Penjelasan

Setiap orang memandang persoalan berbeda-beda.
Ada yang membutuhkan penjelasan, ada juga yang tidak.

Dari hasil ‘ngobrol’ bersama seseorang yang tidak membutuhkan penjelasan,
Ia akan memutuskan sesuatu setelah melakukan pengamatan.
Bila teman berbuat baik, ia akan berlaku lebih baik.
Bila teman berbuat jahat, ia akan meninggalkannya.
Ia tidak membutuhkan penjelasan melalui lisan atau tulisan.
Jadi, jangan heran bila seseorang akan segera pergi tanpa kata setelah dikecewakan.
Pada fase itu, bisa jadi ia sangat kecewa.

Dari hasil ‘ngobrol’ bersama seseorang yang membutuhkan penjelasan,
Ia tidak akan pernah merasa cukup memutuskan sesuatu hanya dari pengamatan.
Ia menganggap penting suatu hubungan.
Ia menganggap penting sebuah komunikasi.
Apa-apa yang tidak dikatakan tidak akan memberikan kesepakatan, kan? Jadi, jangan heran bila ia mengkonfirmasi ulang sebuah ketidakjelasan.
Sebab, baginya, hal itu adalah langkah awal untuk memutus penantian yang berkepanjangan.

***

Apapun tipe orangnya, dalam sebuah hubungan, komunikasi tetaplah perihal penting. Kita tidak bisa membaca pikiran setiap orang. Satu-satunya cara yang dapat dilakukan adalah bicara.

Hal yang paling menyakitkan sesungguhnya bukanlah mendapat kenyataan tidak menyenangkan. Melainkan, tidak dihargai oleh teman. Dalam pertemanan, saling terbuka dan jujur bukankah cara kita menghargai teman? Bukankah keduanya adalah modal untuk ‘menjelaskan’?

Advertisements

Tak Ada yang Bilang Menjadi Teladan Itu Mudah

Melunakkan hati si keras kepala sesungguhnya sederhana. Kamu hanya perlu menurunkan intonasi suara. Bila kamu mampu, maka, kamu akan meraih hati si keras kepala.

Memenangkan hati si keras kepala sesungguhnya sederhana. Kamu hanya perlu mendengarkan untuk empati. Bukan mendengarkan untuk bereaksi.

Aku, si keras kepala ini, sesungguhnya terganggu dengan ucapanmu tadi pagi.

***

Pagi tadi, hatiku berkata lirih, jika memang belum memahami, mengapa harus pernyataan itu yang kamu pilih?

Biar saja. Nanti ia akan mengerti dengan sendirinya.” begitu katamu. Mendengar kalimat itu, aku kehabisan kata-kata. Aku tak tahu harus menanggapi seperti apa. Bagaimana bisa kamu mengatakan kalimat itu, ketika kami sedang berusaha terus memperbaiki diri? Tahu kah kamu apa yang sedang kami perjuangkan? Kami sedang menekan semua ego agar mampu berperilaku yang pantas diteladani. Sebab, kami tahu. Dua manusia kecil itu selalu mengamati gerak-gerik kami. Dua manusia kecil itu selalu mencontoh perilaku kami.

“Bagaimana cara ia sadar dengan sendirinya, bila ia belum tahu cara seperti apa yang baik dan benar?” aku menanggapi.

“Kesadaran hanya datang bila ada input positif pada kehidupannya. Entah datangnya dari luar. Atau dari diri sendiri karena ia mencari. Dua manusia kecil belum bisa mencari sendiri.” aku menambahkan, dalam hati. Adalah kesia-sian berbicara pada seseorang yang tidak mau mendengar. Pagi tadi, aku enggan melanjutkan percakapan.

Melakukan perbuatan apapun sesuka hati memang paling dinanti. Melakukan perbuatan apapun sesuai keinginan memang paling diharapkan. Melakukan perbuatan apapun tanpa berpikir panjang memang jalan pintas paling cepat. Tapi, tahukah kamu, ternyata segala keputusan kita akan berpengaruh pada kehidupan orang lain? Tahukah kamu, segala perbuatan kita akan berdampak pada kehidupan orang lain?

Aku pun memahami, menjadi teladan memang ujiannya besar sekali. Manusia tak akan luput dari kekhilafan. Tetapi, aku berharap, kita pun berusaha melakukan yang baik-baik minimal di depan kedua manusia kecil itu.

Jika melakukan banyak perbuatan baik cukup membebanimu, bagaimana kalau kita melakukan satu perbuatan saja secara konsisten? Aku mau, kita saling mengingatkan dalam kebaikan. Maukah kamu, melakukannya bersama kami?

***

Sampai tulisan di atas selesai, si keras kepala masih belum mendapatkan kesepakatan.

Aku menengadahkan kepala ke langit.

Hatiku pun berkata,“Jika segala upaya telah dilakukan namun tetap saja tak dihiraukan, kupikir tugasmu memang hanya sampai di sana saja. Kuasa penuh atas hati seseorang memang hanya pada Tuhan. Kini, kamu hanya bisa mendoakan. Biarlah Allah yang membuka hatinya.”

