Cerita tentang Tantangan Menulis Bulan Juni

Insya Allah, ini adalah tema tulisan Bulan Juni 🙂

Satu bulan kemarin aku mengikuti kelas menulis. Aku tahu kegiatan itu dari instagram (IG) dengan akun @Pejuang30DWC. Kalau kamu ingin tahu dan berminat mengikuti kelas menulis, silakan buka IGnya ya 🙂

Kegiatan yang dilakukan dalam kelas menulis, ada kelas online yang dimentori oleh Kak Rezki dan Kak Rizka (nanti dapat materi juga dalam bentuk PDF), feedback dari mentor dan anggota, serta tantangan menulis dengan tema khusus.

Bagi penulis pemula seperti aku, kegiatan ini bermanfaat sekali. Semua hal tentang tulis menulis dibahas di sana. Bahkan untuk tata cara penulisan sederhana seperti penempatan tanda baca, penggunaan huruf kapital, dan cara penulisan percakapan juga dibahas lho di sana.

Karena tipe tulisanku adalah non fiksi, maka dapat banyak nasihat dari si Kak Rezky. Inti dari saran Kak Rezki, kami disuruh bikin konten khusus. Tujuannya, supaya tulisan kami lebih terarah. Meskipun tidak dilarang menulis konten bebas yang sesuai “mood”, Kak Rezky menyarankan kami menulis segera dengan tema khusus.

Selama 30 hari kemarin aku masih menulis dengan tema bebas hahaha ternyata tidak mudah ya menulis tema khusus seperti yang Kak Rezki sarankan. Khususnya aku, masih kesulitan sekali menulis setiap harinya. Meskipun sudah yakin tema apa yang akan ditulis hari itu dan kerangka tulisan pun sudah beres, selalu saja kebingungan saat mulai merangkai kalimat.

Padahal, aku sudah mengikuti saran teman-teman. Katanya, tulis saja dulu semua, editnya belakangan. Tetap saja selalu tidak lancar tiap kali menyusun kalimat. Butuh waktu beberapa jam hingga akhirnya satu buah tulisan siap diunggah :’)

Melihat kemampuan menulis yang masih seperti ini, aku pun memutuskan mengikuti tantangan menulis lagi. Aku harus membiasakan diri menulis setiap hari.

Aku mendapatkan tantangan menulis ini dari Mas Hery di IG. Beliau adalah teman satu kelompokku saat tantangan menulis bulan kemarin. Terima kasih, Mas Hery.

Saat kali pertama melihat judulnya, aku langsung jatuh hati. Aku merasa, tema ini cocok sekali untukku. Entah mengapa, ada banyak sekali pertanyaan yang ingin kutanyakan pada diri sediri. Dan ingin tahu sejauh mana aku mengenali diri.

Teman-teman yang tertarik mengikuti tantangan menulis ini, boleh sekali ikutan. Langsung saja mulai menulis dengan tema-tema yang tertera. Tidak apa-apa mulainya terlambat. Aku pun memulai menulis tidak dari tanggal 1 hehe

Selamat membaca dan menulis. Semoga setelah tantangan menulis ini berakhir kita semakin mengenali dan mencintai diri kita sendiri ♥

Advertisements

Enjoy the Little Things

Sahabatku tak pernah lelah memberikan doa-doa terbaiknya untukku. Bahkan saat kondisinya sedang kesulitan. Ia baru saja melahirkan. Dan sedang beradaptasi dengan peran dan keadaan yang baru. Ditambah permasalahan ASInya. Semakin berjuang saja ia pada Ramadan ini. Meskipun begitu, ia selalu mengingat kawan.

Pagi ini, ia mengirimkan sebuah kado. Katanya, kado ini adalah tanda cinta.

Sahabatku berharap, kado ini akan menjadi sebab kehadiran kami di surga kelak. Masya Allah :’)

Sebuah goodie bag biru datang ke rumahku diantar oleh ojek online. Di dalamnya terdapat sebuah gamis, jilbab, dan sekotak kue nastar. Di bagian paling atas direkatkan sebuah kartu ucapan bertuliskan “Enjoy the Little Things”. Ternyata kalimat tersebut tidak sekadar beberapa torehan kata yang biasa-biasa saja. Kalimat itu memiliki makna khusus. Di dalam kartu ucapan ia pun berbagi pandangan tentang itu.

