Komunikasi itu Penting: Group Whatsapp

Tahukah kamu perbuatan apa yang paling menyebalkan? Yang paling menyebalkan adalah ketika seseorang merasa paling tahu tentang sesuatu, kemudian menjustifikasi.

Aku ingin berbagi pandangan tentang group whatsapp. Bagiku komunikasi itu sangat penting. Tanpanya, akan terjadi sebuah miskomunikasi. Miskomunikasi bukan hal yang bisa dibiarkan begitu saja. Dampak miskomunikasi itu berat. Bisa memutuskan sebuah hubungan dan membuat situasi menjadi buruk sekali.

Menyadari bahwa manusia tidak memiliki kemampuan khusus seperti membaca pikiran orang lain, maka komunikasi adalah modal penting. Karenanya, kita bisa mengutarakan pikiran dan perasaan. Begitu pula dengan lawan bicara kita. Sehingga didapatkan sebuah kesepakatan yang baik untuk ke dua belah pihak.

Namun, komunikasi tidaklah mudah. Bahkan untuk dua orang manusia yang saling tatap muka. Selalu saja ada yang menghambat agar kita tidak melakukannya. Biasanya, faktor utama adalah keegoisan kita sendiri. Kita enggan membicarakan sesuatu bila masalah datang. Atau kita enggan membicarakannya ‘lagi’ karena ‘merasa sudah tahu’ bagaimana tanggapan lawan bicara. Kita selalu ingin orang lain yang memulai lebih dulu. Ego kita ingin seperti itu. Akhirnya, kita saling bungkam dalam waktu lama. Terjadilah perang dingin. Berada di tempat yang sama dan melakukan hal bersama-sama, namun tak ada interaksi apapun di sana. Kita saling diam seribu bahasa.

Mengetahui bahwa dampak miskomunikasi sangat berbahaya, aku ingin meminimalisir hal itu. Bahkan kalau bisa, aku tidak mau hal seperti itu terjadi. Oleh karena itu, aku selalu menjadi pencetus pertama membuat group whatsapp untuk kegiatan apapun. Bahkan untuk acara sederhana ketemuan bersama beberapa kawan lama. Aku membuat group sementara. Untuk apa? Banyak manfaatnya. Dalam group itu kita bisa mencocokkan jadwal satu sama lain, kita bisa mengemukakan masalah bila tiba-tiba ada acara mendadak dan tak bisa bergabung dalam pertemuan itu, kita juga bisa mengonfirmasi bila datang terlambat saat hari-H. Semua hal bisa kita komunikasikan digroup. Jadi, tidak ada lagi kejadian hilang kabar tanpa memberikan konfirmasi apa-apa. Hal tersebut sangat merugikan kawan-kawan.

Baiklah, langsung saja aku ke pokok pembahasan. Ini tentang group whatsapp keluarga. Beberapa hari lalu ada seorang kawan tidak sengaja melihat tampilan whatsappku. Dan ia merasa aneh dengan apa yang dilihat. Seperti ini percakapannya.

“Itu group keluarga apa? Kok unik tulisannya keluarga bahagia?” tanyanya setelah melihat tampilan whatsappku.

“Itu group keluargaku. Keluarga inti. Di dalamnya ada ayah, mama, dan adik-adikku.” jawabku singkat.

“Buat apaan group keluarga inti? Kalo aku, group itu untuk keluarga besar. Yang isinya ada banyak banget orang. Kalo keluarga inti mah setiap hari juga ketemu. Ngapain dibikin group.” dengan nada tidak bersahabat ia bertanya sekaligus menjawab pertanyaannya sendiri.

Aku sebenarnya tidak berminat menjawab pertanyaan yang sudah disandingkan dengan sebuah asumsi. Karena hasil akhirnya mudah ditebak. Ia hanya mau menyakini apa yang ia yakini. Dan tak ingin mendengar pandangan orang lain. Tapi, untuk menghormati yang lebih tua, maka aku tetap menanggapi.

“Group itu biasa aku gunakan untuk mengabari keluargaku. Misalnya aku pulang terlambat. Aku akan mengabari dalam group. Kurasa, yang khawatir tentangku tidak hanya orang tuaku saja. Adik-adikku pun juga.” aku menjawab singkat saja. Dan tak ingin berbagi lebih banyak lagi kepada ia yang tak senang mendengarkan orang lain.

“Lah untuk apa mengabari adik-adikmu segala? Kamu cuma berkewajiban mengabari orang tuamu saja. Lagi pula, kehadiran group hanya akan mengurangi komunikasi secara langsung saja. Kamu dan keluarga pasti enggan berbicara secara langsung.” ia menyangkal semua pendapatku. Dan menjelaskan panjang lebar apa yang ia anggap benar.

“……………” aku memutuskan untuk menghentikan pembicaraan dan tak melanjutkan lagi. Aku tidak berminat. Terkadang, kita memang tidak perlu menjelaskan apa-apa kepada orang yang tidak mau mendengarkan.

Melihat sikapnya membuat aku semakin sadar bahwa mendengarkan itu banyak memberikan manfaat daripada berbicara. Mendengarkan akan memberikan pengetahuan baru, sedangkan berbicara hanya mengeluarkan apa-apa yang kita tahu. Seandainya saja kawanku mau mendengarkan sebentar ceritaku, ia akan mendapat pengalaman baru tentang keluarga orang lain yang belum ia temui dalam keluarganya.

Kawanku ini belum memiliki anak remaja. Anak terbesarnya baru kelas enam sekolah dasar dan anak yang paling kecil kelas dua sekolah dasar. Wajar saja bila ia belum merasakan pentingnya sebuah group whatsapp keluarga inti.

Aku kali pertama membuat group keluarga tahun 2015. Saat itu, aku masih tinggal di indekos. Meskipun hanya Depok-Jakarta, aku tidak bisa pulang setiap akhir minggu. Paling cepat aku pulang dua minggu sekali. Penyususan skripsi dan tugas pekerjaan mengambil waktu luang akhir pekanku. Oleh karena itu, kehadiran group whatsapp sangat membantu. Aku bisa turut merasakan kebersamaan keluarga di rumah melalui foto, video, atau voice note yang dikirimkan. Dan keluargaku pun begitu, bisa mengetahui keadaanku melalui foto dan video yang aku kirimkan. Group whatsapp pengobat rindu.

Saat itu, adikku pun sedang sibuk di kampus. Ia juga jarang di rumah. Melalui group whatsapplah ia bisa mengabari keberadaannya. Apakah ia sedang mengerjakan tugas bersama temannya, apakah ia akan pulang terlambat karena harus menghadiri rapat organisasi, atau sesederhana sarana untuk menanyakan atau meminta tolong sesuatu bila ada keperluan.

Kalau aku, merasakan sekali manfaat kehadiran group keluarga inti diaplikasi whatsapp ini. Entah, dengan kawanku itu. Mungkin ia belum mengerti. Mungkin nanti bila anak-anaknya sudah tumbuh dewasa dan harus berhubungan jarak jauh, pemahaman ia tentang group keluarga inti di whatsapp akan lebih baik πŸ™‚

Komunikasi itu penting. Maka, cara apapun akan aku usahakan supaya komunikasi tetap terjalin dengan baik. Contohnya pembuatan group dalam aplikasi whatsapp ini πŸ˜€

Advertisements

Pesta Demokrasi

Dua hari beristirahat di rumah Alhamdulillah cukup mengembalikan energiku. Dua hari lalu berada di keramaian cukup membuat aku kelelahan. Sebenarnya bukan lelah fisik karena tugas yang banyak. Melainkan lelah karena terlalu lama berada pada lingkungan yang bising.

Ketua KPPS menginstruksikan agar kami berkumpul pukul enam pagi. Pada kenyataannya, aku terlambat sepuluh menit. Aku terlalu ngantuk untuk bangun pagi karena malam harinya petugas KPPS harus menyiapkan lokasi tempat pemilihan umum. Kami selesai menyiapkan semuanya pukul sebelas malam. Kalau kamu bertanya apakah aku lelah atau tidak tentu saja jawabannya iya. Apalagi aku tidak terbiasa tidur larut malam. Pukul sepuluh malam lewat masih di luar rumah mengerjakan tugas adalah kegiatan yang menyulitkan untukku. Mata benar-benar tidak kuat untuk tetap terjaga.

Tanggal 17 April 2019, tepat pukul tujuh pagi warga sudah berkumpul di TPS 41. Mereka antusias sekali. Tetapi kasihan, mereka harus menunggu lama di luar TPS. Tak ada bangku pula. Aku baru tahu ternyata sebelum memulai proses pencoblosan, ada proses panjang yang harus dilakukan. Aku kira petugas KPPS hanya perlu bersumpah saja dan kemudian warga boleh masuk ke dalam. Ternyata masih ada perhitungan kertas suara yang membutuhkan waktu cukup lama. Warga pun tampak mulai gelisah dan lelah menunggu.

Setelah semua kertas suara dihitung oleh panitia, warga segera masuk ke dalam TPS untuk memberikan suaranya. Sekitar 80 % warga RT 03 hadir. Bahkan tetanggaku yang baru saja terserang stroke tetap memberikan suaranya. Padahal berjalan pun ia belum mampu. Beberapa panitia dan saksi pun akhirnya datang ke rumahnya.

