Menjadi Admin Twitter

Akhir tahun kemarin, aku memang sedang gencar-gencarnya mencari kegiatan relawan. Dan merasa beruntung banget menemukan website indorelawan. Semua kegiatan relawan ada di sana. Kamu tinggal ketik aja kegiatan yang diinginkan pada kolom pencarian kegiatan.

Kalau aku, karena tertarik sama pendidikan dan lingkungan, kegiatan yang kucari seputar itu aja. Dan nggak tahu awalnya bagaimana, tiba-tiba ketemu sama kegiatan relawan untuk posisi admin twitter indorelawan.

Persyaratannya mudah banget. Si pendaftar harus bisa menulis dan mau menulis. Oh iya, di sana juga tertera, kalau si pendaftar harus suka bercerita. Setelah membaca persyaratan itu, aku langsung merasa “terpanggil” hahaha. Langsung aja aku mendaftar!

Jujur, sebenarnya aku merasa asing dengan twitter. Aku sudah lama sekali berhenti dari dunia pertwitteran. Terakhir main twitter itu tahun 2014. Dan akun twitterku pun sudah aku hapus. Intinya, aku kikuk banget sama twitter.

Tapi, karena tekadku menjadi admin twitter indorelawan sudah besar, aku langsung saja mendaftar. Aku siap kok belajar lagi tentang twitter. Meskipun sudah vakum lama, aku yakin bisa beradaptasi cepat dengan twitter masa kini. Selama ada google dan kemauan, aku yakin baik-baik saja 😛

Proses Mendaftar Menjadi Admin Twitter Indorelawan

Proses mendaftar jadi admin twitter indorelawan lumayan panjang.

Pertama, aku harus mengisi beberapa pertanyaan untuk seleksi awal. Beberapa persyaratannya adalah melampirkan tulisanku. Pada kolom tersebut, tentu saja aku langsung melampirkan alamat blog ini dan akun instagramku.

Kedua, aku harus menunggu feedback dari si indorelawan. Waktu tunggunya lumayan lama. Kalau tidak salah dua mingguan. Alhamdulillah aku lolos.

Ketiga, aku harus datang interview untuk wawancara seputar tugas admin twitter. Wah, sebenarnya aku lumayan deg-degan. Hahaha. Saat datang interview, persiapan tentang ilmu pertwitteranku belum matang 😛 Bermodalkan kesukaanku sama menulis, aku menjadi lebih percaya diri. Aku yakin bisa menjawab pertanyaan apapun terkait aktivitas menulisku.

Aku beri tahu hasil interviewnya, ya. Saat itu, aku mengobrol sama Mbak Asa. Aku nyaman banget ngobrol sama Mbak Asa. Ngobrol sama Mbak Asa rasanya kayak ngobrol sama teman aja.

Mbak Asa lebih banyak menanyakan kesukaanku terhadap menulis. Seperti, sejak kapan menulis, sejak kapan menulis blog, kenapa suka menulis, topik apa aja yang biasa aku tulis, kenapa aku suka menulis topik itu, dan biasanya dapat feedback apa dari teman-teman sesama penulis blog.

Kalau tentang tugas menjadi admin twitter, Mbak Asa menanyakan pendapatku tentang twitter. Karena aku sudah lama vakum dari pertwitteran, jadi aku lebih banyak jelasin pandangan singkatku terhadap tweet orang-orang (hari sebelumnya, aku buka twitter banyak orang hihi) dan meyakinkan Mbak Asa kalau aku akan belajar mengelola akun twitter dengan baik dan cepat 😆

Keempat, Alhamdulillah aku lolos seleksi! Setelah lolos, aku nggak langsung bertugas. Tapi, aku mendapat mini test gitu. Mbak Asa memberikan dua kegiatan relawan. Lalu, aku harus ngetweet semenarik mungkin tentang dua kegiatan itu.

Intinya sih aku harus menginformasikan orang-orang tentang dua kegiatan itu. Jadi, orang-orang yang tertarik sama kegiatan relawan termudahkan mendapat informasi deh 😁

Setelah melakukan mini test, Mbak Asa juga memberikan feedback. Apa yang sudah baik dari tweet yang aku buat. Serta apa aja yang harus aku perbaiki.

Proses menunggu tugas pertama juga cukup lama. Pertama kali bertugas itu awal Januari kemarin. Hingga saat ini, aku baru bertugas selama dua minggu.

Gimana kesannya? Seru! Setiap mau ngetweet, aku selalu berpikir keras. Wkwkwk. Ternyata nggak mudah ya membuat tweet yang komunikatif sekaligus informatif 😌 Takjub aku sama para admin apapun itu! 💙

Sejauh ini, aku senang menjadi admin twitter indorelawan. Aku jadi banyak belajar hal baru. Belajar membuat tulisan yang komunikatif dan belajar disiplin waktu. Soalnya ngetweetnya terjadwal.

Aku juga jadi punya teman baru. Aku berkenalan sama teman-teman sesama admin. Tentu saja admin sosial media indorelawan. Hihi.

Alhamdulillah 😊

Menemukan Bakat si Bungsu

Sebenarnya, aku sudah tahu kalau si bungsu ikut ekstrakurikuler drum band sejak awal masuk sekolah. Tapi, aku belum pernah berkesempatan menonton dia latihan di sekolah.

Kalau disuruh menceritakan tentang drum band saat tiba di rumah, biasanya dia lebih senang mengajakku bermain wayang-wayangan dibandingkan bercerita tentang ekstrakurikulernya. Ah, dasar bungsu.

Malam tadi, sepupuku main ke rumah. Seperti biasanya, kalau sepupu main ke rumah, pastilah rumah menjadi “istimewa”. Semua mainan berserakan ke mana-mana.

Aku, si mbak yang cerewet tentu saja mengingatkan mereka. Tapi, yang namanya anak-anak, tentu saja lebih suka melanjutkan permainannya dibandingkan mendengarkan si mbak yang suaranya membuat pusing kepala.

Beberapa bulan belakangan ini, ayah dan mama memang sedang senang bernyanyi bersama. Bermodalkan sebuah mic portable dan gawai, dunia terasa milik berdua. Dari lagu dangdut kekinian hingga lagu zaman dulu sewaktu mereka muda dinyanyikan semua. Mesra betul deh si ayah dan mama.

Kalau ayah dan mama sedang bernyanyi, si bungsu biasanya ikutan senang. Dia akan sibuk mencari gendang milik masnya, lalu memukul dengan riang gembira. Wajahnya tampak sumringah dan matanya berbinar. Kurasa, dia menganggap rumah ini sebagai panggung miliknya.

Nah, tadi malam, saat sepupuku dan si bungsu sedang bermain dan ayah dan mama sedang bernyanyi, si bungsu tiba-tiba menyusun beberapa toples di depannya. Ada empat toples. Katanya, itu drum.

Lalu, dia berlari mencari-cari barang miliknya. Tiba-tiba si bungsu datang lagi sambil membawa dua pensil. Kata dia, itu stick drum.

“Aku mau main drum band, ah.” kata si bungsu.

“Na na na na na, satu, dua tiga.” dia bernyanyi sambil memukul keempat toplesnya. Wajahnya tampak serius seperti mengingat rumus-rumus yang sudah ia hafalkan sejak lama. Aku tak kuat menahan tawa. Hahaha, lucu betul adikku ini.

Begini mbak, supaya gampang, kita harus sambil nyanyi. Terus jangan lupa dihitung ya. Aku contohin, ya.” si bungsu yang baru saja berusia 6 tahun Bulan Desember lalu serius betul menjelaskan kepadaku.

“Oh gitu. Terus-terus gimana lagi pukulannya? Wah, kamu pinter banget sih. Ajarin mbak ya!” kataku menanggapi.

Aku bangga betul sama si bungsu. Aku menatapnya lamat-lamat. Dan tidak rela melepaskan sedetik pun perhatianku dari si bungsu. Aku baru tahu dia sepintar itu, sungguh.

Aku bicara seperti ini bukan karena semata-mata dia adikku. Selaku orang yang mengenal nada (aku lumayan bisa nyanyi dan sedikit bisa membuat nada lagu dari alat musik pianika hahaha :p), adikku memiliki bakat bermusik.

Si bungsu ini mampu mengikuti ketukan nada lagu, lalu menyesuaikan dengan pukulan toples-toples itu. Kalau ketukan dilagu pelan, si bungsu akan memukul toples perlahan. Kalau ketukan dilagu tersebut cepat, si bungsu juga menyesuaikan pukulan toplesnya dengan lebih cepat. Pokoknya, secara keseluruhan, pukulan-pukulan yang si bungsu hasilkan terdengar harmoni 😊

Menyadari bakat si bungsu, aku bersemangat sekali mengembangkan bakatnya itu. Mungkin, untuk saat ini, aku akan lebih sering memerhatikan dia saat memukul toples atau gendangnya. Untuk rencana ke depannya, mungkin si bungsu bisa banget kami daftarkan kegiatan ekstrakurikuler musik di sekolahnya.

Anak-anak, ternyata sering lho menunjukkan bakatnya saat berkegiatan di rumah. Namun, karena kurang peka dan kurang perhatian, kita pun tidak menyadarinya.

Tapi, tidak apa-apa. Belum terlambat. Mulai sekarang, yuk kita lebih peka dan perhatian lagi. Sayang sekali soalnya kalau bakat si kecil yang luar biasa terlewatkan begitu saja ☹

Untuk Shinta

Jika tahun lalu aku menulis tulisan untuk diriku sendiri berjudul “Januariku“, maka tahun ini aku akan menulis judul “Untuk Shinta” saja.

**

Untuk Shinta,

Saat kalimat ini diketik, aku juga sambil berpikir. Lalu, bertanya kepada diriku sendiri. Mau diberikan hadiah apa, Shin? Tahun 2019 kamu sudah sangat berjuang. Sungguh.

Kemarin, aku memeriksa semua tulisanmu di tahun 2019. Aku ingin tahu, cerita apa saja yang telah kamu bagikan sepanjang 2019 kemarin.

Rupanya ada satu “gebrakan” besar yang kamu lakukan untuk pertama kali. Tidak seperti tahun 2018 yang berisi hari-hari penuh instrospeksi, memaafkan, dan menyembuhkan. Tahun 2019 ini adalah tahun kamu mengembangkan diri.