Masih menengadahkan kepala ke langit.

Aku menutup wajah dengan kedua tangan dan membukanya kembali. Aku menarik napas panjang. Dan kemudian menghembuskan.

Mengusahakan Kebaikan Bersama

Pada setiap perkara, kita akan diberikan begitu banyak pilihan untuk setiap kesempatan. Pilihan yang memang datang sendiri pada skenario kehidupan. Atau pilihan yang memang kita cari tahu sendiri.

Pada pilihan yang kita cari tahu sendiri, seringkali kita menemukan orang bersikap egois namun beralasan ‘setiap orang berhak mendapatkan yang terbaik’. Mendengarnya sungguh ironis. Kenyataan menunjukkan bahwa sikap egois seringkali melukai perasaan orang lain. Kita begitu gigih mengutamakan diri sendiri hingga terlupa bagaimana keadaan orang lain. Kita lupa melontarkan pertanyaan ini pada diri sendiri,“Atas pilihan dan keputusanku ini, adakah hati yang tersakiti?”

Beberapa orang berkata, kita harus bertahan pada kehidupan yang keras ini. Kita harus menyadari setiap orang tidak sama seperti diri kita. Tidak semua orang berbuat baik seperti yang kita lakukan. Jadi, adaptasilah pada kehidupan yang keras ini. Tidak ada yang benar-benar tulus seperti itu.

Meskipun hati begitu menolak keras atas pernyataan itu, aku memilih untuk mendengarkan saja. Aku tahu, berdiskusi dengan dia yang tidak memiliki nilai dan tujuan sama adalah sia-sia. Sebab, tidak akan ada kesepakatan. Hal itu wajar. Tentang nilai dan tujuan memang tidak akan pernah bisa dipaksakan.

**

Setiap Orang Berhak Mendapatkan yang Terbaik

Aku setuju dengan pernyataan di atas. Allah telah berjanji, setiap hal telah berpasang-pasangan. Yang baik akan berpasangan dengan yang baik, begitu juga sebaliknya. Maka, agar janji Allah terjadi, kita pun harus mengusahakannya.

Berusaha mendapatkan yang terbaik bukan berarti hanya memikirkan diri sendiri. ‘Selalu ada cara’ memilih sikap untuk kebaikan bersama. ‘Selalu ada cara’ memilih tanpa menyakiti sesama. ‘Selalu ada cara’ membuat keputusan tanpa membuat luka. Aku yakin setiap orang bisa memilih ‘cara’ itu. Aku yakin setiap orang tahu bawa ‘cara’ itu adalah baik. Aku tahu setiap orang memiliki hati yang tulus untuk selalu peka pada setiap ‘cara yang benar’. Hanya saja, semua tergantung setiap orang. Mau atau tidak mengambil cara itu.

Berdasarkan pengalamanku, ketika memutuskan mengambil cara yang baik, jangan pernah berharap apa-apa atas keputusan itu. Tugas kita berakhir ketika selesai melakukan perbuatan baik. Dampak setelahnya adalah urusan Allah.

Jangan membuat pengharapan berdasarkan nilai dan tujuan kita. Jangan berharap pada manusia. Labuhkan harapan kita hanya pada Allah. Hanya dengan cara itu, kita melindungi hati ini agar tidak terluka dan kecewa. Hanya dengan cara itu, hati kita akan terjaga dan tetap bahagia.

Bertahan pada Kehidupan yang Keras

Seseorang mengatakan,“Ketulusan tidak pernah salah. Yang salah adalah memberikan ketulusan pada orang orang yang salah.”

Inti dari kalimat itu sebenarnya, Ia ingin mengingatkanku. Jangan pernah menyesal telah melakukan segala hal menggunakan hati. Jangan pernah menyesal telah melakukan perbuatan dengan dengan tulus. Meskipun perlakuan yang didapat tidak begitu baik, bahkan buruk, tak apa. Kamu melakukan itu bukan untuk mendapatkan hal baik dari orang lain, kan? Kamu melakukan itu, karena hanya dengan cara itu hati dan pikiranmu merasa nyaman. Hanya dengan perbuatan seperti itu hati dan pikiranmu merasa bahagia.

Bertahan pada kehidupan yang keras bukan berarti kita harus bersikap keras. Hingga saat ini, yang aku yakini, jangan sampai rasa sakit merubah diri sendiri menjadi lebih buruk. Melakukan hal yang sama hanya karena ia melakukan hal tidak baik, hanya akan melukai hati kita sendiri.

Yang tidak boleh dilupa, hal baik akan mendatangkan hal baik. Jika tidak hari ini, mungkin esok. Jika tidak esok, mungkin lusa. Jika tidak lusa, mungkin suatu saat. Saat-saat itu pasti akan datang. Yakin, Allah Maha Baik akan mendatangkan hal baik pada waktu dan saat yang tepat 🙂

Satu hal lagi yang tidak boleh dilupa, hal baik tidak akan datang dari seseorang atau hal yang sama. Bisa jadi hal baik itu datang dari orang lain atau tempat lain. Bukankah, kebaikan itu begitu luas? Bukankah kebaikan itu bisa datang dari banyak hal? Bukankah kebaikan itu bisa datang dari mana saja?

