Orang Miskin Jangan Mati di Kampung Ini

Selamat Hari Buku Nasional!

Buku yang sedang aku baca adalah karya Mas Riza Almanfaluthi. Mas Riza adalah pegawai Direktorat Jendral Pajak. Aku nggak ingat bagaimana awalnya hingga menemukan blog Mas Riza. Yang jelas, sampai sekarang aku masih rutin membaca blognya. Lalu, langsung semangat banget membeli buku tersebut saat Mas Riza promosikan di blognya.

Read more

Gerimis di Atas Kertas

Aku akan memberikan sedikit pendapatku tentang buku Gerimis di Atas Kertas. Buku ini adalah karya kawanku. Namanya A.S Rosyid. Atau biasa dipanggil Bang Ical.

Meskipun tidak diminta untuk memberikan tanggapan berupa tulisan, entah mengapa aku merasa memiliki keharusan. Bila tidak segera dituliskan, aku tidak tenang. Seperti memiliki hutang 😅

Tulisan ini adalah sebagai ucapan terima kasihku. Terima kasih sudah membuat buku yang super sarat makna seperti si Gerimis di Atas Kertas ini

***

Cerita pertama #1 Bang Hasyim dan Dunianya

Menceritakan tentang Bang Hasyim dan dunianya. Iya, “dunianya”. Bang Hasyim memiliki dunia yang isinya penuh kepercayaan. Bang Hasyim percaya bahwa setiap orang perlu diberikan kesempatan. Contohnya, kesempatan belajar menulis yang power rangers rasakan. Power rangers? Iya, power rangers. Sebuah panggilan kesayangan yang Bang Hasyim berikan kepada beberapa muridnya.

Bang Hasyim juga percaya bahwa di dunia ini masih banyak orang baik. Contohnya, kawan perjalanan yang membesarkan Rumah Baca Pesisir ini. Namanya, Daffa dan Royyan. Keduanya adalah junior yang Bang Hasyim “tempa” sendiri di luar kaderisasi. Maksudnya gimana? Begini, Bang Hasyim memiliki prinsip yang keren. Bang Hasyim tidak ingin Daffa dan Royyan menelan mentah-mentah berbagai doktrin organisasi. Ia ingin keduanya memiliki nilai-nilai organisasi secara utuh, kritis, dan memiliki nalar kemanusiaan.

Ada kalimat super yang Bang Hasyim katakan, “Tapi tentu saja hal terpenting yang kutanam dalam diri mereka adalah idealisme: jiwa yang me-manusia dan hati yang peduli. Itulah yang terpenting. Tanpa itu, segala pengetahuan dan bakat akan berakhir menjadi egois, atau sombong, atau menindas.”

Read more

Apa Benar Berani Kotor itu Baik?

Belakangan ini, aku sedang membaca buku karya Fira Basuki. Judulnya Cerita di Balik Noda (2013). Sudah lama sekali ya, bukunya? Iya memang. Aku mendapat buku ini akhir tahun 2018 di cuci gudang Gramedia. Beruntung sekali menemukan buku Fira Basuki diantara tumpukan buku-buku itu.

Isi dari buku Cerita di Balik Noda sebenarnya adalah kumpulan cerita dari hasil lomba menulis yang diadakan oleh Rinso Indonesia. Dan Fira Basuki diamanahkan membuat kumpulan cerita tersebut menjadi buku.

Aku belum menamatkan buku Cerita di Balik Noda. Meskipun begitu, energi positif sudah masuk ke dalam diri sejak kali pertama membaca buku ini. “Anak-anak itu polos, sederhana, dan banyak memberikan pelajaran, ya!” begitu kataku saat membaca cerita pertama. “Ah malunya diri ini, seringkali kita mengamati anak kecil dengan kaca mata orang dewasa. Mana mungkin pesan bermakna dari tingkah polos si kecil bisa menyentuh hati ini?” begitu kataku saat membaca cerita ibu-ibu pada lembar selanjutnya.

