Sejak Awal Kita Memang Berbeda

Kepada kamu. Bila nanti kita bertemu dan hidup di atap yang sama, jangan pernah menyesal telah memilih aku. Sebab, nanti, di atap yang sama, kamu akan benar-benar tahu siapa aku. Sudah siapkah kamu?

Semoga kita selalu mengingat tentang ini. Kita adalah dua orang yang berbeda. Aku perempuan dan kamu laki-laki. Allah yang telah memberikan takdir itu. Kita berasal dari orang tua dan keluarga yang berbeda. Kita tumbuh dan mendewasa pada lingkungan yang berbeda. Kita memang hidup pada kebiasaan yang berbeda. Kita adalah dua manusia yang memiliki karakter yang berbeda. Lantas, bila nanti kita menemukan banyak hal berbeda ketika tinggal bersama, haruskah kita menyesal, berputus asa, dan kemudian memilih menyerah? Semoga hal-hal itu tak pernah muncul di dalam benak kita.

Tahukah kamu? Sungguh, yang kita butuhkan bukanlah menjadi sama, melainkan kemampuan untuk saling memaafkan dan menerima.

Sedari awal, memiliki kemampuan menerima keadaan orang lain memang bukan hal mudah. Aku yakin kita sudah terbiasa menemukan hal yang benar-benar beda. Contohnya saja tentang aku dan adik perempuanku. Usia kami terpaut empat tahun. Saat kecil, masalah kami hanya seputar memperebutkan mainan atau rasa cemburu karena merasa ayah dan mama lebih sayang kepada salah satu kami. Ketika besar, masalah datang dari berbedanya karakter kami.

Aku yang terlalu perhatian selalu merasa terganggu dengan sifat adikku yang super cuek. Adikku yang super cuek selalu merasa terganggu dengan aku yang cerewet karena selalu mengingatkan dirinya. Aku yang tak senang diburu waktu saat mengerjakan tugas selalu terganggu dengan adikku yang senang mengerjakan apapun pada detik-detik terakhir. Pada awalnya semua perbedaan ini tidak menjadi masalah ketika kami berjalan pada jalan masing-masing. Namun ternyata, semua perbedaan menjadi masalah besar ketika kami harus bekerja sama.

Ketika ego memimpin segalanya, tentu saja kami kesulitan mendapatkan kesepakatan. Aku hanya melihat kesalahan-kesalahan yang adikku perbuat. Begitu juga dengan adikku. Kami hanya ingin dimengerti dan dipahami, tanpa introspeksi diri. Kami lupa tentang kesalahan diri sendiri. Pokoknya, kamu yang salah. Aku yang paling benar. Begitu, pikiran kami berkata.

Ketika ego mengendalikan keadaan, saling bungkam dalam waktu panjang bukan sebuah persoalan. Ketika ego menjadi acuan, saling menuntut tanpa mencari penyelesaian selalu menjadi pilihan. Benarkah keadaan seperti ini yang benar-benar kita mimpikan?

Lalu, bagaimana aku dan adikku akhirnya menemukan kesepakatan? Kami membutuhkan waktu untuk saling merenungkan. Merenungkan tentang kesalahan diri yang telah dilakukan. Merenungkan perkataan dan perbuatan diri yang menyakitkan. Setelah perenungan panjang, maka akan timbul kesadaran. Bahwa perbedaan hadir bukan untuk dipersoalkan. Melainkan untuk dipelajari bersama dan dicari jalan terbaik untuk keduanya. Jalan yang membuat kami merasa nyaman tanpa ada yang dikorbankan. Bukankah hal seperti ini yang disebut indahnya kebersamaan?

Aku dan adikku yang telah hidup kurang-lebih 20 tahun bersama terkadang masih sulit saling menerima, lalu, apa kabar dengan kita yang baru saja memulai hidup di atap yang sama? Aku tahu, hubungan adik-kakak dengan hubungan kita adalah dua hal berbeda. Namun, tentang perbedaan karakter dan kebiasaan di antara dua manusia bukankah tetap sama?

Kelak, mungkin aku akan banyak membuatmu bingung. Mungkin, aku akan banyak membuatmu lelah. Mungkin, aku akan banyak membuatmu kecewa. Jika kamu benar-benar tahu siapa aku, sangat mungkin aku akan menorehkan luka.

Namun aku meminta, bagaimana pun keadaanku nanti, jangan pernah berputus asa dan menyerah terhadapku. Sebab, tak ada Surga untukku tanpa ridhomu. Sebab ridho Allah, tergantung pada ridhomu. Maukah kamu memberi hati yang seluas langit untuk memaafkan segala khilafku? Maukah kamu memberi hati yang lapang untuk menerima aku dengan segala kurangku?

Advertisements

Semua Karena Gengsi

Jika kamu menyangka mengungkapkan perasaan akan membuat harga dirimu jatuh, hey, sepertinya kamu keliru. Apa yang akan terjadi pada hatimu, bila jujur pada diri sendiri saja kamu tak mampu?

