Berhati-hari dalam Menerima Kebaikan

Screenshot whatsapp di atas adalah percakapanku dengan si sipit kemarin malam. Sepertinya chatku sangat menghibur dirinya hahaha

Karena beberapa kali menjadi korban pencopetan dan pencurian gawai, aku berubah seperti ini. Aku menjadi mudah curiga dan waspada terhadap “sesuatu yang tidak wajar” πŸ˜‚

Malam itu, bapak ojek online berbaik hati memberi tumpangan gratis. Seharusnya tujuan akhir perjalanan ojek onlineku hanya sampai stasiun saja. Namun, aku tak jadi turun di stasiun karena bapak ojek online memberi tumpangan untukku.

Biasanya, aku akan lanjut naik kereta untuk menuju rumahku. Jaraknya tidak begitu jauh. Hanya 11 km. Berbeda dengan malam kemarin, 11 km terasa jauh banget guys karena dijalani dengan perasaan was-was hahaha

Rumah si bapak di Sawangan. Rumahku tidak jauh dari Jalan Margonda Raya. Rute kami sama. Karena alasan itulah si bapak berbaik hati menawarkan tumpangan gratis. Kurang-lebih begini percakapan kami.

Mbak, bareng aja sama saya sampai Depok. Nggak usah bayar, mbak. Sekalian saya jalan pulang.” kata si bapak.

Eh? Terima kasih tawarannya, pak. Saya turun di stasiun aja hehe.” kataku.

“Nggak apa-apa mbak, nggak usah sungkan.” kata si bapak.

“Eh? Jangan pak, bapak kan mau ambil penumpang lagi.” jawabku kikuk.

Mbak penumpang terakhir saya. Saya ambil penumpang memang cuma sampai jam segini aja. Sekalian menuju rumah aja mbak tiap kali pulang kerja.” kata si bapak.

Baru saja ingin membuka mulut untuk menanggapi perkataan si bapak, ia sudah mengklik tombol pada gawainya. Entah apa yang ia klik. Namun, saat itu juga, muncul notifikasi pada gawaiku bahwa aku sudah sampai tempat tujuan.

Jalanan pada malam itu ramai. Padahal jam tanganku sudah menunjukkan pukul 21.30. Jakarta memang tidak mengenal siang dan malam, ya. 24 jam nonstop selalu ramai.

Si bapak yang cenderung memaksa membuat aku cemas. Aku akui, sikapku ini memang kurang baik. Bukankah mewaspadai kebaikan orang lain adalah perbuatan tak baik? Namun, kata pikiranku, aku harus mewaspadai siapa pun itu. Bahkan untuk si bapak yang berbaik hati menolongku.

Mungkin bagi sebagian orang terdengar berlebihan. Tetapi, percayalah, bagi seseorang yang pernah mengalami kejahatan secara langsung, pikiran ini memang sudah terpatri di dalam diri. Sungguh πŸ˜‚

Meskipun cemas, aku tetap mengobrol dengan si bapak. Ia termasuk tipikal orang yang senang mengobrol. Si bapak menanyakan “hal-hal yang biasa orang tanyakan” seperti, kerja di mana, rumahnya di mana, dan alasan mengapa aku memilih naik kendaraan umum.

Aku pun juga menanyakan hal serupa. Ternyata si bapak tidak familiar dengan rute perjalanan yang kami lewati. Kata bapak, orang-orang yang tinggal di Sawangan lebih senang bepergian ke arah Ciputat dibandingkan ke arah Jalan Margonda Raya. “Macet banget, Mbak.” begitu katanya.

Sebenarnya, aku sudah terbiasa mendengar keluhan si bapak ini. Sahabatku juga tinggal di Sawangan. Dan dia selalu keberatan bertemu di daerah Margonda Raya wkwk

Jarak 11 km terasa lama. Rasa tidak tenang ternyata mampu membuat situasi perjalanan tidak menyenangkan. Dan perjalanan bersama orang asing yang tidak kita percaya sangat mampu membuat situasi begitu menegangkan hahaha

Terkait sikap waspada terhadap orang asing, aku teringat percakapan bersama kawanku beberapa tahun lalu. Saat itu, kami berada di kereta. Di sisi kiriku ada seorang anak kecil. Mungkin usianya 3 tahun. Tanpa pikir panjang, aku menawarkan camilan yang sedang kumakan. Lalu, dari arah depan kawanku memberi sinyal non verbal. Ia menggelengkan kepalanya.

Mengetahui bahwa kawanku memberi sinyal tanda tidak setuju, aku pun menghentikan tindakanku itu.

Setelah sampai tempat tujuan, ia langsung berbicara kepadaku. Katanya begini,

Jangan kasih makanan ke orang yang kita nggak kenal. Apalagi anak kecil. Pasti orang tuanya cemas anaknya dapat makanan dari orang asing.” kata kawanku.

Lho? Kan aku cuma mau berbagi makanan aja. Nggak boleh ya?” tanyaku.

Bukan nggak boleh. Niatmu baik, tetapi tempatnya tidak pas. Begini Shin, kita harus memahami perasaan orang tuanya itu. Hati si orang tua pasti tidak tenang anaknya diberi makanan dari orang asing. Setiap orang tua pasti ingin melindungi anaknya.” jawabnya.

Begitu kah?” tanyaku untuk memastikan.

Iya. Kejahatan itu dekat, Shin. Jadi, kita harus memahami untuk setiap sikap waspada orang lain. Bahkan waspada untuk setiap kebaikan yang kita beri.” jawabnya lagi.

Iya, aku paham. Makasih untuk wawasan baru yang belum pernah aku dengar sebelum ini. Aku akan lebih hati-hati lagi.” kataku.

Sesungguhnya, pada saat mengobrol itu aku belum terlalu paham maksud kawanku itu. “Aneh ya. Masa berbuat baik pun tidak sebebas itu bisa kita beri. Masa sikap baik pun bisa-bisanya dicurigai.” kataku dalam hati.

Kejadian kemarin malam membuat aku mengerti. Ternyata benar adanya bahwa kita memang tak mudah menerima kebaikan dari orang asing yang baru saja ditemui. Selalu ada kecurigaan dan kewaspadaan mengikuti. Seakan, ada tameng besar membatasi diri.

Dan menurutku perihal ini wajar terjadi. Bukankah setiap kita memang tak bisa membaca isi hati? Maka, satu-satunya cara hanya berhati-hati.

E-receipt yang berisi beberapa informasi tentang perjalanan ojek online

Bagaimana cara berhati-hati dalam menerima kebaikan orang lain? Dari pengalamanku sendiri, kita harus tetap menerima kebaikan siapa pun itu. Namun, sertai sikap waspada. Contohnya, seperti e-receipt yang aku kirimkan ke sipit di atas tadi. E-receipt adalah bentuk sikap waspadaku pada malam itu hahaha

Meskipun dalam e-receipt tidak tertera plat nomor si bapak, paling tidak aku sudah meninggalkan rekam jejak sebelum menerima kebaikan si bapak ini. Paling tidak, si sipit tahu bahwa malam itu aku sedang dibonceng oleh bapak ojek online secara gratis.

Dunia itu penuh kejutan. Kita tidak pernah tahu siapa saja yang menjadi serigala berbulu domba. Yang kita bisa lakukan adalah melindungi diri sendiri. Salah satu caranya ya selalu waspada dan berhati-hati. Dan jangan lupa, selalu meminta perlindungan dari Sang Ilahi.

Alhamdulillah malam itu aku sampai rumah dengan selamat. Si bapak mengantarku sampai Depok. Aku meminta diturunkan di pinggir jalan saja. Dan masih harus berjalan kaki lagi. Meskipun begitu aku terbantu sekali atas bantuan si bapak.

Sebagai ucapan terima kasih, aku beri sebuah biskuit coklat ke si bapak. “Untuk camilan selama perjananan, pak!” begitu kataku sembari meninggalkan motor si bapak.

Aku tahu biskuit coklatku memang tidak bisa membalas kebaikan si bapak. Rasa curigaku juga membuatku merasa tidak enak hati karena telah berburuk sangka.

Namun semoga si bapak menerima rasa terima kasihku. Semoga si bapak merasakan rasa syukurku atas kebaikannya melalui biskuit yang kuberi itu.

Sehat selalu ya, Pak. Semoga Allah membalas kebaikan bapak 😊

Semangat menjaga diri, guys! Setiap kita harus bisa melindungi diri sendiri πŸ’ͺπŸ’ͺ

Advertisements

Menangani Cidera pada Balita

“Mbak, kaki Satria sakit tuh. Coba diperiksa. Jalannya pincang.” kata Niar.

“Oke. Sebentar ya. Gue salat magrib dulu.” jawabku cepat.

Aku langsung menduga apa yang terjadi. Kondisi ini cukup familiar dalam ingatanku. Beberapa bulan lalu aku juga pernah menemui kasus yang serupa. Pertama, pasienku di rumah sakit. Kedua, saudaraku sendiri yang tinggal persis di samping rumahku.

Dan penyelesaiannya pun juga sama. Ternyata dua anak itu dalam keadaan baik-baik saja. Tidak ada luka serius pada kakinya. Memar pun tidak ada. Meskipun begitu, pernyataan mereka bahwa kakinya sakit benarlah adanya. Aku yakin mereka benar-benar merasa sakit. Hanya saja, rasa sakitnya bukan karena luka terbuka. Melainkan, otot yang terlalu lelah karena terlalu banyak diajak “bekerja”.

Si Kecil Tidak Mau Meluruskan Kakinya

Sore itu, datang sepasang suami istri ke poliku. Sang bapak menggendong anaknya. Aku lupa usia tepatnya berapa. Yang jelas ia masih balita. Setelah menunggu antrean dokter yang cukup lama, akhirnya si kecil dan orang tua masuk ke ruang dokter juga.

Setelah selesai konsultasi dengan dokter, aku baca rekam medisnya. Ternyata si kecil tidak diberikan tindakan apa-apa. Langsung saja kutanya ke dua orang tuanya tentang si kecil ini.

Orang tua bercerita, sejak tiga hari lalu, si kecil enggan meluruskan lututnya. Si kecil mengaku, kakinya selalu sakit tiap kali diluruskan. Jadilah dia tetap konsisten menekuk kakinya selama aktivitas. Ia pun berjalan dengan pincang.

Kedua orang tuanya tidak tahu ada apa dengan anaknya. Faktanya, tidak ada aktivitas fisik apapun yang dilakukan si kecil sebelumnya.

Akhirnya, dokter pun memberi home program kepada si kecil ini. Inti dari home programnya, orang tua lebih melakukan pendekatan ke si anak. Agar si anak terbuka tentang keluhannya. Dan si anak percaya kepada orang tua bahwa kakinya baik-baik saja. Secara medis, si kecil tidak ada masalah apa-apa. Ini hanya tentang psikis saja.

