Definisi Bahagia

Sumber foto: http://www.timsr.ca

Definisi bahagia untukku adalah ketika mampu melakukan banyak kebaikan untuk diri sendiri dan juga orang lain. Dan berharap Allah meridainya.

Apa definisi bahagia untukmu?

Hal yang paling mudah memang melakukan semua hal demi diri sendiri. Kamu tidak perlu memikirkan orang lain. Kamu tidak perlu berlelah-lelah memposisikan diri menjadi orang lain. Dan kamu juga tidak perlu berkoordinasi dengan orang lain untuk kebaikan bersama.

Sebaliknya, hidup berdampingan dengan orang lain itu sulit. Kamu tidak boleh memutuskan sesuatu tanpa memikirkan keadaan orang lain. Kamu tidak boleh berbuat sesuai keinginanmu. Kamu harus mementingan kepentingan orang banyak dibanding kepentingan pribadi. Kamu juga harus memandang hal dengan luas dan menggunakan banyak kaca mata.

Kamu mau menjalani hidup yang seperti apa? Yang paling mudah atau yang paling sulit?

Aku harap kamu tidak memilih pilihan pertama. Sayang banget. Kita sama-sama tahu kalau masuk surga itu memang tidak mudah. Allah menyediakan surga untuk manusia yang membuktikannya. Dengan apa? Dengan syukur dan sabar. Supaya apa? Supaya jadi orang yang bertakwa. Sulit? Ya tidak, kalau kita cinta Allah semua akan terasa mudah. Kalau ada yang jatuh cinta sama kita aja, maunya dibuktiin, kan? Sama. Allah juga mau dibuktiin. Kita benar-benar cinta sama Allah atau tidak, nih.

Melakukan semua hal demi diri sendiri memang “terasa”nya mudah. Padahal, kalau mau memeriksa keadaan hati, hati kita tidak benar-benar bahagia. Coba periksa saja. Pasti kita tidak pernah menemukan kepuasan dan ketenangan hati. Akibat sikap egois ini, tingkat keegoisan kita akan semakin bertambah. Segala keinginan jadi harus dituruti. Semua harapan pun harus segera terealisasi. Kalau tidak, kita akan stres dan merasa jadi orang paling menderita di dunia. Pokoknya, yang sengsara hanya kita saja. Orang lain di luar sana hidupnya mudah dan baik-baik saja.

Padahal, di luar sana yang hidup sulit dan susah banyak banget, lho. Bukan kita aja. Mereka ingin hidup begini, eh Allah malah memberikan kehidupan yang begitu.

Suka lihat tidak orang-orang yang minta-minta di depan masjid saat kita salat eid? Kita hidup lebih baik dari mereka. Buktinya kita masih bisa makan ketupat lengkap dengan lauk pauknya, kan? Bahkan, kita masih mampu membeli baju lebaran. Kita jauh lebih beruntung dari mereka.

Atau seseorang yang memiliki banyak penyakit. Ia harus melakukan pengobatan di rumah sakit secara berkala. Entah untuk cuci darah, pemeriksaan laboratorium, pemeriksaan rutin ke dokter spesialis setiap bulan, atau melakukan fisioterapi setiap dua kali sehari. Hidupnya hampir selalu di rumah sakit. Ini kejadian nyata. Ada banyak pasienku memiliki jadwal padat di rumah sakit setiap harinya.

Jadi, kalau satu keinginan saja tidak terpenuhi mampu membuat kita menderita, kayaknya terlalu berlebihan. Mungkin, rasa syukur kita memang perlu diperiksa lagi :’)

Melakukan semua hal demi kebaikan bersama bukan berarti tidak memikirkan diri sendiri, lho. Kita berhak dan layak bahagia. Tetapi, jangan lupa. Apa yang kita lakukan akan berdampak pada sekitar. Entah lingkungan atau manusianya. Kebahagiaan kita tidak boleh menjadi sebab kesengsaraan bagi orang lain.

Bagaimana kita tahu kebahagiaan kita tidak akan menyengsarakan orang lain? Caranya, amati keadaan orang lain dan berpikir dengan banyak kaca mata. Serta sadari bahwa di dunia ini kita tidak hidup sendiri.

Kita bisa berpikir dan merasa. Seperti, memikirkan bagaimana keadaan orang lain atas pilihan yang diambil. Dan merasakan bagaimana perasaan orang lain atas keputusan yang dibuat. Lalu, kedua hal itu kita pastikan dengan bertanya apakah ia berkenan atas pilihan dan keputusan kita.

Lagi-lagi ribet, ya? Memang. Tetapi, hidup bersama memang seperti ini. Ada banyak sekali manfaatnya. Dua manfaat yang paling terasa adalah mencegah miskomunikasi dan terjalin hubungan yang baik. Dan ingat-ingat lagi tentang cara masuk ke surga. Surga tidak akan didapat dengan “cuma-cuma” tanpa perjuangan, kan?

Definisi bahagia setiap orang pasti beragam. Kita boleh membuat definisi apa pun. Namun, aku harap semoga kita mau menjadi bijaksana. Bijaksana memikirkan segala hal menjadi lebih luas. Seperti, untuk apa dan untuk siapa kita hidup di dunia. Di mana kah tujuan akhir kehidupan kita. Bagaimana membuat hati tenang. Dan bagaimana cara berbahagia bersama-sama.

Rasulullah manusia paling sempurna saja tidak egois. Rasulullah memikirkan dan membutuhkan kehadiran para sahabat untuk mendapatkan Rida-Nya, apalagi kita?

