Bagaimana Bila Hatinya Berlabuh Padamu?

Selalu ada aturan untuk melakukan sesuatu. Bahkan sesederhana saat kamu membuka pintu. Aturan umum menyebutkan bahwa ketika membuka sebuah pintu, kita pun juga harus menutupnya kembali. Meskipun begitu, boleh saja bila kita tidak mau. Namun, siap-siap saja kita akan disebut sebagai orang tak sopan yang tak tahu malu.

Aku adalah orang yang menganggap penting perihal itu. Maka, ketika adikku bertanya tentang menemukan hati yang baru, aku memberi tahu dirinya tentang aturan itu.

“Tentang hati yang terluka, kamu tidak perlu terburu-buru menemukan sepotong hati yang baru. Yang paling utama adalah menyembuhkan hatimu dulu. Hatimu harus benar-benar sembuh. Setelah sembuh, hatimu pun harus tahu apa yang benar-benar ia mau. Setelah tahu, hatimu harus yakin tentang pilihan itu.” kataku.

“Kamu tahu mengapa alurnya harus serumit itu? Alasannya karena kamu tidak boleh bermain-main dengan hati orang lain, Yun. Kamu tidak boleh coba-coba tentang kehidupan orang lain. Kehidupan orang lain bukanlah pintu. Yang boleh kamu masuki dan tidak tutup semaumu. Tahukah kamu harga yang harus dibayar untuk sebuah senyuman yang ia tunjukkan saat berjumpa denganmu? Ia pasti telah melalui hari-hari yang sulit dan panjang hingga akhirnya berani membersamaimu dengan senyum itu.” tambahku. Aku harus mengatakan perihal ini kepadanya. Sebelum ia masuk lebih dalam ke kehidupan orang lain. Sebelum dirinya begitu berarti bagi orang lain.

Aku bukanlah seseorang yang pandai perihal ini. Namun satu hal yang aku tahu, kita tak akan pernah bisa memahami dan mengerti orang lain, sebelum kita mengenal diri sendiri. Kalau masih ada luka dihati yang masih mengganggu diri menjalani hari, mengapa kita terburu-buru mencari sepotong hati untuk menggenapkan diri?

***

Aturan tertulis tentang bagaimana dua hati bekerja memang tak ada. Tetapi kita punya hati nurani yang selalu tahu pilihan terbaik apa yang pantas dipilih. Keputusan apa yang layak diambil. Cara apa yang baik dilakukan. Perbuatan-perbuatan yang tidak mengorbankan perasaan orang lain hanya untuk kebahagiaan diri sendiri.

Saranku untuk adikku tentang ini, jangan pernah masuk ke dalam kehidupan orang lain dengan niat hanya ingin ‘coba-coba’. Sebab, kamu tak akan bisa menghentikan hati yang telah berlabuh. Bagaimana bila akhirnya hatinya berlabuh padamu? Bila kamu terus meragu tentang apa keinginanmu, alih-alih mencipta bahagia, bukankah kamu malah menoreh luka?

Advertisements

Cerita tentang Hujan

Hujan selalu memiliki cerita bagi orang-orang yang menyambutnya dengan suka cita.

Beberapa tahun lalu sahabatku tidak menyukai hujan. Katanya, ia tidak senang bila harus basah-basahan karena hujan. Dulu, aku juga tidak menyukai hujan. Sebab, bepergian dalam keadaan hujan sungguh menyulitkan. Saat ini, aku suka hujan. Entah dengan sahabatku. Semoga, saat ini ia juga menyambut hujan dengan suka cita.

Ini adalah cerita tentang hujan. Sore itu kita membuat janji temu. Meskipun sudah tahu setiap sore akan hujan, aku dan kamu tetap sepakat akan pergi pukul empat. Aku, tentu saja tidak masalah bila harus pergi saat turun hujan. Tidak ada yang salah dengan hujan. Masalah hanya pada kita. Kita tidak ingin repot sebentar saja untuk hal-hal yang sesungguhnya tidak sulit. Semua selalu ada caranya bila kita mau mencari. Kupikir, bila ingin naik motor, aku bisa menggunakan jas hujan. Bila tidak ingin repot memakai jas hujan, aku bisa menggunakan jasa grab car. Kamu, ternyata juga tidak masalah bila harus hujan-hujanan. Kita pun sepakat menerjang hujan untuk memenuhi janji.