Alvaro (5 at Menangis Tersedu Karena Kram pada Kakinya

Teh lela datang tergopoh ke rumahku. Karena Alvaro kesakitan, Teh Lela pun menjadi panik. Sama seperti anak perempuan di atas. Alvaro juga masih balita. Tahun ini usianya 5 tahun.

Teh Lela bercerita, sejak sore tadi Alvaro menangis kencang sambil memegang betisnya. Alvaro menolak untuk dilakukan tindakan apa-apa. Dipegang ataupun digerakkan kakinya membuat Alvaro semakin menangis. Teh lela pun bingung dibuatnya.

Malam itu saat di rumahku, Alvaro sudah lebih tenang. Hanya saja ia masih belum mau berjalan kaki sendiri.

Al kakinya sakit ya?” tanyaku.

Iya.” jawab Alvaro dengan wajah bersedih.

Mbak Shinta pegang kaki Alvaro sebentar boleh, ya? Kalo nanti rasanya sakit, bilang ya, Al.” kataku. Aku ingin memeriksa si betisnya itu.

Aku pun menekuk dan meluruskan kakinya. Ia tidak kesakitan. Gerakan dilututnya normal. Sambil menggerakkan kakinya, aku juga bertanya ke Teh Lela apa saja aktivitas yang Alvaro lakukan kemarin dan hari ini.

Kemarin, Alvaro mandi bola hampir seharian penuh, Mbak. Kan tempatnya luas, ya. Ada perosotan juga. Jadi, si Alvaro lari-larian nonstop. Setelah pulang ke rumah dia nggak apa-apa kok, Mbak. Baru hari ini aja kesakitannya.” Teh Lela bercerita.

Lalu, aku mengecek keadaan betisnya. Dan menekan pelan untuk menemukan di mana masalahnya. Terasa betul si betis Alvaro keras sekali. Saat aku menekan dilokasi keras itu, Alvaro pun teriak kesakitan.

Aku menyimpulkan. Tidak ada masalah serius pada Alvaro. Gerakan lututnya normal. Ia mampu berdiri sendiri. Masalahnya hanya satu yakni, otot betis yang terlalu tegang.

Aku pun memijat dan meregangkan betis Alvaro. Setelah selesai, wajah Alvaro tampak lebih baik. Aku meminta dia berjalan mondar-mandir sepuluh kali. Alvaro menurut. Ia berjalan kaki tanpa mengeluh sakit. Alvaro pun pulang dengan riang.

Satria Berjalan Pincang

Melanjutkan cerita pada awal tulisan ini, selepas salat magrib, aku berencana melanjutkan salat Isya. Baru saja selesai salat sunnah, Satria menghampiriku di kamar. Begini katanya,“Mbak, udah selesai? Sini liat kaki aku.”

Mendengar permintaan dia, rasanya aku ingin tertawa. Semangat betul dia kakinya diperiksa hahaha

“Tadi sore mbak liat kamu lari-larian sama temen-temenmu.” aku membuka percakapan.

“Iya, tadi seru banget mbak manjat-manjat dan lari-larian.” kata Satria.

“Di bagian mana yang sakit, Dek? tanyaku.

“Di sini, Mbak.” ia menunjuk di bagian betis samping.

“Coba tekuk kaki kamu. Terus lurusin lagi, ya.” pintaku padanya.

“Bagus, kok. Lutut kamu masih sehat. Lutut kamu masih bisa digerakkin.” kataku.

“Mbak mau tekan betis kamu, ya. Kalo sakit, ditahan sebentar, ya.” aku meminta izin kepada Satria.

“Aduhhhhhh.” keluhnya.

“Di sini sakitnya?” tanyaku.

Iya, bener.” jawabnya.

Oke, sebentar ya mbak mau ambil es batu.” aku ingin mengompres dingin betisnya. Aku yakin betul penyebab betisnya sakit pasti karena aktivitasnya sore tadi. Aku melihat dengan mataku sendiri, dia berlarian kecang sekali. Dan turun-naik ke dinding entah sudah berapa kali. Pokoknya banyak.

Aku mengompres betisnya sekitar 20 menit. Satria pun gelisah. Berulang kali dia meminta untuk dihentikan proses mengompresnya. Kata dia, kelamaan. Tentu saja aku tidak menuruti inginnya. Aku alihkan saja dengan cara mengajak dia mengobrol. Dia pun bersemangat.

Kuberitahu rahasia kecil, anak kecil mana pun selalu bersemangat kalau diajak ngobrol tentang “dunianya”. Jadi, cara terbaik menghilangkan rasa bosan si kecil adalah masuk ke dunianya. Jangan lupa berikan batasan. Sore ini, bercerita tentang sekolahnya, misalnya. Kalau tidak, semua hal bakal diceritakan. Tentang mainannya, teman sekolahnya, sepatunya, bajunya, dan lain sebagainya hahaha

Setelah proses kompres selesai, aku instruksikan Satria untuk berdiri. Lalu, aku meminta dia untuk jinjit, angkat satu kaki, dan berjalan mondar-mandir.

Satria mampu melakukannya. Itu artinya betisnya baik-baik saja. Kukira, Satria hanya butuh istirahat tiga hari untuk masa pemulihan. Aku pun meminta Satria tidak berlarian di sekolah dan di rumah. Kira-kira balita menurut atau tidak? Entah hahaha semoga saja 🀣

Kesimpulan

Keluhan si kecil atas rasa sakitnya adalah hal baik. Hal itu menandakan bahwa ia peduli dengan tubuhnya sendiri.

Namun, semoga orang dewasa tidak salah menentukan sikap. Jangan sampai, sikap panik kitalah yang membuat si kecil ikutan panik. Padahal, tidak ada masalah serius apapun pada kakinya.

Cara terbaik membantu rasa sakit pada si kecil adalah mengelola rasa sakit itu. Bantu si kecil menemukan di mana sumber sakitnya. Bantu si kecil mengatasi rasa sakitnya. Lalu, yakinkan si kecil bahwa kakinya akan segera pulih dan baik-baik saja.

Ketiga anak yang aku ceritakan di atas mengalami masalah serupa. Aktivitas fisik yang terlalu banyak membuat otot-otot kaki mereka lelah bekerja.

Penyembuhan otot kaki yang tegang sebenarnya sederhana. Kompres saja air dingin pada bagian yang bermasalah. Air dingin ini membantu mempercepat pemulihan otot yang tegang. Lalu, kurangi aktivitas anak. Kalau bisa, si anak harus menghentikan aktivitas bermainnya sementara.

Jangan panik kalau bertemu anak yang cidera, ya. Keadaan akan menjadi lebih baik jika kita bersikap tenang dan fokus pada solusinya.

Jangan memperburuk suasana dengan rasa panik yang berkepanjangan. Bukankah anak selalu meniru orang-orang dewasa disekitarnya? Hati-hati ya 😁😁😁

Sampai Jumpa Semarang!

Minggu, 22 September 2019

Rasanya baru saja kemarin tiba di Stasiun Semarang Tawang. Pagi itu, kami harus mengemasi barang dan kembali ke Jakarta.

Setengah hatiku masih ingin di Karimun Jawa, setengah yang lainnya ingin segera pulang. Semenyenangkan apapun liburan di sana, tetap saja ada sebagian diriku tertinggal. Meskipun senang bepergian, aku tetap anak rumahan yang selalu senang berada di rumah.

Naik Kapal Lagi

Detik-detik menuju pelabuhan, kenangan buruk tentang mabuk laut memenuhi pikiranku. Membayangkan 4 jam di kapal yang bergoyang benar-benar membuat aku ketakutan. Padahal, beberapa jam sebelum pulang aku sudah sarapan dan afirmasi diri berulang-ulang. Tetap saja rasa takut ini menyerang.

Kata orang, rasa cemas hilang ketika manusia memiliki persiapan, kan? Memahami itu, aku pun menonton beberapa channel youtube tentang mabuk laut ini. Niat betul Shinta, ya . Iya memang, aku yakin kamu pun akan begitu kalau sudah merasakan mabuk laut πŸ˜‚

Dari channel youtube itu, aku mendapatkan beberapa informasi cara mencegah mabuk laut. Pertama, aku tidak boleh membaca buku dan bermain gawai. Pokoknya, kegiatan yang membuat otak berpikir keras jangan dilakukan. Kata si bapak pembuat channel, posisi yang tidak stabil (posisi kapal yang bergoyang karena ombak) mampu membuat otak kita tidak menerima input dari luar dengan baik. Hal itulah yang membuat kita mual. Dan akhirnya kita pun muntah.

Kedua, jangan banyak bergerak. Baiknya si kepala kita sandarkan saja ke bangku kapal. Atur napas dengan baik dan lihatlah pemandangan luas. Contohnya, kamu bisa lihat pemandangan air laut di balik kaca kapal. Kamu juga boleh memejamkan mata sambil membayangkan pemandangan alam yang menakjubkan.

Ketiga, oleskan minyak kayu putih atau freshcare ke perutmu. Biasanya, kalau perut terasa hangat, mual pun akan hilang. Kamu juga bisa menghirup aroma mint. Aroma mint juga cukup baik menghilangkan mual, lho.

Keempat, minum antimo . Dari hasil browsing, si antimo ini sebenarnya untuk mengatasi mual dan muntah. Jadi, kandungan obat di dalam si antimo mencegah adanya rangsangan di saraf otak dan telinga dalam yang menjadi penyebab timbulnya rasa mual, muntah, dan pusing kepala.

Tetapi, menurut pendapat orang-orang, si antimo bisa bikin kita ngantuk. Jadi, tujuan orang-orang meminum antimo sebenarnya supaya selama perjalanan dirinya tidur. Kenapa dia pingin tidur? Kalau selama perjalanan tidur, itu artinya dia akan terhindar dari mabuk laut πŸ˜‚πŸ‘

Saat aku minum antimo pun efeknya langsung terasa. Aku langsung tertidur pulas, lho. Apakah ini yang disebut kekuatan sugesti? Hahaha entah. Kenyataannya, selama perjalanan pulang keadaanku baik-baik saja berkat tidur haha Aku berhasil tidak mabuk laut πŸ‘πŸ‘πŸ‘

Tidak hanya aku. Hampir seluruh penumpang pun tidak mabuk. Padahal, penumpang saat itu sama seperti penumpang saat aku datang ke Karimun Jawa. Kalau kata Dela, ombak saat siang tidak terlalu besar. Kapal pun cukup tenang. Hanya dibeberapa tempat saja si kapal bergoyang dengan cukup kencang.