Advertisements

Sticky Notes adalah Tanda Kita Peka

Menulis catatan pada selembar kertas tiap kali memberikan hadiah kepada orang lain adalah satu kebiasaan yang sering aku lakukan. Dan sulit sekali bila harus ditinggalkan. Kalau tidak melakukannya, aku merasa tidak sepenuhnya menjadi “seorang Shinta”.

Media yang sering aku gunakan biasanya sticky notes yang warna warni.

Tidak hanya untuk sebuah hadiah acara spesial, dalam kegiatan sehari-hari pun begitu. Memberikan hadiah kecil sebuah susu kemasan di pagi hari untuk seorang kawan misalnya, harus ada sebuah sticky notes yang tertempel di atasnya. Apa isi tulisannya? Bebas saja. Kalau aku, biasanya memberikan sebuah ucapan selamat pagi dan beberapa kata penyemangat untuk mengawali hari.

Mengapa harus? Sebenarnya tidak harus. Namun, aku butuh melakukan itu. Berbagi kebaikan di pagi hari rasanya melegakan saja. Dan kita sama-sama tahu bahwa mendapat perhatian dari orang lain rasanya menyenangkan. Kalau kita sadari itu, mengapa tidak memulainya lebih dulu? Memberi energi positif kepada sekitar, akan berdampak pada diri sendiri, lho. Apalagi dalam hal berbagi. Sesuatu yang kita beri dengan tulus hati akan memberi ketenangan hati 🙂

Sticky notes juga bermanfaat untuk media permintaan maaf. Pernah suatu kali seseorang berbuat salah kepada kawannya, namun tak memiliki keberanian untuk meminta maaf secara langsung. Tahukah kamu apa yang ia lakukan? Ia membeli hadiah kecil lalu ia sematkan selembar sticky notes di atasnya. Sticky notes berisikan kalimat penyesalan. Setelah itu, ia pun berbaikan dengan kawannya.

Menurutku, keberanian dia menuliskan penyesalan dan permintaan maaf dalam sticky notes perlu diapresiasi. Sebab, ada lho kasus di mana dua orang yang “perang dingin” tak juga saling sapa hanya karena sebuah gengsi. Akhirnya, mereka tak juga bertukar sapa dalam waktu yang sangat lama. Mengerikan, kan? Jadi, sticky notes di sini berperan sebagai perantara awal saja. Langkah selanjutnya, mereka berbicara secara langsung membicarakan permasalahnya.

Ada beberapa orang masih menganggap tidak penting perihal pesan singkat dalam sticky notes ini. Menurutku sayang sekali. Setiap kita pasti memiliki perhatian dan keinginan yang ingin disampaikan kepada orang lain. Namun, karena satu dan lain hal akhirnya kita mengurungkan niat untuk menunjukkan pikiran dan perasaan itu. Akhirnya, siapa pun tidak bisa mengerti dan merasakan pikiran serta perasaan kita.

Lalu, dampak negatifnya apa? Dampaknya negatifnya banyak dan berbahaya. Kelak, kita akan menjadi apatis terhadap orang-orang di sekitar. Kita tidak peduli apakah mereka sedang berduka atau tidak. Kita juga tidak peduli apakah mereka baik-baik saja atau tidak. Akhirnya, terjalinkah lingkungan yang super individualis. Kita tidak mengenal arti simpati dan empati. Kita pun tidak mengenal makna seorang “kawan” dan “pertemanan”. Kita tidak memahami makna kebersamaan. Yang kita tahu hanya tentang diri sendiri saja. Hati kita pun menjadi tidak peka.

Ada banyak cara sederhana berbagi kebaikan. Menyematkan sebuah sticky notes pada sebuah hadiah hanya salah satunya. Dari sticky notes, si pengirim pesan singkat akan belajar jujur pada pikiran dan perasaannya. Si penerima pesan singkat akan berbahagia. Bahwa ternyata, ada banyak orang di sekitarnya mendoakan dan berharap kebaikan untuk kehidupannya. Hidup dengan cara yang sederhana ternyata indah, ya :’)

Bila Kita Tahu Semua Hanya Titipan

Sore tadi, rekan kerjaku menonton ceramah almarhum Ustadz Zainuddin MZ. Sambil mengerjakan tugas, aku pun turut mendengarkan ceramah tersebut. Materi yang dibicarakan ustadz sangat menarik. Masalah ini sering kita temui dalam kehidupan sehari-hari.

Beberapa hari yang lalu, mama bercerita bahwa kakaknya teman kecilku sakit jiwa. Aku sebut Daren saja ya supaya lebih mudah menyebutnya.

Daren memang sudah pindah sejak 15 tahun yang lalu. Sejak itu, kami tidak tahu kabar Daren dan keluarganya. Teknologi yang belum canggih membuat kami kesulitan komunikasi. Kami tidak saling memberi kabar.

Jadi, mamaku dapat informasi ini dari mantan pembantu rumah tangga Daren. Ia bercerita, semua berawal ketika Daren kehilangan motornya. Aku tidak tahu merk motornya apa. Tetapi, mama bilang ‘motor besar’. Mungkin sejenis motor ninja atau CBR.

Sejak kehilangan motor, Daren mengurung diri di kamar. Mungkin Daren belum menerima kenyataan bahwa motor yang ia beli dari tabungannya sendiri telah kandas. Entah bagaimana kehidupan Daren selama ini hingga karakternya bisa serapuh itu. Aku benar-benar sedih mendengar kabar Daren.

Ceramah Ustadz Zainuddin membahas perihal ini. Kata ustadz, seandainya saja setiap manusia tahu bahwa ia tidak memiliki apa-apa di dunia. Mereka tidak akan sombong. Seandainya saja manusia tahu bahwa apa-apa yang dianggap milik adalah hanya sebuah titipan. Mereka akan sadar diri.

