Buku: Begitulah Hati

Judul Buku: Barakallaahu Laka Bahagianya merayakan Cinta.
Penulis: Salim A. Fillah
Halaman: 218

Begitulah hati. Ketika hati kita jernih, rahmat Allah akan merambahkannya, menjadikannya lembut dan penuh kasih sayang. Ketika hati kita jernih, dada kita meluas. Kita tidak mudah terbumbu oleh kata-kata lawan bicara yang pedas. Kita lebih mudah mencerna aneka kata tanpa prasangka, kemudian menyikapi dengan tindakan paling tepat. Ketika hati kita jernih, maka fikiran kita bening, dan kepala kita dingin. Lisan pun hanya menghembuskan wangi dan meniupkan sejuknya akhlak yang ada dalam diri.

Begitulah hati. Ketika hati kita kasar, maka sikap kita menjadi keras. Tidak ada kelembutan. Dada kita menyempit. Telinga kita mudah memerah mendengar sesuatu yang sebenarnya belum kita pahami maknanya. Jiwa kita dipenuhi prasangka, menebak-nebak maksud mereka yang berbicara pada kita dan bersinggungan di arena kehidupan. Maka setiap orang akan merasakan aroma neraka menghambur tiap kali kita berbicara. Mereka merasakan sakit, seolah setiap huruf yang terucap dari lisan kita adalah pedang-pedang yang menyambit. Maka mereka —minimal hati mereka— berlari jauh meninggalkan kita. Apa jadinya, jika yang demikian dirasakan oleh orang yang paling dekat dengan kita? Istri kita? Maka cinta menjadi sesuatu yang mahal harganya dalam rumah tangga kita. Dan akhirnya, segalanya terasa hampa.

Semua bermula dari hati. Ketika hati kita jernih, ada kesiapan untuk belajar lebih banyak. Ketika hati kita jernih, ada semangat yang besar untuk menambah ilmu. Ketika hati kita jernih, ada hasrat yang kuat untuk memberikan yang terbaik bagi semua orang. Ada ruh berbagi yang dahsyat. Berbagi senyum yang tulus, berbagi wajah yang manis, berbagi kelembutan kata, dan berbagi kebenaran. Hati yang jernih ibarat lampu kaca. Ia memancarkan cahaya yang diletakkan Allah dalam nurani tiap-tiap kita. Dan ilmu, kata Imam malik, juga adalah cahaya Allah. Maka setelah hati yang jernih, ada ilmu yang menerangi.

Advertisements

Buku: Alhamdulillah Bulan Ini Dapat Empat

image

Alhamdulillah bulan ini mendapat rezeki lagi dari Allah. Maka, saya memutuskan untuk membeli buku. Banyak hal-hal yang ingin saya ketahui tentang berbaik sangka dengan kehidupan, pernikahan, dan cara ibu retno hening mendidik Kirana yang pintar dan menggemaskan. Alhamdulillah bisa membeli karya-karya Ibu Retno Hening, Mas Kurniawan Gunadi, dan Fadh Pahdepie. Saya senang sekali 😀 Diusia seperti sekarang ini banyak sekali yang saya khawatirkan. Karena saya tahu, sebentar lagi akan berada pada tahapan pernikahan dan menjalani rumah tangga. Ada banyak pertanyaan seperti, akankah saya bisa menjadi role model untuk anak- anak saya kelak? Akankah saya bisa menjadi istri yang shalihah? Dan yang terpenting untuk saat ini, sudahkah saya menjadi anak yang berbakti dan menjadi teladan yang baik untuk adik-adiknya? Oleh karena itu, meskipun sepanjang kehidupan adalah belajar, saat ini saya pun ingin mempersiapkan diri menjadi sebaik-baiknya muslimah.

Mencari ilmu sebanyak-banyaknya adalah keharusan dan kebutuhan. Agar kelak bisa bermanfaat dan bisa berbagi kepada sesama.

