Program LK3: Menjadi Teman Bicara Sebaya

“Perkenalkan, nama saya Wulandari Eka Sari. Saya adalah ketua LK3 Kota Depok. Terima kasih atas kehadirannya, teman-teman. Meskipun saya sudah memberikan bocoran sedikit tentang kegiatan hari ini di group whatsapp, saya kira kalian masih bingung. LK3 itu apa sih? Peserta yang datang hari ini nantinya akan melakukan apa sih? Apa yang dimaksud dengan Teman Bicara Sebaya sih? Dan nantinya, tugas-tugas volunteer Teman Bicara Sebaya apa saja sih? Baiklah, tidak perlu cemas. Saya akan menjelaskan semuanya ya 😀 .” Ungkap Mbak Wulandari selaku ketua LK3 memberikan sambutan kepada kami. 

Saya tertarik mendaftar kegiatan ini karena membaca kalimat “Konsep Diri” dalam poster kegiatan tersebut. Saya rasa konsep diri sangat penting dimiliki oleh setiap orang. Ketika seseorang paham betul dengan konsep dirinya sendiri, maka ia akan mengenal dirinya dengan baik. Apa kesukaannya, apa hal yang tidak disukainya, apa kelemahannya, apa kelebihannya, bagaimana keadaan emosionalnya, bagaimana keadaan kognisinya, apa tujuan hidupnya, dan lain-lain. Sehingga, ia akan mampu menentukan jalan hidup yang terbaik untuk hidupnya sendiri serta mampu menyesuaikan diri terhadap orang lain dan lingkungan di sekitarnya. Karena tahu tentang konsep diri sungguh penting, saya langsung mendaftar kegiatan tersebut.

Selain itu, diposter juga dituliskan bahwa peserta akan menjadi Teman Bicara Sebaya. Pikiran saya pun mencoba menebak kira-kira seperti apa kegiatan ini. Tebakan saya, sepertinya kami akan jadi teman berbagi cerita untuk orang-orang yang membutuhkan. Dan ternyata tebakan saya hampir mendekati benar. Penjelasan Mbak Wulandari memberikan titik terang terhadap kegiatan itu.

Mbak Wulandari menjelaskan bahwa Teman Bicara Sebaya adalah salah satu program LK3. LK3 adalah Lembaga Konsultasi Kesejahteraan Keluarga. Lembaga tersebut berada di bawah naungan Kementerian Sosial. Programnya adalah sebagai media konsultasi bagi individu dan keluarga yang mengalami masalah sosial psikologis dalam keluarganya, yang mengganggu pelaksanaan peran dan fungsinya sebagai pribadi, anggota keluarga, dan anggota kelompok sosial lainnya. Informasi lebih lengkap tentang LK3 bisa klik disini [1] dan disini [2]. Singkatnya sih, si LK3 ini lembaga yang membantu individu atau keluarga yang mengalami masalah. Contoh masalah-masalahnya adalah seperti: kekerasan dalam rumah tangga, perceraian, anak terlantar, masalah ekonomi, narkoba, dan masalah sosial lainnya. Jadi, si LK3 itu menerima konsultasi siapapun yang berhubungan dengan masalah individu dan keluarga. LK3 akan mendengarkan, mengarahkan, memberikan saran, menguatkan, mendampingi, dan merujuk ke lembaga yang lebih berkompeten bila dibutuhkan. Jika permasalahan itu sulit untuk diselesaikan.

Lalu apa hubungan program LK3 dengan Teman Bicara Sebaya? Salah satu program untuk menyelesaikan permasalahan remaja adalah mencari volunteer Teman Bicara Sebaya. Isu yang ingin dituntaskan adalah tentang pergaulan bebas remaja. Maka, LK3 membutuhkan kami (para peserta seminar) untuk menjadi volunteer Teman Bicara Sebaya. Mengapa harus kami? Harapannya, pendekatan yang dilakukan oleh kami yang berusia 18-30 tahun dapat berhasil menggali permasalahan mereka. Harapannya, mereka lebih terbuka karena jejang usia kami yang tidak begitu jauh. Harapannya juga, kami bisa melakukan pendekatan sebagai teman sekaligus sebagai kakak terhadap mereka. Sehingga mereka tidak merasa ketakutan dan terintimidasi.

LK3 meyakini bahwa menghadirkan volunteer Teman Bicara untuk anak-anak remaja yang bermasalah yang membutuhkan penanganan adalah penting sekali. Sebab, banyak diantara mereka yang bingung dan takut terhadap masalah yang sedang dihadapi. Mereka takut kepada siapa menceritakan masalahnya. Dan bingung, bagaimana cara menceritakannya. Remaja yang bermasalah, sesungguhnya mereka tahu bahwa perbuatannya adalah salah. Mereka juga tahu bagaimana cara menyelesaikannya. Namun, ketakutan dan kebingungan seringkali menjadi penghambat. Kepercayaan diri pun akhirnya semakin turun. Solusi akhirnya tak dapat terlihat oleh matanya sendiri.

Teman Bicara hadir bukan untuk memberikan solusi sesuai apa yang diyakininya. Atau memberikan nasihat panjang untuk menyadarkan para remaja. Teman Bicara hadir untuk mendengarkan segala keluh kesah mereka. Memberikan respon terbaik untuk menenangkan para remaja. Memberikan kepercayaan bahwa mereka dapat bertanggung jawab atas perbuatannya. Dan tak lupa membangun rasa percaya dirinya, dengan mengatakan,“Selalu ada kesempatan untuk orang-orang yang ingin berubah menjadi lebih baik.”

Terkait isu pergaulan bebas remaja, Mbak Wulandari juga memberitahu, selain menjadi Teman Bicara untuk mendengarkan masalah para remaja, nantinya, kami juga akan memberikan penyuluhan tentang pendidikan seks. Tujuannya, agar mereka mengetahui perbedaan laki-laki dan perempuan. Bagaimana fungsi kelamin sebagai alat reproduksi. Bagaimana perkembangan alat kelamin itu. Tentang menstruasi, mimpi basah, dan sebagainya. Sampai kepada timbulnya birahi karena adanya perubahan hormon-hormon. Juga termasuk masalah perkawinan, kehamilan, dan sebagainya.

Saya bersemangat sekali bergabung dalam program LK3 Teman Cerita Sebaya. Saya siap menjadi volunteer, Insya Allah. Hari ini adalah pertemuan pertama para volunteer Teman Cerita Sebaya. Kami mendapat bekal materi tentang bagaimana cara menjadi pendengar yang baik. Mbak Wulan Rigastutu S.Psi dari Yayasan Peduli Sahabat menyampaikan materi tersebut. Mbak Wulan Rigastutu juga berbagi pengalaman tentang menjadi pendengar yang baik. Singkat cerita, beliau belum menjadi psikolog. Jadi, belum memiliki wewenang membuka konseling untuk remaja yang bermasalah. Peran beliau di Yayasan Peduli Sahabat agak mirip seperti Teman Bicara Sebaya. Beliau memposisikan diri sebagai sahabat yang mendengarkan cerita kliennya. Kemudian, memberikan respon terbaik, mengarahkan, dan memberikan kepercayaan. Tujuan akhir dari perannya ini adalah agar kliennya mandiri menemukan solusi dan menyelesaikan masalahnya sendiri. Keren ya 🙂

Saya sungguh berharap bisa menjadi pendengar yang baik. Mendengarkan ternyata tak mudah dan tantangan sekali lho. Kita harus menahan diri agar tidak berpikiran subjektif. Bagaimana pun kesalahan klien yang ditemui, kita harus berusaha se-objektif mungkin. Tidak boleh terbawa perasaan. Pendengar yang baik harus berusaha memposisikan diri sebagai klien. Agar respon yang diberikan baik dan bijaksana.

