Seorang anak kecil rutin datang ke ruanganku. Ia baru saja melepas gips yang ada disikunya. Sebut saja namanya Novan.

Novan kelas 5 sekolah dasar. Ia datang ke ruanganku untuk mengobati sikunya. Sikunya retak akibat kecelakaan sepeda. Karena menggunakan gips selama satu bulan penuh, alhasil sikunya sulit untuk ditekuk dan diluruskan lagi. Novan pun kesulitan melakukan apa-apa sendiri. Bahkan untuk menyentuh belakang kepalanya pun Novan belum mampu mandiri.

Novan cukup terkenal di Poli Rehabilitasi Medik ini. Suaranya yang berisik membuat ia mudah dikenali. Tiap kali sesi latihan dimulai, Novan bisa teriak dan menangis kencang sekali 😂

Kami, sebagai fisioterapis tentu tidak merasa aneh dengan sikap Novan ini. Siku yang tidak digerakkan selama satu bulan pasti mengalami berbagai masalah. Beberapa masalahnya adalah pemendekan dan kelemahan otot lengan. Hal inilah yang membuat Novan kesakitan tiap kali sikunya diluruskan atau ditekuk oleh fisioterapis. Kasihan memang melihat Novan menangis karena sakit.

Namun, cara kerjanya memang begini. Novan harus berani melawan sakitnya. Agar sikunya normal dan fungsional kembali.

Respon pasien lain pun beragam. Ada yang merasa tidak tega dan turut bersedih. Ada pula yang malah merasa kesal karena suara Novan membuat ruangan poli menjadi berisik sekali 😅

Pada awalnya, aku pun memberikan penilaian negatif ke anak ini. Begini kataku dalam hati,“Ini anak manja, ya. Dan sepertinya sulit diajak komunikasi. Sedari awal terapi ia selalu menangis. Wajarlah ia bersikap begini. Wong, ia anak bungsu yang jarak usia dengan kakaknya jauh sekali. Pasti segala maunya selalu dituruti.”

Kemarin, aku berkesempatan melatih siku Novan. Ternyata penilaian negatifku salah besar. Sebaliknya, aku malah takjub dan bangga banget sama dia. Anaknya super kooperatif, komunikatif, berani, dan tegar ternyata 😆

Novan bercerita, kecelakaan terjadi saat ia bermain sepeda dengan kawannya. Novan dibonceng. Saat mereka naik sepeda, tiba-tiba seorang anak kecil dengan sepedanya muncul dari arah samping kiri. Akhirnya, Novan, kawannya, serta si anak kecil bertabrakan. Mereka pun jatuh.

Novan tidak ingat kronologi lengkapnya. Yang ia tahu, dirinya tersungkur begitu saja dengan lengan menempel di tanah. Kala itu, lengannya sulit untuk digerakkan. Rasanya sakit dan lemah.

Novan juga tahu lho bagaimana kondisi sikunya. Kata Novan, ada tulang rawan siku yang retak. Retakan itu tidak perlu dipasang implant logam. Cukup dengan gips saja, maka, retakan tulang rawan akan menyatu kembali.

Ternyata Novan tidak semanja itu. Saat aku melatih dia dan kuberi tahu rasanya akan sakit, Novan kooperatif sekali. Ia tidak melakukan gerakan perlawanan. Bahkan ia menahan diri untuk berteriak. Novan hanya meringis dan menutup mulutnya rapat-rapat supaya tidak berteriak kencang.

Novan, nangis boleh kok. Ayo nangis aja! Teriak nggak apa-apa. Jangan ditahan entar kamu pingsan haha.” ledekku. Aku gemas melihat dia menahan diri agar tidak nangis. Terlalu berani anak ini wkwk

Sesi latihan aku akhiri dengan menyuruh Novan mengusap rambutnya dan memegang telinga yang berlawanan dengan tangannya. Meskipun gerakannya masih terbatas dan ia belum mampu melakukan gerakan normal, Novan sudah berusaha keras, guys. Aku benar-benar menghargai dan memaklumi.

Dari kasus Novan ini aku belajar banyak. Pertama, jangan pernah berasumsi apapun sebelum kita memastikannya sendiri. Sebab, kebenaran hanya bisa didapat dari informasi yang lengkap dan menyeluruh. Jangan kayak aku. Aku menduga si novan anak yang manja. Padahal aku belum kenal dia. Kenyataannya, setelah kenal, Novan jauh dari kata manja. Ia anak yang pemberani.

Kedua, berempati akan memudahkan kita menghadapi setiap kondisi. Sebab, yang membuat sulit sesungguhnya bukan masalah itu sendiri. Melainkan, kitalah yang belum mengenal medan apa yang sedang dihadapi. Lagi-lagi jangan kayak aku. Karena Novan “heboh” banget tiap kali dilatih, pada awalnya aku cemas tidak bisa menangani dia. Ternyata, setelah mengobrol banyak dengan Novan dan memeriksa kondisinya, keadaan Novan sangat bisa ditangani kok 😊

Kenali banyak hal, kenali diri, dan kenali orang lain. Yuk, hadapi apapun dengan berani 😄

7 thoughts on “Cerita Si Kecil Novan: Hadapi dengan Berani

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s