Menambah Pengertian Lebih Baik terhadap Indonesia

Buku setebal 415 halaman itu akhirnya kutamatkan.

Terima kasih kepada Cindy Adams karena telah memutuskan untuk membuat autobiografi Sukarno. Dengan penulisan seperti ini, membuat biografi tidak terasa membosankan. Aku bahkan merasa seperti Sukarno sendiri yang sedang bercerita. Dan yang paling utama, pembaca menjadi terasa dekat dengan Sukarno.

Membaca kisah hidup Sukarno membangun pengertian baru tentang sebuah perjuangan. Membacanya, juga membangun pemaknaan baru tentang Indonesia. “Aku harus mencintai dan menghargai apapun yang ada di Indonesia ini.” ujarku dalam hati tiap kali membaca kalimat dalam buku ini. Harapan Sukarno tentang pembuatan buku ini sepertinya terkabulkan. Beliau mengatakan,“Harapanku hanyalah, agar buku ini dapat menambah pengertian yang lebih baik tentang Sukarno dan dengan itu menambah pengertian yang lebih baik terhadap Indonesia tercinta.”

Kata-kata Sukarno itu ajaib. Aku dapat membayangkan hebatnya beliau menyatukan rakyat Indonesia 73 tahun yang lalu. Pantaslah seluruh orang bersatu dan berjuang untuk Indonesia. Dahulu, mereka dalam keadaan tertindas, terpuruk, tersakiti, dan terbodohi. Pastilah hati mereka dalam keadaan begitu sedih dan hancur. Sesuatu yang sedih dan hancur tentu akan tersentuh oleh keberanian Sukarno. Aku saja yang hanya membaca kalimat beliau pada buku sangat mengagumi dan menyerahkan harapan kepadanya. Padahal, aku tidak dalam keadaan sulit. Sukarno memang manusia yang Allah pilih untuk Indonesia. Ia mampu mengobarkan semangat, menerangkan mimpi, mendorong cita-cita, dan merusak dinding ketidakmungkinan.

Jika kita masih kesulitan menghargai perjuangan para pahlawan. Jika kita masih kesulitan melihat potensi yang Indonesia miliki. Jika kita masih kesulitan mengerti dan menghargai Indonesia ini. Maka, berhentilah untuk mengkritisi dan mengeluh apa-apa yang Indonesia telah miliki dan capai hingga kini. Karena jika masih saja begitu, kita adalah manusia yang tak tahu diri.

Jangan pernah membanding-bandingkan sesuatu dengan tujuan untuk merendahkan. Dalam hal apapun, membanding-bandingkan bukan dalam rangka perbaikan adalah sangat menjengkelkan.

Adalah bukan apple to apple bila kita membandingkan Indonesia dengan Negeri Barat. Ketika 1945 pun kita memang sudah jauh berbeda dengannya. Saat itu Negeri Barat sudah menjadi negara dewasa yang dengan stabil mengelola negaranya. Sedangkan Indonesia? Saat itu, kita masih menjadi bayi yang baru merangkak dan masih harus banyak belajar. Indonesia masih berjuang mencari jati diri.

Jadi, jika saat ini masih banyak ketinggalan yang Indonesia lakukan bila dibandingkan negara lain, berhentilah untuk mencari-cari kekurangan. Indonesia terus berusaha belajar, tumbuh, dan berkembang. Jika Indonesia saja tidak lelah untuk berproses, mengapa kita sebagai rakyat tidak menghargai proses dan berputus asa?

Akan aku ceritakan sedikit tentang perjuangan indonesia. Semoga setelahnya, pengertianmu tentang Sukarno dan Indonesia menjadi lebih baik.

Indonesia dijajah negara lain sangat lama. Beratus-ratus tahun lamanya. Kekayaan alam kita dicuri oleh perusahaan asing. Harga diri rakyat dihancurkan. Rakyat dibodohi. Tanah Indonesia dihancurkan. Indonesia tidak terlibat, namun kita menjadi pewaris-pewaris para penjajah tidak bertanggung jawab.

Tanpa memiliki pengalaman apapun, Indonesia harus membangun semua dari awal. Bayi yang baru merangkak itu, dipaksa oleh kondisi untuk mengatur negaranya sendiri. Membangun suatu negara bukanlah hal yang mudah. Dibutuhkan keterampilan teknis dan manajerial. Mungkinkah semua itu dapat dimiliki dalam waktu yang singkat? Tidak. Dibutuhkan waktu beberapa generasi untuk memilikinya.

“Memberantas kelaparan memang penting, tetapi memberi jiwa mereka yang telah tertindas dengan sesuatu yang dapat membangkitkan kebanggaan juga penting,” begitu kata Sukarno. Setelah Indonesia merdeka, Indonesia tetap melangkah, tetapi perjalanan waktu tidak bisa dihentikan. Kala itu, Indonesia sedang melawan kelaparan. Ada banyak faktor mengapa rakyat kelaparan. Jika pada masa penjajahan rakyat hanya makan satu kali, setelah merdeka tidak. Kita makan tiga kali sehari. Pertambahan penduduk lebih cepat dibandingkan produksi beras. Pertanian di Indonesia pun belum maju. Rakyat masih belajar untuk bertani dengan teknologi yang lebih maju dan mumpuni.

Saat itu, pendapatan nasional Indonesia juga tidak mencukupi. Indonesia pun harus mencari pinjaman. Ada banyak usaha yang harus dilakukan pemerintah untuk mendapatkan pinjaman dari negara sahabat.

Kelaparan masih sering terjadi dan pendapatan nasional yang tidak mencukupi membuat Indonesia jauh dari kebebasan. Selalu ada pembatasan di setiap bidang. Hal ini bukan karena sistem Indonesia yang salah. Melainkan, karena Indonesia masih dalam proses mewujudkan cita-cita.

Meskipun dalam keadaan terbatas dan jauh dari kebebasan, Sukarno berusaha meningkatkan kepercayaan diri Bangsa Indonesia. Sebab, beliau begitu menyadari, penjajahan yang begitu lama terjadi membentuk kepribadian Bangsa yang rendah diri. Kita tidak percaya diri dan kehilangan jati diri. Sukarno pun melakukan perbaikan infrastruktur seperti, membangun gedung-gedung bertingkat, jembatan berbentuk daun semanggi, dan sebuah jalan raya “superhighway”, Jakarta Bypass. Sukarno meyakini, pengeluaran uang untuk simbol-simbol penting tidak akan sia-sia. Beliau juga meyakini, membuat Bangsa Indonesia bangga terhadap diri sendiri adalah keharusan. Sebab, Sukarno mengerti Bangsa Indonesia sudah terlalu lama kehilangan harga diri.

Indonesia harus menguasai kesadaran diri dan rasa rendah diri. Ia membutuhkan rasa percaya diri. Itulah yang harus kuberikan kepada rakyatku sebelum aku meninggalkan mereka. Saat ini Sukarnolah yang menjadi faktor pemersatu di Indonesia. Setelah kepergianku, satu-satunya perekat yang mempersatukan seluruh kepulauan adalah Kebanggaan Nasional mereka. – Sukarno

Selagi Indonesia berusaha bertumbuh dan berkembang, ujian pun tak henti-hentinya datang. Indonesia dipandang sebelah mata oleh Barat. Apapun kebijakan dan sistem yang Indonesia pilih dianggap tidak akan berhasil. Barat seakan menunggu ketidakberhasilan Indonesia sambil meletakkan kedua tangan di atas pinggang. Barat seakan menatap Indonesia dengan tatapan mengejek sambil memberikan senyum sinis. Mereka merendahkan Indonesia. Kau tahu apa yang Indonesia lakukan mengahadapi hal ini? Indonesia tetap berjuang. Sukarno tetap yakin dengan prinsip yang Indonesia pilih. Prinsip yang sesuai dengan kepribadian Bangsa. Kondisi ini membuatku semakin yakin, bahwa kekuatan paling besar untuk menghadapi apapun adalah yakin dan percaya terhadap kekuatan diri. Dengan begitu, kita akan kuat dan tak mudah tumbang bila ada goncangan dari luar.

