Menjadi Orang Tua Asyik

Topik kajian yang dibawakan Ustadz Bendri dua pekan lalu adalah tentang mendidik anak yang beranjak pubertas. Saya semangat sekali datang ke kajian itu. Alasannya karena ingin tahu. Kalau bahasa anak milenial, saya benar-benar pengen tau banget lah gitu.

Saya sadar, kelak akan mendidik anak yang beranjak pubertas. Saya juga memiliki adik laki-laki yang sedang memasuki masa-masa pubertas. Dua hal itulah yang menjadi alasan kuat mengapa saya perlu menghadiri kajian Ustadz Bendri.

Dari kajian itu, saya tahu, ada beberapa hal yang perlu dipersiapkan orang tua untuk mendidik remaja yaitu, menanamkan tauhid, menanamkan rasa malu, menguatkan ikatan hati ke anak, mengajarkan menundukkan pandangan, mengajarkan mengendalikan nafsu perut, menyibukkan anak dengan banyak aktivitas, dan membantu anak memilih pergaulan yang baik.

Nah, salah satu persiapan yang menarik perhatian saya adalah menguatkan ikatan ke anak. Karena menarik banget, saya mau berbagi pandangan tentang hal ini ke teman-teman. Tentunya berdasarkan pengalaman saya sendiri. Jadi, kalau teman-teman memiliki pandangan lain, boleh sekali berbagi ke saya 😉

Kata Ustadz, cara menguatkan ikatan ke anak adalah dengan menjadi orang tua yang asyik. Mengapa penting? Ikatan hati yang kuat antara anak dan orang tua akan menghadirkan cinta. Hadirnya cinta, akan menghadirkan rasa percaya. Kalau anak sudah percaya ke orang tua, maka, nasihat orang tua akan mudah sekali didengarkan oleh anak. Anak akan nurut sama orang tua. Ia akan percaya semua perkataan orang tua. Ikatan hati benar-benar sangat penting, ya? Cinta dan rasa percaya adalah dua hal yang tak bisa dipisahkan.

Menjadi orang tua asyik sebenarnya tidak sulit. Orang tua hanya perlu memperlakukan anak sebagai sahabat. Kita saja mampu membuat nyaman para sahabat. Masa kita tak mampu membuat anak nyaman? Kalau kata Ustadz Bendri, orang tua harus PDKT (Pedekatan) sama anak. Apalagi mendidik anak perempuan. Orang tua harus benar-benar menunjukkan perhatiannya. Sebab, secara takdir, perempuan memang selalu senang diperhatikan. Jadi, tidak perlu malu memuji anak dengan sebutan cantik atau ganteng. Tidak perlu malu mengajak anak kencan berdua. Tidak perlu malu mengajak anak nonton bioskop bersama. Tidak perlu malu mengatakan cinta.

Mungkin beberapa orang akan beranggapan cinta itu lebih penting dibuktikan dengan perbuatan daripada perkataan. Iya benar sekali, namun, jika tidak dikatakan, bukankah anak tidak akan tahu? Apalagi dengan pemahaman dan tingkat kedewasaan anak remaja yang belum mumpuni. Bukankah anak remaja tidak akan sepeka itu memerhatikan perbuatan sebagai bukti cinta kedua orang tuanya? Bukankah setiap orang akan bahagia bila mendengar kalimat manis seperti kalimat ‘aku/kami menyayangimu’? Bukankah lebih baik pembuktian cinta dilakukan bersama-sama melalui perbuatan dan perkataan?

Menjadi orang tua asyik tidak hanya penting sebagai persiapan mendidik anak yang beranjak pubertas. Namun, juga penting untuk membuat anak merasa dicintai, dikasihi, dan merasa dipentingkan oleh seseorang. Jangan sampai, hanya karena orang tua merasa sungkan menjadi orang tua asyik, membuat anak menjauhi kedua orang tua. Dan akhirnya terbentuk jarak yang begitu luas antara anak dan orang tua.

Jangan sampai, hanya karena orang tua malu/tidak terbiasa berlaku asyik di depan anak, membuat anak merasa tidak cintai. Dan akhirnya ia akan mencari keasyikan dan cinta di luar rumah. Beruntung bila anak bertemu teman yang asyik dan baik. Bagaimana bila anak bertemu dengan teman yang asyik, namun memberikan pengaruh yang tidak baik? Hal tersebut berbahaya sekali. Hal tersebut akan merusak anak.

Sebelum menutup kajian dua pekan lalu, Ustadz Bendri juga mengingatkan, menjadi orang tua asyik sungguh sangat penting. Sebab, hal tersebut adalah pintu kesempatan orang tua memasukkan nilai-nilai kebenaran kepada anak. Pintu kesempatan orang tua memasukkan nilai-nilai Islam kepada anak. Karena hakikatnya, orang tua hadir dalam kehidupan anak memang untuk mendidiknya menjadi manusia yang cinta Allah dan memiliki sikap terpuji.

Semangat berusaha menjadi orang tua asyik, para orang tua ataupun calon orang tua! 🙂 meskipun tidak mudah, kita harus tetap berjuang dan melangkah. Kita pasti bisa. Apa-apa yang baik tak akan terjadi begitu saja tanpa adanya perjuangan, kan?

Advertisements

Manajemen Diri: Pemimpin Itu Manusia Super?

Sejak dua bulan lalu, saya mengikuti beberapa kali kajian kemuslimahan yang diadakan oleh Masjid UI. Materi kajiannya disampaikan oleh ibu-ibu yang pandai namun seru. Seru? Iya, jadi kajiannya seperti sharing session saja. Yang mendengarkan jadi senang dan tidak mengantuk. Materinya tentang perempuan seperti, fiqih wanita, kelas kepribadian, kelas pengembangan diri, dan masih banyak yang lainnya.

Kajiannya diadakan setiap Hari Rabu pukul 16.00. Jadi, kalau teman-teman sedang ada di Depok dan ada waktu luang, boleh sekali mencoba kajian kemuslimahan di UI 🙂

Pada postingan ini saya ingin berbagi materi yang disampaikan Ibu Riani Rachmawati. Beliau adalah Direktur Sumber Daya Manusia UI. Beliau itu asik banget ngobrolnya. Yang mendengarkan tidak merasa seperti diceramahi. Beliau seperti ngobrol biasa saja. Wajah yang ramah dan suara yang bersahabat membuat saya tidak ingin ketinggalan materinya bahkan satu detik pun.

Materi kemarin yang beliau sampaikan adalah tentang manajemen diri. Di awal membawakan materi, ia mengajukan satu pertanyaan untuk kami,“Menurut kalian pemimpin yang baik itu seperti apa?” Dan ruangan masjid pun penuh dengan jawaban-jawaban. Jawaban yang hampir seluruhnya menggambarkan pemimpin itu manusia harus serba baik yang tidak boleh melakukan kesalahan. Lalu Ibu Riani menanggapi sambil tersenyum,“Jadi, pemimpin itu manusia super ya?” Dalam hati saya pun segera mengiyakan jawaban Ibu Riani. Kita seringkali menuntut pemimpin harus begini begitu sesuai definisi sempurna versi kita, namun terlupa bahwa pemimpin adalah manusia biasa. Sama seperti kita. Jadi, jika kita sering berbuat salah, apakah pemimpin tidak boleh melakukannya?

Pemimpin itu hanya manusia biasa. Pasti membuat salah. Namun, yang perlu dilihat, bagaimana ia bersikap ketika jatuh. Bagaimana ia bersikap ketika ia gagal. Bagaimana ia bersikap ketika ia melakukan kesalahan. Bagaimana ia memanajemen dirinya? Ibu Riani menjelaskan pandangannya. Lagi-lagi saya menganggukkan kepala dan mengiyakan dalam hati. Sudah kali ke berapa kita khilaf memerhatikan, sudah berapa banyak pemimpin telah meminta maaf dan berusaha bertanggung jawab atas perbuatannya. Namun, kita enggan memaafkan. Hanya karena perbuatan ia di masa lalu tidak sesuai dengan definisi baik ‘versi kita’. Ah, rupanya kita benar-benar terlalu egois.

Pemimpin erat kaitannya dengan manajemen diri. Kita tak akan bisa menjadi pemimpin bila belum mengenal diri kita. Kita tak akan bisa menjadi pemimpin bila belum mampu mengatur diri kita sendiri. Siapapun tak akan bisa menjadi pemimpin bila ia masih terlalu bingung mengurus dirinya sendiri.

