Berkenalan dengan Penyandang Autis

Ms Nina baru saja mengunggah sebuah foto dalam akun instagramnya. Captionnya sangat menarik,”If they can’t learn the way we teach, we teach the way they learn.” Kalimat sederhana yang memiliki arti bermakna.

Ms Nina adalah guru sekolah dasar di sekolah inklusi swasta di Jakarta Barat. Pernah menjadi rekan kerjanya adalah anugerah yang berharga. Ms Nina juga teman diskusi yang seru. Dulu aku banyak bertanya tentang anak-anak berkebutuhan khusus dengannya. Dan Ms Nina selalu menyediakan banyak waktu untuk menjelaskan dengan rinci dan lengkap.

Tanggal 2 April adalah Hari Autis Sedunia. Sebenarnya aku lupa. Namun, berkat unggahan ibu-ibu guru sekolah inklusi itu, aku kembali diingatkan. Ibu-ibu guru mengunggah tulisan pada status whatsapp ‘World Autism Awareness Day‘. Mereka juga mengunggah beberapa video murid-murid membawa poster berkeliling sekitar sekolah. Mereka mengedukasi masyarakat sekitar bahwa penyandang autis adalah teman kita. Tak perlu memandang dengan tatapan aneh dan sebelah mata. Seperti caption Ms Nina, jika mereka kesulitan belajar dengan cara kita karena keterbatasannya, mengapa kita yang lebih mampu tidak mengajari mereka dengan caranya?

Aku teringat saat perjalanan pulang ke rumah menggunakan krl. Saat itu, ada dua orang mahasiswi sedang berbincang. Karena mereka memang berdiri persis di sampingku, aku pun mendengar jelas percakapan mereka. “Iya, dia tuh cowok aneh. Setiap di kelas dia sendirian aja. Kalo jalan kaki, ya nunduk aja. Kalo gue tanya, ngejawabnya pake bahasa baku. Oh iya! Gue pernah ketemu di lift kampus. Masa dia muter-muter di depan lift. Dia baru berhenti muter saat pintu liftnya kebuka. Temen-temen di kelas nggak ada yang bully dia sih. Kita cuma aneh aja.” cerita panjang lebar si mahasiswi berambut panjang itu. Dari intonasi suaranya, aku tahu ia benar-benar bingung.

Dari ceritanya aku bisa menduga siapa yang ia bicarakan. Kata kuncinya adalah ia ‘muter-muter di depan lift’ dan bahasanya ‘baku’. Aku menduga, kemungkinan teman sekelasnya adalah penyandang autis. Penyandang autis tidak asing di telingaku. Aku pernah membersamai mereka selama 1,5 tahun. Meskipun belum ahli menangani mereka, aku memiliki pengalaman berinteraksi dan berkomunikasi dengan mereka. Langsung saja aku tulisan ceritanya, ya.

Kali Pertama Bertemu Raka, Patra, dan Fakhri

Di sekolah inklusi tempatku bekerja dulu, aku berkenalan dengan tiga anak penyandang autis. Dua anak sudah mampu berkomunikasi dan berinteraksi, satunya lagi belum bisa berkomunikasi apa-apa.

Yang pertama sebut saja namanya Raka. Saat aku bertemu dengannya Raka sudah kelas 6 SD. Raka bisa bertanya dua hal yaitu tentang alamat rumah dan tentang rumah. Raka biasanya mengajukan pertanyaan seperti ini, ‘Ms rumahnya di mana?‘, ‘Ms rumahnya warna apa?’, ‘Di rumah Ms ada AC tidak?, ‘Ms rumahnya tingkat tidak?‘. Ketika kita sudah menjawab semua pertanyaannya, Raka akan mengingat semua jawaban kita. Ia hafal betul semua kalimat yang kita ucapkan tadi. Kali pertama tahu kemampuannya, aku kaget sekali. Ia benar-benar hafal jawabanku dalam hitungan detik.

Yang ke dua, sebut saja namanya Patra. Patra kelas 3 SD. Kebetulan aku mengajar di kelas itu. Jadi, aku lumayan tahu kemampuan dan sikap Patra sehari-hari. Patra berbeda dengan Raka. Patra masih sulit melakukan kontak mata. Masalah ini memang hampir dimiliki sebagian besar penyandang autis. Maka, yang dapat kita lakukan ketika berbincang dengannya adalah duduk sejajar dengan dirinya, memegang kepalanya agar menatap wajah kita, dan kemudian ajukan pertanyaan singkat jelas kepadanya. Apa yang kita lakukan itu akan memudahkan Patra menjawab pertanyaan.

Patra juga terlalu sensitif dengan suara keras. Ia masih mampu mendengar musik. Namun, mendengar suara anak-anak yang berteriak atau suara drum saat pelajaran musik akan membuat Patra ketakutan. Perihal ini juga ciri khas anak-anak penyandang autis. Mereka mengalami gangguan pada beberapa panca inderanya. Untuk Patra, ia mengalami gangguan pada pendengarannya. Aku pernah dijelaskan oleh koordinatorku saat di sekolah inklusi dulu. Katanya, pendengaran Patra terlalu sensitif. Jika kita mendengar suara tertawa dan drum biasa saja, bagi Patra tidak. Suara-suara itu super keras terdengar oleh telinganya. Dan kenyataan tersebut sangat menganggu Patra. Maka, tidak heran bila Patra menutup telinga dan menangis tiap kali mendengar suara keras. Kami pun memahami itu. Kelainan itu bisa disembuhkan. Patra hanya perlu dibiasakan mendengar suara-suara itu. Pelan-pelan saja dan tidak perlu dipaksa. Bila dilakukan secara terus menerus dan konsisten, Patra akan mengenal suara-suara keras.

Sama seperti Raka, Patra memiliki kemampuan menghafal yang super baik. Patra paling senang dengan gadget. Ia hafal betul spesifikasi bermacam-macam gadget. Aku takjub sekali saat ia berhasil menyebutkan spesifikasi Samsung Galaxi S7 beberapa tahun lalu πŸ˜‚

Yang ke tiga, kita sebut namanya Fakhri saja, ya. Fakhri kelas 1 SD. Aku tidak banyak berinteraksi dengan Fakhri. Kelainan Fakhri cukup berat. Ia belum memiliki kontak mata, masih berbicara sendiri tanpa makna, dan masih sering melakukan gerakan berulang. Berbicara dengan Fakhri harus di tempat yang sunyi supaya ia tidak terdistraksi dengan apapun. Fakhri juga belum mengenal instruksi. Dan tidak semua guru bisa berinteraksi dengan dia. Hanya Ms Nisa saja yang mampu mengarahkan Fakhri. Aku pernah beberapa jam bersamanya. Bahkan untuk menginstruksikan Fakhri memakai kaos kaki saja aku belum mampu.

Mereka Membutuhkan Perhatian dan Bantuan Kita

Apa yang penyandang autis lihat dan rasakan memang berbeda. Ada kerusakan pada bagian otak yang membuat beberapa fungsi menjadi terganggu. Beberapa kesulitan yang paling banyak dialami mereka adalah komunikasi dan interaksi dengan orang lain serta melakukan gerakan berulang. Mereka melihat dan mendengar hal sekitar dengan cara yang berbeda. Kalau kata dokter yang ahli di bidang ini, otak mereka terlalu penuh dan sibuk, namun, mereka tak mampu mengendalikannya. Mereka membutuhkan bantuan kita untuk memudahkan setiap hal.

Contohnya saja dalam hal komunikasi dan belajar. Dalam komunikasi, jangan berbicara pada mereka sebelum matanya benar-benar menatap mata kita. Ajarkan mereka pengalaman ini. Bahwa ketika berbicara dengan orang lain mata harus menatap lawan bicara. Jangan berbicara saat lingkungan tidak kondusif. Mudahkan mereka melakukan percakapan ini. Lingkungan yang sunyi akan memudahkan mereka menangkap informasi. Dalam belajar, bantu mereka menggunakan media pembelajaran. Belajar menggunakan bantuan gambar dan contoh konkret akan memudahkan mereka mengerti.