Sadarkah kamu? Kamu mencoba banyak hal yang sebelumnya ditakuti. Kamu juga mencoba banyak hal yang sebelumnya hanya sebatas mimpi.

Mungkin batinmu mengatakan aku ini berlebihan. Tapi, aku tidak berlebihan. Yang aku sebutkan di atas benar-benar terjadi.

Supaya kamu mengingat kembali dan bersemangat lagi di tahun 2020 ini, akan kutuliskan hal baik apa saja yang telah kamu lakukan. Baca baik-baik ya, Shin 🙂

Januari 2019 – Tantangan Menulis @30haribercerita

Di bulan Januari ini, kamu memberanikan diri ikut tantangan menulis dari akun instagram. Aku tahu, kamu mengamati akun ini sudah lama sekali.

Seingatku, sejak tahun 2017 kamu sudah mengikuti akun tersebut dalam instagram. Kamu selalu membaca setiap tulisan yang diunggah akun tersebut setiap hari. Kamu juga tak pernah lupa meninggalkan jejak “like” pada setiap tulisan. Katamu, sebagai tanda apresiasi untuk si penulis.

“Bagus banget tulisannya. Duh, minder.” katamu begitu. Pada saat itu, kamu memang paling senang mengagumi karya orang lain dibandingkan berusaha menghasilkan karya sendiri. Pada saat itu juga, kamu enggan menunjukkan kemampuan diri.

Meskipun begitu, aku tahu, kamu tetap konsisten menulis dalam blog ini. Iya, kan!?

Ketika mengetahui bahwa kamu ikutan program 30 hari bercerita di Januari 2019, aku takjub sekali. Kulihat ada binar semangat di matamu. Kulihat juga ada tekad yang besar di sana.

“Aku akan mencoba menaklukkan rasa takutku. Setidaknya satu kali.” katamu.

Kamu lihat sendiri hasilnya, kan? Kamu berhasil menulis selama 30 hari. Kamu selalu berusaha menyetor tulisan tepat waktu. Serta selalu berusaha membuat konten sebaik mungkin. Aku tahu, kamu tidak pernah tidur nyenyak selama Bulan Januari. Ide-ide yang berkeliaran dikepala membuatmu pusing sekali. Tetapi, kamu tetap menulis. Sepusing apapun kepalamu saat itu. Ah, hebat kamu, Shin!

Berkat tekadmu itu, aku menjadi tahu. Sejatinya, setiap orang mampu. Semua hanya tentang sekuat apa ia meyakinkan diri.

Maret 2019 – Menjadi Petugas KPPS

Semesta sepertinya mengerti keinginanmu, Shin. Ketika kamu begitu ingin terlibat dalam masyarakat, saat itu pula kesempatan datang. Tiba-tiba saja datang sebuah undangan. Isinya adalah sebuah permohohan. Pak RT memohon betul supaya anak muda di lingkungan rumahmu terlibat dalam pemilihan umum.

Kamu tidak butuh berpikir terlalu lama untuk memutuskan. Kamu langsung bersedia. Kamu meyakinkanku. Katamu, semua hal bisa dipelajari. Jadi, tak perlu khawatir lagi. Semua akan baik-baik saja.

“Tanganku pegel banget. Aku harus nulis berpuluh-puluh kertas untuk laporan pemilu. Leherku juga sakit banget. Tubuhku harus siaga hampir 12 jam. Aku harus menyaksikan perhitungan suara hingga selesai.” katamu bersemangat.

Kamu tahu? Esok harinya aku harus langsung kerja shift pagi. Capek nggak? Capek! Tapi, meskipun badan lunglai, aku tidak menyesal. Ini pengalaman yang seru, beneran!” tambahmu. Lagi-lagi kamu bercerita dengan semangat. Padahal kutahu saat itu badanmu benar-benar lelah, Shin.

Dari semangatmu, aku jadi paham. Kalau tekad sudah bulat, kesulitan apapun tak akan menjadi penghalang. Langkah kaki akan tetap maju, meskipun badai tak bosan-bosan memburu. Kamu keren, Shin!

April 2019 – Donor Darah Lagi

2019 adalah tahun yang sulit bagimu untuk donor darah. Hemoglobinmu tak kunjung naik. Kamu pun pusing bukan kepalang. Faktanya, kamu tetap makan dengan normal. Kamu juga bukanlah si pemilih makanan.

Yang membuat semakin bingung, ayahmu dan kamu memiliki nilai hemoglobin yang terlampau jauh. Perbedaannya 2 poin! Padahal, kamu memakan makanan yang sama dengan ayahmu.

Setelah mencari tahu informasi dari sana sini, akhirnya kamu menemukan jawaban. Kelelahan ternyata berpengaruh terhadap kadar normal hemoglobin.

Pada akhirnya, kamu pun mengubah jenis makanan. Kamu bilang, kalau makanannya sudah benar, Insya Allah nanti tidak mudah kelelahan.

Kamu pun mulai lebih perhatian terhadap kandungan pada makanan. Terutama perihal zat besi yang meningkatkan hemoglobin. Serta si vitamin C yang memudahkan penyerapan zat besi dalam tubuh.

Penantian panjang pun terbayarkan. Hemoglobinmu naik dan kamu bisa donor darah lagi. Selamat, Shin!

Mei 2019 – Ikutan Tantangan Menulis di 30DWC

Kamu semakin jatuh cinta saja sama menulis. Bukti cinta itu kamu lakukan dengan belajar cara-cara menulis yang baik. Akhirnya, kamu pun mencari tahu akun-akun instagram yang mengadakan tantangan menulis. Berjodohlah kamu dengan akun @PejuangDWC.

Jika tantangan menulis @30haribercerita kamu hanya perlu konsisten menulis selama 30 hari, kalau tantangan kali ini berbeda. Kamu tidak sekadar menulis. Melainkan, harus mengikuti kelas online dan kuis dadakan.

Aku ingat betul, kamu pernah dengan sengaja berhenti di pom bensin hanya untuk mengikuti kuis dadakan. Saat itu, kamu sedang perjalanan pulang dari tempat kerja. Dasar pejuang!

Berkat tantangan menulis itu, kamu jadi semakin paham pentingnya KBBI dan PUEBI. Sejak saat itu, kamu tidak malas lagi mengecek KBBI bila ada kata yang membingungkan. Kamu pun tidak lagi mengabaikan tata cara penulisan yang benar.

Juni 2019 – Membuat Tantangan Menulis Sendiri

Kamu semakin ketagihan dalam dunia tulis-menulis. Kamu merasa tak cukup bila hanya mengikuti tantangan menulis di @30haribercerita dan @PejuangDWC.

Setelah tantangan menulis selesai, kamu merasa ada yang hilang bila tidak menulis setiap hari. Namun, kamu sadar bagaimana sulitnya menulis secara konsisten bila tak ada tantangan menulis. Akhirnya, kamu membuat tantangan menulis untuk dirimu sendiri.

Yang membuat semakin seru, konten tulisannya adalah tentang pendekatan terhadap diri sendiri. Kamu dipaksa untuk bertanya banyak kepada diri sendiri.

Kamu cerita kepadaku, kali pertama menulis tentang diri sendiri itu sulit sekali. Seperti ada penolakan dalam diri. Kamu enggan memberi tahu kepada orang lain siapa kamu dan apa maumu. Kamu menolak untuk terbuka terhadap orang lain. Kamu merasa aman hanya dalam zona nyaman.

Menulis konten ini seperti terapi untuk diri sendiri. Selama 30 hari kamu melakukan pendekatan kepada dirimu sendiri. Hasilnya apa? Istimewa. Kamu menjadi orang baru. Kamu menerima semua hal yang ada pada diri. Kamu semakin sayang kepada dirimu sendiri 😊

September 2019 – Ke Karimunjawa!

Selamat, Shin! Aku tahu kamu senang! Bertahun-tahun hanya membayangkan pantai. Bertahun-tahun rindu sama pantai. Akhirnya segala angan dan rindu terbayar tunai. Saking senangnya, semua pengalaman bermain di pantai kamu abadikan dalam tulisan 😍

November 2019 – Karya Pertamaku!

Setelah mengikuti berbagai tantangan menulis, akhirnya tercipta sebuah karya yakni, buku antologi. Melihat namamu tertulis pada buku ternyata membuatmu terharu. Kamu pun menangis bahagia. Ah, biar saja Shin kalau orang bilang kamu lebay. Aku tahu kamu sesuka itu menulis. Pasti rasanya sungguh bahagia melihat karyamu berada dalam lembaran buku 😘

Pada bulan ini juga, kamu mendaftar kegiatan relawan, ikut training, dan akhirnya berkesempatan menjadi relawan. Senang kan, Shin? Menjadi relawan adalah keinginanmu sejak bertahun-tahun lalu. Hanya saja, saat itu, tekadmu belum sekuat itu. Akhirnya, keinginanmu tergerus oleh waktu.

Desember 2019 – Datang ke Festival Relawan

Akhir tahun yang menyenangkan. Kamu betah betul di festival itu. Sampai-sampai tak kunjung pulang hingga azan magrib berkumandang.

Meskipun tak kunjung pulang, aku tidak marah, kok. Malah sebaliknya, aku mendukung dan mengizinkan. Aku tahu, seluruh kegiatan di sana memang sangat “bergizi”. Apalagi materi yang disampaikan oleh pemateri-pemateri keren. Materinya tak kalah keren!

Katamu, bertemu dengan teman-teman baru yang memiliki ketertarikan sama sungguh menakjubkan. Secara otomatis kamu dan mereka langsung “nyambung” saat berbincang. Rasanya sangat nyaman. Kamu pun semakin tak ingin pulang 🤣

Hampir lupa, di Bulan Desember ini kamu juga pergi ke Jogja. Alhamdulillah, aku turut senang. Meskipun tidak bilang secara gamblang, aku tahu kamu suka Jogja 🥰

Oh iya, Bulan Desember semakin spesial saja. Pada bulan ini kamu menemukan teman mengobrol yang “tek tok”. Kamu dan dia belum bertatap muka. Obrolan yang tercipta juga sekadar di “permukaan” saja. Yang aku lihat, “keabsurd-anlah” mendominasi topik kalian berdua. Entah apa yang merasukimu dan dia. Aku melihatnya semakin aneh saja 😌

Doakan saja.” katamu singkat. Meskipun singkat, aku melihat ada binar di sana. Aku tak akan mendefinisikannya. Karena kamu sudah tahu jawabannya. Aku langitkan saja doa-doa terbaik yang kupunya. Bukankah katamu, doakan saja?

