Day 22 – Perlawanan

Di depanku, kamu tidak perlu melawan segala rasa yang muncul.

Aku berada di sisimu, karena kamu adalah kamu. Bersikap saja apa adanya.

Bila ada sesuatu yang melukai harga dirimu, marah aja. Kamu boleh mengungkapkan kekesalanmu, sungguh.

Bila ada sesuatu yang membuat hatimu pilu, menangis saja. Kamu boleh menangis terisak sepuasmu. Di bahuku.

Bila ada sesuatu yang membuatmu bahagia, tertawa saja. Kamu boleh tertawa terbahak-bahak di sini. Bersamaku.

Bila ada sesuatu yang membuat dadamu sesak, bercerita saja. Kamu boleh mengungkapkan apapun semaumu.

“Jujur pada perasaan” adalah hal sederhana yang mampu “membuat hati tenang” namun sering terabaikan.

Kita salah kaprah. Menganggap kejujuran akan menjadi bumerang. Lalu, melawan. Ungkapan atas perasaan pun menjadi berkebalikan.

Kamu tahu? Sesungguhnya yang paling melelahkan bukanlah menopang beban. Melainkan, terus menerus memberikan perlawanan pada proses yang sedang berjalan.

#30DWC #30DWCJilid18 #squad8 @Pejuang30dwc #30dwcjilid18day22

Sumber foto: http://www.desiringgod.org

Advertisements

Moi Si Kucing Penyayang

Moi sang induk kucing, selain lucu ia juga sering membuatku malu. Betapa bisa ia yang tak berakal mampu berbuat sebaik dan semanis itu.

Selain senang membersihkan badan anaknya dengan cara menjilatinya, ternyata Moi juga mengalah untuk anak-anaknya.

Singkat cerita, aku tidak sempat membeli makanan untuk Moi. Begitu pula dengan keluargaku. Akhirnya, mama berbaik hati membelikan ikan sebagai makanan sementara untuk kucing-kucingku.

Alhamdulillah, semalam adikku Niar membelikan makanan untuk Moi. Dan tepat saat sahur tadi, Niar pun bercerita. Ia mengatakan tingkah Moi membuatnya terharu. Bagaimana tidak? Malam tadi Moi begitu bersemangat saat Niar meletakkan makanan di mangkuknya. Ia segera memakan dengan lahap. Begitu pula dengan anak-anaknya. Namun, atas dasar naluri keibuan, Moi pun segera mundur beberapa langkah dari tempatnya. Dan kemudian membiarkan anak-anaknya, si Mocca dan Matcha makan lebih dulu :’)

Kucing yang tak berakal saja bisa berlaku “manusiawi”. Tapi, kita yang mengaku manusia seringkali tak menggunakan akal dengan sebaik-baiknya.

Aku memang belum menjadi ibu dan tidak tahu suka dukanya. Meskipun begitu, aku tetap tahu kok perbuatan yang benar dan tidak 😂

Aku seringkali merasa “gemas” kepada orang tua yang tidak cepat tanggap. Yang perbuatannya mampu merugikan anaknya.

Saat di stasiun, aku masih sering melihat orang tua yang membiarkan anaknya berdiri di pinggir rel kereta sendirian. Orang tua duduk di bangku yang berjarak lumayan jauh.

Aku tidak senang membiarkan sesuatu yang salah begitu saja. Tak jarang, kalau jarakku dengan si anak kecil berdekatan, aku akan menyuruh atau mengajak si anak menjauhi rel.

Bahaya itu selalu dekat. Kita tidak bisa menganggap sepele setiap detiknya. Apalagi ini tentang anak kecil yang penuh dengan rasa ingin tahu. Akan sangat mungkin ia ingin mencoba menoleh ke bebatuan yang ada di bawah rel kereta itu. Bagaimana kalau tiba-tiba ada seseorang yang menyenggol si anak dari belakang? Maka, peristiwa mengerikan pun akan terjadi tepat di depan mata kita.

Sebagai orang tua atau orang dewasa, seharusnya kita tahu kapan waktu yang tepat membiarkan si kecil berkeliaran sendirian atau tidak. Mengamati dan mengawasi si kecil setiap saat adalah kewajiban kita. Ketidakpeduliaan kita hanya akan mendatangkan bahaya.

Ada lagi cerita yang lain,

Bekerja menjadi fisioterapis anak, membuat aku sering bertemu dengan anak dan orang tua. Aku juga selalu “gemas” pada orang tua yang terlalu sibuk dengan aktivitasnya. Memainkan gawai saat menemani anak terapi, misalnya.

Sebut saja namanya Ratu. Ratu memang anak yang hiperaktif. Ia datang ke Poli Rehabilitasi Medik (Poli Rehab) untuk Okupasi Terapi. Sambil menunggu gilirannya, Ratu pun berkeliling area Poli Rehab. Sekadar berlarian atau mengusili orang-orang sekitar. Entah petugas yang terlalu sibuk dengan pelayanan atau memang Ratu tidak didampingi dengan baik oleh orang tua, tiba-tiba saja ia masuk ke dalam ruangan terapi tumbuh kembang.

Di dalam sana, ia memainkan baby oil. Alhasil, lantai dan kaca yang ada di dinding basah karena minyak. Kami pun segera menyuruh Ratu keluar dan menyerahkan kepada ibunya yang saat itu sedang memainkan gawai.

Saat tahu apa yang anaknya lakukan, sang ibu pun segera meminta maaf kepada kami.

Pada kondisi itu, tentu saja kami tidak kesal dengan Ratu. Kami hanya kesal dan “gemas” kepada ibunya. Bagaimana mungkin si gawai mampu mengambil perhatian penuh sang ibu. Alhamdulillah, saat bermain baby oil Ratu dalam keadaan baik-baik saja. Bagaimana kalau dia terjatuh akibat lantai licin? Tak ada yang tahu. Kami sebagai petugas kesehatan tak akan tahu. Begitu pula sang ibu.

Menurutku, pada kondisi itu tanggung jawab penuh masih berada di tangan ibu. Berbeda hal bila si anak sedang terapi dengan kami. Saat itu, tanggung jawab penuh ada di kami.

Kejadian-kejadian seperti cerita di atas semoga membuat kita introspeksi diri lagi. Bagaimana mungkin kita bisa memberi justifikasi sikap buruk sebagai “sikap binatang”. Padahal, si binatang yang tak memiliki akal mampu bersikap begitu penuh kasih sayang.

Perbuatan Moi yang begitu penyayang pun menjadi teguran untuk aku dan Niar. Agar tersadar, kami yang diberikan akal oleh Allah seharusnya sangat mampu berkasih sayang. Jauh melampaui sayangnya Moi kepada Mocca dan Matcha.

Meskipun Moi tidak akan pernah tahu perbuatannya adalah sikap kasih sayang, Moi menjadi pengingat orang-orang disekitarnya. Khususnya untuk aku dan keluarga. Terima kasih, Moi.

Menghapus Stigma

Siang itu, aku harus datang ke bagian Sumber Daya Manusia (SDM) untuk mengambil formulir tukar dinas.

Kalau bekerja di rumah sakit, kami bekerja dibagi beberapa shift. Shift pagi, siang, dan malam. Karena fisioterapis tidak menangani kejadian darurat yang mengancam nyawa, maka aku bekerja hanya dua shift saja. Yakni, shift pagi dan siang.

Meskipun sudah terjadwal, kami bisa tukar dinas dengan kawan bila ada keperluan. Syaratnya hanya mencari kawan yang bersedia bertukar dinas dan mengisi formulir untuk kemudian diberikan ke bagian SDM.

Sebuah Tawaran

“Mbak, bisa tolongin aku nggak?” tanya Mbak Mira. Ia bagian yang mengurus surat-surat seperti surat izin cuti, izin sakit, dan lain-lain.

“Eh iya boleh. Mau minta tolong apa mbak?” tanyaku.