Karena mereka memandang segala hal dengan berbeda, memang akan ada banyak perilaku mereka yang menganggu. Mereka akan berteriak dan melempar barang tiap kali merasa cemas dan bingung. Bahkan mereka bisa melukai dirinya sendiri dan orang lain bila merasa terancam. Bila anak kecil normal diibaratkan seperti kertas kosong dan dapat kita isi. Anak-anak penyandang autis adalah ibarat kertas yang sudah terisi dan perlu kita perbaiki dan ajari. Mereka membutuhkan berkali-kali lipat pengertian dan bantuan kita. Mengerti segala keterbatasan mereka dan membantu mengembangkan potensi mereka secara optimal.

Tatapan aneh yang biasa kita berikan pada mereka yang berbeda, kurasa hanya karena ketidaktahuan kita. Jika kita mengenal mereka, aku yakin kita tidak akan memberikan tatapan itu lagi. Malah sebaliknya, kita akan bersemangat memberikan perhatian dan bantuan. Sesederhana menyapa, menanyakan nama, dan mengajak mereka bersalaman, misalnya 😊

Aku tidak memberi apa-apa pada Raka, Patra, dan Fakhri. Akulah yang mendapat banyak hal dari mereka. Berkenalan dengan mereka membuat aku sadar bahwa ada banyak anak spesial yang membutuhkan uluran tangan kita untuk melangkah bersama. Mereka membutuhkan tatapan hangat kita untuk meyakinkan bahwa dunia ini tidak mengerikan seperti yang mereka rasakan. Mereka membutuhkan kehadiran kita untuk memudahkan apa-apa yang sulit mereka mengerti.

Berkat mereka, aku sadar, ada banyak usaha perlu diapresiasi. Ada banyak proses memang harus dilalui supaya kita mendapatkan ilmu yang baru. Berkat mereka, aku lebih banyak bersyukur. Ternyata, ada begitu banyak kemampuan dan nikmat lupa untuk disyukuri.

If they can’t learn the way we teach, we teach the way they learn.” – Ms Nina

Advertisements

‘Terpapar’ dengan Perbuatan Baik

Saya ini selalu kagum dengan orang-orang yang konsisten melakukan perbuatan baik. Saya kagum dengan Ira dan Kak Dhika.

Ira

Pertama kali saya mengagumi perbuatan baik seseorang adalah saat masih kuliah dulu. Saya kagum pada sahabat saya. Namanya Ira. Rumah Ira di Tangerang Selatan (Tangsel). Jarak Depok-Tangsel sebenarnya bisa ditempuh menggunakan motor. Namun, karena perkuliahan dilakukan setiap hari, Ira tidak mungkin setiap hari pulang ke rumah. Kalau dipaksakan, taruhannya adalah kesehatan Ira. Akhirnya, Ira pun ngekos.

Selama kuliah, saya sering main di kosan Ira. Sekadar numpang tidur siang sambil nunggu kelas kuliah selanjutnya atau nugas bareng. Saking seringnya di kosan Ira, saya pun terbiasa dengan kebiasaan Ira. Ira ini anaknya rajin. Rajin datang tepat waktu, rajin merapikan kamar, dan rajin mandi. Karena sering ‘terpapar’ dengan rajinnya Ira, tanpa sadar, saya pun mengikuti kebiasaannya.

Selain rajin, Ira juga dermawan dan perhatian. Ira suka sekali memberi. Saya ingat betul dulu saat sering main ke kosan Ira, ketika saya sedang malas-malasan di kasurnya, Ira sibuk di dapur menyiapkan makanan untuk saya. Tanpa pertanyaan apapun, tiba-tiba Ira datang membawa semangkuk mie rebus, sepiring nasi, dan sepiring naget ayam. Rezeki anak kuliahan, bahagia betul dapat makanan gratisan :’)

Ada cerita lain tentang sikap perhatian Ira ini. Rumah saya dekat dengan kampus. Saya membutuhkan waktu sepuluh menit saja untuk sampai di rumah. Karena begitu dekat, Ira pun sering main ke rumah. Ira tahu kalau saya memiliki adik-adik kecil. Maka, tiap kali ke rumah, Ira selalu membawa dua kotak yakult. Katanya,”Ini untuk adik-adikmu!” Hati mana yang tidak tersentuh jika selalu ‘terpapar’ perbuatan-perbuatan baikmu, Ra? :’)

Berteman dengan Ira, membuat saya memahami alasan mengapa kita perlu dekat-dekat dengan orang dan lingkungan yang baik. Ternyata, dekat-dekat dengan hal baik akan membuat kita ‘tertular’ dengan banyak kebaikan.

Kali pertama melihat kebaikan Ira, memang tidak secara langsung membuat saya berubah saat itu juga. Kali pertama merasakan kebaikan Ira, juga tidak secara langsung membuat saya ingin melakukan hal itu juga. Yang saya pahami saat itu, saya sadar Ira adalah teman yang baik. Dan saya senang diperlakukan seperti itu. Sesederhana itu pikiran saya.

Kamu tahu? Ternyata ‘terpapar’ dengan kebaikan akan membuat alam bawah sadar kita ‘merekam’ semua itu dalam pikiran. Akhirnya, secara perlahan kita pun akan melakukan hal yang sama dalam keseharian. Mungkin, pada awalnya semua dilakukan untuk membalas kebaikan teman. Tak tahunya lama-lama menjadi kebiasaan.

Kak Dhika

Kali ini, saya kagum pada Kak Dhika. Kak Dhika adalah rekan kerja saya. Kali pertama berjumpa, si kakak langsung memberikan hadiah kepada saya. Saat itu, Poli Rehabilitasi Medik (Rehab Medik) akan membuat seragam baru. Maka, kami pun membeli jilbab baru. Jilbab yang harus dibeli ada tiga buah. Kebetulan yang bertugas mengumpulkan uang adalah Kak Dhika. Ketika ingin membayar, Kak Dhika bilang seperti ini,“Kamu bayar dua jilbab aja. Satu jilbab hadiah dari saya untuk kamu.” Mendengar perkataan Kak Dhika tentu saja saya bingung. Orang yang baru dikenal belum genap dua bulan, langsung memberikan hadiah sebagai tanpa pertemanan. Hati siapa yang tidak terharu bila diperlakukan baik seperti itu. Siapapun kurasa hatinya akan ‘meleleh‘.

Masih tentang Kak Dhika. Sore itu ada seorang perempuan datang ke Poli Rehab Medik membawa sekotak brownis. Langsung saja saya tanyakan Kak Dhika tentang brownis itu,“Kak, itu siapa? Kok tiba-tiba bawa brownis?”, Kak Dhika menjawab,“Dia bagian pendaftaran pasien BPJS. Kemarin, aku minta tolong sama dia cariin berkas berobat bapakku. Karena dia udah baik banget mau bantu, aku kasih aja sekotak yakult. Eh barusan dia malah bawain aku brownis. Kan yang minta tolong aku, kenapa dia bawain brownis ckck.” Kebaikan memang menular, ya. Dan saling menebar kebaikan itu indah.

Ada lagi cerita lain. Aku dan Kak Dhika sedang membahas tentang arisan. Ternyata, Kak Dhika memiliki kebiasaan unik. Ia selalu memberikan buah tangan kepada si pemegang uang arisan tiap kali mendapat arisan. Kata Kak Dhika, si pemegang arisan itu harus kita hargai kebaikannya. Ia sudah berbaik hati menjaga uang arisan dan mengurus urusan arisan. Tanpa dia, mungkin arisan ini tidak akan berjalan dengan baik. Mendengar pandangan Kak Dhika, menambah pandangan baru untuk saya. Kebiasaan unik Kak Dhika sangat bagus dicontoh. Jujur saja, ini adalah kali pertama saya mendengar pandangan seperti itu. Kak Dhika memang baik hati :’)

***

Ira dan Kak Dhika menunjukkan bahwa kebaikan hati bisa dirasakan dari hangatnya seseorang memperlakukan orang lain.

