Januariku

Sebaik-baiknya sikap terhadap diri sendiri kurasa adalah mengapresiasi diri.

Bulan Januari selalu spesial. Karena pada bulan ini mama melahirkan anak pertamanya yaitu, aku. Bila tiba tanggal itu, betapa bahagianya aku. Aku diberi kesempatan untuk hidup. Dan aku dilimpahkan banyak doa-doa baik dari keluarga dan sahabat tersayang.

Menyadari bahwa masih ada orang-orang terdekat masih mengingat, aku bersyukur dan berterima kasih akan itu.

Beberapa ada yang mengucapkan dan mendoakan tepat waktu.

Beberapa ada yang meminta maaf karena terlambat mengucapkan dan mendoakan.

Tak pernah ada kata terlambat untuk doa-doa yang terapalkan. Bukankah bulan dan tanggal kelahiran hanya momen semata? Doa kapanpun bisa kita rapalkan untuk orang-orang tersayang.

Tentang Kesyukuran Selama Tahun 2018

Tahun 2017 adalah tahun pertama setelah aku pulang dari ngekos. Selama satu tahun, waktuku lebih banyak dihabiskan bersama keluarga. Pulang kerja, langsung pulang ke rumah. Libur akhir pekan, aku juga memilih berada di rumah. Keluar rumah pun tetap bersama keluarga. Entah makan bersama atau aku meminta ditemani adik membeli kebutuhan sehari-hari. Saat itu, aku rindu sekali dengan rumah dan keluargaku.

Berbeda dengan tahun 2018. Selama 2018, aku mulai melakukan beberapa kegiatan di luar rumah seperti, hadir dalam liqo dan kajian pekanan, hadir dalam seminar Teman Bicara, berpartisipasi menjadi kakak mentor pesantren anak, bekerja di luar Depok (lagi), bertemu secara rutin dengan sahabat, ikut arisan, dan berkenalan dengan teman-teman baru. Tetap konsisten melakukan kegiatan itu semua, aku berterima kasih pada diriku sendiri. Meskipun tahun 2018 belum terlalu banyak mengikuti kegiatan relawan, aku tetap bersyukur. Terima kasih Shinta telah bergerak mencoba.

Dalam hal mengelola emosi, tahun 2018 juga menjadi saksi betapa aku berjuang mengendalikan diri.

Berikut ada beberapa hal yang aku pelajari yaitu, menjaga diri agar tidak marah. Meskipun sulit, aku harus bisa. Terutama terhadap orang-orang terdekat. Terkadang, mengendalikan diri di luar rumah lebih mudah dibandingkan di rumah sendiri. Karena kita merasa, bagaimana pun keadaan kita, keluarga akan selalu menerima. Jadilah kita bertindak semena-mena 😦

Menjadi terlalu peka dan perhatian terkadang harus dikondisikan. Sebab, ada hal-hal memang bukan dalam kendali kita. Kita harus sadar, tidak semua hal dapat diselesaikan oleh diri sendiri. Ada sosok lain yang lebih bertanggung jawab untuk perihal itu.

Bersikap manis itu tak ada salahnya. Menunjukkan wajah senyum ramah, menebarkan sapa dan salam, tertawa sekadarnya, dan memberikan intonasi suara yang bersahabat. Bukankah setiap manusia selalu senang diperlakukan dengan manis?

Mengalah demi kebaikan bersama sungguh tak apa. Toh, mengalah tak akan membuatku sakit kepala. Terkadang, yang membuat aku begitu egois adalah keinginan untuk dihargai lebih dulu. Padahal, saat itu yang terpenting bukan itu. Yang paling penting adalah bagaimana cara memperbaiki hubungan yang sedang renggang.

Tetap berada di koridor baik meskipun berada pada koridor yang salah. Seringkali kejadian menyakitkan membuat aku kehilangan kewarasan. Aku lupa sikap baik apa yang sebaiknya dilakukan pada kondisi ini. Aku lupa prinsip ‘tetap menjadi baik meskipun diperlakukan tidak baik’. Aku belajar, bagaimana menjaga kesadaran apapun keadaannya. Aku belajar, bagaimana menjaga identitas diri apapun kondisinya.

Jangan terbuai dengan kenyataan. Seringkali kenyataan membuat kita terlalu yakin bahwa situasi akan berjalan sesuai prediksi. Apa yang kita amati, lihat, dan rasakan memang seringkali terasa begitu nyata. Seolah-olah kita yakin dengan masa depan. Pikiran yang visoner sering kali mengaitkan kenyataan dengan harapan. Bila kenyataan dan harapan berjalan beriringan, oh sungguh bahagianya diri. Meskipun beriringan, padahal tidak ada yang tahu bagaimana takdir esok hari. Bisa jadi buruk, bisa jadi baik.

Manusia tidak pernah tahu apa yang akan terjadi esok hari. Semua hanya Tuhan yang tahu. Oleh karena itu, jika tidak ingin kecewa, tautkan semua harapan dan mimpi hanya pada-Nya.

Sebaik-baiknya sikap terhadap diri sendiri kurasa adalah mengapresiasi diri.

Maka aku ingin mengapresiasi diri. Terima kasih banyak, shinta. Terima kasih telah melakukan banyak hal baru, terima kasih telah memutuskan untuk kuat dan tegar, terima kasih telah berbaik sangka, terima kasih telah berusaha memperbaiki diri, dan terima kasih karena memilih berjalan meskipun banyak kesempatan untuk berhenti.

Advertisements

Mengelola Rasa Mencipta Bahagia

Keluarga itu terdiri dari lima orang.
Kakek dan nenek, satu wanita dewasa, satu pria remaja, dan satu anak kecil.
Aku menebak anak kecil itu adalah cucu si kakek dan nenek.
Aku menebak wanita dewasa adalah ibu si anak kecil.
Dan si pria remaja adalah adik si wanita dewasa.

Pengamatan memang sering menciptakan asumsi, ya.
Baiknya, asumsi segera diverifikasi dengan bertanya langsung.
Namun, kondisiku saat ini tidak perlu melakukan itu.
Aku hanya ingin menikmati kehangatan keluarga itu.

Si kakek sedang sakit.
Ia terapi wicara hari ini.
Namun, antrean masih begitu lama.
Keluarga tampak biasa saja.
Kebanyakan orang, biasanya akan menunjukkan mimik wajah kecewa.
Tetapi berbeda dengan mereka.

Mereka menikmati waktu tunggunya.
Si wanita dewasa mengeluarkan beberapa potong roti.
Keluarga melahap roti sambil berbagi tawa.
Sesekali si nenek bercengrama dengan si kecil dengan wajah bahagia.
Sesekali dikecupnya pipi si kecil sebuah tanda cinta.
Begitu juga si kecil, ia tampak seperti sedang bermain saja.
Kakek pun juga sama.
Tak menunjukkan wajah kecewa.
Ia menunggu dengan tenang tanpa mengeluh apa-apa.

Mencipta bahagia ternyata hanya perlu kemauan kita mengelola rasa.
Mencipta bahagia ternyata hanya tergantung bagaimana cara pandang kita.

Memang bukan hal mudah tetap berbahagia pada kondisi yang kurang menyenangkan. Tetapi, mereka bisa. Kita pun juga bisa bila mau mengusahakannya. Semangat, ya 💪

Teman Seperjalanan

Saya tidak nyaman dengan keramaian. Menumpuknya orang di kiri, kanan, depan, dan belakang mampu membuat keadaan fisik menjadi tidak baik.

Kekuatan pikiran bekerja disini. Ketika saya meyakini ketidaknyamanan akan tempat ramai, maka otak saya pun akan memberi instruksi kepada semua sistem tubuh. Alhasil, pikiran tidak nyaman dan tubuh pun menjadi tidak karuan.