Bismillah, semoga program LK3 Teman Bicara Sebaya berjalan dengan lancar dan memberikan banyak manfaat untuk remaja. Aamiin.

Advertisements

Cerita: Memasak Bihun Goreng, Yuk!

Kita memang dapat melakukan pekerjaan lebih baik ketika belajar dari kesalahan. Begitu juga dalam belajar memasak.

Saya sudah beberapa kali belajar memasak bihun goreng. Beberapa kesalahan pun pernah dilakukan seperti, bumbu yang tidak sesuai dengan takaran bihun, sayur yang tidak matang, bihun yang terlalu basah, bumbu yang terlalu kering, hingga bumbu yang terlalu banyak. Cukup banyak kesalahan yang saya lakukan ya 😀 Tidak apa-apa. Kesalahan terjadi karena kita telah mencoba dan berusaha kan? Berkat kesalahan tersebut saya menjadi lebih paham hal-hal yang perlu dilakukan dan hal sebaiknya tidak dilakukan ketika memasak bihun goreng.

Menurut saya, siapapun bisa memasak bihun goreng. Cara membuatnya pun mudah. Kita hanya perlu hati-hati dan bersabar. Ada beberapa tahapan yang terlihat sepele, namun penting dilakukan. Siapa yang mengira merebus bihun ternyata tidak baik menggunakan air yang terlalu banyak? Siapa yang mengira ternyata bihun dapat langsung lembut hanya dengan direndam air panas? Siapa yang mengira ternyata membumbui bihun sebelum digoreng ternyata memudahkan proses memasak?

Baiklah, saya akan berbagi pengalaman memasak bihun goreng. Semoga pengalaman saya memudahkan kalian yang ingin belajar memasak bihun ya 😀 Kali ini saya berbagi resep untuk porsi besar. Sangat cukup untuk acara keluarga.

Bahan yang diperlukan:

1. Sepuluh kotak bihun (Kalian dapat membeli bihun eceran. Satu bungkus berisi empat buah bihun. Harganya 10.000 rupiah)

2. Lima belas buah bawang merah

3. Tujuh buah bawang putih

4. Empat buah kemiri

5. Satu bungkus royco (Ukuran sesuai selera)

6. Garam (Ukuran sesuai selera)

7. Lada (Ukuran esuai selera)

8. Kecap Manis

9. Bakso

10. Sayur kol

Persiapan memasak bihun goreng:

1. Masak air hingga mendidih. Letakkan bihun dalam sebuah wadah. Siramkan air mendidih ke dalam wadah yang terisi bihun. Diamkan selama kurang lebih dua menit, lalu aduk. Perlu diingat, jangan terlalu banyak menggunakan air. Sebab, air yang terlalu banyak akan membuat bihun menjadi basah sekali (Bihun memiliki kemampuan yang baik dalan menyerap air. Seluruh air bisa terserap semua oleh bihun). Bihun yang terlalu basah, akan membuat bihun goreng mudah basi saat matang nanti.

Setelah tekstur bihun sudah lembut dan matang sempurna, bubuhkan bumbu garam, royco, dan kecap dalam wadah tersebut. Aduk rata dan tes rasa apakah sudah sesuai dengan selera. Tujuan pemberian bumbu dalam wadah ini adalah supaya memudahkan proses memasak di dalam penggorengan nanti. Memudahkan pula proses mencampurkan bihun dengan bakso dan sayur kol.

3. Haluskan bumbu bihun yaitu, bawang merah, bawang putih, kemiri, lada, garam, dan royco.

4. Potong bakso dan sayur kol dalam ukuran kecil (Isian bihun goreng sesuai selera, kalian bebas memilih toppingnya apa, bisa juga ditambahkan wortel dan sosis ;))

Cara memasak bihun goreng:

1. Panaskan sedikit minyak goreng dalam penggorengan, lalu masak bumbu hingga matang. Perlu diperhatikan, kematangan bumbu harus sesuai. Tidak boleh setengah matang atau terlalu matang (bumbu cenderung kering dan menggumpal).

Jika bumbu setengah matang, maka saat hidangan sudah matang, aroma bihun goreng menjadi tidak sedap, karena tercium aroma bumbu mentah. Jika bumbu terlalu matang, maka bumbu akan sulit bercampur dengan bihun dan sayur. Dikarenakan bumbu menggumpal. Oleh karena itu, harus hati-hati ya! Ciri-ciri bumbu matang sempurna adalah warna kekuningan dan aromanya harum. Tidak tercium aroma bawang mentah.

2. Masukkan topping bihun goreng yaitu, sayur kol dan bakso. Aduk hingga sayur menjadi layu dan bakso tampak matang.

3. Masukkan bihun yang sudah dibumbui dan diberi kecap. Aduk rata dengan topping.

4. Tes rasa apakah sudah sesuai dengan selera. Jika belum sesuai, boleh ditambahkan kecap, garam, dan royco.

5. Jangan lupa, supaya bihun tidak hangus, api kompor harus dalam ukuran kecil ya. Setelah bihun, topping, dan bumbu tercampur sempurna dan rasanya sudah pas, matikan kompor. Dan sisihkan.

6. Bihun goreng siap disantap! Jika bihun hanya diletakkan diwadah dan tidak dimasukkan ke dalam kulkas, bihun tidak akan tahan lama. Bihun hanya bertahan selama delapan jam saja. Lebih dari waktu itu, bihun goreng akan basi. Saya belum tahu cara bagaimana agar bihun tahan lama. Kalau kalian mengetahuinya, boleh sekali berbagi informasi ke saya 😀

Baiklah, sekian proses memasak bihun goreng versi saya. Tahapan memasaknya memang agak banyak, membutuhkan kesabaran, dan membutuhkan waktu lama. Tetapi, kalau sudah sering membuat, prosesnya akan lebih mudah dan cepat kok 😉 Saya dan Yuniar sudah merasakannya hehe Semoga bermanfaat!

Cerita: Berbincang dengan Kakek

“Perasaan kakek bilang, kayaknya enak kalau dibawain makanan arisan. Kakek nggak lapar sih. Nggak pengin juga. Tapi mau tau aja, ada yang ingat kakek atau nggak. Alhamdulillah, masih ada yang ingat sama kakek”, kakek mengatakan sambil membereskan sapu lidi buatannya.

Mendengarkan kakek jujur seperti itu hati saya benar-benar tersentuh. Ini bukan tentang selezat apa makanan yang dibawa. Bukan juga tentang semewah apa makanan yang diberikan. Bagi seorang kakek, yang terpenting adalah kepedulian dan kasih sayang anak dan cucunya.

Mendengar perkataan yang mewakili perasaan kakek, saya berusaha membuat hati kakek semakin baik. Saya menyampaikan ke kakek bahwa mama (anak kakek) minta maaf tidak bisa datang ke rumah dikarenakan harus membereskan rumah dan juga minta maaf kalau hanya bisa memberikan makanan sederhana seperti ini. Saya juga menjelaskan bahwa mama sungguh memikirkan keadaan kakek. Oleh karena itu, mama mengirimkan makanan ini. Supaya kakek juga turut merasakan hidangan arisan yang kami makan bersama.

Sebelum berpamitan, saya mengajak kakek melihat hasil foto-foto arisan. Sambil bermain tebak-tebakan wajah saudara. Ternyata, kakek tidak ingat nama cucu pertama laki-lakinya, Si Danang. Kakek juga tidak mengenali beberapa wajah yang menggunakan kaca mata. Bahkan, kakek tertukar menyebutkan  nama saya dan Yuniar. Mungkin karena ukuran fisik kami tidak jauh berbeda dan sama-sama menggunakan hijab cukup menguji ingatan kakek 😀 Saya juga mengajak kakek foto bersama menggunakan kamera depan. Kakek tanpa malu-malu langsung siap dan tersenyum. Beginilah, serunya memiliki kakek berjiwa muda ya hehe

Sebelum pulang, saya mengingatkan supaya kakek tidak lupa memakan makanan tersebut. Kakek dengan sigap menjawab, “Iya, pasti dimakan!”