Menurutku, jujur pada diri sendiri adalah ketika kita mampu mengungkapkan perasaan. Apapun perasaan itu, sedih maupun bahagia. Tanpa dipengaruhi oleh pandangan dan sikap orang lain terhadap diri ini. Sebab kita tahu, yang paling penting adalah ketenangan hati. Bukan ‘apa kata orang lain’ tentang kita. Bukan ‘sikap orang lain’ terhadap kita.

Baru saja aku membuka aplikasi KBBI di gawaiku. Aku menulis kata ‘gengsi’ di sana. Kamu tahu apa definisinya? Di sana tertulis bahwa gengsi adalah terlalu membanggakan ketinggiannya, kehormatan, harga diri, dan martabat. Setelah membaca definisi itu aku pun mengernyitkan dahi. Aku bingung. Bagaimana bisa seseorang menggadaikan kedamaian hatinya hanya untuk menjujunjung tinggi semua itu? Hatinya pasti sesak tiap kali menahan perasaannya.

Banyak sekali pepatah yang mengatakan bahwa jangan pernah bermimpi ‘mengerti’ orang lain sebelum kita mengerti diri sendiri. Dan jangan pernah bermimpi ‘mencintai’ orang lain sebelum kita mencintai diri sendiri. Lalu, apa hubungannya dengan si gengsi ini? Ada hubungannya. Bila kita terus menerus menahan diri untuk tidak jujur terhadap perasaan sendiri, bagaimana mungkin kita mampu mengerti dan memahami kejujuran perasaan orang lain?

Jujur pada diri sendiri memang seringkali menjadi ‘sasaran empuk’ orang-orang yang tidak berperasaan. Mereka menggunakan kejujuran kita untuk keuntungannya sendiri. Jujur pada perasaan sendiri juga seringkali menghadirkan banyak rasa kecewa. Rasa kecewa yang disebabkan oleh ‘reaksi’ yang diberikan orang lain terhadap aksi jujur kita. Reaksi yang menyakitkan hati. Meskipun begitu, ketenangan hati tetaplah utama. Yang menentukan bahagia atau tidak diri kita bukanlah akhir yang baik-baik saja. Melainkan, hati yang berbahagia. Hati kita berhak berbahagia, kan? Kita tidak akan bisa hidup dengan hati yang sesak selamanya.

Dalam hidup, hukum aksi-reaksi pastilah ada. Aksi yang baik tak melulu memberikan reaksi yang baik. Aksi yang buruk juga tidak melulu memberikan reaksi yang buruk. Hasil akhirnya pun tak ada yang tahu. Entah membuat hati luka atau berbunga. Semua kejadian memang hak prerogatif Allah. Maka, dalam bersikap pun kita seharusnya paham tentang itu.

Jujur pada perasaan memang tidak selalu memberikan hasil yang baik. Namun, satu hal yang pasti, jujur pada perasaan akan menyelamatkan diri sendiri. Menyelamatkan diri dari ketidaktenangan hati.

Apa Kamu Tahu Arti Berjuang?

Kalau kamu mendengar kata berjuang, tak perlulah kamu mengira berjuang itu hanya untuk hal-hal besar yang hasilnya pasti terlihat oleh mata. Tak perlu juga kamu merasa berjuang adalah hanya untuk orang-orang pemberani. Kegiatan berjuang itu sangat dekat dengan kita. Apakah kamu tahu definisi berjuang? Berjuang adalah berusaha sekuat tenaga terhadap sesuatu. Berjuang adalah berusaha penuh dengan kesukaran dan bahaya. Bagaimana? Bukankah kita sudah melakukan semua itu setiap hari? Iya, kita sudah berjuang. Dan kita lupa berterima kasih. Pada diri.

Ini adalah cerita tentang kamu yang tak ingin namanya disebutkan. Tulisan ini adalah tentang perjuangan yang sudah kamu lakukan. Mungkin kamu tidak menyadari usaha apa yang sudah dilakukan. Aku tahu. Aku akan mengingatkan.

Kenyataan yang Mengkhianati Harapan

Saat kali pertama mengetahui kenyataan itu, aku sudah melihat sebuah perjuangan di sana. Kamu telah berjuang. Kamu yang senang memendam semuanya sendiri dengan rela berbagi cerita. Kamu yang tahu betul, kamu tak akan bisa sendirian bila ada masalah besar datang. Kamu mendatangiku untuk sekadar menghabiskan malam lara bersama.

“Gue sebenarnya mau jalan kaki aja di luar sana. Tapi, gue tahu apa yang akan dilakukan di luar kalau keadaan lagi nggak beres gini. Gue sebenernya maunya sendirian aja di kamar. Tapi, rasa putus asa terlalu menguasai diri gue. Gue takut ngelakuin hal-hal mengerikan. Makanya, gue datengin elo. Lebih baik gue di sini aja sama lo.” ia bercerita sambil terisak.

