedas atau bukan. Bagi karyawan baru itu, keberhasilan adalah ketika mampu memahami si senior. Dan menerima secara utuh tentang karakter baik dan buruk si senior itu. Sebab ia tahu, sebaik-baiknya kehidupan adalah ketika sesama manusia bisa berjalan beriringan dalam damai.

Api yang panas akan terus membesar bila kita tidak padamkan dengan kain basah. Es beku akan tetap membeku bila kita tidak memberikan waktu agar ia mencair.

Semua hanya tentang usaha kita dan waktu, kan? Semua hanya tentang kemauan kita untuk menunggu dengan sabar. Bahwa segala tujuan dan nilai yang kita anut tidak melulu berjalan beriringan. Tidak melulu berjalan sesuai tolak ukur yang kita tentukan. Terkadang kita perlu menunggu sebentar, untuk mendapatkan pemahaman baru yang menakjubkan. Hidup memang begini, kan?

Sejak Awal Kita Memang Berbeda

Kepada kamu. Bila nanti kita bertemu dan hidup di atap yang sama, jangan pernah menyesal telah memilih aku. Sebab, nanti, di atap yang sama, kamu akan benar-benar tahu siapa aku. Sudah siapkah kamu?

Semoga kita selalu mengingat tentang ini. Kita adalah dua orang yang berbeda. Aku perempuan dan kamu laki-laki. Allah yang telah memberikan takdir itu. Kita berasal dari orang tua dan keluarga yang berbeda. Kita tumbuh dan mendewasa pada lingkungan yang berbeda. Kita memang hidup pada kebiasaan yang berbeda. Kita adalah dua manusia yang memiliki karakter yang berbeda. Lantas, bila nanti kita menemukan banyak hal berbeda ketika tinggal bersama, haruskah kita menyesal, berputus asa, dan kemudian memilih menyerah? Semoga hal-hal itu tak pernah muncul di dalam benak kita.

Tahukah kamu? Sungguh, yang kita butuhkan bukanlah menjadi sama, melainkan kemampuan untuk saling memaafkan dan menerima.

Sedari awal, memiliki kemampuan menerima keadaan orang lain memang bukan hal mudah. Aku yakin kita sudah terbiasa menemukan hal yang benar-benar beda. Contohnya saja tentang aku dan adik perempuanku. Usia kami terpaut empat tahun. Saat kecil, masalah kami hanya seputar memperebutkan mainan atau rasa cemburu karena merasa ayah dan mama lebih sayang kepada salah satu kami. Ketika besar, masalah datang dari berbedanya karakter kami.

Aku yang terlalu perhatian selalu merasa terganggu dengan sifat adikku yang super cuek. Adikku yang super cuek selalu merasa terganggu dengan aku yang cerewet karena selalu mengingatkan dirinya. Aku yang tak senang diburu waktu saat mengerjakan tugas selalu terganggu dengan adikku yang senang mengerjakan apapun pada detik-detik terakhir. Pada awalnya semua perbedaan ini tidak menjadi masalah ketika kami berjalan pada jalan masing-masing. Namun ternyata, semua perbedaan menjadi masalah besar ketika kami harus bekerja sama.

Ketika ego memimpin segalanya, tentu saja kami kesulitan mendapatkan kesepakatan. Aku hanya melihat kesalahan-kesalahan yang adikku perbuat. Begitu juga dengan adikku. Kami hanya ingin dimengerti dan dipahami, tanpa introspeksi diri. Kami lupa tentang kesalahan diri sendiri. Pokoknya, kamu yang salah. Aku yang paling benar. Begitu, pikiran kami berkata.

Ketika ego mengendalikan keadaan, saling bungkam dalam waktu panjang bukan sebuah persoalan. Ketika ego menjadi acuan, saling menuntut tanpa mencari penyelesaian selalu menjadi pilihan. Benarkah keadaan seperti ini yang benar-benar kita mimpikan?

Lalu, bagaimana aku dan adikku akhirnya menemukan kesepakatan? Kami membutuhkan waktu untuk saling merenungkan. Merenungkan tentang kesalahan diri yang telah dilakukan. Merenungkan perkataan dan perbuatan diri yang menyakitkan. Setelah perenungan panjang, maka akan timbul kesadaran. Bahwa perbedaan hadir bukan untuk dipersoalkan. Melainkan untuk dipelajari bersama dan dicari jalan terbaik untuk keduanya. Jalan yang membuat kami merasa nyaman tanpa ada yang dikorbankan. Bukankah hal seperti ini yang disebut indahnya kebersamaan?