Ada banyak kasus-kasus Daren lainnya. Ketika dua orang saling jatuh cinta dan bergantung. Keduanya merasa saling memiliki. Sehingga saat salah satu berkhianat, seringkali pihak yang dikhianati akan begitu patah dan rapuh. Kalau tidak kuat iman dan mental, bisa-bisa yang dikhianati itu tidak akan sanggup menjalani hidup lagi. Ia merasa hidupnya telah berakhir. Sama seperti kisah cintanya yang telah berakhir.

Atau tentang calon anggota legislatif yang berharap menjadi anggota DPRD, DPD atau DPR. Ketika hasil perhitungan selesai, ternyata skor miliknya tidak mencapai batas minimal. Akhirnya ia pun gagal terpilih menjadi anggota legislatif. Lalu, berikutnya apa yang terjadi? Ia tidak mampu menerima kenyataan. Pikirnya, bagaimana bisa ia gagal terpilih. Padahal ia sudah mengeluarkan banyak dana dan tenaga. Padahal ia sebegitu yakinnya atas pemilihan umum ini. Calon legislatif pun akhirnya masuk rumah sakit jiwa.

Kita seringkali lupa. Menggantungkan mimpi dan harapan setinggi-tingginya, namun tidak menyertakan faktor Tuhan di dalamnya.

Semua yang kita punya dan rasakan di dunia, sungguh hanya sebuah titipan. Yang kelak bila sudah tiba waktunya, sang penitip akan mengambil kembali apa-apa yang dititipkannya.

Ustadz Zainuddin Mz memberikan analogi perihal titipan ini dengan tukang parkir. Katanya, kita perlu belajar dari cara kerja tukang parkir.

Si tukang memiliki lahan yang begitu luas. Sedari awal ia sudah tahu bahwa lahannya akan digunakan sebagai tempat penitipan mobil dan motor orang lain. Ia tahu tugasnya adalah hanya untuk menjaga motor dan mobil yang telah dititipkan. Bila sudah waktunya, entah sore atau malam, si penitip akan mengambil kendaraannya kembali.

Si tukang parkir juga memahami bahwa ia hanya boleh menjaga kendaraan dengan baik tanpa merasa memiliki. Sesuka apapun si tukang pada merk motor dan mobil di sana, ia tetap sadar bahwa keduanya memang bukan miliknya.

Bila sore atau malam tiba, sang pemilik kendaraan pun datang. Si tukang parkir harus mengembalikan titipan kendaraan tersebut dengan hati yang lapang. Ia tidak marah atau sedih. Sebab ia sudah tahu sejak awal bahwa tugasnya hanya untuk menjaga kendaraan dalam batas waktu tertentu.

Kita pun seharusnya seperti itu. Dalam hal apapun. Tentang cinta, suami, istri, anak, harta, atau jabatan. Semua hanya titipan Tuhan. Dan Tuhan akan mengambil titipan itu kembali. Entah kapan. Semoga bila waktunya datang, kita sudah menyiapkan hati yang lapang untuk menerimanya dengan ikhlas.

Melakukannya tidak akan mudah. Namun, aku harap serapuh apapun nanti saat titipan tersebut diambil Tuhan, kita tetap memiliki prinsip yang kuat. Kita tidak boleh hilang arah. Ataupun merasa kehidupan telah selesai. Kita tidak boleh menyerah.

Bagi muslim, kala situasi begitu menyulitkan dan tak ada satu orang pun dapat membantu, jangan takut. Allah selalu membantu.

Kita pasti pernah merasakan hari-hari sulit dan kemudian merasakan manfaatnya setelah beberapa tahun kemudian, kan? Begitulah cara Allah. Cara Allah begitu luas dan baik sehingga terkadang kita tak mampu memahami dalam waktu cepat.

Kemampuan manusia yang terbatas, membuat kita kesulitan membaca banyak hikmah.

Kemampuan kita yang terbatas, sehingga hanya tahu segala hal yang diinginkan bukan apa-apa yang dibutuhkan.

Ingat, segala hal yang kita punya saat ini hanya titipan Allah. Cintai segala hal yang ada di hidup kita karena Allah. Sehingga, bila ketetapan-Nya datang, kita tak akan menolak dan terus meratap. Melainkan, bersedih sekadarnya dalam sebuah penerimaan. Karena kita yakin, tidak ada ketentuan terbaik selain takdir yang Allah berikan.

Menjemput Pemahaman Baru yang Menakjubkan

Setiap kita tentu memiliki tujuan yang ingin dicapai. Kita juga memiliki nilai yang selalu menjadi acuan. Tetapi, menuju tujuan dan menjalani nilai tidak semudah menuliskannya menjadi kata. Sebab kita, di dunia ini tidak hidup sendiri saja. Ada mereka di sekitar kita. Mereka yang memiliki tujuan dan nilai yang berbeda, namun harus tetap hidup bersama. Maka, menjadi manusia yang keras kepala dan tidak fleksibel akan menjadi malapetaka.

Seorang mahasiswa baru, bernama Tita memiliki semangat yang membara dan mental sekuat baja. Ia menyambut tugas dengan suka cita. Meskipun saat menjalaninya tidak melulu tentang suka, Tita akan berusaha sekuat tenaga. Namun, kehidupan kampus tidak semudah membalikkan telapak tangan. Ada saja hambatannya.

Ketika bekerja sama dengan kawan yang berbuat semaunya, misalnya. Yang tak juga mengirimkan bagian tinjauan pustaka saat diminta. Ah, membuat pusing kepala, bukan?

Tetapi inilah tantangannya. Bagaimana cara Tita mengajak kawan yang berbuat semaunya itu mau bekerja sama. Sebab, defisini berhasil bukanlah saat Tita mampu mendapat nilai A sempurna. Melainkan, bagaimana Tita menjadi bermanfaat untuk sesama.