Pemimpin tidak hanya tentang seseorang yang memimpin banyak orang. Pemimpin juga tidak hanya tentang bagaimana seseorang memimpin sebuah keluarga atau organisasi. Kita adalah pemimpin untuk diri sendiri. Setiap jiwa bertanggung jawab untuk dirinya sendiri. Bukankah di akhirat kelak kita harus mempertanggungjawabkan apa-apa yang telah dilakukan di dunia ini?

***

Mengetahui bahwa manajemen diri sangat penting bagi setiap individu, maka saya akan berbagi beberapa poin penting yang disampaikan Ibu Riani terkait materi ini.

Melihat Sesuatu dari Kaca Mata Iman

Tanpa kita sadari, keimanan akan membuat seseorang terhindar dari sikap egois. Sebab, kita sadar betul hakikat hidup di dunia ini. Bahwa apapun yang kita lakukan tanpa adanya kebermanfaatan bagi orang lain adalah sia-sia. Apapun kebaikan yang kita lakukan, namun kebaikan tersebut tidak dirasakan oleh orang-orang terdekat adalah sia-sia. Memudahkan urusan orang lain adalah bentuk usaha agar Allah pun memudahkan urusan kita.

Pada akhirnya, segala hal yang kita lakukan memang hanya berharap Ridho Allah. Kita percaya, keimanan selalu memberikan pencerahan. Keimanan akan membuat kita selalu ingat bahwa perbuatan baik sekecil apapun untuk kepentingan orang banyak tak akan pernah sia-sia. Kita percaya, Allah pasti akan membantu segala urusan kita. Bila Allah yang selalu dituju, adakah alasan kita untuk meragu?

Berpandangan Positif

Karena cara pandang adalah kunci penting dalam menilai sesuatu, maka, penuhilah pikiran kita dengan hal-hal positif. Pikiran yang positif akan melahirkan perbuatan yang positif.

Selain itu, setiap orang berhak memiliki hati dan pikiran yang sehat. Pikiran positif adalah usaha untuk membersihkan hati dan pikiran kita dari hal-hal negatif.

Berpandangan positif juga akan melahirkan inisiatif. Kita akan selalu mencari banyak cara bagaimana memilih dan mengambil keputusan untuk kebaikan bersama. Hati kita tenang dan tidak menyakiti perasaan orang lain. Jangan lupa, cara pandang kita terhadap sesuatu adalah kunci 🙂

Bertanggung jawab untuk diri sendiri

Apapun yang terjadi dalam hidup kita adalah murni atas pilihan kita sendiri. Jadi, bila ada peristiwa tidak menyenangkan terjadi, kita tak perlu mencari kesalahan orang lain. Introspeksi yang banyak, temukan kekeliruannya, dan perbaiki.

Meyakini yang Sudah Terjadi adalah Takdir

Kalau kata Ibu Riani, poin ini yang tidak mudah dilakukan, namun pasti bisa diusahakan 🙂 Beliau juga mengatakan, meyakini takdir akan menyembuhkan luka. Takdir yang Allah berikan tidak akan membuat manusia menderita. Yang membuat menderita adalah cara kita menyikapinya. Bila kita memandang takdir sebagai yang terbaik untuk hidup kita, maka akan ada banyak pelajaran yang dapat diambil.

***

Semoga cara memanajemen diri yang disampaikan Ibu Riani bermanfaat untuk teman-teman. Semangat memanajemen diri, selamat berjuang menjadi pemimpin untuk diri sendiri ya. Jangan takut menjadi pemimpin. Pemimpin itu boleh salah. Pemimpin itu boleh keliru. Namun, yang perlu diperhatikan, bagaimana kita menyikapi kesalahan itu. Bagaimana kita memperbaikinya. Bagaimana cara kita meminta maaf. Semangat! 🙂

Liqo: Ridha

Oleh: Mbak Nia

Minggu, 11 Februari 2018

Materi: Ridha/Rela

Alhamdulillah, pagi ini saya masih diberi kesempatan oleh Allah untuk menghadiri majelis ilmu.

Setiap orang pasti memiliki masalahnya sendiri. Bahkan masalah yang saya anggap paling sulit pun, orang lain juga memiliki masalah yang tak kalah sulit. Jadi, jangan merasa kita adalah manusia yang paling menderita dan sedih. Pemikiran tersebut benar-benar keliru. Allah memberikan kesulitan pada manusia sesuai dengan kapasitasnya. Yuk, sudahi saja membanding-bandingkan permasalahan. Lebih baik kita berusaha membuat keadaan menjadi lebih baik.

Bagi saya, siraman rohani secara berkala penting sekali. Untuk pengingat diri. Hati mudah sekali dibolak balik dan berubah. Maka, kita harus pandai merawat dan menjaga hati dalam keadaan bersih dan jernih. Kita bisa memperolehnya melalui buku, ceramah diyoutube, atau mendatangi kajian di Masjid. Akhir pekan bisa sekali digunakan untuk mendatangi majelis ilmu. Sebab, mendatangi langsung banyak sekali memberikan manfaat. Mendapat ilmu dan menjalin silaturrahim dengan saudara-saudara seiman. Seru kan?

Hari ini kajian dilaksanakan di Masjid Al Huda, Depok Dua. Meskipun sedikit mendung, Alhamdulillah tidak turun hujan.

Berikut uraian materi yang saya dapatkan dari liqo hari ini:

Kita diperintahkan untuk menerima apa-apa yang Allah berikan. Tidak ada alasan untuk berargumentasi, bertanya, dan protes mengapa takdir ini terjadi pada hidup kita. Karena hubungan Allah dengan kita memang berbeda. Allah adalah sebagai Sang Pencipta dan Yang Maha Kuasa. Dan kita adalah sesuatu yang diciptakan oleh-Nya. Allah Maha Tahu dan Allah Maha Benar. Sungguh, kita tidak benar-benar tahu apa yang terbaik untuk diri sendiri. Yang diinginkan belum tentu terbaik kan?

Kita tidak bisa hidup hanya dengan kaca mata diri sendiri saja. Kita tidak boleh hidup apatis dan berputus asa dengan rahmat Allah. Yang bisa kita lakukan adalah berusaha, berdoa, dan yakin dengan rahmat Allah. Jika kita meyakini rahmat Allah, maka kita akan optimis dan berusaha menjalani hidup dengan baik.

Kita juga seharusnya berusaha semaksimal mungkin. Minimal usaha yang dilakukan adalah berdoa. Ukhuwah Islam yang tertinggi selain mendoakan diri sendiri adalah mendoakan orang lain. Allah akan mengabulkan doa-doa yang diucapkan oleh sahabat. Begitu juga sebaliknya.

Beberapa hal yang harus dilakukan agar ridha dengan segala takdir Allah:

1. Kita harus yakin dengan alam gaib. Bahwa akan ada kehidupan selanjutnya setelah kehidupan di dunia.

2. Kita harus meyakini Qada dan Qadar. Dengan berusaha dan berdoa, maka kita bisa merubah takdir. Allah Maha Pemurah, Maha Penyayang, dan Maha Baik. Meskipun Allah sudah menentukan seluruh nasib manusia dan tahu bagaimana awal dan akhir kehidupan dunia akhirat, namun, Allah punya kuasa untuk merubahnya jika kita berusaha.

3. Kita harus mengambil hikmah-hikmah dibalik takdir yang Allah berikan. Kita mentadaburi dan mengintrospeksi diri. Jika kita bersabar, maka Allah akan mengangkat derajat kita dan dihapus segala dosa.

Kita harus rela dan ridha dengan apa yang terjadi di alam ini. Kita harus pandai mengkaji bencana. Yang terjadi adalah bencana atau ujian. Semua tentang alam adalah kuasa Allah. Manusia hanya mentadaburi dan berusaha melakukan upaya pencegahan untuk menghindari hal-hal yang tidak diinginkan. Hal-hal untuk merubah kejadian alam, bukan kuasa manusia.

Selain mengkaji tentang alam, kita juga harus mencari kebermanfaatannya. Agar manusia bisa terus menjalani hidup.

Setelah ridha dengan apa-apa yang Allah telah berikan, kita harus siap menerima konsekuensi yang ada. Apa yang telah kita tanam dan kita lakukan, maka, Allah akan bertanya tentang semua hal itu di akhirat nanti.

Parameter ridha adalah menerimanya dengan lapang dada, patuh, dan taat kepada Allah.