Aku memilih diam mendengarkan. Biarkan ia luapkan kegelisahan dan rasa sedihnya melalui tangisan.

Ketika kenyataan begitu pahit. Kakimu terasa lemas dan tak sanggup berdiri. Hatimu begitu sakit seperti dihujam belati. Jantungmu berdegup kencang. Tanganmu bergetar. Dunia terasa samar. Kamu hanya melihat dirimu sendiri yang sedang terduduk dengan luka yang tak berdarah. Namun, kamu masih bisa duduk tenang, tidak berteriak, dan terus menangis. Kamu juga masih bisa berbagi duka denganku. Kamu tidak berduka sendirian. Saat itu, kamu telah berjuang.

Kehidupan Tidak Akan Menunggumu

Seperti biasa. Meskipun keadaan kamu belum begitu baik, kehidupan tetap berjalan. Setuju atau tidak, kamu tetap harus menjalani peranmu. Dalam keadaan terluka, kamu masih bisa menggunakan akal dengan baik. Kamu tahu, sulitnya keadaan tidak membuat kewajiban berhenti sejenak. Kewajiban tetaplah kewajiban. Yang harus dibayar dengan tanggung jawab.

Kamu menyambut pagi dengan senyuman. Kamu makan dengan lahap. Kamu menjalani aktivitas dengan suka cita. Orang-orang mungkin tertipu. Mereka menyangka kamu baik-baik saja. Sebenarnya tidak, masih ada luka yang masih basah di dalam dirimu. Kenyataan tidak seperti itu, lidahmu mati rasa. Semua rasa terasa hampa. Kamu tidak bisa merasakan semua rasa masakan itu dengan baik. Kamu tidak nafsu makan. Tetapi, tubuhmu memiliki hak untuk makan. Kamu sadar itu dan kamu tetap makan.

Ketika keadaan diri sedang tidak baik. Namun kamu sadar tentang peran, kewajiban, dan hak diri. Kamu pun tetap menjalani hari dengan baik. Saat itu, kamu telah berjuang.

***

Untuk kamu yang ingin identitasnya dirahasiakan. Kamu menunggu tulisanku ini, kan? Tulisan ini khusus untuk kamu. Kamu telah berjuang, sungguh. Peluk dirimu dengan pelukan yang paling hangat. Ucapkan terima kasih pada dirimu sendiri dengan ucapan yang paling tulus. Berikan tepukan bersahabat pada bahumu sebagai tepukan penyemangat. Dirimu sudah melakukan yang paling baik. Dirimu sudah berusaha sekuat tenaga menghadapi rasa sakit. Dirimu sudah berjuang 🙂 Kudoakan, semoga waktu segera menyembuhkan lukamu. Semoga Allah selalu menguatkanmu. Tetap kuat ya!

Merasakan Kesulitan

Aku tidak bisa membayangkan bagaimana kehidupan manusia bila tidak mengenal kesulitan. Sepertinya, hidup akan menjadi tidak karuan. Kita tidak akan tahu makna perjuangan. Lho, bukannya malah enak hidup selalu mudah-mudah saja? Menurutku, tidak enak.

Ini tentang kebiasaan makanku di rumah. Semua orang tua tentu ingin kehidupan anaknya mudah. Begitu juga dengan orang tuaku. Di rumah, kami tidak terbiasa makan ikan. Protein hewani yang biasa kami konsumsi adalah ayam. Alasannya, dulu saat kami kecil, mama takut anaknya menelan tulang ikan. Bagi mama, mungkin daging dan tulang ayam cukup aman dikonsumsi anak-anak.

Menurut cerita, mama kesulitan memilah antara tulang dan daging ikan. Ternyata, Shinta kecil pernah menelan tulang ikan. Aku tak berhenti menangis karena tulang tersangkut dalam tenggorokan. Sakit rasanya. Karena pengalaman itu, aku dan adik-adik tak diizinkan lagi makan ikan. Alhasil, aku tumbuh menjadi perempuan yang tidak begitu suka ikan.

Aku tidak mengira, ternyata kebiasaan itu menyulitkan saat tinggal jauh dari rumah. Aku pernah tinggal di kosan dengan gaji di bawah upah minimum. Masa-masa itu adalah masa perjuangan. Aku harus mengatur kehidupan sehari-hari sesuai dengan pemasukan. Uang kuliah memang dijamin oleh ayah. Namun, untuk biaya hidup, rasanya malu sekali bila harus bergantung kepada orang tua. Maka, aku mencoba membiayai hidup sendiri. Meskipun pada kenyataannya, pada akhir bulan seringkali masih meminta kepada ayah. Malu memang, namun saat itu tak ada pilihan lain. Aku harus menyesuaikan hidup dengan keadaan.