Ira dan Kak Dhika senang memerhatikan orang lain. Sehingga mereka tahu apa yang orang lain butuhkan.

Ira tahu bagaimana memperlakukan teman dengan baik di kosannya, maka ia menjamu saya dengan baik. Ira juga tahu bagaimana cara menyenangkan hati anak kecil, maka ia memberikan yakult untuk adik-adik saya.

Kak Dhika tahu bagaimana membuat nyaman anggota baru, maka ia memberikan hadiah saat saya menjadi pegawai baru.

Kak Dhika juga tahu bagaimana menghargai kebaikan orang lain, maka ia memberikan sekotak yakult kepada mbak pendaftaran BPJS sebagai tanda terima kasih.

Hingga kini saya masih kagum dengan mereka. Semoga rasa kagum ini juga diiringi dengan usaha-usaha melakukan kebaikan yang sama. Terima kasih, Ira dan Kak Dhika. Terima kasih telah menunjukkan banyak kebaikan secara nyata. Semoga Allah senantiasa melimpahkan banyak kebaikan kepada kalian dan keluarga. Aamiin πŸ™‚

Menjadi Petugas KPPS Pemilu 2019

Akan ada waktu di mana kamu akan mempertanyakan kebermanfaatan diri di lingkungan rumah. Dan hal apa sajakah yang sudah kamu berikan pada masyarakat.

Kita mungkin sering berpartisipasi pada kegiatan sekolah dan perkuliahan. Menjadi panitia ini dan itu. Menjadi staff dan koordinator suatu divisi. Atau menjadi ketua suatu acara. Bahkan menjadi kepala suatu organisasi. Kita begitu aktif membuat dan melakukan sesuatu untuk kepentingan banyak orang. Tetapi, lupa berkontribusi pada lingkungan rumah kita sendiri.

Entah aku yang kurang mencari informasi atau memang para pemimpin lingkunganku yang kurang mensosialisasikan, aku tak pernah menjadi panitia apapun di lingkungan rumahku. Waktu kecil, tentu saja aku tak akan peduli dan tak memikirkannya. Setelah besar, aku baru menyadari bahwa tak pernah memiliki peran apa-apa di lingkungan. Kesadaranku semakin membesar ketika menjadi pemilih pada pesta pemilu dan mengantar adikku imunisasi di Kantor RW. Mereka yang menjadi panitia adalah para orang tua. Bahkan ada yang sudah tua renta. Aku lirih berkata dalam hati,“Kemana para pemuda? Bukankah aku ini salah satu pemuda? Mana peranku?” Ah, seketika langsung malu.

Aku pernah bertanya kepada mama, bagaimana cara membantu kegiatan imunisasi. Kukatakan pada mama, aku bisa membantu apa saja. Hatiku benar-benar sedih ketika melihat para orang tua kebingungan mengukur tinggi badan anak pada saat imunisasi. Padahal, untuk mengukur berat badan, tinggi badan, dan lingkar kepala anak bukan hal yang sulit bagiku. Semua itu adalah kegiatan ‘akrab’ yang biasa kulakukan sehari-hari. Saat itu juga, aku bertekad akan membantu kegiatan imunisasi selanjutnya. Tak apa bila tidak diundang. Aku bisa mengajukan diri, kan?

Suatu sore datang sebuah undangan ke rumahku. Sayangnya, aku tidak berada di rumah saat itu. Aku tahu informasi tersebut saat malam ketika sudah sampai di rumah. Menurut informasi mama, Pak RT memberikan dua undangan menjadi petugas KPPS (Kelompok Panitia Pemungutan Suara) pemilu April 2019 nanti untuk aku dan adikku. Pak RT tampak putus asa karena sulit sekali mencari orang yang bersedia membantu. Saat Pak RT di rumahku, beliau bercerita bahwa masih membutuhkan 6 orang lagi untuk mengisi posisi panitia. Saat mendengar cerita mama, aku turut bersedih juga. Pasti si Pak RT kebingungan terhadap kondisi itu.

Tanpa perlu memikirkan dan meyakinkan diri, aku langsung menyetujui tawaran Pak RT. Tanpa perlu membujuk, adikku juga menyetujui tawaran itu. Kami pun mengisi formulir, menyerahkan Foto Kopi KTP, Foto kopi ijazah terakhir, dan Pas Foto.

Satu minggu lalu kami menghadiri rapat pertama. Rapat ini dihadiri oleh seluruh petugas KPPS di RW 10. Aku dan adik hadir tanpa didampingi orang tua. Kata hatiku, sebenarnya ada ragu dan takut karena tak mengenal siapapun selain Pak RT. Kata hatiku yang lain, ada semangat yang membuncah karena akan membantu lingkungan rumahku. Aku memang begini, selalu bersemangat tiap kali terlibat pada kegiatan sosial dan sukarelawan. Ada rasa bahagia yang kudapatkan setelah membantu orang lain. Rasa bahagia yang hanya bisa kurasakan tiap kali menjadi bermanfaat untuk sesama. Rasa bahagia yang berbeda dengan rasa bahagia yang lainnya. Benar adanya, kebahagiaan yang dirasakan bersama-sama memang akan selalu terpatri dalam relung hati.

Rapat dilakukan di mushola sehabis Isya. Kami datang tepat waktu. Di mushola hanya ada dua laki-laki. Satu orang bapak dan satu orang pemuda. Aku hanya mengenal si pemuda itu saja. Meskipun tak mengenal dekat, aku mengingat wajah itu sebagai teman kecilku. “Bang Angga, ya?” aku memulai percakapan dengan pertanyaan. “Masih inget saya, bang?” kulontarkan satu pertanyaan lagi sambil tersenyum. “Ini Shinta ya? Ya Allah sudah besar banget. Ingetlah. Kemana aja Shin? Kok Bang Angga nggak pernah liat Shinta?” Bang Angga menanggapi pertanyaanku dengan antusias dan ramah. Ah senangnya. Bertemu teman bicara yang komunikatif dan ramah memang selalu menyenangkan πŸ˜€

Agenda rapat ini adalah pengenalan tentang proses pemungutan dan penghitungan suara. Materi disampaikan oleh Ketua PPS (Panitia Pemungutan Suara) Beji. Aku tak ingat nama bapak ini. Yang jelas, bapak menjelaskan dengan cara yang sederhana dan mudah dimengerti oleh awam. Seperti siapa saja yang menjadi pemilih tetap, siapa yang menjadi pemilih tambahan, siapa yang menjadi pemilih khusus, bagaimana aturan pemilihan suara, bagaimana aturan penghitungan suara, apa saja kriteria surat suara dikatakan sah dan tidak sah, dan sebagainya. Karena segala hal tentang pemilu adalah hal baru bagiku, maka aku mendengarkannya dengan sangat saksama dan tidak terpengaruh oleh apapun. Bahkan untuk camilan dan kopi yang melimpah ruah di depanku :p

Selain itu, firasakatku juga mengatakan, sepertinya aku akan mendapat bagian yang ‘agak sulit’. Penting bagiku untuk memahami dengan baik materi ini. Timku, yaitu, TPS 41 terdiri dari sembilan orang. Dua orang sebagai Pengamanan Langsung atau disingkat Pamsung (Bagian Keamanan selama proses Pemilu), Satu orang ketua KPPS (Pak Budi, sudah berpengalaman dalam kegiatan ini), Satu orang ibu (baru pertama kali menjadi panitia), dan empat orang anak muda yang juga baru pertama kali menjadi panitia. Di antara anak muda ini, usiaku lebih tua dibanding mereka. Oleh karena itu, menurut firasatku, Pak Ketua sepertinya akan mempercayakan tugas yang ‘agak sulit’ kepadaku :’)

Firasatku benar. Aku dan Dea ditugaskan dibagian pendaftaran. Yang aku maksud dengan ‘agak sulit’ sebenarnya bukan benar-benar sulit. Seperti kata Pak PPS, menjadi panitia tidak sulit. Kami hanya perlu teliti dan hati-hati. Tentunya kesabaran. Dan tidak perlu terburu-buru. Setelah Pak PPS selesai menyampaikan materi, kami dibolehkan pulang.