Ridha tidak bisa dilakukan tanpa adanya keimanan. Maka, keimanan adalah kunci awal yang perlu kita pertanyakan pada diri kita sendiri.
Ridha perlu sekali dimiliki oleh setiap manusia. Demi diri kita sendiri. Kita harus hidup dengan baik. Kita harus hidup dengan tenang. Kita harus hidup dengan semangat yang tinggi. Semoga kita termasuk ke dalam orang-orang yang ridha. Dan semoga kita termasuk ke dalam orang-orang yang terus menjaga keimanan. Aamiin ya Rabbal’alamin.

Liqo: 17/09/2017 – Tentang Dosa

Alhamdulillah pagi itu langkah kaki dimudahkan lagi oleh Allah untuk mendatangi majelis ilmu. Sebab hati manusia mudah dibolak-balikkan, maka datang ke mejelis ilmu adalah keharusan. Untuk menjaga hati dan keimanan agar tetap lurus dijalan-Nya.

Materi kali ini adalah tentang dosa. Untuk memulai materi, Mbak Nia mengawali dengan sebuah pertanyaan, “Apa yang dimaksud dengan dosa?”  kami terdiam. Diamnya kami memberikan banyak arti. Bisa karena bingung bagaimana mengungkapkannya, bisa juga karena dosa lebih mudah dirasakan namun sulit definisikan dengan kata. Saya juga tidak langsung menjawab secara lisan pertanyaan Mbak Nia. Yang dilakukan saat itu adalah berpikir. Kemudian yang terlintas dalam pikiran, dosa adalah sebuah perbuatan salah yang dilakukan, membuat hati tidak tenang, dan tidak ingin diketahui orang lain.

Ditengah keheningan, Mbak Nia langsung melanjutkan, “Dosa adalah sesuatu hal yang tidak nyaman dilakukan, tidak ingin orang lain mengetahuinya, dan menjadi tidak tenang dihati.”

Saya rasa, kami menyetujui apa yang Mbak Nia katakan. Serta memiliki definisi dosa yang sama. Dalam pikiran masing-masing.

Mengutip dari tulisan salamadian.com, secara sederhana, dosa kecil adalah dosa yang tidak tergolong kategori dosa besar dalam Islam seperti syirik, membunuh, mabuk, zinah, sombong, durhaka pada orang tua, dan lain sebagainya. Dosa kecil tidak mendapatkan penekanan ancaman dari Allah, baik di dunia maupun di akhirat, berbeda dengan dosa besar, yang telah jelas Allah mengancamnya dalam Al-Qur’an bahkan disertai dengan  hukuman yang amat berat.

Dalam banyak urusan, kita terbiasa untuk menganggap mudah suatu perkara padahal itu adalah perkara yang sulit. Dan menganggap sulit suatu perkara padahal itu adalah perkara yang mudah. Namun, sungguh berbahaya bila kita menerapkan hal seperti ini pada dosa. Seperti menganggap perbuatan-perbuatan kita ini adalah dosa kecil. Menyepelekan kesalahan kecil. Padahal yang kita anggap kecil ternyata bagi Allah itu dosa besar. Menakutkan kan?

Dalam sebuah hadist mengatakan, balasan dosa besar adalah mendapat murka, laknat, siksa Allah dunia dan akhirat.

Dalam kamus besar bahasa Indonesia, murka adalah sangat marah. Laknat adalah kutuk. Siksa adalah penderitaan atau hukuman. Bagi seorang muslim, sungguh sangat menyedihkan dan menakutkan bila Allah sangat marah, mengutuk, dan memberikan penderitaan pada kita. Padahal, Allah adalah Maha Penyayang, Maha Pengasih, Maha Pengampun, dan ingin segala kebaikan tercurahkan pada kita. Jika Allah bersikap seperti ini, bukankah perbuatan yang tergolong dosa besar benar-benar Allah benci? Percayalah, perbuatan yang Allah benci dan larang untuk kita adalah perbuatan yang akan merugikan dunia dan akhirat untuk kita. Untuk siapa? Kita. Allah tidak akan merugi sama sekali dalam hal ini. Lantas, tidak inginkah kita berpikir lalu menjauhinya?

Dalam Surat An-Nisa Ayat 31 Allah mengatakan, “Jika kamu menjauhi dosa-dosa besar diantara dosa-dosa yang dilarang mengerjakannya, niscaya Kami hapus kesalahan-kesalahanmu dan akan Kami masukkan kamu ke tempat yang mulia (Surga).

Dalam surat An-Nisa tersebut kita mengetahui, Allah yang Maha Baik selalu mengampuni dan memberikan kesempatan untuk hamba-Nya. Bahkan untuk dosa yang tergolong besar sekalipun. Maka, marilah kita mengintropeksi diri, segera memohon ampun, dan menjauhi semua larangan-Nya. Allah pun akan segera memberikan Surga untuk kita.

Dengan mengetahui apa itu dosa besar dan dosa kecil, apa saja contoh perbuatannya, dan apa hukumannya, semoga kita menjadi orang yang berhati-hati dalam bertindak dan beribadah. Beberapa hal yang dapat kita lakukan:

1. Jangan Terlalu Yakin dengan Amal Kita.

Mungkin, kalau pada pekerjaan dunia kita bisa merasa yakin tentang apa-apa yang kita kerjakan. Seperti ketika tes ujian perguruan tinggi, kita bisa tahu seberapa besar kesiapan kita melalui try out. Dari sana akan terlihat kita lolos passing grade atau tidak. Namun, tentang ibadah kita tidak bisa tahu. Kita hanya tahu syarat ibadah di terima oleh Allah adalah dengan beribadah dengan ikhlas dan melakukannya sesuai ajaran Islam. Oleh karena itu, karena kita tidak tahu, berusaha saja untuk ikhlas dan melakukan sesuai aturan. Lalu, berserah pada Allah.

2. Jangan Merasa Aman dengan Dosa-dosa yang Dilakukan

Ketika mengetahui telah melakukan dosa, jangan pernah merasa aman dengan dosa tersebut. Karena, meskipun kita telah terus menerus memohon ampun pada Allah, kita tidak pernah tahu dosa-dosa tersebut sudah diampuni oleh Allah atau belum. Atau bahkan tidak diampuni. Astagfirullah. Ampuni kami ya Allah.

3. Amalan Itu Bersifat Gaib

Gaib adalah tidak kelihatan, tersembunyi, dan tidak nyata. Begitulah amalan kita. Yang tahu hanya Allah. Sebab amalan itu gaib, maka lakukan saja yang terbaik. Kemudian berdoa dan berserah pada Allah.

4. Berusaha Meninggalkan Dosa Kecil

Jangan pernah menyepelekan dosa kecil. Ketika kita tahu itu dosa, karena akan membuat hati tidak tenang dan tidak ingin orang lain mengetahuinya, jangan lakukan itu. Sebaik-baiknya perilaku adalah perilaku baik. Perilaku baik hanya bisa didapatkan bila kita membiasakan melakukan hal baik. Yuk, berusaha melakukan perbuatan-perbuatan terpuji dalam kehidupan sehari-hari.

5. Jangan Meremehkan dan Menghina Dosa Kecil

Dosa kecil atau besar yang tahu hanya Allah. Hadist mengatakan, ketika kita meremehkan dosa sebagai dosa kecil, padahal bagi Allah itu adalah dosa besar. 

Kemudian hadist lain mengatakan, sebuah dosa besar yang dibarengi dengan rasa takut kepada Allah, malu terhadap manusia dan Allah, lalu mengganjal dihati, itu merupakan dosa kecil.

Semua hanya Allah yang Maha Tahu. Tolak ukur manusia sama sekali tidak boleh dilakukan dalam hal dosa. Karena kita adalah tempatnya banyak salah. Dan Allah selalu benar dan Maha Tahu segalanya.

6. Dosa Kecil Bisa Menjadi Dosa Besar bila Dilakukan Terus Menerus

Dosa-dosa yang kita anggap kecil dan sepele lalu dilakukan terus menerus, akan menjadi dosa besar. Sesuatu yang kecil, jika dilakukan terus menerus akan menjadi banyak. Dan jumlahnya yang menjadi besar. Maka, berhati-hatilah.

Materi Liqo ini diberikan oleh Mbak Nia, beberapa definisi dosa ditambahkan dari web ini (di dalam web tersebut juga dituliskan beberapa hal yang membuat dosa-dosa kecil menjadi besar. Silakan dibaca :)) dan ditambahkan beberapa pendapat saya sendiri. Semoga bermanfaat.