2019 sudah berlalu. 2020 sudah menunggu. Aku bangga padamu, Shin. Tetaplah begitu. Cintai dirimu. Lakukan banyak hal baru. Taklukanlah rasa takutmu. Bermimpilah sesukamu.

Teruslah mencoba. Seperti prinsip utamamu selama 2019 lalu. Katamu,” Kalau kita tidak mencoba, mana mungkin kita bisa tahu?”

Ingat. Tetaplah begitu. Ya!?

Sekali lagi, Terima kasih, Shinta 💓

Dari aku, hati nuranimu yang berusaha menyemangati, mendukung, dan mengingatkanmu selalu.

Cerita tentang Jogja #6: Jalan-jalan Sebelum Kembali ke Jakarta

Rumah Cantik di dekat Penginapan

26 Desember 2019 adalah hari terakhir kami di Jogja. Besok pagi kami harus kembali ke Jakarta.

Tidak seperti empat hari sebelumnya yang kemana-mana naik motor, hari terakhir ini kami akan bepergian dengan berjalan kaki. Motor sewaannya sudah dijemput tadi malam oleh pihak Transip 🤭

Sejak subuh, Fitri tampak was-was karena harus berjalan kaki sepanjang hari. Sedangkan aku, sebaliknya, malah senang sekali. Kami sepakat akan berangkat pagi hari. Sebab, Jogja di siang hari sungguh tidak “ramah” bagi pejalan kaki. Panas sekali, Gaessss.

Destinasi kali ini adalah Pasar Beringharjo dan Museum Vredeburg. Tujuan kami ke pasar bukanlah untuk memborong banyak barang. Aku hanya menemani Fitri. Ia ingin membeli celana batik untuk sahabatnya.

Menyusuri Jalan Setapak Titik O Kilometer dan Sekitarnya

Berjalan kaki dari penginapan menuju Pasar Beringharjo sangat membuat senang. Toko-toko gudeg yang tersusun rapi di pinggir jalan sudah dipenuhi oleh orang-orang. Mereka sarapan. Aku dan Fitri juga sarapan di sana.

Kami memilih toko gudeg Yu Djum 31. Harganya lebih murah dibanding toko gudeg sebelahnya. Seporsi gudeg yang berisi telor dan krecek harganya 15.000 saja. Es teh manis harganya 5.000. Aku jamin kamu akan puas. Enak banget gudegnya!

Kalau kamu ingin membeli gudeg, beli di sekitar komplek gudeg saja, ya. Rasanya sudah terjamin enak. Waktu itu, Fitri sempat membeli gudeg di dekat Pasar Beringharjo. Dengan harga yang sama, rasanya sangat jauh berbeda. Gudegnya asam dan kreceknya hambar 😥

Karena sudah empat hari di Jogja, aku dan Fitri lumayan hafal jalan, lho wkwk rutenya seakan sudah tersetting di kepala. Dari komplek gudeg, kami hanya perlu belok ke arah kanan saja. Nanti akan sampai di Alun-alun Kraton.

Dari Alun-alun Kraton, kami hanya perlu dua kali belok kanan lagi. Nanti sampai deh di Titik 0 Kilometer Jogja. Dari sana, kami hanya perlu menyebrang saja. Nanti akan sampai di Museum Vredeburg dan Pasar Beringharjo. Oh iya, antara pasar dan museum itu dekat banget, ya. Jadi, kalau kamu ke Museum Vredeburg, sekalian saja main-main ke Pasar Beringharjo 😁👍

Jadi, berapa sih jarak dari Penginapan Garser Homestay ke museum dan Pasar ini? Satu kilometer saja. Dekat, kok. Apalagi kalau kamu bepergiannya pagi hari. Kalau kamu jarang jalan kaki, palingan lelah dan haus sedikit 😝

Pasar Beringharjo

Bagaimana keadaan Pasar Beringharjo? Ramai! Iyalah, mana ada pasar sepi wkwkwk sebenarnya, aku dan Fitri tidak suka berada lama-lama di sini. Tumpukan baju dan ramainya orang-orang membuat kepala kami pusing haha

Kami tidak berkeliling pasar untuk melihat-lihat semua barang. Karena tujuannya membeli celana, sepanjang menyusuri pasar, mata kami pun fokus melihat toko-toko celana batik saja hihi Setelah urusan celana batik selesai, aku dan Fitri pun bergegas menuju Museum Vredeburg.

Museum Vredeburg

Dua orang yang bepergian bersama, tidak harus selalu bersama. Aku dan Fitri pun begitu. Aku ingin berkeliling museum. Sedangkan Fitri sudah kelelahan berjalan kaki sedari pagi tadi wkwk akhirnya, Fitri memutuskan menungguku di bangku dekat pintu masuk. Dan aku, berkeliling museum sendirian.

Aku merasa lebih aman berkeliling sendirian di museum ini. Hari sebelumnya, saat berkeliling sendirian di Monumen Jogja Kembali (Monjali), aku sedikit ketakutan.

Tidak seperti Museum Vredeburg yang ramai, Monjali sebaliknya. Monjali sepi sekali. Yang membuat bulu kuduk berdiri adalah saat berkeliling ke ruangan diorama-diorama sendirian. Ruangan yang agak temaram sungguh membuat kesan seram wkwk

Beruntungnya saat itu ada rombongan anak-anak sekolah dasar. Jadi, aku ikutan saja rombongan mereka 😆 Saranku, kalau kamu ke Monjali lebih baik berkeliling bersama teman. Supaya lebih aman dan mencegah rasa takut yang berlebihan 😝

Informasi yang aku dapatkan dari adik, Museum Vredeburg ini memang baru saja direnovasi. Aku pun merasakan betul dampak renovasi ini. Museum Vredeburg tampak asli namun juga rapi. Bahkan, area diorama-dioramanya terkesan “canggih”. Interiornya kekinian dan disertai layar sentuh sebagai alat penunjang kisah di balik diorama yang ada.

Bahkan, dibeberapa patung ada barcodenya, lho. Kata beberapa pengunjung di sana, kalau kita pindai barcode itu, nanti akan muncul kisahnya dalam gawai kita. Keren kan! Sayang, gawaiku tidak ada aplikasi untuk memindai barcode. Jadi, aku tidak langsung mencoba saran si pengunjung tadi.

Kembali ke Penginapan

Kalau tidak salah, kami kembali ke penginapan tepat saat zuhur. Seingatku, dalam perjalanan pulang kami mendengar azan.

Sinar matahari yang terik membuat tenggorokan kami kering. Kami benar-benar haus. Akhirnya, aku dan Fitri mampir ke salah satu kedai dekat penginapan.

Sebenarnya, kami mendapat rekomendasi tempat ini dari seorang teman baru. Kami berkenalan saat di jalan wkwk menurutnya, kami harus mencoba kedai ini. Harga Thai Tea hanya 5.000 saja. Dan bakso goreng sambal matahnya juga enak. Sepuluh tusuk hanya 10.000 saja.

Dan benar! Thai Teanya lumayan. Rasa teh dan manisnya pas. Bakso gorengnya enak banget. Aku dan Fitri ketagihan. Sambal matahnya tidak terlalu pedas. Cocok untuk lidahku. Tapi, tidak cocok bagi kamu yang doyan pedas. Sayang, kami tidak berkesempatan membeli bakso itu sebelum pulang *kecewa* wkwk

Dari siang hingga malam, kami gunakan untuk istirahat saja. Merapikan baju kotor dan bersih. Memasukkan baju dan barang ke dalam koper. Serta, membersihkan kamar dari sampah dan kotoran yang selama lima hari ini kami hasilkan 😂

Malam harinya, kami berbincang sedikit sama Mas Ambuh si penjaga penginapan. Ternyata, Mas Ambuh seumuran dengan Fitri. Ia bukanlah asli Jogja. Ia tumbuh di Sumba.

Sebelumnya, Mas Ambuh pernah bekerja di perusahaan. Tapi, ia tidak nyaman. Mas Ambuh lebih nyaman bekerja di Garser Homestay. Bekerja sebagai admin dan penjaga penginapan seperti sekarang. Ditambah, ia bisa bermain gitar dan berbincang dengan banyak orang sepuasnya. Katanya, hal-hal seperti itulah yang membuat Mas Ambuh senang 😄

Malam terakhir kami di Jogja ditutup dengan kedatangan Mama Mirza dengan bakpia pathoknya. “Buat Mbak Fitri dan Mbak Shinta!” begitu katanya. 🥺

Jogja itu ramah dan santun. Obrolan bersama Mas Ambuh dan Kedatangan Mama Mirza ke penginapan dengan buah tangannya, membuat malam terakhir kami di sini menjadi hangat. Lengkap sudah.

Terima kasih, Jogjakarta. Kami betah. Dan kami pasti akan segera rindu. Iya, begitu :’) 💓

Cerita tentang Jogja #5: Mengunjungi Si Mbah di Gunung Kidul

Dari lantai tempat aku duduk, Fitri duduk dengan santai di pinggir kasur. Ia tampak sangat baik-baik saja. Padahal, siang itu, kami baru saja pulang dari Hutan Pinus Mangunan dan Museum Jogja Kembali.

“Besok kita ke mana? Museum deket penginapan aja kali ya?” tanyaku.

“Ke Gunung Kidul aja gimana, Mbak?” tanya dia.

“Serius kamu? Sebentar, aku cek maps dulu berapa kilo ke sana.” jawabku. Aku pun langsung mengecek maps pada gawaiku.

“40 km, Fit. Pergi pulang totalnya 80 km kalo lancar hahaha shanggupppp?” tanyaku. Sekaligus meledek dirinya. Jauh banget itu, Gaes wkwk 🤣

“Entar, Mbak aku mikir dulu. 80 km, ya. Hahaha duh, lumayan ya.” jawab Fitri.

