“Mbak, kaki Satria sakit tuh. Coba diperiksa. Jalannya pincang.” kata Niar.

“Oke. Sebentar ya. Gue salat magrib dulu.” jawabku cepat.

Aku langsung menduga apa yang terjadi. Kondisi ini cukup familiar dalam ingatanku. Beberapa bulan lalu aku juga pernah menemui kasus yang serupa. Pertama, pasienku di rumah sakit. Kedua, saudaraku sendiri yang tinggal persis di samping rumahku.

Dan penyelesaiannya pun juga sama. Ternyata dua anak itu dalam keadaan baik-baik saja. Tidak ada luka serius pada kakinya. Memar pun tidak ada. Meskipun begitu, pernyataan mereka bahwa kakinya sakit benarlah adanya. Aku yakin mereka benar-benar merasa sakit. Hanya saja, rasa sakitnya bukan karena luka terbuka. Melainkan, otot yang terlalu lelah karena terlalu banyak diajak “bekerja”.

Si Kecil Tidak Mau Meluruskan Kakinya

Sore itu, datang sepasang suami istri ke poliku. Sang bapak menggendong anaknya. Aku lupa usia tepatnya berapa. Yang jelas ia masih balita. Setelah menunggu antrean dokter yang cukup lama, akhirnya si kecil dan orang tua masuk ke ruang dokter juga.

Setelah selesai konsultasi dengan dokter, aku baca rekam medisnya. Ternyata si kecil tidak diberikan tindakan apa-apa. Langsung saja kutanya ke dua orang tuanya tentang si kecil ini.

Orang tua bercerita, sejak tiga hari lalu, si kecil enggan meluruskan lututnya. Si kecil mengaku, kakinya selalu sakit tiap kali diluruskan. Jadilah dia tetap konsisten menekuk kakinya selama aktivitas. Ia pun berjalan dengan pincang.

Kedua orang tuanya tidak tahu ada apa dengan anaknya. Faktanya, tidak ada aktivitas fisik apapun yang dilakukan si kecil sebelumnya.

Akhirnya, dokter pun memberi home program kepada si kecil ini. Inti dari home programnya, orang tua lebih melakukan pendekatan ke si anak. Agar si anak terbuka tentang keluhannya. Dan si anak percaya kepada orang tua bahwa kakinya baik-baik saja. Secara medis, si kecil tidak ada masalah apa-apa. Ini hanya tentang psikis saja.

Alvaro (5 at Menangis Tersedu Karena Kram pada Kakinya

Teh lela datang tergopoh ke rumahku. Karena Alvaro kesakitan, Teh Lela pun menjadi panik. Sama seperti anak perempuan di atas. Alvaro juga masih balita. Tahun ini usianya 5 tahun.

Teh Lela bercerita, sejak sore tadi Alvaro menangis kencang sambil memegang betisnya. Alvaro menolak untuk dilakukan tindakan apa-apa. Dipegang ataupun digerakkan kakinya membuat Alvaro semakin menangis. Teh lela pun bingung dibuatnya.

Malam itu saat di rumahku, Alvaro sudah lebih tenang. Hanya saja ia masih belum mau berjalan kaki sendiri.

Al kakinya sakit ya?” tanyaku.

Iya.” jawab Alvaro dengan wajah bersedih.

Mbak Shinta pegang kaki Alvaro sebentar boleh, ya? Kalo nanti rasanya sakit, bilang ya, Al.” kataku. Aku ingin memeriksa si betisnya itu.

Aku pun menekuk dan meluruskan kakinya. Ia tidak kesakitan. Gerakan dilututnya normal. Sambil menggerakkan kakinya, aku juga bertanya ke Teh Lela apa saja aktivitas yang Alvaro lakukan kemarin dan hari ini.

Kemarin, Alvaro mandi bola hampir seharian penuh, Mbak. Kan tempatnya luas, ya. Ada perosotan juga. Jadi, si Alvaro lari-larian nonstop. Setelah pulang ke rumah dia nggak apa-apa kok, Mbak. Baru hari ini aja kesakitannya.” Teh Lela bercerita.

Lalu, aku mengecek keadaan betisnya. Dan menekan pelan untuk menemukan di mana masalahnya. Terasa betul si betis Alvaro keras sekali. Saat aku menekan dilokasi keras itu, Alvaro pun teriak kesakitan.

Aku menyimpulkan. Tidak ada masalah serius pada Alvaro. Gerakan lututnya normal. Ia mampu berdiri sendiri. Masalahnya hanya satu yakni, otot betis yang terlalu tegang.