“Mbak Shinta bisa ngaji? Aku mau minta tolong bacain Al-Qur’an saat buka puasa bersama nanti.” jawab Mbak Mira.

“Kalo ngaji bisa mbak. Tapi, kalo bacanya kayak qori belum bisa hehehe.” jawabku.

“Nggak apa-apa, Mbak. Kalo mbak mau bantu, kami berterima kasih banget.” jawab Mbak Mira.

“Nggak ada lagi kah Mbak yang bersedia baca?” tanyaku.

“Nggak ada, Mbak.” jawab Mbak Mira dengan tatapan memelas. Tanda ia berharap besar aku bersedia membantu.

“Oke mbak aku coba.” kataku.

“Serius, Mbak? Makasih ya Mbak Shintaaaaa.” jawab Mbak Mira dengan wajah berbahagia.

Sambil menuju poli tempatku bekerja aku berkata dan meyakinkan diri,“Iya coba aja dulu. Mbak Mira butuh bantuan. Tajwidku memang tidak begitu mumpuni. Aku hanya tahu tajwid dasar. Caraku mengaji juga tidak seperti qori, tetapi tidak apa. Aku akan baca dengan caraku sendiri. Ini media belajar. Aku bisa belajar lagi. Membaca materi tajwid lagi. Aku bisa bertanya ke ayahku tentang hal-hal yang membingungkan. Dan aku juga bisa menonton youtube untuk mendengarkan para ahli mengaji.”

Dalam waktu kurang dari seminggu aku belajar dan berlatih di rumah. Alhamdulillah, semakin percaya diri dan yakin dengan kemampuan diri. Namun takdir berkata lain. Tepat satu hari sebelum acara buka puasa bersama, aku menstruasi. Dengan sangat merasa bersalah aku pun mengabari panitia bahwa tak bisa membaca Al-Qur’an untuk acara buka puasa bersama. Panitia kaget dan bingung, namun menerima alasanku. Lagi pula tidak ada yang bisa disalahkan. Alasan ini benar-benar syar’i.

Dalam waktu 24 jam saja panitia harus mencari penggantiku. Namun, tak kunjung mendapat pengganti hingga h-beberapa jam sebelum buka puasa bersama.

Aku tahu informasi ini karena masih bergabung dalam group whatsapp panitia. Aku juga mengobrol langsung dengan Mbak Mira terkait perihal ini.

Mbak Mira mengatakan, ia sudah menginformasikan ke seluruh karyawan rumah sakit tentang ini. Tetapi, tak ada yang bersedia. Alasannya bermacam-macam. Alasan paling banyak adalah merasa dirinya tidak mampu. Katanya, mereka takut salah.

Mendengar berita itu aku cukup bersedih. Ternyata stigma ini masih begitu melekat dalam diri kita bahwa kita tak bisa apa-apa. Jika yang lain tak mau maju, maka aku pun juga tak mau maju. Jika yang lain tak bisa, maka aku pun juga tak bisa. Yang paling parah, kita tidak mau mencoba bukan karena sungguh-sungguh tak mau dan tak mampu. Kita hanya takut mendengar pandangan buruk orang lain tentang diri ini.

Aku pun dulu begitu. Namun sekarang tidak lagi.

2014 adalah Titik Balik

Tinggal jauh dari orang tua membuat aku harus menjadi lebih kuat. Aku harus bisa menjaga dan mengendalikan diri sendiri. Saat itu aku berjanji, sesulit apapun nanti, aku akan berusaha menghadapi sendiri. Aku tidak takut karena Allah bersamaku.

Tawaran yang super menantang itu pun datang. Aku ditawarkan menjadi pembawa acara di pentas akhir tahun sekolah. Acara tersebut adalah acara yang paling ditakutkan oleh para guru saat itu. Beberapa guru bahkan menolak kala ditunjuk menjadi ketua panitia.

Pentas Akhir Tahun (PAT) biasa dilaksanakan di gedung-gedung besar. Seperti tahun 2015 lalu, acara dilaksanakan di Gedung Kesenian Jakarta. Oleh karena itu, karena acara ini besar, maka persiapannya pun tidak mudah.

Begitu pula tugas menjadi pembawa acara. Aku selaku guru baru tidak tahu berita apa-apa tentang PAT yang lumayan ‘mengerikan’ ini. Kata mereka, yang paling sulit menjadi pembawa acara PAT adalah kalimat pembuka menggunakan bahasa inggris. Bukan sulit karena tak bisa bicara menggunakan bahasa inggris. Melainkan, sulit mendengar dan menerima tanggapan negatif orang tua tentang pengucapan kata-kata bahasa inggris saat menjadi pembaca acara 😂

Saat mendengar berita itu, aku cukup kaget dan sedikit takut. Bahasa inggrisku juga tidak begitu baik. Aku sangat perlu belajar lagi. Tapi, ini adalah tugas dari kepala sekolah. Kepala sekolah mempercayakan tugas ini kepadaku. Tidak profesional sekali bila aku menolak tugas ini hanya karena rasa takut. Padahal, semua hal bisa dipelajari dan dipersiapkan bila kita mau. Akhirnya, aku menerima tawaran tersebut.

Singkat cerita, aku berhasil menjalankan tugas dengan baik. Semua berkat bantuan teman-teman. Aku mempersiapkannya berbulan-bulan. Membuat naskah pembawa acara, meminta bantuan kawan untuk mengedit naskah tersebut, melihat video PAT tahun-tahun sebelumnya, menonton para pembawa acara diyoutube, latihan di depan cermin, dan masih banyak yang lainnya.

Menghapus Stigma

Sesuai perkataan Allah bahwa tentang hasil adalah hak prerogatif-Nya, maka hal tersebut bukanlah kuasa kita. Tugas manusia memang berusaha sebaik-baiknya saja. Berusaha dengan totalitas dan optimal!

Kita seringkali menyerah sebelum berjuang. Kita berasumsi bahwa setiap tugas yang diberikan adalah sebuah kesulitan. Dan kita tidak mampu. Lihatlah, kita seperti paranormal saja sudah menentukan sebuah hasil akhir. Padahal berusaha pun tidak.

Sadarkah kita bahwa kesempatan begitu banyak datang? Ada banyak tawaran datang. Namun, kita segera menolak tanpa pikir panjang. Kita enggan mencoba lebih dulu. Kita tidak percaya dengan diri sendiri. Padahal, seandainya kita mau bersabar untuk belajar dan mempersiapkan, hasil menakjubkan pun akan datang.

Kita hanya perlu mengumpulkan keberanian untuk menghadapi tantangan. Kesulitan ada hanya karena kita belum menyelaminya. Kita belum tahu bagaimana menaklukannya. Bagaimana kita bisa menaklukannya, bila mencoba saja pun enggan?

Aku telah memutuskan untuk mencoba setiap kesempatan. Bukan karena aku jagoan. Melainkan, aku ingin memberdayakan diri untuk menjemput keberanian. Berani mencoba hal baru dan berani mempertanggungjawabkan. Sebab, diri ini memang pantas untuk selalu dikembangkan 😊

Aku tidak akan berjanji bahwa selalu ada hasil baik dari setiap keberanian. Namun, aku berani memastikan, akan selalu ada pelajaran dari setiap keberanian yang kita upayakan 😁

Sepenggal Kisah Masa Kecilku

Rumahku bukan di perumahan. Jadi, sulit sekali menemukan lapangan kosong untuk anak-anak bermain. Beberapa tahun lalu, masih ada satu lapangan sepak bola di dekat rumahku. Namun, kini sudah tak ada lagi. Di sana sudah dibangun rumah-rumah penduduk.

Karena sulit mencari lapangan, anak-anak kecil senang bermain di halaman rumahku. Halaman rumahku sebenarnya tidak terlalu besar. Kurang lebih hanya sekitar 6×7 meter saja. Meskipun begitu, anak-anak senang bermain di sini. Halaman ini sangat cukup untuk bermain hujan-hujanan, vespa-vespaan, petak jongkok, dan main tanah.

