Dari kiri ke kanan: Zaja, Nai, Bodevan, Rellian, Kielyr, dan Vespyr

Ben dan Leslie hidup dengan cara yang berbeda. Mereka meyakini bahwa hidup bukan tentang mengikuti “pola yang sudah ada”, namun sebaliknya. Mereka harus tahu apa yang ingin dicari dan apa yang harus dicapai. Atas dasar pemikiran itulah mereka meninggalkan rumah di kota. Dan pergi ke hutan. Mereka berumah tangga di sana. Di sana pula anak-anak mereka dilahirkan dan dibesarkan. Kecuali Bodevan, ke lima anaknya lahir dan tumbuh di sana.

Tidak seperti film komedi dan keluarga biasanya, film ini dibuka dengan adegan Ben dan Bodevan si anak sulung sedang memburu binatang. Adegan menjijikkan pun datang. Bodevan memotong daging binatang buruan, kemudian memakannya. Adegan ini lumayan bikin aku ingin muntah 😅

“Mulai saat ini, kamu adalah lelaki dewasa dan pria sejati!” begitu kata Ben. Lelaki berjenggot dengan tubuh penuh lumpur.

Pikirku, film keluarga macam apa ini, mengapa adegan pembukanya mengerikan sekali. Namun, tetap kulanjutkan menonton. Menurut salah satu artikel yang aku baca, film ini termasuk film keluarga yang direkomendasikan. Tanpa ragu lagi, aku pun melanjutkan film tersebut.

Ben dan keluarganya tinggal dihutan. Layaknya tarzan, mereka pun mahir melompat serta memanjat tebing dan pohon. Ada beberapa kebiasaan unik yang keluarga Ben lakukan. Ternyata mereka bukanlah “tarzan sungguhan” seperti yang kita tahu. Mereka lebih tepat disebut “tarzan pembelajar”. 🤣

Setiap pagi keluarga Ben terbiasa melakukan aktivitas fisik. Lari berkeliling hutan, sit up, push up, back up, dan kegiatan lainnya. Ben percaya, untuk mampu hidup di dunia yang penuh tantangan ini, anak-anaknya harus memiliki badan yang sehat dan kuat. Mereka pun melakukan aktivitas fisik dengan serius. Bahkan Ben pernah mengatakan, tubuh anak-anaknya ini tidak akan kalah dengan tubuh atlet di ibu kota. Mantap ya!

Setelah melakukan aktivitas fisik, Ben dan keluarganya bekerja sama membersihkan rumah. Ben membuat jadwal bertugas dan anak-anaknya melakukan secara bergiliran. Bahkan untuk kegiatan menyiram pohon, mereka melakukannya secara tertib dan bergantian.

Bagaimana dengan sekolah? Ben dan sang istri, Leslie menjadi guru untuk anak-anaknya. Mereka belajar di rumah. Kegiatan belajar dilakukan pada malam hari. Mereka akan melakukan sesi belajar bersama-sama di luar rumah. Dengan suasana hangat ditambah hangatnya api unggun, mereka duduk melingkar membaca bukunya masing-masing. Pada sesi tersebut, Ben akan menanyakan sejauh apa proses belajar anak-anaknya. Mereka pun akan menjelaskan secara lisan dengan percaya diri.

Yang membuat semakin unik, selaku guru, Ben lebih banyak mendengarkan dibandingkan menjelaskan. Bahkan untuk beberapa kekeliruan yang anak lakukan, Ben lebih senang bertanya dari pada menjelaskan. Akhirnya, anak-anak pun tahu di mana letak kekeliruannya.

Di mana istrinya Ben? Di awal-awal film penonton juga akan dibikin penasaran ke mana istri Ben berada. Tetapi, pada pertengahan film penonton pun akan menemukan jawabannya. Sebab, anak-anak pun akan berkali-kali mengajukan pertanyaan tentang ibunya. Masalah utama film pun ada pada ibu ini. Mereka harus menjalankan misi keluarga untuk menyelamatkan ibu. Aku tidak akan menceritakan di sini. Kalian nonton sendiri saja, supaya semakin seru 😁

Seperti anak-anak pada umumnya yang tidak selalu menurut kepada orang tua. Rellian juga begitu. Ia adalah anak ke empat yang rasa penasarannya super tinggi. Saking tingginya, ia sering memberontak dibanding anak-anak lainnya.