Proses pemilihan suara berakhir tepat pukul satu siang. Ada beberapa orang datang pukul satu lewat. Dengan terpaksa dan bersedih kami pun menolaknya.

Proses perhitungan suara berlangsung panjang sekali. Karena pemilihan presiden, DPR, DPD, DPRD kota, dan DPRD Provinsi dilakukan pada satu waktu. Butuh waktu sangat lama untuk menghitung suara yang warga berikan. TPSku saja selesai menghitung suara kurang lebih pukul sembilan malam. Perjuangan tidak selesai sampai di sana. Setelahnya, petugas KPPS harus menulis hasil perhitungan suara pada lembar khusus yang disebut C1. Berita acara juga harus ditulis pada formulir khusus. Semua harus ditulis secara manual dan dibubuhkan tanda tangan panitia dan saksi. Ada beberapa formulir yang harus diisi. Sebenarnya, yang membuat lama bukanlah proses perhitungannya. Melainkan, proses tulis menulis pada banyak formulir dan amplop. Lelahkah? Iya, lelah sekali. Otot-otot tangan dan lengan yang lelah karena dipakai terus menerus sedari pagi.

Bagi aku dan beberapa anggota yang kali pertama bertugas tentu merasa kelelahan. Apalagi tak sempat mandi hingga sore hari. Badan lelah dan tak segar. Urusan administrasi rupanya benar-benar membuat pusing kepala bagi aku yang tidak terbiasa. Tetapi hal itu tidak berlaku bagi Pak Budi dan bapak-bapak lainnya. Mereka tetap semangat dan ceria. Padahal tugas mereka lebih melelahkan dibanding aku. Merentangkan kertas suara seluas koran ke langit-langit sambil berteriak “SAH” adalah kegiatan yang pastinya melelahkan. Meskipun begitu, candaan kerap mereka lakukan untuk membuat suasana menyenangkan dan tidak membosankan.

Ketua KPPS membagi tugas secara rata. Para bapak menghitung suara dan para wanita menuliskan hasil perhitungan suara. Ada yang bertugas mengelompokkan kertas suara yang sah dan tidak ke dalam amplop. Ada yang bertugas menulis pada amplop dan formulir. Lalu, semua petugas bertugas membubuhkan ratusan tanda tangan pada formulir.

Ada beberapa hal yang sulit aku mengerti. Mengapa formulir harus dituliskan secara manual? Satu formulir berisi lebih dari lima lembar. Dan kami harus menyalin formulir itu sebanyak minimal lima buah. Coba kita kalikan saja hasilnya berapa. Ada ratusan kertas yang harus kami isi. Padahal jika saja hasil perhitungan suara kita ketik pada laptop akan jauh lebih efektif. Lalu, diprint saja sesuai kebutuhan. Kalau perihal tanda tangan, jika memang harus, mungkin boleh saja dilakukan secara manual. Namun, aku belum memahami mengapa urusan tulis menulis juga harus dilakukan secara manual.

Secara menyeluruh aku bersyukur bisa terlibat dalam pesta demokrasi tahun ini. Pengetahuanku tentang persiapan pemilu menjadi lebih baik. Bahwa saat kita begitu mudahnya menyoblos pada lembar suara, ada usaha para petugas KPPS di belakangnya. Selain petugas KPPS, ada banyak pihak lain yang membantu sehingga pemilu berjalan lancar, aman, dan damai. Aku juga banyak berdiskusi dengan para ibu dan bapak yang sudah terbiasa terlibat dalam kegiatan seperti ini. Ternyata ada banyak sekali orang berjiwa sosial tinggi di sekitarku. Mereka mengabdi dengan tulus untuk lingkungan dan orang-orang di sekitarnya 😊

Jika ditanya apakah aku bersedia menjadi petugas KPPS lagi, aku belum tahu jawabannya. Sebab, berada dalam keramaian lebih dari 12 jam ternyata hal yang tidak mudah untukku. Aku seperti kehabisan tenaga wkwk Tidak mandi dalam waktu lebih dari 10 jam juga bukan hal yang mudah πŸ˜‚

Sekian ceritaku tentang pengalaman menjadi petugas KPPS. Semoga menambah informasi untuk teman-teman yang membutuhkan, ya. Berlelah-berlelah untuk kepentingan orang banyak Insya Allah berkah 😁

Menyebar Undangan Pemilu

Tepat saat adzan magrib berkumandang, masuk sebuah pesan singkat pada gawaiku. Ternyata pesan tersebut dari Pak Budi. Bapak ini adalah ketua kpps timku, TPS 41. Pak Budi mengajak aku dan anggota lainnya menyebar undangan pemilu ke rumah-rumah warga. Saat membaca pesan singkat, ada rasa malas muncul dalam benakku. Malam itu hujan lumayan deras. Pikirku, akan ribet sekali kalau harus hujan-hujanan dan becek-becekkan. Lagi pula, aku juga lelah karena baru saja pulang bekerja. Inginnya berbaring saja di kasurku.

Dibalik rasa dan pikiranku itu, kata hati menolak. Bagaimana bisa aku berpikiran seperti itu. Sebenarnya aku tak perlu hujan-hujanan, sebab ada payung. Aku juga bisa mencuci kaki bila nanti kakiku penuh dengan tanah basah. Semua petugas kpps kurasa juga lelah. Kami memiliki kesibukan yang berbeda. Enam orang sudah bekerja. Dan tiga orang sedang kuliah di tahun terakhir. Tak ada yang paling lelah diantara orang-orang bekerja. Sebab, rasa lelah ada pada setiap kita yang berusaha.

Aku segera menghubungi Dhea untuk mengajak ia pergi bersama. Ternyata Dhea tidak bisa menemani. Katanya, pintu rumahnya sudah terlanjur terkunci. Begitu pula dengan teman-teman lainnya. Aku sungguh tak tega membiarkan Pak Budi dan Pak Arifin menyebar undangan hanya berdua saja. Para bapak sudah mengurus tenda dan segala keperluan lainnya. Bebal sekali hati bila menyebar undangan pun aku tak mau. Akhirnya, aku memutuskan untuk membantu.

Dari kejauhan tampak dua orang bapak menggunakan payung hitam besar. Mereka adalah Pak Arifin dan Pak Budi. Wajah keduanya tampak senang saat melihat aku datang. Supaya cepat, aku langsung menyapa mereka dan meminta undangan yang masih belum tersebar. Dan ternyata masih banyak sekali undangan yang tersisa. Pak Budi mengatakan, semua undangan harus selesai disebar malam ini.

Aku memang mudah tersentuh dengan hal-hal kecil. Contohnya malam itu. Aku terharu dengan perjuangan para bapak. Dibalik undangan pemilu yang biasa kudapat selama ini, ternyata ada perjuangan beberapa orang di belakangnya. Orang yang tak tampak usahanya, namun kebermanfaatannya dirasakan oleh banyak orang. Orang-orang yang meluangkan waktunya meski rasa lelah menyerang tubuhnya. Hujan malam itu tak menghentikan tekad para bapak menunaikan tugasnya. Melihat para bapak berusaha sekeras itu, mana mungkin aku bisa membiarkan rasa malas ini bersemayam dalam diri?

Ada banyak hal aku dapatkan setelah menyebar undangan pemilu. Semenjak lulus sekolah dasar, aku tak pernah bertatap muka dengan tetangga, kecuali tetangga dekat rumahku. Aku juga tak pernah berkeliling rumah-rumah tetangga lagi. Aku terlalu ‘sibuk’ dengan aktivitas sekolahku. Sepertinya kata sibuk kurang tepat. Akulah yang enggan meluangkan waktu. Sikap yang buruk, bukan? Dan malam itu, setelah lebih dari 10 tahun berlalu, aku melakukannya lagi. Aku berkeliling rumah dan bertatap muka dengan mereka :’) Ada rasa tiba-tiba datang. Rasa rindu yang terobati. Sebuah kelegaan dan kebahagiaan. Aku rindu masa kecilku. Aku rindu lingkungan dan orang-orang di dalamnya.

“Assalammu’alaikum, bude. Maaf mengganggu malam-malam. Kami mau kasih undangan pemilu, bude.” aku mengetuk pintu sambil memberitahu tujuan kedatangan kami.

“Wa’alaikumsalam. Iya, nggak apa-apa. Silakan masuk, mbak.” kata bude. Ia mempersilakan aku masuk ke dalam rumahnya.

“Bude, ini undangannya. Bude apa kabar? Hayooo, inget nggak ini siapa bude? kataku. Aku menyodorkan undangan sambil merangkul bahu bude.

“Aduh, maaf, bude nggak inget. Ini siapa ya? Maklum ya mbak, udah tua ingatannya begini deh.” Bude menjawab dengan nada merasa bersalah.

“Hehehe, ini Shinta bude. Beda ya, bude? Udah tinggi ya? Hahaha” kataku.