Melihat fenomena ini aku sangat prihatin. Ada apa dengan zaman ini. Lapangan bola pun menjadi tempat yang mahal dan sulit sekali ditemui.

Anak-anak zaman sekarang terlalu asyik dengan permainan yang ada digawai mereka. Main bersama-sama kawan pun tak ada guna. Mereka hanya sibuk menatap layar gawainya. Tanpa ada interaksi apapun.

Dan semakin berbahaya bila orang tua belum paham bahayanya gawai yang ada di tangan anak mereka. Apalagi jika orang tua tak paham pentingnya permainan outdoor yang saat ini menjadi aktivitas langka.

Sepenggal Kisah Masa Kecilku

Mengamati kisah anak kecil zaman sekarang seperti ini, aku tergerak untuk berbagi kisahku sendiri.

Ingatanku tentang masa kecil tidak begitu baik. Maka, jangan kamu tanyakan bagaimana kisah saat taman kanak-kanak dulu. Aku tidak akan ingat.

Kenangan masa kecil di sekolah yang kuingat hanya saat aku kelas 5 dan 6 sekolah dasar. Kala itu tahun 2004-2005.

Jarak sekolah dan rumahku hanya 1,3 km. Pada masa itu belum ada angkot. Aku dan teman-teman biasa diantar orang tua. Tetapi tidak berlaku untukku. Aku biasa berjalan kaki atau naik sepeda saat sekolah.

Entah jumlah kejahatan yang tidak tinggi atau memang jarak rumah yang sangat dekat. Seingatku, kebanyakan teman-teman juga berjalan kaki. Kami tidak pernah diantar. Biasanya, selepas pulang sekolah kami akan pulang bersama-sama.

Bermain Biji Pohon Karet

Saat perjalanan pulang, kami selalu berhenti sebentar di kebun karet. Kami saling berlomba-lomba mencari biji karet yang sudah jatuh dari pohonnya. Kalau beruntung, bijinya masih bulat sempurna tanpa ada retakan. Kalau biji karet sudah terkumpul semua, biasanya kami langsung melakukan adu biji karet!

Aku tidak tahu permainan ini ada atau tidak di tempat tinggalmu. Tetapi setahuku, meskipun cara bermainnya sama, bisa jadi pemberian namanya berbeda. Bagaimana kalau kuceritakan sedikit tentang permainan biji karet ini? Permainan biji karet dimulai dengan menumpuk kedua biji dalam posisi atas dan bawah. Secara bergantian, kami akan memukul biji karet kawan dengan milik biji karet sendiri menggunakan punggung tangan.

Inti permainannya, kita harus berhasil memecahkan biji karet lawan. Kalau tidak berhasil, berarti saatnya bergantian. Kini giliran kawan yang memukul biji karet kita.

Hasil kemenangan dan kekalahan akan dibuatkan skor. Pemenangnya akan mendapat hadiah sesuai kesepakatan. Kalau aku dan teman-teman, biasanya akan merelakan ‘biji karet jagoan’ untuk diberikan kepada kawan yang menang wkwk anak-anak memang sekreatif itu ya. Biji yang berkali-kali berhasil memecahkan biji lawan saja diberi nama ‘biji karet jagoan’ 😂.

Bermain Getah Pohon Karet

Selain biji karet yang bisa dijadikan permainan, getah karet juga bisa kami gunakan. Kami hanya perlu membelah sedikit batang karet menggunakan pisau. Nanti, getah karet akan keluar perlahan dari celah batang yang sudah kami belah.

Getah karet pun menetes dengan pelan-pelan. Anak-anak yang tak sabaran tak akan mau menunggu getah karet tersebut menetes sampai penuh.

Bagaimana cara memainkan getah karet ini? Sebenarnya tidak jelas akan digunakan untuk apa si getah ini hahaha kami hanya merasa senang saja melihat perubahan getah karet yang awalnya cair menjadi mengeras. Kami juga merasa senang karena berhasil membuktikan bahwa benar adanya karet gelang yang digunakan untuk bermain lompat tali berasal dari getah karet yang kami kumpulkan 😁

Bermain Sepeda

Selepas sekolah kami segera pulang ke rumah. Berganti baju sebentar, kemudian berangkat lagi untuk bermain sepeda. Kami pantang mundur meski panas matahari membakar wajah. Dulu, kami tak mengenal sunblock. Orang tua juga tidak menganjurkan 😅 Akhirnya, wajah dan badan kami hitam gosong tiap kali selesai bermain sepeda. Meskipun begitu, kami tetap senang.

Oh iya, pada zaman itu, aku dan teman-teman sudah mengenal tustel. Kamera tersebut milik Ayu, sahabatku. Ayu adalah anak tentara. Ia murid pindahan dari Maroko. Ayu orang Indonesia, tetapi ayahnya sempat bertugas di sana beberapa tahun. Mungkin karena pernah tinggal di luar negeri, pengetahuan Ayu tentang teknologi lebih baik dibanding kami. Oleh karena itu, tiap kali bermain sepeda ia selalu membawa kamera. Jadilah kami sering berpose di manapun berada. Dulu, kami paling senang menumpang foto di rumah-rumah bagus di dekat sekolah. Entahlah untuk apa hahaha mungkin pengaruh sinetron membuat kami tergila-gila dengan rumah-rumah orang kaya. Ada-ada saja ya 😂

Foto-foto pada zaman itu pun masih kusimpan sampai sekarang. Dan selalu memicu gelak tawa bagi siapapun yang melihatnya wkwk

Aku adalah orang yang beruntung karena memiliki kisah seperti di atas. Kisah yang mampu menguatkan diri dan bisa dibagi kepada anak-anak supaya mencintai budaya bermain bangsanya.

Entah kisah apa yang tersimpan dalam otak anak-anak zaman sekarang. Semoga anak-anak kita tidak dikendalikan teknologi. Teknologi ada bukan untuk menggerus kisah-kisah manis yang seharusnya terekam masa. Semoga kita bisa mengendalikannya.

Meski lapangan luas sudah jarang bahkan tak ada, kita bisa mengajak anak-anak bermain di alam terbuka, kok. Bermain di taman dan kebun, misalnya.

Meski di sekitar sudah jarang anak-anak memainkan permainan tradisional, kita bisa mengajari mereka. Bermain congklak, bola bekel, atau lompat tali, misalnya.

Meski di sekitar sudah jarang hal-hal tentang budaya bangsa, kita bisa mengenalkan semua itu kepada mereka. Mengunjugi museum-museum, misalnya.

Teknologi akan semakin pesat saja. Sikap konsumtif semakin meraja lela. Kebiasaan sedentari dianggap hal biasa. Hidup individual juga dianggap perihal yang menenangkan jiwa. Bagaimana nasip anak cucu kita? Ingin sampai kapan menutup kata?

Aku cukupkan tulisan tentang kecemasan dan kisahku ini. Bagi kamu yang juga memiliki kecemasan yang sama, kutunggu secuplik kisahmu juga. Akan senang sekali membaca kisah beragam dengan harapan yang sama 🙂

Tiga Buah Rencana

Ada tiga rencana ingin aku lakukan di tahun ini. Pertama, belajar menulis. Kedua, perluas jaring pertemanan. Ketiga, jalan-jalan ke pantai.

Belajar menulis

Sebenarnya, aku membuat blog ini sejak tahun 2014. Saat itu, aku menulis kalau sedang sedih saja. Kalau sedang sedih, menulis bisa mengurangi kesedihan. Aku itu kalau sedang sedih akan sedikit berbicara. Tetapi, ada rasa sesak didada yang tak bisa diungkap melalui kata. Jadilah menulis bisa menjadi solusinya.

Berdoa pada Allah tentu cara utama mengurangi kesedihan. Tetapi, manusia memang secara alami senang bercerita, kan? Bukan karena tidak bisa mandiri menghadapi masalah yang ada. Namun, kita hanya ingin mengeluarkan segala kegelisahan. Setelah melakukannya, kita akan mendapatkan ketenangan.