Sedikit cerita di atas tentang perjuangan Indonesia dan Sukarno semoga membuka pikiran kita. Semoga membuat pemahaman dan pemikiran tentang Indonesia menjadi lebih baik. Kita mungkin banyak menemukan kekurangan pada tanah air ini yang harus diperbaiki. Namun, jadikanlah kekurangan itu sebagai motivasi. Kita harus semangat memperbaiki mulai dari diri sendiri.

Jalankan peran kita masing-masing. Kita mungkin tahu ada banyak oknum-oknum yang tidak amanah mengemban tugas. Namun, jangan jadikan itu sebagai penghilang semangat diri ini. Jangan terbesit pikiran seperti ini,“Tidak ada harapan untuk Indonesia. Karena pemimpin pun tidak ada yang bisa dipercaya.” Selalu ada harapan untuk orang yang percaya dan menghargai hal-hal kecil.

Terimalah Indonesia apa adanya. Indonesia telah berjuang dan masih terus berjuang. Hargai apa-apa yang telah Indonesia usahakan. Apresiasi semua yang Indonesia telah capai. Perbaiki segala hal yang khilaf Indonesia lakukan. Jadilah sebaik-baiknya warga negara. Jalankan peran rakyat dengan baik. Perbanyaklah melihat kebaikan yang Indonesia lakukan. Banggalah dengan kebudayaan yang Indonesia miliki. Dan bukalah pikiran kita selalu. Sehingga, kita memiliki ruang yang luas dan banyak cermin untuk memandang segala hal dari banyak sudut pandang.

Tetap optimis, karena dunia ini begitu indah dan semerbak. Sebarkan wangi optimisme ke seluruh ruang dan pojok kesedihan agar wanginya bisa merasuk ke jiwa-jiwa yang hampa. – Admin Mentor Kelas C

Selalu ada masa depan yang lebih indah bagi orang-orang yang memiliki hati bersih dan berbaik sangka 🙂


Beberapa tulisan yang sudah kutulis tentang buku karya Cindy Adams ini.

1. Bung Karno Penyambung Lidah Rakyat (1)

2. Bung Karno Penyambung Lidah Rakyat (2)

Advertisements

Buku: Bung Karno Penyambung Lidah Rakyat (2)

Saya sangat menikmati membaca autobiografi Bung Karno ini. Membacanya benar-benar tidak membosankan. Kita bisa membayangkan Bung Karno sendiri yang menceritakan perjuangannya 😀

​Kita harus mencari tahu kisah para pahlawan yang telah berjuang untuk negeri ini. Kita harus memiliki keinginan besar untuk mengetahui bagaimana perjuangan para pahlawan. Kita harus mengenal lebih dekat para pahlawan

Segala kemudahan yang saat ini dirasakan harganya sangat mahal. Dibayarkan dengan waktu, usia, pengorbanan, kesulitan, dan pertumpahan darah. Segala kemudahan menjalani kehidupan tak didapatkan begitu saja. Membutuhkan waktu ratusan tahun lamanya sehingga kini Indonesia Merdeka. Sehingga kini tiap individu merdeka.

Membaca buku autobiografi Bung Karno membuat saya merenungi. Terus membaca setiap halaman membuat saya semakin malu. Karena begitu banyak kemudahan yang sudah dirasakan. Begitu banyak kesempatan yang ada. Namun, masih amat sedikit kontribusi untuk negeri ini.

Saya kurang menghayati. Mungkin kamu pun juga. Bahwa aktivitas yang sudah kita lakukan sejak kecil adalah anugerah. Dan patut disyukuri. Bersyukur karena hidup dalam lingkungan yang nyaman, tentram, dan bebas dari ancaman.

Mendapatkan kasih sayang penuh dari kedua orang tua. Menjalani kehidupan yang lebih dari cukup sejak dini hingga saat ini. Kebebasan berpendapat dimanapun dan dengan siapapun. Dibersamai oleh keluarga dan sahabat terkasih. Kemudahan mendapatkan pendidikan. Memiliki banyak waktu untuk memikirkan cita-cita. Memiliki banyak kesempatan untuk menggapai semua mimpi. Dan masih banyak kemudahan lainnya.

Bukankah kita amat beruntung hidup di masa ini? Di zaman ini? Tak perlu merasakan ketakutan akan ancaman, kekerasan, keterbatasan, kesakitan, dan siksaan. Tak perlu mengorbankan nyawa ini. Tak perlu merasakan kesedihan karena kehilangan sanak saudara yang sedang berjuang. Tak perlu merasakan tekanan untuk berpendapat. Sungguh tak perlu. Namun, masih saja kita tak mau tahu dan egois. Kita hanya memikirkan diri sendiri. Diri sendiri yang tak pernah puas. Diri sendiri yang kesulitan mengapresiasi. Diri sendiri yang lupa untuk bersyukur. Diri sendiri yang mudah melihat satu kekurangan dibandingkan banyak kelebihan. Hingga terlupa. Apa yang seharusnya dilakukan untuk diri sendiri dan untuk Indonesia.

Saya akan berbagi sedikit tentang perjuangan Bung Karno dari buku autobiografi tersebut. Supaya kita tahu, menghargai, bersyukur dengan kehidupan kita saat ini, mengambil pelajaran darinya, kemudian melakukan yang terbaik.

Hampir 13 tahun. Kehidupan Bung Karno disita oleh masa tahanan dan pembuangan. Ditekan dan dipojokkan hingga ke sisi paling terbelakang dan tak terlihat. Dilucuti semangat dan daya juangnya. Agar Bung Karno jera dan menyerah. Agar rakyat pun hilang harapan dan  kembali terjajah. Namun, dugaan Belanda keliru. Sesulit apapun keadaan tak akan pernah meredupkan semangat juang Bung Karno.

Pada masa tahanan, Bung Karno tidak boleh menerima tamu, tidak boleh menerima dan mengirimkan surat, dan tidak boleh bertemu orang lain bahkan juga tahanan lain. Sel Bung Karno gelap dan lembab. Memiliki lebar satu setengah meter (separuhnya sudah terpakai untuk pelbed), dan panjangnya tak lebih dari dari peti mayat. Ia tidak memiliki jendela atau jeruji untuk mengintip keluar, sel tersebut terdiri dari tembok mulai dari lantai hingga langit-langit. Makanan untuk para tahanan diberikan di dalam sel. Buang air kecil dan besar pun di dalam sel. Sudahkah terbayangkan masa-masa sulit yang Bung Karno lalui? Keadaan sulit tak pernah membuat Bung Karno menyerah. Bung Karno selalu mencari cara agar harapan selalu tumbuh dan semangat terus berkembang.