Semangat! Berusahalah untuk meluangkan waktu untuk membaca. Karena hidup ini sangat berarti, maka isilah dengan kegiatan yang bermanfaat. Kalo saya, dengan membaca maka saya merasa sangat terhibur 🙂

Buku: Sabar dan Syukur

Judul Buku: Lapis-lapis Keberkahan
Penulis: Salim A. Fillah
Halaman: 414-415

Nabi nyatakan betapa menakjubkan hidup dan ihwal orang beriman. Semua urusannya adalah kebaikan.

Sebab, atas musibah dia bersabar, dan sabar itu membuatnya meraih pahala tanpa hingga, dicintai-Nya, dan dibersamai Allah di segala luka. Sebab dalam nikmat dia bersyukur, dan syukur itu membuat sang nikmat melekat, kian berganda berlipat, menenggelamkannya dalam rahmat.

Tapi hakikat sabar dan syukur sebenarnya satu saja. Ia adalah ungkapan iman menyambut penuh ridha akan segala karunia-Nya, apa jua bentuknya. Maka sabar adalah sebentuk syukur dalam menyambut karunia nikmat-Nya yang berbentuk lara, duka, nestapa, dan musibah yang niscaya. Maka syukur adalah sebentuk sabar dalam menyambut karunia musibahnya yang berbentuk kesenangan, kelapangan, sukaria, nan nikmat. Lihatlah Ayyub, dia bersyukur atas segala sakit dan nestapanya, sebab Allah menggugurkan dosa dan menyisakan hati serta lisan tuk mendzikir-Nya. Lihatlah Sulaiman, ia bersabar atas kemaharajaan jin, hewan, dan manusia. Sabar dengan bersyukur agar tak tergelincir sebagaimana Fir’aun.

Para ulama menyatakan, sabar ada dalam empat hal: mentaati Allah, menjauhi kemaksiatan, menerima musibah, dan membersamai orang benar. Semuanya adalah juga rasa syukur pada-Nya.

Sabar dalam taat.
Sebab ia kadang terasa berat, ibadah terasa beban, keshalihan terasa menyesakkan. Tetapi syukurlah, Allah itu dekat, Maha Mendengar bisik pinta dan lirih taubat.

Sabar dalam menjauhi maksiat.
Sebab ia kadang tampak menarik, kedurhakaan terlihat asyik, dan dosa-dosa terbayang cantik. Tetapi syukurlah, iman itu malu pada-Nya, merasa pengawasan-Nya lebih akrab daripada urat leher kita.

Sabar dalam menghadapi musibah.
Sebab ia niscaya bagi iman di dada. Tetapi syukurlah, dengannya dosa gugur, derajat dinaikkan, dan beserta kesulitan selalu ada kemudahan.

Sabar dalam kebersamaan dengan orang benar.
Sebab seringkali kawan yang tulus lebih menjengkelkan daripada musuh yang menyamar. Tetapi syukurlah, bersama mereka dalam keshalihan akan membawakan keistiqamahan, manisnya iman, naungan Allah, dan mimbar-mimbar cahaya di surga yang membuat iri para Nabi dan Syuhada.

….Dan sesungguhnya hanya orang-orang yang bersabarlah yang disempurnakan pahala mereka tanpa batas. (Q.s. Az-Zumar [39]: 10)

Sebab pahalanya diutuhkan tak terhingga, maka sabar pun sebenarnya tiada batasnya. Hanya bentuknya yang boleh disesuaikan. Maka iman menuntun takwa; ialah cerdik  dan peka hati dalam memilih bentuk sabar sekaligus syukur atas segala wujud ujian cinta dari-Nya. Takwa itu yang membawa sabar kita mendapat kejutan yang mengundang syukur, jalan keluar dari masalah, dan rizqi yang tak disangka-sangka. Tiap nikmat yang disyukuri juga berpeluang mengundang musibah yang harus disabari, seperti tampannya Yusuf dan cinta Ya’qub padanya.

