Perjuangan Para Pencari Ilmu

Bu Endah tetap datang, meskipun sedang flu berat. Ia pun bersin berkali-kali.

Bu Sassy juga tetap datang, padahal ia baru saja sembuh dari diarenya.

Bu Ita juga datang bersama si kecil Ibrahim. Ibrahim kini berusia 3 bulan.

Melihat perjuangan ketiga ibu ini membuatku malu. Faktanya, Sabtu pagi kemarin sebenarnya aku hampir saja mengurungkan niat untuk datang ke masjid itu. Alasannya hanya karena perutku sedikit sakit. Namun, hatiku menolak keinginanku. Dengan langkah kaki yang berat, aku pun memaksakan diri agar tetap pergi.

Ada rasa bersalah di dalam hati tiap kali aku mengedepankan ego duniawi dan mengabaikan masalah akhirat. Dan ada dorongan kuat dari dalam hati untuk segera melakukan urusan akhirat ini. Mungkinkah ini yang dimaksud tanda bahwa Allah masih mencintai seorang hamba? Semoga Allah tetap memberikan petunjuk, meskipun hamba-Nya seringkali mengingkari.

Jika saja para ibu mengedepankan rasa malasnya, alasan Bu Endah kurasa cukup kuat untuk tidak hadir dalam pengajian pekanan ini, flu beratnya cukup mengganggu dirinya. Alasan Bu Sassy juga cukup kuat untuk absen, badan lemasnya akan menyulitkan dirinya bepergian pagi itu. Atau Bu Ita yang sedang mengasuh bayi. Ia pasti repot mempersiapkan diri dan bayinya. Jika saja Bu Ita mengurungkan niatnya untuk mengaji, kurasa Allah akan memaklumi.

Alhamdulillah, ibu-ibu yang sedang sakit tetap hadir dan Bu Ita juga hadir dengan membawa si bayi.

Mungkin hal seperti ini yang dimaksud para guru ngaji mengapa hadir ke majelis ilmu itu penting. Kita bisa saja menonton ceramah di youtube. Atau mendengarkan podcast-podcast Islami. Namun, datang langsung ke majelis dan bertemu para pencari ilmu akan mengembalikan semangat kita yang hampir redup. Kita pun akan tergerak dan mempersiapkan amunisi untuk menggencarkan ibadah harian lagi. Dan dua hal itu sulit kita dapatkan dari youtube ataupun podcast tadi.

Pernah suatu ketika beberapa temanku yang seorang guru harus menghadiri acara seminar parenting di sekolah. Dan acara dilaksanakan Hari Sabtu pukul 08.00 pagi. Sedangkan jadwal mengaji kami adalah pukul 06.30 atau 07.00. Ia pun memberitahu guru ngaji kami tentang kegiatan itu.

Tahukah kamu bagaimana respon para ibu setelah tahu kegiatan para guru? Hampir semua ibu menyarankan agar jadwal mengaji dimajukan. Jadilah kami mulai mengaji pukul 06.00 pagi. Masya Allah 🥺

Jika bukan karena cinta-Nya pada Allah, kurasa para ibu akan mencari berbagai alasan untuk tidak hadir pada jadwal mengaji pekanan ini. Sebaik-baiknya penguat niat dan tekad memang hanya rasa cinta, ya. Ia mampu mengalahkan segala masalah yang ada. Semoga kita selalu menautkan segala cinta hanya karena-Nya.

Datang ke majelis ilmu memberi banyak manfaat sekali. Semangat mengaji yang kusebutkan tadi adalah hanya salah satu manfaatnya saja. Beberapa manfaat lainnya adalah kita akan akan mendapat ketenangan hati, rahmat, dimuliakan malaikat, dan masih banyak yang lainnya. Kamu bisa baca di sini.

Semangat mengalahkan rasa malas, para pencari ilmu 💪Pikirkan lagi, lagi, dan lagi bila dirimu mendapatkan seribu alasan untuk menggagalkan rencana mengaji. Ikuti kata hati, ia akan memberi petunjuk dari Allah yang kita cintai 😊 Bismillah, mudahkan kami, ya Allah.

Advertisements

Seandainya Kita Mengenal Bulan Ramadhan

Sabtu kemarin adalah liqo pertamaku tahun ini. Dengan guru dan tempat belajar yang baru. Masjid yang aku datangi berada di dalam sebuah kompleks perumahan muslim. Ini adalah pengalaman pertamaku masuk ke dalam kompleks perumahan muslim. Masjid yang aku datangi tidak jauh dari gerbang utama. Saking dekatnya, kita bisa melihat masjid hanya dari depan gerbang. Keren, ya?

Di depan masjid ada abang tukang sayur dan beberapa ibu-ibu sedang memilih sayur. Karena ini adalah kompleks perumahan muslim, seluruh ibu-ibu pun menggunakan jilbab. Beberapa anak bermain di depan masjid. Mereka juga menggunakan jilbab. Benar-benar lingkungan yang indah, gumamku dalam hati.

Setelah mengamati mereka sekilas, aku segera masuk ke dalam masjid. Rupanya Bu Cucu lebih dulu sampai dan sedang duduk di karpet itu. Sebenarnya aku belum pernah bertemu Bu Cucu. Tetapi, bermodalkan informasi foto profile whatsapp, aku yakin betul itu Bu Cucu.

Bu Cucu tersenyum dan mengulurkan tangannya untuk berkenalan. Aku tersenyum balik dan menyapanya. Bu Cucu masih muda. Mungkin berusia 40 tahun. Berwajah teduh dan ramah. Siapapun tak akan sungkan menyapanya lebih dulu. Seperti perkenalan pada umumnya, kami saling memperkenalkan diri dan bertukar tanya. Kesan pertama bertemu dengannya, Bu Cucu adalah orang yang komunikatif dan rendah hati. Saat asik mengobrol, beberapa temanku datang dan pengajian pun di mulai.

Tidak seperti kelompok pengajianku sebelumnya yang lebih banyak didominasi wanita muda dan belum menikah, kelompok ini kebalikannya. Aku adalah yang paling bungsu. Teman-temanku sudah menikah dan memiliki anak. Mayoritas rentang usia mereka adalah 35-40 tahun. Meskipun begitu, dari segi fisik, mereka tampak tak jauh dariku. Mereka begitu ceria dan senang tersenyum. Mungkin perihal tersebut yang membuat mereka awet muda 😀

Bu Cucu menjelaskan, kegiatan pengajian ini ada empat yaitu, kultum yang disampaikan oleh anggota, tilawah, materi oleh Bu Cucu, dan setor hafalan. Program kami adalah menghafal juz 30. Dimulai dari Surat An-Naba.

Materi yang disampaikan Bu Cucu adalah tentang keutamaan Bulan Ramadhan. Bu Cucu menjelaskan dengan bahasa yang sederhana dan mudah dimengerti. Ia membuka materi dengan pertanyaan ini,“Apa yang ibu-ibu persiapkan untuk Bulan Ramadhan? Kulkas yang dipenuhin untuk buka puasa dan sahurkah, bu?” kami saling melempar tatap dan terseyum malu. Benar sekali Bu Cucu. Kita seringkali salah memaknai suatu hal penting.

Meteri yang Bu Cucu sampaikan seperti ini,

Bulan ramadhan itu istimewa. Tetapi, orang-orang tidak mempersiapkannya dengan baik.