Saat rapat, aku berkenalan dengan ketua timku. Namanya Pak Budi. Pak Budi ini aktif sekali di lingkungan rumahku. Pak Budi menjalani peran dengan seimbang. Peran sebagai kepala keluarga, peran sebagai pegawai negara, dan peran sebagai masyarakat yang baik. Beliau juga seru diajak diskusi. Pengalaman yang banyak tidak membuat beliau berpikiran keras dan tertutup. Pak Budi memberikan banyak ruang untuk kami bertanya dan memberikan pendapat.

Bahkan saat rapat kedua kemarin (rapat khusus TPS 41), Pak Budi berulang kali mengingatkan bahwa menjadi Petugas KPPS ini mudah. Kita hanya perlu bekerja sama. Kita juga harus berkoordinasi dengan baik. TPS 41 harus memberikan suara yang sama tiap kali memberikan jawaban kepada masyarakat. Pak Budi juga menyemangati kami. Katanya, para pemuda harus belajar menjadi panitia kegiatan sosial seperti ini. Harus ada regenerasi. Beliau tahu kami masih awam tentang hal ini. Pak Budi mengerti dan memahami. Dan siap mengajari. Keren banget ya Pak Budi?

Kata Pak Budi, nanti akan ada rapat lagi. Satu minggu sebelum Pemilu juga akan dilakukan simulasi.

Ini adalah pengalaman pertama kami. Aku dan adik sangat antusias menjalani prosesnya. Bahkan di rumah pun, kami membuka forum diskusi hahaha

Untuk aku, berkenalan dengan orang baru dan melakukan adaptasi mungkin bukan hal yang begitu sulit. Tetapi, meluangkan waktu di tengah kesibukan bukan hal yang mudah. Aku berterima kasih pada diriku sendiri. Terima kasih karena mau meluangkan waktu untuk membantu orang lain. Terima kasih telah memikirkan orang lain.

Terima kasih juga untuk adikku. Keinginanmu untuk menjadi petugas KPPS perlu diapresiasi. Keberanianmu menghadiri rapat kedua khusus TPS 42 tanpa aku yang menemani juga perlu diapresiasi. Terima kasih telah bersedia menjadi teman belajarku untuk banyak hal. Seperti kali ini, kita belajar menjadi petugas KPPS.

Ada kalimat bagus yang sesuai dengan keadaan ini, keraguan adalah ketika kita tidak memahami apa yang diri ini inginkan. Maka, untuk menjadi tidak ragu, jadilah orang yang yakin dengan keinginan diri. Lalu buatlah sebuah keputusan.

Rasa takut bukan untuk terus dinikmati. Tetapi, untuk dihadapi. Maka, jangan takut untuk memulai hal yang baru. Sebab, ketakutan hanya menghentikan langkahmu. Tak akan membuatmu maju.

Jadi, siapkah kamu memulai hari baru dengan sesuatu yang baru? Kalau aku dan adik, sudah siap menjadi petugas KPPS. Sudah siap juga menjalani dengan tanggung jawab. Kalau kamu? Pilihanmu, akan menentukan bagaimana kisahmu. Aku tunggu ceritamuβ™₯

Kebaikan di Pagi Hari

Pagiku menyebalkan. Aku terlambat bangun dan sudah bisa dipastikan aku pun akan terlambat sampai di tempat kerja. Hujan sedari malam tak juga reda. Meskipun masih mendung, waktu menunjukan bahwa hari sudah semakin siang. Maka, tak ada pilihan lain. Aku harus tetap berangkat menerjang hujan. Baju ganti tetap harus kukenakan. Sebab, jas hujan milikku tidak sepenuhnya menahan air hujan.

Di perjalanan, aku teringat, rupanya kemarin siang aku tak sempat memenuhkan tangki bensin motor. Kulirik cepat pada spidometer, di sana terlihat panah penanda sudah menunjuk ke tanda merah. Yang artinya, motor akan mogok bila tangki tidak segera diisi bensin. Menyadari betapa kurang persiapan dan tidak disiplinnya diriku, aku menyesal. Namun hanya bisa menghembuskan napas saja. Kuurungkan niat untuk mengeluh. Pagi tadi, tak ada pilihan lain. Aku harus bertanggung jawab dengan cara menjalaninya dengan ikhlas.

Tikungan di jalan Perumahan Korps Brimob memang pusat kemacetan. Jalan yang memiliki lebar tak lebih dari empat meter itu selalu dipenuhi kendaraan. Apalagi bila ada perbaikan jalan atau kejadian tidak terduga. Seperti pagi ini. Keinginanku untuk mengebut hanya mimpi belaka. Motorku tidak dapat bergerak maju. Seluruh pengendara saling melempar tatapan kebingungan. Rintik hujan semakin membasahi jas hujanku, tetapi sedikit pun roda motorku tidak bergerak maju. Jam tanganku sudah menunjukkan pukul tujuh kurang sepuluh menit. Aku masuk kerja pukul tujuh. Sepuluh menit tak akan cukup untuk sampai di tempat kerja. Aku segera sadar, terlambat sampai tempat kerja adalah sebuah kepastian :’)

Antrean kendaraan perlahan bergerak. Motorku bergerak maju. Akhirnya, aku dapat melihat si penyebab kemacetan pagi ini. Di sisi kanan terlihat sebuah mobil terjebak dan tak bisa bergerak. Bannya terperosok ke dalam tanah yang posisinya lebih rendah dari jalan beraspal. Mobil akhirnya tak bisa maju ataupun mundur. Aku tidak tahu sejak kapan mobil itu terjebak. Aku juga tidak tahu sejak kapan kemacetan ini terjadi. Yang aku tahu, motorku tidak bergerak selama 10 menit. Aku mengatakan dalam hati,“Lengkap sudah. Pagiku semakin menyebalkan saja heu.”

Di dalam mobil yang terjebak, pengemudi sendirian. Tak ada kawan yang bisa membantu mendorong mobil. Pengendara lain juga tak ada yang membantu. Bahkan beberapa saling menekan tombol klakson sebagai tanda mereka tak sabar menunggu. Aku menduga, alasan mengapa orang-orang tidak langsung membantu mungkin karena kondisi saat itu sedang turun hujan. Hujan membuat semua orang sibuk dengan urusannya. Aku pun sama seperti mereka, sedang sibuk dengan pikiranku sendiri. Aku sedang mengkhawatirkan nasibku yang tak akan mampu sampai tempat kerja tepat waktu. Namun yang membuat berbeda, aku masih bisa menahan diri untuk tidak menekan tombol klakson.

Beberapa menit kemudian, seorang laki-laki menghentikan motornya tepat di depan mobil yang terjebak. Meskipun hanya seorang diri, ia tak ragu. Ia segera memberi aba-aba kepada pemilik mobil dan mendorong sekuat tenaga mobil tersebut ke arah belakang. Tak berselang lama, satu orang laki-laki kembali menghentikan motornya. Kali ini, ia bertugas memberi aba-aba dari arah belakang mobil untuk memberi tahu kondisi tanah dan jalan beraspal.

Pemandangan itu membuat rasa cemasku berubah seketika. Aku tak lagi sibuk dengan diriku sendiri. Aku tak lagi memikirkan bagaimana cara cepat tiba di tempat kerja. Aku memandang mereka cukup lama. Aku seakan tersihir dengan mereka yang saling membantu. Siapa pun yang melihat, pasti tahu pekerjaan mereka bukan hal yang mudah. Namun, hal itu tidak mengurungkan niat mereka untuk membantu. Dua orang laki-laki itu tentu saja memiliki kegiatan yang harus dikerjakan atau tempat yang harus didatangi. Sama seperti aku dan pengendara lainnya. Tetapi, sikap tolong menolong yang ada di diri mereka lebih tinggi dibanding urusan duniawi. Luar biasa, ya.