Kakek adalah tipikal orang yang jujur dengan perasaannya dan mudah mengapresiasi perbuatan orang lain. Kakek juga tipikal yang berani mengungkapkan perasaannya. Tidak gengsi ataupun menjaga “image”. Karena kejujurannya, saya langsung tahu bahwa kakek sangat senang dikunjungi cucunya dan sangat senang ketika mendapat kiriman makanan dari mama.

Dari kakek saya belajar, jujur dengan perasaan adalah penting. Menunjukkan perasaan kita kepada orang lain juga penting. Mengatakan apa yang dirasakan juga tak kalah penting. Dengan bersikap seperti itu, orang lain akan mengetahui keadaan yang sesungguhnya dan turut bahagia juga karena perbuatan kecil yang dilakukan dapat membuat orang lain bahagia.

Cerita: Perjalanan Bersama Anak Kecil

Foto ini diambil ketika dia mulai gelisah karena duduk terlalu lama. Alhasil, Satria duduk maju ke shaf depan kami 😀

​Katanya, mendidik anak adalah tentang bagaimana orang tua belajar dan berusaha memaparkan, menstimulasi, dan memfasilitasi hal-hal baik. Sebagai kakak tertua dan masih diberi kesempatan membersamai adik-adik di rumah, maka saya ingin sedikit berkontribusi untuk tumbuh kembang mereka. Oleh karena itu, kemarin saya dan Yuniar mencoba mengajak si kecil Satria datang ke acara kajian. Ingin memberi pengalaman ke Satria mengenal Masjid 😀

​Ketika memutuskan mengajak anak kecil dalam kegiatan, maka kita harus siap menjadi manusia yang super persiapan dan manusia super sabar. Menjadi manusia super persiapan artinya kita harus mempersiapkan kebutuhannya (seperti snack, minuman dan mainan) selama perjalanan nanti. Menjadi manusia super sabar artinya kita harus bersabar untuk melambatkan langkah kaki dan sabar menjawab pertanyaan. Maksudnya? Begini, anak kecil adalah sosok yang penasaran dengan banyak hal disekitarnya. Jadi, kita harus bersiap-siap menjawab semua pertanyaannya selama perjalanan. Kita juga harus bersabar melambatkan langkah kaki, bagi saya yang kalau jalan selalu cepat, berjalan bersama anak kecil tentu harus melambatkan langkah kaki. Langkahnya kecil-kecil sekali, maka saya harus menyesuaikan 😀

​Selain itu, anak kecil juga penasaran sekali untuk melihat hal-hal disekitarnya. Jadi, kita harus bersiap-siap menanggapi saat dia menunjuk dan meminta untuk melihat hal-hal yang menarik perhatiannya. Kalau saya, kemarin tidak memenuhi permintaannya untuk melihat-melihat. Karena waktunya tidak tepat. Kami harus menghadiri kajian pukul tujuh pagi. Maka, saya menjelaskan kepadanya “kegiatan untuk melihat-lihatnya” ditunda dulu. Karena kita mau datang ke kajian lebih dulu. Alhamdulillah Satria mengerti dan melanjutkan langkah kakinya.

​Selain harus siap menjadi manusia yang super persiapan dan super siap menjawab pertanyaannya, ketika memutuskan mengajak anak kecil, kita juga harus siap menjaga emosinya. Anak kecil usia empat tahun kurang menyukai kegiatan yang mengharuskan dia duduk diam dalam waktu lama. Anak kecil juga mudah terpengaruh dengan lingkungan sekitarnya. Kemarin, Alhamdulillah selama dua jam Satria mampu duduk tertib di dalam Masjid. Tentunya dengan disediakan snack dan mainan ya 😀 Namun, ketika anak-anak kecil di lingkungan Masjid sudah mulai lari-larian, Satria mulai penasaran dan ingin lari-larian juga hahaha Dia tidak merengek atau menangis. Namun, Satria tampak gelisah dan mengajukan pertanyaan berulang kali, “Mbak kok lama? Mbak kok nggak selesai-selesai?”, karena berusaha memahami apa yang dia rasakan dan mengapresiasi kesabarannya duduk dengan manis dan tertib selama dua jam di dalam Masjid, maka saya menuruti permintaannya untuk menuju lokasi tempat anak-anak kecil berlari-lari.

​Dan, ketika kami baru saja duduk selama lima detik, Satria mengatakan bahwa dirinya ingin “pipis“. Sebelum mengajak anak kecil melakukan perjalanan, kita juga harus bersabar menemaninya kemanapun supaya dirinya nyaman. Langsung saja kami bergegas ke kamar mandi. Setelah selesai “pipis” Satria segera berlari-lari di halaman Masjid. Tampak satu anak seusianya juga melakukan kegiatan yang sama yaitu, lompat-lompatan, lari-larian, dan mengamati benda-benda disekitarnya.

Saat itu saya semakin memahami, anak balita memang paling senang melakukan kegiatan motorik kasar dan penasaran dengan banyak hal. Lalu, bagaimana dengan duduk rapi di dalam Masjid? Mungkin bagi mereka kegiatan tersebut amat membosankan. Karena memang diusianya, kemampuan untuk bertahan dalam satu posisi belum adekuat dan kemampuan untuk memperhatikan satu hal dalam waktu lama juga belum mumpuni. Semoga saja kita sebagai orang dewasa memahami hal itu. Supaya mengerti keadaannya dan tidak marah-marah saat berhadapan dengan mereka.​

Kegiatan yang paling disenangi saat naik kereta adalah memandangi pemandangan di luar kereta. Dalam keadaan seperti ini, biasanya orang dewasa yang harus menjaga dan waspada. Karena dia duduk dalam posisi yang tidak seharusnya.

​Setelah kajian, kami segera pulang. Kami menaiki kereta. Karena jarak stasiun yang ditempuh terlalu dekat yaitu hanya satu stasiun saja, maka sebelum pulang, saya dan Yuniar memutuskan mengajak Satria ke Stasiun Bogor dulu. Lumayanlah jarak dari Stasiun Pondok Cina ke Stasiun Bogor pergi-pulang. Satria sangat senang. Karena memang alasan Satria tertarik ikut ke kajian ini adalah karena kami memberitahu akan naik kereta. Oleh karena itu, demi memenuhi janji tersebut, setelah datang ke kajian, kami mengajak Satria jalan-jalan naik kereta dulu.

Akhirnya, setelah selama empat jam terjaga dan bermain-main ria, tepat pukul 11 siang dia tak sanggup lagi membuka mata 😀 Selamat tidur, Satria.

​Perjalanan ini sungguh bermanfaat. Bermanfaat untuk mbaknya belajar membersamai anak kecil dalam perjalanan dan bermanfaat untuk si kecil yaitu, mendapat pengalaman mengenal Masjid. Tentunya bermanfaat karena jalan-jalan naik kereta 😀

Kami kajian di Masjid UI, Depok. Kajian selalu diadakan satu pekan sekali yaitu, setiap Hari Minggu. Pukul 07.00-09.00. Jika kalian ingin datang ke kajian sekalian jalan-jalan, boleh sekali dicoba datang ke Masjid UI 😀

Disini, Satria sudah tidak sabar untuk naik kereta. Beginilah wajahnya yang berhasil ditangkap kamera :’)

​​

Cerita: Memasak Bubur Ketan Hitam

Saya dahulu sering sekali membeli bubur kacang hijau di abang-abang gerobak dorong yang lewat di depan rumah. Atau mangkal di pinggir jalan. Meskipun saya sangat suka dengan ketan hitam dan kuah santan saja, rasa-rasanya saya belum pernah membeli hanya ketan hitam dan kuah. Entahlah mengapa. Saya tetap membeli satu porsi buatan abangnya yaitu, bubur kacang hijau di campur ketan hitam dan disajikan dengan kuah santan.

