“Ketuk semua pintu yang ada lalu lihat mana rezeki yang Allah pilihkan untuk kita.” – Dewi Nur Aisyah

Teringat percakapan antara aku dan Dela dalam pesan singkat beberapa hari lalu. Dela baru saja lulus dari pendidikan magisternya. Ia melanjutkan pendidikan tidak sesuai dengan pendidikan sebelumnya. Seorang fisioterapis yang melanjutkan pendidikan di bidang K3. Terbayang kah kamu apa yang Dela pikirkan paska kelulusan ini?

Dela menyadari kelulusan ini tidak selesai sampai di sini saja. Kini, pikirannya ramai oleh segala rencana. Saking banyaknya, ia pun sampai pusing dibuatnya. Kuingatkan saja ia dengan kutipan Mbak Dewi di atas.

Kalimat sederhananya, Mbak Dewi menyarankan agar kita mencoba semuanya. Mencoba semua peluang yang sejalan dengan rencana kita. Tetapi jangan lupa libatkan Allah selalu dalam segala rencana. Sehingga, hati kita lebih luas menerima segala ketentuan-Nya.

Ternyata meluaskan hati tidak mudah, lho. Aku pun masih sering begini. Kecewa berkepanjangan kala proses tidak lancar sesuai rencana. Atau ketika hasil tidak sesuai harapan. Entah mengapa, kita mendadak lupa tentang hakikat manusia. Bahwa manusia ya memang tugasnya hanya berencana dan melakukan aksi saja. Hasil akhir murni berada pada kuasa-Nya.

Supaya menjadi hamba yang berencana dengan baik dan melakukan aksi nyata, aku pun harus merencanakan masa depan. Untuk itu, aku ingin mengawalinya dengan meluruskan niat dan pikiranku. Beberapa hal diantaranya yaitu,

Aktualisasi Diri

Untuk bakat yang dipunya atau kelebihanku yang Allah berikan. Aku berharap dapat menggunakan keduanya dengan sebaik-baiknya. Aku juga berharap dapat berbuat baik sebanyak-banyaknya. Sebab, penghambat paling utama biasanya adalah diri sendiri.

Pandangan yang rendah terhadap diri sendiri membuatku tidak berani melakukan sesuatu. Penilaian yang buruk terhadap diri sendiri juga membuatku terus menerus berdiam diri.

Di masa depan, aku akan berupaya mendorong diriku sekuat-kuatnya. Dan menyemangatiku sebesar-besarnya. Kalau kata orang-orang bijak, peluang itu dicari dan kesempatan itu digunakan. Maka, aku memutuskan mengembangkan diri pada bidang-bidang yang kuminati.

Jangan Ragu Berbagi Kebaikan

Jangan ragu untuk berbuat baik. Kalau hati ingin melakukan hal baik, lakukan saja. Orang-orang sering mengurungkan niatnya untuk berbuat baik hanya karena takut “dibilang sok baik”πŸ˜…

Aku akan mengingatkan diri bahwa setiap manusia memang selalu sibuk pada pikirannya sendiri. Dari sana akan muncul banyak prasangka dan asumsi. Dan semua itu adalah urusannya masing-masing manusia. Maka, penilaian yang mereka berikan atas perbuatan kita adalah hal biasa. Hal manusiawi yang setiap orang akan lakukan. Jadi, tak perlulah terlalu dirasa atau dimasukkan ke dalam relung hati segala lisannya.

Percayalah, untuk segala komentar negatif yang orang lain berikan kepada sesama hanya bersifat sementara saja. Beberapa detik kemudian, orang tersebut tidak akan lagi mengingat atau memikirkan komentar negatif yang ia ucapkan tadi. Lalu, mengapa kita terlalu memikirkan sampai sebegitunya hingga mengurungkan perbuatan baik kita?

Di masa depan, aku akan lebih bersemangat untuk berbagi kebaikan kepada sesama. Aku tidak akan meragu meskipun ada banyak orang yang meragukan kemampuanku. Biarlah orang-orang sibuk pada prasangkanya dan aku akan sibuk pada usaha-usahaku saja.

Aku percaya, setiap orang pasti punya hal baik yang bisa dibagi. Semua hanya tentang mau atau tidak kita berbagi. Semua hanya tentang percaya atau tidak akan kemampuan diri.

Jangan lagi ucapkan “Aku mah apah atuh. Aku mah cuma serpihan rengginang.” Bahkan, serpihan rengginang pun akan dimakan lho sama si pecinta rengginang. Akhirnya, serpihan rengginang pun dapat bermanfaat untuk mengenyangkan perut si pecinta rengginang 😊

Tentang masa depan, aku memutuskan untuk percaya pada diriku sendiri. Dan berusaha menjadi versi terbaik diri. Seperti saran Mbak Dewi Nur Aisyah, karena aku tidak tahu apa yang terbaik untukku, maka aku akan mengetuk semua pintu dan menunggu. Biarlah Allah yang akan menunjukkan apa dan bagaimana rezeki yang Allah pilihkan untukku.

Tentang masa depan, aku memutuskan untuk bermanfaat sebanyak-banyaknya untuk sesama. Sayang sekali bila pengetahuan yang kita miliki hanya dirasakan oleh kita sendiri. Selagi aku masih mampu membantu, mengapa aku harus meragu?

Advertisements

3 thoughts on “[Day 30] Ketuk Semua Pintu

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s