Atau cerita tentang seorang karyawan baru yang tak akur dengan seniornya. Perihal ini bukan tentang kesalahan dalam bekerja. Melainkan hanya tentang dua orang manusia yang memiliki karakter berbeda. Si karyawan baru mendapat kritik subjektif yang tak enak didengar telinga. Sampai-sampai membuat hati si karyawan baru terluka.

Tetapi, hidup hanya menjadi sia-sia bila segala luka dibiarkan mengendap begitu saja. Maka, si karyawan baru berusaha mengubah pola pikirnya. Ia mencoba, bagaimana bila berusaha memahami seniornya.

Ia tidak memosisikan dirinya menjadi korban. Atau menjadikan sang senior sebagai sosok yang merisak. Ia berusaha menjadi orang dewasa. Katanya, orang dewasa adalah ia yang mampu bertanya tentang apa yang orang lain butuhkan. Maka, ia pun berusaha mencari tahu tentang apa yang senior butuhkan.

Keberhasilan bukan tentang mendapatkan kritik pedas atau bukan. Bagi karyawan baru itu, keberhasilan adalah ketika mampu memahami si senior. Dan menerima secara utuh tentang karakter baik dan buruk si senior itu. Sebab ia tahu, sebaik-baiknya kehidupan adalah ketika sesama manusia bisa berjalan beriringan dalam damai.

Api yang panas akan terus membesar bila kita tidak padamkan dengan kain basah. Es beku akan tetap membeku bila kita tidak memberikan waktu agar ia mencair.

Semua hanya tentang usaha kita dan waktu, kan? Semua hanya tentang kemauan kita untuk menunggu dengan sabar. Bahwa segala tujuan dan nilai yang kita anut tidak melulu berjalan beriringan. Tidak melulu berjalan sesuai tolak ukur yang kita tentukan. Terkadang kita perlu menunggu sebentar, untuk mendapatkan pemahaman baru yang menakjubkan. Hidup memang begini, kan?

Sejak Awal Kita Memang Berbeda

Kepada kamu. Bila nanti kita bertemu dan hidup di atap yang sama, jangan pernah menyesal telah memilih aku. Sebab, nanti, di atap yang sama, kamu akan benar-benar tahu siapa aku. Sudah siapkah kamu?

Semoga kita selalu mengingat tentang ini. Kita adalah dua orang yang berbeda. Aku perempuan dan kamu laki-laki. Allah yang telah memberikan takdir itu. Kita berasal dari orang tua dan keluarga yang berbeda. Kita tumbuh dan mendewasa pada lingkungan yang berbeda. Kita memang hidup pada kebiasaan yang berbeda. Kita adalah dua manusia yang memiliki karakter yang berbeda. Lantas, bila nanti kita menemukan banyak hal berbeda ketika tinggal bersama, haruskah kita menyesal, berputus asa, dan kemudian memilih menyerah? Semoga hal-hal itu tak pernah muncul di dalam benak kita.

Tahukah kamu? Sungguh, yang kita butuhkan bukanlah menjadi sama, melainkan kemampuan untuk saling memaafkan dan menerima.

Sedari awal, memiliki kemampuan menerima keadaan orang lain memang bukan hal mudah. Aku yakin kita sudah terbiasa menemukan hal yang benar-benar beda. Contohnya saja tentang aku dan adik perempuanku. Usia kami terpaut empat tahun. Saat kecil, masalah kami hanya seputar memperebutkan mainan atau rasa cemburu karena merasa ayah dan mama lebih sayang kepada salah satu kami. Ketika besar, masalah datang dari berbedanya karakter kami.

Aku yang terlalu perhatian selalu merasa terganggu dengan sifat adikku yang super cuek. Adikku yang super cuek selalu merasa terganggu dengan aku yang cerewet karena selalu mengingatkan dirinya. Aku yang tak senang diburu waktu saat mengerjakan tugas selalu terganggu dengan adikku yang senang mengerjakan apapun pada detik-detik terakhir. Pada awalnya semua perbedaan ini tidak menjadi masalah ketika kami berjalan pada jalan masing-masing. Namun ternyata, semua perbedaan menjadi masalah besar ketika kami harus bekerja sama.

Ketika ego memimpin segalanya, tentu saja kami kesulitan mendapatkan kesepakatan. Aku hanya melihat kesalahan-kesalahan yang adikku perbuat. Begitu juga dengan adikku. Kami hanya ingin dimengerti dan dipahami, tanpa introspeksi diri. Kami lupa tentang kesalahan diri sendiri. Pokoknya, kamu yang salah. Aku yang paling benar. Begitu, pikiran kami berkata.

Ketika ego mengendalikan keadaan, saling bungkam dalam waktu panjang bukan sebuah persoalan. Ketika ego menjadi acuan, saling menuntut tanpa mencari penyelesaian selalu menjadi pilihan. Benarkah keadaan seperti ini yang benar-benar kita mimpikan?

Lalu, bagaimana aku dan adikku akhirnya menemukan kesepakatan? Kami membutuhkan waktu untuk saling merenungkan. Merenungkan tentang kesalahan diri yang telah dilakukan. Merenungkan perkataan dan perbuatan diri yang menyakitkan. Setelah perenungan panjang, maka akan timbul kesadaran. Bahwa perbedaan hadir bukan untuk dipersoalkan. Melainkan untuk dipelajari bersama dan dicari jalan terbaik untuk keduanya. Jalan yang membuat kami merasa nyaman tanpa ada yang dikorbankan. Bukankah hal seperti ini yang disebut indahnya kebersamaan?

