Drama Keluarga My Golden Life

Sumber: Asianwiki.com

 ​

Drama My Golden Life sangat sarat makna. Drama ini menceritakan tentang kebersamaan dalam keluarga. Kebersamaan yang penuh dengan kisah menyenangkan dan menyakitkan, proses penyembuhan dan penerimaan, proses berjuang untuk bangkit kembali, dan proses untuk memaafkan. Tidak hanya tentang keluarga. Namun, juga menceritakan tentang problematika tiap anggota keluarga. 

Drama ini menunjukkan bahwa selalu ada harapan untuk orang-orang yang berusaha dan berjuang. Selalu ada harapan untuk orang-orang yang berbaik sangka dan bersabar terhadap kehidupan 🙂

Drama My Golden Life begitu menyentuh hati dan pikiran saya. Maka, saya akan berbagi beberapa pelajaran yang didapatkan:

1. Keluarga adalah harta yang paling berharga yang dimiliki oleh setiap individu. Betapa tidak sempurna diri atau bahkan betapa tidak baiknya diri ini, keluarga akan selalu menerima dan memaafkan.

Anggota keluarga hanyalah manusia biasa. Yang memiliki kesalahan, kekeliruan, keegosisan, dan ketidaksempurnaan. Jadi, jangan melulu menyalahkan. Sebab, kita hanyalah kumpulan beberapa orang yang banyak kekurangan dan keterbatasan. Maka, mari saling menerima, menghargai, dan menjaga perasaan. Hanya keluargalah yang dapat menerima, memaafkan, dan memberikan kesempatan. Karena, bersama keluarga kita akan baik-baik saja. Menghadapi semuanya bersama-bersama. Dengan berjalan beriringan dan bergandeng tangan.

2. Betapa kuat dan tegar seorang ayah, tetaplah manusia biasa. Meskipun selalu tersenyum dan tidak pernah mengeluh, seorang ayah hanya seorang manusia. Yang ingin ditanya apakah dalam keadaan baik-baik saja. Yang ingin dijaga perasaannya. Yang ingin dihormati. Yang juga ingin dipedulikan dan diperhatikan.

Ayah juga bisa bersedih dan merasa sakit. Maka, jaga selalu perkataan dan perbuatan kita. Khususnya bagi seorang anak. Betapa pun kita kecewa dan marah terhadap keadaan, bukan berarti kita berhak melampiaskan. Hanya karena tugas ayah adalah untuk melindungi, bukan berarti kita pantas menyalahkan dan menyudutkan. Ayah hanya manusia biasa. Sama seperti kita.

3. Betapa tidak tepat pilihan Ibu menurut pandangan kita, tentu semua yang dilakukan demi kebaikan anak-anaknya. Maka, maafkan dan berusaha mengetahui alasan dibalik tindakan yang dilakukan. Berhentilah untuk menyalahkan. Karena, orang yang rela mengorbankan diri hanya untuk kebahagiaan anak adalah ibu. Ibu rela melakukan apapun demi anaknya.

4. Jangan pernah menyembunyikan sesuatu dari saudara kandung. Percaya atau tidak, berbagi cerita dengan saudara sungguh akan meringankan beban. Orang yang tumbuh bersama dengan kita adalah saudara. Saudara pula yang berkontribusi besar atas perubahan diri ini menjadi lebih baik. Maka, mereka akan memahami keadaan kita dengan baik. Berbagilah.

5. Keadaan sulit benar-benar dapat membuat manusia jatuh dan tak akan bisa bangkit. Maka, jangan pernah kita menahan, menanggung, dan membawa beban itu sendiri. Kita harus memiliki tempat untuk bersandar. Kita mempunyai keluarga dan sahabat. Berbagi saja semua rasa suka dan duka. Mereka memang tidak secara langsung dapat membantu meringankan beban yang sedang kita bawa. Namun, paling tidak, beban di hati dan pikiran akan menjadi lebih ringan. Sehingga kita dapat bangkit dan menata hidup kembali.

Jangan menanggung semuanya sendiri. Kita bukan Rasul. Bahkan, manusia sempurna seperti Rasul saja membutuhkan Allah, keluarga dan sahabat disisinya, kan? Apalagi kita?

6. Jangan memaksakan standar orang-orang di luar menjadi standar kita. Jangan menjadikan prinsip hidup orang lain menjadi prinsip kita. Ini adalah kehidupan kita. Kita harus mengenal diri dengan baik. Kita harus menentukan prinsip. Supaya betapa pun beratnya standar masyarakat mengelilingi, kita bisa dengan kuat menghadapi.

Pahami apa yang disukai dan tidak. Pahami hal yang nyaman di hati dan tidak. Sehingga, masalah apapun yang datang, tak akan bisa meruntuhkan.

7. Uang bukanlah segalanya. Uang bukan menjadi penentu kebahagiaan. Menjalani kehidupan memang membutuhkan uang. Namun, percayalah, supaya hidup dengan baik, bukan uang sebanyak itu yang dibutuhkan. Gunakanlah uang secukupnya sesuai kebutuhan.

Kenali untuk apa kita hidup. Apakah yang kita lakukan bermanfaat untuk banyak orang. Apakah yang kita lakukan bebar-benar yang kita inginkan. Apakah yang kita lakukan benar-benar membuat nyaman dan senang. Apakah yang kita lakukan benar-benar bukan hal yang akan kita sesali semata. Jadi, pilihlah suatu hal sesuai hati nurani. Insya Allah kita tidak akan menyesal.

8. Kegagalan bukan suatu akhir kehidupan. Kita hanya perlu bangkit dan berlari lagi. Menyesal sama sekali bukan masalah. Kegagalan juga sama sekali bukan masalah. Yang menjadi masalah adalah ketika kita tidak mau berusaha. Berusahalah. Hingga keletihan letih untuk mengejarmu.

9. Mencintai seseorang bukan tentang keharusan memilikinya. Mencintai seseorang bukan tentang dia harus memenuhi segala yang kita inginkan. Mencintai seseorang, juga bukan tentang diri ini yang harus diprioritaskan.

Mencintai seseorang adalah tentang sejauh apa kita mengenal dirinya. Sehingga memudahkan jalan agar dia mencapai mimpinya. Sehingga mengerti kondisi dan alasan mengapa jalan itu yang menjadi pilihannya. Sehingga memahami lingkungan, bahwa jika keadaan menentang dan tidak memungkinkan, bersama bukanlah sebuah pilihan. Jika kebersamaan hanya membuat banyak pihak tersakiti, bersama bukanlah sebuah pilihan. Bersabarlah. Biarlah waktu yang memberikan jalan.

Saat ini, drama sedang berlangsung. Sudah sampai episode 48. Total episodenya adalah 50. Semoga akan menambah pemahaman, kebijaksanaan, dan pelajaran di episode akhir nanti  🙂

Advertisements

Cerita: Memasak Egg Roll 

Masak lagi, yeay!

Ketika mama harus menghadiri acara di luar rumah dalam jangka waktu yang lama, kami (saya dan Yuniar) selalu bertugas memasak lagi di rumah. Sebenarnya bisa saja kami membeli makan di luar, namun pengeluaran tentunya akan lebih besar. Oleh karena itu, kami memutuskan untuk memasak.