Kesimpulannya, hati-hatilah kalau kamu naik kapal pada pagi hari. Biasanya air laut itu pasang memang pagi-pagi. Kalau air sedang pasang, ombak akan kencang. Kalau ombak kencang, kapal-kapal pun akan bergoyang πŸ˜…

Terlalu Cepat Tiba di Stasiun Semarang Tawang

Kereta menuju Jakarta datang pukul 19.00. Aku dan Dela tiba di stasiun pukul 15.00. Masih ada waktu luang kurang lebih 4 jam untuk berkeliling Stasiun Semarang Tawang.

Awalnya, aku mengajak Dela ke Lawang Sewu. Jaraknya hanya 3 km saja dari stasiun. Karena perut tiba-tiba lapar, kami sepakat mengubah tempat tujuan. Kami ingin ke mall saja. Kami ingin ke mcd wkwk (Selalu makan ikan di siang dan malam selama tiga hari. Kami rindu makan ayam tepung 🀣)

Lalu, Dela mengusulkan untuk mengunjungi Kelenteng Sam Poo Kong. Tanpa tahu informasi apa-apa tentang kelenteng itu, aku pun langsung menyetujuinya.

Sejujurnya, aku bukan tipikal orang yang pergi ke suatu tempat tanpa tahu apa-apa. Aku tidak suka bepergian tanpa persiapan. Apalagi tempat yang didatangi adalah tempat bersejarah. Bepergian tanpa tahu informasi apapun tentang tempat tujuan, sama saja seperti bepergian tanpa “rasa”. Berjalan-jalan tanpa ada “rasa” tentu hambar rasanya.

Kelenteng Sam Poo Kong

Kesan pertama datang ke tempat ini adalah “wow“. Wow, aku seperti ada di Istana Drama Sageuk Korea haha Wow, gedung-gedungnya bagus banget. Wow, ini Indonesia rasa luar negri, ya. Wow, tiba-tiba suasananya jadi mistis. Apalagi saat melihat patung yang besar banget. Lalu, jadi ngebayangin gimana suasana kelenteng ini pada zaman dahulu.

Setelah berbagai kalimat wow bermunculan dikepala, aku dan Dela tidak berminat langsung keliling kelenteng haha kami lapar! Kami ingin makan. Alhamdulillah, di dalam kelenteng ada beberapa tukang jualan. Ada abang tukang bakso, abang tukang somay, abang tukang mie ayam, dan lain sebagainya. Kami memilih somay. Setelah rasa haus hilang dan perut kenyang kami pun langsung berkeliling kelenteng.

Destinasi ke kelenteng hanya diisi dengan mengobrol seadanya, foto-foto sepuasnya, dan sedikit mengamati sekitar. Waktu berkunjung yang singkat membuat kami bergerak cepat.

Tidak ada “rasa” yang muncul saat berkeliling kelenteng sebetulnya membuat aku kurang puas. Meskipun begitu, tentu saja aku dan Dela senang. Khususnya aku, ini adalah pengalaman pertama aku datang ke kelenteng. Aku sangat menikmati indahnya bangunan-bangunan dalam kelenteng.

Terlalu asyik melihat-lihat kelenteng dan berpose membuat aku tidak sadar bahwa hari mulai gelap. Kami harus bergegas. Kereta kami berangkat pukul 19.00.

Azan magrib berkumandang. Namun, kami memutuskan salat di stasiun saja. Dela dengan sigap memesan grabcar. Tanpa menunggu terlalu lama, grabcar pun datang.

Perjalanan 5,3 km tidak terasa lama. Mungkin hal ini terjadi karena bapak supir yang berasal Pekalongan itu ramah sekali. Si bapak bercerita singkat tentang gedung-gedung tua di sekitar Stasiun Semarang Tawang.

Bapak juga menyarankan, kalau sempat, sebaiknya kami berjalan kaki melihat gedung-gedung tua sebentar. Sekadar mengisi waktu luang sebelum naik kereta, katanya.

Namun sayang, waktu belum mengizinkan. Waktu yang tersisa hanya cukup untuk salat magrib serta meminum chatime yang baru saja kami pesan. Semoga kami bisa berkeliling ke gedung-gedung itu di lain kesempatan. Terima kasih, bapak untuk segala keramahan 😊

Bapak supir grabcar yang ramah, masjid di luar stasiun, dan minuman chatime yang dingin adalah beberapa kemudahan di akhir perjalanan. Bukannya rasa lelah yang terakumulasikan, rasa senanglah yang kami rasakan. Alhamdulillah.

Sampai jumpa Semarang! Sampai jumpa di waktu yang akan datang. Karena energi sudah penuh terisi, aku berjanji akan semangat menjalani hari. Dan berusaha menjadi lebih baik lagi. Bukankah ada begitu banyak tempat menunggu untuk didatangi lagi? πŸ˜†

Karimun Jawa: Day 3 – Melihat Laut dari Bukit Love

Hari terakhir di Karimun Jawa ditutup dengan naik motor “tumpuk tiga” hahaha aku, Dela, dan Mas Yulian naik motor bertiga, maksudnya. Dan merasa beruntung saat tahu di sana terdapat tanjakan yang tinggi sekali. Serem deh pokoknya. Saat aku dibonceng pun, rasanya seperti ingin jatuh ke belakang saking tingginya itu tanjakan πŸ˜…

Bukit Love ramai sekali. Sebagian pengunjung memang pulang hari ini. Kurasa itulah alasan mengapa si bukit bisa penuh begini.

Tempat yang tidak begitu luas dan padatnya pengunjung membuat aku tidak nyaman berada di sini. Apalagi saat Mas Tri meminta kami antre untuk “sesi pemotretan” lagi. Lengkaplah ketidaknyamanan kami hahaha

Tapi, aku mengingatkan diri bahwa kami adalah peserta open trip. Tugas aku dan Dela ya memang harus mematuhi. Sebenarnya boleh saja sih kami menolak untuk tidak ikut serta. Namun, rasanya tidak benar bila aku dan Dela meninggalkan rombongan dan berjalan-jalan berduaan. Akhirnya, kami pun mengikuti ke mana saja tempat-tempat yang menjadi tujuan.

Aku percaya, cara terbaik membuat lebih baik keadaan adalah dengan membuat diri kita nyaman. Apapun keadaannya. Maka, pagi itu di saat kegiatan tampak membosankan, aku berusaha membalikkan keadaan 😁 Contohnya bagaimana? Cari saja hal-hal yang menyenangkan. Mencari pemandangan indah, misalnya.

Bagus kan hamparan lautnya? 😍

Di balik kegiatan “pemotretan” yang melelahkan, ternyata Bukit Love memiliki pemandangan yang menakjubkan. Dari sini, seluruh laut di Karimun Jawa tampak secara keseluruhan. Alhasil, sejauh mata memandang tampak hamparan laut yang cantik nian. Semakin jatuh cinta saja aku dengan pemandangan dari ketinggian.

Pemerintah setempat rupanya membuat beberapa spot foto untuk hiburan. Bagi yang pandai bergaya di depan kamera, mereka pasti senang datang ke tempat ini. Tetapi, bagi kamu yang begitu suka pemandangan alam, spot foto tersebut tak akan kamu perhatikan. Sebab, lukisan alam memang tak pernah bisa tergantikan 🀣

Di Bukit Love juga terdapat sebuah kafe minimalis yang manis. Kurasa pemiliknya suka dengan Pulau Bali. Soalnya, dari interior serta pernak-perniknya “bergaya Bali” banget. Pagi itu cahaya mataharinya terik sekali. Kami pun mampir sebentar ke kafe minimalis untuk membeli minuman dingin. Haus gaessssss.

Kafe minimalis yang manis.

Oh iya, sembari menunggu minuman dibuat, aku mencoba duduk menghadap laut sebentar. Masya Allah, enak banget duduk di sana. Angin yang sejuk serta pemandangan laut di depan membuat siapapun nyaman. Kalau pergi sendirian, pastilah aku akan duduk lama-lama di kafe minimalis ini. Merenung ataupun mengobrol dengan yang tersayang, kurasa tempat seperti ini bisa menjadi pilihan πŸ˜„πŸ‘Œ

Setelah selesai minum dan mengunjungi kafe sebentar, aku dan Dela kembali bergabung dengan rombongan. Kembali bersama rombongan berarti melanjutkan “pemotretan” hahaha lol. Bagaimana rasanya menjadi model dadakan? Lelah banget. Aku beruntung berprofesi sebagai fisioterapis bukan menjadi model 🀣 Hebat euy para model. Ia sanggup betul bergaya dan tersenyum terus-terusan.

Setelah puas foto-foto, kami pun kembali ke penginapan. Kapal kami berangkat pukul 11.00. Namun, pukul 10.00 kami masih di Bukit Love. Sungguh nekat dua gadis ini wkwk dengan keahlian Mas Yulian dan Mas Tri dalam mengemudi, perjalanan pulang pun hanya ditempuh 30 menit saja, kawan-kawan! Luar biasa πŸ‘πŸ‘πŸ‘

Barang-barang sudah dirapikan sedari malam. Jadi, pulang dari Bukit Love kami bisa langsung ke pelabuhan. Mas Tri sedang sibuk sekali mengurus tamu selanjutnya yang akan datang. Alhasil, kami pun tidak bisa berpamitan. Hanya sebuah pesan singkatlah yang aku kirimkan. Aku ucapkan terima kasih banyak atas segala bantuan.

Aku dan Dela diantar Mas Yulian ke Pelabuhan menggunakan motornya. Karena tas kami besar-besar, kami tidak bisa boncengan bertiga lagi hahaha Mas Yulian mengantar kami secara bergantian.

Sesampainya di Pelabuhan, kami berpamitan. Dengan wajah ceria kami melambaikan tangan ke Mas Yulian. Mas Yulian tertawa dan turut melambaikan tangan. Berakhirlah perjalanan.

Sampai jumpa, Mas Tri dan Mas Yulian. Terima kasih untuk semua kebaikan. Sampai jumpa, Karimun Jawa. Terima kasih untuk perjalanan dan pemandangan yang menakjubkan. Kami benar-benar terkesan 😊 πŸ’•

Kepada diri aku berjanji, akan selalu kuluangkan ruang untuk sebuah perjalanan. Ruang yang memberiku kesempatan untuk terus berkembang dan berjuang. Berkembang menjadi sebaik-baiknya insan yang penuh kebaikan. Serta berjuang menikmati kehidupan yang penuh kesyukuran.

