Perihal Rasa dan Waktu

Ada yang merasa bingung mengapa rasa dan waktu tidak berbanding lurus. Yang ia tahu, rasa yang begitu dalam selalu dipengaruhi oleh waktu yang lama. Maka, ia pun bertanya padaku dari manakah rasa itu muncul. Padahal keduanya belum terlalu lama bersama.

Aku pun tidak bisa menjelaskan secara rinci bagaimana cara rasa bekerja. Tentang rasa memang terjadi begitu saja. Tak bisa diterka dan direkayasa.

Aku pun berbagi pengalaman. Aku mengatakan padanya, pengamatan yang begitu dalam pada seseorang, ternyata bisa menumbuhkan rasa secara perlahan. Maka, hati-hati dalam memperhatikan. Sebab, dari sanalah biasanya rasa dimulai.

Aku memahami hal ini beberapa tahun yang lalu ketika tanpa sadar memperhatikan seseorang.

Aku memperhatikan bagaimana ia memperlakukan orang lain. Aku memperhatikan bagaimana ia memandang setiap hal. Aku memperhatikan bagaimana ia menggunakan waktu untuk orang lain. Aku memperhatikan bagaimana ia menempatkan diri diberbagai situasi.

Dulu sekali, aku mengira yang menumbuhkan rasa hanya rupa dan kenyamanan. Waktu pun menunjukkan, mengamati kebaikan seseorang ternyata mampu membuat bibir ini tersenyum simpul. Mengamati kebaikan seseorang ternyata mampu membuat diri ini merasa nyaman. Mengamati kebaikan seseorang ternyata mampu menumbuhkan rasa.

Semoga saja kebingungan yang ia rasakan terjawabkan. Mengapa rasa dan waktu tidak berbanding lurus, menurutku, semakin kita mengamati, maka semakin banyak pula kita mengenal. Semakin kita mengamati, semakin lapang hati kita dalam menerima kelebihan dan kekurangan. Dan semakin kita mengamati, semakin banyak pula rasa yang ada.

Perihal rasa, tidak hanya tentang berapa banyak waktu yang dihabiskan bersama. Melainkan tentang bagaimana kita memaksimalkan waktu untuk saling mengamati apa-apa yang ada pada kita. Hingga akhirnya hadir sebuah kesyukuran atas sebuah pertemuan.

Advertisements

Pagi Hari

Aku suka berjalan kaki di pagi hari.

Pepohonan rindang, langit yang jernih, dan udara yang sejuk bisa membuat aku bahagia.

Pagi itu, keadaannya seperti itu.

Bagaimana bisa aku tidak bahagia?

Esoknya, aku putuskan untuk berjalan kaki di pagi hari lagi.

Kekhawatiranku tentang hujan yang tiba-tiba dan kemudian petir yang menyambar sirna setelah aku menemukan pagi yang membahagiakan itu.

Pikirku, untuk apa takut pada sesuatu yang belum terjadi? Daripada tenggelam pada kekhawatiran yang belum terjadi, bukankah lebih baik menikmati?

Akhirnya, aku memberanikan diri untuk berdiri dan kemudian berjalan lagi.

Aku menanti indahnya pagi di hari lain.

Aku menanti kejutan apa yang akan terlihat nanti.

Aku menanti pemandangan pagi yang tak bosan kusyukuri.

Aku tak mengkhawatirkan pagi lagi.

Sebab, pagi akan tetap indah meskipun hujan. Pagi akan tetap membahagiakan hati meskipun tiba-tiba petir datang.

***

Dan apa kau tahu?

Berkat hujan dan petir, aku menjadi lebih menghargai pagi. Berkat hujan dan petir, aku menjadi lebih mensyukuri bahwa pagi yang cerah memang indah.

Pagi memang tak selalu cerah tanpa hujan dan petir. Kala hujan dan petir datang, memang akan menganggu hariku sebentar. Namun, menunggu hingga reda atau menggunakan payung bisa menjadi pilihan. Lagi pula, hujan dan petir yang datang sebentar tidak mengubah fakta pagi yang cerah membahagiakan. Pagi yang cerah tetap saja merupakan hal yang mampu membuat hati bahagia, kan?

Dan akhirnya aku menyimpulkan. Ketika siap merasakan hal membahagiakan, sebaiknya aku menyiapkan pula segala kemungkinan yang meremukkan. Sebab, sebaik-baiknya persiapan adalah kesadaran bahwa ‘setiap kejadian selalu ada masanya’.

***

Aku berjalan kaki lagi.

Aku suka pagi hari.

Tak apa bila hujan dan petir datang tiba-tiba.