Siapapun tahu, melakukan perjalanan pada akhir pekan tentu akan penuh dengan banyak orang. Namun, demi kebersamaan dan momen ini sangat langka, maka saya pun mengalah dan menguatkan diri agar bertahan pada keramaian.

Taman Hebal Insani, namanya. Lokasinya berada di Depok. Taman ini tidak begitu luas. Taman sederhana yang sebenarnya cukup untuk menghibur warga Depok. Saya belum mencari informasi tentang taman ini melalui internet. Namun, hasil dari pengamatan yang dilakukan kemarin, beberapa arena bermain yang disediakan di sana adalah kolam renang, tempat memancing, rakit (Bagi yang belum tahu, rakit itu semacam bambu yang disusun menyerupai perahu. Jadi, bisa mengambang dan bisa dinaiki oleh kita. Rakit tidak bisa dinaiki oleh banyak orang. Perkiraan saya, kemungkinan rakit hanya bisa menampung dua atau tiga orang saja), kolam ikan, peternakan kambing dan kerbau, dan beberapa spot disertai beberapa aksesoris untuk foto bersama keluarga.

Kesan pertama terhadap tempat wisata ini memang kurang baik. Sebab, jalur masuk dan keluar kendaraan hanya satu pintu. Jadi, antara mobil dan motor saling bentrok. Para tukang parkir pun terlihat kebingungan. Melihat aksi tukang parkir, saya menduga tempat wisata ini masih baru. Sebab, pengaturan dasar tentang jalur masuk dan keluar kendaraan saja belum jelas. Beruntungnya, para pengunjung memiliki kesabaran dan kesadaran yang tinggi. Jadi, selain tukang parkir yang memang mengatur, para pengunjung pun turut bersabar dan menahan diri untuk tidak saling mendahului.

Karena lokasi tidak begitu luas, para pengunjung lebih banyak menggelar tikar/alas untuk duduk daripada menikmati arena bermain. Menikmati arena bermain pun sulit. Melangkahkan kaki saja sulit karena penuh dengan orang. Sejujurnya, saya tak sanggup dengan kondisi tersebut. Jika bisa, rasanya ingin mengibarkan bendera putih tanda menyerah. Jika ada, rasanya ingin menggunakan jurus menghilangnya Kiansantang. Jika bisa, rasanya ingin menggunakan pintu kemana sajanya doraemon. Sayang, tak ada dan tak bisa. Maka, untuk mensiasatinya dan mengendalikan diri agar tetap kuat (hahaha, ini nggak berlebihan, serius. Saya selalu hampir pingsan bila berada dalam keramaian 😂), saya mencari lokasi yang lumayan luas dan sedikit orang . Ada sebuah kali dengan pagar berada di sisi kanan saya. Saya pun berdiam diri disana. Supaya tetap bahagia, saya juga membeli minuman dingin. Beristirahat di pinggir kali ditemani minuman dingin, Alhamdulillah, membuat keadaan menjadi lebih baik. Alhamdulillah, tidak jadi pingsan hahaha 😂

Melihat kondisi tempat wisata seperti itu membuat saya tidak ingin berlama-lama di sana. Saya dan teman seperjalanan pun sepakat untuk segera pulang. Sebenarnya tidak pulang, akan lebih baik bila kami mencari tempat makan untuk mengisi perut ini. Kami lapar sekali. Selain beristirahat di pinggir kali dan minuman dingin, saya rasa mencari tempat makan adalah ide yang brilian 😁

“Aku mau foto di rumah bambu itu.” ia menunjuk sebuah rumah bambu dengan aksesoris topi petani. Di sekitarnya, penuh dengan lautan manusia. Sungguh, ramai sekali disana. Saya pun tidak bisa membedakan tim mana yang sedang berfoto dan tim mana yang sedang antre.

“Aku capek banget. Dia juga capek. Kami kehabisan tenaga. Gimana kalo kita foto disini aja? Yang penting foto bersama ‘siapanya’ kan bukan foto ‘dimananya’?” saya mengungkapkan perasaan dengan peluh keringat didahi dan berharap ia mengerti.

“Aku pernah kesini satu kali dan nggak berhasil foto di sana. Teman-temanku waktu itu puas banget foto di sana. Aku juga mau. Ayo, aku pengin foto.” ia menjawab cepat sambil menunjuk spot berfoto yang ia inginkan. Ia tidak mempertimbangkan keadaan kami. Ia pun tidak menanggapi keluhan kami tadi. Ia hanya memikirkan dirinya sendiri. Kami kehabisan kata-kata bagaimana menanggapi perkataannya kali ini.

Kami beradu argumen sebentar. Aku dan dia sama-sama keras kepala. Sulit sekali menemukan titik temu dan kesepakatan.

“Baiklah, ayo kita kesana. Setelah itu kita pulang ya.” kataku mengalah. Sebelum mengatakan itu, sebenarnya aku menarik napas panjang sejenak. Dalam hati aku mengatakan, ia benar-benar belum tahu hakikat perjalanan bersama teman.

Dalam keramaian itu, tak ada barisan antre. Orang-orang saling memotong antrean dan berpose ria disana. Seakan tak peduli siapakah yang berdiri lebih dulu di sana. Seakan tak peduli tentang orang lain yang juga begitu ingin berpose ria di sana, seperti teman saya contohnya. Sungguh pemandangan yang tak baik disaksikan anak-anak.

Selesai berfoto di sana, teman saya tersenyum riang dan tidak merengek lagi. Ia pun menurut kami ajak pulang. Bukan pulang, tetapi mencari tempat makan yang nyaman dan membuat perut kenyang.

***

Temanku sayang,

Tahukah kamu mengapa sebaik-baiknya perjalanan adalah bersama teman? Tentu, sebagian orang merasa mampu melakukan perjalanan panjang tanpa satu orang pun teman. Tetapi, sejatinya ia tetaplah tidak mampu. Ia mungkin saja berangkat seorang diri dari rumah. Namun, pada lokasi yang ia tuju, tetap saja ia membutuhkan bantuan orang lain. Orang lain untuk membuatkan ia satu gelas teh hangat di warung kopi, misalnya. Atau orang lain yang membantu menunjukkan arah, misalnya. Manusia tak akan pernah bisa hidup seorang diri.

Lalu, jika memang bisa melakukan perjalanan seorang diri, tahukah kamu mengapa perjalanan bersama teman tetaplah yang paling baik? Alasannya, perjalanan bersama teman akan memberikan kamu banyak hal.

Perjalanan bersama teman akan melatihmu untuk bersabar. Meskipun kamu mampu berlari, kamu harus tetap berjalan perlahan. Ada teman yang perlu kamu tunggu dan bantu.

Perjalanan bersama teman akan melatihmu untuk bersabar dan membuat hatimu lebih lapang. Meskipun kamu mampu meraih segala keinginan, kamu harus tetap menahan. Ada banyak pikiran teman seperjalanan yang perlu kamu pikirkan. Ada banyak perasaan teman seperjalanan yang perlu kamu pertimbangkan. Bersama teman, kamu akan menjadi sosok yang baru. Sosok yang tidak egois, bersabar, dan mengutamakan kebaikan bersama.

Temanku sayang, perjalanan bersama kalian kemarin pun melatih kemampuan baru untukku. Aku dilatih untuk mencari kenyamanan di dalam ketidaknyamanan. Dan semakin sadar bahwa aku tak akan pernah bisa mengendalikan orang-orang dan lingkungan di sekitarku. Maka, aku harus mengendalikan diriku sendiri.

Semoga kita bisa memaknai dengan baik sebuah perjalanan. Tetapi, tanpa pernah kamu minta, perjalanan akan memberimu begitu banyak, kok. Sama seperti pengalaman, ia selalu menjadi guru terbaik.