Aku dan adikku yang telah hidup kurang-lebih 20 tahun bersama terkadang masih sulit saling menerima, lalu, apa kabar dengan kita yang baru saja memulai hidup di atap yang sama? Aku tahu, hubungan adik-kakak dengan hubungan kita adalah dua hal berbeda. Namun, tentang perbedaan karakter dan kebiasaan di antara dua manusia bukankah tetap sama?

Kelak, mungkin aku akan banyak membuatmu bingung. Mungkin, aku akan banyak membuatmu lelah. Mungkin, aku akan banyak membuatmu kecewa. Jika kamu benar-benar tahu siapa aku, sangat mungkin aku akan menorehkan luka.

Namun aku meminta, bagaimana pun keadaanku nanti, jangan pernah berputus asa dan menyerah terhadapku. Sebab, tak ada Surga untukku tanpa ridhomu. Sebab ridho Allah, tergantung pada ridhomu. Maukah kamu memberi hati yang seluas langit untuk memaafkan segala khilafku? Maukah kamu memberi hati yang lapang untuk menerima aku dengan segala kurangku?

Semua Karena Gengsi

Jika kamu menyangka mengungkapkan perasaan akan membuat harga dirimu jatuh, hey, sepertinya kamu keliru. Apa yang akan terjadi pada hatimu, bila jujur pada diri sendiri saja kamu tak mampu?

Menurutku, jujur pada diri sendiri adalah ketika kita mampu mengungkapkan perasaan. Apapun perasaan itu, sedih maupun bahagia. Tanpa dipengaruhi oleh pandangan dan sikap orang lain terhadap diri ini. Sebab kita tahu, yang paling penting adalah ketenangan hati. Bukan ‘apa kata orang lain’ tentang kita. Bukan ‘sikap orang lain’ terhadap kita.

Baru saja aku membuka aplikasi KBBI di gawaiku. Aku menulis kata ‘gengsi’ di sana. Kamu tahu apa definisinya? Di sana tertulis bahwa gengsi adalah terlalu membanggakan ketinggiannya, kehormatan, harga diri, dan martabat. Setelah membaca definisi itu aku pun mengernyitkan dahi. Aku bingung. Bagaimana bisa seseorang menggadaikan kedamaian hatinya hanya untuk menjujunjung tinggi semua itu? Hatinya pasti sesak tiap kali menahan perasaannya.

Banyak sekali pepatah yang mengatakan bahwa jangan pernah bermimpi ‘mengerti’ orang lain sebelum kita mengerti diri sendiri. Dan jangan pernah bermimpi ‘mencintai’ orang lain sebelum kita mencintai diri sendiri. Lalu, apa hubungannya dengan si gengsi ini? Ada hubungannya. Bila kita terus menerus menahan diri untuk tidak jujur terhadap perasaan sendiri, bagaimana mungkin kita mampu mengerti dan memahami kejujuran perasaan orang lain?

Jujur pada diri sendiri memang seringkali menjadi ‘sasaran empuk’ orang-orang yang tidak berperasaan. Mereka menggunakan kejujuran kita untuk keuntungannya sendiri. Jujur pada perasaan sendiri juga seringkali menghadirkan banyak rasa kecewa. Rasa kecewa yang disebabkan oleh ‘reaksi’ yang diberikan orang lain terhadap aksi jujur kita. Reaksi yang menyakitkan hati. Meskipun begitu, ketenangan hati tetaplah utama. Yang menentukan bahagia atau tidak diri kita bukanlah akhir yang baik-baik saja. Melainkan, hati yang berbahagia. Hati kita berhak berbahagia, kan? Kita tidak akan bisa hidup dengan hati yang sesak selamanya.

Dalam hidup, hukum aksi-reaksi pastilah ada. Aksi yang baik tak melulu memberikan reaksi yang baik. Aksi yang buruk juga tidak melulu memberikan reaksi yang buruk. Hasil akhirnya pun tak ada yang tahu. Entah membuat hati luka atau berbunga. Semua kejadian memang hak prerogatif Allah. Maka, dalam bersikap pun kita seharusnya paham tentang itu.

Jujur pada perasaan memang tidak selalu memberikan hasil yang baik. Namun, satu hal yang pasti, jujur pada perasaan akan menyelamatkan diri sendiri. Menyelamatkan diri dari ketidaktenangan hati.

Apa Kamu Tahu Arti Berjuang?

Kalau kamu mendengar kata berjuang, tak perlulah kamu mengira berjuang itu hanya untuk hal-hal besar yang hasilnya pasti terlihat oleh mata. Tak perlu juga kamu merasa berjuang adalah hanya untuk orang-orang pemberani. Kegiatan berjuang itu sangat dekat dengan kita. Apakah kamu tahu definisi berjuang? Berjuang adalah berusaha sekuat tenaga terhadap sesuatu. Berjuang adalah berusaha penuh dengan kesukaran dan bahaya. Bagaimana? Bukankah kita sudah melakukan semua itu setiap hari? Iya, kita sudah berjuang. Dan kita lupa berterima kasih. Pada diri.

Ini adalah cerita tentang kamu yang tak ingin namanya disebutkan. Tulisan ini adalah tentang perjuangan yang sudah kamu lakukan. Mungkin kamu tidak menyadari usaha apa yang sudah dilakukan. Aku tahu. Aku akan mengingatkan.

Kenyataan yang Mengkhianati Harapan

Saat kali pertama mengetahui kenyataan itu, aku sudah melihat sebuah perjuangan di sana. Kamu telah berjuang. Kamu yang senang memendam semuanya sendiri dengan rela berbagi cerita. Kamu yang tahu betul, kamu tak akan bisa sendirian bila ada masalah besar datang. Kamu mendatangiku untuk sekadar menghabiskan malam lara bersama.