Makna kalimatnya bagus. Hari ini, aku akan berbagi sedikit makna kalimat itu, ya. Mari kita berefleksi bersama.

Sahabatku mengatakan, katanya lebaran bukan tentang banyaknya kue, opor, dan ketupat yang aku habiskan. Bukan seberapa banyak THR yang aku dapatkan. Atau seberapa banyak orang-orang yang aku temui.

Maknanya sungguh jauh lebih besar dari itu. Versi sahabatku, lebaran adalah refleksi diri tentang bagaimana kabar dosa-dosa kita. Dosa kita banyak. Pada Bulan Ramadan ini ampunan Allah juga banyak. Namun, kita tidak tahu apakah dosa kita yang amat banyak ini sudah diampuni atau belum sama Allah. Meskipun begitu, kita harus tetap bersyukur dan yakin pada ketentuan Allah. Yakin bahwa Allah akan memberikan ampunan-Nya kepada siapa pun yang bersungguh-sungguh.

Lebaran juga sebagai tempat berefleksi diri bahwa betapa sedikitnya rasa syukur kita akan nikmat Allah. Padahal nikmat Allah begitu banyak tercurahkan pada hidup kita.

Sahabatku berharap, tanda cinta yang ia berikan mampu meningkatkan rasa syukurku. Sebab, Allah Maha Pemurah dan Maha Penyayang masih mengizinkan kami tetap menjalin persahabatan hingga kini.

Ia juga berharap, tanda cintanya mampu mempererat ukhuwah kami. Semoga kami juga selalu meluruskan niat. Perjalanan ukhuwah kami selama ini untuk siapa dan karena siapa. Dan semoga kami semakin istiqomah.

Di akhir kartu ucapan ia mengucapkan,“Selamat berbahagia di Hari Lebaran ♥.”

Setelah membaca ucapan tersebut aku pun tersenyum. Iya benar adanya bahwa kasih sayang Allah itu luas sekali. Allah sayang, maka, Allah menghadirkan sahabat baik yang selalu setia membersamai. Allah sayang, maka, Allah memberikan peringatan melalui nasihat sahabat-sahabat yang shalih.

Nikmati kebaikan kecil yang menghampiri hidup kita. Karena kebaikan itu, akan meluaskan dan menenangkan jiwa 🙂

Day 30 – Terima Kasih

Aku sangat bersyukur bisa mengikuti event 30 hari bercerita yang diadakan oleh @pejuang30dwc.

Maka, tulisan penutup tantangan menulis 30 hari ini, akan berisi beberapa ucapan terima kasih untuk orang-orang yang super menginspirasi 🙂

Pertama, untuk seluruh teman-teman yang mengikuti 30 Days Writing Challenge Jilid 18, atau biasa disebut “fighter”, terima kasih sudah memberanikan diri berbagi pikiran melalui tulisan selama 30 hari ini.

Meskipun sama-sama masih bingung konten apa yang seharusnya ditulis selama 30 hari, kita tidak pernah menyerah menulis. Dan tetap menyetor tulisan apa pun yang terjadi. Kalian luar biasa!

Kedua, untuk Kak Sari dan Kak Syamsu yang setia dan sedia setiap saat menjadi admin group selama 30 hari. Terima kasih sudah menghidupkan suasana group dan memimpin setiap diskusi online. Kak Syamsu yang selalu mengeluarkan kata-kata bijak tiap kali menyapa. Serta Kak Sari si ramah yang membuat “atmosfer” group full team terasa hangat. Sukses selalu untuk kakak!

Ketiga, untuk Kak Rezky sebagai mentor tulisan non fiksi. Terima kasih sudah memberi banyak sekali saran dan pertanyaan “menohok” untuk kami. Keduanya cukup membuat kami “berpikir keras merenungi”. Insya Allah kami selalu mengingat saran kakak, menjadi unik dan berbeda adalah modal untuk penulis. Sebab, pembaca kritis tak akan mau membaca karya yang “biasa-biasa saja”.

Ke empat, untuk Kak Rizka sebagai mentor tulisan fiksi. Terima kasih sudah memberi saran dan dukungan dengan cara yang menyenangkan. Berkat Kak Rizka, kami menjadi tahu bahwa menulis tidak sesulit itu. Selama kita masih bisa berpikir dan merasa, selama itu pula kita masih bisa menulis.

