Bertukar Pikiran

Percakapan kala itu,

Kamu suka jalan-jalan ke mana?” tanyaku.

“Maksudnya bagaimana?” ia bertanya balik dan tampak bingung.

“Kalau aku ajak kamu bepergian jauh, tempat seperti apa yang ingin kamu datangi?” aku bertanya lagi dan memberikan pertanyaan lebih rinci.

Oh, itu maksudnya. Aku senang bepergian yang melakukan sesuatu.” jawabnya.

“Maksudnya bagaimana?” tanyaku. Kali ini aku yang bingung atas pertanyaannya.

“Maksudnya begini, kita pergi ke Pulau Pahawang beberapa tahun lalu, kan. Di sana kita melakukan snorkeling. Lalu, kita juga pergi ke Pulau Sempu. Kita menuju pulau tersembunyi dan berkemah di sana.” ia menjelaskan.

“Oh gitu. Kalau kita piknik di taman, kemudian melakukan hobi yang disuka bagaimana? Suka atau tidak?” tanyaku.

Entahlah. Sepertinya aku tidak memiliki hobi apapun. Aku pasti bingung akan melakukan apa.” jawabnya singkat.

“Kamu suka membaca buku. Bagaimana kalau kamu membawa beberapa buku dan menyelesaikan di sana?” tanyaku penasaran.

“Entahlah. Sepertinya aku kurang suka melakukan itu.” jawabnya. Kali ini ia benar-benar memberikan pernyataan.

“Bukankah kamu senang merajut dan berencana belajar lagi tentang itu?” tanyaku. Rupanya aku masih berupaya memengaruhi dia.

“Tidak, aku tidak ingin dan tidak tertarik.” ia memberi pernyataan yang kedua kalinya.

“Bagaimana kalau kamu datang untuk menemaniku saja? Aku selalu senang piknik di taman yang sepi. Aku bisa menulis di sana. Aku juga bisa belajar menggambar di sana. Aku suka suasana taman. Rerumputan dan pepohonan mampu menambah semangatku.” ucapku panjang lebar. Aku selalu begini. Selalu cerewet tiap kali membicarakan topik yang begitu kusuka.

“Oh iya! Kamu senang musik kan? Sembari menemaniku, kamu bisa mendengarkan musik apapun. Meskipun aku tidak terlalu suka musik, aku bersedia mendengarkan musik pilihanmu.” lagi-lagi aku berkata panjang untuk meyakinkan dia.

“Baiklah. Aku akan menemanimu. Bawakan aku makanan yang banyak!” jawabnya.

“Di lain waktu, kamu harus menemaniku. Suka ataupun tidak suka. Tertarik ataupun tidak tertarik. Kamu harus menemaniku.” pintanya.

“Baiklah! Aku siap menemanimu. Bahkan kala hatiku menolak untuk setuju.” kataku. Aku menyakinkannya. Tentu saja aku mau. Bagiku, yang paling penting bukan ‘melakukan apa’. Melainkan, ‘bersama siapa’ aku melakukan itu. Kebersamaan bersama orang tersayang selalu pertama dan utama.

Di sore yang ke sekian kalinya, kami tetap menjadi orang yang sama. Orang yang selalu senang bertukar pikiran. Membicarakan banyak hal seperti, topik yang bertujuan, atau topik random yang arahnya tidak jelas apa. Seringkali, kesimpulan pun tak pernah kami dapatkan. Meskipun begitu, kami bersyukur masih berkesempatan bertukar pikiran hingga saat ini.

Bagi kami, bertukar pikiran adalah kebutuhan yang tak bisa ditinggalkan. Kami memiliki banyak gagasan yang perlu disampaikan. Kami juga memiliki banyak keresahan yang harus dilepaskan. Kami pun memiliki keinginan yang harus direalisasikan.

Bertukar pikiran memang tak menjamin semua ingin dan angan menjadi kenyataan. Bertukar pikiran juga tidak menjamin “kata sepakat” mudah kami utarakan. Tak apa.

Bertukar pikiran memiliki makna lebih dari itu. Berkatnya, kami menjadi tahu bahwa berani mengungkapkan pikiran dan perasaan adalah langkah awal sebuah perubahan. Dan kami akan terus melakukan. Hingga segala keresahan dalam hati dan pikiran tidak muncul ke permukaan. Sampai kapan? Tentu saja sampai batas waktu yang tak bisa ditentukan.

Advertisements

Love Yourself First

Allah memang selalu memberi pelajaran melalui jalan yang tidak terduga. Ia datang di waktu yang tepat meski kita tidak meminta.

Pagi yang penuh kejutan. Seseorang yang tidak aku kenal berbagi kisah hidupnya.

Ini tentang temanku. Kami bekerja di tempat yang sama. Ia bercerita di balik telepon sana. Dengan suara parau dan putus asa ia meminta saran terkait anaknya. Aku tidak mengenal dia. Meskipun ia menyebutkan nama dan departemen tempatnya bertugas, aku tetap tidak mengenalnya.