Karena dosa dapat kita rasakan dalam hati, semoga kita lebih berhati-hati dan menjauhi. Karena amalan itu tidak terlihat, semoga kita terus bersemangat. Tidak terlalu yakin dengan ibadah yang dilakukan dan berusaha untuk ikhlas dan mengikuti aturan ibadah yang Allah berikan. Lalu, berdoa dan berpasrah dengan keputusan-Nya. Semoga kita termasuk ke dalam golongan yang terus berusaha berbuat baik dan berusaha mendekati kebaikan. Aamiin 🙂

Liqo: 30/07/2017 – Komitmen yang harus dijaga setelah Bulan Ramadhan

Assalammu’alaikum. Saya ingin berbagi lagi hasil Liqo Hari Minggu tanggal 30 Juli 2017 Kemarin. Sudah rindu sekali rasanya tidak mengingatkan hati dan pikiran lagi tentang Allah. Karena selama Bulan Ramadhan Liqo libur dan baru mulai kembali Minggu kemarin.

Meskipun  cara yang paling baik mendekatkan diri ke Allah adalah melalui sholat karena kita bisa berinteraksi langsung segala keluh kesah pada-Nya, berkumpul dengan sahabat-sahabat membahas materi tentang Islam sangat dibutuhkan. Karena rasa semangatnya akan menjadi berlipat-lipat ganda jika belajarnya bersama-sama 😀 Dan hati sangat perlu untuk diingatkan secara terus menerus.

Materi ini disampaikan oleh Mbak Nia. Berikut komitmen-komitmen yang harus dipertahankan sesudah Bulan Ramadhan agar terus terjaga:

1. Harus konsisten dalam ibadah-ibadah yang sudah dicapai di bulan ramadhan.

Karena mengetahui keutamaan dan segala berkah di Bulan Ramadhan, muslim dimana pun akan saling berlomba-lomba melakukan ibadah yang paling baik. Dan kita mampu melakukan ibadah-ibadah secara terus menerus dan berjuang melaksanakannya. Agar dapat mempertahankan kebiasaan-kebiasaan baik tersebut, maka kita harus mempertahankan zona menuju Allah secara lurus. Menata hati kita agar bersandar pada Allah. Berusaha selalu mengingat Allah menggunakan media apapun.

2. Menjaga Konsistensi dalam Jamaah.

Ibarat sebuah bangunan yang terdiri dari banyak komponen dan tidak bisa berdiri sendiri,  maka sesama muslim harus saling melengkapi satu sama lain. Saling menutupi kelemahan. Saling mengingatkan ketika berbuat salah dan khilaf. Saling menyemangati saat rasa malas kala hinggap pada diri.

3. Menjaga Konsistensi Jiwa

Jika ruh kita bersih, maka anggota badan kita juga akan melakukan perbuatan baik. Karena, hati adalah raja dalam diri kita. Jika hati kita keruh, kita tidak akan bersemangat lagi untuk membantu saudara. Yang dipikirkan hanya kotak keluarga kita. Hanya fokus memikirkan diri sendiri saja. Berkurangnya rasa empati dan kepekaan kita. Kita harus selalu mencari cara agar selalu berkontribusi untuk orang lain dan menolong siapapun yang membutuhkan. Agar konsistensi jiwa kita terjaga.

4. Menjaga Kebersihan Hati.

Harus berusaha menjaga mata, tangan, hati, dan seluruh anggota badan untuk menjauhi larangan Allah. Jika hati kita bersih, maka akan khusyu beribadah. Dan akan mudah menerima nasihat orang lain. Hati dan pikiran juga mudah menerima ilmu dan perubahan yang baru.

5. Menjaga Ketekunan.

Insya Allah akan berguna untuk diri kita. Kegiatan ibadah harus dilakukan dengan tekun. Kegiatan yang dilakukan dengan tekun, Insya Allah hasilnya maksimal.

6. Kita Harus Memupuk Cinta dan Menjaga Konsistensi Kita kepada Allah.

Harus mempertahankan cinta kita pada Allah dan selalu menjadikannya nomor satu. Walaupun kita memiliki keluarga, suami, anak, dan kerabat lainnya. Mengapa kita harus menjadikan Allah yang paling pertama dan utama? Karena Allah sudah memberikan banyak hal pada kita. Secara cuma-cuma tanpa pernaj kita minta. Allah selalu memberikan yang terbaik untuk kita. Bahkan untuk kejadian yang menyakitkan dan menyedihkan “bagi kita” pun adalah yang terbaik. Allah Maha Tahu. Dan kita sangat sering keliru dan tidak tahu.

Dalam menikah, cara memupuk cinta kepada pasangan adalah dengan keimanan. Kita dipersatukan dengan pasangan oleh Allah. Yang memberikan cinta adalah Allah. Maka, yang akan mengambil cinta kembali hanya Allah. Maka, jika mencintai dia akan menambah cinta kita pada Allah, maka dekatkanlah dia.

7. Intensitas Kebaikan kepada Hal-hal Lain Harus Diperbanyak.

Jika hal-hal semakin mendekatkan kita pada Allah, maka mendekatlah. Jangan berharap mendapatkan hidayah, tanpa ada usaha dan perjuangan. Sebab, hidayah harus dicari dan diperjuangkan. Bukan hanya ditunggu.

8. Kita Harus Berani Berkomitmen.

Sebagai contoh: Pada zaman dahulu, ketika Umar terlambat sholat berjamaah, Umar dengan berani mewakafkan kebunnya. Hal itu dilakukan karena betapa menyesalnya Umar telah lalai melaksanakan perintah Allah. Sangat terlihat bahwa Allah dan segala perintah-Nya sangat penting dalam hidup Umar. Semoga kita berani berkomitmen untuk agama kita, yaitu Islam 🙂

9. Merubah Paradigma.

Ubah pola pikir kita bahwa dunia ini adalah hanya terminal tempat pemberhentian sementara. Oleh karena itu, sibukanlah diri untuk mempersiapkan akhirat kelak.

10. Hadirkan Syurga di dalam Halaqah Kita.

Ketika kita lemah terhadap siapapun, harga diri Islam itu tidak ada. Maka, diperlukan para pendakwah yang kuat dan berani menyuarakan kebenaran.

11. Harus bisa Menyegarkan Pikiran dan Menyegarkan Tarbiyah

Tujuannya agar tidak mudah terpengaruh dengan musuh-musuh Islam. Dan tegar dan menyegarkan ilmu-ilmu Allah.

Semoga kita mampu melaksanakan Sebelas perilaku baik dalam kehidupan sehari-hari. Agar keimanan dan akhlak baik kita selalu terjaga. Serta tidak lupa untuk menebar kebaikan. Aamiin 🙂

Liqo: 23/04/2017 – Menjadi Muslim yang Kuat dan Dicintai Allah

LIQO. MINGGU, 23 APRIL 2017
Oleh: Mbak Nia

Mukmin dibagi menjadi tiga:
1. Golongan yang selalu bergegas melakukan kebaikan.
Akhirat selalu berada dihati dan melakukan apapun karena Allah. Ciri-cirinya adalah gemar melakukan hal wajib dan sunnah, ingin sekali meraih cinta Allah, senang melakukan aktivitas-aktivitas yang dibolehkan, dan disukai islam, menjauhkan diri dari yang dilarang dan makruh, serta sangat berhati-hati dalam bersikap.

2. Golongan pertengahan.
Sudah merasa cukup dengan yang ibadah yang wajib saja. Dan merasa bersyukur untuk menjauhi hal-hal yang haram.

3. Golongan yang mendzalimi diri sendiri. Ciri-cirinya adalah senang merusak diri sendiri, tidak memiliki prinsip, mudah berubah tergantung dengan suasana hati dan lingkungan, dan tidak berkarakter.

Lalu, bagaimana menjadi muslim yang kuat dan dicintai Allah?

Dan selalu bergegas dalam melakukan kebaikan seperti mukmin golongan pertama?

Caranya adalah kita harus membentuk diri kita sendiri dan harus diusahakan.