**

Kita selalu berhak mendapatkan yang terbaik. Dalam mengusahakannya, semoga kita tak lupa bahwa setiap pilihan dan keputusan yang diambil, akan memberikan dampak pada kehidupan orang lain. Jika kebaikan bersama bisa kita dapatkan, mengapa harus ada orang lain yang dikorbankan?

Hati yang Bahagia

Jika menjalani hari dengan hati yang bahagia, maka jalan terjal atau landai pun tak ada beda. Keduanya sama-sama mudah dijalani. Hati adalah modal untuk memulai sesuatu. Oleh sebab itu, banyak orang mengatakan “luruskan niat”, karena dengan begitu tak akan ada kesulitan berarti.

Niat yang lurus dan hati yang ikhlas akan memudahkan segala urusan. Solusi juga akan mudah didapatkan. Gagal rencana A, kita akan berusaha melakukan rencana B, rencana B gagal lagi, kita akan mencoba rencana C, begitu seterusnya sampai kita berhasil melewatinya. Kita tak akan lelah mencoba dan berusaha. Kita tak akan berputus asa. Karena kita yakin, siapa yang bersungguh-sunguh pasti akan berhasil. Kita pun mengerti dengan baik arti sebuah kegagalan. Gagal berarti memang belum berjodoh, bukan hal yang baik untuk kita, dan harus belajar lebih banyak.

Untuk Kejadian yang Menyakitkan

Hati yang bahagia akan membuat kita mudah memaafkan. Hati yang bahagia membuat kita mudah mengerti perlakuan tak baik dari orang lain. Hati yang bahagia membuat kita lebih mudah memetik hikmah pada setiap kejadian. Hati yang bahagia membuat kita mampu berpikir dengan jernih bahwa berbuat salah sungguh tak apa. Kita dan orang lain hanyalah manusia biasa. Yang tak akan luput dari kesalahan. Hidup tidak hanya tentang hal-hal yang membuat hati senang, kan?

Untuk Menjalani Kehidupan Sehari-hari

Hati yang bahagia akan membuat kita melakukan banyak hal dengan cara yang menyenangkan. Hati yang bahagia akan memudahkan kita mengambil keputusan dengan kepala dingin dan bijaksana. Hati yang bahagia juga memudahkan kita untuk tersenyum tulus pada kondisi apapun.

Layaknya iman yang mudah dibolak-balikkan, begitu juga dengan keadaan hati. Saya tak akan mengatakan membuat hati bahagia itu mudah. Membuat hati bahagia adalah sebuah tantangan. Namun, kita perlu mengusahakannya. Hal ini semata-mata bukan demi orang lain. Melainkan, demi diri sendiri. Demi kebahagiaan kita. Bukankah setiap orang berhak untuk bahagia?

Mari bersama-sama berjuang! Hati yang bahagia tidak hanya mimpi semata jika kita memperjuangkan dalam kehidupan nyata 😉

Memaknai Pengalaman

Orang-orang yang lebih dulu hidup dibanding aku, kuharap memiliki rasa syukur yang jauh lebih banyak. Seharusnya, pengalaman mampu membuat seseorang menjadi lebih bijaksana. Pengalaman mampu membuat hati seseorang lebih lapang menerima. Pengalaman mampu membuat hati lebih luas. Pengalaman mampu membuat kita lebih paham, tiada yang lebih penting dari memiliki hati yang bahagia.

Menurutku, kita sungguh merugi bila pengalaman tidak dibarengi proses introspeksi diri. Kita sama saja tidak menggunakan kesempatan dengan sebaik mungkin. Kita sama saja membiarkan air mengalir tanpa peduli kemana air tersebut bermuara. Kita sama saja bertahan dalam kesalahan tanpa ingin tahu bagaimana cara memperbaiki. Padahal, jika saja kita mau berdiam diri sebentar untuk merenungi, ada banyak sekali perbuatan yang perlu diperbaiki.

Hakikat merenung yang tak boleh kita lupa, merenung bukanlah untuk memikirkan kesalahan orang lain. Kita merenung untuk memikirkan kesalahan pada diri. Hanya dengan pemahaman seperti itu kita bisa memahami bahwa pengalaman memang memberikan hal-hal berarti.

Pengalaman menyadarkan kita bahwa masalah memang tak akan pernah berhenti. Selesainya suatu masalah adalah awal bagi masalah lainnya. Jadi, santai dan hadapi saja. Bukankah apa-apa yang datang pada akhirnya akan pergi? Bukankah apa-apa yang telah dimulai pada akhirnya akan berakhir? Bagaimanapun hasil akhir suatu proses, apakah itu yang kita cari? Tidak, kita membutuhkan sesuatu yang jauh lebih bermakna dari itu. Kita membutuhkan pembelajaran dari sebuah proses. Bukan hasil akhir saja.