“Gue sebenarnya mau jalan kaki aja di luar sana. Tapi, gue tahu apa yang akan dilakukan di luar kalau keadaan lagi nggak beres gini. Gue sebenernya maunya sendirian aja di kamar. Tapi, rasa putus asa terlalu menguasai diri gue. Gue takut ngelakuin hal-hal mengerikan. Makanya, gue datengin elo. Lebih baik gue di sini aja sama lo.” ia bercerita sambil terisak.

Aku memilih diam mendengarkan. Biarkan ia luapkan kegelisahan dan rasa sedihnya melalui tangisan.

Ketika kenyataan begitu pahit. Kakimu terasa lemas dan tak sanggup berdiri. Hatimu begitu sakit seperti dihujam belati. Jantungmu berdegup kencang. Tanganmu bergetar. Dunia terasa samar. Kamu hanya melihat dirimu sendiri yang sedang terduduk dengan luka yang tak berdarah. Namun, kamu masih bisa duduk tenang, tidak berteriak, dan terus menangis. Kamu juga masih bisa berbagi duka denganku. Kamu tidak berduka sendirian. Saat itu, kamu telah berjuang.

Kehidupan Tidak Akan Menunggumu

Seperti biasa. Meskipun keadaan kamu belum begitu baik, kehidupan tetap berjalan. Setuju atau tidak, kamu tetap harus menjalani peranmu. Dalam keadaan terluka, kamu masih bisa menggunakan akal dengan baik. Kamu tahu, sulitnya keadaan tidak membuat kewajiban berhenti sejenak. Kewajiban tetaplah kewajiban. Yang harus dibayar dengan tanggung jawab.

Kamu menyambut pagi dengan senyuman. Kamu makan dengan lahap. Kamu menjalani aktivitas dengan suka cita. Orang-orang mungkin tertipu. Mereka menyangka kamu baik-baik saja. Sebenarnya tidak, masih ada luka yang masih basah di dalam dirimu. Kenyataan tidak seperti itu, lidahmu mati rasa. Semua rasa terasa hampa. Kamu tidak bisa merasakan semua rasa masakan itu dengan baik. Kamu tidak nafsu makan. Tetapi, tubuhmu memiliki hak untuk makan. Kamu sadar itu dan kamu tetap makan.

Ketika keadaan diri sedang tidak baik. Namun kamu sadar tentang peran, kewajiban, dan hak diri. Kamu pun tetap menjalani hari dengan baik. Saat itu, kamu telah berjuang.

***

Untuk kamu yang ingin identitasnya dirahasiakan. Kamu menunggu tulisanku ini, kan? Tulisan ini khusus untuk kamu. Kamu telah berjuang, sungguh. Peluk dirimu dengan pelukan yang paling hangat. Ucapkan terima kasih pada dirimu sendiri dengan ucapan yang paling tulus. Berikan tepukan bersahabat pada bahumu sebagai tepukan penyemangat. Dirimu sudah melakukan yang paling baik. Dirimu sudah berusaha sekuat tenaga menghadapi rasa sakit. Dirimu sudah berjuang 🙂 Kudoakan, semoga waktu segera menyembuhkan lukamu. Semoga Allah selalu menguatkanmu. Tetap kuat ya!

Merasakan Kesulitan

Aku tidak bisa membayangkan bagaimana kehidupan manusia bila tidak mengenal kesulitan. Sepertinya, hidup akan menjadi tidak karuan. Kita tidak akan tahu makna perjuangan. Lho, bukannya malah enak hidup selalu mudah-mudah saja? Menurutku, tidak enak.

Ini tentang kebiasaan makanku di rumah. Semua orang tua tentu ingin kehidupan anaknya mudah. Begitu juga dengan orang tuaku. Di rumah, kami tidak terbiasa makan ikan. Protein hewani yang biasa kami konsumsi adalah ayam. Alasannya, dulu saat kami kecil, mama takut anaknya menelan tulang ikan. Bagi mama, mungkin daging dan tulang ayam cukup aman dikonsumsi anak-anak.

Menurut cerita, mama kesulitan memilah antara tulang dan daging ikan. Ternyata, Shinta kecil pernah menelan tulang ikan. Aku tak berhenti menangis karena tulang tersangkut dalam tenggorokan. Sakit rasanya. Karena pengalaman itu, aku dan adik-adik tak diizinkan lagi makan ikan. Alhasil, aku tumbuh menjadi perempuan yang tidak begitu suka ikan.

Aku tidak mengira, ternyata kebiasaan itu menyulitkan saat tinggal jauh dari rumah. Aku pernah tinggal di kosan dengan gaji di bawah upah minimum. Masa-masa itu adalah masa perjuangan. Aku harus mengatur kehidupan sehari-hari sesuai dengan pemasukan. Uang kuliah memang dijamin oleh ayah. Namun, untuk biaya hidup, rasanya malu sekali bila harus bergantung kepada orang tua. Maka, aku mencoba membiayai hidup sendiri. Meskipun pada kenyataannya, pada akhir bulan seringkali masih meminta kepada ayah. Malu memang, namun saat itu tak ada pilihan lain. Aku harus menyesuaikan hidup dengan keadaan.

