Kita dan Pandemi #39: Tidak Butuh Plasma Konvalesen

Jadi gini, tanggal 19 agustus 2021 kemarin, darahku diambil untuk dijadikan sampel. Pemeriksaan darah ini dilakukan untuk memeriksa apakah antibodi IGgku sudah terbentuk atau belum. Kalau sudah terbentuk, itu artinya aku bisa mendonorkan plasma konvalesen.

Setelah lima hari (24 Agustus 2021), akhirnya aku dihubungi oleh pihak PMI melalui whatsapp. PMI menginformasikan, antibodi IGgku sudah terbentuk dan aku dibolehkan untuk donor plasma. Esok harinya, aku perlu datang ke PMI. Iya, betul kamu tidak salah baca. PMI mengabariku H-1 sebelum jadwal donor plasmaku. Terlalu mendadak, menurutku. Khususnya untuk aku: butuh waktu untuk menaikkan hemoglobin.

Karena pada saat itu aku baru saja mengonsumsi obat, aku tidak bisa hadir sesuai jadwal yang telah diberikan. Sesuai kesepakatan, empat hari kemudian (28 Agustus 2021) aku pun langsung mengabari PMI kalau aku sudah siap untuk donor plasma. Tapi, tidak ada balasan. Kau tahu? Sampai sekarang, pihak PMI belum merespon chat terakhirku itu.

Continue reading “Kita dan Pandemi #39: Tidak Butuh Plasma Konvalesen”

Kita dan Pandemi #38: PPKM Level 4

PPKM Level 4 kembali diperpanjang sampai 16 Agustus 2021. Banyaknya meme dan sindiran makan 20 menit selama PPKM. Gelisahnya masyarakat karena pandemi tak kunjung usai. Melihat ini semua, rasanya “lucu” juga. Tanpa sadar, kita sudah mulai lelah.

Continue reading “Kita dan Pandemi #38: PPKM Level 4”

Kita dan Pandemi #37: Bagaimana Jika Hasil Tes PCR Belum Negatif?

Bisa mendapatkan hasil negatif dalam waktu kurang lebih satu minggu setelah gejala pertama, rupanya menjadi sesuatu menakjubkan bagi banyak orang.

Lalu, mereka akan menanyakan beberapa pertanyaan ini,

“Kamu ngapain aja ketika isoman?”
“Kamu makan apa aja?”
“Gimana caranya ningkatin imun?”

Sebaliknya, bila tidak mendapatkan hasil negatif dalam 10 hari isoman, mereka akan memberi pernyataan ini,

“Kok belum negatif, ya.”
“Obatnya diminum nggak sih.”
“Terlalu banyak pikiran kayaknya deh.”
“Pasti dia nggak tenang karena belum negatif.”

Dan masih banyak pernyataan tidak menyenangkan lainnya.

Melihat kejadian ini di lingkungan sendiri. Aku melihatnya lucu juga. Sepertinya ia belum terlalu banyak mencari referensi.

Continue reading “Kita dan Pandemi #37: Bagaimana Jika Hasil Tes PCR Belum Negatif?”

Kita dan Pandemi #36: Sembuh

Kabar baik itu datang. Kepala ruanganku mengirimkan hasil tes swab PCR keduaku (24/07/21). Di sana tertulis, aku sudah negatif. Alhamdulillah.

Mendengar kabar baik itu, hati kecil ingin menangis. Namun, tidak ada air mata yang mengalir. Sepertinya aku terlalu bahagia, hingga tidak bisa berkata apa-apa.

Continue reading “Kita dan Pandemi #36: Sembuh”

Kita dan Pandemi #35: Isolasi Mandiri

Satu minggu lalu (11/07/21), tenggorokanku sakit. Rasanya persis seperti ketika mengalami radang tenggorokan.

Kalau saat ini sedang tidak pandemi, mengalami sakit tenggorokan seperti ini mungkin aku akan merasa biasa saja. Kalau salah satu rekan satu shiftku tidak mengalami anosmia (kehilangan kemampuan untuk mencium bau) dan tetap masuk kerja, mungkin aku juga akan merasa baik-baik saja.

Namun, saat ini kondisi dunia sudah berbeda. Melihat orang di sebelah tiba-tiba batuk saja hati kita rasanya deg-degan sekali. Setiap orang tentunya akan lebih hati-hati dan waspada dari pada biasanya.

Continue reading “Kita dan Pandemi #35: Isolasi Mandiri”