“Ayuk deh, Mbak. Aku siap, Insya Allah. Tidur yuk sekarang biar besok nggak kesiangan wkwkwk.” tambahnya. Kali ini, wajahnya cukup serius. Sepertinya dia sudah meyakinkan diri 😌

Ke rumah mbah di Gunung Kidul adalah alasan utama yang Fitri berikan kepada orang tua untuk pergi ke Jogja. Alasan kedua adalah pergi bersamaku, sebagai rekan kerja yang sudah dikenal oleh ibu Fitri.

Ibaratnya nih, jadwal ke Gunung Kidul adalah jadwal wajiblah, gitu. Tidak mungkin kita batal lakukan. Sebab, ada amanah yang harus ditunaikan yakni, menengok sang mbah tercinta.

Entah mengapa, aku percaya sama Fitri. Melihat bagaimana dia mengendarai motor saat perjalanan ke Hutan Pinus Kemarin, aku yakin kami akan baik-baik pula ke Gunung Kidul nanti.

Yang paling penting, kita harus persiapan. Mempersiapkan kesehatan, perlengkapan selama perjalanan, serta barang-barang penunjang keselamatan. Sarapan sebelum berangkat, mengisi bensin, dan membawa jas hujan, misalnya.

Selain ingin menengok si mbah, sebenarnya kami pun memiliki niat terselubung. Kami ke sana ingin mencuci beberapa pakaian kotor yang sudah terpakai wkwk jadi, barang-barang yang dibawa lumayan banyak. Kalau kamu melihat kami saat itu, penampilan kami mirip orang-orang yang mau pulang kampunglah kira-kira 😌

Perjalanan Menuju Gunung Kidul

Tidak seperti perjalanan jauh pertama kali ke Hutan Pinus tempo hari, kali ini, mental kami lumayan lebih kuat. Kami sudah tahu kalau perjalanan ini akan melelahkan. Kami juga sudah tahu kalau nantinya pinggang kami akan nyeri tidak tertahankan hahaha

Selama perjalanan, aku sempat mengantuk. Helmku dan Fitri berulang kali saling tubrukan. Fitri pun sadar. Begini katanya,

“Mbak, ngantuk? Bangun mbaaaak.” kata Fitri.

“NGGAKKKK.” kataku cepat. Padahal pada kenyataannya iya benar aku ngantuk hahaha. Kacau betul aku ini.

Pada saat itu, ternyata kami hampir sampai Gunung Kidul. Fitri pun segera mengajak aku mampir ke mini market sebentar. Untuk apa? Untuk membeli minuman asam supaya aku tidak mengantuk, tentu saja wkwk dan membeli beberapa camilan untuk sepupu-sepupu Fitri.

Berjumpa dengan Si Mbah, Bulik, dan Sepupu-sepupu Fitri

Kebun belakang rumah Mbahnya Fitri

Kali pertama tiba di rumah Mbahnya Fitri, aku ingin menangis, dong :’) aku langsung mengingat kampung mbahku di Kroya. Meskipun sudah lama tidak pulang ke sana, ada rasa yang tertinggal di sana. Aku rindu mbah, bude, serta sepupu-sepupuku.

Si Mbahnya Fitri terkejut cucunya tiba-tiba muncul. Si mbahnya Fitri langsung memeluk Fitri. Aku pun langsung ikut mencium tangan mbah dan bulik.

Setelah meletakkan plastik yang berisi camilan untuk para sepupu, Fitri langsung mengajakku ke ruang tengah. Di sana terdapat satu buah televisi dan beberapa kasur yang tersusun di atas tikar. Serta ada dua bocah sedang tidur pulas. Satu bocah berusia belasan tahun. Satunya lagi masih balita.

Mungkin kami berisik, si balita pun terbangun dan menengok ke arahku. Bukannya menangis, si balita malah tersenyum. Langsung meleleh aku tuh disenyumin begitu, Dek 😝

Namanya Kirana. Tahun ini usianya 4 tahun. Sudah sekolah di taman kanak-kanak, katanya. Kirana sudah fasih berbahasa Indonesia. Ia senang mengobrol. Pada awalnya, ia hanya menjawab pertanyaanku saja. Setelah beberapa jam kemudian, ia pun bertanya tiada henti dan terus bercerita hahaha menggemaskan sekali pokoknya.

Hal yang berbeda dari Kirana dengan anak-anak seusianya, Kirana ini mengenal betul tentang dirinya serta keluarganya. Ia tahu apa pekerjaan orang tuanya. Ia tahu kegiatan apa yang biasa dilakukan oleh dirinya serta keluarganya. Ia juga tahu bagaimana cara menjaga apa-apa yang dipunya.

Apa-apa yang dipunya? Bagaimana maksudnya? Iya, Kirana itu tahu lho bagaimana cara menjaga kambing, sapi, serta tumbuhan di kebun rumahnya. Tidak hanya tahu. Kirana juga paham bagaimana cara mengajarkan semua itu kepada aku wkwkwk pintar sekali memang Kirana! 😘

Ini Kirana 😊

Banyak hal kami lakukan di Gunung Kidul. Fitri berbincang dengan Mbah dan Bulik. Aku mengobrol dengan Kirana, Rahmat (si bocah yang tadi tidur di sebelah Kirana), dan Dita. Kami makan bakso super enak bersama-sama. Aku dan Fitri berhasil mencuci baju hingga kering. Dan sebelum pulang, kami makan bersama lagi. Kali ini, yang makan hanya aku dan Fitri. Supaya kami tidak kelaparan di penginapan, katanya hahaha perhatian sekali mbah dan bulik :’)

Oh iya, ada cerita seru. Saat Fitri bercengkrama dengan mbah dan bulik, aku juga mengobrol banyak dengan Rahmat dan Dita. Mereka masih SMP. Rahmat kelas dua dan Dita kelas tiga.

Pada awalnya, tentu saja aku yang memulai bertanya lebih dulu. Lama-lama mereka “terpancing” juga hehe mereka pun menceritakan segala kecemasannya.

Dita cemas karena dirinya kesulitan belajar Bahasa Inggris. Dita juga cemas tentang minat dan masa depannya.

Mbak, bedanya D3 dan S1 itu apa? Kalo aku cuma suka biologi dan sosiologi aja, tapi nggak suka matematika, aku nanti kuliah jurusan apa? Jurusan manajemen itu gimana?” tanya Dita.

Aku malas belajar, Mbak. Aku nggak suka belajar. Aku mau SMK aja. Setelah itu kerja deh. Boleh nggak, Mbak? Oh iya, aku udah punya pacar, Mbak. Kalo ketemuan, ya sehabis pulang sekolah. Tergantung janjiannya gimana.” kata Rahmat.

Aku lebih banyak mendengarkan saja. Alih-alih memberi banyak nasihat (sok tua haha), kupikir mereka lebih butuh tempat untuk bercerita 😊

Pakaian kami pun akhirnya kering. Itu artinya aku dan Fitri harus segera pulang. Cerita para remaja masih belum tuntas. Kirana juga masih seru betul berceloteh banyak hal. Bulik tak bosan-bosan membujuk agar kami tak pulang. Mbahnya Fitri pun memberikan tatapan sedih sebagai tanda ia masih ingin bercengkrama dengan sang cucu. Tapi, betapa pun ingin kami menginap dan bagaimana pun mereka membujuk, aku dan Fitri harus tetap pulang :’)

Untuk kenang-kenangan dan merajut kenangan bersama para bocah, aku pun mengajak foto bersama. Sayang, mbah dan bulik tidak ikutan. Saat itu, mereka sedang sibuk menyiapkan makanan sebelum aku dan Fitri pulang.

Setelah puas bergaya macam-macam, kami pun berpamitan. Rasanya berat melambaikan tangan sebagai tanda perpisahan. Waktu kebersamaan yang sebentar, ternyata memberikan rasa yang cukup mendalam.

Terima kasih Fitri untuk perjalanannya. Terima kasih sudah mengajak aku ke Gunung Kidul. Terima kasih juga sudah mengenalkanku kepada Mbah, Bulik, Kirana, Dita, dan Rahmat. Nanti gantian, ya. Ikut aku ke rumah mbahku. Kita naik motor lagi ke Kroya! 💕

Cerita tentang Jogja #4: Main ke Hutan Pinus Pagi-pagi

Persiapan Sebelum Perjalanan ke Hutan Mangunan

Malam hari sebelum keberangkatan, aku dan Fitri selalu membiasakan diri melihat maps. Meskipun belum tahu medan apa yang akan dihadapi, paling tidak, kami sudah siap menempuh jarak yang jauh sekali hahaha

Apalagi pergi ke tempat yang belum pernah kami singgahi. Mental benar-benar harus disiapkan dengan sepenuh hati serta hati-hati 🤣

Karena sudah tahu Hutan Pinus ini jauh, maka malam harinya kami sengaja tidur lebih cepat. Kami juga berencana akan berangkat pukul tujuh pagi. Kepagian nggak sih? Pagi atau tidak itu relatif, ya. Tergantung kamu suka atau tidak bepergian pagi-pagi wkwkwk

Aku sengaja menyarankan berangkat pagi, supaya kami berkendaranya bisa lebih santai. Tidak perlulah mengebut segala. Aku ingin, kami benar-benar menikmati Jogja. Menikmati jalanan, tempat, serta orang-orangnya. Meskipun pada kenyataannya sih ngebut-ngebut juga hahaha susah memang kalau dibonceng sama si ahli nyetir (baca: Fitri 😚)

Pada awalnya, urusan menyetir ini sebenarnya mau diserahkan kepadaku. Mengingat berat badanku lebih berat dari Fitri serta tinggiku juga lebih tinggi dari Fitri. Fisikku lebih cocok menerpa angin jalan dibanding Fitri.