Pernah suatu ketika ia menodongkan sebuah pisau kepada ayahnya. Ia begitu marah dan kesal. Ayahnyalah yang menjadi pelampiasan marahnya. Setelah menyadari apa yang dilakukan tidak benar, Rellian menurunkan pisaunya dan menusuk-nusuk lemari yang ada didekatnya. Ia menusuk lemari sambil menangis.

Apa yang Ben lakukan? Ben tidak memarahi Rellian. Ben malah memberikan tatapan simpati dan membiarkan Rellian meluapkan amarahnya. Pada adegan itu aku pun berkata dalam hati,“Ben hebat. Sebagai orang dewasa kita seringkali lupa. Alih-alih menenangkan si kecil yang marah, kita malah mengomeli mereka. Bahkan kita memaksa si kecil untuk berhenti menangis saat itu juga. Padahal menangis adalah hak setiap orang.”

Rellian juga mempertanyakan mengapa mereka tidak pernah merayakan natal. Ben tidak tersulut. Ia malah mengajukan pertanyaan,“Adakah yang ingin kamu sampaikan? Mengapa natal itu penting untuk dirayakan? Bukankah perayaan itu tidak memberi manfaat untuk menjalani kehidupan? Ungkapkan pendapatmu. Yakinkan kami. Barangkali pendapatmu dapat menyakinkan kami. Kalau kami yakin, barangkali tahun depan kita bisa merayakan natal bersama-sama.”

Ben selalu begitu. Ia memberikan ruang untuk anak-anaknya. Ruang untuk berpendapat dan mengaktualisasi diri. Di hutan, di rumahnya sendiri. Bolehkah mereka keluar hutan untuk belajar? Perihal ini juga menjadi masalah yang akan dipecahkan dalam film ini.

Apakah hidup Ben dan anak-anak selalu tentang aturan, belajar, dan latihan? Tentu saja tidak. Setelah sesi belajar pada malam hari, Ben dan anak-anak selalu bernyanyi dan bermain musik bersama. Bahkan si kecil Zaja dan Nai turut berdansa. Mereka pun tertawa bersama-sama 😊

Ada satu pembelajaran yang Ben berikan kepada keluarga menarik perhatianku. Apa yang Ben ajarkan mungkin masih sulit dilakukan orang tua kebanyakan. Suatu ketika Ben dan anak-anak sedang memanjat tebing bersama. Karena kelelahan, tangan Rellian tergelincir dari bebatuan yang ia pegang. Rellian pun melepas satu tangannya dan hampir terjatuh. Rellian menangis dan meminta tolong ayahnya.

Kau tahu? Ben tidak langsung membantu. Ia dengan tenang mengarahkan. Kata Ben,”STOP, Rellian. Stay calm, Observe, Think, and Plan!” Ia mengatakan berkali-kali. Ia tahu betul untuk menenangkan Rellian, dirinya juga harus tenang.

Saat Rellian menolak melakukan STOP dan memilih menyerah, Ben pun mengatakan,“Segala yang kamu inginkan tidak akan terjadi begitu saja seperti sihir. Ada usaha yang kamu harus lakukan untuk mendapatkan keinginanmu itu.” Ben selalu bicara apa adanya sesuai keadaan. Ben selalu ingin anaknya bertanggung jawab atas apa yang mereka lakukan. Akhirnya, sambil menangis, Rellian tetap berusaha untuk naik ke atas tebing.

Masih banyak ilmu parenting yang akan kita dapatkan selama menonton film ini. Film Captain Fantastic tidak membosankan. Seperti genrenya, komedi pun banyak terselipkan di setiap adegan. Penonton pun dibuat tertawa terbahak-bahak melihat kejenakaan Ben dan keluarga 😂

Di sepanjang cerita, kita pun akan melihat bagaimana Ben “memanusiakan” anak-anaknya. Ia begitu menghargai pikiran dan perasaan anak-anaknya secara utuh. Bahkan untuk kondisi yang menyebalkan pun, Ben tetap menerapkan itu.

Di sepanjang adegan, kita juga akan melihat bagaimana anak-anak tersebut menghargai dan mencintai orang tuanya. Meskipun dibebaskan untuk merasa dan berpikir, mereka sangat menghargai kedua orang tuanya. Luar biasa pokoknya.

Untuk kamu yang tertarik dengan film-film keluarga, aku sangat merekomendasikan film ini 😁👍👍

Sumber gambar: http://www.bleeckerstreetmedia.com

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s