Aku berharap tak salah lagi dalam memaknai sebuah pengalaman. Sebab jika tidak, usia hanyalah angka yang bertambah semata. Namun, tak bertambah matang pula mental, karakter, dan sikap. Semoga pengalaman mampu membuatku memiliki hati dan pikiran yang luas. Karena dengan begitu, aku tak lagi merasa sulit untuk membaca kesalahan pada diriku sendiri. Karena dengan begitu, aku tak lagi merasa sulit untuk mensyukuri hal-hal yang sederhana. Karena dengan begitu, aku tak lagi merasa sulit untuk berbahagia dengan hal-hal sederhana.

Hal-hal sederhana selalu mengajarkan hal besar. Tak pernah ada hal-hal besar tanpa adanya sesuatu yang kecil dan sederhana. Jadi, hargai apapun itu. Bahkan untuk hal-hal yang tak dapat terlihat mata sekali pun. Hanya dengan cara itu hati kita terlatih untuk peka dan terbuka.

Ia Menangis

Menangis adalah hak setiap manusia. Selama kamu hidup, artinya selama itu pula kamu boleh menangis.

Menangis tiada beda dengan tertawa. Menangis tiada beda dengan tersenyum. Menangis tiada beda dengan cemberut. Kita senang, maka tertawa. Kita bahagia, maka tersenyum. Kita kecewa, maka cemberut. Kita bersedih, maka menangis. Kita berhak mengekspresikan apapun sesuai rasa yang sedang dialami. Kita berhak jujur pada perasaan sendiri.

Menangis bagi orang dewasa selalu memiliki arti yang berbeda. Ia tidak sekadar menangis karena merasa kecewa. Ia tidak sekadar menangis karena merasa sedih. Ia tidak sekadar menangis karena merasa marah. Menangis bukan hanya sekadar bukti nyata bahwa seseorang telah mengekspresikan ‘rasanya’. Tangisannya memiliki arti yang lebih dalam dari itu.

Orang dewasa tentu memiliki kendali lebih baik terhadap dirinya sendiri. Ia lebih mudah mengontrol dirinya untuk setiap kondisi. Ia tahu bagaimana cara memegang kendali atas dirinya. Ia tak akan menangis bila dikecewakan dengan orang lain. Ia tak akan menangis bila mendapatkan hal-hal yang tidak sesuai dengan keinginan. Ia tak akan menangis bila tidak diperlakukan dengan baik.

Tahukah kamu hal apa yang membuat orang dewasa menangis?

Biasanya, hal yang membuat menangis adalah ketidaktenangan pada hatinya. Ketika ia tidak tenang terhadap keputusan yang dibuat oleh diri sendiri. Apakah keputusan ini dibuat benar-benar berharap Ridho-Nya? Atau hanya berdasarkan ukuran-ukuran menurut dirinya semata?

Ia sadar, pangkal ketidaktenangannya itu ternyata karena ada kealpaan yang ia lakukan. Ukuran-ukuran yang dibuat untuk membuat keputusan ternyata tidak sepenuhnya diserahkan pada Allah semata.

Ia masih berharap pada yang lain. Ia berharap pada manusia. Ia berharap manusia melakukan ini dan itu. Ia berharap, paling tidak ada satu manusia mengerti dirinya. Ia menyadari kekeliruannya. Ia menangis.

Tahukah kamu hal apa yang membuat orang dewasa menangis?

Pada akhirnya, yang membuat orang dewasa menangis bukanlah ketika ia mengekspresikan ‘rasa sedihnya’. Bukanlah ketika ia belum mampu berdamai dengan dirinya sendiri. Bukanlah ketika ia belum mampu berdamai dengan orang lain. Namun, ketika menyadari kesalahannya. Ia sadar bahwa telah lupa petunjuk-Nya. Ia lupa, sebaik-baiknya tempat berharap memang hanya Allah semata. Berharap pada yang lain sudah pasti akan memberikan rasa kecewa. Ia menyadari kesalahannya dan menyesal. Ia menangis.

Berbagi Kebaikan

Bagaimanapun kejamnya dunia, jangan pernah menyesal karena telah berbagi kebaikan kepada sesama. Meskipun seringkali berakhir dengan percuma. Karena ternyata, ada banyak kepala yang menggunakan kebaikan orang lain hanya untuk keuntungan dirinya semata.

Dunia memang begini adanya. Semakin kamu menyelam lebih dalam, semakin kamu menemui keberagaman. Maka jangan heran, bila nanti ada dia dan dia yang melakukan perbuatan sungguh tak berperikemanusiaan. Tak perlu merana. Tak perlu membebani pikiran. Biarkan saja.

Rasanya tentu sakit bila kepercayaan yang telah terbangun sejak lama hancur begitu saja hanya karena setiap orang mencari keuntungan dan mengutamakan kepentingannya.

Rasanya tentu sakit bila usaha yang begitu banyak tak pernah dilihat, namun kesalahan sedikit tak pernah dilupa sepanjang masa.

Rasanya tentu tidak nyaman diperlakukan dengan ‘cara yang tak baik’ sedangkan sesungguhnya selalu ada pilihan ‘cara yang baik’ bila memang mau.