Ternyata kemampuan menyetir Fitri lebih andal, kawan-kawan. Dan fisik Fitri ternyata lebih tahan banting. Ia kuat betul menyetir jarak jauh. Ia tidak mengeluh sakit pinggang ataupun keluhan-keluhan lainnya. Bagaimana dengan aku? Baru 30 menit perjalanan saja pingganggu sudah tidak tahan hahaha

Rahasia kecil pun akhirnya terungkap. Fitri ini memang sudah terbiasa menyetir jauh, kawan-kawan. Tidak hanya jauh, ia juga sudah terbiasa menyetir di gunung 😌 (Tiap kali ke rumah Mbah di Gunung Kidul, Fitri sering menyetir pada medan tanjakan dan turunan. Luar biasa kan 👏)

Berangkat ke Hutan Pinus Mangunan

Dari denah di atas sudah kelihatan ya jalan yang akan kami lewati lebih banyak jalanan lurus saja. Pada kenyataannya pun begitu. Seingatku, dari penginapanku, hanya perlu belok beberapa kali saja. Setelah itu, kami melewati jalanan lurus saja selama lebih dari 10 km.

Jalan raya menuju ke Hutan Pinus bagus. Semuanya teraspal dengan baik. Nah, medan yang sulit itu setelah mendekati tempat tujuan. Jalanannya menanjak dan menurun. Berliku pula.

Ketika perjalanan kemarin, saat motor kami tiba di gunung, gerimis turun tiba-tiba. Aku lumayan ketakutan. Jalanan menjadi licin sekali dan kendaraan dari arah berlawanan melaju dengan kencang. Entah berapa kali aku mengingatkan Fitri agar berkendara pelan-pelan. Aku menepuk bahu Fitri berkali-kali untuk mengingatkan.

Nggak apa-apa kita sampainya lama, Fit. Nggak usah ngebut. Yang penting keselamatan!” begitu kataku tak bosan mengingatkan. Deg-degan, aku tuh.

Tiba di Hutan Pinus

Pukul 08.30 kami sudah sampai di Hutan Pinus. Rasanya senang banget melihat pohon-pohon pinus yang menjulang. Rasa deg-degan karena medan yang cukup menegangkan pun hilang.

Saat kami sampai, Hutan Pinus masih terang benderang. Aku sempat memotret pemandangan saat matahari masih bersinar terang. Tapi, tiba-tiba kabut pun datang.Karena ini adalah pengalaman pertama melihat kabut datang, aku dan Fitri mengira itu adalah asap bakaran wkwkwk aduh norak banget.

Perkiraan kami beralasan, lho. Soalnya, saat kabut mendekat ke arah kami, pada saat itu pula ada aroma aneh datang. Aromanya persis seperti bau benda yang terbakar. Apa memang begitu aroma kabut, ya? Entahlah, aku juga tidak paham.

Bagaimana kesan-kesan main ke Hutan Pinus untuk pertama kali? Asyik banget! Hutan pinus yang tersinar oleh matahari terlihat begitu menyejukkan. Nggak panas? Nggak, aku serius. Sejuk malahan. Apalagi aku datang pada saat pagi hari. Semakin sejuk saja keadaan di sana. Dingin!

Saat kabut datang, Hutan Pinus tampak begitu lain. Aku merasa seperti berada si dunia dongeng. Aku juga merasa seperti berada di hutan tempat Edward Cullen dan Bella Swan berada hahaha cantik banget, deh.

Sulit didefinisikan dengan kata-kata. Betapa indah pemandangan di sana. Betapa indah alam yang Allah ciptakan. Masya Allah :’)

Pohon pinus saat tersinar matahari. Sejuk!

Pemandangan hutan saat berkabut. Bagus, ya! ☺

Kabut ternyata tidak selalu membuat pemandangan menjadi cantik. Kalau kabut kian menebal, pemandangan di depan menjadi tampak menakutkan.

Sejauh mata memandang tak akan terlihat apa-apa. Semuanya menjadi putih. Bahkan, tanah yang akan kami pijak pun hampir tidak kelihatan. Aku dan Fitri pun langsung berpegangan tangan. Kami sungguh ketakutan 🤣

Setelah berkabut, hujan pun datang. Kami dan pengunjung yang lain langsung mencari tempat berteduh.

Sejujurnya, hal tersulit dari kehujanan di hutan adalah sulitnya mencari tempat berteduh. Berteduh di bawah pohon pun tetap saja kehujanan. Hujan akan menyelinap melewati ranting dan dedaunan 😌

Aku dan Fitri akhirnya memilih berteduh di gapura. Gapura yang bertuliskan selamat datang. Singkatnya, ini pintu masuk Hutan Pinuslah, gitu. Meskipun tidak terlalu luas, saat itu, gapura bisa menampung 7-8 orang. Alhamdulillah.

Hujan tak kunjung reda. Kami memutuskan menerobos hujan saja. Kami ingin ke warung terdekat. Dinginnya suhu di gunung, ditambah turunnya hujan, membuat kami kedinginan. Pikir kami saat itu, kami harus segera menyeruput minuman hangat pokoknya!

Akhirnya, kami mampir ke salah satu warung di sana. Kami membeli milo hangat. Harganya 4.000 saja. Setelah milo kami habiskan, rasa dingin pun lumayan berkurang. Itu artinya, kami harus segera pulang.

Kami tak boleh di sini hingga petang. Lagi-lagi untuk alasan keselamatan. Bepergian sesama perempuan, hal-hal seperti ini memang harus diperhatikan, kan? 🙂

Hutan Pinus di pagi hari yang cerah dan sejuk sudah kami dapatkan. Hutan pinus berkabut yang membuat kami berdecak kagum juga sudah kami rasakan. Bahkan, kami juga mendapat bonus merasakan Hutan Pinus di kala hujan. Apalagi yang kurang? Lengkap sudah.

Aku dan Fitri memutuskan untuk pulang. Kalau tidak salah, saat itu azan zuhur pun belum berkumandang. Perjalanan pulang terasa lebih cepat dan ringan. Di tambah matahari sudah naik yang membuat cuaca menjadi terik nian.

Aku merasa aman. Tak ada lagi jalan licin yang menegangkan. Apalagi dibonceng oleh Fitri yang jago betul dalam hal mengendari kendaraan. Perjalanan pulang pun terasa lebih aman dan menyenangkan. Alhamdulillah 💕

Perjalanan Shinta dan Fitri ke Hutan Pinus pun selesai. Meskipun baju menjadi basah karena hujan, kami tidak menyesal. Hutan Pinus Mangunan benar-benar membuat kami terkesan 😊👍

Foto ini diambil saat perjalanan pulang. Matahari terik, kan!?
Bahkan aku sempat memotret pemandangan di jalan saking nyamannya perjalanan pulang :’)

Cerita tentang Jogja #3: Kraton yang Megah dan Taman Sari yang Cantik

Sewa Motor di Jogja

Motor yang aku dan Fitri sewa, datang tepat waktu. Pukul delapan pagi, pihak Transip mengabariku via whatsapp.

Karyawan kami sudah di depan penginapan, Mbak.” begitu isi pesannya.

Aku cukup lama browsing tentang tempat sewa motor di Jogja ini. Pertimbangan utama adalah seberapa terpercaya perusahaannya dan seberapa cocok harganya. Aku ingin sekali menyewa motor itu dengan harga murah. Tapi, menyadari keadaan bahwa saat itu adalah akhir tahun, maka, harus sadar diri haha

Aku sempat bertanya pada tiga tempat sewa motor. Rata-rata mereka mematok harga 100.000/hari. Harga segitu terlalu mahal untuk kami. Bisa bocor pengeluaran kalau menyewa motor untuk 4 hari wkwk akhirnya, aku dan Fitri sepakat memilih tempat sewa motor dengan harga 90.000/hari.

Kata kawan kami, Aji, harga segitu terlalu mahal. Menurutnya, kami akan mendapat harga lebih murah dari itu bila menawar langsung ketika tiba di Jogja. Kami mendengarkan saran Aji, tetapi tetap yakin dengan kesepakatan tadi. Nggak apa-apa deh harganya 90.000/hari, begitu pikir kami.

Bagi kami, yang terpenting semua sudah siap saat tiba di Jogja. Kami tidak ingin mengambil risiko terlalu tinggi. Masalahnya, ini adalah ke Jogja pertama kali. Dan kami berdua tidak ingin pusing dengan perihal sewa-sewaan lagi. Memikirkan alamat tempat wisata sudah pusing sekali hahaha

Selain masalah terpercaya atau tidak tempat sewa serta perihal harga sewa, aku juga lumayan khawatir tentang kebenaran tempat sewa Transip ini. Transip tidak aktif bersosial media. Kalau tidak salah, terakhir kali mengunggah foto itu tahun 2016.

Review yang orang-orang berikan sih bagus. Sebagian besar memberikan bintang lima yang berarti mereka puas. Review terakhir itu dua bulan lalu. Belum terlalu lama memang. Tapi, aku kan maunya membaca review satu minggu atau dua minggu lalu. Rasanya lebih terpercaya, gitu :’)

Kenapa sih susah banget percaya sama Transip? Iya memang susah. Soalnya, aku harus melampirkan tiga kartu identitas asli. Zaman sekarang siapapun bisa berbuat kejahatan kalau ada kesempatan kan wkwk menurutku, tidak apa-apalah kalau aku lebih waspada.

Melihat bagaimana admin whatsapp memberi informasi dan bagaimana cara admin menanggapi setiap pertanyaan yang aku beri, lama-lama aku lumayan percaya sama Transip ini. “Insya Allah, aman. Bismillah.” kataku dalam hati.

Prosesnya tidak sulit. Aku hanya perlu menyerahkan kartu identitas asli, kemudian mengisi sebuah formulir kesepakatan. Setelah itu, tanda tangan, deh.

Dalam formulir itu juga tertera kapan motor sewaan ini akan dikembalikan. Nanti, pihak Transip yang akan menjemput motor sewaan ke penginapan. Mudah, kan?

Kraton yang Megah

Benar kata abang grabcar. Dari penginapan kami ke Kraton dekat sekali. Jaraknya hanya 550 meter saja. Kalau jalan kaki, 6 menit juga sampai. Kalau naik motor, pastinya bisa lebih cepat lagi. Kemarin saja, aku merasanya baru banget duduk dimotor, eh tiba-tiba sudah sampai Kraton hahaha

Kesan pertama tiba di Kraton, aku seperti kembali ke zaman dulu. Meskipun sudah direnovasi berulang kali, tetap saja “rasa mistiknya” tetap aku rasakan. Apalagi saat melihat patung-patung menggunakan pakaian adat Jawa. Wah, langsung terbayang dalam kepala bagaimana keadaan zaman itu.