Pembuangan di Flores dan Bengkulu bertujuan untuk mematikan semangat hidup Bung Karno. Bagaimana tidak? Di usia produktif yang seharusnya bebas berencana dan bertindak, kenyataannya tidak seperti itu. Ibaratnya, Bung Karno berada di penjara dalam ukuran luas. Beliau kesepian. Meskipun sang istri membersamai, disana tak ada kawan untuk berbagi dan menerima aspirasi. Bahkan masyarakat pun tak berani mendekati Bung Karno. Bukan karena tak kenal, bukan. Mereka tak berani mengambil risiko. Berani mendekati artinya telah siap kehilangan harta dan keluarga. Taruhannya adalah nyawa, harta, dan keluarga. Menurutmu, adakah yang berani mendekat?

Orang yang pandai mengendalikan dan mengalahkan dirinya sendiri adalah Bung Karno. Keadaan dan situasi tak akan bisa mendominasi dibandingkan semangat dalam dirinya. Pihak luar tak akan bisa mengendalikan beliau. Bung Karno memiliki prinsip dan keyakinan yang kuat sekali. Sehingga Bung Karno selalu menemukan titik balik dari segala kesulitan.

Masa tahanan dan pembuangan tak membuat jiwanya mati. Masa tahanan digunakan untuk berpikir, berencana, dan mendekat pada Sang Maha Kuasa. Tahukah kamu, pancasila serta segala hal terkait negara dan pemerintahan sebagian besar dipikirkan di dalam penjara?

Masa pembuangan tak membuat dirinya berjalan mundur lalu berhenti. Meskipun Belanda melucuti segala kebebasan dan merampas hak Bung Karno, beliau selalu menemukan jalan. Masa pembuangan Bung Karno gunakan untuk mengenal rakyat jelata yang paling bawah yang tak dapat menulis. Lagi-lagi Bung Karno selalu tahu cara bagaimana menyatukan rakyat. Disana, beliau mendirikan perkumpulan Sandiwara Kelimutu dan menjadi pendidik untuk anak-anak. Bung Karno mengatakan,”Kalau engkau sedang putus asa, engkau akan mengatasi rintangan yang bagaimana pun. Inilah satu-satunya napas kehidupanku. Aku harus menjaganya supaya ia tetap hidup.”

Mengetahui segala perjuangan dan pengorbanan Bung Karno untuk membuat Indonesia medeka semoga menjadi suntikan semangat untuk kita. Dan menghargai. Menghargainya dengan cara mengenal, mencintai, dan mengendalikan diri sendiri. Berusaha menjadi pribadi yang baik. Sehingga tidak memberi kontribusi buruk untuk negeri ini. Ingat selalu, kemudahan dan kebebasan yang dapat dinikmati saat ini harganya sungguh mahal. Jadikan sejarah masa lalu untuk bercermin dan mengambil pelajaran. Jadikan masa kini untuk bersyukur dan berusaha menjadi rakyat yang memberi manfaat untuk sesama.

“Seorang pemimpin tidak berubah karena hukuman. Aku masuk penjara untuk memperjuangkan kemerdekaan, dan aku meninggalkannya dengan tujuan yang sama.” – Bung Karno

“Di Sukamiskin tubuhku dipenjara. Di Flores semangatku dipenjara. Di sini aku diasingkan dari manusia, dari orang-orang yang dapat memperdebatkan tugas hidupku. Mereka yang mengerti, takut untuk berbicara. Mereka yang mau berbicara, tidak mengerti. Inilah tujuan sebenarnya pembuangan ini. Baiklah! Kalau keadaannya demikian, aku akan bekerja tanpa meminta bantuan orang-orang terpelajar yang picik ini. Aku akan mendekati rakyat jelata yang paling bawah. Orang-orang yang terlalu sederhana untuk memikirkan politik. Orang-orang yang tak dapat menulis dan yang merasa dirinya tidak kehilangan apa-apa. Dengan cara ini, setidak-tidaknya ada orang yang bisa kuajak bicara.” – Bung Karno

Buku: Be A Reader – Antoni Ludfi Arifin

Terima kasih untuk karyanya, Pak Antoni 🙂 Buku yang sarat makna dan menjadi pengingat pentingnya membaca. Membaca itu kebutuhan. Untuk diri kita sendiri dan orang lain.

Membaca untuk mencerahkan diri, dan dengan demikian mampu memberikan pelita bagi orang lain. Tujuan ini sangatlah mulia. Membuka “jendela” dan melihat cakrawala yang lebih luas demi kedewasaan berpikir dan bertindak. Membaca menjadikan kita makhluk yang terus terbarukan dalam hal pemikiran. Membaca buku tekstual (tersurat) dan kontekstual (tersirat) dapat meng-update pengetahuan, cara pandang, dan sikap kita. Lebih jauh, kegiatan membaca yang dilakukan terus-menerus dalam jangka panjang dapat memperbaharui tingkah laku kita menuju perilaku manusia baru yang lebih baik. Inilah peran penting membaca untuk membangun diri. – Antoni Ludfi Arifin

Setelah membaca buku Pak Antoni yang berjudul “Be A Reader” membuat saya ingin mengingat kembali mengapa saya butuh membeli buku dan mengapa saya butuh membaca buku. 

Sejak kecil hingga Sekolah Menengah Pertama (SMP)  belum ada ketertarikan sedikit pun dengan buku dan kegiatan membaca. Karena memang belum ada pengalaman banyak tentang saya dan buku. Sehingga saya belum mencintai buku. 

Buku yang saya baca hanya buku pelajaran saja. Saya membacanya sebab memang keharusan. Karena jika tidak membaca, saya tidak akan bisa memahami pelajaran dan menjawab soal-soal. Jika dahulu banyak teman-teman sering membaca komik dan novel saat jam istirahat sekolah, kalau saya belum berminat sama sekali melakukan hal yang sama seperti mereka. Padahal, saat SMP dulu, ada sebuah ruko yang memberikan jasa sewa-menyewa buku. Disana disediakan banyak komik dan novel yang dapat disewa selama beberapa hari dengan tarif tertentu. Seru sekali ya? Tapi saat itu saya tidak merasakan kegiatan tersebut seru. Bagi saya itu tidak menarik.

Saat Sekolah Menengah Atas, sahabat saya Ica mengenalkan sebuah buku karya Tere Liye yang berjudul Bidadari-bidadari Surga. Ica dengan semangat menjelaskan alasan-alasan terbaiknya mengapa saya harus membaca buku tersebut. Berkat kemahiran Ica bercerita dan mempengaruhi hal-hal baik, maka saya terpengaruh dan mencoba membaca karya Tere Liye. Buku pertama yang saya baca adalah Sunset Bersama Rosie. Dan hasilnya, saya suka sekali. Saya menyukai cara Tere Liye bercerita sambil menyisipkan hikmah-hikmah. Selalu ada pembelajaran dan pemahaman disetiap cerita yang Tere Liye tuliskan. Sejak saat itu, saya benar-benar menyukai karya-karyanya. Saya mengoleksi banyak novelnya. Beberapa karya beliau yang sudah saya miliki adalah Daun yang Jatuh Tak Pernah Membenci Angin, Sepucuk Angpao Merah, Ayahku Bukan Pembohong, Semoga Bunda disayang Allah, Hafalan Shalat Delisa, Amelia, Pukat, Pulang, Negeri Para Bedebah, Negeri di Ujung Tanduk, Rindu, Hujan, Tentang Kamu. Dan, masih banyak buku Tere Liye yang belum saya baca. Yuk, nabung.