Bekal yang harus kita miliki dan persiapkan adalah
1. Ilmu yang bermanfaat.
Yaitu ilmu yang bermanfaat untuk akhirat.
Ciri-cirinya:
– Apapun ilmu yang kita punya, bisa mensucikan diri dan jiwa.
Lalu, segera berusaha berubah menjadi lebih baik untuk diri sendiri.
– Menghasilkan kebahagiaan dunia dan akhirat.
Karena dari kebaikan dan ibadah sehari-hari yang biasa kita lakukan, kita akan dicintai Allah dan disukai orang-orang disekitar.
– Dapat membimbing orang lain.
Paling tidak, kita dapat mengingatkan keluarga. Seperti ketika melihat hal yang tercela kita bisa segera mengingatkan.
– Melahirkan sifat khusyu.
Sholat menjadi khusyu, takut kepada Allah, melakukan hal apapun dengan orientasi hanya kepada Allah, dan berharap mendapat ridho dari Allah.

2. Amal yang sholeh
Yaitu melakukan amalan-amalan sesuai Al-qur’an dan telah dicontohkan oleh Rasulullah.

3. Mencari rizki yang berkah.
Karena Allah lebih mencintai tangan di atas daripada tangan di bawah.
Rizki yang berkah ciri-cirinya adalah
– Bekerja dengan niat ikhlas dan atas dasar taqwa.
Kita bekerja agar bermanfaat untuk orang lain. Seperti untuk membantu orang tua, membantu adik dan kakak, membantu orang yang kesulitan, dan untuk bersedekah. Bukan karena terpaksa dan tidak ikhlas melakukannya.
– Orang yg sukses dimata Allah.
Dia berupaya untuk berinfaq untuk islam.
– Tidak lupa untuk bermuamalah atau bersosialisasi dari uang yang kita dapat. Contohnya, dari uang tersebut kita bisa gunakan untuk berkontribusi kepada masyarakat.
– Kita bisa membantu orang tidak mampu disekeliling kita. Seperti: membantu teman yang memiliki hutang, orang yang tidak mampu, teman yang sakit, atau orang yang terkena musibah.

4. Melakukan hal yang bermanfaat secara terus menerus meskipun hal kecil.
Seperti: tersenyum, menyapa, mengucapkan salam, membaca al qur’an. Sehingga hal tersebut dapat mencirikan kita.

5. Membiasakan melakukan kebaikan di awal waktu.
Dengan cara berlomba-lomba dalam kebaikan.

6. Tidak bermalas-malasan dan berlambat-dalam dalam melakukan aktivitas atau ibadah.
Karena, kemalasan akan menimbulkan rasa malas-malas yang lainnya saat beraktivitas.

7. Bersabar dengan ridho dengan ketetapan dan takdir Allah.
Karena dengan bersabar dan ridho dengan apapun yang terjadi, kita akan memiliki hati yang lapang. Serta mampu menemukan hikmah pada setiap kejadian.

8. Meminta pertolongan dan bersyukur pada Allah.
Karena ketika bersyukur, nikmatnya akan ditambahkan oleh Allah.

9. Mempersiapkan diri dalam hal yang terburuk seperti menghadapi musuh dengan kekuatan yang ada.
Sehingga kita selalu siap menghadapinya kapan pun itu.

10. Mampu melawan hawa nafsu dan menjaga ketaatan kepada Allah sepanjang hidupnya.
Hal tersebut akan meningkatkan derajat taqwa kita.

Liqo: Sumber Ketenangan Hati

Assalammu’alaikum Wr. Wb
Selamat Malam!

Alhamdulillah,  Hari Minggu masih diberikan kesempatan oleh Allah menghadiri kegiatan yang produktif  🙂 Materi yang dijelaskan Mbak Nia kali ini tentang Sumber ketenangan hati. Memiliki hati yang tenang adalah karunia Allah yang patut kita syukuri.

Tetapi, tidak semudah itu kita memiliki hati yang tenang. Dengan menjalani hari, bertemu dengan lingkungan yang beragam, dan orang yang bermacam-macam seringkali membuat suasana hati berubah-ubah. Yang paling mengganggu adalah kalau hati lagi tidak tenang. Kegiatan apapun rasanya sulit untuk dilakukan dengan benar dan rasanya tidak enak. Nah berikut ada beberapa sumber yang membuat hati kita selalu tenang:

1. Tidak tergantung dengan orang lain.

Disekitar kita memang banyak orang-orang baik yang menolong. Karena terlalu sering ditolong, terkadang membuat kita merasa nyaman. Lalu menyebabkan ketergantungan dan berharap yang berlebihan.  Padahal orang-orang baik itu tidak harus melulu menolong kita. Mereka juga punya banyak urusan dan kepentingan yang harus dilakukan. Pada akhirnya ketika keadaan tidak sesuai dengan keinginan, kita akan kecewa. Perasaan kecewa itu akan membuat hati tidak dalam keadaan baik. Ingat, tempat paling baik bergantung adalah pada Allah. Dan kemudian lakukan sendiri. Mandiri itu keren loh 😉

2. Berburuk sangka dengan orang lain.

Jangan pernah berburuk sangka. Karena akibatnya akan berkepanjangan. Selain itu, tidak ada manfaatnya untuk kehidupan kita di dunia ataupun di akhirat. Dengan berburuk sangka, artinya kita mengotori pikiran kita dengan pikiran-pikiran negatif. Pikiran negatif akan menghasilkan perasaan negatif. Pada akhirnya tindakan yang dilakukan juga negatif. Alhasil, akan merugikan diri sendiri dan orang lain. Lalu bagaimana dengan hati kita? Jangan ditanya, berburuk sangka akan menyebabkan penyakit hati. Yuk, lebih baik kita berpikir positif saja. Supaya hati, pikiran, perasaan, dan tindakan kita baik 😀

3. Hiduplah hari ini. Tidak fokus dengan masa lalu.

Hari-hari yang kita telah lalui biasa disebut dengan masa lalu. Kalau begitu, setiap manusia yang telah hidup hingga kini masa lalunya sudah banyak sekali. Mungkin kalau dibuatkan album foto, sudah tersusun menjadi banyak rak buku 😀 Dan berterima kasihlah dengan masa lalu. Sebab, dirimu yang cantik, ganteng, bijak, bersabar, tenang, dermawan, ramah, dan santun adalah hasil dari pembelajaran masa lalu. Hebat kan? Jadi, masa lalu tidak selalu identik dan berhubungan dengan yang buruk-buruk. Oleh karena itu, mulai saat ini yuk kita fokus untuk hari ini dan hari esok. Rencanakan perubahan-perubahan baik yang ingin dilakukan dan segera bergerak! Lakukan dengan semangat dan sebaik-baiknya. Insya Allah hati kita akan semakin tenang 🙂

4. Tidak menyimpan kemarahan, kebencian, dan iri hati dengan orang lain.

Meskipun ada peluang untuk melakukan itu, lebih baik dibuang yang jauh saja ya? Karena hanya membuang waktu saja. Masih banyak hal seru dan menyenangkan yang harus dilakukan. Sayang kan waktunya kalau dipakai untuk melakukan itu semua? Dampak yang akan terjadi hanya menyakiti hati kita saja. Kita berhak untuk hidup dalam damai. Jadi, yuk fokus pada sikap yang membuat kita menjadi lebih baik. Masih banyak sahabat-sahabat yang perlu kita sayangi, pedulikan, saling berbagi, dan tolong menolong. Hal-hal tersebut akan membuat hati kita senang loh 😀

5. Tidak membiasakan sikap terburu-buru.

Menunda-nunda pekerjaan memang mudah dilakukan. Tetapi dampaknya akan mempengaruhi mood kita satu hari penuh. Kabar buruknya, menunda-nunda akan membuat mood kita menjadi sangat buruk. Mengerikan sekali, kan? Akhirnya seluruh agenda harian yang telah direncanakan menjadi berantakan dan tidak terkendali. Tugas-tugas saling bertumpuk bahkan menjadi tidak terselesaikan. Merugikan sekali. Mulai saat ini, kita harus membiasakan mengatur waktu dengan baik. Agar segala hal berjalan dengan lancar, aman, dan terkendali. Insya Allah mood baik akan terjaga hingga satu hari penuh 😀

6. Tidak mengkhawatirkan hari esok.

Mengkhawatirkan hari esok itu baik. Menjadi tidak baik jika tidak dibersamai dengan tindakan nyata. Tidak perlu terperangkap dengan suatu masalah dan dipikirkan hingga berlarut-larut. Semua akan berjalan baik. Bukankah rezeki dari Allah sudah Allah tentukan? Bukankah apa yang kita tanam, maka itulah yang akan dituai? Tugas kita hanya berlaku dengan sebaik mungkin. Biarlah Allah yang menilai.

