[Day 23] Mereka yang Berhak Memelihara Hewan

Memelihara Moi dan anak-anaknya adalah pengalaman pertama kami memiliki hewan peliharaan. Khususnya untuk aku.

Sebelumnya, aku tidak terlalu peduli sama hewan. Namun, perlahan berubah setelah melihat bagaimana adik-adikku menyayangi hewan. Ditambah, pernah diskusi singkat pada kolom komentar wordpress bersama Mbak Ikha, aku menjadi tertarik untuk lebih banyak mengamati hewan.

Mbak Ikha bercerita kalau ia sudah lumayan sering memelihara hewan. Kambing, ayam, dan kucing pernah si mbak pelihara. Katanya, hewan itu akan bersikap sebagaimana manusia bersikap. Hewan-hewan itu tahu betul kalau kita sayang beneran atau tidak. Jadi, sebaiknya aku nggak perlu takut sama kuku si kucing. Dia nggak akan mencakar kalau kitanya baik. Dari obrolan ini, aku pun semakin bersemangat memperhatikan tingkah Moi di rumah.

Rasa sayang yang aku berikan untuk kucing berbeda dengan adik-adikku. Adik-adikku adalah tim yang bekerja sama memberi kasih sayang ke Moi dengan cara mengajak bermain dan bercanda 😁 kalau aku dan mama adalah tim yang memberi kasih sayang ke Moi dengan cara menjaga tempat tinggal dan memastikan makanannya tetap ada.

Mamaku memang tipikal orang yang sulit jujur pada perasaannya. Begitu juga saat memperlakukan Moi. Mamaku selalu mengaku kesal sama Moi. Mamaku juga selalu mengeluh atas kehadiran Moi. Namun, meskipun kesal dan mengeluh, mama selalu rajin membelikan ikan untuk Moi di pasar 😁

Apa saja keluhan si mama? Keluhan pertama mama muncul karena Moi suka mencuri makanan kami. Sejak kubelikan Moi makanan khusus kucing, keluhan mama pun berkurang. Karena si Moi pun akhirnya tidak mencuri makanan lagi.

Keluhan kedua muncul karena Moi mulai nakal buang air besar sembarangan. Kenakalan inilah yang akhirnya memunculkan masalah yang membuat aku dan adik-adik sedih berkepanjangan.

Pengalaman Memelihara Hewan

Memelihara hewan tidak hanya tentang memberikan kandang dan makanan saja, maka setelah itu urusan selesai. Dari pengalamanku memelihara hampir setengah tahun, memelihara hewan berarti kita harus memenuhi semua kebutuhannya.

Bagaimana si kucing tidur dengan nyaman, bagaimana si kucing makan dengan kenyang, bagaimana si kucing bermain dengan riang, bagaimana si kucing tetap terjaga kesehatannya, dan bagaimana si kucing bisa hidup dengan tertib dan bersih. Beberapa pertanyaan itu Insya Allah sudah kami penuhi. Namun, pertanyaan terakhirlah yang menjadi masalah bagi kami.

Aku bisa memastikan si kucing tidur dengan nyaman dengan memberikan kandang dan selimut. Aku bisa memastikan si kucing tidak kelaparan dengan membeli makanan kucing dan memberi makan dengan teratur. Aku bisa menjaga kesehatan si kucing dengan cara tidak membiarkan dia makan dan keluar rumah sembarangan. Tetapi ternyata, aku kesulitan untuk membuat si kucing tetap tertib dan juga bersih πŸ˜₯

Membuat kucing kampung tetap tertib dan bersih ternyata tidak mudah. Karena ia tumbuh di jalanan. Ia juga terbiasa hidup tanpa aturan. Lebih mudah mendidik kucing yang sejak lahir dan tumbuh bersama-sama kami. Mereka mudah dilatih.

Seperti si anak-anak Moi, Matcha dan Mocca. Mereka tidak buang air besar dan kecil sembarangan sejak kubelikan tempat khusus buang kotoran. Setelah tempat khusus buang kotoran itu kuisikan pasir wangi, mereka pun selalu buang kotoran di sana.

Berbeda dengan Moi. Meskipun aku dan adik-adik sudah melatih Moi untuk buang kotoran di tempat itu, si Moi tetap tidak patuh. Ia malah lebih senang buang kotoran di dalam rumahku. Alhasil, selama satu bulan pun rumahku bau kotoran hewan.

Kami Tidak Mau Membuang Kotoran Kucing

Permasalahan muncul ketika aku dan adik-adik tidak rutin membuang kotoran di kandang dan tempat khusus buang kotoran. Ditambah si Moi juga membuang kotoran sembarangan. Akhirnya, kotoran pun berkeliaran di dalam dapur.

Karena kami tidak nyaman sama kotoran kucing, akhirnya si mama yang membuang semua kotoran itu. Karena perihal ini, mama pun semakin kesal sama Moi. Mama juga kesal sama kami. Akhirnya, mama meminta supaya kami membuang Moi.

Menjadi Renungan

Tulisan di bawah ini akan selalu menjadi renungan untukku.

Orang-orang yang telaten memelihara kucing menurutku hebat banget. Mereka memang benar-benar cinta sama kucing. Mereka mau melakukan segalanya untuk kucing.

Aku ternyata belum mampu seperti itu. Aku bukan apa-apa dibanding mereka. Aku mengaku sayang sama kucing, namun masih enggan membersihkan kotorannya.

Meskipun menggunakan masker dan sarung tangan, aku tetap tidak kuat membersihkan kotorannya 😭 aku pernah beberapa kali membersihkan kandang kucing-kucingku. Ternyata aku tidak nyaman. Meskipun mampu membersihkan si kandang sampai bersih, aku tidak dalam keadaan hati yang bahagia saat melakukannya.

Rasanya beda saat aku membantu adikku yang kecil buang air besar. Meskipun tetap saja ada sedikit rasa tidak nyaman (Mungkin nanti rasa ini akan hilang ketika sudah punya anak πŸ˜…), aku dengan tulus melakukannya. Aku juga telaten mengajarkan si kecil cara membersihkan kotorannya. Setelah selesai, hatiku pun tetap berbahagia tanpa meninggalkan rasa tidak suka berkepanjangan.

Adikku pun juga begini. Mereka enggan membersihkan kotoran si kucing. Yang paling rajin membersihkan hanya mama. Tetapi, mama kesal. Karena kekesalan inilah akhirnya mama membuang Moi dan anak-anaknya tanpa seizin kami 😭

Kami tahu tentang pembuangan ini pun hanya dari pesan singkat yang mama kirimkan dalam group keluarga. Isi pesan singkat itu adalah tentang izin sekaligus permintaan maaf karena telah membuang para kucing.

Bagaimana perasaan aku dan adik-adik? Hati kami patah namun tidak bisa berbuat apa-apa. Karena kami memang salah. Kamilah yang membuat mama marah karena tidak mau membersikan kotoran kucing.

Karena rasa bersalah inilah kami tidak protes atas tindakan mama. Aku hanya berbagi kesedihan sama Niar. Danang dan Satria masih kecil. Meskipun sedih, mereka tidak bisa benar-benar menunjukkan.