Jalan dekat rumahku memang selalu banjir bila hujan deras. Aku menebak masalah ada pada sistem drainasenya. Tidak ada satu saluran air pun di dekat sana. Pantas saja air yang turun menggenang begitu saja. Kamu mengabariku bahwa banjir menghalangimu melewati jalan itu. Kamu terjebak dan tidak bisa melewatinya. Tanpa pikir panjang, aku pun memintamu untuk menunggu di ujung jalan jembatan layang itu. Yang sesungguhnya, lumayan jauh dari rumahku. Namun, aku tidak masalah berjalan kaki dalam kondisi hujan. Entah apa yang kupikirkan sore itu.

Hujan semakin deras saja. Di rumah, aku bergegas mengganti sepatu dengan sendal dan membawa payung biruku. Keluargaku tentu saja bingung dengan apa yang kulakukan. Kata mereka,“Mengapa tidak menunggu reda dulu?”. Kujawab saja,“Kita tak tahu kapan hujan ini berhenti. Hujan tidak akan menyakitiku! Hihi.

Aku aneh? Iya, memang. Tetapi, itulah pilihanku. Seseorang pernah mengatakan, bila kita bingung memutuskan sesuatu, ikuti saja kata hati. Sore itu, hatiku memilih untuk tetap pergi. Sederas apapun hujan yang menghantam payung biruku, aku tetap berjalan menuju kamu. Bukankah satu-satunya pengobat rindu adalah temu?

Cerita

Aku tidak menyangka kalau cerita mampu mengabadikan kenangan dalam hati kita. Aku baru menyadari kalau kata-kata yang menyentuh hati akan selalu teringat di dalam hati.

Gedung ini adalah gedung yang sama seperti dua tahun lalu. Yang berbeda hanya aku. Dua tahun lalu aku datang hanya untuk satu urusan dan kemudian pulang tanpa meninggalkan apa-apa. Hari ini berbeda.

Aku datang dengan banyak rasa yang sulit untuk didefinisikan. Aku dan gedung ini tak mempunyai cerita. Namun denganmu tentu semua berbeda. Berkat kamu dan ceritamu, aku merasa begitu ‘akrab’ dengan gedung dan orang di dalam sini. Rasa getir dan nostalgia mencipta sebuah rasa yang aku tak tahu namanya. Entah, sebenarnya aku memang tak tahu, atau hanya pura-pura saja.

Pagi ini gedung dipenuhi oleh banyak orang. Pada awal tahun, semua pekerja diwajibkan datang untuk melaporkan segala harta dan hutangnya. Dan akhir Bulan Maret ini adalah batas akhir pelaporan. Mungkin faktor ini yang membuat gedung ramai sekali. Saking ramainya, kegiatan pun di lakukan di luar gedung. Jadilah di depan gedung dipenuhi oleh meja dan bangku. Mataku langsung tertuju pada petugas yang bertugas. Mereka muda, lincah, dan ceria. Benar katamu, perusahaan ini memang banyak diisi oleh anak muda. Tiba-tiba saja aku teringat ceritamu. Kamu bilang, adalah beruntung divisimu diisi oleh anak muda. Sebab, ide-ide mereka begitu unik dan cemerlang. Contohnya saja acara perpisahan perpindahan karyawan ke luar kota waktu itu. Anak muda menyuruh ‘si yang pindah’ menggunakan toga sebagai tanda perpisahan. Kreatif ya!

Setelah mengamati petugas yang sedang bekerja, tibalah giliranku untuk masuk ke dalam gedung. Aku diarahkan untuk membuat akun. Saat menunggu antrean, aku lagi-lagi memandangi para petugas yang sedang melayani. Tiba-tiba aku membayangkan bagaimana kamu bekerja. Dan aku mengatakan dalam hati, ternyata begini suasana perusahaanmu ketika jam bekerja di mulai.