Alhamdulillah, dua hari ini saya memiliki niat besar membuat bubur ketan hitam. Niat yang datang tiba-tiba lumayan membuat saya tergerak untuk masak-memasak. Di usia seperti saya ini, harus banyak investasi kebiasaan-kebiasaan baik. Salah satu kebiasaan adalah memasak. Tanpa adanya kebiasaan memasak, mustahil keterampilan memasak saya akan meningkat. Kali ini saya ingin berbagi lagi pengalaman memasak. Saya akan memberitahu hal-hal yang sebaiknya dilakukan agar meminimalisir kegagalan memasak 😀

Seperti biasa, sebelum memasak saya selalu mencari beberapa referensi resep masakan. Aplikasi cookpad sangat membantu untuk kalian yang ingin belajar memasak. Resep yang berbeda-beda akan meluaskan pengetahuan memasak menu yang akan dimasak. Hal ini penting sekali. Dengan memiliki banyak pengetahuan resep dan cara memasak, proses memasak akan lebih mudah dilakukan. Takaran bahan-bahan pun tidak harus mutlak mengikuti resep mereka. Kita cukup mengetahui perbandingannya saja. Nanti tinggal disesuaikan dengan kebutuhan memasak. Kalau saya, saat ini masih memasak dalam porsi kecil.

Memasak Bubur Ketan Hitam

Pengalaman pertama membuat bubur ketan, ada dua kegagalan yang saya lakukan. Pertama, takaran ketan dan air yang tidak sesuai. Ketan terlalu banyak, air yang terlalu sedikit. Kedua, panci yang terlalu kecil. Meskipun ketan sudah terlihat lembut dan kenyal, ternyata ketannya masih belum matang. Sehingga, kemarin saya beberapa kali menuangkan air ke dalam panci agar si ketan matang.

Kemarin, saya juga mendadak tidak ingat tentang rasa bubur ketan abang-abang gerobak dorong. Saya tidak ingat rasa ketan seharusnya manis saja, atau harus ada rasa gurih di dalamnya. Kalau rasa santan, saya sudah yakin bahwa rasanya harus gurih. Akhirnya, setelah bertanya ke mama dan adik tentang rasa ketan hitam, mereka memberi tahu bahwa rasa ketan adalah manis dan gurih. Okay, problem solved!

Hasil akhir  bubur ketan yang saya buat kemarin, bubur ketan kurang matang, kurang manis, dan rasa kuah santannya sudah sesuai (gurih dan enak). Evaluasi dari Yuniar, tekstur ketan kurang lembut. Katanya, kalau bubur ketan abang-abang gerobok dorong, si bubur ketan bisa langsung ditelan tanpa digigit juga tidak apa-apa (?) Hahaha. Baiklah, menjadi catatan untuk saya supaya esok hari membuat bubur ketan lebih baik.

Hari ini saya membuat bubur ketan lagi. Saya hanya menggunakan bahan ketan satu gelas kecil saja dan airnya cukup banyak. Baiklah, saya akan berbagi resep dan cara memasaknya ya.

Bahan membuat bubur ketan hitam:

1. Ketan Hitam satu gelas kecil atau satu cangkir

2. Gula putih (Ukuran sesuai selera, menyukai manis atau tidak)

3. Garam (Ukuran sesuai selera)

4. Lima gelas kecil air putih

5. Setengah gelas kecil tepung maizena yang sudah dilarutkan

6. Dua buah daun pandan

Bahan membuat kuah santan:

1. Satu buah santan kara ukuran kecil

2. Tiga gelas air gelas kecil

3. Satu gelas kecil tepung maizena yang telah dilarutkan

4. Garam (ukuran sesuai selera)

5. Dua buah daun pandan

Cara membuat bubur ketan hitam:

1. Rendam ketan hitam selama dua jam. Agar ketan mudah lunak dan lembut ketika dimasak.

2. Masukkan satu gelas kecil ketan hitam ke dalam panci kecil, lalu tuangkan lima gelas kecil air putih. Diamkan hingga air mendidih.

3. Setelah ketan sudah mulai lunak dan tampak membesar/matang, masukkan gula dan garam. Jangan lupa cek rasa dan cek kematangan ketan. Ketan hitam harus terus diaduk agar tidak gosong. Kurang lebih, ketan akan menjadi bubur dan matang dalam waktu 30 menit.

4. Setelah bubur ketan hitam matang, masukkan daun pandan, tutup panci, dan diamkan selama 10 menit. Tujuannya, supaya tekstur ketan semakin lembut dan lunak.

Cara membuat kuah santan:

1. Masukkan air ke dalam panci hingga mendidih

2. Masukkan santan kara dan dua buah daun pandan (Tujuan pemberian daun pandan adalah supaya bubur ketam hitam harum pandan).

3. Masukkan garam dan cek rasa

4. Angkat kuah santan dan letakkan ke dalam mangkuk.

Hidangkan bubur ketan sesuai selera. Bila menyukai bubur yang hangat, panaskan kuah santan dahulu bila ingin dihidangkan. Namun, bila menyukai makanan dingin, menyimpan bubur ketan hitam dan kuah santan di dalam kulkas dapat menjadi pilihan. Kemarin, Mama dan Yuniar senang sekali saat memakan bubur ketan hitam dalam keadaan dingin. Katanya, lebih enak 😀

Sekian pengalaman saya membuat bubur ketan hitam. Cara membuatnya mudah dan bahannya mudah sekali didapat. Semoga bermanfaat untuk kalian yang berencana membuat bubur ketan 😀

Ini bubur ketan yang mengalami beberapa kegagalan hehe namun, rasanya tetap enak Alhamdulillah. Bubur ketan hari ini belum saya foto. Nanti, Insya Allah saya tambahkan 😉

​​

Drama Keluarga My Golden Life

Sumber: Asianwiki.com

 ​

Drama My Golden Life sangat sarat makna. Drama ini menceritakan tentang kebersamaan dalam keluarga. Kebersamaan yang penuh dengan kisah menyenangkan dan menyakitkan, proses penyembuhan dan penerimaan, proses berjuang untuk bangkit kembali, dan proses untuk memaafkan. Tidak hanya tentang keluarga. Namun, juga menceritakan tentang problematika tiap anggota keluarga. 

Drama ini menunjukkan bahwa selalu ada harapan untuk orang-orang yang berusaha dan berjuang. Selalu ada harapan untuk orang-orang yang berbaik sangka dan bersabar terhadap kehidupan 🙂

Drama My Golden Life begitu menyentuh hati dan pikiran saya. Maka, saya akan berbagi beberapa pelajaran yang didapatkan:

1. Keluarga adalah harta yang paling berharga yang dimiliki oleh setiap individu. Betapa tidak sempurna diri atau bahkan betapa tidak baiknya diri ini, keluarga akan selalu menerima dan memaafkan.

Anggota keluarga hanyalah manusia biasa. Yang memiliki kesalahan, kekeliruan, keegosisan, dan ketidaksempurnaan. Jadi, jangan melulu menyalahkan. Sebab, kita hanyalah kumpulan beberapa orang yang banyak kekurangan dan keterbatasan. Maka, mari saling menerima, menghargai, dan menjaga perasaan. Hanya keluargalah yang dapat menerima, memaafkan, dan memberikan kesempatan. Karena, bersama keluarga kita akan baik-baik saja. Menghadapi semuanya bersama-bersama. Dengan berjalan beriringan dan bergandeng tangan.

