[Day 9] Si Insecure

Insecure, dulu biasa digunakan untuk menyebut sikap orang-orang yang terlalu pencemburu kepada pasangannya. Meski tidak tahu pasti makna kata itu, aku menduga, sepertinya maknanya adalah rasa khawatir yang berlebihan.

Ternyata dugaanku nyaris benar. Namun, insecure memiliki makna yang lebih luas dari itu. Insecure berarti tidak merasa puas terhadap dirinya sendiri. Ia tidak puas bukan karena dirinya sudah merasa mampu. Melainkan, ia selalu merasa dirinya “kecil” yang tak bisa melakukan apa-apa. Orang lain selalu tampak “besar” bagi dirinya.

Tidak hanya sampai pada diri sendiri saja, seseorang yang memiliki sikap insecure akan berusaha menutupi keaslian dirinya di hadapan orang lain. Ia tidak mau orang lain mengenal dirinya, karena khawatir mereka akan menolak kehadirannya.

Karena si insecure merasa “kecil”, maka, rasa takut akan penolakan orang lain menjadi semakin besar saja. Ia khawatir, apa-apa yang ia punya dan lakukan akan ditolak oleh orang lain. Ia juga selalu merasa “pandangannya” selalu salah. Dan akhirnya si insecure pun memandang rendah dirinya.

Pendeskripsian di atas tentang seseorang yang memiliki sikap insecure adalah hasil pemikiran dan imajinasiku saja. Artikel yang membahas insecure ternyata tidak terlalu banyak. Atau mungkin, aku yang tidak terlalu “rajin” mencarinya, ya hahaha

Saat browsing kata “insecure” pun, yang muncul rata-rata definisinya saja. Meskipun hasil imajinasi dan pemikiran, semoga bisa sedikit menggambarkan. Kalau kamu memiliki penggambaran lain, boleh sekali berbagi ke aku dikolom komentar, ya 🙂

Meskipun bukan termasuk orang-orang yang insecure, dulu, aku pun hampir merasakan sikap itu. Aku tahu bagaimana rasanya cemas dan gelisah ketika terus-menerus “merasa kecil” dibandingkan orang lain.

Rasa itu, membuat aku terlalu fokus melihat kelebihan orang lain. Seperti,“Kok dia hidupnya enak ya, mudah sekali gonta ganti gawai. Aku kalau ingin beli gawai, harus menabung dulu dan tak langsung dibelikan.” Atau, “Kok dia berbakat banget ya, apa aja bisa. Kayaknya, bakatku nggak banyak-banyak banget, deh.”

Pemikiran itu terjadi saat masih pencarian jari diri dan sama sekali belum mengenal diri. Aku terlalu sibuk memikirkan kehidupan orang lain dan tidak peduli akan potensi diri. Dan kehidupan seperti itu sungguh meresahkan. Ketenangan hati pun sulit sekali didapatkan.

Lalu, bagaimana caranya supaya aku tidak lagi “merasa kecil” dan terhindar dari rasa cemas berlebihan? Semua butuh proses. Aku pun melalui proses yang panjang hingga akhirnya berdamai dengan diri sendiri. Pelan-pelan saja 🙂

Dulu, kesadaran yang kali pertama muncul adalah aku memahami bahwa setiap orang memiliki keunikannya tersendiri. Unik dalam hal kelebihan, juga kekurangannya.

Begitu pula unik dalam menyelesaikan masalahnya. Setiap orang memiliki cara tersendiri untuk menyelesaikan masalahnya. Oleh karena itu, aneh rasanya kalau aku masih membanding-bandingkan diri sendiri dan orang lain untuk mencari siapa pemenangnya.

Padahal, setiap orang adalah pejuang dalam medan kehidupannya. Hanya dia yang bisa menjadi pemenang atau bukan dalam kehidupannya. Dan hanya diri sendiri yang bisa menentukan. Ingin menjadi penonton kehidupan orang lain, atau menjadi pemenang yang mampu mengendalikan dirinya.

Ingin menjadi apa kita dalam menjalani kehidupan adalah pilihan. Begitu pula menjadi insecure atau tidak. Kalau aku, tidak senang terus menerus berada dalam ketakutan dan kegelisahan. Karena, rasanya melelahkan.

Yang masih aku yakini sampai saat ini, aku akan tetap melangkah ke depan. Bahkan ketika aku belum tahu apa yang akan terjadi di masa depan. Sebab, aku selalu punya Allah yang selalu mengarahkan dan menguatkan. Dan aku tahu hasil memang bukan tujuan, namun proseslah yang memberikan banyak pelajaran. Bukankah memang begini hakikat kehidupan?

Advertisements

[Day 7] Fisioterapis Sakit Lutut

Menjadi fisioterapis membantu aku memahami fungsi gerak dan tubuh lebih baik. Aku menjadi tahu posisi tubuh seperti apa yang baik dilakukan sehari-hari. Aku juga tahu bagaimana mengangkat dan mendorong beban berat yang benar saat beraktivitas. Karena ternyata permasalahan anggota gerak tubuh itu paling banyak dikarenakan kebiasaan yang tidak benar, lho.

Meskipun sudah tahu cara yang benar seperti apa, seorang fisioterapis juga terkadang khilaf. Kami tetap melakukan posisi-posisi dan kebiasaan yang salah kala melakukan aktivitas. Maklum, kebiasaan yang salah sudah lebih lama dilakukan dibandingkan pengetahuan baru yang kami tahu ini kan wkwk 😂

Tulisan kali ini, aku akan berbagi pengalamanku sendiri. Aku akan berbagi kasusku yakni, sakit lutut.