Pengagum Seni

Seni selalu memiliki tempat khusus dalam diriku. Tiap kali berinteraksi dengan seni, selalu ada perasaan membuncah dihati. Perasaan nyaman dan senang. Maka, aku selalu setuju dengan istilah tidak pernah ada yang salah dengan seni. Bersama seni kesalahan pun tetap bisa menghasilkan karya yang indah.

Aku tahu bakat tidak sepenuhnya menjadi faktor penentu karya seseorang. Jadi, jika saat ini kamu pandai menggambar dan melukis, bisa jadi itu karena memang ketekunanmu sendiri. Kamu pasti senang berlatih, berlatih, dan berlatih. Kalau aku, berlatih pun tidak. Jadi, wajar sekali kemampuan menggambar hanya sebatas dua buah gunung, matahari di tengah, dua awan di atas, dan beberapa persawahan di bawahnya 😂

Menyanyi

Saat sekolah dasar dulu, aku pernah beberapa kali lomba bernyanyi lagu wajib mewakili sekolah. Meskipun tidak pernah peringkat satu, mendapat peringkat ke dua membuktikan kepada diriku sendiri bahwa suaraku tidak begitu jelek-jelek banget. Kemampuan bernyanyiku memang lumayan sering diasah. Hal itu terjadi karena hobi ibuku adalah karaokean di rumah. Jadi, jika ibu senang karaokean, normalnya, sebagai anak pasti termotivasi untuk melakukannya juga kan? Pengalaman memang berperan penting dalam meningkatkan bakat dan kemampuan seseorang, ya.

Membuat scrapbook

Aku tidak ingat sejak kapan. Yang jelas, saat sekolah menengah atas aku senang melakukan uji coba membuat prakarya. Saat itu, aku sedang gencar membuat scrapbook. Cara membuatnya sebenarnya tidak begitu sulit. Kamu hanya perlu mengumpulkan niat yang besar untuk mengumpulkan foto-foto lama. Lalu, foto tersebut dicetak dan kemudian digunting sesuai keinginan.

Supaya semakin enak dipandang, dulu, aku senang menghias scrapbook dengan tulisan dan beberapa kertas origami. Dan beberapa pita untuk mempermanis karya tersebut. Hasilnya lumayan bagus. Hobi ini dulu kugunakan untuk membuat kado teman. Teman senang dan aku pun riang.

Sejak saat itu aku tahu, membuat scrapbook tidak membutuhkan keahlian khusus. Kita hanya perlu niat yang besar, keuletan dan kesabaran. Aku dulu pernah membakar sedikit pinggiran kertas dengan menggunakan api. Tujuannya, supaya motif bakaran tersebut memberikan kesan unik pada kertas.

Aku juga pernah memotong dan membolongkan lebih dari 20 kertas untuk dijadikan buku secara manual. Alasannya sederhana, aku ingin motif yang berbeda pada setiap halaman hahaha ribet ya? Tidak juga. Niat yang besar terkadang melupakan logika. Niat yang besar terkadang bisa mendobrak batas kemampuan kita. Ternyata, kita mampu lho bila kita mau.

Menggambar

Aku belum bisa menggambar. Menggambar satu manusia utuh pun belum bisa. Goresan pensilnya masih terlihat sangat kaku. Beberapa tahun yang lalu, aku pernah mencoba membuat gambar naruto untuk adikku. Ternyata bisa. Meskipun tidak begitu bagus, gambar tersebut berhasil terlihat seperti naruto. Dari pengalaman itu aku menjadi tahu bahwa setiap orang sebenarnya bisa menggambar. Kita hanya perlu berlatih lebih banyak.

Aku senang membuat karya seni. Aku juga selalu menjadi pengagum seni. Aku mengagumi mereka yang memiliki suara bagus. Aku mengagumi mereka yang pandai bermain alat musik. Aku mengagumi mereka yang mampu menggambar dan melukis. Aku betah berlama-lama mengamati mereka melakukan bakat-bakat itu. Aku betah berlama-lama mengamati karya mereka. Aku juga tak sungkan memuji karya-karya mereka.

Karya yang luar biasa bukan hasil dari bakat yang sudah di bawa sejak lahir. Ada perjuangan keras yang menyertainya. Mereka pasti telah melalui hari-hari berat untuk terus berlatih. Mereka pasti telah melakukan apresiasi diri berulang kali hingga akhirnya menghasilkan karya yang begitu mengagumkan.

***

Tulisan ini terinspirasi dari adikku yang sedang mencoba berkarya lagi. Mengalahkan rasa takut memang tidak mudah. Sebab, ada banyak sekali pembanding yang lebih bagus dan lebih luar biasa. Tetapi, pada karya setiap orang pasti memiliki keistimewaan tersendiri. Setiap orang memiliki ciri khas tersendiri. Jadi, berkarya saja yang banyak. Sebab, kamu tidak tahu, karyamu yang ke berapa, mampu menginspirasi orang lain. Kamu tidak tahu, karyamu yang mana, mampu membuat orang lain bahagia.

Seperti aku ini, berkatmu, aku jadi termotivasi untuk belajar menggambar lagi.

Seperti aku ini, aku mengagumi karya-karyamu. Bahkan untuk setiap kesalahan yang kamu lakukan, aku tetap mengagumimu. Karena kamu, telah mengalahkan rasa takut dan memilih maju 😍👍

Pandanganku tentang Luka

“Aku adalah orang yang setia. Aku pernah membersamai orang lain lima tahun lamanya. Kami cocok. Aku mengandalkannya. Dia pun mengandalkanku. Kami saling percaya. Di usia yang dulu masih belum matang, bahkan aku sudah yakin ingin menjalani hubungan serius. Aku yakin menikah dengannya. Namun, semua selesai. Dia melepaskan tanganku. Ia mengambil jalan lain. Ia berjalan cepat tanpa menoleh ke belakang.” Ia bercerita dengan wajah datar.

“Aku butuh waktu lama untuk pulih. Setelah pulih, aku menjadi orang yang baru. Aku tidak lagi percaya kepada selain-Nya. Bagaimanapun orang meyakinkan, aku tak pernah percaya seutuhnya. Kita tidak boleh berharap banyak pada selain-Nya kan? Berharap pada manusia hanya memberi kecewa saja. Memberi cinta itu sekadarnya saja. Memberikan rasa sayang sekadarnya saja. Kamu harus seperti itu bila mau menjaga hati.” Ia berbicara lancar dengan penuh keyakinan.

“Begitu kah yang ada dalam pikiranmu tentang rasa cinta dan kepercayaan?” Aku hanya mendengarkan dan melontarkan satu pertanyaan saja. Tidak banyak menanggapi. Sebab, kondisi saat ini bukan lagi saat yang tepat untuk berdiskusi. Ia telah memilih jalannya. Bersama orang yang dicintainya. Dan aku pun tahu, ia meninggalkan ‘bagian dirinya di belakang’. Bagian untuk memberi rasa cinta dan kepercayaan pada orang lain. Ia berubah. Luka yang teramat membuat ia meninggalkan beberapa bagian dirinya di belakang. Ia tetap bahagia. Yang terlihat seperti itu. Tetapi, entah bagaimana kondisi hati yang sebenarnya. Semoga juga dalam keadaan bahagia.

***

Aku ingin menanggapi kondisi temanku itu. Tulisan di bawah akan berisikan pandanganku tentang luka dan cara menyembuhkannya.

Aku pernah terluka. Begitu dilukai, tentu rasanya sakit. Hatiku begitu sakit. Dilukai oleh perkataan seseorang yang tidak begitu kenal saja mampu melukai hati. Bagaimana rasanya bila seseorang yang melukai adalah dia yang kamu percaya? Dia yang begitu kamu sayangi dan kasihi? Tentu sakit sekali. Tentu butuh perjuangan keras untuk bangkit.

Kalau aku, biasanya, tiap kali terluka selalu membayangkan luka tersebut seperti luka cidera kecelakaan. Luka paska kecelakaan saja bisa sembuh. Luka dihati juga harus sembuh. Aku hanya perlu waktu saja. Waktu akan menyembuhkan.

