Keraguan

“Tentang keraguan, pilihannya hanya ada dua. Pertama, tetap terbelenggu dalam keraguan dalam waktu yang tidak bisa ditentukan. Kedua, mencari tahu hal-hal yang membuat ragu, kemudian mencari penyelesaian. Hidup itu tentang sebuah pilihan, bukan?” kalimat ini masih melekat dalam pikiranku. Hingga kini aku masih percaya itu.

Ada yang lupa aku sampaikan. Padahal, aku ingin bilang begini,

“Seandainya saja kamu mengatakan pilihan kedua, aku akan siap saja membersamaimu mencari jalan keluarnya. Memikirkan bersama-sama. Belajar dan bertumbuh, berdua.”

“Kita itu sama. Aku pun penuh dengan keraguan. Namun, hidup seringkali berlaku keras padaku. Ia tidak suka aku berlama-lama dalam kebimbangan. Ia ingin aku tegas dalam membuat keputusan. Akhirnya, aku menurut. Aku pun membuat pilihan.”

Dan ada kalanya keraguan itu sirna ketika kita berani memilih. Lalu, mempertanggungjawabkan setelahnya.”

Tapi, semesta punya cara lain. Cara yang sulit dimengerti oleh aku. Kalau sudah begini, logika memang seperti hilang ditelan bumi. Yang tersisa hanyalah kumpulan rasa yang tertinggal bersama sepi.

Hingga kini, aku masih belum mengerti. Tapi, aku tidak akan memaksakan diri. Biarlah aku mengendalikan diriku sendiri. Dengan cara dan saat yang paling aku sukai.

Kumpulan rasa yang tertinggal, biarlah tetap tertinggal di dasar sana. Ia yang hadir karena sebuah ketulusan, tidak boleh dihentikan secara paksa. Aku akan membiarkannya, sampai batas waktu ia mampu.

Pada akhirnya, aku menyerahkan segalanya kepada-Nya. Memohon agar diberikan hati yang lapang untuk menerima segalanya. Segala yang kusuka dan sebaliknya.

Juga, memohon agar memiliki pemikiran yang sehat. Semua kejadian yang Allah berikan pasti baik.

Hal-hal tidak baik yang kurasakan saat ini hanya tentang keterbatasan aku saja. Keterbatasanku memahami segalanya. Aku hanya perlu belajar memahaminya. Perlahan.

Tumbang!

tumbang!

kepalaku sakit,

tenggorokanku sakit,

suhu badanku sedikit hangat,

serta batuk tiada henti,

apakah ini penyakit karena perubahan cuaca yang cukup ekstrem?

atau apakah karena perubahan suasana hatiku yang juga cukup ekstrem?

entahlah, mari kita tanyakan saja pada semilir angin atau dedaunan kering yang beterbangan di tanah sana,

yang tentu saja mereka tak tahu jawabannya,

mereka bukan makhluk hidup! duh, Shin!


aku sedang asyik tenggelam dalam pikiranku sendiri,

tak ingin berbicara pada orang lain,

tak ingin bertemu dengan orang lain,

dan hanya ingin bicara pada diriku sendiri,


aku ingin,

mempertanyakan mengapa takdir ini dan itu terjadi,

mengapa ada takdir yang begitu menyakiti hati hingga dadaku nyeri sekali,

dan mengapa ada takdir yang begitu menyenangkan hati hingga aku lupa kalau ini sebenarnya hati atau taman bunga, sih? bunganya banyak sekali!

mengapa manusia mudah sekali bersedih pada harapan-harapan yang tak menjadi kenyataan?

padahal manusia sudah paham betul bahwa itu takdir Tuhan,

manusia pun tahu takdir Tuhan pastilah baik,

terbaik malah,

tetapi tetap saja mempertanyakan,

ah dasar manusia!

bukan,

dasar aku!


aku sedang asyik jujur pada diri sendiri,

bahwa aku sedang tidak baik-baik saja,

badanku tidak baik-baik saja,

perasaanku juga sedang tidak baik-baik saja,


beberapa menit yang lalu,

aku meminta tolong pada si sipit,

tolong belikan aku obat pereda nyeri, mie rebus lima bungkus, susu stroberi satu, camilan coklat satu, dan ciki rasa sapi panggang satu.”