Antrean tidak begitu panjang dan proses pembuatan akun juga tidak begitu lama. Setelah selesai mendapat akun, aku diarahkan ke lantai dua untuk melakukan pengisian data online. Pada tahapan ini sebenarnya tidak wajib. Aku diberikan sebuah brosur cara melakukan pengisian online. Dan aku boleh melakukannya di rumah. Namun, karena ini adalah pengalaman pertama, maka, aku pun ke lantai dua supaya mendapatkan pengarahan.

Proses pengisian online juga tidak begitu lama. Menurutku, sepertinya aku sedang beruntung. Terbukti setelah aku selesai, di belakangku ada banyak sekali yang sedang mengantre.

Urusan pengisian online selesai. Aku ingin pulang. Saat menuju ke tangga, instingku menyuruh untuk menoleh ke kanan. Di sana ada sebuah kalender. Aku tertarik untuk melihatnya dan kuraih kalender itu. Kalender terdiri dari banyak foto. Pada lembar pertama terlihat pegawai perusahaan divisi pelayanan sedang bergaya bebas dengan senyum lepas.

Setelah puas mengamati, aku membalik kalender ke halaman selanjutnya. Tanganku berhenti pada foto mereka menggunakan seragam biru muda. Lagi-lagi aku mengingat ceritamu. Saat itu kita sedang melihat-lihat baju di salah satu toko. Kita sedang berbincang tentang seragam kerja. “Baju seragamku juga ada yang warnanya mirip kayak baju kamu hari ini. Biru muda. Eh bukan hanya mirip deh. Sepertinya emang seperti ini warnanya.” Langsung saja kutanggapi perkataanmu,”Aku kan juga pegawai perusahaanmu!” Kita pun tertawa bersama. Iya benar, seragam biru pada kalender ini adalah seragam biru yang kita bicarakan waktu itu. Iya, mirip sekali dengan baju biru mudaku! Aku pun menatap lama seragam biru muda pada kalender itu. Orang-orang yang mengenakan seragam itu tersenyum. Aku tidak mengenal mereka, namun aku pun turut tersenyum.

Urusanku sudah selesai. Aku juga sudah puas melihat-lihat foto dalam kalender. Aku pun pulang. Sebelum meninggalkan gedung, aku membaca sebuah pengumuman yang ditempel di dinding. Pengumuan itu berisikan informasi tentang cara memulihkan password akun bila klien lupa.

Mereka mengatakan bahwa kita tidak perlu datang langsung ke perusahaan hanya untuk mengganti password. Kita cukup menghubungi call centre saja. Membaca tulisan call centre membuat aku mengingat ceritamu lagi. Aku ingat betul bagaimana kamu bercerita saat itu. Kamu begitu antusias dan semangat berbagi cerita. Apalagi saat membahas tentang pengalamanmu menjadi call centre dan berhadapan dengan klien yang sok tahu. “Mereka telfon ke call centre cuma mau membuktikan bahwa apa yang diketahui adalah benar adanya. Makanya, mereka nggak akan mau dengerin apapun yang aku kasih tau.” katamu. Kamu bercerita dengan mimik wajah kesal. “Oh iya, temenku ada yang sakit telinga karena terlalu lama di bagian call centre. Kasihan deh.” kamu menambahkan. Seperti biasa, aku selalu senang mendengar ceritamu. Kamu pandai bercerita. Berkatmu, aku bisa membayangkan betapa menjengkelkan klien yang kamu maksud itu :’)

Setelah membaca pengumuman itu, aku segera memotretnya menggunakan kamera gawaiku. Jaga-jaga saja, siapa tahu kelak aku lupa password akunku.

Jantungku tidak berhenti berdegup kencang selama berada di gedung ini. Aku tidak memiliki cerita apa-apa di sini. Namun, karena ceritamu, aku merasa akrab berada di sini. Semua terasa nyata seperti aku menyaksikannya sendiri. Ah, sedang memikirkan apa aku ini. Aku menarik napas panjang dan menghembuskannya kembali. Seketika, hatiku terasa hangat sekali. Ceritamu ternyata benar-benar sudah menyentuh hati.

Pukul Empat Sore

Pukul empat sore adalah waktu kami. Pada waktu tersebut, ia pasti berdiri pertigaan jalan itu sambil tersenyum dan melambaikan tangan.