“Yaampun, Mbak Shinta, bude nggak ngenalin. Iya tinggi banget, kalah nih bude hahaha Udah lulus kuliah ya sekarang mbak?” jawab bude.

“Iya bude. Bukan cuma lulus kuliah, bude. Sekarang udah kerja dan udah memasuki usia nikah malah hahaha.” candaku pada bude.

“Hahaha kamu ini. Semoga bude segera diundang ya!” kata bude.

“Siap bude!! Haha.” jawabku.

Begitulah percakapan hangat singkat yang mengobati rasa rinduku. Iya memang benar adanya, pengobat rindu memang temu.

Lingkungan rumah warga RT 03 tidak terlalu luas ternyata. Aku tidak berjalan begitu jauh. Meskipun seperti itu, kami menghabiskan waktu tiga jam hingga akhirnya seluruh undangan tersebar semuanya.

Aktivitas menyebar undangan berakhir tepat saat rintik hujan berhenti membasahi payung kami. Aku bersyukur bisa mengalahkan rasa malas yang singgah dalam diri. Tanpa itu, mungkin pemahamanku tentang undangan pemilu tidak sebaik sekarang ini. Tanpa itu, rasa rindu pada masa kecil tidak terobati. Dan tanpa itu, aku tidak akan bertemu bude yang meminta diundang bila aku menikah nanti πŸ˜‚

Bahaya Mengemudi dalam Keadaan Kantuk

Beberapa hari lalu mama memberi kabar tentang kecelakaan seorang wanita di jalan margonda sambil menunjukkan sebuah gambar KTP dari gawainya. Aku tidak merespon secara serius. Aku hanya mendengarkan ceritanya, mengangguk sebentar, dan kemudian melanjutkan kegiatanku lagi. Esok harinya ada kiriman video dari ayahku dalam group keluarga. Ternyata isi video tersebut adalah suasana paska kejadian kecelakaan di jalan margonda yang merenggut nyawa. Bulu kudukku langsung berdiri saat melihat videonya dan tak sanggup menonton sampai selesai. Ada rasa sedih karena turut berduka dan perasaan takut karena aku pengendara motor juga.

Setelah mendapat kabar dan menonton video aku tak kunjung googling berita itu. Aku tak tahu mengapa melakukan itu. Mungkin aku terlalu ‘ngeri’ membayangkan bagaimana kronologi kecelakaan. Namun, setelah melewati lokasi kejadian semua menjadi berbeda. Aku benar-benar ingin tahu bagaimana kejadiannya hingga korban mengalami kecelakaan sadis seperti itu.

Ini adalah pengalaman pertama aku melewati tempat kejadian perkara (TKP) sebuah kecelakaan. Lokasi kejadian diberi tanda dan digambar menggunakan cat putih. Terlihat sebuah tanda bertuliskan huruf a, b, dan c. Serta tanda berbentuk motor dan manusia. Saat itu, aku belum tahu arti tanda-tanda itu. Meskipun begitu, aku langsung merinding seketika melihatnya. Pikiranku langsung mengoneksikan informasi video paska kecelakaan yang aku punya dengan dengan suasana TKP. Aku membayangkan betapa mengerikan suasana saat kecelakaan. Aku pun tak sanggup membayangkannya.

Tadi malam akhirnya aku bertanya pada ayah tentang kronologi kejadian sesungguhnya dan apa arti tanda-tanda yang kutemui di jalan tadi. Ayah bilang, penanda dibuat untuk menunjukkan lokasi korban, motor, dan kronologinya.

Lalu, ayah kembali bercerita, katanya, kecelakaan itu adalah kecelakaan tunggal. Sudah dibuktikan melalui CCTV. Kemungkinan korban mengebut dalam keadaan kantuk dengan kecepatan tinggi. Akhirnya, korban pun menabrak median jalan. Kebetulan, median jalan adalah sebuah taman yang dipinggirnya terdapat pagar besi. Dan terjadilah kecelakaan itu. Aku tak sanggup menceritakan lebih lanjut. Kalau ingin tahu, sebaiknya baca saja di berita, ya.

Kemudian ayah memberitahu bahayanya mengemudi dalam keadaan kantuk. Orang yang tidur tentu akan mengalami penurunan kesadaran. Begitu pula saat kita bangun. Kita tak akan mampu secara cepat sadar penuh. Kita pasti membutuhkan waktu beberapa menit hingga akhirnya kesadaran kembali. Terbayang kan bagaimana keadaan seseorang yang tertidur saat mengemudi? Apalagi dengan kecepatan tinggi? Saat bangun, ia pasti kaget sekali dan hilang kendali. Syukur-syukur secara refleks tombol ‘rem’ yang ia tekan. Bagaimana kalau ‘gas’ yang ia aktifkan? Tentu keadaan dirinya dan kendaraan tak akan terkendali. Oleh karena itu ayah menyarankan, lebih baik menunda perjalanan dan beristirahat dahulu, daripada harus memaksakan diri. Akibatnya fatal, bisa merenggut nyawa kita sendiri.

Aku sangat menyetujui saran ayah. Sebab, aku pernah merasakan sendiri. Aku pernah hampir menabrak kendaraan di depan karena kelalaianku. Untung, aku masih bisa mengerem. Terakhir kali, aku pernah mengalaminya lagi. Kali ini aku menabrak polisi tidur di jalanan kampus UI. Di sana, polisi tidur memang dipasang beberapa dan berjajar. Ada sekitar 4-5 polisi tidur dipasang berdekatan. Tujuannya pasti agar pengendara tidak mengebut. Jalanan Kampus UI itu mulus sekali. Tempat yang asyik untuk mengebut memang. Sayangnya, kala itu aku tidak beruntung. Lagi-lagi aku mengerem mendadak dan akhirnya motorku jatuh ke samping. Tidak ada luka serius. Lutut dan pahaku luka sedikit. Ini memang teguran dari Allah supaya aku tak lalai lagi. Aku salah. Dan aku akan introspeksi diri. Aku akan berusaha berhenti bila kantuk datang lagi. Tak ada yang paling penting daripada keselamatan.

Kecelakaan ini teguran keras untuk diriku sendiri. Aku masih sering mengebut bila berkendara di jalan raya. Aku masih sering lalai. Aku menyepelekan nyawa sendiri. Semoga aku lebih mawas diri lagi.

**

Mbak Ita,

Kejadian yang menimpamu adalah duka teramat berat untuk keluargamu. Namun, pembelajaran besar untuk kami di sini.

Wanita mana yang tak takut berkendara sendiri pada dini hari? Aku yakin kamu pun begitu. Namun, kamu tetap melakukannya. Kamu mengalahkan rasa takut dan tetap tegar bekerja setiap hari. Kamu berjuang untuk keluarga yang kamu cintai.

Entah bagaimana perasaanmu saat peristiwa itu terjadi. Pasti takut sekali. Hingga kami di sini tak sanggup dan tak mampu membayangkannya.

Semoga segala amal ibadahmu diterima Allah. Semoga Allah melapangkan kubur, mengampuni dosa, dan memberatkan timbangan kebaikanmu. Aamiin. Allah tahu perjuanganmu dan tak akan pernah alpa menghitungnya :’)

Akhirnya Hemoglobinku Naik!

Akhirnya hemoglobinku mencapai angka 13,7! Hemoglobin (HB) normal adalah 12-16 gram/dL. Meskipun angkanya tidak terlalu besar, aku bersyukur sekali mendapat angka itu. Tiap kali pengukuran HB, aku selalu iri pada bapak-bapak yang memiliki HB 14. Bagaimana cara bapak mendapatkan angka sebesar ini. Padahal, menurut teori pun usia juga dapat memengaruhi HB. Seharusnya bapak memiliki HB di bawahku. Tapi, kenyataan malah sebaliknya wkwk

Pemeriksaan HB secara rutin ini aku lakukan untuk keperluan donor darah. Aku sudah rutin melakukan donor darah setiap tiga bulan sekali sejak 2017 lalu. Sejak Juni 2018 hingga Februari 2019 aku belum melakukan donor darah lagi. Bukan karena aku tidak mau. Melainkan karena HBku yang selalu di bawah normal. Tiap kali diukur, HBku selalu diangka 11. Sedih sekali saat ditolak. Padahal semua persyaratan sudah kupenuhi.

Satu tahun belakang ini, aku sudah mencoba empat kali dan semuanya ditolak. Saat pertama kali ditolak, esok harinya aku rutin minum jus jambu merah dan biskuit gandum. Alhamdulillah, dua hari kemudian HBku naik menjadi 12 koma sekian. Aku pun dibolehkan donor darah. Namun, penolakan-penolakan selanjutnya karena HBku tidak mencukupi membuatku lelah dan akhirnya tidak mencoba donor darah lagi 😒 Dan semakin dirundung kebingungan, ada apa dengan aku. HBku rendah tetapi tak ada keluhan yang aku rasakan.