Tukang sayur keliling adalah penyelamat kami ketika memutuskan memasak di rumah. Kalau belanja di pasar, kami tidak bisa membeli bahan makanan dalam jumlah sedikit. Kami juga belum ahli membeli bahan makanan di pasar. Selain itu, berbelanja di tukang sayur keliling juga sangat memudahkan. Disana, semua bahan makanan sudah diatur dan dibungkus. Jadi, kami tinggal memilih saja bahan makanan yang diperlukan. Harganya pun murah.

Saat berbelanja, kami menyadari, menjadi ibu tidak hanya tentang pandai memasak saja. Namun, juga harus pandai mengatur keuangan. Harus mampu menyeimbangkan antara rencana memasak dengan keuangan. Jangan sampai pengeluaran berbelanja melebihi budget memasak hari itu.

Sebelum memasak, kami menuliskan beberapa bahan yang diperlukan. Yang tidak boleh dilupakan, menyusun bahan yang diperlukan harus disesuaikan pula dengan budget. Hal tersebut dilakukan supaya proses berbelanja dan penggunaan waktu lebih efektif dan efisien. Meminimalisir berbelanja di luar rencana juga.

Bahan yang diperlukan membuat egg roll sangat sederhana, yaitu: 

1. Telur enam butir

2. Bihun satu (Sesuai selera. Namun, jangan terlalu banyak. Supaya bihun terbalur dengan telur)

3. Wortel dua buah

4. Satu buah daun bawang.

Untuk bawang merah dan bawang putih, Alhamdulillah masih ada di rumah. Lumayan mengurangi pengeluaran 😀

Proses masak pun dimulai dengan pembagian tugas. Saya menyiapkan bumbu untuk menumis sayur taoge, telur dadar, dan tempe balado, memotong tempe (pada postingan ini tidak dibahas ya cara membuatnya :D), menumis sayur taoge, dan memasak tempe balado. Lalu, tugas Yuniar merebus bihun, memotong wortel, membuat adonan telur dadar, dan memasak telur dadar.

Ternyata, ide dapat muncul selama proses memasak loh! Yang awalnya ingin memasak telur dadar biasa, tiba-tiba Yuniar menyarankan agar membuat egg roll. Dan saya pun menyetujuinya. Egg roll adalah telur yang dimasak dengan digulung lalu dipotong-potong. Kalau kamu sering menonton drama korea, pasti sudah terbayang egg roll yang saya maksud 😀 Penasaran? Yuk, saya beritahu bagaimana cara membuatnya.

Berikut cara memasak egg roll:

1. Potong wortel dan daun bawang dengan ukuran kecil dan tipis. Tujuannya, supaya wortel dan daun bawang cepat matang saat digoreng.

2. Rebus bihun hingga lembut. Caranya, panaskan air, lalu tuangkan air panas ke dalam wadah yang sudah terisi bihun. Tuangkan sedikit minyak goreng ke dalam wadah tersebut. Tujuannya, supaya bihun tidak lengket dan tidak saling menempel antar bihun. Aduk hingga bihun lembut (bihun akan lembut dalam waktu dua menit saja, maka hati-hati jangan merebus terlalu lama. Nanti bihun akan menjadi lunak sekali). Lalu, sisihkan dan letakkan bihun di wadah kering.

3. Haluskan bumbu telur. Bumbu yang digunakan adalah tiga buah bawang merah, garam, dan sedikit royco. (Jika menyukai makanan pedas, dapat tambahkan cabai dan lada).

4. Siapkan satu wadah kosong. Lalu, masukkan wortel, bihun, telur, dan bumbu. Aduk rata seluruh bahan dan pastikan telur membaluri seluruh bahan-bahan tersebut.

5. Panaskan teflon dengan api kecil. Tuangkan sedikit adonan telur. Ratakan adonan telur di atas teflon. Diamkan hingga telur berwarna kuning. Dalam keadaan setengah matang, gulung telur perlahan hingga telur terlipat. Jika ingin gulungan telur lebih tebal, gulung setengah saja. Lalu, tambahkan lagi adonan di atas teflon. Kemudian, gulung kembali. (Pastikan menggulung dalam keadaan setengah matang. Sebab, jika keadaan telur terlalu matang, telur tidak akan bisa digulung).

6. Diamkan telur hingga matang.

7. Setelah matang, potong telur menjadi beberapa bagian. Ukuran sesuai selera. Kalau Yuniar, memotong telur dengan ukuran sedang.

8. Hidangkan. Menikmati egg roll dalam keadaan hangat lebih nikmat 😀

Saran:

1. Untuk isian telur, dapat dikreasikan sesuai selera. Namun, ukuranlah yang perlu diperhatikan. Potong semua bahan dalam ukuran kecil dan tipis supaya memudahkan dalam proses menggulung.

2. Memasak harus dengan api kecil. Agar mudah mengontrol kematangan telur untuk digulung.

3. Menggunakan dua telfon lebih baik. Proses mematangkan telur sambil menggulung, akan membuat proses memasak lebih lama. Jika yang menggoreng telur lebih dari satu orang lebih baik.

4. Jika ingin memasak egg roll untuk hidangan keluarga, lebih baik dipersiapkan di awal waktu. Sebab, proses membuat egg rol membutuhkan waktu yang cukup lama. Kasian sekali jika keluarga besar harus menunggu terlalu lama dalam keadaan lapar.

Sekian pengalaman memasak egg roll saya dan Yuniar. Semoga informasi memasak egg roll ini bermanfaat 😀

Rasanya enak. Percampuran rasa telur yang empuk dengan sayur dan bihun, membuat cita rasa menjadi tidak biasa. Jika ingin memasak makanan dengan bahan sederhana, hidangan egg roll ini boleh dicoba!


Juga cocok untuk makanan balita! Satria aja bolak-balik menyantap makanan ini 😉

Membuat Kartu Kuning

dKSeP6aW97R6t9AT8WDANJDA.jpg
Sisi Belakang Kartu Kuning. Informasi dari kartu tersebut, kalau sudah mendapat pekerjaan, jangan lupa menghubungi pihak pemerintah bagian ketenagakerjaan. Nomornya tertera disana. Jangan lupa ya!


Kemarin, saya ke Balaikota Depok. Ada keperluan membuat Kartu Tanda Pencari Kerja. Kartu tersebut lebih dikenal dengan sebutan Kartu Kuning. Bagi yang belum tahu, kartu kuning adalah satu lembar kartu berwarna putih (loh kok warnanya tidak kuning? Begini, katanya dulu warna kartu tersebut kuning. Sekarang sudah diganti :D) yang isinya biodata, pendidikan terakhir, pengalaman bekerja, dan terdapat nomor kartu kuning. Kita biasanya membutuhkan kartu kuning untuk melengkapi berkas saat melamar kerja di perusahaan milik pemerintah. Padahal, kartu kuning sebenarnya program pemerintah agar setiap warga mudah mendapatkan pekerjaan dan mengurangi jumlah pengangguran. Program pemerintah juga agar mengetahui jumlah warga yang belum mendapat pekerjaan.

