Tugasku adalah menata kembali. Tugasmu adalah memorakporandakan. Selalu begitu.

Bukankah memang begitu hakikat kehidupan? Ada yang merapikan dan ada pula yang membuat segala yang rapi menjadi tercerai-berai?

Pikiran usilku pun muncul ke permukaan. Katanya begini, “Apakah tidak bisa segala hal di dunia ini serba saling? Saling beriringan, misalnya? Sehingga tidak perlu ada kesenjangan dan ketidakadilan?”

Pikiran usil orang lain pun turut menanggapi pertanyaanku. Jawabnya begini,“Entahlah. Pada kenyatannya, sering kutemukan sesuatu yang sepasang selalu berasal dari dua hal yang berkebalikan.”

Pikiran usilku lagi-lagi memberi tanggapan. Begini kataku,“Kata berkebalikan yang kamu maksud, apakah mengarah pada sesuatu yang tidak selaras? Yang satu selalu memberi dan yang satu selalu menerima. Yang satu selalu menata dan yang satunya lagi selalu memorakporandakan? Begitu kah?”

Entah. Pikiran dan hati manusia itu misteri. Dan semua penilaian tergantung bagaimana cara pandang.” jawabnya.

“Jadi, tugasmu apa? Menata atau memorakporandakan? tanyaku.

Setiap kita pastilah ingin melakukan yang baik. Menjadi versi terbaik diri, misalnya. Namun, penilaian orang lain bukankah di luar kendali diri kita sendiri?” jawabnya.

Iya, tetapi setiap orang sesungguhnya bisa memantapkan hati dan pikiran. Sehingga benar-benar bisa menjadi versi terbaik diri. Tanpa ada keraguan. Tanpa memorakporandakan. Iya kan?” jawabku.

Dua pikiran usil pun terus bersahutan dengan gagasan yang berkebalikan. Mereka terus menyuarakan keyakinannya. Entah sampai kapan.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s