7. Ketuklah Allah dengan mengadu dan meminta.

Bercerita dengan orang lain dibolehkan, asalkan kita mengerti dengan baik keadaannya. Keadaan bahwa orang lain juga memiliki permasalahan dalam hidupnya. Apakah hal wajar jika kita melulu mengeluh, mengadu, dan meminta pada orang lain yang juga sama-sama memiliki sebuah masalah? Sebaiknya tidak. Manusia pasti memiliki sebuah keterbatasan dalam menampung keluh kesah sesama. Bagi Allah tidak. Allah akan siap sedia kapanpun dan sesering apapun kita meminta dan mengeluh.

8. Mengingat Allah.
Bila kita sedang dirundung duka dan semua terasa menyedihkan, cobalah untuk mengingat Allah. Ingat betapa banyak karunia yang telah Allah berikan. Kita masih diberikan kehidupan dalam kedaan badan yang sehat. Bukankah sudah seharusnya kita berterima kasih pada Allah?

Lalu, ingatlah betapa banyak ciptaan Allah di dunia ini yang jauh dari nalar manusia. Lihat laut yang luas, langit terbentang, dan gunung-gunung yang tinggi. Pemandangan yang membuat kita takjub dan bahagia. Belum lagi banyak teknologi masa kini yang sangat canggih. Membuat kita semakin merasa bersyukur. Semua telah ditetapkan Allah. Tugas manusia hanyalah terus berusaha terbaik. Supaya hasilnya pun baik pula. Dan menjemput ridho-Nya. Lalu, masih adakah yang perlu di risaukan dan membuat hati kita tidak tenang? Tidak kan? 🙂 Yuk banyak-banyak mengingat Allah dan berdizikir disetiap kesempatan 😉

9. Berinteraksi dengan Al-Qur’an.

Al-qur’an adalah pedoman manusia di dunia ini. Ketika ada masalah coba deh perbanyak membaca Al-qur’an. Jangan lupa membaca artinya ya. Supaya kita mendapat jawaban atas masalah-masalah tersebut. Lalu, kalau pikiran sedang tidak baik coba saja dengarkan orang yang sedang membaca Al-qur’an. Niscaya, akan mendapatkan semangat baru dan yakin kita mampu.

Dengan rajin menghadiri mejelis ilmu, kita juga akan mengkaji isi kandungan Al- qur’an. Hal tersebut akan meningkatkan pemahamanmu tentang Al- qur’an. Insya Allah akan membantu menemukan solusi pada masalahmu. Yuk dicoba 😀

10. Menyayangi orang miskin.

Pada masa lalu, rasullullah memilih untuk menjadi miskin. Karena akan menjauhkan kita pada fokus dunia. Dengan menjadi miskin, kita tidak mengkhawatirkan apa-apa yang berhubungan dengan harta. Tidak takut kehilangan harta. Sehingga fokus kita hanya pada beribadah dan menebar kebaikan. Hal-hal tersebut membuat hati kita tenang. Sayangi orang miskin, karena mereka akan mengajari kita banyak hal.

11. Perbanyak melihat orang yang kurang beruntung dibanding kita.

Melihat orang lain yang kurang beruntung dibanding kita, akan meningkatkan rasa bersyukur pada Allah. Ternyata Allah baik sekali pada kita. Hingga kini masih diberi kehidupan yang layak dan lebih dari cukup. Lantas, masih pantaskah kita merasa kurang dan terus menerus meminta yang lebih padahal kita tidak membutuhkannya? Kehidupan yang berkecukupan akan menjauhkan kita dari sifat sombong dan riya. Ingatlah, Allah memberikan sesuai kebutuhan kita. Jadi, yuk perbanyak bersyukur dan fokus berbagi. Masih banyak loh orang-orang yang perlu kita bantu 😉

12. Menjaga silaturrahim.

Jika telah lama tidak mengunjungi saudara seringkali hati menegur kita. Rasanya hati ini tidak tenang sekali. Oleh karena itu, selain membuat hati tenang, silaturrahim juga semakin membuat tali persaudaraan erat loh. Jadi, masih menunda-nunda untuk berkunjung ke rumah kerabat dekat dan saudara seiman? Yuk kita bersilaturrahim 😀

13. Berani mengatakan kebenaran.

Sepandai-pandainya manusia menahan dan menyimpan sebuah rahasia, tetapi jika berhubungan dengan kebenaran sepertinya tidak akan bisa. Manusia secara lahiriyah memang jujur. Karena memiliki hati. Hati selalu berkata jujur. Maka, coba saja menahan untuk tidak mengatakan yang sebenarnya. Mungkin secara fisik kita sukses melakukannya. Tetapi secara batin tidak. Hati kita pasti tidak tenang. Oleh karena itu, kalau mau hati tenang, yuk lakukan dan katakan sesuai dengan yang sebenarnya 😉

14. Mendirikan shalat.

Selain menjadi kewajiban, shalat merupakan sebuah kebutuhan untuk manusia. Karena pada saat itu kita sedang berkomunikasi dengan Allah. Dalam menghadapi peliknya kehidupan, shalat penolong sebagai tempat berkeluh kesah. Pasti ada saja hal-hal yang membuat kita kesal dan marah. Dengan shalat, akan meluruhkan semua itu dan membuat keadaan kita menjadi lebih baik.

15. Berinteraksi dengan orang-orang beriman.

Berinteraksi dengan orang-orang beriman itu seperti candu. Candu untuk melakukan kebaikan! Paling tidak, dengan berada pada lingkungan yang baik, akan mencegah kita melakukan hal buruk. Dan dapat memberikan pencerahan kala hari-hari terasa rumit. Pernah seperti itu kan? Maka, jika ingin selalu berprasangka baik dengan hal apapun. Sebaiknya kita mendekati lingkungan dan orang-orang yang baik. Yaitu, saudara seiman 😉

Ya, itu adalah 15 sumber ketenangan hati. Semoga kita bisa berusaha melakukannya. Karena hati yang tenang merupakan hal penting ketika melakukan sesuatu. Semoga apa-apa yang sudah saya tulis bermanfaat. Dan mohon dimaafkan jika ada kata-kata yang tidak tepat dan tidak berkenan dihati. Yuk bersama-sama mencari, belajar, dan menebar kebaikan 😀

Liqo: 08/01/2017 – Sepuluh Modal Untuk Berubah

Assalammu’alaikum Wr Wb.
Selamat pagi!

Saya ingin berbagi materi tentang modal untuk berubah menjadi lebih baik di tahun 2017 ini. Oleh-oleh dari Liqo 😀

Sebelumnya, saya mau cerita sedikit. Sudah sejak lama saya ingin sekali rutin menghadiri sebuah kajian yang berisi siraman rohani. Karena dengan kehidupan yang sangat rumit dan ujian kesabaran yang kerap kali datang, rasa-rasanya hati saya perlu selalu diingatkan. Agar saat khilaf dan berjalan di jalan yang tidak tepat, saya bisa segera kembali memutar arah ke jalan yang benar.

Mungkin karena pencarian yang belum totalitas, maka hasilnya pun nihil. Alhasil belum bisa menghadiri kajian hingga akhir Desember 2016.

Alhamdulillah di awal tahun 2017, berkat jalan yang diberikan Allah, tiba-tiba ada teman yang menginfokan tentang liqo. Pada awalnya, saya tidak tahu apa yang dimaksud dengan liqo. Sebab, saat sekolah menengah atas dan kuliah dulu, beberapa kali hanya pernah ikut mentoring saja. Ternyata mentoring dan liqo sama.

Hasil pencarian di google, secara garis besar Liqo adalah pertemuan yang dilakukan oleh kurang lebih 10 orang. Orangnya tidak terlalu banyak karena supaya lebih menyeluruh dalam membahas sebuah materi atau pun tanya jawab. Liqo bisa dilakukan di masjid, mushola, atau tempat yang kondusif. Disana kita bertilawah al-quran yang dilakukan bergiliran, penjelasan sebuah materi oleh seorang mentor, dan tanya jawab. Terkadang juga dilakukan penyetoran hafalan al-quran.