Informasi yang saya dapat dari website pemerintah Kota Depok, ternyata kantor pemerintahan setiap daerah bekerja sama dengan beberapa perusahan negeri dan swasta untuk membantu warga untuk mencari pekerjaan. Jadi, nanti warga dihubungi oleh pihak pemerintah kalau ada lowongan pekerjaan yang sesuai dengan pendidikan kita. Nah, melalui data kartu kuning ini nanti tiap warga dihubungi kalau ada lowongan pekerjaan. Itulah manfaatnya mengapa kita harus membuat kartu kuning, agar data kita tercatat oleh pemerintah.

Saya juga baru mengetahui informasi ini. Sebelumnya, saya mengira kartu kuning hanya dibutuhkan untuk melengkapi berkas pendaftaran tes CPNS saja. Entahlah, saya yang kurang update berita atau pemerintah daerah juga kurang sosialisasi tentang kartu kuning ini. Mungkin, kedua alasan itu benar.

Berikut berkas-berkas yang dibutuhkan untuk membuat kartu kuning:

1. Ijazah terakhir (nanti dikembalikan, hanya untuk pendataan saja)

2. KTP (nanti juga dikembalikan)

3. Foto berwarna ukuran 3×4 (dua lembar)

Yang perlu dilakukan di Balaikota Depok:

1. Datang ke gedung ketenagakerjaan. Di sekitar Balaikota ada banyak sekali satpam, dishub, dan tukang kebun. Kalau bingung, jangan sungkan bertanya kepada mereka 🙂

2. Datang ke bagian pelayanan kependudukan. Di dalam ruangan tempat pelayanan Kartu Kuning, ada banyak loket. Disana tidak hanya mengurusi kartu kuning. Semua hal tentang kependudukan (KTP, Akte Kelahiran, Kartu Keluarga, Surat Pindah, dan lain sebagainya) diurus di ruangan itu juga. Jadi, tidak perlu bingung jika di dalam ruangan ramai sekali. Tanyakan saja pada petugas yang memberikan nomor antrean. Saat saya datang, loket pembuatan Kartu Kuning ada di sisi kiri pintu masuk dan tidak ramai. Jadi, saya bisa langsung menyerahkan syarat berkas-berkas.

3. Mengisi formulir. Formulir berisi tentang biodata, pendidikan terakhir, gaji yang diharapkan, pengalaman bekerja. Format formulirnya kurang lebih sama dengan formulir-formulir saat kita melamar pekerjaan. Namun, lebih singkat.

4. Menunggu Kartu Kuning dibuat (kurang lebih 10 menit saja).

5. Photo Copy kartu untuk dilegalisir. Saya Photo Copy di dekat gedung ketenagakerjaan. Letaknya di sisi kanan gedung, dekat parkiran. Kalau ingin photo copy di luar boleh saja. Tapi, tentunya tidak efektif. Karena akan membutuhkan waktu lebih lama.

6. Legalisir kartu oleh petugas.
Pembuatan Kartu Kuning tidak dikenakan biaya apapun. Biaya dibutuhkan hanya untuk photo copy saja.

Begitu pengalaman saya membuat Kartu Kuning. Membuat Kartu Kuning ternyata mudah dan cepat. Semoga bermanfaat 😀

Cerita: Mengajari Anak Mewarnai

Pada baris pertama adalah contoh yang saya berikan. Pada baris kedua adalah karya Satria 🙂

Teman Satria bermain di rumah adalah ayah dan Danang. Mungkin karena sesama laki-laki, bermain dengan mereka menyenangkan bagi Satria. Permainan sederhana seperti gendong-gendongan, lari-larian, atau saling meniban badan. Entahlah nama permainan tersebut dalam bahasa baku apa. Yang jelas permainan mereka melibatkan banyak kekuatan otot 😀

Alhamdulillah, hari ini berhasil mengajari Satria mewarnai. Dulu sekali Satria pernah dikenalkan dengan gambar dan krayon. Sudah lama kami tidak mengajarinya lagi. Kini, saat Satria sudah berusia 4 tahun dan kami baru memberikan pengalaman mewarnai lagi. Iya, kami terlambat. Tetapi, lebih baik terlambat daripada tidak kan?

Tahapan pertama adalah saya membuat tiga bentuk bangun datar yaitu, lingkaran, persegi, dan segitiga pada kertas ukuran A4. Dalam kertas tersebut saya menggambar enam gambar. Tiga gambar untuk Satria dan tiga gambar untuk saya. Kemudian saya mencontohkan cara mewarnai. Kami mewarnai bersama. Hasil pengamatan saya, Satria belum terbiasa menggunakan jari-jari untuk memegang krayon. Otot-otot tangannya belum adekuat. Sehingga mudah lelah. Dari awal mewarnai, Satria mengeluh bahwa tangannya sakit. Mungkin yang dirasakannya adalah pegal bukan sakit. Dia meminta untuk berhenti dan tidak  menyelesaikannya. Namun, saya dan Yuniar tidak menurutinya.

Selama proses mewarnai berlangsung, ketika itu juga dia merajuk supaya istirahat. Saya tetap menemaninya mewarnai dan memotivasi agar segera menyelesaikannya. Setelah saya selesai, saya membantu menunjukkan area yang masih perlu diwarnai kepada Satria. Alhamdulillah, meskipun mengeluh, Satria tetap menyelesaikan mewarnai bentuk lingkaran, segitiga, dan persegi. Dan setelah selesai, wajahnya tampak senang sekaligus kelelahan 😀

Tahapan kedua, Satria mewarnai gambar sapi, pohon, langit, dan jalanan yang dibuat oleh Yuniar. Saat gambar selesai dibuat, saya menanyakan beberapa pertanyaan untuk identifikasi gambar tersebut. Saya menunjuk gambar dan Satria menyebutkan namanya. Dia berhasil mengenali Sapi, pohon, dan jalanan. Namun, tidak berhasil menebak langit. Mungkin gambar Yuniar terlihat membingungkan? Hahaha entahlah. Sesungguhnya, Satria memang belum mengenal kata ‘langit’. Yang dia tahu adalah awan.

Saya memberikan kesempatan agar Satria memilih gambar yang lebih dulu diwarnai. Saya dan Yuniar juga membebaskan Satria memilih warna yang disukai. Akhirnya, Satria memilih mewarnai Sapi dengan krayon hijau muda. Dia berhasil mewarnai satu ekor sapi. Saya dan Yuniar mewarnai sisanya. Setelah menyelesaikannya, Satria melanjutkan dengan mewarnai jalanan.

Titik jenuh dan kelelahan Satria memuncak saat mewarnai jalanan. Sebab, jalanan yang digambar Yuniar lumayan panjang. Jadi, mewarnainya membutuhkan waktu yang lama. Frekuensi Satria mengeluh menjadi lebih banyak. Dan saya pun jadi lebih sering memotivasinya, seperti, “Ayo dek semangat. Itu masih ada putih-putihnya. Sebentar lagi kan selesai. Ini mbak bantuin loh.” saya menyemangati terus seperti itu. Akhirnya jalanan selesai diwarnai. Alhamdulillah. Berakhirnya mewarnai jalanan, berakhir pula belajar mewarnai hari ini. Satria sudah kelelahan. Namun, langitnya belum diwarnai. Dilain kesempatan, Satria akan melanjutkan lagi, Insya Allah.