Ke lima, untuk squad 8, Hamda, Mas Hery, Kak Rose, Mbak Ika, Kak Imas, dan Kak Mamay. Terima kasih sudah “heboh” di group squad selama 30 hari ini wkwk tanpa kehebohan kalian, entahlah aku mampu atau tidak menyelesaikan tantangan menulis selama 30 hari.

Mengingat perkataan Hamda, yang tersulit adalah “terlalu banyak berpikir” namun lupa untuk “mengeksekusi”. Semoga kita tidak begitu lagi. Lakukan aksi meskipun hanya sedikit yang terealisasi.

Atau mengingat perkataan Kak Rose, sulitnya menuliskan pengalaman pribadi adalah karena tak juga menemukan figur. Semoga kita tidak kesulitan lagi. Karena sesungguhnya figur itu dekat. Ia ada pada diri kita sendiri. Semua hanya tentang mau atau tidak berpikir sejenak untuk memahami diri.

Sekian. Maafkan ucapan terima kasihnya panjang sekali. Terlalu sulit menahan diri karena rasa syukur yang super banyak ini 😂

#30DWC #30DWCJilid18 #squad8 @Pejuang30dwc #30dwcjilid18day30

Sumber foto: http://www.pexels.com

Day 29 – Merenung

Pernahkah kamu merasa pikiran terlalu penuh dan dada begitu sesak? Lalu bagaimana caramu menangani kondisi ini?

Kalau aku, tidak akan memaksakan diri. Sebab aku tahu, kondisi seperti ini adalah “tanda” bahwa aku butuh menyendiri untuk merenungi.

Dunia itu ramai dan bising. Dunia seringkali memaksa otak kita berpikir tiada henti. Dan dunia seringkali memaksa diri untuk selalu menerima orang yang banyak rupa. Tak peduli bagaimana kondisi diri.

Bila tidak pandai-pandai mengelola waktu, kita pun menjadi lupa memberikan “hak” pada diri sendiri. Kita tak sempat menenangkan pikiran dan merenungi semua hal yang sudah terjadi.

Lalu, apa jadinya bila sudah begini? Dampaknya akan bahaya sekali. Apa pun tak akan bermakna apa-apa untuk diri ini. Apa-apa yang orang lain lakukan tak akan memiliki arti. Semua hal yang pernah diperjuangkan tak pernah kita puji. Akhirnya, kita tak tahu arti menghargai dan lupa mensyukuri.

Semoga semua itu tidak terjadi. Tak apa pikiranmu penuh dan dadamu sesak sesekali. Namun, jangan lupa memberi waktu dan jeda untuk diri sendiri.

Sebab, merenung adalah hak kita yang harus dipenuhi.

#30DWC #30DWCJilid18 #squad8 @Pejuang30dwc #30dwcjilid18day29

Sumber gambar: http://www.wikihow.com

Day 28 – Meningkatkan Kualitas Diri

Setelah melakukan perubahan, lantas apa perjuangan selanjutnya?

Kita sama-sama tahu bahwa perjuangan tak akan berhenti selama masih mengembuskan napas. Iya, kita harus tetap berjuang selama masih hidup di dunia.

Tak ada yang mudah dalam menjalani kehidupan. Sebab, surga memang tak bisa didapatkan oleh siapa saja. Hanya ia yang tetap berusaha menggapai rida-Nya yang dapat mencapainya.

Berubah menjadi lebih baik adalah sebuah langkah awal. Kita harus mempertanggungjawabkan keputusan itu dengan cara terus meningkatkan kualitas diri.

Kita bisa belajar dari mana saja. Ilmu tentang perilaku, misalnya. Cara paling mudah adalah banyak mengamati orang-orang di sekitar. Meniru segala perbuatan baik dan mengambil hikmah dari perbuatan buruk orang lain.

Semakin lama hidup di dunia, ternyata ada banyak ilmu kehidupan belum kita tahu. Bagaimana menjalani peran sebagai anak, kakak, dan teman yang baik. Atau bagaimana menjadi tetangga yang baik.