Tubuh ternyata tidak bisa menyembunyikan bagaimana keadaan pikiran.

Esok harinya setelah kucing-kucingku dibuang, adik-adikku sakit. Mereka sama-sama demam. Kurasa, enam bulan adalah waktu yang cukup lama untuk menumbuhkan perasaan. Adik-adikku sering bermain bersama-sama Moi. Raut wajah mereka juga selalu ceria tiap kali menghabiskan waktu bersama Matcha dan Mocca. Mereka sayang sama Moi anak-anaknya.

Dari lubuk hati yang terdalam aku benar-benar sedih dan menyesal. Sedih karena tidak bisa mempertahankan Moi dan anak-anaknya agar tetap tinggal. Menyesal karena rasa sayangku untuk para kucing bersyarat. Tidak mau membersihkan kotoran hanya karena rasa tidak nyaman, pantaskah aku dikatakan sebagai si penyayang hewan? Sepertinya tidak.

Lalu, aku pun menyadari. Aku belum pantas dan berhak memelihara hewan. Karena aku belum menerima segala hal tentang kucing sepenuhnya. Mereka yang pantas dan berhak adalah orang-orang yang mampu menjaga serta menerima kucing tanpa syarat. Bahkan untuk segala kotoran yang kebanyakan orang tak suka.

Advertisements

[Day 22] Terfavorit

Belakangan ini gaya yang kugunakan memang itu-itu saja. Bisakah hal ini kusebutkan sebagai perihal terfavoritku dalam bergaya? πŸ˜‚ kalau bisa, baiklah akan aku ceritakan apa adanya, ya πŸ˜†

Tidak ada gaya yang istimewa dariku. Meskipun begitu, aku tidak menyesalinya. Sebab yang utama adalah kenyamanan untuk diriku sendiri.

Gaya berpakaian yang paling nyaman untukku adalah kemeja atau kaos, rok, dan jilbab polos. Oh iya, aku kurang tertarik menggunakan jilbab bermotif lagi haha entah mengapa rasanya tidak cocok dengan kepribadianku.

Benda tambahan yang menjadi favoritku adalah sepatu, jam tangan, dan ransel. Dengan menggunakan ketiganya, aku merasa nyaman sekali menjalani hari.

Ransel adalah Sahabat Si Pelupa

Dari semuanya, satu benda terfavorit adalah ransel. Aku tidak bisa bepergian tanpa membawa ransel. Ransel adalah penyelamat bagi orang-orang pelupa seperti aku.

Selain itu, aku juga tipikal orang yang memegang teguh pepatah “sedia payung sebelum hujan” wkwk dengan ransel, aku bisa mempersiapkan segalanya dengan baik.

Karena pelupa, sebelum memasukkan benda-benda ke dalam ransel, biasanya aku membuat catatan tentang benda-benda yang akan dibawa.

Contohnya saat ke monas Hari Minggu kemarin. Pergi ke monas adalah perjalanan jarak pendek. Jadi, benda-benda yang dibawa tidak terlalu banyak. Aku hanya perlu membawa payung, botol minum, mukena, dan goodie bag.

Mungkin bagi beberapa orang barang-barang itu tidak terlalu penting. Bagi aku, penting.

Tentang payung. Aku suka hujan-hujanan. Namun, kehujanan saat belum sampai tempat tujuan itu rasanya tidak enak. Dengan membawa payung, aku tetap bisa sampai tempat tujuan tanpa kebasahan. Dengan payung, aku juga bisa membuat banyak rencana cadangan.

Tentang botol minum. Alasan pertama membawa botol minum adalah supaya terhindar dari dehidrasi. Apalagi aku adalah tipikal orang yang mudah haus. Siap sedia botol minum dalam tas benar-benar membantu. Alasan kedua, aku ini masih suka minum minuman teh kemasan. Dengan sedia botol minum di tas, membantu mengingatkanku bahwa sesuka apapun aku dengan minuman teh kemasan, air putih tetap harus dikonsumsi.

Tentang mukena. Membawa mukena sendiri kala bepergian adalah keharusan. Selain masalah kenyamanan, membawa mukena sendiri juga akan menghemat waktu. Seringkali kutemui, antara jumlah jamaah dan mukena tidak berbanding lurus. Maka, kita pun harus antre mukena lama tiap kali waktu salat datang. Dengan memakai mukena sendiri, kita bisa langsung salat berjamaah tanpa antre terlalu lama.

Tentang goodie bag. Membawa goodie bag kosong adalah bentuk usahaku menyayangi bumi. Meskipun tidak tahu ingin digunakan untuk apa, aku siap-siap saja hahaha

Sebenarnya aku masih bandel. Aku masih sering lupa membawa goodie bag sendiri ketika ke mini market. Aku juga masih sering lupa membawa sedotan sendiri tiap kali bepergian. Dengan “memaksa diri” membawa goodie bag dalam tas, akan memudahkanku menolak plastik tiap kali berbelanja.

Kira-kira itulah gaya dan benda terfavorit Shinta. Ribet atau nggaknya relatif ya hahaha tergantung bagaimana gaya dan seleramu. Apapun pilihanmu, semoga semakin membuat kamu semangat menjalani hari πŸ’“

Kita bebas berkreasi, sungguh. Namun, jangan lupa sertakan Allah untuk semua pilihan kita, ya πŸ˜πŸ‘

[Day 21] Perihal Membantu

Seorang kawan sedang kesulitan menuju suatu tempat. Saat itu kamu sedang memiliki waktu luang. Bahkan kamu memiliki kendaraan pribadi pula. Apa yang akan kamu lakukan?

Atau ketika temanmu sedang mengalami kesulitan saat mengerjakan sebuah tugas. Kebetulan, kamu sudah selesai mengerjakan tugas lebih dulu. Bahkan kamu tidak kesulitan menyelesaikan materi tugas itu. Apa yang akan kamu lakukan?

Kalau jawabanku, tergantung bagaimana jadwalku. Kalau pada saat itu memang tidak ada keperluan dan jadwal, aku akan dengan senang hati membantu. Bagaimana dengan kamu?

***

Asal Muasal Kemampuan untuk Membantu

Setiap orang pasti senang membantu orang lain yang membutuhkan. Karena fitrahnya hati manusia memang selalu mengarahkan kita kepada hal-hal yang baik. Namun ternyata, pembentukan karakter yang tidak tepat akan merusak fitrah manusia ini.

Apa hubungannya pembentukan karakter yang tidak tepat dengan kemampuan seseorang untuk membantu?

Sangat berhubungan. Mereka yang sedari kecil tidak terbiasa membantu, kelak ketika dewasa pun ia akan terbentuk menjadi sosok yang kurang minat membantu orang lain.

Anak-anak yang saat kecil tidak terbiasa dilibatkan pada orang-orang dan lingkungan, akan mengurangi intensitas dirinya berinteraksi dengan semua itu.Kurangnya intensitas berinteraksi, akan mengurangi kesempatan dia untuk mengenal orang lain. Mengenal pikirannya atau pun perasaannya.