Sapi hijau yang di tengah dan jalanan yang berwarna merah dan hijau adalah karya Satria 😀


Hal-hal yang perlu mendapat perhatian
:

1. Kekuatan otot tangan Satria belum kuat

Kemampuan motorik halusnya masih perlu ditingkatkan. Satria memang sudah bisa melakukan beberapa kemampuan motorik halus seperti memasukkan dan melepaskan kancing baju, memutar tutup botol minum, membalik satu lembar kertas, mengupas kulit telur puyuh, membuka botol yang dapat dibuka tutup, menggunakan sendok dan garpu, dan mewarnai menggunakan krayon. Namun ternyata, Satria belum bisa bertahan melakukan kegiatan tersebut dalam waktu lama. Hal itu terjadi karena otot-otot tangan belum kuat. Sehingga ototnya mudah lelah jika digunakan dalam waktu lama. Satria perlu latihan lagi agar ketahanan otot jari-jari meningkat 😉

2. Mengajari anak usia 4 tahun keterampilan baru butuh usaha besar dilakukan

Anak pada usia ini sudah bisa bernegosiasi sesuai dengan hal-hal yang menguntungkan dan menyenangkan. Anak akan memiliki banyak akal untuk tidak melakukan dan menghindari kegiatan yang tidak menyenangkan baginya. Satria sangat senang bermain mobil-mobilan dan menonton kartun di channel rtv. Jadi, minatnya lebih besar pada kegiatan itu. Untuk kegiatan lain, Satria belum memiliki minat yang besar.

Orang-orang disekitar harus memiliki upaya yang besar dan konsisten jika ingin menstimulasi kemampuan anak. Agar perkembangan sesuai dengan anak normal seusianya. Mudahkah melakukannya? Tentu tidak, namun pasti bisa.

3. Kemampuan anak harus distimulasi dan difasilitasi

Anak tidak akan tumbuh dan berkembang dengan sendirinya. Butuh stimulasi dan fasilitasi agar kemampuannya berkembang.

Untuk motorik kasar Satria, berkembang cukup pesat. Alhamdulillah, Satria sudah mampu berlari, berjalan mundur, berjalan ke samping, lompat dua kaki, lompat satu kaki, memanjat, berputar, bermain bola, menjaga keseimbangan, mengendarai vespa ukuran kecil dengan kecepatan cepat, mengendarai mobil-mobilan kecil dengan kecepatan super cepat, dan naik sepeda roda tiga. Mengapa Satria berkembang pesat pada motorik kasarnya? Sebab, keluarga memberikan kebebebasan kepada Satria untuk bermain di halaman rumah. Satria juga dibolehkan berlarian dan bermain disana bersama teman-teman. Jika Satria ingin menaiki kursi atau motor, kami juga membolehkan. Namun, kami tetap mengawasi dari jarak dekat untuk memastikan Satria dalam keadaan aman. Memiliki saudara laki-laki juga memberikan kontribusi terhadap perkembangan motorik kasar Satria. Kehadiran Mas Danang sangat membantu meningkatkan perkembangan Satria.

Untuk kemampuan motorik halus Satria, memang harus ditingkatkan lagi. Sebab, kami jarang memberikan stimulasi dan fasilitasi melakukan keterampilan tangannya. Maka, wajar sekali kini Satria belum terbiasa dan merasa tidak mudah melakukannya. Semoga kelak kami bisa lebih sabar dan telaten untuk mengajarinya.

Lagi-lagi saya menyebutkan, mengajari anak itu seperti mengukir tulisan pada kertas putih kosong. Bagaimana kita menjaga kertas agar tetap bersih dan bagaimana kita memilih tulisan apa yang baik, semua pilihan ada pada kita. Kita bebas menentukan ingin seperti apa kertas putih itu tumbuh berkembang.

Semoga kita bisa menjadi pribadi yang ‘sadar’ dan ‘waras’. Bahwa apapun pilihan yang dipilih akan menentukan bagaimana keberlangsungkan hidup seorang anak. Semoga kelak kita menjadi orang tua yang terus belajar dan bijaksana. Aamiin.

Cerita: Memasak Sup Tahu Telur Puyuh

Hari ini saya membuat Sup Telur Puyuh dalam rangka melayani mama yang sedang sakit. Ini adalah kali kedua saya membuat sup. Sebelumnya, saya membuat sup bersama teman-teman saat di indekos dulu. Pengalaman waktu itu cukup lucu bila diingat kembali. Ketika tiga orang dari keluarga yang berbeda membuat sup bersama, maka banyak hal kami perdebatkan. Karena kebiasaan kami berbeda, proses membuat sup ternyata juga berbeda. Perbedaan tentang ukuran sayur saat dipotong, bumbu yang dihaluskan langsung di masukkan ke air sup atau perlu ditumis dahulu, sampai tentang ayam harus digoreng dahulu atau langsung dimasukkan ke kuah sup. Disini kami belajar, dalam kerja tim tidak ada yang paling benar dan tidak. Yang terpenting adalah diskusi dan kesepakatan. Alhamdulillah kami bertiga sepakat tanpa mengedepankan ego masing-masing 😀

Hari ini, rekan memasak saya adalah Yuniar. Bahan membuat sup sangat mudah didapat dan sangat sederhana. Seperti:

1. Tahu Cina Satu buah

2. Satu paket sayur sop (Dapat didapatkan di tukang sayur keliling. Disana telah disediakan bungkusan-bungkusan sayur sop dan sayur lodeh).

3. Telur puyuh Sepuluh Butir

4. Garam dan Gula

5. Royco

6. Bawang putih tiga buah

7. Bawang merah tiga buah

Bahan tambahan untuk membuat gorengan:

1. Tempe

2. Tepung Bumbu Serba Guna Kobe

3. Kentang tiga buah ukuran sedang

Setelah bahan-bahan sudah siap, kami juga harus pandai membagi tugas untuk memisahkan bahan-bahan, mencuci sayur, dan memotong sayur. Selain membuat sup, kami juga membuat tempe goreng tepung dan kentang goreng. Karena tugas begitu banyak, kami menyadari dibutuhkannya kemampuan multitasking dan bergerak cepat. Tidak ada waktu luang yang dibiarkan begitu saja. Kami berusaha memanfaatkan waktu dengan sebaik-baiknya.

Langkah pertama, saya memutuskan untuk memotong sayur dan tempe dahulu. Supaya nanti tinggal mengeksekusi bahan-bahan tersebut ke dalam panci dan penggorengan. Dalam proses memotong dan menyiapkan bahan-bahan, saya dan Yuniar lancar mengerjakannya. Bahkan saya sempat mengajak Satria untuk mengupas kulit telur puyuh bersama. Satria sangat bersemangat dan senang 😀 Meskipun sesekali ada bagian telur yang rusak karena kukunya menekan kulit telur terlalu dalam, namun Satria tidak putus asa. Saya pun tidak memarahinya dan terus menyemangati. Alhamdulillah tugas selesai dan melatih keterampilan jari-jari Satria juga terlaksana.