Pilih media apa saja sebagai media belajar kita untuk mencari ilmu. Buku, youtube, artikel, atau apapun. Namun, jangan lupa, sebaik-baiknya tempat belajar adalah kepada ahlinya. Jadi, pilihlah mentor mumpuni dalam ilmu yang sedang kita tekuni 😊

Niat dan tekad untuk menjadi lebih baik adalah sebuah anugerah. Semoga kita tak lupa tentang kesyukuran.

Berusaha meningkatkan kualitas diri adalah bukti bahwa kita benar-benar bersyukur atas anugerah yang Allah telah beri.

#30DWC #30DWCJilid18 #squad8 @Pejuang30dwc #30dwcjilid18day28

Sumber foto: http://www.istockphoto.com

Day 27 – Menjadi Lebih Baik

Ketika memutuskan menjadi lebih baik, kita memang harus siap menerima dengan lapang dada semua tanggapan yang muncul kelak.

Entah tanggapan negatif atau berupa pertanyaan yang menantang kita supaya belajar lebih banyak lagi.

Seorang kawan pernah bercerita bahwa sebelum dirinya memutuskan berjilbab, ketakutan terbesar adalah tanggapan orang-orang di sekitarnya.

Ia takut tak bisa menjawab pertanyaan terkait ilmu-ilmu Islam. Sebab, ia menyadari dirinya pun jauh dari kata “mumpuni”. Ia masih harus banyak belajar lagi.

Ia juga takut mendengar bercandaan orang lain terkait jilbab yang lebih seperti “ejekan” daripada sebuah “candaan”.

Menurutku, ketakutan setelah perubahan adalah hal wajar yang setiap manusia rasakan. Kita penasaran respon apa yang kelak teman-teman berikan. Kemudian, cemas terhadap tanggapan negatif yang bermunculan. Akhirnya meragukan diri,“Apakah benar aku mampu dan pantas melakukan perubahan ini?”

Namun, itulah tantangan untuk kita. Bagaimana menjaga semangat untuk berubah, namun tetap ikhlas menerima tanggapan apapun yang orang lain berikan.

Lagi pula, kita memang tak bisa mengatur bagaimana orang-orang dan lingkungan merespon setiap perubahan yang kita lakukan.

Kita hanya bisa meyakinkan diri bahwa semua tanggapan itu tak akan mengurangi kadar niat dan tekad untuk berubah menjadi lebih baik. Begitu pula sebuah pujian. Hal itu tak akan menambah kadar niat dan tekad kita.

Niat dan tekad adalah kuasa kita. Bukan berada pada tangan manusia.

Jika rasa takut masih membelenggu, mungkin sebaiknya kita renungkan kembali. Kalau kasusnya jilbab tadi, sebenarnya motivasi kita menggunakan hijab itu karena apa dan untuk siapa.

Semoga semua perubahan itu hanya karena berharap rida-Nya. Sebab, hanya dengan cara itu, segala tanggapan manusia tak akan mampu menggoyahkan segala niat dan tekad kita.

#30DWC #30DWCJilid18 #squad8 @Pejuang30dwc #30dwcjilid18day27

Sumber foto: http://www.stevegreerphotography.com

Day 26 – Tenaga Super

Ada beberapa pilihan kita seringkali tidak dimengerti orang lain.
Mereka merasa kita terlalu “tangguh”.
Atau mungkin saja mereka merasa kita terlalu “nekat” melakukan semua itu sendiri.
Tetapi, biarlah mereka terus merasa dalam perasaannya sendiri.

Yang perlu dipahami, sebenarnya perasaan mereka itu adalah bentuk perhatian dan kasih sayang pada diri kita, lho 😁

Kita yang katanya “nekat” dan “tangguh” pasti memiliki sebuah alasan.

Kira-kira, alasannya mungkin seperti ini,

Setiap orang pasti memiliki suatu keinginan yang ingin dipenuhi.
Bila belum terealisasi, akan ada sesuatu yang tidak lengkap di dalam diri. Dalam rangka “melengkapkan” diri, ia harus seperti itu.

Ada seseorang yang ingin sekali pergi ke Bali. Maka, ia akan mempersiapkan diri untuk melakukan perjalanan ke Bali. Bahkan, mungkin saja ia akan “nekat” bepergian sendiri untuk memenuhi keinginannya itu. Jangan tanya alasannya apa. Ia pasti memiliki alasan kuat yang tidak akan kita pahami sebelum merasakannya sendiri.