Karena sejak kali pertama dikenalkan dengan novel tentang hidup dan penuh hikmah, maka seiring berjalannya waktu, saya pun gemar membeli novel yang bergenre seperti itu. Beberapa penulis yang bukunya banyak saya baca seperti A. Fuadi, Habiburrahman El Shirazy, Asma Nadia, Salim A. Fillah, Iwan Setyawan, Azhar Nurun Ala, dan Kurniawan Gunadi. Dari karya mereka saya banyak belajar bagaimana menjadi orang baik, bermanfaat untuk sesama, bersyukur, bersabar, dan yang utama bagaimana cara saya dicintai Allah. Saya benar-benar bersyukur karena telah diberi kesempatan membaca karya mereka 🙂

Bertambahnya usia, saya menyadari bahwa semakin banyak tanggung jawab untuk diri ini dan masih banyak hal yang tidak saya ketahui. Saya perlu mencari tahu. Saya perlu membaca lagi. Agar kelak, ketika menjalani hidup ini tidak dengan coba-coba lagi. Saya menjalani hidup ini harus dengan pemahaman matang untuk apa saya hidup. Peran apa yang saya harus dijalani. Saya perlu banyak belajar lagi.

Saya pernah membaca suatu artikel yang begitu berkesan untuk dicatat dalam hati. Artikel itu membahas bagaimana cara menjadi orang yang berpikiran terbuka. Berpikiran terbuka sangat penting dalam kehidupan sehari-hari. Tanpa memiliki pikiran yang terbuka dan luas, kita akan kesulitan menghadapi perbedaan. Dan kita akan sulit menerima hal baru. Artikel itu menyebutkan bahwa jika ingin memiliki pikiran yang luas dan terbuka, maka kita harus mempelajari semua hal tanpa ada pengecualian. Manusia seringkali lebih senang mempelajari hanya yang disukainya saja. Dan enggan menyelami hal-hal yang tidak menarik baginya. Begitulah kita. Hmm, lebih tepatnya begitulah saya. Mengetahui hal itu, maka saya ingin berubah.

Demi memiliki pikiran nan luas dan terbuka seperti itu, maka saya tidak lagi membaca buku sesuai genre yang disukai saja. Saya membaca buku apapun. Saya membaca semua hal yang ingin saya ketahui. Siapapun penulisnya itu. Karena yang terpenting adalah isi bukunya. Sebab, saya menyadari bahwa membaca banyak buku adalah perbuatan yang baik dan bila ada beberapa bagian yang kurang saya setujui, buku tersebut tetaplah bermanfaat. Akan ada pengetahuan baru yang saya dapatkan dari buku tersebut. Akan ada pemahaman baru yang berkembang dalam diri saya setelah mengetahui ilmu baru. Dan akan ada perubahan baik dalam diri saya setelah membaca buku. Buku selalu menjadi guru yang tepat bagi siapapun yang ingin berubah menjadi lebih baik.

Opini: Novel Ayat-ayat Cinta 2

Ada banyak pembelajaran yang saya dapatkan ketika membaca novel Ayat-ayat Cinta 2 karya Habiburrahman El-Shirazy atau biasa dipanggil Kang Abik, berikut beberapa buah pikiran yang perlu dicatat.
Kang Abik memperkenalkan Islam dengan penuh rasa cinta. Betapa Islam mengedepankan hubungan antar sesama dan makhluk Allah lainnya dengan kasih dan sayang. Jika sayang, maka kita akan memperlakukan orang yang disayang dengan sebaik-baiknya. Begitulah Kang Abik memperkenalkan Islam, melalui sosok Fahri.

1. Menjadi teladan yang baik dan berusaha menjadi sebaik-baiknya pribadi

Fahri memang digambarkan sebagai muslim yang taat dan berhati lembut. Tutur katanya selalu dijaga supaya tidak menyakiti hati dan lakunya juga selalu dijaga agar selalu bermanfaat dan tidak merugikan orang lain. Namun, Fahri bisa menjadi sangat tegas bila Allah, Rasul, dan agamanya dihina dan disakiti.

Banyak kepribadian Fahri yang patut diteladani, seperti menggunakan kemampuan dan potensi diri di luar ambang batas, menggunakan waktu dengan adil untuk urusan akhirat dan dunia, mengutamakan akhirat dibandingkan dunia, memperkenalkan muslim melalui keunggulan intelektualnya, sebab Fahri sangat tahu, menjadi muslim yang minoritas harus bertanggung jawab menjadi juara di bidang yang sedang ditekuni. Demi agamanya. Supaya Islam dikenal. Supaya Islam dihormati dan dihargai. Bahkan diteladani segala tutur kata dan tingkah laku terpuji yang Fahri lakukan.

2. Menolong Sesama

Islam mengajarkan agar kita saling menyayangi sesama makhluk Allah. Jika sayang, maka sudah menjadi tugas kita untuk menolong orang yang membutuhkan. Maka, Rasulullah mengatakan:

Betapa Islam mengutamakan rasa kasih dan sayang sampai Allah menegaskan seperti hadist di atas 🙂 Fahri mengamalkan perintah Allah ini dengan membantu tetangga dan orang-orang fakir miskin disekelilingnya. Tanpa membedakan agama, ras, budaya, kewarganegaraan, dan sebagainya. Betapa indah hubungan saling tolong menolong seperti ini. Kang Abik dengan sangat baik menggambarkan sosok Fahri begitu nyata memiliki kepribadian yang sangat terpuji.

3. Mengutamakan Musyawarah

Dalam novel ini banyak konflik yang terjadi dan tak jarang menguji kesabaran Fahri. Begitu banyak kesempatan menyeselesaikan masalah dengan cara pertengkaran, permusuhan, dan perkelahian. Namun, bukan jalan itu yang Fahri pilih. Apa gunanya saling menunjukkan kebencian dan menghilangkan perdamaian? Begitu pikir Fahri. Maka, apapun masalahnya, sebisa mungkin menyelesaikan dengan diskusi dan musyawarah. Dalam novel ini, Kang Abik menunjukkan esensi musyawarah melalui debat ilmiah, diskusi kecil bersama karyawannya, dan berdiskusi dengan mahasiswanya.

4. Merentangkan Sayap Melejitkan  Potensi

Fahri berperan banyak di masyarakat tidak hanya dalam dunia perkuliahan saja. Selain menjadi dosen, Fahri juga menekuni dunia wirausaha hingga menjadi pengusaha yang sukses. Fahri juga mengamalkan ilmu Islam yang didapat saat menuntut Ilmu di Mesir. Di Britania Raya, Fahri banyak berbagi ilmu tentang Islam. Kang Abik menggambarkan sosok muslim yang produktif melalui sikap kerja keras dan pantang menyerah Fahri. Dan hasilpun tidak mengkhianati proses, banyak  pencapaian yang Fahri dapatkan.