Padahal, mengamati dan mengenal orang lain adalah modal dasar kepekaan kita terhadap sekitar. Dari sana, kita pun akan peduli terhadap masalah-masalah yang beredar.

Usaha Menggerakkan Hati Agar Senang Membantu

Bagaimana cara agar kita mudah tergerak hatinya untuk membantu orang lain?

Membantu orang lain adalah tahapan lanjutan dalam sebuah hubungan. Tahapan pertama yang biasa aku lakukan adalah mengamati dan mendengarkan.

Aku berikan satu contoh tentang lingkungan, ya. Coba amati segala hal yang ada di lingkungan. Amati tetangga, kawan, dan saudaramu.

Amati dari hal kecil dan sederhana, misalnya indahnya keramaian “pasar dadakan setiap Hari Minggu” yang digelar di pinggir jalan raya.

Berkatnya, warga sekitar akan termudahkan untuk belanja kebutuhan sehari-hari. Berkatnya juga, warga memiliki hiburan setiap akhir pekan.

Siapa yang tidak senang datang ke pasar super lengkap? Semua pasti senang. Apa pun dijual di sana. Jajanan masa kecil seperti telur gulung, lumpia basah, cilok, es doger, juga ada. Menyenangkan, kan? πŸ˜„

Namun, di sisi lain, pasar dadakan cukup merepotkan warga yang tinggal di sekitar. Warga menjadi kesusahan bila ingin keluar rumah di pagi hari untuk jalan-jalan.

Apalagi banyak sekali warga nakal yang memarkirkan motor sembarangan. Padahal, pihak penyelenggara pasar dadakan sudah menyediakan parkiran. Akhirnya, semua menjadi kesulitan.

Sebuah Kesadaran

Biasanya, kalau sudah banyak mengamati, akan banyak pula hikmah yang aku dapatkan. Misalnya tentang pasar dadakan tadi. Dari kejadian itu, aku sadar bahwa ide pasar dadakan di akhir pekan adalah ide cemerlang.

Manfaatnya benar-benar warga rasakan. Warga pun tidak perlu berbelanja jauh. Ia hanya perlu berjalan kaki sebentar.

Namun, akibat ketidakdisiplinan warga yang parkir sembarangan membuat situasi menjadi menyusahkan. Andai saja warga tidak nakal dan mengikuti aturan, pasti warga lain akan berbelanja dengan nyaman 😊

Tentang warga sekitar yang kerepotan keluar rumah karena ada pasar dadakan, kurasa itu adalah masalah bersama yang harus kita diskusikan. Kita harus berpikir bersama adakah pilihan tempat lain untuk pasar dadakan tersebut.Kalau tidak ada lahan, kita bisa memikirkan kemungkinan lain, adakah tempat untuk parkiran sementara warga sekitar. Sehingga, warga yang ingin bepergian di pagi pun tidak kesulitan.

***

Aku tertarik sama isu-isu sosial dan masyarakat. Aku selalu bersemangat menulis dengan tema-tema tentang itu. Rasanya seperti aku berkaca diri berulang kali. Aku ini sudah menjadi manusia dan warga yang baik atau belum.

Oh iya, aku senang “ngobrol” hal-hal yang begitu dekat dengan kehidupan kita. Dan selalu senang bertukar pikiran untuk mencari solusi bersama. Solusi yang kita bisa mulai dari diri sendiri tentunya πŸ˜ƒπŸ‘

Berbeda dengan adikku, Yuniar. Adikku yang pendidikannya bukan kesehatan, selalu minat tentang kesehatan. Kesehatan apa pun. Ia rela meluangkan waktu membaca banyak artikel kesehatan untuk tahu solusi yang ia butuhkan. Ia juga selalu siap sedia mencarikan banyak informasi untuk masalah kesehatan orang-orang :’) rajin sekali yaaaa 😍

Kalau kamu super semangat membicarakan topik apa? Aku tunggu ya ceritanya 😁

Sumber foto: Pexels

[Day 20] Terlalu Suka Fotografi

“Mbak, ngapain si foto-fotoin pemandangan dan orang-orang?”

“Aku nggak tau mau fotoin apaan.”

“Ngapain si kirim foto via email segala?”

Adalah beberapa contoh pertanyaan yang sering ditanyakan kepadaku. Kali pertama mendengar cukup bingung, sih. Bingung dari mana menjawab dan menjelaskannya wkwk

Tetapi, aku tahu hal yang melatarbelakangi pertanyaan itu. Temanku memang tidak memiliki ketertarikan dengan fotografi.

Aku memiliki minat pada fotografi. Selalu merasa kurang bila tidak mengabadikan foto pada momen-momen yang aku sukai. Dan selalu tidak kekurangan ide untuk memotret apa-apa yang kutemui. Meskipun belum mendalami, ada tiga hal yang sering aku lakukan dan sepertinya sudah cocok dikatakan sebagai hobi.

Pertama, aku senang mengabadikan momen. Momen waktu sendiri ataupun bersama orang lain. Kedua, aku senang menyimpan rapi foto-foto itu dalam sebuah folder dengan nama khusus. Folder laptop atau pun folder gawai. Ketiga, kalau memungkinkan, aku akan menyimpan dan meminta foto dengan resolusi foto sesuai asli tanpa dikompres. Kalau boleh menambah satu hal lagi, aku juga senang mencetak foto-foto itu. Kemudian kusimpan dalam bingkai atau album foto.

Karena memiliki ketertarikan besar pada fotografi, aku pun memperhatikan hal sederhana yang seringkali orang-orang abaikan.

Kesimetrisan Foto

Misalnya, ketika memotret. Mengukur kesimetrisan antara objek foto dan lingkungan di sekitarnya adalah wajib. Kalau ingin memotret dalam posisi portrait, ya harus portrait sepenuhnya. Kalau ingin memotret dalam posisi landscape, ya harus landscape total. Jangan sampai hasil foto menjadi setengah-setengah alias miring. Portrait bukan, landscape pun bukan.

Memindahkan Objek yang Menganggu

Memindahkan benda-benda mengganggu keindahan objek yang akan difoto juga wajib. Misalnya, saat ingin memotret kutemukan sebuah sapu lidi di pinggir objek. Maka, sebelum memotret, aku akan menyingkirkan sapu lidi dahulu. Atau saat foto bersama di restoran. Kalau ada piring kotor bekas makan kami, akan kutumpuk dahulu piring-piring itu supaya tidak menganggu objek yang akan difoto.

Menjaga Foto Agar Tetap Fokus

Aku juga tidak senang hasil foto yang ngeblur atau tidak fokus. Kalau kutemukan lebih awal, aku pasti akan meminta difotokan lagi. Foto yang ngeblur itu akan menganggu makna foto itu sendiri. Hasil foto wajah yang ngeblur, akan membuat tidak jelas wajah orang-orang di dalamnya. Padahal, orang-orang dalam foto itu sungguh berarti. Hasil pemandangan yang ngeblur juga akan mengurangi keindahan objek tersebut.