Ada payung diranselku.

Jika petir terlalu menyeramkan untuk menjadi teman berjalan kaki,

Ada banyak tempat untuk berteduh.

Rumah biru di pojok itu, misalnya.

Bagaimana keadaan nanti yang tak mampu kuprediksi, pagi hari yang cerah tetap membahagiakan.

Mudahkan Dirimu

Aku telah lama berkelana.

Berjalan melewati jalan setapak tanpa hiasan apa-apa di kanan kiri.

Berlari melewati tanjakan hingga napasku tersengal.

Berlari melewati turunan hingga aku tertawa kegirangan.

Berloncat-loncat pada perbukitan itu.

Beristirahat sejenak dan meneguk banyak air dari botol yang kuraih dari ranselku.

Berbaring di padang rumput sambil menatap indahnya langit malam.

Berteduh dipinggir rumah warga sambil mendengarkan rintik hujan.

Bertegur sapa dengan kawan baru.

Bercengkrama dengan kawan seperjalanan.

Tergelincir tanah basah di musim hujan.

Dan terjatuh tersandung kerikil jalan.

Semua pengalaman itu membuat kita semakin tangguh dan kuat, kan?

***

Aku telah lama berkelana.

Bila terjatuh, aku hanya perlu berdiri lagi.

Bila terjerembab, aku hanya perlu mencari sesuatu untuk bergantung dan bersandar.

Bila tergelincir, aku hanya perlu bangkit kembali.

Aku tahu apapun tak akan bersemayam lama.

Aku tahu apapun sifatnya hanya sementara.

Sebuah rasa sakit kelak akan hilang jua.

Sebuah luka kelak akan sembuh jua.

Sebuah kesulitan kelak akan mudah jua.

Sebuah ketakutan kelak akan hilang jua.

Setiap kejadian tidak akan terjadi selamanya, kan?

Seburuk dan sesakit apapun itu, setiap kejadian pasti terbaik untuk kita, kan?

***

Manusia tercipta untuk berjuang.

Berjuang membuktikan pada-Nya.

Berjuang melawan ego.

Berjuang menjadi sebaik-baiknya hamba.

Lewati saja semuanya.

Hadapi saja semuanya.

Diantara dua pilihan, pasti ada satu yang baik.

Pilih itu saja.

Mudahkan dirimu menjalani skenario Tuhan ini, ya?

Berdoa Saja

Aku berusaha mencari tahu. Sebab aku menyadari, ‘dalam hal ini’ aku benar-benar tidak mengerti.

Aku seperti kehilangan empat tahun masa mudaku. Ah, seperti drama korea 30 but 17 saja. Singkat cerita, drama tersebut menceritakan tentang seseorang yang bangun dari koma. Ia mengalami kecelakaan pada usia remaja. Dan koma selama belasan tahun. Hingga akhirnya, ia terbangun pada usia 30 tahun. Bisa membayangkan tidak bagaimana kondisinya? Saat bangun pasti ia bingung sekali. Wajahnya berubah menjadi dewasa. Tanggung jawab pun sudah menunggu di depan sana. Padahal ia merasa, baru saja memejamkan mata. Ia merasa baru saja bangun dari tidur siangnya. Ia pun tak tahu apa-apa. Ia bingung dan tak tahu harus memulai dari mana.

Aku tidak mengalami koma seperti drama korea itu. Tapi aku seperti melewatkan kesempatan melakukan kekeliruan. Aku seperti melewatkan kesempatan untuk memikirkan diriku sendiri. Aku seperti melewatkan kesempatan untuk membahagiakan diri sendiri. Bersikap terlalu berhati-hati ternyata tak baik. Bersikap terlalu takut membuat kekeliruan ternyata tak baik. Yang berlebihan dan terlalu memang tak baik.

Aku berada pada lingkungan yang begitu baik saat itu. Tidak ada egoisme. Hanya ada toleransi dan kebijaksanaan. Semua orang berusaha memudahkan urusan orang lain. Semua orang berusaha mendahulukan kepentingan orang lain. Semua tidak hanya memikirkan dirinya sendiri. Aku bersyukur sekali diberikan kesempatan itu.

Aku melihat banyak teladan baik di sana. Bagaimana mungkin aku tidak belajar lebih cepat? Bagaimana mungkin aku tidak mendewasa lebih cepat? Aku belajar banyak hal disana. Namun ternyata, ada beberapa hal tentang ‘kebutuhan diriku sendiri’ yang terlewatkan.