Karena pada awalnya tujuan menulis hanya sebatas itu, aku pun tidak memikirkan tata cara penulisan yang baik dan benar. Semua ide langsung aku tuliskan tanpa memikirkan aturan penulisan. Semakin lama menulis diwordpress, ternyata semakin nyaman pula aku menulis di sini.

Jadi, perihal apa saja yang aku tuliskan di sini? Pengalaman yang berkesan dan tak ingin hilang dalam ingatan. Apa-apa yang bermanfaat dan ingin dibagi kebermanfaatannya. Dan segala kegelisahan yang ada dihati dan pikiran.

Sepertinya, selalu ada yang rasa yang kurang dan tak lengkap bila dalam satu minggu aku tidak menulis di wordpress ini. Contohnya saja minggu ini. Aku baru sempat menulis hari ini. Dan merasa bersalah karena tak meluangkan waktu untuk satu buah tulisan. Adakah teman-teman di sini yang juga merasakan hal yang sama?

Atas dasar itu semua, maka aku yakin ingin belajar menulis kepada orang-orang yang lebih mumpuni. Usaha pertama yang aku lakukan adalah mencari informasi di instagram.

Ternyata mencari komunitas menulis untuk penulis pemula tak mudah. Rata-rata akun yang muncul adalah akun yang sudah tidak aktif sejak lama. Setelah pencarian panjang, mucullah satu akun dengan nama @Pejuang30dwc. Tanpa pikir panjang, aku segera membaca tentangnya dan mendaftar.

Konsep 30DWC berbeda dengan event menulis selama 30 hari di @30haribercerita. 30DWC ini berbayar. Hanya dengan uang 100.000, kita bisa mendapatkan banyak ilmu. Pertama, mendapat banyak teman baru. Kedua, mendapat kuliah online tentang tata cara penulisan yang baik dan benar. Ketiga, tulisan kita akan mendapat feedback dari kakak mentor dan sesama peserta. Keempat, mendapat teman berdiskusi yang memiliki satu selera dengan kita. Dan masih banyak manfaat yang lainnya.

Ini adalah komunitas pertama yang aku ikuti. Ternyata rasanya sesenang ini berkenalan dan berteman dengan kawan yang memiliki hobi sama. Meskipun belum bertatap muka dan berkomunikasi secara langsung, kami langsung ‘terkoneksi’ dengan sendirinya. Ngobrol via whatsapp pun nyambung dan tek tok 😀

Belajar menulis melalui komunitas seperti ini ternyata cukup efekfif. Sebab, pola belajarnya tidak kaku dan tidak hanya terpaku pada text book. Kami lebih banyak berdiskusi langsung melalui whatsapp group.

Bila ada materi yang membingungkan, group selalu terbuka untuk sesi tanya jawab.

Perluas Jaringan Pertemanan

Jika usia kamu sekitar 25 tahun ke atas, maka jaringan pertemananmu pasti akan menjadi lebih sempit. Terutama bila pekerjaan kamu tidak melibatkan aktivitas lapangan. Contohnya aku.

Aku bekerja di bagian Poli Rehabilitasi Medik. Maka, lingkup pertemananku hanya teman-teman satu profesi, dokter rehabilitasi medik, perawat, dan pasien. Jarang sekali aku berkomunikasi dengan bagian lain seperti pendaftaran, radiologi, laboratorium, dan masih banyak yang lainnya. Alhasil, temanku hanya itu-itu saja.

Pertemanan semasa sekolah dan kampus Alhamdulillah masih tetap terjalin. Hanya saja, aktivitas kami sudah jauh berbeda. Jika saat awal lulus kuliah masih rutin bertemu, saat ini tidak lagi. Kesibukan pekerjaan, perkuliahan (yang lanjut sekolah lagi), dan pernikahan membuat kami tidak rutin bertemu. Maka, hubungan jarak jauh menggunakan whatsapp sangat membantu.

Dengan kondisi seperti itu, maka sebaiknya aku memperluas jaringan pertemanan lagi. Bergabung di komunitas mengaji, menulis, dan relawan kupikir bisa menjadi solusi. Meskipun tak mudah mencari, aku akan tetap mencari informasi. Nyatanya, mencari komunitas menulis di daerah JADEBOTABEK tak mudah. Sekalipun menemukan mereka di sosial media, tampaknya komunitas tersebut sudah tak aktif berkegiatan lagi.

Jalan-jalan ke Pantai

Aku ingin sekali melakukan perjalanan tahun ini. Terakhir kali melakukannya adalah tahun 2015 lalu. Sudah lama sekali ya?

Aku suka semua hal tentang alam. Tahun ini aku dan teman-teman ingin ke pantai. Aku ingin main air! Pilihan kami jatuh pada Lombok. Tetapi belum pasti. Sebelum memutuskan, sepertinya kami harus mencari banyak referensi lagi. Apalagi saat ini tiket pesawat mahal sekali. Kami harus berdiskusi lagi tentang anggaran dan tempat tujuan. Semoga saja segera mendapat kesepakatan.

Oh iya, kalau teman-teman ingin tahu lebih banyak tentang komunitas 30DWC, memiliki informasi tentang komunitas (aku tertarik tentang pendidikan, kesehatan, dan sosial :)), punya rekomendasi pantai apa yang bagus untuk didatangi, boleh tanyakan dan infokan dikolom komentar ya 😀

Mohon doakan aku, semoga segala rencana tidak hanya menjadi wacana saja. Saat mengetik tulisan, ada rasa semangat membuncah dalam dada. Sepertinya Shinta memang betul-betul cinta dengan ketiga hal ini :’)

Bila Cleaning Service Tak Ada, Kita Bisa Apa?

Pagiku di tempat kerja selalu menyenangkan. Salah satu alasannya adalah karena Bu RiRi. Berkat ibu, ruanganku harum sekali. Toiletnya tidak bau lagi. Lantainya bersih. Plastik tong sampah selalu rutin diganti. Wastafel bersih. Tissue dan hand soap selalu terisi. Kaca ruangan gymnasium juga selalu berkilau. Pokoknya semua bersih! Aku berterima kasih sekali pada Bu Riri.

Bu Riri adalah cleaning service (CS) baru di ruanganku. Sebenarnya Bu Riri bukan karyawan baru. Bu Riri adalah penanggung jawab CS di RS tempatku bekerja. Namun, karena ada banyak keluhan tentang ruanganku yang ‘katanya’ sulit sekali dibersihkan, Bu Riri pun memutuskan untuk turun langsung ke lapangan untuk mencoba. Hebat ya!

“Assalammu’alaikum, Bu Riri. Selamat pagi ibuuuuuuuu.” aku menyapa ibu dengan senyum ceria. Mungkin dalam hati, Bu Riri bingung, ada apa denganku. Mengapa senyumku selebar dan suaraku sebahagia ini. Mengapa aku menatapnya begitu penuh cinta hahaha

Pada hari yang lain.

“Mbak, Bu Riri mana?” tanyaku pada petugas kebersihan yang sedang menyapu di depanku.

“Ada mbak, di dekat toilet tuh.” jawab si mbak singkat.

“Buuuuuuu, Shinta kangen nih bu. Nyariin Bu Riri melulu.” ledek Pak Sanusi si kepala ruanganku.

“Eh iya kenapa Mbak Shinta?” jawab Bu Riri dengan wajah bingung.

“Hahahaha nggak apa-apa bu. Mau liat ibu aja. Kan kangen. Aku mah nggak bisa jauh dari Bu Riri pokoknya.” candaku.

“Hahaha Mbak Shinta mah.” ibu tertawa malu sambil perlahan pergi melanjutkan pekerjaannya.

Mungkin orang lain akan bingung mengapa aku begitu senang terhadap Bu Riri ini. Tetapi, aku benar-benar bersyukur Bu Riri bekerja di tempatku.