Tetapi, ada pengecualian. Kalau memang tidak ada kesempatan memotret ulang, hasil foto ngeblur pun tidak apa-apa. Menurutku, lebih baik ngeblur daripada tidak ada sama sekali :’)

Mengedit Foto dengan Aplikasi Gawai

Memoles foto supaya lebih cantik dengan aplikasi foto juga sebuah keharusan. Aku tidak senang melihat hasil foto yang gelap dan tidak nyaman dipandang. Mengedit foto digawai tidak sulit, kok. Kamu hanya perlu mengatur penerangan, kekontrasan, saturasi, dan kehangatan warna fotonya saja.

Bagaimana cara mengukur bahwa tingkat kecerahan dan kekontrasan foto sudah “pas”?

Kalau aku pakai intuisi saja. Saat foto sudah enak dipandang mata, artinya foto sudah bagus. Tenang, bisa karena biasa. Coba-coba saja aplikasi edit fotonya. Nanti, kamu akan menemukan selera fotomu, kok πŸ˜ƒ

Hasil foto biasanya tergantung selera masing-masing orang. Kalau aku, karena terpengaruh sama hasil editan foto adikku, saat ini, lebih senang foto dengan efek secara keseluruhan berwarna “biru”. Daripada efek foto “orange” karena pengaturan saturasi yang terlalu besar. Entah mengapa rasanya sejuk saja dimata hehe Lain kesempatan, Insya Allah akan kutunjukkan maksud dari hasil foto berefek biru atau orange, ya. Saat ini fotonya sedang tidak tersedia dalam galeri foto gawaiku πŸ™

Mengedit foto adalah salah satu hal yang sering aku lakukan untuk mengisi waktu luang. Waktu bergulir pun tidak terasa, tiap kali aku menggunakan waktu untuk mengedit foto. Pikiran tenang, hati pun menjadi riang. Adakah yang memiliki minat seperti aku ini? 😁

[Day 19] Bukan Sekadar Makan

Si Pemilih Makanan

Dulu, aku termasuk tipikal orang yang pemilih makanan. Selalu punya standar tersendiri jenis makanan apa yang aku suka. Misalnya, bagian ayam yang kusuka hanya sayap dan paha bawah, tidak suka makanan berkuah, dan jenis makanannya harus kering. Alhasil, jenis makanan yang dimakan hanya itu-itu saja. Dan selalu menolak semua jenis makanan yang di luar kebiasaanku. Ribet, ya? Banget.

Lebih Menghargai Makanan

Tetapi, semua berubah semenjak menghadapi kerasnya kehidupan kosan wkwk aku bersyukur banget sama Allah karena diberi kesempatan untuk ngekos. Tanpa itu, entahlah aku ini akan jadi manusia yang kurang menghargai hidup seperti apa.

Meskipun tidak lama, aku belajar banyak dari kehidupan kosan. Oh iya, aku salut sama mereka yang pernah atau sedang menjalani kehidupan kosan. Mereka hebat! Jiwa dan mental mereka pasti kuat banget. Dan kemandiriannya tak perlu diragukan lagi.

Karena pernah berkesempatan hidup mandiri dan mengelola hidup sendiri, aku jadi lebih menghargai makanan. Aku menjadi tahu kalau membeli bahan makanan itu tidak murah. Aku menjadi paham kalau menyimpan bahan makanan itu tidak mudah. Dan aku juga menjadi mengerti kalau proses memasak itu butuh kesabaran dan ketelatenan. Dari memasak, aku juga menjadi lebih menghargai sebuah proses belajar.

Contoh sederhananya, saat itu, aku bersyukur banget ketika berhasil memasak nasi dengan kematangan yang “pas”. Aku bersyukur ketika berhasil membersihkan gurita yang “tampak menggelikan dengan tinta hitamnya”. Aku juga bersyukur ketika berhasil mendapat cita rasa makanan yang “pas” dan enak dilidah.

Ketika merasakan praktik memasak langsung, aku baru sadar ternyata dibalik makanan yang enak ada perjuangan dan proses belajar berulang kali di belakangnya.

Sejak saat itu, makanan jadi sangat bernilai dan berharga untukku. Aku tidak lagi mengeluh atas makanan apapun yang disajikan. Dan aku tidak lagi membuang-buang makanan hanya karena cita rasa yang tidak sesuai.

Memilih Makanan Sehat

Badan yang lelah karena bekerja membuat aku peduli terhadap makanan yang dikonsumsi. Aku yakin, makanan yang sehat akan mampu menjadikan badanku siap dan kuat untuk menjalani hari. Apalagi pernah mengalami rendahnya hemoglobin. Aku jadi semakin peduli dan hati-hati tentang nutrisi makanan ini.

Meskipun belum benar-benar memakan 4 sehat 5 sempurna setiap hari, belakangan ini, aku lebih berhati-hati dalam memilih makanan. Apalagi di dekat rumah sakit tidak banyak pilihan makanan. Waktu istirahat pun terbatas. Satu-satunya cara adalah membatasi diri untuk tidak membeli makanan yang “aneh-aneh”.

Contohnya seperti ini, dari pada membeli seblak, bakso, pempek, dan mie ayam. Aku lebih senang membeli soto-sotoan, nasi goreng, bubur ayam, atau pun pecel ayam (Emang dasar anaknya suka makanan berat aja wkwk). Aku juga lebih senang membeli makanan di warteg daripada memakan seblak untuk makan siang.

Begitu pula ketika bertemu teman-teman di mall. Tanpa kesepakatan apa pun, Ahamdulillah kami sama-sama paham dan sepakat dalam memilih tempat makan.

Dari banyaknya tempat, kami lebih senang memilih tempat makan seperti Spesial Sambal (SS), Imperial Kitchen, Ta Wan, Solaria, atau pun D’cost. Di sana kami bisa memilih berbagai lauk pauk serta sayuran. Selain rasanya memang enak, tentang gizi pun terpenuhi. Makanan-makanan itu juga ramah untuk anak-anak.

Makin dewasa, jadi semakin paham makna makanan. Bahwa makan tidak hanya sekadar makan. Makan juga bukan sekadar memenuhi nafsu dan keinginan. Makan berarti memenuhi nutrisi yang tubuh butuhkan. Dan, taruhannya adalah masalah kesehatan.

Aku pernah mendengar cerita seorang kawan yang suka banget makan daging dan kerang-kerangan. Saking sukanya, dalam seminggu ia bisa makan beberapa kali. Kebiasaan itu ia sudah lakukan satu tahun belakangan ini.

Kamu tahu apa yang ia rasakan setelahnya? Kolesterolnya melambung tinggi tidak terkendali. Akibatnya gawat sekali, lho. Kalau tidak segera dikendalikan, ia bisa terserang stroke dini. Karena kolesterol yang terlalu tinggi bisa menghambat sirkulasi darah yang akan mengalir ke otak kita. Kalau otak tidak teraliri darah, sel-sel otak kita akan mati. Kalau sel otak mati, beberapa fungsi otak pun akan hilang.

Apakah aku benar-benar sudah memakan makanan sehat? Belum. Aku masih senang minum teh-teh kemasan. Aku masih hobi membeli telur gulung, baso goreng, sempol, ataupun cilok. Aku juga masih suka nasi padang, makan burger atau pun pizza.