kalau sedang tidak baik-baik saja, aku memang banyak maunya,

tapi, tidak apa-apalah!

selama aku masih memiliki sebuah keinginan untuk membuat diri ini lebih baik,

kupikir, hal ini petanda bahwa aku masih menjadi manusia normal,

meski tidak baik-baik saja,

aku masih mengenali apa saja kebutuhan diri ini,

aku masih menuruti apa saja keinginan diri,

itu artinya,

aku masih sayang sama diriku ini,


lagipula, hakikat hidup memang begitu,

bahagia tidak terjadi selamanya,

begitu pula dengan rasa sakit dan rasa sedih,

tidak akan terjadi selamanya,

semua akan berlalu sesuai waktu,

iya, kan?

Alhamdulilllah,

Tanyakan pada Hati, Tanyakan pada-Nya

kau tahu?

pagi tadi tenggorokanku pun seperti tertahan sesuatu,

kala mengungkapkan segala rasa dan pikiranku,

mungkin manusia memang begitu,

alam bawah sadar selalu ingin dimengerti tanpa mengungkapkan apapun itu,

tapi, apa bisa begitu?

tentu saja hal itu hanyalah anganku.

***

bila kata orang-orang manusia selalu melakukan hal untuk pertama kali,

berarti tindakanku ini juga begitu,

ini pertama kali aku mengungkapkan segala hal lebih dulu,

pada awalnya memang tenggorokanku seperti tertahan sesuatu,

tetapi setelah melakukannya,

ternyata tidak sesulit itu,

aku melakukan itu tanpa ragu,

aku bisa begitu tentu saja karena itu kamu,

aku berhak untuk mengungkapkan semua inginku,

dan kamu berhak untuk tahu,

***

sama seperti cara semesta yang siapapun tak tahu,

begitu pula dengan hati aku dan kamu,

maka, aku bersegera mencari tahu,

mengapa begitu?

entahlah, hati memang selalu memiliki caranya sendiri untuk melakukan sesuatu,

***

tanyakan saja pada hati,

tanyakan pada-Nya,

jangan hanya menunggu,

Allah memang pasti membantu,

tetapi, bukankah lebih baik kita mendekati-Nya,

lalu mencari tahu?

Ruang untuk Kamu

Jika sebelumnya aku datang kepadamu dengan berlari, kini aku tidak akan seperti itu lagi.

Aku akan berdiri tepat di sini.

Di tempat terakhir kita bertegur sapa dan saling tersenyum manis sekali.


Oh iya,

Aku tidak bisa banyak mendeskripsikan tentangmu lagi.

Bukan tidak mau,

melainkan aku kehabisan kata kunci.

Mana bisa aku membuat cerita tentang kita lagi?


Cara semesta bekerja memang tak bisa terprediksi.

Aku tahu,

aku dan kamu sedang sama-sama sibuk pada dunia yang bising ini.

Aku dan kamu juga sedang berjuang pada banyak peran yang sedang dijalani.

Tetapi,

Jika kita tak saling bersegera bertanya pada hati sendiri, bagaimana bisa kita sepenuhnya membuka diri?


Aku memilih berdiri di sini dan tak berlari lagi,

bukan karena aku memutuskan untuk berhenti.

Sama sekali bukan.

Aku hanya ingin memberi “ruang”.

“Ruang” untukmu.

“Ruang” untuk menunjukkan siapa kamu.

“Ruang” untuk menunjukkan upayamu.

Serta “ruang” untuk bertanya pada hatimu sendiri.


Aku ingin,

aku dan kamu menjadi kita.

Bukan aku saja.

Tetapi kamu juga.


Jika kita sama rasa,

kurasa, aku dan kamu akan menggunakan “ruang” itu dengan sebaik-baiknya.

Kurasa, kita akan bersegera untuk saling mengisi.

Untuk saling melengkapi.

Kamu Belum Tahu

Menurut pandangan orang, mungkin rasa kecewa ini terlalu dini untuk muncul ke permukaan.

Orang hanya dapat menilai dari apa yang tampak oleh mata, bukan?

Sedangkan aku, menilai semua ini berdasarkan pengalamanku sendiri.

Pengalaman yang terisi oleh pemikiran utuh serta perasaan tulus.

Manakah yang lebih valid untuk dinilai?