2. Betapa kuat dan tegar seorang ayah, tetaplah manusia biasa. Meskipun selalu tersenyum dan tidak pernah mengeluh, seorang ayah hanya seorang manusia. Yang ingin ditanya apakah dalam keadaan baik-baik saja. Yang ingin dijaga perasaannya. Yang ingin dihormati. Yang juga ingin dipedulikan dan diperhatikan.

Ayah juga bisa bersedih dan merasa sakit. Maka, jaga selalu perkataan dan perbuatan kita. Khususnya bagi seorang anak. Betapa pun kita kecewa dan marah terhadap keadaan, bukan berarti kita berhak melampiaskan. Hanya karena tugas ayah adalah untuk melindungi, bukan berarti kita pantas menyalahkan dan menyudutkan. Ayah hanya manusia biasa. Sama seperti kita.

3. Betapa tidak tepat pilihan Ibu menurut pandangan kita, tentu semua yang dilakukan demi kebaikan anak-anaknya. Maka, maafkan dan berusaha mengetahui alasan dibalik tindakan yang dilakukan. Berhentilah untuk menyalahkan. Karena, orang yang rela mengorbankan diri hanya untuk kebahagiaan anak adalah ibu. Ibu rela melakukan apapun demi anaknya.

4. Jangan pernah menyembunyikan sesuatu dari saudara kandung. Percaya atau tidak, berbagi cerita dengan saudara sungguh akan meringankan beban. Orang yang tumbuh bersama dengan kita adalah saudara. Saudara pula yang berkontribusi besar atas perubahan diri ini menjadi lebih baik. Maka, mereka akan memahami keadaan kita dengan baik. Berbagilah.

5. Keadaan sulit benar-benar dapat membuat manusia jatuh dan tak akan bisa bangkit. Maka, jangan pernah kita menahan, menanggung, dan membawa beban itu sendiri. Kita harus memiliki tempat untuk bersandar. Kita mempunyai keluarga dan sahabat. Berbagi saja semua rasa suka dan duka. Mereka memang tidak secara langsung dapat membantu meringankan beban yang sedang kita bawa. Namun, paling tidak, beban di hati dan pikiran akan menjadi lebih ringan. Sehingga kita dapat bangkit dan menata hidup kembali.

Jangan menanggung semuanya sendiri. Kita bukan Rasul. Bahkan, manusia sempurna seperti Rasul saja membutuhkan Allah, keluarga dan sahabat disisinya, kan? Apalagi kita?

6. Jangan memaksakan standar orang-orang di luar menjadi standar kita. Jangan menjadikan prinsip hidup orang lain menjadi prinsip kita. Ini adalah kehidupan kita. Kita harus mengenal diri dengan baik. Kita harus menentukan prinsip. Supaya betapa pun beratnya standar masyarakat mengelilingi, kita bisa dengan kuat menghadapi.

Pahami apa yang disukai dan tidak. Pahami hal yang nyaman di hati dan tidak. Sehingga, masalah apapun yang datang, tak akan bisa meruntuhkan.

7. Uang bukanlah segalanya. Uang bukan menjadi penentu kebahagiaan. Menjalani kehidupan memang membutuhkan uang. Namun, percayalah, supaya hidup dengan baik, bukan uang sebanyak itu yang dibutuhkan. Gunakanlah uang secukupnya sesuai kebutuhan.

Kenali untuk apa kita hidup. Apakah yang kita lakukan bermanfaat untuk banyak orang. Apakah yang kita lakukan bebar-benar yang kita inginkan. Apakah yang kita lakukan benar-benar membuat nyaman dan senang. Apakah yang kita lakukan benar-benar bukan hal yang akan kita sesali semata. Jadi, pilihlah suatu hal sesuai hati nurani. Insya Allah kita tidak akan menyesal.

8. Kegagalan bukan suatu akhir kehidupan. Kita hanya perlu bangkit dan berlari lagi. Menyesal sama sekali bukan masalah. Kegagalan juga sama sekali bukan masalah. Yang menjadi masalah adalah ketika kita tidak mau berusaha. Berusahalah. Hingga keletihan letih untuk mengejarmu.

9. Mencintai seseorang bukan tentang keharusan memilikinya. Mencintai seseorang bukan tentang dia harus memenuhi segala yang kita inginkan. Mencintai seseorang, juga bukan tentang diri ini yang harus diprioritaskan.

Mencintai seseorang adalah tentang sejauh apa kita mengenal dirinya. Sehingga memudahkan jalan agar dia mencapai mimpinya. Sehingga mengerti kondisi dan alasan mengapa jalan itu yang menjadi pilihannya. Sehingga memahami lingkungan, bahwa jika keadaan menentang dan tidak memungkinkan, bersama bukanlah sebuah pilihan. Jika kebersamaan hanya membuat banyak pihak tersakiti, bersama bukanlah sebuah pilihan. Bersabarlah. Biarlah waktu yang memberikan jalan.

Saat ini, drama sedang berlangsung. Sudah sampai episode 48. Total episodenya adalah 50. Semoga akan menambah pemahaman, kebijaksanaan, dan pelajaran di episode akhir nanti  🙂

Cerita: Memasak Egg Roll 

Masak lagi, yeay!

Ketika mama harus menghadiri acara di luar rumah dalam jangka waktu yang lama, kami (saya dan Yuniar) selalu bertugas memasak lagi di rumah. Sebenarnya bisa saja kami membeli makan di luar, namun pengeluaran tentunya akan lebih besar. Oleh karena itu, kami memutuskan untuk memasak.

Tukang sayur keliling adalah penyelamat kami ketika memutuskan memasak di rumah. Kalau belanja di pasar, kami tidak bisa membeli bahan makanan dalam jumlah sedikit. Kami juga belum ahli membeli bahan makanan di pasar. Selain itu, berbelanja di tukang sayur keliling juga sangat memudahkan. Disana, semua bahan makanan sudah diatur dan dibungkus. Jadi, kami tinggal memilih saja bahan makanan yang diperlukan. Harganya pun murah.

Saat berbelanja, kami menyadari, menjadi ibu tidak hanya tentang pandai memasak saja. Namun, juga harus pandai mengatur keuangan. Harus mampu menyeimbangkan antara rencana memasak dengan keuangan. Jangan sampai pengeluaran berbelanja melebihi budget memasak hari itu.

Sebelum memasak, kami menuliskan beberapa bahan yang diperlukan. Yang tidak boleh dilupakan, menyusun bahan yang diperlukan harus disesuaikan pula dengan budget. Hal tersebut dilakukan supaya proses berbelanja dan penggunaan waktu lebih efektif dan efisien. Meminimalisir berbelanja di luar rencana juga.

Bahan yang diperlukan membuat egg roll sangat sederhana, yaitu: 

1. Telur enam butir

2. Bihun satu (Sesuai selera. Namun, jangan terlalu banyak. Supaya bihun terbalur dengan telur)

3. Wortel dua buah

4. Satu buah daun bawang.

Untuk bawang merah dan bawang putih, Alhamdulillah masih ada di rumah. Lumayan mengurangi pengeluaran 😀

Proses masak pun dimulai dengan pembagian tugas. Saya menyiapkan bumbu untuk menumis sayur taoge, telur dadar, dan tempe balado, memotong tempe (pada postingan ini tidak dibahas ya cara membuatnya :D), menumis sayur taoge, dan memasak tempe balado. Lalu, tugas Yuniar merebus bihun, memotong wortel, membuat adonan telur dadar, dan memasak telur dadar.

Ternyata, ide dapat muncul selama proses memasak loh! Yang awalnya ingin memasak telur dadar biasa, tiba-tiba Yuniar menyarankan agar membuat egg roll. Dan saya pun menyetujuinya. Egg roll adalah telur yang dimasak dengan digulung lalu dipotong-potong. Kalau kamu sering menonton drama korea, pasti sudah terbayang egg roll yang saya maksud 😀 Penasaran? Yuk, saya beritahu bagaimana cara membuatnya.