Kami berbicara cukup lama. Singkat cerita, buah hatinya yang saat ini berusia 8 tahun mengalami masalah belajar. Si kecil mendapat nilai 5 pada pelajaran matematika. Lalu, ibu guru memberitahu bahwa si kecil kesulitan memperhatikan pelajaran yang diajarkan. Perhatiannya mudah teralih. Ia juga tidak mampu duduk lama dibangkunya.

Temanku melanjutkan cerita. Katanya, si kecil sudah les privat di rumah. Ia pun mampu mengerjakan semua sendiri. Si kecil selalu mempelajari materi pelajaran sebelum ibu guru mengajarkan di sekolah. Si kecil juga mampu menghafal juz 30 sejak taman kanak-kanak. Ia bingung. Temanku sungguh tidak percaya cerita yang ibu guru sampaikan.

Aku masih menyimak cerita dan belum menanggapi apa-apa.

Ia melanjutkan cerita. Temanku berharap banyak pada anak pertamanya. Dulu, saat temanku kecil, ia hidup dalam keterbatasan. Jangankan les privat. Untuk biaya sekolah saja orang tuanya harus benar-benar banting tulang.

Karena saat ini temanku merasa mampu dan cukup, ia pun memberikan segala hal untuk anaknya. Segala hal yang anak inginkan, maupun tentang kegiatan yang menunjang akademik anaknya. Ia mengakui, dirinya memang tipikal orang ambisius dan menerapkan hal seperti itu juga kepada anaknya.

Di telepon, temanku mengaku padaku, dirinya merasa bersalah pada anaknya. Ia sadar telah memaksa anaknya dengan keras. Ia juga sadar telah berlaku kasar kepada anaknya. Saking putus asanya, ia berkata seperti ini padaku,“Menurutku, yang harus bertemu psikolog adalah aku, Mbak. Aku yang bermasalah. Aku yang membuat anakku bermasalah. Iya kan, Mbak?” ia menangis.

Aku berdiam diri cukup lama. Memikirkan perkataan apa yang tepat untuk menanggapi cerita temanku.

Terkait kondisi anaknya, tentu saja aku tidak akan memberikan pendapat banyak. Meskipun aku sedikit menduga masalah anaknya, kurasa lebih baik temanku bertemu dulu kepada ahlinya, yakni, dokter anak dan dokter rehabilitasi medis.

Sebenarnya ada banyak pertanyaan ingin kutanyakan kepada temanku ini. Seperti, sejauh apa ketidakfokusan si kecil, adakah hal-hal aneh yang si kecil lakukan saat di rumah, bagaimana interaksi dan komunikasi si kecil, apakah ia bisa mengerjakan suatu tugas di rumah sesuai waktu yang telah disepakati, apakah ia mampu menyelesaikan sebuah pekerjaan sampai selesai, dan lain-lain. Namun, melihat kondisinya yang sedang tidak baik, aku mengurungkan niatku.

Akhirnya aku menanggapi begini,”Mbak, pasti kaget ya tiba-tiba dapat kabar si kecil dapat nilai 5. Padahal di rumah ia mampu mengerjakan soal-soal sampai selesai. Tapi, jangan lagi marahin si kecil ya, Mbak. Hal tersebut nggak menyelesaikan masalah. Pesan mbak pun nggak akan sampai ke si kecil. Yang ia tahu, Mbak itu marah besar ke dia.”

Mbak nggak perlu ke klinik yang sekali konsultasi 500.000 itu. Saranku, Mbak konsultasikan dulu aja si kecil ke dokter anak dan dokter rehabilitasi medis di sini. Kalo si kecil memang membutuhkan terapi, para dokter akan menentukan terapi apa yang tepat untuk kondisi si kecil ini, Mbak.” tambahku. Temanku sempat bingung juga masalah keuangan. Pada awalnya, ia ingin konsultasi ke klinik anak di luar rumah sakit. Namun, biaya konsultasinya benar-benar mahal. Dan tidak mungkin dilakukan saat ini.

Iya menyetujuinya. Dari nada suaranya, temanku lebih tenang. Mungkin ia lega sudah bercerita segala kecemasannya.

Ia pun mengatakan, akan mendiskusikan dahulu perihal ini kepada suaminya. Kalau sudah sepakat, ia akan datang ke dokter anak dan poli rehabilitasi medis. Sembari meminta maaf karena sudah bercerita panjang kepadaku dan mengambil waktu luangku, ia menutup teleponnya. Masalah ini pasti berat untuk temanku.

Dari sosok temanku, aku melihat luka masa kecil yang tak kunjung sembuh. Temanku belum berdamai dengan diri sendiri. Ia melakukan semua hal yang tidak bisa dilakukan dulu, kepada anaknya. Ia tetap melakukan semua hal yang diinginkan tanpa bertanya kepada anaknya. Ia memikirkan kebaikan untuk anaknya berdasarkan standarnya.