Mengubah kebiasaan yang sudah dilakukan sedari kecil tidak semudah membalikkan telapak tangan. Aku yang tidak terbiasa makan ikan pun harus memakan ikan demi bertahan hidup (wkwkwk berlebihan ya. Tapi ini serius 😝)

Kantorku memberikan makan siang. Sebenarnya, setiap hari lauknya bervariasi. Ada ayam, telor, dan ikan. Perjuanganku dimulai saat mendapat menu ikan. Apalagi ikannya diberi kuah (aku kurang suka lauk yang lembek dan tidak matang sempurna) Sudah pasti berat rasanya memakan ikan itu. Aku sangat kesulitan. Shinta besar tidak lagi takut makan ikan karena tulangnya. Kali ini, alasan tidak menyukainya adalah karena memang tidak terbiasa. Aneh saja memakan ikan.

Namun, perasaan tidak suka itu harus dikalahkan. Dulu, aku berpikir begini, menjadi pemilih makanan akan menyulitkan kehidupanku di kosan. Menolak memakan ikan, artinya aku harus membeli makan di luar, membeli makan di luar artinya akan menambah pengeluaran, jika aku terlalu pemborosan, maka gajiku tidak akan cukup selama satu bulan, kalau tidak akan cukup satu bulan, lagi-lagi aku harus meminta uang kepada ayah. Melalui pemikiran panjang, aku pun mencoba memakan ikan. Bersyukurlah wahai anak kosan, ternyata hidup mandiri dapat membuat kita belajar mengatur diri pada setiap situasi.

Sebenarnya tidak hanya tentang ikan. Mendapat jatah makan siang juga mengajariku agar tidak menghina makanan. Apapun makanannya, nikmati saja. Bila tidak cocok dengan cita rasa, selalu ada pilihan untuk memberi makanan tersebut pada sesama. Atau tinggalkan saja makanan tersebut di wadah. Memasak tidak mudah. Prosesnya cukup panjang. Butuh niat, waktu, dan tenaga dalam melakukannya. Mengetahui hal itu, mana mungkin aku sanggup menghina makanan?

Pengalaman sulit finansial memberikan banyak pelajaran. Shinta besar tak lagi takut tulang ikan, ataupun merasa aneh dengan ikan. Sebab, Shinta menyadari, makanan adalah satu dari banyak rezeki yang Allah berikan. Banyak saudara kita yang kesulitan mendapat makanan. Bukankah respon terbaik adalah rasa syukur yang terus terapalkan?

Kesulitan membuat manusia berjuang dan bertahan pada kehidupan. Kesulitan membuat manusia lebih menghargai segala kemudahan. Kesulitan juga meningkatkan kemampuan setiap insan. Meskipun tak mudah menghadapinya, bukankah setiap manusia perlu merasakan kesulitan?

Aktivitas yang Berarti

Dia yang sedang memandang langit berbintang sendirian, mampu membuat hatinya yang dirundung duka menjadi lebih tenang. Karena, ketika memandang langit berbintang, dia mengingat kuasa-Nya. Membuat langit yang indah saja Allah bisa. Apalagi masalah dirinya?

Orang lain yang tidak mengerti, mungkin merasa aneh mengapa dia menatap langit begitu lama. Bagi orang lain, menatap langit tidak memiliki makna apa-apa. Namun, bagi dia, menatap langit begitu bermakna.

***

Menelusuri jalan setapak tanpa mengamati sekitar, tidak akan memberi makna apa-apa. Sebab, yang kita tahu, kita hanya berjalan kaki biasa saja. Jalan kaki yang dapat membuat kaki pegal dan badan lelah.

Sekali-kali, coba niatkan, kita berjalan kaki tidak hanya untuk menuju tempat yang dituju. Cobalah berjalan kaki tanpa buru-buru. Cobalah berjalan kaki untuk mengamati. Sayang sekali bila kita melewatkan momen berjalan kaki begitu saja. Padahal, ada banyak hal bisa kita amati dan pelajari.

Aku melihat dua perempuan sedang duduk di pinggir danau. Aku perkirakan, usianya sekitar 19-20 tahun. Mereka sedang bercengkrama dan tertawa sambil menatap kamera gawai. Kameranya memang sengaja di pasang tepat di depan mereka. Aku tidak tahu pasti untuk apa mereka melakukannya. Namun, kutahu mereka benar-benar menikmati siang tadi. Aktivitas sederhana yang mudah dilakukan di mana saja, ternyata mampu membuat keduanya begitu bahagia.

Aku melihat laki-laki dan perempuan sedang duduk sambil bercerita. Mereka memakan es krim yang sedari tadi sudah siap ditangannya. Sesekali saling menatap dan kemudian menunduk malu. Aku tak tahu mereka sepasang kekasih atau bukan. Yang kutahu, mereka adalah dua manusia yang sedang jatuh cinta. Mungkinkah aku sok tahu? Ah sepertinya tidak. Bukankah dua tatap mata saling cinta akan terlihat meski tidak diungkapkan lewat kata?

Aku melihat seorang perempuan sedang duduk sambil memegang nasi bungkus di tangan kirinya. Ia menatap danau sambil menyuap sesendok nasi dan mengunyah dengan perlahan. Aku tersenyum melihatnya. Danau dan situasi yang tenang kurasa teman yang tepat untuk mengisi perut lapar.