Pelan-pelan saja. Pelan-pelan mengkonsumsi lalapan dan sayur sampai habis. Pelan-pelan memilih makanan 4 sehat 5 sempurna tiap kali makan siang di kantor. Dan pelan-pelan rutin memakan buah setiap hari.

Semoga kita lebih bijak dalam memilih makanan ya, teman-teman. Jadi, kapan kita memulai makan makanan sehat? Sekarang yuk!

Sumber foto: Pexels

[Day 18] Sense of Humor

Story whatsapp temanku baru saja aku baca tadi pagi. Dan langsung tersenyum saat itu juga. Dalam hatiku langsung berujar,“Ini yang bikin nama jalannya pasti selera humornya tinggi! wkwkwk.”

Sama seperti kejadian tadi malam. Satu minggu ini aku bekerja shift sore. Jadi, pukul 21.00 baru bisa absen pulang. Tiap malam biasanya kami pulang dengan rasa super lelah. Rasanya ingin segera tidur saja di rumah sakit hahaha

Saat tiba di parkiran Om Wahyu berkata dengan nada dan wajah yang datar,”Duh, itu si motor gue lelah amat. Segala nyender ke tiang.” Sontak aku pun langsung menoleh ke arah motor si om. Dan sungguh berhubungan sekali antara perkataan si om dengan penampakan motornya. Stang si motor merah berdempetan dengan sebuah tiang. Persis seperti kepala yang sedang bersandar ke bahu seseorang wkwk

Humor Om Wahyu sungguh mampu menghilangkan rasa kantuk kami yang tadi sempat berniat menginap di rumah sakit :’)

Sebelum membaca artikel di wiki how. Aku belum tahu perbedaan antara “Being Funny” dan “Sense of Humor”. Aku kira sama saja. Bahkan, aku pernah berpikir, diriku tidak punya selera humor sekali. Hanya karena aku kurang senang menonton film komedi.

Sebelumnya, aku juga berpikir selera humorku jelek. Karena, tiap kali ada yang melucu di kantor, aku tidak cepat tertawa karena kelucuannya. Sepertinya imajinasiku tidak seluas teman-temanku πŸ˜‚

Kata wiki how, “Being Funny” berarti mampu berekspresi dengan humor tinggi. Jadi, ia mampu bercerita, bermimik wajah, atau bertingkah lucu.

Kalau “Sense of Humor” berarti ia mampu membiarkan segala sesuatu terjadi seperti air mengalir dan tidak bersikap terlalu serius. Ia juga mampu tertawa dan melihat kelucuan pada hal-hal yang tidak masuk akal.

Aku pun menjadi tercerahkan. Ternyata memiliki selera humor sebenarnya tidak sulit, lho. Kita tidak perlu meniru selera humor orang lain. Kita bisa memilih selera humor sesuai kepribadian masing-masing. Intinya hanya satu, bagaimana kita membuat nyaman dan senang diri sendiri dan orang-orang di sekitar dalam keadaan sesulit apapun.

Enjoy small things, find humor in everyday situations, and find humor in life’s misfortunes. Smile as often as you can. Try making other people laugh, too. Make laughing a priority, for yourself and for others. – Wiki how

Tanpa aku sadari, sebenarnya di sekelilingku banyak yang menyelipkan humor dalam kehidupan sehari-hari. Dan humor itu benar-benar mampu menurunkan ketegangan dan stres. Begitu juga denganku.

Meskipun jarang menonton film komedi dan “terlalu lama mengerti” humor teman-teman, ternyata selera humorku lumayan baik (Aku tahu ini setelah membaca artikel di wiki how πŸ˜… ). Aku juga terbiasa melucu dengan kalimat-kalimat spontanku. Misalnya,

“Aku tuh ngebayangin badan kamu melambai kayak kena angin tau, Mas. Kayak gini nih (sambil mencontohkan badan goyang-goyang kena angin). Olahraga makanya biar berotot!” ledekku untuk Danang yang super malas kalau diajak olahraga.

“Nggak apa-apa. Itu kebiasaan baik kok. Bilang aja ke dia, lo punya alat pembersih daging dimulut wkwkwk.” jawabku menanggapi keluhan Niar. Dia yang kesal karena kawannya selalu nanya “Kok kalo makan ayam bersih banget sih?”

Aku juga tidak takut terlihat bodoh untuk mencontohkan sesuatu saat ngebahas topik lucu atau ngelakuin hal-hal jenaka. Misalnya, meniru suara-suara lucu dalam film (aku memiliki bakat tersembunyi jadi pengisi suara kartun wakakak) atau ikutan lompat-lompatan bersama si kecil Satria untuk mencontohkan bagaimana cara melompati lubang.

Untuk tahu lebih banyak hal tentang selera humor, kamu bisa baca diartikel ini. Informasi di sana lengkap sekali. Kamu juga akan diberi tahu bagaimana cara meningkatkan selera humor sehingga bisa menjadi orang yang menyenangkan.

Pendapatku, setelah membaca artikel dan pengalamanku menyelipkan humor dalam sehari-hari, humor itu sungguh bermanfaat. Hidup yang rumit, peran yang banyak, kesalahan yang sering dilakukan, dan beragam kisah memalukan yang sering dihadapi, memang tidak perlu terlalu kita pusingkan. Diri kita punya hak dan kuasa untuk memilih perihal apa yang harus menjadi perhatian.

Tertawa adalah cara meringankan beban pikiran kala hal sulit datang menyerang. Sumber: wiki how

Kita tidak harus menjadi orang yang terlalu serius setiap saat. Karena terkadang, terlalu serius akan membuat situasi semakin tegang saja. Dan akan membuat tidak nyaman orang-orang di sekitar. Berimajinasi lebih banyak dan kemudian mentertawakan kesalahan lebih baik dilakukan. Daripada terjerembab dalam kesalahan dan terus menerus menyalahkan.

Aku selalu senang bekerja bareng Om Wahyu dan Kak Dhika. Selain memiliki selera humor yang baik, mereka juga termasuk orang yang “being funny”. Oleh karena itu, bekerja rasanya seperti main saja. Aku merasa senang dan tak ada beban yang terasa berat dilakukan.

Apakah bekerja bersama mereka tidak pernah melakukan kesalahan dan tidak menemukan kesulitan? Tentu saja pernah dan sering. Namun, mereka selalu menemukan kelucuan dalam kesalahan dan kemudian memperbaikinya dalam suasana hati senang. Pokoknya, bersama mereka semua hal terasa ringan dan menyenangkan πŸ™‚

Selera humor dapat dipelajari dan bisa dimiliki oleh setiap orang. Sepertinya aku akan belajar banyak tentang selera humor ini. Kalau kamu berminat juga, coba baca artikel wiki how dan artikel yang lainnya, ya. Nanti sesuaikan saja sama kepribadianmu. Aku lumayan tercerahkan, barangkali kamu juga. Semangat, ya πŸ˜„πŸ˜†

Having a sense of humor helps you have fun despite what life throws at you. That means you can laugh at life and poke fun at your situation. Remember to keep focused on having fun. -Wiki how

[Day 17] Musik

Aku adalah orang yang tidak terlalu suka musik. Dan bukan tipikal orang yang mampu belajar atau membaca sambil mendengarkan musik. Namun, hari ini aku harus menulis tentang musik. Akan jadi seperti apakah tulisan ini nanti? Mari kita saksikan wkwk

Tidak suka musik, bukan berarti aku anti musik. Aku tetap penikmat musik, khususnya musik-musik yang hanya diiringi gitar atau pun piano. Apalagi bila liriknya bagus dan memiliki makna dalam. Aku betah mendengarkan lama musik-musik itu.