Malam itu, entah bagaimana awalnya aku dan Niar berdiskusi. Mengapa di keluarga ini hanya aku yang memiliki HB rendah. Padahal seluruh anggota keluarga memakan jenis makanan yang sama. Bahkan, ayahku sempat tes kesehatan dan memiliki HB 14 gram/dL. Niar mengatakan, mungkin pekerjaanku terlalu berat dan nutrisiku belum mencukupi. Oleh karena itu HBku tidak normal. Dan aku pun tercerahkan. Iya benar, semenjak bekerja di tempat yang baru ini aku memang selalu gagal untuk donor darah. Iya benar, aku memang makan apa adanya tanpa ada masukan vitamin yang lain. Iya benar, aku hanya makan apa saja tanpa memikirkan nutrisi apa yang masuk untuk tubuhku. Padahal, pekerjaanku termasuk banyak melakukan pergerakan. Tubuhku pasti membutuhkan nutrisi yang lebih banyak untuk memenuhi aktivitasku.

Semenjak kesadaran itu datang, aku bertekad untuk merubah pola makanku. Aku ingin donor darah lagi. Aku pun membaca beberapa artikel tentang hemoglobin dan menonton beberapa channel youtube yang membahas tentang itu. Ternyata, aku tidak boleh acuh pada hemoglobin ini. Aku sempat bertanya pada perawat yang mengambil darahku beberapa hari lalu, katanya, bila HB masih 11 memang tidak akan ada keluhan berarti. Meskipun tetap saja fungsi peredaran darahku tidak normal. Keluhan lemas, pusing, lunglai, dan jantung berdebar biasanya dirasakan oleh orang-orang yang memiliki HB di bawah 10. Jadi, kalau kamu memiliki keluhan seperti itu, hati-hati ya. Saranku, lebih baik kamu mengecek tekanan darah dan HBmu segera.

Hemoglobin itu penting untuk tubuh kita. Hemoglobin adalah sejenis molekul protein dalam sel darah merah. Fungsinya untuk membawa oksigen ke paru-paru dan dialirkan ke seluruh jaringan tubuh. Serta membawa karbondioksida dari jaringan tubuh kita ke paru-paru untuk di keluarkan melalui pernapasan. Singkatnya, HB ini seperti kendaraan yang membawa darah yang berisi oksigen. Tanpanya, darah kita tak akan bisa pergi ke mana-mana. Tanpa darah yang berisi oksigen, jaringan tubuh kita akan mati. Gawat kan?

Selain fungsi di atas HB juga berperan dalam menjaga bentuk sel darah merah. Bentuk normal sel darah merah kita itu bulat dan pipih di tengah. Bentuknya seperti donat tanpa lubang di tengah. Struktur HB yang tidak normal akan membuat bentuk menjadi tidak normal. Bentuk sel darah merah yang tidak normal akan menghalangi fungsinya untuk bekerja dalam pembuluh darah. Bahaya ya?

Usaha-usaha untuk Menaikkan Hemoglobin

Semenjak tahu manfaat HB dan sadar bahayanya rendah HB, aku merubah pola makanku. Sekarang lebih memerhatikan makanan apa saja yang berperan memenuhi HB dalam kadar normal. Ternyata, aku harus memakan makanan yang mengandung zat besi, asam folat, dan vitamin C. Serta istirahat yang cukup.

Zat besi berfungsi untuk membentuk HB. Zat besi bisa berasal dari hewani dan nabati. Zat besi berasal dari hewani adalah daging merah dan hati ayam. Kalau zat besi yang berasal dari nabati bisa berupa bayam dan gandum. Untuk memenuhi zat besi nabati aku memakan sayur bayam dan membeli camilan biskuit sari gandum. Untuk memenuhi zat besi hewani aku mengkonsumsi hati ayam.

Asam folat berfungsi untuk menjaga kekuatan sel darah merah. Asam folat berasal dari kacang-kacangan. Aku biasanya makan bubur kacang hijau yang dijual abang-abang dekat rumah. Kalau tidak sempat, aku membeli minuman kemasan sari kacang hijau di mini market.

Vitamin C membantu penyerapan zat besi dalam usus. Sehingga, zat besi dapat menghasilkan hemoglobin. Kemarin, kalau sempat aku beli jus jeruk. Kalau tidak sempat, aku ganti dengan UC 1000. Kalau kamu tidak terlalu suka jeruk, kamu bisa ganti dengan apel dan tomat. Keduanya juga mengandung vitamin C tinggi.

Yang terakhir, minum air putih dan istirahat yang cukup. Manfaatnya adalah untuk meningkatkan metabolisme. Sehingga, penyerapan nutrisi dan mineral menjadi optimal.

Aku berhasil menaikkan hemoglobin setelah melakukan perubahan pola makan selama kurang lebih 2 minggu. Hidup sehat itu ternyata tidak sulit. Semua hanya tergantung seberapa besar niat dan usaha kita mau berubah.

Hikmah

Alhamdulillah, aku memiliki tubuh yang sehat. Aku memiliki tanda-tanda vital normal seperti tekanan darah, denyut nadi, dan pernapasan. Tiap kali medical check up, hasilnya juga selalu normal. Oleh karena itu, karena merasa normal, aku tidak terlalu memerhatikan makanan yang dikonsumsi. Apa saja dimakan dan diminum asalkan enak. Meskipun suka sekali air putih, aku juga pecinta minuman teh kemasan. Teh apapun dengan rasa original. Meskipun tidak terlalu candu, tiap kali melakukan aktivitas di luar rumah dalam keadaan panas, aku selalu membeli minuman teh dingin itu di mini market. Sekarang, aku sudah mengurangi kebiasaanku itu.

Meskipun tidak membeli air mineral di mini market, aku sudah mengurangi membeli teh kemasan. Aku lebih memilih minuman jeruk atau minuman ion untuk menghilangkan rasa haus. Aku juga lebih memilih makanan yang lengkap vitamin seperti nasi, ayam goreng, dan lalapan dibandingkan mie ayam atau bakso. Bahkan kalau ada, aku akan memilih hati ayam dan daging dibandingkan lauk lain. Aku juga mengurangi konsumsi mie instan. Padahal, sebelumnya, aku hobi sekali memakan indomie goreng.

Selain tentang kebiasaan, mengubah pola makan ternyata ujiannya juga berat. Ketika ada dua pilihan bubur kacang hijau dan gorengan, tetapi aku harus memilih bubur kacang hijau. Ketika ada dua pilihan es jeruk dengan es teh manis, tetapi aku harus memilih es jeruk. Ketika ada dua pilihan biskuit sari gandum dengan telor gulung, tetapi aku harus memilih biskuit sari gandum. Meskipun begitu, aku harus istiqomah. Kita harus berkorban untuk sesuatu yang menjanjikan kan πŸ˜‚πŸ’ͺ

Ternyata kita memang perlu ditegur dengan ‘keadaan tubuh yang tidak nomal’ supaya lebih memerhatikan apa saja yang tubuh butuhkan. Ternyata kita perlu ditegur dengan ‘keadaan tubuh yang tidak stabil’ supaya lebih peduli pada makanan yang kita makan. Sehat itu harganya mahal kan?

Semoga pengalamanku ini bermanfaat untuk teman-teman. Kamu yang memiliki HB rendah atau kamu yang ingin menjaga HB tetap normal. Yang ingin donor darah, aku doakan kamu memenuhi persyaratannya. Aamiin. Tetap semangat ya, percaya, usaha yang optimal akan memberikan hasil yang optimal pula πŸ™‚

***

Tulisan lainnya tentang donor darah:

● Cerita: Donor Darah Berbagi kepada Sesama

● Cerita: Untuk apa Donor Darah?

Berita Duka Hari Ini

Foto di atas adalah Milo. Satu dari tiga anaknya si Moi kucingku. Foto tersebut aku ambil satu hari yang lalu. Usia Milo belum genap satu bulan. Ia lahir tanggal 12 Maret kemarin.

Anak Moi baru aku belikan kandang kurang lebih satu satu minggu yang lalu. Aku tidak ingat kapan waktu tepatnya. Aku dan Niar sepakat membeli kandang karena kami tahu anak-anak Moi akan lincah sekali bila sudah bisa jalan. Kami khawatir mereka yang kecil itu bisa berjalan-jalan sembarangan. Rawan sekali terinjak orang.

Beberapa hari yang lalu Milo dan dua saudaranya sudah lancar berjalan. Bila hari sebelumnya mereka berjalan merayap pelan-pelan, menjelang usia sebulan mereka sudah bisa berjalan lebih cepat. Aku dan keluarga menyambut dengan riang setiap tumbuh kembang anak-anak Moi.

Hari ini kabar duka datang. Kejadian yang tidak kami inginkan benar-benar terjadi. Salah satu anak Moi tidak sengaja terinjak. Dan tersangkanya adalah aku.

Kronologinya seperti ini, siang tadi Satria dan mama sedang membersihkan kipas angin. Kami sedang asyik meledek si kecil Satria yang begitu sigap dan semangat membantu mama. Padahal, beberapa kali ia mengalami bersin-bersin. Karena tidak ada masker si rumah, aku pun menyodorkan selembar tissue kepada Satria untuk menutup hidungnya. Kondisiku saat itu adalah aku sudah siap berangkat kerja. Aku sudah menggunakan jaket, tas, dan sepatu. Hanya tinggal motor saja belum aku siapkan.