Rasanya tentu menyebalkan jika ternyata orang tersebut menganggap perbuatannya adalah hal biasa yang tak perlu dipermasalahkan atau diperdebatkan. Sebab, menurutnya, cara terbaik bertahan pada kehidupan adalah dengan menggunakan ‘caranya’. Kurasa, berdiskusi lebih jauh dengannya adalah percuma. Karena tujuan kita memang sudah tak sama. Maka, biarkan saja. Biarkan ia berjalan di jalannya. Dan kamu pun tetap fokus pada pendirian dan jalanmu.

Jangan pernah menyesal telah berbuat baik hanya karena bertemu dengan dia yang tak baik. Sebab, bagaimana pun dia, kehadirannya pasti untuk memberikan pelajaran. Pelajaran untuk terus berbuat baik ataupun pelajaran agar kita lebih berhati-hati lagi. Proses penerimaannya memang tak mudah. Namun, bersabar saja. Pelan-pelan saja. Ambil saja waktumu. Sembuhkan lukamu. Lalu, melangkah maju.

Jika kebaikanmu terus menerus dimanfaatkan oleh orang lain dan kekuranganmu tak pernah mendapat penerimaan, tetaplah jangan bosan berbuat baik. Kita berbuat baik karena memang butuh menjadi orang baik. Kita berbuat baik bukan untuk memuaskan orang lain. Kita berbuat baik karena Allah menyukai manusia yang berbuat baik.

Jika Allah menjadi tujuan, Insya Allah lebih mudah mengobati hati yang terluka. Jika Allah menjadi tujuan, Insya Allah lebih mudah mengumpulkan semangat dan bangkit kembali. Meskipun luka tetap membekas, dengan mengingat Allah, hati kita akan mendapatkan ketenangan. Yuk, cintai hatimu, cintai pikiranmu, cintai dirimu seutuhnya. Dengan cara apa? Dengan cara tidak mengingat-mengingat perbuatan buruk orang lain dan terus berusaha melakukan kebaikan.

Adakah Alasan untuk Meragukan Kemampuan Sendiri?

“Aku mengatakan kepada mereka aku menjalani hidupku dengan falsafah yang sederhana: aku selalu mengatakan pertama-tama ya; kemudian bertanya, nah, apa yang harus aku lakukan untuk memenuhinya? Lalu, aku bertanya pada diriku, hal terburuk apa yang akan terjadi jika aku tak berhasil? Dan jawabannya adalah, aku benar-benar tak berhasil! Dan bila aku bertanya apa yang terbaik yang bisa terjadi? Aku pun berhasil! Apalagi yang akan diminta hidup ini dari anda? Jadilah diri anda sendiri dan selamat menikmati!” begitu kata Fran Capo.

Kalimat di atas adalah kutipan dari cerita pendek dalam buku Chicken Soup for the Woman’s Soul.

Aku suka sekali dengan kalimat di atas. Betapa menjakjubkan wanita dengan pemikiran seperti ini. Ia yakin bahwa prinsip yang terus menggema dalam pikiran dan hati akan memengaruhi perilakunya. Ia yakin bahwa rasa percaya pada diri sendiri, akan memberikan hasil yang luar biasa. Ia juga yakin bahwa berpikir positif akan memberikan hasil yang juga positif. Lagi-lagi kekuatan pikiran bekerja disini. Oleh karena itu, mengatur pikiran pada mode positif adalah keharusan. Hal-hal baik terjadi berawal dari pikiran-pikiran yang baik, kan?

Dulu sekali aku melakukan hal yang serupa. Saat itu, adalah kali pertama aku percaya pada diriku sendiri bahwa aku mampu. Aku mampu melakukan apapun asalkan ‘aku mau’. Tidak ada hal yang tak dapat dilakukan selama ada niat, kemauan, dan usaha keras. Saat itu, aku belum berpikiran seperti Fran Capo di atas. Pikiranku hanya sederhana yaitu, aku tidak ingin mengecewakan orang-orang yang memberikan kepercayaan. Aku ingin memberikan yang terbaik. Dan, hasilnya adalah kemauan yang tinggi akan berbanding lurus dengan hasil yang tinggi. Usaha yang tinggi juga berbanding lurus dengan hasil yang tinggi. Jadi, pepatah yang mengatakan usaha tak akan mengkhianati hasil memang benar adanya. Bukan semata-mata kata-kata mutiara saja, lho.

Semesta pun mendukung perubahan baik pada diriku. Seketika itu pula ada banyak tantangan yang datang. Tantangan yang sesuai dengan ketertarikanku dan tantangan di luar ketertarikanku. Aku menerima semuanya. Aku mencoba semuanya. Aku tahu, menerima artinya akan ada tanggung jawab yang harus dipertanggung jawabkan. Mencoba artinya aku harus siap belajar dan berguru pada ahlinya. Entah motivasi datang dari mana, saat itu aku memiliki semangat yang tinggi sekali. Mungkin karena saat itu aku jauh dari orang tua. Keadaan membuatku harus kuat dan berani. Aku tak takut gagal. Aku pun tak takut tak mampu. Saat itu, aku yakin selalu ada jalan untuk orang-orang yang mau belajar dan berusaha. Aku yakin, Allah akan memudahkan orang-orang dengan niat baik.