Ada satu contoh, mungkin akan menggerakkan hati kita. Jika saja kita memiliki baju seharga 100.000 dengan baju seharga 10 juta apakah kita akan memperlakukan keduanya dengan sama? Tentu tidak. Kita akan merawat dengan baik baju yang 10 juta. Mungkin, baju tersebut akan kita kirim ke laundry. Mungkin, kita akan memberi pesan kepada pihak laundry agar mencuci baju dengan hati-hati. Begitu pula dengan Bulan Ramadhan. Jika saja kita tahu keutamaan Bulan Ramadhan, maka kita akan menjaga amal ibadah sebaik mungkin. Sebab, kita tahu Bulan Ramadhan begitu berharga.

Muslim memiliki empat Bulan Haram (Rajab, Dzul Qo’dah, Dzul Hijjah, Al-Muharram) yang bila kita melakukan banyak amal ibadah, akan mendapatkan pahala yang berlipat ganda. Begitu juga sebaliknya. Tetapi, Bulan Ramadhan lebih istimewa dibandingkan bulan tersebut. Kebayang tidak betapa mulianya Bulan Ramadhan ini? Hanya Bulan Ramadhanlah, bila kita beribadah dengan baik, maka segala dosa akan digugurkan. Bulan Ramadhan ibarat Olimpiade bagi umat Islam, goalnya adalah takwa.

Bu Cucu juga menceritakan beberapa fakta di sekitar kita. Aku tertunduk malu mendengarnya. Fenomena itu begitu ‘akrab’ denganku. Sebelum Bulan Ramadhan tiba, semua orang memuaskan diri menyantap makanan yang disuka dan mendatangi tempat yang disenangi, sebab kita tahu saat Bulan Ramadhan tiba akan sulit melakukan semua itu. Saat Bulan Ramadhan tiba, kita begitu sibuk mempersiapkan menu buka puasa dan menyusun agenda kegiatan buka puasa bersama. Saat Bulan Ramadhan berakhir, kita bergembira karena tak sabar menunggu lebaran tiba.

Ada apa dengan kita? Kita seringkali salah fokus terhadap banyak hal. Kita tidak berusaha beribadah sebaik mungkin. Kita malah memikirkan hal lain. Mungkin semua itu dilakukan tanpa sadar. Sebab, kita tak tahu ada banyak kemuliaan yang didapat selama Bulan Ramadhan. Kita tak tahu, Allah memberikan banyak pahala berlimpah bila kita melakukan amal kebaikan. Dan kita tak tahu, Allah mengampuni segala dosa bila kita memohon ampun atas segala kekhilafan.

Bila kita begitu mengenal Bulan Ramadhan, bukankah kita akan bergembira menyambutnya datang? Bila kita begitu mengenal Bulan Ramadhan, bukankah kita akan bersedih bila bulan mulia ini berakhir?

Kamu tahu? Para sahabat Rasul mempersiapkan diri sebelum Bulan Ramadhan tiba enam bulan lamanya. Mereka berlatih beribadah sunnah dan berdoa. Mereka berdoa, agar mendapat keutamaan-keutamaan Bulan Ramadhan dan meraih derajat ketakwaan. Setelah Bulan Ramadhan, mereka juga berdoa agar semua amal kebaikan yang dilakukan diterima oleh Allah. Para sahabat yang sudah dijamin masuk surga saja begitu cemas terhadap amal ibadahnya, bagaimana dengan kita? Kita sepertinya harus banyak introspeksi lagi :’)

Kemarin, ada doa bagus yang Bu Cucu ajarkan. Begini doanya,”Allahumma Ahillahu ‘Alaina Bilyumni. Wal-iman Wassalaamati, Wal-Islam Rabbi Warabbakallah.”

Ya Allah hadirkanlah ramadhan itu kepada kami dengan rasa tenang dan keimanan. Dengan keislaman. Wahai Allah Tuhanku dan Tuhanmu juga.

Sejak Kapan Mulai Mendidik Anak?

Many years ago, I met a young child who had memorised the Quran at 3 years old, so I asked his parents about how they nurtured him.

The father said, “When his mother was carrying him in her womb, she would recite Quran everyday. When she cooked, she recited Quran upon the food. When she drank, she recited Quran upon the drink. When she was sitting down freely, she would listen to the Quran. When she made du’a, she asked Allah to bless her child to be a person of the Quran. When he was born – his mother would recite Quran before feeding him. When he would sleep, he would listen to the Quran. When she played with him, she recited Quran to him. His entire life of three years was nothing but the Quran, so Allah made its memorisation easy for him. Dear parents, do you see how your piety affects your child? Do you see how your lifestyle can shape your child? Do you see how parenting starts before parenting?

Shaykh Mohammad Aslam

Kalimat di atas adalah kiriman dari sahabatku. Aku dan sahabatku sepakat berbagi satu ayat atau satu hadist setiap pagi. Semua berawal dari unggahan status whatsappku,”Sun will rise and we will try again.” Ia pun menanggapi,“Apapun yang sudah dilakukan, satu langkah kecil, selanjutnya tawakallah kepada Allah.” Setelah berbalas chat, ia mengajakku untuk melakukan tukar ayat dan hadist setiap pagi. Maka, dengan senang hati aku menyetujuinya.

Pagi tadi, aku tidak berbagi ayat atau hadist. Tetapi, berbagi sedikit materi tentang Kajian Kemuslimahan di Masjid UI Hari Rabu kemarin. Materinya bagus sekali. Tentang bagaimana cara memilih sekolah untuk anak. Sahabatku pun menanggapi chatku dengan semangat. Akhirnya, kami pun diskusi tentang topik itu.

Aku dan sahabatku bersyukur sekali mendapat ilmu tentang ini. Oleh karena itu, aku ingin berbagi juga ke teman-teman wordpress. Selamat membaca. Semoga bermanfaat 🙂

Materi ini disampaikan oleh Ustadzah Masfarwati Muslim. Kemarin, ustadzah senang sekali banyak muslimah single yang hadir. Kata beliau, dengan tahu ilmunya lebih awal, semoga kami bisa menjadi ibu yang baik.

Mendidik anak ada tiga yaitu sebelum anak di dalam rahim, saat di rahim, dan setelah anak dilahirkan.

Sebelum Anak di dalam Rahim

Pertama, memilih calon yang shalih/shalihah. Semoga dalam memilih teman hidup kita tidak hanya memikirkan diri sendiri. Seperti hanya memikirkan kriteria idaman atau memikirkan kesamaan antara diri kita dengan dia. Ternyata rumah tangga tidak sesederhana itu. Kelak, ada banyak amanah yang akan kita terima. Kita harus menjalaninya dengan tanggung jawab. Kita tak akan mampu mengemban itu semua seorang diri saja. Kita membutuhkan teman hidup yang memiliki visi sama. Mau di bawa ke mana rumah tangga? Mau dididik seperti apa anak-anak kita? Memilih calon yang shalih/shalihah adalah modal penting untuk mendidik anak yang taat pada Allah.

Kedua, melakukan doa bersama sebelum melakukan hubungan intim suami istri. Kata Ustadzah ini penting dan harus menjadi kebiasaan. Karena ada banyak keberkahan yang didapatkan oleh suami, istri, dan keturunannya.