Aku merasakan keluhan ini sudah dua minggu yang lalu. Lutut kananku sakit tiap kali diluruskan maksimal. Tidak ada rasa sakit saat lutut ditekuk. Dan tidak ada bengkak. Lututku baik-baik saja kalau dilihat oleh mata. Namun tidak bila ditekan pada bagian sisi dalam. Rasa nyerinya tidak tertahankan.

Sebagai fisioterapis sekaligus pasien, aku menjadi bingung sendiri hahaha sejujurnya, aku sudah berusaha sekali memposisikan tubuh dengan baik tiap kali bekerja. Aku selalu mengistirahatkan tubuh tiap kali otot-otot tubuhku kelelahan. Pokoknya, kalau si otot sudah lelah dan memberikan alarm dalam bentuk “rasa pegal”, aku selalu memberhentikan aktivitasku.

Tentang sakit lututku, aku paham betul bahwa keluhan sakit ini hanya karena masalah otot saja. Ototku terlalu lelah bekerja. Ligamen atau tendonku baik-baik saja. Terbukti dari kemampuanku untuk melompat dan berlari. Aku masih bisa melakukan dua aktivitas itu. Hal ini menandakan lututku masih amat stabil dan bekerja dengan baik.

Setelah merenung cukup lama, akhirnya aku menemukan masalah utamanya. Jadi, ada satu alat biasa aku gunakan untuk mengobati pasien. Namanya Microwave Diathermy (MWD). MWD selalu berpindah-pindah dari satu tempat tidur ke tempat tidur lainnya. Di ruangan fisioterapi ini, tempat tidurnya ada enam buah. MWD itu harus aku pindahkan dari satu tempat tidur ke tempat tidur lain.

MWD itu besar dan berat. Tingginya sekitar 90 cm dan panjangnya sekitar 120 cm. Karena berat, aku cukup kesulitan mendorong bila hanya menggunakan kedua tangan. Jadilah aku mendorong dengan bantuan lutut bagian dalam. Kurang lebih selama satu tahun lah aku melakukan aktivitas itu.

Cara kerja tubuh memang seperti ini. Ia memiliki ambang batas kemampuan. Kalau masih bisa menahan, tubuh kita akan baik-baik saja. Namun, kalau beban tersebut sudah melebihi kapasitasnya, maka muncullah banyak keluhan. Contohnya otot lututku ini. Ia sudah cukup lama menahan beban berat si MWD. Dan setelah genap satu tahun bekerja, si otot lutut bagian dalam pun akhirnya menyerah.

Setelah tahu otot lututku bermasalah, akhirnya lutut ini pun aku istirahatkan. Aku tidak lagi mendorong alat MWD menggunakan lutut. Betapa pun beratnya, aku tetap mendorong menggunakan kedua tangan. Aku juga menghindari beban berlebihan pada lutut yang sakit. Beberapa kegiatan yang kuhindari yaitu, tidak menopang pada lutut yang sakit, tidak naik turun tangga, dan mengurangi aktivitas jalan.

Pesanku sebagai fisioterapis, aku tahu kita itu kuat. Apalagi laki-laki yang memiliki otot lebih kuat dari perempuan. Tetapi, jangan pernah memaksakan diri. Kita pasti tahu beban mana yang tubuh ini masih bisa toleransi, dan beban mana yang tidak. Contohnya ketika mendorong lemari yang besar. Meskipun kita mampu, janganlah memaksakan diri. Doronglah lemari itu bersama-sama kawan. Berbagilah beban bersama.

Dampaknya memang tidak selalu terlihat saat ini juga. Untuk otot, ligamen, tendon, dan tulang, memang tidak langsung memberikan dampak saat itu juga ketika ia kelelahan. Kecuali bila tubuh kita terkena hantaman kekuatan besar saat kecelakaan, biasanya dampaknya langsung terlihat. Contohnya seperti patah tulang atau terkilir.

Untuk kebiasaan yang salah seperti kesalahanku saat mendorong MWD, biasanya, hanya rasa pegal saja yang kita rasakan. Namun, jangan abaikan rasa pegal itu. Rasa pegal yang terakumulasi akan menyebabkan masalah-masalah fatal di kemudian hari.

Sekian. Semoga pengalamanku ini bermanfaat untuk teman-teman. Ingat, kurangi beban berlebihan dan selalu perhatikan tanda-tanda kelainan. Sebab, tak ada istilah “pegal biasa”. Pegal adalah tanda bahwa ada sesuatu yang tidak biasa pada tubuh kita.

[Day 6] Tentukan Seleramu!

Ibuku memiliki selera tersendiri untuk anak-anaknya.

Selain keperluan sekolah, aku tidak pernah memakai sepatu. Alasan ibuku, anak-anak terlalu ribet menggunakan sepatu. Jadilah aku terbiasa menggunakan sandal atau sepatu sandal.

Begitu pula dengan pakaian. Ibuku tidak senang memakaikan anaknya pakaian yang tidak berlengan. Aku juga tidak dibiasakan menggunakan rok. Alasannya, anak-anak terlalu ribet menggunakan rok untuk bermain. Jadilah aku terbiasa menggunakan baju berlengan dan celana panjang.