Menjadi bisa dan mencapai sesuatu memang tak terjadi begitu saja. Seperti pertanyaan Fran Capo,”Apa yang harus aku lakukan untuk memenuhinya?” Tentu ada banyak perjuangan dan pengorbanan yang dilakukan. Seperti, tak boleh malu bertanya pada sang ahli. Tak boleh malas berlatih. Tak boleh malas mencari referensi. Tak boleh pelit meluangkan waktu sebanyak-banyaknya untuk belajar. Tak boleh takut gagal. Tak boleh menyerah. Dan harus rela meninggalkan hal-hal menyenangkan yang tak berhubungan dengan sesuatu yang diperjuangkan. Mudah? Tentu saja tidak. Seberapa kuat niat, pasti ada pula saat-saat turunnya semangat. Dan pada saat itu, cara terbaik menghadapinya adalah dekat-dekat sama Allah. Biasanya, setelah itu hati akan lapang dan semangat akan kembali lagi 🙂

Aku pun merasakan hasilnya sendiri bahwa ada hasil luar biasa untuk para pejuang. Aku dapat bertanggung jawab dengan apa-apa yang telah kuterima. Aku dapat mencoba banyak hal baru yang sebelumnya terpikirkan pun tidak. Aku dapat menggunakan kesempatan dengan sebaik-baiknya. Aku menggunakan peluang untuk menjadi bermanfaat. Dan akhirnya, kebermanfaatan pun dapat dirasakan oleh orang-orang sekitar.

Hasilnya mungkin bagi orang lain biasa saja. Namun, bagiku istimewa. Mengendalikan rasa takut adalah istimewa. Mengendalikan diri untuk berani mencoba hal baru adalah istimewa. Melakukan proses panjang untuk belajar dan berusaha adalah istimewa.

**

Berikan kepercayaan penuh pada dirimu sendiri. Sebab, kamu berhak melakukan banyak hal, mangambil banyak peluang, dan menggunakan banyak kesempatan. Jangan tutupi potensi yang ada pada diri dengan rasa tak percaya diri. Jangan pernah membandingkan dirimu dengan orang di luar sana. Kamu dan dia memiliki potensi yang berbeda. Kamu dan dia memiliki potensi hebat yang bila dikolaborasikan akan menghasilkan sesuatu yang luar biasa. Jadi, jalankan peran masing-masing dan berikan yang terbaik.

Jangan memikirkan pandangan dan harapan orang lain terhadap apa yang kita lakukan. Kamu ingin mencoba hal baru, silakan. Kamu ingin memilih suatu hal, silakan. Kamu ingin menekuni suatu bidang, silakan. Kamu ingin mengatakan iya, silakan. Kamu ingin mengatakan tidak, silakan. Kamu berbuat kesalahan, boleh. Kamu ingin menolak, boleh. Kamu ingin berhenti sejenak, boleh. Kamu bebas melakukan apa saja.

Kamu perlu melakukan semua itu. Karena hanya melalui semua itu kamu akan belajar banyak hal. Karena hanya melalui semua itu kamu akan semakin mengenal dirimu sendiri.

**

Allah selalu disini untuk membersamai. Allah selalu siap sedia memberikan jalan keluar bila tersesat. Allah selalu siap sedia menguatkan bila diri ini lemah. Adakah alasan untuk meragukan kehidupan ini? Adakah alasan untuk meragukan kemampuan sendiri?

Manusia Memang Istimewa

Manusia memang istimewa. Kita mampu menghadirkan ‘rasa’ hanya dengan memikirkannya saja. Bahkan ‘rasa’ yang bertahun-tahun lalu tak lagi diingat, dapat hadir kembali dalam hitungan detik hanya dengan memikirkannya.

Hati yang baik-baik saja, mendadak menjadi pilu. Hati yang baik-baik saja, mendadak menjadi perih. Hati yang baik-baik saja, mendadak menjadi terluka. Memikirkan peristiwa menyakitkan dapat membuat hati yang baik-baik saja menjadi tidak. Kemampuan manusia memang luar biasa.

Menyadari peran pikiran sangat berpengaruh terhadap hati dan perbuatan, maka aku berusaha untuk mengendalikannya dengan baik. Jangan sampai pikiran dikendalikan begitu saja oleh emosi yang sifatnya hanya sementara. Jangan sampai hati dan perbuatan menjadi buruk hanya karena aku tak mampu mengendalikannya.

Adakalanya, hati begitu terluka. Entah karena lisan seseorang yang tak bertanggung jawab. Atau karena perbuatan seseorang yang tak pernah mengenal perasaan orang lain. Ia berbuat sesukanya. Tanpa pernah mempertimbangkan kehadiran orang lain. Ia tak pernah peduli apakah lisan atau perbuatannya dapat menyakiti orang lain. Hari-hari memang berlalu. Namun, tak berlaku oleh rasa sakit. Rasa sakit tetap tertinggal disana. Dan, tiap kali melihat si pembuat rasa sakit, saat itu juga hati akan terluka. Meskipun pikiran telah memaafkan, namun tidak dengan hati. Ia selalu mengingat rasa sakit.