Aku duduk di samping rerumputan sambil mengamati sekitar. Dan ditemani beberapa potong buah nanas yang sengaja kubeli di jalan tadi. Memakan buah di siang yang terik ini ternyata membahagiakan. Entah apa yang orang lain pikirkan tentangku, biar saja. Kupikir, setiap orang bebas melihat, memikirkan, dan mengira apa yang orang lain lakukan.

Di sini, kami tidak saling mengenal. Kami juga tidak tahu apa yang orang lain pikirkan. Kami hanya dapat saling mengamati dan menerka. Kemudian menyadari, ternyata setiap orang selalu memiliki cara tertentu untuk menggunakan dan menikmati waktu.

***

Setiap kita, bebas menggunakan waktu 24 jam setiap hari. Semoga 24 jam itu bisa kita gunakan dengan sebaik-baiknya.

Setiap orang juga bebas memilih aktivitas apa yang paling cocok dengan dirinya. Maka, nikmati dan syukuri waktu kita. Lalu, hargai waktu orang lain.

Biarlah setiap manusia menikmati dan berbahagia dengan aktivitas yang paling disukai. Contohnya, seperti dia yang senang menatap langit pada kalimat pembuka tulisan ini. Bukankah setiap orang memiliki aktivitas yang berarti?

Tiga Buah Nasihat

Nasihat tentang Memilih Calon Suami

“Kamu kalau memilih calon suami harus dapat rida orang tua, ya. Kalau orang tuamu tidak setuju, kamu harus nurut. Tinggalkan dia, pilih yang lain. Meskipun pada akhirnya kamu berhasil membujuk orang tuamu dan mereka menyetujui pernikahanmu, tetap saja tentang hati tidak ada yang tahu. Sangat mungkin, hati orang tuamu belum ikhlas menerima calonmu itu.” Ibu Siti memberi nasihat dengan kalimat yang menenangkan.

“Orang tua itu, punya insting Shin tentang memilih menantu. Mereka tahu laki-laki yang kamu bawa itu baik atau tidak untuk putrinya. Kamu jangan keras kepala, ya. Mereka itu sudah melewati banyak asam manis kehidupan. Jadi, mereka akan tahu bagaimana karakter si calon menantu bahkan dari kali pertama bertemu.” Ibu Siti melanjutkan nasihatnya.

Aku tidak memberikan tanggapan. Aku hanya menyimak saja.

“Rida Allah itu rida orang tua, kan? Maka, rida tersebut menentukan sekali bagaimana kehidupan rumah tanggamu nanti. Nurut aja ya sama orang tuamu. Percayalah, mereka tidak akan menyesatkanmu. Mereka selalu ingin Allah memberkahi kehidupan rumah tanggamu.”

Nasihat tentang Menghabiskan Ego

“Puas-puasin masa mudamu, Shin. Lakukan semua kegiatan positif yang kamu ingin sebelum menikah. Mau jalan-jalan, silakan. Mau beli buku yang banyak, silakan. Mau beli barang ini itu, silakan. Mau kulineran, silakan. Kamu tahu mengapa harus melakukan itu? Jika sudah berumah tangga nanti, tidak ada tentang kamu saja. Tidak ada tentang suamimu saja. Yang ada adalah tentang keluarga. Bagaimana meraih kebahagiaan keluarga di dunia dan akhirat. Intinya, kamu harus mendahulukan kepentingan keluarga dibandingkan kepentingan dirimu sendiri.” Ibu Siti berbicara sambil menatapku hangat.

Nasihat tentang Anak

“Kamu tahu? Tiap kali mengantar si mas ke pesantren, aku selalu menangis setiap perjalanan pulang. Aku selalu menahan diri untuk tidak menangis di depan si sulung. Jangan sampai mas melihat ibunya pergi dalam keadaan sedih. Setiap ibu tak akan tega membiarkan anak tinggal jauh dari rumah, Shin. Tapi, bila aku selalu berpikir seperti itu, artinya aku hanya memikirkan kebutuhanku sendiri. Iya benar aku egois, aku butuh anakku di dekatku selalu.” kali ini berbeda. Ibu Siti bercerita sambil menahan kesedihan. Aku tahu ia rindu si anak sulungnya yang saat itu sedang di pesantren.

“Si mas butuh belajar di Pesantren, Shin. Mas itu laki-laki. Kelak ia akan memimpin istri dan anak-anaknya. Ilmu agama selalu utama, Shin. Dengan ilmu itu, mas akan mencintai Allah. Bila ia mencintai Allah, ia akan menjaga perilakunya agar tetap dicintai Allah. Bekal itu penting untuk calon imam, Shin. Berbeda dengan anakku yang perempuan. Aku tidak akan mewajibkan dia belajar di pesantren. Biarlah ia di rumah saja. Biar aku sendiri yang mengajarkan ia belajar agama dan belajar memasak.” lanjutnya.