Berikut cara memasak egg roll:

1. Potong wortel dan daun bawang dengan ukuran kecil dan tipis. Tujuannya, supaya wortel dan daun bawang cepat matang saat digoreng.

2. Rebus bihun hingga lembut. Caranya, panaskan air, lalu tuangkan air panas ke dalam wadah yang sudah terisi bihun. Tuangkan sedikit minyak goreng ke dalam wadah tersebut. Tujuannya, supaya bihun tidak lengket dan tidak saling menempel antar bihun. Aduk hingga bihun lembut (bihun akan lembut dalam waktu dua menit saja, maka hati-hati jangan merebus terlalu lama. Nanti bihun akan menjadi lunak sekali). Lalu, sisihkan dan letakkan bihun di wadah kering.

3. Haluskan bumbu telur. Bumbu yang digunakan adalah tiga buah bawang merah, garam, dan sedikit royco. (Jika menyukai makanan pedas, dapat tambahkan cabai dan lada).

4. Siapkan satu wadah kosong. Lalu, masukkan wortel, bihun, telur, dan bumbu. Aduk rata seluruh bahan dan pastikan telur membaluri seluruh bahan-bahan tersebut.

5. Panaskan teflon dengan api kecil. Tuangkan sedikit adonan telur. Ratakan adonan telur di atas teflon. Diamkan hingga telur berwarna kuning. Dalam keadaan setengah matang, gulung telur perlahan hingga telur terlipat. Jika ingin gulungan telur lebih tebal, gulung setengah saja. Lalu, tambahkan lagi adonan di atas teflon. Kemudian, gulung kembali. (Pastikan menggulung dalam keadaan setengah matang. Sebab, jika keadaan telur terlalu matang, telur tidak akan bisa digulung).

6. Diamkan telur hingga matang.

7. Setelah matang, potong telur menjadi beberapa bagian. Ukuran sesuai selera. Kalau Yuniar, memotong telur dengan ukuran sedang.

8. Hidangkan. Menikmati egg roll dalam keadaan hangat lebih nikmat 😀

Saran:

1. Untuk isian telur, dapat dikreasikan sesuai selera. Namun, ukuranlah yang perlu diperhatikan. Potong semua bahan dalam ukuran kecil dan tipis supaya memudahkan dalam proses menggulung.

2. Memasak harus dengan api kecil. Agar mudah mengontrol kematangan telur untuk digulung.

3. Menggunakan dua telfon lebih baik. Proses mematangkan telur sambil menggulung, akan membuat proses memasak lebih lama. Jika yang menggoreng telur lebih dari satu orang lebih baik.

4. Jika ingin memasak egg roll untuk hidangan keluarga, lebih baik dipersiapkan di awal waktu. Sebab, proses membuat egg rol membutuhkan waktu yang cukup lama. Kasian sekali jika keluarga besar harus menunggu terlalu lama dalam keadaan lapar.

Sekian pengalaman memasak egg roll saya dan Yuniar. Semoga informasi memasak egg roll ini bermanfaat 😀

Rasanya enak. Percampuran rasa telur yang empuk dengan sayur dan bihun, membuat cita rasa menjadi tidak biasa. Jika ingin memasak makanan dengan bahan sederhana, hidangan egg roll ini boleh dicoba!


Juga cocok untuk makanan balita! Satria aja bolak-balik menyantap makanan ini 😉

Membuat Kartu Kuning

dKSeP6aW97R6t9AT8WDANJDA.jpg
Sisi Belakang Kartu Kuning. Informasi dari kartu tersebut, kalau sudah mendapat pekerjaan, jangan lupa menghubungi pihak pemerintah bagian ketenagakerjaan. Nomornya tertera disana. Jangan lupa ya!


Kemarin, saya ke Balaikota Depok. Ada keperluan membuat Kartu Tanda Pencari Kerja. Kartu tersebut lebih dikenal dengan sebutan Kartu Kuning. Bagi yang belum tahu, kartu kuning adalah satu lembar kartu berwarna putih (loh kok warnanya tidak kuning? Begini, katanya dulu warna kartu tersebut kuning. Sekarang sudah diganti :D) yang isinya biodata, pendidikan terakhir, pengalaman bekerja, dan terdapat nomor kartu kuning. Kita biasanya membutuhkan kartu kuning untuk melengkapi berkas saat melamar kerja di perusahaan milik pemerintah. Padahal, kartu kuning sebenarnya program pemerintah agar setiap warga mudah mendapatkan pekerjaan dan mengurangi jumlah pengangguran. Program pemerintah juga agar mengetahui jumlah warga yang belum mendapat pekerjaan.

Informasi yang saya dapat dari website pemerintah Kota Depok, ternyata kantor pemerintahan setiap daerah bekerja sama dengan beberapa perusahan negeri dan swasta untuk membantu warga untuk mencari pekerjaan. Jadi, nanti warga dihubungi oleh pihak pemerintah kalau ada lowongan pekerjaan yang sesuai dengan pendidikan kita. Nah, melalui data kartu kuning ini nanti tiap warga dihubungi kalau ada lowongan pekerjaan. Itulah manfaatnya mengapa kita harus membuat kartu kuning, agar data kita tercatat oleh pemerintah.

Saya juga baru mengetahui informasi ini. Sebelumnya, saya mengira kartu kuning hanya dibutuhkan untuk melengkapi berkas pendaftaran tes CPNS saja. Entahlah, saya yang kurang update berita atau pemerintah daerah juga kurang sosialisasi tentang kartu kuning ini. Mungkin, kedua alasan itu benar.

Berikut berkas-berkas yang dibutuhkan untuk membuat kartu kuning:

1. Ijazah terakhir (nanti dikembalikan, hanya untuk pendataan saja)

2. KTP (nanti juga dikembalikan)

3. Foto berwarna ukuran 3×4 (dua lembar)

Yang perlu dilakukan di Balaikota Depok:

1. Datang ke gedung ketenagakerjaan. Di sekitar Balaikota ada banyak sekali satpam, dishub, dan tukang kebun. Kalau bingung, jangan sungkan bertanya kepada mereka 🙂

2. Datang ke bagian pelayanan kependudukan. Di dalam ruangan tempat pelayanan Kartu Kuning, ada banyak loket. Disana tidak hanya mengurusi kartu kuning. Semua hal tentang kependudukan (KTP, Akte Kelahiran, Kartu Keluarga, Surat Pindah, dan lain sebagainya) diurus di ruangan itu juga. Jadi, tidak perlu bingung jika di dalam ruangan ramai sekali. Tanyakan saja pada petugas yang memberikan nomor antrean. Saat saya datang, loket pembuatan Kartu Kuning ada di sisi kiri pintu masuk dan tidak ramai. Jadi, saya bisa langsung menyerahkan syarat berkas-berkas.

3. Mengisi formulir. Formulir berisi tentang biodata, pendidikan terakhir, gaji yang diharapkan, pengalaman bekerja. Format formulirnya kurang lebih sama dengan formulir-formulir saat kita melamar pekerjaan. Namun, lebih singkat.

4. Menunggu Kartu Kuning dibuat (kurang lebih 10 menit saja).

5. Photo Copy kartu untuk dilegalisir. Saya Photo Copy di dekat gedung ketenagakerjaan. Letaknya di sisi kanan gedung, dekat parkiran. Kalau ingin photo copy di luar boleh saja. Tapi, tentunya tidak efektif. Karena akan membutuhkan waktu lebih lama.

6. Legalisir kartu oleh petugas.
Pembuatan Kartu Kuning tidak dikenakan biaya apapun. Biaya dibutuhkan hanya untuk photo copy saja.