Maka, di lapis-lapis keberkahan, tak ada kata henti untuk sabar dan syukur, sebab ia adalah dua tali yang menghubungkan kita dengan-Nya; hingga hidup terasa surga sebelum surga.

Buku: Menuju Surga Bersama

image

Entah untuk siapa hati ini kan dilabuhkan.
Entah bahu siapa kelak kepala ini kan disandarkan.
Entah dibahtera mana nantinya jiwa ini kan dipersatukan.
Senyap doaku membumbung.
Tinggi di langit malam.
Semoga aku menjadi rumah bagimu.
Tempat kau istirahatkan semua lelah.
Tempat kau basuh semua gundah.
Tempat kau luruh semua amarah.
Rumah persinggahanmu di dunia.
Sebelum kau mengajakku bersama.
Menuju Janah-Nya.

(Dikutip dari buku: Sah Sudahi atau Halalkan – @NikahAsik)

Buku: Berkawan dengan Orang Shalih

Berikut adalah beberapa tulisan Ustad Salim A. Fillah tentang orang shalih dalam buku lapis-lapis keberkahan yang wajib saya posting diblog ini. Sebagai self reminder 🙂 karena, saya itu kalau tidak diingatkan seringkali lupa. Semoga Allah memaafkan.

Engkau akan bersama dengan yang kau cintai – Rasullullah

Hadist ini adalah permata di lapis-lapis keberkahan para shalihin. Bahwa, walau amal diri rombeng di sana sini, mencintai mereka adalah kendaraan pengantar ke derajat yang tak tergapai oleh amal pribadi kita.

Tak heran jika Imam Asy-Syafi’i, juga dengan rendah hati, sampai bersyair syahdu, “Aku mencintai orang-orang shalih, meski diri ini tak termasuk di antara mereka. Semoga dengan begitu, aku akan menggapai syafa’at bersama mereka.”

Seayat ilmu orang shalih akan membimbing kita pada kebenaran. Setitis rizqi orang shalih akan mendatangkan bagi kita kebaikan. Segerak amal orang shalih akan menghadirkan bagi kita ilham ikutan. Seluruh hidup orang shalih adalah lapis-lapis keberkahan. Udara disekitar mereka yang telah terhembusi oleh nafasnya terasa pekat penuh kebaikan.

Orang-orang shalih yang kita bersamai, menjaga kita dalam kebaikan dengan keteladannya, pengetahuannya, nasihat-nasihat, dan doa-doanya. Merekalah manusia yang kesibukannya asyik memperbaiki diri. Hatinya terjaga dalam dzikir, diamnya muhasabah, bicaranya dakwah, duduknya mejelis ilmu, berjalannya jihad fi sabilillah. Lisannya terbiasa berbincang mesra dengan Allah; maka ia terjaga dari melaknat dan mengumpat, menggunjing dan, mencela, serta meleceh dan belucah.

Perbanyaklah kawan-kawan yang shalih. Sungguh mereka memiliki syafa’at di Hari Kiamat. – Hasan Al-Bahsri

image

Sungguh benarlah Amirul Mukminin Al-Faruq Radhiyallahu ‘Anhu. “Karunia terbaik bagi seorang hamba sesudah keislamannya adalah saudara yang shalih.”

Salim A. Fillah
Lapis-lapis keberkahan
Halaman 257

Buku: Para Pengambil Jalan Tinggi

“Kita naik ke tingkat yang lebih tinggi,” tulis John C. Max Well dalam Winning with people, Ketika kita memperlakukan orang lain lebih baik daripada cara mereka memperlakukan kita.”

Apa sajakah para pengambil jalan tinggi yang berupaya menjadi cahaya dalam kegelapan yang melingkupi mereka?