Aku memilih untuk tidak seperti temanku. Aku tidak akan meninggalkan ‘beberapa bagian diriku’ di belakang karena luka. Aku akan berusaha menjadi orang yang sama. Aku akan tetap menjadi Shinta yang keluarga dan sahabatku kenal. Aku bisa memberikan rasa percaya bila orang lain berusaha dan memberikan bukti nyata.

Aku tetap percaya bahwa ketulusan itu tetap ada. Jika terus terlukai, itu hanya tentang waktu saja. Waktunya untuk merasakan luka. Mungkin, Allah ingin aku mengenal rasa sakit. Sehingga, jika nanti merasakan kebahagiaan, aku akan bersyukur.

Aku tetap percaya bahwa orang yang baik itu masih banyak. Jika terus bertemu orang yang tidak tepat, itu lagi-lagi hanya tentang waktu saja. Saat ini bukan waktu yang tepat bertemu dengan orang yang tepat. Mungkin, Allah ingin aku belajar tentang kesabaran. Sehingga, jika nanti bertemu dengan orang yang tepat, aku akan menjaga, memperlakukan, dan menghargainya dengan baik.

Lagipula, rasanya tidak adil bila aku berhenti percaya bahwa orang tulus itu ada. Rasanya juga tidak adil bila aku terlalu berhati-hati, hingga lupa menjadi diri sendiri. Setiap orang berhak diberikan kesempatan untuk membuktikan, kan? Dan sungguh sayang, bila identitas diri ini berubah hanya karena sebuah luka.

Bila aku mengatakan bekas luka itu tidak ada, tentu aku berbohong. Bekas luka tetaplah ada. Kenangan rasa sakit juga tetap ada. Bila mengingatnya kembali, tentu saja sakitnya tetap terasa. Tetapi, biarlah ia berada dalam ruang masa lalu di belakang sana. Biarlah ia berada di tempatnya. Fokusku, tetap berjalan ke depan. Berjalan ke masa depan.

Aku dan masa lalu adalah satu kesatuan. Tak akan pernah bisa dipisahkan. Masa lalu dan rasa sakit memberiku begitu banyak. Contohnya pemikiranku tentang tulisan ini. Berkatnya, aku mampu berpikiran luas dan terbuka terhadap hal yang tidak menyenangkan. Berkatnya, aku siap menyembuhkan luka yang kerap datang. Dan berkatnya, aku selalu berusaha membuka hati dan memberikan ruang kepada siapapun yang berbuat baik.

Berhati-hati boleh, namun, jika itu kebaikan, jangan mengingkari dan mengabaikannya. Terima kebaikan apapun, ucapkan terima kasih, dan syukuri. Berbaik sangka itu menyehatkan jiwa. Oh iya, menyehatkan tubuh juga 😉

Hikmah Satu Bulan Tanpa Ayah

Ayah yang biasa membantu segala keperluan, harus absen selama satu bulan karena keperluan pendidikan. Alhasil, kami harus bertahan satu bulan di rumah tanpa sosok ayah. Kami harus bertahan satu bulan di rumah, tanpa peran ayah. Rasanya seperti apa? Rasanya sungguh sedih dan kehilangan. Ah, mengapa menusia selalu saja begini, baru merasakan pentingnya seseorang ketika orang tersebut menghilang? Baru mensyukuri kebaikan seseorang ketika orang tersebut pergi? Apakah harus merasakan kehilangan dahulu, baru setelahnya kita memiliki hati yang peka? Ah dasar manusia. Ah dasar aku.

Banyak ketidakeraturan hadir ketika ayah tak ada di rumah. Banyak kegamangan hadir ketika ayah tak ada. Banyak kekhawatiran hadir ketika ayah jauh dari sisi kami. Banyak kecemasan hadir ketika ayah tak disini. Kami tidak merasa tenang tanpa ayah di rumah. Mungkin kami tidak bisa jauh dari ayah. Kata orang, bisa karena kita terbiasa. Tetapi aku tak yakin perkataan orang tersebut. Sebulan terbiasa tanpa ayah, nyatanya kami tetap saja tidak terbiasa. Seperti ada yang hilang. Kami tidak lengkap tanpa hadirnya ayah.

Merasakan ketidakhadiran sosok ayah dalam keluarga membuat aku sadar mengapa setiap manusia harus menikah. Manusia membutuhkan manusia lainnya untuk saling membantu. Manusia membutuhkan manusia lainnya untuk bekerja sama. Manusia membutuhkan manusia lainnya untuk saling menguatkan.

Istri yang begitu mudah menggunakan perasaannya, hingga terkadang hal tersebut menyulitkan dalam menyelesaikan setiap masalah. Suami yang begitu mudah menggunakan logika, terkadang hal tersebut menyulitkan dalam memahami perasaan orang lain. Suami dan istri bersama untuk saling melengkapi kan? Allah Maha Tahu segala kelebihan dan kekurangan ciptaan-Nya. Sungguh indah dan sempurna segala ketentuan Allah :’)

Pelajaran terbaik memang mendapat hikmah dari sebuah kehilangan. Namun, jika mau mengusahakannya, kita bisa mendapatkan hikmah tanpa harus merasakan kehilangan dahulu. Melihat kekurangan orang lain memang lebih mudah daripada melihat kebaikan. Karena pada dasarnya manusia lebih sering melihat kekurangan dibandingkan nikmat. Tetapi, jika mau, kita bisa kok melihat kebaikan-kebaikan orang lain. Ada banyak nikmat dan kebaikan yang patut kita syukuri.

Ada banyak hal sederhana yang sering orang lain lakukan, tapi kita selalu saja salah fokus dalam memandang. Misalnya, daripada mengomentari rasa pedas yang begitu menyengat lidah, bagaimana kalau kita berterima kasih dan memuji cita rasa makanan itu dahulu? Daripada mengomentari keterlambatan seseorang, bagaimana kalau kita berterima kasih atas kebaikannya meluangkan waktu? Daripada mengomentari hadiah seseorang karena tidak sesuai selera kita, bagaimana kalau kita berterima kasih dahulu atas perhatian yang diberikan? Dengan melakukan semua itu, kita akan terlatih untuk menghargai tindakan orang lain. Hati kita akan lebih peka untuk melihat kebaikan. Dan akhirnya, kita akan menyadari pentingnya kehadiran seseorang dalam hidup kita.

Aku belajar dari kehilangan. Banyak hal sederhana ternyata telah luput dari perhatian. Hal sederhana yang sebenarnya memiliki arti sangat bermakna. Hal sederhana yang baru kusadari ketika ayah pergi. Ayah yang tak pernah absen membangunkan ketika waktunya shalat subuh. Ayah yang selalu mengingatkan ketika aku meletakkan sesuatu bukan pada tempatnya. Ayah yang selalu mengingatkan agar menyiapkan segala keperluan jauh-jauh hari keberangkatan. Ayah yang selalu memanaskan mesin motor sebelum aku berangkat kerja. Ayah yang selalu memastikan bensin motor penuh ketika ingin digunakan. Ayah yang selalu duduk di teras ketika aku tak juga sampai rumah hingga larut malam. Ayah memberi begitu banyak, kan? Semua itu luput dari perhatian. Hingga tak sempat mengatakan terima kasih. Hingga tak sempat mensyukuri.

Seringkali aku, kamu, dan kita tidak menghargai tindakan orang lain karena terlalu terbiasa merasakan. Seringkali aku, kamu, dan kita, merindui hal-hal sederhana itu, ketika kehilangan.

Semoga kita tidak seperti itu lagi. Sebab, tentang sebuah kehilangan, tak pernah ada yang bisa menjamin ia akan kembali. Syukur-syukur ia bisa kembali dan kita dapat berterima kasih lagi. Jika tidak, yang kita dapat hanya sebuah penyesalan. Penyesalan yang tak akan hilang meskipun berkali-kali menyembuhkan diri.