Karena tema ceritanya adalah Cerita di Balik Noda, maka seluruh cerita bercerita tentang anak yang bermain ‘kotor-kotoran’. Dan dalam seluruh cerita pun terdapat ibu bijaksana yang menghadapi ‘hal-hal kotor’ dengan tidak marah-marah. Sosok ibu dalam buku ini menunjukkan bahwa selalu ada cerita di balik baju anak yang kotor. Maka, memberikan respon marah saat kali pertama melihat mereka bercengkrama dengan kotoran itu tidak tepat. Para ibu memberikan telinganya untuk mendengarkan segala penjelasan dan cerita anaknya. Para ibu juga memberikan pikiran yang terbuka untuk menerima hal-hal menakjubkan yang anak-anak ini lakukan.

Innez yang Berhati baik

Innez 12 tahun menunggu di Pos Ronda karena takut pulang ke rumah. Baju Innez kotor dan uang untuk membeli buku pun telah habis. Dengan kondisi seperti itu, Innez tidak berani pulang.

Mengapa Innez mengalami hal-hal itu, ternyata Innez tidak sengaja menabrak bapak tukang sampah yang sedang makan nasi bungkus sambil berdiri. Alhasil, nasi bungkus tersebut tumpah ke jalan dan ke baju Innez. Karena merasa bersalah, Innez pun meminta maaf dan membantu bapak merapikan tumpahan nasi di jalan. Innez juga membantu bapak menyapu tumpahan nasi yang berserakan. Lalu, Innez mengganti nasi bungkus dengan uang ibunya (uang yang seharusnya digunakan untuk membeli buku). Lengkap sudah ketakutan Innez. Baju kotor, badan kotor, dan uang pun habis.

Ibu Innez diberitahu tentangga bahwa Innez duduk di Pos Ronda. Ibu datang menjemputnya. Melihat keadaan Innez, Ibu tidak memarahinya. Ibu mendengarkan dan mengerti kejadian yang baru saja menimpanya. Dan ibu menasehati atas tindakan Innez yang kurang berhati-hati. Innez tidak hati-hati karena berjalan sambil bermain gawai yang akhirnya menabrak bapak tukang sampah.

Jika saja ibu Innez tidak mau mendengarkan cerita dan langsung marah, akankah ibu tahu bahwa putri bungsunya ternyata sungguh bertanggung jawab dan memiliki hati yang baik?

Deva yang Gigih dan Memiliki Empati Tinggi

Deva adalah anak berusia 7 tahun yang selalu bersemangat dan tidak takut kotor. Deva senang membantu ibu berkebun dan membersihkan selokan depan rumah. Dengan tawaran hadiah ‘upah’ sehabis membantu ibu, Deva pun semakin bersemangat saja ‘bermain dengan kotor-kotoran’.

Deva ingin sekali membeli sepeda. Maka, tiap kali diberikan upah uang, ia selalu memasukkan uang tersebut ke dalam celengan.

Suatu ketika, warung kelontong kakek kemalingan. Uang hasil warung kakek habis dibobol maling. Melihat kakek bersedih, Deva pun memberikan uang tabungannya untuk kakek. Deva rela menunda membeli sepeda, karena memahami bahwa kakek lebih membutuhkan uang tersebut dibanding dirinya.

Jika saja ibu tidak mengizinkan Deva membersihkan selokan hanya karena alasan ‘kotor’, akankah Deva tumbuh menjadi anak yang gigih dan memiliki empati yang tinggi?

Ada banyak cerita tentang anak dan kotoran. Pada dasarnya, semua anak tidak takut dengan hal kotor. Karena mereka penasaran dan ingin tahu banyak hal. Terkadang, kitalah sebagai orang dewasa yang menutup itu semua. Padahal, rasa penasaran dan rasa ingin tahu adalah kunci bahwa anak senang belajar hal baru.