Kebiasaan tersebut sebenarnya tidak sepenuhnya memberikan dampak positif. Dampak negatifnya, aku tidak terbiasa memilih dan membuat keputusan sendiri. Meskipun begitu, semakin dewasa sepertinya hanya dampak positifnya lah yang aku rasakan. Aku bersyukur ibuku memberikan aturan itu saat aku kecil.

Kebiasaan Menggunaan Sandal

Jangan takut, meskipun sejak kecil sampai remaja aku terbiasa menggunakan sandal atau sepatu sandal, tidak memengaruhi kebiasaanku saat dewasa, kok. Peraturan perkuliahan yang melarang penggunaan sandal saat belajar, membuat aku pakai sepatu setiap hari.

Pada awalnya tentu saja kesulitan. Namun, karena dilakukan setiap hari dan menjadi kebiasaan, akhirnya aku pun terbiasa memakai sepatu. Sampai bekerja pun begitu. Pekerjaanku memang mengharuskanku memakai sepatu. Bahkan sampai sekarang, barang kecintaanku adalah sepatu. Sneakers. Aku jarang sekali menggunakan sandal. Sandal digunakan hanya untuk ke warung dan aktivitas bermain air saja hehehe

Kebiasaan Menggunakan Baju Berlengan Panjang dan Celana

Aku bersyukur sekali dengan dua kebiasaan ini. Meskipun pada awalnya aku masih suka mengikuti “trend” berpakaian, namun lambat laun aku tidak sepenuhnya mengikuti trend itu. Aku selalu mempertimbangkan dua kebiasaan berpakaianku ini. Kalau trendnya bersebrangan dengan kebiasaan berpakaianku sejak kecil, biasanya aku tidak mengikuti trend tersebut.

Lalu, aku pun menyimpulkan. Ternyata kebiasaan berpakaian yang orang tua berikan akan membentuk selera berpakaian anaknya, lho. Memang tidak sepenuhnya. Karena, kita pun belajar tidak hanya dari orang tua. Lingkungan dan orang-orang di sekitar juga turut berperan membentuk selera kita.

Alhamdulillah, saat sekolah dulu, aku selalu memiliki sahabat yang berprinsip kuat. Jadi, mereka tidak pernah terbawa trend sepenuhnya. Mereka tetap mencari tahu trend yang ada, namun sebatas referensi saja. Untuk keputusan berpakaian, akan sepenuhnya ditentukan dengan prinsip dan nilai yang dipunya.

Karena sering bermain bersama mereka, akhirnya aku pun turut memiliki pemikiran yang sama. Bahwa selera, murni ditentukan oleh diri sendiri. Kita harus memiliki pertimbangan kuat hingga akhirnya mampu membuat keputusan.

Dan beginilah aku kini. Kalau kamu bertanya gaya apa yang “aku banget”. Jawabannya adalah sneakers dan ransel. Apapun pakaiannya, dua barang itu harus tetap aku pakai wkwkwk

Kamu pun pasti punya selera berpakaian atau selera memilih barang apapun. Meskipun ada banyak yang memengaruhimu, saranku, tetaplah bangga atas pilihanmu itu. Sebab, yang paling penting bukan seberapa baik penilaian orang. Melainkan, seberapa nyaman kamu memakai dan menggunakan suatu barang 🙂

Sumber foto:
http://www.newfrog.com
http://www.dreamstime.com

[Day 5] Aku, Dea, dan Jilbab

Dea, perempuan berusia 5 tahun di bawahku bertanya alasanku menggunakan jilbab. Malam itu adalah malam pertama setelah bertahun-tahun kami tidak pernah bertemu.

Ia juga bertanya sejak kapan aku menggunakan pakaian rapi. Definisi rapi baginya adalah pakaianku seperti malam ini yakni, menggunakan jilbab menutup dada dan memakai rok.

Setelah mengajukan dua pertanyaan sekaligus, ia mengungkapkan keinginannya dan kecemasannya terkait jilbab. Ia ingin menggunakan jilbab, namun merasa tidak pantas karena belum tahu banyak ilmu agama. Dari tatap matanya, Dea terlihat menunggu tanggapanku. Aku pun menjawab pertanyaannya satu persatu.

Sebelum menjawab, kuingatkan padanya jawabanku nanti adalah murni pengalamanku sendiri. Semoga bisa membantu memantapkan hati. Syukur-syukur mampu membulatkan tekad untuk memilih dan membuat keputusan hidupnya sendiri.

“Aku berjilbab karena termotivasi dari tiga sahabatku yang berjilbab lebih dulu.” begitu kataku untuk menjawab pertanyaan pertama.

“Aku berubah pelan-pelan, De. Saat kelas 2 Sekolah Menengah Atas, aku mengubah gaya baju dengan baju dan celana panjang. Baju-baju pendekku diplastikkan semua. Aku cuma menyisakan baju-baju berlengan panjang aja di lemari. Aku mau tau gimana rasanya pake baju berlengan panjang setiap hari. Aku ingin memastikan rumor yang beredar. Katanya, kita bakal kepanasan kalo berjilbab. Nyatanya nggak, De. Aku malah terlindung dari cahaya matahari. Nggak pake sunblock pun gapapa. Malah ngerasa aman. Oh iya, aku udah menggunakan macam-macam gaya berjilbab. Kelak, kamu akan menemukan cara berpakaian yang membuatmu nyaman kok, De.” jawabku. Begitu jawabanku untuk pertanyaan dia yang kedua.