Setelah berkomunikasi dengan teman saya, yaitu Ria. Saya dan Ria berangkat bersama menghadiri Liqo Hari Minggu Kemarin. Tanggal 8 Januari 2017. Pukul 08.00 di Mushola Lembah Gurame. Pada hari itu, yang menghadiri Liqo enam orang saja. Alhamdulillah acara berjalan dengan baik. Teman-teman baru disana juga ramah dan baik. Dan Mbak Nia menyampaikan materi tentang modal untuk berubah menjadi manusia yang lebih baik.

Berikut sepuluh modal supaya perubahan baik yang kita inginkan dapat terlaksana:

1. Menerima masa lalu
Jadikan masa lalu sebagai bagian diri kita. Sadar atau tidak, diri kita saat ini adalah hasil dari pembelajaran yang kita dapatkan dari masa lalu. Betapa bijaknya kita saat ini adalah hasil dari betapa pandainya kita mengambil hikmah dari pengalaman yang lalu. Kita harus menerima dengan ikhlas. Tidak perlu menyesalinya berlarut-larut. Penyesalan harus dibersamai dengan melakukan perubahan baik. Jadi, mulai saat ini terus istiqomah dalam melakukan kebaikan ya? 🙂 Allah memaafkanmu, Allah menunggu kebaikan yang kamu lakukan.

2. Keinginan sendiri
Perubahan yang kita inginkan harus dari diri sendiri. Dengan begitu, apapun rintangan dan cobaan, kita akan kuat dan tidak gamang. Kita akan kokoh meski banyak yang ingin meruntuhkan. Dan selalu ada alasan untuk bangkit.

Jika perubahan yang dilakukan karena orang lain, yang dikhawatirkan adalah, ketika orang tersebut tiada, maka segala komitmen yang telah dibangun akan runtuh seketika seiring dengan ketiadaan orang itu.

Sebaik-baiknya pondasi adalah semangat diri sendiri. Sebab, keinginan dalam diri kuat akan menghasilkan pondasi yang kuat.

3. Memiliki visi dan misi yang jelas
Harus tahu apa yang ingin dirubah. Harus secara khusus dan tidak boleh bersifat umum. Sebagai contoh, kita harus mampu membuat list perbuatan buruk apa yang sering kita lakukan. Lalu setelah itu kita tentukan, bagaimana mengubah perbuatan-perbuatan buruk menjadi perbuatan baik.

4. Tekad yang kuat
Dengan tekad yang kuat, maka kita akan mampu mengalahkan nafsu dan rasa malas. Selain itu, manfaat memiliki tekad yang kuat adalah orang-orang sekitar juga akan yakin segala usaha kita. Mengapa mereka yakin? Tekad yang kuat akan membuat kita melakukan semua hal dengan sebaik-baiknya. Begitu juga hubungan manusia dengan Allah. Tekad yang kuat juga akan membuat kita melakukan yang terbaik untuk Allah. Tujuannya adalah untuk meyakinkan Allah.

5. Siapkan hati untuk berubah
Semua yang dilakukan dengan hati yang ikhlas, maka semua akan terasa indah. Begitu juga dengan hati, pikiran, dan tubuh. Hati yang baik akan membuat seluruh anggota tubuh baik. Hati yang bahagia akan membuat kita melakukan apapun terasa ringan. Coba bayangkan deh, jika kita berprangka baik kepada orang lain, bukankah hubungan kita dengan orang tersebut juga baik? Tersenyum pun menjadi ringan?

Berprasangka buruk, akan membuat hati gersang dan tidak semangat hidup. Jangankan berbuat baik, pikiran buruk akan membuat tersenyum terasa sulit. Jadi, yuk berusaha membersihkan hati kita. Bagaimana caranya?  Harus rajin-rajin mendapat siraman rohani 😀 melalui apapun, seperti ceramah, buku, dan lain-lain. Pilihlah cara yang kalian suka.

6. Harus ada prioritas
Kita hanya manusia biasa. Tidak bisa melakukan perubahan banyak dalam satu waktu. Maka, kita harus membuat point-point nih. Dari nomor satu sampai seterusnya. Tujuannya agar kita dapat mendahulukan apa yang mau dirubah tanpa ada orang lain terzalimi.

7. Harus istiqomah
Harus konsisten melakukannya secara rutin setiap hari. Harus disiplin dengan apa-apa yang sudah kita rencanakan.

8. Perlu motivasi yang kuat
Untuk melakukan perubahan baik, setiap orang tentunya memiliki motivasi yang berbeda-beda. Ada yang bisa mengambil hikmah dari ceramah, dari buku-buku islami, dari nasihat orang yang lebih tua, dari paksaan, dari al-qur’an, ataupun berada di lingkungan yang baik. Yuk, kita mengenali diri sendiri. Kira-kira cara apa ya yang tepat untuk kita 😀

9. Optimis
Kita harus selalu berprasangka baik pada Allah. Yakin bahwa apapun yang Allah berikan untuk kita, pastilah yang terbaik. Berbeda loh antara keinginan dan kebutuhan. Kita bisa ingin banyak hal, tapi pada kondisi tertentu kita hanya butuh satu hal. Nah, Allah lah yang tahu apa yang sangat kita butuhkan. Jadi, percayakan saja sama Allah ya 🙂

10. Berpikir positif
Tanamkan hal-hal positif dalam diri kita. Bahwa hari esok pasti lebih baim. Bahwa banyak orang-orang yang sayang dengan kita. Bahwa betapa bersyukurnya kita masih memiliki kedua orang tua lengkap beserta adik yang lucu-lucu. Bahwa betapa baiknya Allah karena kita didekatkan dengan lingkungan dan orang-orang baik.

Tujuannya, dengan melihat betapa banyak karunia yang Allah berikan, kita akan terpacu untuk terus berubah menjadi lebih baik.

Sekian yang saya bisa bagikan tentang Liqo Hari Minggu kemarin. Semoga bermanfaat untuk teman-teman dan semangat untuk berlomba-lomba dalam kebaikan 😀

Wassalammu’alaikum Wr. Wb.

Keimanan dan Jihad

Iman dan jihad tidak bisa dipisahkan. Karena, jika kita telah beriman maka kita harus siap untuk berjihad. Dan jika kita mau berjihad, harus dilandasi dengan iman.

Beriman kepada Allah.

Beriman kepada Allah artinya adalah percaya kepada Allah yang direalisasikan dengan diucapkannya oleh lidah, melekat dan berakar di dalam hati, dan diamalkan oleh seluruh anggota badan. Pada manusia terdapat beberapa kategori terkait dengan keimanan. Manusia yang pertama adalah dia telah meyakini bahwa Islam adalah agama yang Allah berikan, agar manusia hidup dengan baik, terhindar dari segala kejahatan, dan akan berbahagia di dunia dan akhirat. Tetapi, hanya sampai disana saja. Dia belum meyakini di dalam hatinya bahwa Allah dan Islam yang akan menyelamatkannya. Manusia tipe ini akan mudah goyah jika musibah menghampirinya. Manusia yang kedua, dia sudah mengucapkan dan meyakini dalam hati, tetapi belum mengamalkannya melalui perbuatan. Manusia tipe ini akan besar diucapan tetapi sangat sedikit dalam bertindak. Cenderung menjadi manusia yang fanatik tetapi tidak beralasan. Manusia yang ketiga adalah dia mengucapkan dengan lidah, meyakini dalam hati, dan mengamalkan dengan perbuatan. Inilah tipe manusia yang tertinggi. Semakin tinggi juga ujian yang diberikan oleh Allah. Jika dia mampu menghadapinya, maka derajat manusia ini akan tinggi bagi Allah.

Cara mengamalkan melalui perbuatan bisa melalui apa saja, dengan ilmu pengetahuan, dengan gagasan, dan sebagainya. Dengan tujuan, hal-hal yang dilakukan semata-mata ingin dirinya sendiri dan orang lain bersama-sama berbuat baik dan menghasilkan suatu manfaat yang berguna untuk kehidupan di dunia dan akhirat yang diridhoi Allah.

Manusia yang keimanannya sudah terpatri di dalam jiwa, dia akan tersugesti untuk melakukan kebaikan dalam menjalani kehidupannya dan tidak akan melakukan hal-hal yang dilarang oleh Allah.

Tanpa kita sadari, sesungguhnya keimanan tersebut akan berdampak langsung pada kehidupan kita. Akan menguntungkan untuk kita dan sama sekali bukan hal yang menguntungkan bagi Allah. Kita sendirilah yang akan terhindar dari hal-hal negatif jika melakukan perintah-perintah Alah.