Mengubah kebiasaan yang sudah dilakukan sedari kecil tidak semudah membalikkan telapak tangan. Aku yang tidak terbiasa makan ikan pun harus memakan ikan demi bertahan hidup (wkwkwk berlebihan ya. Tapi ini serius 😝)

Kantorku memberikan makan siang. Sebenarnya, setiap hari lauknya bervariasi. Ada ayam, telor, dan ikan. Perjuanganku dimulai saat mendapat menu ikan. Apalagi ikannya diberi kuah (aku kurang suka lauk yang lembek dan tidak matang sempurna) Sudah pasti berat rasanya memakan ikan itu. Aku sangat kesulitan. Shinta besar tidak lagi takut makan ikan karena tulangnya. Kali ini, alasan tidak menyukainya adalah karena memang tidak terbiasa. Aneh saja memakan ikan.

Namun, perasaan tidak suka itu harus dikalahkan. Dulu, aku berpikir begini, menjadi pemilih makanan akan menyulitkan kehidupanku di kosan. Menolak memakan ikan, artinya aku harus membeli makan di luar, membeli makan di luar artinya akan menambah pengeluaran, jika aku terlalu pemborosan, maka gajiku tidak akan cukup selama satu bulan, kalau tidak akan cukup satu bulan, lagi-lagi aku harus meminta uang kepada ayah. Melalui pemikiran panjang, aku pun mencoba memakan ikan. Bersyukurlah wahai anak kosan, ternyata hidup mandiri dapat membuat kita belajar mengatur diri pada setiap situasi.

Sebenarnya tidak hanya tentang ikan. Mendapat jatah makan siang juga mengajariku agar tidak menghina makanan. Apapun makanannya, nikmati saja. Bila tidak cocok dengan cita rasa, selalu ada pilihan untuk memberi makanan tersebut pada sesama. Atau tinggalkan saja makanan tersebut di wadah. Memasak tidak mudah. Prosesnya cukup panjang. Butuh niat, waktu, dan tenaga dalam melakukannya. Mengetahui hal itu, mana mungkin aku sanggup menghina makanan?

Pengalaman sulit finansial memberikan banyak pelajaran. Shinta besar tak lagi takut tulang ikan, ataupun merasa aneh dengan ikan. Sebab, Shinta menyadari, makanan adalah satu dari banyak rezeki yang Allah berikan. Banyak saudara kita yang kesulitan mendapat makanan. Bukankah respon terbaik adalah rasa syukur yang terus terapalkan?

Kesulitan membuat manusia berjuang dan bertahan pada kehidupan. Kesulitan membuat manusia lebih menghargai segala kemudahan. Kesulitan juga meningkatkan kemampuan setiap insan. Meskipun tak mudah menghadapinya, bukankah setiap manusia perlu merasakan kesulitan?

Aktivitas yang Berarti

Dia yang sedang memandang langit berbintang sendirian, mampu membuat hatinya yang dirundung duka menjadi lebih tenang. Karena, ketika memandang langit berbintang, dia mengingat kuasa-Nya. Membuat langit yang indah saja Allah bisa. Apalagi masalah dirinya?

Orang lain yang tidak mengerti, mungkin merasa aneh mengapa dia menatap langit begitu lama. Bagi orang lain, menatap langit tidak memiliki makna apa-apa. Namun, bagi dia, menatap langit begitu bermakna.

***

Menelusuri jalan setapak tanpa mengamati sekitar, tidak akan memberi makna apa-apa. Sebab, yang kita tahu, kita hanya berjalan kaki biasa saja. Jalan kaki yang dapat membuat kaki pegal dan badan lelah.

Sekali-kali, coba niatkan, kita berjalan kaki tidak hanya untuk menuju tempat yang dituju. Cobalah berjalan kaki tanpa buru-buru. Cobalah berjalan kaki untuk mengamati. Sayang sekali bila kita melewatkan momen berjalan kaki begitu saja. Padahal, ada banyak hal bisa kita amati dan pelajari.

Aku melihat dua perempuan sedang duduk di pinggir danau. Aku perkirakan, usianya sekitar 19-20 tahun. Mereka sedang bercengkrama dan tertawa sambil menatap kamera gawai. Kameranya memang sengaja di pasang tepat di depan mereka. Aku tidak tahu pasti untuk apa mereka melakukannya. Namun, kutahu mereka benar-benar menikmati siang tadi. Aktivitas sederhana yang mudah dilakukan di mana saja, ternyata mampu membuat keduanya begitu bahagia.

Aku melihat laki-laki dan perempuan sedang duduk sambil bercerita. Mereka memakan es krim yang sedari tadi sudah siap ditangannya. Sesekali saling menatap dan kemudian menunduk malu. Aku tak tahu mereka sepasang kekasih atau bukan. Yang kutahu, mereka adalah dua manusia yang sedang jatuh cinta. Mungkinkah aku sok tahu? Ah sepertinya tidak. Bukankah dua tatap mata saling cinta akan terlihat meski tidak diungkapkan lewat kata?

Aku melihat seorang perempuan sedang duduk sambil memegang nasi bungkus di tangan kirinya. Ia menatap danau sambil menyuap sesendok nasi dan mengunyah dengan perlahan. Aku tersenyum melihatnya. Danau dan situasi yang tenang kurasa teman yang tepat untuk mengisi perut lapar.

Aku duduk di samping rerumputan sambil mengamati sekitar. Dan ditemani beberapa potong buah nanas yang sengaja kubeli di jalan tadi. Memakan buah di siang yang terik ini ternyata membahagiakan. Entah apa yang orang lain pikirkan tentangku, biar saja. Kupikir, setiap orang bebas melihat, memikirkan, dan mengira apa yang orang lain lakukan.

Di sini, kami tidak saling mengenal. Kami juga tidak tahu apa yang orang lain pikirkan. Kami hanya dapat saling mengamati dan menerka. Kemudian menyadari, ternyata setiap orang selalu memiliki cara tertentu untuk menggunakan dan menikmati waktu.