Aku akan menyebutnya ‘dalam hal ini’ saja. Tak apa ya, aku tidak menjelaskan dengan rinci apa yang dimaksud dengan ‘dalam hal ini’. Tulisan ini tidak akan menceritakan tentang itu.

‘Dalam hal ini’, aku benar-benar tidak tahu. Entah karena lupa atau memang aku tak memiliki pengalaman itu. Rasanya seperti, aku baru belajar jalan dan tak tahu tahapan jalan seperti apa yang seharusnya kulakukan. Aku baru belajar bicara dan tak tahu kosa kata apa yang seharusnya kukatakan. Aku baru belajar merasakan dan tak tahu sesungguhnya rasa apa yang sedang kurasakan ini. Otakku seperti lupa bagaimana cara mengingat memori cara berjalan, cara berbicara, dan cara merasa. Benar-benar sesulit itu.

Ini tak mudah. Maka, aku bertanya pada mereka yang kuanggap lebih tahu. Aku mempercayai mereka. Aku berterima kasih. Meskipun merasa aneh dengan cara otakku bekerja ‘dalam hal ini’, mereka tetap mengajariku perlahan-lahan. Dan aku terperangah dibuatnya. Hanya kalimat, “oh begitu”, “ternyata begitu”, “haruskah seperti itu?”, hingga akhirnya aku pun mengatakan “baiklah, aku akan mempertimbangkannya”, pada mereka. Aku akan mempertimbangkan dan memikirkannya, sungguh.

Namun, pada akhirnya, sebanyak apapun aku mencari tahu, tak akan pernah cukup. Pada akhirnya, aku pun menyadari, ketidaktenangan tak akan pernah hilang. Hingga Allah memberikan keyakinan pada hati. Maka, ketika pikiran dan hati tidak terhubung dengan baik dan ketika suatu perkara begitu membingungkan, berdoa saja. Berdoa yang banyak. Berdoa lagi. Berdoa terus. Pada-Nya.

Terima kasih Malam, Langit, dan Hujan

Tempat paling menyenangkan ketika ingin mengembalikan energi adalah duduk di teras rumah. Suasana yang paling kusukai adalah ketika malam tiba. Hujan ataupun tidak bagiku sama saja. Sama-sama indah.

Malam ini hujan. Udara dingin kurasakan. Tapi aku tak membutuhkan pakaian tebal untuk menghangatkan badan. Aku menyukai udara dingin malam ini.

Aku menatap lama langit. Tak ada bintang. Hanya ada hamparan warna hitam pekat disana. Tapi tak apa, aku tetap menyukai langit meskipun tanpa bintang. Menatapnya membuatku mengingat-Nya. Mengingat-Nya membuat hatiku tenang. Ketenangan membuat keadaanku menjadi lebih baik.

Ada kalanya kau tak mengerti dengan skenario yang sedang terjadi. Ada kalanya mulut tak ingin berbicara dan otak tak ingin berpikir terlalu dalam. Ada kalanya kau tak ingin berharap pada suatu hal. Ada kalanya kau hanya ingin menikmati segala skenario Tuhan. Ada kalanya kau hanya ingin memberi dan menerima kebaikan. Sungguh, semua dilakukan bukan tak punya keinginan atau harapan. Akan kuberitahu satu rahasia kecil. Ada satu keadaan dimana seseorang akan menunggu dan berserah sepenuhnya ketika telah melalui banyak jalan perjuangan. Mungkin, saat ini aku dalam keadaan itu.

Menikmati malam, langit, dan hujan. Mengembalikan energi untuk melanjutkan perjalanan. Mensyukuri keindahan alam dengan mengamati lebih dalam. Menumpahkan pikiran dalam tulisan. Memasukkan rasa dalam kata-kata. Dan kembali diingatkan, bila kehidupan begitu sulit untuk dimengerti, tak mengapa mengambil jeda sejenak. Seringkali ‘jeda’ membuatku lebih mudah mengerti keadaan dan kembali berbaik sangka. Ketentuan Tuhan selalu terbaik. Semua tergantung bagaimana aku menyikapinya.

Terima kasih malam, langit, dan hujan. Terima kasih telah membantuku mengambil ‘jeda’. Kini aku siap melanjutkan perjalanan.

Aku Begitu Ingin Tersenyum

Aku melihat sebuah harapan disana. Hanya dengan melihatnya, aku merasa aman.

Aku melihat sebuah kenyamanan disana. Hanya dengan melihatnya, hatiku merasa tentram.

Aku melihat sebuah keterbukaan disana. Hanya dengan melihatnya, aku ingin berbagi apapun jua.

Aku melihat sebuah kepedulian disana. Hanya dengan melihatnya, aku ingin bersandar untuk waktu yang lama.