“De, terkadang kita emang perlu menyederhanakan segala hal yang rumit. Pake jilbab memang pada awalnya bakal ngerasa rumit dan sulit. Kita ngerasa takut nggak bisa kasih jawaban terkait Islam kalo teman ada yang nanya. Kita juga takut ngejelekin nama Islam kalo setelah berjilbab masih aja berperilaku nggak baik. Pokoknya banyak deh ketakutan-ketakutannya.” kataku.

“Tapi, De, ternyata Allah nyuruh kita berjilbab bukan untuk sempurna di mata manusia, lho. Kita itu berjilbab karena Allah yang memerintahkan. Allah ingin menjaga kita. Kamu tau nggak? Setelah berjilbab, aku jadi semakin termotivasi jadi orang baik gitu, De. Kayak ada perasaan takut bikin Allah kecewa. Mungkin hikmah berjilbab kayak gitu. Kita jadi punya tenaga super dan tameng kuat. Tenaga super untuk ngelakuin perbuatan baik. Serta tameng kuat untuk menjauhi perbuatan buruk.” tambahku. Ini adalah jawaban untuk kecemasan Dea.

“Kamu ingin berjilbab kan? Yaudah pake aja, De. Hayuk, jangan cuma pengen aja. Pengen aja mah nggak bakal jadi-jadi hehehe jangan takut nggak bisa jawab pertanyaan. Emangnya kenapa kalo kita nggak bisa jawab? Kan kamu bisa cari jawaban bareng-bareng temanmu. Bisa tanya ke gurumu, orang tua, dari buku, atau kajian kan. Jadi sama-sama belajar deh :D.” kataku. Jawaban kali ini untuk menyemangati Dea. Kuharap ia tidak takut lagi.

Dea lebih banyak menyimak dan mengangguk tanda mengerti. Dari raut wajahnya terlihat tidak cemas dan takut lagi. Sebaliknya, ia tampak bersemangat dengan senyum simpulnya.

Semoga cerita sederhana ini bisa menjadi salah satu suntikan semangat kala semangatnya turun. Aku percaya, setiap orang berhak berubah menjadi lebih baik berdasarkan episode kehidupannya sendiri.

Kamu tidak perlu terburu-buru hanya karena melihat para pendahulu sudah maju lebih dulu. Lalu, terlupa makna apa yang ingin dicari.

Perlahan saja sampai kamu temukan caramu sendiri. Cara paling benar dan nyaman yang mendekatkanmu pada Allah Sang Pemilik Hati.

Sumber foto: http://www.gaphotoworks.com

[Day 4] Cintai Tubuhmu Sendiri

Aku menikmati setiap proses penerimaan diriku ini. Maka, aku tidak menyesal untuk segala perbuatan khilafku di masa lalu. Sebab, tanpa semua itu, aku tidak akan menjadi sosok Shinta seperti hari ini.

Jangan memandangku penuh takjub seperti itu. Aku sama saja seperti kamu. Yang pernah tidak mensyukuri apa-apa dalam diri. Yang pernah mengalami krisis kepercayaan diri. Jadi, jika saat ini kamu masih berjuang untuk mencintai diri sendiri, lanjutkanlah perjuanganmu. Hadapilah sesulit apapun itu. Kesulitan yang kamu hadapi hari ini, akan membentukmu menjadi sosok luar biasa di kemudian hari.

Krisis Kepercayaan Diri

Shinta kecil memiliki kulit hitam legam. Kesukaannya bermain sepeda di siang hari membuat kulitnya terbakar sinar matahari. Maka, bullying verbal seperti sebutan “Si hitam” adalah kalimat biasa yang sering kudengar saat itu. Tetapi, Shinta kecil tidak terganggu dengan sebutan itu. Ia terlalu sibuk dengan dunia bermain bersama teman-teman.

Semua berubah saat aku sekolah menengah pertama (SMP). Masa pubertas ini membuatku memerhatikan fisik sekali. Saat itu, aku mengikuti ekstrakurikuler (ekskul) paskibra. Siapa pun pasti tahu ekskul tersebut sangat akrab dengan panasnya matahari. Kami selalu latihan baris berbaris saat matahari sedang terik. Hasilnya? Kulit kami terbakar sinar matahari. Kami tidak mengenal sunscreen. Jadi, habislah sudah kulit kami ini. Kulit kami menjadi hitam dan merah.

Fase pubertas membuat aku begitu perhatian dengan permasalahan kulit ini. Aku sadar kulitku hitam sekali. Meskipun masih berani tampil paskibra untuk lomba ke sana dan ke mari, aku tidak sepenuhnya mencintai diriku sendiri. Aku selalu menutupi kulit hitamku dengan bedak tabur. Dan selalu membawa bedak itu kemana pun aku berada. Mimpiku saat itu adalah memiliki kulit putih yang berseri.

Jika berpikir dengan cara pandang saat ini, keadaanku saat SMP dulu sepertinya dipengaruhi oleh orang-orang sekitar. Sampai sekarang aku ingat betul siapa saja orang-orang yang membullyku dengan sebutan “si hitam”. Mereka adalah saudara dekatku sendiri. Saat saudara dekat melakukan hal seperti itu, orang tuaku juga tidak membantuku banyak. Seingatku, orang tuaku diam saja. Mungkin, orang tuaku juga bingung bagaimana cara meningkatkan kepercayaan diri anaknya. Akhirnya, krisis kepercayaan diri ini pun berlangsung hingga Sekolah Menengah Atas (SMA).