Setelah Anak di dalam Rahim

Orang tua harus melakukan kebiasaan baik bersama-sama. Organ tubuh pertama yang berfungsi dengan baik adalah telinga. Maka, sering membaca Al-Qur’an adalah keharusan. Orang tua juga harus mendoakan anak secara lisan. Khusus ibu, lakukan belaian lembut ke perut sambil mendoakan. Anak mendengar semua yang kita lakukan. Yakinlah, ada hal-hal yang tak kasat mata mungkin kita tidak memahaminya. Namun, kuasa Allah itu tidak terbatas. Bayi yang tampak tak tahu apapun ternyata mendengar dan menyadari apa-apa yang orang tua lakukan. Oleh karena itu, perbanyak lakukan amal kebaikan dan perbanyak doa. Allah akan mengabulkan.

Setelah Anak Dilahirkan

Ibu adalah madrasah pertama. Maka, mengajarkan agama kepada anak adalah kewajiban seorang ibu. Menurut ustadzah, pendidikan awal anak adalah mengenal dan mencintai Allah, mengenal dan mencintai Rasul, dan mengenal dan mencintai Al-Qur’an.

Setelah memasuki usia sekolah, tugas orang tua adalah memilihkan anak sekolah yang baik. Definisi baik di sini adalah sekolah yang mengajarkan secara seimbang antara ilmu agama dan ilmu-ilmu lainnya. Rekomendasi ustadzah, anak di sekolahkan di Sekolah Islam Terpadu. Jika keuangan tidak memungkinkan, tak apa anak bersekolah di sekolah lainnya. Namun, anak harus mengikuti kegiatan mengaji setiap hari. Pendidikan agama itu penting. Tanpa itu, anak tidak akan memiliki ilmu tentang kebenaran. Seseorang yang tidak memiliki konsep kebenaran tak akan bisa membedakan antara hal benar dan salah. Ia juga tidak memiliki prinsip yang kokoh ketika bergabung pada lingkungan yang heterogen.

Di sela-sela kajian, ustadzah pun bercanda. Ia mengatakan,“Minimal, ibulah yang mengajarkan anak Surat Al-Fatihah sampai hafal. Jangan biarkan guru ngajinya yang mengajari. Ibu tahu? Bila ada pembanding, Ibu mengajarkan Surat An-Naba. Lalu, guru ngaji mengajarkan Surat Al-Fatihah. Siapakah yang mendapatkan pahala paling banyak? Ibu atau guru ngaji? Guru ngaji bu. Si anak lebih sering baca Al-Fatihah dibanding Surat An-Naba bu. Dia baca surat Al-Fatihah 17 kali dalam sehari bu. Anak ibu jarang baca An-Naba. Kepanjangan, katanya. Jangan sia-siakan kesempatan itu bu. Surat Al-Fatihah, wajib para ibu yang mengajarkan!” aku tertawa sambil berbicara dan mencatat dalam hati. Iya, kelak, harus aku sendiri yang mengajarkan anakku mengaji.

Dalam chat whatsapp, sahabatku mengatakan bahwa anak adalah investasi akhirat. Apapun harus dimulai dari diri sendiri. Jika ingin anak shalih atau shalihah, maka kita harus jadi orang tua yang shalih dan shalihah juga. Semoga bermanfaat ya, teman-teman. Semangat menjadi orang tua dan calon orang tua yang shalih dan shalihah ya. Semoga Allah memudahkan 🙂

Dakwah dengan Caranya Sendiri

Lagi-lagi kamu memberikan kejutan pagi. Jika dahulu satu buah gamis berwana merah muda. Kali ini, satu buah gamis berwarna hijau muda, kamu selipkan diantara buku dan kue moci. “Mamaku memberikan moci untukmu, bukunya kamu pinjam saja dulu, dan itu gamis untuk kamu.” katamu. Seperti biasa, kamu bisa menyelipkan dakwah dengan cara yang menyenangkan.

Melihat apa yang kamu lakukan untukku, aku semakin menyadari nasihat yang Ustadz Adi Hidayat katakan. Saat itu, Ustadz meluruskan perihal yang keliru. Kata salah satu jamaah kajian, dakwah itu hanya tugas seorang ustadz. Dengan kalimat yang nyaman didengar dan tidak menyakiti, Ustadz pun menjelaskan. Katanya, penceramah memang sebuah profesi. Namun, tentang berdakwah, hal itu adalah tugas setiap muslim. Sebab, dakwah bukan tentang seberapa banyak ayat yang kita hafal atau seberapa banyak ayat yang kita kaji. Dakwah adalah tentang bagaimana kita menunjukkan sifat-sifat seorang muslim dalam menjalani hari. Sehingga ada kebermanfaatan yang orang sekitar rasakan.

Pada kalimat penutup, Ustadz Adi mengingatkan bahwa kita bisa memperkenalkan indahnya Islam dalam kehidupan sehari-hari. Berlaku jujur dan amanah dalam bekerja, misalnya. Bukankah keduanya adalah sifat yang Rasul ajarkan kepada umatnya? Kita bisa berdakwah dengan cara yang sederhana namun bermakna. Dari kejutan pagi yang sahabatku berikan, aku sadar, ia berdakwah dengan caranya sendiri. Dan hal tersebut benar-benar menyentuh hati.

Nunu, ia adalah sahabatku yang memberi kejutan pagi itu. Teman perjalananku belajar tentang Islam dan memperbaiki diri. Kami senang berdiskusi tentang hal-hal ‘serius’. Aku ingat betul topik pertama yang kami diskusikan adalah bagaimana cara muslimah berpakaian. Saat itu kami masih berkuliah. Upaya yang kami lakukan pertama kali adalah membiasakan diri menggunakan rok saat di kampus. Alhamdulillah, nyaman sekali.

Nunu selalu senang berbagi. Ia sering memberi hadiah kepadaku. Entah itu jilbab, gamis, atau buku. Dan aku terharu. Allah begitu tahu kalau aku sedang haus akan ilmu dan ingin sekali memperbaiki diri. Melalui Nunu, Allah memudahkan jalanku. Ternyata ‘berbagi’ juga bisa menjadi jalan dakwah yang kita pilih. Nunu mengenalkan indahnya Islam melalui ‘berbagi’. Berkat Nunu, aku pun menjadi tahu nyamannya menggunakan gamis dan jilbab yang menutup dada. Berkat Nunu pula, ilmuku bertambah melalui buku. Nunu selalu mampu menyentuh hati, tanpa pernah menyakiti.

Ada banyak jalan dakwah. Setiap kita berkewajiban memperkenalkan Islam dengan cara yang indah. Seperti kejutan pagi ini. Sebuah gamis, buku, dan kue moci yang kamu beri. Kasih sayang, perhatian dan kemurahan hati mampu masuk ke dalam relung hati. Aku akan menggunakan gamis dengan senang hati. Bukankah ini adalah pakaian muslimah yang kita bicarakan dahulu sekali? Tanpa kamu sadari, kamu berdakwah tentang pakaian muslimah, sahabatku. Dan aku sama sekali tidak merasa digurui. Terima kasih, Nunu. Terima kasih telah menjadi teman perjalanan memperbaiki diri 🙂

***

Ada tulisan dr. Davrina Rianda di Instagram yang aku sukai,“Bahwa dakwah tidak hanya tentang menjadi ‘guru’, tetapi juga menjadi ‘teman’ dalam perjalanan memperbaiki diri. Dakwah tidak hanya tentang mengajari, tetapi juga menempatkan diri pada ‘kaki’ orang lain sehingga pesan yang disampaikan lebih pas untuk menggerakkan dan menyentuh hati.”