Aku melihat sebuah keyakinan disana. Hanya dengan melihatnya, aku tahu semua akan baik-baik saja.

Aku melihat sebuah kepercayaan disana. Hanya dengan melihatnya, aku merasa mampu untuk melaju.

Aku melihat kasih sayang disana. Hanya dengan melihatnya, aku ingin mengadu dan menangis.

Aku melihat kebahagiaan disana. Hanya dengan melihatnya, aku begitu ingin tersenyum dan bersyukur.

Dan hatiku berkata,“Terima kasih Allah untuk skenario kehidupan yang tak terduga, namun selalu memiliki akhir yang begitu indah. Aku akan menjalani hidup dengan baik. Aku akan berusaha menjadi manusia yang lebih baik lagi. Semoga Allah meridhoi.”

Bukan Pilihan ‘Sesaatku’

Aku tidak bermaksud mengabaikan saran para pendahulu. Sebab, kutahu mereka memang lebih tahu dan banyak tahu. Namun, kurasa boleh saja aku merenungkannya dan kemudian bertanya pada hati. Bukankah tak apa bila aku memutuskannya sendiri?

Jangan pernah mengajakku berdiskusi hanya untuk memuaskan pandangan orang lain. Karena hal itu percuma. Aku tidak ingin melakukannya. Aku hidup bukan untuk memuaskan orang lain.

Jangan pernah mengajakku berdiskusi hanya untuk menghindari pandangan buruk orang lain. Karena hal itu percuma. Aku juga tidak ingin melakukannya. Aku tidak ingin terhindar dari pandangan buruk hanya untuk dinilai orang lain.

Aku akan berbuat baik jika memang itu baik. Ada atau tiadanya orang yang melihat, aku akan tetap melakukannya. Ada atau tidak adanya orang yang menilai, aku akan tetap melakukannya. Baik atau tidaknya orang menilai, itu bukan urusanku. Urusanku adalah berakhir pada saat aku melakukan hal baik. Setelahnya adalah urusan Allah. Aku berserah padanya. Bukankah sejak awal apa yang aku lakukan di dunia ini memang hanya berharap ridho-Nya?

Aku senang bertanya pada hati nurani. Ia adalah penimbang keputusan yang paling baik nan bijaksana. Ia tahu betul bila aku melakukan perbuatan salah. Seketika itu pula, hatiku akan memberikan sinyal ‘salah’ dengan ‘ketidaktenangan’. Ia tahu betul bila aku melakukan perbuatan benar. Seketika itu pula, hatiku akan memberikan sinyal ‘benar’ dengan ‘ketenangan’.

Jadi, maafkan aku para pendahulu. Bukan maksudku mengabaikan saran-saranmu. Hanya saja, kali ini hatiku terus berbisik bahwa sungguh tak apa bila aku memilih keputusan itu. Ini bukan pilihan ‘sesaatku’. Namun, hatiku telah memilih itu.

Pertemuan

Mengetahui bahwa selalu ada alasan dalam setiap pertemuan, bagaimana kalau kita berbaik sangka?

Kita telah berusaha keras menghadapi skenario kehidupan. Kita berusaha untuk menyembuhkan luka. Kita berusaha untuk bangkit. Kita berusaha untuk mengumpulkan semangat. Kita berusaha untuk menyakinkan diri. Kita berusaha untuk kuat. Kita berusaha untuk tegar. Kita berusaha untuk tetap berjalan meskipun sudah tak mampu lagi. Kita sudah berusaha keras.

Kita telah berdamai dengan banyak hal yang tidak menyenangkan. Kita menerima banyak hal yang melukai hati. Kita menerima segala tindakan yang tidak manusiawi. Kita menerima perilaku buruk orang lain. Kita menerima kritikan yang tidak membangun. Kita menerima hal menyakitkan dengan hati lapang. Sebab kita tahu, kuasa penuh hanya ada pada diri sendiri. Kita tahu, menerima bukan berarti pasrah dengan keadaan dan enggan berjuang. Menerima artinya kita memahami bahwa sebaik apapun usaha yang dilakukan, akan selalu ada orang-orang yang tak menghargai. Sebesar apapun perbaikan yang diusahakan, akan selalu ada orang-orang yang tak melihat usaha itu. Dan hal tersebut sungguh bukan urusan kita. Urusan kita adalah berusaha terus memperbaiki dan menjadi lebih baik.