Masih inginkah kita memberikan ‘respon marah’ bila nanti menemui anak yang sedang ‘berkotor-kotoran’? Masih inginkah kita mengabaikan momen mendengarkan cerita anak hanya karena emosi sesaat yang tidak bermakna?

Dari dua cerita di atas, semoga kita tidak seperti itu lagi, ya. Ada banyak cerita dibalik hal-hal yang kita anggap ‘menyebalkan’. Ada banyak pelajaran dibalik hal-hal yang menguji kesabaran.

Menambah Pengertian Lebih Baik terhadap Indonesia

Buku setebal 415 halaman itu akhirnya kutamatkan.

Terima kasih kepada Cindy Adams karena telah memutuskan untuk membuat autobiografi Sukarno. Dengan penulisan seperti ini, membuat biografi tidak terasa membosankan. Aku bahkan merasa seperti Sukarno sendiri yang sedang bercerita. Dan yang paling utama, pembaca menjadi terasa dekat dengan Sukarno.

Membaca kisah hidup Sukarno membangun pengertian baru tentang sebuah perjuangan. Membacanya, juga membangun pemaknaan baru tentang Indonesia. “Aku harus mencintai dan menghargai apapun yang ada di Indonesia ini.” ujarku dalam hati tiap kali membaca kalimat dalam buku ini. Harapan Sukarno tentang pembuatan buku ini sepertinya terkabulkan. Beliau mengatakan,“Harapanku hanyalah, agar buku ini dapat menambah pengertian yang lebih baik tentang Sukarno dan dengan itu menambah pengertian yang lebih baik terhadap Indonesia tercinta.”

Kata-kata Sukarno itu ajaib. Aku dapat membayangkan hebatnya beliau menyatukan rakyat Indonesia 73 tahun yang lalu. Pantaslah seluruh orang bersatu dan berjuang untuk Indonesia. Dahulu, mereka dalam keadaan tertindas, terpuruk, tersakiti, dan terbodohi. Pastilah hati mereka dalam keadaan begitu sedih dan hancur. Sesuatu yang sedih dan hancur tentu akan tersentuh oleh keberanian Sukarno. Aku saja yang hanya membaca kalimat beliau pada buku sangat mengagumi dan menyerahkan harapan kepadanya. Padahal, aku tidak dalam keadaan sulit. Sukarno memang manusia yang Allah pilih untuk Indonesia. Ia mampu mengobarkan semangat, menerangkan mimpi, mendorong cita-cita, dan merusak dinding ketidakmungkinan.

Jika kita masih kesulitan menghargai perjuangan para pahlawan. Jika kita masih kesulitan melihat potensi yang Indonesia miliki. Jika kita masih kesulitan mengerti dan menghargai Indonesia ini. Maka, berhentilah untuk mengkritisi dan mengeluh apa-apa yang Indonesia telah miliki dan capai hingga kini. Karena jika masih saja begitu, kita adalah manusia yang tak tahu diri.

Jangan pernah membanding-bandingkan sesuatu dengan tujuan untuk merendahkan. Dalam hal apapun, membanding-bandingkan bukan dalam rangka perbaikan adalah sangat menjengkelkan.

Adalah bukan apple to apple bila kita membandingkan Indonesia dengan Negeri Barat. Ketika 1945 pun kita memang sudah jauh berbeda dengannya. Saat itu Negeri Barat sudah menjadi negara dewasa yang dengan stabil mengelola negaranya. Sedangkan Indonesia? Saat itu, kita masih menjadi bayi yang baru merangkak dan masih harus banyak belajar. Indonesia masih berjuang mencari jati diri.

Jadi, jika saat ini masih banyak ketinggalan yang Indonesia lakukan bila dibandingkan negara lain, berhentilah untuk mencari-cari kekurangan. Indonesia terus berusaha belajar, tumbuh, dan berkembang. Jika Indonesia saja tidak lelah untuk berproses, mengapa kita sebagai rakyat tidak menghargai proses dan berputus asa?