Aku terharu sekaligus bahagia mendengar nasihat Ibu Siti. Semoga ibu selalu dikuatkan dan dimudahkan Allah dalam mendidik anak-anaknya, aku berdoa dalam hati.

“Setelah belajar di Pesantren, Si Sulung mengajarkan aku banyak hal, Shin. Aku pernah menawarkan baju baru untuk lebaran kepadanya. Kamu tahu jawaban apa yang ia berikan? Ia mengatakan, tak perlu. Baju yang ia miliki saat ini masih sangat layak untuk dipakai. Ia belum membutuhkan baju baru. Ia bilang, hidup sederhana itu menenangkan hatinya. Anak kelas satu SMP mengatakan hal seperti itu kepadaku, Shin. Bagaimana mungkin aku tidak malu sekaligus terharu?” Ibu Siti berbagi pengalaman kepadaku. Ada ketenangan terlihat dari sorot mata. Melihatnya, aku pun turut merasa tenang.

***

Ibu Siti memberikan nasihat yang begitu menenangkan. Ibu selalu mampu menyampaikan nasihat dengan cara menyenangkan. Ibu tidak pernah merasa paling tahu. Ibu juga tidak memaksa orang lain agar setuju dengan apa yang diyakini. Ibu Siti berbagi pengalaman dengan tulus. Ketulusannya mampu menyentuh hatiku. Jika hati sudah tersentuh, semua hal menjadi mudah dilakukan, kan? 🙂 Semoga aku bisa menjalankan peran dengan baik seperti ibu. Terima kasih sudah berbagi, Ibu Siti ♡

Penjelasan

Setiap orang memandang persoalan berbeda-beda.
Ada yang membutuhkan penjelasan, ada juga yang tidak.

Dari hasil ‘ngobrol’ bersama seseorang yang tidak membutuhkan penjelasan,
Ia akan memutuskan sesuatu setelah melakukan pengamatan.
Bila teman berbuat baik, ia akan berlaku lebih baik.
Bila teman berbuat jahat, ia akan meninggalkannya.
Ia tidak membutuhkan penjelasan melalui lisan atau tulisan.
Jadi, jangan heran bila seseorang akan segera pergi tanpa kata setelah dikecewakan.
Pada fase itu, bisa jadi ia sangat kecewa.

Dari hasil ‘ngobrol’ bersama seseorang yang membutuhkan penjelasan,
Ia tidak akan pernah merasa cukup memutuskan sesuatu hanya dari pengamatan.
Ia menganggap penting suatu hubungan.
Ia menganggap penting sebuah komunikasi.
Apa-apa yang tidak dikatakan tidak akan memberikan kesepakatan, kan? Jadi, jangan heran bila ia mengkonfirmasi ulang sebuah ketidakjelasan.
Sebab, baginya, hal itu adalah langkah awal untuk memutus penantian yang berkepanjangan.

***

Apapun tipe orangnya, dalam sebuah hubungan, komunikasi tetaplah perihal penting. Kita tidak bisa membaca pikiran setiap orang. Satu-satunya cara yang dapat dilakukan adalah bicara.

Hal yang paling menyakitkan sesungguhnya bukanlah mendapat kenyataan tidak menyenangkan. Melainkan, tidak dihargai oleh teman. Dalam pertemanan, saling terbuka dan jujur bukankah cara kita menghargai teman? Bukankah keduanya adalah modal untuk ‘menjelaskan’?

Tak Ada yang Bilang Menjadi Teladan Itu Mudah

Melunakkan hati si keras kepala sesungguhnya sederhana. Kamu hanya perlu menurunkan intonasi suara. Bila kamu mampu, maka, kamu akan meraih hati si keras kepala.

Memenangkan hati si keras kepala sesungguhnya sederhana. Kamu hanya perlu mendengarkan untuk empati. Bukan mendengarkan untuk bereaksi.

Aku, si keras kepala ini, sesungguhnya terganggu dengan ucapanmu tadi pagi.

***

Pagi tadi, hatiku berkata lirih, jika memang belum memahami, mengapa harus pernyataan itu yang kamu pilih?

Biar saja. Nanti ia akan mengerti dengan sendirinya.” begitu katamu. Mendengar kalimat itu, aku kehabisan kata-kata. Aku tak tahu harus menanggapi seperti apa. Bagaimana bisa kamu mengatakan kalimat itu, ketika kami sedang berusaha terus memperbaiki diri? Tahu kah kamu apa yang sedang kami perjuangkan? Kami sedang menekan semua ego agar mampu berperilaku yang pantas diteladani. Sebab, kami tahu. Dua manusia kecil itu selalu mengamati gerak-gerik kami. Dua manusia kecil itu selalu mencontoh perilaku kami.

“Bagaimana cara ia sadar dengan sendirinya, bila ia belum tahu cara seperti apa yang baik dan benar?” aku menanggapi.

