Yang paling berbahaya dari kurangnya mencintai diri adalah kamu kehilangan ide untuk mendefinisikan “siapa aku”.

Aku pernah mengalaminya. Dan cukup lama berada pada fase itu.

Waktu kecil, aku tidak ingat kapan terakhir kali aku dipuji. Yang aku ingat, aku harus juara satu pada perankingan di kelas. Sistem SD negeri dulu masih seperti ini. Nilai akademik selalu menjadi perhatian utama. Dari guru, orang tua, mau pun siswa.

Meskipun begitu, aku tetap bersemangat untuk berprestasi, kok. Aku bisa meraih juara dua di kelas dan mengikuti banyak kegiatan di sekolah. Menurut tolok ukur keberhasilan siswa masa itu, iya benar aku berhasil. Aku berhasil memenuhi standar masa itu.

Apa hubungannya sebuah pujian dan prestasi? Tentu saja berhubungan. Semakin kamu dipuji, maka peluang berprestasi pun akan semakin besar. Tetapi, bukan ini yang akan aku bahas.

Pada kondisiku, aku jarang dipuji, namun tetap bisa berprestasi? Apa yang terjadi?

Aku beritahu rahasia kecil, dulu, Shinta kecil berusaha sekali berprestasi karena ingin membuktikan kepada orang tua kalau ia juga mampu seperti teman-temannya. Shinta kecil juga ingin sekali berprestasi supaya ia mendapatkan pujian dari orang tuanya.

Lalu, hasilnya apa? Aku berhasil berprestasi, aku tetap jarang dipuji, dan aku tidak mencintai diriku sendiri๐Ÿ˜…

Kalau aku renungkan kembali, dulu, karena pola yang dianut orang tua dan lingkungan seperti itu, aku jadi lupa untuk mengapresiasi diriku sendiri. Bukan karena aku tidak mau, sepertinya aku tidak tahu bagaimana cara memuji diri.

Yang aku tahu adalah bagaimana cara memuji orang lain. Sepertinya aku belajar dari ayah dan mamaku. Aku juga belajar dari para orang dewasa di sekitarku. Mereka melakukan itu, menurut pemikiran sederhana Shinta kecil, adalah hal yang benar bila aku melakukan hal yang sama.

Ayah dan mama memang sering memuji orang lain. Mungkin, menurut mereka dengan memuji orang lain, anaknya akan termotivasi untuk menjadi lebih baik. Iya memang benar sih aku jadi termotivasi untuk lebih unggul dari orang lain. Tetapi sesungguhnya, aku tidak benar-benar tahu untuk apa melakukan itu. Yang aku tahu, pokoknya aku harus juara satu. Karena hanya dengan cara itu orang tuaku akan bangga padaku.

Karena pengalaman itu, masa kecilku sepertinya habis untuk mengejar prestasi tanpa mengenal siapa diri.

Terakhir kali memikirkan apa-apa tentangku sepertinya saat SD saja. Ketika itu, aku berpikir keras apa makanan dan minuman favoritku. Oh iya, aku juga lumayan berpikir keras untuk menentukan apa hobiku.

Kok aku parah banget sih? Iya memang. Makanya, saat SMA dulu, tiap kali ditanyakan “makna sukses” untuk diri sendiri rasanya sulit sekali. Entah mengapa selalu kehabisan ide untuk memikirkan jawabannya.

Dari pengalaman Shinta kecil aku belajar, mengenal diri sendiri adalah langkah awal menentukan jalan kehidupan apa yang kita akan ambil untuk masa depan. Apakah ingin mengikuti jalan orang lain, atau, kita yakin terhadap jalan kita sendiri.

Mengenal diri sendiri juga modal dasar bagi kita untuk menerima diri secara menyeluruh. Bahwa kita memang memiliki keterbatasan. Kita tidak bisa meraih semua hal dalam waktu yang bersamaan. Maka, mengorbankan sesuatu demi mendapatkan hal yang dituju adalah hal wajar yang perlu kita tahu.

Intinya, sebelum kita memikirkan mimpi besar untuk dunia, kayaknya, kenali dan cintai dulu diri kita dengan baik, deh. Yakinkan diri sampai hilang semua keraguan.

Krisis mengenal diri adalah bagian dari diriku di masa lalu. Namun, aku tidak malu. Selalu ada alasan dari kejadian yang aku lalui.

Meski dulu rasanya begitu melukai, serasa sulit dilupai, dan menyulitkanku melewati masa-masa setelahnya, namun Alhamdulillah sekarang tidak lagi. Segala kejadian hadir untuk memberi hikmah dan mendewasakan diri ๐Ÿ˜Š

Jadi, haruskah aku terus menerus merasa menyesal, menyalahkan keadaan, meratapi, dan berdiam diri? Tentu saja tidak. Sebab, setiap kita adalah pejuang untuk kehidupan kita sendiri ๐Ÿ’ช

3 thoughts on “[Day 28] Krisis Identitas Diri

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s