Titik Balik

Aku tidak ingat kapan tepatnya. Namun, sejak kuliah aku mulai lebih bijak mengendalikan diri. Sikap bijak ini dimulai dari merawat tubuhku dengan baik. Ketika menyadari tipe kulitku adalah kulit berminyak, aku berusaha mencari perawatan wajah yang khusus untuk kulit berminyak. Ketika jerawat tiba-tiba muncul, aku segera mencari tahu hal-hal apa aja yang menyebabkan jerawat muncul. Ketika sadar wajah mulai kusam, aku evaluasi diri bagaimana kebiasaanku merawat wajah. Apakah aku sudah rajin membersihkan wajah atau belum.

Sikap bijak selanjutnya, aku sudah semakin paham segala tubuhku adalah ciptaan Allah. Maka, menghina tubuhku sendiri, berarti aku menghina Allah. Aku pun mulai menerima diri sendiri. Segala kelebihan sekaligus kekurangannya.

Intinya, sejak kuliah aku tidak lagi mencari hal-hal negatif dalam diri. Karena aku menyadari, segala masalah pada tubuh ini bisa jadi karena kurangnya aku merawat diri.

Aku juga tidak lagi membandingkan dan menilai tubuhku dengan tubuh orang lain. Karena aku tahu, kondisi tubuh tiap orang berbeda-beda. Contohnya saja dalam hal tipe kulit. Masalah dan perawatan kulit kering dan berminyak itu berbeda. Rasanya tidak adil bila aku menginginkan keadaan tubuh orang lain, bila aku tidak mengenal dan merawat tubuhku sendiri.

Kalau kamu bertanya bagian tubuh mana yang paling aku sukai, aku tidak akan memilih apa-apa. Karena aku tidak bisa memilih. Aku menyukai seluruh bagian dalam tubuhku ini. Setiap bagian tubuhku memiliki manfaat dan keunikan masing-masing.

Bahkan untuk kulit berminyakku. Aku bersyukur memiliki tipe kulit seperti ini. Meskipun kata orang kulit berminyak mudah berjerawat, kenyataannya tidak, kok. Selama aku rutin membersihkan wajah tiap kali beraktivitas, Insya Allah wajahnya baik-baik saja. Keuntungan lain yang aku rasakan, kulit berminyak jarang sekali kering dan dehidrasi, lho.

Kalau tipe wajahmu sama seperti aku, saranku, tiap kali beraktivitas, kamu siapkan saja kertas minyak di tasmu. Kertas minyak itu membantu sekali mengurangi kelebihan minyak yang ada di wajahku 🙂

Lalu, tentang alis. Sekarang itu lagi booming dandan-dandanan, ya. Di youtube banyak sekali tutorial dandan. Contohnya dalam membentuk dan menebalkan alis. Alisku itu bentuknya tidak lurus rata. Di beberapa sisi ada yang bergelombang naik ke atas. Kalau kata mereka yang ahli di bidang dandan, tipikal alisku akan susah sekali dibentuk. Supaya terbentuk alis yang bagus, katanya harus dicukur dulu. Kalau tidak mau, alisku bisa pakai concealer. Fungsinya, untuk menutup si alisku yang bergelombang itu. Ribet ya? Iya. Tapi, aku biasa saja.

Bagiku, alis tebal atau tidak tebal bukan masalah. Pakai pensil alis atau tidak pakai juga bukan masalah. Kalau harus memilih, aku lebih baik tidak pakai apa-apa. Aku lebih nyaman alis normal milikku apa adanya. Alasan utama sih, aku memang tidak pandai membuat alis hahaha

Beberapa hal di atas tentang fisik. Masih banyak lagi faktor lain yang membuat seseorang tidak percaya diri.

Alhamdulillah, diumurku yang saat ini aku menerima diriku seutuhnya. Aku menerima segala bentuk wajahku. Alis, mata, hidung, mulut, dan lain sebagainya.

Apalagi aku ini fisioterapis. Aku sering menangani pasien bell’s palsy. Gejalanya, otot-otot wajah kita menurun kekuatannya. Jadi, fungsi wajah kita untuk sementara terganggu. Kita tidak bisa mengedipkan mata, kita tidak bisa mengangkat alis, kita tidak bisa tersenyum simetris, kita tidak bisa menutup mata secara sempurna, dan masih banyak gangguan lainnya.

Melihat pasien-pasien mengalami keadaan itu dan mendengar keluhan mereka saat fungsi wajahnya terganggu, membuat aku introspeksi diri. Ternyata aku bersyukur banget lho wajahnya lengkap dan berfungsi dengan baik seperti saat ini.

Menyadari bahwa rumput tetangga memang selalu lebih hijau, aku selalu berusaha mengingatkan diri. Bahwa nikmat yang aku rasakan akan selalu lebih banyak daripada kekurangan yang dicari-cari. Dan yakin bahwa Allah selalu memberi setiap hal sesuai kebutuhannya.

Aku juga berusaha untuk sadar diri bahwa setiap manusia memiliki keadaan yang berbeda-beda. Jadi, sangat tidak adil bila aku terlalu mengagumi apa-apa yang ada pada orang lain, dan tidak peduli dengan kelebihan yang ada pada diri. Setiap orang berjuang pada medan perangnya sendiri, kan?