Lho, katanya tidak suka musik, kok tetap menjadi penikmat musik? Wkwk aku biasanya mendengarkan musik itu kalau memang harus.

Contohnya, ketika piknik bareng adikku. Sembari kami mengobrol, dia biasanya memutarkan sebuah musik. Lalu saat di tempat kerja, biasanya kawan-kawanku memutarkan musik di ruangan kami. Atau saat bertemu kawan di kafe, biasanya kafe memutarkan berbagai musik. Pada saat seperti itu, aku nyaman-nyaman saja mendengarkan apapun musik yang sedang diputar saat itu.

Tetapi, kalau atas dasar keinginan sendiri. Beberapa tahun belakangan ini, sudah jarang sekali aku mendengarkan musik. Lagu yang sedang hits saja sungguh aku tak tahu wkwk

Lalu, apakah selama hidupku aku tidak pernah mendengarkan musik atas keinginan sendiri? Tidak seekstrem itu, guys πŸ˜‚πŸ˜‚

Aku mengenal musik dari orang tua. Mamaku pecinta musik dangdut. Kalau ayahku, lumayan sering mendengarkan lagu-lagu Didi Kempot dan Ebiet G Ade. Berkat ayah, aku pun lumayan hafal lagu-lagu mereka jadinya. Sampai sekarang pun, aku masih hafal lagu Stasiun Balapannya Didi Kempot, lho haha

Berbeda dengan ayah yang kurang senang berbagi hobi, mamaku senang mengajak orang lain untuk turut berpartisipasi dalam hal yang disukanya. Saat aku kecil, mama senang sekali karokean di rumah. Kala itu, lagu dangdut adalah kesukaan mama. Saking seringnya karokean di rumah, bakat itu pun akhirnya menurun ke aku wkwk aku bisa menyanyi lagu apa saja. Lagu dangdut, pop, sunda, dan sebagainya. Sepertinya hanya lagu jawa yang belum bisa aku kuasai πŸ˜…

Kamu yang lahir tahun 90an, pasti “akrab” dengan lagu-lagu yang keluar tahun 2005-an. Aku ingat betul, kala itu, band kesukaanku adalah kahitna dan kerispatih. Saking sukanya, lagu mereka aku download semua. Bahkan, lirik-liriknya aku tulis dibuku dan hafalkan. Pada tahun 2009, aku suka sekali sama Taylor Swift, Secondhand Serenade, Sabrina, dan Boyce Avenue. Dan semua lirik lagunya aku print dan hafalkan. Pada saat itu, aku sesuka itu sama musik wkwkwk

Kalau ditanya sejak kapan aku mulai tidak mendengarkan musik lagi, aku tidak tahu. Semua terjadi begitu saja. Mungkin perubahan cara pandang dan kebutuhan yang mempengaruhi perubahanku ini.

Selera bisa berubah sesuai bagaimana cara pandangku berkembang. Aku yang tidak nyaman mendengarkan musik sambil mengerjakan tugas, sepertinya semakin membuat aku jauh saja sama musik. Entah mengapa, rasanya ribet saja. Kefokusanku langsung teralihkan bila nugas sambil mendengarkan irama musik. Yang ada aku malah ikutan nyanyi dan tidak melanjutkan tugas hingga tuntas πŸ˜„

Setiap orang memiliki ketertarikan yang berbeda. Bagi orang yang suka musik, pasti ia memiliki beberapa alasan yang melatarbelakanginya. Contohnya saja kawanku yang suka sekali dengan Coldplay. Dia suka Coldplay sejak SMP. Saat ini usianya sudah 30 tahunan.

Katanya, ada rasa hangat dalam hatinya tiap kali mendegarkan musik dan menghayati setiap liriknya. Lirik lagu Coldplay mampu membuat dirinya bersemangat. Bahkan beberapa lagunya pun juga mampu membuat hatinya patah.

Tentang suka atau tidak suka musik. Atau tentang perbedaan genre musik yang disuka, kurasa bukan hal yang harus diperdebatkan. Kita memang tidak bisa mengendalikan sebuah ketertarikan atau kecenderungan seseorang. Biarlah setiap orang menikmati apa-apa yang membuat dirinya nyaman. Sebab, hanya diri sendirilah yang tahu apa yang benar-benar kita butuhkan.

Aku tidak merasa sedih karena memiliki sedikit ketertarikan terhadap musik. Aku juga tidak merasa kesal terhadap orang yang suka musik. Setiap orang berhak memilih tempat dan perihal apa yang ia nyaman dan suka, kan? Namun, sesekali, kita boleh kok keluar dari keduanya dan mencoba hal-hal yang orang lain suka. Untuk meluaskan cara pandang dan pengetahuan kita.

Sebenarnya, hidup itu mudah dan indah. Semua tergantung bagaimana kita memandang dan memaknainya πŸ™‚

[Day 16] Untuk Shinta

Topik kali ini tentang kepribadian. Menurutku cukup sulit untuk dideskripsikan. Sebab, tentang kepribadian terdiri dari banyak hal. Bagaimana aku berpikir, merasa, dan mengelola emosi. Hingga akhirnya terbentuk menjadi sosok yang siap menghadapi berbagai orang dan kondisi. Perihal itu semua bisa dinilai oleh orang lain yang memperhatikan. Bukan diriku sendiri.

Maka, daripada menceritakan bagaimana kepribadianku, aku memilih untuk menulis surat untuk diriku sendiri.

***

Untuk Shinta,

Ternyata begini ya rasanya bertambah usia. Apalagi diusia saat ini. Benar kata banyak orang dan artikel, pada usia ini aku akan memikirkan banyak hal. Bahkan untuk hal-hal yang belum terlihat oleh mata.

Belakangan ini, aku banyak merenung dan berkaca pada banyak hal. Aku selalu mempertanyakan untuk semua hal yang ingin dan akan dilakukan. Membuat keputusan berdasarkan hati nurani tentulah hal pertama yang kulakukan. Namun setelahnya, ternyata aku juga memikirkan dampak yang terjadi. Apalagi dampak yang terjadi untuk orang-orang terdekat di sekitar.

Memiliki banyak peran juga berarti akan mengemban banyak tanggung jawab. Menjalani peran ternyata tidak sesederhana itu ya, Shin. Menjalani peran sebagai staff fisioterapis misalnya. Kamu harus mampu membuang ego jauh ke belakang dan mengedepankan kepentingan banyak orang.

