Minggu, 22 September 2019

Rasanya baru saja kemarin tiba di Stasiun Semarang Tawang. Pagi itu, kami harus mengemasi barang dan kembali ke Jakarta.

Setengah hatiku masih ingin di Karimun Jawa, setengah yang lainnya ingin segera pulang. Semenyenangkan apapun liburan di sana, tetap saja ada sebagian diriku tertinggal. Meskipun senang bepergian, aku tetap anak rumahan yang selalu senang berada di rumah.

Naik Kapal Lagi

Detik-detik menuju pelabuhan, kenangan buruk tentang mabuk laut memenuhi pikiranku. Membayangkan 4 jam di kapal yang bergoyang benar-benar membuat aku ketakutan. Padahal, beberapa jam sebelum pulang aku sudah sarapan dan afirmasi diri berulang-ulang. Tetap saja rasa takut ini menyerang.

Kata orang, rasa cemas hilang ketika manusia memiliki persiapan, kan? Memahami itu, aku pun menonton beberapa channel youtube tentang mabuk laut ini. Niat betul Shinta, ya . Iya memang, aku yakin kamu pun akan begitu kalau sudah merasakan mabuk laut πŸ˜‚

Dari channel youtube itu, aku mendapatkan beberapa informasi cara mencegah mabuk laut. Pertama, aku tidak boleh membaca buku dan bermain gawai. Pokoknya, kegiatan yang membuat otak berpikir keras jangan dilakukan. Kata si bapak pembuat channel, posisi yang tidak stabil (posisi kapal yang bergoyang karena ombak) mampu membuat otak kita tidak menerima input dari luar dengan baik. Hal itulah yang membuat kita mual. Dan akhirnya kita pun muntah.

Kedua, jangan banyak bergerak. Baiknya si kepala kita sandarkan saja ke bangku kapal. Atur napas dengan baik dan lihatlah pemandangan luas. Contohnya, kamu bisa lihat pemandangan air laut di balik kaca kapal. Kamu juga boleh memejamkan mata sambil membayangkan pemandangan alam yang menakjubkan.

Ketiga, oleskan minyak kayu putih atau freshcare ke perutmu. Biasanya, kalau perut terasa hangat, mual pun akan hilang. Kamu juga bisa menghirup aroma mint. Aroma mint juga cukup baik menghilangkan mual, lho.

Keempat, minum antimo . Dari hasil browsing, si antimo ini sebenarnya untuk mengatasi mual dan muntah. Jadi, kandungan obat di dalam si antimo mencegah adanya rangsangan di saraf otak dan telinga dalam yang menjadi penyebab timbulnya rasa mual, muntah, dan pusing kepala.

Tetapi, menurut pendapat orang-orang, si antimo bisa bikin kita ngantuk. Jadi, tujuan orang-orang meminum antimo sebenarnya supaya selama perjalanan dirinya tidur. Kenapa dia pingin tidur? Kalau selama perjalanan tidur, itu artinya dia akan terhindar dari mabuk laut πŸ˜‚πŸ‘

Saat aku minum antimo pun efeknya langsung terasa. Aku langsung tertidur pulas, lho. Apakah ini yang disebut kekuatan sugesti? Hahaha entah. Kenyataannya, selama perjalanan pulang keadaanku baik-baik saja berkat tidur haha Aku berhasil tidak mabuk laut πŸ‘πŸ‘πŸ‘

Tidak hanya aku. Hampir seluruh penumpang pun tidak mabuk. Padahal, penumpang saat itu sama seperti penumpang saat aku datang ke Karimun Jawa. Kalau kata Dela, ombak saat siang tidak terlalu besar. Kapal pun cukup tenang. Hanya dibeberapa tempat saja si kapal bergoyang dengan cukup kencang.

Kesimpulannya, hati-hatilah kalau kamu naik kapal pada pagi hari. Biasanya air laut itu pasang memang pagi-pagi. Kalau air sedang pasang, ombak akan kencang. Kalau ombak kencang, kapal-kapal pun akan bergoyang πŸ˜…

Terlalu Cepat Tiba di Stasiun Semarang Tawang

Kereta menuju Jakarta datang pukul 19.00. Aku dan Dela tiba di stasiun pukul 15.00. Masih ada waktu luang kurang lebih 4 jam untuk berkeliling Stasiun Semarang Tawang.