“Pertama kali aku merasa, dengan berbagai nikmat ‘dibimbing’ oleh teman-teman shalih yang kita terima, kita punya tanggung jawab untuk melakukan hal yang sama kepada teman lainnya. Mungkin, kita punya poin tersendiri, karena melewati proses hijrah: kita paham bagaimana pesan kebaikan itu bisa menyentuh hati, tanpa menyakiti. Kita paham, betapa beratnya, kita paham betapa nikmat setelahnya. Dan betul, adanya, “Sampaikan meskipun hanya satu ayat :).”

Menjadi Orang Tua Asyik

Topik kajian yang dibawakan Ustadz Bendri dua pekan lalu adalah tentang mendidik anak yang beranjak pubertas. Saya semangat sekali datang ke kajian itu. Alasannya karena ingin tahu. Kalau bahasa anak milenial, saya benar-benar pengen tau banget lah gitu.

Saya sadar, kelak akan mendidik anak yang beranjak pubertas. Saya juga memiliki adik laki-laki yang sedang memasuki masa-masa pubertas. Dua hal itulah yang menjadi alasan kuat mengapa saya perlu menghadiri kajian Ustadz Bendri.

Dari kajian itu, saya tahu, ada beberapa hal yang perlu dipersiapkan orang tua untuk mendidik remaja yaitu, menanamkan tauhid, menanamkan rasa malu, menguatkan ikatan hati ke anak, mengajarkan menundukkan pandangan, mengajarkan mengendalikan nafsu perut, menyibukkan anak dengan banyak aktivitas, dan membantu anak memilih pergaulan yang baik.

Nah, salah satu persiapan yang menarik perhatian saya adalah menguatkan ikatan ke anak. Karena menarik banget, saya mau berbagi pandangan tentang hal ini ke teman-teman. Tentunya berdasarkan pengalaman saya sendiri. Jadi, kalau teman-teman memiliki pandangan lain, boleh sekali berbagi ke saya 😉

Kata Ustadz, cara menguatkan ikatan ke anak adalah dengan menjadi orang tua yang asyik. Mengapa penting? Ikatan hati yang kuat antara anak dan orang tua akan menghadirkan cinta. Hadirnya cinta, akan menghadirkan rasa percaya. Kalau anak sudah percaya ke orang tua, maka, nasihat orang tua akan mudah sekali didengarkan oleh anak. Anak akan nurut sama orang tua. Ia akan percaya semua perkataan orang tua. Ikatan hati benar-benar sangat penting, ya? Cinta dan rasa percaya adalah dua hal yang tak bisa dipisahkan.

Menjadi orang tua asyik sebenarnya tidak sulit. Orang tua hanya perlu memperlakukan anak sebagai sahabat. Kita saja mampu membuat nyaman para sahabat. Masa kita tak mampu membuat anak nyaman? Kalau kata Ustadz Bendri, orang tua harus PDKT (Pedekatan) sama anak. Apalagi mendidik anak perempuan. Orang tua harus benar-benar menunjukkan perhatiannya. Sebab, secara takdir, perempuan memang selalu senang diperhatikan. Jadi, tidak perlu malu memuji anak dengan sebutan cantik atau ganteng. Tidak perlu malu mengajak anak kencan berdua. Tidak perlu malu mengajak anak nonton bioskop bersama. Tidak perlu malu mengatakan cinta.

Mungkin beberapa orang akan beranggapan cinta itu lebih penting dibuktikan dengan perbuatan daripada perkataan. Iya benar sekali, namun, jika tidak dikatakan, bukankah anak tidak akan tahu? Apalagi dengan pemahaman dan tingkat kedewasaan anak remaja yang belum mumpuni. Bukankah anak remaja tidak akan sepeka itu memerhatikan perbuatan sebagai bukti cinta kedua orang tuanya? Bukankah setiap orang akan bahagia bila mendengar kalimat manis seperti kalimat ‘aku/kami menyayangimu’? Bukankah lebih baik pembuktian cinta dilakukan bersama-sama melalui perbuatan dan perkataan?

Menjadi orang tua asyik tidak hanya penting sebagai persiapan mendidik anak yang beranjak pubertas. Namun, juga penting untuk membuat anak merasa dicintai, dikasihi, dan merasa dipentingkan oleh seseorang. Jangan sampai, hanya karena orang tua merasa sungkan menjadi orang tua asyik, membuat anak menjauhi kedua orang tua. Dan akhirnya terbentuk jarak yang begitu luas antara anak dan orang tua.

Jangan sampai, hanya karena orang tua malu/tidak terbiasa berlaku asyik di depan anak, membuat anak merasa tidak cintai. Dan akhirnya ia akan mencari keasyikan dan cinta di luar rumah. Beruntung bila anak bertemu teman yang asyik dan baik. Bagaimana bila anak bertemu dengan teman yang asyik, namun memberikan pengaruh yang tidak baik? Hal tersebut berbahaya sekali. Hal tersebut akan merusak anak.

Sebelum menutup kajian dua pekan lalu, Ustadz Bendri juga mengingatkan, menjadi orang tua asyik sungguh sangat penting. Sebab, hal tersebut adalah pintu kesempatan orang tua memasukkan nilai-nilai kebenaran kepada anak. Pintu kesempatan orang tua memasukkan nilai-nilai Islam kepada anak. Karena hakikatnya, orang tua hadir dalam kehidupan anak memang untuk mendidiknya menjadi manusia yang cinta Allah dan memiliki sikap terpuji.

Semangat berusaha menjadi orang tua asyik, para orang tua ataupun calon orang tua! 🙂 meskipun tidak mudah, kita harus tetap berjuang dan melangkah. Kita pasti bisa. Apa-apa yang baik tak akan terjadi begitu saja tanpa adanya perjuangan, kan?

Manajemen Diri: Pemimpin Itu Manusia Super?

Sejak dua bulan lalu, saya mengikuti beberapa kali kajian kemuslimahan yang diadakan oleh Masjid UI. Materi kajiannya disampaikan oleh ibu-ibu yang pandai namun seru. Seru? Iya, jadi kajiannya seperti sharing session saja. Yang mendengarkan jadi senang dan tidak mengantuk. Materinya tentang perempuan seperti, fiqih wanita, kelas kepribadian, kelas pengembangan diri, dan masih banyak yang lainnya.

Kajiannya diadakan setiap Hari Rabu pukul 16.00. Jadi, kalau teman-teman sedang ada di Depok dan ada waktu luang, boleh sekali mencoba kajian kemuslimahan di UI 🙂

Pada postingan ini saya ingin berbagi materi yang disampaikan Ibu Riani Rachmawati. Beliau adalah Direktur Sumber Daya Manusia UI. Beliau itu asik banget ngobrolnya. Yang mendengarkan tidak merasa seperti diceramahi. Beliau seperti ngobrol biasa saja. Wajah yang ramah dan suara yang bersahabat membuat saya tidak ingin ketinggalan materinya bahkan satu detik pun.

Materi kemarin yang beliau sampaikan adalah tentang manajemen diri. Di awal membawakan materi, ia mengajukan satu pertanyaan untuk kami,“Menurut kalian pemimpin yang baik itu seperti apa?” Dan ruangan masjid pun penuh dengan jawaban-jawaban. Jawaban yang hampir seluruhnya menggambarkan pemimpin itu manusia harus serba baik yang tidak boleh melakukan kesalahan. Lalu Ibu Riani menanggapi sambil tersenyum,“Jadi, pemimpin itu manusia super ya?” Dalam hati saya pun segera mengiyakan jawaban Ibu Riani. Kita seringkali menuntut pemimpin harus begini begitu sesuai definisi sempurna versi kita, namun terlupa bahwa pemimpin adalah manusia biasa. Sama seperti kita. Jadi, jika kita sering berbuat salah, apakah pemimpin tidak boleh melakukannya?