Iya, memang benar pagiku menyebalkan. Aku yang tidak disiplin membuat awal hariku menjadi tidak menyenangkan. Terlambat bangun pagi, perjalanan menerjang hujan, dan mengalami kemacetan cukup membuatku kelelahan. Namun, benar adanya bahwa kebaikan itu menular. Suasana hatiku yang tidak baik, berubah menjadi lebih baik karena mengamati kebaikan dua laki-laki itu. Betapa mulia hati mereka. Keadaan sulit tidak membuat hati mereka sempit. Mereka memahami betul bahwa keegoisan adalah tak ada guna. Sebab, tak ada yang lebih penting dibanding menjadi bermanfaat untuk sesama.

Sepenggal Kisah Bersama Mami dan Razi

Saat ini, ada banyak hal berbeda. Tak lagi sama dengan yang dulu pernah ada. Meskipun begitu, jangan pernah menyesalinya. Percayalah, segala hal hadir selalu tepat pada waktunya. Semua hanya tergantung bagaimana cara kita memandang dan menikmatinya ☺

***

Kamu meminta maaf berkali-kali. Kamu mengatakan,“Maafin aku, Razi emang nggak betah diam lama-lama. Dia sukanya jalan-jalan.”

Aku benar-benar tak apa, sungguh. Meskipun ada begitu banyak keinginan bertukar cerita denganmu. Ada yang lebih penting dari pada itu. Aku ingin bertatap muka langsung denganmu. Dengan begitu, aku tahu, kamu benar-benar dalam keadaan baik atau tidak.

Aku dan Ira sama-sama tahu, pertemuan ini tidak akan memberikan banyak waktu untuk bertukar cerita. Razi yang berusia 10 bulan tentu tak akan mudah untuk diajak duduk dalam waktu lama. Lalu, ada suami Ira pula yang akan bergabung. Tak mungkin keduanya kita abaikan. Tak apa. Bagi kami, makan dan berjalan-jalan bersama di mall sudah lebih dari cukup untuk melepas sebuah kerinduan.

Kami mendorong stroller secara bergantian. Aku juga sesekali menggendong Razi untuk melihat-lihat sekitar. Meski Ira selalu menolaknya, ah, mana mau aku menurut padanya. Ini adalah perjalanan kita bersama. Maka, sebaiknya kita saling tolong-menolong, kan?

Kami tidak begitu lama berjalan-jalan di mall. Waktu sudah terlalu malam dan Razi tampak kelelahan. Akhirnya, kami memutuskan untuk segera makan.

Di tempat makan, Ira dan suami makan secara bergantian. Aku menatap mereka dengan tersenyum. Mungkin ini yang dinamakan bekerja tim dalam rumah tangga. Saling menopang beban dan tugas agar terasa lebih ringan. Aku sebenarnya ingin membantu menggendong Razi. Tetapi, kali ini Ira menolak dengan tegas. Katanya,”Udah makan dulu cepetan! Abis ini kita ke mushola susuin Razi. Sambil ngobrol juga di sana hihihi.” Dan aku pun menuruti perkataannya.

Kata Ira, ketika sudah berumah tangga, seorang ibu akan mengubah segala keinginannya. Yang penting, semua suka dan bahagia. Contohnya, Ira dan suami ini. Suami Ira tidak senang memakan makanan western. Pokoknya, sang suami lebih senang makanan Indonesia. Padahal, Ira senang sekali dengan burger, pizza, dan pasta. Tetapi, untuk makan bersama keluarga, Ira lebih memilih mengalah. Lagipula, Ira memang bukan pemilih makanan. Ira senang semua jenis makanan.

Setelah menjadi ibu, Ira juga memilih makanan yang tidak pedas. Tujuannya, supaya Razi juga bisa menikmati makanan bersamanya. Ira melakukannya tidak terpaksa. Sepertinya, semua itu dilakukan karena cinta. Maka, Ira pun melakukannya dengan bahagia.

Di musala, meski tampak lelah dan ngantuk, Razi tak juga bisa memejamkan mata. Padahal, suasana di sana lumayan tenang. Entahlah. Mungkin, Razi bimbang karena terlalu rindu dengan Tante Shinta? Wkwk

Di musala, ada beberapa anak tangga dan satu jalur untuk kursi roda. Razi tak bisa menahan diri untuk tidak bermain di sana. Razi pun merangkak di tangga-tangga tersebut. Mami Ira yang sudah terbiasa multitasking, mampu bercerita tentang kegiatan tahsinnya sambil mengawasi si lincah Razi. Keren si mami πŸ˜‚

Aku berterima kasih pada Ira. Bertemu kawan saat memiliki bayi 10 bulan tentu bukan hal yang mudah. Tetapi, Ira meluangkan waktunya untukku. Terima kasih banyak, Ira.

Aku juga berterima kasih pada suami Ira, Kak Arif. Terima kasih telah mengizinkan Ira bertemu denganku. Terima kasih telah sabar menunggu.

Razi, terima kasih sudah bekerja sama dengan Mami Ira. Terima kasih karena bersabar dan tidak menangis. Sehat selalu ya, Razi. Nanti kalau sudah bisa jalan, sebaiknya, tante dan mami mengajakmu ke padang rumput yang begitu luas, yaaaaa. Supaya Razi bisa bebas berlari-larian ke mana saja.

***

Aku dan Ira bahagia dengan peran baru yang kami jalani ini. Ira menjalani peran sebagai istri dan ibu. Aku menjalani peran sebagai muslimah, anak, dan karyawan dari sebuah institusi. Kami memang tidak melulu bertukar kabar melalui pesan singkat. Kami jarang melakukan video call. Kami jarang bertukar cerita melalui voice note. Saat berjumpa pun kami tak bisa lagi bercerita panjang lebar seperti dulu. Tak apa. Sebab, kami menyadari beberapa hal. Yang paling penting adalah kami masih bisa bertemu, saling tersenyum, dan melakukan aktivitas bersama.

Aku merasa, ketika tanggung jawab semakin banyak dan masalah hadir silih berganti, kehadiran sahabat di sisi sungguh meringankan sebuah beban. Ketika kehidupan begitu sulit untuk dijalani, senyuman dan genggaman tangan sahabat dapat menenangkan.

Untuk sebuah pertemuan, bagaimana kalau kita bersyukur? Ada banyak pertemuan yang masih ditangguhkan, karena Allah belum mengizinkan.

Jangan Memaksa Diri untuk Menjadi Sama

Ah, hal ini benar-benar mengusikku. Tentang mereka yang memaksakan diri untuk menjadi sama.

Semakin dewasa, aku semakin sadar bahwa bersama tak melulu tentang kesamaan. Bersama juga tak melulu tentang fisik yang tak bersekat dan tangan yang berpegangan erat.

Kemarin, temanku bercerita bahwa ia mendapat sindiran bertubi-tubi dari group whatsapp. Menurut ceritanya, temanku ini tidak disukai karena ia tidak bisa naik pesawat bersama. Menurut temannya, temanku tidak solidaritas. Sebab, menurut mereka, momen penting kebersamaan saat itu adalah naik pesawat bersama.

Kata temanku, ia tidak bisa memesan tiket penerbangan di waktu yang sama karena tidak sesuai dengan waktu luang dirinya. Apalagi temanku belum mendapat jatah cuti di tempat kerja. Sabtu pun ia harus masuk kerja. Semakin sulit saja ia menentukan tanggal dan jam keberangkatan.

Mendengar cerita temanku, aku hanya bisa menghembuskan napas. Mereka memang berbeda usia tiga tahun dariku. Mereka lebih muda. Mungkin mereka belum paham, kelak akan ada situasi dimana tolak ukur solidaritas bukan pada fisik yang selalu bersama. Kemauan meluangkan waktulah yang utama. Karena, hanya mereka yang tahu esensi kebersamaanlah yang mau meluangkan waktu.

Seandainya saja temannya temanku mau memahami, mereka akan bersyukur. Meskipun tak berangkat bersama, bukankah mereka telah sepakat akan datang ke pernikahan bersama-sama? Dengan begitu, bukankah mereka akan menghabiskan banyak waktu bersama?