Apalagi bekerja di bagian pelayanan, kan. Menemukan pasien yang tidak santun pun kamu harus mampu memberikan senyuman tanpa keterpaksaan. Lalu, menghadapi karakter rekan sejawat yang sungguh beragam. Kamu harus mampu menempatkan diri sesuai kondisi sesulit apa pun karakter kawan. Sulit? Tentu. Namun di sanalah kemampuanmu diuji. Daripada merundung atas karakter orang lain yang membuat kesal, lebih baik menenangkan hati dan menerima dengan lapang. Hidup memang bukan tentang semua hal yang kamu inginkan, kan?

Seperti saran dari temannya Mbak Ikha, kita harus memberikan ruang kesalahan untuk semua orang. Sebab, sebaik apapun orang, ia pasti memiliki kekurangan. Sama seperti kamu yang memiliki banyak kekurangan.

Lalu, peran apalagi, Shin? Oh iya, sebelumnya, aku ingin mengucapkan terima kasih. Kamu sudah berusaha menjadi teladan yang baik untuk adik-adik, Shin. Kamu sudah mencontohkan lebih dulu, sebelum menasehati mereka. Daripada merundung di belakang, kamu sudah membuka forum diskusi bersama adik-adik kala menghadapi suatu masalah persaudaraan.

Meskipun masih sering kesulitan mengendalikan emosi di rumah. Meskipun masih sering bertengkar dengan adik-adik. Aku tahu kamu sudah berusaha keras sekali. Namun, saranku, masalah mengendalikan emosi ini masih menjadi tugas besar untuk kamu ya, Shin! Kelak, kamu akan bertemu dengan pasangan hidup dan keluarga besarnya. Kemampuan mengendalikan emosi ini benar-benar sangat dibutuhkan. Berjuang lagi ya, Shin? Allah pasti membantu, sungguh.

Sebelum mengakhiri suratku ini, aku hanya mau mengingatkan. Kepribadianmu yang selalu mendahulukan kepentingan orang lain adalah baik dilakukan. Baik sekali malah. Namun, ada kalanya kamu harus mengurangi kadar itu untuk dirimu sendiri.

Berikan kadar perhatian yang seimbang untuk dirimu dan orang lain. Aku yakin, orang lain pun tak akan keberatan bila kamu ingin memberikan sedikit perhatianmu untuk dirimu sendiri. Bukankah, apa-apa yang seimbang itu lebih baik, Shin? πŸ˜€

Selamat belajar, Shinta. Selamat menjalani banyak peran dengan suka cita. Seberat apapun itu, nikmati saja, ya. Akan selalu ada kemampuan baru dari tantangan baru yang berhasil kamu hadapi. Akan selalu ada jiwa yang semakin kuat, dari masalah yang berhasil kamu selesaikan. Semangat berjuang! Untuk Allah, untuk kamu, dan untuk orang-orang tersayang.

Dari aku,

Bagian dirimu yang akan selalu menguatkan.

[Day 15] Kebiasaan Unik

Unik atau tidak adalah perkara penilaian saja. Tergantung bagaimana kamu memandang sesuatu. Sama seperti ketika aku melabeli kebiasaan sahabatku sebagai tindakan yang unik. Seperti, kebiasaan Dela merekatkan sticker harga pada sampul plastik buku barunya. Tidak ada alasan khusus. Ia hanya senang saja.

Aku juga pernah membaca cerita orang lain kalau kesukaannya adalah memberi nama pada tanaman-tanamannya. Kali ini ada alasannya. Kata dia, tanaman tersebut begitu berarti untuknya. Maka, pemberian nama adalah sebagai penghargaan untuk tanaman-tanamannya.

Lalu, bagaimana dengan aku? Aku tidak tahu perbuatan ini unik atau tidak. Tapi, perihal ini cukup “aneh” bagi orang-orang di sekitarku. Kata mereka, “Bagaimana bisa aku tahu?”

Aku memiliki kebiasaan mengingat kebiasaan orang lain. Meskipun tidak dengan sengaja mengingat, aku akan mengingatnya. Dan ingatan itu akan bertahan dalam waktu lama.

Apakah ini menandakan bahwa ingatanku cukup baik? Tidak juga. Aku buruk mengingat kisah masa kecil. Aku juga buruk dalam mengingat cerita-cerita dalam film. Kalau tidak “diniatkan”, aku tidak bisa mengingat cerita dalam film dengan rinci.

Jadi, kebiasaan orang lain seperti apa yang biasanya aku ingat?

Aku bisa mengingat dengan banyak mengamati. Misalnya saja pengetahuanku tentang kesukaan Dela dengan camilan. Dela memang tidak secara gamblang mengatakan bahwa dirinya suka melahap camilan. Tapi aku bisa tahu dari kebiasaannya sehari-hari.

Dela ini selalu membeli camilan tiap pulang kerja. Yang aku perhatikan, camilan yang Dela beli biasanya berupa makanan manis. Di kamarnya juga selalu ada satu atau dua toples berisi camilan. Dari hal-hal itu, aku tahu Dela memang suka nyemil.

Lalu, tentang Wira yang suka sekali sate padang. Dulu saat di kampus, tiap ada kesempatan makan sate padang, Wira akan memilih sate padang. Padahal kala itu banyak sekali pilihan makanan.

Saat di kosan pun, Wira rela keluar kamar sebentar hanya untuk mencari tukang sate padang. Mengamati kebiasaan Wira, aku jadi tahu kalau makanan kesukaan dia adalah sate padang. Apakah Wira pernah secara terang-terangan mengatakan? Tentu saja tidak. Tapi, melalui pengulangan yang Wira lakukan, aku tahu Wira benar-benar suka sate padang.

Atau tentang Kak Dhika yang suka sekali teh pahit hangat. Tiap kali bekerja, Kak Dhika selalu membuat teh hangat. Ketidaksukaannya terhadap air putih, membuat Kak Dhika harus melakukan itu. Kalau kakak datang lebih awal, biasanya ia akan mampir sebentar ke mini market untuk membeli minuman manis kemasan. Dari mana aku tahu kalau Kak Dhika suka sekali teh pahit hangat? Apakah Kak Dhika bercerita? Lagi-lagi jawabannya tentu saja tidak.

Aku tahu hal tersebut dari hasil ngobrol bareng Kak Dhika. Saat itu, Kak Dhika sedang minum teh. Kulihat tehnya hitam pekat sekali. Lansung saja aku bertanya,“Kak, tehnya hitam banget. Itu sengaja tehnya nggak diangkat?”

“Iya. Teh enakan begini, Shin. Berasa tehnya. Harum gitu.” jawabnya.

“Pake gula nggak, Kak?” tanyaku.

“Pake lah. Aku suka teh manis hehehe mau coba?” jawab Kak Dhika sekaligus menawari tehnya.

“Boleh boleh.” langsung kucoba teh buatannya. Dan memasang mimik muka kepahutan. Rasanya sungguh pahit wkwk

“Ini mah teh pahit namanya kak. Bukan teh manis hahahaha.” kataku.