Sampai akhir percakapan, Ia terus menerus menyalahkan diri atas apa yang terjadi. Tampak jelas, temanku lupa untuk mengapresiasi diri. Padahal ia sudah sangat berjuang untuk anaknya. Meskipun menjadi ibu yang bekerja, temanku selalu meluangkan waktu untuk urusan sekolah dan pelajaran anaknya. Perihal ini sudah kusampaikan kepada dia. Ia pun terisak. Temanku bilang, ia memang tidak pernah sekali pun mengatakan terima kasih untuk dirinya sendiri.

Mendengar cerita temanku ini, hatiku sakit. Bagaimana bisa perihal self-love yang belum terselesaikan, benar-benar bisa mengganggu rumah tangga secara keseluruhan. Bagaimana bisa perihal self-love orang tua yang belum terselesaikan, benar-benar bisa membuat sang buah hati mengalami masalah perilaku.

Lihat, tentang self-love tidak boleh kita abaikan. Kenali diri dan selesaikan pelan-pelan. Kita pasti bisa menaklukkan :’)

Sepotong Perjalanan Hari Ini

Di sekitarku ramai. Padahal langit sudah gelap sekali. Saat ini pukul 22.20, begitu yang terlihat pada gawaiku.

Di sampingku ada seorang perempuan muda. Sepertinya ia masih mahasiswa. Aku asal menebak saja. Sebab, ia menggunakan jaket hitam bertuliskan “enviromental enginering”.

Di depanku ada tiga orang perempuan. Mereka sedang duduk bersama dibangku prioritas. Sama sepertiku. Aku juga duduk dibangku ini. Ah, kami nakal ya. Padahal jelas-jelas ada papan pemberitahuan bertuliskan “lanjut usia, wanita hamil, penyandang disabilitas, dan ibu membawa anak”. Mungkin mereka hamil. Lalu bagaimana denganku? Tenang, aku akan siap berdiri kapan saja bila ada mereka yang lebih membutuhkan bangku ini.

Baru saja kereta datang. Penuh sekali. Aku pun mengetik tulisan ini sambil berdiri. Lalu, aku berjalan agak cepat dan kemudian berlari. Saat ini, aku berada dalam kereta. Tidak ada ruang untuk duduk. Semua bangku penuh terisi.

Aku hanya bisa berdiri. Berdiri tanpa jarak dengan orang-orang di kanan dan kiri. Aku tidak masalah dengan kondisi ini. Sebab aku merindukan momen-momen seperti ini. Aneh? Mungkin iya bagi kamu yang menaiki kereta setiap hari. Kereta bukanlah hal yang spesial lagi. Namun, bagiku tidak begitu. Aku benar-benar merindui situasi ini.

Sudah tiga tahun lamanya aku berkendara motor ke sana dan kemari. Aku jarang naik kereta lagi. Aku jarang naik transportasi umum. Makanya, aku rindu. Bukankah manusia memang mudah merindu pada hal-hal yang sudah lama ia tidak temui? Bukankah manusia memang merindu pada hal-hal yang sudah lama ia tidak rasakan lagi?

Beberapa detik yang lalu, terdengar suara perempuan dari pengeras suara. Ia memberi pengumuman bahwa kereta yang kunaiki ini akan tiba pada stasiun tujuanku. Seberapa besar inginku berdiri dalam kereta ini, sepertinya aku harus lekas turun. Seberapa besar rinduku pada situasi ini, sepertinya aku harus segera mempersiapkan diri. Aku harus pulang.

Stasiun tujuanku lebih ramai dari tempat awal yang kusinggahi kali pertama tadi. Bahkan beberapa orang masih duduk sambil mengetik gawainya. Entahlah apa yang sedang mereka lakukan. Mungkin mereka sedang memberi kabar keluarga tentang keberadaannya. Atau mungkin mereka sedang menulis seperti aku ini. Terserahlah mereka mau melakukan apa.

Sebentar lagi tulisan ini akan aku akhiri. Sudah malam. Aku ingin cepat sampai rumah.

Aku rindu, makanya aku menuliskan sepotong perjalanan hari ini. Aku hanya ingin bilang, nikmati apapun situasimu saat ini. Bahkan untuk keadaan yang melelahkan sekali pun.

Dulu, aku pun “muak” naik kereta setiap hari. Berangkat harus lebih awal dan pulang selalu terlambat. Belum lagi kondisi kereta yang menguji kesabaran sekali. Jalan kaki pun terasa berat karena begitu lelah. Bukan lelah fisik. Namun, lelah hati.

Siapa sangka kondisi memuakkan itu kini aku rindui. Ternyata, ada hal-hal tidak aku dapatkan bila menjalani kehidupan yang mudah-mudah saja. Naik kereta memang melelahkan dan menyulitkan. Namun, ada banyak pelajaran yang aku dapat selama perjalanan. Salah satu contohnya ya bagaimana aku mengelola emosi saat menghadapi keadaan yang sulit tadi.