Cerita: Niat adalah Awal Perubahan

Masih tentang ST.

Hampir dua pekan sesi latihan bersama ST tidak lagi dilakukan. Aku menjadwalkan latihan bersamanya tiga kali selama satu pekan yaitu, Senin, Rabu, dan Jumat. Setiap hari itu, kegiatan pagi yang rutin aku lakukan adalah mengirimkan pesan singkat via aplikasi whatsapp kepada mamanya ST. Pesan singkat berisikan pertanyaan singkat apakah hari tersebut ST mau melakukan latihan.

Satu pekan awal latihan berjalan lancar. Dalam pesan singkat, mama selalu menjawab,“Wa’alaikumsalam, Kak Shinta. ST latihan ya hari ini.” Dalam pertemuan langsung bersama ST tak kalah lancar. ST berhasil mengalahkan rasa takutnya. ST berhasil mengalahkan rasa cemasnya. Yang paling penting, ST mau mencoba dan berusaha.

Sebagai fisioterapis, target keberhasilan melatih ST adalah ketika ia tidak mengeluhkan rasa sakit pada tubuhnya, ia bisa melakukan kegiatan secara mandiri, dan ia mampu berpartisipasi kegiatan bersama dengan orang lain. Namun, dalam kasus ST ini berbeda. Targetku hanya dua yaitu, ST mau mencoba dan berusaha. Aku tahu betul permasalahan pada anak ini bukan pada kemampuan fisiknya. Melainkan, ada pada dirinya sendiri. Ia belum mampu mengendalikan diri sendiri. Dan mungkin, seperti kata psikolog dalam kajian kemuslimahan pekan lalu, pengetahuan ST tentang dunia luar masih sangat sedikit. Sehingga, hal-hal negatif mengendalikan dirinya sepenuhnya. Ia lupa bahwa setiap orang memiliki potensi. Ia lupa bahwa setiap orang memiliki masalah sesuai dengan kapasitasnya. Bukan hanya dirinya yang merasa kesulitan. Orang lain di luar sana juga merasakan kesulitan. Ia belum tahu bahwa tanpa kesulitan kita tak akan pernah belajar. Tanpa kesulitan, kita tak akan pernah mendapat hikmah.

***

Semua hanya tentang mau atau tidak. Niat memang menjadi awal sebuah perubahan. Begitu pula dengan keadaan ST. Permasalahan mental benar-benar mampu mengendalikan penuh kehidupan seseorang. Pesan singkat mama dalam aplikasi itu memberikan kabar tidak menyenangkan.

“Maaf kak, ST tidak latihan hari ini ya. Kaki bekas latihan kemarin masih sakit katanya kak.”

“Kak, ST nggak mau latihan hari ini. Karena tiap kali telapak kaki menyentuh lantai, ia kesakitan. ST nggak mau berjalan lagi kak.”

“Maaf kak, hari ini nggak latihan. ST bilang, percuma bisa berjalan kalo mukanya jelek.”

“Kak, hari ini ia menstruasi. Perutnya sakit. Jadi, kemungkinan empat hari ke depan ST nggak latihan dulu.”

Seperti yang aku bilang sejak awal, niat adalah awal sebuah perubahan. Aku tahu, belum ada niat yang kuat dalam diri ST. Belum ada motivasi kuat dalam dirinya. Oleh karena itu, ST pasti mudah sekali mencari alasan-alasan seperti di atas untuk menolak latihan.

Dalam pesan singkat, mama terlihat bingung dan kehilangan ide menghadapi ST. Begitu juga dengan aku. Aku belum memiliki ilmu tentang memotivasi seseorang yang mengalami gangguan mental. Apalagi gangguan ini telah berlangsung bertahun-tahun. Akhirnya, aku memberikan saran kepada mama agar mengundang psikolog ke rumah. Mungkin, keadaan ST akan menjadi lebih baik setelah ngobrol dengan psikolog.

Rabu pekan lalu, psikolog Ibu Dini Rahma Bintari menjadi pembicara dalam kajian kemuslimahan rutin Masjid UI. Materinya adalah tentang manajemen stres. Dalam sesi tanya jawab, aku tanyakan kasus ST ini. Pertanyaanku, pendekatan apa yang bisa digunakan keluarga dan khususnya aku sebagai pelatihnya dalam menghadapi ST. Dengan kondisi ST sedang jauh dari Tuhannya dan dalam fase tidak merasakan hal-hal positif dalam hidup.

Tanggapan dan saran yang diberikan adalah Ibu Dini menduga bahwa penanganan keluarga terhadap masalah ST terlalu lama. Karena gangguan ini telah berlangsung lama. Saran utama yang dilakukan untuk keluarga adalah mengundang psikolog ke rumah. Lalu, memberikan buku dan film yang menceritakan tentang semangat hidup. Banyak tokoh berhasil menghadapi keterbatasan dirinya dan menjadi orang sukses. Berikan ST pengetahuan itu. Tidak hanya dirinya yang kesulitan. Semua orang di dunia juga merasakan kesulitan. Semua orang sama-sama berjuang menghadapi kesulitan itu. Kesulitan pasti berlalu. Kemudahan pasti datang kepada orang-orang yang berusaha.

Saran untuk aku sebagai fisioterapis, dalam sesi latihan, selalu berikan apresiasi untuk usaha yang ST lakukan. Ungkapkan potensi-potensi yang ia miliki. Berikan cerita tentang perjuanganku menghadapi masa sulit. Aku hanya perlu mengingatkan bahwa ST mampu. Tunjukkan bukti-bukti seperti, ia masih bisa menggerakkan seluruh tubuh, ia masih bisa berdiri, dan ia masih bisa berjalan.

Terima kasih panitia kajian kemuslimahan Masjid UI telah mengundang Ibu Dini. Waktunya sungguh tepat sekali. Materi yang disampaikan sangat berguna (nanti kalau ada kesempatan, akan aku tuliskan materi lengkapnya) dan saran yang diberikan sangat mencerahkan. Masalah ST ini cukup mengambil penuh pikiranku selama dua pekan kemarin. Semoga saja ada kesempatan bertemu ST lagi.

***

Melihat kondisi ST secara langsung membuat aku tahu bahwa rasa cemas yang berlebihan dan tidak segera ditangani akan menjadi masalah serius. Karena sejatinya, setiap orang seharusnya bisa mengendalikan rasa cemas. Rasa cemas yang ada secara terus menerus tanpa pondasi yang kuat akan meluluh lantakkan kehidupan seseorang. Dari cerita yang keluarga ungkapkan, ST kehilangan jati diri. ST kehilangan pondasi hidup. ST selalu mencemaskan hal-hal yang ada di dunia. Dan terlupa tentang akhirat.

Mendengarkan materi yang Ibu Dini sampaikan, seperti mendapatkan jawaban-jawaban atas masalah ST. Banyak tips agar hidup bahagia dan bermakna versi Ibu Dini tidak dimiliki ST.

Bagi muslim, hal fundamental yang harus dimiliki supaya hidup bermakna adalah dekat-dekat dengan Allah. Ibu Dini mengatakan, seseorang akan mampu menjalani hidup dengan baik bila hidupnya bermakna. Dengan dekat-dekat dengan Allah, kita sadar siapa diri ini dan untuk apa kita dicipta. Dengan dekat-dekat dengan Allah, kita menjadi lebih bermakna. Sebab semua yang dilakukan kita adalah kebaikan. Bukankah bila datang kemudahan kita bersyukur? Bukankah bila datang kesulitan kita bersabar? Adakah yang lebih baik dibandingkan syukur dan sabar?