Posisi motorku dan Satria tidak jauh. Aku hanya perlu mundur satu langkah ke belakang dan menghadap kiri. Tanpa pikir panjang aku pun segera bergerak seperti itu. Aku berjalan mundur tanpa menoleh ke belakang. Dengan gerakan cepat dan tidak disadari, ternyata kaki kiriku menginjak sesuatu yang ‘lunak’. Aku nyaris jatuh karena menghindari sesuatu yang ‘lunak’ itu. Namun, terlambat sudah. Meskipun kakiku tidak menumpu penuh, aku tetap menginjaknya. Aku menginjak Milo. Iya, sesuatu yang ‘lunak’ itu adalah Milo.

Milo kesakitan. Aku melihat sendiri bagaimana Milo kesakitan. Aku melihat sendiri ada darah yang mengalir dari hidungnya. Milo bergerak lemas dan perlahan ia tidak bergerak lagi. Jangan tanya bagaimana perasaanku. Aku tidak bisa mendeskripsikannya menggunakan kata. Jantungku berdegup sangat kencang. Napasku tersengal. Aku gemetar. Aku tak dapat berbicara. Aku menangis.

Sungguh, aku ingin bolos bekerja saat itu. Aku tidak mengambil keputusan itu. Dalam keadaan shock, aku tetap berangkat. Sebelum berangkat, aku tidak berkata apa-apa pada keluarga. Aku tidak menenangkan mereka. Mereka juga tidak menenangkanku. Suasana sunyi dan senyap. Pemandangan terakhir yang aku lihat, mama dan Danang sedang memercikan air ke wajah Milo. Aku pun tetap pergi.

Di perjalanan, aku tak sanggup menahan semuanya. Aku menangis. Aku memang tidak sengaja. Tetapi, aku tetap berdosa pada Milo. Aku tidak berhati-hati. Semua kalimat berawalan ‘andai’ bermunculan di kepala. Andai, siang tadi aku lebih sigap saat mama menyuruh kami memindahkan Milo ke kandang. Andai, aku lebih inisiatif dan tidak menunda-nunda. Andai, aku lebih peduli dan perhatian. Aku tahu kata ‘andai’ tak pernah berguna dalam sebuah penyesalan. Tetapi, aku tetap ingin mengatakan semua kata ‘andai’ pada pikiranku. Andai, andai, dan andai.

“Milo udah dikubur di depan rumah. Mas Danang yang menggali dan menguburnya.” masuk sebuah pesan singkat dari mama. Milo meninggal. Mamaku mengirim foto terakhir Milo sedang terbujur kaku di atas bantal. Hatiku perih dan sakit. Seperti ada pisau yang menyayat hati. Seperti ada sebuah batu besar menghantam hatiku. Tubuhku lemas. Aku kehilangan tenaga. Aku terisak. Rekan kerjaku kebingungan. Biarlah, aku begini. Aku benar-benar tidak sanggup menahannya sore tadi.

Sepulang kerja, aku memandangi kandang Milo, Moi, dan Matcha. Kini, hanya ada Matcha dan Mocca. Danang membuka pintu dan berkata,“Keinjek lagi?!” Langsung kujawab dengan suara parau,“Menurutmu bagaimana perasaanku, seseorang yang sangat menyesal dan bersedih karena tidak sengaja menginjak Milo, kamu tanyakan seperti itu?”,”Tolong jangan berkata seperti itu lagi.” aku menambahkan.

Ternyata begini rasanya menjadi sebab sebuah kematian. Ada rasa bersalah yang terus menerus bersemayam dalam diri. Ada bayang-bayang Milo tiap kali melihat kucing. Seketika itu pula langsung teringat apa yang sudah aku lakukan kepadanya. Aku diburu rasa bersalah. Dan tak tahu bagaimana caranya rasa ini kubawa kelak.

Sisi kiri yang berwarna belang-belang, Milo. Sisi kanan yang berwarna hitam, Matcha.

Berkenalan dengan Penyandang Autis

Ms Nina baru saja mengunggah sebuah foto dalam akun instagramnya. Captionnya sangat menarik,”If they can’t learn the way we teach, we teach the way they learn.” Kalimat sederhana yang memiliki arti bermakna.

Ms Nina adalah guru sekolah dasar di sekolah inklusi swasta di Jakarta Barat. Pernah menjadi rekan kerjanya adalah anugerah yang berharga. Ms Nina juga teman diskusi yang seru. Dulu aku banyak bertanya tentang anak-anak berkebutuhan khusus dengannya. Dan Ms Nina selalu menyediakan banyak waktu untuk menjelaskan dengan rinci dan lengkap.

Tanggal 2 April adalah Hari Autis Sedunia. Sebenarnya aku lupa. Namun, berkat unggahan ibu-ibu guru sekolah inklusi itu, aku kembali diingatkan. Ibu-ibu guru mengunggah tulisan pada status whatsapp ‘World Autism Awareness Day‘. Mereka juga mengunggah beberapa video murid-murid membawa poster berkeliling sekitar sekolah. Mereka mengedukasi masyarakat sekitar bahwa penyandang autis adalah teman kita. Tak perlu memandang dengan tatapan aneh dan sebelah mata. Seperti caption Ms Nina, jika mereka kesulitan belajar dengan cara kita karena keterbatasannya, mengapa kita yang lebih mampu tidak mengajari mereka dengan caranya?

Aku teringat saat perjalanan pulang ke rumah menggunakan krl. Saat itu, ada dua orang mahasiswi sedang berbincang. Karena mereka memang berdiri persis di sampingku, aku pun mendengar jelas percakapan mereka. “Iya, dia tuh cowok aneh. Setiap di kelas dia sendirian aja. Kalo jalan kaki, ya nunduk aja. Kalo gue tanya, ngejawabnya pake bahasa baku. Oh iya! Gue pernah ketemu di lift kampus. Masa dia muter-muter di depan lift. Dia baru berhenti muter saat pintu liftnya kebuka. Temen-temen di kelas nggak ada yang bully dia sih. Kita cuma aneh aja.” cerita panjang lebar si mahasiswi berambut panjang itu. Dari intonasi suaranya, aku tahu ia benar-benar bingung.

Dari ceritanya aku bisa menduga siapa yang ia bicarakan. Kata kuncinya adalah ia ‘muter-muter di depan lift’ dan bahasanya ‘baku’. Aku menduga, kemungkinan teman sekelasnya adalah penyandang autis. Penyandang autis tidak asing di telingaku. Aku pernah membersamai mereka selama 1,5 tahun. Meskipun belum ahli menangani mereka, aku memiliki pengalaman berinteraksi dan berkomunikasi dengan mereka. Langsung saja aku tulisan ceritanya, ya.

Kali Pertama Bertemu Raka, Patra, dan Fakhri

Di sekolah inklusi tempatku bekerja dulu, aku berkenalan dengan tiga anak penyandang autis. Dua anak sudah mampu berkomunikasi dan berinteraksi, satunya lagi belum bisa berkomunikasi apa-apa.

Yang pertama sebut saja namanya Raka. Saat aku bertemu dengannya Raka sudah kelas 6 SD. Raka bisa bertanya dua hal yaitu tentang alamat rumah dan tentang rumah. Raka biasanya mengajukan pertanyaan seperti ini, ‘Ms rumahnya di mana?‘, ‘Ms rumahnya warna apa?’, ‘Di rumah Ms ada AC tidak?, ‘Ms rumahnya tingkat tidak?‘. Ketika kita sudah menjawab semua pertanyaannya, Raka akan mengingat semua jawaban kita. Ia hafal betul semua kalimat yang kita ucapkan tadi. Kali pertama tahu kemampuannya, aku kaget sekali. Ia benar-benar hafal jawabanku dalam hitungan detik.

Yang ke dua, sebut saja namanya Patra. Patra kelas 3 SD. Kebetulan aku mengajar di kelas itu. Jadi, aku lumayan tahu kemampuan dan sikap Patra sehari-hari. Patra berbeda dengan Raka. Patra masih sulit melakukan kontak mata. Masalah ini memang hampir dimiliki sebagian besar penyandang autis. Maka, yang dapat kita lakukan ketika berbincang dengannya adalah duduk sejajar dengan dirinya, memegang kepalanya agar menatap wajah kita, dan kemudian ajukan pertanyaan singkat jelas kepadanya. Apa yang kita lakukan itu akan memudahkan Patra menjawab pertanyaan.

Patra juga terlalu sensitif dengan suara keras. Ia masih mampu mendengar musik. Namun, mendengar suara anak-anak yang berteriak atau suara drum saat pelajaran musik akan membuat Patra ketakutan. Perihal ini juga ciri khas anak-anak penyandang autis. Mereka mengalami gangguan pada beberapa panca inderanya. Untuk Patra, ia mengalami gangguan pada pendengarannya. Aku pernah dijelaskan oleh koordinatorku saat di sekolah inklusi dulu. Katanya, pendengaran Patra terlalu sensitif. Jika kita mendengar suara tertawa dan drum biasa saja, bagi Patra tidak. Suara-suara itu super keras terdengar oleh telinganya. Dan kenyataan tersebut sangat menganggu Patra. Maka, tidak heran bila Patra menutup telinga dan menangis tiap kali mendengar suara keras. Kami pun memahami itu. Kelainan itu bisa disembuhkan. Patra hanya perlu dibiasakan mendengar suara-suara itu. Pelan-pelan saja dan tidak perlu dipaksa. Bila dilakukan secara terus menerus dan konsisten, Patra akan mengenal suara-suara keras.

