Allah memang selalu memberi pelajaran melalui jalan yang tidak terduga. Ia datang di waktu yang tepat meski kita tidak meminta.

Pagi yang penuh kejutan. Seseorang yang tidak aku kenal berbagi kisah hidupnya.

Ini tentang temanku. Kami bekerja di tempat yang sama. Ia bercerita di balik telepon sana. Dengan suara parau dan putus asa ia meminta saran terkait anaknya. Aku tidak mengenal dia. Meskipun ia menyebutkan nama dan departemen tempatnya bertugas, aku tetap tidak mengenalnya.

Kami berbicara cukup lama. Singkat cerita, buah hatinya yang saat ini berusia 8 tahun mengalami masalah belajar. Si kecil mendapat nilai 5 pada pelajaran matematika. Lalu, ibu guru memberitahu bahwa si kecil kesulitan memperhatikan pelajaran yang diajarkan. Perhatiannya mudah teralih. Ia juga tidak mampu duduk lama dibangkunya.

Temanku melanjutkan cerita. Katanya, si kecil sudah les privat di rumah. Ia pun mampu mengerjakan semua sendiri. Si kecil selalu mempelajari materi pelajaran sebelum ibu guru mengajarkan di sekolah. Si kecil juga mampu menghafal juz 30 sejak taman kanak-kanak. Ia bingung. Temanku sungguh tidak percaya cerita yang ibu guru sampaikan.

Aku masih menyimak cerita dan belum menanggapi apa-apa.

Ia melanjutkan cerita. Temanku berharap banyak pada anak pertamanya. Dulu, saat temanku kecil, ia hidup dalam keterbatasan. Jangankan les privat. Untuk biaya sekolah saja orang tuanya harus benar-benar banting tulang.

Karena saat ini temanku merasa mampu dan cukup, ia pun memberikan segala hal untuk anaknya. Segala hal yang anak inginkan, maupun tentang kegiatan yang menunjang akademik anaknya. Ia mengakui, dirinya memang tipikal orang ambisius dan menerapkan hal seperti itu juga kepada anaknya.

Di telepon, temanku mengaku padaku, dirinya merasa bersalah pada anaknya. Ia sadar telah memaksa anaknya dengan keras. Ia juga sadar telah berlaku kasar kepada anaknya. Saking putus asanya, ia berkata seperti ini padaku,“Menurutku, yang harus bertemu psikolog adalah aku, Mbak. Aku yang bermasalah. Aku yang membuat anakku bermasalah. Iya kan, Mbak?” ia menangis.

Aku berdiam diri cukup lama. Memikirkan perkataan apa yang tepat untuk menanggapi cerita temanku.

Terkait kondisi anaknya, tentu saja aku tidak akan memberikan pendapat banyak. Meskipun aku sedikit menduga masalah anaknya, kurasa lebih baik temanku bertemu dulu kepada ahlinya, yakni, dokter anak dan dokter rehabilitasi medis.

Sebenarnya ada banyak pertanyaan ingin kutanyakan kepada temanku ini. Seperti, sejauh apa ketidakfokusan si kecil, adakah hal-hal aneh yang si kecil lakukan saat di rumah, bagaimana interaksi dan komunikasi si kecil, apakah ia bisa mengerjakan suatu tugas di rumah sesuai waktu yang telah disepakati, apakah ia mampu menyelesaikan sebuah pekerjaan sampai selesai, dan lain-lain. Namun, melihat kondisinya yang sedang tidak baik, aku mengurungkan niatku.

Akhirnya aku menanggapi begini,”Mbak, pasti kaget ya tiba-tiba dapat kabar si kecil dapat nilai 5. Padahal di rumah ia mampu mengerjakan soal-soal sampai selesai. Tapi, jangan lagi marahin si kecil ya, Mbak. Hal tersebut nggak menyelesaikan masalah. Pesan mbak pun nggak akan sampai ke si kecil. Yang ia tahu, Mbak itu marah besar ke dia.”

Mbak nggak perlu ke klinik yang sekali konsultasi 500.000 itu. Saranku, Mbak konsultasikan dulu aja si kecil ke dokter anak dan dokter rehabilitasi medis di sini. Kalo si kecil memang membutuhkan terapi, para dokter akan menentukan terapi apa yang tepat untuk kondisi si kecil ini, Mbak.” tambahku. Temanku sempat bingung juga masalah keuangan. Pada awalnya, ia ingin konsultasi ke klinik anak di luar rumah sakit. Namun, biaya konsultasinya benar-benar mahal. Dan tidak mungkin dilakukan saat ini.

Iya menyetujuinya. Dari nada suaranya, temanku lebih tenang. Mungkin ia lega sudah bercerita segala kecemasannya.

Ia pun mengatakan, akan mendiskusikan dahulu perihal ini kepada suaminya. Kalau sudah sepakat, ia akan datang ke dokter anak dan poli rehabilitasi medis. Sembari meminta maaf karena sudah bercerita panjang kepadaku dan mengambil waktu luangku, ia menutup teleponnya. Masalah ini pasti berat untuk temanku.

Dari sosok temanku, aku melihat luka masa kecil yang tak kunjung sembuh. Temanku belum berdamai dengan diri sendiri. Ia melakukan semua hal yang tidak bisa dilakukan dulu, kepada anaknya. Ia tetap melakukan semua hal yang diinginkan tanpa bertanya kepada anaknya. Ia memikirkan kebaikan untuk anaknya berdasarkan standarnya.

Sampai akhir percakapan, Ia terus menerus menyalahkan diri atas apa yang terjadi. Tampak jelas, temanku lupa untuk mengapresiasi diri. Padahal ia sudah sangat berjuang untuk anaknya. Meskipun menjadi ibu yang bekerja, temanku selalu meluangkan waktu untuk urusan sekolah dan pelajaran anaknya. Perihal ini sudah kusampaikan kepada dia. Ia pun terisak. Temanku bilang, ia memang tidak pernah sekali pun mengatakan terima kasih untuk dirinya sendiri.

Mendengar cerita temanku ini, hatiku sakit. Bagaimana bisa perihal self-love yang belum terselesaikan, benar-benar bisa mengganggu rumah tangga secara keseluruhan. Bagaimana bisa perihal self-love orang tua yang belum terselesaikan, benar-benar bisa membuat sang buah hati mengalami masalah perilaku.

Lihat, tentang self-love tidak boleh kita abaikan. Kenali diri dan selesaikan pelan-pelan. Kita pasti bisa menaklukkan :’)

Advertisements

4 thoughts on “Love Yourself First

    1. Supaya bisa cinta, kenalan sama diri sendiri dulu, Mbaaaak 😁 kita harus benar-benar tau segala kelebihan dan kekurangan diri. Biasanya akhir self-love itu penerimaan diri secara utuh, Mbak 😊

      Untuk psikolog, kalau Mbak Grant benar-benar kesulitan mengenali dan menerima diri, boleh banget ngobrol sama psikolog πŸ˜πŸ‘

      Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s