Yuniar mengerjakan tugas dengan baik. Kentang telah dicuci bersih, dikupas kulitnya, dan telah dipotong-potong kecil. Setelah semua bahan siap untuk dimasak, maka kami memulai memasak. Dua kompor gas kami gunakan sekaligus untuk membuat sup, menggoreng tempe, dan menggoreng kentang.

Kami memutuskan untuk menumis bumbu sup (Bawang merah dan bawang putih diiris halus). Tidak ada alasan khusus untuk bumbu yang ditumis, hanya saja kami merasa lebih yakin bumbu matang sempurna bila ditumis dahulu. Bumbu tidak perlu ditumis sampai kering. Bila bumbu sudah harum, artinya bumbu sudah matang dan siap disisihkan. Selanjutnya, bumbu dan wortel dimasukkan ke panci yang sudah berisi air mendidih.  Sambil menunggu bumbu menyatu dengan air, kami memberikan garam, gula, dan royco ke dalam air tersebut. Agar rasanya sesuai dengan yang diharapkan, kami mencicipi kuah sup itu tiap kali garam dimasukkan. Alangkah kaget dan ingin tertawa, betapa aneh rasa kuahnya. Sama sekali belum ada rasa sup. Kuahnya terasa seperti air rebusan yang diberi sedikit garam. Saya dan Yuniar terbahak-bahak dibuatnya. Betapa tidak mudah memasak sup :’) Dan kami merasa berdosa, selama ini mudah sekali memberikan kritik pada masakan mama. Padahal membuat cita rasa seperti masakan mama tidak dimudah dilakukan.

Akhirnya, saya memutuskan untuk menambahkan satu buah bawang merah dan putih lagi. Agar rasa supnya sedap dan tidak hanya asin saja. Kali ini bawang tidak diiris. Saya mencoba untuk menghaluskan bawang tersebut. Setelah bawang halus, kemudian ditumis sebentar, lalu dimasukkan ke dalam sup. Kami segera cek rasa kembali. Alhamdulillah rasanya sudah ‘seperti ‘ sup. Tinggal tingkat keasinannya saja perlu ditambah lagi. Kami benar-benar bahagia setelah merasakan cita rasa itu Alhamdulillah 🙂

Sebelum memasukkan bahan-bahan yang lain, kami mengecek tekstur wortel. Ternyata sudah benar-benar empuk dan matang. Maka, segera kami memasukkan kentang, daun bawang, kol, buncis, telur puyuh, dan tahu cina ke dalam panci. Semua kami rebus sebentar, dan sup siap untuk dihidangkan!

Sambil memasak Sup Tahu Telur Puyuh, kami juga menggoreng tempe ditepungi. Kami membuat dua celupan terigu untuk tempe. Satu celupan tepung cair dan satu lagi celupan tepung kering yang tidak diberi air. Setelah tempe dimasukkan ke dalam celupan tepung cair, selanjutnya tempe dibalurkan dengan tepung kering. Cara seperti ini menghasilkan tempe yang benar-benar kering, renyah, dan enak 🙂

Alhamdulillah selesai! Rasanya benar-benar bahagia sekali menyelesaikan masakan kentang goreng, tempe goreng tepung, dan Sup Tahu Telur Puyuh. Memasak itu menyenangkan namun juga melelahkan. Mungkin karena kami belum terbiasa, maka pengaturan tugas dan waktu juga belum efektif. Penggunaan piring dan mangkuk juga belum efisien. Alhasil, selesai masak banyak sekali piring kotor di atas meja. Pekerjaan selanjutnya telah menunggu haha

Selain menyenangkan, ketika berhasil menghasilan cita rasa masakan yang kami harapkan ternyata membahagiakan sekali. Mama juga mengapresiasi Sup buatan kami. Katanya enak 😀 Alhamdulillah.

Dilain waktu kami akan memasak lagi, Insya Allah. Mungkin kami akan membuat Sup Kimlo? Sepertinya enak 🙂 Semoga kemampuan memasak kami meningkat dan mampu memasak masakan lebih bervariasi lagi. Aamiin.

Note: Yuniar hari ini juga membuat sambal. Bahan-bahannya, cabai, bawang putih, dan terasi. Seluruh bahan digoreng kemudian dihaluskan. Kemudian masukkan garam dan gula. Rasanya benar-benar enak. Good job, Yuniar! Ditunggu buatan sambalnya lagi ya 😀

Opini: Kita Bertanggung Jawab terhadap Anak-anak disekitar

Pengalaman adalah guru yang paling baik. Berkat pengalaman tersebut, kita akan siap menghadapi masa depan. Kita akan menjadi manusia yang lebih berhati-hati agar tidak melakukan kesalahan yang sama.

Pengalaman satu setengah tahun bekerja di sekolah dasar, membuat saya bertemu dengan anak-anak. Dan saya menjadi sangat peka dengan perilaku yang mereka lakukan. Saya menjadi tahu anak-anak memiliki karakteristik yang berbeda-beda. Setiap anak adalah spesial. Mereka spesial dibidangnya masing-masing. Seringkali perilaku polos dan lugunya membuat para guru mendapatkan banyak pelajaran.

Dan saya mengerti bahwa sebenarnya tidak ada anak yang nakal. Yang ada adalah anak yang kebutuhan dasarnya belum terpenuhi. Dan anak yang tidak difasilitasi dengan optimal. Sehingga anak tersebut memenuhi kebutuhan dasarnya sendiri. Dan karena memenuhinya atas kehendak ‘sendiri’, banyak perilaku yang belum benar terjadi dan cenderung bertindak ‘berbeda’ dengan anak-anak seusianya. Akibat ‘perbedaan’ ini, banyak orang-orang dewasa yang tidak paham, lalu segera melabeli mereka sebagai anak nakal.

Sesungguhnya anak memiliki standar normal kemampuan (seperti: motorik halus, motorik kasar, bahasa, koginitif, dll) disetiap fase usianya. Meskipun memiliki standar normal yang sudah terstandarisasi internasional, setiap tumbuh kembang anak berbeda. Perbedaan ini terjadi dipengaruhi oleh lingkungan dan orang-orang didekatnya. Disini peran orang tua sangat penting. Bagaimana orang tua memberikan segala kebutuhan dasar yang baik serta memfasilitasi tumbuh kembang di setiap fase usianya secara optimal. Jangan sampai anak dilabeli dengan kata-kata buruk oleh orang lain hanya karena kelalaian orang tua saat mendidik anak.

***

Saya senang mengamati sekitar. Dengan mengamati, kita akan lebih bersyukur betapa banyak memetik pelajaran dari perbedaan di sekeliling kita. Dan jika saja setiap manusia memberikan waktunya sedikit saja untuk merenungi segala perbedaan tersebut, kita akan sadar betapa banyak karunia yang telah didapatkan. Namun, dibalik perasaan nyaman, kita seringkali lupa untuk mengucapkan terima kasih kepada Allah. Lupa untuk bersyukur.