***

Setiap kita, bebas menggunakan waktu 24 jam setiap hari. Semoga 24 jam itu bisa kita gunakan dengan sebaik-baiknya.

Setiap orang juga bebas memilih aktivitas apa yang paling cocok dengan dirinya. Maka, nikmati dan syukuri waktu kita. Lalu, hargai waktu orang lain.

Biarlah setiap manusia menikmati dan berbahagia dengan aktivitas yang paling disukai. Contohnya, seperti dia yang senang menatap langit pada kalimat pembuka tulisan ini. Bukankah setiap orang memiliki aktivitas yang berarti?

Tiga Buah Nasihat

Nasihat tentang Memilih Calon Suami

“Kamu kalau memilih calon suami harus dapat rida orang tua, ya. Kalau orang tuamu tidak setuju, kamu harus nurut. Tinggalkan dia, pilih yang lain. Meskipun pada akhirnya kamu berhasil membujuk orang tuamu dan mereka menyetujui pernikahanmu, tetap saja tentang hati tidak ada yang tahu. Sangat mungkin, hati orang tuamu belum ikhlas menerima calonmu itu.” Ibu Siti memberi nasihat dengan kalimat yang menenangkan.

“Orang tua itu, punya insting Shin tentang memilih menantu. Mereka tahu laki-laki yang kamu bawa itu baik atau tidak untuk putrinya. Kamu jangan keras kepala, ya. Mereka itu sudah melewati banyak asam manis kehidupan. Jadi, mereka akan tahu bagaimana karakter si calon menantu bahkan dari kali pertama bertemu.” Ibu Siti melanjutkan nasihatnya.

Aku tidak memberikan tanggapan. Aku hanya menyimak saja.

“Rida Allah itu rida orang tua, kan? Maka, rida tersebut menentukan sekali bagaimana kehidupan rumah tanggamu nanti. Nurut aja ya sama orang tuamu. Percayalah, mereka tidak akan menyesatkanmu. Mereka selalu ingin Allah memberkahi kehidupan rumah tanggamu.”

Nasihat tentang Menghabiskan Ego

“Puas-puasin masa mudamu, Shin. Lakukan semua kegiatan positif yang kamu ingin sebelum menikah. Mau jalan-jalan, silakan. Mau beli buku yang banyak, silakan. Mau beli barang ini itu, silakan. Mau kulineran, silakan. Kamu tahu mengapa harus melakukan itu? Jika sudah berumah tangga nanti, tidak ada tentang kamu saja. Tidak ada tentang suamimu saja. Yang ada adalah tentang keluarga. Bagaimana meraih kebahagiaan keluarga di dunia dan akhirat. Intinya, kamu harus mendahulukan kepentingan keluarga dibandingkan kepentingan dirimu sendiri.” Ibu Siti berbicara sambil menatapku hangat.

Nasihat tentang Anak

“Kamu tahu? Tiap kali mengantar si mas ke pesantren, aku selalu menangis setiap perjalanan pulang. Aku selalu menahan diri untuk tidak menangis di depan si sulung. Jangan sampai mas melihat ibunya pergi dalam keadaan sedih. Setiap ibu tak akan tega membiarkan anak tinggal jauh dari rumah, Shin. Tapi, bila aku selalu berpikir seperti itu, artinya aku hanya memikirkan kebutuhanku sendiri. Iya benar aku egois, aku butuh anakku di dekatku selalu.” kali ini berbeda. Ibu Siti bercerita sambil menahan kesedihan. Aku tahu ia rindu si anak sulungnya yang saat itu sedang di pesantren.

“Si mas butuh belajar di Pesantren, Shin. Mas itu laki-laki. Kelak ia akan memimpin istri dan anak-anaknya. Ilmu agama selalu utama, Shin. Dengan ilmu itu, mas akan mencintai Allah. Bila ia mencintai Allah, ia akan menjaga perilakunya agar tetap dicintai Allah. Bekal itu penting untuk calon imam, Shin. Berbeda dengan anakku yang perempuan. Aku tidak akan mewajibkan dia belajar di pesantren. Biarlah ia di rumah saja. Biar aku sendiri yang mengajarkan ia belajar agama dan belajar memasak.” lanjutnya.

Aku terharu sekaligus bahagia mendengar nasihat Ibu Siti. Semoga ibu selalu dikuatkan dan dimudahkan Allah dalam mendidik anak-anaknya, aku berdoa dalam hati.

“Setelah belajar di Pesantren, Si Sulung mengajarkan aku banyak hal, Shin. Aku pernah menawarkan baju baru untuk lebaran kepadanya. Kamu tahu jawaban apa yang ia berikan? Ia mengatakan, tak perlu. Baju yang ia miliki saat ini masih sangat layak untuk dipakai. Ia belum membutuhkan baju baru. Ia bilang, hidup sederhana itu menenangkan hatinya. Anak kelas satu SMP mengatakan hal seperti itu kepadaku, Shin. Bagaimana mungkin aku tidak malu sekaligus terharu?” Ibu Siti berbagi pengalaman kepadaku. Ada ketenangan terlihat dari sorot mata. Melihatnya, aku pun turut merasa tenang.

***

Ibu Siti memberikan nasihat yang begitu menenangkan. Ibu selalu mampu menyampaikan nasihat dengan cara menyenangkan. Ibu tidak pernah merasa paling tahu. Ibu juga tidak memaksa orang lain agar setuju dengan apa yang diyakini. Ibu Siti berbagi pengalaman dengan tulus. Ketulusannya mampu menyentuh hatiku. Jika hati sudah tersentuh, semua hal menjadi mudah dilakukan, kan? 🙂 Semoga aku bisa menjalankan peran dengan baik seperti ibu. Terima kasih sudah berbagi, Ibu Siti ♡