“Kesadaran hanya datang bila ada input positif pada kehidupannya. Entah datangnya dari luar. Atau dari diri sendiri karena ia mencari. Dua manusia kecil belum bisa mencari sendiri.” aku menambahkan, dalam hati. Adalah kesia-sian berbicara pada seseorang yang tidak mau mendengar. Pagi tadi, aku enggan melanjutkan percakapan.

Melakukan perbuatan apapun sesuka hati memang paling dinanti. Melakukan perbuatan apapun sesuai keinginan memang paling diharapkan. Melakukan perbuatan apapun tanpa berpikir panjang memang jalan pintas paling cepat. Tapi, tahukah kamu, ternyata segala keputusan kita akan berpengaruh pada kehidupan orang lain? Tahukah kamu, segala perbuatan kita akan berdampak pada kehidupan orang lain?

Aku pun memahami, menjadi teladan memang ujiannya besar sekali. Manusia tak akan luput dari kekhilafan. Tetapi, aku berharap, kita pun berusaha melakukan yang baik-baik minimal di depan kedua manusia kecil itu.

Jika melakukan banyak perbuatan baik cukup membebanimu, bagaimana kalau kita melakukan satu perbuatan saja secara konsisten? Aku mau, kita saling mengingatkan dalam kebaikan. Maukah kamu, melakukannya bersama kami?

***

Sampai tulisan di atas selesai, si keras kepala masih belum mendapatkan kesepakatan.

Aku menengadahkan kepala ke langit.

Hatiku pun berkata,“Jika segala upaya telah dilakukan namun tetap saja tak dihiraukan, kupikir tugasmu memang hanya sampai di sana saja. Kuasa penuh atas hati seseorang memang hanya pada Tuhan. Kini, kamu hanya bisa mendoakan. Biarlah Allah yang membuka hatinya.”

Masih menengadahkan kepala ke langit.

Aku menutup wajah dengan kedua tangan dan membukanya kembali. Aku menarik napas panjang. Dan kemudian menghembuskan.

Mengusahakan Kebaikan Bersama

Pada setiap perkara, kita akan diberikan begitu banyak pilihan untuk setiap kesempatan. Pilihan yang memang datang sendiri pada skenario kehidupan. Atau pilihan yang memang kita cari tahu sendiri.

Pada pilihan yang kita cari tahu sendiri, seringkali kita menemukan orang bersikap egois namun beralasan ‘setiap orang berhak mendapatkan yang terbaik’. Mendengarnya sungguh ironis. Kenyataan menunjukkan bahwa sikap egois seringkali melukai perasaan orang lain. Kita begitu gigih mengutamakan diri sendiri hingga terlupa bagaimana keadaan orang lain. Kita lupa melontarkan pertanyaan ini pada diri sendiri,“Atas pilihan dan keputusanku ini, adakah hati yang tersakiti?”

Beberapa orang berkata, kita harus bertahan pada kehidupan yang keras ini. Kita harus menyadari setiap orang tidak sama seperti diri kita. Tidak semua orang berbuat baik seperti yang kita lakukan. Jadi, adaptasilah pada kehidupan yang keras ini. Tidak ada yang benar-benar tulus seperti itu.

Meskipun hati begitu menolak keras atas pernyataan itu, aku memilih untuk mendengarkan saja. Aku tahu, berdiskusi dengan dia yang tidak memiliki nilai dan tujuan sama adalah sia-sia. Sebab, tidak akan ada kesepakatan. Hal itu wajar. Tentang nilai dan tujuan memang tidak akan pernah bisa dipaksakan.

**

Setiap Orang Berhak Mendapatkan yang Terbaik

Aku setuju dengan pernyataan di atas. Allah telah berjanji, setiap hal telah berpasang-pasangan. Yang baik akan berpasangan dengan yang baik, begitu juga sebaliknya. Maka, agar janji Allah terjadi, kita pun harus mengusahakannya.

Berusaha mendapatkan yang terbaik bukan berarti hanya memikirkan diri sendiri. ‘Selalu ada cara’ memilih sikap untuk kebaikan bersama. ‘Selalu ada cara’ memilih tanpa menyakiti sesama. ‘Selalu ada cara’ membuat keputusan tanpa membuat luka. Aku yakin setiap orang bisa memilih ‘cara’ itu. Aku yakin setiap orang tahu bawa ‘cara’ itu adalah baik. Aku tahu setiap orang memiliki hati yang tulus untuk selalu peka pada setiap ‘cara yang benar’. Hanya saja, semua tergantung setiap orang. Mau atau tidak mengambil cara itu.

Berdasarkan pengalamanku, ketika memutuskan mengambil cara yang baik, jangan pernah berharap apa-apa atas keputusan itu. Tugas kita berakhir ketika selesai melakukan perbuatan baik. Dampak setelahnya adalah urusan Allah.