Berjalan kaki adalah hobi kami. Kami senang menghabiskan waktu dengan berjalan kaki. Sebab, waktu menjadi lebih lama bila kami berjalan kaki. Kami dapat melakukan banyak hal dengan berjalan kaki. Khususnya aku, aku bisa mendengar lebih banyak cerita tentangnya dengan berjalan kaki. Aku bisa lebih lama melihat wajah cerianya dengan berjalan kaki.

Melihat ia tersenyum sambil bercerita adalah pemandangan paling kusukai. Tak ada cerita yang tak istimewa, bila ia yang bercerita. Tak ada suasana yang membosankan, bila bersama dia.

Ia begitu ceria. Ia berjalan ke sana dan ke sini menunjukkan banyak hal menarik untuk diselami. Ia berlari ke sana dan ke sini menunjukkan tempat nyaman untuk kami singgahi. Ia selalu berhasil ‘memaksa’ aku masuk ke dunianya tanpa merasa dipaksa.

Masih pukul empat sore yang sama. Dengan ia yang sama. Namun, di hari yang berbeda.

Ia masih berdiri di pertigaan jalan itu sambil tersenyum dan melambaikan tangan. Kali ini, aku pun turut tersenyum dan melambaikan tangan. Dalam hati kumengatakan,”Kuingatkan. Jangan banyak tersenyum di depanku. Nanti aku sulit lupa. Jangan terlalu banyak melambaikan tangan. Nanti aku tak bisa lupa.

Benar saja. Ketika waktu berkuasa menghentikan semua, aku sulit untuk lupa. Sebab, pukul empat sore begitu bermakna. Dengan atau tanpa dia.

Kita mungkin bisa tidak menyukai perilaku seseorang. Namun, kita tak pernah bisa membenci sebuah kisah yang bermakna. Karena, kisah yang berhasil menyentuh hati, ia akan selalu tertinggal di sana.

Perihal Rasa dan Waktu

Ada yang merasa bingung mengapa rasa dan waktu tidak berbanding lurus. Yang ia tahu, rasa yang begitu dalam selalu dipengaruhi oleh waktu yang lama. Maka, ia pun bertanya padaku dari manakah rasa itu muncul. Padahal keduanya belum terlalu lama bersama.

Aku pun tidak bisa menjelaskan secara rinci bagaimana cara rasa bekerja. Tentang rasa memang terjadi begitu saja. Tak bisa diterka dan direkayasa.

Aku pun berbagi pengalaman. Aku mengatakan padanya, pengamatan yang begitu dalam pada seseorang, ternyata bisa menumbuhkan rasa secara perlahan. Maka, hati-hati dalam memperhatikan. Sebab, dari sanalah biasanya rasa dimulai.

Aku memahami hal ini beberapa tahun yang lalu ketika tanpa sadar memperhatikan seseorang.

Aku memperhatikan bagaimana ia memperlakukan orang lain. Aku memperhatikan bagaimana ia memandang setiap hal. Aku memperhatikan bagaimana ia menggunakan waktu untuk orang lain. Aku memperhatikan bagaimana ia menempatkan diri diberbagai situasi.

Dulu sekali, aku mengira yang menumbuhkan rasa hanya rupa dan kenyamanan. Waktu pun menunjukkan, mengamati kebaikan seseorang ternyata mampu membuat bibir ini tersenyum simpul. Mengamati kebaikan seseorang ternyata mampu membuat diri ini merasa nyaman. Mengamati kebaikan seseorang ternyata mampu menumbuhkan rasa.

Semoga saja kebingungan yang ia rasakan terjawabkan. Mengapa rasa dan waktu tidak berbanding lurus, menurutku, semakin kita mengamati, maka semakin banyak pula kita mengenal. Semakin kita mengamati, semakin lapang hati kita dalam menerima kelebihan dan kekurangan. Dan semakin kita mengamati, semakin banyak pula rasa yang ada.