Tulisan love ini adalah salah satu dari banyaknya spot foto untuk pemotretanπŸ˜‚πŸ‘

Tulisan-tulisan tentang Perjalanan ke Karimun Jawa:

Menuju Pulau Karimun Jawa

Day 1 – Tour Darat Bersama Dela

Day 2 – Bermain Air dan Pasir [1]

Day 2 – Bertelanjang Kaki di Pasir Timbul [2]

Day 3 – Melihat Laut dari Bukit Love

Karimun Jawa: Day 2 – Bertelanjang Kaki di Pasir Timbul [2]

Destinasi terakhir hari kedua adalah pasir timbul. Dari kapal kami, sudah tampak hamparan luas pasir putih. Di sekitarnya, terlihat sedikit pepohonan. Langit di sana tetap cantik, warnanya biru cerah. Pantai dengan sedikit pohon, ternyata terasa ada yang kurang, ya. Kesan pertama melihat pasir timbul, sungguh biasa saja. Tidak ada rasa menggebu untuk segera tiba di sana.

Beberapa ibu dan bapak memutuskan untuk menunggu di kapal saja. Mungkin mereka sudah lelah seharian melakukan snorkeling. Semua anak muda turun ke pasir timbul.

Di dekat kapalku menepi, terlihat ada banyak tumbuhan laut di sana. Entah namanya apa. Yang jelas, si pasir tidak murni berwarna putih.

Aku segera melepaskan sandal dan menapaki pasir-pasir itu. Masya Allah, pasirnya lembut banget ternyata. Aku lupa, ciri khas pasir timbul kan memang begini. Teksturnya persis seperti tepung sagu.

“Del, ayo lari ke sana!” kataku. Tanpa meminta persetujuan Dela, aku mengajak paksa πŸ˜†

Ayo!” jawab Dela. Rupanya ia juga begitu semangat seperti aku.

Sejak kali pertama datang ke Karimun Jawa, aku belum puas bermain pasir. Maka, saat tiba di pasir timbul ini, gawai sengaja aku tinggal di kapal. Aku berlarian di pantai tanpa membawa apa-apa. Inginku saat itu cuma satu yaitu, bermain air dan pasir sepuasnya.

Pengunjung lain juga tampak bahagia. Saat aku datang, beberapa laki-laki berbaring di pantai. Mereka menatap langit lamat-lamat. Melihat pemandangan itu, memancing gelak tawa sebenarnya. Pak Rudi bahkan sempat meledek begini,“Lihat ke sana! Ada banyak ikan paus terdampar!” Mana mungkin aku bisa menahan tawa haha

Kami tidak berfoto sendiri di Pasir Timbul. Alhamdulillah, Mas Yulian berkenan memotret kami :’)

Di pasir timbul, kami memang dibebaskan bermain apa saja. Sepuasnya. Kami akan berada di sini hingga matahari terbenam.

Semua orang melakukan aktivitas yang paling disuka. Ada yang sibuk melakukan sesi pemotretan, ada yang bernyanyi bersama, dan ada yang berjalan-jalan santai berkeliling pasir timbul.

Lalu, aktivitas apa yang aku dan Dela lakukan? Karena begitu takjub dengan lembutnya si pasir timbul, sesampainya di sana, kami langsung berbaring hahaha seperti “para ikan paus terdampar” yang Pak Rudi katakan tadi, kami juga menatap langit lamat-lamat.

Warna langit pasir timbul tidak terlalu bergradasi. Warnanya senada, biru muda saja. Jika saja aku memotret langit saat itu, pasti hasilnya hanya biru saja.

Suasana sore itu bising, tetapi tidak menganggu telinga. Entah mengapa, suara ombak, angin, dan orang-orang bercengkrama bersatu menjadi suara yang nyaman didengarkan.

“Shin, coba gerakkin tangan dan kaki lo kayak gini.” dalam posisi berbaring Dela mencontohkan. Kedua kaki dan tangannya bergerak-gerak ke atas dan ke bawah.

“Kalo mereka yang tinggal di negara empat musim, ngelakuinnya di salju. Kalo kita di pasir aja hahaha.” tambahnya.

“Begini? Hahaha.” aku mengikuti gerakan yang ia contohkan. Kami pun tertawa bersama πŸ˜† ternyata melakukan hal sederhana begini sangat menyenangkan, ya 😁

Setelah puas tidur-tiduran di pasir, aku mengajak Dela menggali pasir. Tujuan awalnya sih ingin membuat lubang yang besar, lalu menimbun sebagian badan Dela di sana. Tapi, bikin lubang di pasir pantai ternyata tidak gampang, guys hahaha capek tangannya.

Aku, Dela, Amel, dan Burhan 😊

Tidak lama kemudian, Amel dan Burhan bergabung. Kami terbagi menjadi dua tim. Tim satu, aku dan Amel. Tim dua, aku dan Dela. Kami sepakat akan lomba membuat lubang besar dalam waktu singkat. Sambil merasa kocak dengan apa yang baru saja kami sepakati, kami tetap menggali πŸ˜‚ tanpa ada pemenang, lomba pun di akhiri dengan lempar-lemparan pasir hahaha

Sesekali, Pak Rudi menghampiri kami. Ia tertawa melihat kelakuan kami ini. Kutawari saja si bapak untuk bermain bersama. Bukannya menerima tawaran, si bapak malah semakin lebar saja tawanya πŸ˜‚ maklum ya, pak. Sudah lama nggak bertemu pasir soalnya, makanya heboh sekali haha

Aku memang begini. Tidak ragu melakukan hal kekanakkan seperti ini. Bermain ayunan, bermain kejar-kejaran, bermain pasir, ataupun bermain lempar-lemparan pasir. Lalu, tertawa bersama.

Kata orang, terlalu serius itu tidak baik. Rilekskan diri. Oh iya, sebenarnya aku bukan tipikal orang yang humoris. Juga tidak “receh” terhadap sesuatu yang lucu. Tetapi aku bisa begini, melakukan tindakan kekanakkan tanpa takut dan ragu πŸ˜† Prinsipku, sesuaikan saja sama kondisi. Belajar fleksibellah, gitu hehe

Setelah puas bermain pasir, Mas Yulian ingin memotret kami. Karena suasana hati sedang bahagia, kami pun berpose dengan banyak gaya. Rupanya sore itu aku dan Dela benar-benar tertawa suasana.

Matahari akhirnya terbenam. Sunset di pasir timbul tidak secantik saat di Pantai tanjung gelam. Meskipun begitu, sunset di sini tetap menenangkan dan semakin merekatkan kebersamaan.

Para tour guide memberi aba-aba dengan lambaian tangan. Itu artinya sudah saatnya kembali ke penginapan.

Dan tour hari kedua pun selesai. Kututup hari itu dengan foto bersama tour guide yang baik hati dan bersahabat. Mas Tri, tour guide darat yang kaku namun humoris. Mas Yulian, tour guide laut yang begitu sabar membimbing kami selama snorkeling.

Mas Tri itu yang di depan. Mas Yulian yang di belakang.

Untuk setiap kesempatan melakukan perjalanan aku sangat bersyukur. Sebab, melakukan perjalanan memang tidak semudah itu. Ada kesehatan yang perlu dijaga, ada waktu yang perlu diluangkan, ada dana yang perlu disisihkan, ada izin yang perlu dimohonkan, dan paling utama ada kesempatan yang Allah telah berikan.

Karimun Jawa: Day 2 – Bermain Air dan Pasir [1]

Pengalaman Bermain Air di Pulau

Aku memiliki pengalaman ke Pulau dua kali. Pertama, saat ke Pulau Oar. Kedua, saat ke Pulau Pahawang. Pulau Oar dekat sekali dengan Pulau Umang. Mereka sama-sama berada di Pandeglang.

Informasi yang aku dapat dari Dela si penduduk Pandeglang, destinasi yang paling banyak didatangi traveller biasanya Pulau Umang. Di Pulau Umang itu banyak penginapan. Sedangkan Pulau Oar adalah pulau tak berpenghuni.

Aku heran, padahal dulu kami tahu lho kalau Pulau Oar tak ditinggali penduduk. Tetapi tetap nekat berkemah di sana. Saat itu, kami satu-satunya yang berkemah di sana πŸ˜‚

Di Pulau Oar, kami tidak snorkeling. Sejak awal, niat kami memang ingin berkemah dan main di pantai saja. Entah bagaimana awalnya, kami berkesempatan main banana boat, lho. Kebetulan, saat itu banana boat dari Pulau Umang datang. Yasudah, kami ikutan. Oh iya, pengunjung yang datang ke Pulau Umang biasanya bermain banana boat di Pulau Oar.

Seingatku, di Pulau Oar kami tidak begitu puas main air dan pasir. Kami tidak sepenuhnya basah-basahan. Di sana hanya ada satu toilet saja. Kami pun tidak banyak membawa baju ganti.

Karena keterbatasan itulah di Pulau Oar kami membatasi diri untuk bermain air. Di sana, kami lebih banyak mengobrol, membasahi kaki dengan air pantai, menikmati suasana Pulau Oar, serta berkeliling pulau.

Kalau di Pulau Pahawang, kami sangat puas bermain air. Kami mendatangi banyak pulau kecil dan snorkeling di sana. Seingatku, aku tidak puas bermain pasir. Bermain pasir pun sekadarnya. Sebab, saat bertemu pasir timbul yang lembut, aku dan teman-teman sudah menggunakan kostum pulang hahaha jadi tidak mungkin basah-basahan. Dan semua baju ganti sudah habis terpakai.

Briefing Sebelum Tour Laut di Karimun Jawa

Mas Yulian si Ahli Snorkeling dan Mas Gofur si Ahli Potret πŸ˜†

Kalau tour darat ditemani oleh Mas Tri, Tour Laut ini kami akan ditemani Mas Gofur dan Mas Yulian. Mas Gofur bertugas sebagai fotografer di air sekaligus tour guide selama di Menjangan resort. Sedangkan Mas Yulian bertugas menemani dan menjaga kami selama aktivitas snorkeling.

Sebelum melihat ikan-ikan di laut, Mas Tri memberi tahu beberapa hal yang harus kami ingat.

Pertama, Si Mas tidak menyarankan kami menggunakan kaki katak. Kata si mas, kaki katak hanya akan menyulitkan kami saat berenang. Karena kami masih pemula yang takut air, seringkali kaki katak malah mengenai karang di sekitar tempat snorkeling. Karangnya rusak deh πŸ˜”

Kedua, jangan berenang terlalu jauh dan hadapi apapun dengan tenang. Kami harus berada di dekat Mas Yulian. Mas Tri mengingatkan, intinya selama snorkeling jangan panik. Kalau tiba-tiba ada air masuk ke dalam mulut, kami hanya perlu meniup sekencang mungkin. Nanti airnya bakal keluar, kok.

Ketiga, alat-alat snorkeling yang sudah selesai digunakan harap diletakkan kembali ke tempat asalnya. Ada banyak kejadian, setelah selesai snorkeling, si pengunjung meletakkan alat tersebut sembarangan. Tak jarang alat-alat itu rusak karena tidak sengaja terinjak.