Maka, bila saat ini kita bertemu, bisakah kita berbaik sangka? Buka hati seluas-luasnya untuk memaafkan, menerima, dan memberi kebaikan. Tak perlu cemas tentang masa lalu. Tak perlu cemas tentang ketidakbaikan. Tak perlu cemas tentang kegagalan. Tetaplah menjadi diri sendiri. Tebarkan kebaikan. Biarlah aku dan kamu saling menebar kebaikan. Terima kebaikan. Biarlah aku dan kamu merasakan indahnya kebaikan.

Kita telah berjuang menghadapi kehidupan. Kita telah berdamai dengan hal-hal tidak menyenangkan. Kita telah berusaha keras. Jadi, bisakah saat ini kita berjalan beriringan dan menikmati indahnya sebuah pertemuan?

Selamat Datang Kembali

Kemarin, buku kosong dengan sampul putih itu sudah kukeluarkan dari tasku. Tasku sudah tersimpan lama di laci itu. Aku sengaja meletakkannya di bagian paling bawah yang di atasnya terdapat tumpukan buku dan baju. Aku sengaja menyimpannya disana bukan karena aku tak lagi sayang. Itu kulakukan karena aku begitu menyayanginya.

Aku dan buku itu adalah dua hal yang tak bisa dipisahkan. Buku itu mampu mengisi ruang sepiku. Aku begitu menjaganya. Namun sayang, orang-orang di sekelilingku enggan menjaganya. Sudah berulang kali buku itu dijatuhkan oleh mereka. Sudah berulang kali buku itu terseret dengan sengaja. Sudah berulang kali ternodai oleh tinta-tinta yang begitu tak indah dipandang mata. Dan sudah berulang kali kertas di dalamnya dirobek tanpa seizinku. Benar-benar kasian buku kosong dengan sampul putih itu.

Bertahun-tahun mengendap di dasar laci dengan tujuan menjaganya, aku memutuskan untuk mengeluarkannya. Kupikir, tak masalah bukuku mendapatkan perlakuan tidak baik. Asalkan aku dan dia bersama, kita pasti bisa melaluinya bersama.

***

Di luar sini, di luar laci, aku memang tak bisa menjamin kamu selalu baik-baik saja.

Aku tak bisa menjamin orang lain akan turut menjagamu seperti aku menjagamu. Namun, tetaplah tegar. Tetaplah bermanfaat.

Sebab, bagaimanapun perlakuan mereka, kamu tetaplah buku seutuhnya. Buku yang mampu menolong orang lain mengabadikan ilmu. Buku yang mampu mengisi ruang sepiku. Buku yang mampu merangkum ide-ide kreatifku. Buku yang memberikan begitu banyak kebermanfaatan.

Selamat datang kembali, bukuku. Mari kita melangkah bersama, menapaki jalan yang tak melulu memberikan kemudahan, namun tak jarang memberikan pelajaran dan kebaikan.

Mengambil Jeda Sejenak

Jika kehidupan begitu sulit kau mengerti, tak perlu memaksa diri untuk terus melewatinya. Ambil waktu saja sebentar untuk berhenti.

Ada kalanya, mengambil jeda sejenak adalah pilihan tepat bagi orang-orang yang perlu beristirahat.

Pilihlah tempat nyaman yang paling kau sukai. Kalau aku, tentu tempat yang tenang dan jauh dari keramaian menjadi pilihan utama.

Jauhkan diri dari hiruk pikuk kota dan kebisingan. Diamlah. Posisikan tubuhmu dengan nyaman. Kurasa, posisi terbaik adalah membaringkan tubuhmu. Lalu, pejamkan mata.

Rasakan semilir angin yang menyentuh kedua pipi. Bila tak ada angin, nikmatilah situasi apapun yang saat ini kau alami.

Rasakan udara sejuk yang begitu menenangkan. Bila kau belum menemukan udara yang sejuk, saranku, carilah udara yang membuatmu nyaman. Apapun itu.

Dengarkan suara-suara yang ada disekitar. Nikmatilah. Tanpa ada suara manusia, bahkan suara kendaraan yang berlalu lalang pun memiliki arti yang berbeda. Suara kipas angin yang bergerak pun menjadi lebih bermakna. Suara langkah kaki manusia pun menjadi lebih berirama. Kalau saat ini, di dekatku terdengar suara burung-burung berkicau. Kicauan burung semakin membuat syahdu sore ini.

Tetap pejamkan kedua matamu. Tetap nikmati keadaan dan suara disekitar.

Kemudian, dengarkan suara napasmu sendiri. Rasakan detak jantungmu sendiri.

Bagaimana suasana hatimu saat ini? Bukankah mengambil jeda sejenak dapat membuat perasaan menjadi lebih baik?