Spot yang menarik perhatianku adalah bagian aula. Entah yang benar disebutnya apa. Bagian ini adalah tempat kegiatan-kegiatan utama Kraton dilaksanakan.

Aku tidak tahu betul prosesi apa saja yang biasa dilakukan di sana. Inilah pentingnya Tour Guide, ya. Meskipun bisa membaca cerita di balik tempat itu pada papan keterangan yang tertera di depannya, tetap saja aku belum mengerti. Lebih enak diceritakan langsung sepertinya 😆

Ini aula yang aku maksud 😁

Taman Sari yang Cantik

Sejak kali pertama tiba di Taman Sari, entah kenapa aku langsung jatuh cinta. Aku suka sama bangunan berwarna serba pink pastel di sana. Apalagi dipadukan dengan kolam yang berwarna hijau tosca.

Di balik cantiknya bangunan Taman Sari, ternyata ia pun memiliki bangunan tersembunyi di bawah tanah, lho. Dan sebelum tiba di bangunan bawah tanah itu, kami harus melewati lorong-lorong yang gelap. Seru, deh!

Selain suka sama bangunannya, aku juga suka sama cerita tentang Taman Sari. Oh iya, di Taman Sari ini, kami menggunakan jasa Tour Guide. Jadi, otak kami lumayan tidak “kosonglah”, gitu wkwkwk

Pak Jadi adalah Tour Guide baik hati yang menemani kami selama di Taman Sari.

“Taman Sari ini memang khusus dibangun untuk istri-istri dan putri-putri sultan, Mbak. Pada zaman itu, para istri dan putri merawat diri di sini.” cerita Pak Jadi.

Dulu kan belum ada deodorant ya, Mbak. Maaf, jadi, supaya mereka harum, buah ini nih Mbak yang biasa mereka makan.” Pak Jadi menunjuk sebuah buah saat kami berjalan kaki. Pak Jadi selalu bilang kata maaf untuk setiap topik yang ia rasa kurang sopan. Contohnya saat membahas bau badan di atas ini.

Dulu, kan belum ada kutek ya, Mbak. Buah ini bisa digunakan untuk mewarnai kuku, Mbak. Nanti warnanya merah seperti ini.” Pak Jadi memetik sebuah buah dan mengoles satu jariku dengan buah itu.

“Wanginya seperti jeruk ya, Pak. Bisa dimakan nggak, Pak?” tanyaku.

“Iya memang wanginya seperti jeruk. Boleh kok, Mbak. Rasanya manis, lho. Petik yang warna agak hitam ya. Kalau warna hijau mah masih belum matang.” Pak Jadi memetik buah kecil berwarna hitam itu, mencicip, dan memberikan beberapa buah untuk kami coba.

Iya, rasanya memang manis. Fitri menolak untuk coba. Takut katanya, hahaha. Buahnya kecil seperti cherry. Rasa manisnya juga manis seperti cherry. Aku pun senang.

Bagaimana mungkin aku tidak senang bila berkesempatan merasakan buah yang tumbuh sejak beratus-ratus tahun lalu? Buah yang dikonsumsi para istri dan putri sultan pula :p

Ada satu cerita Pak jadi yang menarik untuk aku bagi. Di terowongan gelap yang aku ceritakan tadi, ada sebuah lorong menjorok ke dalam lagi. Kata Pak Jadi, lorong itu biasa digunakan untuk tempat imam saat salat. Di dalam lorong itu, suara sìapapun akan menggema. Tujuannya, ya supaya para jamaah bisa mendengar suara sang imam.

Saat berkunjung itu, Pak Jadi mempraktikkan lho bersuara dalam lorong itu. Iya benar banget, suara Pak Jadi terdengar hingga luar terowongan. Takjub sekali aku saat melihat langsung kejadian itu. Masya Allah :’)

Ini terowongan yang aku maksud. Difoto ini tidak gelap, ya. Padahal aslinya gelap, Guys wkwk
Dari lorong tempat imam memimpin salat, katanya, suara imam akan terdengar hingga tangga-tangga ini :’)

Pada zaman itu, istri dan putri sultan memang begitu dijaga. Dijaga kebersihan dan kecantikan diri, maka dibangunlah kolam di Taman Sari. Dijaga keamanannya, maka dihukumlah para pelaku kejahatan (yang berani mengintip tempat pemandian ini) dengan hukuman mati, dan dijaga kesopan-santunannya, maka dibuatlah pintu-pintu berukuran pendek. Tujuannya, supaya para istri dan putri terlatih menundukkan kepalanya setiap hari.

Kata Pak Jadi, kebiasaan menunduk ini disimbolkan sebagai tanda kesantunan dan kepatuhan kepada suami dan ayah.

Hari itu, Keraton yang Megah dan Taman Sari yang Cantik, memenuhi hati aku dan Fitri. Entah mengapa, ada rasa hangat di dalam hati. Kami seperti merasakan ketenangan dan kedamaian tempat-tempat itu di zaman dulu. Kami seperti berada pada dimensi lain beberapa waktu hihi

Hari pertama di Jogja berjalan lancar. Siang harinya, kami pun menyantap sebuah es krim dan bercerita tentang lelahnya hari itu.

Meskipun lelah dan keringat memenuhi dahi karena Jogja di siang hari terik, kami senang sekali. Kami pun tak sabar menanti esok hari.

Ke manakah aku dan Fitri akan pergi? Insya Allah nanti akan aku tuliskan lagi. Cerita ini dulu untuk hari ini 😁

Cerita tentang Jogja #2: Tiba di Jogja

Stasiun Lempuyangan adalah stasiun tujuan aku dan Fitri saat ke Jogja. Kenapa kami memilih stasiun itu dibanding Stasiun Tugu? Alasannya sederhana, stasiun itu aku pilih karena sesuai dengan waktuku dan Fitri. Lagi pula, jarak antara Stasiun Tugu dan Stasiun Lempuyangan ke Garser Homestay tempat kami menginap juga sama saja. Sekitar 4 km.

Karena ini adalah pengalaman pertama kami ke Jogja, tentu saja rasanya lumayan cemas. Kami cemas apakah akan baik-baik saja selama di sana. Apalagi, beberapa kawan memberikan tanggapan negatif atas pilihan kami.

“Lebih baik menginap di dekat Malioboro. Kalau jalan kaki ke malioboro dekat.” begitu kata seorang kawan.

“Turunnya di Stasiun Tugu aja. Kalo di Stasiun Lempuyangan nanti harus jalan kaki dulu ke arah flyover.” begitu kata seorang kawan yang satunya.

Pokoknya, mereka meragukan segala pilihan kami. Seperti lagu Raisa, kami selalu salahlah, gitu wkwkwk

Kalau mencoba berbaik sangka, mungkin karena kami perempuan, jadi mereka sebegitu khawatirnya. Dan mungkin karena mereka perhatian, sehingga beberapa tanggapan itu mereka keluarkan.

Meskipun pada awalnya sempat terganggu dengan tanggapan-tanggapan itu, tetapi aku menyakinkan Fitri bahwa pilihan kami adalah yang terbaik. Insya Allah, kami akan baik-baik saja saat di Jogja nanti.

Tiba di Jogja

Jam tanganku menunjukkan pukul 20.00. Kereta kami tiba terlambat 30 menit.

Sedari awal, aku memang sudah memilih grabcar untuk mengantar kami ke homestay. Pikirku, grabcar lebih aman.

Seperti kata kawanku di Jakarta, kami memang harus berjalan kaki sedikit ke flyover. Di sanalah bapak grabcar akan menjemput kami.

Ternyata jarak antara stasiun dan flyover tidak begitu jauh, kok. Menurutku, anak muda akan mampu kalau hanya berjalan dengan jarak segitu. Hanya saja, aku tidak merekomendasikan untuk lansia, ya. Menurutku, jarak ini akan merepotkan sekali untuk mereka.

Jogja memang terkenal dengan keramah-tamahan dan kesantunannya. Begitu pula dengan bapak grabcar. Sepanjang perjalanan, bapak grabcar bercerita banyak kepada kami.

Dari cerita tempat tinggal Roy Suryo yang tinggal di Jogja, hingga cerita tentang keresahannya terhadap abang grabcar “palsu”.

Bapak grabcar bercerita, isu ini sebenarnya sudah beredar lama. Tentang “nakalnya” para abang grabcar yang mencari penumpang di luar domisilinya.

Di Jogja, ternyata pengemudi yang ada kebanyakan dari luar Jogja. Mereka hanya mampir sebentar untuk mencari penumpang, kemudian esok harinya pulang. Biasanya, mereka hanya parkir di pinggir jalan saja.

“Lho, memangnya nggak boleh ya pak para pengemudi grabcar mengambil penumpang dari mana saja?” tanyaku penasaran.

Nggak boleh, Mbak. Aturan dari grabnya juga nggak boleh. Lagipula, hal ini juga merugikan kami sebagai pengemudi asli Jogja. Kami jadi sulit mendapat penumpang, Mbak.” kata Bapak grabcar.

Dan sekarang sudah ada aturan baru. Jadi, setiap pengemudi grab itu harus punya data diri yang menunjukkan domisilinya, Mbak. Dan kami juga akan diperiksa secara berkala tentang kedisiplinan menjaga mesin mobil kami.” tambah bapak grabcar.

“Saya baru tau pak ternyata masalah tentang pengemudi grabcar serumit ini. Dan saya baru tau ternyata banyak ya orang-orang yang nakal.” kataku menanggapi curhatan bapak.

Oh iya, Mbak. Penginapan mbak ini di komplek gudeg, lho. Jadi, mbak gampang tuh kalo mau icip gudeg-gudeg enak. Lokasi wisata paling dekat dengan penginapan mbak itu kraton.” kata bapak grabcar memberi informasi.