Perihal rasa, tidak hanya tentang berapa banyak waktu yang dihabiskan bersama. Melainkan tentang bagaimana kita memaksimalkan waktu untuk saling mengamati apa-apa yang ada pada kita. Hingga akhirnya hadir sebuah kesyukuran atas sebuah pertemuan.

Pagi Hari

Aku suka berjalan kaki di pagi hari.

Pepohonan rindang, langit yang jernih, dan udara yang sejuk bisa membuat aku bahagia.

Pagi itu, keadaannya seperti itu.

Bagaimana bisa aku tidak bahagia?

Esoknya, aku putuskan untuk berjalan kaki di pagi hari lagi.

Kekhawatiranku tentang hujan yang tiba-tiba dan kemudian petir yang menyambar sirna setelah aku menemukan pagi yang membahagiakan itu.

Pikirku, untuk apa takut pada sesuatu yang belum terjadi? Daripada tenggelam pada kekhawatiran yang belum terjadi, bukankah lebih baik menikmati?

Akhirnya, aku memberanikan diri untuk berdiri dan kemudian berjalan lagi.

Aku menanti indahnya pagi di hari lain.

Aku menanti kejutan apa yang akan terlihat nanti.

Aku menanti pemandangan pagi yang tak bosan kusyukuri.

Aku tak mengkhawatirkan pagi lagi.

Sebab, pagi akan tetap indah meskipun hujan. Pagi akan tetap membahagiakan hati meskipun tiba-tiba petir datang.

***

Dan apa kau tahu?

Berkat hujan dan petir, aku menjadi lebih menghargai pagi. Berkat hujan dan petir, aku menjadi lebih mensyukuri bahwa pagi yang cerah memang indah.

Pagi memang tak selalu cerah tanpa hujan dan petir. Kala hujan dan petir datang, memang akan menganggu hariku sebentar. Namun, menunggu hingga reda atau menggunakan payung bisa menjadi pilihan. Lagi pula, hujan dan petir yang datang sebentar tidak mengubah fakta pagi yang cerah membahagiakan. Pagi yang cerah tetap saja merupakan hal yang mampu membuat hati bahagia, kan?

Dan akhirnya aku menyimpulkan. Ketika siap merasakan hal membahagiakan, sebaiknya aku menyiapkan pula segala kemungkinan yang meremukkan. Sebab, sebaik-baiknya persiapan adalah kesadaran bahwa ‘setiap kejadian selalu ada masanya’.

***

Aku berjalan kaki lagi.

Aku suka pagi hari.

Tak apa bila hujan dan petir datang tiba-tiba.

Ada payung diranselku.

Jika petir terlalu menyeramkan untuk menjadi teman berjalan kaki,

Ada banyak tempat untuk berteduh.

Rumah biru di pojok itu, misalnya.

Bagaimana keadaan nanti yang tak mampu kuprediksi, pagi hari yang cerah tetap membahagiakan.

Mudahkan Dirimu

Aku telah lama berkelana.

Berjalan melewati jalan setapak tanpa hiasan apa-apa di kanan kiri.

Berlari melewati tanjakan hingga napasku tersengal.

Berlari melewati turunan hingga aku tertawa kegirangan.

Berloncat-loncat pada perbukitan itu.

Beristirahat sejenak dan meneguk banyak air dari botol yang kuraih dari ranselku.

Berbaring di padang rumput sambil menatap indahnya langit malam.

Berteduh dipinggir rumah warga sambil mendengarkan rintik hujan.

Bertegur sapa dengan kawan baru.

Bercengkrama dengan kawan seperjalanan.

Tergelincir tanah basah di musim hujan.

Dan terjatuh tersandung kerikil jalan.

Semua pengalaman itu membuat kita semakin tangguh dan kuat, kan?

***

Aku telah lama berkelana.

Bila terjatuh, aku hanya perlu berdiri lagi.

Bila terjerembab, aku hanya perlu mencari sesuatu untuk bergantung dan bersandar.

Bila tergelincir, aku hanya perlu bangkit kembali.

Aku tahu apapun tak akan bersemayam lama.

Aku tahu apapun sifatnya hanya sementara.

Sebuah rasa sakit kelak akan hilang jua.

Sebuah luka kelak akan sembuh jua.

Sebuah kesulitan kelak akan mudah jua.