Baiklah, saat ini sudah pukul 22:51. Aku harus pulang. Aku akhiri saja tulisan ini.

Selamat malam.

Tentang Sekolah: Fakta Si Kecil

Anak kecil itu nyebelin? Apa iya? Nggak, kok. Bukan anak kecil yang nyebelin, kayaknya kita sebagai orang dewasa yang kurang sabar 😅

Lagi-lagi masalah ego. Mungkin, kalau emosi dan pikiran dalam keadaan baik semua akan berjalan baik-baik saja. Namun, kalau kondisi lagi ribet dan repot, seringkali pikiran dan emosi jadi tidak terkendali dengan baik. Pada akhirnya kita pun merasa direpotkan oleh si kecil.

Aku mau berbagi tiga fakta tentang anak kecil ini. Fakta ini didapat dari pengalaman mamaku dan aku yang mempersiapkan si kecil masuk sekolah taman kanak-kanak kemarin.

Fakta #1 Anak Tidak Akan Menangis Jika Ia Tahu ‘Medan’ yang Dihadapi

Aku percaya, marah dan tantrumnya anak pasti karena ia ingin menyampaikan sesuatu namun tak tahu bagaimana memberi tahu. Apalagi bila si anak belum bisa berkomunikasi secara verbal. Wah, siap-siap saja ia akan menangis terus-menerus.

Di rumah sakit pun begitu, anak-anak selalu menangis ketika pertama kali bertemu aku. Jangankan langsung dilatih, aku sapa saja ia sudah menangis kencang sekali 😂 tapi, jangan panik dan kesal. Mereka seperti itu karena cemas dan takut melihat hal-hal baru.

Jadi, bagaimana sih cara mama dan aku mempersiapkan si kecil yang mau sekolah?

Jadi, begini, aku terbiasa menjelaskan “medan baru” yang akan si kecil datangi. Menceritakan bagaimana kondisi di sana. Memberitahu tempat tersebut melalui gambar ataupun youtube. Dan memberitahu apa saja hal yang boleh dan tidak dilakukan di sana.

Lalu, setelah dijelaskan, apakah di sekolah si kecil tidak menangis? Iya, tidak menangis. Mukanya memang tegang dan sedikit senyum, namun ia mengikuti semua instruksi yang ibu guru berikan. Sesekali ia mengintip ke arah aku dan mama, mungkin jantungnya berdegup kencang hahahaha tapi, ia mampu berpartisipasi dengan baik bersama kawan-kawan. Alhamdulillah.

Yang harus diingat selalu bagi kita si orang dewasa, jangan pernah lelah menjelaskan kepada si kecil yang rasa ingin tahunya tinggi ini. Kita egois sekali kalau berharap si kecil mengerti keadaan tanpa dibimbing dan diarahkan. Kita egois sekali kalau maunya si kecil tidak menangis padahal ia belum mengerti apa yang sedang dihadapi 🙁

Fakta #2 Konsisten Melakukan Proses, Si Kecil Akan Mengikuti

Jangan bangun kesiangan, ya! Kalau bangun kesiangan, jangan marah-marah dan salahkan si kecil.

Sesenang apapun di sekolah, anak kecil tetaplah anak kecil. Ia akan menangis bila merasa terganggu. Ia akan marah bila merasa tidak nyaman. Ia akan cemberut bila merasa tidak senang.

Kurasa tentang bangun pagi ini memang masalah kebanyakan orang tua, ya. Nyatanya, meskipun sedari malam sudah diingatkan besok akan pergi ke sekolah, tetap saja si kecil akan susah bangunnya.

Sama seperti pagi ini. Ia susah sekali dibangunkan. Saat bangun pun, wajahnya cemberut dan mengeluh berulang kali. Mama pun nyaris tersulut amarahnya hahaha langsung saja kuajak si kecil ke kamar mandi. Meskipun sembari marah, ia tetap mau melangkahkan kaki.

Sesampainya di kamar mandi, ia masih menangis. Meskipun tidak menolak mandi, sepanjang proses mandi ia tetap cemberut dan menangis wkwk namun, aku tetap memandikannya. Saat proses pakai baju pun proses menangisnya masih dilanjutkan 😂

Si kecil mulai berhenti menangis saat baju selesai dipakai. Dan mulai tersenyum saat roti coklat diberikan hahaha

Intinya, jangan marah dan kesal melihat si kecil menangis. Anak kecil itu kan memang belum pandai mengungkapkan perasaan. Kitalah yang harus menanyakan bagaimana perasaannya. Kita juga yang harus bisa menenangkannya.