Pemimpin itu hanya manusia biasa. Pasti membuat salah. Namun, yang perlu dilihat, bagaimana ia bersikap ketika jatuh. Bagaimana ia bersikap ketika ia gagal. Bagaimana ia bersikap ketika ia melakukan kesalahan. Bagaimana ia memanajemen dirinya? Ibu Riani menjelaskan pandangannya. Lagi-lagi saya menganggukkan kepala dan mengiyakan dalam hati. Sudah kali ke berapa kita khilaf memerhatikan, sudah berapa banyak pemimpin telah meminta maaf dan berusaha bertanggung jawab atas perbuatannya. Namun, kita enggan memaafkan. Hanya karena perbuatan ia di masa lalu tidak sesuai dengan definisi baik ‘versi kita’. Ah, rupanya kita benar-benar terlalu egois.

Pemimpin erat kaitannya dengan manajemen diri. Kita tak akan bisa menjadi pemimpin bila belum mengenal diri kita. Kita tak akan bisa menjadi pemimpin bila belum mampu mengatur diri kita sendiri. Siapapun tak akan bisa menjadi pemimpin bila ia masih terlalu bingung mengurus dirinya sendiri.

Pemimpin tidak hanya tentang seseorang yang memimpin banyak orang. Pemimpin juga tidak hanya tentang bagaimana seseorang memimpin sebuah keluarga atau organisasi. Kita adalah pemimpin untuk diri sendiri. Setiap jiwa bertanggung jawab untuk dirinya sendiri. Bukankah di akhirat kelak kita harus mempertanggungjawabkan apa-apa yang telah dilakukan di dunia ini?

***

Mengetahui bahwa manajemen diri sangat penting bagi setiap individu, maka saya akan berbagi beberapa poin penting yang disampaikan Ibu Riani terkait materi ini.

Melihat Sesuatu dari Kaca Mata Iman

Tanpa kita sadari, keimanan akan membuat seseorang terhindar dari sikap egois. Sebab, kita sadar betul hakikat hidup di dunia ini. Bahwa apapun yang kita lakukan tanpa adanya kebermanfaatan bagi orang lain adalah sia-sia. Apapun kebaikan yang kita lakukan, namun kebaikan tersebut tidak dirasakan oleh orang-orang terdekat adalah sia-sia. Memudahkan urusan orang lain adalah bentuk usaha agar Allah pun memudahkan urusan kita.

Pada akhirnya, segala hal yang kita lakukan memang hanya berharap Ridho Allah. Kita percaya, keimanan selalu memberikan pencerahan. Keimanan akan membuat kita selalu ingat bahwa perbuatan baik sekecil apapun untuk kepentingan orang banyak tak akan pernah sia-sia. Kita percaya, Allah pasti akan membantu segala urusan kita. Bila Allah yang selalu dituju, adakah alasan kita untuk meragu?

Berpandangan Positif

Karena cara pandang adalah kunci penting dalam menilai sesuatu, maka, penuhilah pikiran kita dengan hal-hal positif. Pikiran yang positif akan melahirkan perbuatan yang positif.

Selain itu, setiap orang berhak memiliki hati dan pikiran yang sehat. Pikiran positif adalah usaha untuk membersihkan hati dan pikiran kita dari hal-hal negatif.

Berpandangan positif juga akan melahirkan inisiatif. Kita akan selalu mencari banyak cara bagaimana memilih dan mengambil keputusan untuk kebaikan bersama. Hati kita tenang dan tidak menyakiti perasaan orang lain. Jangan lupa, cara pandang kita terhadap sesuatu adalah kunci 🙂

Bertanggung jawab untuk diri sendiri

Apapun yang terjadi dalam hidup kita adalah murni atas pilihan kita sendiri. Jadi, bila ada peristiwa tidak menyenangkan terjadi, kita tak perlu mencari kesalahan orang lain. Introspeksi yang banyak, temukan kekeliruannya, dan perbaiki.

Meyakini yang Sudah Terjadi adalah Takdir

Kalau kata Ibu Riani, poin ini yang tidak mudah dilakukan, namun pasti bisa diusahakan 🙂 Beliau juga mengatakan, meyakini takdir akan menyembuhkan luka. Takdir yang Allah berikan tidak akan membuat manusia menderita. Yang membuat menderita adalah cara kita menyikapinya. Bila kita memandang takdir sebagai yang terbaik untuk hidup kita, maka akan ada banyak pelajaran yang dapat diambil.

***

Semoga cara memanajemen diri yang disampaikan Ibu Riani bermanfaat untuk teman-teman. Semangat memanajemen diri, selamat berjuang menjadi pemimpin untuk diri sendiri ya. Jangan takut menjadi pemimpin. Pemimpin itu boleh salah. Pemimpin itu boleh keliru. Namun, yang perlu diperhatikan, bagaimana kita menyikapi kesalahan itu. Bagaimana kita memperbaikinya. Bagaimana cara kita meminta maaf. Semangat! 🙂

Liqo: Ridha

Oleh: Mbak Nia

Minggu, 11 Februari 2018

Materi: Ridha/Rela

Alhamdulillah, pagi ini saya masih diberi kesempatan oleh Allah untuk menghadiri majelis ilmu.

Setiap orang pasti memiliki masalahnya sendiri. Bahkan masalah yang saya anggap paling sulit pun, orang lain juga memiliki masalah yang tak kalah sulit. Jadi, jangan merasa kita adalah manusia yang paling menderita dan sedih. Pemikiran tersebut benar-benar keliru. Allah memberikan kesulitan pada manusia sesuai dengan kapasitasnya. Yuk, sudahi saja membanding-bandingkan permasalahan. Lebih baik kita berusaha membuat keadaan menjadi lebih baik.

Bagi saya, siraman rohani secara berkala penting sekali. Untuk pengingat diri. Hati mudah sekali dibolak balik dan berubah. Maka, kita harus pandai merawat dan menjaga hati dalam keadaan bersih dan jernih. Kita bisa memperolehnya melalui buku, ceramah diyoutube, atau mendatangi kajian di Masjid. Akhir pekan bisa sekali digunakan untuk mendatangi majelis ilmu. Sebab, mendatangi langsung banyak sekali memberikan manfaat. Mendapat ilmu dan menjalin silaturrahim dengan saudara-saudara seiman. Seru kan?

Hari ini kajian dilaksanakan di Masjid Al Huda, Depok Dua. Meskipun sedikit mendung, Alhamdulillah tidak turun hujan.

Berikut uraian materi yang saya dapatkan dari liqo hari ini:

Kita diperintahkan untuk menerima apa-apa yang Allah berikan. Tidak ada alasan untuk berargumentasi, bertanya, dan protes mengapa takdir ini terjadi pada hidup kita. Karena hubungan Allah dengan kita memang berbeda. Allah adalah sebagai Sang Pencipta dan Yang Maha Kuasa. Dan kita adalah sesuatu yang diciptakan oleh-Nya. Allah Maha Tahu dan Allah Maha Benar. Sungguh, kita tidak benar-benar tahu apa yang terbaik untuk diri sendiri. Yang diinginkan belum tentu terbaik kan?