Jangan membuat pengharapan berdasarkan nilai dan tujuan kita. Jangan berharap pada manusia. Labuhkan harapan kita hanya pada Allah. Hanya dengan cara itu, kita melindungi hati ini agar tidak terluka dan kecewa. Hanya dengan cara itu, hati kita akan terjaga dan tetap bahagia.

Bertahan pada Kehidupan yang Keras

Seseorang mengatakan,“Ketulusan tidak pernah salah. Yang salah adalah memberikan ketulusan pada orang orang yang salah.”

Inti dari kalimat itu sebenarnya, Ia ingin mengingatkanku. Jangan pernah menyesal telah melakukan segala hal menggunakan hati. Jangan pernah menyesal telah melakukan perbuatan dengan dengan tulus. Meskipun perlakuan yang didapat tidak begitu baik, bahkan buruk, tak apa. Kamu melakukan itu bukan untuk mendapatkan hal baik dari orang lain, kan? Kamu melakukan itu, karena hanya dengan cara itu hati dan pikiranmu merasa nyaman. Hanya dengan perbuatan seperti itu hati dan pikiranmu merasa bahagia.

Bertahan pada kehidupan yang keras bukan berarti kita harus bersikap keras. Hingga saat ini, yang aku yakini, jangan sampai rasa sakit merubah diri sendiri menjadi lebih buruk. Melakukan hal yang sama hanya karena ia melakukan hal tidak baik, hanya akan melukai hati kita sendiri.

Yang tidak boleh dilupa, hal baik akan mendatangkan hal baik. Jika tidak hari ini, mungkin esok. Jika tidak esok, mungkin lusa. Jika tidak lusa, mungkin suatu saat. Saat-saat itu pasti akan datang. Yakin, Allah Maha Baik akan mendatangkan hal baik pada waktu dan saat yang tepat 🙂

Satu hal lagi yang tidak boleh dilupa, hal baik tidak akan datang dari seseorang atau hal yang sama. Bisa jadi hal baik itu datang dari orang lain atau tempat lain. Bukankah, kebaikan itu begitu luas? Bukankah kebaikan itu bisa datang dari banyak hal? Bukankah kebaikan itu bisa datang dari mana saja?

**

Kita selalu berhak mendapatkan yang terbaik. Dalam mengusahakannya, semoga kita tak lupa bahwa setiap pilihan dan keputusan yang diambil, akan memberikan dampak pada kehidupan orang lain. Jika kebaikan bersama bisa kita dapatkan, mengapa harus ada orang lain yang dikorbankan?

Hati yang Bahagia

Jika menjalani hari dengan hati yang bahagia, maka jalan terjal atau landai pun tak ada beda. Keduanya sama-sama mudah dijalani. Hati adalah modal untuk memulai sesuatu. Oleh sebab itu, banyak orang mengatakan “luruskan niat”, karena dengan begitu tak akan ada kesulitan berarti.

Niat yang lurus dan hati yang ikhlas akan memudahkan segala urusan. Solusi juga akan mudah didapatkan. Gagal rencana A, kita akan berusaha melakukan rencana B, rencana B gagal lagi, kita akan mencoba rencana C, begitu seterusnya sampai kita berhasil melewatinya. Kita tak akan lelah mencoba dan berusaha. Kita tak akan berputus asa. Karena kita yakin, siapa yang bersungguh-sunguh pasti akan berhasil. Kita pun mengerti dengan baik arti sebuah kegagalan. Gagal berarti memang belum berjodoh, bukan hal yang baik untuk kita, dan harus belajar lebih banyak.

Untuk Kejadian yang Menyakitkan

Hati yang bahagia akan membuat kita mudah memaafkan. Hati yang bahagia membuat kita mudah mengerti perlakuan tak baik dari orang lain. Hati yang bahagia membuat kita lebih mudah memetik hikmah pada setiap kejadian. Hati yang bahagia membuat kita mampu berpikir dengan jernih bahwa berbuat salah sungguh tak apa. Kita dan orang lain hanyalah manusia biasa. Yang tak akan luput dari kesalahan. Hidup tidak hanya tentang hal-hal yang membuat hati senang, kan?

Untuk Menjalani Kehidupan Sehari-hari

Hati yang bahagia akan membuat kita melakukan banyak hal dengan cara yang menyenangkan. Hati yang bahagia akan memudahkan kita mengambil keputusan dengan kepala dingin dan bijaksana. Hati yang bahagia juga memudahkan kita untuk tersenyum tulus pada kondisi apapun.

Layaknya iman yang mudah dibolak-balikkan, begitu juga dengan keadaan hati. Saya tak akan mengatakan membuat hati bahagia itu mudah. Membuat hati bahagia adalah sebuah tantangan. Namun, kita perlu mengusahakannya. Hal ini semata-mata bukan demi orang lain. Melainkan, demi diri sendiri. Demi kebahagiaan kita. Bukankah setiap orang berhak untuk bahagia?

Mari bersama-sama berjuang! Hati yang bahagia tidak hanya mimpi semata jika kita memperjuangkan dalam kehidupan nyata 😉