Prosesnya memang panjang dan repot. Tetapi percaya deh, proses panjang itu akan memberikan hasil baik. Kamu akan takjub melihat bagaimana si kecil berproses dan berkembang :’) Ia akan menjadi anak manis, mau memperhatikan, dan pengertian.

Fakta #3 Biasakan Memandirikan Anak, Ia Akan Menjadi Anak yang Mandiri

Beberapa hal sederhana yang dapat dilakukan anak beberapa saat sebelum sekolah yaitu, pakai baju dan celana sendiri, makan sendiri, pakai kaos kaki sendiri, dan pakai sepatu sendiri.

Kalau adikku, masih kami bantu saat proses mandi. Soalnya si kecil masih sering melamun saat di kamar mandi wkwk kalau hal-hal yang kusebutkan di atas, Alhamdulillah ia sudah bisa melakukannya sendiri.

Namun, agar semua bisa dilakukan oleh si kecil, ia bangunnya pun harus lebih pagi. Jangan samakan kecepatan orang dewasa dengan anak kecil saat melakukan sesuatu. Tentu saja berbeda. Ia melakukan semua hal akan jauh lebih lambat. Bangun pagi lebih awal akan memberikan waktu panjang agar si kecil semua hal tersebut sendiri. Dan kita harus mengajari dan menunggu dengan sabar.

Pada awalnya, si kecil mengeluh kesusahan dan berulang kali ingin berhenti mencoba. Namun, kami tetap menyemangati, mengajari, dan menunggu agar si kecil melakukannya sendiri.

Untuk apa sih pembelajaran kemandirian ini? Banyak manfaatnya. Pertama, ia akan belajar bertanggung jawab atas barang miliknya sendiri. Kedua, ia akan belajar kesabaran dari proses yang dijalani. Ketiga, ia akan semakin percaya diri bahwa dirinya mampu melakukan banyak hal baru 😁👍

Fakta-fakta ini semoga semakin membuka pemikiran kita bahwa anak memang perlu diajari. Semua hal. Jangan pernah berpikir ia akan mampu sendiri tanpa diberikan pengalaman lebih dulu. Memang benar, pada akhirnya ia akan mampu. Tetapi, orang tua harus mencontohkan di awal. Lalu, terlibat dalam prosesnya untuk memberi tahu hal benar dan tidak.

Jangan biarkan ia tumbuh sendiri. Bukankah pohon saja tidak boleh dibiarkan tumbuh sendiri? Ia akan tumbuh ke segala arah tanpa arah yang jelas. Ia akan mati bila tidak diberi pupuk dan sirami. Semoga kita dapat memahami :’)

Tentang Sekolah: Si Kecil Perlu Merasai dan Mengalami Sendiri

“Ini adalah kali pertama untukku.”

“Katanya, aku disuruh baris. Siapa orang di sebelahku ini? Baru saja ia mendorong badanku. Ia juga menginjak sepatuku. Kenapa aku harus baris di sini? Sempit sekali di sini. Bahuku dan bahu temanku saling menempel. Aku sulit bergerak. Aku benar-benar bingung situasi di sini.”

“Aku harus makan bekal ini. Apa yang harus aku lakukan untuk pertama kali? Ambil kotak makan kah? Ambil botol minum kah? Bagaimana cara membuka tempat makanku? Aku belum lancar makan sendiri.”

“Sampai kapan aku harus mengantre? Apakah aku harus berdiri terus begini? Ke mana mamaku? Aku bosan kalau terus-terusan di sini.”

***

Percakapan di atas adalah imajinasiku saat melihat wajah polos anak-anak di taman kanak-kanak hahaha

Di balik wajah polosnya, aku yakin mereka mengajukan banyak pertanyaan dalam pikirannya. Memahami itu, bagaimana kalau kita biarkan mereka belajar dengan caranya? Bagaimana kalau kita bebaskan ia berpikir dan merasa?

Saat di sekolah, biarkan saja si anak belajar dari semua hal yang ditemuinya. Salah, tidak apa-apa. Bingung pun bukan masalah. Namanya juga belajar kan, salah dan keliru adalah hal normal. Malah dua hal itu penanda kalau si anak sudah berusaha 😁

Orang dewasa ada untuk meluruskan hal yang salah ketika si anak sudah berusaha. Bukan mengatur “agar selalu benar dan tepat” saat si anak belum melakukan apa-apa.

Mungkin tantangan orang tua memang di sini. Ketika orang tua tidak tega melihat anaknya kesulitan, jadilah si orang tua memberikan pertolongan meskipun si anak belum membutuhkan. Atau ketika orang tua merasa kasihan ketika melihat si anak kebingungan, jadilah si orang tua memberikan arahan meskipun si anak belum meminta. Pada akhirnya, orang tua pun menjadi bingung. Kasih sayang yang ia berikan berdasarkan kebutuhan anaknya atau kebutuhan dirinya.

