Mungkin bisa dibilang saat itu adalah fase aku bosan meminta tolong. Karena aku sudah tahu jawabannya, ayah tidak akan mau mengantar. Alasannya pasti begitu. “Supaya mandiri”.

Aku Kecewa

Sejak awal kuliah, aku sudah melakukan perihal administrasi sendiri. Membayar kuliah, datang ke kampus pertama kali untuk mengambil jaket almamater, serta mengatasi segala permasalahan selama di kampus.

Sejujurnya, dibandingkan harus meminta tolong kepada ayah, aku lebih nyaman meminta tolong kepada teman. Aku juga senang menyelesaikan masalah bersama-sama mereka. Meminta tolong kepada ayah berarti akan merasakan kecewa. Karena aku tahu hasilnya tetap sama, ayah akan menyuruhku menyelesaikan masalah sendiri.

Sejak dulu, ayahku tipikal orang yang senang diajak diskusi. Namun, ia tidak suka memanjakan anaknya. Ayah suka memberikan saran terhadap sesuatu. Tetapi, perihal aksi, ayah akan menyuruhku melakukannya sendiri.

Ayahku masih suka mengantar anaknya ke sana dan ke mari. Tetapi, biasanya ayah akan menunggu di parkiran saja. Dengan alasan “supaya mandiri”.

Dari cara pandang orang tua, mungkin maksud ayah adalah baik. Lagipula, ayah pun sejak sekolah menengah atas sudah merantau dari Jawa Tengah ke Jakarta sendirian. Ayah tidak pernah diantar dan ditemani orang tua maupun saudara. Mungkin, menurut ayah, ayah saja mampu. Maka, anaknya juga pasti mampu.

Dari cara pandang anak, yaitu aku, aku sedih diperlakukan seperti itu. Aku ingat betul saat kali pertama pergi ke Ciputat saat ujian mandiri perguruan tinggi, ayahku enggan menemani. Padahal, aku ini belum ada pengalaman bepergian ke tempat jauh seperti itu. Aku hanya bepergian sekitar Depok saja.

Lalu, apa mauku? Paling tidak, untuk pertama kali, mauku ayah menemani. Untuk selanjutnya, bolehlah aku bepergian sendiri.

Apakah saat itu aku mengatakan perihal ini ke ayah? Tentu saja tidak. Shinta remaja tidak sedekat itu sama ayah.

Pengalaman seperti ini terus berlanjut hingga dewasa. Akhirnya aku berani melakukan apa-apa sendiri dan bepergian seorang diri. Aku berani karena terbiasa menghadapi masalah sendiri.

Sejak saat itu pula, aku enggan meminta tolong kepada orang lain lagi. Entah mengapa, jiwa di dalam diri selalu mengatakan seperti ini,“Aku enggan mengalami penolakan dan kecewa lagi. Daripada merasakan hal-hal seperti itu lagi, lebih baik aku lakukan semua sendiri.”

Alhasil, tanpa tahu latar belakangnya, jadilah aku dikenal dengan Shinta si pemberani dan tangguh sekali.

Mengubah Cara Pandang

Semakin dewasa, cara pandangku menjadi lebih luas. Aku bisa berpikir dengan banyak kaca mata. Akhirnya, aku pun dapat memahami ayah.

Rasa kecewaku saat kecil dulu karena ayah memaksaku untuk mandiri, aku luruhkan pelan-pelan. Aku berusaha berpikir menggunakan cara pandang ayah bahwa apa yang ayah lakukan dulu tujuannya murni agar memandirikanku.

Hingga kini, sebenarnya aku pun tidak membenarkan “cara ayah”. Namun, aku memaklumi. Mungkin dulu, hanya cara itu yang ayah tahu.

Menurut pengetahuan ayah kala itu, membiarkan anaknya terjun ke “medan perang” seorang diri adalah cara terbaik untuk mendidik karakter anak yang tangguh dan pemberani. Mungkin juga, pendidikan militer yang ayah lakukan sewaktu muda juga membentuk cara pandang ayah saat itu.