Aku dan adikku yang telah hidup kurang-lebih 20 tahun bersama terkadang masih sulit saling menerima, lalu, apa kabar dengan kita yang baru saja memulai hidup di atap yang sama? Aku tahu, hubungan adik-kakak dengan hubungan kita adalah dua hal berbeda. Namun, tentang perbedaan karakter dan kebiasaan di antara dua manusia bukankah tetap sama?

Kelak, mungkin aku akan banyak membuatmu bingung. Mungkin, aku akan banyak membuatmu lelah. Mungkin, aku akan banyak membuatmu kecewa. Jika kamu benar-benar tahu siapa aku, sangat mungkin aku akan menorehkan luka.

Namun aku meminta, bagaimana pun keadaanku nanti, jangan pernah berputus asa dan menyerah terhadapku. Sebab, tak ada Surga untukku tanpa ridhomu. Sebab ridho Allah, tergantung pada ridhomu. Maukah kamu memberi hati yang seluas langit untuk memaafkan segala khilafku? Maukah kamu memberi hati yang lapang untuk menerima aku dengan segala kurangku?

Semua Karena Gengsi

Jika kamu menyangka mengungkapkan perasaan akan membuat harga dirimu jatuh, hey, sepertinya kamu keliru. Apa yang akan terjadi pada hatimu, bila jujur pada diri sendiri saja kamu tak mampu?

Menurutku, jujur pada diri sendiri adalah ketika kita mampu mengungkapkan perasaan. Apapun perasaan itu, sedih maupun bahagia. Tanpa dipengaruhi oleh pandangan dan sikap orang lain terhadap diri ini. Sebab kita tahu, yang paling penting adalah ketenangan hati. Bukan ‘apa kata orang lain’ tentang kita. Bukan ‘sikap orang lain’ terhadap kita.

Baru saja aku membuka aplikasi KBBI di gawaiku. Aku menulis kata ‘gengsi’ di sana. Kamu tahu apa definisinya? Di sana tertulis bahwa gengsi adalah terlalu membanggakan ketinggiannya, kehormatan, harga diri, dan martabat. Setelah membaca definisi itu aku pun mengernyitkan dahi. Aku bingung. Bagaimana bisa seseorang menggadaikan kedamaian hatinya hanya untuk menjujunjung tinggi semua itu? Hatinya pasti sesak tiap kali menahan perasaannya.

Banyak sekali pepatah yang mengatakan bahwa jangan pernah bermimpi ‘mengerti’ orang lain sebelum kita mengerti diri sendiri. Dan jangan pernah bermimpi ‘mencintai’ orang lain sebelum kita mencintai diri sendiri. Lalu, apa hubungannya dengan si gengsi ini? Ada hubungannya. Bila kita terus menerus menahan diri untuk tidak jujur terhadap perasaan sendiri, bagaimana mungkin kita mampu mengerti dan memahami kejujuran perasaan orang lain?

Jujur pada diri sendiri memang seringkali menjadi ‘sasaran empuk’ orang-orang yang tidak berperasaan. Mereka menggunakan kejujuran kita untuk keuntungannya sendiri. Jujur pada perasaan sendiri juga seringkali menghadirkan banyak rasa kecewa. Rasa kecewa yang disebabkan oleh ‘reaksi’ yang diberikan orang lain terhadap aksi jujur kita. Reaksi yang menyakitkan hati. Meskipun begitu, ketenangan hati tetaplah utama. Yang menentukan bahagia atau tidak diri kita bukanlah akhir yang baik-baik saja. Melainkan, hati yang berbahagia. Hati kita berhak berbahagia, kan? Kita tidak akan bisa hidup dengan hati yang sesak selamanya.

Dalam hidup, hukum aksi-reaksi pastilah ada. Aksi yang baik tak melulu memberikan reaksi yang baik. Aksi yang buruk juga tidak melulu memberikan reaksi yang buruk. Hasil akhirnya pun tak ada yang tahu. Entah membuat hati luka atau berbunga. Semua kejadian memang hak prerogatif Allah. Maka, dalam bersikap pun kita seharusnya paham tentang itu.

Jujur pada perasaan memang tidak selalu memberikan hasil yang baik. Namun, satu hal yang pasti, jujur pada perasaan akan menyelamatkan diri sendiri. Menyelamatkan diri dari ketidaktenangan hati.

Apa Kamu Tahu Arti Berjuang?