Kemarin, saat mengantar adik ke sekolah, aku pun baru menyadari hal ini. Anak kecil memang perlu belajar banyak hal. Jika di rumah si anak diajarkan oleh orang tuanya tentang Tuhan, agama, budi pekerti, dan kemandiriannya. Maka, di sekolah anak belajar tentang lingkungan dan orang-orang selain keluarganya.

Hanya di sekolah, adikku harus antre panjang sekali saat ingin mencuci tangan, harus bersabar saat beberapa kawan saling dorong-dorongan, dan harus kebingungan kala ia ketinggalan rombongan saat perkenalan ruangan 😂

Pada kondisi itu, haruskah orang tua atau orang dewasa ikut campur dan turun tangan? Kurasa tidak perlu. Biarkan si anak menyelesaikan masalahnya sendiri. Bahkan ketika sang guru menegur adikku dan kawan-kawannya karena saling mendorong, bukankah hal tersebut juga sebuah pembelajaran? 🥺

Sebaik-baiknya pembelajaran adalah ketika si anak merasakan dan mengalaminya sendiri. Seharusnya, anak tidaklah belajar dari kemudahan dan rasa senang saja. Namun, anak juga perlu merasakan kesulitan dan rasa sedih. Supaya si anak menjadi seseorang yang peka hati, wawas diri, serta mudah menghargai apapun yang ia miliki dan hadapi.

Cerita tentang Tantangan Menulis Bulan Juni

Insya Allah, ini adalah tema tulisan Bulan Juni 🙂

Satu bulan kemarin aku mengikuti kelas menulis. Aku tahu kegiatan itu dari instagram (IG) dengan akun @Pejuang30DWC. Kalau kamu ingin tahu dan berminat mengikuti kelas menulis, silakan buka IGnya ya 🙂

Kegiatan yang dilakukan dalam kelas menulis, ada kelas online yang dimentori oleh Kak Rezki dan Kak Rizka (nanti dapat materi juga dalam bentuk PDF), feedback dari mentor dan anggota, serta tantangan menulis dengan tema khusus.

Bagi penulis pemula seperti aku, kegiatan ini bermanfaat sekali. Semua hal tentang tulis menulis dibahas di sana. Bahkan untuk tata cara penulisan sederhana seperti penempatan tanda baca, penggunaan huruf kapital, dan cara penulisan percakapan juga dibahas lho di sana.

Karena tipe tulisanku adalah non fiksi, maka dapat banyak nasihat dari si Kak Rezky. Inti dari saran Kak Rezki, kami disuruh bikin konten khusus. Tujuannya, supaya tulisan kami lebih terarah. Meskipun tidak dilarang menulis konten bebas yang sesuai “mood”, Kak Rezky menyarankan kami menulis segera dengan tema khusus.

Selama 30 hari kemarin aku masih menulis dengan tema bebas hahaha ternyata tidak mudah ya menulis tema khusus seperti yang Kak Rezki sarankan. Khususnya aku, masih kesulitan sekali menulis setiap harinya. Meskipun sudah yakin tema apa yang akan ditulis hari itu dan kerangka tulisan pun sudah beres, selalu saja kebingungan saat mulai merangkai kalimat.

Padahal, aku sudah mengikuti saran teman-teman. Katanya, tulis saja dulu semua, editnya belakangan. Tetap saja selalu tidak lancar tiap kali menyusun kalimat. Butuh waktu beberapa jam hingga akhirnya satu buah tulisan siap diunggah :’)

Melihat kemampuan menulis yang masih seperti ini, aku pun memutuskan mengikuti tantangan menulis lagi. Aku harus membiasakan diri menulis setiap hari.

Aku mendapatkan tantangan menulis ini dari Mas Hery di IG. Beliau adalah teman satu kelompokku saat tantangan menulis bulan kemarin. Terima kasih, Mas Hery.

Saat kali pertama melihat judulnya, aku langsung jatuh hati. Aku merasa, tema ini cocok sekali untukku. Entah mengapa, ada banyak sekali pertanyaan yang ingin kutanyakan pada diri sediri. Dan ingin tahu sejauh mana aku mengenali diri.

Teman-teman yang tertarik mengikuti tantangan menulis ini, boleh sekali ikutan. Langsung saja mulai menulis dengan tema-tema yang tertera. Tidak apa-apa mulainya terlambat. Aku pun memulai menulis tidak dari tanggal 1 hehe

Selamat membaca dan menulis. Semoga setelah tantangan menulis ini berakhir kita semakin mengenali dan mencintai diri kita sendiri ♥

Enjoy the Little Things

Sahabatku tak pernah lelah memberikan doa-doa terbaiknya untukku. Bahkan saat kondisinya sedang kesulitan. Ia baru saja melahirkan. Dan sedang beradaptasi dengan peran dan keadaan yang baru. Ditambah permasalahan ASInya. Semakin berjuang saja ia pada Ramadan ini. Meskipun begitu, ia selalu mengingat kawan.