Akan aku ceritakan sedikit tentang perjuangan indonesia. Semoga setelahnya, pengertianmu tentang Sukarno dan Indonesia menjadi lebih baik.

Indonesia dijajah negara lain sangat lama. Beratus-ratus tahun lamanya. Kekayaan alam kita dicuri oleh perusahaan asing. Harga diri rakyat dihancurkan. Rakyat dibodohi. Tanah Indonesia dihancurkan. Indonesia tidak terlibat, namun kita menjadi pewaris-pewaris para penjajah tidak bertanggung jawab.

Tanpa memiliki pengalaman apapun, Indonesia harus membangun semua dari awal. Bayi yang baru merangkak itu, dipaksa oleh kondisi untuk mengatur negaranya sendiri. Membangun suatu negara bukanlah hal yang mudah. Dibutuhkan keterampilan teknis dan manajerial. Mungkinkah semua itu dapat dimiliki dalam waktu yang singkat? Tidak. Dibutuhkan waktu beberapa generasi untuk memilikinya.

“Memberantas kelaparan memang penting, tetapi memberi jiwa mereka yang telah tertindas dengan sesuatu yang dapat membangkitkan kebanggaan juga penting,” begitu kata Sukarno. Setelah Indonesia merdeka, Indonesia tetap melangkah, tetapi perjalanan waktu tidak bisa dihentikan. Kala itu, Indonesia sedang melawan kelaparan. Ada banyak faktor mengapa rakyat kelaparan. Jika pada masa penjajahan rakyat hanya makan satu kali, setelah merdeka tidak. Kita makan tiga kali sehari. Pertambahan penduduk lebih cepat dibandingkan produksi beras. Pertanian di Indonesia pun belum maju. Rakyat masih belajar untuk bertani dengan teknologi yang lebih maju dan mumpuni.

Saat itu, pendapatan nasional Indonesia juga tidak mencukupi. Indonesia pun harus mencari pinjaman. Ada banyak usaha yang harus dilakukan pemerintah untuk mendapatkan pinjaman dari negara sahabat.

Kelaparan masih sering terjadi dan pendapatan nasional yang tidak mencukupi membuat Indonesia jauh dari kebebasan. Selalu ada pembatasan di setiap bidang. Hal ini bukan karena sistem Indonesia yang salah. Melainkan, karena Indonesia masih dalam proses mewujudkan cita-cita.

Meskipun dalam keadaan terbatas dan jauh dari kebebasan, Sukarno berusaha meningkatkan kepercayaan diri Bangsa Indonesia. Sebab, beliau begitu menyadari, penjajahan yang begitu lama terjadi membentuk kepribadian Bangsa yang rendah diri. Kita tidak percaya diri dan kehilangan jati diri. Sukarno pun melakukan perbaikan infrastruktur seperti, membangun gedung-gedung bertingkat, jembatan berbentuk daun semanggi, dan sebuah jalan raya “superhighway”, Jakarta Bypass. Sukarno meyakini, pengeluaran uang untuk simbol-simbol penting tidak akan sia-sia. Beliau juga meyakini, membuat Bangsa Indonesia bangga terhadap diri sendiri adalah keharusan. Sebab, Sukarno mengerti Bangsa Indonesia sudah terlalu lama kehilangan harga diri.