Saya akui, memang perbuatan-perbuatan yang baik sering kali terasa berat untuk dilakukan. Hal-hal yang “menurut kita enak dan menguntungkan” sering kali tidak sesuai dengan syariat. Itulah ujiannya. Tapi yakinlah Allah tidak akan menyesatkan dan menyusahkan ciptaan-Nya. Jalan yang Allah berikan akan terbaik untuk kita. Keimanan akan mencegah kita melakukan perbuatan yang tercela dan akan mendorong kita untuk selalu melakukan yang terpuji.

Dalam seminar nasional disebutkan telah terjadi penurunan kedisiplinan pada masyarakat Indonesia. Beberapa penyebabnya adalah:

  • Budaya malu yang semakin menurun bahkan hilang

Budaya malu berkurang karena iman kita berkurang. Alhasil yang terjadi adalah kita akan menjadi manusia yang cuek dan tidak peduli dengan sebab dan akibat terhadap diri sendiri dan lingkungan, akan berusaha mengutamakan keuntungan sebanyak-banyaknya untuk dirinya sendiri, menggunakan segala cara untuk mencapai tujuan tanpa mempedulikan hal tersebut baik atau tidak, akan merugikan orang lain atau tidak, dan tidak memikirkan tindakan tersebut akan menimbulkan musibah atau tidak.

  • Keteladanan yang hilang

Sosok keteladanan atau sosok yang harus dicontoh yang hilang akan membuat diri akan hilang arah. Tidak tau hal apa yang boleh dilakukan dan tidak. Oleh karena itu, iman akan menyelamatkan manusia dari kerugian dunia dan akhirat.

Iman yang melembaga dan melekat di dalam kepribadian kita akan melekat kemana pun kita pergi dan akan bersama dengan kita dimana pun kita berada. Iman yang seperti ini akan menyelamatkan manusia dari kerugian di dunia ini dan akhirat nanti. Perjalanan untuk iman seperti ini tidak mudah untuk di dapatkan. Oleh karena itu Al Iman Ghazali memberikan tuntunan, untuk melekatkan iman dalam hati :

  • Rasa cinta kepada Allah
  • Rasa malu kepada Allah
  • Rasa takut kepada Allah

Yang akan mematri nilai-nilai iman sampai ke tulang sumsum kita dan akan mewarnai gerak kehidupan kita.

Jika kekuasaan sudah terlepas dari kontrol dari iman, cenderung membentuk fir’aun-fir’aun. Harta yang terlepas dari kontrol iman, biasanya akan cenderung melahirkan konglomerat-konglomerat kelas Qarun. Kecantikan yang terlepas dari iman, maka akan menimbulkan bencana dibandingkan manfaat. Ilmu pengetahuan yang terlepas dari kontrol iman, akan melahirkan manusia-manusia kurang ajar yang semakin menjauhkan dirinya dari Allah. Apapun saja jika tidak dilandasi oleh semangat iman, maka akan negatif hasilnya. Nilai Iman harus dijaga dengan baik tidak hanya untuk kita, tetapi untuk generasi penerus.

Beriman kepada Rasul

Tidak hanya sekedar percaya bahwa Allah telah mengutus para Rasul. Tetapi, mengikuti ajaran yang dibawa rasul dengan menyadari konteks daripada diutusnya Rasul itu sendiri. Rasul-rasul 25 yang diutusnya Allah misinya sama dan prinsip juga sama yaitu “Laillahailallah”. Mengapa Allah mengutus Rasul untuk menyampaikan kepada manusia? Apa Allah tidak bisa menyampaikan langsung kepada manusia? Bisa, tetapi karena keterbatasan manusia itulah yang tidak memungkinkan manusia berhadapan langsung dengan kebesaran Allah SWT. Maka dengan sifat rahmahnya Allah, diutuslah para Rasul. dari zaman ke zaman semua para Rasul yang diutus Allah prinsipnya membawa akidah dan syariat. Prinsipnya sama tetapi syariatnya yang berbeda sesuai dengan situasi dan kondisi dimana para Rasul diutus. Sejak Nabi Muhammad sampai akhir zaman , maka syariat beliaulah yang berlaku. Percaya kepada Allah tetapi tidak percaya pada Rasulnya, maka meragukan Allah.

Berjihad dijalan Allah dengan jiwa raga dan harta benda

Jihad adalah mengeluarkan  satu kemampuan maksimal untuk mencapai satu tujuan yang diridhoi oleh Allah SWT. Bukan semata-mata perang, mencabut pedang untuk maju ke medan perang. Karena perang hanya sebagian kecil dari jihad. Mengatasi kemiskinan, mengatasi kebodohan, dan membantu orang yang kesusahan, juga disebut berjihad.

Ust Zainuddin MZ Mengutip apa yang dijelaskan oleh Al Imam Al Hafidz Zakiyutin Abdul Adzim Al Munziri dalam kitabnya al tarhib wal tarhib juz 2 Derajat jihad yang tertinggi dalam islam =
1. Berperang melawan orang kafir dengan tujuan semata-mata untuk menolong atau membela agama Allah. Bukan memaksakan agama.
Dalam islam prinsipnya adalah umat islam tidak boleh mencari musuh. Tapi tidak boleh lari ketika ada musuh. Pada saat Agama Islam dihina, disepelekan, dicaci, dan dinistakan orang, kita boleh membela islam. Tetapi jika tidak, kepada orang non islam kita siap hidup rukun bergandengan.  Orang non islam yang siap berdamai, maka kita harus hidup dengan rukun. Jika kita mengganggu orang non muslim berarti kita mengganggu Rasulullah. Karena Islam adalah agama damai. Jika ada musuh yang menghina islam maka harus dihadapi dan dilawan. Tetapi tidak langsung dilawan dengan membawa senjata. Jika bisa diselesaikan dengan musyawarahkan, maka musyawarahkan saja. Apalagi Negara Indonesia adalah negara hukum. Selesaikan masalah dengan hukum. Tetapi bukan semata-mata mencari kemenangan, tujuannya adalah menegakkan kebenaran. Bukan untuk membalas dendam tapi untuk menegakkan yang haq.

2. Berdakwah kepada manusia menegakkan kebenaran. Mengajak manusia untuk menuaikan yang haq dan menyampaikan Islam. Bisa berdakwah  lewat ilmu, konsep, gagasan, dll.

3. Berjihad melawan hawa nafsu dengan menghiasi diri dengan sifat-sifat terpuji dan mengosongkan diri dari sifat-sifat yang tercela.

4. Menolak hal-hal yang dibawa setan.

Harus mampu melawan godaan. Karena, jika kita telah mampu menghindari hal tidak  baik, setan akan berusaha untuk membuat hal-hal yang terlarang menjadi samar dan terlihat boleh dilakukan, padahal tidak. Itulah tugas manusia agar selalu siap melawan godaan dalam bentuk apapun.

5. Meninggalkan majelis yang buruk dan lingkungan yang buruk. Lingkungan saat berperan dan besar pengaruhnya untuk membentuk watak dan kepribadian. Siapa yang berteman dengan orang yang mulia, maka kita akan mulia. Siapa yang berteman dengan orang yang buruk. Maka kita akan buruk. Bergaulah dengan siapa saja. Tapi harus bisa memfilter.

6. Menerima nasihat dan mengamalkannya

Menerima nasihat orang lain terkadang menjadi hal yang sulit. Sebab, menerima nasihat berarti mengakui kekurangan diri. Padahal dengan menerima nasihat kita akan menjadi orang yang lebih baik. Menerima nasihat bisa melalui apa saja. Bisa datang dari diri sendiri, orang lain, dan  bisa dari apapun yang kita lihat.

Alat yang digunakan dalam berjihad:
1. Harta dan benda

Harta dan benda adalah titipan, bukan milik kita, dan tidak akan dibawa ke alam barzakh. Hak dan harta yang digunakan manusia hanya sekedar hak guna pakai. Hak mutlak adalah milik Allah.
2. Jiwa dan raga
Menunjang jalan untuk menuju ridho Allah.

– Ustad Zainuddin MZ.

Allah menilai kita dari segala ilmu. Ilmu itu sangat luas. Allah mengetahui segala ilmu. Bisa jadi, seseorang yang jarang shalat tahajud tetapi sangat menjaga akidah dan sangat menjaga hubungan terhadap manusia memiliki nilai tinggi dan dicintai Allah. Jadi terus berusaha berbuat baik dalam melakukan apapun. Berjuang selalu dijalan Allah. Semangat!