Pagi ini, ia mengirimkan sebuah kado. Katanya, kado ini adalah tanda cinta.

Sahabatku berharap, kado ini akan menjadi sebab kehadiran kami di surga kelak. Masya Allah :’)

Sebuah goodie bag biru datang ke rumahku diantar oleh ojek online. Di dalamnya terdapat sebuah gamis, jilbab, dan sekotak kue nastar. Di bagian paling atas direkatkan sebuah kartu ucapan bertuliskan “Enjoy the Little Things”. Ternyata kalimat tersebut tidak sekadar beberapa torehan kata yang biasa-biasa saja. Kalimat itu memiliki makna khusus. Di dalam kartu ucapan ia pun berbagi pandangan tentang itu.

Makna kalimatnya bagus. Hari ini, aku akan berbagi sedikit makna kalimat itu, ya. Mari kita berefleksi bersama.

Sahabatku mengatakan, katanya lebaran bukan tentang banyaknya kue, opor, dan ketupat yang aku habiskan. Bukan seberapa banyak THR yang aku dapatkan. Atau seberapa banyak orang-orang yang aku temui.

Maknanya sungguh jauh lebih besar dari itu. Versi sahabatku, lebaran adalah refleksi diri tentang bagaimana kabar dosa-dosa kita. Dosa kita banyak. Pada Bulan Ramadan ini ampunan Allah juga banyak. Namun, kita tidak tahu apakah dosa kita yang amat banyak ini sudah diampuni atau belum sama Allah. Meskipun begitu, kita harus tetap bersyukur dan yakin pada ketentuan Allah. Yakin bahwa Allah akan memberikan ampunan-Nya kepada siapa pun yang bersungguh-sungguh.

Lebaran juga sebagai tempat berefleksi diri bahwa betapa sedikitnya rasa syukur kita akan nikmat Allah. Padahal nikmat Allah begitu banyak tercurahkan pada hidup kita.

Sahabatku berharap, tanda cinta yang ia berikan mampu meningkatkan rasa syukurku. Sebab, Allah Maha Pemurah dan Maha Penyayang masih mengizinkan kami tetap menjalin persahabatan hingga kini.

Ia juga berharap, tanda cintanya mampu mempererat ukhuwah kami. Semoga kami juga selalu meluruskan niat. Perjalanan ukhuwah kami selama ini untuk siapa dan karena siapa. Dan semoga kami semakin istiqomah.

Di akhir kartu ucapan ia mengucapkan,“Selamat berbahagia di Hari Lebaran ♥.”

Setelah membaca ucapan tersebut aku pun tersenyum. Iya benar adanya bahwa kasih sayang Allah itu luas sekali. Allah sayang, maka, Allah menghadirkan sahabat baik yang selalu setia membersamai. Allah sayang, maka, Allah memberikan peringatan melalui nasihat sahabat-sahabat yang shalih.

Nikmati kebaikan kecil yang menghampiri hidup kita. Karena kebaikan itu, akan meluaskan dan menenangkan jiwa 🙂

Day 30 – Terima Kasih

Aku sangat bersyukur bisa mengikuti event 30 hari bercerita yang diadakan oleh @pejuang30dwc.

Maka, tulisan penutup tantangan menulis 30 hari ini, akan berisi beberapa ucapan terima kasih untuk orang-orang yang super menginspirasi 🙂

Pertama, untuk seluruh teman-teman yang mengikuti 30 Days Writing Challenge Jilid 18, atau biasa disebut “fighter”, terima kasih sudah memberanikan diri berbagi pikiran melalui tulisan selama 30 hari ini.

Meskipun sama-sama masih bingung konten apa yang seharusnya ditulis selama 30 hari, kita tidak pernah menyerah menulis. Dan tetap menyetor tulisan apa pun yang terjadi. Kalian luar biasa!

Kedua, untuk Kak Sari dan Kak Syamsu yang setia dan sedia setiap saat menjadi admin group selama 30 hari. Terima kasih sudah menghidupkan suasana group dan memimpin setiap diskusi online. Kak Syamsu yang selalu mengeluarkan kata-kata bijak tiap kali menyapa. Serta Kak Sari si ramah yang membuat “atmosfer” group full team terasa hangat. Sukses selalu untuk kakak!

Ketiga, untuk Kak Rezky sebagai mentor tulisan non fiksi. Terima kasih sudah memberi banyak sekali saran dan pertanyaan “menohok” untuk kami. Keduanya cukup membuat kami “berpikir keras merenungi”. Insya Allah kami selalu mengingat saran kakak, menjadi unik dan berbeda adalah modal untuk penulis. Sebab, pembaca kritis tak akan mau membaca karya yang “biasa-biasa saja”.

Ke empat, untuk Kak Rizka sebagai mentor tulisan fiksi. Terima kasih sudah memberi saran dan dukungan dengan cara yang menyenangkan. Berkat Kak Rizka, kami menjadi tahu bahwa menulis tidak sesulit itu. Selama kita masih bisa berpikir dan merasa, selama itu pula kita masih bisa menulis.