ST melewatkan hal tersebut. ST teralihkan dengan ketakutan-ketakutan. Sehingga ketakutan itu menghambat ia maju. ST lupa untuk bersyukur dan bersabar. Padahal, yang membuat manusia tetap kuat adalah dengan syukur dan sabar. Dan yang paling utama ST menjauh dari Allah. Padahal, jika saja ST mengingat, ia tak akan takut lagi. Jika saja ST mengingat, ia tak akan cemas lagi. Jika saja ST mengingat, ia akan mendapatkan ketenangan. Dan jika saja ST mengingat, ia akan menghargai hidupnya.

Mungkinkah ST bisa memikirkan hal di atas dalam kondisinya saat ini?

Sangat mungkin. ST memang tidak bisa melakukannya sendiri. Ia butuh keluarga disisi. Ia butuh aku untuk melatih. Ia butuh teman-teman pembaca tulisan ini untuk mendoakan. Doakan, semoga keluarga ST segera menemukan psikolog yang mau datang ke rumah dalam waktu dekat. Doakan, semoga ST mau latihan berdiri dan berjalan lagi. Aamiin.

Lagi-lagi tentang Kucing

20181202_115147.jpg

Namanya kucing. Begitu kira-kira Satria memanggilnya. Satria belum dapat ide untuk memberi nama si kucing ini. Hobinya bersandar pada Shinta. Padahal diantara anggota keluarga, hanya aku yang belum pernah mengelus bulu halusnya. Padahal diantara anggota keluarga, hanya aku yang belum pernah menggendongnya. Padahal di antara anggota keluarga, hanya aku yang belum menyadari sosok lucu dari dirinya.

Mungkin ini adalah cara Tuhan agar aku melihat dan menganggap kehadirannya. Maka, aku didekatkan dengan si kucing :’)

Si kucing paling senang nongkrong di kamarku. Apalagi setelah aku shalat, posisi paling wuenak bagi kucing yaitu, selonjoran sambil bersandar dikakiku. Meskipun sudah selesai melaksanakan shalat, aku paling senang duduk di atas sajadah. Seperti biasa, melakukan aktivitas di atasnya dengan masih menggunakan mukena. Saat-saat seperti itu biasanya si kucing datang.

Tetap berada didekat kucing adalah pencapaianku yang perlu diapresiasi. Sebab, aku belajar membiasakan diri pada suatu hal yang tidak membuatku nyaman. Aku menghargai usahaku itu.

Aku tidak nyaman dengan cakarnya. Meskipun belum pernah dicakar, melihat cakarnya sudah cukup membuatku merasa perlu hati-hati.

Aku tidak nyaman dengan bulu kucing yang bertebaran. Melihat bulu rontok pada baju dan seprei membuatku ingin segera membersihkannya.

Aku juga tidak nyaman dengan kebiasaan kucing yang mengesek-gesekkan bulunya ke badanku. Aku juga tidak tahu alasannya apa. Mungkin aku belum terbiasa dengan bulu kucing. Waktu kecil, aku memang tidak main boneka yang berbulu. Aku lebih senang main masak-masakkan daripada harus bermain boneka. Aku lebih senang bermain sepeda daripada harus bermain boneka. Mungkin hal itu yang membuatku tidak terbiasa dengan bulu. Bulu kucing asli atau bulu boneka, misalnya.

Entah bagaimana perilaku kucing bekerja, ia sering sekali duduk atau berbaring di dekatku. Kapanpun. Saat aku makan, saat duduk di teras, saat nonton televisi, atau saat berkumpul dengan keluarga. Adikku saja sampai bertanya-tanya,”Kucing ini aneh. Dia masa deket-deket sama orang yang mau pegang dia juga nggak hahahaha.” Lalu ia menambahkan,“Mungkin si kucing tetap merasakan kehangatan dibalik sikap dingin lo mbak hahahahaha.” Dan masih banyak lagi pernyataan ngeselin dia yang lainnya. Seperti biasa, dalam hal ledek-meledek memang dia juaranya. Dan dia bahagia wkwk

Aku memang orang yang sama. Orang yang belum menemukan kelucuan kucing. Kata orang ia menggemaskan. Kata aku, kucing biasa saja. Aku belum menemukan alasan mengapa kucing begitu menggemaskan 😂 Aku juga belum terbiasa mengelus bulu kucing, bukan karena enggan atau tak suka. Hanya saja, naluriku belum secara otomatis melakukan itu wkwk

Yang biasa aku lakukan saat ini hanya membiarkan si kucing berada di dekatku. Membiarkan ia bermanja ria di dekatku. Membiarkan ia duduk di sampingku. Dan membiarkan ia menemaniku di atas sajadah wkwk aku juga senang memberikan ia makanan.

Pernah suatu ketika temanku mengatakan seperti ini,“Kalau ada seseorang yang belum menyukai kucing, ada pintu hatinya yang belum terbuka.”

Saat mendengarnya aku langsung tersindir dan menanggapi (merasa tidak terima hahaha),“Ih kok tega bener hahaha Aku kan hanya belum terbiasa saja bercengkrama dengan binatang. Dalam hal ini, si kucing. Aku memiliki sedikit pengalaman dengan binatang. Aku tahu kok kepada binatang kita harus sayang dan tidak memukul. Aku juga tahu kita harus berbagi makanan dengan binatang. Aku juga tahu binatang memang harus dirawat :p Hanya sebatas itu saja, sih.”

Kemudian aku menambahkan,“Tetapi, sampai sekarang, aku belum melihat kucing itu hewan menggemaskan. Sejak kecil aku memang belum pernah memelihara binatang sih. Mungkin itu alasannya? Hahaha baiklah, mungkin mulai sekarang aku harus lebih sering mengamati binatang. Mungkin kelak, setelahnya aku akan melihat tingkah menggemaskannya 😂.”

Tentang menyukai binatang atau tidak. Nyaman berada didekat binatang atau tidak, aku rasa hanya tentang waktu. Seberapa sering kita membersamai mereka. Kalau sedikit sekali pengalaman seperti aku, wajar kok kalau kamu belum mendapat chemistry bersamanya hehe yuk mulai sekarang, kita perhatikan si kucing. Mungkin esok kita akan selalu ingin berada didekatnya 😝

**

Sebelumnya aku pernah menulis tentang kucing juga. Silakan klik disini kalau teman-teman ingin membaca 😀

Aji dan Fitri

Kami adalah tiga orang yang memiliki karakter berbeda. Namun, hukum alam tetap bekerja. Bagaimana pun perbedaan hadir, pasti ada beberapa kesamaan yang akan mendekatkan. Itulah yang terjadi dengan kami.

Kami memiliki hobi dan kesukaan yang berbeda. Aji hobi touring. Fitri hobi kulineran. Aku hobi travelling. Aji senang ngecat motor. Fitri senang datang ke tempat kekinian. Aku senang menulis. Aji dan Fitri suka ngelawak. Kalo aku, suka dengerin mereka ngelawak 😂😂

Lumayan banyak perbedaan kesukaan kami. Meskipun begitu, ada satu kesamaan kami. Kami sama-sama tidak mudah percaya dengan orang baru. Kami membutuhkan waktu lama untuk mengenal orang lain. Kami membutuhkan waktu lebih lama untuk percaya orang lain. Baca saja beberapa faktanya. Harus menunggu lima bulan lamanya, hingga kami saling mengenal. Harus menunggu lima bulan lamanya, hingga kami bisa begitu mudah saling bercerita. Harus menunggu lima bulan lamanya, hingga kami begitu leluasa berkeluh kesah. Harus menunggu lima bulan lamanya, hingga kami berani saling meminta tolong. Harus menunggu lima bulan lamanya, hingga kami merasa nyaman satu sama lain.

Bagi beberapa orang melakukan semua itu mungkin mudah dilakukan dengan siapa saja. Bagi kami tidak.