5. Menjadi Suami yang Baik

Kesulitan dan kemudahan selalu berjalan beriringan. Dibalik kemudahan hidup yang Fahri rasakan, Fahri diuji dengan kehilangan Aisha. Aisha menghilang saat mengunjungi Palestina. Informasi yang simpang siur tentang hidup Aisha, membuat hati Fahri terluka berulang kali tiap kali diingatkan tentang Aisha. Membuat pelupuk mata selalu basah oleh tangis rindu kala mengingat kenangan bersama Aisha. Aisha masih hidup atau sudah meninggal tidak ada yang tahu. Mengetahui keberadaan Aisha tidak jelas, Fahri selalu mendoakan Aisha. Disetiap amal kebaikan yang Fahri lakukan, Fahri tidak pernah lupa merapalkan doa untuk keselamatan Aisha. Harapan Fahri, bila Aisha masih hidup, maka semoga Aisha dalam keadaan baik dan segera dipertemukan dengannya. Namun, bila Aisha telah meninggal, semoga Aisha berada di Surga-Nya dan diberikan tempat yang paling baik. Dalam hal ini, Kang Abik menggambarkan sosok suami yang berusaha ikhlas dan ridho atas kehidupan istrinya. Hingga tak pernah alpa sedetikpun mendoakan Aisha. Masya Allah.

Sekian opini saya tentang buku Ayat-ayat Cinta 2. Terima Kasih, Kang Abik sudah menulis buku ini 🙂 Jika penasaran dengan hikmah-hikmah cerita dalam novel, maka segera baca bukunya saja! 😀 Buku ini sarat makna dan hikmah untuk introspeksi diri.

Jadi, sudahkah kita menjadi muslim yang Allah sukai? Semoga Allah meluruskan segala pikiran, niat, dan tindakan supaya selalu berada di jalan-Nya. Aamiin.

Kutipan Buku: Menjadi Umat Terbaik

Judul Buku: Ayat-ayat Cinta 2

Penulis: Habiburrahman El Shirazy

Halaman: 442-443

Umat islam mendapat predikat khaira ummah, umat terbaik. Itu bukan predikat mutlak tanpa syarat. Ada syaratnya untuk bisa menjadi umat terbaik. Ada tiga syarat, pertama, menyuruh berbuat yang makruf, menyuruh berbuat baik. Ini tidak berarti hanya menyuruh, tetapi sebelum menyuruh ia harus terlebih dulu berbuat baik sendiri, ia ingin lingkungannya baik, masyarakatnya baik, maka ia menyuruh sesamanya berbuat baik.

Syarat kedua, harus berani mencegah kemunkaran. Tentu ia sendiri harus terlebih dahulu menjauhi segala kemunkaran, kejahatan, dan dosa. Dan ia berani mencegah orang lain dari yang mungkar. Ini tidak semua orang berani. Sifat ini, biasanya dimiliki oleh para nabi dan rasul. Yang menjalankan sifat seperti seperti ini sesungguhnya dia meneladani para nabi dan rasul.

Dan syarat ketiga, yang sesungguhnya adalah paling azas dari semua syarat itu yaitu beriman kepada Allah, Tuhan seru sekalian alam. Itu adalah syarat yang sama yang diminta oleh Allah kepada Nabi Ibrahim dan keturunannya.

Buku: Makna-makna Interaksi dengan Allah

Buku: Baarakallahu Laka Bahagianya Merayakan Cinta

Penulis: Salim A. Fillah

Halaman: 429-432

Ibadah adalah segala sesuatu yang ditujukan untuk mencari ridha Allah. Dan memang Allah SWT yang senantiasa mengawasi kita, menginginkan agar kita memakna ibadah sebagaimana kita memaknai interaksi kita dengan-Nya. Dan makna-makna interaksi kita dengan Allah ada tiga: takut, harap, dan cinta.

1. Takut

Mungkin makna lain yang indah dari takut adalah ‘pengawasan’. Dalam pengawasan Allah, kita berusaha hidup dalam kesalehan. Karena kita lebih patut untuk malu dan takut kepada Allah yang selalu membersamai.

Dan sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia, dan Kami mengetahui apa yang dibisikkan oleh hatinya. Dan Kami lebih dekat kepadanya daripada urat lehernya. (Q.s. Qaaf [50]: 16)

Ketakutan kita pada Allah bukanlah gigil kengerian. Ia adalah kesadaran. Ia adalah kehati-hatian. Ia pun justru ketentraman. Setenteram sejuknya ayat ini menghidupkan hati:

Dan adapun orang yang takut kepada kebesaran Rabbnya, dan menahan diri dari keinginan hawa nafsunya, maka sesungguhnya surgalah tempat tinggalnya. (Q.s. an-Naazi’aat [79]: 40-41)

2. Harap

Dan mungkin, makna indah yang lain dari harap adalah kebersamaan. Kebersamaan dengan Allah. Gerak napas bertauhid adalah sebuah tuntutan keimanan, sebuah sumbu hidup yang menyala dan padam karena Allah semata. Ada kenikmatan tiada tara, ketentraman tak terkira, ketika merasai kebersamaan Allah, dalam shalat, dalam ibadah, dalam hidup, dan ketika meneguk gelas kematian.

Janganlah kamu berduka cita, sesungguhnya Allah bersama kita. (Q.s. at-Taubah [9]: 40

3. Cinta

Bergetarnya hati saat nama-Nya disebut, bertambahnya yakin saat ayat-Nya dilantunkan, menjadi indikator-indikator cinta yang tak bisa dibantah apalagi dipalsukan. Ada kenikmatan tersendiri ketika mereka pasrah, bertawakal, menggantungkan segala urusan kepada Rabbnya saja.

Dan cinta yang hanya di hati belum membuktikan apa-apa. Amal saleh, kata Sayyid Quthb, adalah buah alami dari keimanan dan gerak yang bermula pada detik di mana hakikat keimanan itu menghujam di dalam hati. Maka keimanan dan cinta kepada-Nya adalah hakikat yang aktif dan energik. Begitu hakikat keimanan menghujam dalam nurani, maka pada saat itu pula ia bergerak mengekspresikan dirinya di luar dalam bentuk amal saleh.

Gerak dan gerak. Amal dan amal. Lalu di sanalah cinta menjadi permata, mengkilap oleh airmata, menyala oleh darah, dan hidup dengan pengorbanan.

———————————————————-

Menurut saya, kata ‘takut’ memiliki banyak arti. Maka, ketika kita mengatakan ‘takut’, tentu lawan bicara akan bertanya mengapa kita takut dan mempertanyakan alasan dibaliknya.

Manusia takut kepada Allah tidak mengandung arti sama seperti pembantu takut pada majikannya yang kejam. Rasa takut yang dirasakan pembantu adalah akibat dari tindakan yang majikan lakukan. Seperti tindakan bengis, zalim, dan tidak menaruh belas kasihan. Namun, rasa takut yang manusia rasakan adalah merasa malu khawatir bila Allah kecewa dan tidak meridhai atas tindakan yang dilakukan. Dan merasa hormat atas segala nikmat yang Allah telah berikan. Berbeda kan?

Rasa takut ini membuat manusia terus menjaga agar menjalani kehidupan di jalan-Nya. Berhati-hati agar melakukan tindakan sesuai perintah-Nya. Dan menjauhi segala larangan-Nya. Semua dilakukan dengan penuh kesadaran bahwa semua ini dilakukan demi kebaikan. Hal-hal yang dibolehkan tentulah membawa manusia pada kebaikan. Dan hal-hal yang dilarang tentulah membawa manusia pada kerugian dan kesengsaraan.

Harap artinya memohon dan meminta. Kita adalah ciptaan Allah. Maka, sebaik-baiknya tempat berharap adalah kepada Sang Maha Pencipta. Berharap pada Allah tidak akan memberikan rasa kecewa. Sebab kita menyadari bahwa segala pinta yang berasal dari keinginan pribadi tidak melulu membawa kebaikan. Dan kita menyadari bahwa segala permohonan yang berasal dari keinginan pribadi tidak melulu yang terbaik. Dimana ada harap, maka disana ada kepasrahan pada Allah.

