Pengalaman Bermain Air di Pulau

Aku memiliki pengalaman ke Pulau dua kali. Pertama, saat ke Pulau Oar. Kedua, saat ke Pulau Pahawang. Pulau Oar dekat sekali dengan Pulau Umang. Mereka sama-sama berada di Pandeglang.

Informasi yang aku dapat dari Dela si penduduk Pandeglang, destinasi yang paling banyak didatangi traveller biasanya Pulau Umang. Di Pulau Umang itu banyak penginapan. Sedangkan Pulau Oar adalah pulau tak berpenghuni.

Aku heran, padahal dulu kami tahu lho kalau Pulau Oar tak ditinggali penduduk. Tetapi tetap nekat berkemah di sana. Saat itu, kami satu-satunya yang berkemah di sana πŸ˜‚

Di Pulau Oar, kami tidak snorkeling. Sejak awal, niat kami memang ingin berkemah dan main di pantai saja. Entah bagaimana awalnya, kami berkesempatan main banana boat, lho. Kebetulan, saat itu banana boat dari Pulau Umang datang. Yasudah, kami ikutan. Oh iya, pengunjung yang datang ke Pulau Umang biasanya bermain banana boat di Pulau Oar.

Seingatku, di Pulau Oar kami tidak begitu puas main air dan pasir. Kami tidak sepenuhnya basah-basahan. Di sana hanya ada satu toilet saja. Kami pun tidak banyak membawa baju ganti.

Karena keterbatasan itulah di Pulau Oar kami membatasi diri untuk bermain air. Di sana, kami lebih banyak mengobrol, membasahi kaki dengan air pantai, menikmati suasana Pulau Oar, serta berkeliling pulau.

Kalau di Pulau Pahawang, kami sangat puas bermain air. Kami mendatangi banyak pulau kecil dan snorkeling di sana. Seingatku, aku tidak puas bermain pasir. Bermain pasir pun sekadarnya. Sebab, saat bertemu pasir timbul yang lembut, aku dan teman-teman sudah menggunakan kostum pulang hahaha jadi tidak mungkin basah-basahan. Dan semua baju ganti sudah habis terpakai.

Briefing Sebelum Tour Laut di Karimun Jawa

Mas Yulian si Ahli Snorkeling dan Mas Gofur si Ahli Potret πŸ˜†

Kalau tour darat ditemani oleh Mas Tri, Tour Laut ini kami akan ditemani Mas Gofur dan Mas Yulian. Mas Gofur bertugas sebagai fotografer di air sekaligus tour guide selama di Menjangan resort. Sedangkan Mas Yulian bertugas menemani dan menjaga kami selama aktivitas snorkeling.

Sebelum melihat ikan-ikan di laut, Mas Tri memberi tahu beberapa hal yang harus kami ingat.

Pertama, Si Mas tidak menyarankan kami menggunakan kaki katak. Kata si mas, kaki katak hanya akan menyulitkan kami saat berenang. Karena kami masih pemula yang takut air, seringkali kaki katak malah mengenai karang di sekitar tempat snorkeling. Karangnya rusak deh πŸ˜”

Kedua, jangan berenang terlalu jauh dan hadapi apapun dengan tenang. Kami harus berada di dekat Mas Yulian. Mas Tri mengingatkan, intinya selama snorkeling jangan panik. Kalau tiba-tiba ada air masuk ke dalam mulut, kami hanya perlu meniup sekencang mungkin. Nanti airnya bakal keluar, kok.

Ketiga, alat-alat snorkeling yang sudah selesai digunakan harap diletakkan kembali ke tempat asalnya. Ada banyak kejadian, setelah selesai snorkeling, si pengunjung meletakkan alat tersebut sembarangan. Tak jarang alat-alat itu rusak karena tidak sengaja terinjak.

Aku menyimak setiap pesan yang Mas Tri sampaikan. Karena sudah pernah snorkeling sebelumnya, Alhamdulillah aku tidak takut dan tenang.

Burhan dan Amel mahasiswa asal Pekalongan

Ada perubahan kebiasaan aktivitas snorkeling antara 4 tahun lalu dengan sekarang.

Kalau dulu, si mas yang menemani kami snorkeling akan sibuk mencari spot bagus untuk melihat ikan-ikan. Aku ingat betul, kami beberapa kali berpindah tempat hanya untuk mencari keberadaan si ikan-ikan cantik. Si mas juga sesekali bercerita tentang pulau yang kami singgahi. Pokoknya puas deh melihat-lihat ikan cantik berwarna-warni. Apa kabar foto underwater? Ada, tetapi bukan hal utama untuk dilakukan. Itu pun kami yang memotret sendiri.