Saat itu, sesuatu yang saya amati sungguh memprihatinkan. Ketika seorang anak perempuan berusia lima tahun ingin bermain dengan teman sebayanya. Namun, tingkah yang ia lakukan malah membuat tidak nyaman teman sebayanya itu. Bagaimana tidak? Ketika teman sebayanya sedang bernyanyi dengan nada-nada indah, si anak melirik dengan wajah ceria ke arah teman sebayanya, kemudian ikut bernyanyi dengan suara kencang sekali. Dia bernyanyi dengan keras. Hampir berteriak-berteriak. Siapa pun tidak akan nyaman dan senang mendengarnya. Dan jika tidak sabar, pasti orang dewasa akan segera memarahinya. Karena mengganggu sekitar.

Saat mendengar suaranya melengking keras, disana muncul kesadaran dalam diri saya. Seperti ada yang berbisik ke telinga saya bahwa sesungguhnya anak itu hanya ingin bermain dan bernyanyi bersama. Namun, ia tidak tahu bagaimana cara mengajak teman sebayanya berbicara. Ia tidak tahu bagaimana cara mengajak teman sebayanya bermain. Dan ia tidak tahu bagaimana mengungkapkan keinginannya. Keinginan anak itu sederhana sekali bukan? Namun, perilaku yang ia tunjukkan bukanlah permasalahan sederhana.  Semua yang ia tidak ketahui adalah dasar-dasar untuk berbahasa, berkomunikasi, dan berinteraksi dengan orang lain. Jika ia tidak tahu, bagaimana cara ia bermain dengan teman-teman sebayanya? Si anak akan kesulitan. Si anak akan menjadi ‘berbeda’.

***

Anak ibarat kertas putih yang kosong. Dan orang tua beserta lingkungan disekitar bertanggung jawab menorehkan tinta kebaikan di atas kertas tersebut. Tidak mudah menorehkan tinta kebaikan disana. Dibutuhkan usaha dan keinginan belajar sepanjang masa. Dibutuhkan pengetahuan menjadi orang tua yang baik. Sebab, tidak ada sekolah formal yang mengajarkan menjadi orang tua baik. Semua tergantung kesadaran setiap orang tua ingin mempertanggung-jawabkan seperti apa dihadapan Allah kelak. Bukankah setiap anak hakikatnya hanya titipan? Tugas setiap orang tua adalah memberikan pendidikan agama, karakter, serta keilmuan lainnya. Agar segala kebutuhan dasar dan tumbuh kembang anak tercapai dengan optimal. Agar anak dapat menjalani kehidupan dengan baik dan mandiri.

***

Cintai dan sayangilah anak-anak disekitar. Sebab, kita sebagai orang dewasa yang berada disekitar mereka, bertanggung jawab memberikan teladan yang baik. Kita memang bukan manusia sempurna. Kita banyak melakukan kesalahan. Namun, jika kita berusaha dan belajar, tidak apa-apa kan? Segala usaha yang kita lakukan, Insya Allah mendekatkan kita dengan kebaikan. Semoga Agama Islam dan Bangsa Indonesia dipenuhi dengan orang-orang yang tidak lelah untuk berusaha dan belajar. Karena sesungguhnya, keterpurukan seorang hamba terjadi ketika kita masa bodoh, tidak ingin berusaha, tidak ingin tahu, dan tidak ingin belajar.

Cerita: Untuk Apa Donor Darah? 

Hari Minggu kemarin Alhamdulillah dapat melakukan donor darah lagi. Jadwal donor darah sebenarnya 6 Oktober 2017 lalu. Namun, karena pada saat itu sedang mempersiapkan tes CPNS, maka donor darah tidak sempat dilakukan.

Mengapa saya termotivasi untuk donor darah? Faktor utama adalah karena ingin menolong orang lain. Karena bekerja di bidang kesehatan, saya tahu betul banyak orang-orang disekeliling kita yang sangat membutuhkan bantuan darah. Orang yang mengalami kecelakaan, melakukan operasi besar, kanker, dan banyak keadaan lainnya yang mengalami kekurangan darah, membutuhkan pasokan darah dari luar. Dari luar? Iya, pihak luar yang mendonorkan darahnya dengan sukarela.

Ada banyak orang yang membutuhkan bantuan darah dari orang lain. Dan kita bisa membantu mereka. Melalui sumbangan darah kita, yaitu menjadi pendonor darah. Kita seringkali lupa, dibalik tubuh bugar dan sehat yang dimiliki, ada hak orang lain didiri ini. Kita seringkali lupa, dibalik denyut nadi yang dapat kita raba dengan dua telapak jari ini, ternyata dapat menyelamatkan hidup orang lain. Semoga kita tak lagi lupa.

Saat kali pertama datang ke PMI Depok, yang dibayangkan adalah kantor tersebut akan ramai dan banyak orang mengantre. Nyatanya tidak. Saya cukup sedih saat itu. Ruangan untuk donor darah sepi dan hanya ada satu atau dua orang saja. Ternyata minat masyarakat Depok untuk donor darah tidaklah banyak.

Kita dapat mengambil formulir di ruangan bagian ini. Tertulis petunjuk disana, “Pendaftaran”. Oiya, disana juga disediakan bolpoin untuk menulis 🙂


Kemudian, saya mengikuti beberapa prosedur yang ada disana, yaitu mengisi formulir pendaftaran, melakukan beberapa pemeriksaan kesehatan oleh bidan (mengukur tekanan darah, hemoglobin, dll), setelah melakukan pemeriksaan kesehatan dan sedikit wawancara tentang kuesioner di formulir, proses donor darah segera dilakukan.

Karena ini adalah pengalaman kedua saya, wawancara tidak berlangsung lama dan saya diarahkan untuk masuk ke ruangan tindakan.

Tidak seperti pengalaman pertama donor darah, kali ini perasaan saya lebih tenang dan keadaan diri menjadi lebih santai. Jantung tidak berdegup kencang sebagai tanda saya tidak deg-degan. Darah saya mengalir dengan cepat dan kantong darah pun segera penuh. Kantong tersebut dapat menampung darah sebanyak 350 ml. Hanya membutuhkan waktu lima menit saja. Luar biasa cepat jika dibandingkan pengalaman pertama. Dulu, darah saya memenuhi kantong membutuhkan waktu sekitar 15-20 menit.

