Antah Berantah

Di tempat antah berantah.
Dengan seseorang yang tidak kukenali rupanya.
Tetapi, aku merasa terhubung dengannya.

Pada saat itu, tanpa basa-basi, ia mengucapkan sebuah keinginan.

“Andai saja ada seseorang yang bersedia memelukku. Aku pasti merasa senang sekali.”

Aku, tanpa ada keraguan sedikit pun, langsung mengatakan seperti ini,

“Aku bersedia memelukmu. Bersiaplah. Aku akan memelukku sekarang juga.”

Tanpa menjawab satu kata pun, ia segera bangkit dari tempat duduknya, kemudian berjalan ke arahku. Tidak membutuhkan waktu lama, ia sudah berdiri persis di hadapanku. Ia menunggu.

Aku, langsung mendekatinya. Kedua tanganku menuju bahunya. Hendak memeluknya.

Tiba-tiba,
Ia mengintrupsiku.
Ia menarik tangan kiriku ke pinggangnya. Tangan kananku ia biarkan tetap berada dibahunya.

“Oh, baiklah,” kataku dalam hati.

Kemudian, aku memeluknya. Menepuk-nepuk punggungnya. Lalu, merapalkan beberapa doa.

“Aku ingin mendoakanmu. Semoga Tuhan senantiasa mendekatkanmu dengan kebaikan. Semoga Tuhan memberikanmu kesehatan.”

Ia bergeming.

Setelah selesai doa-doa tersebut kuucapkan. Aku melepaskan pelukan dan perlahan mundur ke belakang. Aku menatapnya. Ia tersenyum.

Meskipun tak ada satu kata pun terdengar dari mulutnya, aku senang bisa memeluknya.

Rasa cemas, seluruhnya meluruh.
Rasa takut, seluruhnya menghilang.

Aku merasa tenang.

Leave a Comment

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s