Menurut pandangan orang atau menurut pengalamanku sendiri?

Kamu temukan saja jawabanmu sendiri.

Karena malam ini adalah malamku,

serta, tulisan ini adalah tulisanku, maka bebaskan aku menuliskan apapun yang kumau.


Kamu belum tahu.

Dan malam ini, akan kuberi tahu sedikit bagian diriku yang tak banyak orang tahu.

Karena kamu spesial, maka kamu layak untuk tahu.


Aku yang kamu lihat saat ini adalah kumpulan dari perjuangan.

Berjuang menyembuhkan luka.

Serta berjuang mengembalikan rasa percaya.

Aku tetap bangkit, meski sulit.

Aku yang kamu temukan saat ini adalah kumpulan dari keberanian.

Berani untuk tidak menyerah.

Berani untuk memulai kembali.


Aku bukan perempuan yang senang coba-coba tanpa pertimbangan.

Jika hati tidak memilih, maka aku tidak akan melangkah.

Bahkan untuk satu langkah kaki.

Jadi, jangan pernah menganggap mudah segala lisan dan laku yang aku beri.

Jangan pula menganggap mudah segala sambutan baik yang aku perlihatkan.

Semua itu bukan kebetulan,

Bukan pula permainan.


Melihat semua ini secara keseluruhan, aku pun ingin mengatakan,

Manusia yang mungkin kamu lihat baik-baik saja,

Ia adalah hasil dari transformasi bertahun-tahun lamanya.

Ia adalah hasil perubahan baik dari segala tekad yang dipunya.

Ia menyusun kembali mimpi hingga mampu berdiri lagi.

Maka, perhatikan sikapmu.

Di sini tak ada ruang untuk coba-coba.

Sebab hati hanya tahu bagaimana cara untuk maju.

Tidak dengan sebaliknya.

Sesederhana Itu

Rahasia Kecil

Aku ingin memberi tahu.

Sebelum kuberi tahu, aku kutuliskan dulu rahasia kecil, ya.

Beberapa hari lalu, seseorang memberi sebuah kutipan untukku.

Isinya sederhana sekali.

Namun, sangat berhubungan dengan situasi masa kini.

Masa kini? Ah, aku. Bukan masa kini. Lebih tepatnya, masa-masa yang aku jalani akhir-akhir ini.


Kamu Berbeda

Sebelumnya, aku sempat merasa bingung.

Yang aku yakini hingga sekarang, jika kita merasakan sesuatu, kemungkinannya hanya ada dua.

Pertama, mengungkapan rasa itu.

Kedua, kusimpan saja rapat-rapat. Dan tak pernah kutunjukkan pada siapapun.

Kamu berbeda.

Kamu tidak mengungkapkan apa-apa. Namun, menunjukkan perbuatan yang memiliki banyak makna.


Sesederhana Itu

Berkat kutipan yang seseorang kirimkan waktu itu, aku pun menjadi tahu.

Jika benar rasa itu ada, maka aku tidak akan pernah merasa bingung.

Sebab, mereka yang merasakan, tidak akan bisa menahan diri untuk mencari tahu.

Mereka yang merasakan, tidak akan bisa menahan diri untuk mengungkapkan.

Dan mereka yang merasakan, tidak akan bisa menahan diri untuk membuat peluang.

Iya, sesederhana itu.

Sore Ini

Mungkin, sore ini kamu sedang duduk di pinggir pantai. Katamu, hanya butuh bernyanyi dua lagu saja, kamu pun akan tiba di pantai. Dekat, ya? Oh iya. Kalau kamu lagi kesal, teriak saja yang kencang. Kalau kamu lagi bahagia, berlarian saja sepuasnya. Oke? Titip salam untuk pantai. Bilangin, aku mau main pasir di sana.

Mungkin juga, saat ini kamu sedang sibuk bersama rekan-rekan di gedung tempatmu bekerja. Membahas permasalahan yang menguras isi kepala seperti tempo hari, misalnya? Sebetulnya, aku tidak tahu bagaimana keadaan gedungmu. Tapi, kalau aku berimajinasi, sepertinya gedungmu tidak seindah pantai. Sepertinya, gedungmu penuh dengan mesin-mesin pengolah tumbuhan itu. Maafkan bila aku sok tahu. Namanya juga aku. Bagaimanapun kondisi gedungmu, aku harap kamu selalu bisa menemukan “pantaimu”.