Mengamati cara Bu Riri bekerja aku semakin yakin perkataan dosen saat di kampus dulu. Katanya, kemudahan kita bekerja sehari-hari adalah hasil dari bantuan orang-orang di sekeliling kita. Tanpa mereka kita bukan apa-apa.

Aku merasakan sendiri kebenaran perkataaan beliau. Berkat kerajinan Bu Riri, ruanganku bersih dan wangi sekali. Karena Bu Riri pekerjaanku pun berjalan lancar.

Hampir satu tahun bekerja di rumah sakit ini, ada beberapa hal yang mengganjal di hati. Tentang kebersihan poli tempatku bekerja. Banyak orang mengeluh tentang ruanganku. Bau toilet menguap hingga ke ruangan tenpat pasien menunggu. Banyak dugaan muncul. Apakah ada masalah pada toilet. Atau ada masalah pada wastafel. Sampai-sampai petugas teknisi mengecek semua itu. Hasilnya, semua dalam keadaan normal. Masalah bau pun tak kunjung ditemukan.

Kosong atau tidak plastik tong sampah sangat berpengaruh pada pekerjaanku. Salah satu tindakan yang aku kerjakan adalah menggunakan gel seperti saat USG kehamilan. Setelah tindakan, gel harus dibersihkan menggunakan tissue. Tissue pun kami buang ke tong sampah.

Sebelum Bu Riri datang, seringkali kami bingung saat ingin membuang tissue karena plastik tong sampah penuh. Akhirnya, kami pun harus mencari-cari CS atau menelepon penanggung jawab CS bila petugas CS ruanganku tak ada. Mencari CS saat pelayanan ternyata lumayan menyulitkan.

Ketika ada pasien anak muntah saat latihan dan CS tidak standby di ruangan juga cukup menyulitkan kami. Waktu yang seharusnya kami gunakan untuk melatih pasien akan sedikit tersita untuk mencari-cari CS.

Yang sangat berbahaya adalah saat ada pasien yang menumpahkan air di ruang tunggu. Bila CS sulit dicari, meskipun sudah memasang penanda ‘wet floor’, kami harus tetap mengingatkan pasien untuk berhati-hati. Kegiatan seperti itu juga cukup menyita waktu kami yang seharusnya bisa digunakan untuk memerhatikan pasien yang sedang diterapi. Peran CS benar-benar besar di poliku.

Di rumah sakit (RS) tempatku bekerja sebelumnya, RS bekerja sama dengan perusahaan kebersihan. Pemiliknya adalah orang luar negeri. Aku lupa asalnya dari mana. Motto perusahaan itu adalah tidak boleh ada kotoran sedikit pun yang terlihat oleh mata.

Aku tahu hal ini karena pernah mengobrol dengan Agus salah satu CS yang bekerja di perusahaan itu. Kebetulan, saat itu Agus bertugas di ruanganku. Agar kebersihan selalu terjaga, bahkan si Agus ini tidak boleh duduk selama jam kerja. Bila ketahuan duduk, ia akan mendapat hukuman yang cukup berat dari perusahaan. Mendapat surat peringatan atau pemotongan gaji, misalnya.

Aku ingat betul saat Agus kutawarkan sepotong kue. Ia harus bersembunyi di area tanpa CCTV supaya tidak ketahuan. Ketat betul aturan perusahaan itu. Oleh karena itu, Agus selalu tampak di sekitarku. Entah ia sedang menyapu, mengepel, atau mengelap debu.

Melihat Agus bekerja sekeras itu aku merasa kasihan. Aku bisa duduk kapan saja bila lelah, tetapi Agus tidak bisa. Aku bisa memakan camilan bila lapar, tetapi Agus tidak boleh. Tetapi, aku senang dan bersyukur merasakan hasil pekerjaan Agus. Berkatnya, aku nyaman sekali selama bekerja. Kebersihan ruangan benar-benar membantuku bekerja. Pelayanan tidak pernah terganggu.

Berbeda dengan RSku dulu, RSku saat ini tidak bekerja sama dengan perusahaan luar negeri untuk tenaga CS. RS merekrut sendiri SDM untuk CS. Aku tidak mengerti mengapa perbedaannya benar-benar terasa. Apakah sistemnya berbeda, atau memang individunya saja yang tidak menjalankan pekerjaan sesuai prosedur. Sehingga tidak bisa menjaga ruangan kebersihan dengan baik. Fakta lapangan yang aku tahu, Bu Riri dan petugas CS sebelumnya adalah sama-sama karyawan RS. Namun, cara kerjanya benar-benar berbeda.

Aku mungkin adalah satu dari banyaknya orang yang merasakan dan menyadari betul manfaat tentang kebersihan ruangan. Maka, kehadiran Bu Riri yang begitu rajin sangat membuat hatiku senang. Apalagi masalah kebersihan ini benar-benar mengganggu sejak lama. Kehadiran Bu Riri benar-benar kunanti hehehe

Karena terlalu ‘ngefans’ dengan cara kerja Bu Riri aku pernah bertanya ke ibu,”Bu, ini toiletnya ibu bersihin pake apa? Kok wangi banget bu? Ini kali pertama toiletnya sewangi ini lho bu.

“Itu pake pengharum toilet yang digantung di dinding aja, Mbak Shinta.” jawab Bu Riri.

“Masa sih bu? Dari dulu juga pake kamper kaya gitu kayaknya bu. Tapi nggak pernah wangi kayak gini.”

“Aku gosokin semua area mbak. Semua celah deh pokoknya. Kotor itu emang bikin bau mbak.” jawab ibu.

“Oh gitu, keren ibu. Makasih ya, Bu Riri. Yaudah, aku ke dalam ya bu. Mari buuu.” aku berterima kasih sambil tersenyum dan melanjutkan pekerjaanku.

***

Sesekali, coba amati CS di kantormu. Kalau bertemu CS yang rajin sebaiknya ucapkan terima kasih. Jangan lupa juga beri sapa dan seyum tiap kali bertemu. Kantor yang kotor dan bau akan mengganggu kita bekerja, sungguh.

Percaya, sehebat apapun kita bekerja, tanpa hadirnya CS yang membantu, akan menyulitkan urusan kita. Mungkin pekerjaan akan tetap selesai juga. Tetapi, ruangan yang tidak nyaman akan sangat menghambat kita bekerja. Tanpa mereka, apa jadinya kita?

Komunikasi itu Penting: Group Whatsapp

Tahukah kamu perbuatan apa yang paling menyebalkan? Yang paling menyebalkan adalah ketika seseorang merasa paling tahu tentang sesuatu, kemudian menjustifikasi.

Aku ingin berbagi pandangan tentang group whatsapp. Bagiku komunikasi itu sangat penting. Tanpanya, akan terjadi sebuah miskomunikasi. Miskomunikasi bukan hal yang bisa dibiarkan begitu saja. Dampak miskomunikasi itu berat. Bisa memutuskan sebuah hubungan dan membuat situasi menjadi buruk sekali.

Menyadari bahwa manusia tidak memiliki kemampuan khusus seperti membaca pikiran orang lain, maka komunikasi adalah modal penting. Karenanya, kita bisa mengutarakan pikiran dan perasaan. Begitu pula dengan lawan bicara kita. Sehingga didapatkan sebuah kesepakatan yang baik untuk ke dua belah pihak.

Namun, komunikasi tidaklah mudah. Bahkan untuk dua orang manusia yang saling tatap muka. Selalu saja ada yang menghambat agar kita tidak melakukannya. Biasanya, faktor utama adalah keegoisan kita sendiri. Kita enggan membicarakan sesuatu bila masalah datang. Atau kita enggan membicarakannya ‘lagi’ karena ‘merasa sudah tahu’ bagaimana tanggapan lawan bicara. Kita selalu ingin orang lain yang memulai lebih dulu. Ego kita ingin seperti itu. Akhirnya, kita saling bungkam dalam waktu lama. Terjadilah perang dingin. Berada di tempat yang sama dan melakukan hal bersama-sama, namun tak ada interaksi apapun di sana. Kita saling diam seribu bahasa.