Aku akan berusaha menyukai dan merawat apa-apa yang ada pada diri. Entah itu fisik, karakter, kemampuan, dan sebagainya. Karena apa? Karena aku adalah ciptaan Allah. Maka, aku akan menyukai dan merawat semua hal yang Allah berikan. Insya Allah. Kita semua cinta Allah, kan? Aku percaya, seseorang yang mencinta akan melakukan apa saja untuk sesuatu yang dicinta 🙂

[Day 3] Mengenal Kata Hati

Menua semakin membuatku mengenal kata hati. Dan aku pun ingin tahu, sejauh mana diri ini mengenal hati.

***

Aku mengenal dia saat pelatihan di rumah sakit. Aku yang datang sendirian langsung disapa olehnya dengan sapaan yang hangat. Saat itu, ia bersama beberapa kawan. Ia juga meminta nomor whatsappku. Katanya, ia ingin bertanya banyak tentang keluhan sakit pinggang. Melihat bagaimana ia memperkenalkan diri, aku menyimpulkan ia adalah orang yang ramah dan mudah berkawan dengan orang lain.

Namun, siapa sangka ternyata karakternya bisa benar-benar berubah 180 derajat setelah kami berpisah dari ruangan pelatihan itu. Ia yang kukenal sebagai seseorang yang ramah dan hangat, ternyata tidak terbiasa menyapa orang lain saat berpapasan di jalan.

Pada awalnya, tentu saja aku menyapa lebih dulu. Ia pun tersenyum. Pada kesempatan yang lainnya, berulang kali ia menundukkan wajahnya setiap berpapasan denganku. Kuledek saja dia,“Hei Ai, ih kok nunduk aja sih. Nyariin apa? Hehehe kamu mau ke mana?” ia menjawab seadanya dengan sedikit tertawa.

Namun, pada pertemuan ke sekian kalinya, ketika aku lupa menyapa, ia melewatiku begitu saja. Ia tidak menyapa ataupun tersenyum. Padahal jarak kami hanya sekitar 1 meter saja.

Melihat polanya, aku menyadari bahwa ia adalah tipikal orang yang tidak senang menyapa orang lain lebih dulu. Entah apa alasannya.

Pada kondisi ini, aku berdebat dengan diri sendiri. Egoku menyuruh agar tidak menyapa dia lagi. Kalau dia menunduk, biarkanlah. Aku tak perlu menyapanya lagi. Aku kesal dengan perilakunya.

Tetapi, kata hatiku menolak ide itu. Ia mengatakan bahwa rencanaku tersebut tidak benar. Tersenyum dan menyapa orang lain lebih dulu adalah perbuatan baik. Mengapa aku harus mengorbankan perbuatan baik hanya untuk sebuah rasa kesal yang sifatnya sementara? Mengapa menjustifikasi karakter orang lain, padahal apa-apa tentangnya pun aku tidak tahu?

Egoku kalah. Dan aku menuruti kata hatiku.

***

Mendengarkan kata hati, membuatku menjadi lebih peka. Aku menjadi mudah merasakan perasaan lawan bicaraku. Aku juga semakin mudah memahami pikiran mereka. Daripada merasa kesal atas perbuatannya, aku berusaha memikirkan mengapa ia bisa menjadi sosok yang seperti itu. Ia pasti memiliki luka masa lalu sehingga tidak memahami aturan tegur sapa kepada orang lain.

Mengikuti kata hati, membuatku menjadi lebih bijaksana. Aku menjadi lebih mudah berpikir jauh ke depan atas apa-apa yang terjadi. Daripada membiarkan perasaan negatif menguasai diri, aku berusaha menerima segala kepahitan. Menerima bahwa kepahitan hidup memang sebuah kepastian. Menerima bahwa perilaku buruk orang lain juga sebuah kepastian. Orang lain bebas berperilaku apa saja.

Yang tidak boleh bebas itu aku. Aku tidak boleh terpengaruh oleh kejadian buruk yang menempa. Aku tidak boleh terlalu lama tenggelam dalam pikiran dan perasaan negatif. Sebab pikiran dan perasaan yang negatif akan berpengaruh pada perilakuku.

Bersediakah aku menjadi orang yang buruk hanya karena tak sanggup mengendalikan diri sendiri? Sungguh tidak bersedia. Aku terlalu berharga untuk melakukan perbuatan itu. Sebab, Allah yang Maha Baik sudah menciptakan diri ini dalam bentuk yang paling baik.

Kata hati adalah pesan Allah yang seringkali tidak disadari. Ego terlalu mendominasi hingga aku lupa diri. Semoga aku tidak melakukan itu lagi. Dan berusaha untuk selalu mendengarkan dan mengikuti kata hati. Sebab, hanya dengan cara itu aku mampu mengendalikan diri.

[Day 2] Senyum Itu Memberikan Kekuatan

Senyum selalu memberikan kekuatan. Kalimat tersenyumlah untuk berbahagia kurasa benar adanya. Selalu ada energi positif tiap kali aku berusaha untuk tersenyum.

Merasakan betul bahwa senyum memberikan dampak positif, maka aku selalu berusaha untuk tersenyum kepada siapa pun.

“Mbak, lo kenal sama perempuan yang barusan lewat?” tanya adikku.

“Nggak. Kenapa?” jawabku.

“Kok barusan dia senyum ke lo?” tanyanya heran.

“Emang kenapa kalo dia senyum ke gue? Hahahaha.” ledekku.

“Ya nggak apa-apa. Aneh aja sih senyum sama orang yang nggak dikenal. Barusan dia senyumnya lebar banget, lho.” jawab dia berikan penjelasan.