“Manis tahu!!!” sanggahnya. Definisi pahit atau tidak memang relatif, ya. Tergantung selera setiap orang memang :’)

Sejak saat itu, aku tahu kalau Kak Dhika menyukai teh pekat manis sedikit hehehe

Aku biasa melakukan semua itu. Mengamati lebih banyak dan juga bertanya yang tak kalah banyak. Dari obrolan ringan maupun mendalam, biasanya aku bisa menyimpulkan selera dan kesukaan teman. Meskipun tidak melalui ungkapan lisan.

Dari kebiasaanku itu biasanya aku menjadi tidak kesulitan memberikan hadiah kecil untuk teman. Atau membelikan titipan. Tanpa bertanya banyak kepada mereka, aku tahu apa yang mereka inginkan. Meskipun tidak semua hal aku tahu, paling tidak pengamatan yang aku lakukan bisa memberikan sedikit “bocoran” πŸ˜†

Bagaimana dengan kamu? Apa hal unik yang biasa kamu lakukan? 😁

[Day 14] Namaku

Aku tidak pernah membicarakan arti namaku sendiri secara serius. Pernah suatu ketika aku menanyakan arti namaku, mamaku malah menjawab begini,“Dulu saat mengandung kamu, mama nonton film india Rama dan Shinta. Pemeran Shintanya si Sri Devi, Mbak. Cantik banget. Yaudah, mama namain kamu Shinta aja hahaha.”

Pembicaraan serius pun paling seperti ini,“Shinta itu artinya perempuan yang pemberani. Anggraini itu artinya Hari Selasa.” jawab ayahku. Singkat dan tidak menarik hahaha

Karena kedua orang tua menjawabnya sambil bercanda, aku pun jadi hilang minat untuk bertanya lebih rinci lagi. Saat itu, sepertinya aku juga belum terlalu peduli arti sebuah nama.

Saat Sekolah Dasar (SD) pada zamanku, nama-nama yang ada disinetron itu keren banget. Semisal, Chika, Nadia, Anastasya, Nafisa, Citra, dan lain sebagainya. Ingin rasanya punya nama seperti itu. Entah apa definisi keren pada zaman itu. Dan entah apa motifnya. Yang jelas, aku tidak terlalu bangga dengan namaku sendiri. Dan nama-nama yang ada disinetron selalu menjadi kesukaan.

Apalagi nama belakangku adalah nama ayahku, Karsono. Dulu, saat SD ejekan nama ayah sedang booming sekali. Anak SD selalu merasa bangga dan terhibur tiap kali menemukan “sebutan lucu” untuk nama orang tua. Bagi teman-temanku itu hiburan.

Dulu, nama ayahku diubah menjadi “ke sono”. Dan semua tertawa. Untuk angkatanku, yang biasa membuat lelucon biasanya laki-laki. Akibat hal tersebut sebuah nama tidak menjadi berharga dan spesial lagi. Malahan, bagi orang-orang yang memiliki nama ayah di belakang namanya, menjadi pengalaman yang tidak menyenangkan sama sekali.

Pada saat Sekolah Menengah Pertama (SMP), lelucon dengan nama orang tua sudah tak terdengar lagi. Namun, pada zaman itu, menggunakan nama samaran sedang ngetrend sekali. Nama samaran seperti, botak, koplak, gendut, kurus, cungkring, dan lain-lain. Siapa pun tidak ada yang merasa tersinggung. Dan nama tersebut biasanya melekat hingga lulus sekolah.

Oh iya, aku sempat dipanggil gendut πŸ˜‚ Alhamdulillah tidak tersinggung, karena pada saat itu aku menganggapnya sebagai “panggilan sayang” dari para sahabat hahaha

Sampai Sekolah Menengah Atas (SMA) pun arti nama hanya sebatas itu saja. Usia dan pengalaman pun akhirnya berperan. Semenjak kuliah, sebuah nama menjadi sesuatu yang berbeda untukku. Sebuah nama menjadi lebih berharga.

Saat awal kuliah, aku disuruh mengisi biodata dengan benar. Dan diingatkan bahwa nama yang dicantumkan pada biodata, akan tercantum pada lembar ijazah. Jadi, mengisinya harus hati-hati dan tidak boleh sembarangan.

Ditambah, diwajibkannya menulis nama lengkap teman-teman untuk cover sebuah karya ilmiah atau laporan. Aku terbiasa memperlakukan sebuah nama dengan benar. Kesalahan ketik tidak diizinkan. Berkat semua itu, aku menjadi semakin tahu bahwa sebuah nama selalu spesial dan tidak boleh diperlakukan asal-asalan.

Apalagi diusia sekarang. Ketika melihat kawan-kawan mencari nama untuk buah hatinya. Mereka mencari informasi melalui buku, internet, atau pun berdiskusi dengan banyak orang. Perjuangan mereka sungguh membuat terkesan.

“Nama adalah doa. Maka, memilih nama dengan baik adalah sama seperti mendoakan anak dengan banyak kebaikan.” begitu kata mereka.

Hatiku pun akhirnya tergerakkan. Sore tadi aku bertanya lagi sama ayah tentang arti namaku. Setelah sekian tahun berlalu, keingintahuanku tentang arti nama muncul kembali.

“Apa arti Shinta Anggraini Karsono, yah?” tanyaku.

“Kenapa kok tiba-tiba nanya?” tanya ayahku dengan mimik muka penasaran.

“Nggak apa-apa. Mau nulis tentang nama hehehe.” jawabku singkat dan penuh harap supaya ayah segera menjawab rasa penasaran.

“Shinta itu artinya orang yang tenang dan mudah diatur. Anggraini itu asal katanya Anggoro. Itu bahasa Jawa, Mbak. Artinya Hari Selasa. Kamu lahir Hari Selasa. Karsono ya nama ayah. Biar orang tau kamu anak ayah hahaha.” jawab ayah panjang. Aku takjub ayah menjawab dengan super panjang. Sungguh, ini kejadian jarang.

“Kok ayah nggak pernah kasih tau arti nama ke anaknya?” tanyaku.

“Anak kecil dikasih tau nggak akan ngerti. Entar kalo udah dewasa juga akan paham.” jawab ayah. Pada poin ini aku tidak setuju sama ayah. Meskipun tidak akan mengerti dan paham, anak-anak harus tahu arti namanya sendiri. Untuk apa? Untuk kekuatan diri menjalani kehidupan.

Untuk memastikan dan semakin mantap, sesudah mengobrol aku browsing sebentar. Arti nama yang kutemukan sama persis seperti kata ayahku. Ternyata namaku berasal dari Bahasa Sansekerta. Setelah paham, aku jadi malu sendiri. Kemana saja aku, menunggu usia lebih dari seperempat abad dahulu untuk mencari tahu.

Seandainya sudah tahu sejak kecil, sepertinya pemahamanku tentang nama akan lebih baik. Kurasa, bullying verbal tentang nama dari siapa pun tak akan berarti apa-apa. Dan pengertianku tentang sebuah nama juga akan semakin bijak. Meskipun begitu aku tidak menyesal. Lebih baik terlambat daripada tidak tahu sama sekali, kan? 😊