Begitu pengalaman saya membuat Kartu Kuning. Membuat Kartu Kuning ternyata mudah dan cepat. Semoga bermanfaat 😀

Cerita: Mengajari Anak Mewarnai

Pada baris pertama adalah contoh yang saya berikan. Pada baris kedua adalah karya Satria 🙂

Teman Satria bermain di rumah adalah ayah dan Danang. Mungkin karena sesama laki-laki, bermain dengan mereka menyenangkan bagi Satria. Permainan sederhana seperti gendong-gendongan, lari-larian, atau saling meniban badan. Entahlah nama permainan tersebut dalam bahasa baku apa. Yang jelas permainan mereka melibatkan banyak kekuatan otot 😀

Alhamdulillah, hari ini berhasil mengajari Satria mewarnai. Dulu sekali Satria pernah dikenalkan dengan gambar dan krayon. Sudah lama kami tidak mengajarinya lagi. Kini, saat Satria sudah berusia 4 tahun dan kami baru memberikan pengalaman mewarnai lagi. Iya, kami terlambat. Tetapi, lebih baik terlambat daripada tidak kan?

Tahapan pertama adalah saya membuat tiga bentuk bangun datar yaitu, lingkaran, persegi, dan segitiga pada kertas ukuran A4. Dalam kertas tersebut saya menggambar enam gambar. Tiga gambar untuk Satria dan tiga gambar untuk saya. Kemudian saya mencontohkan cara mewarnai. Kami mewarnai bersama. Hasil pengamatan saya, Satria belum terbiasa menggunakan jari-jari untuk memegang krayon. Otot-otot tangannya belum adekuat. Sehingga mudah lelah. Dari awal mewarnai, Satria mengeluh bahwa tangannya sakit. Mungkin yang dirasakannya adalah pegal bukan sakit. Dia meminta untuk berhenti dan tidak  menyelesaikannya. Namun, saya dan Yuniar tidak menurutinya.

Selama proses mewarnai berlangsung, ketika itu juga dia merajuk supaya istirahat. Saya tetap menemaninya mewarnai dan memotivasi agar segera menyelesaikannya. Setelah saya selesai, saya membantu menunjukkan area yang masih perlu diwarnai kepada Satria. Alhamdulillah, meskipun mengeluh, Satria tetap menyelesaikan mewarnai bentuk lingkaran, segitiga, dan persegi. Dan setelah selesai, wajahnya tampak senang sekaligus kelelahan 😀

Tahapan kedua, Satria mewarnai gambar sapi, pohon, langit, dan jalanan yang dibuat oleh Yuniar. Saat gambar selesai dibuat, saya menanyakan beberapa pertanyaan untuk identifikasi gambar tersebut. Saya menunjuk gambar dan Satria menyebutkan namanya. Dia berhasil mengenali Sapi, pohon, dan jalanan. Namun, tidak berhasil menebak langit. Mungkin gambar Yuniar terlihat membingungkan? Hahaha entahlah. Sesungguhnya, Satria memang belum mengenal kata ‘langit’. Yang dia tahu adalah awan.

Saya memberikan kesempatan agar Satria memilih gambar yang lebih dulu diwarnai. Saya dan Yuniar juga membebaskan Satria memilih warna yang disukai. Akhirnya, Satria memilih mewarnai Sapi dengan krayon hijau muda. Dia berhasil mewarnai satu ekor sapi. Saya dan Yuniar mewarnai sisanya. Setelah menyelesaikannya, Satria melanjutkan dengan mewarnai jalanan.

Titik jenuh dan kelelahan Satria memuncak saat mewarnai jalanan. Sebab, jalanan yang digambar Yuniar lumayan panjang. Jadi, mewarnainya membutuhkan waktu yang lama. Frekuensi Satria mengeluh menjadi lebih banyak. Dan saya pun jadi lebih sering memotivasinya, seperti, “Ayo dek semangat. Itu masih ada putih-putihnya. Sebentar lagi kan selesai. Ini mbak bantuin loh.” saya menyemangati terus seperti itu. Akhirnya jalanan selesai diwarnai. Alhamdulillah. Berakhirnya mewarnai jalanan, berakhir pula belajar mewarnai hari ini. Satria sudah kelelahan. Namun, langitnya belum diwarnai. Dilain kesempatan, Satria akan melanjutkan lagi, Insya Allah.

Sapi hijau yang di tengah dan jalanan yang berwarna merah dan hijau adalah karya Satria 😀


Hal-hal yang perlu mendapat perhatian
:

1. Kekuatan otot tangan Satria belum kuat

Kemampuan motorik halusnya masih perlu ditingkatkan. Satria memang sudah bisa melakukan beberapa kemampuan motorik halus seperti memasukkan dan melepaskan kancing baju, memutar tutup botol minum, membalik satu lembar kertas, mengupas kulit telur puyuh, membuka botol yang dapat dibuka tutup, menggunakan sendok dan garpu, dan mewarnai menggunakan krayon. Namun ternyata, Satria belum bisa bertahan melakukan kegiatan tersebut dalam waktu lama. Hal itu terjadi karena otot-otot tangan belum kuat. Sehingga ototnya mudah lelah jika digunakan dalam waktu lama. Satria perlu latihan lagi agar ketahanan otot jari-jari meningkat 😉

2. Mengajari anak usia 4 tahun keterampilan baru butuh usaha besar dilakukan

Anak pada usia ini sudah bisa bernegosiasi sesuai dengan hal-hal yang menguntungkan dan menyenangkan. Anak akan memiliki banyak akal untuk tidak melakukan dan menghindari kegiatan yang tidak menyenangkan baginya. Satria sangat senang bermain mobil-mobilan dan menonton kartun di channel rtv. Jadi, minatnya lebih besar pada kegiatan itu. Untuk kegiatan lain, Satria belum memiliki minat yang besar.

Orang-orang disekitar harus memiliki upaya yang besar dan konsisten jika ingin menstimulasi kemampuan anak. Agar perkembangan sesuai dengan anak normal seusianya. Mudahkah melakukannya? Tentu tidak, namun pasti bisa.

3. Kemampuan anak harus distimulasi dan difasilitasi

Anak tidak akan tumbuh dan berkembang dengan sendirinya. Butuh stimulasi dan fasilitasi agar kemampuannya berkembang.

Untuk motorik kasar Satria, berkembang cukup pesat. Alhamdulillah, Satria sudah mampu berlari, berjalan mundur, berjalan ke samping, lompat dua kaki, lompat satu kaki, memanjat, berputar, bermain bola, menjaga keseimbangan, mengendarai vespa ukuran kecil dengan kecepatan cepat, mengendarai mobil-mobilan kecil dengan kecepatan super cepat, dan naik sepeda roda tiga. Mengapa Satria berkembang pesat pada motorik kasarnya? Sebab, keluarga memberikan kebebebasan kepada Satria untuk bermain di halaman rumah. Satria juga dibolehkan berlarian dan bermain disana bersama teman-teman. Jika Satria ingin menaiki kursi atau motor, kami juga membolehkan. Namun, kami tetap mengawasi dari jarak dekat untuk memastikan Satria dalam keadaan aman. Memiliki saudara laki-laki juga memberikan kontribusi terhadap perkembangan motorik kasar Satria. Kehadiran Mas Danang sangat membantu meningkatkan perkembangan Satria.

Untuk kemampuan motorik halus Satria, memang harus ditingkatkan lagi. Sebab, kami jarang memberikan stimulasi dan fasilitasi melakukan keterampilan tangannya. Maka, wajar sekali kini Satria belum terbiasa dan merasa tidak mudah melakukannya. Semoga kelak kami bisa lebih sabar dan telaten untuk mengajarinya.