Atau aku yang ingin sekali mengikuti i’tikaf saat Bulan Ramadan. Namun, harus berkali-kali gagal karena beberapa alasan. Bila tahun ini ada kesempatan i’tikaf, maka, sepertinya aku akan nekat pergi sendiri.

Tentang suatu pilihan dan keputusan orang lain, kurasa tak ada yang benar-benar mengerti dan memahami. Sebab, setiap orang memang memiliki “medannya” sendiri. Otomatis, masalah dan kebutuhannya pun tiap orang akan berbeda. Wajar saja bila “logika” kita tak paham atas pilihannya.

Kita hanya perlu tahu bahwa manusia kadang kala memiliki “tenaga super” bila dihadapkan oleh sesuatu hal yang bernilai dalam hidupnya. Jadi, tak perlu lagi merasa aneh dengan pilihan orang lain. Sebab, setiap kita akan memiliki “tenaga super” pada waktunya 😊

#30DWC #30DWCJilid18 #squad8 @Pejuang30dwc #30dwcjilid18day26

Day 25 – Memaknai Kata “Menang”

Kita memaknai kata “menang” tidak seperti saat kecil dulu. Seperti, ketika mampu mendapat juara pertama, kita menang. Ketika mendapat nilai tertinggi pada suatu pelajaran sekolah, kita menang. Bahkan, ketika mampu mengalahkan seseorang yang dianggap “saingan” pun, kita merasa menang.

Semakin dewasa, kita paham bahwa kata “menang” memiliki makna lebih luas dari itu.

“Menang adalah ketika gue mampu mengalahkan diri sendiri.” kata niar.

“Menang adalah ketika kita mampu mencapai sesuatu dengan usaha, sabar, dan doa.” kata Nunu.

“Menang adalah sesuatu yang diraih dengan tekad serta perjuangan yang jujur, tanpa merugikan orang lain.” kata Syifa.

“Menang adalah tidak menyerah pada diri sendiri.” kata Dela.

“Menang adalah ketika kita mampu mengalahkan ego demi kepentingan bersama.” kataku.

Secara tersirat, makna menang bagi diri sendiri adalah bukti bahwa kita masih terus bersemangat menjadi manusia yang lebih baik lagi.

Kita yakin, ada tanggung jawab yang harus dikerjakan. Kita pun tahu, ada hak-hak orang lain yang harus ditunaikan.

Semakin dewasa, ternyata kita semakin bijaksana saja. Tidak seperti waktu kecil yang menganggap “lebih unggul dibanding orang lain” adalah suatu kemenangan yang harus didapatkan. Kini malah sebaliknya.

Kita sadari sepenuhnya bahwa “setiap manusia harus berusaha menjadi pemenang dalam hidupnya sendiri”. Bukan karena kita selalu berusaha memenuhi standar orang lain. Melainkan, kita tahu betul pengendali dalam diri ini hanyalah diri sendiri. Dengan cara itu, kita pun tak akan menjadi benalu pada kehidupan orang lain.

#30DWC #30DWCJilid18 #squad8 @Pejuang30dwc #30dwcjilid18day25

Day 24 – Kesadaran

Ini foto bersama sebelum ban motor bocor. Kami baru saja selesai menonton film Upin Ipin. Takdir memang begini. Kita tak pernah tahu kejadian apa yang menghampiri beberapa jam lagi :’)

Ini adalah kejadian ke sekian kalinya. Ketika logika seakan mati rasa karena keberanian yang berlebihan. Aku yang menolak ingat bahwa kejahatan itu sangat dekat.

Beberapa bulan lalu, ayah memarahi karena aku selalu nekat melewati jalan raya kampus itu pada malam hari.

Aku tidak takut. Karena di sana masih banyak mahasiswa berkumpul mengerjakan tugas.

Lagi pula, aku dapat memangkas jarak. Tidak ada kemacetan pula. Dan mendapat bonus merasakan udara malam yang dingin.

Ayah pun segera memberi pertanyaan menohok,“Lebih sayang sama nyawa atau mengutamakan jalan yang tidak macet?”

“Di sana rawan begal, Mbak. Jangan lewat sana.” tambahnya.

“Siap, yah!” kataku menurut.