Setiap manusia tahu, memelihara rasa sakit sama saja menyakiti diri sendiri. Kita sama saja menyimpan rasa sakit. Kita sama saja memelihara rasa benci. Mungkin kamu akan menyanggah pernyataanku begini,”Aku sudah berusaha memaafkan dan melupakannya. Namun, tetap saja aku merasa sakit tiap kali melihatnya.”

Mungkin, ada pemahaman yang belum terpatri dalam diri. Kita memang tak bisa melupakan kejadian menyakitkan yang pernah dialami. Kita juga tak bisa melupakan siapa saja yang pernah memberi rasa sakit. Namun, kita bisa memilih untuk menerima kehidupan. Dengan memahami bahwa kehidupan pasti ada suka dan duka, hati kita akan mudah menerima dan mengikhlaskannya.

Usaha terbaik apapun yang telah kita lakukan, tetap ada orang-orang yang menguji kesabaran. Mereka yang kesulitan melihat kebaikan, tetapi begitu peka dengan kekhilafan. Orang-orang seperti itu pasti hadir dalam kehidupan kita. Jangan membuang-buang tenaga untuk mendorong jauh orang-orang tersebut. Itu hanya menyiksa diri kita sendiri. Biarlah mereka berdiri di tempatnya. Biarlah mereka melakukan apa yang diyakininya. Satu hal yang dapat dilakukan adalah mengendalikan pikiran kita sendiri.

Aku pun sama seperti manusia pada umumnya. Ketika dilukai tentu ‘membutuhkan waktu’ untuk menyembuhkan. Yang selama ini kulakukan, cara terbaik menyembuhkan luka adalah dengan memberikan jarak, mengurangi frekuensi berjumpa, dan mengurangi frekuensi interaksi. Namun, seiring berjalannya waktu, cara tersebut tak dapat dilakukan lagi.

Ada saatnya kelak, kita harus bisa menyembuhkan luka dalam waktu cepat tanpa harus memberikan jarak. Ada saatnya kelak, kita harus mampu tersenyum meskipun luka belum benar-benar sembuh. Ada saatnya kelak, kita harus bisa mengambil hikmah segera pada suatu peristiwa. Ada kalanya, takdir mendewasakan kita lebih cepat.

Ketika saat-saat itu datang ke dalam hidupku dan memaksaku beradaptasi dengan cepat, aku menerimanya dengan tangan terbuka. Aku tahu, berjalan mundur adalah pilihan terburuk. Memilih menyerah dan berhenti hanyalah milik orang-orang yang tak pandai bersyukur. Memilih untuk mengeluh adalah perbuatan sia-sia. Semua itu hanya merugikan diriku sendiri.

Ada suara hati yang menguatkanku, ia mengatakan seperti ini,“Kuatlah. Aku tahu, bila kamu melangkah, akan ada rasa sakit yang menyergap kedua kakimu. Bila kamu berlari, akan ada rintangan yang terus mengganggu. Tak ada pilihan yang tak mengandung risiko, kan? Coba saja. Hadapi saja. Terima saja. Lalu tersenyum. Waktu akan menyembuhkan lukamu. Kesulitan akan memberikan pelajaran untukmu. Allah akan menguatkanmu. Yakinlah, takdir Allah pastilah terbaik untukmu.”

Terima kasih suara hati yang tak pernah meninggalkan. Berkatmu, energi positif selalu ada disini. Berkatmu, berbaik sangka tak lagi menjadi sulit untuk dilakukan.

Karena manusia dan pikirannya begitu istimewa, maka kita tak boleh salah melangkah. Bila salah melangkah, maka rasa-rasa negatif dan energi negatif yang akan mendampingi kita. Sesungguhnya, setiap orang mampu segera menyembuhkan luka dan memaafkan. Hanya saja, kita begitu bersedih dengan hal-hal menyakitkan, hingga akhirnya tanpa sadar selalu mengingatnya.

Mulai saat ini, coba untuk tidak mengingatnya. Biarkan perlakuan menyakitkan itu tertinggal di belakang sana.

Dia memang menorehkan luka. Namun, ingatlah dia sebagai orang yang membuat kita lebih kuat dan hebat. Ingatlah dia sebagai orang yang Allah kirimkan untuk memberikan pelajaran hidup kepada kita. Ingatlah dia sebagai orang yang Allah kirimkan untuk menguji kesabaran. Dengan begitu, kita akan fokus untuk terus mengendalikan dan memperbaiki diri. Bukan terus mengajukan pertanyaan yang sesungguhnya malah mengotori hati.

Karena semua yang terjadi tergantung bagaimana cara pandang kita. Maka, kendalikan diri dengan baik. Pikiran positif akan menghasilkan energi positif.