Sama seperti Raka, Patra memiliki kemampuan menghafal yang super baik. Patra paling senang dengan gadget. Ia hafal betul spesifikasi bermacam-macam gadget. Aku takjub sekali saat ia berhasil menyebutkan spesifikasi Samsung Galaxi S7 beberapa tahun lalu πŸ˜‚

Yang ke tiga, kita sebut namanya Fakhri saja, ya. Fakhri kelas 1 SD. Aku tidak banyak berinteraksi dengan Fakhri. Kelainan Fakhri cukup berat. Ia belum memiliki kontak mata, masih berbicara sendiri tanpa makna, dan masih sering melakukan gerakan berulang. Berbicara dengan Fakhri harus di tempat yang sunyi supaya ia tidak terdistraksi dengan apapun. Fakhri juga belum mengenal instruksi. Dan tidak semua guru bisa berinteraksi dengan dia. Hanya Ms Nisa saja yang mampu mengarahkan Fakhri. Aku pernah beberapa jam bersamanya. Bahkan untuk menginstruksikan Fakhri memakai kaos kaki saja aku belum mampu.

Mereka Membutuhkan Perhatian dan Bantuan Kita

Apa yang penyandang autis lihat dan rasakan memang berbeda. Ada kerusakan pada bagian otak yang membuat beberapa fungsi menjadi terganggu. Beberapa kesulitan yang paling banyak dialami mereka adalah komunikasi dan interaksi dengan orang lain serta melakukan gerakan berulang. Mereka melihat dan mendengar hal sekitar dengan cara yang berbeda. Kalau kata dokter yang ahli di bidang ini, otak mereka terlalu penuh dan sibuk, namun, mereka tak mampu mengendalikannya. Mereka membutuhkan bantuan kita untuk memudahkan setiap hal.

Contohnya saja dalam hal komunikasi dan belajar. Dalam komunikasi, jangan berbicara pada mereka sebelum matanya benar-benar menatap mata kita. Ajarkan mereka pengalaman ini. Bahwa ketika berbicara dengan orang lain mata harus menatap lawan bicara. Jangan berbicara saat lingkungan tidak kondusif. Mudahkan mereka melakukan percakapan ini. Lingkungan yang sunyi akan memudahkan mereka menangkap informasi. Dalam belajar, bantu mereka menggunakan media pembelajaran. Belajar menggunakan bantuan gambar dan contoh konkret akan memudahkan mereka mengerti.

Karena mereka memandang segala hal dengan berbeda, memang akan ada banyak perilaku mereka yang menganggu. Mereka akan berteriak dan melempar barang tiap kali merasa cemas dan bingung. Bahkan mereka bisa melukai dirinya sendiri dan orang lain bila merasa terancam. Bila anak kecil normal diibaratkan seperti kertas kosong dan dapat kita isi. Anak-anak penyandang autis adalah ibarat kertas yang sudah terisi dan perlu kita perbaiki dan ajari. Mereka membutuhkan berkali-kali lipat pengertian dan bantuan kita. Mengerti segala keterbatasan mereka dan membantu mengembangkan potensi mereka secara optimal.

Tatapan aneh yang biasa kita berikan pada mereka yang berbeda, kurasa hanya karena ketidaktahuan kita. Jika kita mengenal mereka, aku yakin kita tidak akan memberikan tatapan itu lagi. Malah sebaliknya, kita akan bersemangat memberikan perhatian dan bantuan. Sesederhana menyapa, menanyakan nama, dan mengajak mereka bersalaman, misalnya 😊

Aku tidak memberi apa-apa pada Raka, Patra, dan Fakhri. Akulah yang mendapat banyak hal dari mereka. Berkenalan dengan mereka membuat aku sadar bahwa ada banyak anak spesial yang membutuhkan uluran tangan kita untuk melangkah bersama. Mereka membutuhkan tatapan hangat kita untuk meyakinkan bahwa dunia ini tidak mengerikan seperti yang mereka rasakan. Mereka membutuhkan kehadiran kita untuk memudahkan apa-apa yang sulit mereka mengerti.

Berkat mereka, aku sadar, ada banyak usaha perlu diapresiasi. Ada banyak proses memang harus dilalui supaya kita mendapatkan ilmu yang baru. Berkat mereka, aku lebih banyak bersyukur. Ternyata, ada begitu banyak kemampuan dan nikmat lupa untuk disyukuri.

If they can’t learn the way we teach, we teach the way they learn.” – Ms Nina

‘Terpapar’ dengan Perbuatan Baik

Saya ini selalu kagum dengan orang-orang yang konsisten melakukan perbuatan baik. Saya kagum dengan Ira dan Kak Dhika.

Ira

Pertama kali saya mengagumi perbuatan baik seseorang adalah saat masih kuliah dulu. Saya kagum pada sahabat saya. Namanya Ira. Rumah Ira di Tangerang Selatan (Tangsel). Jarak Depok-Tangsel sebenarnya bisa ditempuh menggunakan motor. Namun, karena perkuliahan dilakukan setiap hari, Ira tidak mungkin setiap hari pulang ke rumah. Kalau dipaksakan, taruhannya adalah kesehatan Ira. Akhirnya, Ira pun ngekos.

Selama kuliah, saya sering main di kosan Ira. Sekadar numpang tidur siang sambil nunggu kelas kuliah selanjutnya atau nugas bareng. Saking seringnya di kosan Ira, saya pun terbiasa dengan kebiasaan Ira. Ira ini anaknya rajin. Rajin datang tepat waktu, rajin merapikan kamar, dan rajin mandi. Karena sering ‘terpapar’ dengan rajinnya Ira, tanpa sadar, saya pun mengikuti kebiasaannya.

Selain rajin, Ira juga dermawan dan perhatian. Ira suka sekali memberi. Saya ingat betul dulu saat sering main ke kosan Ira, ketika saya sedang malas-malasan di kasurnya, Ira sibuk di dapur menyiapkan makanan untuk saya. Tanpa pertanyaan apapun, tiba-tiba Ira datang membawa semangkuk mie rebus, sepiring nasi, dan sepiring naget ayam. Rezeki anak kuliahan, bahagia betul dapat makanan gratisan :’)

Ada cerita lain tentang sikap perhatian Ira ini. Rumah saya dekat dengan kampus. Saya membutuhkan waktu sepuluh menit saja untuk sampai di rumah. Karena begitu dekat, Ira pun sering main ke rumah. Ira tahu kalau saya memiliki adik-adik kecil. Maka, tiap kali ke rumah, Ira selalu membawa dua kotak yakult. Katanya,”Ini untuk adik-adikmu!” Hati mana yang tidak tersentuh jika selalu ‘terpapar’ perbuatan-perbuatan baikmu, Ra? :’)

Berteman dengan Ira, membuat saya memahami alasan mengapa kita perlu dekat-dekat dengan orang dan lingkungan yang baik. Ternyata, dekat-dekat dengan hal baik akan membuat kita ‘tertular’ dengan banyak kebaikan.

Kali pertama melihat kebaikan Ira, memang tidak secara langsung membuat saya berubah saat itu juga. Kali pertama merasakan kebaikan Ira, juga tidak secara langsung membuat saya ingin melakukan hal itu juga. Yang saya pahami saat itu, saya sadar Ira adalah teman yang baik. Dan saya senang diperlakukan seperti itu. Sesederhana itu pikiran saya.

Kamu tahu? Ternyata ‘terpapar’ dengan kebaikan akan membuat alam bawah sadar kita ‘merekam’ semua itu dalam pikiran. Akhirnya, secara perlahan kita pun akan melakukan hal yang sama dalam keseharian. Mungkin, pada awalnya semua dilakukan untuk membalas kebaikan teman. Tak tahunya lama-lama menjadi kebiasaan.

Kak Dhika

Kali ini, saya kagum pada Kak Dhika. Kak Dhika adalah rekan kerja saya. Kali pertama berjumpa, si kakak langsung memberikan hadiah kepada saya. Saat itu, Poli Rehabilitasi Medik (Rehab Medik) akan membuat seragam baru. Maka, kami pun membeli jilbab baru. Jilbab yang harus dibeli ada tiga buah. Kebetulan yang bertugas mengumpulkan uang adalah Kak Dhika. Ketika ingin membayar, Kak Dhika bilang seperti ini,“Kamu bayar dua jilbab aja. Satu jilbab hadiah dari saya untuk kamu.” Mendengar perkataan Kak Dhika tentu saja saya bingung. Orang yang baru dikenal belum genap dua bulan, langsung memberikan hadiah sebagai tanpa pertemanan. Hati siapa yang tidak terharu bila diperlakukan baik seperti itu. Siapapun kurasa hatinya akan ‘meleleh‘.