Aku menyimak setiap pesan yang Mas Tri sampaikan. Karena sudah pernah snorkeling sebelumnya, Alhamdulillah aku tidak takut dan tenang.

Burhan dan Amel mahasiswa asal Pekalongan

Ada perubahan kebiasaan aktivitas snorkeling antara 4 tahun lalu dengan sekarang.

Kalau dulu, si mas yang menemani kami snorkeling akan sibuk mencari spot bagus untuk melihat ikan-ikan. Aku ingat betul, kami beberapa kali berpindah tempat hanya untuk mencari keberadaan si ikan-ikan cantik. Si mas juga sesekali bercerita tentang pulau yang kami singgahi. Pokoknya puas deh melihat-lihat ikan cantik berwarna-warni. Apa kabar foto underwater? Ada, tetapi bukan hal utama untuk dilakukan. Itu pun kami yang memotret sendiri.

Kalau sekarang, si mas yang menemani malah sibuk mencari spot foto dan membantu kami berpose underwater πŸ˜‚ jadi, kami hanya berhenti di satu spot snorkeling saja. Si mas sibuk fotoin orang-orang. Lalu, bagaimana pengunjung lain yang belum mendapat giliran pemotretan? Kami sibuk berenang sendirian haha

Bagi aku yang sudah memiliki pengalaman snorkeling sih baik-baik saja dibiarkan berenang sendirian. Aku malah asyik menundukkan kepala ke dalam air laut untuk mencari di mana keberadaan si ikan.

Pemandangan saat memasuki Menjangan Resort. Oh iya, di sini setiap pengunjung harus bayar 30.000

Memulai Snorkeling dengan Sepotong Roti

Berbekal sepotong roti dari si Mas Tri, aku mencari-cari ikan. Dalam hitungan beberapa detik saja, ikan-ikan pun berdatangan. Ia mendekat ke tanganku dan berebutan memakan roti-roti itu. Aku terkesima melihat apa yang mereka lakukan hahaha bahagia memang sederhana, guys. Melihat ikan berdatangan ke tanganku benar-benar membuat hati riang πŸ˜†

Aku tidak tahu roti ini aman atau tidak untuk ikan-ikan. Saat roti ini dilemparkan dari arah kapal, aku langsung menangkap dan memberi makan ikan tanpa pikir panjang. Semoga saja apa yang aku lakukan bukan kesalahan πŸ™

Di balik foto bagus kayak gini, ada afirmasi diri ribuan kali hahaha bagi seseorang yang belum bisa water trappen, melepas pelampung sungguh menegangkan πŸ˜†

Meskipun aku tidak terlalu senang kegiatan foto underwater yang lumayan banyak mengambil waktu snorkeling, saat proses foto ini berlangsung aku belajar tentang keberanian. Jadi begini, kalau ingin foto di bawah air, kami harus melepas pelampung yang dipakai. Bikin deg-degan sih. Soalnya aku belum bisa water trappen.

Pada awalnya tentu saja takut. Kaki yang tidak menapak dasar laut sesungguhnya cukup menakutkan πŸ˜… Sebenarnya kami tidak perlu takut. Karena spot snorkeling yang kami datangi ternyata tidak terlalu dalam. Kurang lebih 3 meter saja sepertinya. Dasar lautnya pun kelihatan.

Si mas mencontohkan bagaimana cara menyelam. Jadi, kami hanya perlu berpegangan sama si mas. Nanti, si mas akan mendorong kami perlahan ke bawah untuk menggapai karang. Untuk apa menggapai karang? Untuk berpegangan. Tujuan menyelam untuk berpose, kan. Jadi, kita perlu berada di dalam air beberapa detik supaya memudahkan si mas memotret. Sungguh ribet untuk sebuah satu jepretan ya πŸ˜…

Proses foto underwater ternyata melelahkan. Tetapi yang membuat seru adalah ketika aku melepaskan pelampung, menyelam, menahan napas dalam air, dan memegang karang. Berada di dalam air tanpa pelampung sungguh menegangkan. Tapi, menyenangkan hehe Ikan-ikan, karang, dan tumbuhan laut lainnya sangat indah dilihat dengan mata telanjang.

Menjangan Resort Tempat Penangkaran Hiu

Dari kiri ke kanan: Ibu Lubni, Pak Rudi, Burhan, Amel, Dela, dan aku 😊

Setelah snorkeling, kami berhenti di Menjangan Resort untuk makan siang. Oh iya, di Menjangan Resort ini kami akan bertemu hiu jinak dan bintang laut. Kami boleh masuk ke dalam penangkaran hiu dan memegang bintang laut.

Saat “dipaksa” berpose bersama hiu dan bintang laut, sebenarnya aku tidak begitu yakin. Aku takut. Muncul banyak pertanyaan dalam pikiranku. Apakah ikan hiu ini aman? Apakah tidak apa-apa aku masuk ke dalam kolam? Apakah si hiu tidak akan marah kalau “rumahnya” di masuki sembarangan orang?

Kata si Mas Gofur si tour guide sih aman. Iya, aku memang melihat si hiu baik-baik saja saat para pengunjung masuk ke dalam kolam bergantian. Tetapi, aku tidak melihat “pawang hiu” berada di sekitar kolam itu. Bagaimana bisa aku merasa aman? πŸ˜‚

Selain hiu, ada lagi yang membuat aku cemas yakni hadirnya si bintang laut. Rombonganku secara bergantian memegang bintang laut. Si bintang laut memang diam saja. Namun, di bagian bawah (mulutnya) keluar sesuatu berwarna merah yang menggelikan. Bentuknya seperti cacing merah kecil. Tidak hanya satu, tetapi banyak. Ngeri kan?

Lagi-lagi kata si Mas Gofur bintang laut ini aman. Mas gofur mengatakan kalau si bintang laut tidak memakan daging. Jadi, sudah bisa dipastikan ia tak akan menggigit. Si bintang laut hanya menyerap sari rumput laut.

Melihat mimik wajahku ketakutan, si Mas berusaha menenangkan, namun tak berhasil. Aku tetap takut hahaha tetapi tetap dipaksa untuk memegang. Aku pun menurut. Jantung rasanya seperti ingin lepas πŸ˜…

Jangan ditiru bagaimana cara aku memegang bintang laut. Itu salah besar hahaha cara yang benar adalah pegang ujung-ujungnya saja. Jangan biarkan telapak tanganmu menyentuh seluruh permukaan si bintang laut

Makan Ikan Bakar Sembari Berkenalan

Hasil fotonya kurang baik. Tidak apa, ya. Yang penting momennya kan? Dalam foto ini kami sedang makan siang bersama. Menunya ikan bakar. Oh iya, kami diberi semangka kuning juga. Segar!

Jika tour darat kemarin hanya bersama Dela, tour laut ini aku bertemu dengan teman baru. Pertama, ada Pak Rudi dan Bu Lubni. Mereka berasal dari Singapura. Keduanya berbicara menggunakan bahasa melayu. Usianya mungkin sekitar 50 tahunan. Kedua, ada Amel dan Burhan. Mereka berasal dari Pekalongan. Amel dan Burhan masih menjadi mahasiswa.

Aku mencoba mengakrabkan diri. Pasangan suami istri asal Singapura memulai percakapan lebih dulu. Aku menjawab kemudian memberi pertanyaan tanggapan.

“Istri saya tidak suka jalan-jalan seperti ini.” kata Pak Rudi.

“Tadi aja dia tidak ikutan snorkeling kan. Istriku cuma menonton dari atas kapal hahahaha.” tambah Pak Rudi.

“Tidak apa-apa, Pak. Yang penting si ibu tetap mau ikut, kan. Menemani pun itu sebuah keromantisan haha.” aku menanggapi.

Haha, iya benar. Oh iya, dari Singapura, sebenarnya lebih dekat ke Malaysia. Tapi, aku lebih suka jalan-jalan di Indonesia saja. Pelayanannya baik. Selama liburan, kita akan dilayani. Disiapkan alat snorkelingnya dan dipandu penuh selama kegiatan. Kalau di tempat lain tidak seperti itu. Kita dibiarkan aja sendirian membawa itu alat-alat snorkeling.” cerita Pak Rudi. Kami pun mendengarkan dan sesekali mengangguk-angguk.

Pak Rudi memberi pertanyaan balik tentang kami. Beberapa pertanyaan sederhana seperti kesibukannya apa, pekerjaannya apa, dan lain-lain.

“Bapak ke Indonesia memang untuk liburan?” tanyaku.

Tidak. Saya ke sini untuk pekerjaan. Saya mengurusi mebel di Jepara. Sekalian aja saya menyempatkan liburan. Sebelumnya, saya pernah ke Karimun Jawa satu hari. Tapi lelah ternyata hahaha jadi saya mengulangi liburan lagi. Kali ini lebih lama yakni sekitar 3 harian.” jawab Pak Rudi.

Ibu Lubni pendiam. Ia lebih banyak mendegarkan. Sesekali mengajukan pertanyaan. Tapi tidak banyak. Amel dan Burhan juga ikutan mengobrol sebenarnya. Tapi mereka cenderung menanggapi saja.

Percakapan singkat itu membuat kami cepat akrab. Kami pun melaksanakan destinasi selanjutnya dengan lebih hangat 😊

Di Menjangan Resort ada rumah pohon! 😁
Pemandangan tepat di depan rumah pohon

Mendatangi tempat baru serta berkenalan dengan orang baru adalah pengalaman mahal yang tak terbayarkan. Karena hakikat perjalanan bukan sesederhana mendatangi tempat-tempat yang dinginkan saja. Melainkan, sejauh mana kita mampu memaknai setiap hal. Dan sebanyak apa kita bisa mampu menjadi manusia berkecukupan dan banyak belajar. Cukup atas nikmat yang Allah berikan. Dan belajar menghargai sekitar.

Karimun Jawa: Day 1 – Tour Darat bersama Dela

Dari Travel Wuki, yang melakukan perjalanan ke Karimun Jawa hanya aku dan Dela saja. Jadi, tour darat ini hanya dilakukan oleh kami yakni aku, Dela, dan Mas Tri si tour guide.

Sebelum berangkat, Mas Tri memberitahu bahwa tempat yang akan kami tuju adalah Pantai Annora dan Pantai Tanjung Gelam. Destinasi terakhir di hari itu ya si Pantai Tanjung Gelam. Kami ke sana untuk melihat sunset. Aku sebenarnya sudah tahu tempat apa yang akan kami datangi, sebab Wuki Travel lengkap betul membuat jadwal dan sudah memberi tahu jauh sebelum hari keberangkatan.