Kalau sekarang, si mas yang menemani malah sibuk mencari spot foto dan membantu kami berpose underwater πŸ˜‚ jadi, kami hanya berhenti di satu spot snorkeling saja. Si mas sibuk fotoin orang-orang. Lalu, bagaimana pengunjung lain yang belum mendapat giliran pemotretan? Kami sibuk berenang sendirian haha

Bagi aku yang sudah memiliki pengalaman snorkeling sih baik-baik saja dibiarkan berenang sendirian. Aku malah asyik menundukkan kepala ke dalam air laut untuk mencari di mana keberadaan si ikan.

Pemandangan saat memasuki Menjangan Resort. Oh iya, di sini setiap pengunjung harus bayar 30.000

Memulai Snorkeling dengan Sepotong Roti

Berbekal sepotong roti dari si Mas Tri, aku mencari-cari ikan. Dalam hitungan beberapa detik saja, ikan-ikan pun berdatangan. Ia mendekat ke tanganku dan berebutan memakan roti-roti itu. Aku terkesima melihat apa yang mereka lakukan hahaha bahagia memang sederhana, guys. Melihat ikan berdatangan ke tanganku benar-benar membuat hati riang πŸ˜†

Aku tidak tahu roti ini aman atau tidak untuk ikan-ikan. Saat roti ini dilemparkan dari arah kapal, aku langsung menangkap dan memberi makan ikan tanpa pikir panjang. Semoga saja apa yang aku lakukan bukan kesalahan πŸ™

Di balik foto bagus kayak gini, ada afirmasi diri ribuan kali hahaha bagi seseorang yang belum bisa water trappen, melepas pelampung sungguh menegangkan πŸ˜†

Meskipun aku tidak terlalu senang kegiatan foto underwater yang lumayan banyak mengambil waktu snorkeling, saat proses foto ini berlangsung aku belajar tentang keberanian. Jadi begini, kalau ingin foto di bawah air, kami harus melepas pelampung yang dipakai. Bikin deg-degan sih. Soalnya aku belum bisa water trappen.

Pada awalnya tentu saja takut. Kaki yang tidak menapak dasar laut sesungguhnya cukup menakutkan πŸ˜… Sebenarnya kami tidak perlu takut. Karena spot snorkeling yang kami datangi ternyata tidak terlalu dalam. Kurang lebih 3 meter saja sepertinya. Dasar lautnya pun kelihatan.

Si mas mencontohkan bagaimana cara menyelam. Jadi, kami hanya perlu berpegangan sama si mas. Nanti, si mas akan mendorong kami perlahan ke bawah untuk menggapai karang. Untuk apa menggapai karang? Untuk berpegangan. Tujuan menyelam untuk berpose, kan. Jadi, kita perlu berada di dalam air beberapa detik supaya memudahkan si mas memotret. Sungguh ribet untuk sebuah satu jepretan ya πŸ˜…

Proses foto underwater ternyata melelahkan. Tetapi yang membuat seru adalah ketika aku melepaskan pelampung, menyelam, menahan napas dalam air, dan memegang karang. Berada di dalam air tanpa pelampung sungguh menegangkan. Tapi, menyenangkan hehe Ikan-ikan, karang, dan tumbuhan laut lainnya sangat indah dilihat dengan mata telanjang.

Menjangan Resort Tempat Penangkaran Hiu

Dari kiri ke kanan: Ibu Lubni, Pak Rudi, Burhan, Amel, Dela, dan aku 😊

Setelah snorkeling, kami berhenti di Menjangan Resort untuk makan siang. Oh iya, di Menjangan Resort ini kami akan bertemu hiu jinak dan bintang laut. Kami boleh masuk ke dalam penangkaran hiu dan memegang bintang laut.

Saat “dipaksa” berpose bersama hiu dan bintang laut, sebenarnya aku tidak begitu yakin. Aku takut. Muncul banyak pertanyaan dalam pikiranku. Apakah ikan hiu ini aman? Apakah tidak apa-apa aku masuk ke dalam kolam? Apakah si hiu tidak akan marah kalau “rumahnya” di masuki sembarangan orang?

Kata si Mas Gofur si tour guide sih aman. Iya, aku memang melihat si hiu baik-baik saja saat para pengunjung masuk ke dalam kolam bergantian. Tetapi, aku tidak melihat “pawang hiu” berada di sekitar kolam itu. Bagaimana bisa aku merasa aman? πŸ˜‚

Selain hiu, ada lagi yang membuat aku cemas yakni hadirnya si bintang laut. Rombonganku secara bergantian memegang bintang laut. Si bintang laut memang diam saja. Namun, di bagian bawah (mulutnya) keluar sesuatu berwarna merah yang menggelikan. Bentuknya seperti cacing merah kecil. Tidak hanya satu, tetapi banyak. Ngeri kan?