Tidak ada definisi yang pasti tentang cinta. Definisi cinta sulit diungkapkan oleh kata. Namun, mudah diwujudkan dengan laku. Cinta tidak boleh hanya dirasakan oleh diri sendiri. Karena cinta harus dibuktikan.

Cinta dan pengorbanan merupakan dua hal yang tidak terpisahkan. Cinta hadir bersamaan dengan keinginan memberi tanpa berharap kembali. Cinta datang dan segera masuk ke hati tanpa alasan. Semua terjadi begitu saja. Ketika mencintai, maka kita akan rela berkorban asal sang cinta baik-baik saja, nyaman, dan berbahagia.

Cinta kepada Allah artinya kita memilih untuk istiqomah berjalan di jalan-Nya. Kita berpasrah dengan segala ketentuan-Nya. Kita berusaha melakukan segala perintah-Nya. Dan menjauhi larangan-Nya. Kita berupaya untuk selalu memprioritaskan-Nya. Kita membela dan berkorban untuk agama-Nya. Mencintai artinya merelakan segala yang kita punya dan inginkan untuk sang cinta.

Allah begitu mencintai kita. Kita memiliki rupa yang baik. Kita diberikan orang tua yang yang baik. Kita diberikan saudara-saudara seiman yang baik. Kita diberikan penghidupan yang lebih dari cukup. Dan masih banyak nikmat lainnya. Tidak akan pernah cukup menyebutkan segala bukti bahwa Allah sangat mencintai kita.

Takut, harap, dan cinta merupakan satu kesatuan. Tidak ada urutan. Tidak ada jenjang. Dan tidak ada yang paling utama. Karena semua utama. Semoga kita bisa memaknai dengan baik bagaimana interaksi kita dengan Allah. Semoga sepanjang kehidupan kita tidak pernah luput dari sikap takut, harap, dan cinta kepada Allah. Sebab, ibadah yang baik diawali oleh pemahaman dan pemaknaan yang baik pula 🙂

Buku: Merantau

Judul Buku: Baarakallaahu Laka Bahagianya Merayakan Cinta

Penulis: Salim A. Fillah

Halaman: 349-350

Imam Asy-Syafi’i mengatakan, “Jika kau tinggalkan tempat kelahiranmu, akan kautemui derajat mulia di tempat yang baru, dan kau bagaikan emas yang sudah terangkat dari asalnya.”

Lingkungan yang baru, terkadang lebih siap menerima kita dengan penerimaan tanpa prasangka. Karena kita tak dikenal, maka kacamata yang dipakai menilai kita adalah kacamata yang jernih. Masyarakat di lingkungan yang baru, belum memberikan ‘cap’ terhadap kita sebagai jenis ‘manusia macam apa’ karena mereka belum berinteraksi intens di masa lalu. Maka, merantau kadang menjadi salah satu makna hijrah, yakni hijrah mukaniyah. Perpindahan tempat. Ia melengkapi hijrah-hijrah yang lain. Ia menggenapkan keutamaan tobat kita.  Ia mengutuhkan makna pergeseran kita dari keburukan-keburukan ke arah kebaikan-kebaikan. Ia menyempurnakan makna perpindahan kita dari kondisi jahiliyah ke kondisi islamiyah.

Mengapa merantau bisa menggenapkan, mengutuhkan, dan menyempurnakan makna-makna itu? Karena kita akan menemukan masyarakat yang belum terpengaruh persepsi masa lalu atas diri kita. Mereka memandang kita sebagai ‘orang baik’, sebagai perwujudan dari tobat dan perbaikan diri kita itu. Mereka tidak memiliki prasangka buruk yang bisa menjadi dasar penyikapan dan perlakuan terhadap kita. Justru sebaliknya. Mereka berada dalam keadaan hati yang bersih, prasangka yang paling baik, dan penyikapan yang indah.

Masyarakat di tempat yang baru justru menempatkan atau mengharapkan kita sebagai orang yang baik. Cara pandang positif ini membawa kepada sikap mereka kepada kita, sehingga kondusiflah bagi kita untuk melakukan perbaikan-perbaikan diri. Maka ‘doa’ dan harapan mereka melalui prasangka baik itu dikabulkan Allah. Setidaknya, mula-mula kita menjadi ‘malu’ atas cara pandang positif ini, sehingga kita berupaya untuk mendekati apa yang dilihat oleh masyarakat pada diri kita. Dan masyarakat semakin menyambutnya dengan baik. Subhanallah, alangkah indahnya.

———————————————————-

Menemukan kalimat dalam buku sesuai dengan pikiran sungguh menakjubkan. Tulisan Ustad Salim A. Fillah mewakili apa yang saat ini saya pikirkan dan rasakan. Merantau akan membuat diri kita lebih banyak merenungi, intropeksi diri, dan berusaha menjadi pribadi baru yang lebih baik. Bukan berarti saya mengatakan, tinggal di tempat kelahiran akan sulit untuk berubah. Bukan. Sama sekali bukan seperti itu. Hanya saja, merantau akan lebih banyak memberikan kita ruang untuk berpikir dan menjemput hidayah. Merantau akan membuat kita dekat dengan Allah. Karena, nyatanya kita sungguh bukan apa-apa. Banyak hal didiri kita yang perlu dibenahi dan terus diperbaiki.

Buku: Bung Karno Penyambung Lidah Rakyat

Ditulis oleh Cindy Adams dengan judul “Sukarno an Autobiography as Told Cindy Adams.” di terbitkan di New york tahun 1965. Kemudian, diterjemahkan oleh Syamsu Hadi dengan judul “Bung Karno Penyambung Lidah Rakyat Indonesia.”

Ini adalah buku biografi kedua yang saya punya. Buku pertama adalah tentang Nabi Muhammad. Saya bukan orang yang senang pelajaran sejarah saat sekolah dahulu. Banyaknya tanggal, nama orang, dan nama tempat membuat pelajaran tersebut terasa menyulitkan. Namun, satu tahun yang lalu saya tergerak untuk membeli buku biografi pahlawan Indonesia. Dan saya memutuskan membeli biografi Bung Karno.

Saya merasa ada yang janggal pada diri saya ketika tidak tahu sama sekali tentang Bung Karno. Padahal beliau adalah presiden pertama Indonesia. Bung Karno juga yang berjuang menggerakkan rakyat Indonesia agar bersatu. Agar bersama-sama bangkit dari penjajaran beratus-ratus tahun dan berani bergerak untuk merdeka. Beberapa hal yang saya ketahui adalah beliau presiden pertama Indonesia dan memiliki istri bernama Ibu Fatmawati. Sesederhana itu. Minim informasi sekali ya? Sungguh merasa aneh dan malu. Oleh karena itu, saya benar-benar ingin tahu tentang Bung Karno secara menyeluruh. Kemudian, saya segera membeli buku biografi Bung Karno.

Beberapa tahun yang lalu saya pernah menonton video tentang Bung Karno di youtube. Memamg tidak ada video beliau orasi. Disana ditampilkan foto-foto dan suara beliau berpidato. Saya yang awam sekali tentang beliau, mendengar Bung Karno berorasi benar-benar membangkitkan jiwa nasionalisme dan patriotisme dalam diri.  Sejak saat itu, saya semakin ingin tahu tentang Bung Karno.