Mengetahui bahwa dampak miskomunikasi sangat berbahaya, aku ingin meminimalisir hal itu. Bahkan kalau bisa, aku tidak mau hal seperti itu terjadi. Oleh karena itu, aku selalu menjadi pencetus pertama membuat group whatsapp untuk kegiatan apapun. Bahkan untuk acara sederhana ketemuan bersama beberapa kawan lama. Aku membuat group sementara. Untuk apa? Banyak manfaatnya. Dalam group itu kita bisa mencocokkan jadwal satu sama lain, kita bisa mengemukakan masalah bila tiba-tiba ada acara mendadak dan tak bisa bergabung dalam pertemuan itu, kita juga bisa mengonfirmasi bila datang terlambat saat hari-H. Semua hal bisa kita komunikasikan digroup. Jadi, tidak ada lagi kejadian hilang kabar tanpa memberikan konfirmasi apa-apa. Hal tersebut sangat merugikan kawan-kawan.

Baiklah, langsung saja aku ke pokok pembahasan. Ini tentang group whatsapp keluarga. Beberapa hari lalu ada seorang kawan tidak sengaja melihat tampilan whatsappku. Dan ia merasa aneh dengan apa yang dilihat. Seperti ini percakapannya.

“Itu group keluarga apa? Kok unik tulisannya keluarga bahagia?” tanyanya setelah melihat tampilan whatsappku.

“Itu group keluargaku. Keluarga inti. Di dalamnya ada ayah, mama, dan adik-adikku.” jawabku singkat.

“Buat apaan group keluarga inti? Kalo aku, group itu untuk keluarga besar. Yang isinya ada banyak banget orang. Kalo keluarga inti mah setiap hari juga ketemu. Ngapain dibikin group.” dengan nada tidak bersahabat ia bertanya sekaligus menjawab pertanyaannya sendiri.

Aku sebenarnya tidak berminat menjawab pertanyaan yang sudah disandingkan dengan sebuah asumsi. Karena hasil akhirnya mudah ditebak. Ia hanya mau menyakini apa yang ia yakini. Dan tak ingin mendengar pandangan orang lain. Tapi, untuk menghormati yang lebih tua, maka aku tetap menanggapi.

“Group itu biasa aku gunakan untuk mengabari keluargaku. Misalnya aku pulang terlambat. Aku akan mengabari dalam group. Kurasa, yang khawatir tentangku tidak hanya orang tuaku saja. Adik-adikku pun juga.” aku menjawab singkat saja. Dan tak ingin berbagi lebih banyak lagi kepada ia yang tak senang mendengarkan orang lain.

“Lah untuk apa mengabari adik-adikmu segala? Kamu cuma berkewajiban mengabari orang tuamu saja. Lagi pula, kehadiran group hanya akan mengurangi komunikasi secara langsung saja. Kamu dan keluarga pasti enggan berbicara secara langsung.” ia menyangkal semua pendapatku. Dan menjelaskan panjang lebar apa yang ia anggap benar.

“……………” aku memutuskan untuk menghentikan pembicaraan dan tak melanjutkan lagi. Aku tidak berminat. Terkadang, kita memang tidak perlu menjelaskan apa-apa kepada orang yang tidak mau mendengarkan.

Melihat sikapnya membuat aku semakin sadar bahwa mendengarkan itu banyak memberikan manfaat daripada berbicara. Mendengarkan akan memberikan pengetahuan baru, sedangkan berbicara hanya mengeluarkan apa-apa yang kita tahu. Seandainya saja kawanku mau mendengarkan sebentar ceritaku, ia akan mendapat pengalaman baru tentang keluarga orang lain yang belum ia temui dalam keluarganya.

Kawanku ini belum memiliki anak remaja. Anak terbesarnya baru kelas enam sekolah dasar dan anak yang paling kecil kelas dua sekolah dasar. Wajar saja bila ia belum merasakan pentingnya sebuah group whatsapp keluarga inti.

Aku kali pertama membuat group keluarga tahun 2015. Saat itu, aku masih tinggal di indekos. Meskipun hanya Depok-Jakarta, aku tidak bisa pulang setiap akhir minggu. Paling cepat aku pulang dua minggu sekali. Penyususan skripsi dan tugas pekerjaan mengambil waktu luang akhir pekanku. Oleh karena itu, kehadiran group whatsapp sangat membantu. Aku bisa turut merasakan kebersamaan keluarga di rumah melalui foto, video, atau voice note yang dikirimkan. Dan keluargaku pun begitu, bisa mengetahui keadaanku melalui foto dan video yang aku kirimkan. Group whatsapp pengobat rindu.

Saat itu, adikku pun sedang sibuk di kampus. Ia juga jarang di rumah. Melalui group whatsapplah ia bisa mengabari keberadaannya. Apakah ia sedang mengerjakan tugas bersama temannya, apakah ia akan pulang terlambat karena harus menghadiri rapat organisasi, atau sesederhana sarana untuk menanyakan atau meminta tolong sesuatu bila ada keperluan.

Kalau aku, merasakan sekali manfaat kehadiran group keluarga inti diaplikasi whatsapp ini. Entah, dengan kawanku itu. Mungkin ia belum mengerti. Mungkin nanti bila anak-anaknya sudah tumbuh dewasa dan harus berhubungan jarak jauh, pemahaman ia tentang group keluarga inti di whatsapp akan lebih baik 🙂

Komunikasi itu penting. Maka, cara apapun akan aku usahakan supaya komunikasi tetap terjalin dengan baik. Contohnya pembuatan group dalam aplikasi whatsapp ini 😀

Pesta Demokrasi

Dua hari beristirahat di rumah Alhamdulillah cukup mengembalikan energiku. Dua hari lalu berada di keramaian cukup membuat aku kelelahan. Sebenarnya bukan lelah fisik karena tugas yang banyak. Melainkan lelah karena terlalu lama berada pada lingkungan yang bising.

Ketua KPPS menginstruksikan agar kami berkumpul pukul enam pagi. Pada kenyataannya, aku terlambat sepuluh menit. Aku terlalu ngantuk untuk bangun pagi karena malam harinya petugas KPPS harus menyiapkan lokasi tempat pemilihan umum. Kami selesai menyiapkan semuanya pukul sebelas malam. Kalau kamu bertanya apakah aku lelah atau tidak tentu saja jawabannya iya. Apalagi aku tidak terbiasa tidur larut malam. Pukul sepuluh malam lewat masih di luar rumah mengerjakan tugas adalah kegiatan yang menyulitkan untukku. Mata benar-benar tidak kuat untuk tetap terjaga.

Tanggal 17 April 2019, tepat pukul tujuh pagi warga sudah berkumpul di TPS 41. Mereka antusias sekali. Tetapi kasihan, mereka harus menunggu lama di luar TPS. Tak ada bangku pula. Aku baru tahu ternyata sebelum memulai proses pencoblosan, ada proses panjang yang harus dilakukan. Aku kira petugas KPPS hanya perlu bersumpah saja dan kemudian warga boleh masuk ke dalam. Ternyata masih ada perhitungan kertas suara yang membutuhkan waktu cukup lama. Warga pun tampak mulai gelisah dan lelah menunggu.

Setelah semua kertas suara dihitung oleh panitia, warga segera masuk ke dalam TPS untuk memberikan suaranya. Sekitar 80 % warga RT 03 hadir. Bahkan tetanggaku yang baru saja terserang stroke tetap memberikan suaranya. Padahal berjalan pun ia belum mampu. Beberapa panitia dan saksi pun akhirnya datang ke rumahnya.

Proses pemilihan suara berakhir tepat pukul satu siang. Ada beberapa orang datang pukul satu lewat. Dengan terpaksa dan bersedih kami pun menolaknya.