Awalnya, aku mengajak Dela ke Lawang Sewu. Jaraknya hanya 3 km saja dari stasiun. Karena perut tiba-tiba lapar, kami sepakat mengubah tempat tujuan. Kami ingin ke mall saja. Kami ingin ke mcd wkwk (Selalu makan ikan di siang dan malam selama tiga hari. Kami rindu makan ayam tepung 🀣)

Lalu, Dela mengusulkan untuk mengunjungi Kelenteng Sam Poo Kong. Tanpa tahu informasi apa-apa tentang kelenteng itu, aku pun langsung menyetujuinya.

Sejujurnya, aku bukan tipikal orang yang pergi ke suatu tempat tanpa tahu apa-apa. Aku tidak suka bepergian tanpa persiapan. Apalagi tempat yang didatangi adalah tempat bersejarah. Bepergian tanpa tahu informasi apapun tentang tempat tujuan, sama saja seperti bepergian tanpa “rasa”. Berjalan-jalan tanpa ada “rasa” tentu hambar rasanya.

Kelenteng Sam Poo Kong

Kesan pertama datang ke tempat ini adalah “wow“. Wow, aku seperti ada di Istana Drama Sageuk Korea haha Wow, gedung-gedungnya bagus banget. Wow, ini Indonesia rasa luar negri, ya. Wow, tiba-tiba suasananya jadi mistis. Apalagi saat melihat patung yang besar banget. Lalu, jadi ngebayangin gimana suasana kelenteng ini pada zaman dahulu.

Setelah berbagai kalimat wow bermunculan dikepala, aku dan Dela tidak berminat langsung keliling kelenteng haha kami lapar! Kami ingin makan. Alhamdulillah, di dalam kelenteng ada beberapa tukang jualan. Ada abang tukang bakso, abang tukang somay, abang tukang mie ayam, dan lain sebagainya. Kami memilih somay. Setelah rasa haus hilang dan perut kenyang kami pun langsung berkeliling kelenteng.

Destinasi ke kelenteng hanya diisi dengan mengobrol seadanya, foto-foto sepuasnya, dan sedikit mengamati sekitar. Waktu berkunjung yang singkat membuat kami bergerak cepat.

Tidak ada “rasa” yang muncul saat berkeliling kelenteng sebetulnya membuat aku kurang puas. Meskipun begitu, tentu saja aku dan Dela senang. Khususnya aku, ini adalah pengalaman pertama aku datang ke kelenteng. Aku sangat menikmati indahnya bangunan-bangunan dalam kelenteng.

Terlalu asyik melihat-lihat kelenteng dan berpose membuat aku tidak sadar bahwa hari mulai gelap. Kami harus bergegas. Kereta kami berangkat pukul 19.00.

Azan magrib berkumandang. Namun, kami memutuskan salat di stasiun saja. Dela dengan sigap memesan grabcar. Tanpa menunggu terlalu lama, grabcar pun datang.

Perjalanan 5,3 km tidak terasa lama. Mungkin hal ini terjadi karena bapak supir yang berasal Pekalongan itu ramah sekali. Si bapak bercerita singkat tentang gedung-gedung tua di sekitar Stasiun Semarang Tawang.

Bapak juga menyarankan, kalau sempat, sebaiknya kami berjalan kaki melihat gedung-gedung tua sebentar. Sekadar mengisi waktu luang sebelum naik kereta, katanya.

Namun sayang, waktu belum mengizinkan. Waktu yang tersisa hanya cukup untuk salat magrib serta meminum chatime yang baru saja kami pesan. Semoga kami bisa berkeliling ke gedung-gedung itu di lain kesempatan. Terima kasih, bapak untuk segala keramahan 😊

Bapak supir grabcar yang ramah, masjid di luar stasiun, dan minuman chatime yang dingin adalah beberapa kemudahan di akhir perjalanan. Bukannya rasa lelah yang terakumulasikan, rasa senanglah yang kami rasakan. Alhamdulillah.

Sampai jumpa Semarang! Sampai jumpa di waktu yang akan datang. Karena energi sudah penuh terisi, aku berjanji akan semangat menjalani hari. Dan berusaha menjadi lebih baik lagi. Bukankah ada begitu banyak tempat menunggu untuk didatangi lagi? πŸ˜†

8 thoughts on “Sampai Jumpa Semarang!

      1. aku datangnya dari arah barat, jadi gak keliatan dari jalan raya, ketika baru mau masuk pesimis.. tapi begitu liat ke selatan…wowooooooo….gedeeee luaaassssss….angiiiinnn…

        πŸ˜‚ya situ udah terbiasa panas, kalau aku datang dari pegunungan ya tersiksa

        Liked by 1 person

  1. Iyakah berangin? Asyik banget πŸ˜† Saat aku datang ke sana nggak berangin, Mas Seta.

    Penduduk pegunungan pasti kaget sama panasnya Semarang wkwk

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s