Kami ke sana menaiki motor. Mas Tri naik motor sendiri dan Dela naik motor bersamaku. Aku yang menyetir. Saat melakukan perjalanan ke Pantai Annora aku tidak tahu berapa jarak yang akan kami tempuh. Saking semangatnya mungkin ya, aku pun kelupaan mengeceknya melalui google maps haha

Jalanan yang kami lewati teraspal dengan baik. Jalanannya tampak masih bagus seperti baru diperbaiki. Tetapi menurut Dela, jalanan tetap bagus mungkin karena tidak ada kendaraan besar melewati jalan ini.

Jalan setapak tidak ada polisi tidur. Jadi, mengebut pun akan aman-aman saja sepertinya haha sebenarnya jalanan ini tidak terlalu luas. Namun, tetap cukup dilewati dua buah mobil secara dua arah.

Di sisi kanan ada banyak rumah penduduk. Di sisi kiri terdapat hamparan laut. Langitnya sangat biru. Saat itu, matahari masih terik, namun berangin. Mungkin hal ini yang membuat kami tetap merasa sejuk.

Jalanan yang tiba-tiba menurun dan menanjak pun menjadi hiburan. Aku dan Dela langsung kompak berteriak “Wohooooo” tiap kali melewati turunan hahaha norak ya. Tapi, memang sebagus itu pemandangannya 😊

Ada pemandangan menakjubkan ketika kami hampir tiba di pantai. Saat itu, motor kami akan melewati turunan panjang yang cukup curam.

Di depan turunan, tampak jalanan panjang menanjak. Di atas jalanan menanjak itu, terlihat laut biru terhampar melintang. Di atasnya terhampar pula langit biru yang tidak kalah menakjubkan. Masya Allah, itu pemandangannya benar-benar cantik banget. Namun sayang, aku tidak sempat memotret untuk diabadikan.

Kata orang, kita akan bosan bila melihat suatu hal secara terus menerus. Maka, ketika melihat pemandangan indah itu aku pun berujar ke Dela,“Del, penduduk sini kira-kira bakal bosan nggak ya setiap hari melihat pemandangan cantik kayak gini? Ini cantik banget lho. Liat deh langitnya. Jernih dan bersih :’).”

Jumat, 20 September 2019. Pantai Annora.

Sesampainya di Pantai Annora, tidak tampak satu pun pengunjung lain selain kami. Berasa seperti pulau pribadi πŸ˜‚ Di sisi kanan pintu masuk hanya ada beberapa pedagang makanan dan es kelapa. Mereka ramah sekali. Mereka secara serentak menyambut aku dan Dela dengan sapaan dan senyuman.

Bahkan, kami diingatkan untuk menyimpan goodie bag dengan benar. Saat itu, kami mengggantungkan goodie bag di motor. Mereka mengingatkan, ada banyak monyet di sini. Para monyet sering kali mengambil barang-barang para pengunjung. Setelah mendengar peringatan itu, kami segera mengambil barang bawaan dan membawanya.

Bermain Air di Pantai Annora

Foto di atas hanya sebagian kecil pemandangan Pantai Annora. Pantainya luas sekali. Meskipun hari itu adalah jadwal tour darat, kami tetap ingin basah-basahan haha sepatu pun kami lepas dan segera menapaki pasir putih yang luas itu.

Kami tidak sepenuhnya menikmati Pantai Annora. Mas Tri terlalu gencar mengajak kami berpose di pantai ini. Ia berulang kali meminta agar kami bergaya. Sejujurnya, aku sudah lupa kapan terakhir kali bergaya macam-macam haha

Aku sudah terbiasa berpose hanya dengan gaya duduk atau berdiri kemudian tersenyum. Melihat gerak-gerik kami, Mas Tri pun berujar,“Mbak-mbak, gayanya mana. Coba ganti gayanya.” Aku dan Dela saling tatap dan menjawab bersamaan,“Kami udah lupa gimana cara bergaya mas hahahaha.”

Karena sudah memutuskan ikut open trip, kami pun sepakat akan mengikuti semua jadwal yang ada. Maka, untuk menghargai Mas Tri yang sudah berat-berat membawa kamera dan drone, aku dan Dela akhirnya bergaya juga. Tentunya bergaya apa adanya :’)

Sembari menunggu giliranku difoto, aku berkeliling Pantai Annora. Aku menikmati semuanya. Pasir lembut yang menyentuh kaki. Angin semilir di siang yang terik. Pepohonan rindang di sekitar pantai. Serta suara ombak yang membuat pantai ini semakin syahdu.

Aku sebenarnya penasaran, mengapa Pantai seindah ini tidak juga ramai. Padahal kami sudah lebih dari 30 menit di sini. Rupanya Mas Tri mengatakan, tidak banyak yang tahu Pantai Annora ini. Para tour guide lebih senang mengajak pengunjung ke pantai yang tidak jauh dari pelabuhan.

Padahal jarak antara pelabuhan Karimun Jawa dan Pantai Annora kurang lebih hanya 12 km saja, lho. Entahlah. Aku bersyukur Mas Tri mengajak kami ke sini. Menikmati Pantai Annora dalam keheningan.

Melihat Pantai Annora dari Ketinggian

Menuju Bukit untuk melihat Pantai Annora secara keseluruhan

Setelah puas bermain di Pantai Annora tanpa sepenuhnya basah-basahan, kami diajak menuju bukit untuk melihat Pantai dari ketinggian. Jaraknya tak jauh. Sekitar 10 menit pun sampai, kok.

Apa-apa yang dilihat dari ketinggian memang selalu menakjubkan. Sebab, dari sana kita bisa melihat pemandangan secara keseluruhan. Sesampainya di bukit, kami bisa melihat seluruh Pantai Annora. Jangan tanya bagimana pemandangannya. Tentu saja jawabannya super cantik hahaha

Karena kami datang di musim kemarau, pohon-pohon di atas bukit kering sekali. Jadi, pemandangannya tidak hijau seperti diinternet. Melainkan coklat dan gersang. Meskipun begitu, menurutku pohon-pohon yang coklat sama sekali tidak mengurangi kecantikan pantai ini πŸ˜πŸ‘

Pemandangan Laut dari Bukit

Indahnya Sunset dari Pantai Tanjung Gelam

Dari Pantai Annora ke Pantai Tanjung Gelam, jaraknya juga lumayan jauh yakni 7 km. Jauh atau dekat? Hahaha menurutku sih jauh. Tetapi, karena jalanan di sana anti macet, maka kami hanya perlu waktu 12 menit saja hingga akhirnya tiba di sana.

Kebalikan dari Pantai Annora, Pantai Tanjung Gelam ternyata sangat ramai. Mas Tri memberitahu, spot paling bagus melihat sunset memang di pantai ini.

Oh ya, pemandangan di pantai ini persis seperti yang aku tonton di film-film barat haha di pinggir pantai ada banyak sekali gazebo yang diisi oleh para pedagang. Musik pun terdengar kencang dari salah satu gazebo. Bahkan beberapa pengunjung ada yang berjoget bersama.

Di dekat pantai, ada banyak bule sedang berjemur bersama. Meskipun sebentar lagi matahari terbenam, kurasa para bule tetap ingin menikmati sinar matahari hingga detik-detik terakhir haha

Yang pernah ke Pantai Tanjung Gelam dan orangnya perhatian, pasti paham kalau di sini ada pohon kelapa yang menjadi ciri khas pantai ini. Pohon kelapanya miring. Kata para pengunjung sih hanya di pantai ini pohon kelapanya miring.

Terbukti, kawannya Dela bisa langsung menebak lho di mana posisi kami hanya dari melihat postingan pohon kelapa miring diinstagram. Entahlah benar atau tidak si pohon kelapa miring hanya ada di sini atau tidak. Aku belum cari tahu informasi tersebut lebih lengkapnya haha

Semua orang berbahagia menikmati sunset di Pantai Tanjung Gelam
Pohon Kelapa Miring di Pantai Tanjung Gelam

Pohon kelapa miring ini juga sering digunakan untuk objek berswafoto. Aku sempat mencoba memanjat pohon itu untuk berpose. Ternyata sulit ya naik pohon kepala hahaha seharusnya posisi miring si batang memudahkanku memanjat. Namun, pada kenyataannya jari-jari kaki tetap saja kesulitan mengcengkram serat batang. Rasanya licin sekali.

Ketinggian juga menjadi penambah tingkat kesulitan haha karena jari kaki yang tidak menempel sempurna pada batang , membuat badan tidak seimbang. Berkali-kali Mas Tri memberi petunjuk bagaimana cara berdiri seimbang di atas pohon kelapa. Namun, hasilnya nihil. Aku tidak kunjung berhasil menguasai tehnik memanjat dengan benar πŸ˜‚

Senja di Pantai Tanjung Gelam adalah senja pertama yang aku amati dengan sungguh-sungguh. Senja pertama yang kurasai kehangatannya. Serta senja pertama yang membuat aku sadar. Bahwa benar adanya senja itu menenangkan. Warna dan suasananya membuat hati begitu tenang dan nyaman.

Pulang ke Penginapan

Jam di tanganku menujukkan pukul 18.00. Karena terlalu asyik menikmati senja dan terbawa suasana karenanya, kami lupa kalau sudah petang. Padahal, langit sudah gelap haha

Pengunjung meninggalkan pantai secara bersamaan. Pantai pun seketika menjadi sepi. Hanya tersisa aku, Dela, Mas Tri, serta beberapa orang. Menyadari pantai sudah semakin kosong, kami memutuskan untuk pulang ke penginapan.

Pantai gelap. Jalan setapak pun tidak kelihatan. Satu-satunya sumber cahaya hanya lampu senter dalam gawai. Menyadari bahwa kami harus pulang bersama Mas Tri sebenarnya membuat aku tidak tenang. Tidak ada kendaraan yang berlalu-lalang. Hanya kami bertiga yang mengendarai motor dalam kegelapan. Di kanan dan kiri pun hanya hutan.

Meskipun Mas Tri adalah Tim Wuki Travel dan kami sudah berkenalan, tetap saja rasa cemas dan takut datang. Faktanya, Mas Tri adalah orang asing yang baru saja kami kenal beberapa jam lalu. Bagaimana mungkin perjalanan 7 km ini terasa tenang?

Rasa cemas dan takut tidak aku ungkapkan ke Dela. Aku tidak ingin membuat suasana semakin menegangkan. Hanya doa keselamatan yang terus aku rapalkan selama perjalanan pulang. Agar Allah menjaga kami sampai tempat tujuan.

Alhamdulillah, tidak lama kemudian, rumah penduduk akhirnya tampak. Meskipun tidak ada orang keluar dari rumah, hadirnya perumahan penduduk membuat aku lebih tenang. Sebab, kami tidak sendirian. Di sini masih ada “kehidupan”.

Ingat selalu, dalam perjalanan, tidak ada yang benar-benar aman. Waspada dan hati-hati adalah sebuah keharusan. Curiga setiap saat memang bukan kebaikan. Namun, bepergian hanya bersama sesama perempuan, curiga terhadap sekitar adalah kewajiban. Bukankah kejahatan ada karena kesempatan?