Indonesia harus menguasai kesadaran diri dan rasa rendah diri. Ia membutuhkan rasa percaya diri. Itulah yang harus kuberikan kepada rakyatku sebelum aku meninggalkan mereka. Saat ini Sukarnolah yang menjadi faktor pemersatu di Indonesia. Setelah kepergianku, satu-satunya perekat yang mempersatukan seluruh kepulauan adalah Kebanggaan Nasional mereka. – Sukarno

Selagi Indonesia berusaha bertumbuh dan berkembang, ujian pun tak henti-hentinya datang. Indonesia dipandang sebelah mata oleh Barat. Apapun kebijakan dan sistem yang Indonesia pilih dianggap tidak akan berhasil. Barat seakan menunggu ketidakberhasilan Indonesia sambil meletakkan kedua tangan di atas pinggang. Barat seakan menatap Indonesia dengan tatapan mengejek sambil memberikan senyum sinis. Mereka merendahkan Indonesia. Kau tahu apa yang Indonesia lakukan mengahadapi hal ini? Indonesia tetap berjuang. Sukarno tetap yakin dengan prinsip yang Indonesia pilih. Prinsip yang sesuai dengan kepribadian Bangsa. Kondisi ini membuatku semakin yakin, bahwa kekuatan paling besar untuk menghadapi apapun adalah yakin dan percaya terhadap kekuatan diri. Dengan begitu, kita akan kuat dan tak mudah tumbang bila ada goncangan dari luar.

Sedikit cerita di atas tentang perjuangan Indonesia dan Sukarno semoga membuka pikiran kita. Semoga membuat pemahaman dan pemikiran tentang Indonesia menjadi lebih baik. Kita mungkin banyak menemukan kekurangan pada tanah air ini yang harus diperbaiki. Namun, jadikanlah kekurangan itu sebagai motivasi. Kita harus semangat memperbaiki mulai dari diri sendiri.

Jalankan peran kita masing-masing. Kita mungkin tahu ada banyak oknum-oknum yang tidak amanah mengemban tugas. Namun, jangan jadikan itu sebagai penghilang semangat diri ini. Jangan terbesit pikiran seperti ini,“Tidak ada harapan untuk Indonesia. Karena pemimpin pun tidak ada yang bisa dipercaya.” Selalu ada harapan untuk orang yang percaya dan menghargai hal-hal kecil.

Terimalah Indonesia apa adanya. Indonesia telah berjuang dan masih terus berjuang. Hargai apa-apa yang telah Indonesia usahakan. Apresiasi semua yang Indonesia telah capai. Perbaiki segala hal yang khilaf Indonesia lakukan. Jadilah sebaik-baiknya warga negara. Jalankan peran rakyat dengan baik. Perbanyaklah melihat kebaikan yang Indonesia lakukan. Banggalah dengan kebudayaan yang Indonesia miliki. Dan bukalah pikiran kita selalu. Sehingga, kita memiliki ruang yang luas dan banyak cermin untuk memandang segala hal dari banyak sudut pandang.

Tetap optimis, karena dunia ini begitu indah dan semerbak. Sebarkan wangi optimisme ke seluruh ruang dan pojok kesedihan agar wanginya bisa merasuk ke jiwa-jiwa yang hampa. – Admin Mentor Kelas C

Selalu ada masa depan yang lebih indah bagi orang-orang yang memiliki hati bersih dan berbaik sangka 🙂


Beberapa tulisan yang sudah kutulis tentang buku karya Cindy Adams ini.

1. Bung Karno Penyambung Lidah Rakyat (1)

2. Bung Karno Penyambung Lidah Rakyat (2)

Buku: Bung Karno Penyambung Lidah Rakyat (2)

Saya sangat menikmati membaca autobiografi Bung Karno ini. Membacanya benar-benar tidak membosankan. Kita bisa membayangkan Bung Karno sendiri yang menceritakan perjuangannya 😀

​Kita harus mencari tahu kisah para pahlawan yang telah berjuang untuk negeri ini. Kita harus memiliki keinginan besar untuk mengetahui bagaimana perjuangan para pahlawan. Kita harus mengenal lebih dekat para pahlawan

Segala kemudahan yang saat ini dirasakan harganya sangat mahal. Dibayarkan dengan waktu, usia, pengorbanan, kesulitan, dan pertumpahan darah. Segala kemudahan menjalani kehidupan tak didapatkan begitu saja. Membutuhkan waktu ratusan tahun lamanya sehingga kini Indonesia Merdeka. Sehingga kini tiap individu merdeka.