Lagi-lagi kata si Mas Gofur bintang laut ini aman. Mas gofur mengatakan kalau si bintang laut tidak memakan daging. Jadi, sudah bisa dipastikan ia tak akan menggigit. Si bintang laut hanya menyerap sari rumput laut.

Melihat mimik wajahku ketakutan, si Mas berusaha menenangkan, namun tak berhasil. Aku tetap takut hahaha tetapi tetap dipaksa untuk memegang. Aku pun menurut. Jantung rasanya seperti ingin lepas πŸ˜…

Jangan ditiru bagaimana cara aku memegang bintang laut. Itu salah besar hahaha cara yang benar adalah pegang ujung-ujungnya saja. Jangan biarkan telapak tanganmu menyentuh seluruh permukaan si bintang laut

Makan Ikan Bakar Sembari Berkenalan

Hasil fotonya kurang baik. Tidak apa, ya. Yang penting momennya kan? Dalam foto ini kami sedang makan siang bersama. Menunya ikan bakar. Oh iya, kami diberi semangka kuning juga. Segar!

Jika tour darat kemarin hanya bersama Dela, tour laut ini aku bertemu dengan teman baru. Pertama, ada Pak Rudi dan Bu Lubni. Mereka berasal dari Singapura. Keduanya berbicara menggunakan bahasa melayu. Usianya mungkin sekitar 50 tahunan. Kedua, ada Amel dan Burhan. Mereka berasal dari Pekalongan. Amel dan Burhan masih menjadi mahasiswa.

Aku mencoba mengakrabkan diri. Pasangan suami istri asal Singapura memulai percakapan lebih dulu. Aku menjawab kemudian memberi pertanyaan tanggapan.

“Istri saya tidak suka jalan-jalan seperti ini.” kata Pak Rudi.

“Tadi aja dia tidak ikutan snorkeling kan. Istriku cuma menonton dari atas kapal hahahaha.” tambah Pak Rudi.

“Tidak apa-apa, Pak. Yang penting si ibu tetap mau ikut, kan. Menemani pun itu sebuah keromantisan haha.” aku menanggapi.

Haha, iya benar. Oh iya, dari Singapura, sebenarnya lebih dekat ke Malaysia. Tapi, aku lebih suka jalan-jalan di Indonesia saja. Pelayanannya baik. Selama liburan, kita akan dilayani. Disiapkan alat snorkelingnya dan dipandu penuh selama kegiatan. Kalau di tempat lain tidak seperti itu. Kita dibiarkan aja sendirian membawa itu alat-alat snorkeling.” cerita Pak Rudi. Kami pun mendengarkan dan sesekali mengangguk-angguk.

Pak Rudi memberi pertanyaan balik tentang kami. Beberapa pertanyaan sederhana seperti kesibukannya apa, pekerjaannya apa, dan lain-lain.

“Bapak ke Indonesia memang untuk liburan?” tanyaku.

Tidak. Saya ke sini untuk pekerjaan. Saya mengurusi mebel di Jepara. Sekalian aja saya menyempatkan liburan. Sebelumnya, saya pernah ke Karimun Jawa satu hari. Tapi lelah ternyata hahaha jadi saya mengulangi liburan lagi. Kali ini lebih lama yakni sekitar 3 harian.” jawab Pak Rudi.

Ibu Lubni pendiam. Ia lebih banyak mendegarkan. Sesekali mengajukan pertanyaan. Tapi tidak banyak. Amel dan Burhan juga ikutan mengobrol sebenarnya. Tapi mereka cenderung menanggapi saja.

Percakapan singkat itu membuat kami cepat akrab. Kami pun melaksanakan destinasi selanjutnya dengan lebih hangat 😊

Di Menjangan Resort ada rumah pohon! 😁
Pemandangan tepat di depan rumah pohon

Mendatangi tempat baru serta berkenalan dengan orang baru adalah pengalaman mahal yang tak terbayarkan. Karena hakikat perjalanan bukan sesederhana mendatangi tempat-tempat yang dinginkan saja. Melainkan, sejauh mana kita mampu memaknai setiap hal. Dan sebanyak apa kita bisa mampu menjadi manusia berkecukupan dan banyak belajar. Cukup atas nikmat yang Allah berikan. Dan belajar menghargai sekitar.

9 thoughts on “Karimun Jawa: Day 2 – Bermain Air dan Pasir [1]

    1. Ngeri banget, Mbak Ikha 😭😭😭

      Indera perabaku kayaknya emang agak bermasalah, Mbak Ikha. Aku kurang suka pegang yang lengket2 gitu. Makanya ketakutan bgt pas pegang bintang laut yang teksturnya “cukup aneh” 🀣

      Kalo indera peraba mbak normal, aku rasa mbak akan baik2 aja pegang itu bintang wkwk

      Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s