Coba Saja Sepatunya, Kau Akan Memakluminya

Jangan pernah mengatakan ‘salah’ sebelum kita tahu usaha-usaha apa yang telah orang lain lakukan. Sebab, cara paling cepat membunuh harapan seseorang adalah dengan mengatakan apa yang ‘mau kamu katakan’, ‘tanpa pernah mau’ memberikan jeda untuk memikirkan perasaan orang lain.

Ia memang selalu begitu. Ia menganggap standar yang dianut adalah standar yang orang lain harus anut juga. Jika tidak sama, maka orang itu tidak dapat dipercaya dan tidak dianggap kompeten.

Ia memang selalu begitu. Ia hanya percaya pada dirinya sendiri. Sebab, selama berpuluh-puluh tahun ia hidup, orang-orang tak pernah melakukan tindakan sesuai harapannya. Orang-orang selalu mengecewakannya. Dari mana kutahu? Ia mengatakannya sendiri.

Ia memang selalu begitu. Ia selalu mampu menghentikan usaha orang lain kapanpun. Sebab, ia sangat percaya bahwa dirinya selalu mampu berpikir visioner atas apa yang orang lain kerjakan. Tak ada toleransi kecatatan. Usaha tak berarti apa-apa bila hasilnya tidak istimewa.

Ia memang selalu begitu. Ia ‘belum mampu’ memahami kesulitan yang orang lain rasakan. Sebab, ia tak pernah kesulitan melakukan apapun. Dengan alasan ‘ketidakmampuan’ itu, ia pun begitu mudah mengintrupsi dan menghentikan pekerjaan seseorang. Tak ada toleransi untuk kelambanan, kesulitan, dan ketidakmampuan. Ia tak menyukai hal-hal seperti itu.

Ia sangat mencintai Tuhan. Ia pun sangat bergantung padanya. Namun, ada hal keliru yang selama ini ia yakini. Ia meyakini bahwa yang bisa menolong dirinya hanya Tuhan. Orang lain tak akan bisa membantunya. Sepengalamannya, bila orang lain tak mampu, ia selalu mampu. Dan bila ia tak mampu, orang lain tak akan mampu membantu pekerjaannya.

Apa kata yang tepat untuk menyebut orang ini? Entahlah. Menurutku ini rumit.

Ia sesungguhnya orang yang baik hati. Suka menolong orang lain dan suka memberi. Ia juga tidak memiliki niat buruk yang akan merugikan orang lain. Ia pun taat beribadah. Ia adalah orang yang sangat pekerja keras dan tidak mudah menyerah.

Tentang kepribadiannya yang seperti itu, kurasa, ada kesalahan penanaman ‘nilai’ sewaktu ia kecil. Kurasa, sedari kecil ia kurang sosialisasi dengan orang lain. Ia tidak memiliki pengalaman baik tentang hubungan antar manusia. Ia juga tidak memiliki banyak pengalaman bagaimana cara melihat peran dan kebaikan orang lain.

Karena kesalahan penanaman nilai itu, akhirnya ia pun kesulitan merasakan perasaan orang lain. Yang pada akhirnya, ia kesulitan melakukan tindakan yang ‘sesuai’ saat berhubungan dengan orang lain. Ia pun kesulitan melihat banyak kebaikan pada sosok orang lain. Dan ia juga kesulitan menghargai usaha orang lain. Apa dampaknya? Dampaknya cukup mengerikan. Akan ada banyak hati yang tersakiti.

Hal-hal di atas adalah hasil pengamatanku saja. Dari pada terus bertanya ‘kok bisa sih dia begitu?’, kurasa lebih baik memakluminya saja. Ternyata, mencoba memposisikan diri sebagai dirinya cukup berguna. Aku jadi tahu apa saja kelebihannya, memaklumi kekurangannya, dan mengambil pelajaran darinya.

Kelebihannya membantu aku semakin menghargai dirinya dan memotivasi diriku sendiri.

Kekurangannya membantu aku semakin sadar tak ada orang yang sempurna. Dibalik kekurangannya, pasti ada sesuatu yang salah di masa lalu saat dirinya tumbuh dan berkembang. Yang akhirnya, membentuk karakter seperti ia saat ini. Apakah itu permintaannya? Apakah itu keinginannya? Tidak. Hal itu di luar kendalinya.

Dari sikapnya aku belajar untuk lebih menghargai usaha orang lain. Karena kutahu, usaha yang tak dilihat rasanya begitu menyedihkan, maka, jangan pernah melakukan itu.

Dari sikapnya aku kembali diingatkan, sejatinya, kita selalu membutuhkan orang lain. Memang benar, pertolongan memang datang dari Tuhan. Namun, jalan pertolongan Tuhan bukankah datangnya dari mana saja? Salah satunya, kehadiran orang lain disisi yang melengkapi diri ini.

Kita sama-sama berusaha. Semua orang berhak mencoba. Kesalahan itu biasa. Salah artinya kita telah mencoba. Benar dan tepat hanya tentang waktu saja.

Tak ada usaha yang percuma. Tak ada usaha yang salah. Yang salah adalah ketika kita memutuskan untuk berhenti mencoba.