Membaca buku autobiografi Bung Karno membuat saya merenungi. Terus membaca setiap halaman membuat saya semakin malu. Karena begitu banyak kemudahan yang sudah dirasakan. Begitu banyak kesempatan yang ada. Namun, masih amat sedikit kontribusi untuk negeri ini.

Saya kurang menghayati. Mungkin kamu pun juga. Bahwa aktivitas yang sudah kita lakukan sejak kecil adalah anugerah. Dan patut disyukuri. Bersyukur karena hidup dalam lingkungan yang nyaman, tentram, dan bebas dari ancaman.

Mendapatkan kasih sayang penuh dari kedua orang tua. Menjalani kehidupan yang lebih dari cukup sejak dini hingga saat ini. Kebebasan berpendapat dimanapun dan dengan siapapun. Dibersamai oleh keluarga dan sahabat terkasih. Kemudahan mendapatkan pendidikan. Memiliki banyak waktu untuk memikirkan cita-cita. Memiliki banyak kesempatan untuk menggapai semua mimpi. Dan masih banyak kemudahan lainnya.

Bukankah kita amat beruntung hidup di masa ini? Di zaman ini? Tak perlu merasakan ketakutan akan ancaman, kekerasan, keterbatasan, kesakitan, dan siksaan. Tak perlu mengorbankan nyawa ini. Tak perlu merasakan kesedihan karena kehilangan sanak saudara yang sedang berjuang. Tak perlu merasakan tekanan untuk berpendapat. Sungguh tak perlu. Namun, masih saja kita tak mau tahu dan egois. Kita hanya memikirkan diri sendiri. Diri sendiri yang tak pernah puas. Diri sendiri yang kesulitan mengapresiasi. Diri sendiri yang lupa untuk bersyukur. Diri sendiri yang mudah melihat satu kekurangan dibandingkan banyak kelebihan. Hingga terlupa. Apa yang seharusnya dilakukan untuk diri sendiri dan untuk Indonesia.

Saya akan berbagi sedikit tentang perjuangan Bung Karno dari buku autobiografi tersebut. Supaya kita tahu, menghargai, bersyukur dengan kehidupan kita saat ini, mengambil pelajaran darinya, kemudian melakukan yang terbaik.

Hampir 13 tahun. Kehidupan Bung Karno disita oleh masa tahanan dan pembuangan. Ditekan dan dipojokkan hingga ke sisi paling terbelakang dan tak terlihat. Dilucuti semangat dan daya juangnya. Agar Bung Karno jera dan menyerah. Agar rakyat pun hilang harapan dan  kembali terjajah. Namun, dugaan Belanda keliru. Sesulit apapun keadaan tak akan pernah meredupkan semangat juang Bung Karno.

Pada masa tahanan, Bung Karno tidak boleh menerima tamu, tidak boleh menerima dan mengirimkan surat, dan tidak boleh bertemu orang lain bahkan juga tahanan lain. Sel Bung Karno gelap dan lembab. Memiliki lebar satu setengah meter (separuhnya sudah terpakai untuk pelbed), dan panjangnya tak lebih dari dari peti mayat. Ia tidak memiliki jendela atau jeruji untuk mengintip keluar, sel tersebut terdiri dari tembok mulai dari lantai hingga langit-langit. Makanan untuk para tahanan diberikan di dalam sel. Buang air kecil dan besar pun di dalam sel. Sudahkah terbayangkan masa-masa sulit yang Bung Karno lalui? Keadaan sulit tak pernah membuat Bung Karno menyerah. Bung Karno selalu mencari cara agar harapan selalu tumbuh dan semangat terus berkembang.