Proses perhitungan suara berlangsung panjang sekali. Karena pemilihan presiden, DPR, DPD, DPRD kota, dan DPRD Provinsi dilakukan pada satu waktu. Butuh waktu sangat lama untuk menghitung suara yang warga berikan. TPSku saja selesai menghitung suara kurang lebih pukul sembilan malam. Perjuangan tidak selesai sampai di sana. Setelahnya, petugas KPPS harus menulis hasil perhitungan suara pada lembar khusus yang disebut C1. Berita acara juga harus ditulis pada formulir khusus. Semua harus ditulis secara manual dan dibubuhkan tanda tangan panitia dan saksi. Ada beberapa formulir yang harus diisi. Sebenarnya, yang membuat lama bukanlah proses perhitungannya. Melainkan, proses tulis menulis pada banyak formulir dan amplop. Lelahkah? Iya, lelah sekali. Otot-otot tangan dan lengan yang lelah karena dipakai terus menerus sedari pagi.

Bagi aku dan beberapa anggota yang kali pertama bertugas tentu merasa kelelahan. Apalagi tak sempat mandi hingga sore hari. Badan lelah dan tak segar. Urusan administrasi rupanya benar-benar membuat pusing kepala bagi aku yang tidak terbiasa. Tetapi hal itu tidak berlaku bagi Pak Budi dan bapak-bapak lainnya. Mereka tetap semangat dan ceria. Padahal tugas mereka lebih melelahkan dibanding aku. Merentangkan kertas suara seluas koran ke langit-langit sambil berteriak “SAH” adalah kegiatan yang pastinya melelahkan. Meskipun begitu, candaan kerap mereka lakukan untuk membuat suasana menyenangkan dan tidak membosankan.

Ketua KPPS membagi tugas secara rata. Para bapak menghitung suara dan para wanita menuliskan hasil perhitungan suara. Ada yang bertugas mengelompokkan kertas suara yang sah dan tidak ke dalam amplop. Ada yang bertugas menulis pada amplop dan formulir. Lalu, semua petugas bertugas membubuhkan ratusan tanda tangan pada formulir.

Ada beberapa hal yang sulit aku mengerti. Mengapa formulir harus dituliskan secara manual? Satu formulir berisi lebih dari lima lembar. Dan kami harus menyalin formulir itu sebanyak minimal lima buah. Coba kita kalikan saja hasilnya berapa. Ada ratusan kertas yang harus kami isi. Padahal jika saja hasil perhitungan suara kita ketik pada laptop akan jauh lebih efektif. Lalu, diprint saja sesuai kebutuhan. Kalau perihal tanda tangan, jika memang harus, mungkin boleh saja dilakukan secara manual. Namun, aku belum memahami mengapa urusan tulis menulis juga harus dilakukan secara manual.

Secara menyeluruh aku bersyukur bisa terlibat dalam pesta demokrasi tahun ini. Pengetahuanku tentang persiapan pemilu menjadi lebih baik. Bahwa saat kita begitu mudahnya menyoblos pada lembar suara, ada usaha para petugas KPPS di belakangnya. Selain petugas KPPS, ada banyak pihak lain yang membantu sehingga pemilu berjalan lancar, aman, dan damai. Aku juga banyak berdiskusi dengan para ibu dan bapak yang sudah terbiasa terlibat dalam kegiatan seperti ini. Ternyata ada banyak sekali orang berjiwa sosial tinggi di sekitarku. Mereka mengabdi dengan tulus untuk lingkungan dan orang-orang di sekitarnya 😊

Jika ditanya apakah aku bersedia menjadi petugas KPPS lagi, aku belum tahu jawabannya. Sebab, berada dalam keramaian lebih dari 12 jam ternyata hal yang tidak mudah untukku. Aku seperti kehabisan tenaga wkwk Tidak mandi dalam waktu lebih dari 10 jam juga bukan hal yang mudah 😂

Sekian ceritaku tentang pengalaman menjadi petugas KPPS. Semoga menambah informasi untuk teman-teman yang membutuhkan, ya. Berlelah-berlelah untuk kepentingan orang banyak Insya Allah berkah 😁

Menyebar Undangan Pemilu

Tepat saat adzan magrib berkumandang, masuk sebuah pesan singkat pada gawaiku. Ternyata pesan tersebut dari Pak Budi. Bapak ini adalah ketua kpps timku, TPS 41. Pak Budi mengajak aku dan anggota lainnya menyebar undangan pemilu ke rumah-rumah warga. Saat membaca pesan singkat, ada rasa malas muncul dalam benakku. Malam itu hujan lumayan deras. Pikirku, akan ribet sekali kalau harus hujan-hujanan dan becek-becekkan. Lagi pula, aku juga lelah karena baru saja pulang bekerja. Inginnya berbaring saja di kasurku.

Dibalik rasa dan pikiranku itu, kata hati menolak. Bagaimana bisa aku berpikiran seperti itu. Sebenarnya aku tak perlu hujan-hujanan, sebab ada payung. Aku juga bisa mencuci kaki bila nanti kakiku penuh dengan tanah basah. Semua petugas kpps kurasa juga lelah. Kami memiliki kesibukan yang berbeda. Enam orang sudah bekerja. Dan tiga orang sedang kuliah di tahun terakhir. Tak ada yang paling lelah diantara orang-orang bekerja. Sebab, rasa lelah ada pada setiap kita yang berusaha.

Aku segera menghubungi Dhea untuk mengajak ia pergi bersama. Ternyata Dhea tidak bisa menemani. Katanya, pintu rumahnya sudah terlanjur terkunci. Begitu pula dengan teman-teman lainnya. Aku sungguh tak tega membiarkan Pak Budi dan Pak Arifin menyebar undangan hanya berdua saja. Para bapak sudah mengurus tenda dan segala keperluan lainnya. Bebal sekali hati bila menyebar undangan pun aku tak mau. Akhirnya, aku memutuskan untuk membantu.

Dari kejauhan tampak dua orang bapak menggunakan payung hitam besar. Mereka adalah Pak Arifin dan Pak Budi. Wajah keduanya tampak senang saat melihat aku datang. Supaya cepat, aku langsung menyapa mereka dan meminta undangan yang masih belum tersebar. Dan ternyata masih banyak sekali undangan yang tersisa. Pak Budi mengatakan, semua undangan harus selesai disebar malam ini.

Aku memang mudah tersentuh dengan hal-hal kecil. Contohnya malam itu. Aku terharu dengan perjuangan para bapak. Dibalik undangan pemilu yang biasa kudapat selama ini, ternyata ada perjuangan beberapa orang di belakangnya. Orang yang tak tampak usahanya, namun kebermanfaatannya dirasakan oleh banyak orang. Orang-orang yang meluangkan waktunya meski rasa lelah menyerang tubuhnya. Hujan malam itu tak menghentikan tekad para bapak menunaikan tugasnya. Melihat para bapak berusaha sekeras itu, mana mungkin aku bisa membiarkan rasa malas ini bersemayam dalam diri?

Ada banyak hal aku dapatkan setelah menyebar undangan pemilu. Semenjak lulus sekolah dasar, aku tak pernah bertatap muka dengan tetangga, kecuali tetangga dekat rumahku. Aku juga tak pernah berkeliling rumah-rumah tetangga lagi. Aku terlalu ‘sibuk’ dengan aktivitas sekolahku. Sepertinya kata sibuk kurang tepat. Akulah yang enggan meluangkan waktu. Sikap yang buruk, bukan? Dan malam itu, setelah lebih dari 10 tahun berlalu, aku melakukannya lagi. Aku berkeliling rumah dan bertatap muka dengan mereka :’) Ada rasa tiba-tiba datang. Rasa rindu yang terobati. Sebuah kelegaan dan kebahagiaan. Aku rindu masa kecilku. Aku rindu lingkungan dan orang-orang di dalamnya.