Kita tidak bisa hidup hanya dengan kaca mata diri sendiri saja. Kita tidak boleh hidup apatis dan berputus asa dengan rahmat Allah. Yang bisa kita lakukan adalah berusaha, berdoa, dan yakin dengan rahmat Allah. Jika kita meyakini rahmat Allah, maka kita akan optimis dan berusaha menjalani hidup dengan baik.

Kita juga seharusnya berusaha semaksimal mungkin. Minimal usaha yang dilakukan adalah berdoa. Ukhuwah Islam yang tertinggi selain mendoakan diri sendiri adalah mendoakan orang lain. Allah akan mengabulkan doa-doa yang diucapkan oleh sahabat. Begitu juga sebaliknya.

Beberapa hal yang harus dilakukan agar ridha dengan segala takdir Allah:

1. Kita harus yakin dengan alam gaib. Bahwa akan ada kehidupan selanjutnya setelah kehidupan di dunia.

2. Kita harus meyakini Qada dan Qadar. Dengan berusaha dan berdoa, maka kita bisa merubah takdir. Allah Maha Pemurah, Maha Penyayang, dan Maha Baik. Meskipun Allah sudah menentukan seluruh nasib manusia dan tahu bagaimana awal dan akhir kehidupan dunia akhirat, namun, Allah punya kuasa untuk merubahnya jika kita berusaha.

3. Kita harus mengambil hikmah-hikmah dibalik takdir yang Allah berikan. Kita mentadaburi dan mengintrospeksi diri. Jika kita bersabar, maka Allah akan mengangkat derajat kita dan dihapus segala dosa.

Kita harus rela dan ridha dengan apa yang terjadi di alam ini. Kita harus pandai mengkaji bencana. Yang terjadi adalah bencana atau ujian. Semua tentang alam adalah kuasa Allah. Manusia hanya mentadaburi dan berusaha melakukan upaya pencegahan untuk menghindari hal-hal yang tidak diinginkan. Hal-hal untuk merubah kejadian alam, bukan kuasa manusia.

Selain mengkaji tentang alam, kita juga harus mencari kebermanfaatannya. Agar manusia bisa terus menjalani hidup.

Setelah ridha dengan apa-apa yang Allah telah berikan, kita harus siap menerima konsekuensi yang ada. Apa yang telah kita tanam dan kita lakukan, maka, Allah akan bertanya tentang semua hal itu di akhirat nanti.

Parameter ridha adalah menerimanya dengan lapang dada, patuh, dan taat kepada Allah.

Ridha tidak bisa dilakukan tanpa adanya keimanan. Maka, keimanan adalah kunci awal yang perlu kita pertanyakan pada diri kita sendiri.
Ridha perlu sekali dimiliki oleh setiap manusia. Demi diri kita sendiri. Kita harus hidup dengan baik. Kita harus hidup dengan tenang. Kita harus hidup dengan semangat yang tinggi. Semoga kita termasuk ke dalam orang-orang yang ridha. Dan semoga kita termasuk ke dalam orang-orang yang terus menjaga keimanan. Aamiin ya Rabbal’alamin.

Liqo: 17/09/2017 – Tentang Dosa

Alhamdulillah pagi itu langkah kaki dimudahkan lagi oleh Allah untuk mendatangi majelis ilmu. Sebab hati manusia mudah dibolak-balikkan, maka datang ke mejelis ilmu adalah keharusan. Untuk menjaga hati dan keimanan agar tetap lurus dijalan-Nya.

Materi kali ini adalah tentang dosa. Untuk memulai materi, Mbak Nia mengawali dengan sebuah pertanyaan, “Apa yang dimaksud dengan dosa?”  kami terdiam. Diamnya kami memberikan banyak arti. Bisa karena bingung bagaimana mengungkapkannya, bisa juga karena dosa lebih mudah dirasakan namun sulit definisikan dengan kata. Saya juga tidak langsung menjawab secara lisan pertanyaan Mbak Nia. Yang dilakukan saat itu adalah berpikir. Kemudian yang terlintas dalam pikiran, dosa adalah sebuah perbuatan salah yang dilakukan, membuat hati tidak tenang, dan tidak ingin diketahui orang lain.

Ditengah keheningan, Mbak Nia langsung melanjutkan, “Dosa adalah sesuatu hal yang tidak nyaman dilakukan, tidak ingin orang lain mengetahuinya, dan menjadi tidak tenang dihati.”

Saya rasa, kami menyetujui apa yang Mbak Nia katakan. Serta memiliki definisi dosa yang sama. Dalam pikiran masing-masing.

Mengutip dari tulisan salamadian.com, secara sederhana, dosa kecil adalah dosa yang tidak tergolong kategori dosa besar dalam Islam seperti syirik, membunuh, mabuk, zinah, sombong, durhaka pada orang tua, dan lain sebagainya. Dosa kecil tidak mendapatkan penekanan ancaman dari Allah, baik di dunia maupun di akhirat, berbeda dengan dosa besar, yang telah jelas Allah mengancamnya dalam Al-Qur’an bahkan disertai dengan  hukuman yang amat berat.

Dalam banyak urusan, kita terbiasa untuk menganggap mudah suatu perkara padahal itu adalah perkara yang sulit. Dan menganggap sulit suatu perkara padahal itu adalah perkara yang mudah. Namun, sungguh berbahaya bila kita menerapkan hal seperti ini pada dosa. Seperti menganggap perbuatan-perbuatan kita ini adalah dosa kecil. Menyepelekan kesalahan kecil. Padahal yang kita anggap kecil ternyata bagi Allah itu dosa besar. Menakutkan kan?

Dalam sebuah hadist mengatakan, balasan dosa besar adalah mendapat murka, laknat, siksa Allah dunia dan akhirat.

Dalam kamus besar bahasa Indonesia, murka adalah sangat marah. Laknat adalah kutuk. Siksa adalah penderitaan atau hukuman. Bagi seorang muslim, sungguh sangat menyedihkan dan menakutkan bila Allah sangat marah, mengutuk, dan memberikan penderitaan pada kita. Padahal, Allah adalah Maha Penyayang, Maha Pengasih, Maha Pengampun, dan ingin segala kebaikan tercurahkan pada kita. Jika Allah bersikap seperti ini, bukankah perbuatan yang tergolong dosa besar benar-benar Allah benci? Percayalah, perbuatan yang Allah benci dan larang untuk kita adalah perbuatan yang akan merugikan dunia dan akhirat untuk kita. Untuk siapa? Kita. Allah tidak akan merugi sama sekali dalam hal ini. Lantas, tidak inginkah kita berpikir lalu menjauhinya?

Dalam Surat An-Nisa Ayat 31 Allah mengatakan, “Jika kamu menjauhi dosa-dosa besar diantara dosa-dosa yang dilarang mengerjakannya, niscaya Kami hapus kesalahan-kesalahanmu dan akan Kami masukkan kamu ke tempat yang mulia (Surga).

Dalam surat An-Nisa tersebut kita mengetahui, Allah yang Maha Baik selalu mengampuni dan memberikan kesempatan untuk hamba-Nya. Bahkan untuk dosa yang tergolong besar sekalipun. Maka, marilah kita mengintropeksi diri, segera memohon ampun, dan menjauhi semua larangan-Nya. Allah pun akan segera memberikan Surga untuk kita.