Atau mungkin, sore ini kamu sedang berpikir keras mencari ide tentang menu makan? Bagaimanapun terbatasnya jenis makanan di sana, jangan sampai membuatmu kesal, ya. Aku tidak tahu menu apa yang dominan di sana. Atas dasar kesoktahuanku lagi, sepertinya menu di sana hanya ada ikan, ikan, dan ikan. Betul kan? Sudah, jawab saja betul biar cepat. Bersabar, ya. Aku yakin kamu pasti bisa bertahan. Jadikan ikan sebagai kawan, maka kamu akan terkesan.

Jadi, aku menulis kemungkinan-kemungkinan di atas untuk apa? Bukan untuk apa-apa. Begini, tiba-tiba saja tiga hal ini muncul dalam pikiran. Sayang kan kalau hanya dibiarkan dalam diingatan? Sayang kan kalau dibiarkan begitu saja lalu terlupakan?

Biarkan ia terabadi di sini. Dalam catatanku. Dalam rekam jejakku.

Berawal dari Rindu

Aku sedang rindu.

Ternyata,

Entah dulu, atau sekarang, rindu yang tak terbayarkan itu membuat sendu.

Entah dulu, atau sekarang, rindu pada apa-apa yang tak boleh dirindu itu membuat pilu.

Entah dulu, atau sekarang, rindu yang tak bisa diutarakan itu membuat sesak hatiku.

Meskipun begitu, rindu tetaplah rindu.

Yang akan tetap datang, meski aku pura-pura tidak tahu.

Yang akan tetap menetap dalam dasar hati, meski aku berusaha berlalu.

Dan aku, bersyukur pada rindu.

Sebab karenanya, aku menjadi tahu.

Tak terjadi apa-apa pada hatiku.

Meskipun pernah terasa dingin dan membeku,

Kini, ia baik-baik saja.

Ia sudah bisa kembali peka.

Ia sudah kembali merasakan segala rasa.

Termasuk si rindu.

Kalau begini, bukankah hatiku sudah benar-benar siap memberi dan menerima sesuatu yang baru?

Kepada Ia yang Membuat Terkesan

Ada yang datang.

Ia berjalan tanpa ragu.

Tersenyum, menyapa, lalu berlalu.

Setelah berlalu, aku menjadi dejavu.

Rasa senang ini adalah rasa senang yang dulu.

Bukan karena masa lalu yang membelenggu.

Melainkan, ia membawa kembali rasa itu untukku.

Rasa senang yang pernah hilang bertahun-tahun lalu.

Orang yang menyenangkan.

Bagaimana kalau aku menyebutnya begitu?

Bagiku, orang menyenangkan bukanlah ia yang melulu memberi rasa senang.

Lebih jauh dari itu, ia mampu membalikkan keadaan.

Dari yang membosankan menjadi mengesankan.

Siapapun akan terkesan.

Hmm bukan siapapun, tetapi aku.

Kepada ia yang membuat terkesan,

Dengarkan.

Di depanmu, aku tak akan berusaha menjadi seseorang yang menawan.

Lebih dalam dari itu, aku memilih menjadi diri sendiri saja.

Aku akan melucu, bila aku ingin.

Aku akan meminta, bila aku mau.

Aku akan tertawa, bila memang itu lucu.

Aku akan bertanya, bila memang aku ingin tahu.

Mengetahui bahwa yang membuat terkesan adalah kepribadiannya, maka aku pun akan bersikap apa adanya.

Sebab, yang membuatku terkesan bukanlah karena dirinya istimewa.

Melainkan, karena ia bersikap apa adanya. Tidak berlebihan. Menunjukkan diri dengan berani. Dan mencintai dirinya sendiri.

Kenyamanan Jiwamu Jauh Lebih Penting

Si sipit heboh betul saat membaca unggahan Boy Candra ini. Katanya, aku dan Boy Candra mirip. Bahkan aku lebih ekstrem wkwkwk

Aku bukanlah manusia super yang dalam waktu hitungan detik saja bisa menyembuhkan luka hati. Apalagi beberapa tahun yang lalu saat masih belajar mengendalikan diri. Kala itu, keputusan yang bisa diambil hanya dua. Pertama, pikirkan kedamaian hatiku. Kedua, utamakan kedamaian hati orang lain.