Lagi pula, meski Hari Sabtu masih bekerja, temanku tetap mencari waktu penerbangan yang sesuai. Meskipun waktunya mepet sekali, ia tetap memutuskan datang ke pernikahan teman. Dan ia pun rela mengambil izin satu hari (Izin satu hari ketika belum mendapat jatah cuti, kita harus membayar saat gajian nanti). Daripada memaksakan diri supaya memiliki waktu yang sama, bukankah sebaiknya mensyukuri kesempatan yang ada? Meski tidak naik pesawat bersama, temanku dan temannya masih bisa berkumpul bersama saat hari H pernikahan.

Setiap orang tentu memiliki definisi berbeda tentang banyak hal. Definisi ideal tentang kebersamaan saat perjalanan, misalnya. Kebersamaan saat perjalanan memiliki definisi melakukan banyak persiapan yang juga bersama-sama. Namun, hal tersebut tidak selalu bisa dilakukan. Karena manusia beragam yang memiliki segudang aktivitas berbeda. Jangan menjadi keras kepala untuk sesuatu yang mustahil dilakukan. Karena hal tersebut akan menyiksa banyak pihak dan mencipta situasi yang tidak nyaman. Contohnya kasus temanku ini. Karena merasa tidak nyaman atas perlakuan temannya, temanku berniat untuk menjauh. Ia tak ingin bergabung lagi dengan kelompok pertemanan itu. Hati temanku sepertinya sudah terluka. Pupuslah sudah pertemanan yang mereka idam-idamkan. Keras kepala ternyata tidak merekatkan kebersamaan. Sebaliknya, keras kepala malah menghancurkan pertemanan.

Dari cerita temanku, aku kembali diingatkan bahwa kita memang perlu memaknai banyak hal dengan lebih luas. Ada banyak definisi berbeda untuk setiap hal pada manusia. Ada banyak nilai yang berbeda pada individu. Ada banyak pendapat berbeda pada setiap orang. Dan semua tak akan bisa kita pahami bila mengukur hanya dengan kaca mata sendiri. Karena bila tetap memaksakan diri, percayalah, yang kita dapat hanya lelah hati. Tidak mau kan sepanjang hidup hanya ‘rasa lelah’ yang menghiasi hari?

Membeli Makanan Si Kucing

Si kucing makan dengan lahap dan tenang hari ini. Ia tidak perlu makan dengan perasaan takut karena diburu waktu. Ia juga tidak perlu makan dengan perasaan khawatir karena memakan makanan kami πŸ˜‚

Kami telah berjanji pada hati masing-masing akan membelikan si kucing makanan. Alhamdulillah, dua hari lalu janji kami tertunaikan.

Cerita awal mengapa si kucing berada di rumah kami, jadi, si kucing adalah kucing kampung yang kesasar. Tiba-tiba saja ia datang ke rumah dan tidak pergi lagi. Dua adik laki-lakiku si penyuka binatang tentu saja senang. Mereka dengan senang hati menampung kucing kampung yang kesasar itu.

Ketika dua adik laki-lakiku memutuskan memelihara si kucing, kami tidak menolak ataupun sungguh-sungguh mendukungnya. Kami hanya diam saja. Diam yang berarti mengizinkan secara tersirat wkwk

Sebelum si kucing memiliki makanan khusus untuknya, kami dilanda rasa gelisah berkepanjangan. Pertama, tiap kali ingin makan ada rasa takut karena si kucing selalu ‘menyerang’ kepingin ikutan makan. Kedua, tiap kali mengeluarkan makanan apapun ada rasa kesal karena si kucing selalu ‘berantakin’ makanan tersebut. Ketiga, kami tahu si kucing sangat lapar, namun belum mampu memberi makan ia secara ‘sungguh-sungguh’. Sebenarnya, kami tetap berbagi makanan tiap kali makan, tetapi belum ada ‘niatan penuh’ untuk menyiapkan makanan untuk si kucing. Keempat, kami merasa berdosa kepada kucing. Kami merasa bersalah tiap kali kami kenyang, tetapi si kucing tidak. Atas dasar empat kegelisahan itulah, kami yakin akan memulai membeli makanan kucing secara rutin.

Kali pertama masuk ke petshop, ada rasa senang di hati. Aku tidak menyangka rasanya akan sesenang ini datang ke toko pernak-pernik hewan. Ternyata seru sekali melihat kandang, tempat makan, tempat minuman, macam-macam jenis makanan, dan perlengkapan hewan lainnya. Dan tiba-tiba kami menjadi tidak sabar ingin segera memberi makan si kucing wkwk

Setelah berkeliling petshop, kami memilih makanan merk maxi ukuran kecil. Harganya 30.000. Kami juga membeli tempat makan kucing yang juga ukuran kecil. Harganya 20.000. Untuk pengalaman pertama ini, kami memilih yang murah saja untuk mencegah kemubaziran. Mungkin nanti bila makanan ini habis, kami akan mencari tahu tips and trick memilih makanan kucing yang lebih baik.

Sampai di rumah, si kucing sedang santai di teras. Kami segera menghampiri dan mengeluarkan makanan si kucing. Kami juga mencoba mencium aroma makanan tersebut. Ternyata harum ikannya kuat sekali. Pantas saja si kucing menggigiti plastik pembungkus makanan itu. Mungkin ia begitu tergoda dengan harum ikannya.

Kami menuangkan makanan hingga tempat makan kucing terisi penuh. Kami juga memberikan semangkuk air di sisi kiri. Tanpa menunggu dipersilakan, si kucing segera menyantapnya. Ia lahap sekali :’) aku lega melihat ia makan selahap itu. Adikku Niar bahkan menitikkan air mata hahaha katanya, ia seperti melihat anaknya sendiri yang sedang makan. Ia senang sekaligus sedih. Senang karena akhirnya si kucing bisa makan dengan leluasa. Sedih karena ia kasihan sama si kucing. Saat diberi makan, si kucing terlihat begitu kelaparan. Ia juga sedih karena baru mampu memberi makan si kucing dengan sungguh-sungguh seperti ini. Aku pun setuju dengan perkataannya. Aku juga merasakan hal yang sama seperti dirinya. Maafkan kami, kucing.

Karena telah memutuskan memberi makan kucing, kami pun harus tahu bagaimana aturan memberi makan si kucing. Informasi yang kami dapat dari teman Niar, temannya ini biasa memberi makan kucing sehari dua kali yaitu, pagi dan sore. Itu pun dengan syarat, satu tempat makan kucing terisi penuh. Bila tidak penuh, maka kita memberi makan kucing tiga kali sehari. Kami akan mengingat dengan baik informasi itu. Terima kasih, informasinya, Arin πŸ™‚

Beberapa hikmah yang kami dapat setelah memiliki makanannya sendiri, si kucing tidak lagi menganggu kami ketika makan. Ia juga tidak mencuri makanan lagi. Bahkan jika kami meletakkan makanan sembarangan, ia hanya menoleh sebentar, kemudian segera pergi lagi.

Malunya diri ini. Aku malu karena pernah begitu kesal terhadap kucing. Aku kesal karena ia sering mencuri makanan. Padahal, mana tahu si kucing mencuri itu tidak baik. Ia hanya sedang lapar saja dan kebetulan kami tidak menyimpan makanan dengan rapi. Ia hanya sedang lapar saja dan saat itu kami tidak memberikan makanan dengan cukup. Wajar saja ia mengambil makanan kami. Sekali lagi, maafkan kami kucing. Semoga kami istiqomah berbagi. Sehat selalu ya, kucing 😊

Semangat yang Menular

Usianya baru kepala tiga. Muslimah yang manis dan ceria. Saya biasa memanggilnya dengan sebutan mbak. Saya sebenarnya sudah beberapa kali melihat ia menunggu diantara para pasien. Namun, saya belum memiliki kesempatan bertemu langsung dengannya.

Sore itu, teman saya yang biasa melatih mbak sudah pulang. Jadi, saya yang menggantikan teman saya itu untuk melatih si mbak.