Dengan mengetahui apa itu dosa besar dan dosa kecil, apa saja contoh perbuatannya, dan apa hukumannya, semoga kita menjadi orang yang berhati-hati dalam bertindak dan beribadah. Beberapa hal yang dapat kita lakukan:

1. Jangan Terlalu Yakin dengan Amal Kita.

Mungkin, kalau pada pekerjaan dunia kita bisa merasa yakin tentang apa-apa yang kita kerjakan. Seperti ketika tes ujian perguruan tinggi, kita bisa tahu seberapa besar kesiapan kita melalui try out. Dari sana akan terlihat kita lolos passing grade atau tidak. Namun, tentang ibadah kita tidak bisa tahu. Kita hanya tahu syarat ibadah di terima oleh Allah adalah dengan beribadah dengan ikhlas dan melakukannya sesuai ajaran Islam. Oleh karena itu, karena kita tidak tahu, berusaha saja untuk ikhlas dan melakukan sesuai aturan. Lalu, berserah pada Allah.

2. Jangan Merasa Aman dengan Dosa-dosa yang Dilakukan

Ketika mengetahui telah melakukan dosa, jangan pernah merasa aman dengan dosa tersebut. Karena, meskipun kita telah terus menerus memohon ampun pada Allah, kita tidak pernah tahu dosa-dosa tersebut sudah diampuni oleh Allah atau belum. Atau bahkan tidak diampuni. Astagfirullah. Ampuni kami ya Allah.

3. Amalan Itu Bersifat Gaib

Gaib adalah tidak kelihatan, tersembunyi, dan tidak nyata. Begitulah amalan kita. Yang tahu hanya Allah. Sebab amalan itu gaib, maka lakukan saja yang terbaik. Kemudian berdoa dan berserah pada Allah.

4. Berusaha Meninggalkan Dosa Kecil

Jangan pernah menyepelekan dosa kecil. Ketika kita tahu itu dosa, karena akan membuat hati tidak tenang dan tidak ingin orang lain mengetahuinya, jangan lakukan itu. Sebaik-baiknya perilaku adalah perilaku baik. Perilaku baik hanya bisa didapatkan bila kita membiasakan melakukan hal baik. Yuk, berusaha melakukan perbuatan-perbuatan terpuji dalam kehidupan sehari-hari.

5. Jangan Meremehkan dan Menghina Dosa Kecil

Dosa kecil atau besar yang tahu hanya Allah. Hadist mengatakan, ketika kita meremehkan dosa sebagai dosa kecil, padahal bagi Allah itu adalah dosa besar. 

Kemudian hadist lain mengatakan, sebuah dosa besar yang dibarengi dengan rasa takut kepada Allah, malu terhadap manusia dan Allah, lalu mengganjal dihati, itu merupakan dosa kecil.

Semua hanya Allah yang Maha Tahu. Tolak ukur manusia sama sekali tidak boleh dilakukan dalam hal dosa. Karena kita adalah tempatnya banyak salah. Dan Allah selalu benar dan Maha Tahu segalanya.

6. Dosa Kecil Bisa Menjadi Dosa Besar bila Dilakukan Terus Menerus

Dosa-dosa yang kita anggap kecil dan sepele lalu dilakukan terus menerus, akan menjadi dosa besar. Sesuatu yang kecil, jika dilakukan terus menerus akan menjadi banyak. Dan jumlahnya yang menjadi besar. Maka, berhati-hatilah.

Materi Liqo ini diberikan oleh Mbak Nia, beberapa definisi dosa ditambahkan dari web ini (di dalam web tersebut juga dituliskan beberapa hal yang membuat dosa-dosa kecil menjadi besar. Silakan dibaca :)) dan ditambahkan beberapa pendapat saya sendiri. Semoga bermanfaat.

Karena dosa dapat kita rasakan dalam hati, semoga kita lebih berhati-hati dan menjauhi. Karena amalan itu tidak terlihat, semoga kita terus bersemangat. Tidak terlalu yakin dengan ibadah yang dilakukan dan berusaha untuk ikhlas dan mengikuti aturan ibadah yang Allah berikan. Lalu, berdoa dan berpasrah dengan keputusan-Nya. Semoga kita termasuk ke dalam golongan yang terus berusaha berbuat baik dan berusaha mendekati kebaikan. Aamiin 🙂

Liqo: 30/07/2017 – Komitmen yang harus dijaga setelah Bulan Ramadhan

Assalammu’alaikum. Saya ingin berbagi lagi hasil Liqo Hari Minggu tanggal 30 Juli 2017 Kemarin. Sudah rindu sekali rasanya tidak mengingatkan hati dan pikiran lagi tentang Allah. Karena selama Bulan Ramadhan Liqo libur dan baru mulai kembali Minggu kemarin.

Meskipun  cara yang paling baik mendekatkan diri ke Allah adalah melalui sholat karena kita bisa berinteraksi langsung segala keluh kesah pada-Nya, berkumpul dengan sahabat-sahabat membahas materi tentang Islam sangat dibutuhkan. Karena rasa semangatnya akan menjadi berlipat-lipat ganda jika belajarnya bersama-sama 😀 Dan hati sangat perlu untuk diingatkan secara terus menerus.

Materi ini disampaikan oleh Mbak Nia. Berikut komitmen-komitmen yang harus dipertahankan sesudah Bulan Ramadhan agar terus terjaga:

1. Harus konsisten dalam ibadah-ibadah yang sudah dicapai di bulan ramadhan.

Karena mengetahui keutamaan dan segala berkah di Bulan Ramadhan, muslim dimana pun akan saling berlomba-lomba melakukan ibadah yang paling baik. Dan kita mampu melakukan ibadah-ibadah secara terus menerus dan berjuang melaksanakannya. Agar dapat mempertahankan kebiasaan-kebiasaan baik tersebut, maka kita harus mempertahankan zona menuju Allah secara lurus. Menata hati kita agar bersandar pada Allah. Berusaha selalu mengingat Allah menggunakan media apapun.

2. Menjaga Konsistensi dalam Jamaah.

Ibarat sebuah bangunan yang terdiri dari banyak komponen dan tidak bisa berdiri sendiri,  maka sesama muslim harus saling melengkapi satu sama lain. Saling menutupi kelemahan. Saling mengingatkan ketika berbuat salah dan khilaf. Saling menyemangati saat rasa malas kala hinggap pada diri.

3. Menjaga Konsistensi Jiwa

Jika ruh kita bersih, maka anggota badan kita juga akan melakukan perbuatan baik. Karena, hati adalah raja dalam diri kita. Jika hati kita keruh, kita tidak akan bersemangat lagi untuk membantu saudara. Yang dipikirkan hanya kotak keluarga kita. Hanya fokus memikirkan diri sendiri saja. Berkurangnya rasa empati dan kepekaan kita. Kita harus selalu mencari cara agar selalu berkontribusi untuk orang lain dan menolong siapapun yang membutuhkan. Agar konsistensi jiwa kita terjaga.

4. Menjaga Kebersihan Hati.

Harus berusaha menjaga mata, tangan, hati, dan seluruh anggota badan untuk menjauhi larangan Allah. Jika hati kita bersih, maka akan khusyu beribadah. Dan akan mudah menerima nasihat orang lain. Hati dan pikiran juga mudah menerima ilmu dan perubahan yang baru.

5. Menjaga Ketekunan.

Insya Allah akan berguna untuk diri kita. Kegiatan ibadah harus dilakukan dengan tekun. Kegiatan yang dilakukan dengan tekun, Insya Allah hasilnya maksimal.