“Gini, tadi pas kita jalan berpapasan sama dia, tatapan mata gue dan dia secara nggak sengaja ketemu. Jadi saling tatap gitu. Yaudah gue senyumin aja. Bakal awkward kali kalo setelah saling tatap gue buang muka wkwkwk.” jawabku. Entah dia menerima atau tidak alasanku itu haha

“Iya bener juga. Tapi, tetap aneh sih bagi gue, kalo kalian berdua saling senyum “seolah-olah kayak saling kenal” gitu. Kirain beneran kenal wkwk.” jawabnya. Ia tetap merasa aneh atas apa yang aku lakukan.

“Gapapa, kali. Nambah pahala juga saling menebar senyuman ke saudara seiman yakhaaan hihi yaudah jangan terlalu dipikirin. Entar beban pikiran lo lebih berat dari Dilan gawat hahaha.” ledekku lagi. Sedikit penjelasanku untuknya bahwa tidak masalah tersenyum kepada orang yang tidak dikenal.

Selain menatap cermin sambil tersenyum dan mengafirmasi diri dengan kata-kata positif tiap kali ada masalah, aku juga sedang membiasakan diri menebar senyuman kepada siapa pun.

Di tempatku bekerja, aku sudah mulai membiasakannya sejak kali pertama datang ke rumah sakit. Aku berusaha menyapa dan memberikan senyuman kepada Mas dan Mba petugas parkiran. Lalu, menyapa dan tersenyum ke security di dekat poliklinik tempatku bertugas, ke Bu Riri si cleaning service, ke rekan kerjaku, dan juga ke para pasien.

Rasanya seperti apa setelah menyapa dan memberi senyuman ke banyak orang? Hatiku bahagia sekali. Ternyata benar lho berbagi kebaikan memang memberikan ketenangan hati. Aku pun menjalani hari menjadi lebih bersemangat lagi.

Energi positif dan kebaikan itu menular. Sepengalamanku, sejutek apapun orangnya, ketika aku memulai tersenyum lebih dulu, orang tersebut akan membalas senyumanku dengan senyuman juga. Jadi, jangan khawatir nantinya akan dicuekkin. Senyuman Insya Allah akan berbalas senyuman.

Lagi pula, bukan masalah kok kalau orang yang disenyumin tidak membalas senyumanku. Aku memahami betul, sejatinya, “kebutuhan” senyum ini memang untuk diriku sendiri. Aku butuh membiasakan diri melakukan kebiasaan baik lebih banyak. Aku perlu berbuat baik lebih banyak. Jadi, cara sederhana yang bisa aku lakukan ya tersenyum yang banyak 🙂

Aku tidak terlalu memikirkan respon dan tanggapan negatif orang lain di luar sana. Apa-apa yang mereka lakukan memang ada pada kuasanya. Kuasaku sebatas bagaimana aku mengatur dan mengelola diriku sendiri saja. Kesimpulannya, aku akan tetap tersenyum terlepas bagaimana pun reaksi orang lain setelahnya. Sebab, senyum memberikan banyak kekuatan, adakah alasan untukku untuk berhenti melakukan?

[Day 1] Kala Ketulusan Terpancar dari Matamu

Banyak orang bijak menasehati. Katanya, jangan terlalu bergantung pada kemampuanku mengamati. “Tatap matanya sungguh-sunguh. Maka, kamu akan menemukan sesuatu.” mereka menambahkan. Sebab, ada kalanya kata-kata tak mampu menjelaskan realita. Dan tatapan mata mampu membuka cakrawala.

Memilih posisi duduk di depanmu adalah cara agar aku bisa mengamatimu dengan jelas. Aku ingin tahu bagaimana caramu berbincang dengan orang lain. Aku ingin melihat ketulusan yang terpancar dari matamu.

Terlepas bagaimana baiknya kamu menempatkan diri di berbagai situasi. Aku tahu betul saat itu kamu menikmati setiap waktu yang bergulir.

Tawamu pecah dan lepas. Sorot matamu tertuju fokus hanya kepadaku. Segala kisah bahagia yang sudah terlewat kamu ceritakan kembali. Dan kamu tersenyum hangat. Siapa pun yang melihatmu, kuyakin mereka turut merasakan kebahagiaanmu saat itu. Begitu pula aku.

Aku percaya, ada rasa yang tak bisa terungkap melalui kata. Dan bersama sunyi kita bisa sama-sama merasa. Tatapan mata bahagia dan senyum ceria mampu memperjelas segala rasa yang ada.

Darimu aku tahu bahwa ternyata kita bisa merasakan perasaan orang lain hanya dari tatapan mata.

Darimu juga aku tahu bahwa tatapan mata lebih cepat menunjukkan sebuah kejujuran dibandingkan kata-kata.

Sejatinya manusia tidak akan pernah bisa membohongi perasaannya. Mulut bisa saja bungkam. Kata-kata yang terungkap bisa saja diatur sedemikian rupa hingga menyerupai kebenaran.

Namun, tidak dengan tatapan mata. Ia selalu mampu memancarkan kejujuran dan ketulusan setiap kita.

Bagaimana Bila Hatinya Berlabuh Padamu?

Selalu ada aturan untuk melakukan sesuatu. Bahkan sesederhana saat kamu membuka pintu. Aturan umum menyebutkan bahwa ketika membuka sebuah pintu, kita pun juga harus menutupnya kembali. Meskipun begitu, boleh saja bila kita tidak mau. Namun, siap-siap saja kita akan disebut sebagai orang tak sopan yang tak tahu malu.