Masih tentang Kak Dhika. Sore itu ada seorang perempuan datang ke Poli Rehab Medik membawa sekotak brownis. Langsung saja saya tanyakan Kak Dhika tentang brownis itu,“Kak, itu siapa? Kok tiba-tiba bawa brownis?”, Kak Dhika menjawab,“Dia bagian pendaftaran pasien BPJS. Kemarin, aku minta tolong sama dia cariin berkas berobat bapakku. Karena dia udah baik banget mau bantu, aku kasih aja sekotak yakult. Eh barusan dia malah bawain aku brownis. Kan yang minta tolong aku, kenapa dia bawain brownis ckck.” Kebaikan memang menular, ya. Dan saling menebar kebaikan itu indah.

Ada lagi cerita lain. Aku dan Kak Dhika sedang membahas tentang arisan. Ternyata, Kak Dhika memiliki kebiasaan unik. Ia selalu memberikan buah tangan kepada si pemegang uang arisan tiap kali mendapat arisan. Kata Kak Dhika, si pemegang arisan itu harus kita hargai kebaikannya. Ia sudah berbaik hati menjaga uang arisan dan mengurus urusan arisan. Tanpa dia, mungkin arisan ini tidak akan berjalan dengan baik. Mendengar pandangan Kak Dhika, menambah pandangan baru untuk saya. Kebiasaan unik Kak Dhika sangat bagus dicontoh. Jujur saja, ini adalah kali pertama saya mendengar pandangan seperti itu. Kak Dhika memang baik hati :’)

***

Ira dan Kak Dhika menunjukkan bahwa kebaikan hati bisa dirasakan dari hangatnya seseorang memperlakukan orang lain.

Ira dan Kak Dhika senang memerhatikan orang lain. Sehingga mereka tahu apa yang orang lain butuhkan.

Ira tahu bagaimana memperlakukan teman dengan baik di kosannya, maka ia menjamu saya dengan baik. Ira juga tahu bagaimana cara menyenangkan hati anak kecil, maka ia memberikan yakult untuk adik-adik saya.

Kak Dhika tahu bagaimana membuat nyaman anggota baru, maka ia memberikan hadiah saat saya menjadi pegawai baru.

Kak Dhika juga tahu bagaimana menghargai kebaikan orang lain, maka ia memberikan sekotak yakult kepada mbak pendaftaran BPJS sebagai tanda terima kasih.

Hingga kini saya masih kagum dengan mereka. Semoga rasa kagum ini juga diiringi dengan usaha-usaha melakukan kebaikan yang sama. Terima kasih, Ira dan Kak Dhika. Terima kasih telah menunjukkan banyak kebaikan secara nyata. Semoga Allah senantiasa melimpahkan banyak kebaikan kepada kalian dan keluarga. Aamiin πŸ™‚

Menjadi Petugas KPPS Pemilu 2019

Akan ada waktu di mana kamu akan mempertanyakan kebermanfaatan diri di lingkungan rumah. Dan hal apa sajakah yang sudah kamu berikan pada masyarakat.

Kita mungkin sering berpartisipasi pada kegiatan sekolah dan perkuliahan. Menjadi panitia ini dan itu. Menjadi staff dan koordinator suatu divisi. Atau menjadi ketua suatu acara. Bahkan menjadi kepala suatu organisasi. Kita begitu aktif membuat dan melakukan sesuatu untuk kepentingan banyak orang. Tetapi, lupa berkontribusi pada lingkungan rumah kita sendiri.

Entah aku yang kurang mencari informasi atau memang para pemimpin lingkunganku yang kurang mensosialisasikan, aku tak pernah menjadi panitia apapun di lingkungan rumahku. Waktu kecil, tentu saja aku tak akan peduli dan tak memikirkannya. Setelah besar, aku baru menyadari bahwa tak pernah memiliki peran apa-apa di lingkungan. Kesadaranku semakin membesar ketika menjadi pemilih pada pesta pemilu dan mengantar adikku imunisasi di Kantor RW. Mereka yang menjadi panitia adalah para orang tua. Bahkan ada yang sudah tua renta. Aku lirih berkata dalam hati,“Kemana para pemuda? Bukankah aku ini salah satu pemuda? Mana peranku?” Ah, seketika langsung malu.

Aku pernah bertanya kepada mama, bagaimana cara membantu kegiatan imunisasi. Kukatakan pada mama, aku bisa membantu apa saja. Hatiku benar-benar sedih ketika melihat para orang tua kebingungan mengukur tinggi badan anak pada saat imunisasi. Padahal, untuk mengukur berat badan, tinggi badan, dan lingkar kepala anak bukan hal yang sulit bagiku. Semua itu adalah kegiatan ‘akrab’ yang biasa kulakukan sehari-hari. Saat itu juga, aku bertekad akan membantu kegiatan imunisasi selanjutnya. Tak apa bila tidak diundang. Aku bisa mengajukan diri, kan?

Suatu sore datang sebuah undangan ke rumahku. Sayangnya, aku tidak berada di rumah saat itu. Aku tahu informasi tersebut saat malam ketika sudah sampai di rumah. Menurut informasi mama, Pak RT memberikan dua undangan menjadi petugas KPPS (Kelompok Panitia Pemungutan Suara) pemilu April 2019 nanti untuk aku dan adikku. Pak RT tampak putus asa karena sulit sekali mencari orang yang bersedia membantu. Saat Pak RT di rumahku, beliau bercerita bahwa masih membutuhkan 6 orang lagi untuk mengisi posisi panitia. Saat mendengar cerita mama, aku turut bersedih juga. Pasti si Pak RT kebingungan terhadap kondisi itu.

Tanpa perlu memikirkan dan meyakinkan diri, aku langsung menyetujui tawaran Pak RT. Tanpa perlu membujuk, adikku juga menyetujui tawaran itu. Kami pun mengisi formulir, menyerahkan Foto Kopi KTP, Foto kopi ijazah terakhir, dan Pas Foto.

Satu minggu lalu kami menghadiri rapat pertama. Rapat ini dihadiri oleh seluruh petugas KPPS di RW 10. Aku dan adik hadir tanpa didampingi orang tua. Kata hatiku, sebenarnya ada ragu dan takut karena tak mengenal siapapun selain Pak RT. Kata hatiku yang lain, ada semangat yang membuncah karena akan membantu lingkungan rumahku. Aku memang begini, selalu bersemangat tiap kali terlibat pada kegiatan sosial dan sukarelawan. Ada rasa bahagia yang kudapatkan setelah membantu orang lain. Rasa bahagia yang hanya bisa kurasakan tiap kali menjadi bermanfaat untuk sesama. Rasa bahagia yang berbeda dengan rasa bahagia yang lainnya. Benar adanya, kebahagiaan yang dirasakan bersama-sama memang akan selalu terpatri dalam relung hati.

Rapat dilakukan di mushola sehabis Isya. Kami datang tepat waktu. Di mushola hanya ada dua laki-laki. Satu orang bapak dan satu orang pemuda. Aku hanya mengenal si pemuda itu saja. Meskipun tak mengenal dekat, aku mengingat wajah itu sebagai teman kecilku. “Bang Angga, ya?” aku memulai percakapan dengan pertanyaan. “Masih inget saya, bang?” kulontarkan satu pertanyaan lagi sambil tersenyum. “Ini Shinta ya? Ya Allah sudah besar banget. Ingetlah. Kemana aja Shin? Kok Bang Angga nggak pernah liat Shinta?” Bang Angga menanggapi pertanyaanku dengan antusias dan ramah. Ah senangnya. Bertemu teman bicara yang komunikatif dan ramah memang selalu menyenangkan πŸ˜€

Agenda rapat ini adalah pengenalan tentang proses pemungutan dan penghitungan suara. Materi disampaikan oleh Ketua PPS (Panitia Pemungutan Suara) Beji. Aku tak ingat nama bapak ini. Yang jelas, bapak menjelaskan dengan cara yang sederhana dan mudah dimengerti oleh awam. Seperti siapa saja yang menjadi pemilih tetap, siapa yang menjadi pemilih tambahan, siapa yang menjadi pemilih khusus, bagaimana aturan pemilihan suara, bagaimana aturan penghitungan suara, apa saja kriteria surat suara dikatakan sah dan tidak sah, dan sebagainya. Karena segala hal tentang pemilu adalah hal baru bagiku, maka aku mendengarkannya dengan sangat saksama dan tidak terpengaruh oleh apapun. Bahkan untuk camilan dan kopi yang melimpah ruah di depanku :p

Selain itu, firasakatku juga mengatakan, sepertinya aku akan mendapat bagian yang ‘agak sulit’. Penting bagiku untuk memahami dengan baik materi ini. Timku, yaitu, TPS 41 terdiri dari sembilan orang. Dua orang sebagai Pengamanan Langsung atau disingkat Pamsung (Bagian Keamanan selama proses Pemilu), Satu orang ketua KPPS (Pak Budi, sudah berpengalaman dalam kegiatan ini), Satu orang ibu (baru pertama kali menjadi panitia), dan empat orang anak muda yang juga baru pertama kali menjadi panitia. Di antara anak muda ini, usiaku lebih tua dibanding mereka. Oleh karena itu, menurut firasatku, Pak Ketua sepertinya akan mempercayakan tugas yang ‘agak sulit’ kepadaku :’)

Firasatku benar. Aku dan Dea ditugaskan dibagian pendaftaran. Yang aku maksud dengan ‘agak sulit’ sebenarnya bukan benar-benar sulit. Seperti kata Pak PPS, menjadi panitia tidak sulit. Kami hanya perlu teliti dan hati-hati. Tentunya kesabaran. Dan tidak perlu terburu-buru. Setelah Pak PPS selesai menyampaikan materi, kami dibolehkan pulang.