Mbak datang dengan kursi roda. Melihat rekam mediknya, saya sudah tahu mbak mengalami kelumpuhan pada kedua tungkai. Namun, mimik wajah mbak tidak menunjukkan kesedihan. Ia tampak sangat siap melakukan latihan.

Saya berkesempatan melatih mbak sebanyak dua kali. Pertemuan pertama, mbak ditemani oleh suami dan anaknya yang berusia dua tahun. Pertemuan kedua, mbak ditemani oleh orang tua dan dua anaknya yang lucu-lucu (mbak ini memiliki dua anak. Anak pertamanya, perempuan berusia dua tahun dan anak keduanya, laki-laki berusia delapan bulan). Mbak dan keluarga tampak ceria dan tabah. Terlepas benar-benar ceria atau tidak, saat itu saya tahu, mbak dan keluarga berusaha ikhlas menerima. Semua terlihat dari sikap yang mereka tunjukkan selama sesi latihan.

Dari hasil ngobrol dengan mbak, akhir tahun lalu ditemukan tumor pada tulang belakangnya. Tidak ada kejadian kecelakaan sebelumnya. Tidak ada juga gejala mengerikan yang ia rasakan. Ia hanya merasa pegal pada pinggang selama satu tahun kemarin. Dan, akhir tahun, sebelum operasi pembuangan tumor, mbak sudah mengalami kelemahan pada kedua tungkai. Setelah operasi menunjukkan tanda-tanda penurunan fungsi otot tungkai. Yang sebelumnya hanya terasa lemah, namun setelah melakukan operasi, kedua tungkai tidak dapat digerakkan.

Dua minggu awal setelah operasi, mbak mengatakan tungkainya benar-benar lumpuh. Ia juga tidak merasa ketika ingin buang air kecil (bak) dan buang air besar (bab). Namun, setelah minggu ketiga setelah operasi, tanda-tanda peningkatan sudah dapat terlihat oleh mata. Mbak sudah mulai merasa bila ingin bab dan bak. Apalagi setelah melakukan latihan bersama fisioterapi dan melakukan latihan di rumah, perlahan mbak sudah bisa menggerakkan tungkainya.

Selama bekerja di sini, ini adalah kali pertama saya melihat pasien yang begitu bersemangat. Padahal saya tahu betul mbak merasa sangat kesulitan. Meskipun tidak mengatakan melalui kata, mimik wajah kelelahan dan peluh keringat menunjukkan keadaan mbak yang sebenarnya. Padahal, saat itu pendingin ruangan cukup membuat kita kedinginan. Maka, saya mengingatkan mbak untuk beristirahat. Dan sesekali juga mengajak mbak bercanda. Alhamdulillah, si mbak sangat ceria. Sepanjang latihan mbak tersenyum dan tertawa.

Yang membuat mbak ini istimewa, ketika kesulitan melakukan gerakan ia tidak mengeluh. Ia malah tertawa dan berkata,“Duh, ini kok bandel sih nggak mau bergerak! Hahaha.” Atau ketika berhasil melakukan gerakan yang cukup sulit ia memuji tungkainya dengan cara lucu,“Nah, dia memang sering pintar mbak. Apalagi kalau aku bangun tidur terus ngulet. Dia bisa langsung nekuk sendiri gitu mbak hehehe.” (Kata ‘dia’ digunakan untuk menyebut kedua tungkainya).

Melihat sikap mbak, saya menjadi diingatkan, memang benar adanya kejadian apapun tergantung cara pandang kita. Si mbak pasti sedih dengan kondisinya. Di saat buah hati masih kecil dan sangat butuh bantuan, ia tidak bisa membantu. Di saat para ibu muda sedang menikmati momen mendidik si kecil untuk kali pertama, mbak diuji dengan keterbatasannya. Di saat para ibu muda menikmati momen mengurus buah hati, mbak tidak bisa melakukannya sendiri. Namun, keterbatasan tidak membuat mbak terkungkung dalam kesedihan. Mbak mampu mengendalikan dirinya dengan sangat baik.

“Aku baru tahu bisa angkat kaki setinggi ini lho mbak barusan. Ternyata aku bisa, ya. Aku juga baru tahu jari-jari kakiku bisa ditekuk dan dibuka seperti tadi. Tiga minggu lalu, kakinya diem aja mbak. Ternyata, kalau kita lakukan gerakan berulang kali, si kaki jadi terbiasa ya, mbak. Aku memang sering latihan juga di rumah setiap pagi sambil tiduran. Capek sih memang. Kalau kecapean, kakiku jadi tremor gitu. Tapi, setelahnya, jadi ada gerakan baru yang aku bisa lakuin :D.” Mbak bercerita dengan wajah riang di akhir sesi latihan. Mendengar ia bercerita, hati saya pun terharu dan dipenuhi bunga-bunga. Pelatih mana yang tidak bahagia, bila yang dilatih begitu bersemangat seperti si mbak? :’)

Sesi latihan selesai. Tiga puluh menit yang penuh dengan harapan dan perjuangan. Mbak pindah dari tempat tidur ke kursi roda secara mandiri. Saya hanya membantu mengawasi. Keluarga mendekat dan segera mendampingi. Hangat sekali. Mereka pun pulang. Tanpa sadar tercipta lengkung di pipi. Iya, saya tersenyum melihat kehangatan keluarga mbak di ruangan ini.

Sore itu, saya pun kembali bekerja dengan semangat yang penuh terisi. Kalimat ‘kebaikan itu menular’ ternyata tidak sekadar kalimat semata. Semangat mbak benar-benar menular kepada saya di sini.

Dan kembali mendapat pelajaran,

Bersabar dalam ketaatan adalah keharusan. Mereka memang tidak berkata apa-apa. Namun mata selalu jujur apa adanya, kan? Mata mbak dan keluarga menunjukkan keikhlasan dan penerimaan. Ada keyakinan pada Allah di sana. Keyakinan bahwa ketentuan Allah pasti baik. Bahkan untuk ujian yang begitu menyedihkan.

Mensyukuri apa-apa yang ada pada diri adalah kewajiban. Karena ternyata kesulitan yang kita miliki tak pernah sebanding dengan kemudahan yang sudah dirasakan. Ada begitu banyak nikmat yang kita dapatkan, namun terlupa kalimat syukur untuk kita ucapkan.

Mereka memilih untuk terus maju dan tersenyum. Mereka tahu, hanya dengan cara itu kehidupan lebih mudah dijalani.

Teman Diskusi

“Mbak, menurutmu cara paling ampuh untuk move on gimana?” tanya adikku.

“Nggak tau. Lagi nggak minat kasih pendapat tentang percintaan.” jawabku singkat.

“Wkwkwkwk, jawaban macam apa itu. Yaudah, lupain.” adikku tertawa terbahak-bahak.

Sebelum pertanyaan itu ditanyakan oleh adikku, ia bercerita tentang kawannya. Betapa ia bingung karena kawannya mudah sekali berganti pacar setelah putus cinta. Katanya, ia tahu kisah itu karena semua terlihat dalam sosial media. Aku tidak menanggapi serius pertanyaannya. Tidak seperti biasanya, siang tadi aku tidak berminat berdiskusi panjang tentang topik itu. Entahlah, aku kehilangan minat saja tiba-tiba hahaha

Aku dan adikku memiliki kebiasaan unik. Menurutku sih unik, entah menurut kalian. Kami sering berdiskusi tentang hal-hal yang membingungkan. Tentang hal-hal yang sulit diterima oleh pikiran. Misalnya saja tentang seseorang yang senang mentertawakan kekurangan orang lain, namun selalu bersedih bila orang lain membahas tentang kekurangannya.

“Menurutmu atas dasar apa dia memiliki pikiran seperti itu? Aku nggak paham. Menurut logika, kalau dia tahu bagaimana sedihnya diperlakukan seperti itu, seharusnya sih nggak melakukan hal yang sama kan?” kataku.

“Aneh sih. Aku juga bingung. Dia malah ketawa ya kalau melihat orang yang tampak buruk atau tampak kurang.” jawab adikku.