Perkenalkan, mereka adalah Aji dan Fitri. Usia mereka dua dan tiga tahun di bawahku. Tulisan di bawah nanti adalah tentang keduanya.

***

Aji. Ia adalah anak pertama dari dua bersaudara. Memiliki kedua orang tua yang bekerja. Namun, ia tidak menjadikan alasan itu agar bergantung pada orang tua. Aji sudah mandiri sejak remaja. Aku lupa sejak SMP atau SMA. Yang jelas, sejak saat itu, ia ingin menghasilkan uang sendiri. Dan sejak saat itu pula hobinya adalah berwirausaha.

Aji senang mencoba hal baru. Ia tidak malas belajar hal baru. Ia juga tidak mudah menyerah. Pernah suatu ketika ia bercerita, Aji pernah belajar merakit mesin motor. Namun ternyata, keahliannya bukan dalam bidang itu. Beberapa teman juga mengejek ketidakmampuannya. Kata mereka, untuk apa melakukan hal yang tidak ia kuasai? Kata mereka, melakukan hal itu hanya buang-buang waktu saja.

Aji itu keren. Ejekan teman tidak menurunkan tekadnya untuk maju. Ejekan malah ia jadikan motivasi agar sukses. Kamu tahu apa yang Aji lakukan selanjutnya? Karena ia senang belajar, Aji mengubah minatnya itu. Ia menyadari keahliannya bukan merakit mesin motor, maka Aji mengalihkan minatnya ke bidang lain.

Aji belajar mengecat bagian-bagian motor. Alhamdulillah, berkat ketekunannya, ia berhasil melakukannya dengan baik dan masih melakukan hobinya hingga saat ini.

Usia Aji memang lebih muda dariku. Namun, untuk perjuangan hidup, kemandirian, ketekunan, sikap pantang menyerah, dan semangat belajarnya, kupikir, aku masih harus banyak belajar darinya.

***

Fitri. Ia adalah anak pertama dari dua bersaudara. Seperti anak pertama pada umumnya, Fitri terbentuk menjadi sosok yang bertanggung jawab. Saking tanggung jawabnya, terkadang ia terlalu takut untuk salah dan terlalu takut untuk mengecewakan orang lain. Ia adalah tipikal orang yang sangat menjaga perasaan orang lain. Ia sangat berhati-hati menjaga lisan dan perbuatannya. Katanya, jangan sampai ia melukai orang lain. Katanya, jangan sampai ia mengecewakan orang lain.

Dalam pekerjaan, Fitri adalah anak yang rajin. Ia tidak suka menunda pekerjaan dan senang menyelesaikan tugas segera mungkin. Sepertinya, aku belum pernah mendengar anak ini mengeluh capek atau males gerak :’)

Selain baik dalam pekerjaan, Fitri juga ceria dan rajin menyapa orang lain. Oleh karena itu, siapapun akan senang berada didekatnya. Siapapun tak akan pernah canggung berada didekatnya. Mimik wajah yang bersahabat membuat siapapun tak akan pernah takut untuk menyapanya lebih dulu.

Fitri sangat ramah. Ia akan menyapa siapapun. Mas-mas penjaga parkiran, mbak-mbak kasir, ibu-ibu cleaning service, adik-adik penjaga kantin, abang-abang bakso malang, pokoknya siapapun orang yang ia kenal akan disapa. Berada didekatnya dan berjalan bersamanya, aku selalu diingatkan bahwa sejatinya sesama manusia memang harus menebar senyum dan keramahan. Kita hidup di dunia memang untuk menebar kebaikan, kan?

Fitri juga memiliki selera humor yang tinggi, lho. Jadi, kalau didekatnya aku senang sekali. Dia lucu. Kata-katanya selalu berhasil membuat aku sakit perut. Sakit perut karena nahan ketawa supaya nggak berisik wkwk Kemampuan humorku lumayan meningkat berkat dirinya hahaha terima kasih, Fitri!

Usia Fitri tidak jauh dari usia adikku. Ketertarikannya juga hampir sama dengan adikku. Oleh karena itu, kalau lagi bersamanya, ngerasanya kayak teman kerja rasa adik 😂 aku belajar banyak dari Fitri bahwa membuat orang lain nyaman itu penting. Karena dengan begitu, orang lain tidak akan sungkan dengan kita. Karena dengan begitu, orang lain akan mudah berteman dengan kita. Bersama Fitri, aku jadi tahu lho pentingnya bersikap ramah dan murah senyum kepada orang lain 🙂

***

Rezeki tidak hanya tentang uang. Rezeki lebih luas dari itu. Bertemu dengan Aji dan Fitri adalah rezeki yang Allah berikan untukku. Bertemu dengan mereka membuat aku yakin bahwa usia hanyalah angka semata. Kedewasaan tidaklah pernah bisa diukur dengan seberapa banyak jumlah usia.

Kenyataannya, hanya mereka yang pandai mengambil pelajaranlah yang semakin mendewasa. Hanya mereka yang paham kebermanfaatan dirinya untuk orang lainlah yang semakin mendewasa. Hanya mareka yang mau mengerti perasaan orang lain lah yang semakin mendewasa. Dan hanya mereka yang menghilangkan keegoisanlah yang semakin mendewasa.

Aji dan Fitri mungkin tidak begitu menyadari bahwa perbuatan yang mereka lakukan selama ini ternyata menginspirasi orang lain. Aku terinspirasi dengan mereka. Aji yang bermental baja. Fitri yang begitu menyenangkan. Terima kasih telah memberi begitu banyak. Terima kasih telah hadir dalam kehidupan Shinta
😊🙏

Rasa Cemas Tidak Sesederhana Itu

Mulai hari ini, aku tidak akan menganggap rasa cemas begitu saja. Aku tidak akan menyepelekan lagi rasa cemas yang dirasakan orang lain. Aku tidak lagi menyamakan rasa cemas satu orang dengan orang lainnya.

Kini aku tahu. Rasa cemas setiap orang berbeda-beda. Rasa cemas ada karena ‘pengalaman’ yang melatarbelakanginya. Rasa cemas harus benar-benar dikelola dengan baik dan benar. Rasa cemas tidak sesederhana itu.

Apalagi untuk orang-orang yang kesulitan mengendalikan rasa cemasnya. Mereka bukan tak ingin berhenti untuk cemas. Mereka ingin, tapi pada beberapa kondisi, rasa cemas mampu mengendalikan kehidupannya. Hingga ia tak mampu berdiri pada kakinya sendiri. Ia tak mampu merasa nyaman pada rumahnya sendiri. Ia tak mampu bermimpi pada hidupnya sendiri. Benarkah? Iya. Aku dapat menjaminnya.

Takdir Allah memang selalu datang pada saat yang tepat. Meski kita tak ingin, ia tetap datang. Meski kita tak pernah menanti, ia akan datang.

Siang itu, tiba-tiba bapak memberitahu bahwa ada seseorang yang membutuhkan bantuanku. Ia tak bisa berjalan karena baru saja mengalami operasi. Kini, ia ingin berjalan lagi. Ia adalah wanita berusia 20 tahun. Ia membutuhkan ‘seorang wanita’ untuk melatih dirinya berjalan. Dengan alasan jenis kelamin itulah, bapak mempercayakan orang tersebut padaku.

Saat mendapatkan kabar itu, aku menduga ia baru saja mengalami suatu kecelakaan. Entah tangan atau kaki yang mengalami cidera sehingga harus dioperasi. Namun ternyata tidak. Setelah melakukan komunikasi bersama orang tuanya melalui whatsapp, ternyata wanita ini melakukan operasi empedu enam bulan yang lalu. Aku semakin penasaran saja. Sepengetahuanku, kemungkinannya kecil sekali ada orang yang tak mampu berjalan hanya karena operasi empedu. Apalagi wanita ini masih 20 tahun. Kalau untuk lansia, bisa saja terjadi. Adanya komplikasi penyakit dan luka operasi empedu bisa membuat lansia tak bisa bangun dari tempat tidur dalam waktu lama. Tak bangun dalam waktu lama bisa membuat otot-otot tubuh seseorang mengalami kelemahan. Tak bangun dalam waktu lama akan membuat seseorang kesulitan berjalan.

