Percakapan kala itu,

Kamu suka jalan-jalan ke mana?” tanyaku.

“Maksudnya bagaimana?” ia bertanya balik dan tampak bingung.

“Kalau aku ajak kamu bepergian jauh, tempat seperti apa yang ingin kamu datangi?” aku bertanya lagi dan memberikan pertanyaan lebih rinci.

Oh, itu maksudnya. Aku senang bepergian yang melakukan sesuatu.” jawabnya.

“Maksudnya bagaimana?” tanyaku. Kali ini aku yang bingung atas pertanyaannya.

“Maksudnya begini, kita pergi ke Pulau Pahawang beberapa tahun lalu, kan. Di sana kita melakukan snorkeling. Lalu, kita juga pergi ke Pulau Sempu. Kita menuju pulau tersembunyi dan berkemah di sana.” ia menjelaskan.

“Oh gitu. Kalau kita piknik di taman, kemudian melakukan hobi yang disuka bagaimana? Suka atau tidak?” tanyaku.

Entahlah. Sepertinya aku tidak memiliki hobi apapun. Aku pasti bingung akan melakukan apa.” jawabnya singkat.

“Kamu suka membaca buku. Bagaimana kalau kamu membawa beberapa buku dan menyelesaikan di sana?” tanyaku penasaran.

“Entahlah. Sepertinya aku kurang suka melakukan itu.” jawabnya. Kali ini ia benar-benar memberikan pernyataan.

“Bukankah kamu senang merajut dan berencana belajar lagi tentang itu?” tanyaku. Rupanya aku masih berupaya memengaruhi dia.

“Tidak, aku tidak ingin dan tidak tertarik.” ia memberi pernyataan yang kedua kalinya.

“Bagaimana kalau kamu datang untuk menemaniku saja? Aku selalu senang piknik di taman yang sepi. Aku bisa menulis di sana. Aku juga bisa belajar menggambar di sana. Aku suka suasana taman. Rerumputan dan pepohonan mampu menambah semangatku.” ucapku panjang lebar. Aku selalu begini. Selalu cerewet tiap kali membicarakan topik yang begitu kusuka.

“Oh iya! Kamu senang musik kan? Sembari menemaniku, kamu bisa mendengarkan musik apapun. Meskipun aku tidak terlalu suka musik, aku bersedia mendengarkan musik pilihanmu.” lagi-lagi aku berkata panjang untuk meyakinkan dia.

“Baiklah. Aku akan menemanimu. Bawakan aku makanan yang banyak!” jawabnya.

“Di lain waktu, kamu harus menemaniku. Suka ataupun tidak suka. Tertarik ataupun tidak tertarik. Kamu harus menemaniku.” pintanya.

“Baiklah! Aku siap menemanimu. Bahkan kala hatiku menolak untuk setuju.” kataku. Aku menyakinkannya. Tentu saja aku mau. Bagiku, yang paling penting bukan ‘melakukan apa’. Melainkan, ‘bersama siapa’ aku melakukan itu. Kebersamaan bersama orang tersayang selalu pertama dan utama.

Di sore yang ke sekian kalinya, kami tetap menjadi orang yang sama. Orang yang selalu senang bertukar pikiran. Membicarakan banyak hal seperti, topik yang bertujuan, atau topik random yang arahnya tidak jelas apa. Seringkali, kesimpulan pun tak pernah kami dapatkan. Meskipun begitu, kami bersyukur masih berkesempatan bertukar pikiran hingga saat ini.

Bagi kami, bertukar pikiran adalah kebutuhan yang tak bisa ditinggalkan. Kami memiliki banyak gagasan yang perlu disampaikan. Kami juga memiliki banyak keresahan yang harus dilepaskan. Kami pun memiliki keinginan yang harus direalisasikan.

Bertukar pikiran memang tak menjamin semua ingin dan angan menjadi kenyataan. Bertukar pikiran juga tidak menjamin “kata sepakat” mudah kami utarakan. Tak apa.

Bertukar pikiran memiliki makna lebih dari itu. Berkatnya, kami menjadi tahu bahwa berani mengungkapkan pikiran dan perasaan adalah langkah awal sebuah perubahan. Dan kami akan terus melakukan. Hingga segala keresahan dalam hati dan pikiran tidak muncul ke permukaan. Sampai kapan? Tentu saja sampai batas waktu yang tak bisa ditentukan.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s