Lagi-lagi saya menyebutkan, mengajari anak itu seperti mengukir tulisan pada kertas putih kosong. Bagaimana kita menjaga kertas agar tetap bersih dan bagaimana kita memilih tulisan apa yang baik, semua pilihan ada pada kita. Kita bebas menentukan ingin seperti apa kertas putih itu tumbuh berkembang.

Semoga kita bisa menjadi pribadi yang ‘sadar’ dan ‘waras’. Bahwa apapun pilihan yang dipilih akan menentukan bagaimana keberlangsungkan hidup seorang anak. Semoga kelak kita menjadi orang tua yang terus belajar dan bijaksana. Aamiin.

Cerita: Memasak Sup Tahu Telur Puyuh

Hari ini saya membuat Sup Telur Puyuh dalam rangka melayani mama yang sedang sakit. Ini adalah kali kedua saya membuat sup. Sebelumnya, saya membuat sup bersama teman-teman saat di indekos dulu. Pengalaman waktu itu cukup lucu bila diingat kembali. Ketika tiga orang dari keluarga yang berbeda membuat sup bersama, maka banyak hal kami perdebatkan. Karena kebiasaan kami berbeda, proses membuat sup ternyata juga berbeda. Perbedaan tentang ukuran sayur saat dipotong, bumbu yang dihaluskan langsung di masukkan ke air sup atau perlu ditumis dahulu, sampai tentang ayam harus digoreng dahulu atau langsung dimasukkan ke kuah sup. Disini kami belajar, dalam kerja tim tidak ada yang paling benar dan tidak. Yang terpenting adalah diskusi dan kesepakatan. Alhamdulillah kami bertiga sepakat tanpa mengedepankan ego masing-masing 😀

Hari ini, rekan memasak saya adalah Yuniar. Bahan membuat sup sangat mudah didapat dan sangat sederhana. Seperti:

1. Tahu Cina Satu buah

2. Satu paket sayur sop (Dapat didapatkan di tukang sayur keliling. Disana telah disediakan bungkusan-bungkusan sayur sop dan sayur lodeh).

3. Telur puyuh Sepuluh Butir

4. Garam dan Gula

5. Royco

6. Bawang putih tiga buah

7. Bawang merah tiga buah

Bahan tambahan untuk membuat gorengan:

1. Tempe

2. Tepung Bumbu Serba Guna Kobe

3. Kentang tiga buah ukuran sedang

Setelah bahan-bahan sudah siap, kami juga harus pandai membagi tugas untuk memisahkan bahan-bahan, mencuci sayur, dan memotong sayur. Selain membuat sup, kami juga membuat tempe goreng tepung dan kentang goreng. Karena tugas begitu banyak, kami menyadari dibutuhkannya kemampuan multitasking dan bergerak cepat. Tidak ada waktu luang yang dibiarkan begitu saja. Kami berusaha memanfaatkan waktu dengan sebaik-baiknya.

Langkah pertama, saya memutuskan untuk memotong sayur dan tempe dahulu. Supaya nanti tinggal mengeksekusi bahan-bahan tersebut ke dalam panci dan penggorengan. Dalam proses memotong dan menyiapkan bahan-bahan, saya dan Yuniar lancar mengerjakannya. Bahkan saya sempat mengajak Satria untuk mengupas kulit telur puyuh bersama. Satria sangat bersemangat dan senang 😀 Meskipun sesekali ada bagian telur yang rusak karena kukunya menekan kulit telur terlalu dalam, namun Satria tidak putus asa. Saya pun tidak memarahinya dan terus menyemangati. Alhamdulillah tugas selesai dan melatih keterampilan jari-jari Satria juga terlaksana.

Yuniar mengerjakan tugas dengan baik. Kentang telah dicuci bersih, dikupas kulitnya, dan telah dipotong-potong kecil. Setelah semua bahan siap untuk dimasak, maka kami memulai memasak. Dua kompor gas kami gunakan sekaligus untuk membuat sup, menggoreng tempe, dan menggoreng kentang.

Kami memutuskan untuk menumis bumbu sup (Bawang merah dan bawang putih diiris halus). Tidak ada alasan khusus untuk bumbu yang ditumis, hanya saja kami merasa lebih yakin bumbu matang sempurna bila ditumis dahulu. Bumbu tidak perlu ditumis sampai kering. Bila bumbu sudah harum, artinya bumbu sudah matang dan siap disisihkan. Selanjutnya, bumbu dan wortel dimasukkan ke panci yang sudah berisi air mendidih.  Sambil menunggu bumbu menyatu dengan air, kami memberikan garam, gula, dan royco ke dalam air tersebut. Agar rasanya sesuai dengan yang diharapkan, kami mencicipi kuah sup itu tiap kali garam dimasukkan. Alangkah kaget dan ingin tertawa, betapa aneh rasa kuahnya. Sama sekali belum ada rasa sup. Kuahnya terasa seperti air rebusan yang diberi sedikit garam. Saya dan Yuniar terbahak-bahak dibuatnya. Betapa tidak mudah memasak sup :’) Dan kami merasa berdosa, selama ini mudah sekali memberikan kritik pada masakan mama. Padahal membuat cita rasa seperti masakan mama tidak dimudah dilakukan.

Akhirnya, saya memutuskan untuk menambahkan satu buah bawang merah dan putih lagi. Agar rasa supnya sedap dan tidak hanya asin saja. Kali ini bawang tidak diiris. Saya mencoba untuk menghaluskan bawang tersebut. Setelah bawang halus, kemudian ditumis sebentar, lalu dimasukkan ke dalam sup. Kami segera cek rasa kembali. Alhamdulillah rasanya sudah ‘seperti ‘ sup. Tinggal tingkat keasinannya saja perlu ditambah lagi. Kami benar-benar bahagia setelah merasakan cita rasa itu Alhamdulillah 🙂

Sebelum memasukkan bahan-bahan yang lain, kami mengecek tekstur wortel. Ternyata sudah benar-benar empuk dan matang. Maka, segera kami memasukkan kentang, daun bawang, kol, buncis, telur puyuh, dan tahu cina ke dalam panci. Semua kami rebus sebentar, dan sup siap untuk dihidangkan!

Sambil memasak Sup Tahu Telur Puyuh, kami juga menggoreng tempe ditepungi. Kami membuat dua celupan terigu untuk tempe. Satu celupan tepung cair dan satu lagi celupan tepung kering yang tidak diberi air. Setelah tempe dimasukkan ke dalam celupan tepung cair, selanjutnya tempe dibalurkan dengan tepung kering. Cara seperti ini menghasilkan tempe yang benar-benar kering, renyah, dan enak 🙂

Alhamdulillah selesai! Rasanya benar-benar bahagia sekali menyelesaikan masakan kentang goreng, tempe goreng tepung, dan Sup Tahu Telur Puyuh. Memasak itu menyenangkan namun juga melelahkan. Mungkin karena kami belum terbiasa, maka pengaturan tugas dan waktu juga belum efektif. Penggunaan piring dan mangkuk juga belum efisien. Alhasil, selesai masak banyak sekali piring kotor di atas meja. Pekerjaan selanjutnya telah menunggu haha

Selain menyenangkan, ketika berhasil menghasilan cita rasa masakan yang kami harapkan ternyata membahagiakan sekali. Mama juga mengapresiasi Sup buatan kami. Katanya enak 😀 Alhamdulillah.

Dilain waktu kami akan memasak lagi, Insya Allah. Mungkin kami akan membuat Sup Kimlo? Sepertinya enak 🙂 Semoga kemampuan memasak kami meningkat dan mampu memasak masakan lebih bervariasi lagi. Aamiin.

Note: Yuniar hari ini juga membuat sambal. Bahan-bahannya, cabai, bawang putih, dan terasi. Seluruh bahan digoreng kemudian dihaluskan. Kemudian masukkan garam dan gula. Rasanya benar-benar enak. Good job, Yuniar! Ditunggu buatan sambalnya lagi ya 😀