Sebuah ketakutan kelak akan hilang jua.

Setiap kejadian tidak akan terjadi selamanya, kan?

Seburuk dan sesakit apapun itu, setiap kejadian pasti terbaik untuk kita, kan?

***

Manusia tercipta untuk berjuang.

Berjuang membuktikan pada-Nya.

Berjuang melawan ego.

Berjuang menjadi sebaik-baiknya hamba.

Lewati saja semuanya.

Hadapi saja semuanya.

Diantara dua pilihan, pasti ada satu yang baik.

Pilih itu saja.

Mudahkan dirimu menjalani skenario Tuhan ini, ya?

Berdoa Saja

Aku berusaha mencari tahu. Sebab aku menyadari, ‘dalam hal ini’ aku benar-benar tidak mengerti.

Aku seperti kehilangan empat tahun masa mudaku. Ah, seperti drama korea 30 but 17 saja. Singkat cerita, drama tersebut menceritakan tentang seseorang yang bangun dari koma. Ia mengalami kecelakaan pada usia remaja. Dan koma selama belasan tahun. Hingga akhirnya, ia terbangun pada usia 30 tahun. Bisa membayangkan tidak bagaimana kondisinya? Saat bangun pasti ia bingung sekali. Wajahnya berubah menjadi dewasa. Tanggung jawab pun sudah menunggu di depan sana. Padahal ia merasa, baru saja memejamkan mata. Ia merasa baru saja bangun dari tidur siangnya. Ia pun tak tahu apa-apa. Ia bingung dan tak tahu harus memulai dari mana.

Aku tidak mengalami koma seperti drama korea itu. Tapi aku seperti melewatkan kesempatan melakukan kekeliruan. Aku seperti melewatkan kesempatan untuk memikirkan diriku sendiri. Aku seperti melewatkan kesempatan untuk membahagiakan diri sendiri. Bersikap terlalu berhati-hati ternyata tak baik. Bersikap terlalu takut membuat kekeliruan ternyata tak baik. Yang berlebihan dan terlalu memang tak baik.

Aku berada pada lingkungan yang begitu baik saat itu. Tidak ada egoisme. Hanya ada toleransi dan kebijaksanaan. Semua orang berusaha memudahkan urusan orang lain. Semua orang berusaha mendahulukan kepentingan orang lain. Semua tidak hanya memikirkan dirinya sendiri. Aku bersyukur sekali diberikan kesempatan itu.

Aku melihat banyak teladan baik di sana. Bagaimana mungkin aku tidak belajar lebih cepat? Bagaimana mungkin aku tidak mendewasa lebih cepat? Aku belajar banyak hal disana. Namun ternyata, ada beberapa hal tentang ‘kebutuhan diriku sendiri’ yang terlewatkan.

Aku akan menyebutnya ‘dalam hal ini’ saja. Tak apa ya, aku tidak menjelaskan dengan rinci apa yang dimaksud dengan ‘dalam hal ini’. Tulisan ini tidak akan menceritakan tentang itu.

‘Dalam hal ini’, aku benar-benar tidak tahu. Entah karena lupa atau memang aku tak memiliki pengalaman itu. Rasanya seperti, aku baru belajar jalan dan tak tahu tahapan jalan seperti apa yang seharusnya kulakukan. Aku baru belajar bicara dan tak tahu kosa kata apa yang seharusnya kukatakan. Aku baru belajar merasakan dan tak tahu sesungguhnya rasa apa yang sedang kurasakan ini. Otakku seperti lupa bagaimana cara mengingat memori cara berjalan, cara berbicara, dan cara merasa. Benar-benar sesulit itu.

Ini tak mudah. Maka, aku bertanya pada mereka yang kuanggap lebih tahu. Aku mempercayai mereka. Aku berterima kasih. Meskipun merasa aneh dengan cara otakku bekerja ‘dalam hal ini’, mereka tetap mengajariku perlahan-lahan. Dan aku terperangah dibuatnya. Hanya kalimat, “oh begitu”, “ternyata begitu”, “haruskah seperti itu?”, hingga akhirnya aku pun mengatakan “baiklah, aku akan mempertimbangkannya”, pada mereka. Aku akan mempertimbangkan dan memikirkannya, sungguh.