Tidak hanya ingin tahu tentang jiwa nasionalisme dan patriotisme beliau yang tinggi sehingga mampu membuat Indonesia merdeka. Namun, saya juga ingin tahu dimana Bung Karno lahir, siapa orang tuanya, bagaimana cara orang tua mendidik beliau, bagaimana proses pertumbuhan dan perkembangan Bung karno sejak kecil hingga akhir hayatnya. Saya ingin tahu segalanya tentang beliau.

Pada bab pertama dengan judul “Alasan Menulis Buku Ini” ada tulisan  menarik bagi saya. Bung Karno mengatakan, ” Ini adalah pekerjaan yang sulit bagiku. Sebuah otobiografi tak berbeda dengan pembedahan mental. Sangat sakit. Melepas plester pembalut luka-luka dari ingatan seseorang dan membuat luka-luka itu —banyak diantaranya yang mulai sembuh— terasa perih. Lagi pula, aku akan melakukannya dalam bahasa Inggris, bahasa asing bagiku. Terkadang aku melihat kesalahan dalam tata bahasa dan seringkali aku terhenti karena merasa sedikit frustasi. Tetapi, barangkali juga aku punya kewajiban menceritakan kisah ini kepada tanah airku, kepada bangsaku, kepada anak-anakku, dan kepada diriku sendiri. Karenanya, kuminta padamu, pembaca, untuk mengingat bahwa, lebih penting dari bahasa kata-kata yang tertulis adalah bahasa yang keluar dalam lubuk hati. Buku ini tidak ditulis untuk mendapatkan simpati atau meminta supaya setiap orang suka padaku. Harapanku hanyalah, agar dapat menambah pengertian lebih baik tentang Sukarno dan dengan itu menambah pengertian yang lebih baik terhadap Indonesia tercinta”.

Saya belum membaca buku ini sampai selesai. Saat ini baru membaca 131 halaman. Jumlah bukunya adalah 415 halaman. Namun, 131 halaman tersebut benar-benar sarat informasi. Mampu membuat saya merenung.

Zaman penjajahan adalah zaman pembodohan. Kita meminta-minta, merendahkan diri, tidak percaya diri, dan merasa tidak mampu hidup dalam negara kita sendiri. Belanda merusak mentalitas rakyat Indonesia. Jangankan untuk bermimpi tinggi. Bahkan kita tidak mampu menapakkan kaki pada bumi kita ini sesuai kehendak kita. Zaman yang sangat menyedihkan.

Bung Karno sudah terdidik sejak kecil oleh ibunya agar berjuang selalu untuk Indonesia. Bung Karno juga terdidik untuk menjauhi gaya hidup kebarat-baratan. Bung Karno sudah memiliki kesadaran akan sebuah perubahan untuk merdeka sejak usia belasan tahun. Namun, harus berjuang secara diam-diam hingga usia 20 tahunan. Karena apa? Karena, Bung Karno harus bersekolah. Jika tidak sembunyi-sembunyi, pupuslah kesempatan Bung Karno untuk sekolah tinggi. Bisa-bisa dipenjara sebelum berjuang. Orang tua Bung Karno rela menyisihkan banyak uang agar beliau bersekolah. Rela hidup susah demi pendidikan.  Karena mereka yakin, Bung Karno mampu memimpin Indonesia di masa Depan. Maka, mana mungkin Bung Karno tidak menurut pada orang tua? Perjuangan yang dilakukan saat itu, Bung Karno menulis artikel tentang pergerakan kemerdekaan dengan nama samaran “Bima”.

Pada masa itu, sekolah untuk pribumi hanya sampai sekolah dasar saja. Maka, jika ingin melanjutkan sekolah yang lebih tinggi, rakyat Indonesia harus bersekolah di sekolah Belanda. Dan tidak semua rakyat memiliki kesempatan. Hanya rakyat yang berasal dari keturunan bangsawan yang boleh bersekolah disana. Dan Bung Karno memiliki kesempatan itu.

Bung Karno menghabiskan masa mudanya dengan banyak buku. Oleh karena itu, pemikiran Bung Karno melampaui pemikiran teman-teman sebayanya. Ditambah, saat diusia 15 tahun Bung Karno merantau ke Surabaya, tinggal di indekos milik Bapak HOS Cokroaminoto. Beliau adalah pemimpin Sarekat Islam. Sehingga, seringkali diadakan rapat mengenai keadaan Indonesia yang menyedihkan dan tentang kemerdekaan Indonesia. Dan tak jarang pula Bung Karno yang masih remaja itu duduk mendengarkan rapat. Beberapa kali juga beliau menyumbangkan beberapa ide yang didapatkan dari buku-buku yang telah dibaca.

Di halaman ke 131 buku biografi ini, saya terilhami. Indonesia yang saat ini kita pijak, yang dengan mudahnya kita meningkatkan kualitas diri, dengan mudahnya mengejar mimpi, dengan mudahnya menuntut ilmu, dengan bebasnya berpendapat, dengan mudahnya menyumbangkan gagasan, tindakan, dan perjuangan untuk Indonesia, lalu saat ini kita sudah menjadi apa? Upaya apa yang sudah dilakukan sebagai rasa syukur terhadap pahlawan?

Tanpa kita sadari, kita terjajah dengan rasa malas. Rasa malas yang menghambat peluang-peluang kesuksesan kita. Kita juga terjajah dengan “selera budaya barat”. Kita selalu senang memakai karya dan ciptaan bangsa lain. Sedangkan tidak bangga dan tidak senang dengan karya-karya ciptaan bangsa kita sendiri. Meskipun belum bangga, paling tidak, gunakanlah karya kita sendiri. Kebudayaan yang bisa kita rasakan saat ini, tidak mudah kita dapatkan. Ada pengorbanan harta, jiwa, dan raga yang dilakukan pejuang-pejuang dahulu.

Tahu kah mengapa Bung Karno terkenal dengan Peci hitamnya? Dan mengapa Bung Karno mamakai peci hitam itu? Zaman sebelum Indonesia merdeka, banyak upaya yang dilakukan untuk mengembalikan rasa bangga pada kebudayaan Indonesia, dan Bung Karno memulai dan memperjuangkannya.

Ketika rakyat Indonesia tidak mau lagi menggunakan barang-barang yang mencerminkan identitas Indonesia, karena malu dan tidak percaya diri. Maka, Bung Karno memulainya dengan menggunakan peci hitam kemana pun beliau pergi. Memang tak mudah, pada awalnya Bung Karno pun butuh waktu untuk meyakinkan diri. Dan beliau menggunakannya. Sejak saat itu, peci hitam selalu digunakan sebagai identitas kebudayaan yang tidak pernah ditinggal. Untuk memperkenalkan keberadaan Indonesia di Indonesia serta di negara-negala lain.

Melihat perjuangan Bung Karno dan para sahabat berjuang sekeras itu untuk menjaga identitas Indonesia dan untuk merdeka, relakah kita saat ini terjajah (lagi)? Jangan sampai kita terjajah lagi, terjajah oleh keegosisan diri kita sendiri.

Sekian. Akan saya lanjutkan menulis setelah membaca halaman-halaman biografi selanjutnya, Insya Allah 🙂 Semoga bermanfaat.