Wah, aku senang betul saat bapak memberi informasi ini hahaha berkat bapak, wawasan tentang wisata di Jogja aku dan Fitri lumayan terbuka 😝

Di depan pintu kuning, masih ada dua pintu lagi. Pintu pertama untuk parkir motor, pintu kedua adalah pintu gerbang dekat jalan.
Di samping dan di depan tempat helm tergantung, ada beberapa bangku. Kata Mas Ambuh, tamu dari luar penginapan boleh duduk-duduk dan mengobrol di sana. Selama tidak berisik, bahkan tamu boleh berbincang sampai bosan, lho 👌
Ruang tamu ini biasa digunakan oleh rombongan. Kemarin ada banyak dedek-dedek mahasiwa bercengkrama di sini 🤭

Kali pertama sampai di Penginapan, kami disambut oleh Mas Ambuh. Mas Ambuh ini bertugas sebagai admin sekaligus penjaga penginapan.

Kesan pertama berkenalan dengan Mas Ambuh, Mas Ambuh tampak ramah, tetapi sedikit sekali berbicara. Malam itu, tanpa basa-basi yang terlalu banyak, ia pun segera menunjukkan kamar yang akan kami tempati.

Lokasi kamar kami ada di belakang. Letaknya, di samping dapur. Kata Mas Ambuh, kami boleh menggunakan dapur beserta perlengkapannya. Minuman didispenser pun boleh kami ambil.

Pada kenyataannya, dapur hanya kami gunakan untuk masak air saja, sih wkwk selama liburan di sana, kami selalu berangkat pagi, siang istirahat sebentar di penginapan, dan sore hingga malam biasanya berkeliling sekitar penginapan.

Diskusi Malam bersama Fitri

Berbekal informasi dari Aji yang beberapa bulan lalu bulan madu di Jogja, kami sebenarnya “sedikit” terbayang tentang Jogja. Sedikit lho ya hahaha

Aku mencatat beberapa saran dari Aji. Seperti, gudeg yang enak itu Gudeg Yu Djum. Hutan pinus yang bagus itu Hutan Pinus Mangunan. Kalau ke Taman Sari jangan lupa pakai tour guide. Tour guide akan membantu banget selama berkeliling Taman Sari. “Biar nggak kosong kepala kita wkwk.” begitu katanya.

Kata Aji lagi, jangan makan angkringan tepat di Malioboro. Karena harganya akan mahal. Aji juga memberi saran tentang transportasi selama di sana.

“Sewa motor, aja. Kan ada maps!” begitu kata Aji.

Sebelum berangkat, Aji juga memberi tahu perkiraan harga sewa motor di sana. Aji bilang, harga normal seharusnya sekitar 70.000 hingga 80.000-an. Tapi, karena kami bepergian tepat di akhir tahun, aku dan Fitri pun akhirnya dapat harga sewa 90.000 untuk satu hari.

Oh iya, Aji juga menyarankan, sebaiknya beli oleh-oleh di Pasar Beringharjo saja. Di sana, harganya lebih murah dibandingkan belanja di sekitar Malioboro. Dan jangan lupa menawar. Kalau tidak pintar menawar, biasanya para penjual akan memberikan harga yang tidak wajar.

Saran-saran Aji pun aku simpan baik-baik dalam ingatan. Supaya tidak lupa, aku pun mencatat sarannya dalam aplikasi notes gawai hahaha

Takut kesasar nggak sih kalau bepergian ke Jogja pakai motor? Tentu saja takut pada awalnya wkwk tapi, Aji dan istri saja bisa. Aku dan Fitri tentu saja juga bisa, dong! Selama ada gawai, paket internet, dan maps, Insya Allah kami akan baik-baik saja hehe 💪

Malam hari setelah tiba di penginapan, aku dan Fitri pun langsung mengatur strategi. Pembagian tugasnya begini, Fitri akan bertugas menyetir dan aku akan bertugas membaca maps.

Kalau Fitri, tidak perlu diragukan lagi kemampuan menyetirnya. Saat kuliah dulu, ia terbiasa naik motor pergi pulang dari Jakarta Timur ke Jakarta Pusat. Jago banget memang dia wkwk

Kalau kemampuanku, masih meragukan memang 🤣 Aku belum terbiasa membaca maps, jarang sekali bepergian jauh, dan memang tidak tertarik dengan si maps. Berbekal kenekatan dan demi keselamatan, aku pun berusaha menaklukkan maps 😝

Malam saat kami tiba di Jogja diisi dengan diskusi panjang. Aku dan Fitri belum tahu apa-apa tentang Jogja memang. Tetapi, kami yakin perjalanan ini akan menyenangkan. Semua hanya tentang keberanian dan kebersamaan, kan? ☺

Jadi, bagaimanakah aku dan Fitri mengeksekusi semua rencana dan strategi yang sudah dibuat? wkwkwk Insya Allah akan aku tulis menjadi beberapa cerita. Tunggu, ya 😆

Cerita tentang Jogja #1: Berawal dari Drama di Kereta

Dua Anak Rumahan yang Berbeda Kesukaan

Teman perjalananku kali ini adalah Fitri. Gadis rumahan yang suka kulineran tetapi tidak suka panas-panasan. Dan aku? Adalah gadis rumahan yang suka jalan-jalan tetapi tidak pandai menghafal rute jalan. Lengkap, ya. Sudah bisa ditebak, cerita perjalanan kali ini pasti penuh dengan kehebohan, Gaes. Haha

Perjalanan ini berawal dari rasa ingin tahu yang tinggi terhadap Jogjakarta (Jogja) . Kami sama-sama ingin ke Jogja. Fitri yang memiliki kampung di daerah Gunung Kidul belum pernah berkeliling Jogja. Aku pun sama. Sejak SMP hingga SMA, study tour hanya Bandung saja. Oleh karena itu, hafal betul aku sama Bosscha, peternakan sapi, dan Taman Hutan Raya Ir. H. Djuanda haha Akhirnya, kami pun sepakat akan pergi ke Jogja bersama-sama.

Memiliki teman perjalanan baru, berarti harus beradaptasi lagi dengan hal-hal baru. Aku ini selalu bepergian bersama Dela. Aku dan Dela memiliki ketertarikan yang sama. Suka alam dan suka melakukan aktivitas yang cenderung “ekstrem”. Aku dan Dela terbiasa backpackeran, gitu.

Perjalanan ini adalah perjalanan pertama kali untuk Fitri. Maka, akulah yang harus berusaha menyesuaikan Fitri ini. Biar apa? Biar Fitri tidak kapok perjalanan jauh lagi wkwkwk

Apa saja sih beberapa penyesuaian yang aku dan Fitri lakukan? Kalau aku, penyesuaian pertama adalah menggunakan koper. Aku terbiasa bepergian menggunakan backpack. Nah, perjalanan kali ini bawa koper dong. Terus, lumayan terkejut karena jadi bisa bawa barang banyak banget. Bahkan, kapas seplastik pun bisa kebawa 🤣

Penyesuaian kedua, pemilihan objek wisata pun harus aku sesuaikan dengan Fitri. Kalau ditanya maunya aku apa, tentu saja akan aku pilih gua pindul, kebun buah mangunan, dan wisata gunung merapi haha tetapi, tempat wisata itu tidak sesuai dengan Fitri. Ia tidak begitu suka perjalanan yang terlalu lelah dan merepotkan.

Kalau Fitri, penyesuaian yang dia lakukan adalah harus mau berjalan kaki lama dan jauh wkwk Fitri pun menerima hutan pinus imogiri dan candi prambanan yang kusarankan sebagai destinasi kami. Alhamdulillah 😊

Dan akhirnya, aku memilih beberapa tempat wisata yang cocok untuk kami. Jadi, apa saja tempat wisata yang terpilih? Museum-museum dekat pusat kota, hutan pinus imogiri, dan candi prambanan 😁👍

Drama Tempat Duduk di Kereta

Kesalahan memilih tempat duduk saat memesan tiket online adalah awal drama ini dimulai. Aku dan Fitri duduk di tempat yang terpisah. Kami tidak duduk sebelahan. Berbeda gerbong pula. (Awalnya, aku tidak tahu kai access bisa memilih bangku. Tidak ada tulisan pilih bangku, soalnya. Ternyata, kode bangku yang muncul bisa diklik. Di sanalah kita bisa memilih bangku sesuai keinginan).

Nasi sudah menjadi bubur. Jadi, aku sudah berusaha menerima sejak kesalahan itu kuperbuat.

Oke, nggak apa-apa. Pulangnya nanti duduk sebelahan, kok.” begitu kataku dalam hati.

Berbeda dengan Fitri. Tentu saja hal ini masalah besar untuknya. Apalagi ini adalah perjalanan pertama kali. Ia berpesan kepadaku berkali-kali agar berpindah tempat duduk saat di kereta nanti.

Iya, nanti aku coba minta tolong sama penumpang sebelahku.” begitu kataku. Ada rasa tidak nyaman sebenarnya. Aku selalu merasa tidak enak hati bila harus merepotkan orang lain. Apalagi orang asing yang tidak aku kenal 🤣

Hari yang dinanti pun tiba. Hari di mana aku dan Fitri duduk di gerbong yang berbeda haha Fitri mengabari bahwa penumpang sebelahnya berkenan untuk bertukar tempat duduk.

Mas-mas berbaju merah berdiri dan menyapaku. “Oh ini rupanya mas-mas yang baik hati itu.” kataku dalam hati.

Aku pun mengantar si mas ke bangku tempat dudukku tadi. Setelah mengucapkan terima kasih, aku meninggalkan si mas dan menuju bangku di sebelah Fitri.

Setelah beberapa menit berlalu, mas berbaju merah pun kembali. Ia menanyakan apakah ada kesalahan pada tempat duduk yang ia tempati.

“Ada orang yang mau duduk di tempatku, Mbak. Mbak salah gerbong nggak ya?” katanya sopan.

Aku agak panik dan segera mengecek E-boarding Pass pada gawaiku. Berharap tidak ada kesalahan. Kalau iya, malu betul aku sama si mas. Dan pupuslah harapanku. Ternyata aku salah membaca kode tempat duduk.

Mas, maaf banget. Aku salah bangku. Bukan 13D. Tapi, 21D. Maaf ya mas. Sini aku antar mas.” aku salah membaca. Bukannya membaca kode bangkuku, aku malah membaca kode bangku Fitri 😓

“Iya gapapa, Mbak. Sekalian jalan-jalan hahaha.” kata si mas berbaju merah. Ah, semakin merasa bersalah aku. Bisa-bisanya si mas setenang itu.

