Di sekitarku ramai. Padahal langit sudah gelap sekali. Saat ini pukul 22.20, begitu yang terlihat pada gawaiku.

Di sampingku ada seorang perempuan muda. Sepertinya ia masih mahasiswa. Aku asal menebak saja. Sebab, ia menggunakan jaket hitam bertuliskan “enviromental enginering”.

Di depanku ada tiga orang perempuan. Mereka sedang duduk bersama dibangku prioritas. Sama sepertiku. Aku juga duduk dibangku ini. Ah, kami nakal ya. Padahal jelas-jelas ada papan pemberitahuan bertuliskan “lanjut usia, wanita hamil, penyandang disabilitas, dan ibu membawa anak”. Mungkin mereka hamil. Lalu bagaimana denganku? Tenang, aku akan siap berdiri kapan saja bila ada mereka yang lebih membutuhkan bangku ini.

Baru saja kereta datang. Penuh sekali. Aku pun mengetik tulisan ini sambil berdiri. Lalu, aku berjalan agak cepat dan kemudian berlari. Saat ini, aku berada dalam kereta. Tidak ada ruang untuk duduk. Semua bangku penuh terisi.

Aku hanya bisa berdiri. Berdiri tanpa jarak dengan orang-orang di kanan dan kiri. Aku tidak masalah dengan kondisi ini. Sebab aku merindukan momen-momen seperti ini. Aneh? Mungkin iya bagi kamu yang menaiki kereta setiap hari. Kereta bukanlah hal yang spesial lagi. Namun, bagiku tidak begitu. Aku benar-benar merindui situasi ini.

Sudah tiga tahun lamanya aku berkendara motor ke sana dan kemari. Aku jarang naik kereta lagi. Aku jarang naik transportasi umum. Makanya, aku rindu. Bukankah manusia memang mudah merindu pada hal-hal yang sudah lama ia tidak temui? Bukankah manusia memang merindu pada hal-hal yang sudah lama ia tidak rasakan lagi?

Beberapa detik yang lalu, terdengar suara perempuan dari pengeras suara. Ia memberi pengumuman bahwa kereta yang kunaiki ini akan tiba pada stasiun tujuanku. Seberapa besar inginku berdiri dalam kereta ini, sepertinya aku harus lekas turun. Seberapa besar rinduku pada situasi ini, sepertinya aku harus segera mempersiapkan diri. Aku harus pulang.

Stasiun tujuanku lebih ramai dari tempat awal yang kusinggahi kali pertama tadi. Bahkan beberapa orang masih duduk sambil mengetik gawainya. Entahlah apa yang sedang mereka lakukan. Mungkin mereka sedang memberi kabar keluarga tentang keberadaannya. Atau mungkin mereka sedang menulis seperti aku ini. Terserahlah mereka mau melakukan apa.

Sebentar lagi tulisan ini akan aku akhiri. Sudah malam. Aku ingin cepat sampai rumah.

Aku rindu, makanya aku menuliskan sepotong perjalanan hari ini. Aku hanya ingin bilang, nikmati apapun situasimu saat ini. Bahkan untuk keadaan yang melelahkan sekali pun.

Dulu, aku pun “muak” naik kereta setiap hari. Berangkat harus lebih awal dan pulang selalu terlambat. Belum lagi kondisi kereta yang menguji kesabaran sekali. Jalan kaki pun terasa berat karena begitu lelah. Bukan lelah fisik. Namun, lelah hati.

Siapa sangka kondisi memuakkan itu kini aku rindui. Ternyata, ada hal-hal tidak aku dapatkan bila menjalani kehidupan yang mudah-mudah saja. Naik kereta memang melelahkan dan menyulitkan. Namun, ada banyak pelajaran yang aku dapat selama perjalanan. Salah satu contohnya ya bagaimana aku mengelola emosi saat menghadapi keadaan yang sulit tadi.

Baiklah, saat ini sudah pukul 22:51. Aku harus pulang. Aku akhiri saja tulisan ini.

Selamat malam.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s