“Aku masih nggak ngerti dan sulit untuk ngerti sih.” sambungku.

“Tanpa punya maksud khusus, mungkin dia hanya senang saja melakukan itu, mbak.” jawabnya singkat.

“Mungkin ia mendapat salah pengasuhan. Dan ia memiliki luka masa kecil yang belum sembuh. Makanya dia bersikap seperti itu. Kita doakan saja semoga hatinya digerakkan sama Allah, ya.”

Selalu seperti itu. Kalau tidak menemukan kesepakatan, kesimpulan, dan solusi kami selalu menyerahkan saja semuanya sama Allah :’)

Atau tentang rahasia Allah yang tidak pernah bisa ditebak oleh manusia.

“Mbak, menurut pengamatan manusia mah hasil akhir udah bisa ditebak. Semua fakta menunjukkan hasil akhir yang bahagia. Namun, kalau Allah berkata lain, manusia bisa apa?” kata adikku.

“Iya, aku tahu. Kalau kita kasih kuesioner ke banyak orang, jawaban mereka pasti sama kaya kita haha “ kataku.

“Kejadian seperti ini semakin membuat kita sadar ya, mbak. Takdir aja bisa berubah sesuai kehendak-Nya. Apalagi hati manusia?” lagi-lagi ia memberi tanggapan dengan pertanyaan.

“Iya, benar kamu. Intinya, bagaimana pun kenyataan begitu terlihat nyata, kita nggak boleh terhanyut dan terlalu yakin. Sebab, bagaimana nasib kita beberapa detik atau menit ke depan aja kita nggak tau. Semua menjadi rahasia Allah.” aku menambahkan.

“Meskipun begitu, kita nggak boleh hilang percaya dan penuh curiga mbak. Nggak boleh juga terlalu hati-hati hingga kita lupa jadi diri sendiri. Apalagi sampai nggak peka tentang kebaikan orang lain” kata adikku.

“Iya, aku tahu. Seperti yang selama ini kita yakini, jalani sebaik mungkin, lalu serahkan semua hasilnya sama Allah. Allah pasti kasih yang terbaik. Nggak mungkin Allah menjerumuskan hamba-Nya ke jurang kesengsaraan kan?” jawabku.

“Iya, mbak nggak mungkin. Kalau kita nggak merasakan kebaikan takdir Allah, itu karena keterbatasan kita aja, mbak.”

“Iya, setuju banget. Keterbatasan kita yang belum mengerti dan memahami takdir baik Allah.”

***

Allah Maha Tahu kebutuhan hamba-Nya. Apa jadinya aku tanpa adikku. Mungkin segala kebingungan hanya akan mengendap dalam pikiran. Mungkin segala keraguan tak akan pernah berubah menjadi keyakinan. Mungkin segala kegembiraan tak pernah melimpah rasa bahagianya. Mungkin segala kesedihan tak akan meluruh rasa sedihnya.

Terima kasih adikku telah menjadi teman diskusiku πŸ™‚

Cerita tentang @30haribercerita

Aku tidak ingat sejak kapan tepatnya. Aku memang senang menulis caption panjang di instagram. Biasanya, aku mengunggah foto tiap kali bertemu kawan. Aku berbagi buah pikiran dan rasa pada caption. Betapa aku senang bertemu mereka dan segala harapan aku tuliskan di sana.

Seperti yang kutuliskan pada bio instagram, aku memang menyukai foto dan tulisan. Sebab, keduanya mampu mengabadikan momen yang sudah terlewatkan. Dan aku pun selalu bisa melihat momen itu ketika rindu pada akun instagramku. Meskipun tidak rutin mengunggah foto dengan caption panjang, ternyata aku mulai melakukannya sejak 2014. Sudah lama, ya.

Aku tidak khawatir caption panjangku akan menganggu kawan atau tidak. Sebab, kuasa penuh atas instagram itu memang ada pada aku. Tetapi, bila ada yang terganggu, aku mohon maaf, ya. Menurutku, kawanku selalu memiliki pilihan untuk tidak membaca caption panjang itu. Pada instagram, ada pilihan untuk lanjut membaca atau melewatkannya. Temanku bebas saja bila hanya ingin melihat foto yang aku unggah tanpa membaca caption. Lagi pula, tujuan utama aku mengunggah foto dengan caption panjang memang untuk kebutuhanku sendiri. Tujuan lainnya, aku ingin mengucapkan terima kasih kepada para sahabatku melalui foto itu. Namun, bila memang ada manfaat yang dapat dipetik bagi teman-temanku lainnya, aku bersyukur sekali.

Di instagram aku menemukan akun @30haribercerita. Beberapa tahun lalu, aku mengikuti akun itu. Aku senang membaca setiap kisah yang akun tersebut bagikan. Dan begitu ingin menuliskan kisah serupa pada akun instagramku. Namun, tak juga mantap keyakinan. Tiap kali ingin ikut, selalu muncul keraguan. Menulis sesuatu yang personal untuk kemudian dibaca teman-teman sepermainan ternyata tidak mudah. Semacam ada rasa ‘tidak berani’ berbagi buah pikiran. Semacam ada rasa ‘takut’ mendapat tanggapan langsung dari mereka. Semacam ada rasa ‘tidak percaya diri’ menunjukkan kemampuan. Kemampuan menulis, maksudku.

Tahun ini, mantap sudah keyakinan untuk mengikuti tantangan @30haribercerita. Aku yakin akan menuliskan apapun yang terlintas dalam pikiran. Selama hal tersebut mengandung kebaikan, kupikir, tak masalah aku bagikan.

Ada tiga alasan mengapa aku begitu yakin menulis secara rutin. Pertama, aku senang menulis. Maka, aku ingin membuat diriku bahagia. Kedua, aku ingin mengalahkan rasa takutku dan mencoba terbuka. Kurasa, tak baik selalu bersembunyi di balik pintu. Sebab, mungkin saja ada temanku yang ingin masuk ke rumahku untuk mengenalku. Ketiga, aku ingin berbagi hikmah yang kutemui. Barangkali, bisa menyentuh hati yang membacanya. Barangkali, bisa memotivasi teman-temanku yang tertarik juga untuk menulis. Ternyata, setiap orang bisa menulis. Ternyata, setiap orang boleh menulis tentang apa saja.

Tahun 2019 ini aku mengikuti tantangan @30haribercerita. Hari ini adalah hari ke 27. Alhamdulillah, masih terus berusaha menulis. Menjadi penulis ternyata tidak mudah, ya. Memaksa diri menulis setiap hari seringkali membuat kepala pening. Apalagi bila harus menulis sesuai tema. Aku sampai kesulitan untuk tidur karena tak juga menemukan ide menulis wkwk Mungkin hal ini terjadi karena aku belum terbiasa. Menulis dalam wordpress saja aku belum rutin. Meskipun dalam satu minggu masih bisa mengunggah tiga atau dua tulisan, aku menulisnya tidak terjadwal. Aku menulis hanya ketika ingin. Aku menulis hanya ketika inspirasi datang. Padahal, inspirasi bisa kita cari bila mau.

Melalui tantangan menulis ini aku menyadari bahwa ada banyak hal mengendap dalam pikiranku. Ternyata, bila ide-ide tersebut dirangkai menjadi kalimat akan menghasilkan tulisan yang begitu bermakna. Ternyata, bila aku mau ‘memaksa diri’ menulis, aku bisa menghasilkan tulisan setiap hari. Ternyata, kegelisahan dalam pikiran dapat menciptakan sebuah karya. Hebat ya, pikiran manusia! Maha Besar Allah yang menciptakan pikiran manusia sehebat ini :’)

Untuk kamu yang senang menulis caption panjang pada instagram dan untuk kamu yang senang menulis cerita panjang pada wordpress, yuk lanjutkan! Kebaikan itu datang dari mana saja. Bahkan untuk cerita sehari-hari yang kamu anggap biasa saja. Kamu tidak pernah tahu, pada cerita sederhanamu yang ke berapa, mampu menggerakkan hati seseorang untuk kembali berkarya. Percayalah.