Tour darat ditutup dengan mengendarai motor gelap-gelapan. Meskipun di akhir perjalanan sedikit menegangkan, penilaianku secara keseluruhan, tour darat hari itu adalah tour yang menyenangkan. Mas Tri tipikal tour guide yang gesit dan penuh perencanaan. Perihal itulah yang membuat tour darat di hari pertama Alhamdulillah berjalan lancar.

Bersambung dulu ya ceritanya, perjalanan tour laut hari kedua akan aku ceritakan pada tulisan selanjutnya πŸ˜πŸ‘

Menuju Pulau Karimun Jawa

“Dari Depok ke Stasiun Senen kamu pergi sama siapa?” tanya mama.

“Sendiri. Nanti ketemuan sama Dela di sana.” jawabku.

“Nanti dari Stasiun Senen, kalian pergi ke Semarang sama siapa?” tanya mama.

“Berdua, Ma. Dari travel yang mbak ikuti, cuma kami yang pergi ke Karimun Jawa hahahaha.” jawabku. Aku pun ingin tertawa mendengar jawabanku sendiri. Pasalnya, aku mengira dari travel ini akan ada 8 sampai 10 orang yang akan ke Karimun Jawa. Sungguh tak terduga. Ternyata hanya aku dan Dela yang pergi ke sana πŸ˜‚.

“Lho mbak, apa nggak serem cuma berdua aja ke Semarangnya? Mama khawatir ah. Nanti kamu nggak jelas lagi pas sampe di sana.” mamaku ngomong panjang lebar. Hmm, naluri orang tua kayaknya memang seperti ini. Usia anaknya sudah lebih dari seperempat abad pun rasa khawatirnya masih begini ckck

Tenang, Ma. Semua udah diatur pihak travel. Tiket kereta dan kapal, penginapan, dan semua hal selama mbak di Karimun Jawa. Mbak nggak akan nyasar wkwkwk.” ledekku pada mama. Mamaku memang over protective sekali.

Percakapan di atas sebenarnya cukup “drama”, ya. Tapi, orang tua memang akan “sedrama” ini kalau menyangkut tentang anaknya. Mereka akan memikirkan kemungkinan terburuk, hanya untuk memastikan sang anak aman dan terhindar dari bahaya. Apalagi terakhir kali aku liburan jauh 4 tahun lalu. Pastilah orang tuaku “sedrama” itu hahaha

Oh iya, sedikit tentang ayah. Saat aku mengabari orang tua akan ada kegiatan snorkeling, ayah menanggapi dengan lucu.

Kata ayah begini,“Mbak, kegiatan snorkeling ada yang mandu atau nggak? Diperiksa ulang alatnya, Mbak. Kedalaman lautnya berapa meter, Mbak?” saat baca pesan singkat dari ayah, pingin tertawa sekaligus terharu. Ternyata, perawakan saja yang sangar. Hati ayahku sungguh manis seperti kupu-kupu πŸ˜‚

Stasiun Pasar Senen

Semua sudah berubah. Terakhir kali ke sana tahun 2015. Saat itu, pemesanan tiket kereta masih melalui indomaret dan cetak tiket harus menyertakan foto kopi KTP. Untuk membandingkan stasiun pasar senen saat ini dan dulu pun aku tidak mampu. Sudah lama dan aku tidak ingat.

Tiket keretaku sudah dipesankan oleh pihak travel. Jadi, aku tinggal cetak tiket saja. Caranya mudah. Aku hanya perlu memasukkan kode booking. Tiket pun langsung tercetak.

Stasiun ramai sekali. Ramainya suara orang-orang berlalu lalang, ramainya suara dari pusat informasi, serta ramainya suara kereta.

Aku tidak suka kebisingan. Namun, berbeda dengan malam itu. Suara bising di stasiun kereta seperti suara yang sudah lama aku nantikan. Aku rindu kebisingan stasiun kereta ketika melakukan perjalanan. Iya, aku menunggu datangnya hari ini!

Pukul 19.15 kereta Menorehku datang tepat waktu. Aku dan Dela mengamati setiap gerbong yang lewat dan mencari nomor gerbong kami. Tak sulit menemukannya. Jantungku bergedup kencang. Aku tak sabaran. Dela juga tak sabaran. Tak sabar masuk ke dalam kereta. Serta tak sabar menghabiskan waktu perjalanan dengan tawa dan cerita 😊

Tiba di Stasiun Semarang

Pukul 02.03 dini hari kami tiba di Stasiun Semarang Tawang. Sembari menunggu matahari terbit, kami memutuskan menunggu di dalam stasiun saja. Stasiun masih sepi.

Ada banyak bangku kosong di ruang tunggu. Untuk kategori fasilitas umum, menurutku bangku-bangku ini cukup ramah penumpang. Bangku sudah dilapisi busa yang tidak akan menyakiti bokong maupun pinggang penumpang.

Menunggu bukanlah hal yang asyik. Membosankan, malahan. Tetapi, ada kalanya menunggu bukan sebuah pilihan. Contohnya, kasus aku dan Dela ini. Demi keselamatan, kami baru akan ke pelabuhan pukul 06.00 pagi. Kami menunggu hingga langit terang. Oleh karena itu, daripada suasana hati semakin buruk karena menunggu dan keadaan semakin membosankan, kuajak saja Dela foto-foto di Stasiun Tawang.

Aku percaya, sesulit apapun kondisinya setiap kita pasti bisa mengendalikannya. Bukankah semua hal tergantung bagaimana cara pandang kita?

Beberapa penumpang menengok ke arah kami sebentar. Barangkali mereka penasaran sedang apa dua manusia ini hahaha aku baik-baik saja dengan hal itu. Selama kami tidak merugikan banyak orang dan fasilitas umum, kurasa kegiatan foto-foto ini boleh-boleh saja dilakukan πŸ˜‚

Pelabuhan Tanjung Mas

Jarak antara stasiun Semarang Tawang dan Pelabuhan Tanjung Mas hanya 3 km. Kami membutuhkan waktu 12 menit saja untuk tiba di sana menggunakan grab car. Berbekal informasi dari Mas Tri si tour guide kami selama di Pulau Karimun Jawa, setibanya di Pelabuhan Tanjung Mas kami harus mencari Mbak Candra. Si mbak ini yang akan memberi tiket kapal.

Setelah bertemu Mbak Candra, aku baru tahu ternyata mbak ini adalah petugas Dinas Perhubungan. Tanpa ada percakapan, si mbak langsung meminta kami antre untuk menukar tiket darinya kepada petugas tiket kapal. Prosesnya mudah. Aku dan Dela hanya perlu melakukan pengecekan barang bawaan. Setelah itu langsung masuk ke kapal.

Dari tulisan di blog seseorang, katanya kapal Ekspress Kartini hanya memerlukan waktu 2 jam saja untuk menyebrang. Berbekal informasi tersebut, aku yakin sekali tidak akan mabuk laut selama perjalanan. Rupanya aku salah besar.

Pada kenyataannya, kapal ekspress kartini membutuhkan waktu 4 jam perjalanan hingga kami sampai tempat tujuan. Saat itu, air laut sangat bergelombang. Mungkin hal ini terjadi karena air sedang pasang.

Aku ingat betul kata tour guide, Pak Mursalih saat berlibur ke Pulau Pahawang. Kata Pak Mursalih, pagi hari itu air sedang pasang. Maka, kami pun snorkeling saat hari menjelang siang. Aku benar-benar lupa perkataan Pak Mursalih πŸ˜₯

Hampir seluruh penumpang Kapal Ekspress Kartini mabuk laut. Jumlah penumpang hari itu sekitar 70 orang. Para penumpang sibuk mengeluarkan kantong plastik untuk tempat muntahan. Orang-orang pun ke toilet bergantian.

Aku termasuk sebagian orang yang mabuk laut itu. Kalau kamu belum pernah mabuk laut dan ingin tahu rasanya, mari aku deskripsikan.

Gelombang air laut yang terlalu besar akan membuat kepalamu pusing. Selama kapal berlayar, tubuhmu seperti bergoyang memutar secara terus menerus. Perputarannya memang pelan, namun sangat mampu membuatmu mual. Air Conditioner kapal tidak akan membuatmu lebih baik. Sebaliknya, ia akan membuat perutmu dingin. Lalu, tiba-tiba akan terasa banyak udara dalam perutmu. Udara tersebut bergerak cepat keluar melalui mulut. Dan, muntahlah! Pokoknya rasanya tidak enak, sungguh.

Sesaat setelah muntah, aku tak ingin naik kapal lagi. Membayangkan ketika pulang akan naik kapal pun enggan 😭

Tiba di Pulau Karimun Jawa

Wajah-wajah penumpang lesu dan lunglai. Energi kami habis karena kegiatan muntah selama perjalanan. Tak ada senyum bahagia. Padahal, kita sudah sampai tempat yang diidam-idamkan. Kurasa, kami lupa ingatan sesaat karena mabuk laut yang membuat lelah badan hahaha

Aku dan Dela dijemput oleh Mas Tri. Melalui telepon via Whats App, kami pun tidak kesulitan untuk saling mengenali. Mas Tri memegang gawainya sembari melihat sekitar. Tatapan mata kami saling bertemu dan kemudian saling berjabat tangan sambil mengenalkan diri.

Pulau Karimun Jawa jauh lebih luas dibandingkan Pulau Pahawang. Bila di Pulau Pahawang kami hanya perlu berjalan kaki menuju tempat penginapan. Di Pulau Karimun Jawa, kami harus menaiki motor dahulu kurang lebih sejauh 1 km.

Sampai penginapan, bukannya bersiap-siap untuk tour darat, kami langsung berbaring di kasur wkwk badanku masih lemas. Dela tidak mabuk laut, tetapi ia pun kelelahan. Kami belum tidur dengan benar sejak 17 jam lalu. Kami memang tidur. Tetapi dalam posisi duduk. Badan pegal. Kami butuh berbaring sebentar. Sekadar merilekskan otot-otot saja.

Tour darat akan dimulai pukul 14.00 setelah makan siang. Dari jadwal yang Tim Wuki Travel tentukan, kami akan ke Pantai Annora dan Pantai Tanjung Gelam (Sunset Beach).

Meskipun belum mandi sejak subuh tadi, kami memutuskan tidak mandi. Sebab, kami tahu nanti di pantai akan basah-basahan. Pertimbangan yang lainnya, daripada waktu digunakan untuk mandi, kurasa lebih baik digunakan untuk istirahat sebentar. Setiap kita tahu kapasitas tubuh masing-masing kan :’)

Perjalanan yang lebih banyak dilakukan dalam posisi duduk memang membuat badan pegal. Paling pegal itu di bagian pinggang dan tulang ekor. Ditambah membawa ransel yang berisikan baju dan perbekalan. Ransel yang berat membuat otot pungung pun ikutan pegal. Namun, semua itu bukan masalah.