Saat rapat, aku berkenalan dengan ketua timku. Namanya Pak Budi. Pak Budi ini aktif sekali di lingkungan rumahku. Pak Budi menjalani peran dengan seimbang. Peran sebagai kepala keluarga, peran sebagai pegawai negara, dan peran sebagai masyarakat yang baik. Beliau juga seru diajak diskusi. Pengalaman yang banyak tidak membuat beliau berpikiran keras dan tertutup. Pak Budi memberikan banyak ruang untuk kami bertanya dan memberikan pendapat.

Bahkan saat rapat kedua kemarin (rapat khusus TPS 41), Pak Budi berulang kali mengingatkan bahwa menjadi Petugas KPPS ini mudah. Kita hanya perlu bekerja sama. Kita juga harus berkoordinasi dengan baik. TPS 41 harus memberikan suara yang sama tiap kali memberikan jawaban kepada masyarakat. Pak Budi juga menyemangati kami. Katanya, para pemuda harus belajar menjadi panitia kegiatan sosial seperti ini. Harus ada regenerasi. Beliau tahu kami masih awam tentang hal ini. Pak Budi mengerti dan memahami. Dan siap mengajari. Keren banget ya Pak Budi?

Kata Pak Budi, nanti akan ada rapat lagi. Satu minggu sebelum Pemilu juga akan dilakukan simulasi.

Ini adalah pengalaman pertama kami. Aku dan adik sangat antusias menjalani prosesnya. Bahkan di rumah pun, kami membuka forum diskusi hahaha

Untuk aku, berkenalan dengan orang baru dan melakukan adaptasi mungkin bukan hal yang begitu sulit. Tetapi, meluangkan waktu di tengah kesibukan bukan hal yang mudah. Aku berterima kasih pada diriku sendiri. Terima kasih karena mau meluangkan waktu untuk membantu orang lain. Terima kasih telah memikirkan orang lain.

Terima kasih juga untuk adikku. Keinginanmu untuk menjadi petugas KPPS perlu diapresiasi. Keberanianmu menghadiri rapat kedua khusus TPS 42 tanpa aku yang menemani juga perlu diapresiasi. Terima kasih telah bersedia menjadi teman belajarku untuk banyak hal. Seperti kali ini, kita belajar menjadi petugas KPPS.

Ada kalimat bagus yang sesuai dengan keadaan ini, keraguan adalah ketika kita tidak memahami apa yang diri ini inginkan. Maka, untuk menjadi tidak ragu, jadilah orang yang yakin dengan keinginan diri. Lalu buatlah sebuah keputusan.

Rasa takut bukan untuk terus dinikmati. Tetapi, untuk dihadapi. Maka, jangan takut untuk memulai hal yang baru. Sebab, ketakutan hanya menghentikan langkahmu. Tak akan membuatmu maju.

Jadi, siapkah kamu memulai hari baru dengan sesuatu yang baru? Kalau aku dan adik, sudah siap menjadi petugas KPPS. Sudah siap juga menjalani dengan tanggung jawab. Kalau kamu? Pilihanmu, akan menentukan bagaimana kisahmu. Aku tunggu ceritamuβ™₯

Kebaikan di Pagi Hari

Pagiku menyebalkan. Aku terlambat bangun dan sudah bisa dipastikan aku pun akan terlambat sampai di tempat kerja. Hujan sedari malam tak juga reda. Meskipun masih mendung, waktu menunjukan bahwa hari sudah semakin siang. Maka, tak ada pilihan lain. Aku harus tetap berangkat menerjang hujan. Baju ganti tetap harus kukenakan. Sebab, jas hujan milikku tidak sepenuhnya menahan air hujan.

Di perjalanan, aku teringat, rupanya kemarin siang aku tak sempat memenuhkan tangki bensin motor. Kulirik cepat pada spidometer, di sana terlihat panah penanda sudah menunjuk ke tanda merah. Yang artinya, motor akan mogok bila tangki tidak segera diisi bensin. Menyadari betapa kurang persiapan dan tidak disiplinnya diriku, aku menyesal. Namun hanya bisa menghembuskan napas saja. Kuurungkan niat untuk mengeluh. Pagi tadi, tak ada pilihan lain. Aku harus bertanggung jawab dengan cara menjalaninya dengan ikhlas.

Tikungan di jalan Perumahan Korps Brimob memang pusat kemacetan. Jalan yang memiliki lebar tak lebih dari empat meter itu selalu dipenuhi kendaraan. Apalagi bila ada perbaikan jalan atau kejadian tidak terduga. Seperti pagi ini. Keinginanku untuk mengebut hanya mimpi belaka. Motorku tidak dapat bergerak maju. Seluruh pengendara saling melempar tatapan kebingungan. Rintik hujan semakin membasahi jas hujanku, tetapi sedikit pun roda motorku tidak bergerak maju. Jam tanganku sudah menunjukkan pukul tujuh kurang sepuluh menit. Aku masuk kerja pukul tujuh. Sepuluh menit tak akan cukup untuk sampai di tempat kerja. Aku segera sadar, terlambat sampai tempat kerja adalah sebuah kepastian :’)

Antrean kendaraan perlahan bergerak. Motorku bergerak maju. Akhirnya, aku dapat melihat si penyebab kemacetan pagi ini. Di sisi kanan terlihat sebuah mobil terjebak dan tak bisa bergerak. Bannya terperosok ke dalam tanah yang posisinya lebih rendah dari jalan beraspal. Mobil akhirnya tak bisa maju ataupun mundur. Aku tidak tahu sejak kapan mobil itu terjebak. Aku juga tidak tahu sejak kapan kemacetan ini terjadi. Yang aku tahu, motorku tidak bergerak selama 10 menit. Aku mengatakan dalam hati,“Lengkap sudah. Pagiku semakin menyebalkan saja heu.”

Di dalam mobil yang terjebak, pengemudi sendirian. Tak ada kawan yang bisa membantu mendorong mobil. Pengendara lain juga tak ada yang membantu. Bahkan beberapa saling menekan tombol klakson sebagai tanda mereka tak sabar menunggu. Aku menduga, alasan mengapa orang-orang tidak langsung membantu mungkin karena kondisi saat itu sedang turun hujan. Hujan membuat semua orang sibuk dengan urusannya. Aku pun sama seperti mereka, sedang sibuk dengan pikiranku sendiri. Aku sedang mengkhawatirkan nasibku yang tak akan mampu sampai tempat kerja tepat waktu. Namun yang membuat berbeda, aku masih bisa menahan diri untuk tidak menekan tombol klakson.

Beberapa menit kemudian, seorang laki-laki menghentikan motornya tepat di depan mobil yang terjebak. Meskipun hanya seorang diri, ia tak ragu. Ia segera memberi aba-aba kepada pemilik mobil dan mendorong sekuat tenaga mobil tersebut ke arah belakang. Tak berselang lama, satu orang laki-laki kembali menghentikan motornya. Kali ini, ia bertugas memberi aba-aba dari arah belakang mobil untuk memberi tahu kondisi tanah dan jalan beraspal.

Pemandangan itu membuat rasa cemasku berubah seketika. Aku tak lagi sibuk dengan diriku sendiri. Aku tak lagi memikirkan bagaimana cara cepat tiba di tempat kerja. Aku memandang mereka cukup lama. Aku seakan tersihir dengan mereka yang saling membantu. Siapa pun yang melihat, pasti tahu pekerjaan mereka bukan hal yang mudah. Namun, hal itu tidak mengurungkan niat mereka untuk membantu. Dua orang laki-laki itu tentu saja memiliki kegiatan yang harus dikerjakan atau tempat yang harus didatangi. Sama seperti aku dan pengendara lainnya. Tetapi, sikap tolong menolong yang ada di diri mereka lebih tinggi dibanding urusan duniawi. Luar biasa, ya.

Iya, memang benar pagiku menyebalkan. Aku yang tidak disiplin membuat awal hariku menjadi tidak menyenangkan. Terlambat bangun pagi, perjalanan menerjang hujan, dan mengalami kemacetan cukup membuatku kelelahan. Namun, benar adanya bahwa kebaikan itu menular. Suasana hatiku yang tidak baik, berubah menjadi lebih baik karena mengamati kebaikan dua laki-laki itu. Betapa mulia hati mereka. Keadaan sulit tidak membuat hati mereka sempit. Mereka memahami betul bahwa keegoisan adalah tak ada guna. Sebab, tak ada yang lebih penting dibanding menjadi bermanfaat untuk sesama.