“Sekali lagi, maaf ya, Mas.” kataku. Aku sangat merasa bersalah. Kemudian aku pun kembali ke tempat dudukku.

Setibanya di tempatku, Fitri menyarankan supaya memberikan beberapa camilan untuk si mas. Sebagai ucapan maaf sekaligus terima kasih, katanya. Tanpa perlu berpikir lagi, aku pun bergegas ke tempat duduk si mas berbaju merah dan memberikan beberapa camilan untuknya.

Mas, untuk nyemil di kereta. Sekali lagi, maaf dan terima kasih ya, Mas.” kataku dan cepat-cepat pergi.

Kudengar sekilas, si mas menolak camilanku itu. Aku pura-pura saja tidak mendengar dan segera meninggalkan tempat si mas.

Camilan itu tidak seberapa dibanding kebaikan hatinya. Tanpa bantuannya, aku dan Fitri tidak akan duduk bersebelahan seperti ini. Tanpa kebaikan hatinya, ia tidak akan sesabar itu menghadapi kesalahanku tentang bangku tadi.

Drama salah bangku ini memang membuat jantungku lumayan berdegup kencang. Apalagi melibatkan orang lain atas kesalahanku ini. Tapi, dalam perjalanan memang hal-hal seperti inilah yang aku cari. Sebuah pelajaran dalam perjalanan.

Bagaimana aku bertanggung jawab atas kesalahan yang telah diperbuat. Bagaimana mengendalikan diri pada keadaan apapun. Khususnya, situasi tidak menyenangkan seperti drama bangku tadi. Dan bagaimana berdamai dengan diri sendiri bahwa tidak semua keinginan harus terjadi.

Kita melakukan perjalanan ke tempat-tempat baru memang untuk itu, kan?

Entah siapa si mas berbaju merah itu, darinya aku belajar banyak hal. Tentang ketulusan hatinya membantu orang lain. Serta kelapangan hatinya memaafkan dan memaklumi kekhilafan orang lain. Terima kasih, Mas. Semoga segala urusan Mas dimudahkan Allah dan selalu didekatkan dengan hal-hal baik. Aamiin.

Festival Relawan 2019: Tentang Mereka

Berkenalan Kala Tersesat

Seorang perempuan berbaju hitam dengan sigap langsung bertanya ke mbak-mbak restoran. Perempuan itu dan kami ingin ke acara festival relawan. Kami tersesat. Saat itu, ada beberapa perempuan. Termasuk aku.

Setelah tahu arah mana yang dituju, perempuan berbaju hitam langsung saja pergi. Ia tidak mengajak kami. Aku pun mempercepat langkah kaki untuk mengejar perempuan itu.

Mau ke festival relawan, Mbak?” kataku, membuka obrolan.

Iya, Mbak.” jawabnya singkat.

Arahnya bener ke sini, Mbak? Kita naik terus sampai lantai tujuh? hahaha.” kataku. Saat itu, kami masih di lantai dua kalau tidak salah 🤣

Iya, Mbak hahaha nggak ada lift, Mbak. Nggak ada kan ya, Mbak?” kata perempuan itu.

Iya nggak ada. Yaudah mbak, yuk kita lanjutkan mendakinya hahaha.” jawabku.

Dari media juga, Mbak?” ia pun akhirnya membuka obrolan.

Nggak, Mbak. Aku umum.” jawabku.

“Eh, namanya siapa, Mbak? Aku Shinta.” tambahku.

“Aku Dessy, Mbak. Mbak sendirian?” katanya.

Iya, aku sendirian.” jawabku.

Sama aku juga. Yuk, kita barengan aja, Mbak.” ajaknya.

Iya boleh, Mbak hahaha.” jawabku.

Begitulah awal perkenalan kami. Aku senang mengobrol dengan Dessy. Tidak ada canggung sama sekali di antara kami. Padahal baru saja berkenalan.

Dessy adalah calon jurnalis. Saat ini, ia sedang magang dan sibuk mengurus tugas akhirnya. Alasan utama ia datang ke festival relawan sebenarnya untuk mengerjakan tugas. Meskipun begitu, Dessy memang niat datang, kok. Bahkan, sebelum diberikan tugas, Dessy pun sudah mendaftar lebih dulu.

Belajar Menjadi Luwes dan Supel Seperti Dessy

Setelah absen dimeja registrasi, aku dan Dessy langsung berjalan ke arah booth. Booth pertama yang kami datangi bernama Elok. Booth ini menjual macam-macam pouch berbahan kanvas. Harganya pun murah. Hanya 5000 sampai dengan 15.000 saja.

Kata Mbaknya, barang-barang yang dijual hari itu adalah produk gagal. Gagal di sini bukan tidak layak pakai ya, Guys. Gagal yang dimaksud adalah ada sedikit lecet pada produknya. Kena tinta setetes atau tergores sedikit, misalnya.

Dessy dan aku membeli sarung untuk sedoran stainless. Harganya hanya 10.000 saja. Murah kan?

Melihat bagaimana Dessy bersikap, aku takjub banget, lho. Ia seluwes itu mengajak aku belanja bareng. Padahal kita baru saja berkenalan beberapa menit yang lalu hahaha

Dari sikap Dessy ini, aku jadi tahu bahwa mengajak seseorang yang baru dikenal melakukan kegiatan bersama ternyata berguna banget. Kegiatan tersebut akan membuat kita semakin dekat. Kegiatan tersebut juga membuat kita berdiskusi banyak. Diskusi yang kami lakukan kemarin begini,

Kak, ini murah banget lho! Aku pernah liat si booth elok di mall, rata-rata harganya tuh di atas 30.000, kak!” Dessy bercerita dengan antusias.

Oh iya? Yaampun mahal banget ya, Des. Harusnya tadi kita borong semua ya pouch-pouch di booth elok wkwk.” jawabku.

Iya bener banget, kak! Tapi entar jebol kantong wkwkwk.” jawab Dessy.

Namanya Suci, Gadis Rantau Asal Makassar

Saat sedang asyik-asyiknya menonton pembicara hebat saling berdiskusi, Dessy harus segera pergi. Ia harus meliput kegiatan musik. Dessy pun meninggalkan aku, Anita (teman kuliah Dessy), dan Suci (teman baru Anita)

Anita pun turut pergi. Ada urusan, katanya. Tersisalah hanya aku dan Suci. Dua orang yang tak saling kenal akhirnya duduk bersebelahan wkwk

Meskipun tidak suka keramaian, aku juga tidak suka saling diam padahal kita sudah berkenalan 🤣 Akhirnya, aku menyapa duluan. Aku juga melontarkan banyak pertanyaan ke Suci. Suci yang awalnya sedikit bicara, akhirnya terpancing untuk bicara juga. Interaksi yang seru pun terjadi. Ternyata Suci cukup talk active.

Suci ini baru saja tiba di Jakarta kurang lebih satu minggu yang lalu. Setelah merampungkan studi magisternya, ia langsung pindah ke Jakarta. Informasi tentang festival relawan ini ia dapatkan dari iklan instagram. Tanpa perlu berpikir panjang, Suci pun langsung daftar dan datang.

Tidak seperti aku yang baru saja terjun ke dunia kerelawanan, Suci ternyata sudah lama terlibat dalam kegiatan relawan. Meskipun belum mendaftar sebagai anggota tetap sebuah komunitas, Suci sudah banyak mengikuti kegiatan relawan. Kata Suci, ia tertarik betul sama isu-isu lingkungan dan pendidikan.

Yang membuat aku semakin nyaman bersama Suci selama festival adalah kebiasaannya salat tepat waktu. Ia tahu betul kapan azan berkumandang. Padahal, kami berada dalam ruang diskusi yang sangat ramai.

Shin, aku salat dulu, ya.” begitu kata Suci setelah kami berkenalan.

Setelah bersama-sama cukup lama, pertanyaan Suci pun berubah. Katanya begini,

“Shin, kita salat dulu, yuk. Entar kita lanjut lagi nonton diskusinya.” kata Suci saat waktu Asar. Masya Allah Suci. Bersyukur banget bisa bertemu dan berkenalan dengan Suci.

Anita Mahasiswa Tingkat Akhir yang Lembut Hatinya

Kamu udah sering ikut kegiatan relawan, Anita?” tanyaku.

Pernah ngajar anak-anak saat aku SMA, kak. Dan sekarang, belum ikut lagi. Aku sengaja datang ke sini supaya ketemu banyak komunitas. Kali aja ada yang berjodoh, Kak hahaha.” jawabnya.

Anita adalah teman Dessy. Mereka satu kampus. Kata Anita, ia dan Dessy tidak pernah satu kelas. Alasan mengapa mereka tampak akrab, itu karena mereka pernah bertemu dalam satu acara kampus. Sejak itu, mereka jadi akrab, deh.

Saat kami makan sore bersama, Anita bercerita sedikit pandangannya tentang kegiatan relawan. Kata Anita, karena khawatir kegiatan perkuliahannya akan berantakan, ia pun memutuskan untuk vakum menjadi relawan. Bukannya tenang, Anita malah merasa gelisah.

Ada rasa yang hilang saat ia vakum. Rasanya ada yang tidak lengkap. Menjadi relawan memang capek. Tapi, meskipun capek, hatinya terasa penuh tiap kali bertemu dengan anak-anak. Ada rasa gembira yang tak bisa terdefinisikan.

Itulah mengapa ia memutuskan ingin menjadi relawan lagi. Padahal saat ini seharusnya ia fokus memikirkan skripsi. Tapi, Anita memilih jalan lain. Menurut Anita, semua pasti bisa dilakukan asalkan memiliki kemauan dan keberanian. Dan sekarang, tanpa ragu sedikit pun, Anita yakin ingin memulai kembali. Ah, keren banget Anita ini! 👏👏👏

Bertemu mereka jadi “suntikan” semangat banget. Semangat menjadi supel dan seru seperti Dessy. Semangat menjadi “membumi” yang taat pada Allah seperti Suci. Serta semangat menjadi manusia yang berhati hangat dan tulus seperti Anita.

Terima kasih, teman-teman. Semoga kita berjumpa lagi. Semoga memiliki kesempatan melakukan kegiatan bersama-sama lagi. Dan semoga Allah memudahkan segala rencana baik kita. Aamiin 😊