Pertama-tama, para pengambil jalan tinggi memahami bahwa yang benar-benar berarti bukanlah apa yang terjadi pada dirinya, melainkan apa yang terdapat di dalam dirinya. Mereka tetap setia untuk memperlakukan orang lain sesuai dengan nilai-nilai yang terpatri di dalam jiwanya, bukan menuruti apa yang terjadi di luar sana. “Mereka,” ujar David Brinkley, “Piawai membentuk landasan kokoh dari batu bata yang dilemparkan orang ke kepalanya.

Yang kedua, para pengambil jalan tinggi melihat kebutuhan diri mereka akan kebaikan, dan oleh sebab itu, mereka menyalurkan kebaikan tersebut kepada orang lain. Seringkali kita tak bersedia memberi jeda kepada sesama ketika mereka melakukan tindakan yang menunjukkan kelemahan manusiawinya. Tetapi, orang-orang yang mengambil jalan tinggi mengakui kemanusiaanya sendiri dan pihak lain, lalu mengambil kesempatan untuk mengenali kebaikan yang bisa dia hadirkan di tengah cacat-cacat itu. Dan dia bertindak, agar kebaikan yang bisa dia jangkau untuk dilakukan menjadi bermakna bagi orang-orang yang bertindak sekedar manusiawi saja.

Ciri ketiga, para pengambil jalan tinggi menginsyafi bahwa dirinya bukanlah korban. Dengan sadar mereka memang memilih untuk menjadi mulia dengan melayani orang lain. Mereka melakukan semua pengabdian itu bukan karena tak ada jalan lain. Mereka memang bisa memilih untuk meratapi diri. Tetapi, terlalu berharga dan sisa waktu terlalu sedikit untuk sekedar menyesali diri. Maka mereka memilih untuk bangkit dan memberi.

Penanda keempat, para pengambil jalan tinggi menetapkan standar lebih tinggi untuk dirinya sendiri dibandingkan apa yang akan dilekatkan orang lain pada diri mereka. Para pengambil jalan tinggi mencoba untuk memperlakukan manusia dengan cara dan rasa lebih daripada apa yang bisa mereka bayangkan. Mereka mengambil resiko lebih besar daripada yang dianggap aman oleh orang lain. Dan mereka bekerja lebih daripada apa yang dianggap perlu oleh orang lain.

Salim A. Fillah
Dalam Dekapan Ukhuwah
Halaman 369-370

Surat dari Sahabat

Perhatikan pikiran sebelum berubah menjadi konsentrasi.
Perhatikan konsentrasi sebelum berubah menjadi perasaan.
Perhatikan perilaku sebelum berubah menjadi hasil.
Perhatikan hasil yang didapat sebelum menentukan jalan hidup.

Kita bukan label yang yang disandangkan  oleh kita sendiri, dan bukan label yang disandangkan oleh orang lain pada kita.
Kita bukan kesedihan, kecemasan, kekhawatiran, frustasi, atau kegagalan.
Kita bukan masa lalu, saat ini, dan masa yang akan datang.

Kita adalah makhluk paling baik yang diciptakan Allah.
Jika ada orang yang mampu mewujudkan sesuatu di dunia, kita pasti bisa mewujudkannya, bahkan bisa lebih baik.
Ingatlah bahwa malam adalah awal bagi siang.
Musim dingin adalah awal bagi musim panas.
Penderitaan adalah awal bagi ketenangan.
Kesulitan adalah awal bagi kebaikan.
Sikap optimis pada kebaikan adalah awal kekuatan diri.
Karena itu, nikmati setiap hidup kita.
Anggaplah sebagai babak akhir kehidupan kita.
Hiduplah dengan cinta kepada Allah.
Hiduplah dengan meneladani akhlak Rasulullah saw.
Hiduplah dengan cita-cita.
Hiduplah dengan perjuangan.
Hiduplah dengan ketabahan.
Hiduplah dengan cinta.
Hargailah kehidupan.

Surat dari Sahabat, Dr. Ibrahim Elfiky