Katika darah saya sedang dialirkan ke kantong darah, para pendonor mulai berdatangan. Mereka datang satu persatu. Sehingga ruangan donor darah perlahan terisi oleh beberapa orang. Memang tak banyak, tetapi membuat ruangan donor darah menjadi lebih ramai 😀 Dan saya terkagum-kagum sekaligus terharu. Saya bersyukur diberi kesempatan menjadi pendonor dan bertemu dengan teman-teman pendonor lainnya. Saya bersyukur dapat melihat sisi lain situasi masyarakat. Dibalik ketidaktahuan banyak orang, ada orang-orang yang terketuk hatinya untuk menyumbangkan darahnya. Ada orang-orang yang dengan sukarela meluangkan waktunya untuk menjadi pendonor. Ada orang-orang yang dengan senang hati mempersiapkan dirinya supaya dalam keadaan sehat, demi lulus pemeriksaan kesehatan dan bisa menjadi pendonor. Sisi lain kehidupan masyarakat ini, membuat hati tersentuh. Ternyata masih banyak orang baik disekeliling, tanpa pernah kita tahu dan sadari 🙂

Ada banyak cara untuk menolong orang lain. Pilihlah jalan yang paling kamu sukai dan mudah dilakukan. Melakukan donor darah bisa menjadi salah satu pilihan. Tanpa biaya dan hanya perlu meluangkan sedikit waktu luang kita 😀

Dibalik peliknya kehidupan, sesungguhnya ada hati yang perlu ditentramkan. Yaitu, hati kita sendiri. Menjadi sukarelawan bisa menjadi salah satu upaya yang dapat kita lakukan. Menolong orang lain benar-benar dapat menyembuhkan segala kegelisahan dan keresahan.

Setelah melakukan donor darah, kartu pendonor dikembalikan. Di dalam kartu, distempel tanggal melakukan donor darah disertai paraf perawat yang melakukan tindakan donor darah. Di bagian luar kartu pendonor, diselipkan selembar kertas ucapan terima kasih, doa, dan harapan agar saya berkenan datang kembali untuk menjadi pendonor, serta jadwal melakukan donor darah selanjutnya. Jadwal saya, tanggal 10 Maret 2018. Semoga saya bisa melakukan donor darah sesuai jadwal. Insya Allah.

Bagi pembaca yang sudah berniat melakukan donor darah, semoga Allah mantapkan hatinya untuk segera donor darah. Bagi yang sudah melakukan donor darah, semoga Allah mudahkan langkah kakinya agar bisa donor darah lagi. Daaaan, bagi yang belum ingin donor darah, boleh banget sekali-kali melihat teman yang sedang donor darah, biasanya, setelah melihat jadi ingin ikutan donor darah loh 😀

Semoga apapun niat baik kita untuk menolong orang lain, semuanya dimudahkan oleh Allah. Aamiin

Al-Qur’an – Penghuni Saqar


Al-Muddatstsir 26-31
26. Kelak, Aku akan Memasukkannya ke dalam (neraka) Saqar.

27. Dan tahukah kamu apa (neraka) Saqar itu? 

28. Ia (Saqar itu) tidak meninggalkan dan tidak membiarkan.

29. yang menghanguskan kulit manusia.

30. Di atasnya ada sembilan belas (malaikat penjaga).

31. Dan Kami Jadikan penjaga neraka itu hanya dari malaikat; dan Kami Menentukan bilangan mereka itu hanya sebagai cobaan bagi orang-orang kafir, agar orang-orang yang diberi kitab menjadi yakin, agar orang yang beriman bertambah imannya, agar orang-orang yang diberi kitab dan orang-orang Mukmin itu tidak ragu-ragu; dan agar orang-orang yang di dalam hatinya ada penyakit dan orang-orang kafir (berkata), “Apakah yang Dikehendaki Allah dengan (bilangan) ini sebagai suatu perumpaan?” Demikianlah Allah Membiarkan sesat orang-orang yang Dia Kehendaki dan Memberi petunjuk kepada orang-orang yang Dia Kehendaki. Dan tidak ada yang mengetahui bala tentara Tuhan-mu kecuali Dia sendiri. Dan Saqar itu tidak lain hanyalah peringatan bagi manusia.

Al-Muddatstsir 35- 47
35. Sesungguhnya (Saqar itu) adalah salah satu (bencana) yang sangat besar,

36. sebagai peringatan bagi manusia,

37. yaitu, bagi siapa diantara kamu yang ingin maju dan mundur.

38. Setiap orang bertanggung jawab atas apa yang telah dilakukannya,

39. kecuali golongan kanan,

40. berada di dalam surga, mereka saling menanyakan,

41. tentang (keadaan) orang-orang yang berdosa,
42. “Apa yang menyebabkan kamu masuk ke dalam (neraka) Saqar?”

43. Mereka menjawab, “Dahulu kami tidak termasuk orang-orang yang melaksanakan shalat,

44. dan kami (juga) tidak memberi makan orang miskin,

45. bahkan kami biasa berbincang (untuk tujuan yang batil), bersama orang-orang yang membicarakannya,

46. dan kami mendustakan hari pembalasan,

47. sampai datang kepada kami kematian.”​

Semoga kita termasuk golongan kanan yang istiqomah mengikuti petunjuk, perintah, dan larangannya. Sebab, sebaik-baiknya hamba adalah ketika kita selalu waspada dan hati-hati dengan perkataan dan tingkah laku kita. Serta berusaha mendekatkan diri kepada Allah dan kebaikan setiap harinya. Insya Allah.

Ustad Nouman Ali Khan – Pernikahan

Materi kajian Ustad Nouman Ali Khan tentang pernikahan membuat saya banyak merenungi. Beliau menekankan, bahwa banyak pasangan yang belum menyadari arti dari melengkapi separuh agama melalui pernikahan. Setelah menikah, mereka masih merasa dirinya adalah manusia utuh dengan tujuan yang utuh juga. Sehingga, kita cenderung masih mengutamakan keinginan dan cita-cita diri sendiri. Kemudian kita menuntut, bahwa pasangan hidup harus mampu melakukan apa yang kita inginkan. Pasangan hidup harus mau, merubah dirinya sesuai dengan yang kita inginkan. Orientasinya selalu diri kita yang utama. Pasangan hidup harus mengalah dan mengikuti tujuan hidup kita. Pasangan hidup harus mengerti kita.

Padahal, seandainya saja kita tahu dan mau mengerti, kita adalah manusia yang belum utuh. Dan menjadi manusia utuh dengan hadirnya pasangan hidup yang membersamai.

Bukankah ketika sesuatu hal belum utuh, artinya ada hal-hal yang harus dilengkapi agar menjadi utuh dan lengkap? Oleh karena itu, Allah memberikan perintah agar kita menikah. Tujuannya adalah agar kita bisa bisa melengkapi diri ini. Dan yang utama, kita melengkapi agama kita. 

Ketika menyadari kita adalah manusia yang belum utuh dan lengkap, seharusnya ketika memutuskan untuk menikah, kita sudah siap untuk menerima sesuatu yang baru dan meninggalkan tujuan pribadi yang tidak sesuai dengan tujuan bersama pasangan.

Ketika hidup bersama dengan pasangan, akan ada banyak kebiasaan-kebiasaan baru yang akan kita temui. Maka, jangan jadikan perbedaan kebiasaan baru tersebut menjadi jurang pemisah diantara pasangan suami istri.

Kini, sudah saatnya untuk mencoba membiasakan diri dengan kebiasaan baru. Saling memperkenalkan kebiasaan dan kegiatan yang biasa dilakukan. Serta saling mencoba melakukan kebiasaan lain yang sebelumnya tidak pernah kita lakukan. Dengan niat karena Allah dan berharap Allah ridho dengan rumah tangga ini, kita akan berusaha menerima sesuatu yang baru, Insya Allah selanjutnya kita akan mudah beradaptasi dan menjalaninya. Bukankah bisa karena telah terbiasa?