Kutipan Buku: Zero Base – dalam Interaksi Sosial

Judul Buku: Baarakallaahu Laka Bahagianya Merayakan Cinta

Penulis: Salim A. Fillah

Halaman: 294-295

Majalah Ummi No. 3 Tahun XVI, Juli-Agustus 2004, menurunkan sebuah artikel tentang Zero Base dalam interaksi sosial. Dalam artikel itu, ditulis bahwa hal-hal di bawah ini adalah benefit, ketika kita menerapkan Zero Base dalam interaksi sosial. Saya malahan, ingin mengajak Anda untuk memandangnya sebagai pengikhtiaran. Berdasarkan prinsip Zero Base yang kemudian akan kita isi dengan kebaikan-kebaikan, inilah keindahan itu.

1. Pandanglah bahwa manusia adalah makhluk yang dinamis

Ia belajar dalam kesalahan dan memberbaikinya di waktu-waktu yang akan datang. Adalah ketidakadilan, menilai manusia hanya berdasar jejak rekam masa lalu. Semua manusia bisa tersalah sehingga ada peluang keindahan dengan memaafkan. Ada penerimaan yang imbal baliknya adalah proses perbaikan. Berhati-hatilah menyikapi manusia. Bahkan Imam di bidang ilmu Jarh wat Ta’dil, yakni ilmu kritik atas Rawi hadis yang menentukan shahih tidaknya suatu hadis sehingga ilmu ini menjadi sangat penting, mengajak kita untuk merenung. Beliau, Imam Yahya bin Ma’in berkata, “Boleh jadi kita mengkritik dan melemahkan seorang Rawi, padahal dia memasuki surga ratusan atau ribuan tahun mendahului kita.”

2. Bebaskan diri dari prasangka.

Segala hal yang “terlalu” tidaklah menampakkan kebaikan. Prasangka yang terlalu baik membuat kita terjebak pada sifat lalai, tertipu, dan terseret untuk berbuat tidak adil. Akan ada ketidakseimbangan. Sebaliknya, prasangka yang buruk akan membinasakan. Prasangka yang “terlalu baik” adalah ekspektasi yang melahirkan tuntutan psikis  kepada orang lain, maka jadilah kekecewaan yang bertimbun-timbun atau ketidakadilan terhadap pihak lain. Prasangka yang buruk akan menjadi sel-fulfilling prophecy. Jibril berpesan pada Nabi kita untuk diteruskan pada umatnya, “Cintailah orang yang kamu cintai sewajarnya, karena boleh jadi suatu ketika ia menjadi orang yang paling kaubenci. Bencilah orang yang kaubenci sewajarnya, boleh jadi suatu ketika ia menjadi orang yang paling kaucintai. (H.r  Bukhari)

3. Nilailah apa adanya.

Nilailah objektif dan apa adanya sesuai interaksi kita dengan mereka. Bersikaplah sebaik-baiknya dan katakanlah yang tidak tahu jika kita memang belum memahaminya. Dalam konsep yang dibawakan Umar bin Khaththab, mengenal seseorang berarti pernah bermalam bersamanya, melakukan muamalah, atau melakukan perjalanan bersama.

4. Beranilah mangambil sikap yang tepat.

Kita menilai dan menyikapi seseorang berdasar kebenaran, bukan keberpihakan bertendensi. Pembelaan atau penolakan, persekutuan atau permusuhan, bukan berdasarkan timbangan-timbangan keuntungan, tetapi berdasar cara pandang yang jernih dan bersih.

5. Berpegang pada standar Ilahiyah.

Laa ilaaha, dengan mengosongkan diri dari standar-standar pribadi dan standar-standar artifisial lainnya, kemudian Illallaah membuat kita menerapkan diri pada standar Ilahi. Seseorang diukur bukan dengan hartanya, keturunannya, kedudukannya, atau jabatannya. Bukankah yang termulia di sisi Allah di antara kita adalah yang paling bertakwa?

6. Kosongkan diri dari tujuan kotor.

Allah menciptakan kita berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya kita saling mengenal. Allah menciptakan kita bertetangga agar kita saling bersaudara. Ada tujuan-tujuan suci, ada keindahan-keindahan yang mengangkat diri ke ufuk tinggi. Maka jangan sampai ada tujuan-tujuan kotor dalam bertetangga. Memanfaatkan, menyakiti, merusak, dan tujuan kotor lainnya. Ingatlah, bahwa dosa atas maksiat yang dilakukan kepada tetangga, dilipatkan lebih dari sepuluh kali oleh Allah Swt. Imam Bukhari membawakan riwayat Rasulullah pernah bersabda, “Berzinanya seseorang dengan sepuluh wanita lebih ringan dosanya daripada jika ia berzina dengan istri tetangganya. Mencuri di sepuluh rumah lebih ringan dosanya daripada pencurian  yang ia lakukan di rumah tetangga.”

“Jibril senantiasa berwasiat kepadaku tentang tetangga, sampai-sampai aku menyangka bahwa tetangga akan ikut menjadi pewaris.” (H.r. Bukhari dan Muslim).

Buku: Begitulah Hati

Judul Buku: Barakallaahu Laka Bahagianya merayakan Cinta.
Penulis: Salim A. Fillah
Halaman: 218

Begitulah hati. Ketika hati kita jernih, rahmat Allah akan merambahkannya, menjadikannya lembut dan penuh kasih sayang. Ketika hati kita jernih, dada kita meluas. Kita tidak mudah terbumbu oleh kata-kata lawan bicara yang pedas. Kita lebih mudah mencerna aneka kata tanpa prasangka, kemudian menyikapi dengan tindakan paling tepat. Ketika hati kita jernih, maka fikiran kita bening, dan kepala kita dingin. Lisan pun hanya menghembuskan wangi dan meniupkan sejuknya akhlak yang ada dalam diri.

Begitulah hati. Ketika hati kita kasar, maka sikap kita menjadi keras. Tidak ada kelembutan. Dada kita menyempit. Telinga kita mudah memerah mendengar sesuatu yang sebenarnya belum kita pahami maknanya. Jiwa kita dipenuhi prasangka, menebak-nebak maksud mereka yang berbicara pada kita dan bersinggungan di arena kehidupan. Maka setiap orang akan merasakan aroma neraka menghambur tiap kali kita berbicara. Mereka merasakan sakit, seolah setiap huruf yang terucap dari lisan kita adalah pedang-pedang yang menyambit. Maka mereka —minimal hati mereka— berlari jauh meninggalkan kita. Apa jadinya, jika yang demikian dirasakan oleh orang yang paling dekat dengan kita? Istri kita? Maka cinta menjadi sesuatu yang mahal harganya dalam rumah tangga kita. Dan akhirnya, segalanya terasa hampa.

Semua bermula dari hati. Ketika hati kita jernih, ada kesiapan untuk belajar lebih banyak. Ketika hati kita jernih, ada semangat yang besar untuk menambah ilmu. Ketika hati kita jernih, ada hasrat yang kuat untuk memberikan yang terbaik bagi semua orang. Ada ruh berbagi yang dahsyat. Berbagi senyum yang tulus, berbagi wajah yang manis, berbagi kelembutan kata, dan berbagi kebenaran. Hati yang jernih ibarat lampu kaca. Ia memancarkan cahaya yang diletakkan Allah dalam nurani tiap-tiap kita. Dan ilmu, kata Imam malik, juga adalah cahaya Allah. Maka setelah hati yang jernih, ada ilmu yang menerangi.