Memberi kabar seseorang sebuah berita buruk, mungkin akan membuat hari orang itu menjadi buruk. Memberi kabar seseorang berita tidak menyenangkan, mungkin juga membuat hari orang tersebut menjadi tidak menyenangkan. Seburuk apapun hasilnya, tetaplah katakan sesuai keadaan. Jujur apa adanya dan memberi kejelasan adalah proses yang baik. Dengan begitu, orang tersebut akan bersegera pula menata hati dan mengendalikan dirinya sendiri.

Pagi tadi, ada begitu banyak orang nasibnya digantungkan. Mereka tidak tahu apa yang harus dilakukan. Informasi terakhir yang mereka dapat hari ini adalah jadwal mereka. Namun, sesampainya di lokasi tujuan tiba-tiba saja jadwal mereka dibatalkan.

Sebenarnya, masalahnya bukan pada jadwal yang dibatalkan. Melainkan, orang yang membuat janji (sebut saja si A) hilang kabar dan tidak menginfokan secara langsung kepada mereka. Mereka tahu informasi ini dari orang ketiga, yakni kami (aku dan kawan-kawan) Wajarlah mereka merasa kebingungan. Informasi yang tidak jelas membuat mereka merasa “digantungkan”.

Kami pun sebenarnya tidak tahu informasi ini secara jelas. Yang kami tahu si A memang berhalangan hadir. Namun, si A tidak menitip pesan apapun kepada kami. Dan pagi ini orang-orang tersebut bertanya tentang jadwal yang telah dijanjikan si A kepada kami.

Sejujurnya, kami tidak tahu harus menjawab apa. Si A pun sudah dihubungi. Namun, si A tidak menjawab pesan singkat dan tidak mengangkat telepon kami. Mungkin si A memang sibuk sekali. Akhirnya, kami menyuruh orang-orang itu menghubungi si A sendiri.

Melihat wajah para ibu, bapak, dan anak yang telah menunggu lama entah mengapa membuat aku kesal sekali. Aku kesal pada si A. Bagaimana bisa ia mengorbankan banyak orang hanya untuk kepentingan pribadi. Bagaimana bisa ia sembarangan memperlakukan orang begini 🙁

Mungkin si A kesulitan memposisikan diri menjadi orang lain. Hingga akhirnya menyusahkan banyak orang di sini. Baiklah. A, aku akan coba deskripsikan sedikit agar kamu mengerti.

Orang-orang yang pagi ini datang, mereka tidak semudah itu datang ke sini. Tidakkah kamu mengerti? Ada banyak hal mereka tinggalkan, demi bertemu denganmu.

Sang bapak, mungkin telah izin kepada atasannya untuk datang telat ke kantor. Sang ibu, mungkin sudah bekerja keras sedari dini hari menyiapkan sarapan serta keperluan seluruh anaknya, supaya pagi-pagi bisa datang ke tempat ini. Sang anak, yang awalnya takut, mungkin sudah memberanikan diri untuk menemuimu lagi. Bukankah mereka sudah berusaha keras untuk pertemuan hari ini?

Deskripsi di atas mungkin belum cukup membuatmu mengerti. Karena segala tentangmu selalu menjadi prioritas utama, kan? Seperti pengakuanmu beberapa hari yang lalu. Katamu, berkorban untuk orang lain adalah hal yang tidak berguna. Urusanmu masih banyak yang belum diselesaikan. Dan kamu enggan memberi sedikit saja waktumu untuk digunakan orang lain.

Saat itu, aku kehilangan selera untuk menanggapimu, sungguh. Ingin sekali berteriak begini,“Kau pergi saja dari bumi! Jika inginnya menang sendiri, jangan pernah menggunakan kebaikan orang lain untuk keuntunganmu sendiri!”

Tapi, tak mungkinlah aku melakukan itu. Seseorang pernah bilang, jika kebenaran membuat hubungan dua manusia berjarak, sebaiknya kita tutup sajalah mulut ini rapat-rapat. Biarkan kebenaran itu menguap dan kemudian hilang. Asalkan kita baik-baik saja, maka itulah yang terbaik.

Mengingat perkataannya, aku mengurungkan niatku itu. Aku berhasil menahan diri untuk tidak berteriak begitu. Namun, dadaku sesak. Ah, sungguh sulit berhadapan dengan orang “sulit”.

Kembali ke cerita orang-orang itu dan si A. Pada akhirnya, mereka berhasil menghubungi si A. Setelah mendapat penjelasan, dengan wajah kecewa, mereka pun pulang.

Kami menatap punggung mereka dengan prihatin. “Seandainya si A memberitahu mereka lebih awal, mereka tak perlu jauh-jauh datang ke sini. Seandainya si A lebih memikirkan perasaan orang lain, si A tidak akan mengorbankan waktu dan usaha orang lain.” kataku dalam hati.

Pagi ini, pelajaran berharga lagi-lagi datang. Aku pun merenung. Apakah aku pernah melakukan hal yang sama seperti A? Bila nanti ada urusan yang begitu mendesak, apakah aku akan seperti A?

A, kebahagiaan dalam hidupmu tak akan berkurang meskipun kamu berbagi sedikit waktu kepada orang lain. A, percayalah, setiap hal sudah diciptakan Tuhan sesuai porsinya. Yang tertakdir untukmu tak akan pernah hilang, sungguh. Dan kebaikan yang kamu lakukan, tak akan pernah merugikanmu. Malah sebaliknya, ia akan menghadirkan kebaikan-kebaikan lainnya.

Pertanyaan itu terdengar berkali-kali dalam pikiran. Dan kata hatiku berteriak lantang,“Jangan sampai! Urusanmu dan urusan orang lain sama-sama penting. Lakukan semua urusan sesuai porsinya. Jangan pernah mengorbankan dan meninggalkan. Ingat selalu, kebaikan tak pernah bisa didapatkan dengan cara hidup yang salah.” aku menatap langit-langit dan bergumam,”Mudahkan dan ingatkan aku selalu, ya Allah.”

2 thoughts on “Pelajaran Berharga Hari Ini

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s