Menikah artinya mengangkasa ‘bersama’. Melejitkan potensi ‘bersama’. Menikah artinya rela meninggalkan segala keegoisan diri. Menikah artinya siap untuk bekerja sama dan saling tolong menolong. Menikah artinya saling mengingatkan dan menasihati tentang kebaikan. Menikah artinya bersedia untuk berpikiran terbuka dan siap menerima hal baru. Menikah artinya saling mencintai karena Allah. Kesulitan, rintangan, dan ujian tentulah ada. Namun, semua akan terasa mudah dan ringan bila dihadapi bersama-sama.

Semoga kajian Ustad Nouman Ali Khan ini membuka pikiran dan hati kita lebih luas lagi. Bagi siapapun itu. Calon istri, calon suami, atau bahkan pasangan suami istri. Ketika hati ini ikhlas dan berharap ridho Allah, Insya Allah semua hal akan mudah dilakukan. Selamat menurunkan ego bekerja sama, dan tolong menolong. Fighting!

Cerita: Pengalaman Memasak

Pengalaman memasak saya belum banyak. Pengalaman saya di dapur juga belum banyak. Mama saya tipikal orang yang kurang senang arena memasaknya dimasuki oleh orang lain. Katanya, nanti rasa masakannya berbeda dengan masakan mama. Jadilah saya ini belum terbiasa dengan masak memasak. Faktor sedikitnya kesempatan yang diberikan dan minimnya keinginan belajar memasak membuat kemampuan memasak saya belum mumpuni. Maka, jangan heran bila nanti melihat saya tidak lihai saat bergabung dalam kegiatan memasak. Saya memang belum terbiasa.

Saya terbiasa dengan beres-beres rumah. Membersihkan apapun yang kotor. Merapikan apapun yang berantakan. Mengatur apapun yang tidak teratur. Saya juga terbiasa mengangkat barang-barang berat. Postur tubuh yang tinggi dan berat badan yang tidak kurus sangat berguna sekali dalam kegiatan angkat-mengangkat. Contohnya, saat mengangkat aqua galon ke dispenser atau satu dus aqua saya bisa melakukannya sendiri. Kuat ya?!

Kembali ke pengalaman memasak. Alhamdulillah, pengalaman ngekos membuat saya harus memasak. Pilihannya adalah boros atau hemat. Bila mau hemat, maka memasaklah. Membeli makan setiap hari akan membuat pengeluaran membengkak. Selain itu, bila rutin membeli makanan di luar ternyata membosankan. Membuat saya rindu masakan rumah. Akhirnya pelan-pelan saya belajar memasak.

Di awali dengan memasak nasi menggunakan magicom. Kali pertama memasak nasi hasilnya tidak baik. Nasinya terlalu lunak ataupun terlalu keras. Lambat laun ketika sudah terbiasa Alhamdulillah kemampuan memasak nasi meningkat. Bahkan sudah handal. Tidak ada lagi cerita memasak nasi keras atau lunak.

Selanjutnya, saya belajar masak tumis-tumisan. Alat dan bahannya sangat sederhana. Saya hanya perlu menyediakan minyak goreng, cabai, bawang merah dan putih, garam, masako, saus, kecap, dan saus tiram. Saya tidak pernah membuat sambal, jadi tomat tidak saya butuhkan kala itu. Tumis kangkung, tumis kacang panjang, tumis buncis, tumis tauge, tumis kol, dan tumis sayur-sayuran lainnya hanya membutuhkan bahan dasar seperti di atas. Tahap selanjutnya, saya hanya perlu mencoba rasanya sesuai atau tidak dan memastikan sayur sudah matang. Selesai. Mudah kan? Alhamdulillah memasak tumis-tumisan cukup mudah untuk pemula yang ingin belajar masak 😀

Sesuai dengan foto di atas yaitu gambar makaroni kukus keju, hari ini saya mencoba memasak lagi. Dengan bahan sederhana ternyata saya bisa membuatnya. Bahan yang saya gunakan hari ini adalah makaroni, keju cheddar, telur, margarin, bawang bombay, bawang putih, kornet, susu ultra fullcream, dan garam/masako.

Ada dua langkah yang saya lakukan. Pertama, merebus makaroni dengan garam dan minyak. Tujuannya adalah agar makaroni tidak saling menempel dan rasanya tidak hambar. Ketika makaroni sudah matang, masukkan makaroni ke dalam wadah antipanas yang sudah dioleskan margarin.

Kedua, saya membuat saus makaroni. Membuat saus mudah dilakukan, saya hanya perlu menumis bawang putih dan bawang bombay sampai harum, kornet, dan garam. Bila sudah matang, saya segera menuangkan susu ultra fullcream ke dalam tumisan tadi. Dan langkah terakhir pembuatan saus ini adalah memasukkan telur. Setelah saus sudah matang, kita tuangkan ke dalam wadah anti panas tadi yang sudah berisi makaroni. Mudah kan? Dengan dua langkah ini kita bisa membuat makaroni kukus keju.

Mohon maaf sekali postingan kali ini saya tidak membuat resep makanan secara lengkap. Oleh karena itu, alat dan bahan serta cara memasaknya tidak rinci. Namun, bila ada yang tertarik ingin tahu cara pembuatan makaroni, boleh sekali memberikan komentar pada postingan ini. Nanti saya tuliskan via email 🙂

Saya hanya ingin berbagi pengalaman, mungkin saja ada orang lain yang seperti saya. Terbiasa dengan aktivitas beres-beres rumah, namun tidak terbiasa dengan aktivitas memasak. Jangan khawatir teman, kita pasti bisa bila niat dan usaha kita besar. Kita hanya perlu mencari tahu lebih dalam tentang makanan yang ingin dimasak. Dan jangan pernah menyerah mencoba. Saat ini banyak fasilitas yang dapat kita gunakan untuk mencari tahu. Seperti google dan youtube sangat membantu dalam hal ini. Pengalaman orang lain juga tak kalah dalam hal membantu. Pengalaman mereka juga bisa kita jadikan referensi. Siapapun yang sedang belajar memasak, semangat ya! Kita pasti bisa.

Kemampuan memasak harus dimiliki oleh semua orang. Terutama perempuan. Karena memang kebutuhan kita. Nantinya, akan ada orang-orang tersayang yang menantikan masakan kita. Masakan yang dibuat sendiri sungguh banyak manfaatnya. Beberapa manfaatnya yaitu, alat, bahan, dan proses dijamin bersih dan bergizi, porsi dan cita rasa bisa disesuaikan dengan selera kita, dan bila makanannya enak maka akan membuat hati orang lain senang. Bukankah membuat orang lain senang akan menambah pahala untuk kita? Makanan yang dibuat dengan rasa cinta juga akan tersampaikan kepada siapapun yang memakannya. Jangan pernah menyerah untuk memasak. Sekali lagi, semangat ya!