Aku pun memijat dan meregangkan betis Alvaro. Setelah selesai, wajah Alvaro tampak lebih baik. Aku meminta dia berjalan mondar-mandir sepuluh kali. Alvaro menurut. Ia berjalan kaki tanpa mengeluh sakit. Alvaro pun pulang dengan riang.

Satria Berjalan Pincang

Melanjutkan cerita pada awal tulisan ini, selepas salat magrib, aku berencana melanjutkan salat Isya. Baru saja selesai salat sunnah, Satria menghampiriku di kamar. Begini katanya,“Mbak, udah selesai? Sini liat kaki aku.”

Mendengar permintaan dia, rasanya aku ingin tertawa. Semangat betul dia kakinya diperiksa hahaha

“Tadi sore mbak liat kamu lari-larian sama temen-temenmu.” aku membuka percakapan.

“Iya, tadi seru banget mbak manjat-manjat dan lari-larian.” kata Satria.

“Di bagian mana yang sakit, Dek? tanyaku.

“Di sini, Mbak.” ia menunjuk di bagian betis samping.

“Coba tekuk kaki kamu. Terus lurusin lagi, ya.” pintaku padanya.

“Bagus, kok. Lutut kamu masih sehat. Lutut kamu masih bisa digerakkin.” kataku.

“Mbak mau tekan betis kamu, ya. Kalo sakit, ditahan sebentar, ya.” aku meminta izin kepada Satria.

“Aduhhhhhh.” keluhnya.

“Di sini sakitnya?” tanyaku.

Iya, bener.” jawabnya.

Oke, sebentar ya mbak mau ambil es batu.” aku ingin mengompres dingin betisnya. Aku yakin betul penyebab betisnya sakit pasti karena aktivitasnya sore tadi. Aku melihat dengan mataku sendiri, dia berlarian kecang sekali. Dan turun-naik ke dinding entah sudah berapa kali. Pokoknya banyak.

Aku mengompres betisnya sekitar 20 menit. Satria pun gelisah. Berulang kali dia meminta untuk dihentikan proses mengompresnya. Kata dia, kelamaan. Tentu saja aku tidak menuruti inginnya. Aku alihkan saja dengan cara mengajak dia mengobrol. Dia pun bersemangat.

Kuberitahu rahasia kecil, anak kecil mana pun selalu bersemangat kalau diajak ngobrol tentang “dunianya”. Jadi, cara terbaik menghilangkan rasa bosan si kecil adalah masuk ke dunianya. Jangan lupa berikan batasan. Sore ini, bercerita tentang sekolahnya, misalnya. Kalau tidak, semua hal bakal diceritakan. Tentang mainannya, teman sekolahnya, sepatunya, bajunya, dan lain sebagainya hahaha

Setelah proses kompres selesai, aku instruksikan Satria untuk berdiri. Lalu, aku meminta dia untuk jinjit, angkat satu kaki, dan berjalan mondar-mandir.

Satria mampu melakukannya. Itu artinya betisnya baik-baik saja. Kukira, Satria hanya butuh istirahat tiga hari untuk masa pemulihan. Aku pun meminta Satria tidak berlarian di sekolah dan di rumah. Kira-kira balita menurut atau tidak? Entah hahaha semoga saja 🤣

Kesimpulan

Keluhan si kecil atas rasa sakitnya adalah hal baik. Hal itu menandakan bahwa ia peduli dengan tubuhnya sendiri.

Namun, semoga orang dewasa tidak salah menentukan sikap. Jangan sampai, sikap panik kitalah yang membuat si kecil ikutan panik. Padahal, tidak ada masalah serius apapun pada kakinya.

Cara terbaik membantu rasa sakit pada si kecil adalah mengelola rasa sakit itu. Bantu si kecil menemukan di mana sumber sakitnya. Bantu si kecil mengatasi rasa sakitnya. Lalu, yakinkan si kecil bahwa kakinya akan segera pulih dan baik-baik saja.

Ketiga anak yang aku ceritakan di atas mengalami masalah serupa. Aktivitas fisik yang terlalu banyak membuat otot-otot kaki mereka lelah bekerja.

Penyembuhan otot kaki yang tegang sebenarnya sederhana. Kompres saja air dingin pada bagian yang bermasalah. Air dingin ini membantu mempercepat pemulihan otot yang tegang. Lalu, kurangi aktivitas anak. Kalau bisa, si anak harus menghentikan aktivitas bermainnya sementara.

Jangan panik kalau bertemu anak yang cidera, ya. Keadaan akan menjadi lebih baik jika kita bersikap tenang dan fokus pada solusinya.

Jangan memperburuk suasana dengan rasa panik yang berkepanjangan. Bukankah anak selalu meniru orang-orang dewasa disekitarnya? Hati-hati ya 😁😁😁

One thought on “Menangani Cidera pada Balita

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s