Namun, pada akhirnya, sebanyak apapun aku mencari tahu, tak akan pernah cukup. Pada akhirnya, aku pun menyadari, ketidaktenangan tak akan pernah hilang. Hingga Allah memberikan keyakinan pada hati. Maka, ketika pikiran dan hati tidak terhubung dengan baik dan ketika suatu perkara begitu membingungkan, berdoa saja. Berdoa yang banyak. Berdoa lagi. Berdoa terus. Pada-Nya.

Terima kasih Malam, Langit, dan Hujan

Tempat paling menyenangkan ketika ingin mengembalikan energi adalah duduk di teras rumah. Suasana yang paling kusukai adalah ketika malam tiba. Hujan ataupun tidak bagiku sama saja. Sama-sama indah.

Malam ini hujan. Udara dingin kurasakan. Tapi aku tak membutuhkan pakaian tebal untuk menghangatkan badan. Aku menyukai udara dingin malam ini.

Aku menatap lama langit. Tak ada bintang. Hanya ada hamparan warna hitam pekat disana. Tapi tak apa, aku tetap menyukai langit meskipun tanpa bintang. Menatapnya membuatku mengingat-Nya. Mengingat-Nya membuat hatiku tenang. Ketenangan membuat keadaanku menjadi lebih baik.

Ada kalanya kau tak mengerti dengan skenario yang sedang terjadi. Ada kalanya mulut tak ingin berbicara dan otak tak ingin berpikir terlalu dalam. Ada kalanya kau tak ingin berharap pada suatu hal. Ada kalanya kau hanya ingin menikmati segala skenario Tuhan. Ada kalanya kau hanya ingin memberi dan menerima kebaikan. Sungguh, semua dilakukan bukan tak punya keinginan atau harapan. Akan kuberitahu satu rahasia kecil. Ada satu keadaan dimana seseorang akan menunggu dan berserah sepenuhnya ketika telah melalui banyak jalan perjuangan. Mungkin, saat ini aku dalam keadaan itu.

Menikmati malam, langit, dan hujan. Mengembalikan energi untuk melanjutkan perjalanan. Mensyukuri keindahan alam dengan mengamati lebih dalam. Menumpahkan pikiran dalam tulisan. Memasukkan rasa dalam kata-kata. Dan kembali diingatkan, bila kehidupan begitu sulit untuk dimengerti, tak mengapa mengambil jeda sejenak. Seringkali ‘jeda’ membuatku lebih mudah mengerti keadaan dan kembali berbaik sangka. Ketentuan Tuhan selalu terbaik. Semua tergantung bagaimana aku menyikapinya.

Terima kasih malam, langit, dan hujan. Terima kasih telah membantuku mengambil ‘jeda’. Kini aku siap melanjutkan perjalanan.

Aku Begitu Ingin Tersenyum

Aku melihat sebuah harapan disana. Hanya dengan melihatnya, aku merasa aman.

Aku melihat sebuah kenyamanan disana. Hanya dengan melihatnya, hatiku merasa tentram.

Aku melihat sebuah keterbukaan disana. Hanya dengan melihatnya, aku ingin berbagi apapun jua.

Aku melihat sebuah kepedulian disana. Hanya dengan melihatnya, aku ingin bersandar untuk waktu yang lama.

Aku melihat sebuah keyakinan disana. Hanya dengan melihatnya, aku tahu semua akan baik-baik saja.

Aku melihat sebuah kepercayaan disana. Hanya dengan melihatnya, aku merasa mampu untuk melaju.

Aku melihat kasih sayang disana. Hanya dengan melihatnya, aku ingin mengadu dan menangis.

Aku melihat kebahagiaan disana. Hanya dengan melihatnya, aku begitu ingin tersenyum dan bersyukur.

Dan hatiku berkata,“Terima kasih Allah untuk skenario kehidupan yang tak terduga, namun selalu memiliki akhir yang begitu indah. Aku akan menjalani hidup dengan baik. Aku akan berusaha menjadi manusia yang lebih baik lagi. Semoga Allah meridhoi.”