Kami hanya perlu istirahat dan berhenti sebentar. Kami yakin, rasa lelah dan pegal otot pun akan hilang.

Apa iya benar-benar hilang? Tentu saja tidak. Tetapi, hati senanglah yang membuat rasa lelah dan sakit pulih dengan cepat. Kamu yang suka melakukan perjalanan pasti percaya dan paham.

Kalau belum paham, barangkali kamu perlu bepergian ke tempat impian. Siap-siap saja saksikan kekuatanmu di luar ambang batas yang biasa kamu keluarkanπŸ‘

Cerita tentang Pulau Karimun Jawanya akan aku bagi beberapa bagian, ya. Tulisan ini adalah sebagai pembuka. Tulisan selanjutnya akan berisikan tentang tour darat hari pertama di Pulau Karimun Jawa. Foto di bawah beberapa pemandangan yang kami saksikan selama tour darat. Bagus banget, ya :’)

Langit, laut, pantai, pasir, dan pohon-pohon di sekitarnya memang selalu menjadi pemandangan yang menakjubkan. Dan siapapun pasti tak akan bosan dan akan merindukan.

Bepergian Jauh

Pandangan Kami tentang Bepergian Jauh

Backpack besar yang berat. Berjalan kaki lebih jauh. Mendatangi tempat baru. Bepergian tanpa keluarga. Bepergian hanya seorang diri atau berdua bersama kawan. Mungkin, beberapa hal yang tampak “ngeribetin” bagi sebagian orang. Bagi sebagian yang lainnya sama sekali tidak. Contohnya, aku dan Dela. Malah sebaliknya, menurut kami semua itu sangat menyenangkan!

Bahkan satu hari sebelum pemberangkatan liburan kami, Dela mengirim pesan singkat begini,”Kangen banget pergi jauh, Shin.” Dan tanpa perlu pikir panjang aku balas begini,“Sama! Kangen ngerasain lelah karena pergi jauh, Del.”

Kami memang sekangen itu bepergian jauh. Sekangen itu pakai ransel yang isinya super berat karena perbekalan. Sekangen itu jalan kaki jauh karena lokasi yang kita tuju hanya bisa ditempuh dengan cara itu. Dan sekangen itu ngerasain lelah karena berlama-lama di kereta atau kapal.

Ngapain sih ngangenin hal-hal yang ribet dan bikin lelah? Duh, aku bingung jelasinnya hahaha hanya kamu yang suka melakukan perjalanan yang tahu betul rasa bahagianya.

Kapal yang aku naiki dari Pelabuhan Tanjung Mas ke Pelabuhan Kartini.

Menurutku, bepergian jauh itu memberi banyak manfaat. Beberapa contohnya, aku jadi mengenal tempat baru, bertemu dan berkenalan dengan orang baru, mengenal kebudayaan daerah lain, dan lebih peka terhadap sekitar.

Hal di atas baru dari segi mendapat pengalaman, ya. Bepergian jauh ternyata berkontribusi juga meningkatkan kedewasaan seseorang. Yang aku rasakan sendiri, bepergian jauh membuat aku lebih berani, lho.

Oh iya, hari ini aku pergi ke Karimun Jawa. Aku pergi ke sana bersama Dela. Alhamdulillah, rencana liburan tahun ini akhirnya terealisasi ya :’)

Berani Memulai Percakapan Lebih Dulu

Dari pengalaman sebelumnya, biasanya sih keadaanlah yang “memaksa kami” memulai percakapan duluan.

Misalnya saja kejadian tadi pagi di kapal. Aku bertanya kepada mas-mas operator lokal salah satu travel. Aku menanyakan tentang informasi waktu tempuh kapal dan bagaimana mencegah mabuk laut. Pada akhirnya, kami pun mengobrol banyak tentang travel dan kapal.

Percakapan antara aku dan mas-mas operator lokal di atas, tidak hanya melatih keberanianku. Namun, aku juga mendapat bonus informasi baru. Aku jadi tahu bahwa faktor utama mabuk laut adalah rasa panik yang ada dalam diri. Mas-mas operator lokal juga memberi tahu kalau afirmasi diri ampuh menghilangkan mabuk laut.

Pantai Annora πŸŒžπŸ–

Aku Suka Alam

Selain hal-hal di atas, alasan mendasar aku suka bepergian jauh sebenarnya karena alamnya. Aku selalu mendapat semangat baru dari alam. Melihat alam begitu indah dan luar biasa, membuat aku mengingat segala nikmat Allah.

Aku bersyukur tiap kali merasakan aroma laut dan angin yang sejuk. Aku bersyukur tiap kali melihat hijaunya pepohonan, birunya air laut, dan cerahnya langit. Aku bersyukur karena Allah mengizinkanku berkunjung melihat pemandangan indah seperti ini. Melihat alam yang menakjubkan, mengingatkanku tentang kuasa Allah yang Maha Besar.

Tulisan ini adalah ungkapan jujur dari hati si pecinta alam. Kamu tahu? Siang tadi aku deg-degan sekali melihat laut terbentang dan langit yang biru. Rasanya ingin menangis hehe terakhir kali ke pantai itu beberapa tahun yang lalu. Merasakan hangatnya sinar matahari dan aroma laut hari ini benar-benar membuat hatiku senang 😊 Alhamdulillah πŸ’•

Laut biru di Pulau Karimun Jawa hari ini πŸ™‚

Tata Krama “Copy-Paste” Karya Orang Lain

“Ini quotes digambar lo yang bikin?” tanyaku.

“Nggak. Gue nemu dipinterest.” jawab si adik.

“Siapa yang nulisnya?” tanyaku lagi

“Nggak tau mbak. Makanya nggak gue cantumin kan.”

“Ditulis aja anonim. Kalo nggak ditulis kayak gitu, itu artinya lo yg bikin quotes.” kataku.

“Sabar ya punya mbak kayak gue. Karena gue tau banget, di balik satu kalimat panjang itu ada proses “berpikir” panjang di belakangnya wkwk itu sebuah karya sis, karya! Hahahaha.” tambahku.

Mengcopy Tulisan Orang Lain

Sejak belajar menulis dan tahu kalau nulis itu ternyata nggak mudah, aku semakin peduli tentang kepenulisan. Aku semakin menghargai setiap karya yang orang lain hasilkan.

Makanya, kalau ada kawan yang mengunggah suatu quotes tanpa dicantumkan siapa penulisnya, aku “gemas” banget rasanya ingin segera negur gitu. Kalau adik sendiri, bisa langsung kutegur. Kalau kawan lama yang bertahun-tahun tidak pernah berjumpa, sulit juga ya hahahaha

Aku juga terganggu sama mereka yang mengunggah sepotong artikel seseorang tanpa dicantumkan siapa penulisnya. Ya meskipun sepotong, tetap saja mereka merasakan manfaat dari tulisan itu kan πŸ˜‚

Kalau kamu lupa esensi menulis sumber bacaan, aku coba berikan sedikit pandanganku tentang itu, ya 😊

Sebuah kalimat atau artikel yang kita temukan di mana saja, sungguh tidak boleh disepelekan. Karya tersebut tidak muncul begitu saja, kan? Karya itu dihasilkan oleh seseorang yang telah berpikir panjang dan mendalam. Maka, cara terbaik menghargai pemikirannya adalah dengan mencantumkan namanya ketika kita menggunakan karyanya πŸ‘Œ

Lho, bukankah bila ia membagi tulisannya untuk publik itu artinya boleh dikonsumsi oleh publik? Iya benar, boleh banget. Ia membagi tulisannya memang untuk dikonsumsi oleh publik. Dan ia juga senang kalau tulisannya bermanfaat untuk publik.

Namun, bukankah mengonsumsi dengan menjiplak adalah dua hal yang berbeda? Mengonsumsi adalah menggunakan. Menjiplak tanpa sumber rujukan adalah sama saja seperti mencuri karya orang lain. Kalau mencuri barang saja tidak boleh, bukankah sama saja dengan mencuri tulisan πŸ˜…

Screenshot Foto

Ada satu hal lagi yang membuat aku cukup “gemas”. Yakni, perihal mengunggah foto orang lain tanpa izin si punya foto.

Tentang tata krama memang tidak pernah ada aturan bakunya. Namun, selama kita memikirkan keadaan orang lain, kurasa selama itu pula kita tidak akan kesulitan perihal tata krama ini.

Kita pasti pernah ya, ingin sekali menggunggah foto yang sama dengan foto kawan kita. Ingin meminta kepada dia, rasanya kok lama dan ribet. Akhirnya, kita memilih cara cepat. Langsung saja kita screenshot foto yang diinginkan. Lalu, kita unggah deh dalam sosial media. Bukankah begitu cara kerja zaman now?

Aku juga sering begitu. Namun, aku selalu berusaha mencantumkan nama si pemilik foto itu. Kalau aku ingin mengunggah dalam status whatsapp, biasanya aku sebut saja nama dia. Kalau distory atau postingan instagram, aku juga “me-mention” akun si pemilik foto itu. Kalau aku kenal orangnya, aku pun izin lebih dulu untuk menggunakan karya atau fotonya.

Kenapa sih “ribet-ribet” melakukan itu? Iya ribet, tetapi harus. Gimana dong hahahaha mencantumkan nama seseorang yang karyanya digunakan adalah bentuk apresiasi kita terhadap karya dan si pembuat karya 😊

Betapa kita bersyukur atas karya yang sudah ia ciptakan. Betapa kita berterima kasih atas karya yang sudah ia “munculkan ke permukaan”.

Ketika orang-orang sibuk mengonsumsi banyak hal, orang ini mampu menghasilkan karya yang berguna untuk banyak orang. Hebat banget kan orang ini? Nah, karena rasa terima kasih yang besar inilah aku harus mencantumkan nama si pemilik karya.

Bagaimana kalau kita menjadi pelopor kebaikan? Menjadi pembuka jalan kebaikan. Kebaikan di sini maksudku, kebaikan mencantumkan sumber bacaan atau sumber karya yang kita gunakan.

Mungkin di luar sana masih banyak yang belum peduli tentang hal ini. Mungkin juga mereka lupa. Namun, kita tidak boleh seperti itu.

Sebaliknya, kita bisa memulai lebih dulu. Memulai dari diri sendiri. Nanti, tularkan kebiasaan ini ke saudara-saudara kita. Lalu, ke sahabat-sahabat kita. Lakukan gerakan kebaikan kecil ini dari lingkungan kita sendiri. Bagaimana? Siap?! πŸ˜„πŸ‘