Aku adalah orang yang menganggap penting perihal itu. Maka, ketika adikku bertanya tentang menemukan hati yang baru, aku memberi tahu dirinya tentang aturan itu.

“Tentang hati yang terluka, kamu tidak perlu terburu-buru menemukan sepotong hati yang baru. Yang paling utama adalah menyembuhkan hatimu dulu. Hatimu harus benar-benar sembuh. Setelah sembuh, hatimu pun harus tahu apa yang benar-benar ia mau. Setelah tahu, hatimu harus yakin tentang pilihan itu.” kataku.

“Kamu tahu mengapa alurnya harus serumit itu? Alasannya karena kamu tidak boleh bermain-main dengan hati orang lain, Yun. Kamu tidak boleh coba-coba tentang kehidupan orang lain. Kehidupan orang lain bukanlah pintu. Yang boleh kamu buka dan tutup semaumu. Tahukah kamu harga yang harus dibayar untuk sebuah senyuman yang ia tunjukkan saat berjumpa denganmu? Ia pasti telah melalui hari-hari yang sulit dan panjang hingga akhirnya berani membersamaimu dengan senyum itu.” tambahku. Aku harus mengatakan perihal ini kepadanya. Sebelum ia masuk lebih dalam ke kehidupan orang lain. Sebelum dirinya begitu berarti bagi orang lain.

Aku bukanlah seseorang yang pandai perihal ini. Namun satu hal yang aku tahu, kita tak akan pernah bisa memahami dan mengerti orang lain, sebelum kita mengenal diri sendiri. Kalau masih ada luka dihati yang masih mengganggu diri menjalani hari, mengapa kita terburu-buru mencari sepotong hati untuk menggenapkan diri?

***

Aturan tertulis tentang bagaimana dua hati bekerja memang tak ada. Tetapi kita punya hati nurani yang selalu tahu pilihan terbaik apa yang pantas dipilih. Keputusan apa yang layak diambil. Cara apa yang baik dilakukan. Perbuatan-perbuatan yang tidak mengorbankan perasaan orang lain hanya untuk kebahagiaan diri sendiri.

Saranku untuk adikku tentang ini, jangan pernah masuk ke dalam kehidupan orang lain dengan niat hanya ingin ‘coba-coba’. Sebab, kamu tak akan bisa menghentikan hati yang telah berlabuh. Bagaimana bila akhirnya hatinya berlabuh padamu? Bila kamu terus meragu tentang apa keinginanmu, alih-alih mencipta bahagia, bukankah kamu malah menoreh luka?

Cerita tentang Hujan

Hujan selalu memiliki cerita bagi orang-orang yang menyambutnya dengan suka cita.

Beberapa tahun lalu sahabatku tidak menyukai hujan. Katanya, ia tidak senang bila harus basah-basahan karena hujan. Dulu, aku juga tidak menyukai hujan. Sebab, bepergian dalam keadaan hujan sungguh menyulitkan. Saat ini, aku suka hujan. Entah dengan sahabatku. Semoga, saat ini ia juga menyambut hujan dengan suka cita.

Ini adalah cerita tentang hujan. Sore itu kita membuat janji temu. Meskipun sudah tahu setiap sore akan hujan, aku dan kamu tetap sepakat akan pergi pukul empat. Aku, tentu saja tidak masalah bila harus pergi saat turun hujan. Tidak ada yang salah dengan hujan. Masalah hanya pada kita. Kita tidak ingin repot sebentar saja untuk hal-hal yang sesungguhnya tidak sulit. Semua selalu ada caranya bila kita mau mencari. Kupikir, bila ingin naik motor, aku bisa menggunakan jas hujan. Bila tidak ingin repot memakai jas hujan, aku bisa menggunakan jasa grab car. Kamu, ternyata juga tidak masalah bila harus hujan-hujanan. Kita pun sepakat menerjang hujan untuk memenuhi janji.

Jalan dekat rumahku memang selalu banjir bila hujan deras. Aku menebak masalah ada pada sistem drainasenya. Tidak ada satu saluran air pun di dekat sana. Pantas saja air yang turun menggenang begitu saja. Kamu mengabariku bahwa banjir menghalangimu melewati jalan itu. Kamu terjebak dan tidak bisa melewatinya. Tanpa pikir panjang, aku pun memintamu untuk menunggu di ujung jalan jembatan layang itu. Yang sesungguhnya, lumayan jauh dari rumahku. Namun, aku tidak masalah berjalan kaki dalam kondisi hujan. Entah apa yang kupikirkan sore itu.

Hujan semakin deras saja. Di rumah, aku bergegas mengganti sepatu dengan sendal dan membawa payung biruku. Keluargaku tentu saja bingung dengan apa yang kulakukan. Kata mereka,“Mengapa tidak menunggu reda dulu?”. Kujawab saja,“Kita tak tahu kapan hujan ini berhenti. Hujan tidak akan menyakitiku! Hihi.

Aku aneh? Iya, memang. Tetapi, itulah pilihanku. Seseorang pernah mengatakan, bila kita bingung memutuskan sesuatu, ikuti saja kata hati. Sore itu, hatiku memilih untuk tetap pergi. Sederas apapun hujan yang menghantam payung biruku, aku tetap berjalan menuju kamu. Bukankah satu-satunya pengobat rindu adalah temu?