Pembuangan di Flores dan Bengkulu bertujuan untuk mematikan semangat hidup Bung Karno. Bagaimana tidak? Di usia produktif yang seharusnya bebas berencana dan bertindak, kenyataannya tidak seperti itu. Ibaratnya, Bung Karno berada di penjara dalam ukuran luas. Beliau kesepian. Meskipun sang istri membersamai, disana tak ada kawan untuk berbagi dan menerima aspirasi. Bahkan masyarakat pun tak berani mendekati Bung Karno. Bukan karena tak kenal, bukan. Mereka tak berani mengambil risiko. Berani mendekati artinya telah siap kehilangan harta dan keluarga. Taruhannya adalah nyawa, harta, dan keluarga. Menurutmu, adakah yang berani mendekat?

Orang yang pandai mengendalikan dan mengalahkan dirinya sendiri adalah Bung Karno. Keadaan dan situasi tak akan bisa mendominasi dibandingkan semangat dalam dirinya. Pihak luar tak akan bisa mengendalikan beliau. Bung Karno memiliki prinsip dan keyakinan yang kuat sekali. Sehingga Bung Karno selalu menemukan titik balik dari segala kesulitan.

Masa tahanan dan pembuangan tak membuat jiwanya mati. Masa tahanan digunakan untuk berpikir, berencana, dan mendekat pada Sang Maha Kuasa. Tahukah kamu, pancasila serta segala hal terkait negara dan pemerintahan sebagian besar dipikirkan di dalam penjara?

Masa pembuangan tak membuat dirinya berjalan mundur lalu berhenti. Meskipun Belanda melucuti segala kebebasan dan merampas hak Bung Karno, beliau selalu menemukan jalan. Masa pembuangan Bung Karno gunakan untuk mengenal rakyat jelata yang paling bawah yang tak dapat menulis. Lagi-lagi Bung Karno selalu tahu cara bagaimana menyatukan rakyat. Disana, beliau mendirikan perkumpulan Sandiwara Kelimutu dan menjadi pendidik untuk anak-anak. Bung Karno mengatakan,”Kalau engkau sedang putus asa, engkau akan mengatasi rintangan yang bagaimana pun. Inilah satu-satunya napas kehidupanku. Aku harus menjaganya supaya ia tetap hidup.”

Mengetahui segala perjuangan dan pengorbanan Bung Karno untuk membuat Indonesia medeka semoga menjadi suntikan semangat untuk kita. Dan menghargai. Menghargainya dengan cara mengenal, mencintai, dan mengendalikan diri sendiri. Berusaha menjadi pribadi yang baik. Sehingga tidak memberi kontribusi buruk untuk negeri ini. Ingat selalu, kemudahan dan kebebasan yang dapat dinikmati saat ini harganya sungguh mahal. Jadikan sejarah masa lalu untuk bercermin dan mengambil pelajaran. Jadikan masa kini untuk bersyukur dan berusaha menjadi rakyat yang memberi manfaat untuk sesama.

“Seorang pemimpin tidak berubah karena hukuman. Aku masuk penjara untuk memperjuangkan kemerdekaan, dan aku meninggalkannya dengan tujuan yang sama.” – Bung Karno

“Di Sukamiskin tubuhku dipenjara. Di Flores semangatku dipenjara. Di sini aku diasingkan dari manusia, dari orang-orang yang dapat memperdebatkan tugas hidupku. Mereka yang mengerti, takut untuk berbicara. Mereka yang mau berbicara, tidak mengerti. Inilah tujuan sebenarnya pembuangan ini. Baiklah! Kalau keadaannya demikian, aku akan bekerja tanpa meminta bantuan orang-orang terpelajar yang picik ini. Aku akan mendekati rakyat jelata yang paling bawah. Orang-orang yang terlalu sederhana untuk memikirkan politik. Orang-orang yang tak dapat menulis dan yang merasa dirinya tidak kehilangan apa-apa. Dengan cara ini, setidak-tidaknya ada orang yang bisa kuajak bicara.” – Bung Karno