***

Pada tulisan ini, aku akan memanggil ia, ST. Beberapa hari lalu, aku datang ke rumah ST. Saat itu, aku tidak langsung bertemu ST. Neneknya mengatakan, ST tidur di kamar atas. Sambil menunggu orang tua ST sampai rumah, aku berbincang saja dengan si nenek. Nenek bercerita dengan sedih namun menunjukkan ketegaran. Aku melihat raut kecemasan dan kesedihan disana. Melihat mimik dan intonasi suara nenek, ia berusaha agar tidak menangis di depanku.

Untuk bisa membantu, aku harus menggali banyak informasi tentang ST dan peran keluarganya. Melihat kondisi nenek, aku pun harus bertanya dengan hati-hati. Jangan sampai aku membuat luka di atas luka. Jangan sampai aku menggali informasi dengan cara yang tidak tepat.

Setelah berbincang dengan nenek, aku tahu ST tidak bisa berjalan bukan karena operasi empedunya. Ada masalah lain yang sangat serius. Masalah yang tidak akan kumengerti secara utuh jika tidak mendengarkan langsung dari narasumbernya. Aku harus mendengar langsung dari orang tuanya.

Mama ST menceritakan awal mengapa ST tidak mampu berjalan lagi. Sebenarnya, ST tumbuh dan berkembang seperti anak normal lainnya. Namun ia adalah sosok anak yang pemalu. Meskipun pemalu, ia tetap melakukan banyak hal persis sama seperti anak seumurannya. Hingga akhirnya datang satu peristiwa yang merubah kehidupan ST menjadi buruk. Hingga seperti saat ini.

ST berhenti sekolah sejak kelas 5 SD. Beberapa alasan seperti sahabat dekat pindah sekolah, merasa dirinya tidak cantik, dan diejek teman-teman karena menggunakan kaca mata tebal menjadi alasan ST untuk menolak sekolah. Sejak saat itu, ST belajar di rumah bersama guru dan neneknya yang berprofesi sebagai guru SMP.

Sejak berhenti sekolah sampai usia 17 tahun, ST masih mau keluar rumah, meskipun sebisa mungkin sedikit melakukan komunikasi dengan orang lain.

Saat usia 17 tahun, ST mengalami masalah pada empedunya dan dokter menganjurkan agar segera dilakukan operasi. Penyakit tersebut semakin membuat ST tidak percaya diri dan menyerah pada hidupnya sendiri. Ia kehilangan semangat untuk hidup.

ST memutuskan untuk tidak keluar kamar dan memilih membersamai waktu di dalam sana. Ia memutuskan hubungan sosial dengan orang lain. Ia memberi jarak pada saudara kandung dan keluarga besarnya. Ia memilih berdiam diri di tempat tidur.

Ia tak menemukan alasan mengapa ia perlu memiliki mimpi. Ia tak menemukan alasan mengapa harus mencoba. Ia memikirkan kemungkinan-kemungkinan terburuk sebelum mencoba. Ia memikirkan kegagalan-kegagalan sebelum mengahadapi. Ia pun mempertanyakan takdir Allah. Mengapa ia harus mengalami kehidupan sulit seperti ini? Selain itu, masalah fisik juga menjadi alasan ST menolak untuk berjalan. ST merasa sesak dan jantung seperti meledak tiap kali duduk atau berjalan. Karena hal tersebut ST takut menggerakkan tubuhnya.

Mama adalah orang terpilih yang ST percaya. Hanya kepada mama segala pikiran negatif ia ungkapkan. Hanya kepada mama segala kekhawatiran ia ceritakan. Hanya kepada mama segala kecemasan ia luapkan. Dan hanya kepada mama segala penolakan ia katakan. Bagaimana dengan orang lain? ST hanya akan mengatakan satu kata saja. Ia tidak akan mau berbicara banyak. Segala upaya sudah orang tua lakukan. Namun, nihil hasilnya. Pemeriksaan dokter atau psikolog tak bisa dilakukan. Sebab, ST memilih diam seribu bahasa. Bahkan, bergerak pun tidak.

***

Saat ini, ST berusia 20 tahun. Lebih dari 5 tahun ST mengalami gangguan kecemasan. Ia hidup dalam ketakutan dan ketidaktenangan.

Gangguan kecemasan bukan hanya kalimat biasa. Gangguan kecemasan adalah masalah serius yang bila tidak diatasi segera mungkin akan merenggut kehidupan seseorang.

Sebelumnya, yang kutahu, cemas hanya rasa tidak menyenangkan yang sifatnya sementara. Ia akan hilang bila penyebab cemas telah dihadapi. Ia akan hilang bila kita telah melaluinya. Ia akan hilang bila kita telah melewati momen. Namun ternyata tidak semua mengalami seperti itu. Ada orang-orang yang kesulitan menghadapi rasa cemasnya.

Melihat bagaimana ST menjalani semua ini, rasanya sungguh menyakitkan hati. Ternyata ada seseorang yang hidup dengan rasa cemas yang terus menerus dalam waktu lama. Ternyata ada seseorang yang kehilangan kesempatan untuk menikmati karunia-Nya. Ternyata ada seseorang yang kehilangan kesempatan untuk menggunakan banyak peluang. Ternyata ada seseorang yang kehilangan kesempatan untuk bersyukur.

Mungkin kita harus membayangkan sejenak. Bagaimana keadaan kita ketika menghadapi sesuatu yang sangat menakutkan? Bukankah kita akan berkeringat, jantung berdebar, sakit kepala, bahkan muntah-muntah?

Bayangkanlah. Bila kita merasakan semua itu setiap hari, setiap saat, dan setiap waktu? Bisakah kita hidup dengan tenang? Bisakah kita hidup dalam damai? Bisakah kita melangkahkan kaki ini? Kurasa tidak. Pikiran dan hati tak akan mampu bekerja dengan baik dalam ketidaktenangan.

ST merasakan dan mengalami semua itu. Pasti rasanya lebih menyesakkan dan menakutkan.

***

November 2018

Meskipun rasa cemas masih sulit untuk dihilangkan, ST sudah mulai bersemangat lagi. ST ingin berjalan. ST ingin kuliah. ST ingin bekerja. Aku datang ke rumahnya atas permintaan ia sendiri. Ia ingin latihan berjalan. Ia ingin belajar. Mendengar kabar itu dari mamanya, aku senang sekali.

Saat bertemu dengannya, meskipun masih menatap dengan malu dan sering kali menunduk, aku tahu ia bersemangat. Ia melakukan latihan dengan baik. Ia mengikuti instruksi dan selalu mau mencoba setiap gerakan yang kuberikan.

Ia masih tak mudah menjawab pertanyaan. Tak apa. Seberapa pun lama ia menjawab, aku akan menunggu. Untuk satu kata yang ia ucapkan, aku ucapkan banyak terima kasih. Untuk sesekali kontak mata yang ia lakukan, aku ucapkan terima kasih. Untuk satu gerakan tubuh yang ia lakukan, aku ucapkan terima kasih. Terima kasih sudah berani mencoba. Terima kasih sudah berani melakukan. Terima kasih telah mengalahkan rasa takutmu. Meskipun rasa cemas tak henti menghampirimu.

**

Sesering mungkin, aku minta ia menarik napas dan menghembuskan napasnya. Tak perlu buru-buru berjalan. Tak perlu buru-buru bergerak, sungguh. Lakukan yang paling mudah bagimu. Lakukan dengan bahagia. Aku disini. Aku di sampingmu. Aku akan membantumu.