Lalu, aku memilih yang mana sih? Tentu saja yang pertama.

Menerima kenyataan yang tidak sesuai harapan itu sulit. Menyembuhkan luka hati juga butuh waktu. Apalagi aku tahu betul bagaimana karakteristik diri ini. Aku bukan tipikal orang yang bisa berpura-pura tidak peduli. Aku juga bukan tipikal orang yang biasa sekuat itu menahan diri. Maka, satu-satunya cara yang bisa aku lakukan adalah menjauhi.

“Kenyamanan dan kesehatan jiwamu jauh lebih penting.” begitu kata Boy Candra. Setuju banget sama kalimat ini. Beberapa orang mungkin belum menganggap penting masalah kesehatan jiwa. Aku pun nggak terlalu paham juga. Namun, aku sadar betul bahwa keadaan hati benar-benar menentukan bagaimana diri.

Orang yang hatinya tidak bahagia, akan terpancar aura yang tidak bahagia. Mungkin, ia bisa saja pura-pura tersenyum. Atau, ia juga bisa pura-pura tertawa. Tapi, aku tahu kok kalau dia lagi tidak bahagia. Kok tahu, sih? Kelihatan, guys. Perbedaannya sungguh tampak. Orang yang berbahagia itu selalu memancarkan aura positif. Dan kita yang berada di dekatnya juga akan merasakan hal-hal positif itu.

Menyadari dan memahami semua itu, aku pun nggak ragu-ragu kasih saran seperti yang Boy Candra yakini untuk orang-orang yang patah hati.

“Block aja nomor whatsapp dan instagram dia.” kataku.

Ih parah banget. Nggak dewasa.” kata dia.

“Nggak dewasa? Baiklah, kalo definisi dewasamu kayak gitu, yaudah gapapa. Biarin kamu nggak dewasa untuk sementara. Supaya hatimu tenang. Supaya hatimu sembuh. Supaya hatimu nggak terluka berulang kali.” jawabku.

Kalo kamu nggak cukup kuat membaca chat atau melihat unggahan sosial medianya, jangan memaksakan diri. Jangan membuat lukamu mengaga lagi.” tambahku.

“Gapapa begitu?” tanyanya ragu.

“Yap! Nanti kalo udah kuat hatinya, boleh banget unblock lagi. Kamu yang tahu bagaimana kondisi hatimu, kan?” tanyaku.

Siap.” jawabnya.

Ingat selalu, sebelum memikirkan perasaan dan cara pikir orang lain, pastikan hatimu dulu. Kenyamanan dan kesehatan jiwamu jauh lebih penting.” kataku sebagai penutup percapakan kami kala itu.

Karena setiap kita hanyalah manusia biasa, maka terimalah kenyataan jika kita memang tidak baik-baik saja. Lalu, pastikan cari tahu jalan keluarnya. Jalan keluar yang membuat hatimu tenang dan nyaman.

Terkait jalan keluar yang kita pilih, tidak perlulah memikirkan perkataan orang lain. Abaikan segala respon negatif yang orang lain beri. Berkomentar memang cara paling mudah berespon terhadap sesuatu. Oleh karenanya, semua orang melakukan itu. Padahal, setelahnya mereka tidak akan mau tahu lagi tentangmu. Kejam ya hidup itu?

Tidak, tidak begitu. Semua ini hanya proses panjang selayaknya jalan raya yang kita lalui, kok. Kita hanya perlu berjalan dan fokus ke depan. Kalau jatuh, bangkit. Kalau lelah, ya istirahat dulu. Kalau kesasar, berhenti sebentar lihat google maps juga boleh 😁

Kesimpulannya, untuk menyembuhkan luka hati, kita boleh memberi waktu untuk diri kita sendiri. Memberi jarak, atau menjauhi hal yang membuat sakit hati, misalnya. Jangan ragu. Sebab, kebahagiaan hatimu selalu nomor satu.

Yasudah, segini aja. Kalau kamu lagi terluka, boleh banget ikuti caraku dan Boy Candra ini. Meskipun cukup ekstrem, Insya Allah ampuh kok 😆👍