“Assalammu’alaikum, bude. Maaf mengganggu malam-malam. Kami mau kasih undangan pemilu, bude.” aku mengetuk pintu sambil memberitahu tujuan kedatangan kami.

“Wa’alaikumsalam. Iya, nggak apa-apa. Silakan masuk, mbak.” kata bude. Ia mempersilakan aku masuk ke dalam rumahnya.

“Bude, ini undangannya. Bude apa kabar? Hayooo, inget nggak ini siapa bude? kataku. Aku menyodorkan undangan sambil merangkul bahu bude.

“Aduh, maaf, bude nggak inget. Ini siapa ya? Maklum ya mbak, udah tua ingatannya begini deh.” Bude menjawab dengan nada merasa bersalah.

“Hehehe, ini Shinta bude. Beda ya, bude? Udah tinggi ya? Hahaha” kataku.

“Yaampun, Mbak Shinta, bude nggak ngenalin. Iya tinggi banget, kalah nih bude hahaha Udah lulus kuliah ya sekarang mbak?” jawab bude.

“Iya bude. Bukan cuma lulus kuliah, bude. Sekarang udah kerja dan udah memasuki usia nikah malah hahaha.” candaku pada bude.

“Hahaha kamu ini. Semoga bude segera diundang ya!” kata bude.

“Siap bude!! Haha.” jawabku.

Begitulah percakapan hangat singkat yang mengobati rasa rinduku. Iya memang benar adanya, pengobat rindu memang temu.

Lingkungan rumah warga RT 03 tidak terlalu luas ternyata. Aku tidak berjalan begitu jauh. Meskipun seperti itu, kami menghabiskan waktu tiga jam hingga akhirnya seluruh undangan tersebar semuanya.

Aktivitas menyebar undangan berakhir tepat saat rintik hujan berhenti membasahi payung kami. Aku bersyukur bisa mengalahkan rasa malas yang singgah dalam diri. Tanpa itu, mungkin pemahamanku tentang undangan pemilu tidak sebaik sekarang ini. Tanpa itu, rasa rindu pada masa kecil tidak terobati. Dan tanpa itu, aku tidak akan bertemu bude yang meminta diundang bila aku menikah nanti 😂

Bahaya Mengemudi dalam Keadaan Kantuk

Beberapa hari lalu mama memberi kabar tentang kecelakaan seorang wanita di jalan margonda sambil menunjukkan sebuah gambar KTP dari gawainya. Aku tidak merespon secara serius. Aku hanya mendengarkan ceritanya, mengangguk sebentar, dan kemudian melanjutkan kegiatanku lagi. Esok harinya ada kiriman video dari ayahku dalam group keluarga. Ternyata isi video tersebut adalah suasana paska kejadian kecelakaan di jalan margonda yang merenggut nyawa. Bulu kudukku langsung berdiri saat melihat videonya dan tak sanggup menonton sampai selesai. Ada rasa sedih karena turut berduka dan perasaan takut karena aku pengendara motor juga.

Setelah mendapat kabar dan menonton video aku tak kunjung googling berita itu. Aku tak tahu mengapa melakukan itu. Mungkin aku terlalu ‘ngeri’ membayangkan bagaimana kronologi kecelakaan. Namun, setelah melewati lokasi kejadian semua menjadi berbeda. Aku benar-benar ingin tahu bagaimana kejadiannya hingga korban mengalami kecelakaan sadis seperti itu.

Ini adalah pengalaman pertama aku melewati tempat kejadian perkara (TKP) sebuah kecelakaan. Lokasi kejadian diberi tanda dan digambar menggunakan cat putih. Terlihat sebuah tanda bertuliskan huruf a, b, dan c. Serta tanda berbentuk motor dan manusia. Saat itu, aku belum tahu arti tanda-tanda itu. Meskipun begitu, aku langsung merinding seketika melihatnya. Pikiranku langsung mengoneksikan informasi video paska kecelakaan yang aku punya dengan dengan suasana TKP. Aku membayangkan betapa mengerikan suasana saat kecelakaan. Aku pun tak sanggup membayangkannya.

Tadi malam akhirnya aku bertanya pada ayah tentang kronologi kejadian sesungguhnya dan apa arti tanda-tanda yang kutemui di jalan tadi. Ayah bilang, penanda dibuat untuk menunjukkan lokasi korban, motor, dan kronologinya.

Lalu, ayah kembali bercerita, katanya, kecelakaan itu adalah kecelakaan tunggal. Sudah dibuktikan melalui CCTV. Kemungkinan korban mengebut dalam keadaan kantuk dengan kecepatan tinggi. Akhirnya, korban pun menabrak median jalan. Kebetulan, median jalan adalah sebuah taman yang dipinggirnya terdapat pagar besi. Dan terjadilah kecelakaan itu. Aku tak sanggup menceritakan lebih lanjut. Kalau ingin tahu, sebaiknya baca saja di berita, ya.

Kemudian ayah memberitahu bahayanya mengemudi dalam keadaan kantuk. Orang yang tidur tentu akan mengalami penurunan kesadaran. Begitu pula saat kita bangun. Kita tak akan mampu secara cepat sadar penuh. Kita pasti membutuhkan waktu beberapa menit hingga akhirnya kesadaran kembali. Terbayang kan bagaimana keadaan seseorang yang tertidur saat mengemudi? Apalagi dengan kecepatan tinggi? Saat bangun, ia pasti kaget sekali dan hilang kendali. Syukur-syukur secara refleks tombol ‘rem’ yang ia tekan. Bagaimana kalau ‘gas’ yang ia aktifkan? Tentu keadaan dirinya dan kendaraan tak akan terkendali. Oleh karena itu ayah menyarankan, lebih baik menunda perjalanan dan beristirahat dahulu, daripada harus memaksakan diri. Akibatnya fatal, bisa merenggut nyawa kita sendiri.

Aku sangat menyetujui saran ayah. Sebab, aku pernah merasakan sendiri. Aku pernah hampir menabrak kendaraan di depan karena kelalaianku. Untung, aku masih bisa mengerem. Terakhir kali, aku pernah mengalaminya lagi. Kali ini aku menabrak polisi tidur di jalanan kampus UI. Di sana, polisi tidur memang dipasang beberapa dan berjajar. Ada sekitar 4-5 polisi tidur dipasang berdekatan. Tujuannya pasti agar pengendara tidak mengebut. Jalanan Kampus UI itu mulus sekali. Tempat yang asyik untuk mengebut memang. Sayangnya, kala itu aku tidak beruntung. Lagi-lagi aku mengerem mendadak dan akhirnya motorku jatuh ke samping. Tidak ada luka serius. Lutut dan pahaku luka sedikit. Ini memang teguran dari Allah supaya aku tak lalai lagi. Aku salah. Dan aku akan introspeksi diri. Aku akan berusaha berhenti bila kantuk datang lagi. Tak ada yang paling penting daripada keselamatan.

Kecelakaan ini teguran keras untuk diriku sendiri. Aku masih sering mengebut bila berkendara di jalan raya. Aku masih sering lalai. Aku menyepelekan nyawa sendiri. Semoga aku lebih mawas diri lagi.

**

Mbak Ita,

Kejadian yang menimpamu adalah duka teramat berat untuk keluargamu. Namun, pembelajaran besar untuk kami di sini.

Wanita mana yang tak takut berkendara sendiri pada dini hari? Aku yakin kamu pun begitu. Namun, kamu tetap melakukannya. Kamu mengalahkan rasa takut dan tetap tegar bekerja setiap hari. Kamu berjuang untuk keluarga yang kamu cintai.

Entah bagaimana perasaanmu saat peristiwa itu terjadi. Pasti takut sekali. Hingga kami di sini tak sanggup dan tak mampu membayangkannya.

Semoga segala amal ibadahmu diterima Allah. Semoga Allah melapangkan kubur, mengampuni dosa, dan memberatkan timbangan kebaikanmu. Aamiin. Allah tahu perjuanganmu dan tak akan pernah alpa menghitungnya :’)