6. Kita Harus Memupuk Cinta dan Menjaga Konsistensi Kita kepada Allah.

Harus mempertahankan cinta kita pada Allah dan selalu menjadikannya nomor satu. Walaupun kita memiliki keluarga, suami, anak, dan kerabat lainnya. Mengapa kita harus menjadikan Allah yang paling pertama dan utama? Karena Allah sudah memberikan banyak hal pada kita. Secara cuma-cuma tanpa pernaj kita minta. Allah selalu memberikan yang terbaik untuk kita. Bahkan untuk kejadian yang menyakitkan dan menyedihkan “bagi kita” pun adalah yang terbaik. Allah Maha Tahu. Dan kita sangat sering keliru dan tidak tahu.

Dalam menikah, cara memupuk cinta kepada pasangan adalah dengan keimanan. Kita dipersatukan dengan pasangan oleh Allah. Yang memberikan cinta adalah Allah. Maka, yang akan mengambil cinta kembali hanya Allah. Maka, jika mencintai dia akan menambah cinta kita pada Allah, maka dekatkanlah dia.

7. Intensitas Kebaikan kepada Hal-hal Lain Harus Diperbanyak.

Jika hal-hal semakin mendekatkan kita pada Allah, maka mendekatlah. Jangan berharap mendapatkan hidayah, tanpa ada usaha dan perjuangan. Sebab, hidayah harus dicari dan diperjuangkan. Bukan hanya ditunggu.

8. Kita Harus Berani Berkomitmen.

Sebagai contoh: Pada zaman dahulu, ketika Umar terlambat sholat berjamaah, Umar dengan berani mewakafkan kebunnya. Hal itu dilakukan karena betapa menyesalnya Umar telah lalai melaksanakan perintah Allah. Sangat terlihat bahwa Allah dan segala perintah-Nya sangat penting dalam hidup Umar. Semoga kita berani berkomitmen untuk agama kita, yaitu Islam 🙂

9. Merubah Paradigma.

Ubah pola pikir kita bahwa dunia ini adalah hanya terminal tempat pemberhentian sementara. Oleh karena itu, sibukanlah diri untuk mempersiapkan akhirat kelak.

10. Hadirkan Syurga di dalam Halaqah Kita.

Ketika kita lemah terhadap siapapun, harga diri Islam itu tidak ada. Maka, diperlukan para pendakwah yang kuat dan berani menyuarakan kebenaran.

11. Harus bisa Menyegarkan Pikiran dan Menyegarkan Tarbiyah

Tujuannya agar tidak mudah terpengaruh dengan musuh-musuh Islam. Dan tegar dan menyegarkan ilmu-ilmu Allah.

Semoga kita mampu melaksanakan Sebelas perilaku baik dalam kehidupan sehari-hari. Agar keimanan dan akhlak baik kita selalu terjaga. Serta tidak lupa untuk menebar kebaikan. Aamiin 🙂

Liqo: 23/04/2017 – Menjadi Muslim yang Kuat dan Dicintai Allah

LIQO. MINGGU, 23 APRIL 2017
Oleh: Mbak Nia

Mukmin dibagi menjadi tiga:
1. Golongan yang selalu bergegas melakukan kebaikan.
Akhirat selalu berada dihati dan melakukan apapun karena Allah. Ciri-cirinya adalah gemar melakukan hal wajib dan sunnah, ingin sekali meraih cinta Allah, senang melakukan aktivitas-aktivitas yang dibolehkan, dan disukai islam, menjauhkan diri dari yang dilarang dan makruh, serta sangat berhati-hati dalam bersikap.

2. Golongan pertengahan.
Sudah merasa cukup dengan yang ibadah yang wajib saja. Dan merasa bersyukur untuk menjauhi hal-hal yang haram.

3. Golongan yang mendzalimi diri sendiri. Ciri-cirinya adalah senang merusak diri sendiri, tidak memiliki prinsip, mudah berubah tergantung dengan suasana hati dan lingkungan, dan tidak berkarakter.

Lalu, bagaimana menjadi muslim yang kuat dan dicintai Allah?

Dan selalu bergegas dalam melakukan kebaikan seperti mukmin golongan pertama?

Caranya adalah kita harus membentuk diri kita sendiri dan harus diusahakan.

Bekal yang harus kita miliki dan persiapkan adalah
1. Ilmu yang bermanfaat.
Yaitu ilmu yang bermanfaat untuk akhirat.
Ciri-cirinya:
– Apapun ilmu yang kita punya, bisa mensucikan diri dan jiwa.
Lalu, segera berusaha berubah menjadi lebih baik untuk diri sendiri.
– Menghasilkan kebahagiaan dunia dan akhirat.
Karena dari kebaikan dan ibadah sehari-hari yang biasa kita lakukan, kita akan dicintai Allah dan disukai orang-orang disekitar.
– Dapat membimbing orang lain.
Paling tidak, kita dapat mengingatkan keluarga. Seperti ketika melihat hal yang tercela kita bisa segera mengingatkan.
– Melahirkan sifat khusyu.
Sholat menjadi khusyu, takut kepada Allah, melakukan hal apapun dengan orientasi hanya kepada Allah, dan berharap mendapat ridho dari Allah.

2. Amal yang sholeh
Yaitu melakukan amalan-amalan sesuai Al-qur’an dan telah dicontohkan oleh Rasulullah.

3. Mencari rizki yang berkah.
Karena Allah lebih mencintai tangan di atas daripada tangan di bawah.
Rizki yang berkah ciri-cirinya adalah
– Bekerja dengan niat ikhlas dan atas dasar taqwa.
Kita bekerja agar bermanfaat untuk orang lain. Seperti untuk membantu orang tua, membantu adik dan kakak, membantu orang yang kesulitan, dan untuk bersedekah. Bukan karena terpaksa dan tidak ikhlas melakukannya.
– Orang yg sukses dimata Allah.
Dia berupaya untuk berinfaq untuk islam.
– Tidak lupa untuk bermuamalah atau bersosialisasi dari uang yang kita dapat. Contohnya, dari uang tersebut kita bisa gunakan untuk berkontribusi kepada masyarakat.
– Kita bisa membantu orang tidak mampu disekeliling kita. Seperti: membantu teman yang memiliki hutang, orang yang tidak mampu, teman yang sakit, atau orang yang terkena musibah.

4. Melakukan hal yang bermanfaat secara terus menerus meskipun hal kecil.
Seperti: tersenyum, menyapa, mengucapkan salam, membaca al qur’an. Sehingga hal tersebut dapat mencirikan kita.

5. Membiasakan melakukan kebaikan di awal waktu.
Dengan cara berlomba-lomba dalam kebaikan.

6. Tidak bermalas-malasan dan berlambat-dalam dalam melakukan aktivitas atau ibadah.
Karena, kemalasan akan menimbulkan rasa malas-malas yang lainnya saat beraktivitas.

7. Bersabar dengan ridho dengan ketetapan dan takdir Allah.
Karena dengan bersabar dan ridho dengan apapun yang terjadi, kita akan memiliki hati yang lapang. Serta mampu menemukan hikmah pada setiap kejadian.

8. Meminta pertolongan dan bersyukur pada Allah.
Karena ketika bersyukur, nikmatnya akan ditambahkan oleh Allah.

9. Mempersiapkan diri dalam hal yang terburuk seperti menghadapi musuh dengan kekuatan yang ada.
Sehingga kita selalu siap menghadapinya kapan pun itu.

10. Mampu melawan hawa nafsu dan menjaga ketaatan kepada Allah sepanjang hidupnya.
Hal tersebut akan meningkatkan derajat taqwa kita.