Ke lima, untuk squad 8, Hamda, Mas Hery, Kak Rose, Mbak Ika, Kak Imas, dan Kak Mamay. Terima kasih sudah “heboh” di group squad selama 30 hari ini wkwk tanpa kehebohan kalian, entahlah aku mampu atau tidak menyelesaikan tantangan menulis selama 30 hari.

Mengingat perkataan Hamda, yang tersulit adalah “terlalu banyak berpikir” namun lupa untuk “mengeksekusi”. Semoga kita tidak begitu lagi. Lakukan aksi meskipun hanya sedikit yang terealisasi.

Atau mengingat perkataan Kak Rose, sulitnya menuliskan pengalaman pribadi adalah karena tak juga menemukan figur. Semoga kita tidak kesulitan lagi. Karena sesungguhnya figur itu dekat. Ia ada pada diri kita sendiri. Semua hanya tentang mau atau tidak berpikir sejenak untuk memahami diri.

Sekian. Maafkan ucapan terima kasihnya panjang sekali. Terlalu sulit menahan diri karena rasa syukur yang super banyak ini 😂

#30DWC #30DWCJilid18 #squad8 @Pejuang30dwc #30dwcjilid18day30

Sumber foto: http://www.pexels.com

Day 29 – Merenung

Pernahkah kamu merasa pikiran terlalu penuh dan dada begitu sesak? Lalu bagaimana caramu menangani kondisi ini?

Kalau aku, tidak akan memaksakan diri. Sebab aku tahu, kondisi seperti ini adalah “tanda” bahwa aku butuh menyendiri untuk merenungi.

Dunia itu ramai dan bising. Dunia seringkali memaksa otak kita berpikir tiada henti. Dan dunia seringkali memaksa diri untuk selalu menerima orang yang banyak rupa. Tak peduli bagaimana kondisi diri.

Bila tidak pandai-pandai mengelola waktu, kita pun menjadi lupa memberikan “hak” pada diri sendiri. Kita tak sempat menenangkan pikiran dan merenungi semua hal yang sudah terjadi.

Lalu, apa jadinya bila sudah begini? Dampaknya akan bahaya sekali. Apa pun tak akan bermakna apa-apa untuk diri ini. Apa-apa yang orang lain lakukan tak akan memiliki arti. Semua hal yang pernah diperjuangkan tak pernah kita puji. Akhirnya, kita tak tahu arti menghargai dan lupa mensyukuri.

Semoga semua itu tidak terjadi. Tak apa pikiranmu penuh dan dadamu sesak sesekali. Namun, jangan lupa memberi waktu dan jeda untuk diri sendiri.

Sebab, merenung adalah hak kita yang harus dipenuhi.

#30DWC #30DWCJilid18 #squad8 @Pejuang30dwc #30dwcjilid18day29

Sumber gambar: http://www.wikihow.com

Day 28 – Meningkatkan Kualitas Diri

Setelah melakukan perubahan, lantas apa perjuangan selanjutnya?

Kita sama-sama tahu bahwa perjuangan tak akan berhenti selama masih mengembuskan napas. Iya, kita harus tetap berjuang selama masih hidup di dunia.

Tak ada yang mudah dalam menjalani kehidupan. Sebab, surga memang tak bisa didapatkan oleh siapa saja. Hanya ia yang tetap berusaha menggapai rida-Nya yang dapat mencapainya.

Berubah menjadi lebih baik adalah sebuah langkah awal. Kita harus mempertanggungjawabkan keputusan itu dengan cara terus meningkatkan kualitas diri.

Kita bisa belajar dari mana saja. Ilmu tentang perilaku, misalnya. Cara paling mudah adalah banyak mengamati orang-orang di sekitar. Meniru segala perbuatan baik dan mengambil hikmah dari perbuatan buruk orang lain.

Semakin lama hidup di dunia, ternyata ada banyak ilmu kehidupan belum kita tahu. Bagaimana menjalani peran sebagai anak, kakak, dan teman yang baik. Atau bagaimana menjadi tetangga yang baik.

Pilih media apa saja sebagai media belajar kita untuk mencari ilmu. Buku, youtube, artikel, atau apapun. Namun, jangan lupa, sebaik-baiknya tempat belajar adalah kepada ahlinya. Jadi, pilihlah mentor mumpuni dalam ilmu yang sedang kita tekuni 😊

Niat dan tekad untuk menjadi lebih baik adalah sebuah anugerah. Semoga kita tak lupa tentang kesyukuran.

Berusaha meningkatkan kualitas diri adalah bukti bahwa kita benar-benar bersyukur atas anugerah yang Allah telah beri.

#30DWC #30DWCJilid18 #squad8 @Pejuang30dwc #30dwcjilid18day28

Sumber foto: http://www.istockphoto.com