Aku memutuskan untuk mengobati luka hatiku sendiri. Lagi pula, berkat didikan ayah itu, aku memiliki mental yang tidak lemah dan berani. Aku merasakan betul manfaatnya saat ini.

Dan kurasa, orang tua hanyalah manusia biasa yang tidak sempurna. Sebesar apapun mereka berusaha, orang tua pasti melakukan kekhilafan juga.

Cara terbaik yang sebaiknya kulakukan adalah mensyukuri kebermanfaatannya, memaafkan kejadian tidak menyenangkan di masa lalu, dan lakukan perubahan dari diri sendiri untuk masa depan.

Tugas kita sebagai generasi muda, bukankah melakukan perubahan dan tidak mengulangi kesalahan yang sama?

Inner Child

Aku baru tahu dari artikel ini, ternyata rasa kecewaku pada sikap ayahku yang masih terpendam hingga kuliah dulu ternyata inner child yang ada pada jiwaku.

Inner child itu membuat hatiku tertutup untuk meminta bantuan kepada orang lain. Aku takut ditolak lagi. Aku takut kecewa lagi. Akhirnya, aku enggan meminta tolong dan memilih berjuang seorang diri.

Aku juga baru tahu, ternyata usaha penerimaan dan memaafkan yang kulakukan di atas adalah bentuk re-parent dari ilmu psikologi.

Re-parent adalah usaha yang dilakukan seseorang untuk kembali memenuhi kebutuhan yang belum dipenuhi sewaktu kecil. Sebab, tanpa ada re-parent, kita akan terjerembab pada inner child yang menghambat diri. Kita akan terkungkung pada luka masa lalu dan tumbuh menjadi sosok atas luka-luka itu.

Contohnya aku, tanpa proses penerimaan atau re-parent, aku tidak akan mudah percaya orang lain untuk meminta bantuan lagi. Istilah sederhananya, meskipun aku lelah dan berdarah-darah, kurasa aku akan tetap berusaha berdiri sendiri. Bahaya kan 🙁

Kini, aku mulai lebih peduli tentang hal-hal yang “tidak biasa” pada diri. Kenangan buruk masa lalu yang masih sepintas teringat dan mempengaruhi sosokku masa kini, akan aku perhatikan lagi. Dan kutuntaskan dengan segera. Kalau bukan diri sendiri yang peduli, siapa lagi?

Kita harus mulai peduli pada kesehatan jiwa. Sebab, definisi sehat tidak hanya tentang seberapa sehat ragamu. Namun, juga seberapa sehat jiwamu.

Lakukan penyembuhan dengan terapi yang bisa dilakukan oleh diri sendiri. Contohnya mengubah cara pandang yang aku lakukan tadi.

Kalau ternyata masih sulit dilakukan, tak apa tanyakan saja kepada ahlinya. Kamu bisa konsultasi kepada psikolog, misalnya. Jangan malu untuk mencari tahu, sebab dirimu berhak untuk tahu secara menyeluruh. Semangat, ya! 😊

6 thoughts on “[Day 27] Luka Masa Kecil

    1. Yeaaay!! Kamu menanti banget kah, Dek? Wkwk Kenapa nggak langsung ditulis aja atuuuuh.

      Mantap. Siap, entar aku nonton yaaaa. Makasih banyak rekomendasinyan, Lin 😍👍👍

      Liked by 1 person

      1. Mager akutuh, Kak. Plus, Lin gapunya cukup pengetahuan soal itu. Tapii, Lin pernah nulis surat buat inner-child Lin dalam blog yang tajuknya Surat Untuk Gadis Kecilku. 😂 Rencananya, yaa, mungkin bakal dalami topik ini, who know?

        Liked by 1 person

      2. Wkwkwk parah banget mager 🤣 padahal mah nggak apa2, nulis aja. Nggak usah nulis ttg inner child dari sudut pandang psikologi juga, Dek 😝

        Oh iya aku pernah baca tuuuh. Coba dalami topik ini, entar berbagi jangan lupa yaaaaa hihi

        Liked by 1 person

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s