Kejadian malam tadi,

Ban motorku bocor. Malam ini, aku bersama adik-adik. Danang dan Satria. Sebelum mengambil keputusan sendiri, seperti biasanya, aku pun meminta izin kepada ayah. Dan ayah mengizinkan.

Singkat cerita, aku akhirnya mendorong motor sampai rumah. Si kecil aku dudukkan di atas motor. Sedangkan Danang berjalan kaki memantau kami dari belakang.

Mendorong motor, aku kuat. Menjaga adik-adik, tentu saja aku bisa. Namun, mendorong motor di kegelapan bersama dua anak kecil ternyata super menakutkan. Bukan takut hantu. Melainkan, takut ada orang yang berbuat jahat.

Kejadian malam ini membuatku sadar bahwa tidak selamanya kita harus menuruti keberanian dalam diri. Ada kalanya, kita harus berpikir berulang kali untuk memikirkan kemungkinan-kemungkinan terburuk.

Tidak masalah, menunggu lama atau melalui jalan yang lebih jauh. Sebab, keselamatan selalu utama.

Kejahatan itu dekat. Ia tidak datang kepada orang yang lalai saja.

Kita harus waspada. Kalau kata Bang Napi pada berita sergap, kejahatan bukan semata-mata karena ada niat dari pelakunya, tetapi juga karena ada kesempatan.

Saranku untuk perempuan, sekuat apapun kita, kodrat perempuan memang tak memiliki kekuatan fisik sekuat laki-laki. Maka, bila berada dikondisi yang membahayakan, baiknya jangan terlalu merasa “mampu”. Karena, pada beberapa kondisi perempuan memang tidak bisa berjuang sendiri.

Apalagi seperti kedua contoh yang aku berikan di atas. Kita harus berhati-hati. Sebab, potensi para pelaku kejahatan adalah laki-laki. Kita sebagai perempuan tak akan mampu beradu fisik seorang diri.

#30DWC #30DWCJilid18 #squad8 @Pejuang30dwc #30dwcjilid18day24

***

Aku sedang latihan menulis rutin lagi. Jadi, aku mengikuti 30 hari bercerita yang diadakan akun instagram (IG) @Pejuang30dwc. Karena IG sedang bermasalah, untuk sementara aku unggah tulisan di wordpress ini.

Barangkali, teman-teman ingin membaca tulisan day 1 sampai day 21, silakan lihat di IG @shintakrs 🙂

Day 23 – Luka Masa Lalu

Siapapun bisa melukai hati kita. Keluarga, teman, atau bahkan orang tak dikenal yang kita temui di jalan.

Kita dan orang tua pun seringkali saling menyakiti. Orang tua yang diktator, mampu membuat hati anaknya terluka. Anak yang senang berargumentasi, mampu membuat hati orang tua terluka.

Dulu saat kecil kita tidak menyadarinya. Namun, semakin dewasa ternyata kita mulai belajar menghubungkan sikap yang dipunya ini dari mana asalnya.

Ternyata, sikap kita selama ini adalah hasil dari pembelajaran atau luka masa lalu yang belum tersembuhkan.

Misalnya saja, seorang anak yang jarang diapresiasi dan dituntut untuk selalu mencapai apa yang orang tua inginkan, ternyata tidaklah baik-baik saja. Ia terluka. Karena segala upaya yang diusahakan ternyata tidak bermakna apa-apa.

Luka yang didapat ternyata berdampak untuk kehidupan selanjutnya. Ia tumbuh menjadi seseorang yang terus membuktikan. Lalu, meragukan atas segala yang telah diupayakan.

Atau mungkin ada sikap lainnya yang sampai saat ini kita belum menyadarinya.

Sebab luka tak tahu dimulainya sejak kapan dan berakhir sampai kapan tepatnya, semoga kita lebih berhati-hati terhadap luka.

Meskipun tak ada luka yang sembuh sepenuhnya, semoga sebuah permintaan maaf bisa menjadi penawar rasa sakitnya.

Mengetahui bahwa kita bisa terluka kapan saja, semoga kita mau meluaskan jiwa. Agar segala luka dan rasa sakit dapat pulih dengan segera.

#30DWC #30DWCJilid18 #squad8 @Pejuang30dwc #30dwcjilid18day23

Sumber foto: http://www.stylizimoblog.com