Kalau kamu mendengar kata berjuang, tak perlulah kamu mengira berjuang itu hanya untuk hal-hal besar yang hasilnya pasti terlihat oleh mata. Tak perlu juga kamu merasa berjuang adalah hanya untuk orang-orang pemberani. Kegiatan berjuang itu sangat dekat dengan kita. Apakah kamu tahu definisi berjuang? Berjuang adalah berusaha sekuat tenaga terhadap sesuatu. Berjuang adalah berusaha penuh dengan kesukaran dan bahaya. Bagaimana? Bukankah kita sudah melakukan semua itu setiap hari? Iya, kita sudah berjuang. Dan kita lupa berterima kasih. Pada diri.

Ini adalah cerita tentang kamu yang tak ingin namanya disebutkan. Tulisan ini adalah tentang perjuangan yang sudah kamu lakukan. Mungkin kamu tidak menyadari usaha apa yang sudah dilakukan. Aku tahu. Aku akan mengingatkan.

Kenyataan yang Mengkhianati Harapan

Saat kali pertama mengetahui kenyataan itu, aku sudah melihat sebuah perjuangan di sana. Kamu telah berjuang. Kamu yang senang memendam semuanya sendiri dengan rela berbagi cerita. Kamu yang tahu betul, kamu tak akan bisa sendirian bila ada masalah besar datang. Kamu mendatangiku untuk sekadar menghabiskan malam lara bersama.

“Gue sebenarnya mau jalan kaki aja di luar sana. Tapi, gue tahu apa yang akan dilakukan di luar kalau keadaan lagi nggak beres gini. Gue sebenernya maunya sendirian aja di kamar. Tapi, rasa putus asa terlalu menguasai diri gue. Gue takut ngelakuin hal-hal mengerikan. Makanya, gue datengin elo. Lebih baik gue di sini aja sama lo.” ia bercerita sambil terisak.

Aku memilih diam mendengarkan. Biarkan ia luapkan kegelisahan dan rasa sedihnya melalui tangisan.

Ketika kenyataan begitu pahit. Kakimu terasa lemas dan tak sanggup berdiri. Hatimu begitu sakit seperti dihujam belati. Jantungmu berdegup kencang. Tanganmu bergetar. Dunia terasa samar. Kamu hanya melihat dirimu sendiri yang sedang terduduk dengan luka yang tak berdarah. Namun, kamu masih bisa duduk tenang, tidak berteriak, dan terus menangis. Kamu juga masih bisa berbagi duka denganku. Kamu tidak berduka sendirian. Saat itu, kamu telah berjuang.

Kehidupan Tidak Akan Menunggumu

Seperti biasa. Meskipun keadaan kamu belum begitu baik, kehidupan tetap berjalan. Setuju atau tidak, kamu tetap harus menjalani peranmu. Dalam keadaan terluka, kamu masih bisa menggunakan akal dengan baik. Kamu tahu, sulitnya keadaan tidak membuat kewajiban berhenti sejenak. Kewajiban tetaplah kewajiban. Yang harus dibayar dengan tanggung jawab.

Kamu menyambut pagi dengan senyuman. Kamu makan dengan lahap. Kamu menjalani aktivitas dengan suka cita. Orang-orang mungkin tertipu. Mereka menyangka kamu baik-baik saja. Sebenarnya tidak, masih ada luka yang masih basah di dalam dirimu. Kenyataan tidak seperti itu, lidahmu mati rasa. Semua rasa terasa hampa. Kamu tidak bisa merasakan semua rasa masakan itu dengan baik. Kamu tidak nafsu makan. Tetapi, tubuhmu memiliki hak untuk makan. Kamu sadar itu dan kamu tetap makan.

Ketika keadaan diri sedang tidak baik. Namun kamu sadar tentang peran, kewajiban, dan hak diri. Kamu pun tetap menjalani hari dengan baik. Saat itu, kamu telah berjuang.

***

Untuk kamu yang ingin identitasnya dirahasiakan. Kamu menunggu tulisanku ini, kan? Tulisan ini khusus untuk kamu. Kamu telah berjuang, sungguh. Peluk dirimu dengan pelukan yang paling hangat. Ucapkan terima kasih pada dirimu sendiri dengan ucapan yang paling tulus. Berikan tepukan bersahabat pada bahumu sebagai tepukan penyemangat. Dirimu sudah melakukan yang paling baik. Dirimu sudah berusaha sekuat tenaga menghadapi rasa sakit. Dirimu sudah berjuang 🙂 Kudoakan, semoga waktu segera menyembuhkan lukamu. Semoga Allah selalu menguatkanmu. Tetap kuat ya!